Kitab Suci Dan Kitab Yang Dianggap Suci

Kitab Suci dan Kitab Yang Dianggap Suci

Kitab suci dan kitab yang dianggap suci adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama sifatnya mutlak dari Tuhan oleh karena itu pasti benar. Yang kedua adalah perspektif manusia oleh karenanya bersifat relatif. Jelas merupakan fakta bahwa kitab suci agama tertentu dianggap suci oleh pemeluknya, ini sama seperti dalam pandangan pemeluknya agamanya adalah agama yang benar. Jika ada yang menyatakan bahwa semua kitab suci yang ada dianggap suci oleh para pemeluk agamanya, maka pernyataan ini adalah benar tetapi jika ada yang menggeneralisasikan pernyataan ini sehingga berpendapat bahwa tidak ada yang namanya kitab suci yang ada hanya kitab yang dianggap suci, maka saya berkata ini tidak benar.

Kepastian Adanya Kitab Suci
Pembuktiannya sederhana, yang pertama kita percaya bahwa kebenaran mutlak dari Tuhan. Yang kedua saya percaya bahwa Tuhan menghendaki manusia mengetahui kebenaran mutlak tersebut. Oleh karena itu Tuhan akan menyampaikan kebenaran mutlak tersebut kepada manusia. Selanjutnya untuk Menyampaikan kebenaran mutlak tersebut Tuhan mengutus utusannya jadilah itu yang namanya Kenabian. Tuhan menyampaikan kebenaran mutlak dalam bahasa manusia agar manusia bisa mengerti dan memahaminya. Kebenaran mutlak dalam bahasa manusia yang dibawa sang utusan adalah wahyu Tuhan. Sang Utusan sendiri adalah manusia yang tidak akan hidup selamanya oleh karena itu wahyu Tuhan ini disakralkan dalam bentuk Kitab suci agar dapat diketahui oleh manusia-manusia yang akan datang dimana pada saat itu sang Utusan tidak ada lagi. Kesimpulannya Kitab suci benar-benar ada karena Kitab suci Menyampaikan kebenaran dari Tuhan.

Tuhan dan Akal Manusia
Akal manusia adalah ciptaan Tuhan. Akal manusia ini dijadikan Tuhan dengan kemampuannya berpikir dan memahami. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh akal termasuk berusaha memahami Tuhan. Apakah akal bersifat pasti benar? Sederhananya tidak, rumitnya iya. Kenapa? Karena sebenarnya apa akal yang kita bicarakan, apakah akal yang dimaksud adalah pikiran manusia, sejak kapan pikiran manusia pasti benar. Lalu apa yang pasti benar dari akal? Saya katakan Hukum-hukum berpikir akal itu yang pasti benar.
Dengan kata lain akal memiliki hukum-hukum yang pasti benar yang menandakan bahwa akal tersebut berpotensi sebagai penunjuk jalan kebenaran. Kerumitannya adalah ketika hukum-hukum ini diaplikasikan ada banyak hal yang diperhitungkan. Inilah yang menyebabkan kenapa hasil olah akal manusia berada dalam spektrum kebenaran. Artinya setiap hasil pikiran manusia itu ada gradasinya dari yang paling benar sampai yang tidak benar.
Bagaimana Akal memahami Tuhan? Seperti biasa dengan berpikir maka manusia dapat mengetahui konsep Tuhan. Ya Cuma konsep karena kepastian tentang Tuhan datangnya dari Tuhan sendiri. Setiap manusia bisa berpikir dan karena banyak hal yang diperhitungkan maka hasil pikiran manusia itu bermacam-macam. Jadi seandainya konsep Tuhan hanya berdasarkan akal saja maka kita berhadapan dengan banyak konsep Tuhan yang relatif sifatnya. Lalu apa pemecahannya, menurut saya tidak lain dengan mendasarkan konsep Tuhan tersebut dengan sesuatu yang bersifat pasti benar.
Kepastian tentang Tuhan dapat diketahui oleh akal melalui dua hal, yang keduanya berlandaskan sesuatu yang pasti benar. Yang pertama melalui hukum-hukum berpikir yang pasti benar yang kedua melalui sesuatu yang lain yang menjelaskan tentang Tuhan yang bersifat pasti benar. Kalau hanya berdasarkan yang pertama saja maka apa yang kita dapat tentang Tuhan sifatnya terbatas, selebihnya jika dipaksakan maka akan banyak hal yang relatif seperti yang sudah saya jelaskan.
Lalu apa sesuatu yang pasti benar yang kedua itu, yang harus ada untuk menjelaskan banyak hal tentang Tuhan yang tidak diketahui secara mandiri oleh akal. Jawabannya adalah Kitab suci , kebenaran mutlak yang disampaikan oleh Tuhan.

