<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Analisis Pencari Kebenaran</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 05:44:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='secondprince.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Analisis Pencari Kebenaran</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://secondprince.wordpress.com/osd.xml" title="Analisis Pencari Kebenaran" />
	<atom:link rel='hub' href='http://secondprince.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apakah Efendi Nashibi Berdusta?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/12/apakah-efendi-nashibi-berdusta/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/12/apakah-efendi-nashibi-berdusta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 18:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2711</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata ada dusta lagi yang nampak oleh kami di forum kebanggan Nashibi. Kali ini dilakukan oleh sahabat Farid yang juga nashibi yaitu Efendi. Manusia satu ini gemar sekali menyatakan ulama syiah berdusta [sebagaimana yang nampak dalam tulisan di blognya]. Kami pribadi tidak ada masalah dengan itu, selagi tulisannya berdasarkan bukti dan bisa dipertanggungjawabkan maka itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2711&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ternyata ada dusta lagi yang nampak oleh kami di forum kebanggan Nashibi. Kali ini dilakukan oleh sahabat Farid yang juga nashibi yaitu Efendi. Manusia satu ini gemar sekali menyatakan ulama syiah berdusta [sebagaimana yang nampak dalam tulisan di blognya]. Kami pribadi tidak ada masalah dengan itu, selagi tulisannya berdasarkan bukti dan bisa dipertanggungjawabkan maka itu jadi tambahan info bagi kami sebagai<span style="text-decoration:underline;"><em> orang yang berniat mencari kebenaran</em></span>.<span id="more-2711"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini kami ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa Efendi nashibi ini juga bisa melakukan sesuatu yang dalam bahasa Efendi layak disebut kedustaan. Silakan pembaca lihat apa yang Efendi katakan disini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=9097&amp;st=20">http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=9097&amp;st=20</a></p>
<p><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2714" title="efendi kazab" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab2.jpg?w=468&#038;h=261" alt="" width="468" height="261" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam forum tersebut Efendi Nashibi menyatakan bahwa ada hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diriwayatkan oleh sahabat selain Irbaadl bin Saariyah yaitu ia menyebutkan dari Utbah bin Ghazwan sebagaimana yang disebutkan Al Ajurri dalam Asy Syari&#8217;ah no 23. Kami merujuk pada kitab Asy Syari&#8217;ah Al Ajurri tetapi kami tidak menemukan hadis yang dimaksud. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Hadis tersebut tidak ada di dalam kitab Asy Syari&#8217;ah</span></span>. Inilah yang tertulis dalam kitab Asy Syari&#8217;ah no 23. Dapat dilihat disini <a href="http://islamport.com/d/1/ajz/1/152/481.html">http://islamport.com/d/1/ajz/1/152/481.html</a></p>
<p><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-syariah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2719" title="Efendi Syariah" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-syariah.jpg?w=468&#038;h=146" alt="" width="468" height="146" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi disini nashibi tersebut terbukti berdusta. Hadis yang ia kutip tidak ada dalam kitab Asy Syari&#8217;ah maka kami meneliti hadis tersebut dan menemukan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu&#8217;jam Al Kabir no 13736 yaitu</p>
<p><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2720" title="efendi kazab2" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab21.jpg?w=468&#038;h=147" alt="" width="468" height="147" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian penelitian kami tidak sia-sia, akhirnya kami menemukan hadis persis sekali dengan yang dikutip oleh Efendi nashibi [bahkan memang itu hadisnya] yaitu dalam kitab As Sunnah Muhammad bin Nashr Al Marwadzi no 32</p>
<p><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/as-sunnah-marwazi1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2722" title="as sunnah marwazi" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/as-sunnah-marwazi1.jpg?w=468&#038;h=175" alt="" width="468" height="175" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Silakan perhatikan hadis Utbah bin Ghazwan riwayat Thabrani dan riwayat Al Marwadzi, dari sini diketahui bahwa hadis Utbah bin Ghazwan [riwayat Al Marwadzi] itu matannya sampai dengan perkataan بل منكم . Sedangkan perkataan selanjutnya [yang agak panjang] itu adalah perkataan perawinya yang menurut kami adalah Al Marwadzi sendiri. Bagian yang dijadikan hujjah oleh Efendi nashibi adalah</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/almarwadzi2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2723" title="almarwadzi2" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/almarwadzi2.jpg?w=468&#038;h=130" alt="" width="468" height="130" /></a>Ini adalah perkataan Al Marwadzi dimana ia memuji para sahabat Nabi karena merekalah yang dikatakan Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] sebagai manusia yang terbaik dan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] memerintahkan untuk mengikuti Sunnah-Nya dan Sunnah Khulafaur Rasyidin setelahnya. Jadi lafaz <em>&#8220;mengikuti sunnah-Nya dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelah-Nya&#8221;</em> bukan bagian dari hadis Utbah bin Ghazwan. Ucapan Nashibi yang menyatakan hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin diriwayatkan oleh Utbah bin Ghazwan adalah dusta.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu sekedar info tambahan, Efendi nashibi yang biasanya suka sekali melemahkan hadis yang menjadi lawan hujjahnya entah mengapa begitu mandul ketika ia sendiri berhujjah dengan hadis. Yang kami maksudkan adalah hadis Utbah bin Ghazwan yang dibawakannya di atas adalah hadis yang dhaif karena sanadnya terputus antara Ibrahim bin Abi &#8216;Ablah dan Utbah bin Ghazwan sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2724" title="efendi kazab3" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab3.jpg?w=468&#038;h=176" alt="" width="468" height="176" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Akhir kata kami mengingatkan kepada para pembaca agar berhati-hati dengan kelicikan para nashibi. Mereka seolah mengesankan pada orang awam <em>&#8220;betapa ilmiahnya mereka&#8221;</em> tetapi faktanya sering tidak demikian. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Jangan pernah percaya kecuali anda sudah membuktikannya sendiri</span>,</span> itu slogan yang cukup bijaksana.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2711/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2711&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/12/apakah-efendi-nashibi-berdusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">efendi kazab</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-syariah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Syariah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">efendi kazab2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/as-sunnah-marwazi1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah marwazi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/almarwadzi2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">almarwadzi2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-kazab3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">efendi kazab3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Hani Nashibi Berdusta?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/12/apakah-hani-nashibi-berdusta/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/12/apakah-hani-nashibi-berdusta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 18:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2690</guid>
		<description><![CDATA[Kedustaan nashibi ternyata masih berlanjut, kali ini muncul dari nashibi yang menyebut dirinya Hani atau yang dulu ia disebut dengan Tripoly sunni. Para pembaca dapat melihatnya di forum kebanggan mereka yang sedang membahas hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin. Silakan lihat disini http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=9097&#38;st=20 Nashibi yang menyebut dirinya Hani menyatakan bahwa hadis &#8220;Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin&#8221; juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2690&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kedustaan nashibi ternyata masih berlanjut, kali ini muncul dari nashibi yang menyebut dirinya Hani atau yang dulu ia disebut dengan Tripoly sunni. Para pembaca dapat melihatnya di forum kebanggan mereka yang sedang membahas hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin. Silakan lihat disini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=9097&amp;st=20">http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=9097&amp;st=20</a><span id="more-2690"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2691" title="Hani kazab" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab.jpg?w=468&#038;h=191" alt="" width="468" height="191" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi yang menyebut dirinya Hani menyatakan bahwa hadis <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>&#8220;Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin&#8221;</em></span></span> juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud sebagaimana disebutkan dalam Takhrij kitab As Sunnah no 58 dan riwayat tersebut shahih. Tidak diragukan lagi kalau para pembaca merujuk langsung pada kitab tersebut yaitu <span style="color:#0000ff;"><em>Zhilal Al Jannah Fii Takhrij As Sunnah</em></span> maka ucapan nashibi tersebut adalah dusta. Inilah riwayat yang ada pada no 58</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2692" title="hani kazab3" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab3.jpg?w=468&#038;h=177" alt="" width="468" height="177" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau diterjemahkan bunyinya seperti ini : <em>Telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;">Muhammad bin &#8216;Auf</span> yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;">Abu Shalih</span> dari <span style="text-decoration:underline;">Muawiyah bin Shalih</span>, [sebagaimana hadis Abi Mas'ud] dan berkata  [Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam] <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">&#8220;Berpeganglah kalian dengan SunnahKu dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah itu dengan gigi geraham</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">&#8220;</span></span>. Syaikh Al Albani berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>&#8220;hadis shahih lihat hadis no 56&#8243;</em></span></span> .</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada dalam sanad hadis tersebut bahwa itu diriwayatkan oleh &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud. Sanad riwayat tersebut berhenti pada Mu&#8217;awiyah bin Shalih. Lafaz <em>&#8220;sebagaimana hadis Abi Mas&#8217;ud&#8221;</em> seolah menunjukkan bahwa sebelumnya sudah ada hadis Abi Mas&#8217;ud  dan sanad Muawiyah bin Shalih ini sama dengan hadis Abi Mas&#8217;ud. Kami pribadi tidak tahu siapa Abi Mas&#8217;ud yang dimaksud tetapi untuk mengetahui sanad lengkap hadis Muawiyah bin Shalih itu telah diisyaratkan oleh Syaikh Al Albani dengan perkataan <em>&#8220;lihat hadis no 56&#8243;</em>. Maka mari kita lihat hadis no 56 yang dimaksud</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2693" title="hani kazab5" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab5.jpg?w=468&#038;h=325" alt="" width="468" height="325" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis no 56 menyebutkan bahwa sanad lengkap hadis tersebut adalah Muawiyah bin Shalih dari Dhamrah bin Habiib dari &#8216;Abdurrahman bin &#8216;Amru dari &#8216;Irbaadh dari Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] sebagaimana di atas. Lafaz <em>&#8220;sebagaimana di atas&#8221;</em> maksudnya matannya serupa dengan hadis no 55. Jadi hadis no 58 yang diriwayatkan Muawiyah bin Shalih adalah hadis Irbaadh bin Saariyah. Bukti lainnya dapat dilihat pada hadis no 59 dimana matannya sama persis dengan matan hadis no 58</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2694" title="Hani kazab4" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab4.jpg?w=468&#038;h=215" alt="" width="468" height="215" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Kesimpulannya</span> : tidak ada hadis shahih Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas&#8217;ud. Hadis yang dimaksud ternyata adalah hadis Irbaadh bin Saariyah maka sudah jelas nashibi itu berdusta atas nama Syaikh Al Albani dan berdusta atas nama kitab As Sunnah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2690/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2690&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/12/apakah-hani-nashibi-berdusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hani kazab</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hani kazab3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hani kazab5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/hani-kazab4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hani kazab4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Kisa&#8217; : Kejahilan Efendi Nashibi</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/07/hadis-kisa-kejahilan-efendi-nashibi/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/07/hadis-kisa-kejahilan-efendi-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 04:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2732</guid>
		<description><![CDATA[Nashibi dan pengikutnya seringkali menyatakan bahwa ulama syiah dan pengikutnya jahil dalam berhujjah terutama dengan riwayat-riwayat Sunni. Diantara nashibi yang gemar sekali menyatakan demikian adalah Efendi, para pembaca bisa melihat tulisan di blognya yang mencela ulama syiah dan pengikutnya. Kami pribadi tidak ada masalah dengan tulisan Efendi nashibi, selagi tulisannya menampilkan bukti dan dapat dipertanggungjawabkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2732&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Nashibi dan pengikutnya seringkali menyatakan bahwa ulama syiah dan pengikutnya jahil dalam berhujjah terutama dengan riwayat-riwayat Sunni. Diantara nashibi yang gemar sekali menyatakan demikian adalah Efendi, para pembaca bisa melihat tulisan di blognya yang mencela ulama syiah dan pengikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami pribadi tidak ada masalah dengan tulisan Efendi nashibi, selagi tulisannya menampilkan bukti dan dapat dipertanggungjawabkan maka itu menjadi info tambahan bagi kami sebagai <span style="text-decoration:underline;"><em>orang yang berniat mencari kebenaran</em></span>. Tetapi ternyata Efendi nashibi sendiri menunjukkan kejahilan yang nyata dalam salah satu tulisannya. Kejahilan yang cukup membuat kami tertawa. Kami yakin para pembaca juga akan tertawa membacanya. Silakan lihat disini <a href="http://gift2shias.com/2010/03/15/hadith-of-cloak/">http://gift2shias.com/2010/03/15/hadith-of-cloak/</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-2732"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendijahil1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2733" title="efendijahil" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendijahil1.jpg?w=468&#038;h=139" alt="" width="468" height="139" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan tersebut Efendi nashibi membahas hadis kisa&#8217; yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah dimana syiah banyak mengutip hadis Kisa&#8217; dengan lafaz <em>&#8220;engkau dalam kebaikan&#8221;</em>. Kemudian Efendi nashibi ingin menunjukkan versi lain hadis Kisa&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendijahil2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2734" title="Efendijahil2" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendijahil2.jpg?w=468&#038;h=211" alt="" width="468" height="211" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan perkataan Efendi dimana ia menyatakan ada versi hadis Kisa&#8217; dimana Ummu Salamah berkata &#8220;<em>saya juga?&#8221;</em>. Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menjawab <em>&#8220;dan engkau juga&#8221;</em>. Menurut Efendi nashibi, Hadis yang menunjukkannya diriwayatkan Ath Thabari dalam Tafsir-nya. Berikut terjemahan hadis tersebut</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami &#8216;Abdul Alaa bin Waashil yang berkata telah menceritakan kepada kami Fadhl bin Dukain yang berkata telah menceritakan kepada kami &#8216;Abdus Salaam bin Harb dari Kultsum Al Muhaaribiy dari Abi &#8216;Ammaaar yang berkata aku duduk di sisi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Watsilah bin Al Asqa&#8217;</span></span> ketika orang-orang menyebutkan Ali dan mencacinya. Ketika mereka berdiri, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">[Watsilah bin Asqa'] berkata &#8220;duduklah aku akan mengabarkan kepadamu tentang orang yang mereka caci</span></span>, Aku berada di sisi Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] ketika itu datanglah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain maka Beliau menyelimuti mereka dengan kain dan berkata &#8220;ya Allah mereka adalah ahlul baitKu, ya Allah bersihkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya&#8221;. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Aku berkata &#8220;wahai Rasulullah dan aku?&#8221;</span></span>. beliau berkata &#8221; engkau&#8221;. [Watsilah] berkata &#8220;demi Allah hal itu lebih aku percaya daripada amal yang kulakukan&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Silakan para pembaca perhatikan hadis yang dikutip Efendi nashibi diatas disebutkan bahwa yang berkata demikian adalah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Watsilah bin Al &#8216;Asqa&#8217;</em></span></span> bukan <em>Ummu Salamah</em>. Ini dusta yang lucu, bagaimana mungkin ia tidak membaca hadis yang ia kutip sendiri. Sejak kapan Ummu Salamah bernama Watsilah bin Al Asqa&#8217;. Bagaimana mungkin seorang wanita disebut dengan <em>Fulan bin Fulan</em>?. Bukankah ini kejahilan yang nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-jahil.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2737" title="efendi jahil" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-jahil.jpg?w=468" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada poin no 2 Efendi nashibi kembali menyatakan ada versi hadis dimana Ummu Salamah bertanya dan  Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menjawab <em>&#8220;engkau termasuk keluargaku&#8221;</em>. Efendi menunjukkan bahwa hadis yang dimaksud adalah riwayat Thabari dan Ibnu Hibban di atas. Perhatikan perkataan Efendi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>&#8220;She asked&#8221;</em></span></span> kemudian silakan pembaca lihat hadis Ath Thabari dan Ibnu Hibban yang dikutip oleh Efendi, itu adalah hadis Watsilah bin Al &#8216;Asqa&#8217;. Setahu saya sih Watsilah itu sahabat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] seorang laki-laki bukan perempuan tetapi mungkin menurut Efendi nashibi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>Watsilah itu seorang perempuan dan ia adalah Ummu Salamah</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-jhl.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2738" title="efendi jhl" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-jhl.jpg?w=468&#038;h=218" alt="" width="468" height="218" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Nah kalau kedua hadis yang terakhir memang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Kami pribadi sudah membahas hadis dengan matan seperti ini jadi kami tidak akan mengulanginya disini. Hanya saja kami ingin menunjukkan jika menggunakan ilmu hadis ala Efendi yang suka menukil jarh terhadap perawi dan kemudian melemahkan hadis seenaknya dengan jarh perawi tersebut maka kedua hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai Musa bin Ya&#8217;qub ternukil jarh terhadapnya, Ali bin Madini berkata<em> &#8220;dhaif al hadits mungkar al hadits&#8221;</em>. Nasa&#8217;i berkata <em>&#8220;tidak kuat&#8221;</em>. Daruquthni berkata <em>&#8220;tidak bisa dijadikan hujjah&#8221;</em>. Ibnu Hajar berkata <em>&#8220;shaduq buruk hafalannya&#8221;</em> [Tahdzib Al Kamal 29/172 no 6315 beserta catatan kakinya, jarh kami nukil dari kitab tersebut dan dari catatan kakinya].</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu perlu kami ingatkan kepada para nashibi [mengingat kebanyakan mereka lemah akalnya] bahwa kami tidak sedang melemahkan kedua hadis di atas tetapi kami hanya menukil jarh terhadap Musa bin Ya&#8217;qub sebagai hadiah bagi Efendi yang begitu sering melemahkan hadis dengan ilmu hadis ala nashibi. Akhir kata wahai pembaca, mari kita sama sama berlindung kepada Allah SWT dari kejahilan. <strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2732/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2732&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/07/hadis-kisa-kejahilan-efendi-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendijahil1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">efendijahil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendijahil2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Efendijahil2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-jahil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">efendi jahil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/efendi-jhl.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">efendi jhl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Farid Nashibi Berdusta?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/05/apakah-farid-nashibi-berdusta/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/05/apakah-farid-nashibi-berdusta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 00:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2678</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, salah seorang nashibi di forum kebanggan mereka pernah membuat thread khusus yang membahas tentang kami pemilik blog &#8220;secondprince&#8221;. Nashibi itu menyebut dirinya &#8220;Farid&#8221; nah kali ini giliran kami yang membuat tulisan khusus tentang dirinya. Silakan pembaca menilai apa yang kami tunjukkan tentang nashibi yang bernama Farid ini. Silakan lihat thread baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2678&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Beberapa hari yang lalu, salah seorang nashibi di forum kebanggan mereka pernah membuat thread khusus yang membahas tentang kami pemilik blog <em>&#8220;secondprince&#8221;</em>. Nashibi itu menyebut dirinya <em>&#8220;Farid&#8221;</em> nah kali ini giliran kami yang membuat tulisan khusus tentang dirinya. Silakan pembaca menilai apa yang kami tunjukkan tentang nashibi yang bernama Farid ini. Silakan lihat thread baru yang ia buat di forum nashibi <a href="http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=16432">http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=16432 </a><span id="more-2678"></span></p>
<p><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2679" title="farid kazab" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab.jpg?w=468&#038;h=224" alt="" width="468" height="224" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan perkataannya <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>&#8220;Ubaid bin Hunain was born in the year 70 AH, according to Al-Tahtheeb&#8221;</em></span>. Kami katakan : Ubaid bin Hunain adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 7 no 129 dan dalam kitab At Tahdzib tersebut tidak ada keterangan yang menyatakan kalau Ubaid bin Hunain lahir pada tahun 70 H. Silakan para pembaca lihat di <a href="http://islamport.com/d/1/trj/1/134/2932.html">http://islamport.com/d/1/trj/1/134/2932.html</a> no 129</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab-tahdzib1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2683" title="farid kazab tahdzib" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab-tahdzib1.jpg?w=468&#038;h=127" alt="" width="468" height="127" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ini membuktikan kalau nashibi yang bernama Farid itu berdusta atas kitab At Tahdzib dan ia menjadikan kedustaan ini sebagai alasan untuk melemahkan hadis. Pernyataan Ubaid bin Hunain lahir tahun 70 H adalah pernyataan konyol yang diucapkan oleh orang yang tidak akrab dengan ilmu hadis. Mengapa kami katakan begitu? karena Ubaid bin Hunain ini termasuk perawi kitab shahih dan diantara riwayatnya dalam kitab shahih adalah riwayat Ubaid bin Hunain dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Keduanya adalah sahabat Nabi yang wafat sebelum tahun 70 H. Jadi menurut ilmu hadis ala Farid maka riwayat Ubaid bin Hunain dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah munqathi&#8217; [terputus].</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal faktanya tidak demikian wahai pembaca. Bukhari telah menyebutkan Ubaid bin Hunain dalam kitab Tarikh Al Kabir dan menyatakan bahwa ia mendengar dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah [Tarikh Al Kabir 5/446 no 1451]. Silakan lihat <a href="http://islamport.com/d/1/trj/1/34/559.html?zoom_highlightsub=%DA%DE">disini</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab-tahdzib2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2684" title="farid kazab tahdzib2" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab-tahdzib2.jpg?w=468&#038;h=121" alt="" width="468" height="121" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan kalau hal ini dilakukan oleh ulama syiah maka orang semacam Efendi dkk atau mungkin Farid sendiri akan bersemangat menuduh ulama syiah berdusta. Tetapi bagaimana kalau mereka sendiri yang melakukannya, yah cuek bebek saja namanya manusia tidak ma&#8217;shum toh. lucunya oh lucunya dan kedustaan Farid inii ternyata diaminkan oleh Efendi nashibi yang taklid buta dengannya. Silakan lihat disini http://gift2shias.com/2012/01/04/allah-folding-legs/</p>
<p style="text-align:justify;"><em>note : untuk melihat gambar yang kami tampilkan lebih jelas cukup klik saja gambar tersebut. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Revisi : Efendi telah mengoreksi tulisan di blog-nya jadi maaf para pembaca tidak dapat melihat taklid buta Efendi yang kami katakan sebelumnya.<br />
</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/agama/'>Agama</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2678/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2678&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/05/apakah-farid-nashibi-berdusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">farid kazab</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab-tahdzib1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">farid kazab tahdzib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2012/01/farid-kazab-tahdzib2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">farid kazab tahdzib2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Penipuan Farid Nashibi?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/03/membantah-penipuan-farid-nashibi/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/03/membantah-penipuan-farid-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 19:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2665</guid>
		<description><![CDATA[Membantah Penipuan Farid Nashibi? Judulnya agak seram dan kami buat sebagai hadiah khusus untuk nashibi yang menyebut dirinya “Farid”. Kami sarankan padanya sebelum membuat tulisan yang menuduh orang lain silakan pahami dulu perkataan orang lain. Apalagi ia sendiri sebagai orang yang sangat dirugikan karena ia tidak bisa memahami bahasa yang kami tulis sedangkan kami bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2665&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Membantah Penipuan Farid Nashibi?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Judulnya agak seram dan kami buat sebagai hadiah khusus untuk nashibi yang menyebut dirinya “<span style="color:#0000ff;"><em>Farid”</em></span>. Kami sarankan padanya sebelum membuat tulisan yang menuduh orang lain silakan pahami dulu perkataan orang lain. Apalagi ia sendiri sebagai orang yang sangat dirugikan karena <span style="text-decoration:underline;">ia tidak bisa memahami bahasa yang kami tulis</span> sedangkan <span style="text-decoration:underline;">kami bisa memahami bahasa yang ia tulis</span>. Jadi jangan terlalu lancang dan menuduh yang bukan-bukan. Ada baiknya sang penerjemah “Farid” yaitu orang yang menyebut dirinya “ahlus sunnah” itu juga belajar lebih fokus dalam memahami tanggapan dan komentar kami sebelum menerjemahkan. Tulisan Farid tersebut dapat pembaca lihat di forum kebanggaan Nashibi <a href="http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=16384">http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=16384</a><span id="more-2665"></span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;"><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kontradiksi Pertama</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Farid yang “ajaib” [ngawurnya itu] menuduh kami melakukan kontradiksi dalam ilmu hadis yang ia jadikan dasar untuk merendahkan kami. Nah silakan lihat apa yang ia katakan<em></em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>1- Contradictions Regarding the Reliability of Al-Dulabi:</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>1st position: The Weakening of Al-Dulabi</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Reason: To weaken the statement of Al-Bukhari in which he weakens Abu Balj. Abu Balj is the narrator of several hadiths in praise of Ali, including a hadith in which he is referred to as a khalifa.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Farid menuduh kami melemahkan Ad Duulabiy padahal maaf sebenarnya pemahamannya yang patut dikatakan lemah. Kami tidak pernah melemahkan Ad Duulabiy, pada diskusi sebelumnya <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">kami mengutip jarh terhadap Ad Duulabiy sebagai hadiah buat orang berjenis Farid ini</span></span>. Bukankah dia orangnya yang melemahkan Abu Balj dengan mengutip pendapat yang menjarh-nya dan menafikan mereka yang menta’dilkan Abu Balj?. Salah satu hujjahnya untuk melemahkan Abu Balj adalah berpegang pada kesaksian Ad Duulabiy maka kami bawakan pendapat yang menjarh Ad Duulabiy. Jarh itu adalah masalah bagi dirinya bukan bagi kami. Inilah perkataan kami dalam bahasa indonesia [dapat dilihat <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20149">disini</a>]</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?. Btw sekedar info tuh buat anda dan sahabat tercinta anda itu “si Farid” silakan baca kutipan ini [kalian kan ahlinya kritik pakai kutip mengutip]</em></p>
<p><em>قال أبو سعيد بن يونس كان أبو بشر من أهل الصنعة وكان يضعف</em></p>
<p><em>Abu Sa’id bin Yunus berkata Abu Bisyr termasuk penduduk Shan’ah dan ia telah didhaifkan</em></p>
<p><em>Adz Dzahabi memasukkan Ibnu Hammad dalam Mughni Adh Dhu’afa no 5255 dan berkata</em></p>
<p><em>محمد بن أحمد بن حماد الحافظ أبو بشر الدولابي قال الدارقطني تكلموا فيه</em></p>
<p><em>Muhammad bin Ahmad bin Hammad Al Hafizh Abu Bisyr Ad Duulabiy, Daruquthni berkata “ia telah diperbincangkan”</em></p>
<p><em>Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Adakah dalam komentar di atas kami melemahkan Ad Duulabiy? <span style="text-decoration:underline;">maaf tidak ada,</span> kami mengutip jarh terhadap Ad Duulabiy sebagai hadiah buat anda wahai Farid. Mengapa? Alasannya pun sudah kami katakan dalam komentar [silakan lihat <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20154">disini</a>]</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>sebelumnya saya anggap Ibnu Hammad itu cuma menukil perkataan Bukhari secara saya tidak tahu siapa dia tetapi setelah tahu bahwa ia adalah Ad Duulabiy maka saya bawakan kutipan jarh terhadapan Ad Duulabiy itu sebagai hadiah buat anda.Karena orang seperti anda suka melemahkan perawi hanya dengan menukil jarh terhadap perawi tersebut maka silakan lemahkan juga Ad Duulabiy</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru dengan mengutip jarh terhadap Ad Duulabiy, kami ingin menunjukkan kalau metode ilmu hadis ala Farid itu kontradiksi. Ad Duulabiy telah dilemahkan oleh sebagian ulama dan dita’dilkan oleh sebagian yang lain. Dari sudut pandang Farid seharusnya kedudukan Ad Duulabiy tidak jauh berbeda dengan Abu Balj yang ia lemahkan. Kalau Abu Balj ia anggap dhaif maka Ad Duulabiy itu lebih pantas dikatakan dhaif. Kalau Abu Balj ia anggap tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud maka Ad Duulabiy lebih pantas dikatakan tidak bisa dijadikan hujjah tafarrud. Tetapi kenyataannya Abu Balj ia lemahkan tetapi Ad Duulabiy ia anggap tsiqat. Itulah yang kami katakan dalam kolom komentar [silakan lihat <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20154">disini</a>]</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang saya herankan mau anda kemanakan pendapat yang melemahkan Ad Duulabiy, apa dasar anda menafikannya hanya karena ada ulama yang menta’dilkan Ad Duulabiy kalau begitu seharusnya begitu juga dalam kasus Abu Balj ya nafikan saja pendapat yang melemahkan Abu Balj karena banyak ulama yang menta’dilkan Abu Balj. Disini Ad Duulabiy anda katakan tsiqat tetapi Abu Balj anda katakan dhaif.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Farid [dengan dustanya] mengutip perkataan yang ia pikir berasal dari kami padahal maaf jauh sekali dari perkataan kami yang sebenarnya. Farid mengutip bahwa kami berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Then, we need to accept jarh on Ad Duulabiy more than his ta&#8217;dil.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dengan perkataan ini seolah ia menganggap kami menguatkan jarh terhadap Ad Duulabiy padahal kalimat seutuhnya tidak begitu. Perkataan kami tersebut muncul sebagai tanggapan atas perkataan Farid. Sebelumnya Farid mengatakan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>This is false. Jarh mufassar takes precedence over ta&#8217;deel, but that doesn&#8217;t mean that ta&#8217;deel takes precedence over jarh mubham. If this was the case, then most of the narrators that are considered to be weak would actually be thiqaat.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Farid beranggapan bahwa ta’dil tidak didahulukan daripada jarh mubham karena jika demikian maka banyak perawi lemah akan dikatakan tsiqat. Maka kami komentari perkataannya dengan perkataan berikut [silakan lihat <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20154">disini</a>]</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil? Kalau begitu gak usah ada kaidah jarh mufassar diutamakan dari ta’dil toh setiap jarh diutamakan daripada ta’dil. <strong>Praktekkan saja tuh, Ad Duulabiy ternukil pendapat yang menjarah-nya maka ini lebih diutamakan dari ta’dil</strong>. Nah itulah konsekuensi perkataan anda. Justru dengan perkataan anda maka banyak perawi tsiqat [bahkan perawi shahih] menjadi dhaif. Lucu sekali, tampaknya untuk membantah hujjah orang-orang seperti anda saya hanya cukup mengikuti cara berhujjah yang anda pakai.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perkataan yang kami hitamkan itu yang ia kutip dan silakan pembaca lihat perkataan itu bukanlah pandangan kami terhadap kedudukan Ad Duulabiy melainkan perkataan yang kami tujukan kepada Farid sebagai konsekuensi perkataannya sendiri. Bagi orang yang mengikuti blog kami dengan baik maka ia pasti dapat melihat bahwa kami tidak pernah melemahkan Ad Duulabiy bahkan kami telah menguatkan ta’dil terhadapnya. Silakan baca <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/01/11/pembahasan-hadis-%E2%80%9Cash-shiddiq%E2%80%9D-dan-%E2%80%9Cbintu-ash-shiddiq%E2%80%9D/">tulisan kami yang ini yang dibuat jauh sebelumnya</a>. Ada baiknya kami kutip apa yang sudah kami tulis tentang Ad Duulabiy</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Daruquthni berkata tentang Ad Dulabiy “ia dibicarakan tidaklah nampak dalam urusannya kecuali kebaikan”. Ibnu Khalikan berkata “ia seorang yang alim dalam hadis khabar dan tarikh”. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang Imam hafizh dan alim. Ibnu Yunus berkata “ia telah dilemahkan” tetapi Ibnu Yunus juga mengatakan hadis tulisannya baik. Ibnu Ady berkata “ia tertuduh terhadap apa yang dikatakannya pada Nu’aim bin Hammad karena sikap kerasnya terhadap ahlur ra’yu” dan memang disebutkan Ibnu Ady kalau ia fanatik terhadap mahzab hanafi yang dianutnya. Pembicaraan terhadap Ad Dulabiy bukan terkait dengan hadis-hadisnya tetapi terkait dengan sikap terhadap mahzab hanafi yang dianutnya dan tentu saja pembicaraan ini tidak berpengaruh bagi kedudukannya sebagai seorang periwayat dan penulis hadis. <strong>Kesimpulannya ia seorang yang tsiqat</strong> seperti yang disebutkan dalam Irsyad Al Qadhi no 781</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Inilah pandangan kami soal Ad Duulabiy, sedangkan apa yang kami kutip dalam komentar adalah sebagai hadiah sindiran untuk Farid bahwa metode pelemahan perawi yang ia pakai mengalami kontradiksi. Sungguh ajaib, bukannya tersindir si Farid ini malah menuduh kami yang kontradiksi. Soal pembahasan Abu Balj beserta kutipan Bukhari [yang berasal dari Ad Duulabiy] sudah kami tuliskan dalam <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/11/14/studi-kritis-kredibilitas-abu-balj-yahya-bin-abi-sulaim-al-kufiy/">tulisan terbaru tentang “Kedudukan Abu Balj”</a> dan tidak ada disana kami mencacatkan Ad Duulabiy.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kontradiksi Kedua</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Farid menuduh kami melemahkan Baqiyah bin Waalid. Ia mengutip dimana kami sebelumnya menta’dilkan Baqiyah yaitu perkataan kami</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Atsar narrated by al-Bukhari seems contain ‘an anah Baqiyah but in the narration of Ya’qub Al Fasawi, Baqiyah clarified his sima&#8217;. [Refer to Ma'rifat Wal Tarikh 2/385]</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perkataan ini benar kami memang mengatakannya. Farid itu pernah melemahkan atsar yang dibawakan Bukhari dengan alasan ‘an anah Baqiyah maka kami bawakan lafaz penyimakan Baqiyah [silakan lihat <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/07/11/anomali-hadis-ummul-mukminin-aisyah-ra/#comment-20191">disini</a>]. Kami tidak pernah melemahkan Baqiyah, Farid berdusta ketika ia menuduh kami melemahkan Baqiyah. Inilah kutipan Farid yang menurutnya adalah perkataan kami</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>The main critic for this is sanad is the presence of Baqiyyah bin al-Walid</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>1) Abu Hatim: His hadith is written but cannot become a hujjah</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>2) Abu Ishaq al-Jaujazani: May Allah have mercy on Baqiyyah, he is the one who does not care if he found khurafat on the person whom he take the hadith</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>3) al-Baihaqi: The scholars are in consensus that Baqiyyah is not a hujjah</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>4) Abdul Haq: Baqiyyah cannot be make as hujjah</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>5) Abu Musyir: The narrations of Baqiyyah is not pure</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>6) Ibnu Khuzaimah: I will not make hujjah of Baqiyyah</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>7) Ibnu Qaththan: Baqiyyah always tadlis his hadith on the weak narrators and he allows it. If true then his &#8216;adalah must be rejected</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>8) az-Zahabi: Baqiyyah based his hadith on weak narrators and he did it</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>References: Mizanul &#8216;itidal 1/331-339, Tahzib at-Tahzib: 1/298-300 and Dhua&#8217;fa al-Kabir 1/162-163</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>He even narrated many mungkar and maudhu&#8217; hadith</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Some them are</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>a) Someone see his private part during sexual intercourse with his wife will inherit blindness</em></span><br />
<span style="color:#0000ff;"><em>b) Looking to private parts are ibadah</em></span><br />
<span style="color:#0000ff;"><em>c) Nikah is not valid without permission man and woman</em></span><br />
<span style="color:#0000ff;"><em>d) Whoever did not asked the prophet will get paradise</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Farid menuduh kami atas kutipan di atas padahal kapan kami mengatakannya?. Kutipan ini ternyata berkaitan dengan hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin yang dilemahkan oleh Syiah. Wahai Farid kami tidak pernah melemahkan hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin bahkan kami berpandangan bahwa hadis tersebut shahih sebagaimana bisa dilihat dalam <a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-ketiga/">tulisan kami disini</a>. Farid dan orang-orang sejenis mereka di forum nashibi itu memang mengidap penyakit “syiahpobhia” seenaknya ia menuduh orang lain syiah dan seenaknya ia menuduh orang yang bertentangan dengan mereka sebagai syiah. Kedustaan yang ia katakan atas nama kami itu terjadi karena kebenciannya terhadap Syiah sehingga apa yang Syiah katakan maka dalam pandangannya itu pulalah perkataan kami.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kontradiksi Ketiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada lagi contoh yang dibawakan oleh orang yang menyebut dirinya “Farid”. Ia menuduh kami kontradiksi soal dua pendapat terhadap perawi dimana yang satu kutipan dan yang satu dari kitab</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>3- The Correct Position to Take if a Scholar has Two Opinions about a Narrator, One in Their Book, and Another Attributed to him</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>1st Position: The scholar’s statement from his own book is accepted, and the one attributed to him by his students are rejected.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Reason: To disapprove the criticism of Al-Bukhari to Abu Balj</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menyinggung dimana kami lebih berpegang pada apa yang tertulis dalam kitab Bukhari tentang Abu Balj dan tidak peduli terhadap kutipan Ad Duulabiy dari Bukhari. Dalam perkara ini ada baiknya Farid membaca tulisan kami tentang kedudukan Abu Balj. Disitu dapat dilihat bahwa kami berusaha mengkompromikan dengan baik antara apa yang tertulis dalam kitab Bukhari dan kutipan Ad Duulabiy dari Bukhari. Dalam menghadapi dua pendapat yang berbeda terhadap perawi maka kita dapat melakukan kompromi antara kedua pendapat tersebut atau merajihkan salah satu. Jika dipilih metode tarjih maka memang benar apa yang kami katakan sebelumnya yaitu apa yang tertulis dalam kitab ulama tersebut lebih rajih dibanding kutipan. Baik metode kompromi atau tarjih tetap saja hasil akhirnya Abu Balj seorang yang tsiqat.</p>
<p style="text-align:justify;">Farid menganggap kami kontradiksi ketika kami membahas tentang Mujalid bin Sa’id dalam <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/08/08/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cjika-kamu-melihat-muawiyah-di-mimbarku-maka-bunuhlah-ia%E2%80%9D/">salah satu tulisan kami</a>. Farid mengutip bahwa kami berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Bukhari include him in Adh Dhu’afa but Ibnu Hajar also quoted from Bukhari stating he is “shaduq”.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kami memang mengatakan demikian dalam tulisan tersebut dan itu kami kutip [dengan maknanya] dari kitab At Tahdzib. Yang aneh adalah menuduh kami kontradiksi dalam hal ini. Kami pribadi tidak menetapkan mana yang lebih rajih dari kedua hal tersebut karena baik dikompromikan atau ditarjih hasil akhirnya tetap sama. Pada akhirnya kami menganggap <span style="text-decoration:underline;">Mujalid sebagai seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar atau dengan kata lain hadisnya hasan jika ada penguat</span>. Itulah sebabnya hadis Mujalid dalam tulisan tersebut kami nyatakan <span style="color:#0000ff;"><em>“hasan lighairihi”</em></span>. Seandainya kami seenaknya berpegang pada kutipan Bukhari bahwa Mujalid “shaduq” dan meninggalkan apa yang tertulis dalam kitab Bukhari maka kami akan dengan mudah mengatakan hadis tersebut hasan lidzatihi. Faktanya tidak, kami tetap menganggap Mujalid seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah kebetulan Farid si nashibi yang ngaku ngaku ahlus sunnah mengutip soal Ad Dhu’afa Bukhari. Sekedar info buat anda wahai Farid, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Pernyataan Bukhari terhadap perawi “shaduq”</span></span> dan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Bukhari memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa</span></span> tidaklah dikatakan bertentangan karena jika memang demikian maka Bukhari lebih layak anda katakan kontradiksi dan ia adalah orang yang lebih layak anda tuduh. Silakan lihat dalam kitab Adh Dhu’afa milik Bukhari tentang perawi-perawi berikut</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Ayub bin ‘Aa’idz Ath Tha’iy, Bukhari memasukkannya dalam Adh Dhu’afa tetapi menyatakan ia shaduq [Adh Dhu’afa Ash Shaghiir no 24]</li>
<li style="text-align:justify;">Dzar bin ‘Abdullah Al Hamdaniy, Bukhari memasukkannya dalam Adh Dhu’afa tetapi menyatakan ia shaduq dalam hadis [Adh Dhu’afa Ash Shaghiir no 113]</li>
<li style="text-align:justify;">As Shalt bin Mihraan, Bukhari memasukkannya dalam Adh Dhu’afa tetapi menyatakan ia shaduq dalam hadis [Adh Dhu’afa Ash Shaghiir no 170]</li>
<li style="text-align:justify;">Thalq bin Habib, Bukhari memasukkannya dalam Adh Dhu’afa tetapi menyatakan ia shaduq dalam hadis [Adh Dhu’afa Ash Shaghiir no 179]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Nah Farid setelah anda menuduh kami maka sebaiknya Bukhari pun juga anda tuduh atau mau pilih pilih karena kami anda tuduh syiah maka kami seenaknya anda tuduh sedangkan Bukhari sunni maka harus anda bela. Tidak perlu menipu orang-orang awam disana dengan tulisan rendahan model begitu lebih baik anda banyak belajar ilmu hadis agar ucapan anda tidak sembarangan. <strong>Salam damai</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2665/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2665&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2012/01/03/membantah-penipuan-farid-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Zaid bin Tsabit : Ilmu Abu Hurairah Yang Tidak Akan Lupa?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/28/hadis-zaid-bin-tsabit-ilmu-abu-hurairah-yang-tidak-akan-lupa/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/28/hadis-zaid-bin-tsabit-ilmu-abu-hurairah-yang-tidak-akan-lupa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 00:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2662</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Zaid bin Tsabit : Ilmu Abu Hurairah Yang Tidak Akan Lupa? Masih berkaitan dengan mitos Abu Hurairah yang tidak pernah lupa, ada hadis lain yang dijadikan hujjah oleh para nashibi. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit berbeda dengan hadis sebelumnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sendiri. Kami membahas hadis ini secara khusus untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2662&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Zaid bin Tsabit : Ilmu Abu Hurairah Yang Tidak Akan Lupa?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masih berkaitan dengan mitos Abu Hurairah yang tidak pernah lupa, ada hadis lain yang dijadikan hujjah oleh para nashibi. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit berbeda dengan hadis sebelumnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sendiri. Kami membahas hadis ini secara khusus untuk membantah syubhat nashibi yang gemar menuduh orang lain padahal diri merekalah yang tertuduh.<span id="more-2662"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو عبد الله محمد بن عبد الله الأصبهاني ثنا الحسين بن حفص ثنا حماد بن شعيب عن إسماعيل بن أمية أن محمد بن قيس بن مخرمة حدثه أن رجلا جاء زيد بن ثابت فسأله عن شيء فقال له زيد عليك بأبي هريرة فإنه بينا أنا وأبو هريرة وفلان في المسجد ذات يوم ندعو الله تعالى ونذكر ربنا خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى جلس إلينا قال فجلس وسكتنا فقال عودوا للذي كنتم فيه قال زيد فدعوت أنا وصاحبي قبل أبي هريرة وجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤمن على دعائنا قال ثم دعا أبو هريرة فقال اللهم إني أسألك مثل الذي سألك صاحباي هذان وأسألك علما لا ينسى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم آمين فقلنا يا رسول الله ونحن نسأل الله علما لا ينسى فقال سبقكما بها الدوسي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Abdullah Al Ashbahaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Syu’aib dari Isma’il bin Umayyah bahwa Muhammad bin Qais bin Makhramah menceritakan kepadanya bahwa seorang laki-laki datang kepada Zaid bin Tsabit dan bertanya kepadanya tentang sesuatu. Maka Zaid berkata kepadanya “pergilah pada Abu Hurairah bahwasanya aku, Abu Hurairah dan fulan pernah berada di dalam masjid suatu hari dan kami sedang berdoa dan menyebut nama Allah kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menemui kami dan duduk di sisi kami. Beliau berkata “lanjutkanlah doa kalian”. Zaid berkata “maka aku dan sahabatku berdoa sebelum Abu Hurairah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengaminkan doa kami. Zaid berkata “kemudian Abu Hurairah berdoa, ia berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu apa yang dimohonkan oleh kedua sahabatku dan aku memohon ilmu yang tidak pernah lupa”</span></span>. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “amin”. Kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kami juga memohon kepada Allah ilmu yang tidak pernah lupa”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kalian berdua telah didahului oleh anak suku Daus itu” <strong>[Al Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim juz 3 no 6158 dimana Al Hakim berkata “sanadnya shahih tetapi Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis riwayat Al Hakim ini sanadnya dhaif karena Hammaad bin Syu’aib. Ia adalah <span style="color:#0000ff;">Hammaad bin Syu’aib Al Himmaniy</span>. Ibnu Ma’in menyatakan ia dhaif dan tidak ditulis hadisnya. Nasa’i menyatakan dhaif. Ibnu Adiy juga melemahkannya dan menyatakan ia meriwayatkan hadis yang tidak memiliki mutaba’ah dan hadis mungkar. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Abu Zur’ah berkata “dhaif”. Bukhari terkadang berkata “fiihi nazhar” terkadang berkata “mungkar al hadits” dan terkadang berkata “ditinggalkan hadisnya” [Lisan Al Mizan juz 2 no 1413]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Zaid bin Tsabit tersebut juga disebutkan oleh Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Awsath 2/54 no 1228 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 3/440 no 5870</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أحمد قال حدثنا محمد بن صدران قال حدثنا الفضل بن العلاء عن إسماعيل بن أمية عن محمد بن قيس عن أبيه أن رجلا جاء زيد بن ثابت فسأله عن شيء فقال له زيد عليك بأبي هريرة فإني بينا أنا وأبو هريرة وفلان ذات يوم في المسجد ندعوا ونذكر ربنا عز و جل إذ خرج علينا رسول الله حتى جلس إلينا فسكتنا فقال عودوا للذي كنتم فيه قال زيد فدعوت أنا وصاحبي قبل أبي هريرة وجعل النبي يؤمن على دعائنا ثم دعا أبو هريرة فقال اللهم إني أسألك مثل ما سألك صاحباي وأسألك علما لا ينسى فقال النبي آمين فقلنا يا رسول الله نحن نسأل الله علما لا ينسى فقال رسول الله سبقكما بها الغلام الدوسي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shadraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Fadhl bin Al ‘Alaa’ dari Isma’iil bin Umayyah dari Muhammad bin Qais dari ayahnya bahwa seorang laki-laki datang kepada Zaid bin Tsabit dan bertanya kepadanya tentang sesuatu. Maka Zaid berkata “pergilah kepada Abu Hurairah karena pernah aku, Abu Hurairah dan fulan pada suatu hari berada di dalam masjid sedang berdoa dan menyebut Tuhan kami, kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang dan duduk bersama kami. Beliau berkata “lanjutkanlah doa kalian”. Zaid berkata “maka aku dan sahabatku berdoa sebelum Abu Hurairah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengaminkan doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa “ya Allah aku meminta seperti apa yang dipinta kedua sahabatku dan aku meminta ilmu yang tidak aku lupakan”. Nabi berkata “amin”. Maka kami berkata “wahai Rasulullah kami juga meminta kepada Allah ilmu yang tidak kami lupakan”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kalian berdua telah didahului oleh anak suku Daus itu”<strong> [Mu’jam Al Awsath Ath Thabraniy 2/54 no 1228]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Haitsamiy dalam kitabnya <em>Majma’ Az Zawaid</em> 9/604 no 15952 menegaskan bahwa Qais ayahnya Muhammad bin Qais yang dimaksud adalah Qais Al Madaniy, Al Haitsami membawakan riwayat</p>
<h2 style="text-align:right;">عن قيس المدني أن رجلا جاء زيد بن ثابت فسأل عن شيء فقال له زيد</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Qais Al Madaniy bahwa seorang laki laki datang kepada Zaid bin Tsabit dan bertanya sesuatu kepadanya, maka Zaid berkata <strong>[Majma’ Az Zawaid 9/604 no 15952]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini juga ditegaskan oleh Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal dalam biografi Qais Al Madaniy, ia menyatakan bahwa hadis Thabraniy di atas adalah riwayat dari Qais Al Madaniy [Tahdzib Al Kamal 24/93 no 4932]. Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">قيس المدني روى عن زيد بن ثابت في فضل أبي هريرة وعنه ابنه محمد بن قيس قاص عمر بن عبد العزيز قلت قال الذهبي ما روى إلا ابنه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Qais Al Madaniy meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit tentang keutamaan Abu Hurairah dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Qais tukang cerita Umar bin ‘Abdul Aziz. Aku berkata “Adz Dzahabi berkata tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali anaknya”<strong> [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 734]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Qais Al Madaniy tidak dikenal kredibilitasnya dan yang meriwayatkan darinya hanyalah anaknya Muhammad bin Qais maka ia seorang yang majhul sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dalam At Taqrib [At Taqrib 2/36]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Asakir membawakan hadis tersebut dengan sanad yang menunjukkan kalau Muhammad bin Qais yang dimaksud adalah Muhammad bin Qais bin Makhramah</p>
<h2 style="text-align:right;">اخبرناه أبو المعالي محمد بن إسماعيل بن محمد الفارسي أنا أبو بكر أحمد بن الحسين أنا علي بن أحمد بن عبدان أنا أحمد بن عبيد الصفار ثنا إسماعيل بن الفضل نا إبراهيم بن محمد بن عرعرة نا فضل بن العلاء نا إسماعيل بن أمية عن محمد بن قيس يعني ابن مخرمة عن أبيه أنه أخبره أن رجلا رجاء إلى زيد بن ثابت فسأله عن شئ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah mengabarkan kepada kami Abu Ma’aaliy Muhammad bin Isma’iil bin Muhammad Al Faarisiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ahmad bin ‘Abdaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ubaid bin Ash Shaffaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaiil bin Fadhl yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin ‘Ar’araah yang berkata telah menceritakan kepada kami Fadhl bin Al ‘Alaa’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Umayyah dari <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Muhammad bin Qais yakni Ibnu Makhramah</span></span> dari ayahnya bahwasanya ia mengabarkan kepadanya bahwa seorang laki laki datang kepada Zaid bin Tsabir dan bertanya sesuatu kepadanya <strong>[Tarikh Ibnu Asakir 67/334-335]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Lafaz <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“Muhammad bin Qais yakni Ibnu Makhramah”</span></span> adalah khata’ [keliru] dan kekeliruan ini berasal dari salah satu perawinya. Kemungkinan perawi yang dimaksud adalah Ibrahim bin Muhammad bin ‘Ar’araah ia termasuk seorang yang hafizh dan tsiqat tetapi Ahmad bin Hanbal telah mendustakannya [At Tahdzib juz 1 no 279].</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ibrahim bin Muhammad bin ‘Ar’araah</span> terbukti melakukan kedustaan atau jika memang bukan kedustaan maka itu adalah kesalahan, ia pernah meriwayatkan hadis dari Mu’adz bin Hisyaam yaitu hadis Ibnu Abbas dimana ia meriwayatkan dengan lafaz bahwa Mu’adz menceritakan hadis tersebut langsung kepadanya padahal sebenarnya ia mengambil riwayat tersebut dari kitab Mu’adz dan Mu’adz tidak menceritakan langsung kepadanya. Inilah yang menyebabkan Ahmad bin Hanbal mencelanya dan menuduh dusta terhadap Ibrahim bin Muhammad bin ‘Ar’araah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Ibnu Abbas yang dimaksud adalah hadis gharib riwayat Qatadah dari Abi Hassaan dari Ibnu Abbas. Ath Thabrani menyebutkannya dalam Mu’jam Al Kabir 12/205 no 12904 dimana Ibrahim berkata “telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyaam”. Tetapi di saat lain Ibrahim mengatakan kalau ia mengambil hadis tersebut dari kitab dan tidak mendengar langsung dari Mu’adz sebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar 2/425-426. Maka benarlah Ahmad bin Hanbal ketika ia mendustakan Ibrahim. Ibrahim termasuk seorang yang tsiqat dimana Abu Hatim berkata “shaduq”. Al Khaliliy, Ibnu Qani’ dan Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 279]. Maka ada dua kemungkinan</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;"><em>Jika dilakukan dengan sengaja maka Ibrahim terbukti berdusta dan ini adalah<span style="text-decoration:underline;"> jarh mufassar</span> yang lebih didahulukan daripada ta’dil</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Jika dilakukan dengan tidak sengaja maka Ibrahim tidak berdusta tetapi ia melakukan kesalahan atau mengalami ikhtilath sehingga ia lupa apa yang ia riwayatkan.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hadis Ibnu Asakir yang diriwayatkan Ibrahim dengan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“Muhammad bin Qais yakni Ibnu Makhramah”</span></span> bisa jadi termasuk kesalahannya karena diantara guru Ismail bin Umayyah tidak ada yang bernama Muhammad bin Qais bin Makhramah dan disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">salah seorang guru Ismail bin Umayyah adalah Muhammad bin Qais Al Madaniy</span></span>. Begitu pula dalam biografi Muhammad bin Qais bin Makhramah tidak disebutkan bahwa ia memiliki murid yang bernama Ismail bin Umayyah tetapi disebutkan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dalam biografi Muhammad bin Qais Al Madaniy bahwa ia memiliki murid yang bernama Ismail bin Umayyah</span></span>. Maka jelas Muhammad bin Qais yang dimaksud adalah Al Madaniy bukan Ibnu Makhramah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu jika menuruti metode ilmu hadis ala nashibi yang suka mencari cari jarh terhadap perawi maka hadis Zaid bin Tsabit ini memiliki kelemahan lain yaitu <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Fadhl bin Al ‘Alaa’</span></span>, ia dikatakan oleh Abu Hatim <em>“syaikh yang ditulis hadisnya”</em> [Al Jarh Wat Ta’dil 7/65 no 368] pernyataan itu di sisi Abu Hatim menunjukkan bahwa Fadhl seorang yang bermasalah dalam hafalannya sehingga tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [bersendirian] dalam meriwayatkan hadis tetapi bisa dijadikan i&#8217;tibar. Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Daruquthni yang berkata <em>“Fadhl banyak melakukan kesalahan</em>” [Su’alat Al Hakim no 453]. Dan Fadhl bin Al ‘Alaa’ memang tafarrud dalam meriwayatkan hadis Zaid bin Tsabit ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari segi matan hadis maka hadis Zaid bin Tsabit ini juga bermasalah. Peristiwa Abu Hurairah bersama Zaid ini berbeda dengan peristiwa Abu Hurairah yang menghadap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Seandainya para nashibi menerima hadis Abu Hurairah sebelumnya bahwa ia telah didoakan oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak akan lupa maka apa gunanya Abu Hurairah kembali berdoa meminta hal yang sama dalam doanya. Apakah Abu Hurairah meragukan perkataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga setelah itu ia perlu meminta kembali hal yang sama dalam doanya?.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis hadis yang menunjukkan Abu Hurairah tidak akan lupa adalah hadis yang tidak benar. Hadis Zaid bin Tsabit di atas jelas dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah sedangkan hadis Abu Hurairah sebelumnya adalah keliru karena terbukti Abu Hurairah bisa lupa dalam hadisnya. Nashibi tidak mau mengakui hal ini, mereka mencari cari dalih untuk membela Abu Hurairah. Diantara pembelaan konyol mereka adalah membagi hadis Abu Hurairah menjadi dua jenis</p>
<ol>
<li><em>Hadis Abu Hurairah yang ia dengar sebelum Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan ia tidak akan lupa</em></li>
<li><em>Hadis Abu Hurairah yang ia dengar setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan ia tidak akan lupa</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Menurut nashibi hadis jenis pertama masih mungkin dilupakan oleh Abu Hurairah sedangkan hadis jenis kedua Abu Hurairah tidak akan lupa. Pembagian ini tidak lain hanya akal-akalan, bukti yang menentang pembagian ini adalah hadis Abu Hurairah tersebut. Silakan perhatikan hadis berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ <span style="color:#0000ff;">إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا فَأَنْسَاهُ</span> قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُ فَغَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ حَدِيثًا بَعْد</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu yang berkata aku berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa</span></span>, Rasulullah berkata “hamparkan selendangmu” maka aku menghamparkan kemudian Beliau menciduk sesuatu dengan tangannya dan berkata “ambillah” aku mengambilnya. Maka setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis <strong>[Shahih Bukhari 4/208 no 3648]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan lafaz perkataan Abu Hurairah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa”</span></span>. Dari pernyataan ini Abu Hurairah mengeluhkan banyak hadis yang telah ia dengar sebelumnya dan ia telah lupa hadis tersebut. Pernyataan ini mengandung dua kemungkinan</p>
<ol>
<li><em>Abu Hurairah lupa semua hadis yang ia dengar sebelumnya</em></li>
<li><em>Abu Hurairah lupa sebagian hadis yang ia dengar sebelumnya</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Jika kemungkinan pertama yang benar maka <span style="text-decoration:underline;">tidak ada namanya hadis jenis pertama</span> karena semua hadis yang Abu Hurairah dengar sebelumnya sudah terlupa. Jika kemungkinan kedua yang benar maka Abu Hurairah ketika datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia mengeluhkan sebagian hadis yang ia lupakan artinya ia masih memiliki sebagian hadis lain yang masih ia ingat dan belum ia lupakan. Nah tujuan ia datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah agar bagaimana caranya ia tidak lagi lupa akan hadis hadis yang masih ia ingat. Itulah sebabnya Abu Hurairah berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis”</em></span>. Jadi pernyataan tidak lupa itu mencakup hadis hadis yang ia dengar sebelumnya dan masih ia ingat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembagian yang benar bukan terletak pada jenis hadis Abu Hurairah, apakah ia dengar sebelumnya atau setelahnya. Yang seharusnya dibagi itu adalah keadaan Abu Hurairah</p>
<ol>
<li><em>Sebelum didoakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Abu Hurairah bisa lupa soal hadis</em></li>
<li><em>Setelah didoakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Abu Hurairah tidak akan lupa soal hadis</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Nah hadis hadis yang masih diingat Abu Hurairah saat Nabi mendoakannya jelas termasuk dalam hadis yang tidak akan lupa karena itulah tujuan Abu Hurairah datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] supaya sebagian hadis yang masih tersisa dalam ingatannya terselamatkan dan tidak akan ia lupakan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/hadis/'>Hadis</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2662/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2662&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/28/hadis-zaid-bin-tsabit-ilmu-abu-hurairah-yang-tidak-akan-lupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Ali dan Zubair Mengakui Abu Bakar Berhak Menjadi Khalifah?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/03/apakah-ali-dan-zubair-mengakui-abu-bakar-berhak-menjadi-khalifah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/03/apakah-ali-dan-zubair-mengakui-abu-bakar-berhak-menjadi-khalifah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 00:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2655</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Ali dan Zubair Mengakui Abu Bakar Berhak Menjadi Khalifah? Ada riwayat yang sering dinukil oleh para nashibi untuk membuktikan klaim mereka bahwa Imam Ali mengakui Abu Bakar berhak sebagai khalifah. Riwayat tersebut dinukil oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah dimana ia sendiri menukil dari Musa bin Uqbah dalam kitab Maghazi-nya. Kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2655&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Apakah Ali dan Zubair Mengakui Abu Bakar Berhak Menjadi Khalifah?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada riwayat yang sering dinukil oleh para nashibi untuk membuktikan klaim mereka bahwa<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> Imam Ali mengakui Abu Bakar berhak sebagai khalifah</span></span>. Riwayat tersebut dinukil oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya <em>Al Bidayah Wan Nihayah</em> dimana ia sendiri menukil dari Musa bin Uqbah dalam kitab Maghazi-nya. Kami akan meneliti riwayat tersebut dan membuktikan bahwa riwayat tersebut tidaklah tsabit.<span id="more-2655"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال موسى بن عقبة في مغازيه عن سعد بن إبراهيم حدثني أبي أن أباه عبد الرحمن بن عوف كان مع عمر وأن محمد بن مسلمة كسر سيف الزبير ثم خطب أبو بكر واعتذر إلى الناس وقال والله ما كنت حريصا على الإمارة يوما ولا ليلة ولا سألتها الله في سر ولا علانية فقبل المهاجرون مقالته وقال علي والزبير ما غضبنا إلا لأننا أخرنا عن المشورة وإنا نرى أبا بكر أحق الناس بها بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم إنه لصاحب الغار وإنا لنعرف شرفه وخيره ولقد أمره رسول الله صلى الله عليه وسلم بالصلاة بالناس وهو حي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan berkata Musa bin Uqbah dalam Maghazi-nya dari <span style="text-decoration:underline;">Sa’d bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku</span> bahwa ayahnya Abdurrahman bin ‘Auf bersama Umar, dan bahwa Muhammad bin Maslamah mematahkan pedang Zubair kemudian Abu Bakar berkhutbah, memohon maaf kepada orang orang dan berkata “demi Allah sesungguhnya aku tidak pernah berambisi atas kepemimpinan ini baik siang maupun malam, dan aku tidak pernah meminta hal tersebut kepada Allah baik sembunyi maupun terang terangan”. Maka kaum Muhajirin menerima perkataannya. Ali dan Zubair berkata<span style="color:#0000ff;"> “kami tidak marah kecuali karena kami tidak diikutkan dalam musyawarah ini dan kami berpandangan bahwa <span style="text-decoration:underline;">Abu Bakar adalah orang yang paling berhak atasnya sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]</span>. Dialah orang yang menemani Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di dalam gua, kami telah mengenal kemuliaan dan kebaikannya. Dialah yang diperintahkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memimpin shalat manusia ketika Beliau masih hidup</span> <strong>[Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir 9/471]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini [jika memang tsabit dari Musa bin Uqbah] diriwayatkan oleh para perawi tsiqat tetapi mengandung illat [cacat]. Riwayat ini sanadnya berhenti pada Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf dimana ia menceritakan kisah pembaiatan kepada Abu Bakar bahwa ayahnya ikut bersama rombongan Umar bin Khaththab yang mematahkan pedang Zubair kemudian ia juga menceritakan khutbah Abu Bakar dan pengakuan Ali dan Zubair bahwa Abu Bakar berhak atas khilafah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 11 H yaitu saat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf wafat pada tahun 96 H [Al Kasyf no 165]. Jadi ada jeda sekitar 85 tahun antara peristiwa tersebut dan wafatnya Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Auf. Diperselisihkan kapan ia lahir. Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat menyatakan ia wafat di madinah tahun 96 H dalam usia 75 tahun [Ats Tsiqat juz 4 no 1594]. Menurut keterangan Ibnu Hibban maka ia lahir sekitar tahun 21 H dan itu berarti sangat jelas riwayat tersebut inqitha’ [sanadnya terputus].</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia sebenarnya lahir pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. [At Tahdzib juz 1 no 248]. Pernyataan ini patut diberikan catatan. Ibu dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman adalah Ummu Kultsum binti Uqbah dan ayahnya adalah ‘Abdurrahman bin Auf. Ummu Kultsum binti Uqbah awalnya menikah dengan Zaid bin Haritsah kemudian ketika Zaid terbunuh [pada perang mu’tah tahun 8 H] ia menikah dengan Zubair sehingga melahirkan Zainab kemudian bercerai dan baru menikah dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. [Al Ishabah 8/291 no 12227 biografi Ummu Kultsum]. Jika ia menikah dengan Zubair pada tahun 8 H maka mungkin ia melahirkan Zainab pada tahun 9 H. Itu berarti Ummu Kultsum menikah dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf pada tahun 9 H. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat pada tahun 11 H. Seandainya dikatakan Ibrahim bin ‘Abdurrahman lahir dimasa hidup Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka ia lahir pada tahun 10 H atau 11 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi saat peristiwa tersebut terjadi yaitu <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat, Abu Bakar dibaiat kemudian berkhutbah, Ali dan Zubair mengakui khalifah Abu Bakar</span>, Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf berusia lebih kurang satu tahun maka riwayat ini sanadnya inqitha’ [terputus]. Ibrahim tidak menyaksikan peristiwa tersebut dan ia meriwayatkannya melalui perantara yang tidak ia sebutkan. Kesimpulannya riwayat Musa bin Uqbah itu dhaif karena sanadnya terputus.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu terdapat illat [cacat] lain dari riwayat Musa bin Uqbah tersebut, <span style="color:#0000ff;">sanadnya tidaklah tsabit sampai Musa bin Uqbah</span>. Riwayat ini disebutkan dalam kitab <em>Al Ahadits Al Muntakhab Min Maghazi Musa bin Uqbah</em> Ibnu Qaadhiy Asy Syuhbah hal 94 no 19. Berikut ringkasan sanad penulis kitab ini sampai Musa bin Uqbah</p>
<h2 style="text-align:right;">قنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَتَّابٍ الْعَبْدِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُقْبَةَ ، عَنْ عَمِّهِ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ ، صَاحِبِ الْمَغَازِي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Attaab Al ‘Abdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Qaasim bin ‘Abdullah bin Mughiirah yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Ismail bin Abi Uwais</span></span> yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaiil bin Ibrahim bin Uqbah dari pamannya Musa bin Uqbah penulis Maghaaziy</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sanad ini dhaif karena <span style="color:#0000ff;">Ismail bin Abi Uwais</span>. Ia adalah perawi Bukhari Muslim yang dikenal dhaif. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya” [Akwal Ahmad no 166]. Nasa’i berkata “dhaif” [Adh Dhu’afa An Nasa’i no 42]. Daruquthni menyatakan ia dhaif [Akwal Daruquthni fii Rijal no 544]. Abu Hatim berkata “tempat kejujuran dan ia pelupa” [Al Jarh Wat Ta’dil 2/180 no 613]. Terdapat perselisihan soal pendapat Ibnu Ma’in</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Ad Darimi meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa tidak ada masalah padanya [Al Kamil Ibnu Adiy 1/323].</li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa ia shaduq tetapi lemah akalnya [Al Jarh Wat Ta’dil 2/180 no 613].</li>
<li style="text-align:justify;">Muawiyah bin Shalih meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa Ismail bin Abi Uwais dhaif [Adh Dhu’afa Al Uqaili 1/87 no 100]</li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Junaid meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa Ismail bin Abi Uwais kacau [hafalannya], berdusta dan tidak ada apa apanya [Su’alat Ibnu Junaid no 162]</li>
<li style="text-align:justify;">Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Qaasim meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa ia dhaif, orang yang paling dhaif, tidak halal seorang muslim meriwayatkan darinya [Ma’rifat Ar Rijal Yahya bin Ma’in no 121]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang rajih, Ibnu Ma’in pada awalnya menganggap ia tidak ada masalah tetapi selanjutnya terbukti bahwa ia lemah akalnya, kacau hafalannya dan berdusta maka Ibnu Ma’in menyatakan ia dhaif dan tidak boleh meriwayatkan darinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Adiy berkata “ini hadis mungkar dari Malik, tidak dikenal kecuali dari hadis Ibnu Abi Uwais, Ibnu Abi Uwais ini meriwayatkan dari Malik hadis-hadis yang ia tidak memiliki mutaba’ah atasnya dan dari Sulaiman bin Bilal dari selain mereka berdua dari syaikh syaikh-nya [Al Kamil Ibnu Adiy 1/324]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 395]. Ibnu Hazm berkata “dhaif” [Al Muhalla 8/7]. Salamah bin Syabib berkata aku mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan mungkin aku membuat-buat hadis untuk penduduk Madinah jika terjadi perselisihan tentang sesuatu diantara mereka [Su’alat Abu Bakar Al Barqaniy hal 46-47 no 9]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata “shaduq tetapi sering salah dalam hadis dari hafalannya” kemudian dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa ia seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan I’tibar [Tahrir At Taqrib no 460]. Ibnu Hajar dalam Al Fath menyatakan bahwa ia tidak bisa dijadikan hujjah hadisnya kecuali yang terdapat dalam kitab shahih karena celaan dari Nasa’i dan yang lainnya [Muqaddimah Fath Al Bari hal 391]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini juga diriwayatkan dengan sanad lain hingga Musa bin Uqbah sebagaimana disebutkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3 no 4422 dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 8/152 no 16364 dan Al I’tiqaad hal 350. Riwayat Baihaqi berasal dari gurunya Al Hakim jadi sanadnya kembali kepada Al Hakim, berikut sanad riwayat tersebut dalam kitab Al Mustadrak Al Hakim</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن صالح بن هانئ ثنا الفضل بن محمد البيهقي ثنا إبراهيم بن المنذر الحزامي ثنا محمد بن فليح عن موسى بن عقبة عن سعد بن إبراهيم قال حدثني إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shalih bin Haani’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Fadhl bin Muhammad Al Baihaqiy</span></span> yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mundzir Al Hizaamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Muhammad bin Fulaih</span></span> dari Musa bin Uqbah dari Sa’d bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf <strong>[Mustadrak Ash Shahihain juz 3 no 4422]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sanad ini mengandung illat [cacat] yaitu dua orang perawinya diperbincangkan yaitu Fadhl bin Muhammad Al Baihaqiy dan Muhammad bin Fulaih bin Sulaiman</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Fadhl bin Muhammad Al Baihaqiy</span>, Ibnu Abi Hatim berkata “ia dibicarakan” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/396 no 393]. Al Hakim menyatakan ia tsiqat. Abu Ali Al Hafizh mendustakannya. Abu ‘Abdullah Al Akhram berkata shaduq hanya saja berlebihan dalam bertasyayyu’ [Lisan Al Mizan juz 4 no 1368]. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Mughni Adh Dhu’afa 2/513 no 4939].</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin Fulaih bin Sulaiman</span>, Ibnu Main menyatakan ia tidak tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak mengapa dengannya tidak kuat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 9 no 661]. Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan berkata “tidak diikuti hadisnya” [Adh Dhu’afa Al Uqaili 4/124 no 1682]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 3159]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq sering salah dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Muhammad bin Fulaih dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar [Tahrir At Taqrib no 6228]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Muhammad bin Fulaih dari Musa bin Uqbah juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad tetapi dengan matan yang tidak memuat khutbah Abu Bakar dan perkataan Ali dan Zubair.</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْمَخْزُومِيُّ الْمُسَيَّبِيُّ نا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ وَغَضِبَ رِجَالٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ فِي بَيْعَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، مِنْهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ  وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، فَدَخَلا بَيْتَ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُمَا السِّلاحُ فَجَاءَهُمَا عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي عِصَابَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِيهِمْ أُسَيْدُ وَسَلَمَةُ بْنُ سَلامَةَ بْنِ وَقْشٍ وَهُمَا مِنْ بَنِي عَبْدِ الأَشْهَلِ وَيُقَالُ فِيهِمْ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ الشَّمَّاسِ أَخُو بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ فَأَخَذَ أَحَدُهُمْ سَيْفَ الزُّبَيْرِ فَضَرَبَ بِهِ الْحَجَرَ حَتَّى كَسَرَهُ  قَالَ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ : قَالَ سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ : حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ كَانَ مَعَ عُمَرَ يَوْمَئِذٍ وَأَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ مَسْلَمَةَ كَسَرَ سَيْفَ الزُّبَيْرِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq bin Muhammad Al Makhzuumiy Al Musayyabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih bin Sulaiman dari Musa bin Uqbah dari Ibnu Syihaab yang berkata sekelompok orang dari Muhajirin marah atas dibaiatnya Abu Bakar, diantara mereka ada Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin ‘Awwaam radiallahu ‘anhuma, maka masuklah mereka ke rumah Fathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan bersama mereka ada senjata. Umar datang kepada mereka dengan sekelompok kaum muslimin diantaranya Usaid dan Salamah bin Salamah bin Waqsy keduanya dari bani ‘Abdul Asyhal, dikatakan juga diantara mereka ada Tsaabit bin Qais bin Asy Syammaas saudara bani Haarits bin Khazraaj. Maka salah satu dari mereka mengambil pedang Zubair dan memukulkannya ke batu hingga patah. <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Musa bin Uqbah berkata Sa’d bin Ibrahim berkata telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf</span> bahwa Abdurrahman bersama Umar pada hari itu dan Muhammad bin Maslamah yang mematahkan pedang Zubair</span>, wallahu a’lam <strong>[As Sunnah Abdullah bin Ahmad 2/553-554 no 1291]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad bin Ishaq bin Muhammad Al Makhzuumiy adalah seorang tsiqat. Shalih bin Muhammad berkata aku mendengar Mushab bin Zubair berkata “tidak ada diantara orang quraisy yang lebih utama dari Al Musayyabiy” dan Shalih berkata “ia tsiqat”. Ibnu Qaani’ dan Ibrahin bin Ishaq Ash Shawwaaf menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 9 no 49]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/54]. Adz Dzahabiy berkata “tsiqat faqih shalih” [Al Kasyf no 4716]. Maka ada dua riwayat</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;"><em>Riwayat Abdullah bin Ahmad dari Muhammad bin Ishaq Al Makhzuumiy dari Muhammad bin Fulaih [lebih tsabit]</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Riwayat Fadhl bin Muhammad Al Baihaqiy dari Ibrahim bin Mundzir dari Muhammad bin Fulaih.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Abdullah bin Ahmad lebih tsabit dari riwayat Fadhl bin Muhammad. Hal ini karena Fadhl bin Muhammad seorang yang diperbincangkan dan matan riwayat Muhammad bin Fulaih yang ia sebutkan soal khutbah Abu Bakar adalah matan riwayat Ismail bin Abi Uwais dari Ismail bin Ibrahim dari Musa bin Uqbah.</p>
<p style="text-align:justify;">Fadhl bin Muhammad memang dikenal meriwayatkan dari Ismail bin Abi Uwais sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 7/69 no 393]. Jadi nampak disini Fadhl bin Muhammad mencampuradukkan riwayat Muhammad bin Fulaih dengan riwayat Ismail bin Abi Uwais. Riwayat Muhammad bin Fulaih yang tsabit berasal darinya adalah</p>
<h2 style="text-align:right;">أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ كَانَ مَعَ عُمَرَ يَوْمَئِذٍ وَأَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ مَسْلَمَةَ كَسَرَ سَيْفَ الزُّبَيْرِ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Bahwa ‘Abdurrahman bersama Umar pada hari itu dan Muhammad bin Maslamah mematahkan pedang Zubair</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan matan yang menyebutkan khutbah Abu Bakar dan pengakuan Ali dan Zubair bahwa Abu Bakar lebih berhak sebagai khalifah adalah matan riwayat Ismail bin Abi Uwais dari Ismail bin Ibrahim dari Musa bin Uqbah. Kesimpulannya riwayat Musa bin Uqbah yang menyebutkan soal pengakuan Ali dan Zubair kedudukannya dhaif dan tidak tsabit sampai ke Musa bin Uqbah karena diriwayatkan oleh Ismail bin Abi Uwais seorang yang dhaif.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2655&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/03/apakah-ali-dan-zubair-mengakui-abu-bakar-berhak-menjadi-khalifah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima sedekah? : Anomali Bantahan Nashibi [2]</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/02/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi-2/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/02/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2646</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima sedekah? : Anomali Bantahan Nashibi [2] Yah beginilah jadinya diskusi dengan makhluk yang akalnya tertutup, sedikitpun ia tidak bisa mengambil pelajaran tetapi malah nafsu membantah. Seolah olah dengan membuat bantahan ia dapat menunjukkan kebenaran hujjahnya padahal malah justru lebih menguatkan kelemahan akalnya. Langsung saja [bantahannya adalah tulisan yang kami blockquote] [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2646&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima sedekah? : Anomali Bantahan Nashibi [2]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yah beginilah jadinya diskusi dengan makhluk yang akalnya tertutup, sedikitpun ia tidak bisa mengambil pelajaran tetapi malah nafsu membantah. Seolah olah dengan membuat bantahan ia dapat menunjukkan kebenaran hujjahnya padahal malah justru lebih menguatkan kelemahan akalnya. Langsung saja [bantahannya adalah tulisan yang kami blockquote]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;"><strong><span id="more-2646"></span><span style="color:#c0c0c0;">.</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;"><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat Zaid bin Arqam</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, jika perkataan Zaid tersebut difahami sebagaimana pemahaman si rafidhi nashibi tersebut, maka di atas adalah pendapat pribadi Zaid, bisa benar dan bisa juga tidak. Tentunya Aisyah yang lebih kuat dalam hal ini, karena dia sebagai istri Nabi yang menjadi obyek pembahasan saat ini.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kami ajarkan caranya berhujjah wahai nashibi. Antara perkataan Zaid bin Arqam dan Aisyah manakah yang shahih?. Jawabannya perkataan Zaid bin Arqam. Kami setuju pendapat Zaid bisa benar bisa salah tetapi itu namanya menyebarkan syubhat bukan berhujjah. Kalau memang salah silakan tunjukkan dalil yang menunjukkan kesalahannya. Kalau tidak ada dalil shahihnya maka perkataan Zaid bin Arqam itu benar apalagi telah dikuatkan oleh dalil yang telah kami sebutkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagi kami dalam memahami riwayat Zaid di atas berbeda dengan si rafidhi nashibi tersebut, yang dimaksud Zaid dengan mengatakan : “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau” adalah Istilah Ahlul Bait secara lebih luas di mana melingkupi keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Ibnu Abbas dan termasuk juga istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam itu sendiri.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Alangkah anehnya nashibi ini, yang dipermasalahkan disini bukan <span style="text-decoration:underline;"><em>istilah Ahlul Bait</em></span> tetapi pernyataan Zaid dimana ia membagi ahlul bait sebagai ada yang diharamkan sedekah atasnya dan ada yang tidak. Kami mengakui kalau Zaid menyatakan istri Nabi sebagai ahlul bait tetapi dalam pandangan Zaid, <span style="text-decoration:underline;"><em>istri Nabi adalah Ahlul Bait yang tidak diharamkan sedekah atasnya</em></span> sedangkan ahlul bait yang diharamkan sedekah atasnya adalah keluarga Ali, keluarga Ja’far, Keluarga Aqil dan Keluarga Abbas, semuanya dari bani hasyim.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karena Zaid memahami apa yang ditanyakan oleh Hushain adalah makna ahlul bait secara khusus sesuai bahasa yaitu penghuni rumah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ini cuma ucapan basa basi dan seperti biasa lahir dari orang yang kebanyakan ngeyel. Berhujjah itu tunduk pada hadis yang dijadikan hujjah bukannya hadis diturutkan dengan hawa nafsu. Hushain justru paham bahwa ahlul bait itu bermakna luas dan ia ingin tahu siapa ahlul bait yang dibicarakan Zaid. Lafaz “bukankah istri Nabi termasuk ahlul baitnya” adalah lafaz yang diucapkan oleh orang yang paham bahwa ahlul bait itu bermakna luas. Hushain ingin tahu siapa saja ahlul bait yang dibicarakan Zaid dan apakah istri Nabi termasuk di dalamnya. Jadi dari lafaz hadisnya jelas bertentangan dengan klaim basa basi nashibi yang ingkar sunnah itu</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">dan jelas penghuni rumah beliau adalah istri-istri beliau itulah yang dimaksud oleh Hushain, tetapi ahlul bait dalam pengertian tersebut bukan yang dimaksud oleh Zaid, yang dimaksud Zaid dalam riwayat di atas adalah ahlul bait dalam pengertian secara lebih luas yaitu mereka yang diharamkan menerima shadaqah. Sampai di sini kalau si rafidhi nashibi ini tidak memahami juga, kita hanya bisa bilang kebangetan nih orang…</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Menjawab komentar basa basi bin ngeyel tidak bisa dengan basa basi juga. Mengapa? Karena yang namanya basa basi tidak akan ada habisnya. Apapun hujjah dan dalil yang anda bawakan, nashibi yang suka basa basi ini akan selalu bisa melontarkan jawaban ngeyel. Ia memang tidak sedang berhujjah dengan hadis tetapi berhujjah dengan ngeyelisme yang jadi penyakitnya. Sebaik baik jawaban adalah lafaz perkataan Zaid bin Arqam dalam hadisnya</p>
<h2 style="text-align:right;">قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika diterjemahkan artinya adalah Zaid berkata “istri istri Nabi adalah ahlul baitnya akan tetapi ahlul baitnya adalah yang diharamkan menerima sedekah setelahnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa diantara frase <span style="color:#0000ff;">“istri istri Nabi adalah ahlul baitnya”</span> dan frase <span style="color:#0000ff;">“ahlul baitnya adalah yang diharamkan menerima sedekah”</span> terdapat kata <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">“walakin”</span> yang artinya<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> “akan tetapi”</span></span>. Jawabannya karena ahlul bait yang sedang dibicarakan Zaid bukanlah istri istri Nabi. Zaid ingin mengatakan kepada Hushain bahwa istri Nabi memang termasuk ahlul bait tetapi ahlul bait yang ia maksudkan dalam pembicaraannya adalah orang yang diharamkan menerima sedekah. Nah ini menunjukkan dalam pandangan Zaid, istri Nabi bukan ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Dalam riwayat lain yang juga shahih, ucapan Zaid adalah berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">قال لا ولكن أهل بيته من حرم الصدقة عليه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Zaid berkata “tidak akan tetapi ahlul baitnya adalah yang diharamkan menerima sedekah atasnya”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Nah maksud perkataan Zaid <span style="color:#0000ff;">“tidak”</span> disini adalah istri Nabi bukan ahlul bait yang ia maksudkan akan tetapi yang ia maksudkan adalah ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah atasnya. Jawaban Zaid jelas menunjukkan bahwa istri Nabi bukan termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Sekedar info saja penjelasan kami ini sama halnya dengan apa yang dijelaskan oleh An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan  hadis ini. Justru nashibi itu yang tidak mengerti bahasa arab dan berkeras dengan kengeyelannya. Alangkah kasihannya orang itu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan riwayat Muslim no. 2408, kami mengira kekeliruan pada hafalan si perawi walaupun sanad hadits tersebut shahih, karena jelas bertentangan dengan riwayat Zaid di atas.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan lihat wahai pembaca yang terhormat, jika hadis tersebut tidak sesuai dengan hawa nafsunya ia akan gampang melemahkannya. Di lain waktu ia akan membangga banggakan kitab hadis shahih Bukhari dan Muslim serta melecehkan kitab yang asing ditelinganya. Kedua lafaz tersebut shahih bahkan lafaz riwayat Muslim ini telah dikuatkan oleh lafaz riwayat Ibnu Abi Syaibah. Dinilai dari kuatnya, lafaz ini jelas lebih kuat sanadnya dibanding lafaz riwayat Muslim sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban Zaid bin Arqam ada dua versi riwayat dan keduanya shahih  tidak bertentangan sedangkan ucapan nashibi bahwa salah satu versi lemah karena hafalan perawinya adalah ucapan dusta yang tidak ada dasarnya. Kami telah buktikan shahihnya riwayat Ibnu Abi Syaibah ditambah lagi juga dikuatkan oleh riwayat Muslim yang kami kutip. Ucapan basa basi tidak ada gunanya wahai nashibi</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan saya sekali lagi, apakah yang dimaksud keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas itu tidak termasuk istri-istri mereka jika istri-istri mereka bukan dari kalangan Bani Hasyim?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja yang dimaksud diharamkan sedekah itu adalah bani Hasyim. Jadi keluarga Ali, Ja’far, Aqil dan Abbas yang dimaksud adalah bani hasyim. Kalau memang ada istri mereka bukan dari kalangan bani hasyim maka kami belum menemukan dalil bahwa istrinya diharamkan menerima sedekah. Silakan wahai nashibi kalau anda menemukan dalil bahwa istri mereka bukan dari bani hasyim juga dilarang menerima sedekah. Maka bagaimana pula status dengan anak dari istri tersebut juga orang tuanya dan kerabatnya yang bukan bani hasyim?. Apakah diharamkan menerima sedekah juga?. Sudah kami katakan sebelumnya perkara siapa yang diharamkan menerima sedekah bukan perkara yang bisa dipikirkan dengan logika. Dasar nashibi, sok berlogika seolah mereka punya saja</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat Mawla Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah bersabda dalam riwayat di atas terhadap mawla beliau sendiri, dan beliau adalah juga ahlul bait bahkan beliau adalah sayyidul bait, maka yang dipahami di sini adalah mawla (budak yang dibebaskan) beliau adalah juga mawla ahlul bait beliau, karena beliau adalah sayyidul bait, tetapi  sebaliknya, mawla (budak yang dibebaskan) anggota ahlul bait beliau tidak dikategorikan mawla beliau yang diharamkan sedekah. Sampai di sini kalau si rafidhi nashibi ini tidak juga memahami, maka kami hanya mengelus dada dan merasa kasihan kepadanya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wahai nashibi berhentilah dari ucapan dusta. Sikap anda hanya menunjukkan kalau anda semakin ingkar terhadap sunnah. Siapapun yang bisa sedikit bahasa arab akan paham maksud ucapan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut bahwa maula ahlul bait atau maula keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan atas mereka sedekah. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri yang menyatakan demikian.</p>
<h2 style="text-align:right;">انا أهل بيت نهينا عن الصدقة وان موالينا من أنفسنا ولا نأكل الصدقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan maula kami adalah bagian dari kami dan tidak boleh menerima sedekah</em></p>
<h2 style="text-align:right;">أنا آل محمد لا تحل لنا الصدقة وان مولى القوم من أنفسهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami keluarga Muhammad tidak halal bagi kami menerima sedekah dan maula suatu kaum termasuk kedalam kaum tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lafaz <span style="color:#0000ff;"><em>“kami ahlul bait”</em></span> serupa dengan lafaz <span style="color:#0000ff;"><em>“kami keluarga Muhammad”</em></span> yaitu diharamkan menerima sedekah. Dan lafaz <span style="color:#0000ff;"><em>“maula kami adalah bagian dari kami”</em></span> sama halnya dengan lafaz <span style="color:#0000ff;"><em>“maula suatu kaum bagian dari kaum tersebut”</em></span>. Jadi siapakah maula yang diharamkan menerima sedekah?. Apakah khusus maula Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja?. Jelas tidak, orang yang menyatakan demikian berarti ia sudah mendustakan hadis yang begitu jelasnya dan terang benderang. Maula yang dimaksud disitu adalah maula ahlul bait atau maula keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apakah lafaz “kaum” yang dimaksud itu hanya merujuk pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja?. Cuma orang yang lemah akalnya yang bilang begitu. Dan jika orang tersebut sok merasa kasihan atas orang lain maka keadaannya jauh lebih menyedihkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yah kalau nashibi itu bisa membaca [itu pun kalau bisa] sebagian ulama menyatakan bahwa maula bani hasyim diharamkan menerima sedekah. Apa dalilnya? Yaitu hadis yang telah kami kutip. Jadi sangat berbeda dengan ucapan dusta nashibi tersebut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jadi hadits di atas tidak bisa dijadikan sebagai hujjah bahwa istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diharamkan menerima sedekah, sampai detik ini kami tidak melihat ada suatu hadits yang tegas mengatakan hal tersebut, jadi pendalilan si rafidhi nashibi ini sangat lemah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jangan sok bicara hadis tegas. Sejelas apapun dalilnya akan anda pelintar pelintir sesuka hati. Ini sudah bukan masalah dalil tetapi sudah masalah nafsu anda saja yang maunya terus membantah walaupun dengan cara memalukan. Kami sarankan silakan anda belajar bahasa arab sedikit agar anda paham hadis yang kami kutip. Malas sekali menghadapi orang yang bisanya hanya kopipaste hadis dari lidwa.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi si rafidhi nashibi ini tidak bisa menjawab, bagaimana mungkin maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) beliau, diharamkan menerima sedekah yang merupakan salah satu kekhususan beliau, sedangkan Aisyah sebagai istri/ahlul bait beliau di dunia dan di akhirat tidak diharamkan menerima sedekah? Suatu logika yang sangat anomaly dan lemah. Ini bukan perkara bahwa ini adalah ketentuan Nabi atau apa, tetapi pendalilan si rafidhi nashibi ini yang keliru, pepesan kosong seperti biasa.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lha kalau memang pakai logika, ya silakan pakai maka bagaimana dengan sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang katanya sahabat di dunia dan akhirat seperti Abu Bakar dan Umar. Apakah masuk di logika anda kalau mereka juga diharamkan menerima sedekah?. Dan mereka tidak hanya sahabat tetapi juga mertua Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Andalah yang pakai logika dalam masalah ini maka itu adalah masalah bagi anda sendiri. Sedangkan kami berhujjah dengan dalil shahih bukan logika ngawur. So mengapa kami harus menjawab pertanyaan ngawur anda.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mungkin hatinya yang buta dipenuhi rasa hasud terhadap istri Nabi sehingga dia tidak melihat hadits-hadits shahih mengenai hal ini, dasar Nashibi!</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan tunjukkan dalil jelas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa istri Nabi diharamkan menerima sedekah?. Jangan cuma klaim tanpa bukti. Jika memang sedemikian masyhurnya bahwa istri Nabi diharamkan menerima sedekah maka mengapa sahabat Zaid bin Arqam radiallahu ‘anhu tidak mengetahuinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat Aisyah &#8220;Kisah Barirah&#8221;</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Si Rafidhi Nashibi ini apakah lupa bahwa Barirah adalah mawla Aisyah dan sering membantu Aisyah, setelah dimerdekakan, Barirah diberi pilihan untuk tetap bersama suaminya atau berpisah dan dia memilih berpisah dengan suaminya dan ikut bersama Aisyah, apakah periuk di atas api bisa disimpulkan bahwa yang memasak adalah Aisyah?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho kalau begitu siapa yang memasaknya?. Sangat jelas dari hadis Shahih Bukhari tersebut bahwa ketika Beliau masuk ke rumah Aisyah, periuk itu sedang di atas api. Artinya “daging itu sedang dimasak”. Siapa yang memasaknya? Barirah? Mana buktinya, itu namanya berandai andai. Hadisnya tidak menyebutkan demikian. Bahkan dari hadis Shahih Bukhari tersebut jelas Barirah tidak berada disana karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “baginya sedekah” kalau memang ketika itu Barirah ada disana maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan berkata “bagimu adalah sedekah”.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan apakah kemudian disimpulkan bahwa Aisyah akan memakannya?. Beliau lalu diberikan roti dan makanan yang biasa ada di rumah, artinya daging tersebut tidak biasa di rumah Aisyah dan itu adalah milik Barirah. Jadi tidak ada penunjukkan dalam hadits di atas bahwa Aisyah tidak diharamkan menerima sedekah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wahai nashibi pakai logikanya, jangan sok berkata logika ternyata cuma komentar ngawur. Daging tersebut memang tidak biasa di rumah Aisyah karena itu berasal dari pemberian Barirah yang mendapat sedekah. Apa memangnya Barirah itu setiap hari mendapat sedekah dan setiap hari pula ia memberikan sedekah yang ia terima kepada Aisyah?. Perkataan nashibi <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>“itu adalah milik Barirah”</em></span> adalah perkataan dusta. Mengapa? Karena sangat jelas bahwa itu adalah milik Aisyah setelah Barirah memberikan padanya. Bagaimana mungkin Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memakan makanan milik Barirah tanpa meminta izin dulu dari Barirah. Barirah memberikan daging kepada Aisyah dan Aisyah yang memasaknya, ini sangat jelas karena Barirah tidak ada disana dan daging itu masih dimasak ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Si rafidhi nashibi ini mempermasalahkan mengapa Aisyah berkata “Anda tidak makan sedekah” kok tidak mengatakan “kita tidak makan sedekah” kita bisa dengan mudah menjawab pertanyaan konyolnya itu dengan bertanya konyol ke dia mengapa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan “baginya adalah sedekah sedangkan bagi kita adalah hadiah” kok tidak mengatakan“bagi kalian adalah sedekah sedangkan bagiku adalah hadiah”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nah komentar ini menunjukkan kalau nashibi itu tidak mengerti pembahasan kami sebelumnya. Jawabannya sudah kami tulis di pembahasan sebelumnya. Lafaz “bagi kita hadiah” menunjukkan bahwa</p>
<ul>
<li><em>Daging itu adalah hadiah bagi Aisyah</em></li>
<li><em>Daging itu adalah hadiah bagi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Bukankah Barirah memberikan daging itu kepada Aisyah maka daging itu adalah hadiah bagi Aisyah. Yang mendapat sedekah adalah Barirah sedangkan Aisyah mendapat hadiah dari Barirah makanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengatakan “bagi kalian adalah sedekah”. Aisyah radiallahu ‘anha awalnya beranggapan daging itu masih berstatus sedekah setelah Barirah memberikannya tetapi kenapa ia tidak menolaknya. Mengapa daging itu harus berada di rumahnya jika ia beranggapan dirinya dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan menerima sedekah?. Seperti yang kami katakan jika Aisyah merasa dirinya diharamkan menerima sedekah maka ia tidak akan menerimanya tetapi menolak pemberian Barirah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Satu hal lagi, bahwa Barirah menghadiahkan daging tersebut sebenarnya bukan hanya untuk Aisyah tetapi juga untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, sebagaimana riwayat berikut</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aneh itu pun juga sudah kami nyatakan sebelumnya. Apa yang anda inginkan dengan fakta itu?. Wahai nashibi andalah yang tidak mengerti maksud lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“bagi kita hadiah”</em></span> menunjukkan bahwa hukum makanan itu berubah. Makanan yang disedekahkan kepada seseorang telah menjadi milik orang tersebut. Jika orang tersebut memberikannya kepada orang lain maka status makanan itu bukan lagi sedekah melainkan hadiah. Dengan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“bagi kita hadiah”</em></span> menunjukkan bahwa makanan itu hadiah bagi Aisyah dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apa ada dalam lafaz ini menunjukkan bahwa Aisyah diharamkan menerima sedekah?. Apakah jika Aisyah dibolehkan menerima sedekah maka setiap hadiah yang diberikan kepadanya harus dianggap sedekah?. Apakah jika Aisyah dibolehkan menerima sedekah maka ia tidak bisa menerima hadiah?.</p>
<p style="text-align:justify;">Aisyah sendiri yang menunjukkan bahwa dirinya bisa menerima sedekah dan hadiah karena awalnya ia beranggapan daging Barirah adalah sedekah, ia terima dan ia masak. Kemudian setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjelaskan bahwa daging sedekah jika sudah diberikan oleh orang yang menerima sedekah statusnya adalah hadiah maka Aisyah baru paham kalau yang ia terima adalah hadiah dan tidak mengapa disajikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maka jelas kalimat “kita” pada hadits-hadits tersebut adalah untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Aisyah radhiyallahu ‘anha.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lha iya, kapan pula kami membantah soal itu?. Nashibi ini memang sulit memahami hujjah orang lain. Jelas hadiah itu diperuntukkan bagi Aisyah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka lafaznya adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>“bagi kita adalah hadiah”</em></span> tetapi yang tidak boleh menerima sedekah itu hanya Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] sedangkan Aisyah [radiallahu 'anha] boleh menerima sedekah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perkataan tersebut jelas menunjukkan bahwa bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Aisyah daging itu adalah Hadiah, artinya bukan sedekah dan artinya pula bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan Aisyah tidak menerima sedekah tetapi hanya menerima Hadiah alias mereka diharamkan menerima sedekah. hal yang mudah dipahami tetapi bagi orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit menjadi sulit dan berbelit-belit.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kami tanya wahai nashibi, kapan Aisyah menyadari bahwa daging tersebut hadiah? itu setelah Rasululullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya. Kapan ia menerima daging tersebut, meletakkan di rumahnya bahkan dimasak di rumahnya? Itu sebelum Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan kepadanya bahwa itu hadiah. Anehnya bagian mana dari lafaz “bagi kita hadiah” yang menunjukkan bahwa Aisyah diharamkan menerima sedekah. Jangan mengkhayal wahai nashibi. Kalau memang Aisyah beranggapan dari awal bahwa yang ia terima adalah hadiah maka mengapa ia tidak mau menyajikannya kepada Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] dan mengapa ia berkata &#8220;anda tidak makan sedekah&#8221;. Jelas Aisyah awalnya beranggapan yang ia terima adalah sedekah baru setelah Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menjelaskan maka ia paham bahwa apa yang ia anggap sedekah sebenarnya adalah hadiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada analogi sederhana, misalnya anda dan istri anda tinggal satu rumah. Anda diwasiatkan oleh ayah anda tidak boleh menerima sedekah orang lain tetapi boleh menerima hadiah. Istri anda tidak ada masalah [ia tidak punya ayah yang aneh]. Suatu ketika saya memberikan daging yang disedekahkan kepada saya pada istri anda. Istri anda menerimanya tahu kalau anda tidak boleh menerima sedekah tetapi istri anda menyukai daging tersebut jadi ia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ketika anda datang, anda melihat ada daging yang dimasak tetapi tidak disajikan kepada anda. Anda bertanya soal daging itu, istri anda menjelaskan bahwa saya menerima sedekah kemudian memberikannya maka istri anda tidak menyajikan karena anda dilarang makan sedekah. Tiba tiba saya menelepon saya katakan bahwa daging itu adalah hadiah. Maka anda berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“bawakan daging itu, itu adalah hadiah bagi kita”</em></span>. Nah apakah adanya lafaz “hadiah bagi kita” menunjukkan bahwa anda dan istri anda dilarang memakan sedekah. Jelas tidak ada indikasinya, andalah yang dilarang oleh ayah anda yang aneh sedangkan istri anda tidak. Tetapi lafaz yang anda gunakan tetap <em>“bagi kita adalah hadiah”</em>  karena saya memang memberikan untuk anda dan istri anda</p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu berhujjah dengan hadis berikut yang mengandung lafaz “bagi kalian hadiah”. Kami tidak membahasnya sebelumnya karena itu sudah tercakup dalam pembahasan hadis Shahih Bukhari yang kami kutip. Ini lafaznya</p>
<h2 style="text-align:right;">كَانَ النَّاسُ يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا وَتُهْدِي لَنَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَكُمْ هَدِيَّةٌ فَكُلُوهُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Orang orang bersedekah kepadanya kemudian ia memberikan kepada kami maka aku menyebutkan hal itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berkata “baginya adalah sedekah dan bagi kalian adalah hadiah, makanlah”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kami tanya pada anda wahai nashibi? Mana lafaz yang menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;">istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan menerima sedekah</span>. Lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“bagi kalian hadiah”</em></span> seperti yang kami jelaskan adalah penunjukkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa siapapun yang menerima pemberian Barirah itu maka ia telah menerima hadiah dari Barirah. Pernyataan Aisyah radiallahu ‘anha <em>“memberikan kepada kami”</em> menunjukkan bahwa bukan cuma Aisyah [radiallahu ‘anha] yang diberikan oleh Barirah tetapi juga sahabat lain. Nah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan <em>“bagi kalian adalah hadiah”</em>. Siapa kalian disini? Ya siapapun yang menerima pemberian Barirah termasuk Aisyah radiallahu ‘anha.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin yang menjadi hujjah nashibi adalah lafaz <em>“makanlah”</em>. Menurut nashibi seolah olah dengan lafaz itu Aisyah merasa haram untuk memakannya sebelumnya dan setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan itu hadiah dan berkata “makanlah” itu menjadi halal baginya. Tentu saja hujjah ini tertolak, karena dari awal seperti yang kami tunjukkan dalam hadis Bukhari dalam kisah yang sama Aisyah telah menerima sedekah tersebut, memasaknya tetapi tidak menyajikan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena ia tahu bahwa Beliau tidak makan sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lafaz <em>“anda tidak makan sedekah”</em> justru mengandung hujjah bahwa Aisyah tidak termasuk diharamkan menerima sedekah. Bukankah Aisyah telah mengetahui hadis bahwa<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> keluarga Muhammad diharamkan menerima sedekah</span></span>, nah jika ia telah tahu dan merasa dirinya termasuk diharamkan menerima sedekah maka ia akan menolak setiap pemberian yang ia anggap sedekah bukannya menerima pemberian tersebut. Begitu pula jika ia tahu bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">keluarga Muhammad haram menerima sedekah</span></span> maka lafaz yang akan ia ucapkan adalah <em>“kita tidak makan sedekah”</em> bukannya <em>“anda tidak makan sedekah”</em> karena daging itu memang dihadiahkan Barirah kepada Aisyah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Perhatikan hadis berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا أبو يُوسُف ، حَدَّثَنَا مكي بن إبراهيم قال بهز ذكره عن أبيه عَن جَدِّهِ قَال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتى بطعام سأل عنه أهدية أم صدقة ؟ فإن قالوا هدية بسط يده ، وإن قالوا صدقة قال لأصحابه : كلوا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Makkiy bin Ibrahim yang berkata Bahz menyebutkannya dari ayahnya dari kakeknya yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] jika datang makanan, ia akan bertanya tentangnya apakah itu hadiah atau sedekah?. Jika mereka berkata “hadiah” beliau mengambilnya dan jika mereka berkata <span style="text-decoration:underline;">“sedekah”</span> maka beliau berkata kepada sahabatnya <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“makanlah”</span></span> <strong>[Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawiy 1/305 dengan sanad shahih]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Silakan perhatikan lafaz perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada sahabatnya <span style="text-decoration:underline;"><em>“makanlah”</em></span> yang Beliau ucapkan ketika <span style="text-decoration:underline;"><em>dikatakan kalau makanan itu sedekah</em></span>. Apakah dari lafaz tersebut bisa ditarik kesimpulan jika makanan itu hadiah [bukan sedekah] maka sahabat Nabi diharamkan untuk memakannya. Baik itu sedekah atau hadiah, para sahabat dihalalkan memakannya. Nah begitu pula dengan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“makanlah”</em></span> yang diucapkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada Aisyah setelah Beliau menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>daging itu adalah hadiah bagi Aisyah</em></span>. Apakah jika daging itu sedekah maka Aisyah diharamkan memakannya?. Tidak, baik sedekah atau hadiah Aisyah dihalalkan memakannya. Jadi maaf saja wahai nashibi tidak ada dalam hadis yang anda jadikan hujjah, lafaz yang menunjukkan Aisyah diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekedar tambahan bagi para pembaca bahwa Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim berkenaan hadis Barirah ini memahami hadis tersebut sama seperti yang kami pahami. Beliau berkata dalam penjelasannya terhadap hadis Barirah</p>
<h2 style="text-align:right;">أن الصدقة لا تحرم على قريش غير بني هاشم وبني المطلب لأن عائشة قرشية وقبلت ذلك اللحم من بريرة على أن له حكم الصدقة وأنها حلال لها دون النبي صلى الله عليه وسلم ولم ينكر عليها النبي صلى الله عليه وسلم هذا الاعتقاد</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Bahwa sedekah tidak diharamkan bagi kaum Quraisy kecuali bani Hasyim dan bani ‘Abdul Muthalib, Aisyah wanita quraisy dan ia menerima daging itu dari Barirah maka disini terdapat hukum bahwa sedekah halal baginya tetapi tidak bagi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengingkari keyakinan Aisyah tersebut <strong>[Syarh Shahih Muslim An Nawawi 5/274]</strong></em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dengan jelas sekali dalam riwayat di atas ketika beliau diberi daging sedekah oleh Barirah, Aisyah tidak langsung memakan-nya tetapi melaporkan-nya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan beliau bersabda dengan teramat jelas : Untuk Barirah hal itu adalah sedekah, sedangkan bagi kalian adalah hadiah. Karena itu, makanlah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nashibi ini memaksakan asumsinya sendiri dalam memahami hadis. Satu hal yang perlu diingat, hadis Barirah itu tidak hanya seperti yang dijadikan hujjah oleh nashibi tersebut [yang sebenarnya adalah bentuk ringkasan dari kisah yang lebih panjang]. Kisahnya telah kami sebutkan dalam riwayat Shahih Bukhari yang kami kutip bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Aisyah telah menerima daging pemberian Barirah dan memasak daging tersebut</span></span>. Jadi Aisyah telah menerima pemberian daging dari Barirah yang ia anggap sedekah. Inilah letak hujjah bahwa Aisyah tidak merasa dirinya diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu-satunya sikap yang benar jika Aisyah merasa dirinya diharamkan menerima sedekah adalah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">ia akan menolak pemberian Barirah dan berkata “kami keluarga Muhammad tidak dihalalkan bagi kami menerima sedekah”</span></span>. Coba pikir baik baik wahai pembaca jika anda merasa anda diharamkan menerima sesuatu maka apakah anda menerimanya?. Jika anda diberikan daging babi oleh tetangga anda, apa anda akan menerimanya padahal anda tahu bahwa itu haram untuk dimakan?. Seorang muslim awam saja tahu bahwa sikap yang benar adalah menolak pemberian tersebut bukannya menerimanya apalagi seorang istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].</p>
<p style="text-align:justify;">Ini analogi yang pas untuk menunjukkan bahwa lafaz tersebut tidak bermakna pengharaman. Misalnya nih nashibi itu punya seorang istri. Istrinya mendapat daging dari tetangganya yang miskin. Tetangganya itu mendapatkannya dari sedekah orang lain. Maka istrinya memberitahukan hal tersebut kepada nashibi itu. Nah nashibi itu berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“itu adalah sedekah untuknya sedangkan untukmu adalah hadiah, makanlah”</em></span>. Apa dari lafaz itu bermakna kalau istrinya diharamkan memakan sedekah?. Tentu saja walaupun tidak dikatakan “makanlah” istrinya tetap akan makan daging tersebut. Apa karena nashibi itu berkata “makanlah” menunjukkan bahwa istrinya sebelumnya merasa daging itu haram untuknya?. Kalau memang merasa daging itu haram ya dari awal seharusnya istrinya menolak saja pemberian tetangganya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat Ummu Athiyah</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas diriwayatkan oleh Ummu Athiyah, artinya saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda kepada Aisyah dalam hadits di atas, Ummu Athiyah hadir di situ sehingga dia bisa meriwayatkannya. Artinya juga bahwa Aisyah baru saja menerima pemberian daging tersebut dari Ummu Athiyah dan belum memutuskan apa-apa, tak lama kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam datang sementara Ummu Athiyah masih ada di situ.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ini ucapan orang yang berandai andai. Apa buktinya Ummu Athiyah ada disitu?. Ummu Athiyah tidak hadir disitu dan walaupun ia tidak hadir tidak ada alasan untuk menolak riwayatnya. Apa karena ia tidak hadir disitu maka ia tidak bisa meriwayatkannya. Tidak setiap peristiwa yang diriwayatkan oleh sahabat ia saksikan langsung. Dari lafaz hadisnya tidak ada satupun keterangan kalau Ummu Athiyah berada disana bahkan dalam lafaz hadis tersebut terdapat isyarat bahwa ia tidak ada disana. Perhatikan saja lafaz</p>
<h2 style="text-align:right;">أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مِنْ الصَّدَقَةِ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ummu Athiyah berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengirimkan kepadaku kambing dari hasil sedekah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Apa bedanya memberikan dengan mengirimkan?. Jika anda mengirimkan sesuatu apa anda akan membawanya langsung kepada orang tersebut. Apakah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan memberikan kepada setiap orang yang menerima sedekah dengan membawanya satu persatu. Lafaz “mengirimkan” cukup menunjukkan bahwa sedekah tersebut diantarkan kepada orang yang akan menerimanya tidak mesti langsung oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dalam hadis Ummu Athiyah yang lain yaitu Shahih Bukhari malah diucapkan dengan lafaz</p>
<h2 style="text-align:right;">فَأَرْسَلَتْ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مِنْهَا</h2>
<p style="text-align:justify;">Lafaz ini menunjukkan bahwa Ummu Athiyah mengantarkan sebagian dari sedekah itu kepada Aisyah melalui perantara orang lain dan itulah yang dimaksud mengirimkannya. Jadi komentar basa basi nashibi itu sungguh tidak bernilai</p>
<p style="text-align:justify;">Sekedar info bagi para pembaca, apa yang kami pahami dari hadis Ummu Athiyah ini sebenarnya juga dikutip Ibnu Hajar ketika ia menjelaskan hadis Ummu Athiyah dalam Fath Al Bari Syarh Shahih Bukhari</p>
<h2 style="text-align:right;">وفيه إشارة إلى أن أزواج النبي صلى الله عليه وسلم لا تحرم عليهن الصدقة كما حرمت عليه ، لأن عائشة قبلت هدية بريرة وأم عطية مع علمها بأنها كانت صدقة عليهما</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan didalamnya terdapat isyarat bahwa Istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak diharamkan bagi mereka menerima sedekah sebagaimana diharamkan atasnya [Rasulullah], Aisyah menerima hadiah Barirah dan Ummu Athiyah dan saat itu ia mengetahui bahwa itu adalah sedekah untuk mereka berdua <strong>[Fath Al Bari Syarh Shahih Bukhari 8/61]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi yang ingkar sunnah itu kemudian berhujjah dengan hadis Nabi tidak mewariskan [kami pribadi telah menunjukkan bahwa hadis ini keliru dan Sayyidah Fathimah telah menolaknya] . Nashibi itu berkata</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرَدْنَ أَنْ يَبْعَثْنَ عُثْمَانَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ يَسْأَلْنَهُ مِيرَاثَهُنَّ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ»</h2>
<p style="text-align:justify;">Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha, bahwasanya isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berpulang keharibaan Ilahi, mereka ingin mengutus Utsman untuk menemui Abu Bakar meminta warisan mereka, maka Aisyah mengatakan: Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Kami tidak mewarisi, Apa-apa yang kami tinggalkan adalah sedekah?” (Shahih Bukhari, no: 6730)</p>
<p>Dan ternyata istri-istri Nabi sepeninggal beliau tidak boleh mengambil peninggalan Nabi yang berupa sedekah tersebut, artinya apa? Sedekah diharamkan diterima oleh istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Nah kurang jelas apa lagi…</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hujjah nashibi yang ini lucu sekali, caranya berhujjah menunjukkan bahwa ia tidak memahami hadis yang ia jadikan hujjah. Ia tidak meneliti kesuluruhan lafaz hadis-hadis tentang masalah ini. Pembahasan hadis ini adalah masalah lain yang ada tulisannya tersendiri. Tetapi kebetulan karena nashibi ini berhujjah dengan hadis tersebut maka silakan ia membaca hadis berikut dari Abu Bakar</p>
<h2 style="text-align:right;"> فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ فِي هَذَا الْمَالِ وَاللَّهِ لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Bakar berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “aku tidak mewariskan, apa yang aku tinggalkan adalah sedekah, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">sesungguhnya keluarga Muhammad makan dari harta ini</span></span>, demi Allah kerabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih aku cintai untuk menjalin hubungannya dibanding kerabatku <strong>[Shahih Bukhari 5/90 no 4035]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Nah berdasarkan hadis tersebut maka keluarga Muhammad dapat makan dari harta peninggalan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang menjadi sedekah. Menurut Abu Bakar keluarga Muhammad tidak dapat mewarisinya tetapi dapat makan dari harta tersebut. Nah loooo</p>
<p style="text-align:justify;">Dan apakah nashibi itu tidak memperhatikan bahwa istri istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak sedang meminta sedekah tetapi meminta warisan. Lihat saja hadinya yang berbunyi</p>
<h2 style="text-align:right;">أَرَدْنَ أَنْ يَبْعَثْنَ عُثْمَانَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ يَسْأَلْنَهُ مِيرَاثَهُنَّ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Mereka mengutus Utsman kepada Abu Bakar untuk meminta warisan mereka</em></p>
<p style="text-align:justify;">Istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak sedang meminta sedekah, mereka meminta warisan. Jadi apanya yang maksud nashibi itu jelas. Nashibi itu sepertinya tidak bisa membedakan antara warisan dan sedekah. Dan btw wahai nashibi, istri Nabi itu termasuk keluarga Muhammad yang boleh makan dari harta tersebut tidak?. Selamat bersakit hati</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat Juwairiyah</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian si Rafidhi Nashibi tersebut mencoba mengkais-kais riwayat-riwayat yang sekiranya bisa menguatkan argumentasi dia seperti berikut ini, tetapi sayang, riwayat ini sama sekali tidak menguatkan hujjahnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ooh kita lihat saja, silakan para pembaca lihat siapa yang sebenarnya berpegang pada sunnah dan siapa yang sebenarnya ingkar kepada sunnah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru dalam riwayat di atas Juwairiyah terlihat telah mengetahui hukumnya bahwa sedekah buat maula-nya jika diberikan kepadanya boleh diterima dan diberikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebagai hadiah buat mereka. Hal ini tampak ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya tentang makanan, Juwairiyah langsung menawarkan-nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tanpa bertanya lagi apakah itu boleh atau tidak, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membenarkan dan menegaskan bahwa sedekah itu telah sampai pada tempatnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wah wah kami sampai tertawa membaca komentar ini. Tidak ada dalam lafaz riwayat Thabrani yang menunjukkan bahwa Juwairiyah menawarkan kepada Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Inilah lafaz jawaban Juwairiyah dalam riwayat Thabraniy</p>
<h2 style="text-align:right;"> يا رسول الله قد تصد ق على فلانة بعضو من لحم وقد صنعته</h2>
<p style="text-align:justify;">wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sungguh telah disedekahkan kepada fulanah sebagian daging dan aku telah memasaknya</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan lafaz ini Juwairiyah ingin mengatakan bahwa makanan yang ada padanya adalah hasil sedekah dan ia tahu bahwa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] tidak makan sedekah. Lafaz ini mengisyaratkan Juwairiyah tidak mau menyajikan kepada Nabi makanya Nabi menjawab <em>&#8220;bawalah kemari sungguh sedekah itu telah sampai pada tempatnya&#8221;</em>. Jawaban ini diucapkan Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] untuk mengoreksi anggapan Juwairiyah karena Juwairiyah beranggapan status makanan tersebut masih sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan fatal nashibi itu adalah ia tidak mengumpulkan semua riwayat kisah Juawiriyah tersebut. Peristiwa Juwairiyah ini sama halnya dengan peristiwa Aisyah [radiallahu ‘anha]. Kami mengutip riwayat Thabraniy karena lafaznya lebih kuat sebagai hujjah yaitu Juwairiyah memasak makanan tersebut, nah hadis tersebut ternyata diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim yaitu sebagai berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">أن عبيد بن السباق قال إن جويرية زوج النبي صلى الله عليه و سلم أخبرته أن رسول الله صلى الله عليه و سلم دخل عليها فقال هل من طعام ؟ قالت لا والله يا رسول الله ما عندنا طعام إلا عظم من شاة أعطيته مولاتي من الصدقة فقال قريبة فقد بلغت محلها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Bahwa Ubaid bin As Sabbaaq berkata bahwa Juwairiyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemuinya dan berkata “apakah ada makanan?”. Ia berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“tidak ada, demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada disisi kami makanan kecuali kambing yang disedekahkan kepada maulaku.</span></span> Beliau berkata “bawalah kemari, sedekah itu telah sampai pada tempatnya <strong>[Shahih Muslim 2/756 no 1073]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini sama saja dengan riwayat Thabraniy dan kisah yang diceritakan pun sama. Jadi Juwairiyah menerima pemberian maulanya yang ia anggap sedekah dan ia tidak mau menyajikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena Nabi diharamkan sedekah atasnya. Nah mengapa Juawiriyah memasaknya? Ya untuk dirinya tentu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Si rafidhi nashibi ini sok tau kalau Juwairiyah memasak makanan tersebut bukan untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, darimana si rafidhi nashibi ini bisa tau? Dari wangsit?  Bukankah istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengetahui saat giliran Nabi mendatangi  mereka?.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ho ho jelas dalam hadisnya Juwairiyah berkata “tidak ada” ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menanyakan soal makanan. Nah itu berarti Juwairiyah memasaknya bukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi untuk dirinya sendiri. Alangkah malunya nashibi ini dan jika ia tidak tahu malu maka hal itu malah lebih memalukan lagi. Saran kami, belajarlah dulu sebelum membantah, teliti baik baik hadisnya biar anda tidak malu berkomentar sembarangan apalagi dengan gaya angkuh begitu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;"><em>Istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak diharamkan sedekah atas mereka karena maula mereka dibolehkan menerima sedekah padahal maula keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak dibolehkan menerima sedekah. Maka keluarga Nabi yang diharmkan sedekah atas mereka bukanlah istri istri Nabi. </em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Istri Nabi juga menerima pemberian orang lain yang mereka anggap sedekah dan mereka tidak memberikannya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini menjadi bukti bahwa Nabi diharamkan menerima sedekah tetapi istrinya tidak.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/hadis/'>Hadis</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2646/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2646&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/12/02/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riwayat Zaid bin Aliy Menyepakati Abu Bakar Dalam Masalah Fadak</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/30/riwayat-zaid-bin-aliy-menyepakati-abu-bakar-dalam-masalah-fadak/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/30/riwayat-zaid-bin-aliy-menyepakati-abu-bakar-dalam-masalah-fadak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 06:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2640</guid>
		<description><![CDATA[Riwayat Zaid bin Aliy Menyepakati Abu Bakar Dalam Masalah Fadak Salah satu trik murahan nashibi dalam menyebarkan syubhat adalah mengutip pendapat ahlul bait yang menguatkan hujjah mereka. Contohnya dalam masalah Fadak dimana terjadi perselisihan antara Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] dan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] para nashibi berhujjah dengan pernyataan Zaid bin Aliy yang menyepakati keputusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2640&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat Zaid bin Aliy Menyepakati Abu Bakar Dalam Masalah Fadak</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu trik murahan nashibi dalam menyebarkan syubhat adalah mengutip pendapat ahlul bait yang menguatkan hujjah mereka. Contohnya dalam masalah Fadak dimana terjadi perselisihan antara Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] dan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] para nashibi berhujjah dengan pernyataan Zaid bin Aliy yang menyepakati keputusan Abu Bakar. Berikut riwayat yang mereka jadikan hujjah<span id="more-2640"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ، قَالَنَا عَمِّي، قَالَ نَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ نَا ابْنُ دَاوُدَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ قَالَ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، أَمَّا أَنَا فَلَوْ كُنْتُ مَكَانَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَحَكَمْتُ بِمِثْلِ مَا حَكَمَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي فَدَكٍ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hammaad yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku yang berkata telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Dawud dari Fudhail bin Marzuuq yang berkata Zaid bin Ali bin Husain berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“adapun aku seandainya berada dalam posisi Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] maka aku akan memutuskan seperti keputusan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] dalam masalah Fadak”</span></span> <strong>[Fadhail Ash Shahabah Daruquthniy no 52]    </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini juga disebutkan Hammad bin Ishaq dalam Tirkatun Nabiy 1/86  oleh Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 6/302, Dalaail An Nubuwwah 7/281 dan Al I’tiqaad 1/279 semuanya dengan jalan sanad dari Ismail bin Ishaq Al Qadhiy [pamannya Ibrahim bin Hammaad] dari Nashr bin Ali dari ‘Abdullah bin Dawud dari Fudhail bin Marzuuq. Para perawi riwayat ini adalah perawi tsiqat kecuali Fudhail bin Marzuuq, ia seorang yang diperbincangkan tetapi ia seorang yang shaduq hasanul hadis. Sehingga nampak riwayat ini secara zahir sanadnya hasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini mengandung illat [cacat], Fudhail bin Marzuq tidak meriwayatkan secara langsung perkataan Zaid bin Aliy tersebut. Ia meriwayatkan melalui perantara perawi lain. Kami menemukan riwayat serupa dengan matan yang lebih detail dan menjelaskan apa maksud perkataan Zaid bin Aliy tersebut.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن عبد الله بن الزبير قال حدثنا فضيل ابن مرزوق قال حدثني النميري بن حسان قال قلت لزيد بن علي رحمة الله عليه وأنا أريد أن أهجن أمر أبي بكر إن أبا بكر رضي الله عنه انتزع من فاطمة رضي الله عنها فدك فقال إن أبا بكر رضي الله عنه كان رجلا رحيما وكان يكره أن يغير شئيا تركه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتته فاطمة رضي الله عنها فقالت إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أعطاني فدك فقال لها هل لك على هذا بينة ؟ فجاءت بعلي رضي الله عنه فشهد لها، ثم جاءت بأم أيمن فقالت أليس تشهد أني من أهل الجنة ؟ قال بلى قال أبو أحمد يعني أنها قالت ذاك لابي بكر وعمر رضي الله عنهما &#8211; قالت فأشهد أن النبي صلى الله عليه وسلم أعطاها فدك فقال أبو بكر رضي الله عنه: فبرجل وامرأة تستحقينها أو تستحقين بها القضية ؟ قال زيد بن علي وأيم الله لو رجع الامر إلى لقضيت فيها بقضاء أبي بكر رضي الله عنه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair yang berkata telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Marzuuq yang berkata telah menceritakan kepadaku An Numairiy bin Hassaan yang berkata aku berkata kepada Zaid bin Aliy [rahmat Allah atasnya] dan aku ingin merendahkan Abu Bakar bahwa Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] merampas Fadak dari Fathimah [radiallahu ‘anha]. Maka Zaid berkata “Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] adalah seorang yang penyayang dan ia tidak menyukai mengubah sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], kemudian datanglah Fathimah [radiallahu ‘anha] dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan Fadak kepadaku”. Abu Bakar berkata kepadanya “apakah ada yang bisa membuktikannya?” maka datanglah Aliy [radiallahu ‘anhu] dan bersaksi untuknya kemudian datang Ummu Aiman yang berkata “tidakkah kalian bersaksi bahwa aku termasuk ahli surga?”. Abu Bakar menjawab “benar” [Abu Ahmad berkata bahwa Ummu Aiman mengatakan hal itu kepada Abu Bakar dan Umar]. Ummu Aiman berkata “maka aku bersaksi bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan fadak kepadanya”. Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] kemudian berkata “maka apakah dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan bersaksi atasnya hal ini bisa diputuskan?”. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Zaid bin Ali berkata “demi Allah seandainya perkara ini terjadi padaku maka aku akan memutuskan tentangnya dengan keputusan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu]</span></span> <strong>[Tarikh Al Madinah Ibnu Syabbah 1/199-200]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair</span> dalam riwayat di atas adalah Abu Ahmad Az Zubairiy perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat. Ibnu Numair menyatakan ia shaduq. Ibnu Ma’in dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Bindaar berkata “aku belum pernah melihat orang yang lebih hafizh darinya”. Abu Zur’ah dan Ibnu Khirasy menyatakan shaduq. Abu Hatim berkata “ahli ibadah mujathid hafizh dalam hadis dan pernah melakukan kesalahan”. Ahmad bin Hanbal berkata “ia banyak melakukan kesalahan dalam riwayat Sufyan”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad berkata shaduq banyak meriwayatkan hadis. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 9 no 422]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit kecuali sering keliru dalam riwayat Ats Tsawriy” [At Taqrib 2/95]</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan sering keliru dalam riwayat Ats Tsawriy bersumber dari perkataan Ahmad bin Hanbal padahal Ahmad bin Hanbal sendiri pernah mengatakan bahwa diantara sahabat Sufyan, Az Zubairiy lebih ia sukai dari Muawiyah bin Hisyaam dan Zaid bin Hubaab [Mausu’ah Aqwaal Ahmad no 2357]. Selain itu Bukhari Muslim memasukkan hadis Az Zubairiy dari Sufyan dalam kitab shahih mereka. Pendapat yang rajih Abu Ahmad Az Zubairiy adalah seorang yang tsiqat tsabit.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi ada dua orang yang meriwayatkan dari Fudhail bin Marzuuq yaitu ‘Abdullah bin Dawuud Asy Sya’biy seorang yang tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/489] dan Abu Ahmad Az Zubairiy seorang yang tsiqat tsabit.</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><em>Riwayat Ibnu Dawud adalah Fudhail bin Marzuuq berkata bahwa Zaid bin Ali mengatakan hal itu [tidak menggunakan sighat pendengaran langsung] </em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy adalah Fudhail bin Marzuuq berkata telah menceritakan kepadaku An Numairiy bin Hassaan bahwa Zaid bin Ali berkata demikian [menggunakan sighat langsung]</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hal ini menunjukkan bahwa Fudhail bin Marzuuq menukil perkataan Zaid bin Aliy itu dari perawi yang bernama <span style="color:#0000ff;">An Numairiy bin Hassaan</span>. Dia tidak dikenal kredibilitasnya alias majhul maka riwayat perkataan Zaid bin Aliy ini kedudukannya dhaif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari segi matan maka pernyataan Zaid bin Aliy ini justru menguatkan bahwa Ahlul Bait yaitu<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> Sayyidah Fathimah [alaihis salam] dan Imam Ali [alaihis salam] mengakui kalau Fadak adalah hak milik mereka</span></span>. Seandainya riwayat tersebut tsabit maka pernyataan Zaid bin Aliy jelas keliru, Pernyataan Sayyidah Fathimah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberikan Fadak kepadanya tidaklah perlu diminta kesaksian. Orang yang meminta kesaksian atas perkataan Sayyidah Fathimah berarti orang tersebut tidak mengerti kedudukan Sayyidah Fathimah di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya. Sayyidah Fathimah adalah pribadi yang perkataan dan sikapnya menjadi hujjah bagi umat karena Beliau adalah pedoman bagi umat agar tidak tersesat. Silakan saja kalau nashibi itu ingin berhujjah dengan Zaid bin Aliy [itupun kalau riwayatnya shahih] sedangkan kami lebih suka memihak Ahlul Bait yang lebih utama yaitu Sayyidah Fathimah dan Imam Ali.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2640&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/30/riwayat-zaid-bin-aliy-menyepakati-abu-bakar-dalam-masalah-fadak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima Sedekah? Anomali Bantahan Nashibi</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/29/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/29/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 05:33:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2631</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima Sedekah? Anomali Bantahan Nashibi Seperti biasa nashibi yang ingkar sunnah itu kembali membuat bantahan terhadap tulisan kami dan seperti biasanya bantahan itu “tidak bernilai” bagi orang yang mau sedikit saja menggunakan akalnya. Nashibi ini memang layak untuk dikatakan ajaib aneh tapi nyata, ia membantah suatu tulisan dengan dalil padahal dalil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2631&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Apakah Istri Nabi Diharamkan Menerima Sedekah? Anomali Bantahan Nashibi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti biasa nashibi yang ingkar sunnah itu kembali membuat bantahan terhadap tulisan kami dan seperti biasanya bantahan itu “tidak bernilai” bagi orang yang mau sedikit saja menggunakan akalnya. Nashibi ini memang layak untuk dikatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ajaib aneh tapi nyata</em></span>, ia membantah suatu tulisan dengan dalil padahal dalil yang ia gunakan sebenarnya menjadi bantahan bagi dirinya. Fenomena ini hanya terjadi pada orang yang lemah akalnya atau orang berakal yang dikuasai oleh kebencian sehingga akalnya tertutup dengan nafsu membantah. <span id="more-2631"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini kami buat bukan untuk dirinya karena ia jelas bukan tipe orang yang menginginkan kebenaran tetapi tipe orang yang hanya dipengaruhi kebencian terhadap syiah rafidhah. Jadi harap maklum kalau dalam pikiran nashibi itu setiap orang yang bertentangan dengannya harus dikatakan syiah rafidhah. Tulisan ini kami tujukan untuk para pembaca yang berniat mencari kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tulisan sebelumnya kami membawakan hadis Zaid bin Arqam dimana Zaid mengeluarkan istri Nabi dari ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Anehnya nashibi ngeyel itu membantah dengan membawakan riwayat Muslim yang malah menguatkan hujjah kami [komentar nashibi itu adalah yang kami blockquote]</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Riwayat Zaid bin Arqam dalam riwayat Muslim adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:right;">وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya. (Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits Muslim di atas, Zaid mengatakan bahwa istri-istri Nabi termasuk dalam ahlul bait yang dimaksud berbeda dengan riwayat Mushanaf Ibnu Abi Syaibah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lucu sekali bukan, apa ada dalam tulisan kami sebelumnya kami menyatakan bahwa istri Nabi bukan ahlul bait?. Orang yang mampu memahami dengan baik pasti akan mengerti bahwa maksud perkataan Zaid bin Arqam adalah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">istri Nabi memang ahlul bait tetapi mereka bukan ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah</span></span>. Riwayat Muslim tersebut tidaklah berbeda dengan riwayat Ibnu Abi Syaibah apalagi Muslim juga membawakan riwayat Zaid bin Arqam dimana Hushain dan Yazid bertanya</p>
<h2 style="text-align:right;">فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami bertanya “siapakah ahlul baitnya?” apakah istri istrinya?. Zaid menjawab “tidak, demi Allah seorang istri bisa saja ia terus bersama suaminya kemudian bisa juga ditalaknya hingga akhirnya ia kembali kepada ayahnya dan kaumnya. Yang dimaksud Ahlul baitnya adalah keturunan dan keluarga Beliau yang diharamkan menerima sedekah sepeninggalnya <strong>[Shahih Muslim 4/1873 no 2408]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi justru riwayat Zaid bin Arqam dalam Shahih Muslim menguatkan apa yang kami tuliskan yaitu <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah</span></span>. Yah melihat cara nashibi itu berhujjah membuat kami merasa kasihan. Semoga Allah SWT menyembuhkan penyakit di dalam hati mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu juga berkata jika memang perkataan Zaid seperti itu maka itu adalah pendapatnya sendiri yang bisa benar dan bisa pula keliru. Kalau begitu hal yang sama pula bisa dikatakan untuk riwayat Aisyah yang sering dijadikan hujjah oleh nashibi. Jika memang riwayat Aisyah shahih [nyatanya tidak] maka itupun adalah pendapatnya sendiri yang bisa benar dan bisa pula keliru.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian nashibi itu membahas riwayat Barirah dengan cara yang menyedihkan. Ia mengatakan kesimpulan kami mentah dan ia membuat bantahan ngawur berikut</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Orang syi’ah ini ternyata begitu mudah menarik kesimpulan yang masih mentah, berdasarkan hadits yang dia kutip, maula yang yang diharamkan menerima sedekah sebenarnya adalah khusus maula Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, karena mereka seperti keluarga beliau sendiri, Maimun dan Mihran adalah Maula Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam maka mereka pun haram menerima sedekah, sedangkan maula selain dari Maula Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam (termasuk Maula Aisyah) tidak terkena hukum ini</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kami yakin nashibi itu sudah membaca tulisan kami sebelumnya dan ternyata ia masih mengeluarkan ucapan di atas. Hal ini membuktikan kalau nashibi itu memang orang yang ingkar sunnah. Wahai nashibi, kami hanya mengulang apa yang jelas jelas dinyatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau bersabda</p>
<h2 style="text-align:right;">انا أهل بيت نهينا عن الصدقة وان موالينا من أنفسنا ولا نأكل الصدقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan maula kami adalah bagian dari kami dan tidak boleh menerima sedekah</em></p>
<p style="text-align:justify;">Masa’ sih ada orang yang masih salah memahami hadis di atas. Lafaz yang dimaksud adalah <em>“kami ahlul bait”</em> kemudian dilanjutkan dengan lafaz <em>“maula kami adalah bagian dari kami”</em>. Maka siapapun yang punya sedikit akal pikiran pasti mampu memahami bahwa <em>“maula kami”</em> yang dimaksud disitu adalah <em>“maula ahlul bait”</em>. Apa ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata <em>“kami ahlul bait dilarang menerima sedekah”</em> itu maksudnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja dan tidak untuk ahlul baitnya?. Aduhai kami kehilangan kata-kata menghadapi hujjah nashibi yang menyedihkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini menjadi hujjah bahwa ahlul bait yang dimaksudkan dalam lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“kami ahlul bait diharamkan menerima sedekah”</span></em></span> adalah ahlul bait yang maula mereka diharamkan menerima sedekah. Termasuk di dalamnya adalah Bani Hasyim yaitu keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil dan keluarga Abbas. Sedangkan istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak termasuk karena maula mereka dibolehkan menerima sedekah padahal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> “maula suatu kaum adalah bagian dari kaum tersebut”</em></span> dan <span style="text-decoration:underline;"><em>“maula ahlul bait diharamkan menerima sedekah”</em></span>. Jadi jika suatu kaum diharamkan menerima sedekah maka maula kaum tersebut juga diharamkan menerima sedekah. Jika istri Nabi sebagai ahlul bait diharamkan menerima sedekah maka maula mereka pun akan diharamkan menerima sedekah. Itulah yang nampak dari hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) beliau, diharamkan menerima sedekah yang merupakan salah satu kekhususan beliau, sedangkan Aisyah sebagai istri/ahlul bait beliau di dunia dan di akhirat tidak diharamkan menerima sedekah? Suatu logika yang sangat anomaly</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ketika ada tempatnya harus memakai logika maka nashibi ini menunjukkan seolah ia tidak punya logika atau menampilkan logika yang menyedihkan dan ketika pada tempat yang seharusnya tidak menggunakan logika, ia malah sok berhujjah dengan logika [walaupun logikanya masih ngawur juga]. Perkara siapa yang diharamkan menerima sedekah itu adalah nash dari Allah SWT dan Rasul-Nya bukan perkara logika. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri yang menyatakan bahwa maula ahlul bait juga diharamkan menerima sedekah. Dan sampai saat ini kami belum menemukan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa istri Nabi diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya ia membawakan riwayat Barirah memberikan makanan yang disedekahkan padanya kepada Aisyah. Dengan berbagai riwayat ini ia ingin menunjukkan bahwa Aisyah [radiallahu ‘anha] itu termasuk diharamkan menerima sedekah. Silakan para pembaca perhatikan pembahasan kami dan pakailah logika yang benar untuk melihat betapa buruknya cara nashibi itu berhujjah</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ عَتَقَتْ فَخُيِّرَتْ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبُرْمَةٌ عَلَى النَّارِ فَقُرِّبَ إِلَيْهِ خُبْزٌ وَأُدْمٌ مِنْ أُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ الْبُرْمَةَ فَقِيلَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ قَالَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّةٌ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Malik dari Rabi’ah bin ‘Abdurrahman dari Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radiallahu ‘anha yang berkata pada Barirah terdapat tiga pelajaran. Ia dimerdekakan kemudian diberikan pilihan. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya wala’ itu adalah bagi mereka yang memerdekakan. Kemudian suatu ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">sedangkan periuk berada di atas api</span></span>, Beliau lalu diberikan roti dan makanan yang biasa ada di rumah. Beliau berkata “bukankah tadi aku melihat periuk?”. Dikatakan kepada Beliau [oleh Aisyah] “periuk itu berisi daging yang disedekahkan kepada Barirah </em><span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">sedangkan anda tidak makan sedekah</span>”</em></span><em>.</em><em> </em><em>Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “baginya adalah sedekah sedangkan bagi kita adalah hadiah” </em><em><strong>[Shahih Bukhari 7/9 no 5097]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Barirah menghadiahkan daging itu kepada Aisyah [radiallahu ‘anha]. Kemudian Aisyah radiallahu ‘anha menerima daging pemberian Barirah itu dan memasaknya. Aisyah [radiallahu ‘anha] itu awalnya beranggapan daging itu masih sedekah sehingga tidak boleh disajikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini nampak dalam lafaz  <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>“anda tidak makan sedekah”</em></span></span>. Dari lafaz itu juga diketahui bahwa menurut Aisyah, dirinya tidak diharamkan menerima sedekah. Kalau memang dirinya termasuk diharamkan menerima sedekah maka ia akan berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“kita tidak makan sedekah”</em></span> bukannya <span style="text-decoration:underline;"><em>“anda tidak makan sedekah”</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang Aisyah sebelumnya beranggapan daging pemberian Barirah itu adalah sedekah maka mengapa ia menerima bahkan memasaknya?. Apa daging sedekah itu mau ia sajikan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Jelas tidak. Seandainya Aisyah merasa dirinya termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah maka ia pasti tidak akan menerima daging pemberian Barirah apalagi memasaknya. Mengapa? Karena ahlul bait diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu beranggapan <span style="text-decoration:underline;">Aisyah [radiallahu ‘anha] tahu bahwa dirinya ahlul bait diharamkan menerima sedekah tetapi tetap menerima sedekah yang ia diharamkan atasnya bahkan memasaknya</span>. Bukankah ini suatu celaan yang nyata kepada Aisyah [radiallahu ‘anha]. Hal ini membuktikan kalau anggapan nashibi itu keliru. Aisyah merasa dirinya tidak diharamkan menerima sedekah maka tidak ada masalah baginya menerima pemberian Barirah [yang ia anggap sedekah]. Ia memasaknya untuk dirinya tetapi ia tidak menyajikan daging itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena ia mengetahui bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>“baginya sedekah dan bagi kita hadiah”</em></span> tidak menunjukkan bahwa Aisyah diharamkan menerima sedekah tetapi menunjukkan bahwa status makanan tersebut berubah. Ketika disedekahkan kepada Barirah maka daging itu adalah sedekah dan ketika Barirah menghadiahkan kepada Aisyah maka daging tersebut menjadi hadiah bukan lagi sedekah. Jadi daging tersebut ketika telah diberikan Barirah dan diterima Aisyah maka itu menjadi hadiah bagi Aisyah sehingga tidak masalah untuk diberikan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Riwayat lain yang menunjukkan Aisyah dan juga istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang lain adalah termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah sebagai berikut :</p>
<p>حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مِنْ الصَّدَقَةِ فَبَعَثْتُ إِلَى عَائِشَةَ مِنْهَا بِشَيْءٍ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَائِشَةَ قَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ لَا إِلَّا أَنَّ نُسَيْبَةَ بَعَثَتْ إِلَيْنَا مِنْ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثْتُمْ بِهَا إِلَيْهَا قَالَ إِنَّهَا قَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا</p>
<p style="text-align:justify;">Muslim, 13.165/1789. Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Khalid dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyyah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirimkan seekor kambing dari hasil sedekah kepadaku, lalu aku mengirim sebahagian darinya kepada ‘Aisyah. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumah ‘Aisyah, beliau bertanya: Apakah kalian mempunyai sesuatu untuk dimakan? ‘Aisyah menjawab, Tidak ada, kecuali sedikit daging kambing yang telah engkau kirimkan kepadanya (Ummu ‘Athiyyah). Beliau berkata: Ia telah menjadi halal untuk dimakan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu membawakan riwayat di atas sebagai bukti bahwa istri adalah ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Lagi lagi hadis ini adalah hujjah bagi kami bukan hujjah bagi dirinya. Dengan lucunya ia berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawaban Aisyah dalam riwayat di atas ketika ditanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam apakah Aisyah mempunyai makanan menunjukkan bahwa Aisyah pada awalnya menganggap daging kiriman dari Ummu Athiyah tidak boleh dimakan sehingga beliau mengatakan “tidak ada”, tetapi kemudian Nabi membolehkannya karena itu bukan lagi barang sedekah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ummu Athiyah mendapatkan sedekah kemudian sebagiannya diberikan kepada Aisyah. Jika memang Aisyah pada awalnya menganggap daging itu sedekah sehingga tidak boleh dimakan. Maka mengapa ia menerima daging tersebut untuk dijadikan makanan. Aisyah menerima daging yang ia anggap sedekah karena ia tidak diharamkan menerima sedekah. Sikap Aisyah ini sangat berbeda dengan riwayat Ibnu Abi Syaibah yang dikutip nashibi, ketika Khalid mengirimkan sapi sedekah kepada Aisyah, ia menolaknya dan berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“kami keluarga Muhammad diharamkan menerima sedekah”</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa Aisyah tidak mengatakan hal yang sama kepada Ummu Athiyah bukankah Aisyah beranggapan daging tersebut adalah sedekah. Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertanya kepada Aisyah <span style="text-decoration:underline;"><em>“apakah ada makanan?”</em></span> Aisyah menjawab <span style="text-decoration:underline;"><em>“tidak ada”</em></span>. Mengapa ia menjawab “tidak ada” padahal ada makanan yang ia terima dari Ummu Athiyah karena ia tahu bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan memakan sedekah dan ia beranggapan daging tersebut adalah sedekah. Baru setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyampaikan “sedekah itu telah sampai pada tempatnya” yaitu pada Ummu Athiyah maka pemberian Ummu Athiyah kepada Aisyah bukan lagi sedekah melainkan hadiah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أحمد بن زهير التستري ثنا عبيد الله بن سعد ثنا عمي ثنا أبي عن صالح بن كيسان عن ابن شهاب أن عبيد بن السباق أخبره أن جويرية بنت الحارث زوج النبي صلى الله عليه و سلم أخبرته أن مولاتها تصدق عليها بلحم فصنعته فلما رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال : هل عند كم من عشاء ؟ قلت : يا رسول الله قد تصد ق على فلانة بعضو من لحم وقد صنعته فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : قربوه فقد بلغت محلها فأكل منها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair Al Tusturiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Sa’d yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih bin Kiisaan dari Ibnu Syihaab bahwa Ubaid bin As Sabbaaq mengabarkan kepadanya bahwa Juwairiyah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa maulanya mendapatkan sedekah berupa daging maka ia memasak daging tersebut. Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang, Beliau berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“apakah disisimu ada sesuatu [makanan]?”</span></span>. Ia menjawab <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">“wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sungguh telah disedekahkan kepada fulanah sebagian daging maka aku telah memasaknya”</span></span>. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bawalah kemari sungguh sedekah itu telah sampai pada tempatnya” maka Beliau memakannya <strong>[Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 24/64 no 169]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat ini sanadnya shahih</strong>. <span style="color:#0000ff;">Ahmad bin Zuhair</span> adalah Ahmad bin Yahya bin Zuhair Al Tustury seorang Imam hujjah muhaddis alim hafizh [As Siyar Adz Dzahabiy 14/362 no 213]. <span style="color:#0000ff;">Ubaidillah bin Sa’d bin Ibrahim</span> adalah perawi Bukhari seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/632]. Pamannya adalah <span style="color:#0000ff;">Yaq’ub bin Ibrahim bin Sa’d</span> adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat dan memiliki keutamaan [At Taqrib 2/337]. Ayahnya adalah <span style="color:#0000ff;">Ibrahim bin Sa’d bin Ibrahim Az Zuhriy</span> adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat dan hujjah [At Taqrib 1/56]. <span style="color:#0000ff;">Shalih bin Kiisaan</span> adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat tsabit faqih [At Taqrib 1/431]. <span style="color:#0000ff;">Az Zuhriy</span> adalah perawi Bukhari dan Muslim yang faqih hafizh disepakati kemuliaannya, pemimpin thabaqat keempat [At Taqrib 2/133]. <span style="color:#0000ff;">Ubaid bin As Sabbaaq</span> adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat [At Taqrib 1/644]</p>
<p style="text-align:justify;">Sisi pendalilannya adalah daging itu disedekahkan kepada maula Juawiriyah kemudian maula Juwairiyah memberikannya kepada Juwairiyah. Juwairiyah sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menerima dan memasak daging tersebut. Awalnya ia beranggapan daging tersebut masih berstatus daging sedekah sehingga ia tidak mau menyajikan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Disini terdapat hujjah bahwa Juwairiyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] walaupun menurutnya daging itu adalah sedekah ia tetap menerimanya dan memasaknya. Untuk siapa ia memasaknya?. Jelas bukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan memakan sedekah maka tidak lain ia memasaknya untuk dirinya sendiri. Kesimpulannya istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Barirah maula Aisyah yang mendapat sedekah dan riwayat maula Juwairiyah mendapatkan sedekah adalah dalil bahwa istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah yaitu dilihat dari dua sisi</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Pertama</span>, berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa <span style="text-decoration:underline;">ahlul bait dan maula ahlul bait diharamkan menerima sedekah</span> maka hal ini menunjukkan kalau istri Nabi tidak termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah karena maula mereka dibolehkan menerima sedekah</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Kedua</span>, dalam riwayat tersebut <span style="text-decoration:underline;">Aisyah dan Juwairiyah menerima daging yang anggapan mereka pada awalnya adalah sedekah</span>. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sebagai istri Nabi memang dibolehkan menerima sedekah tetapi tidak boleh menyajikannya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula riwayat Ummu Athiyah dan Nusaibah yang memberikan sedekah yang mereka terima kepada istri Nabi. Istri Nabi Aisyah awalnya mengira itu sedekah tetapi ia tetap menerimanya hanya saja ketika Nabi bertanya adakah makanan, ia menjawab tidak ada kecuali makanan dari sedekah tersebut. Ia menjawab <span style="text-decoration:underline;"><em>“tidak ada”</em></span> karena Nabi tidak boleh memakan sedekah. Tetapi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjelaskan kalau itu bukan lagi sedekah karena sedekah itu telah sampai pada tempatnya. Seandainya istri Nabi diharamkan menerima sedekah maka Aisyah pasti akan langsung menolak pemberian daging dari Ummu Athiyah yang ia anggap dari sedekah bukannya menerima dan memasaknya. <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/hadis/'>Hadis</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2631/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2631&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/29/apakah-istri-nabi-diharamkan-menerima-sedekah-anomali-bantahan-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Istri Nabi Termasuk Ahlul Bait Yang Diharamkan Menerima Sedekah?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/27/apakah-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-termasuk-ahlul-bait-yang-diharamkan-menerima-sedekah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/27/apakah-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-termasuk-ahlul-bait-yang-diharamkan-menerima-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 00:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2623</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Istri Nabi [Shallallahu ‘alaihi wasallam] Diharamkan Menerima Sedekah? Tidak diragukan bahwa Ahlul Bait diharamkan menerima sedekah sebagaimana dijelaskan dalam hadis hadis shahih. Perselisihan timbul ketika ditanyakan apakah istri Nabi termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah?. Tulisan ini mencoba untuk memberikan dalil-dalil atau hujjah bahwa istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah. Mereka adalah ahlul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2623&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Apakah Istri Nabi [Shallallahu ‘alaihi wasallam] Diharamkan Menerima Sedekah?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan bahwa Ahlul Bait diharamkan menerima sedekah sebagaimana dijelaskan dalam hadis hadis shahih. Perselisihan timbul ketika ditanyakan apakah istri Nabi termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah?. Tulisan ini mencoba untuk memberikan dalil-dalil atau hujjah bahwa istri Nabi tidak diharamkan menerima sedekah. Mereka adalah ahlul bait tetapi tidak diharamkan menerima sedekah sedangkan ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah adalah mereka ahlul bait yang memiliki ikatan nasab dengan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].<span id="more-2623"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang berhujjah dengan riwayat perkataan Aisyah radiallahu ‘anha dimana Beliau pernah menolak sedekah dan menyatakan itu tidak halal bagi keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Berikut riwayatnya</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا وكيع عن محمد بن شريك عن ابن أبي مليكة أن خالد بن سعيد بعث إلى عائشة ببقرة من الصدقة فردتها وقالت إنا آل محمد صلى الله عليه وسلم لا تحل لنا الصدقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Muhammad bin Syariik dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Khalid bin Sa’id diutus kepada Aisyah untuk memberikan sapi dari sedekah kepada Aisyah tetapi ia menolaknya seraya berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">“sesungguhnya kami keluarga Muhammad tidak dihalalkan bagi kami menerima sedekah”</span></span><strong> [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 3/214 no 10802]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat seolah tampak shahih tetapi jika diteliti dengan baik riwayat ini mengandung illat [cacat] yaitu inqitha’ [terputus sanadnya]. Riwayat diatas sanadnya berhenti pada Ibnu Abi Mulaikah dan ia meriwayatkan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">kisah dimana Khalid bin Sa’id memberikan sedekah kepada Aisyah radiallahu ‘anha</span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Khalid bin Sa’id yang dimaksud adalah Khalid bin Sa’id bin ‘Ash salah seorang sahabat Nabi. Khalid bin Sa’id bin ‘Ash wafat atau syahid pada perang Ajnadain pada tahun 13 H [Al Ishabah Ibnu Hajar 2/238 no 2169]. Jadi peristiwa Khalid bin Sa’id mengirimkan sapi sedekah kepada Aisyah dan Aisyah menolaknya seraya berkata kepada Khalid bahwa keluarga Muhammad tidak dihalalkan menerima sedekah terjadi sebelum tahun 13 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabiy dalam As Siyar ketika menyebutkan biografi Ibnu Abi Mulaikah menyatakan bahwa ia lahir pada masa khalifah Ali atau sebelumnya. Disebutkan Al Bukhari bahwa ia wafat tahun 117 H dan Adz Dzahabi menyatakan bahwa umurnya lebih kurang delapan puluh tahun [As Siyar Adz Dzahabiy 5/89-90 no 30]. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Abi Mulaikah belum lahir saat peristiwa Khalid bin Sa’id datang kepada Aisyah. Jadi riwayat tersebut inqitha’ [sanadnya terputus] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin akan ada yang berkata riwayat Ibnu Abi Mulaikah itu ia dapat dari Aisyah. Ini hanya asumsi tanpa bukti. Riwayat tersebut sanadnya berhenti pada Ibnu Abi Mulaikah dan perkataan Aisyah adalah bagian dari matan riwayat dimana <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Aisyah berkata kepada Khalid</span></span> bukan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Aisyah berkata kepada Ibnu Abi Mulaikah</span></span>. Jika nashibi itu bisa membuktikan bahwa Ibnu Abi Mulaikah mendengar langsung dari Aisyah tentang kisah tersebut maka benarlah bahwa riwayat tersebut dari Aisyah. Nah namanya berhujjah tentu dengan dalil.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا ابن فضيل عن أبي حيان عن يزيد بن حيان قال انطلقت أنا وحصين بن عقبة إلى زيد بن أرقم فقال له يزيد وحصين من أهل بيته أليس نساؤه من أهل بيته قال لا ولكن أهل بيته من حرم الصدقة عليه فقال له حصين ومن هم قال هم آل عباس وآل علي وآل جعفر وآل عقيل فقال له حصين على هؤلاء تحرم الصدقة قال نعم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Abi Hayyaan dari Yazid bin Hayyaan yang berkata aku dan Hushain bin ‘Uqbah datang kepada Zaid bin Arqam maka Yazid dan Hushain berkata kepadanya “siapakah ahlul baitnya [Rasulullah]? <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">Bukankah istri istrinya termasuk ahlul baitnya?”. Zaid berkata “tidak, ahlul baitnya adalah orang yang diharamkan sedekah atas mereka”</span></span>. Hushain berkata kepadanya “siapakah mereka?”. Zaid berkata “mereka adalah keluarga ‘Abbas keluarga Ali, keluarga Ja’far dan keluarga Aqil”. Hushain berkata kepadanya “mereka semua diharamkan sedekah”. Zaid berkata “benar”<strong> [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 3/214 10806]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Zaid bin Arqam ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dan bersambung hingga Zaid bin Arqam, para perawinya adalah perawi tsiqat.</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin Fudhail bin Ghazwaan</span> adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/125]. Adz Dzahabiy menyatakan tsiqat [Al Kasyf no 5115]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Abu Hayyaan</span> adalah Yahya bin Sa’id bin Hayyaan adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat ahli ibadah” [At Taqrib 2/303] dan Adz Dzahabiy berkata “Imam tsabit” [Al Kasyf no 6173]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Yazid bin Hayyaan At Tamimiy</span> termasuk perawi Muslim yang tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/323]. Adz Dzahabiy berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 6294]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Zaid menyatakan dengan jelas bahwa istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat dalil lain yang menunjukkan bahwa istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak termasuk yang diharamkan menerima sedekah</p>
<h2 style="text-align:right;">عن بن أبى رافع عن أبيه ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث رجلا من بني مخزوم على الصدقة فقال الا تصحبني تصيب قال قلت حتى أذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه و سلم فذكرت ذلك فقال أنا آل محمد لا تحل لنا الصدقة وان مولى القوم من أنفسهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Abi Rafi’ dari ayahnya bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus seorang laki-laki dari bani Makhzum untuk mengambil sedekah. Maka ia berkata “temanilah aku dan engkau akan mendapat bagian”. Aku berkata “tunggu sampai aku menanyakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” dan aku menanyakannya maka Beliau berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">“kami keluarga Muhammad tidak dihalalkan bagi kami sedekah dan mawla suatu kaum termasuk kaum itu sendiri</span></span> <strong>[Musnad Ahmad 6/390 no 27226 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian diriwayatkan pula dari Ummu Kultsum binti Ali bahwa mawla Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bernama Maimun atau Mihran mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah bersabda</p>
<h2 style="text-align:right;">فقال له يا ميمون أو يا مهران انا أهل بيت نهينا عن الصدقة وان موالينا من أنفسنا ولا نأكل الصدقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">“wahai Maimun atau wahai Mihraan kami ahlul bait dilarang bagi kami menerima sedekah dan mawla kami termasuk bagian dari kami dan tidak boleh memakan sedekah”</span></span> <strong>[Musnad Ahmad 4/34 no 16446 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua hadis ini disimpulkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">mawla Ahlul Bait juga diharamkan menerima sedekah</span></span>. Maka jika istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah maka mawla merekapun seharusnya diharamkan menerima sedekah. Faktanya tidak begitu, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan Barirah maula Aisyah radiallahu ‘anha untuk menerima sedekah</p>
<h2 style="text-align:right;">عن قتادة سمع أنس بن مالك قال أهدت بريرة إلى النبي صلى الله عليه و سلم لحما تصدق به عليها فقال هو لها صدقة ولنا هدية</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Qatadah yang mendengar Anas bin Malik berkata Barirah mengahadiahkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] daging yang disedekahkan kepadanya maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000080;text-decoration:underline;">“untuknya ini adalah sedekah dan bagi kami ini adalah hadiah”</span></span> <strong>[Shahih Muslim 2/756 no 1074]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sisi pendalilannya adalah disebutkan dalam dua hadis sebelumnya bahwa keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] diharamkan menerima sedekah termasuk juga maula ahlul bait atau maula keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Barirah maula Aisyah radiallahu ‘anha dibolehkan menerima sedekah maka hal itu menunjukkan bahwa Aisyah radiallahu ‘anha tidak termasuk dalam ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/hadis/'>Hadis</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2623/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2623&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/27/apakah-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-termasuk-ahlul-bait-yang-diharamkan-menerima-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menurut Nashibi : Sa’id bin Al Musayyab Berdusta?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/25/menurut-nashibi-said-bin-al-musayyab-berdusta/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/25/menurut-nashibi-said-bin-al-musayyab-berdusta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 10:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2620</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Nashibi : Sa’id bin Al Musayyab Berdusta? Tulisan ini adalah hadiah bagi nashibi yang suka menuduh dusta terhadap orang lain tanpa berpikir dengan baik. Penyakit para nashibi adalah mereka suka menuduh kesalahan yang dilakukan orang yang bertentangan dengan mazhab mereka [baca : ulama mereka] sebagai kedustaan. Ada salah seorang nashibi yang menuduh ulama syiah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2620&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Menurut Nashibi : Sa’id bin Al Musayyab Berdusta?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini adalah hadiah bagi nashibi yang suka menuduh dusta terhadap orang lain tanpa berpikir dengan baik. Penyakit para nashibi adalah mereka suka menuduh kesalahan yang dilakukan orang yang bertentangan dengan mazhab mereka [baca : ulama mereka] sebagai kedustaan. Ada salah seorang nashibi yang menuduh ulama syiah berdusta padahal perkataan yang sama juga dinyatakan oleh ulama sunni yang tsiqat. Hakikatnya sama saja nashibi itu menuduh Ulama sunni yang tsiqat itu sebagai pendusta juga. Silakan baca dahulu tulisan nashibi berikut http://gift2shias.com/2011/10/31/shaykh-al-amidi-liar-%E2%84%962/<span id="more-2620"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu menuduh Syaikh Al Amidi ulama syiah berdusta atas perkataannya padahal ucapan yang sama diucapkan oleh Sa’id bin Al Musayyab jauh sebelumnya</p>
<h2 style="text-align:right;">وأخبرنا عبد الوارث بن سفيان حدثنا قاسم بن أصبغ نا أحمد بن زهير نا إبراهيم بن بشار نا سفيان بن عيينة قال حدثنا يحيى بن سعيد عن سعيد بن المسيب قال ما كان أحد من الناس يقول سلوني غير علي بن أبي طالب رضي الله عنه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Qaasim bin Ashbagh yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’iid bin Al Musayyab yang berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">tidak ada satu orangpun yang mengatakan “bertanyalah padaku” kecuali Ali bin Abi Thalib</span></span> <strong>[Jami’ Al Bayan Ibnu Abdil Barr 2/55 no 526]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga kedudukannya shahih dari Sa’id bin Al Musayyab [sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Abu Asybal Az Zuhairiy muhaqqiq kitab Jami’ Al Bayan Ibnu Abdil Barr]. Berikut keterangan mengenai para perawinya</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">‘Abdul Warits bin Sufyaan</span> adalah muhaddis tsiqat alim sebagaimana disebutkan Adz Dzahabi [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/84 no 49]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Qaasim bin Asbagh</span> adalah Imam hafizh muhaddis andalus sebagaimana disebutkan Adz Dzahabi [Tadzkirah Al Huffazh 3/48 no 831]. Ia termasuk imam para ulama mahzab maliki. Ahmad bin Abdil Barr berkata “syaikh shaduq shahih kitabnya” [Lisan Al Mizan juz 4 no 1415]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ahmad bin Zuhair</span> adalah Ibnu Abi Khaitsamah seorang Hafizh yang terkenal. Al Khatib menyatakan ia tsiqat alim mutqin hafizh [Lisan Al Mizan juz 1 no 556]. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun” [Su’alat Al Hakim no 11]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ibrahiim bin Basyaar</span> adalah sahabat Sufyan bin Uyainah, Ibnu Hajar berkata “hafizh dan pernah salah” [At Taqrib 1/53]. Dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa ia seorang shaduq hasanul hadis, pada dasarnya ia seorang yang tsiqat tetapi karena ia punya sedikit kesalahan maka kedudukannya menjadi hasan [Tahrir At Taqrib no 155]. Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 2/89 no 225]. Ibnu Hibban berkata “sahabat Ibnu Uyainah yang mutqin dhabit” [Ats Tsiqat juz 8 no 12301]. Dalam periwayatannya dari Ibnu Uyainah, ia memiliki mutaba’ah yaitu dari Utsman bin Abi Syaibah [Fadhail Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 1098]. Utsman bin Abi Syaibah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/659]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Sufyan bin Uyainah</span> adalah seorang yang tsiqat hafizh faqih imam hujjah tetapi mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya [At Taqrib 1/371].</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Yahya bin Sa’id bin Qais Al Anshariy</span> adalah seorang yang tsiqat tsabit sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar [At Taqrib 2/303]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas sanadnya shahih hingga Sa’id bin Al Musayyab seandainya orang yang berkata itu dituduh dusta maka Sa’id bin Al Musayyab juga orang yang harus dikatakan dusta. Siapakah Sa’id bin Al Musayyab?. Ia adalah ulama besar perawi Bukhari dan Muslim. Nafi berkata dari Ibnu Umar bahwa ia salah seorang dari orang orang mutqin. Qatadah berkata “tidak ada seorangpun yang lebih tahu halal dan haram kecuali ia”. Ahmad berkata “tabiin yang paling utama adalah Sa’iid bin Musayyab”. Ibnu Madini berkata “tidak ada tabiin yang lebih alim dari Sa’id bin Al Musayyab” [At Tahdzib juz 4 no 145]. Betapa menyedihkan nashibi yang suka menuduh dusta mungkin ia akan terdiam seribu bahasa atau mencari cari dalih bersilat lidah seperti biasanya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2620/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2620&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/25/menurut-nashibi-said-bin-al-musayyab-berdusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Takhrij Riwayat Imam Ali Tidak Mengangkat Penggantinya : Studi Kritis Hujjah Nashibi</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/23/takhrij-riwayat-imam-ali-tidak-mengangkat-penggantinya-studi-kritis-hujjah-nashibi/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/23/takhrij-riwayat-imam-ali-tidak-mengangkat-penggantinya-studi-kritis-hujjah-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 04:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2613</guid>
		<description><![CDATA[Takhrij Riwayat Imam Ali Tidak Mengangkat Penggantinya : Studi Kritis Hujjah Nashibi Ada riwayat yang sering kali dikutip oleh para nashibi yaitu riwayat bahwa Imam Ali tidak mengangkat atau menunjuk pengganti Beliau. Diantara para nashibi, ada yang dengan sok [baca : angkuh] menyatakan riwayat tersebut shahih. Faktanya tidak demikian wahai pembaca yang terhormat. Kami ingatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2613&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Takhrij Riwayat Imam Ali Tidak Mengangkat Penggantinya : Studi Kritis Hujjah Nashibi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada riwayat yang sering kali dikutip oleh para nashibi yaitu riwayat bahwa Imam Ali tidak mengangkat atau menunjuk pengganti Beliau. Diantara para nashibi, ada yang dengan sok [baca : angkuh] menyatakan riwayat tersebut shahih. Faktanya tidak demikian wahai pembaca yang terhormat. Kami ingatkan kepada anda, jika para nashibi mengutip hadis dan menyatakan hadis tersebut shahih maka jangan langsung percaya sampai anda melihat apa hujjah nashibi itu menyatakan shahih. Kalau cuma asal ceplos lebih baik jangan percaya karena anda bisa tertipu. Riwayat Imam Ali tidak mengangkat penggantinya yang dijadikan hujjah oleh nashibi adalah riwayat dhaif. Mari ikuti pembahasannya<span id="more-2613"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Syu’aib bin Maimun</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا إسماعيل بن أبي الحارث قال نا شبابة بن سوار قال نا شعيب بن ميمون عن حصين بن عبد الرحمن عن الشعبي عن شقيق قال قيل لعلي رضي الله عنه ألا تستخلف علينا ؟ قال ما استخلف رسول الله صلى الله عليه وسلم فاستخلف عليكم وإن يرد الله تبارك وتعالى بالناس خيرا فسيجمعهم على خيرهم كما جمعهم بعد نبيهم صلى الله عليه وسلم على خيرهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin Abi Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Asy Sya’bi dari Syaqiiq yang berkata dikatakan kepada Ali radiallahu ‘anhu “Tidakkah engkau memilih pengganti untuk kami?”. Ali berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak memilih pengganti maka mengapa aku harus memilih pengganti untuk kalian, tetapi jika Allah SWT menginginkan kebaikan untuk manusia maka Dia pasti mengumpulkan mereka dibawah orang yang terbaik diantara mereka seperti Dia mengumpulkan mereka sepeninggal Nabi mereka dibawah orang yang terbaik diantara mereka <strong>[Musnad Al Bazzar no 565]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Selain Al Bazzar riwayat diatas juga disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 1158, Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 no 4467, Al Baihaqi dalam Ad Dala’il 7/223 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Ibnu Asakir 42/537 &amp;561 dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">dari Syabaabah bin Sawwaar dari Syu’aib bin Maimun dari Hushain dari Asy Sya’bi dari Syaqiiq</span>. Diriwayatkan Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/183 no 703 dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari ‘Amru bin ‘Aun dari Abu Janab dari Abi Wa’il </span></span> dan dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Muhammad bin Aban Al Wasithiy dari Syu’aib bin Maimun dari Abu Janab dari Asy Sya’bi dari Abu Wa’il</span></span>. Diriwayatkan Ibnu Adiy dalam Al Kamil 4/3 dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Syababah dari Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin ‘Abdurrahman dan Abu Janab dari Asy Sya’bi dari Syaqiiq Abu Wa’il</span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini kedudukannya dhaif karena Syu’aib bin Maimun. Abu Hatim berkata “majhul”. Al Ijli juga menyatakan ia majhul. Bukhari berkata “fiihi nazhar”. Ibnu Hibban berkata “ia meriwayatkan hadis hadis mungkar dari para perawi masyhur, tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri”. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadis di atas termasuk hadis mungkarnya Syu’aib bin Maimun [At Tahdzib juz 4 no 608]. Daruquthni berkata “tidak kuat” [Al ‘Ilal no 493]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif [At Taqrib 1/420]. Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Al Uqaili no 703]. Ibnu Jauzi juga memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 1634].</p>
<p style="text-align:justify;">Nampak dalam riwayat tersebut kalau Syu’aib bin Maimun tidak tsabit dalam riwayatnya terkadang ia berkata dari Hushain dari Asy Sya’bi dari Syaqiiq, terkadang ia berkata dari Abu Janab dari Asy Sya’bi dari Syaqiiq dan terkadang berkata dari Abu Janab dari Syaaqiiq [tanpa menyebutkan Asy Sya’bi]. Hal ini memperkuat kelemahan riwayat tersebut. Kesimpulannya riwayat ini dhaif karena perawinya dhaif majhul meriwayatkan hadis mungkar dan adanya idhthirab dalam periwayatannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis ‘Abdullah bin Sabu’</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا وكيع ثنا الأعمش عن سالم بن أبي الجعد عن عبد الله بن سبع قال سمعت عليا رضي الله عنه يقول لتخضبن هذه من هذا فما ينتظر بي الأشقى قالوا يا أمير المؤمنين فأخبرنا به نبير عترته قال إذا تالله تقتلون بي غير قاتلي قالوا فاستخلف علينا قال لا ولكن أترككم إلى ما ترككم إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم قالوا فما تقول لربك إذا أتيته وقال وكيع مرة إذا لقيته قال أقول اللهم تركتني فيهم ما بدا لك ثم قبضتني إليك وأنت فيهم فإن شئت أصلحتهم وإن شئت أفسدتهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Aku mendengar Ali berkata “sesungguhnya ini akan dilumuri [darah] dari sini, sehingga tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan. Mereka berkata “wahai Amirul Mukminin beritahukanlah kepada kami siapa dia, kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “kalau demikian demi Allah kalian akan membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Maka angkatlah seseorang sebagai penggantimu. Ali berkata “tidak, akan tetapi aku akan meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian. Mereka berkata “Apa yang akan Engkau katakan kepada TuhanMu jika Engkau mendatanginya [Waki terkadang berkata] Jika Engkau bertemu dengan-Nya”. Ali berkata “Ya Allah Engkau membiarkanku di antara mereka dengan kehendakMu lalu Engkau mengambilku kesisiMu sedang Engkau berada di antara mereka. Jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kebaikan pada mereka dan jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kehancuran pada mereka” <strong>[Musnad Ahmad 1/130 no 1078]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Abdullah bin Sabu’ yang disebutkan Ahmad yaitu <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">riwayat Waki’ dari Al A’masy dari Salim bin Abi Ja’d dari Abdullah bin Sabu’</span></span> juga disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 1/284 no 341, Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/34, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 14/596 no 38253 &amp; 15/118 no 38580.</p>
<p style="text-align:justify;">Disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/156 no 1339, dan Fadhail Ash Shahabah no 1211 dan disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Ad Dimasyq 42/539 dengan jalan sanad<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> dari Abu Bakar dari A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’</span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Disebutkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283, dalam Amaliy Al Muhamili 1/150 no 145 dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Abdullah bin Dawud dari A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’</span></span>. Disebutkan dalam Amaliy Al Muhamili 1/201 no 194 dan Tarikh Ibnu Asakir 42/540 dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Jarir dari A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’</span></span>.</p>
<p>Riwayat Abdullah bin Sabu’ ini dhaif karena sanadnya mudhtharib dan hal ini berasal dari Al A’masyi.</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang Al A’masy meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Al A’masy memang perawi tsiqat tetapi walaupun tsiqat seorang perawi tetap bisa saja mengalami idhthirab dalam periwayatannya. Selain itu Abdullah bin Sabu’ hanya dikenal melalui hadis yang idhthirab ini. Tidak ada satupun ulama mutaqaddimin yang menta’dilkannya, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat juz 5 no 3646. Bukhari menyebutkannya tanpa jarh dan ta’dil dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 238, Ibnu Abi Hatim juga menyebutkannya tanpa jarh dan tadil dalam Al Jarh Wat Ta’dil 5/68 no 322. Disebutkan bahwa yang meriwayatkan darinya hanya Salim bin Abil Ja’d [Mizan Al I’tidal juz 2 no 4343] yaitu dalam hadis yang idhthirab di atas. Tautsiq Ibnu Hibban tidak memiliki qarinah yang menguatkan apalagi perawi yang dimaksud hanya dikenal melalui hadis yang dihthirab dan Ibnu Hibban sering memasukkan perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat. Abdullah bin Sabu’ adalah perawi majhul dan hanya dikenal melalui satu hadis ini yang ternyata tidak shahih [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3340]</p>
<p style="text-align:justify;">Aneh bin ajaib ada salah seorang salafy nashibi ketika mentakhrij hadis ‘Abdullah bin Sabu’ ini ia tidak sedikitpun menyinggung kelemahan tadlis A’masy padahal tadlis A’masy itu tampak jelas di depan matanya dan seringkali ia jadikan alasan untuk mendhaifkan banyak hadis yang bertentangan dengan akidahnya. Kalau memang tadlis A’masy merupakan cacat sanad di sisinya maka apa alasan ia tidak melemahkan hadis ini dengan tadlis A’masy. Kami bisa memaklumi kalau ia tidak tahu soal idhthirab sanad Al A’masy tetapi kami dibuat terheran heran dengan ‘an’anah A’masy  yang tampak jelas di depan matanya. Kalau orang yang ia tuduh syiah berhujjah dengan ‘an ‘anah A’masy maka ia bersemangat untuk menjadikan tadlis A’masy sebagai cacat tetapi jika ia sendiri berhujjah dengan hadis ‘an anah Amasy maka ia menutup mata berpura pura tidak tahu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi itu membawakan riwayat Al Bazzar untuk menguatkan riwayat ‘Abdullah bin Sabu’. Sayang sekali riwayat tersebut khata’ [salah] dan merupakan bagian dari idhthirab Al A’masy. Berikut riwayatnya</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري و محمد بن أحمد بن الجنيد قالا ما أبو الجواب قال نا عمار بن رزيق عن الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن ثعلبة بن يزيد الحماني قال قال علي والذي فلق الحبة وبرأ النسمة لتخضبن هذه من هذه للحيته من رأسه فما يحبس أشقاها فقال عبد الله بن سبيع : والله يا أمير المؤمنين لو أن رجلا فعل ذلك أبرنا عترته قال : أنشدك بالله أن تقتل بي غير قاتلي قالوا : يا أمير المؤمنين ألا تستخلف علينا ؟ قال : لا ولكني أترككم كما ترككم رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( فماذا تقول لربك وقد تركتنا هملا ) قال : أقول لهم استخلفتني فيهم ما بدا لك ثم قبضتني وتركتك فيهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id Al Jauhariy dan Muhammad bin Ahmad bin Junaid keduanya berkata Abul Jawaab berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ammar bin Raziiq dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yazid Al Himmaniy yang berkata Ali berkata <span style="color:#0000ff;">“Demi yang memecahkan biji bijian dan menciptakan jiwa, sungguh ini akan dilumuri [darah] dari sini hingga sini kepala sampai janggut dan tidak menungguku selain kesengsaraan</span>. Abdullah bin Sabu’ berkata “demi Allah wahai amirul mukminin seandainya ada orang yang melakukan hal itu maka kami akan bunuh keluarganya. Ali berkata “aku bersaksi atas kalian kepada Allah bahwa kalian membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “wahai amirul mukminin, tidakkah anda mengangkat pengganti untuk kami?”. Ali berkata “tidak, tetapi aku akan meninggalkan atas kalian seperti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] meninggalkan atas kalian”. Ada yang berkata “maka apa yang akan engkau katakan kepada Rabb-mu dengan meninggalkan kami” Ali berkata “perkataan Ya Allah engkau meninggalkanku di tengah tengah mereka sesuai kehendakmu kemudian Engkau mengambilku dan Engkau berada ditengah tengah mereka” <strong>[Musnad Al Bazzar no 871]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini juga disebutkan oleh Baihaqi dalam Ad Dala’il 6/440 dengan jalan sanad dari A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yazid Al Himmaniy dengan matan kurang lebih seperti di atas. Sekali lagi nashibi itu menunjukkan keanehan ketika mengomentari riwayat ini. Ia melemahkan riwayat ini karena Tsa’labah bin Yazid [karena memang perawi ini lemah kedudukannya di sisi nashibi tersebut] tetapi ia diam terhadap tadlis A’masy dan tadlis Habib bin Abi Tsabit yang seringkali ia jadikan cacat untuk melemahkan hadis. Seolah olah ia mau mengesankan pada pembaca bahwa kelemahan riwayat tersebut hanya pada Tsa’labah dan menutup mata atas tadlis A’masy dan tadlis Habib bin Abi Tsabit.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kami riwayat tersebut khata’, tidak seluruh matan hadis tersebut adalah riwayat Tsa’labah bin Yazid. Riwayat Tsa’labah bin Yazid hanya berupa</p>
<h2 style="text-align:right;">عن ثعلبة بن يزيد الحماني قال قال علي والذي فلق الحبة وبرأ النسمة لتخضبن هذه من هذه للحيته من رأسه فما يحبس أشقاها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>dari Tsa’labah bin Yazid Al Himmaniy yang berkata Ali berkata “Demi yang memecahkan biji bijian dan menciptakan jiwa, sungguh ini akan dilumuri [darah] dari sini dan tidak menungguku selain kesengsaraan</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan matan sisanya adalah riwayat Abdullah bin Sabu’. Perawi yang menggabungkan kedua riwayat ini adalah A’masy. Sebagaimana ia telah terbukti mengalami kekacauan dalam meriwayatkan hadis ini maka ia telah mencampuradukkan riwayat Tsa’labah bin Yazid dan riwayat Abdullah bin Sabu’.</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi dan Ibnu Abdil Barr dalam kitab mereka, mengutip riwayat Tsa’labah bin Yazid dari Ali dengan matan seperti yang kami katakan yaitu tanpa riwayat Abdullah bin Sabu’</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن ثعلبة بن يزيد الحماني قال سمعت عليا يقول  أشهد أنه كان يسر إلي النبي صلى الله عليه وسلم  لتخضبن هذه من هذه &#8211; يعني لحيته من رأسه &#8211; فما يحبس أشقاها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>A’masy berkata dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yaziid Al Himmaaniy yang berkata aku mendengar Ali mengatakan [aku bersaksi bahwa ia mengisyaratkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “sesungguhnya akan dilumuri [darah] dari sini hingga sini [yaitu dari kepala hingga janggut] dan tidak menungguku selain kesengsaraan” <strong>[As Siyar Adz Dzahabiy 28/247]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">روى الأعمش عن حبيب بن أبى ثابت عن ثعلبة الحمانى أنه سمع على بن أبى طالب رضى الله عنه يقول والذى فلق الحبة وبرأ النسمة لتخضبن هذه يعنى لحيته من دم هذا يعنى رأسه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan Al A’masy dari Habiin bin Abi Tsaabit dari Tsa’labah Al Himmaniy bahwa ia mendengar Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu mengatakan demi yang memecah biji bijian dan menciptakan jiwa, sungguh ini akan dilumuri dengan darah yakni janggutnya dari sini yakni kepalanya<strong> [Al isti’ab Ibnu Abdil Barr 3/1125]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Bagian pertama dari matan riwayat Al Bazzar itu memang diriwayatkan oleh Tsa’labah bin Yazid dan Abdullah bin Sabu’ tetapi bagian terakhir matan tersebut dimulai dari perkataan Abdullah bin Sabu’ hanya disebutkan dalam riwayat Abdullah bin Sabu’. Al A’masy keliru dengan mencampuradukkan kedua riwayat Tsa’labah dan Abdullah bin Sabu’. Dan hujjah nashibi yang menyatakan Imam Ali tidak menunjuk penggantinya hanya disebutkan dalam riwayat ‘Abdullah bin Sabu’ bukan riwayat Tsa’labah bin Yazid.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p><strong>Hadis ‘Amru bin Sufyaan</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله قال ثنا أبي قثنا عبد الرزاق قال انا سفيان عن الأسود بن قيس عن رجل عن علي انه قال يوم الجمل ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يعهد إلينا عهدا نأخذ به في امارة ولكنه شيء رأيناه من قبل أنفسنا ثم استخلف أبو بكر رحمة الله على أبي بكر فأقام واستقام ثم استخلف عمر رحمة الله على عمر فأقام واستقام حتى ضرب الدين بجرانه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Ali bahwa ia saat perang Jamal berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah berwasiat kepada kami untuk mengambil masalah kepemimpinan akan tetapi itu adalah sesuatu yang kami pandang menurut pendapat kami, kemudian diangkatlah Abu Bakar [rahmat Allah atas Abu Bakar] maka dia menjalankan dan istiqamah diatasnya kemudian diangkatlah Umar [rahmat Allah atas Umar] maka ia menjalankan dan istiqamah diatasnya sampai agama ini berdiri teguh dalam bangunannya [Fadhail Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 477]</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Baihaqi dalam Ad Dala’il 7/223, Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah no 472, Daruquthni dalam Al Ilal no 442 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1334 membawakan riwayat di atas dengan jalan sanad<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> dari Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sufyan dari Ali radiallahu ‘anhu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abi Ashim meriwayatkan dalam As Sunnah no 1218 dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru dari ayahnya dari Ali</span></span>. Ad Dhiya’ dalam Al Mukhtarah no 470 meriwayatkan dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sa’id dari ayahnya dari Ali.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 1/178, Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah no 471, Al Lalka’iy dalam Al I’tikaad no 2527, dan Daruquthni dalam Al Ilal no 442 meriwayatkan dengan jalan sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">dari Aswad bin Qais dari Sa’id bin Amru bin Sufyan dari ayahnya dari Ali</span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini kedudukannya dhaif karena sanadnya mudhtharib. Idhthirab pada riwayat ini kemungkinan berasal dari Aswad bin Qais.</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang ia meriwayatkan dari seorang laki-laki tanpa menyebutkan namanya</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Sufyan</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang ia meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari Ayahnya</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Terkadang ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Sa’id dari Ayahnya</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Diantara ulama yang menegaskan bahwa riwayat ini mudhtharib adalah Daruquthni dalam kitabnya Al Ilal no 442 dan Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 3/165 no 1206. Selain itu hal yang menguatkan kelemahan hadis ini adalah Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dan ayahnya tidak dikenal kredibilitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “maqbul” tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa ia sebenarnya majhul karena hanya satu orang yang meriwayatkan darinya yaitu Aswad bin Qais [Tahrir At Taqrib no 2371]. Hadis yang ia riwayatkan tersebut adalah hadis mudhtharib di atas maka periwayatan Aswad bin Qais darinya tidak bisa dikatakan tsabit.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Amru bin Sufyan biografinya disebutkan oleh Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 6 no 2565 dan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 5 no 4480. Bukhari menyebutkan hadisnya yang mengalami idhthirab sedangkan Ibnu Hibban menyatakan “ia meriwayatkan dari Ali dan yang meriwayatkan darinya adalah Sa’id bin Amru bin Sufyan”. ‘Amru bin Sufyan hanya dikenal melalui hadis ini yang ternyata idhthirab maka kedudukannya adalah majhul.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah seorang nashibi keliru ketika menganggap ‘Amru bin Sufyan ini tsiqat. ‘Amru bin Sufyan yang dimaksud adalah ‘Amru bin Sufyan yang mendengar dari Ibnu Abbas dan meriwayatkan darinya Aswad bin Qais. Bukhari dan Ibnu Hibban telah memisahkan kedua biografi ‘Amru bin Sufyan yaitu ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ali dan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas. ‘Amru bin Sufyan yang mendengar dari Ibnu Abbas disebutkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 6 no 2564 dan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 5 no 4419 dimana Ibnu Hibban berkata “ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya ‘Aswad bin Qais”. Al Hakim menshahihkan hadisnya dalam Al Mustadrak tetapi yang tertulis dalam Al Mustadrak adalah riwayat Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sulaim dari Ibnu Abbas [Al Mustadrak juz 2 no 3355]. Al Ijli memasukkannya dalam Ats Tsiqat yaitu ia berkata “Amru bin Sufyan Al Kufiy tabiin tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1383]. Hadis yang dipakai Bukhari dalam Shahih-nya secara ta’liq adalah hadis Ibnu ‘Abbas. Jadi ‘Amru bin Sufyan yang dimaksud nashibi itu adalah ‘Amru bin Sufyan yang mendengar dari Ibnu Abbas bukan ‘Amru bin Sufyan yang hadisnya mudhtharib yaitu yang meriwayatkan dari Ali.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara keseluruhan riwayat dimana Imam Ali menolak untuk mengangkat penggantinya adalah dhaif karena diriwayatkan oleh perawi yang dhaif majhul dan sanadnya mudhtharib</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;"><em>Hadis Syu&#8217;aib bin Maimun dhaif karena perawinya dhaif majhul dan mengandung idhthirab</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Hadis Abdullah bin Sabu&#8217; dhaif karena perawinya majhul dan mengandung idhthirab</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Hadis &#8216;Amru bin Sufyan dhaif karena perawinya majhul dan mengandung idhthirab</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/hadis/'>Hadis</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2613/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2613&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/23/takhrij-riwayat-imam-ali-tidak-mengangkat-penggantinya-studi-kritis-hujjah-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shahih Muawiyah Mencela Imam Ali : Bantahan Bagi Nashibi</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/18/shahih-muawiyah-mencela-imam-ali-bantahan-bagi-nashibi/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/18/shahih-muawiyah-mencela-imam-ali-bantahan-bagi-nashibi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2605</guid>
		<description><![CDATA[Shahih Muawiyah Mencela Imam Ali : Bantahan Bagi Nashibi Bukan nashibi namanya kalau tidak membela Muawiyah. Segala cara akan mereka lakukan untuk membela Muawiyah, apapun yang terjadi pokoknya Muawiyah harus dibebaskan dari segala perilaku buruk. Setiap perilaku buruk Muawiyah harus ditafsirkan sebagai akhlak yang mulia. Jika Muawiyah meminum minuman yang diharamkan maka harus ditafsirkan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2605&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Shahih Muawiyah Mencela Imam Ali : Bantahan Bagi Nashibi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bukan nashibi namanya kalau tidak membela Muawiyah. Segala cara akan mereka lakukan untuk membela Muawiyah, apapun yang terjadi pokoknya Muawiyah harus dibebaskan dari segala perilaku buruk. Setiap perilaku buruk Muawiyah harus ditafsirkan sebagai akhlak yang mulia. Jika Muawiyah meminum minuman yang diharamkan maka harus ditafsirkan bahwa yang ia minum adalah susu. Jika Muawiyah menolak hadis dan menuduh sahabat berdusta maka harus ditafsirkan ia berijtihad. Orang yang berakal pasti akan merasa geli melihat ulah para nashibi yang menghalalkan segala cara untuk membela pujaan mereka Muawiyah.<span id="more-2605"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan Muawiyah mencela Imam Ali, para nashibi [yang biasa terlibat di forum konyol kebanggaan mereka] menolak dengan sombongnya kalau Muawiyah mencela Imam Ali. Bahkan ada diantara mereka yang berlisan kotor menuduh orang yang tidak sependapat dengannya sebagai Dajjal. Na’udzubillah betapa buruknya akhlak para nashibi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami sarankan agar para pembaca tidak terlibat diskusi dengan mereka karena kasihan itu hanya akan memperbanyak dosa mereka. Diskusi itu pada akhirnya hanya akan membuat para nashibi menghina anda bahkan menyebut anda Dajjal. Apalagi kalau anda tidak hati-hati dan terbawa emosi maka anda akan ikut ikutan menghina pula jadilah diksusi itu ajang caci mencaci dan hina menghina. Biarkanlah mereka hidup dengan tabiat mereka yang suka menghina, tidak lain itu warisan dari pujaan mereka Muawiyah yang suka mencaci Imam Ali</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا علي بن محمد . حدثنا أبو معاوية . حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا . فنال منه . فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من كنت مولاه فعلي مولاه ) وسمعته يقول ( أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي ) وسمعته يقول ( لأعطين الرأية اليوم رجلا يحب الله ورسوله ) ؟</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya</span></span>. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya<strong> [Sunan Ibnu Majah 1/45 no 121 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah no 98]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Nashibi yang sok berasa paham ilmu hadis Ahlus sunnah setelah menukil riwayat ini, ia menyatakan bahwa riwayat ini dhaif karena inqitha’ atau sanadnya terputus. Ibnu Sabith tidak mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqash maka riwayatnya mursal. Pernyataan ini hanya bertaklid buta pada pendapat Ibnu Ma’in berikut yaitu dari riwayat Ad Duuriy</p>
<h2 style="text-align:right;">سمعت يحيى يقول قال بن جريج حدثني عبد الرحمن بن سابط قيل ليحيى سمع عبد الرحمن بن سابط من سعد قال من سعد بن إبراهيم قالوا لا من سعد بن أبى وقاص قال لا قيل ليحيى سمع من أبى أمامة قال لا قيل ليحيى سمع من جابر قال لا هو مرسل كان مذهب يحيى أن عبد الرحمن بن سابط يرسل عنهم ولم يسمع منهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Yahya mengatakan Ibnu Juraij berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Saabith, dikatakan kepada Yahya, apakah ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Sa’ad?. Yahya berkata “Sa’ad bin Ibrahim?”. Mereka menjawab “bukan”, dari Sa’ad bin Abi Waqaash. Yahya berkata “tidak”. Dikatakan kepada Yahya, apakah ia mendengar dari Abu Umamah. Yahya menjawab “tidak”. Dikatakan kepada Yahya apakah ia mendengar dari Jabir. Yahya menjawab “tidak, itu mursal”. Mazhab Yahya adalah ‘Abdurrahman bin Saabith mengirsalkan hadis dari mereka dan tidak mendengar dari mereka <strong>[Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 366]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Yahya bin Ma’in beranggapan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’ad, Abu Umamah, dan Jabir. Riwayat Ibnu Saabith dari ketiganya adalah mursal. Ini adalah pendapat atau mazhab Ibnu Ma’in dan ternyata terbukti keliru. Imam Bukhari berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">عبد الرحمن بن عبد الله بن سابط الجمحي المكي سمع جابرا روى عنه ليث وعبد الله بن مسلم بن هرمز وفطر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Saabith Al Jumahiy Al Makkiy mendengar dari Jabir, meriwayatkan darinya Laits, ‘Abdullah bin Muslim bin Hurmuz dan Fithr <strong>[Tarikh Al Kabir Bukhari juz 5 no 985]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">عبد الرحمن بن سابط الجمحى مكى روى عن عمر رضى الله عنه مرسل وعن جابر بن عبد الله، متصل</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>‘Abdurrahman bin Saabith Al Jumahiy Al Makkiy meriwayatkan dari Umar radiallahu ‘anhu mursal dan dari Jabir bin ‘Abdullah muttashil <strong>[Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/240 no 1137]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan terdapat riwayat dari Ibnu ‘Adiim dalam kitabnya <em>Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab</em> menyebutkan riwayat dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [silakan lihat http://islamport.com/w/tkh/Web/363/1013.htm]</p>
<h2 style="text-align:right;">وأخبرنا أبو اسحاق إبراهيم بن عثمان بن يوسف الكاشغري -قدم علينا حلب- قال: أخبرنا أبو المظفر أحمد بن محمد بن علي بن صالح الكاغدي وأبو الفتح محمد بن عبد الباقي بن أحمد بن سلمان. قال أبو المظفر: أخبرنا أبو بكر أحمد بن علي بن الحسين بن زكريا، وقال أبو الفتح: أخبرنا أبو الفضل أحمد بن الحسن بن خيرون قالا: أخبرنا أبو علي الحسن بن أحمد بن ابراهيم بن شاذان قال: أخبرنا أبو محمد عبد الله بن جعفر بن درستويه قال: أخبرنا أبو يوسف يعقوب بن سفيان الفسوي قال: حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير قال: حدثنا أبي، قال حدثنا ربيع بن سعد عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر، فدخل حسين بن علي رضي الله عنهما، فقال جابر: من سره أن ينظر الى رجل من أهل الجنة فلينظر الى هذا، فأشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوله.</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan telah mengabarkan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu Ishaq Ibrahim bin Utsman bin Yusuf Al Kaasyghariy</span></span>, yang mendatangi kami di Halab, yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muzhaffar Ahmad bin Muhammad bin ‘Aliy bin Shalih Al Kaaghadiy dan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu Fath Muhammad bin ‘Abdul Baqiy bin Ahmad bin Salmaan</span></span>. Abu Muzhaffaar berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Husain bin Zakaria. Dan Abu Fath berkata telah mengabarkan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu Fadhl Ahmad bin Hasan bin Khairuun</span></span>. Keduanya berkata telah mengabarkan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu ‘Aliy Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan</span></span> yang berkata telah mengabarkan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ja’far bin Durustawaih</span></span> yang berkata telah mengabarkan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu Yusuf Ya’qub bin Sufyan Al Fasawiy</span></span> yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair</span></span> yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">ayahku</span></span> yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Rabii’ bin Sa’d</span></span> dari <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">‘Abdurrahman bin Saabith</span> yang berkata “aku bersama Jabir maka masuklah Husain bin Ali radiallahu ‘anhum. Jabir kemudian berkata “siapa yang ingin melihat seorang ahli surga maka lihatlah orang ini, aku bersaksi telah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya</span> <strong>[Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab 5/92]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini kedudukannya shahih telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Para perawi yang kami jelaskan berikut adalah yang kami cetak biru</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Abu Ishaq Ibrahim bin Utsman bin Yusuf Al Kasyghariy</span> disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam As Siyar yaitu Syaikh Mu’ammar Musnad Iraq. Ibnu Nuqtah berkata “pendengarannya shahih” [dalam hadis]. Ibnu Najjar juga mengatakan ia shahih pendengarannya [As Siyar Adz Dzahabi 23/148-149 no 03]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Abu Fath Muhammad bin ‘Abdul Baqiy bin Ahmad bin Salmaan</span> biografinya disebutkan Ibnu Ad Dimyathiy dalam kitabnya Al Mustafad Min Dzail Tarikh Baghdad dimana disebutkan kalau Abu Fath seorang syaikh shalih shaduq dan terpercaya [Al Mustafad Min Dzail Tarikh Baghdad no 14]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Abu Fadhl Ahmad bin Hasan bin Khairun</span> disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam As Siyar bahwa ia Imam Alim Hafizh Musnad Hujjah. As Sam’aniy menyatakan ia tsiqat adil mutqin [As Siyar Adz Dzahabi 19/105-106 no 60]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Abu Ali Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan</span> disebutkan biografinya oleh Adz Dzahabiy dalam As Siyaar bahwa ia Imam Al Fadhl Shaduq Musnad Iraq. Al Khatib berkata “aku menulis darinya, shahih pendengarannya, shaduq”. Abu Hasan bin Zarqawaih menyatakan ia tsiqat [As Siyar Adz Dzahabi 17/416-417 no 273]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">‘Abdullah bin Ja’far Abu Muhammad</span> adalah Ibnu Darastawaih, Adz Dzahabi menyatakan ia seorang Imam, Allamah dan tsiqat [As Siyar 15/531 no 309]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Yaqub bin Sufyan Al Fasawi</span> disebutkan Ibnu Hajar bahwa ia seorang hafiz yang tsiqat [At Taqrib 2/337]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6388]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair</span> adalah perawi kutubus sittah yang dikatakan Ibnu Hajar tsiqat hafizh memiliki keutamaan [At Taqrib 2/100]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">‘Abdullah bin Numair</span> adalah perawi kutubus sittah yang dikatakan Ibnu Hajar tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabiy menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Rabi’ bin Sa’d Al Ju’fiy</span> dikatakan Abu Hatim “tidak ada masalah padanya” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 2077]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 6 no 7800]. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 2216]. Ibnu Syahin dan Ibnu Ammar menyatakan ia tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 354]</li>
<li style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin Saabith</span>, Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/570]. Adz Dzahabiy menyatakan ia faqih tsiqat [Al Kasyf no 3198]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Ibnu Saabith di atas menjadi bukti bahwa mazhab Ibnu Ma’in keliru. Perkataan Ibnu Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d, Abu Umamah dan Jabir disampaikan dengan satu lafaz perkataan dan menjadi mazhab Ibnu Ma&#8217;in. Jika terbukti bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir maka sangat wajar kita katakan pernyataan Ibnu Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d dan Abu Umamah sama tidak berdasarnya dengan pernyataan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Jabir. Satu-satunya yang mungkin Ibnu Ma’in mengatakan riwayat Ibnu Saabith dari mereka mursal karena menurut Ibnu Ma’in, Ibnu Saabith tidak menemui masa hidup mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari riwayat tersebut Ibnu Saabith bertemu dengan Jabir bin ‘Abdullah radiallahu ‘anhu bahkan melihat Husain bin Ali [‘alaihis salam]. Imam Husain wafat pada tahun 61 H [Al Kasyf no 1097]. Maka peristiwa di atas terjadi sebelum tahun 61 H dan saat itu Ibnu Saabith sudah dewasa dan bersama Jabir radiallahu ‘anhu. Sa’d bin Abi Waqash wafat pada tahun 55 H [Al Kasyf no 1845] maka Ibnu Saabith bertemu dengan Sa’d bin Abi Waqash apalagi, Ibnu Saabith itu adalah orang Makkah dan peristiwa Muawiyah mencela Imam Ali terjadi ketika Sa’ad bin Abi Waqash sedang berada di Makkah. Bagaimana mungkin perawi yang berada dalam satu masa dan satu kota yang sama bisa dikatakan tidak mendengar dan riwayatnya mursal. Kesimpulannya mazhab Ibnu Ma’in dalam hal ini terbukti keliru.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam Al Ishabah mengutip bahwa ada yang mengatakan kalau Ibnu Saabith tidak shahih mendengar dari sahabat Nabi dan ada yang mengatakan kalau ia tidak menemui masa Sa’ad bin Abi Waqash [Al Ishabah 5/228 no 6691]. Kemungkinan orang yang dimaksud Ibnu Hajar tersebut adalah Ibnu Ma’in. Lagipula terlepas dari siapa yang dikutip Ibnu Hajar tersebut pernyataan itu keliru. Ibnu Saabith terbukti mendengar dari Jabir radiallahu ‘anhu dan ia menemui masa Sa’ad bin Abi Waqash.</p>
<p style="text-align:justify;">Ad Dhiya’ Al Maqdisi dalam kitabnya Al Ahadits Al Mukhtarah [dimana ia menshahihkan hadis yang ia kutip] mengutip hadis ‘Abdurrahman bin Saabith dengan judul <span style="text-decoration:underline;"><em>“Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d radiallahu ‘anhu”</em></span> [Al Ahadis Al Mukhtarah no 1008]. Hal itu menunjukkan bahwa di sisinya riwayat Ibnu Saabith dari Sa’ad adalah muttashil [bersambung] atau Ibnu Saabith mendengar dari Sa&#8217;d. Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah 7/376 juga membawakan hadis ‘Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d di atas dan ia berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“sanadnya hasan”</em></span> maka itu berarti disisinya riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d adalah muttashil [bersambung] atau Ibnu Saabith mendengar dari Sa&#8217;d</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<h2 style="text-align:right;">عن عامر بن سعد بن أبي وقاص عن أبيه قال أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب ؟ فقال أما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه و سلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان ؟ فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله قال فتطاولنا لها فقال ادعوا لي عليا فأتى به أرمد فبصق في عينه ودفع الراية إليه ففتح الله عليه ولما نزلت هذه الآية فقل تعالوا ندع أبناءنا وأبنائكم [ 3 / آل عمران / 61 ] دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم عليا وفاطمة وحسنا وحسينا فقال اللهم هؤلاء أهلي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari &#8216;Aamir bin Sa&#8217;d bin Abi Waqash dari ayahnya yang berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?</span></span>. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku” <strong>[Shahih Muslim 4/1870 no 2404]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kami telah menjelaskan panjang lebar makna hadis ini dalam <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/01/12/riwayat-muawiyah-mencela-imam-ali-as-adalah-shahih/">tulisan kami yang lalu</a>, dimana kami membantah penafsiran An Nawawi terhadap hadis ini. Disini kami hanya ingin mengutip ulama yang menguatkan hujjah kami bahwa makna hadis riwayat Muslim di atas adalah Muawiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Imam Ali.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy termasuk ulama yang mengartikan riwayat Muslim sebagai Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Imam Ali. Dalam kitabnya Syarh Sunan Ibnu Majah, ketika menjelaskan lafaz “Fanala minhu” dalam hadis Ibnu Saabith di atas ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قوله : ( فنال منه ) أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما قيل في مسلم والترمذي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Perkataannya “Fanala minhu” bermakna Muawiyah mencela Ali, berkata buruk tentangnya dan mencacinya kemudian memerintahkan Sa’ad untuk mencacinya seperti yang dikatakan dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi <strong>[Syarh Sunan Ibnu Majah no 121]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Manhaj As Sunnah ketika menyinggung hadis Sa’ad riwayat Muslim, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وأما حديث سعد لما أمره معاوية بالسب فأبى فقال ما منعك أن تسب علي بن أبي طالب فقال ثلاث قالهن رسول الله صلى الله عليه وسلم فلن أسبه لأن يكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم الحديث فهذا حديث صحيح رواه مسلم في صحيحه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Adapun hadis Sa’ad ketika Muawiyah memerintahkannya untuk mencaci dan ia menolak maka Muawiyah berkata “apa yang mencegahmu mencaci Ali bin Abi Thalib?” Sa’ad berkata “selama masih ada tiga hal yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentangnya maka aku tidak akan mencacinya. Seandainya aku memiliki satu saja diantara ketiganya maka itu lebih aku cintai dari segala macam kebaikan –al hadits-. Hadis ini adalah hadis shahih diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya <strong>[Manhaj As Sunnah Ibnu Taimiyyah 5/16]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Penafsiran kami terhadap hadis ini jelas bersandarkan pada teksnya. Lafaz pertama <span style="text-decoration:underline;"><em>“Muawiyah memerintah Sa’ad”</em></span> kemudian lafaz berikutnya Muawiyah berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab”</em></span>. Maka orang yang paham dan punya akal pikiran dapat mengetahui bahwa hadis itu bermakna Muawiyah memerintahkan Sa’d mencaci Ali tetapi Sa’d menolaknya maka Muawiyah bertanya <em>“apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab?</em>”. Sedangkan apa yang dijelaskan oleh Nawawi dalam Syarh Muslim dan diikuti secara buta oleh para nashibi [karena membela idola mereka] adalah penakwilan dan tidak berdasarkan pada lafaz hadisnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut akan kami bawakan hadis lain sebagai bukti Muawiyah mencela Imam Ali dan menuduhnya dengan tuduhan konyol yang jika saja perkataan serupa ditujukan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kami yakin para nashibi akan mengkafirkan orang yang mengatakannya.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق قال ثنا معمر عن طاوس عن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم عن أبيه قال لما قتل عمار بن ياسر دخل عمرو بن حزم على عمرو بن العاص فقال قتل عمار وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تقتله الفئة الباغية فقام عمرو بن العاص فزعا يرجع حتى دخل على معاوية فقال له معاوية ما شانك قال قتل عمار فقال معاوية قد قتل عمار فماذا قال عمرو سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول تقتله الفئة الباغية فقال له معاوية دحضت في بولك أو نحن قتلناه إنما قتله علي وأصحابه جاؤوا به حتى القوه بين رماحنا أو قال بين سيوفنا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya yang berkata “ketika Ammar bin Yasar terbunuh maka masuklah ‘Amru bin Hazm kepada Amru bin ‘Ash dan berkata “Ammar terbunuh padahal sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Maka ‘Amru bin ‘Ash berdiri dengan terkejut dan mengucapkan kalimat [Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un] sampai ia mendatangi Muawiyah. Muawiyah berkata kepadanya “apa yang terjadi denganmu”. Ia berkata “Ammar terbunuh”. Muawiyah berkata “Ammar terbunuh, lalu kenapa?”. Amru berkata “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Muawiyah berkata “Apakah kita yang membunuhnya? <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Ali dan sahabatnya, mereka membawanya dan melemparkannya diantara tombak-tombak kita atau ia berkata diantara pedang-pedang kita</span></span><strong> [Musnad Ahmad 4/199 no 17813 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan hadis di atas setelah mengetahui ‘Ammar bin Yasar radiallahu ‘anhu terbunuh dan terdapat hadis bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang maka Muawiyah menolaknya bahkan melemparkan hal itu sebagai kesalahan Imam Ali. Menurut Muawiyah, Imam Ali dan para sahabatnya yang membunuh ‘Ammar karena membawanya ke medan perang dan menurut Muawiyah Imam Ali itu yang seharusnya dikatakan sebagai kelompok pembangkang. Sudah jelas ini adalah celaan yang hanya diucapkan oleh orang yang lemah akalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja itu sama halnya dengan Muawiyah menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membunuh para sahabat Badar dan Uhud yang syahid di medan perang karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membawa mereka ke medan perang. Bayangkan jika perkataan dengan “logika Muawiyah” ini diucapkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka sudah pasti para nashibi itu akan menyatakan kafir orang yang mengatakannya. Mari kita lihat dalih dalih konyol para nashibi atas pembelaan mereka terhadap sahabat pujaan mereka Muawiyah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2605/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2605&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/18/shahih-muawiyah-mencela-imam-ali-bantahan-bagi-nashibi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Kritis Kredibilitas Abu Balj : Yahya bin Abi Sulaim Al Kufiy</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/14/studi-kritis-kredibilitas-abu-balj-yahya-bin-abi-sulaim-al-kufiy/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/14/studi-kritis-kredibilitas-abu-balj-yahya-bin-abi-sulaim-al-kufiy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 05:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=2597</guid>
		<description><![CDATA[Studi Kritis Kredibilitas Abu Balj : Yahya bin Abi Sulaim Al Kufiy Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi kaum nashibi. Dalam agenda mereka yang bertujuan menghapus keutamaan ahlul bait, mereka menyebarkan syubhat yang terkesan “ilmiah” bagi orang awam tetapi kenyataannya syubhat itu hanya akal-akalan semata. Salah satu syubhat kaum nashibi adalah melemahkan Yahya bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2597&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Studi Kritis Kredibilitas Abu Balj : Yahya bin Abi Sulaim Al Kufiy</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi kaum nashibi. Dalam agenda mereka yang bertujuan menghapus keutamaan ahlul bait, mereka menyebarkan syubhat yang terkesan “ilmiah” bagi orang awam tetapi kenyataannya syubhat itu hanya akal-akalan semata. Salah satu syubhat kaum nashibi adalah melemahkan Yahya bin Abi Sulaim atau Abu Balj yaitu perawi hadis yang meriwayatkan sepuluh keutamaan besar Imam Ali. Kami akan membahas syubhat nashibi secara rinci, membantahnya dan menunjukkan kekeliruannya.<span id="more-2597"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama Yang Menta’dilkan Abu Balj</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Abu Balj Al Fazaariy Al Wasithiy</span></span> namanya Yahya bin Sulaim bin Balj, ada yang mengatakan Yahya bin Abi Sulaim, ia adalah perawi Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan tsiqat. Bukhari berkata “fiihi nazhar”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad mengutip Yazid bin Harun yang berkata “ia banyak mengingat Allah”. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat dan berkata “sering keliru”. Yaqub bin Sufyan berkata “orang kufah yang tidak ada masalah padanya”. Ibrahim bin Ya’qub Al Jawzjaniy dan Abul Fath Al Azdiy berkata “tsiqat”. Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Jauzi menukil Ibnu Ma’in yang mendhaifkannya. Ahmad berkata “ia meriwayatkan hadis mungkar”. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 12 no 184]</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah yang dikutip Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib. Ada beberapa kutipan Ibnu Hajar yang perlu ditinjau kembali. Mengenai pernyataan Abu Hatim maka itu benar adanya tetapi mengenai kutipan Ibnu Ma’in dari Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdil Barr maka hal itu keliru karena tidak tsabit dari Ibnu Ma’in. Pernyataan Ibnu Ma’in yang tsabit terhadap Abu Balj adalah ia menyatakan tsiqat.</p>
<h2 style="text-align:right;">نا عبد الرحمن قال ذكره ابى عن اسحاق بن منصور عن يحيى بن معين انه قال: ابوبلج ثقة. نا عبد الرحمن قال سألت اپبى عن ابى بلج يحيى بن ابى سليم فقال هو صالح لا بأس به</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata Ayahku menyebutkan dari Ishaq bin manshur dari Yahya bin Ma’in bahwa ia berkata “Abu Balj tsiqat”. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku bertanya kepada ayahku tentang Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim, ia berkata “shalih tidak ada masalah padanya” <strong>[Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 9/153 no 634]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai pernyataan Ibnu Sa’ad kalau Abu Balj tsiqat dan pujian Yazid bin Harun terhadap Abu Balj, itu telah disebutkan Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Ath Thabaqat 7/311. Sedangkan untuk ta’dil An Nasa’i kami tidak menemukan kitab Nasa’i yang bisa dirujuk untuk membuktikan tsabit atau tidaknya pernyataan An Nasa’i tersebut. Pernyataan Daruquthni disebutkan oleh muridnya Al Barqaniy dalam Su’alatnya</p>
<h2 style="text-align:right;">قلت يحيى بن أبي سليم أبو بلج قال واسطي ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku berkata Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj, [Daruquthni] berkata Al Wasithiy tsiqat <strong>[Su’alat Al Barqaniy no 546]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Bukhari “fiihi nazhar” tidak ditemukan dalam kitab Al Bukhari. Bukhari tidak memasukkan Abu Balj dalam Adh Dhu’afa tetapi ia menyebutkan keterangan tentang Abu Balj dalam kitabnya Tarikh Al Kabir tanpa menyebutkan jarh-nya</p>
<h2 style="text-align:right;">يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Yahya bin Abi Sulaim, Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin ‘Abdul Aziz dan dia adalah orang kufah dan dikatakan orang waasith Abu Balj Al Fazaariy telah meriwayatkan darinya Ats Tsawriy dan Husyaim, dan dikatakan Yahya bin Abil Aswad, Sahl bin Hammaad berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim <strong>[Tarikh Al Kabir Bukhari juz 8 no 2996]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kutipan Al Bukhari ‘fihi nazhar” terhadap Abu Balj disebutkan Ibnu Adiy dalam Al Kamil yang diriwayatkan oleh Ibnu Hammaad dari Al Bukhari</p>
<h2 style="text-align:right;">سمعت بن حماد يقول قا البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج ها سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>[Ibnu Adiy] Aku mendengar Ibnu Hammaad mengatakan Bukhari berkata “Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj mendengar dari Muhammad bin Haathib dan ‘Amru bin Maimun “Fiihi nazhar” <strong>[Al Kamil Ibnu Adiy 7/229]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar keliru ketika menyatakan Ibnu Hibban menyebutkan Abu Balj dalam Ats Tsiqat. Ibnu Hibban tidak memasukkan Abu Balj dalam Ats Tsiqat, pernyataan Ibnu Hibban <span style="text-decoration:underline;"><em>“sering keliru”</em></span> ditemukan dalam Al Majruhin juz 3 no 1197. Kutipan Ibnu Hajar tentang pernyataan Yaqub bin Sufyan terhadap Abu Balj <span style="text-decoration:underline;"><em>“tidak ada masalah padanya”</em></span> perlu ditinjau kembali. Inilah yang disebutkan Yaqub bin Sufyan dalam kitabnya Ma’rifat Wal Tarikh</p>
<h2 style="text-align:right;">وقَال : حَدَّثَنَا سُفيان عن أبي بلج كوفي لا بأس به</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan tentang Abu Balj Al Kufiy tidak ada masalah padanya<strong> [Ma’rifat Wal Tarikh Ya’qub Al Fasawiy 3/105]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Yaqub bin Sufyan mengutip pernyataan Sufyan Ats Tsawriy yang merupakan murid dari Abu Balj. Ta’dil ini penting karena berasal dari orang yang mengenal dan bertemu langsung dengan Abu Balj. Ibnu Hajar juga keliru ketika mengutip pernyataan Abu Ishaq Al Jawzjaniy yang menyatakan Abu Balj tsiqat. Dalam kitabnya Ahwal Ar Rijal, Al Jawzjaniy justru menyatakan Abu Balj tidak tsiqat [Ahwal Ar Rijal no 190]. Sedangkan untuk pernyataan Abu Fath Al Azdy maka Ibnu Hajar telah diselisihi oleh Ibnu Jauzi, dimana ia dalam kitabnya Ad Dhu’afa menukil pernyataan Al Azdy terhadap Abu Balj “tidak tsiqat” [Ad Dhu’afa Ibnu Jauzi no 3722].</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Ahmad bin Hanbal “meriwayatkan hadis mungkar” tidak memiliki asal penukilan yang tsabit. Selain Ibnu Hajar, kutipan ini juga disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 3722]. Ahmad bin Hanbal tidak menyebutkan hal ini dalam kitab Al Ilal dan tidak pula diriwayatkan oleh para muridnya dalam Su’alat Ahmad.</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi juga menyebutkan biografi Abu Balj dalam kitabnya Mizan Al ‘Itidal. Ia menuliskan Yahya bin Sulaim atau Ibnu Abi Sulaim Abu Balj Al Fazaariy Al Wasithiy meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun Al Awdiy dan Muhammad bin Haathib Al Jimaahiy telah meriwayatkan darinya Syu’bah dan Husyaim. Ditsiqatkan oleh Ibnu Ma’in dan yang lainnya, Muhammad bin Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni. Abu Hatim berkata “shalih al hadits dan tidak ada masalah padanya”. Yazid bin Harun berkata “aku melihatnya dan ia banyak mengingat Allah”. Bukhari berkata “fiihi nazhar”. Ahmad berkata “meriwayatkan hadis mungkar”. Ibnu Hibban berkata “sering keliru”. Al Jawzjaniy berkata “tidak tsiqat”[Mizan Al I’tidal Adz Dzahabi juz 4 no 9539]</p>
<p style="text-align:justify;">Sejauh ini mari kita kelompokkan pendapat para ulama terhadap Abu Balj atau Yahya bin Abi Sulaim. Ulama yang menta’dilkan Abu Balj adalah</p>
<ol>
<li><em>Syu’bah [dimana ia meriwayatkan dari perawi yang ia anggap tsiqat]</em></li>
<li><em>Sufyan Ats Tsawriy [tidak ada masalah padanya]</em></li>
<li><em>Yazid bin Harun [banyak mengingat Allah]</em></li>
<li><em>Abu Hatim [shalih tidak ada masalah padanya]</em></li>
<li><em>Ibnu Ma’in [tsiqat]</em></li>
<li><em>Daruquthni [tsiqat]</em></li>
<li><em>Ibnu Sa’ad [tsiqat]</em></li>
<li><em>Nasa’i [tsiqat]</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan ulama yang menjarh Abu Balj</p>
<ol>
<li><em>Bukhari [fiihi nazhar]</em></li>
<li><em>Ibnu Hibban [sering keliru]</em></li>
<li><em>Al Jawzjaniy [tidak tsiqat]</em></li>
<li><em>Abu Fath Al Azdiy [tidak tsiqat]</em></li>
<li><em>Ahmad bin Hanbal [meriwayatkan hadis mungkar]</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pernyataan Bukhari “Fiihi nazhar”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, kutipan “Fiihi nazhar” Bukhari terhadap Abu Balj tidak disebutkan Bukhari dalam kitabnya <em>Tarikh Al Kabir</em> tetapi disebutkan oleh Ibnu Adiy dari syaikh [gurunya] yaitu Ibnu Hammaad dari Al Bukhari. Perkataan Bukhari <em>“fiihi nazhar”</em> terhadap seorang perawi bukanlah jarh yang bersifat syadid [keras] seperti yang dikatakan oleh para ulama muta’akhirin yaitu Adz Dzahabi, Ibnu Katsir dan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukhari sendiri terkadang menta’dilkan perawi yang ia katakan “fiihi nazhar”. Murid Al Bukhari seperti Imam Tirmidzi tidak memahami lafaz “fiihi nazhar” Bukhari sebagai jarh syadid begitu pula Ibnu Adiy yang merupakan murid Ibnu Hammad [muridnya Al Bukhari] dalam kitabnya Al Kamil tidak menjadikan perkataan “fiihi nazhar” Bukhari sebagai jarh syadid. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari gurunya Al Bukhari tentang seorang perawi yang dikatakannya “fiihi nazhar”</p>
<h2 style="text-align:right;">وحكيم بن جبير لنا فيه نظر ولم يعزم فيه على شيء</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>[Bukhari berkata] Dan Hakim bin Jubair bagi kami adalah Fiihi nazhar, [At Tirmidzi berkata] ia tidak memaksudkan apa-apa tentang perkataannya itu. <strong>[Tartib Ilal Tirmidzi no 71]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai seorang murid Bukhari maka Tirmidzi jelas jauh lebih paham terhadap perkataan gurunya. Ini adalah bukti kuat bahwa perkataan “<em>fiihi nazhar</em>” juga berarti Bukhari bertawaqquf atas perawi yang dimaksud. Bahkan Bukhari sendiri pernah menta’dilkan perawi yang ia katakan “<em>fiihi nazhar</em>”.</p>
<h2 style="text-align:right;">عمرو بن هاشم أبو مالك الجنبي عن بن إسحاق فيه نظر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>‘Amru bin Haasyim Abu Malik Al Janabiy meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, fiihi nazhar <strong>[Tarikh Al Kabir Al Bukhari juz 6 no 2072]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Tirmidzi ketika bertanya kepada gurunya Al Bukhari, Al Bukhari malah menta’dilkan perawi tersebut.</p>
<h2 style="text-align:right;">وَسَأَلتُ مُحَمدًا عن أبي مالك الجنبي فقال أبو مالك عمرو بن هاشم الجنبي مقارب الحديث</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan aku bertanya pada Muhammad [Bukhari] tentang Abu Malik Al Janabiy, ia berkata Abu Malik ‘Amru bin Haasyim Al Janabiy “muqarrib al hadis” <strong>[Tartib Ilal Tirmidzi no 140]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Bukhari <span style="text-decoration:underline;"><em>“muqarrib al hadits”</em></span> [hadisnya mendekati] adalah salah satu bentuk ta’dil. Hal ini terbukti bahwa Bukhari telah menyatakan shahih hadis perawi yang ia katakan “muqarrib al hadits”. At Tirmidzi meriwayatkan bahwa Bukhari berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وحديث عبد الله بن عبد الرحمن الطائفي عن عمرو بن شعيب ، عَن أَبِيه عن جده في هذا الباب هو صحيح أيضا وعبد الله بن عبد الرحمن الطائفي مقارب الحديث</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan hadis ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ath Thaa’ifiy dari ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya tentang bab ini adalah shahih dan ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ath Thaa’ifiy muqarrib al hadits <strong>[Tartib Ilal Tirmidzi no 154]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu Bukhari juga pernah menyatakan shahih hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang dikatakannya <em>“fiihi nazhar”</em>.</p>
<h2 style="text-align:right;">حبيب بن سالم مولى النعمان بن بشير الأنصاري عن النعمان روى عنه أبو بشر وبشير بن ثابت ومحمد بن المنتشر وخالد بن عرفطة وإبراهيم بن مهاجر وهو كاتب النعمان فيه نظر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Habib bin Saalim mawla Nu’man bin Basyiir Al Anshariy meriwayatkan dari Nu’man dan telah meriwayatkan darinya Abu Bisyr, Basyiir bin Tsaabit, Muhammad bin Muntasyir, Khalid bin ‘Urthufah, Ibrahim bin Muhaajir dan ia jusru tulis Nu’man. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Fiihi nazhar</span></span> <strong>[Tarikh Al Kabir Bukhari juz 2 no 2606]</strong>.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنا قتيبة ، حَدَّثَنا أبو عوانة عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر ، عَن أَبِيه عن حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في العيدين والجمعة ب {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} و {هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ} وربما اجتمعا في يوم فيقرأ بهما سَألْتُ مُحَمدًا عن هذا الحديث ، فقال : هو حديث صحيح وكان ابن عيينة يروي هذا الحديث عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر فيضطرب في روايته قال مرة حبيب بن سالم ، عَن أَبِيه عن النعمان بن بشير وهو وهم والصحيح حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir dari ayahnya dari Habib bin Saalim dari Nu’man bin Basyiir bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] biasa membaca dalam kedua shalat Id dan Jum’at “Sabbihis marabbikal a’la” dan “Hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah” begitu pula ketika hari Id bersamaan dengan hari Jum’at maka Beliau membaca keduanya. Aku [Trimidzi] bertanya kepada Muhammad [Bukhari] tentang hadis ini dan ia berkata “<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">itu hadis shahih</span></span> dan Ibnu Uyainah meriwayatkan hadis ini dari Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir dan mengalami idhthirab dalam riwayatnya, ia berkata Habib bin Saalim dari ayahnya dari Nu’man bin Basyiir dan ini keliru, yang shahih adalah Habib bin Saalim dari Nu’man bin Basyiir <strong>[Tartib Ilal Tirmidzi no 152]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Para nashibi lebih suka bertaklid buta pada pernyataan Adz Dzahabi dan Ibnu Katsir bahwa lafaz “fiihi nazhar” di sisi Bukhari berarti perawi tersebut sangat rendah kedudukannya di sisi Bukhari. Adz Dzahabi dalam biografi ‘Abdullah bin Dawud Al Wasithiy berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">. وقد قال البخاري : فيه نظر ، ولا يقول هذا إلا فيمن يتهمه غالبا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sungguh telah berkata Bukhari “fiihi nazhar” dan tidaklah ia mengatakan ini kecuali orang itu termasuk orang yang dituduhnya <strong>[Mizan Al I’tidal juz 2 no 4294]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitabnya Al Muuqizhah Fi Ilm Musthalah Hadits, Adz Dzahabi juga mengatakan hal yang sama</p>
<h2 style="text-align:right;">وكذا عادته إذا قال فيه نظر بمعنى أنه متهم أو ليس بثقة فهو عنده أسوأ حالا من الضعيف</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan Bukhari jika berkata “fiihi nazhar” maka itu bermakna bahwa ia tertuduh atau tidak tsiqat, di sisinya kedudukannya lebih buruk dari dhaif <strong>[Al Muuqizhah Adz Dzahabi hal 83]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Adz Dzahabi ini diikuti oleh Ibnu Katsir dan sebagian ulama dari kalangan muta’akhirin. Pada dasarnya pendapat ini tidaklah shahih dari Imam Bukhari tetapi hal ini dimengerti dari melihat berbagai pernyataan Bukhari terhadap perawi. Terkadang Bukhari menjarh seseorang dengan jarh syadid seperti <em>“munkar al hadits”</em> atau <em>“sakatu ‘anhu”</em> kemudian di saat lain ia menyatakan <em>“fiihi nazhar”</em>. Hal inilah membuat para ulama seperti Adz Dzahabi menyamakan <em>“fiihi nazhar”</em> dengan jarh syadid lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan ini tidak tepat diterapkan secara mutlak karena memang Bukhari tidak menyatakan demikian. Cukup banyak kasus perawi yang menolak anggapan demikian. Sebut saja misalnya seorang sahabat Nabi yaitu Sha’sha’ah bin Najiyah, Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir dan berkata <em>“fiihi nazhar”</em> [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978]. Sangat tidak mungkin kalau sahabat Nabi ini dikatakan perawi yang sangat dhaif hanya karena Bukhari berkata “fiihi nazhar”.</p>
<p style="text-align:justify;">Para nashibi terpaksa berbasa basi dengan mengatakan maksud “fiihi nazhar” itu tertuju pada hadis yang disebutkan Bukhari tentang kisah Sha’sha’ah bin Najiyah yang mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].  Pernyataan ini perlu ditinjau kembali, kalau memang yang tertuju dengan kata <em>“fiihi nazhar”</em> adalah hadis yang bermasalah maka lafaz yang seharusnya dipakai Bukhari adalah  “fii haditsihi nazhar” atau “fii isnadihi nazhar”. Lafaz itu sering dipakai Bukhari dalam kitabnya. Lafaz “fiihi nazhar” yang disebutkan Bukhari dalam kitabnya tertuju pada perawi yang dimaksud bukan hadisnya. Makna “fiihi nazhar” yang dimaksud Bukhari terhadap Sha’ sha’ah adalah ia bertawaqquf atasnya atau ragu apakah Sha’sha’ah termasuk sahabat Nabi atau bukan. Sehingga di sisi Bukhari, Sha’sha’ah ini tidaklah tsabit sebagai sahabat Nabi. Ibnu Hajar dalam biografi ‘Abdurrahman bin Haani’ bin Sa’id Al Kufiy berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال البخاري فيه نظر وهو في الأصل صدوق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Bukhari berkata “fiihi nazhar dan ia pada dasarnya shaduq” <strong>[Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 568]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulannya lafaz<em> “fiihi nazhar”</em> di sisi Bukhari pada asalnya bermakna pertengahan, bisa tertuju pada perawi yang sangat dhaif dan bisa pula tertuju pada perawi yang shaduq. Hal ini tergantung qarinah qarinah yang menguatkan. Jika perawi yang dikatakan “fiihi nazhar” itu ternyata dijarh juga dengan sebutan “munkar al hadits” atau “sakatu ‘anhu” maka fiihi nazhar bersifat jarh syadid. Jika perawi yang dikatakan “fiihi nazhar” itu dita’dilkan oleh Bukhari di tempat lain maka fiihi nazhar itu bersifat jarh ringan atau sedikit keraguan terhadapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika Bukhari hanya berkata “fiihi nazhar” dan di tempat lain ia tidak menjarh keras dan tidak pula menta’dilkannya?. Maka itu berarti Bukhari bertawaqquf atas perawi tersebut atau jarh-nya bersifat ringan atau bisa dilihat qarinah qarinah lain. Kembali pada kedudukan Abu Balj di atas. Perkataan “fiihi nazhar” Bukhari terhadap Abu Balj bukan bersifat jarh syadid tetapi diartikan Bukhari bertawaqquf padanya atau ada sedikit keraguan terhadapnya. Hal ini dapat dlihat dari berbagai qarinah berikut</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Bukhari sendiri dalam kitab <em>Tarikh Al Kabir</em> menuliskan biografi Abu Balj tanpa menyebutkan cacat terhadapnya bahkan ia menegaskan Syu’bah telah meriwayatkan darinya.</li>
<li style="text-align:justify;">Bukhari tidak memasukkannya dalam kitabnya Adh Dhu’afa As Saghiir padahal jarh ini berasal dari Ibnu Hammaad salah satu murid Bukhari yang juga meriwayatkan kitab Adh Dhu’afa As Saghiir.</li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Adiy yang merupakan murid Ibnu Hammaad tidak mengartikan jarh fiihi nazhar terhadap Abu Balj sebagai jarh syadid karena ia berkata tentang Abu Balj <em>“tidak ada masalah dengan hadisnya”</em> [Al Kamil Ibnu Adiy 7/230]</li>
<li style="text-align:justify;">Bukhari sendiri berhujjah dengan keterangan Abu Balj ketika menjelaskan tentang perawi lain. Dalam biografi Muhammad bin Haatib Al Qurasyiy [salah seorang sahabat] Bukhari mengutip Abu Balj yang berkata Muhammad bin Haatib berkata kepada kami “aku lahir pada awal hijrah di Habsyah” [Tarikh Al Kabir juz 1 no 8]. Jika Abu Balj ini kedudukannya sangat rendah di mata Bukhari dengan alasan jarh “fiihi nazhar” maka tidak mungkin ia akan berhujjah dengan riwayatnya. Mirip sekali dengan keadaan perawi Habib bin Saliim yang juga dikatakan “fiihi nazhar”. Bukhari juga berhujjah dengan perkataan Habib dalam biografi Yazid bin Nu’man bin Basyiir, Bukhari mengutip Habib bin Saalim berkata “Yazid termasuk sahabat Umar bin ‘Abdul Aziz” [Tarikh Al Kabir juz 8 no 3347]. Maka tidak heran kalau Bukhari juga menshahihkan hadis Habib bin Saalim seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya.</li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam kitabnya Badzlu Al Ma’un Fii Fadhli Ath Tha’un hal 117 menjelaskan bahwa maksud fiihi nazhar terhadap Abu Balj adalah bermakna pertengahan dan Ibnu Hajar menyatakan shahih hadis riwayat Abu Balj. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar tidak menafsirkan fiihi nazhar Bukhari kepada Abu Balj sebagai jarh syadid.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Semua qarinah di atas sudah cukup untuk menyatakan bahwa jarh <em>fiihi nazhar</em> terhadap Abu Balj bukan jarh yang bersifat menjatuhkan tetapi itu bermakna Bukhari memiliki sedikit keraguan terhadapnya dan bisa jadi dalam pandangan Bukhari pada dasarnya Abu Balj seorang yang shaduq hanya saja ada keraguan terhadapnya. Tentu saja hal ini tidak akan menjatuhkan sedikitpun kedudukan Abu Balj yang sudah dita’dilkan oleh ulama ulama mu’tabar karena jarh fiihi nazhar bukan jarh yang bersifat mufassar melainkan jarh mubham yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dalam kaidah ilmu hadis, ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pandangan Ibnu Hibban Terhadap Abu Balj</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban dalam kitabnya Al Majruhin menyatakan bahwa Abu Balj sering melakukan kesalahan yang membuatnya layak untuk ditinggalkan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah jika ia menyendiri dalam meriwayatkan hadis [Al Majruhin juz 3 no 1197].</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui bahwa manhaj Ibnu Hibban dalam kitabnya Al Majruhin adalah ia akan menyebutkan hadis-hadis dimana perawi tersebut menjadi tertuduh karenanya. Sangat penting untuk menilai apakah benar atau tidak hadis tersebut menjadi kesalahan dari perawi tersebut karena cukup dikenal Ibnu Hibban sering keliru akan pernyataannya. Tidak jarang ia menjarh perawi shahih dengan jarh yang keras sehingga para ulama menolak pendapat Ibnu Hibban tersebut. Misalnya</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Hibban pernah berkata terhadap <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Aflah bin Sa’id</span></span> bahwa ia meriwayatkan dari perawi tsiqat hadis hadis maudhu’ sehingga tidak boleh berhujjah dan meriwayatkan darinya [Al Majruhin juz 1 no 111] padahal Aflah bin Sa’id termasuk perawi Muslim yang dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Sa’ad. Nasa’i berkata tidak ada masalah padanya [At Tahdzib juz 1 670] sehingga Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi bersepakat menyatakan ia shaduq dan menolak jarh Ibnu Hibban.</li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Hibban pernah berkata terhadap <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Muhammad bin Fadhl As Saduusiy</span></span> bahwa ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya dan banyak meriwayatkan hadis mungkar [Al Majruhin juz 2 no 997] padahal ia termasuk perawi Bukhari Muslim  yang disepakati tsiqat dan pernyataan Ibnu Hibban ditolak oleh Ibnu Hajar dan yang lainnya [At Tahdzib juz 9 no 659]</li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Hibban pernah berkata terhadap <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Suwaid bin ‘Amru Al Kalbiy</span></span> bahwa ia sering membolak balik sanad sehingga tidak boleh berhujjah dengannya [Al Majruhin juz 1 no 455]. Padahal ia termasuk perawi Muslim yang dinyatakan tsiqat oleh Nasa’I, ibnu Ma’in dan Al Ijli [At Tahdzib juz 4 no 486]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat mutlak dan menolak pernyataan Ibnu Hibban [At Taqrib 1/404]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ketika menyebutkan Abu Balj, Ibnu Hibban membawakan hadis yang menurutnya menjadi bukti kesalahan Abu Balj yaitu</p>
<h2 style="text-align:right;">وهو الذي روى عن محمد بن حاطب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال فصل بين الحلال والحرام الدف والصوت في النكاح أخبرناه أبو خزيمة قال حدثنا يعقوب بن إبراهيم الدروقي قال حدثنا هشيم قال حدثنا أبو بلج عن محمد بن حاطب</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan ia yang meriwayatkan dari Muhammad bin Haathib dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata pemisah antara halal dan haram adalah tabuhan duff dan suara dalam pernikahan. Telah mengabarkannya kepada kami Abu Khuzaimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim Ad Dawraqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj dari Muhammad bin Haathib <strong>[Al Majruhin juz 3 no 1197]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui hadis ini telah dishahihkan atau dikuatkan oleh para ulama bahkan salafy sendiri berhujjah dengan hadis ini. Tetapi cukuplah kami tunjukkan bagaimana pandangan ulama terhadap hadis ini. Hadis Abu Balj ini disebutkan Imam Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi dimana Beliau menguatkan hadis ini</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أبو عيسى حديث محمد بن حاطب حديث حسن و أبو بلج اسمه يحيى بن أبي سليم ويقال ابن سليم و محمد بن حاطب قد رأى النبي صلى الله عليه و سلم وهو غلام صغير</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Isa berkata “hadis Muhammad bin Haathib adalah hadis hasan dan Abu Balj namanya Yahya bin Abi Sulaim ada yang mengatakan Ibnu Sulaim, Muhammad bin Haathib sunggung telah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan waktu itu ia anak yang masih kecil <strong>[Sunan Tirmidzi 3/398 no 1088]</strong>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Selain Imam Tirmidzi, Ibnu Qaisaraniy juga menyebutkan hadis ini dalam salah satu kitabnya dan menyatakan hadis tersebut shahih.</p>
<h2 style="text-align:right;">نَبَّأَنَا إِبْرَاهِيمُ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَحَامِلِيُّ نَبَّأَنَا مَحْمُودُ بْنُ حِرَاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ أَنْبَأَنَا أَبُو بَلْجٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8221; فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلالِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ &#8221; ، هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah memberitakan kepada kami Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Ismail Al Muhamiliy yang berkata telah memberitakan kepada kami Mahmuud bin Hiraasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Balj dari Muhammad bin Haathib yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda pemisah antara halal dan haram adalah tabuhan duff dan suara dalam pernikahan. Hadis ini shahih <strong>[As Samaa’ Ibnu Qaisaraniy no 24]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula Al Hakim memasukkan hadis ini dalam kitabnya Al Mustadrak dan menyatakan hadis tersebut shahih</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو بكر بن إسحاق أنبأ محمد بن غالب حدثنا عمرو بن عون أنبأ وكيع عن شعبة عن أبي بلج يحيى بن سليم قال قلت لمحمد بن حاطب تزوجت امرأتين ما كان في واحدة منهما صوت يعني دفا فقال محمد رضى الله تعالى عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فصل ما بين الحلال والحرام الصوت بالدف هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ghaalib yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aun yang berkata telah memberitakan kepada kami Waki’ dari Syu’bah dari Abi Balj Yahya bin Sulaim yang berkata aku berkata kepada Muhammad bin Haathib “aku telah menikahi dua orang wanita dan tidak ada satupun dari keduanya ada tabuhan suara duff. Muhammad radiallahu ta’ala anhu berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “pemisah antara halal dan haram adalah suara tabuhan duff” hadis ini shahih sanadnya tetapi Bukhari Muslim tidak mengeluarkannya <strong>[Al Mustadrak juz 2 no 2750]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis yang dipermasalahkan Ibnu Hibban sebagai bukti kesalahan Abu Balj ternyata telah dikuatkan oleh para ulama lain yaitu Imam Tirmidzi, Ibnu Qaisaraniy dan Al Hakim. Ibnu Hibban tidak menyebutkan alasan mengapa ia memasukkan hadis tersebut sebagai kesalahan Abu Balj maka jelas pernyataan Ibnu Hibban tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak beralasan dan  bertentangan dengan pernyataan ulama lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pernyataan Ahmad bin Hanbal Terhadap Abu Balj</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan Ahmad bin Hanbal telah dinukil sebagian ulama yaitu diantaranya Abu Ahmad Al Hakim, Ibnu Jauzi dan Ibnu Hajar. Tetapi perkataan Ahmad bin Hanbal tidak terbukti memiliki sanad yang tsabit hingga Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal dalam kitab Ilal Ma’rifat Ar Rijal [melalui riwayat Abdullah bin Ahmad] telah menyebutkan keterangan  dan hadis Abu Balj tetapi tidak seikitpun ia mencela atau mengkritiknya [Al Ilal Ma’rifat Ar Rijal juz 1 no 1237, 1238, 1239 dan juz 2 no 2131 dan 2250].</p>
<p style="text-align:justify;">Ulama yang pertama kali mengutip jarh Ahmad bin Hanbal terhadap Abu Balj adalah Abu Ahmad Al Hakim dalam kitabnya Al ‘Asamiy Wal Kuna</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو بلج ويقال أبو صالح يحيى بن أبي سليم ويقال ابن أبي الأسود الفزاري الكوفي ويقال الوسطي عن أبي القاسم محمد بن حاطب الجمحي وأبي عبد الله عمرو بن ميمون الأودي ضعفة أحمد بن حنب</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Balj dikatakan Abu Shalih Yahya bin Abi Sulaim dikatakan Ibnu Abil Aswad Al Fazaariy dikatakan Al Wasithiy, meriwayatkan dari Abu Qasim Muhammad bin Haathib Al Jumahiy dan Abu ‘Abdullah ‘Amru bin Maimun Al Awdiy, ia telah dilemahkan oleh Ahmad bin Hanbal <strong>[Al ‘Asamiy Wal Kuna 2/352 no 886]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Ahmad Al Hakim lahir pada tahun 285 H dan wafat tahun 378 H sedangkan Ahmad bin Hanbal wafat pada tahun 241 H. Artinya Abu Ahmad Al Hakim tidak bertemu dengan Ahmad bin Hanbal bahkan ia tidak bertemu dengan murid murid Ahmad bin Hanbal seperti Abdullah bin Ahmad [wafat 290 H], Shalih bin Ahmad [wafat 266 H] dan Abu Bakar Al Atsram [wafat 273 H]. Jadi penukilan perkataan Ahmad bin Hanbal yang menyatakan dhaif mutlak terhadap Abu Balj terbukti tidak tsabit.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam At Tahdzib menukil perkataan Ahmad tentang Abu Balj yaitu Ahmad berkata ia meriwayatkan hadis mungkar [At Tahdzib juz 12 no 184]. Hal yang sama juga dinukil Ibnu Jauzi dalam Al Maudhu’at, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أحمد روى أبو بلج حديثاً منكراً سدوا الأبواب</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ahmad berkata Abu Balj meriwayatkan hadis mungkar “tutuplah pintu pintu masjid” <strong>[Al Maudhu’at Ibnu Jauzi 1/366]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rajab dalam Syarh Al Ilal Tirmidzi juga menukil pengingkaran Imam Ahmad terhadap hadis keutamaan Imam Ali dalam biografi Abu Balj</p>
<h2 style="text-align:right;">يروي عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أحاديث منها حديث طويل في فضل علي أنكرها ( الإمام ) أحمد في رواية الأثرم وقيل له : عمرو بن ميمون يروى عن ابن عباس ؟ قال : ما أدري ما أعلمه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ia [Abu Balj] meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hadis yang panjang tentang keutamaan Imam Ali, Imam Ahmad mengingkarinya dalam riwayatnya dari Al Atsram, dikatakan kepadanya “apakah ‘Amru bin Maimun meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas?. Ia berkata “tidak tahu, aku tidak mengetahuinya” <strong>[Syarh Al Ilal Tirmidzi 1/400]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Semua penukilan Ahmad ini tidak ada yang terbukti tsabit karena memang tidak ada sanad shahihnya sampai kepada Ahmad bin Hanbal. Kami juga sudah merujuk pada Su’alat Ahmad dari Al Atsram tetapi tidak menemukan kutipan Ibnu Rajab tersebut. Seandainya kita anggap kutipan Ahmad bin Hanbal tersebut tsabit maka inipun tidak masalah karena Ahmad bin Hanbal terbukti keliru.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis yang dikatakan mungkar oleh Ahmad bin Hanbal yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>“tutuplah pintu pintu masjid”</em></span> itu adalah hadis shahih sebagaimana telah kami bahas takhrijnya dalam salah satu tulisan kami [silakan lihat <a href="http://secondprince.wordpress.com/2011/10/25/takhrij-hadis-tutuplah-pintu-masjid-kecuali-pintu-ali/">disini</a>]. Sedangkan riwayat Al Atsram dari Ahmad bin Hanbal bahwa ia tidak mengetahui ‘Amru bin Maimun meriwayatkan dari Ibnu Abbas juga tidak bisa dijadikan hujjah. Perkataan Ahmad bin Hanbal <em>“aku tidak mengetahuinya”</em> bisa berarti ia memang tidak mengenal ‘Amru bin Maimun meriwayatkan dari Ibnu Abbas atau bisa jadi di sisinya tidaklah tsabit kalau ‘Amru bin Maimun meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Banyak para nashibi [yang berhujjah dengan kutipan Ibnu Rajab] ingin menunjukkan bahwa pengingkaran Ahmad bin Hanbal itu tidak lain karena hanya Abu Balj yang menyebutkan riwayat ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika memang Ahmad bin Hanbal mengatakan demikian maka beliau telah keliru. Riwayat ‘Amru bin Ma’imun dari Ibnu Abbas telah disebutkan dengan sanad yang shahih dalam Shahih Bukhari yaitu dalam kisah terbunuhnya Umar. Dimana ‘Amru bin Maimun menyaksikan dan mendengar perkataan para sahabat saat itu termasuk di antaranya Ibnu Abbas. Disebutkan dalam Shahih Bukhari 5/15 no 3700 bahwa ‘Amru bin Maimun meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahkan mendengar langsung Ibnu ‘Abbas mengatakan orang yang membunuh Umar adalah budaknya Mughirah. Maka sudah jelas Ahmad bin Hanbal keliru, itupun jika perkataan tersebut memang tsabit dari Ahmad bin Hanbal.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perkataan Abdul Ghaniy bin Sa’id Terhadap Abu Balj</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para nashibi juga berhujjah dengan kutipan Ibnu Rajab yang menukil Abdul Ghaniy bin Sa’id sebagai bukti kekeliruan riwayat Abu Balj.</p>
<h2 style="text-align:right;">وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور  إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة ، وهو ضعيف ، وهذا ليس ببعيد . والله أعلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan disebutkan ‘Abdu Ghaniy bin Sa’id Al Mishriy Al Hafizh bahwa Abu Balj keliru dalam nama ‘Amru bin Maimun disini, bukanlah ia ‘Amru bin Maimun yang masyhur sesungguhnya ia adalah Maimun ‘Abu ‘Abdullah mawla ‘Abdurrahman bin Samarah dan ia dhaif, hal ini tidaklah jauh, wallahu a’lam <strong>[Syarh Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab 1/400]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu dicermati dari perkataan ‘Abdul Ghaniy disini adalah itu hanyalah sebuah kemungkinan yang dikatakan oleh ‘Abdul Ghaniy sebagaimana terlihat dari lafal “hal itu tidaklah jauh”. Sebagai sebuah kemungkinan ya silakan saja tetapi itu tidak bisa dijadikan hujjah dengan berbagai alasan berikut</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Abu Balj dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun tetapi Abu Balj tidak dikenal meriwayatkan dari Maimun Abu ‘Abdullah. Dalam biografi Abu Balj tidak ditemukan nama salah satu gurunya adalah Maimun Abu Abdullah begitu pula dalam biografi Maimun Abu Abdullah tidak ditemukan ada muridnya yang bernama Abu Balj.</li>
<li style="text-align:justify;">Sangat jauh sekali kemungkinan Abu Balj salah menyebutkan nama orang yang telah ia temui dan mendengar langsung hadis darinya. Abu Balj seorang yang tsiqat maka pernyataannya bahwa ia mengambil riwayat tersebut dari ‘Amru bin Maimun jelas lebih bernilai hujjah dibandingkan dengan orang kemudian yang hanya menduga duga tanpa dasar.</li>
<li style="text-align:justify;">Hadis Maimun Abu Abdullah <em>“tutuplah pintu masjid”</em> adalah hadis Maimun Abu Abdullah dari Zaid bin Arqam radiallahu ‘anhu sedangkan hadis Abu Balj adalah hadis ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas. Abdul Ghaniy tidak hanya menuduh Abu Balj salah menyebutkan nama bahkan ia juga menuduh Abu Balj salah menyebutkan nama sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut. Kemungkinan ini sangat jauh sekali.</li>
<li style="text-align:justify;">‘Amru bin Maimun memang dikenal meriwayatkan dari Ibnu Abbas sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa ‘Amru bin Maimun bertemu dan mendengar langsung perkataan Ibnu Abbas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Berbagai qarinah di atas lebih dari cukup untuk membuktikan kekeliruan perkataan Abdul Ghaniy bin Sa’id. Bagaimana bisa menyatakan perawi tsiqat mengalami kekeliruan hanya dengan dugaan tanpa dasar?.<br />
<span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Fath Al Azdiy dan Al Jauzjaniy</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua ulama ini menyatakan bahwa Abu Balj tidak tsiqat. Pernyataan Abu Fath Al Azdiy “tidak tsiqat” dinukil oleh Ibnu Jauzi [Ad Dhu’afa Ibnu Jauzi no 3722]. Sedangkan pernyataan Al Jauzjaniy dapat dilihat dalam kitabnya [Ahwal Ar Rijal no 190]</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Abu Fath Al Azdiy tidak bisa dijadikan pegangan karena ia sendiri seorang yang dhaif. Abu Fath Al Azdiy adalah Muhammad bin Husain Abu Fath Al Azdiy , Al Barqaniy mendhaifkannya. Al Khatib berkata “di dalam hadisnya terdapat hal-hal mungkar” [Lisan Al Mizan juz 5 no 464]. Jadi pernyataannya tidak bisa dijadikan pegangan untuk mencacatkan perawi tsiqat.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Ishaq Al Jauzjaniy tidak bisa diandalkan pendapatnya terhadap orang-orang Kufah, sebagaimana hal ini telah dijelaskan Ibnu Hajar</p>
<h2 style="text-align:right;">فان الحاذق إذا تأمل ثلب أبي إسحاق الجوزجاني لأهل الكوفة رأى العجب وذلك لشدة انحرافه في النصب وشهرة أهلها بالتشيع فتراه لا يتوقف في جرح من ذكره منهم بلسان ذلقة وعبارة طلقة حتى انه أخذ يلين مثل الأعمش وأبي نعيم وعبيد الله بن موسى وإساطين الحديث واركان الرواية</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka orang yang jeli jika melihat perkataan Abu Ishaq Al Jauzjaniy kepada peduduk Kufah maka ia akan melihat hal hal yang mengherankan, hal itu karena ia sangat menyimpang dengan kenashibian dan penduduk Kufah terkenal dengan tasyayyu’. Dapat dilihat bahwa ia tidak segan segan mencacatkan orang yang ia sebutkan dari mereka [penduduk Kufah] dengan lisan kasar dan lafaz yang menjatuhkan bahkan ia melemahkan orang seperti A’masyi, Abu Nu’aim, Ubaidillah bin Musa, tokoh tokoh hadis dan pilar pilar periwayatan <strong>[Lisan Al Mizan 1/16]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Balj termasuk orang kufah, jadi pencacatan Abu Ishaq Al Jauzjaniy terhadapnya tidak bisa diterima karena hanya berdasarkan dugaan atau kecenderungan nafsu semata. Seolah olah dalam pandangan Al Jauzjaniy setiap penduduk Kufah tercela karena tasyayyu’.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pandangan Adz Dzahabi Terhadap Abu Balj</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian dari nashibi menukil pendapat Adz Dzahabi bahwa ia melemahkan Abu Balj. Hal ini dapat dimengerti karena Adz Dzahabi termasuk orang yang berpandangan bahwa Abu Balj meriwayatkan hadis hadis mungkar. Hadis hadis tersebut disebutkan Adz Dzahabi dalam biografi Abu Balj [Mizan Al I’tidal juz 4 no 9539]</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi menyebutkan dua hadis mungkar Abu Balj. Hadis pertama adalah hadis keutamaan Imam Ali tutuplah pintu pintu masjid. Seperti yang telah kami nyatakan sebelumnya, hadis ini tidaklah mungkar kami telah membahas hadis tersebut baik sanad dan matannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis kedua adalah perkataan Ibnu Umar yang menurut Adz Dzahabi matannya mungkar yaitu riwayat Al Fasawi dalam Tarikh-nya</p>
<h2 style="text-align:right;">الفسوى في تاريخه ، حدثنا بندار ، عن أبى داود ، عن شعبة ، عن أبى بلج ، عن عمرو بن ميمون ، عن عبدالله بن عمرو أنه قال : ليأتين على جهنم زمان تخفق أبوابها ليس فيها أحد . وهذا منكر . قال ثابت البنانى : سألت الحسن عن هذا فأنكره</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Fasawi dalam Tarikh-nya berkata telah menceritakan kepada kami Bindaar dari Abi Dawud dari Syu’bah dari Abi Balj dari ‘Amru bin Maimun dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwasanya ia berkata akan datang atas Jahannam masa dimana pintu-pintunya dibuka dan tidak ada satupun orang di dalamnya. Hadis ini mungkar. Tsabit Al Banaaniy berkata aku bertanya pada hasan tentang hadis ini maka ia mengingkarinya <strong>[Mizan Al I’tidal juz 4 no 9539]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Abdullah bin ‘Amru ini diriwayatkan oleh Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/102 dan Musnad Al Bazzar no 2478 dimana dalam lafaz Al Bazzar terdapat tambahan “yaitu dari golongan orang yang bertauhid”. Hadis ini tidaklah mungkar, maksud perkataan Abdullah bin ‘Amru itu adalah bahwa “tidak ada orang” di dalam neraka itu maksudnya dari golongan orang yang bertauhid.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengingkaran Hasan Bashri terhadap hadis ini tidak menjadi hujjah karena ia mengingkari perkataan Abdullah bin ‘Amru tersebut tanpa alasan. Padahal maksud perkataan Abdullah bin ‘Amru adalah akan ada masa dimana tidak ada satupun orang yang bertauhid di dalam neraka. Berikut contoh hadis dimana pengingkaran seorang tabiin tidak menjadi hujjah</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا محمد بن جعفر نا شعبة عن عمرو بن مرة عن أبي حمزة عن زيد بن أرقم قال أول من اسلم مع رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب قال فذكرت ذلك للنخعي فأنكره وقال أول من اسلم أبو بكر مع رسول الله عليه السلام</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah dari Abu Hamzah dari Zaid bin Arqam yang berkata ““Orang  yang pertama kali masuk Islam dengan Rasulullah SAW adalah Ali bin Abu Thalib”. Berkata Amru bin Murrah “aku ceritakan hadis itu kepada An Nakha’i [Ibrahim] dan dia mengingkarinya. Ia berkata “orang yang pertama masuk Islam adalah Abu Bakar” <strong>[Fadha’il Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 1000]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pengingkaran An Nakha’i terhadap hadis Zaid bin Arqam itu tidak memiliki nilai hujjah karena Zaid bin Arqam jelas lebih mengetahui siapa yang pertama kali memeluk islam dibanding Ibrahim An Nakaha’i. Maka pengingkaran Al Hasan terhadap perkataan Abdullah bin ‘Amru juga tidak memiliki nilai hujjah karena Abdullah bin ‘Amru sendiri menjelaskan bahwa maksud perkataannya itu adalah orang orang yang bertauhid.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi hadis-hadis yang dituduhkan sebagai hadis mungkar yang diriwayatkan Abu Balj tidak terbukti sebagai hadis mungkar maka Adz Dzahabi telah keliru dalam melemahkan Abu Balj. Seperti yang dinyatakan para ulama mutaqaddimin bahwa Abu Balj seorang yang tsiqat atau shaduq.</p>
<p><span style="color:#c0c0c0;"><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;"><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;"><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama Yang Menshahihkan Hadis Abu Balj</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ulama lain juga menguatkan ta’dil kepada Abu Balj diantaranya Al Iraqi, Al Bushairi dan Ibnu Abdil Barr [selain Tirmidzi dan Ibnu Qaisarani di atas]. Al Iraqi berkata dalam salah satu kitabnya</p>
<h2 style="text-align:right;">رواه أحمد والطبرانى من رواية أبى بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس فذكر فضايل لعلى ثم قال وكان أول من أسلم من الناس بعد خديجة  وهذا إسناد جيد وأبو بلج وإن قال البخارى فيه نظر فقد وثقه ابن معين وأبو حاتم والنسائى وابن سعد والدارقطنى</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Riwayat Ahmad dan Thabraniy yaitu dari riwayat Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas yang menyebutkan keutamaan Ali kemudian berkata “ia adalah orang pertama yang masuk islam setelah khadijah”. Hadis ini sanadnya jayyid dan Abu Balj, Bukhari berkata “fiihi nazhar” dan ditsiqatkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Daruquthni <strong>[Taqyiid Wal Iidhah hal 84-85]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Al Iraqi <em>“sanadnya jayyid”</em> menunjukkan bahwa di sisinya Abu Balj seorang yang shaduq atau tsiqat. Hal ini perlu diperhatikan walaupun ia mengetahui Bukhari menyatakan “fiihi nazhar” Al Iraqi tetap menguatkan hadis Abu Balj. Al Bushairi dalam kitabnya Ithaf Al Khiyarah telah menyatakan shahih hadis yang didalam sanadnya terdapat Abu Balj. Ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وعن ابن عباس- رضى الله عنهما أن رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قال لعلي: أنت ولي كل مؤمن بعدي رواه أبو داود الطيالسي بسند صحيح</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Ali “engkau pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalku”. Riwayat Abu Dawud Ath Thayalisi dengan sanad yang shahih <strong>[Ithaf Al Khiyarah Al Bushairi no 6630]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Ibnu Abbas ini disebutkan Abu Dawud Ath Thayalisi dengan jalan sanad dari Abu Awanah dari Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752]. Penshahihan Al Bushairi menunjukkan bahwa dalam pandangannya Abu Balj seorang yang tsiqat. Begitu pula yang disebutkan Ibnu Abdil Barr</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الوارث بن سفيان قال حدثنا قاسم بن اصبغ قال حدثنا أحمد بن زهير بن حرب قال حدثنا الحسن بن حماد حدثنا أبو عوانة عن أبى بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال كان على بن أبى طالب أول من آمن من الناس بعد خديجة رضى الله عنهما ال أبو عمر رحمه الله هذا إسناد لا مطعن فيه لأحد لصحته وثقة نقلته</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdul Waarits bin Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami Qaasim bin Ashbagh yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Hammaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang beriman setelah Khadijah radiallahu ‘anhuma. Abu Umar [Ibnu Abdil Barr] berkata “sanad ini tidak ada satupun yang mengkritik keshahihannya dan ia dinukil oleh para perawi tsiwat” <strong>[Al Isti’ab Ibnu Abdil Barr 3/1091]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Ibnu Abdil Barr bahwa sanadnya diriwayatkan para perawi tsiqat menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Abdil Barr, Abu Balj adalah seorang yang tsiqat dan hadisnya shahih. Ada lagi syubhat salafy lainnya mereka menuduh Abu Balj seorang syiah atau tasyayyu’. Tuduhan ini cuma asal bunyi semata karena dalam biografi Abu Balj tidak ada ulama mutaqaddimin yang menyatakan bahwa ia seorang syiah. Lain ceritanya jika Abu Balj dituduh syiah oleh nashibi karena ia sering meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait maka tuduhan seperti itu hanya logika sirkuler yang menyesatkan. Seorang perawi dikatakan syiah karena hadisnya tentang keutamaan Ahlul Bait kemudian hadis keutamaan Ahlul Bait itu dilemahkan karena perawi tersebut telah dikatakan syiah.</p>
<p><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Balj telah dita’dilkan oleh banyak ulama yaitu Ibnu Ma’in, Daruquthni, Nasa’i, Syu’bah, Yazid bin Harun, Sufyan Ats Tsawriy, Abu Hatim, Ibnu Sa’ad, At Tirmidzi, Ibnu Qaisraniy, Ibnu Abdil Barr, Al Bushairi, Al Iraqi dan Ibnu Hajar. Sedangkan jarh terhadapnya sudah dibahas dan ternyata tidak beralasan sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk melemahkan Abu Balj. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Kesimpulannya Abu Balj seorang yang tsiqat</span></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/hadis/'>Hadis</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/'>Kritik Salafy</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-syiahphobia/'>Kritik Syiahphobia</a>, <a href='http://secondprince.wordpress.com/category/sirah/'>Sirah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/2597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&amp;blog=1332946&amp;post=2597&amp;subd=secondprince&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2011/11/14/studi-kritis-kredibilitas-abu-balj-yahya-bin-abi-sulaim-al-kufiy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