Tuhan dan Rasa Manusia
Nah sekarang kita berbicara tentang Tuhan melalui olah rasa manusia. Manusia memiliki unsur ketertarikan yang tak terjelaskan terhadap Tuhan. Ada sesuatu dalam diri manusia yang merindukan akan Tuhan. Sesuatu itu entahlah apa namanya tetapi ada yang menyebutnya intuisi. Apa intuisi ini menjanjikan konsep Tuhan yang mutlak. Jawabannya tidak karena intuisi ini hanya menghasilkan rasa, anda merasakan kehadiran Tuhan, merasakan Kasih Tuhan, merasakan bahwa yang ada cuma Tuhan. Rumitnya setiap orang bisa berasa-rasa tetapi siapa yang bisa memastikan apa yang anda rasa. Yang pasti anda sendiri, orang lain tidak akan bisa.
Dengan kata lain rasa itu hanya menghasilkan sesuatu yang sifatnya individual yang tidak bisa dirumuskan atau dijelaskan dalam bentuk konsep. Lantas apa karena itu rasa menjadi tidak benar?, jawabannya tidak ,memang rasa tidak memberikan kebenaran yang baru tetapi rasa membuat anda memahami kebenaran yang anda yakini. Sekali lagi rasa relatif sifatnya. Kebenaran yang diyakini tidak sama dengan kebenaran mutlak dari Tuhan. Tetapi kebenaran yang mutlak dari Tuhan bisa diyakini karena Tuhan menghendaki manusia meyakininya. Kebenaran ini akan menghasilkan rasa bagi manusia yang betul-betul merasakannya. Kebenaran dari Tuhan ini sudah saya katakan adalah Kitab suci. Kesimpulannya Kitab suci akan menghasilkan rasa bagi manusia yang memahami dan merasakannya.

Sejauh ini kita telah membuktikan bahwa Kitab suci adalah suatu kepastian yang mesti ada jika seseorang ingin benar-benar mencapai Kebenaran yang disampaikan oleh Tuhan. Akal dan rasa manusia yang walaupun bisa digunakan dalam pencapaian kebenaran tidak menafikan adanya Kitab suci. Adanya Kitab suci juga tidak menafikan peran akal dan rasa justru keduanya dapat digunakan untuk memahami Kitab suci.

Kitab Yang Dianggap Suci
Setelah memastikan bahwa Kitab suci benar-benar ada kita akan berbicara tentang Kitab yang dianggap suci. Kitab yang dianggap suci adalah konsep dalam perspektif manusia. Artinya kata itu hanyalah deskripsi Bagaimana manusia menyikapi adanya Kitab suci. Kitab suci sendiri tentu akan dianggap suci bagi mereka yang tahu kalau itu Kitab suci. Ada 3 premis mengenai hubungan Kitab suci dan Kitab yang dianggap suci
• Kitab suci tidak ada yang ada hanya Kitab yang dianggap suci
• Kitab suci ada diantara banyak Kitab yang dianggap suci
• Semua Kitab yang dianggap suci adalah Kitab suci
Premis pertama telah dibuktikan tidak benar jadi yang ada hanya dua premis lain. Premis terakhir saya berpendapat tidak benar karena premis ini menjadikan Kitab suci sendiri sebagai sesuatu yang relatif tergantung manusia. Adalah tidak benar jika setiap orang bisa membuat suatu Kitab kemudian Kitab ini dianggap suci dan jadilah ia Kitab suci. Tidak, tidak yang begini jelas tidak benar. Jadi menurut saya premis yang benar adalah Kitab suci ada diantara banyak Kitab yang dianggap suci.

12 Tanggapan

  1. no comment deh
    udah jelas sekali…
    nice post!

  2. Suka analisisnya Bharma. Runtut dan penalarannya cukup logis!

    Gimana ya caranya menuliskan hasil pemikiran dengan sandaran analitis kaya gini. Really, nice ^^

  3. ya, ya, boleh juga begini.

    Kira kira bagaimana suatu kitab itu bisa menjadi kitab suci, jadi bukan hanya dianggap suci saja?

  4. @ almas
    no comment ah🙂

    @ Mbak Hiruta
    terimakasih Mbak🙂

    @ danalingga
    pertanyaan bagus Mas
    apa saya bisa jawab ya? he he he🙂

  5. cuma satu kata
    KEREN

  6. @ syafriadi😀

  7. “Bagaimana Akal memahami Tuhan? Seperti biasa dengan berpikir maka manusia dapat mengetahui konsep Tuhan. Ya Cuma konsep karena kepastian tentang Tuhan datangnya dari Tuhan sendiri. Setiap manusia bisa berpikir dan karena banyak hal yang diperhitungkan maka hasil pikiran manusia itu bermacam-macam. Jadi seandainya konsep Tuhan hanya berdasarkan akal saja maka kita berhadapan dengan banyak konsep Tuhan yang relatif sifatnya. Lalu apa pemecahannya, menurut saya tidak lain dengan ””mendasarkan konsep Tuhan tersebut dengan sesuatu yang bersifat pasti benar”.”

    maaf bung, saya itu hanya teori filsafat saja. yang bagi saya permainan lidah/kata-kata tetapi tetap tidak akan bisa mengetahui konsep tuhan yang hakiki.
    kuncinya adalah mengetahui ilmu dalam diri dada Rasulullah, yang turunkan ke dalam para imam lalu para ulama yang memegang kunci pembukaan rasa ‘pengenalan Allah’. DAN TENTUNYA RASA TERSEBUT SAMA dari Dulu hingga sekarang krn Manusia tetap sama, cuma yang membedakan kadar kualitasnya.
    stop teori yang bertele-tele, buktikan bahwa Al-quran adalah Asyifa (penyembuh) yg dapat menyembuhkan segela penyakit zahir dan batin, buktikan jika Alquran dapat menghidupkan yang mati, jika semua hanya teori apa bedanya dengan agama lain….
    mari kita tingkatkan pemahaman Islam kita dengan Pengamalan yang dapat dipraktekan sehingga kita mendapatkan pengalaman spritual yang meningkat.

  8. @syaefullah
    Ditunggu pencerahan selanjutnya.

    Salam kenal.

  9. “Rumitnya setiap orang bisa berasa-rasa tetapi siapa yang bisa memastikan apa yang anda rasa. Yang pasti anda sendiri, orang lain tidak akan bisa.
    Dengan kata lain rasa itu hanya menghasilkan sesuatu yang sifatnya individual yang tidak bisa dirumuskan atau dijelaskan dalam bentuk konsep. Lantas apa karena itu rasa menjadi tidak benar?, jawabannya tidak ,memang rasa tidak memberikan kebenaran yang baru tetapi rasa membuat anda memahami kebenaran yang anda yakini. Sekali lagi rasa relatif sifatnya. Kebenaran yang diyakini tidak sama dengan kebenaran mutlak dari Tuhan. Tetapi kebenaran yang mutlak dari Tuhan bisa diyakini karena Tuhan menghendaki manusia meyakininya. ”

    maaf bung, saya tdk setuju. menurut saya,Rasa untuk mengenal Tuhan dari Dulu, dari jamannya nabi Adam sampai sekarang, bahkan sampai anak cucu kita, jika Tetap Manusia yang ingin mengenal Tuhan….PASTI SAMA. Jika Berbeda-beda UNTUK APA DITURUNKAN NABI DAN RASUL, Imam,Imam Mahdi, ULama??,, bukankah untuk menanmkan kepada Umat tentang Rasa ‘pengenalan Tuhan’ Tersebut. Rasa Itulah sebagai kunci ‘Tali Allah’ agar dpat menghubungkan/menghadirkan Allah dalam Qolbu kita. jika kita belum mengetahui rasa ‘mengenal Tuhan’ tersebut maka kita belum termasuk beriman tetapi baru Islam.QS. 49 ( Al-Hujurat ):14
    (QS Al-Anfal :2-4)
    mari kita tingkatkan pemahaman Islam kita dengan Pengamalan yang dapat dipraktekan sehingga kita mendapatkan pengalaman spritual yang meningkat.

  10. Sungguh suatu pencerahan yg sangat menjelaskan.

  11. Apa itu hukum berpikir? mohon pencerahannya

  12. Cocok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: