<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Analisis Pencari Kebenaran</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2009 12:59:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/449762091d192e9de75874735a396e1f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Analisis Pencari Kebenaran</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Murtad Di Zaman Umar</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/07/02/sahabat-nabi-yang-murtad-di-zaman-umar/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/07/02/sahabat-nabi-yang-murtad-di-zaman-umar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 14:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Murtad Di Zaman Umar
Judul yang menyesatkan?. Bukan menyesatkan tetapi Faktanya memang begitu. Sejarah menyebutkan ada Sahabat Nabi yang masuk islam pada peristiwa Fath Al Makkah, mengikuti Haji wada tetapi pada akhirnya di masa khalifah Umar ia menjadi Nasrani alias murtad. Sahabat yang dimaksud adalah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf. Banyak para ulama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1042&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat Nabi Yang Murtad Di Zaman Umar</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Judul yang menyesatkan?.</em> Bukan menyesatkan tetapi Faktanya memang begitu. Sejarah menyebutkan ada <em>Sahabat Nabi yang masuk islam pada peristiwa Fath Al Makkah, mengikuti Haji wada tetapi pada akhirnya di masa khalifah Umar ia menjadi Nasrani alias murtad.</em> Sahabat yang dimaksud adalah <strong>Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf.</strong> Banyak para ulama yang menyebutnya sebagai Sahabat Nabi<span id="more-1042"></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Al Baghawi menyebutkan <em>Rabiah bin Umayyah bin Khalaf Al Qurasy</em> sebagai seorang Sahabat dalam <em>Mu’jam As Shahabah</em> 2/389 riwayat no 757.</li>
<li>Adz Dzahabi menyebutkan nama <em>Rabi’ah bin Umayyah </em>dalam <em>Tajrid Asma As Shahabah</em> no 1845.</li>
<li>Abu Nu’aim juga menyebutkan <em>Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf</em> dalam <em>Ma’rifat As Shahabah</em> no 2432, Abu Nu’aim menuliskan riwayat dari Ibnu Ishaq bahwa Rabi’ah adalah orang yang mengulangi dengan keras khutbah Rasulullah SAW pada saat haji wada agar terdengar oleh seluruh sahabat.</li>
<li>Ibnu Atsir memasukkan nama <em>Rabiah bin Umayyah</em> dalam <em>Asad Al Ghabah Fi Ma’rifat As Shahabah </em>2/248 dan mengatakan bahwa hadis Rabiah diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Yunus bin Bakir</li>
<li>Ibnu Abdil Barr memasukkan nama <em>Rabi’ah bin Umayyah</em> dalam <em>Al Isti’ab Fi Ma’rifat As Shahabah </em>2/721 dan mengatakan bahwa ia memeluk islam pada Fath Makkah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan kalau dari masa Fathul Makkah sampai masa pemerintahan Umar, Rabi’ah dikenal sebagai sahabat Nabi. Ibnu Hajar dalam <em>Al Isabah Fi Ma’rifat As Shahabah</em> 2/520 no 2754 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">ربيعة بن أمية بن خلف بن وهب بن حذافة بن جمح القرشي الجمحي أخو صفوان أسلم يوم الفتح وكان شهد حجة الوداع</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah Al Qurasy Al Jumahi saudara Shafwan memeluk islam pada hari Fath Al Makkah dan ia menyaksikan haji wada.<br />
</em><br />
Ibnu Hajar juga menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">لكان عده في الصحابة صوابا لكن ورد أنه ارتد في زمن عمر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Walaupun tidak diragukan kalau ia seorang sahabat telah dikabarkan bahwa ia murtad di zaman Umar.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa Umar dikabarkan bahwa <em>Rabi’ah bin Umayyah</em> pernah melakukan penyimpangan dalam agama yaitu meminum Khamar</p>
<h2 style="text-align:right;">عن عبد الرحمن بن عوف أنه حرس ليلة مع عمر بن الخطاب فبينا هم يمشون شب لهم سراج في بيت فانطلقوا يؤمونه حتى إذا دنوا منه إذا باب مجاف على قوم لهم فيه أصوات مرتفعة ولغط فقال عمر وأخذ بيد عبد الرحمن أتدري بيت من هذا قال قلت لا قال هو ربيعة بن أمية بن خلف وهم الآن شرب فما ترى قال عبد الرحمن أرى قد أتينا ما نهانا الله عنه نهانا الله فقال ولا تجسسوا فقد تجسسنا فانصرف عنهم عمر وتركهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abdurrahman bin ‘Auf  bahwa ia pernah jaga malam bersama Umar bin Khattab. Ketika mereka sedang berjalan, mereka melihat lampu menyala dari sebuah rumah, maka mereka mendatangi rumah tersebut. Ketika mereka sampai ke rumah tersebut, pintunya terbuka tanpa seorang pun di sana, sedangkan dari dalam rumah terdengar suara yang sangat keras. Umar memegang tangan Abdurrahman dan berkata “tahukah kamu ini rumah siapa?” Abdurrahman menjawab “tidak.” Umar berkata <strong>“Ini adalah rumah Rabi‘ah bin Umayyah bin Khalaf, saat ini mereka sedang meminum khamr,</strong> bagaimana pendapat mu?”. Abdurrahman berkata: “Menurutku, kita sekarang ini telah melakukan sesuatu yang dilarang Allah. Bukankah Allah telah berfirman “Dan janganlah kamu memata-matai” dan kita telah memata-matai mereka. Setelah mendengar perkataannya, Umar pergi dan meninggalkan mereka. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat di atas diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam <em>Al Mushannaf</em> 10/231 no 18943, Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak </em>juz 4 no 8136 dan Baihaqi dalam <em>Sunan Baihaqi </em>8/333 no 17403. Riwayat ini telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Al Hakim telah menshahihkan riwayat tersebut dan Adz Dzahabi dalam <em>Talkhis Al Mustadrak</em> 6/419 no 8136 juga menshahihkannya. Al Hakim berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis ini sanadnya shahih tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya</em></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang menyebabkan <em>Rabi’ah bin Umayyah</em> murtad? mungkin dikarenakan pada masa Umar ia pernah meminum khamar, dan ketika akan dihukum ia tidak suka dan pergi ke Rum dan menjadi Nasrani di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada suatu kaidah yang cukup dikenal bahwa seseorang disebut sebagai sahabat jika <em>orang tersebut bertemu dengan Rasulullah SAW  beriman kepada Beliau dan meninggal dalam keadaan Islam. </em>Dengan dasar ini maka dengan mudah ada yang mengatakan <em>Rabi’ah bin Umayyah jelas bukan sahabat Nabi</em> karena ia telah murtad di zaman Umar. Tetapi anehnya kenapa banyak sekali ulama yang tetap menyebutkan <em>Rabi’ah bin Umayyah</em> dalam kitab mereka tentang para Sahabat Nabi. Bahkan<em> Ibnu Hajar mengakui kalau Rabi’ah seorang Sahabat Nabi.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang musykil dari pernyataan <em>“meninggal dalam keadaan islam”.</em> Coba pikirkan dengan baik, bukankah jika ada <em>tabi’in yang mau mengambil hadis dari para Sahabat Nabi</em> maka mereka harus mengenal terlebih dahulu siapa itu para Sahabat. Nah jika seseorang Sahabat itu diketahui dengan syarat <em>“meninggal dalam keadaan islam” </em>maka hal ini menjadi musykil, dengan terpaksa tabiin itu harus menunggu terlebih dahulu sampai seseorang yang diduga Sahabat itu meninggal dan lihat apakah ia meninggal dalam keadaan islam atau tidak, jika ia meninggal dalam keadaan islam maka orang tersebut sah sebagai Sahabat. Tetapi jika sahabat itu sudah meninggal bagaimana mau diambil hadisnya?.</p>
<p style="text-align:justify;">Ataukah para tabiin itu langsung saja mengambil hadis dari mereka yang diduga Sahabat, kemudian dilihat apakah sahabat itu mati dalam keadaan islam atau tidak, jika meninggal dalam keadaan islam maka hadisnya diambil, jika tidak maka hadis yang sudah dipelajari tersebut harus ditolak. Inipun musykil juga, misalnya tabiin A mengambil hadis katakanlah 50 hadis dari Sahabat B <em>(belum bisa dipastikan sahabat karena belum tahu akan meninggal dalam keadaan apa)</em>. Tabiin A harus memastikan terlebih dahulu kalau sahabat B tadi memang benar Sahabat dengan cara menunggu sampai Sahabat B wafat dan dilihat Sahabat B tersebut meninggal dalam keadaan islam atau tidak. Selama menunggu bagaimanakah status 50 hadis yang tabiin A ambil?. Bukankah ketika sahabat B masih hidup tidak bisa dipastikan ia meninggal dalam keadaan apa, mungkinkah 50 hadis tadi masih meragukan dan belum bisa diamalkan?. Seandainya sahabat B ternyata murtad, bagaimanakah status 50 hadis tadi? langsung ditolak atau diterima dengan alasan <em>hadis itu diambil sebelum Sahabat B murtad</em>, kalau begitu apa gunanya syarat <em>&#8220;meninggal dalam keadaan islam&#8221;. </em>Pernahkah anda terpikir, seseorang yang menyia-nyiakan keislamannya dengan menjadi murtad, artinya ia  terbukti tidak bisa dipercaya dalam menjaga agamanya. Apakah orang seperti itu bisa dianggap terpercaya?. Saya jadi bingung <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Rabi’ah bin Umayyah bertemu Rasulullah SAW, pada saat Fathul Makkah dia beriman kepada Rasul SAW. Rabi’ah dikabarkan pernah murtad di zaman Umar dan menjadi Nasrani, sayangnya saya belum menemukan riwayat dalam agama apa Rabi’ah meninggal. <em>Apakah ini yang menyebabkan para ulama tetap menyebutkannya sebagai Sahabat Nabi?. </em>Entahlah, hanya saja kesimpulan yang valid adalah dari masa Fath Al Makkah hingga masa pemerintahan Umar, Rabiah bin Umayyah tidak diragukan adalah seorang Sahabat Nabi. <em>Rabi&#8217;ah bin Umayyah seorang Sahabat Nabi yang kemudian murtad dari agama Islam.</em></p>
Posted in Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1042/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1042/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1042/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1042&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/07/02/sahabat-nabi-yang-murtad-di-zaman-umar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/07/01/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/07/01/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 13:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?
Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1038&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasa <em>cara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang</em> terkadang mengundang tanda tanya bagi <em>orang  yang mau menggunakan akalnya</em>. Mereka beranggapan bahwa <em>sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.<span id="more-1038"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinya <em>anda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia. </em>Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa <em>diantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?</em>. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Shahih Muslim </em>4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم <span style="color:#0000ff;">في أصحابي</span> اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “<span style="color:#0000ff;"><strong>Di antara SahabatKu</strong></span> <strong>ada dua belas orang munafik.</strong> Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Matan hadis <em>Shahih Muslim</em> di atas menyatakan bahwa <em>Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik. </em>Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolak <em>ada sahabat Nabi munafik</em> mengatakan bahwa hadis <em>Shahih Muslim</em> di atas menceritakan <em>bahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW</em>. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalam<em> Shahih Muslim</em> 4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال <span style="color:#0000ff;">في أمتي</span> اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “<strong><span style="color:#0000ff;">Diantara umatKu</span></strong> <strong>ada dua belas orang munafik </strong>yang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua hadis <em>Shahih Muslim </em>diatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orang <em>bahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabi </em>tidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Hadis yang satu menyatakan<em> Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik</em></li>
<li>Hadis yang lain menyatakan <em>Diantara UmatKu ada dua belas orang munafik</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakan <em>bahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi. </em>Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kata <strong><em>SahabatKu </em></strong>adalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kata <strong><em>UmatKu</em></strong>. Sehingga makna hadis tersebut adalah <strong><em>diantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik. </em></strong>Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilan <em>bahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi</em>, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafaz <em>SahabatKu</em>. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.</p>
Posted in Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1038/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1038&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/07/01/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Shahih Muslim</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/28/hadis-penyimpangan-muawiyah-dalam-shahih-muslim/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/28/hadis-penyimpangan-muawiyah-dalam-shahih-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 01:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Shahih Muslim
Apa yang terjadi dalam pemerintahan Muawiyah ternyata cukup mengundang banyak keluhan sebagian orang. Dimulai dari adanya tradisi mencela Imam Ali AS hingga berbagai penyimpangan dalam agama. Tidak dipungkiri sebagian yang lain malah menolak hal ini dan menganggap berita seperti itu palsu yang ditujukan untuk  mendiskreditkan Sahabat Nabi. Mereka tak henti-hentinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1032&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Shahih Muslim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang terjadi dalam pemerintahan Muawiyah ternyata cukup mengundang banyak keluhan sebagian orang. Dimulai dari adanya <em>tradisi mencela Imam Ali AS </em>hingga berbagai penyimpangan dalam agama. Tidak dipungkiri sebagian yang lain malah menolak hal ini dan menganggap berita seperti itu palsu yang ditujukan untuk  mendiskreditkan Sahabat Nabi. <em>Mereka tak henti-hentinya mengagungkan dan menulis kitab khusus tentang keutamaan Muawiyah. </em>Terlepas dari siapa yang benar, telah diriwayatkan dalam <em>Shahih Muslim</em> bahwa Muawiyah melakukan penyimpangan dalam agama. Hadis tersebut terdapat dalam <em>Shahih Muslim </em>3/1472 hadis no 1844 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.<span id="more-1032"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا زهير بن حرب وإسحاق بن إبراهيم ( قال إسحاق أخبرنا وقال زهير حدثنا جرير ) عن الأعمش عن زيد بن وهب عن عبدالرحمن بن عبد رب الكعبة قال دخلت المسجد فإذا عبدالله بن عمرو بن العاص جالس في ظل الكعبة والناس مجتمعون عليه فأتيتهم فجلست إليه فقال كنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في سفر فنزلنا منزلا فمنا من يصلح خباءه ومنا من ينتضل ومنا من هو في جشره إذ نادى منادي رسول الله صلى الله عليه و سلم الصلاة جامعة فاجتمعنا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ( إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها وتجيء فتنة فيرقق بعضها بعضها وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه مهلكتي ثم تنكشف وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه هذه فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس الي يحب أن يؤتى إليه ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر ) فدنوت منه فقلت أنشدك الله آنت سمعت هذا من رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فأهوى إلى أذنيه وقلبه بيديه وقال سمعته أذناي ووعاه قلبي فقلت له <span style="color:#0000ff;">هذا ابن عمك معاوية يأمرنا أن نأكل أموالنا بيننا بالباطل ونقتل أنفسنا</span> والله يقول { يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما } [ 4 / النساء / 29 ] قال فسكت ساعة ثم قال أطعه في طاعة الله واعصه في معصية الله</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim (Ishaq berkata telah mengabarkan kepada kami dan Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Jarir) dari ‘Amasy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin Abdi Rabbi Al Ka’bah yang berkata Aku pernah masuk ke sebuah masjid, kulihat Abdullah bin Amr’ bin Ash sedang duduk dalam naungan Ka’bah dan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Lalu aku mendatangi mereka dan duduk disana, dia berkata “Dahulu kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan kemudian kami singgah di suatu tempat. Diantara kami ada yang memperbaiki tendanya, menyiapkan panah dan menyiapkan makanan hewan tunggangannya. Ketika itu seorang penyeru yang diperintahkan Rasulullah SAW menyerukan “Marilah shalat berjama’ah”. Kami berkumpul menuju Rasulullah SAW dan Beliau bersabda “Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumKu kecuali menjadi kewajiban baginya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya serta memperingatkan mereka akan keburukan yang diketahuinya bagi mereka. Sesungguhnya UmatKu ini adalah umat yang baik permulaannya akan tetapi setelahnya akan datang banyak bencana dan hal-hal yang diingkari. Akan datang suatu fitnah yang membuat sebagian orang memperbudak yang lain. Akan datang suatu fitnah hingga seorang mukmin berkata “inilah kehancuranku”. Kemudian fitnah tersebut hilang dan datanglah fitnah yang lain hingga seorang mukmin berkata “inilah dia, inilah dia”. Maka barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir serta memperlakukan manusia sebagaimana yang ia suka untuk dirinya. Barangsiapa yang membai’at seorang Imam dan setuju dengan sepenuh hati maka hendaklah ia mentaatinya semampunya. Lalu jika yang lain hendak merebutnya maka bunuhlah ia”. Aku mendekatinya seraya berkata “Demi Allah apakah engkau mendengar ini dari Rasulullah SAW?. Maka dia (Abdullah bin Amr bin Ash) mengisyaratkan dengan tangan pada kedua telinga dan hatinya sambil berkata “Aku mendengar dengan kedua telingaku dan memahaminya dengan hatiku”. Aku berkata kepadanya <strong><span style="color:#0000ff;">“Ini Anak pamanmu Muawiyah dia memerintahkan kami untuk memakan harta diantara kami secara bathil dan saling membunuh diantara kami&#8221;</span>.</strong> Padahal Allah SWT berfirman <strong>“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil kecuali dengan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadapmu”{An Nisa ayat 29}.</strong> Lalu dia diam sejenak dan berkata “Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah dan langgarlah ia dalam bermaksiat kepada Allah ”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini cukup untuk membuktikan bahwa pada masa pemerintahan Muawiyah memang terjadi berbagai penyimpangan diantaranya <em>Muawiyah memerintah untuk memakan harta secara batil dan membunuh sebagian kaum Muslim. </em>Walaupun begitu yang namanya penolakan akan selalu ada dan dalih selalu bisa dicari-cari.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1032/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1032/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1032/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1032/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1032/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1032/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1032/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1032/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1032/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1032/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1032&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/28/hadis-penyimpangan-muawiyah-dalam-shahih-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 05:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1028</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim
Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1028&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti jalan kerusakan. Padahal Allah SWT telah melarang kita umat islam untuk mengikuti jalan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujurat 6-8<span id="more-1028"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ  وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ  فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahulilah olehmu bahwa diantaramu ada Rasulullah. Kalau Ia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan maka benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan <em>Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith</em> <em>yang diutus Rasulullah SAW untuk mengambil sedekah atau zakat dari bani Musthaliq. </em>Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam ayat di atas. Hal ini telah diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dalam <em>Musnad Ahmad</em> 4/279</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن سابق ثنا عيسى بن دينار ثنا أبي انه سمع الحرث بن ضرار الخزاعي قال  قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم فدعاني إلى الإسلام فدخلت فيه وأقررت به فدعاني إلى الزكاة فأقررت بها وقلت يا رسول الله أرجع إلي قومي فأدعوهم إلى الإسلام وأداء الزكاة فمن استجاب لي جمعت زكاته فيرسل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم رسولا لإبان كذا وكذا ليأتيك ما جمعت من الزكاة فلما جمع الحرث الزكاة ممن استجاب له وبلغ الإبان الذي أراد رسول الله صلى الله عليه و سلم ان يبعث إليه احتبس عليه الرسول فلم يأته فظن الحرث أنه قد حدث فيه سخطة من الله عز و جل ورسوله فدعا بسروات قومه فقال لهم إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان وقت لي وقتا يرسل إلى رسوله ليقبض ما كان عندي من الزكاة وليس من رسول الله صلى الله عليه و سلم الخلف ولا أرى حبس رسوله الا من سخطة كانت فانطلقوا فنأتي رسول الله صلى الله عليه و سلم وبعث رسول الله صلى الله عليه و سلم الوليد بن عقبة إلى الحرث ليقبض ما كان عنده مما جمع من الزكاة فلما أن سار الوليد حتى بلغ بعض الطريق فرق فرجع فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم وقال يا رسول الله إن الحرث منعني الزكاة وأراد قتلي فضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم البعث إلى الحرث فأقبل الحرث بأصحابه إذ استقبل البعث وفصل من المدينة لقيهم الحرث فقالوا هذا الحرث فلما غشيهم قال لهم إلى من بعثتم قالوا إليك قال ولم قالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان بعث إليك الوليد بن عقبة فزعم أنك منعته الزكاة وأردت قتله قال لا والذي بعث محمدا بالحق ما رأيته بتة ولا أتاني فلما دخل الحرث على رسول الله صلى الله عليه و سلم قال منعت الزكاة وأردت قتل رسولي قال لا والذي بعثك بالحق ما رأيته ولا أتاني وما أقبلت إلا حين احتبس علي رسول رسول الله صلى الله عليه و سلم خشيت أن تكون كانت سخطة من الله عز و جل ورسوله قال فنزلت الحجرات { يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين } إلى هذا المكان { فضلا من الله ونعمة والله عليم حكيم }</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Isa bin Dinar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku bahwa ia pernah mendengar Al Harits bin Dhirar Al Khuza’i bercerita “Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW , Beliau mengajakku masuk islam maka aku memeluk islam dan mengikrarkannya. Kemudian Beliau mengajakku mengeluarkan zakat, aku menunaikannya dan berkata “Ya Rasulullah aku akan pulang kepada kaumku dan akan kuajak mereka memeluk islam dan mengumpulkan zakat. Siapa saja yang mengikuti seruanku maka akan kuambil zakatnya dan kirimkanlah Utusan kepadaku Ya Rasulullah pada waktu begini dan begini untuk membawa zakat yang telah kukumpulkan itu. Setelah Al Harits mengumpulkan zakat dari kaumnya yang mengikutinya dan telah sampai masa datangnya utusan Rasulullah SAW ternyata utusan tersebut tertahan di jalan dan tidak  datang menemuinya. Al Harits mengira bahwa telah turun kemurkaan Allah dan RasulNya kepada dirinya. Ia pun mengumpulkan pembesar kaumnya dan berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan waktu kepadaku dimana Beliau akan mengirim utusan untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, sungguh tidak pernah Rasulullah SAW menyalahi janji dan aku takut ini karena murka Allah. Oleh karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah. <strong>Adapun Rasulullah SAW telah mengutus Walid bin Uqbah menemui Al Harits untuk mengambil zakat yang dikumpulkannya. Ketika Walid berangkat di tengah perjalanan ia merasa takut dan kembali pulang lalu menemui Rasulullah SAW seraya berkata “Ya Rasulullah sesungguhnya Al Harits menolak memberikan zakat kepadaku bahkan ia bermaksud membunuhku”. </strong>Maka Rasulullah SAW mengirim utusan lain kepada Al Harits dan Al Harits berserta sahabatnya juga berangkat. Ketika utusan Rasul keluar kota Madinah dan bertemu Al Harits , mereka berkata “inilah Al Harits”. Al Harits menghampiri dan berkata “kepada siapa kalian diutus?”. Mereka menjawab “kepadamu”. “Untuk apa kalian diutus kepadaku?” Tanya Al Harits. <strong>Mereka menjawab “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu dan ia mengaku bahwa kau menolak membayar zakat bahkan mau membunuhnya”. Al Harits berkata “Tidak benar, demi Rabb yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku”. </strong>Setelah Al Harits menghadap Rasulullah SAW, Beliau bertanya “Apakah kau menolak membayar zakat dan hendak membunuh utusanKu?”. <strong>Ia menjawab “Tidak, demi Rabb yang telah mengutusMu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku dan aku tidak datang kepadaMu melainkan ketika utusanMu tidak datang aku takut datangnya kemarahan Allah dan RasulNya</strong>. Pada saat itulah turun ayat Al Hujurat {Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.} sampai {sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.}</em><br />
<strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong><br />
Hadis ini memiliki <strong>sanad yang jayyid (baik)</strong>. Al Hafiz As Suyuthi dalam <em>Lubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> surah Al Hujurat ayat 6 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أخرج أحمد وغيره بسند جيد عن الحرث بن ضرار الخزامي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang jayyid dari Harits bin Dhirar Al Khuza’i.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Al Hafiz Suyuthi menyebutkan riwayat tersebut setelah itu ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">رجال إسناده تقات<em> </em></h2>
<p style="text-align:left;"><em>Para perawi sanad ini tsiqat</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Haitsami dalam <em>Majma’ Az Zawaid</em> 7/238 hadis no 11352 juga membawakan hadis ini dan mengatakan bahwa <em>para perawi Ahmad tsiqat.</em> Ibnu Katsir dalam <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 7/370 ketika menafsirkan Al Hujurat ayat 6 telah membawakan hadis ini dan beliau menyatakan <em>bahwa hadis ini hasan.</em> Dalam <em>Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain</em> hadis no 18371 disebutkan bahwa <em>“sanadnya shahih”.</em> Pentahqiq kitab <em>Lubabun Nuqul </em>Abdurrazaq Mahdi juga mengakui <em>bahwa sanad hadis ini jayyid </em>dalam keterangannya terhadap riwayat no 1014.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita melihat kitab-kitab biografi para perawi hadis maka dapat diketahui bahwa <em>Walid bin Uqbah ini adalah seorang sahabat Nabi</em>, Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>2/287 menyebutkan bahwa <em>Walid bin Uqbah adalah sahabat Nabi.</em> Padahal telah jelas disebutkan di atas bahwa <em>Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam Al Hujurat ayat 6.</em> Dan dalam riwayat di atas kita lihat bahwa <strong><em>Walid bin Uqbah salah seorang sahabat Nabi</em> </strong><em><strong>telah berkata dusta kepada Rasulullah SAW.</strong> Apakah ini berarti seorang Sahabat Nabi bisa saja dikatakan fasik dan bisa saja ia berdusta kepada Rasulullah SAW?. </em>Silakan direnungkan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Al Quran, Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1028&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Orang Mati Bisa Mendengar</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/24/hadis-orang-mati-bisa-mendengar/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/24/hadis-orang-mati-bisa-mendengar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 13:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Orang Mati Bisa Mendengar
Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa orang-orang yang ikut dalam perang Badar setelah wafat dapat mendengar apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada mereka. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/26 no 182. 
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد وأنا سألته ثنا سليمان بن المغيرة ثنا ثابت عن أنس [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1022&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Orang Mati Bisa Mendengar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa orang-orang yang ikut dalam perang Badar setelah wafat dapat mendengar apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada mereka. Hadis tersebut diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad </em>1/26 no 182. <span id="more-1022"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد وأنا سألته ثنا سليمان بن المغيرة ثنا ثابت عن أنس قال كنا مع عمر بين مكة والمدينة فتراءينا الهلال وكنت حديد البصر فرأيته فجعلت أقول لعمر أما تراه قال سأراه وأنا مستلق على فراشي ثم أخذ يحدثنا عن أهل بدر قال إن كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ليرينا مصارعهم بالأمس يقول هذا مصرع فلان غدا إن شاء الله تعالى وهذا مصرع فلان غدا إن شاء الله تعالى قال فجعلوا يصرعون عليها قال قلت والذي بعثك بالحق ما أخطئوا تيك كانوا يصرعون عليها ثم أمر بهم فطرحوا في بئر فانطلق إليهم فقال يا فلان يا فلان هل وجدتم ما وعدكم الله حقا فإني وجدت ما وعدني الله حقا قال عمر يا رسول الله أتكلم قوما قد جيفوا قال ما أنتم بأسمع لما أقول منهم ولكن لا يستطيعون أن يجيبوا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan aku bertanya padanya, ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas yang berkata “Kami bersama Umar di antara Mekkah dan Madinah, dan kami sama-sama melihat bulan sabit. Aku termasuk orang yang tajam penglihatan sehingga aku dapat melihatnya. Aku berkata kepada Umar”Tidakkah engkau akan melihatnya?”. Umar berkata “Aku akan melihatnya ketika aku terkapar di tempat tidurku”. Dia kemudian menceritakan kepada kami tentang para Ahli Badar. Dia berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memperlihatkan kepada kita tempat kematian mereka kemarin”. Beliau bersabda “Ini tempat kematian fulan besok jika Allah menghendaki dan ini tempat kematian fulan besok jika Allah menghendaki”. Mereka kemudian meninggal dunia di tempat itu. Aku berkata “Demi Yang mengutusmu dengan membawa kebenaran tidaklah mereka melangkah untuk itu. Mereka dibantai di tempat itu&#8221;. Beliau kemudian memerintahkan agar mereka dimasukkan kedalam sumur. Beliau  SAW mendatangi mereka dan bersabda “Wahai fulan dan fulan, apakah kalian telah menemukan apa yang Allah janjikan kepada kalian sebagai suatu kebenaran?. Sesungguhnya Aku telah menemukan apa yang Allah janjikan kepadaKu sebagai suatu kebenaran”. <strong>Umar berkata “Ya Rasulullah, apakah Engkau sedang berbicara dengan suatu kaum yang telah menjadi bangkai?. Beliau menjawab “Tidaklah kalian lebih dapat mendengar apa yang aku katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab”</strong><br />
</em><br />
Hadis ini sanadnya Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad </em>no 182 berkata <em>“sanadnya shahih”</em>. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam <em>Musnad Ahmad</em> tahqiq beliau berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">إسناده صحيح على شرط الشيخين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim</em></p>
Posted in Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1022/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1022&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/24/hadis-orang-mati-bisa-mendengar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis “Rasulullah SAW Memberikan Fadak Pada Sayyidah Fathimah AS”</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/22/kedudukan-hadis-%e2%80%9crasulullah-saw-memberikan-fadak-pada-sayyidah-fathimah-as%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/22/kedudukan-hadis-%e2%80%9crasulullah-saw-memberikan-fadak-pada-sayyidah-fathimah-as%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 13:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Kupersembahkan Tulisan Ini Untuk Para Pecinta Sayyidah Al Jannah Fathimah Az Zahra Alaihis Salam Wanita Yang Termulia Di Dunia dan Akhirat.


Kedudukan Hadis “Rasulullah SAW Memberikan Fadak Pada Sayyidah Fathimah AS”
Telah diriwayatkan dengan sanad yang hasan bahwa Rasulullah SAW di masa hidup Beliau telah memberikan Fadak kepada Sayyidah Fathimah AS. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1012&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kupersembahkan Tulisan Ini Untuk Para Pecinta Sayyidah Al Jannah Fathimah Az Zahra Alaihis Salam Wanita Yang Termulia Di Dunia dan Akhirat.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis “Rasulullah SAW Memberikan Fadak Pada Sayyidah Fathimah AS”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Telah diriwayatkan dengan sanad yang hasan bahwa Rasulullah SAW di masa hidup Beliau telah memberikan Fadak kepada Sayyidah Fathimah AS. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam <em>Musnad Abu Ya’la</em> 2/334 hadis no1075 dan 2/534 hadis no 1409</p>
<h2 style="text-align:right;">قرأت على الحسين بن يزيد الطحان حدثنا سعيد بن خثيم عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد الخدري قال : لما نزلت هذه الآية { وآت ذا القربى حقه } [ الاسراء : 26 ] دعا النبي صلى الله عليه و سلم فاطمة وأعطاها فدك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Qara&#8217;tu &#8216;ala Husain bin Yazid Ath Thahan yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Khutsaim dari Fudhail bin Marzuq dari Athiyyah dari Abi Said Al Khudri yang berkata “ketika turun ayat dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya [Al Isra ayat 26]. Rasulullah SAW memanggil Fathimah dan memberikan Fadak kepadanya.<span id="more-1012"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong><br />
<strong>Hadis tersebut sanadnya hasan. </strong>Para perawinya tsiqat dan hasan. Perawi tsiqat yaitu <em>Sa’id bin Khutsaim </em>dan <em>Fudhail bin Marzuq</em> sedangkan perawi yang hasan hadisnya yaitu <em>Husain bin Yazid</em> dan <em>Athiyyah Al Aufi</em>. Berikut analisis terhadap para perawinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Husain bin Yazid Ath Thahan</strong><br />
Husain bin Yazid bin Yahya Al Thahan Al Anshari Abu Ali Al Kufy adalah perawi hadis dalam <em>Sunan Tirmidzi </em>dan <em>Sunan Abu Dawud</em>. Beliau termasuk perawi yang sedikit hadisnya. Ibnu Hibban memasukkan beliau dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat</em> juz 8 no 12906 dan berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">حسين بن يزيد القرشي أبو عبد الله الطحان من أهل الكوفة يروى عن وكيع ثنا عنه الحسن بن سفيان وغيره</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Husain bin Yazid Al Qurasy Abu Abdullah Ath Thahan, termasuk Ahli Kufah yang meriwayatkan hadis dari Waki’ dan meriwayatkan darinya Hasan bin Sufyan dan yang lainnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 2 no 645 bahwa selain Hasan bin Sufyan telah meriwayatkan darinya Imam Tirmidzi, Abu Dawud, Abu Zar’ah, Abu Bakar Al Atsram, Abu Ya’la dan yang lainnya. Imam Tirmidzi telah menghasankan hadisnya dalam kitab<em> Sunan Tirmidzi </em>4/683 no 2546, 5/585 no 3610 dan 3611, 5/701 no 3874. Dalam <em>At Tahdzib </em>disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أبو حاتم لين الحديث وذكره بن حبان في الثقات</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Hatim berkata “layyin” dan disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hatim adalah satu-satunya orang yang melemahkan Husain bin Yazid, padahal Husain adalah seorang Syaikh atau guru para hafiz seperti Imam Tirmidzi, Abu Dawud, Abu Zar’ah dan Abu Ya’la. Selain itu pula Husain telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan Imam Tirmidzi telah menghasankan hadisnya. Abu Hatim terkenal dengan sikapnya yang berlebihan dalam menjarh perawi. Adz Dzahabi dalam <em>Siyar ‘Alam An Nubala</em> 13/260 mengatakan</p>
<h2 style="text-align:right;">إذا وثق أبو حاتم رجلاً فتمسك بقوله فإنه لا يوثق إلا رجلاً صحيح الحديث، وإذا لين رجلاً أو قال: لا يحتج به فتوقف حتى ترى ما قال غيره فيه، فإن وثقه أحد فلا تبن على تجريح أبي حاتم فإنه متعنت في الرجال قد قال في طائفة من رجال الصحاح : ليس بحجة ، ليس بقوي أو نحو ذلك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika Abu Hatim menyatakan tsiqah seorang perawi maka ambillah karena ia tidaklah menyatakan tsiqat kecuali pada perawi yang shahih hadisnya dan jika ia menyatakan layyin (melemahkan) seorang perawi atau mengatakan “tidak bisa dijadikan hujjah” maka bertawaqquflah sampai diketahui perkataan ulama lain tentang perawi tersebut dan jika ada ulama lain menyatakan tsiqat maka tak perlu dianggap pencacatan Abu Hatim karena ia suka mencari-cari kesalahan perawi, ia sering mengatakan pada perawi-perawi shahih “bukan hujjah” dan “tidak kuat” atau perkataan lainnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya ada 3 alasan untuk menguatkan bahwa Husain bin Yazid adalah perawi yang hasan hadisnya yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Husain bin Yazid telah mendapat predikat ta’dil dari Ibnu Hibban dan Imam Tirmidzi.<em> Ibnu Hibban menyatakannya tsiqat dan Imam Tirmidzi menghasankan hadisnya.</em></li>
<li>Husain bin Yazid adalah seorang Syaikh dimana telah <em>meriwayatkan darinya para hafiz yang tsiqat seperti Imam Tirmidzi, Abu Dawud, Abu Ya’la, Abu Zar’ah, Hasan bin Sufyan, Abu Bakar Al Atsram</em> dan lain-lain.</li>
<li>Satu-satunya yang melemahkan Husain adalah Abu Hatim dimana jika ia menyendiri dalam mencacatkan perawi maka jarhnya tidak kuat apalagi Abu Hatim tidak menampilkan alasan jarhnya tersebut sehingga dalam hal ini <em>jarhnya tidak diterima dan lebih diunggulkan penta’dilan terhadap Husain bin Yazid.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/220 telah melakukan kekeliruan dimana ia mengikuti Abu Hatim dan mengatakan <em>“layyin al hadis”</em> .Pernyataan Ibnu Hajar tidaklah benar dan beliau telah dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam<em> Tahrir Taqrib At Tahdzib</em> no 1361, dimana mereka berkata</p>
<blockquote><p><em>Perkataan “layyin al hadis” hanyalah mengikuti Abu Hatim dimana ia menyendiri (tafarrud) dalam mengatakannya. Dia (Husain) adalah seorang Syaikh dimana telah meriwayatkan darinya sekelompok orang yang tsiqah dan tsabit. Diantara mereka adalah Abu Dawud dalam Sunannya dan ia tidak memasukkan kedalamnya kecuali yang ia anggap tsiqat, Muslim mengeluarkan dalam As Shahih, Abu Zar’ah Ar Razi, dan telah disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat. Jadi dia(Husain) hadisnya hasan.<br />
</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Husain Salim Asad pentahqiq <em>Musnad Abu Ya’la</em> juga menghasankan hadis Husain bin Yazid Ath Thahan dalam <em>Musnad Abu Ya’la</em> 4/143 no 2201 dan Syaikh Al Albani telah menshahihkan hadisnya dalam <em>Shahih Sunan Tirmidzi </em>no 2546</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sa’id bin Khutsaim Al Hilali</strong><br />
Sa’id bin Khutsaim Abu Ma’mar adalah <em>perawi Tirmidzi dan Nasa’i</em>. Ada yang menyebutnya Sa’id bin Khaitsam. Beliau merupakan <em>perawi yang tsiqat telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Al Ajli, dan Ibnu Hibban. Abu Zar’ah dan An Nasa’i menyatakan “tidak ada cacat” padanya</em>. Ibnu Junaid dalam <em>Su’alat Ibnu Junaid</em> no 617 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سألت يحيى عن سعيد بن خيثم الهلالي فقال شيخ كوفي ليس به بأس ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku bertanya pada Ibnu Ma’in tentang Sa’id bin Khaitsam Al Hilali dan ia berkata Syaikh Kufah, tidak ada masalah dengannya dan tsiqat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Ajli dalam <em>Ma’rifat Ats Tsiqat </em>no 585 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سعيد بن خثيم بن رشد هلالي كوفي ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sa’id bin Khutsaim bin Rasyd Al Hilali, orang kufah yang tsiqat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat </em>juz 6 no 8101 ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سعيد بن خثيم أبو معمر الهلالي من أهل الكوفة وقد قيل إنه من بنى سليط يروى عن جده راشد بن عبد الله وعن أخيه معمر بن خثيم روى عنه جعفر بن حيان</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sa’id bin Khutsaim Abu Ma’mar Al Hilali termasuk Ahli Kufah, dikatakan bahwa ia dari Bani Sulaith. Meriwayatkan dari kakeknya Rasyd bin Abdullah dan saudaranya Ma’mar bin Khutsaim, meriwayatkan darinya Ja’far bin Hayyan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Tirmidzi telah menyatakan shahih hadis Sa’id bin Khutsaim dalam kitabnya<em> Sunan Tirmidzi </em>5/499 no 3443 dan dishahikan pula oleh Syaikh Al Albani dalam<em> Shahih Sunan Tirmidzi</em>. Hal ini juga ditegaskan oleh Ibnu Hajar</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 4 no 32 menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال أبو زرعة لا بأس به وقال النسائي ليس به بأس وذكره بن حبان في الثقات وصحح الترمذي حديثه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Zar’ah berkata “tidak ada cacat” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah”. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat dan At Tirmidzi menshahihkan hadisnya.<br />
</em><br />
Jadi Sa’id bin Khutsaim adalah perawi yang tsiqah seperti yang dikatakan para ulama, cukuplah dikutip penilaian Syaikh Ahmad Syakir terhadap Sa’id bin Khutsaim. Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam <em>Syarh Musnad Ahmad </em>no 1260</p>
<blockquote><p><em>Sa’id bin Khutsaim adalah seorang yang tsiqah. Dia dianggap tsiqah oleh Ibnu Ma’in Al Ajli dan yang lainnya, Tirmidzi juga menshahihkan hadisnya. </em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fudhail bin Marzuq</strong><br />
Fudhail bin Marzuq Al Aghar Ar Raqasy adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam <em>Raf’ul Yadain</em> dan <em>Muslim dalam Shahihnya serta Ashabus Sunan.</em> Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh sekelompok ulama diantaranya <em>Sufyan Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Ibnu Ma’in dan  Al Ajli.</em> Selain itu Fudhail bin Marzuq juga mendapat predikat ta’dil dari <em>Ahmad bin Hanbal, Ibnu Syahin, Ibnu Ady, Al Bukhari dan Muslim. </em>Terdapat sebagian ulama yang membicarakannya seperti Al Hakim, Ibnu Hibban, An Nasa’i dan Abu Hatim tetapi mereka tidak menampilkan alasan yang jelas atas jarhnya ditambah lagi mereka terkadang memberikan predikat ta’dil pula kepada Fudhail bin Marzuq.</p>
<p style="text-align:justify;">Ad Dauri dalam <em>Tarikh Ibnu Ma’in </em>no 1298 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سمعت يحيى يقول فضيل بن مرزوق ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Yahya berkata “Fudhail bin Marzuq tsiqah”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Ajli dalam <em>Ma’rifat Ats Tsiqat </em>no 1488 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">فضيل بن مرزوق جائز الحديث ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Fudhail bin Marzuq hadisnya Ja’iz(boleh) dan tsiqat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 546, Ibnu Hajar menyebutkan dalam biografi Fudhail bin Marzuq.</p>
<h2 style="text-align:right;">قال معاذ بن معاذ سألت الثوري عنه فقال ثقة وقال الحسن بن علي الحلواني سمعت الشافعي يقول سمعت بن عيينة يقول فضيل بن مرزوق ثقة وقال بن أبي خيثمة عن بن معين ثقة وقال عبد الخالق بن منصور عن بن معين صالح الحديث إلا أنه شديد التشيع وقال أحمد لا أعلم إلا خيرا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Muadz bin Muadz berkata aku bertanya kepada Ats Tsauri, ia berkata “tsiqat”. Hasan bin Ali Al Halwani berkata aku mendengar Syafii berkata aku mendengar Ibnu Uyainah berkata “Fudhail bin Marzuq tsiqat”. Ibnu Abi Khaitsamah berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat”. Dan Abdul Khaliq bin Mashur berkata dari Ibnu Ma’in “hadisnya baik hanya saja ia berlebihan dalam tasyayyu’ dan Ahmad berkata “Tidak aku ketahui tentangnya kecuali yang baik”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Ady dalam<em> Al Kamil </em>6/19 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">ولفضيل أحاديث حسان وأرجو أن لا بأس به</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Fudhail hadisnya hasan dan kukira tidak ada masalah pada dirinya.<br />
</em><br />
Dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 7 no 547 Bukhari menyebutkan tentang <em>Fudhail bin Marzuq</em> dan sedikitpun ia tidak mencacatnya. Pada sumber yang lain Bukhari memberikan predikat ta’dil <em>Muqarib Al Hadis</em> pada Fudhail bin Marzuq. Ta’dil ini berada pada tingkatan kelima setingkat dengan <em>shalih al hadis atau hasan al hadis. </em>Hal ini disebutkan dalam <em>Tartib Ilal Tirmidzi Abu Thalib Al Qadhi</em> 1/390 no 81</p>
<h2 style="text-align:right;">قال محمد فضيل بن مرزوق مقارب الحديث</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Muhammad berkata “Fudhail bin Marzuq muqarib al hadis (hadisnya mendekati)”<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembahasan Jarh Fudhail bin Marzuq</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memang terdapat sebagian Ulama yang menjarh Fudhail bin Marzuq. Berikut akan disebutkan mereka yang menjarh Fudhail dalam <em>At Tahdzib </em>juz 8 no 546 yaitu An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Al Hakim.</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال النسائي ضعيف<em> </em></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>An Nasa’i berkata “dhaif”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jarh An Nasa’i ini tidak bisa diterima karena<em> ia tidak menyebutkan alasan yang tepat atas jarhnya padahal Fudhail telah dinyatakan tsiqat dan dita’dilkan oleh banyak ulama.</em> Apalagi ternyata An Nasa’i tidak memasukkan Fudhail dalam kitabnya tentang para perawi dhaif <em>Ad Dhu’afa wal Matrukin</em>.</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال بن أبي حاتم عن أبيه صالح الحديث صدوق يهم كثيرا يكتب حديثه قلت يحتج به قال لا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Abi Hatim berkata dari ayahnya “hadisnya baik, shaduq(jujur) tetapi melakukan banyak kesalahan dalam hadisnya, hadisnya bisa ditulis”.Aku bertanya dapatkah dijadikan hujjah?. Jawabnya “tidak”.<br />
</em><br />
Abu Hatim mengatakan bahwa Fudhail bin Marzuq <em>“tidak bisa dijadikan hujjah” </em>tetapi sebelumnya ia juga mengatakan bahwa <em>Fudhail seorang yang jujur dan hadisnya baik hanya saja sering melakukan kesalahan.</em> Yang perlu diperhatikan adalah Abu Hatim termasuk ulama yang terlalu ketat dalam menjarh, beliau terkadang menjarah para perawi shahih dengan sebutan<em> “tidak bisa dijadikan hujjah”.<br />
</em><br />
Kesalahan dalam hadis Fudhail adalah berkenaan dengan hadis-hadisnya dari Athiyyah Al Aufi seperti yang dikatakan Ibnu Hibban.</p>
<h2 style="text-align:right;">قال بن حبان في الثقات يخطىء وقال في الضعفاء كان يخطئ على الثقات ويروي عن عطية الموضوعات</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Hibban meyebutkan dalam Ats Tsiqat bahwa ia sering salah dan berkata dalam Ad Dhu’afa ia melakukan kesalahan dari para perawi tsiqat dan meriwayatkan dari Athiyyah hadis-hadis palsu.<br />
</em><br />
Athiyyah ini termasuk perawi yang dinyatakan dhaif oleh Abu Hatim dan Ibnu Hibban bahkan Ibnu Hibban mengatakan bahwa <em>Fudhail meriwayatkan dari Athiyyah hadis-hadis palsu. </em>Intinya jarh terhadap Fudhail adalah <em>karena ia banyak meriwayatkan dari Athiyyah dan sebagaimana yang masyhur bahwa Athiyyah meriwayatkan hadis palsu dari Al Kalbi dengan tadlis suyukh. </em>Mengenai Athiyyah telah terdapat pembahasan khusus yang membuktikan bahwa <em>tuduhan tadlis itu adalah tuduhan yang tidak berdasar dan tidak layak untuk dijadikan dasar mencacat Athiyyah apalagi jika dikait-kaitkan dengan Fudhail bin Marzuq sungguh jauh sekali.</em> Mengenai Fudhail bin Marzuq, Ibnu Hibban sendiri mengakui kredibilitasnya dengan memasukkan namanya dalam <em>Ats Tsiqat </em>tetapi beliau juga memasukkan namanya dalam <em>Al Majruhin</em> terkait dengan hadis-hadis Fudhail dari Athiyyah Al Aufi.</p>
<h2 style="text-align:right;">قال مسعود عن الحاكم ليس هو من شرط الصحيح</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Mas’ud berkata dari Al Hakim “tidaklah ia memenuhi syarat shahih”<br />
</em><br />
Jarh Al Hakim tidak bisa diterima karena <em>Al Hakim sendiri telah berhujjah dengan hadis-hadis Fudhail bin Marzuq </em>dalam<em> Al Mustadrak Ash Shahihan</em> seraya berkata <em>“hadis shahih dengan syarat Muslim”.</em> Dapat dilihat dalam <em>Al Mustadrak </em>diantaranya hadis no 1877, 2482, 2974, 3112,4434, 5681.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah Al Aufi</strong><br />
Athiyyah adalah perawi yang mendapat predikat dhaif oleh sebagian ulama. Hal ini dikarenakan tuduhan tadlis suyukh dimana ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari Al Kalbi. Maksudnya adalah ia meriwayatkan hadis dari Al Kalbi dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Sa’id. Orang-orang mengira kalau Abu Sa’id itu adalah Abu Sa’id Al Khudri sahabat Nabi padahal Abu Sa’id itu adalah Al Kalbi seorang pendusta dan pemalsu hadis. Sayang sekali tuduhan ini tidak berdasar dan saya telah membahas tuntas<a title="Analisis Kredibilitas Athiyyah Al Aufi" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/12/04/analisis-terhadap-athiyyah-al-%E2%80%98awfy/" target="_blank"> <em>kredibilitas Athiyyah dalam tulisan yang khusus.</em> </a><strong>Kesimpulannya Hadis Athiyyah adalah hasan dan mereka yang mengatakan dhaif telah keliru.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Fadak di atas telah dinyatakan dhaif oleh <em>Al Haitsami</em> dan <em>Syaikh Husain Salim Asad </em>pentahqiq kitab <em>Musnad Abu Ya’la. </em>Dan satu-satunya alasan pendhaifan mereka adalah kredibilitas Athiyyah Al Aufi. Al Haitsami dalam <em>Majma Az Zawaid</em> 7/139 no 11125 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">رواه الطبراني وفيه عطية العوفي وهو ضعيف متروك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Riwayat Thabrani dan didalamnya ada Athiyyah Al Aufi, ia dhaif matruk.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi <strong><em>Athiyyah adalah perawi yang tsiqah dan hasan hadisnya</em></strong> sedangkan mereka yang mendhaifkan Athiyyah tidak memiliki alasan yang kuat selain Tadlis Suyukh yang ternyata hanyalah tuduhan tak berdasar. Oleh karena itu sudah selayaknya nama Athiyyah dibersihkan. <em>Athiyyah adalah perawi yang hasan hadisnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> .</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kritik Pentahqiq Kitab Lubab An Nuqul</strong><br />
Hadis Fadak di atas ternyata ditulis pula oleh Al Hafiz As Suyuthi dalam kitabnya <em>Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> hal 146 Surah Al Isra. Abdurrazaq Al Mahdi pentahqiq kitab ini mengatakan <em>bahwa hadis tersebut  batil dan sanadnya dhaif jiddan karena Athiyyah Al Aufi dan Fudhail bin Marzuq [komentar riwayat no 639]. </em>Pernyataan Abdurrazaq Al Mahdi adalah keliru dan telah berlalu penjelasan saya bahwa <em>Athiyyah Al Aufi dan Fudhail bin Marzuq adalah perawi yang bisa dijadikan hujjah. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada satu hal yang harus mendapat perhatian dari mereka yang gemar membaca kitab-kitab yang ditahqiq oleh para ulama Salafy yaitu <em>Tidak setiap kesimpulan mereka terhadap suatu hadis adalah benar.</em> Mereka memang mengutip perkataan jarh wat ta’dil dari para ulama dari berbagai kitab Rijal tetapi mereka tidak sepenuhnya konsisten dengan kaidah-kaidah ulumul hadis. Contoh paling jelas dalam hadis di atas adalah <em>Fudhail bin Marzuq</em>. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh para ulama dan jarh terhadapnya tidak memiliki alasan yang kuat dan mengandung kontradiksi. Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad</em> no 1251 berkata</p>
<blockquote><p><em>Fudhail bin Marzuq juga tsiqah. Dia dinyatakan tsiqah oleh Ats Tsauri, Ibnu Uyainah dan yang lainnya. Orang-orang yang mempermasalahkan kredibilitasnya sebenarnya mempermasalahkan hadis yang dia riwayatkan dari Athiyyah Al Aufi.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu penelitian yang mendalam terhadap <em>Fudhail bin Marzuq akan menghasilkan kesimpulan bahwa dia adalah perawi yang tsiqah</em> sedangkan keraguan terhadapnya adalah kembali pada kredibilitas Athiyyah Al Aufi. Jadi sebenarnya cacat bagi hadis Fadak di atas kembali pada tuduhan terhadap Athiyyah Al Aufi. Awalnya saya sendiri sempat meragukan kredibilitas Athiyyah tetapi dengan penelitian dan pembacaan yang berulang-ulang maka saya berpandangan bahwa<em> hadis Athiyyah adalah hasan dan tuduhan terhadapnya tidak berdasar</em> seperti yang telah saya tuliskan dalam pembahasan yang khusus tentang Athiyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akhir kata saya telah membuktikan bahwa para perawi hadis Fadak di atas adalah <em>perawi yang tsiqat dan perawi yang hasan hadisnya. </em>Dalam hal ini saya katakan tidaklah benar bertaklid atas pendapat yang mendhaifkan ketika telah jelas kekeliruannya karena hujjah ditegakkan dengan dasar-dasar yang benar bukan sekedar taklid. <em>Oleh karena itu hadis tersebut sanadnya hasan dan yang mendhaifkan hadis ini telah keliru.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Segala puji bagi Allah SWT akhirnya tulisan ini bisa keluar dari tempat persembunyiannya </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></li>
<li><em>Terimakasih kepada saudara-saudaraku yang memberikan masukannya </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
Posted in Hadis, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1012/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1012&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/22/kedudukan-hadis-%e2%80%9crasulullah-saw-memberikan-fadak-pada-sayyidah-fathimah-as%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Troll</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/18/troll/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/18/troll/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 00:52:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1001</guid>
		<description><![CDATA[
Berbicara dengan banyak orang terkadang menyenangkan dan terkadang pula menyebalkan. Yah tergantung dengan orangnya kan, ada sih orang yang begitu menarik dengan gaya bicara yang baik dan ekspresi yang membuat nyaman dan pada sisi ekstrim lain ada pula orang yang terlalu banyak bicara dengan gaya bicara amburadul dan ekspresinya &#8220;sungguh membuat anda merasa mengapa ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1001&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_1005" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><img class="size-medium wp-image-1005" title="Troll" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/06/troll11.jpg?w=290&#038;h=300" alt="Ekspresinya itu loh" width="290" height="300" /><p class="wp-caption-text">Ekspresinya itu loh</p></div>
<p style="text-align:justify;">Berbicara dengan banyak orang terkadang menyenangkan dan terkadang pula menyebalkan. Yah tergantung dengan orangnya kan, ada sih <em>orang yang begitu menarik</em> dengan gaya bicara yang baik dan ekspresi yang membuat nyaman dan pada sisi ekstrim lain ada pula orang yang terlalu banyak bicara dengan gaya bicara amburadul dan ekspresinya <em>&#8220;sungguh membuat anda merasa mengapa ada orang seperti ini di dunia&#8221;.</em> Mungkin hidup akan terasa indah jika semua orang begitu menyenangkan tetapi faktanya tidak semua orang menyenangkan, oleh karena itu terimalah dengan lapang dada bahwa di dunia ini memang hidup sejenis manusia yang memiliki kelainan <em>&#8220;tidak menyenangkan&#8221; </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> <span id="more-1001"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apa masalahnya?. <em>Masalah itu adalah kesenjangan antara fakta dan harapan.</em> Jika anda banyak berharap maka bersiaplah untuk mendapat banyak masalah. Jangan mengharap bahwa anda bisa berdiskusi ilmiah dengan <em>orang yang tidak tahu apa itu ilmiah</em>, jangan berharap anda akan didengarkan oleh <em>orang yang terlalu banyak bicara,</em> jangan berharap diskusi berjalan dengan santun jika anda berhadapan dengan <em>orang yang main seruduk sana seruduk sini seperti pesakitan yang ketagihan obat.</em> Be cool, pasang tampang afek datar dan perhatikan dengan seksama apakah anda punya celah untuk melemparkan orang tersebut ke luar arena <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja pengalaman merupakan senjata yang paling ampuh untuk berhadapan dengan <em>manusia berpikiran buas </em>seperti ini. Pertama kali mungkin terasa sulit dan biasanya timbul perasaan<em> &#8220;betapa bodohnya meladeni orang seperti itu&#8221;</em>. Kedua kalinya anda akan mengalami <em>&#8220;petit mal&#8221;</em> dan bertanya-tanya <em>&#8220;apa yang telah kulakukan&#8221; </em>dan <em>&#8220;oh Tuhan mengapa aku sekonyol itu, sudah tahu kalau orang seperti itu gak bisa diajak bicara&#8221;</em>. Ketiga kali dan seterusnya akan sama saja atau penyesalan anda akan bertambah buruk <em>jika anda cuma menggerutu saja. </em>Pengalaman yang banyak harus dimanfaatkan, tidak perlu berbelas kasihan dengan orang yang pikirannya buas, anda bisa repot sendiri. Abaikan dan <em>pasang tampang menerawang</em> sambil berusaha memikirkan <em>hal-hal lain yang bisa anda pikirkan</em>. Biasanya makhluk buas itu akan berhenti menggertak anda dan saat dia lengah anda bisa menendang <span style="text-decoration:line-through;"><em>pantat</em></span>nya untuk memuaskan <em>hasrat terpendam yang tak terpuaskan </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin pembaca jadi bingung apa sebenarnya yang saya bicarakan?. Troll sejenis makhluk buas dalam cerita yang pada dasarnya memiliki sifat yang tak pantas untuk dibanggakan. Mereka bisa dibilang agak liar, berbadan besar tapi biasanya punya otak yang kecil. Jika mereka bertarung, serangannya terlalu lebar dan tidak tepat sasaran,<span style="text-decoration:line-through;"><em> tetapi mereka memang mengerikan.</em></span> Nah bayangkan kalau ada manusia berwatak seperti ini, tidak usah jauh-jauh mengeksplorasi lika-liku hatinya cukup dilihat dari caranya berbicara dan berdiskusi dengan orang lain. Orang ini beranggapan bahwa <em>pikiran yang ada dalam kepalanya </em>adalah benar dan <em>apa yang tidak ada dalam kepalanya</em> itu salah. Oleh karena itu jika ia berhadapan dengan <em>orang-orang yang punya pikiran lain</em> dengan <em>yang ada dalam kepalanya</em> maka akan ia serang dengan buas. <em>&#8220;bodoh bener sih gitu aja salah&#8221;</em> atau <em>&#8220;eh makanya belajar dulu yang bener baru ngomong jangan malui-maluin dong tololnya itu&#8221;</em> atau dia akan tertawa terbahak-bahak sehingga semua orang sampai terdiam dan dengan angkuh berkata <em>&#8220;aduh mbok kamu ini ngaca dulu sana kalau mau ngekritik saya, lihat dong nilai kamu aja jeblok jauuuuuuh di bawah saya&#8221; </em><span style="text-decoration:line-through;"><em>saat seperti ini saya biasanya lebih suka memperhatikan ekspresi mereka yang keheranan</em></span>. Saya rasa anda semua sepakat betapa menyebalkannya orang seperti ini. Anehnya karakter seperti ini laku keras dimana-mana bahkan di sinetron-sinetron selalu ada saja yang berperan sebagai Troll. Itulah yang membuat saya malas menonton sinetron <span style="text-decoration:line-through;"><em>tapi kalau ada adegan troll yang dipermalukan tentu sangat menyenangkan untuk ditonton.</em></span><em> </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> <span style="text-decoration:line-through;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam berdiskusi, sering tanpa disadari banyak sekali komentar yang berbau Troll. Seperti biasa mereka tidak setuju dengan pendapat anda dan menganggap anda itu salah. Apa yang terjadi? peduli setan dengan anda, mereka akan mengeluarkan pikiran buasnya <em>wa kadza wa kadza</em>. Seharusnya anda dengan cermat memperhatikan komentar-komentar seperti ini. Perhatikan dengan seksama, apakah dia ini memang troll atau bukan?. Tunggu sampai ada orang lain menanggapinya dan kita lihat sejauh mana diskusi mereka berjalan. Jika anda lihat orang tersebut hanya mau memaksakan pikirannya saja, dia begitu asyik dengan <em>apa yang ada dalam kepalanya</em> tanpa mempedulikan <em>bagaimana argumen orang lain</em>, maka kemungkinan besar anda kedatangan Troll <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Dalam diskusi anda bisa melihat <em>caranya menyerang argumen orang lain</em>, seruduk sana seruduk sini serangannya melebar kemana-mana dan tidak pernah tepat sasaran <em>(sangat tidak legeartis)</em>. Komentarnya biasanya dipenuhi dengan ego yang besar untuk menyalahkan anda, terdapat kata-kata menuduh <em>bahwa anda telah sesat dan menyimpang</em> atau kata-kata <em>anda harus belajar lagi</em> <span style="text-decoration:line-through;"><em>seolah-olah kita belum mempelajari apa yang sudah ia pelajari</em></span> atau kata-kata dan sikap yang meremehkan<em> seperti menertawakan anda atau siapapun yang diajak bicara.</em> Dan perhatikanlah dalam komentarnya itu <em>argumen yang menjadi dasar pikirannya</em>, anda akan melihat porsinya minim sekali atau malah tidak ada. Mungkin dia merasa pikirannya itu tidak perlu didukung bukti macam-macam karena sudah pasti benar atau mungkin ia tidak tahu <em>apa itu yang namanya bukti. </em>Persis seperti Troll <em>berbadan besar tapi berotak kecil</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana menghadapinya? Seperti yang saya katakan sebelumnya, <em>Be cool.</em> Jangan terbawa emosi, santai saja dan dengan datar kita katakan <em>&#8220;selamat datang&#8221;</em>. jika ia berkomentar maka perhatikan isinya jika memang ada &#8220;isinya&#8221; tanggapi dengan seperlunya atau abaikan saja <em>(biasanya lari sendiri kalau tidak ditanggapi).</em> jika serangannya melebar kemana-mana anda tidak perlu ikut-ikutan, sepertinya memang ia mau mengalihkan pembicaraan. Tunggu dan lihat datangnya kesempatan untuk melemparkannya keluar arena. Ada saja nanti saat dimana pertolongan Tuhan datang, kesempatan untuk mengulitinya habis-habisan. Selain itu ada cara yang lebih unik yang diajarkan teman saya <em>Kasmir&#8217;s knight</em>. Tanggapi terus Troll itu ajak dia bicara terus, jika ia melebar kemana-mana ikuti dengan sabar dan terus ajak ia bicara, biarkan Troll itu merasa menang. Ajak terus bicara dan pelan-pelan giring ke jurang, selagi ia merasa menang anda tinggal dorong sedikit dan yah tibalah kehancurannya <span style="text-decoration:line-through;"><em>cara yang agak kejam</em></span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Semakin banyak bicara maka semakin banyak pikirannya yang keluar, semakin terlihat gayanya yang amburadul, semakin jelas <em>cara pikirnya yang tidak jelas, </em>semakin nyata bahwa yang ia yakini hanya <em>sekumpulan data yang menjadi benar</em> hanya karena <em>data itu ada dalam kepalanya.</em> Ajak terus ia bicara dan giringlah ia untuk menentang pikirannya sendiri. Troll yang biasa sangat ampuh dengan <em>Pedang Kontradiksi</em>. Mereka bisa cukup terluka dengan kenyataan <em>bahwa serangan mereka berbalik menyerang mereka sendiri. </em>Troll tidak terbiasa memikirkan dengan baik semua yang mereka ucapkan karena mereka hanya menyerang tanpa tentu arah dan jika anda cerdik maka arahkan serangan itu ke mukanya sendiri dengan cara <em>Ajak bicara terus dan giring. </em>Ini cara yang unik dan menurut saya <em>&#8220;brilian&#8221;</em> walaupun memerlukan kemampuan khusus dan terlatih. <em>Usap-usap kepala KK, ah kau pintar juga masbro sudah saatnya kau menggantikanku</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Yah kita cukupkan disini dulu tips-tipsnya. Troll yang biasa tidak terlalu sulit untuk dihadapi tetapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para Troll juga mengalami evolusi dan bermutasi menjadi <em>Troll yang tidak biasa.</em> Mereka para Troll <em>belajar memahami logika manusia</em> tetapi tidak secara utuh sehingga lahirlah Manusia separuh Troll, <em>tampaknya logis tapi ujung-ujungnya Nge-Troll.</em> Untuk jenis ini kita bahas di lain kesempatan,  akhir kata <em>&#8220;jangan terlalu serius&#8221; </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Posted in Cerita, Iseng  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1001/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1001&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/18/troll/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/06/troll11.jpg?w=290" medium="image">
			<media:title type="html">Troll</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Rasulullah SAW  Baik Hidup Maupun Wafat ; Studi Kritis Hadis Tawassul.</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 15:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987</guid>
		<description><![CDATA[Kemuliaan Rasulullah SAW  Baik Hidup Maupun Wafat ; Studi Kritis Hadis Tawassul.
Mayoritas Ahlussunnah menghalalkan tawassul tetapi terdapat sebagian kelompok yang katanya Ahlussunnah pula yaitu Salafy dan pengikutnya yang mengharamkan tawassul. Salafy atau yang lebih dikenal dengan Wahabi sangat mengecam yang namanya tawassul kepada Rasulullah SAW. Menurut salafy, tawassul datang ke kubur Nabi SAW dan meminta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=987&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong>Kemuliaan Rasulullah SAW  Baik Hidup Maupun Wafat ; Studi Kritis Hadis Tawassul.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mayoritas <em>Ahlussunnah menghalalkan tawassul</em> tetapi terdapat sebagian kelompok yang katanya Ahlussunnah pula yaitu <em>Salafy dan pengikutnya</em> yang mengharamkan tawassul. Salafy atau yang lebih dikenal dengan Wahabi sangat mengecam yang namanya <em>tawassul kepada Rasulullah SAW</em>. Menurut salafy, <em>tawassul datang ke kubur Nabi SAW dan meminta agar Rasulullah SAW mendoakan termasuk hal yang syirik.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Telah sampai kabar kepada saya bahwa diantara <em>alasan mereka mengharamkan tawassul </em>adalah karena <em>Rasulullah SAW sudah wafat dan sudah tidak bisa mendoakan lagi. </em>Dengan kata lain mereka berpandangan bahwa ketika Rasulullah SAW hidup maka <em>bertawassul dengan meminta Beliau SAW untuk mendoakan</em> itu dibolehkan tetapi setelah Beliau SAW wafat maka itu tidak diperbolehkan.<span id="more-987"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan seperti ini jelas sekali kebatilannya karena terdapat dalil yang shahih dari Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Beliau SAW tetap bisa mendoakan kendati Beliau SAW sudah wafat. Hadis tersebut diriwayatkan Al Bazzar dalam <em>Musnad Al Bazzar</em> no 1925 atau <em>Kasyf Al Astar Zawaid Musnad Al Bazzar</em> 1/397 no 845</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا يوسف بن موسى قال  نا عبد المجيد بن عبد العزيز بن أبي رواد عن سفيان عن عبد الله بن السائب عن زاذان عن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن لله ملائكة سياحين يبلغوني عن أمتي السلام وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم حياتي خير لكم تحدثون ونحدث لكم ووفاتي خير لكم تعرض علي أعمالكم فما رأيت من خير حمدت الله عليه وما رأيت من شراستغفرت الله لكم</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad dari Sufyan dari Abdullah bin Sa’ib dari Zadzan dari Abdullah dari Nabi SAW yang bersabda “Allah SWT memiliki malaikat yang berkeliling menyampaikan kepadaku salam dari umatku” dan Rasulullah SAW kemudian bersabda <strong>“Hidupku baik bagi kalian, kalian menyampaikan dariku dan akan ada yang disampaikan dari kalian. Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini adalah <em>hadis yang shahih</em> dan diriwayatkan oleh para perawi shahih sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama diantaranya Al Haitsami, Al Hafiz Al Iraqi dan Al Hafiz As Suyuthi.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Haitsami dalam <em>Majma’ Az Zawaid</em> 8/594 no 14250 juga menyebutkan hadis Abdullah bin Mas’ud ini dan berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">رواه البزار ورجاله رجال الصحيح</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis riwayat Al Bazzar dan para perawinya adalah perawi shahih.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Hafiz Al Iraqi dalam <em>Tharh Tatsrib Fi Syarh Taqrib</em> 3/275 membawakan hadis ini dan berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وروى أبو بكر البزار في مسنده بإسناد جيد عن ابن مسعود رضي الله عنه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan Abu Bakar Al Bazzar dalam Musnadnya dengan sanad yang jayyid(bagus) dari Ibnu Mas’ud radiallahuanh<br />
</em><br />
Al Hafiz As Suyuthi dalam <em>Khasa’is Kubra</em> 2/281 menyatakan bahwa hadis ini shahih</p>
<h2 style="text-align:right;">وأخرج البزار بسند صحيح من حديث ابن مسعود مثله</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dikeluarkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang Shahih dari hadis Ibnu Mas’ud.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kritik Salafy dan Jawabannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para pengikut salafiyun menyatakan <em>bahwa hadis ini dhaif,</em> kebanyakan mereka hanya mengulang pendapat Syaikh mereka Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadis Ad Dhaifah</em> no 975. Syaikh Al Albani mengatakan bagian pertama hadis tersebut <em>bahwa Malaikat menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW adalah shahih</em> dan diriwayatkan dengan berbagai jalan dari Sufyan dan ‘Amasy. Sedangkan bagian lainnya hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad sendiri. Oleh karena itu menurut Syaikh Albani tambahan itu syadz ditambah lagi Abdul Majid telah dibicarakan oleh sebagian ulama bahwa ia sering salah. Intinya Syaikh Al Albani menyatakan b<em>ahwa hadis Ibnu Mas’ud oleh Abdul Majid itu khata’ (salah).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Syaikh Al Albani tersebut tidak seluruhnya benar. Memang bagian awal hadis tersebut telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Sufyan dan ‘Amasy yang dapat dilihat dalam <em>Sunan Nasa’i </em>1/189, <em>Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani</em> 10/219-2210 hadis no 10528,10529 dan 10530, <em>Mushannaf Abdurrazaq</em> 2/215 no 3116. Sedangkan bagian akhir hadis tersebut yang memuat kata-kata Rasulullah SAW <em>“hidupku baik untuk kalian”</em> diriwayatkan oleh Abdul Majid dari Sufyan dari Abdullah bin Sa’ib dari Zadzan dari Ibnu Mas’ud. Selain itu tambahan ini juga diriwayatkan secara mursal oleh Bakr bin Abdullah Al Muzanni dengan jalan sanad yang tidak satupun memuat nama Abdul Majid yang artinya <em>Abdul Majid tidak menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini.</em> Oleh karena itu <strong><em>riwayat Abdul Majid lebih merupakan ziyadah tsiqah yang diterima dan bukanlah tambahan yang syadz. </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kredibilitas Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam usahanya mendhaifkan hadis tersebut, Syaikh Al Albani menunjukkan kelemahan pada Abdul Majid yaitu <em>bahwa ia sering salah dan telah dibicarakan oleh sebagian ulama. </em>Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah <em>perawi yang tsiqah, justru mereka yang membicarakannya itu telah keliru</em>. Diantara mereka yang mengkritik Abdul Majid tidak ada satupun dari mereka menunjukkan alasan yang kuat .</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama Yang Menta’dil Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>At Tahdzib Ibnu Hajar</em> jilid 6 no 724 disebutkan bahwa <em>Abdul Majid adalah perawi hadis dalam Shahih Muslim.</em> Hal ini berarti Imam Muslim memberikan predikat ta’dil kepadanya. Abdul Majid telah dinyatakan tsiqah oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Nasa’i dan Al Khalili.</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أحمد ثقة وكان فيه غلو في الإرجاء</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ahmad berkata dia tsiqat dan berlebihan dalam Irja’</em></p>
<h2 style="text-align:right;">قال عبد الله بن أحمد بن حنبل عن بن معين ثقة ليس به بأس وقال الدوري عن بن معين ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat laisa bihi ba’sun” dan Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat’.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الآجري عن أبي داود ثقة حدثنا عنه أحمد ويحيى بن معين قال يحيى كان عالما بابن جريج قال أبو داود وكان مرجئا داعية في الإرجاء</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Ajuri berkata dari Abu Dawud “tsiqah, diceritakan kepada kami dari Ahmad dan Yahya bin Main , Yahya berkata “ia paling mengetahui tentang Ibnu Juraij”. Abu Dawud berkata “ia seorang Murjiah dan menyebarkan paham irja’ </em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال النسائي ثقة وقال في موضع أخر ليس به بأس</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>An Nasa’i berkata “tsiqat” dan di saat yang lain ia berkata “tidak ada masalah”.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الخليل ثقة لكنه أخطأ في أحاديث</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Khalili berkata “tsiqat dan melakukan kesalahan dalam hadis”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Syahin memasukkan <em>Abdul Majid sebagai perawi tsiqah </em>dalam kitabnya <em>Tarikh Asma’ Ats Tsiqah</em> no 978. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/612 memberikan predikat <em>shaduq tetapi sering salah</em> dan Adz Dzahabi dalam <em>Mizan ‘Al Itidal </em>no 5183 mengatakan bahwa <em>dia seorang yang jujur dan penganut paham Murjiah.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama Yang Menjarh Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara mereka yang membicarakan Abdul Majid terdapat nama-nama Bukhari, Al Humaidi, Abu Hatim, Muhammad bin Yahya, Daruquthni, Abdurrazaq dan Ibnu Hibban. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan alasan yang kuat untuk mendhaifkan Abdul Majid. Dalam kitab <em>At Tahdzib</em> Ibnu Hajar jilid 6 no 724 disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال البخاري كان يرى الإرجاء كان الحميدي يتكلم فيه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Bukhari berkata dia penganut paham irja’ dan Al Humaidi membicarakannya</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال أبو حاتم ليس بالقوي يكتب حديثه وقال الدارقطني لا يحتج به يعتبر به</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Hatim berkata “tidak kuat dan dapat ditulis hadisnya” dan Daruquthni berkata “tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat dijadikan i’tibar atau pendukung”</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال العقيلي ضعفه محمد بن يحيى وقال أبو أحمد الحاكم ليس بالمتين عندهم وقال بن سعد كان كثير الحديث مرجئا ضعيف</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Uqaili berkata “Muhammad bin Yahya melemahkannya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat” dan Ibnu Saad berkata “banyak meriwayatkan hadis, Murjiah dan dhaif”.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال بن حبان كان يقلب الأخبار ويروي المناكير عن المشاهير فاستحق الترك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Hibban berkata “dia sering membolak balik riwayat, meriwayatkan hadis-hadis munkar dari orang-orang terkenal oleh karena itu riwayatnya ditinggalkan”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kritikan Ibnu Hibban ini telah dinyatakan berlebihan oleh Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/612 ketika berkata tentang Abdul Majid</p>
<h2 style="text-align:right;">صدوق يخطئ وكان مرجئا أفرط بن حبان فقال متروك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Jujur tetapi sering salah, dia seorang murjiah. Ibnu Hibban berlebihan ketika mengatakan ia matruk.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Analisis Jarh Wat Ta’dil</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ilmu hadis jika kita dihadapkan pada <em>seorang perawi yang mendapat jarh dari sebagian ulama dan ta’dil oleh sebagian ulama lain </em>maka hendaknya jarh tersebut bersifat mufassar atau dijelaskan karena jika tidak maka jarh tersebut tidak diterima dan perawi tersebut mendapat predikat ta’dil. Selain itu <em>alasan jarh tersebut haruslah alasan yang tepat sebagai jarh</em> bukan dicari-cari atau dikarenakan sentimen mahzab dan sebagainya sehingga perawi yang tertuduh tersebut memang layak untuk mendapat predikat cacat.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah melihat berbagai jarh atau kritikan Ulama terhadap Abdul Majid maka kritikan tersebut dapat kita kelompokkan menjadi</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Ulama yang mencacatkan Abdul Majid karena ia penganut paham Murjiah </em></li>
<li><em>Ulama yang mencacatkan Abdul Majid karena kesalahannya dalam hadis dan meriwayatkan hadis munkar</em></li>
<li><em>Ulama yang mencacatkan Abdul Majid tanpa menyebutkan alasan jarhnya.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perawi Murjiah Yang Tsiqat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pencacatan seorang perawi karena menganut paham Murjiah tidaklah dibenarkan dan sebenarnya sebagian mereka yang mencacat tersebut diam-diam mengakui akan hal ini. Misalnya saja Al Bukhari memasukkan nama Abdul  Majid ke dalam <em>Dhuafa As Shaghir</em> no 239 dan yang tertulis disana</p>
<h2 style="text-align:right;">عبد المجيد بن عبد العزيز بن أبي رواد أبو عبد الحميد مولى الأزد كان يرى الإرجاء عن أبيه وكان الحميدي يتكلم فيه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad Abu Abdul Hamid mawla Al Azdi menganut paham irja’ dari ayahnya dan Al Humaidi membicarakannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ini seolah-olah menunjukkan bahwa Bukhari menyatakan dhaif pada perawi yang Murjiah tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Dalam kitab <em>Dhu’afa</em> tersebut no 24 Al Bukhari menuliskan</p>
<h2 style="text-align:right;">أيوب بن عائذ الطائي سمع الشعبي وقيس بن مسلم روى عنه بن عيينة كان يرى الإرجاء وهو صدوق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ayub bin ‘Aidz Ath Tha’i mendengar dari Sya’bi dan Qais bin Muslim, meriwayatkan darinya Ibnu Uyainah, ia menganut paham irja’ dan ia shaduq (jujur)<br />
</em><br />
<em>Ayub bin ‘Aidz seorang perawi yang menganut paham irja’</em> tetap dikatakan sebagai <em>shaduq atau jujur </em>oleh Bukhari dan Ayub ini disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 1 no 746 bahwa beliau perawi Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i. Ayub juga telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i, Abu Dawud, Ali bin Madini dan Al Ajli. Oleh karena itu <em>menganut paham Irja’</em> bukanlah suatu cacat yang mendhaifkan bahkan Bukhari sendiri dalam Shahihnya meriwayatkan hadis <em>perawi yang menganut paham Irja’ </em>seperti Ayub bin ‘Aidz.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain tindakan Bukhari <em>yang memasukkan nama Abdul Majid dalam kitabnya Adh Dhu’afa</em> bukan karena ia meragukan kredibilitasnya tetapi karena <em>paham Irja’ yang dianut Abdul Majid</em> seperti halnya Bukhari <em>memasukkan nama Ayub bin A’idz ke dalam kitabnya Adh Dhu’afa</em> padahal diketahui Bukhari sendiri mengakui kredibilitas Ayub dengan meriwayatkan hadis Ayub dalam Shahihnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa diperkirakan bahwa kebanyakan mereka yang menolak riwayat Abdul Majid atau mencacatnya adalah dikarenakan paham irja’ yang dianut oleh Abdul Majid. Ibnu Ady dalam <em>Al Kamil</em> 5/346 berkata tentang Abdul Majid</p>
<h2 style="text-align:right;">وعامة ما أنكر عليه الإرجاء</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan kebanyakan mereka yang menolaknya adalah karena Irja’</em></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu <em>mereka yang mencacatkan Abdul Majid tanpa menyebutkan alasannya </em>bisa dimasukkan dalam kategori ini seperti Abu Hatim, Abu Ahmad Al Hakim, Al Humaidi, Ibnu Saad <em>(ketika mencacat Abdul Majid, Ibnu Sa’ad menyebutkan paham Irja’ Abdul Majid) </em>dan Daruquthni<em> (dalam kitab Sunan Daruquthni 1/311 no 33, Daruquthni malah menyatakan tsiqat kepada Abdul Majid).</em> Padahal telah diketahui bahwa pencacatan karena mahzab seperti Irja’ tidaklah diterima. Adz Dzahabi dalam <em>Man Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq</em> 1/124 no 220 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">عبد المجيد بن عبد العزيز بن أبي رواد المدني م على ثقة مرجى ء داعية غمزه ابن حبان</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad Al Madani (perawi Muslim) seorang yang tsiqat. Dia seorang Murjiah yang menyebarkan pahamnya seperti yang diisyaratkan Ibnu Hibban.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah, Adz Dzahabi kendati ia mengetahui bahwa <em>Abdul Majid seorang Murjiah</em> yang menyebarkan pahamnya, beliau tetap menyatakan Abdul Majid tsiqat, Ini berarti paham Irja’ sedikitpun tidak merusak kredibilitas Abdul Majid sebagai perawi hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Analisis Kesalahan Abdul Majid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain Irja’, cacat yang lain yang disematkan kepada Abdul Majid adalah <em>kesalahannya dalam meriwayatkan hadis </em>sehingga terkesan ia meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan ulama lain sehingga <em>hadisnya dinilai mungkar. </em>Tuduhan seperti ini tidaklah benar. <em>Kesalahan yang dilakukan Abdul Majid adalah kesalahan yang bisa dilakukan oleh siapapun dan pada dasarnya kesalahan yang ia lakukan baru bertaraf dugaan bahwa ia salah.</em> Abdul Majid pernah satu kali meriwayatkan hadis yang dinilai salah dan mungkar oleh para ahli hadis. Dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 6 no 724 disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الساجي روى عن مالك حديثا منكرا عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار عن أبي سعيد الأعمال بالنيات وروى عن بن جريج أحاديث لم يتابع عليها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>As Saji berkata “dia meriwayatkan hadis dari Malik yaitu hadis munkar dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abi Sa’id bahwa Amal tergantung niat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Khalili dalam<em> Al Irsyad</em> 1/76 no 20 setelah menyatakan <em>bahwa Abdul Majid tsiqah dan melakukan kesalahan dalam hadis</em>, beliau mengutip hadis Malik di atas. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesalahan yang dimaksud Al Khalili itu adalah hadis Malik tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengapa Abdul Majid dinilai salah dalam meriwayatkan hadis tersebut?</strong>, Hadis tersebut pada matannya shahih dan diriwayatkan dengan jalan yang shahih dengan sanad dari <em>Malik dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrahim Al Taimi dari Alqamah dari Umar RA.</em> Hadis ini telah disebutkan oleh para huffaz dengan sanad seperti itu dari Malik tetapi Abdul Majid meriwayatkan dari Malik dengan sanad yang berbeda yaitu <em>dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id RA. </em>Oleh karena itulah Abdul Majid dinilai salah dan hadisnya dinyatakan mungkar karena menyelisihi para perawi lain. Padahal hadis Abdul Majid dan yang lainnya memiliki matan yang sama hanya saja sanadnya berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya ini disebut sebagai kesalahan maka kesalahan ini hanya bersifat dugaan semata karena siapa yang bisa memastikan <em>bahwa hadis Malik dari Abdul Majid itu bermasalah.</em> Bukankah masih ada kemungkinan <em>bahwa Abdul Majid memang meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad demikian?. </em>Taruhlah itu sebagai kesalahan lantas apakah tepat menjadikan satu kesalahan ini sebagai cacat Abdul Majid sehingga <em>jika ia meriwayatkan hadis lain maka hadisnya mesti diragukan. </em>Tentu saja tidak karena kesalahan seperti itu adalah kesalahan yang bisa dilakukan oleh siapapun atau perawi tsiqah manapun.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua penjelasan di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa <em>Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah seorang yang tsiqah,</em> sedangkan cacat yang ditujukan kepadanya oleh sebagain orang tidaklah merusak hadis yang ia riwayatkan walaupun ia meriwayatkan secara tafarrud. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam <em>Tahrir Taqrir At Tahdzib</em> no 4160 menyatakan <strong><em>Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad tsiqah, </em></strong>mereka berkata</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><img class="aligncenter size-full wp-image-995" title="Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/06/abdul-majid-bin-abdul-aziz-bin-abi-rawad1.jpg?w=468&#038;h=130" alt="Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad" width="468" height="130" /><br />
</em></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Ia adalah seorang yang tsiqah, kesalahan dalam hadisnya adalah sebagaimana orang lain juga bisa salah dan ia orang yang paling tsabit mengenai riwayat Ibnu Juraij. Dan ia dikecam  orang-orang karena menganut paham Irja’ dan mereka mendhaifkannya karena sebab itu. Ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Main, Abu Dawud, Nasa’i dan Al Khalili. Ibnu Ady berkata “kebanyakan mereka yang menolaknya karena paham Irja’ yang dianutnya”.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Bakr bin Abdullah Al Muzanni</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis di atas ternyata tidak hanya diriwayatkan oleh Abdul Majid. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh <em>Bakr bin Abdullah Al Muzanni </em>dengan sanad yang shahih sampai ke Bakr bin Abdullah. Qadhi Ismail bin Ishaq dalam kitab <em>Fadhail Shalatu Ala Nabi</em> no 25 dan no 26 meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا سليمان بن حرب ، قال : ثنا حماد بن زيد ، قال : ثنا غالب القطان ، عن بكر بن عبد الله المزني : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghalib al Qattan dari Bakr bin Abdullah Al Muzani bahwa Rasulullah SAW bersabda</em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحجاج بن المنهال ، قال ثنا حماد بن سلمة ، عن كثير أبي الفضل ، عن بكر بن عبد الله : أن رسول الله</h2>
<h2 style="text-align:right;">صلى الله عليه وسلم قال</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Katsir Abi Thufail dari Bakr bin Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><br />
Syaikh Al Albani dalam tahqiqnya terhadap kitab <em>Fadhail Shalatu Ala Nabi </em>no 25 mengatakan <em>“isnadnya mursal shahih”.</em> Begitu pula ketika mengomentari hadis no 26 <em>“Para perawinya adalah perawi Muslim kecuali Katsir bin Abi Thufail”.</em> Katsir Abi Thufail atau Katsir bin Yasar disebutkan Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> jilid 7 no 928 tanpa menyebutkan cacatnya. Dalam <em>Lisan Al Mizan</em> jilid 4 no 1535, Ibnu Hajar menyebutkan <em>bahwa ia dikenal dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.</em> Hal ini cukup untuk menyatakan ia orang yang terpercaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian disebutkan pula oleh Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih dalam <em>Thabaqat Ibnu Sa’ad</em> 2/194</p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا يونس بن محمد المؤدب أخبرنا حماد بن زيد عن غالب عن بكر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Muhammad Al Mu’addib yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ghalib dari Bakr bin Abdullah yang berkata Rasulullah SAW bersabda<br />
</em><br />
<em>Hadis Bakr bin Abdullah Al Muzani adalah hadis mursal</em> karena beliau adalah seorang tabiin yang dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i,Abu Zar’ah, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 1 no 889. <em>Hadis Bakr bin Abdullah merupakan petunjuk bahwa Abdul Majid tidak menyendiri ketika meriwayatkan hadis ini.</em> Lihatlah sanad-sanad hadis Bakr bin Abdullah tidak ada satupun yang memuat nama Abdul Majid.</p>
<p style="text-align:justify;">.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan yang cukup panjang ini, yaitu</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Hadis tersebut sanadnya Shahih<br />
</em></li>
<li><em>Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah perawi tsiqah<br />
</em></li>
<li><em>Abdul Majid tidak menyendiri ketika meriwayatkan hadis ini karena hadis ini telah diriwayatkan pula secara mursal oleh Bakr bin Abdullah.</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Salam damai</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi dengan saudara firstprince dan kasmir&#8217;s knight</em></li>
<li><em>Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan kemudahan untuk belajar hidup dengan normal, <span style="text-decoration:line-through;">memangnya selama ini gak normal </span></em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Kepada seseorang yang berinisial SK, yah saya doakan semoga yang kau lakukan benar-benar kau pikirkan dengan baik </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/987/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/987/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/987/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/987/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/987/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/987/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/987/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/987/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/987/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/987/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=987&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>70</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/06/abdul-majid-bin-abdul-aziz-bin-abi-rawad1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Menjual Khamr  dan Tahrif Imam Bukhari?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/11/sahabat-nabi-yang-menjual-khamr-dan-tahrif-imam-bukhari/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/11/sahabat-nabi-yang-menjual-khamr-dan-tahrif-imam-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 13:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=971</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Menjual Khamr  dan Tahrif Imam Bukhari?
Di antara para Sahabat Nabi SAW tidak diragukan lagi terdapat orang-orang yang mulia dan patut diteladani. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh terhadap apa yang telah diajarkan oleh sang Baginda Rasulullah SAW. Walaupun begitu, para Sahabat Nabi SAW bukanlah orang yang selalu benar dan ada diantara mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=971&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat Nabi Yang Menjual Khamr  dan Tahrif Imam Bukhari?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara para Sahabat Nabi SAW tidak diragukan lagi terdapat orang-orang yang mulia dan patut diteladani. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh terhadap <em>apa yang telah diajarkan oleh sang Baginda Rasulullah SAW</em>. Walaupun begitu, para Sahabat Nabi SAW bukanlah orang yang selalu benar dan ada diantara mereka yang perilakunya tidak patut untuk diteladani. Salah satu contoh perilaku tersebut adalah <em>Menjual Khamar</em>.<span id="more-971"></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Shahih Sahabat Nabi Menjual Khamr</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa terdapat sahabat Nabi SAW yang menjual Khamar. Hal ini dapat dilihat dalam kitab <em>Musnad Ahmad</em> 1/25 no 170</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سفيان عن عمرو عن طاوس عن بن عباس ذكر لعمر رضي الله عنه أن سمرة وقال مرة بلغ عمر أن سمرة باع خمرا قال قاتل الله سمرة إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعن الله اليهود حرمت عليهم الشحوم فجملوها فباعوها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Thawus dari Ibnu Abbas “Disebutkan kepada Umar bahwa Samurah – suatu kali dikatakan- Umar menerima berita bahwa <strong>Samurah menjual Khamr</strong>. Umar berkata <strong>“Allah memerangi Samurah”.</strong> Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Allah melaknat kaum Yahudi ketika diharamkan lemak kepada mereka, kemudian mereka mencairkannya menjadi minyak dan menjualnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad no 170</em> menyatakan bahwa hadis ini sanadnya shahih. Begitu pula yang ditegaskan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam <em>Musnad Ahmad</em> Syarh beliau, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">إسناده صحيح على شرط الشيخين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Samurah bin Jundub Sahabat Nabi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Samurah yang dimaksud dalam hadis di atas adalah Samurah bin Jundub. Dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> jilid 4 no 2400, Imam Bukhari berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سمرة بن جندب الفزاري له صحبة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Samurah bin Jundub Al Fazari seorang sahabat Nabi</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/395 menyatakan kalau Samurah adalah seorang sahabat Nabi. Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf</em> no 2146 juga mengatakan kalau Samurah seorang sahabat Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tahrif Imam Bukhari Dalam Shahihnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Kitab <em>Shahih Bukhari</em> 3/82 hadis no 2223</p>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَالَ أَخْبَرَنِي طَاوُسٌ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ فُلَانًا بَاعَ خَمْرًا فَقَالَ قَاتَلَ اللَّهُ فُلَانًا أَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا<em> </em></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar yang berkata telah mengabarkan kepadaku Thawus yang mendengar dari Ibnu Abbas Radiallahuanhu, yang berkata “telah sampai berita kepada Umar b<strong>ahwa Fulan menjual Khamr. </strong>Umar berkata <strong>“Allah memerangi Fulan”.</strong> Tidakkah ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW bersabda “Allah memerangi kaum Yahudi ketika diharamkan lemak kepada mereka, kemudian mereka mencairkannya menjadi minyak dan menjualnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Shahih Bukhari</em>, Imam Bukhari telah melakukan sedikit perubahan pada hadis tersebut. Beliau meriwayatkan hadis tersebut dengan menyebutkan <em>orang yang menjual Khamr</em> sebagai <em>“Fulan”,</em> padahal orang yang dimaksud adalah <em>Samurah bin Jundub.</em> Imam Bukhari kembali menyebutkan hadis tersebut dalam kitabnya <em>Shahih Bukhari</em> 4/170 hadis no 3460 dan disini juga beliau menyebutkan dengan kata “Fulan”. Terdapat bukti-bukti bahwa Imam Bukhari melakukan perubahan terhadap hadis tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut telah diriwayatkan oleh banyak ahli hadis lain dan mereka dengan jelas menyebutkan nama Samurah. Diantara para ahli hadis tersebut adalah</p>
<ul>
<li>Imam Muslim dalam kitab <em>Shahih Muslim</em> 3/1207 hadis no 1582 meriwayatkan hadis tersebut dari <em>Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb </em>dan <em>Ishaq bin Ibrahim</em> dari <em>Sufyan bin Uyainah.</em></li>
<li>Ibnu Majah dalam <em>Shahih Sunan Ibnu Majah</em> Syaikh Al Albani hadis no 2728 yang meriwayatkan dari <em>Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Sufyan</em></li>
<li>An Nasa’I dalam <em>Shahih Sunan Nasa’i</em> Syaikh Al Albani hadis no 4257 yang meriwayatkan dari <em>Ishaq bin Ibrahim dari Sufyan</em></li>
<li>Imam Ahmad dalam <em>Musnad Ahmad</em> 1/25 no 170 di atas dari <em>Sufyan bin Uyainah</em>. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Syu’aib.</li>
<li>Al Humaidi dalam <em>Musnad Al Humaidi</em> 1/9 no 13 yang meriwayatkan dari <em>Sufyan bin Uyainah</em>. Syaikh Husain Salim Asad berkata <em>“sanadnya shahih”</em></li>
<li>Ad Darimi dalam <em>Sunan Ad Darimi</em> 2/156 hadis no 2104 meriwayatkan dari <em>Muhammad bin Ahmad dari Sufyan</em>. Syaikh Husain Salim Asad berkata <em>“sanadnya shahih”</em></li>
<li>Ibnu Hibban dalam <em>Shahih Ibnu Hibban</em> 14/146 no 6253 meriwayatkan dari <em>Ahmad bin Ali dari Abu Khaitsamah dan Abu Said keduanya dari Sufyan.</em> Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata <em>“sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”</em></li>
<li>Abu Ya’la dalam <em>Musnad Abu Ya’la</em> 1/178 no 200 meriwayatkan dari <em>Abu Khaitsamah dan Abu Said dari Sufyan.</em> Syaikh Husain Salim Asad berkata <em>“sanadnya shahih”</em></li>
<li>Al Baihaqi dalam <em>Sunan Baihaqi</em> 6/12 no 10827 meriwayatkan dari <em>Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf Al Asbahani dari Abu Said Ahmad bin Muhammad bin Ziyad dari Hasan bin Muhammad bin Shabah dari Sufyan</em>. Al Baihaqi berkata <em>“diriwayatkan Bukhari dari Al Humaidi dalam Shahihnya dan Muslim dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dan yang lainnya, semuanya dari Sufyan”</em>.</li>
<li>Abdurrazaq dalam <em>Mushannaf Abdurrazaq</em> 6/75 hadis no 10046 dan <em>Mushannaf</em> 8/195 hadis no 14854 meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Semua riwayat hadis ini yang disebutkan para huffaz benar-benar membuktikan bahwa Sufyan bin Uyainah memang menyebutkan nama <em>Samurah</em> dan <em>Al Humaidi</em> salah satu perawi yang meriwayatkan dari Sufyan juga jelas-jelas menyatakan nama Samurah. Anehnya Imam Bukhari yang menerima hadis tersebut dari gurunya Al Humaidi justru hanya menyebut nama <em>“fulan”</em>. Hadis dalam <em>Musnad Al Humaidi</em> merupakan bukti jelas bahwa Imam Bukhari memang sengaja melakukan sedikit perubahan yaitu <em>beliau hanya menyebut fulan dan tidak mau menyebutkan nama Samurah</em>. Berikut hadis tersebut dalam <em>Musnad Al Humaidi</em> 1/9 no 13</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحميدي ثنا سفيان ثنا عمرو بن دينار قال أخبرني طاوس سمع بن عباس يقول بلغ عمر بن الخطاب أن سمرة باع خمرا فقال قاتل الله سمرة ألم يعلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعن الله اليهود حرمت عليهم الشحوم فجملوها فباعوها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar yang berkata telah mengabarkan kepadaku Thawus yang mendengar dari Ibnu Abbas yang berkata “telah sampai kepada Umar berita bahwa <strong>Samurah menjual Khamar. </strong>Umar berkata <strong>“Allah memerangi Samurah”. </strong>Tidakkah dia mengetahui bahwa Rasulullah SAW bersabda “Allah melaknat kaum yahudi ketika diharamkan lemak kepada mereka, kemudian mereka mencairkannya menjadi minyak dan menjualnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah, hadis dalam <em>Musnad Al Humaidi</em> dan <em>Shahih Bukhari</em> keduanya diriwayatkan para perawi yang sama dengan lafal sighat yang sama pula. Hadis dalam <em>Musnad Al Humaidi</em> membuktikan bahwa Al Humaidi ketika menyebutkan atau meriwayatkan hadis tersebut, beliau dengan jelas menyebutkan nama <em>Samurah </em>kepada murid-muridnya termasuk Imam Bukhari. Sayangnya ketika menuliskan hadis tersebut dalam kitab Shahihnya, Imam Bukhari melakukan perubahan <em>dengan mengganti nama Samurah dengan kata <em>“fulan”.</em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saya pribadi tidak bisa memastikan apa alasannya.<em> Apakah mungkin Imam Bukhari ingin menyembunyikan nama Sahabat yang menjual Khamr tersebut?.</em> Yah mungkin saja dan tindakan seperti ini patut disayangkan muncul dari Ahli hadis sekaliber Imam Bukhari. Saya jadi teringat dengan beberapa orang yang mengatakan <em>bahwa Imam Bukhari seorang mudallis</em>, apakah riwayat ini adalah salah satu alasan yang membuat mereka menghukum <em>Bukhari sebagai seorang mudallis?</em> <em>Wallahu’ alam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul>
<li><em>Tulisan ini melewati fase pengeditan tetapi anehnya tidak ada satupun yang diedit <span style="text-decoration:line-through;">ah sombong nih</span> </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Bagi yang ingin mengoreksi atau memberi masukan, dipersilakan dengan segala hormat </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
Posted in Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/971/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=971&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/11/sahabat-nabi-yang-menjual-khamr-dan-tahrif-imam-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inkonsistensi Dalam Pembahasan Tentang Syiah, Tasyayyu’, Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem ; Menggugat Antirafidhah.</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 01:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962</guid>
		<description><![CDATA[Inkonsistensi Dalam Pembahasan Tentang Syiah, Tasyayyu’, Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem ; Menggugat Antirafidhah.
Terdapat beberapa orang yang menanggapi tulisan saya Sahabat Nabi Yang Rafidhah Ekstrem Dan Percaya Raj&#8217;ah?. Diantara mereka ada yang berpandangan bahwa Ta’dil pada Amir bin Watsilah Abu Thufail sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia bukan Rafidhah ekstrem. Tulisan ini merupakan koreksi atas cara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=962&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Inkonsistensi Dalam Pembahasan Tentang Syiah, Tasyayyu’, Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem ; Menggugat Antirafidhah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat beberapa orang yang menanggapi tulisan saya <em>Sahabat Nabi Yang Rafidhah Ekstrem Dan Percaya Raj&#8217;ah?</em>. Diantara mereka ada yang berpandangan bahwa <em>Ta’dil pada Amir bin Watsilah Abu Thufail sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia bukan Rafidhah ekstrem.</em> Tulisan ini merupakan koreksi atas cara berpikir mereka yang keliru dalam berhujjah.</p>
<p style="text-align:justify;">Antirafidhah berkata</p>
<blockquote><p><em>Jadi apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm maupun Ibn Qutaybah adalah tidak kuat dibandingkan dengan apa yg dikatakan oleh sebagian besar Ulama Jarh wa Ta’dil di atas</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanggapan </strong>: tidak diragukan kalau Abu Thufail seorang sahabat, hal inipun diakui oleh Ibnu Qutaibah sendiri tetapi beliau tetap memasukkan Abu Thufail sebagai Rafidhah ekstrem. Kalau seandainya <em>kedudukan Sahabat sudah cukup untuk membuktikan kalau seseorang bukan Rafidhah ekstrem</em> lantas mengapa Ibnu Qutaibah tetap memasukkannya ke dalam nama Rafidhah ekstrem. Apakah Ibnu Qutaibah tidak mengetahui kaidah umum yang sangat dikenal di kalangan Sunni <em>“Semua sahabat adalah adil”.</em> Sungguh mustahil kalau seorang Ibnu Qutaibah tidak mengetahuinya.<span id="more-962"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Hazm dan Ibnu Qutaibah keduanya menyatakan bahwa Abu Thufail percaya dengan Raj’ah</em> dan disini saudara antirafidhah berusaha menolak pernyataan ini dengan dalih bahwa pernyataan tersebut dibantah oleh Ibnu Hajar. Beliau menukil perkataan Ibnu Hajar dalam <em>Tahdzib At Tahdzib</em> 5/82 yaitu</p>
<blockquote><p><em>Ibn Hajar berkata: “Abu Muhammad ibn Hazm memandang Amir sebagai orang yang jelek, ia mendha’ifkan hadits-haditsnya.” Lebih lanjut Ibn Hajar mengatakan: “Dia memiliki riwayat hadits yang pilihan. Ia seorang sahabat, tak syak lagi. Tidak ada pengaruhnya tuduhan orang atas dirinya, apalagi jika tuduhan itu hanya bersifat emosional semata. </em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bisa dipastikan kalau orang yang berkedok antirafidhah ini tidak membaca kitab At Tahdzib tersebut, karena dalam kitab <em>At Tahdzib</em> 5/82 no 135 <em>biografi Amir bin Watsilah</em> yang ia katakan tidak terdapat keterangan seperti itu, so darimana dia menukil. Menurut perkiraan saya, ia menukil dari sumber sekunder dari tulisan <em>“sunni yang sunni” </em>Mahmud Az Za’by  yang  beredar di internet. Hal ini jelas sekali dapat dilihat dari kata-kata setelahnya.</p>
<blockquote><p><em>Ringkasnya, para ulama sepakat bahwa Amir adalah seorang sahabat yang adil dan tsiqat. Semua sahabat, menurut ulama Sunni, adalah adil. Ulama hadits tidak menemukan sesuatu pada diri Amir yang dapat merusak sifat adil dan tsiqatnya.<br />
Adapun tuduhan bahwa ia Syi’ah, itu artinya ia berpendapat bahwa kebenaran ada di pihak ‘Ali, sewaktu dia berselisih dan berperang dengan Mu’awiyah. Sudah saya jelaskan bahwa hal seperti itu banyak terjadi di kalangan sahabat. Karena itu, sebagian dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits Amir.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nukilan di atas adalah perkataan Mahmud Az Za’by dalam <em>“sunni yang sunni” </em>hal 56. Anehnya antirafidhah itu seenaknya saja mengatakan bahwa kutipan Ibnu Hajar tentang Ibnu Hazm tersebut berasal dari <em>At Tahdzib</em>. Kutipan yang ia maksud tidak ada di <em>At Tahdzib</em> tetapi Ada dalam <em>Hady As Sari</em> 1/412</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو محمد بن حزم فضعف أحاديث أبي الطفيل وقال كان صاحب راية المختار الكذاب وأبو الطفيل صحابي لا شك فيه ولا يؤثر فيه قول أحد ولا سيما بالعصبية والهوى</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Muhammad bin Hazm mendhaifkan hadis-hadis Abu Thufail dan berkata “dia pembawa panji Mukhtar Al Kadzab. Abu Thufail tidak diragukan lagi kalau ia sahabat, dan tidak ada gunanya perkataan seseorang terhadapnya karena terdorong oleh ashabiyah dan hawa nafsu semata.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Silakan diperhatikan, sedikitpun Ibnu Hajar tidak menyinggung soal <em>Abu Thufail yang Rafidhah dan percaya dengan Raj’ah. </em>Ibnu Hajar menolak <em>sikap Ibnu Hazm yang mendhaifkan hadis Abu Thufail</em> karena tidak diragukan Abu Thufail seorang sahabat. Secara prinsip ilmu hadis jika didapatkan ta’dil dan jarh terhadap seorang perawi maka jarh tersebut akan diunggulkan jika dijelaskan sebab-sebabnya. Ibnu Hazm telah menyebutkan sebab ia mendhaifkan hadis Abu Thufail yaitu<em> karena ia seorang pembawa panji Mukhtar dan percaya Raj’ah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang pertanyaannya adalah <em>Apakah kedua alasan ini cukup mengugurkan ta’dil terhadap Abu Thufail?.</em> Sekarang coba perhatikan apa yang ditulis oleh Ibnu Hazm dalam <em>Al Muhalla </em>dan perkataan Ibnu Hazm yang dikutip oleh Ibnu Hajar.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Al Muhalla</em>, Ibnu Hazm berkata</p>
<h2 style="text-align:justify;">أن أبا الطفيل صاحب راية المختار، وذكر أنه كان يقول بالرجعة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Thufail pembawa panji Mukhtar dan dikatakan percaya Raj&#8217;ah</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Hady As Sari</em> perkataan Ibnu Hazm yang dikutip Ibnu Hajar</p>
<h2 style="text-align:justify;">وقال كان صاحب راية المختار</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Thufail pembawa panji Mukhtar</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lihat dengan baik, Ibnu Hajar meninggalkan atau tidak mengutip <em>soal Raj’ah</em> yang dikatakan Ibnu Hazm. Kenapa? Apakah karena beliau tidak mau mengungkapkannya atau karena beliau menganggap itu bukan sebab yang tepat untuk mendhaifkan hadis Abu Thufail. Dalam <em>Hady As Sari</em> Ibnu Hajar tidak mengutip soal Raj’ah yang disebutkan Ibnu Hazm, padahal jika memang Ibnu Hajar menolak atau membantah soal ini maka sudah sepatutnya ia menjelaskan tentang itu, tidak adanya pembahasan tentang Raj’ah menunjukkan Ibnu Hajar tidak membantah bahwa <em>“Abu Thufail percaya Raj’ah” (ditambah lagi hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah)</em> tetapi menurut beliau hal itu tidak membuat hadis-hadis Abu Thufail menjadi dhaif karena beliau adalah seorang Sahabat. Hanya ini yang dapat kita simpulkan dari perkataan Ibnu Hajar yang sangat singkat tersebut. Anehnya si antirafidhah itu malah seenaknya mengambil kesimpulan bahwa perkataan Ibnu Hazm dan Ibnu Qutaibah lemah, padahal diantara mereka yang menyatakan Abu Thufail sahabat tidak ada yang membantah soal pernyataan Ibnu Hazm dan Ibnu Qutaibah bahwa <em>“Abu Thufail percaya Raj’ah”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Antirafidhah ini berkata</p>
<blockquote><p><em>Baiklah kita lihat penilaian Ibnu Hajar mengenai Rafidhah:<br />
Menurut ibn Hajar, Tasyayyu’ adalah sikap mencintai ‘Ali dan memandangnya lebih utama dari para sahabat lain. Dan bila di antara sahabat-sahabat itu termasuk Abu Bakar dan ‘Umar, maka tasyayyu’nya ekstrim, dan biasanya disebut paham Rafidhah. Tetapi jika sikap tadi tidak memandang ‘Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu hanya disebut Syi’ah. Namun, jika sikap tersebut ditambah rasa benci dan makian terhadap Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu menjadi paham rafadh ekstrim. Kalau kemudian dilengkapi dengan kepercayaan bahwa ‘Ali bakal muncul kembali ke dunia, maka rafadh-nya menjadi sangat ekstrim.” (Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2)</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanggapan</strong> : sekarang antirafidhah menukil perkataan Ibnu Hajar dalam <em>Hady As Sari, </em>lagi-lagi saya meragukan kalau ia membaca sendiri kitab tersebut, anehnya beliau tidak menyebutkan halaman berapa kutipan yang ia sebutkan itu berada. Dalam Hady As Sari 1/459 Ibnu Hajar berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Tasyayyu adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding  semua sahabat lain, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah, Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem dan jika mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita kelompokkan perkataan Ibnu Hajar</p>
<ul>
<li> <em>Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding semua sahabat lain</em></li>
<li><em> Tasyayyu’ ekstrem adalah Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar</em></li>
<li><em> Syiah adalah Tasyayyu’ tanpa mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar</em></li>
<li><em> Rafidhah adalah Tasyayyu’ ekstrem</em></li>
<li><em> Rafidhah ekstrem adalah Mencela Abu Bakar dan Umar</em></li>
<li><em> Rafidhah sangat ekstrem adalah Percaya dengan Raj’ah</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kemudian antirafidhah menukil</p>
<blockquote><p><em>Ibn Hajar berkata: “Pelaku bid’ah itu ada yang menjadi kafir dan fasiq. Bahwa perbuatan bid’ah ada yang menjadikan pelakunya kafir, ini disepakati oleh para ulama. Misalnya, (bid’ah) pada ajaran Rafidhah ekstrim. Sebagian Rafidhah meyakini bahwa Tuhan telah mengambil tempat pada diri ‘Ali dan lainnya. Menurut mereka, ‘Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiamat. Syi’ah Imamiyah juga meyakini kebangkitan kembali Imam Muhammad ibn Hasan al-Askari berikut para pendukung maupun musuhnya, sebelum hari kiamat. Mereka ini tergolong kaum Rafidhah ekstrim yang dipandang kafir lantaran bid’ahnya, dan karenanya, riwayat mereka ditolak.” (Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2, hal. 143)</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dasar logika antirafidhah adalah Ibnu Hajar menganggap bahwa Rafidhah esktrem dipandang kafir lantaran bid’ahnya diantaranya mereka yang percaya Raj’ah. Nah dengan dasar ini ia megatakan Ta’dil Ibnu Hajar terhadap Abu Thufail sudah cukup menggugurkan kalau Abu Thufail Rafidhah ekstrem dan percaya Raj’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara berhujjah seperti ini hanya dilakukan oleh mereka yang tidak pernah membaca langsung kitab <em>Rijalul hadis. Perkataan Ibnu Hajar di atas hanyalah bersifat teoretis belaka yang tidak bisa diterapkan ke dalam kitab-kitab rijal.</em> Bahkan beliau Ibnu Hajar menyalahi kaidah yang ia buat sendiri di atas dalam pembahasannya terhadap para perawi hadis yang dapat dilihat dalam kitabnya <em>At Tahdzib </em>dan <em>At Taqrib</em>. Berikut saya akan membuktikan dimana Ibnu Hajar menyalahi dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Metode pembuktian yang akan saya lakukan adalah sederhana, kita melihat <em>para perawi hadis yang dikatakan mempercayai Raj’ah</em> dalam <em>Tahdzib At Tahdzib </em>sekaligus dilihat komentar para ulama tentangnya. Karena kitab tersebut adalah kitab Ibnu Hajar maka sudah pasti ia mengetahui dengan jelas <em>bahwa perawi tersebut dikatakan mempercayai Raj’ah </em>karena nyata-nyata ia menuliskannya dalam At Tahdzib. Kemudian saya akan melihat kesimpulan Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em>. Kaidah Ibnu Hajar yang dikutip antirafidhah di atas menyatakan bahwa <em>Mereka yang percaya Raj’ah akan disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah sangat ekstrem</em> dan dipandang kafir karena bid’ahnya tersebut. Inilah nama-nama perawi yang menggugurkan hujjah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jabir bin Yazid Al Ju’fi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jabir adalah perawi hadis Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan mempercayai Raj’ah. Dalam <em>At Tahdzib </em>jilid 2 no 75 didapatkan banyak perkataan ulama tentang Jabir. Dari yang menganggapnya tsiqat, shaduq, dhaif sampai sangat dhaif. Tetapi inti yang akan kita ambil adalah <em>bahwa ia percaya Raj’ah</em> bukan masalah kredibilitasnya karena hal itu akan memakan tempat yang khusus. Di antara mereka yang mengatakan kalau Jabir mempercayai Raj’ah dalam <em>At Tahdzib</em> adalah Ibnu Qutaibah</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال بن قتيبة في كتابه مشكل الحديث كان جابر يؤمن بالرجعة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Qutaibah berkata dalam kitabnya Musykil Al Hadis, Jabir percaya dengan Raj’ah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi Jabir bin Yazid Al Ju’fi adalah seorang yang percaya dengan Raj’ah maka merujuk ke hipotesis sebelumnya, sudah pasti Ibnu Hajar akan menganggap Jabir bin Yazid Al Ju’fi sebagai Rafidhah sangat ekstrem. Tetapi apa yang Ibnu Hajar tulis dalam<em> At Taqrib</em> 1/154</p>
<h2 style="text-align:right;">جابر بن يزيد بن الحارث الجعفي أبو عبد الله الكوفي ضعيف رافضي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Jabir bin Yazid bin Al Harits Al Ju’fi Abu Abdullah Al Kufi seorang Rafidhah yang dhaif.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke kutipan dalam <em>Hady As Sari</em>, bukankah Rafidhah bagi Ibnu Hajar adalah Tasyayyu’ ekstrem yaitu Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Bukankah mereka yang percaya Raj’ah seharusnya disebut Rafidhah sangat ekstrem. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat perkataan Al Ajli dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 2 no 75</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال العجلي كان ضعيفا يغلو في التشيع وكان يدلس</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Ajli berkata, Jabir dhaif, Tasyayyu’ ekstrem dan melakukan tadlis</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah ini salah satu bukti bahwa kutipan Ibnu Hajar dalam <em>Hady As Sari</em> justru tidak digunakan oleh Ibnu Hajar sendiri dan ulama lainnya. Anehnya Antirafidhah itu dengan bangga berhujjah dengan kutipan Ibnu Hajar dalam <em>Hady As Sari.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Utsman bin Umair</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Utsman bin Umair Abu Yaqzhan juga salah seorang perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam <em>At Tahdzib</em> Ibnu Hajar jilid 7 no 293 disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">عن أبي أحمد الزبيري كان الحارث بن حصين وأبو اليقظان يؤمنان بالرجعة ويقال كان يغلو في التشيع</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abu Ahmad Az Zubairi &#8220;Al Harits bin Hushain dan Abu Yaqzhan percaya dengan Raj’ah dan dikatakan Tasyayyu’ ekstrem</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em><br />
Ibnu Ady juga berkata tentang Utsman bin Umair</p>
<h2 style="text-align:right;">غال في التشيع يؤمن بالرجعة ويكتب حديثه مع ضعفه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Tasyayyu’ ekstrem percaya dengan Raj’ah ditulis hadisnya dan dia dhaif.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi kita lihat para ulama tetap menyebut <em>mereka yang percaya Raj’ah dengan sebutan Tasyayyu’ ekstrem</em> padahal menurut Ibnu Hajar dalam <em>Hady As Sari </em>orang yang percaya Raj’ah adalah <em>Rafidhah yang sangat ekstrem</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat ucapan Ibnu Hajar sendiri dalam<em> At Taqrib</em> 1/663</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو اليقظان الكوفي الأعمى ضعيف واختلط وكان يدلس ويغلفي التشيع</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Yaqzhan Al Kufi dhaif ikhtilat, melakukan tadlis dan tasyayyu’ esktrem.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan Ibnu Hajar tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem, beliau menyebut <em>Utsman bin Umair tasyayyu’ ekstrem.</em> Begitulah fakta yang terjadi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Al Harits bin Hushairah Al Azdi</strong><br />
Beliau adalah perawi hadis Bukhari dalam <em>Adab Al Mufrab</em> dan Nasa’i dalam <em>Al Khasa’is.</em> Al Harits bin Hushairah Abu Nu’man Al Kufi juga perawi yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 2 no 236 disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال أبو أحمد الزبيري كان يؤمن بالرجعة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Ahmad Az Zubairi berkata “dia percaya Raj’ah”.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الدارقطني شيخ للشيعة يغلو في التشيع وقال الآجري عن أبي داود شيعي صدوق ووثقه العجلي وابن نمير</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Daruquthni berkata “Syaikh Syiah Tasyayyu’ esktrem “ dan Al Ajri berkata dari Abu Daud “seorang syiah yang shaduq” dan dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli dan Ibnu Numair.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan, Menurut Daruquthni, Al Harits adalah <em>Syiah yang Tasyayyu&#8217; ekstrem</em>. Maka lihatlah kembali pengelompokkan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari di atas. Ibnu Hajar berkata</p>
<ul>
<li><em> Tasyayyu’ ekstrem adalah Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar</em></li>
<li><em> Syiah adalah Tasyayyu’ tanpa mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar</em></li>
</ul>
<p>Artinya  jika seseorang dikatakan Tasyayyu&#8217;<em> </em>ekstrem berarti <em>ia mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar</em> dan jika seseorang dikatakan Syiah ia mengutamakan Ali di atas sahabat lain tetapi<em> tidak mengutamakan Ali diatas Abu Bakar dan Umar. </em>Sangat tidak mungkin kalau dikatakan ia <em>Syiah Tasyayyu&#8217; ekstrem,</em> jadi kaidah Ibnu Hajar dalam <em>Hady As Sari</em> ini tidak dikenal oleh Daruquthni.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Harits bin Hushairah telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasai, Al Ajli, Ibnu Numair. Ibnu Hibban juga memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat.</em> Jadi kendati ia percaya Raj’ah beliau tetap dinyatakan tsiqat. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>1/173 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو النعمان الكوفي صدوق يخطئ ورمي بالرفض</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Nu’man al Kufi shaduq tetapi sering salah, rafidhah</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar tentu mengetahui kalau Al Harits percaya dengan raj’ah karena hal itu beliau tulis sendiri dalam <em>At Tahdzib</em> tetapi dalam <em>At Taqrib</em> beliau tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem tetapi rafidhah saja. Dan bagaimana mungkin seseorang akan mengkafirkan Al Harits karena ia percaya Raj’ah sungguh mustahil.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muslim bin Nadzir</strong><br />
Beliau adalah perawi Bukhari dalam <em>Adab Al Mufrad</em>, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 10 no 258 Ibnu Hajar mengutip Ibnu Sa’ad yang berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">كان قليل الحديث ويذكرون أنه كان يقول بالرجعة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ia memiliki sedikit hadis dan dikatakan kalau ia percaya Raj’ah.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau dianyatakan oleh Abu Hatim dengan sebutan <em>la ba’sa bihi (tidak ada masalah)</em>, dinyatakan shaduq oleh Abu Dawud dan dimasukkan Ibnu Hibban dalam <em>Ats Tsiqat.</em> Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>2/181 berkata <em>“maqbul”(diterima hadisnya).</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua contoh yang telah saya sebutkan sudah cukup untuk menggugurkan hujjah antirafidhah bahwa <em>Ibnu Hajar membedakan rafidhah dengan rafidhah ekstrem atau Ibnu Hajar tidak menerima hadis Rafidhah ekstrem.</em> Para perawi di atas dikatakan <em>percaya dengan Raj’ah </em>dan Ibnu Hajar hanya menyebut mereka Rafidhah saja dan ada diantara mereka yang tetap Ibnu Hajar katakan <em>shaduq atau maqbul hadisnya.</em> Jadi <em>ta’dil Ibnu Hajar tidaklah menggugurkan Rafidhahnya seorang perawi atau menggugurkan bahwa seorang perawi percaya Raj’ah.</em> Kredibilitas seorang perawi tidak ditentukan oleh apakah ia Rafidhah atau percaya Raj’ah tetapi ditentukan oleh kejujuran dan hafalannya. Jadi sangat mungkin seorang Rafidhah dan percaya Raj’ah tetap diberikan predikat ta’dil oleh Ibnu Hajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada hal yang lucu yang muncul dari seseorang yang berkedok <em>imem,</em> ketika saya membantah <em>antirafidhah</em> dengan menunjukkan seorang perawi Rafidhah yang masyhur yaitu Abbad bin Yaqub yang dikatakan Ibnu Hajar sebagai shaduq, imem itu malah berkata</p>
<blockquote><p><em>dari definisi Ibnu Hajar di atas dpt disimpulkan rafidhah yg ada pada diri Abbad adalah Tasyayyu’ ekstrim, yaitu sikap mencintai ‘Ali dan memandangnya lebih utama dari para sahabat lain termasuk Abu Bakar dan Umar di dalamnya tetapi dengan tidak disertai kebencian kepada keduanya.., maka jika syarat shaduq terpenuhi, bisa diterima riwayatnya, lagian kan Ibnu Hajar tidak mengatakan bahwa si Abbad ini seorang sahabat. Jadi Abbad ini bukanlah termasuk Rafidhah Ekstrim yg didefinisikan Ibnu Hajar di atas : jika sikap tersebut ditambah rasa benci dan makian terhadap Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu menjadi paham rafadh ekstrim. Kalau kemudian dilengkapi dengan kepercayaan bahwa ‘Ali bakal muncul kembali ke dunia, maka rafadh-nya menjadi sangat ekstrim. Maka jika Abu Thufail ini benar percaya sama akidah Raj’ah (menurut Ibnu Hazm &amp; Ibnu Quthaibah) maka dia bisa digolongkan Rafidhah sangat ekstrim menurut definisi Ibnu Hajar. Dan hal tersebut tidaklah mungkin karena terbukti Ibnu Hajar menta’dil dia dan membantah Ibnu Hazm. </em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Imem ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar membedakan para perawi hadis yang Rafidhah dan Rafidhah ekstrem. Kita sudah menunjukkan kekeliruan akan pendapat ini, Ibnu Hajar tidak membedakan apa yang ia katakan tentang <em>Jabir Al Ju’fi yang percaya Raj’ah dengan Abbad bin Yaqub. </em>Keduanya disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah bedanya yang satu dhaif dan yang satu shaduq. Ibnu Hajar tidak menyebut mereka yang percaya Raj’ah sebagai Rafidhah ekstrem dan kita telah tunjukkan bahwa diantara mereka yang percaya Raj’ah ada yang ditetapkan oleh Ibnu Hajar sebagai shaduq dan maqbul, bukankah ini berarti percaya dengan Raj’ah itu tidak membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif. Tetapi saya rasa para pembaca yang terhormat tidak perlu kecewa karena sudah tentu kita masih bisa melihat dalih-dalih lain dari antirafidhah atau imem. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Kritik Syiahphobia  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/962/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/962/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/962/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/962/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/962/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/962/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/962/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/962/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/962/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/962/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=962&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Rafidhah Ekstrem Dan Percaya Raj’ah?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/07/sahabat-nabi-yang-rafidhah-ekstrem-dan-percaya-raj%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/07/sahabat-nabi-yang-rafidhah-ekstrem-dan-percaya-raj%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 16:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Rafidhah Ekstrem Dan Percaya Raj’ah
Rafidhah, kata yang sudah cukup dikenal bukan. Sebagian orang menganggap kata itu bermakna buruk sehingga mereka benar-benar Antirafidhah dan sebagian yang lain mungkin tidak bersikap anti terhadap Rafidhah. Anehnya Rafidhah sering dicampuradukkan dengan kata Syiah dan Tasyayyu’. Secara pribadi saya juga mengalami kesulitan untuk menentukan batasannya, yah semoga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=955&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat Nabi Yang Rafidhah Ekstrem Dan Percaya Raj’ah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rafidhah, kata yang sudah cukup dikenal bukan. Sebagian orang menganggap kata itu bermakna buruk sehingga mereka benar-benar Antirafidhah dan sebagian yang lain mungkin tidak bersikap anti terhadap Rafidhah. Anehnya Rafidhah sering dicampuradukkan dengan kata Syiah dan Tasyayyu’. Secara pribadi saya juga mengalami kesulitan untuk menentukan batasannya, yah semoga dalam waktu yang lain kesulitan ini dapat benar-benar teratasi. Tulisan ini bisa dibilang sentilan yang cukup mengganggu bagi mereka para Antirafidhah yang kebanyakan merupakan para wahabi alias salafiyun. <em>Bagi saya pribadi tulisan ini hanyalah wacana untuk memperluas wawasan saja.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span id="more-955"></span><br />
.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><br />
<strong>Amir bin Watsilah Sahabat Nabi SAW</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara orang-orang yang disebutkan oleh para Ulama sebagai sahabat Nabi SAW ternyata terdapat sahabat yang dikatakan <em>Rafidhah Ekstrem</em>. Sahabat  yang dimaksud adalah <em>Abu Thufail</em> yang nama aslinya <em>Amr bin Watsilah.</em> Dalam <em>Hady As Sari Muqaddimah Fath Al Bari</em> 1/412 Ibnu Hajar menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">عامر بن واثلة أبو الطفيل الليثي المكي أثبت مسلم وغيره له الصحبة وقال أبو علي بن السكن روى عنه رؤيته لرسول الله صلى الله عليه وسلم من وجوه ثابتة ولم يرو عنه من وجه ثابت سماعه وروى البخاري في التاريخ الأوسط عنه أنه قال أدركت ثمان سنين من حياة النبي صلى الله عليه وسلم وقال بن عدي له صحبة وكان الخوارج يرمونه باتصاله بعلي وقوله بفضله وفضل أهل بيته وليس بحديثه بأس</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Amir bin Watsilah Abu Thufail Al Laitsi Al Makki, Imam Muslim dan yang lainnya mengatakan bahwa dia seorang sahabat Nabi. Abu Ali bin Sakan berkata “diriwayatkan kalau ia melihat Rasulullah SAW dengan sanad-sanad yang kuat walaupun tidak ada riwayat kalau dia mendengar langsung dari Nabi SAW. Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh Al Awsath bahwa Amir berkata “Aku menemui delapan tahun dari hidup Nabi SAW”.  Ibnu Adiy berkata “dia seorang sahabat Nabi”. Khawarij mengusirnya karena kedekatannya dengan Ali dan perkataannya yang selalu mengagungkan Ali dan mengagungkan Ahlul Bait. Tidak ada masalah dengan hadisnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/464 juga mengatakan kalau <em>Abu Thufail seorang sahabat Nabi</em>, dan Ibnu Hajar juga memasukkan biografi Abu Thufail dalam <em>Al Ishabah</em> 7/230 no 10160. Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf </em>no 2548 juga menyatakan kalau <em>Abu Thufail seorang sahabat Nabi</em>. Jadi tidak diragukan lagi kalau <em>Amir bin Watsilah Abu Thufail seorang sahabat Nabi SAW.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Amir bin Watsilah Abu Thufail Rafidhah Ekstrem</strong><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Ibnu Qutaibah Al Dinawari dalam kitabnya <em>Al Ma’arif </em>hal 295 memasukkannya ke dalam nama-nama Rafidhah Ekstrem. Ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أسماء الغالية من الرافضة</h2>
<h2 style="text-align:right;">أبو الطفيل صاحب راية المختار، وكان آخر من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم موتاً. وأبو عبد الله الجدلي. وزرارة بن أعين. وجابر الجعفي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Nama-nama Rafidhah Ekstrem<br />
Abu Thufail pembawa panji Mukhtar, dia orang yang terakhir wafat diantara mereka yang pernah melihat Rasulullah SAW. Abu Abdullah Al Jadali, Zurarah bin A’yan dan Jabir Al Ju’fi.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Ibnu Qutaibah diatas menegaskan bahwa dia mengakui <em>kalau Abu Thufail seorang sahabat Nabi SAW</em> dan beliau tetap memasukkannya ke dalam golongan <em>Rafidhah ekstrem</em> <em>(ghuluw)</em> yang dalam hal ini satu kelompok dengan <em>Jabir Al Ju’fi</em>. Jabir Al Ju’fi adalah perawi yang dinyatakan dhaif oleh cukup banyak ulama dan dikabarkan bahwa  <em>Jabir meyakini Raj’ah.</em> Mungkin alasan ini juga yang membuat Ibnu Qutaibah menyatakan <em>Abu Thufail sebagai Rafidhah ekstrem.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Amir bin Watsilah Abu Thufail Percaya Raj&#8217;ah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Amir bin Watsilah Abu Thufail dikabarkan percaya dengan Raj&#8217;ah. Dalam <em>Al Ma’arif</em> hal 152-153, Ibnu Qutaibah sebelumnya menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو الطفيل رضي الله تعالى عنه</h2>
<h2 style="text-align:right;">هو أبو الطفيل عامر بن واثلة رأى النبي صلى الله عليه وسلم وكان آخر من رآه موتاً ومات بعد سنة مائة وشهد مع علي المشاهد كلها وكان مع المختار صاحب رايته، وكان يؤمن بالرجعة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Thufail Radiallahuta’ala anhu<br />
Dia Abu Thufail Amir bin Watsilah, melihat Nabi SAW dan dia orang yang terakhir wafat dari mereka yang melihat Nabi SAW, wafat tahun 100 H, ikut berperang bersama Ali, ia pembawa panji Mukhtar dan ia orang yang percaya dengan Raj’ah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hazm Al Andalusi dalam <em>Al Muhalla</em> 3/174 juga mengatakan hal yang sama, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أَنَّ أَبَا الطُّفَيْلِ &#8221; صَاحِبُ رَايَةِ الْمُخْتَارِ &#8221; وَذُكِرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ بِالرَّجْعَةِ</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Thufail, pembawa panji Mukhtar, dikatakan bahwa ia percaya Raj’ah.<br />
</em><br />
Jadi bagaimana ya? Kok bisa seorang Sahabat Nabi SAW dikatakan <em>Rafidhah ekstrem (ghuluw)</em>, apalagi juga dikatakan <em>kalau ia percaya dengan Raj’ah</em>. Bukankah bagi salafy wahabi ini kesesatan yang nyata?. Bukankah bagi salafy wahabi, <em>Rafidhah itu adalah pendusta</em>?. Atau justru sebaliknya? Bukankah <em>semua sahabat itu adil</em> dan <em>sangat besar kemuliaannya</em>?, yah saya serahkan semuanya kepada pembaca masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul>
<li><em>Sebentar lagi saya akan bicara, <span style="text-decoration:line-through;">memangnya sebelumnya tidak bisa</span> </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></li>
<li><em>Terimakasih sudah cukup bersabar </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
Posted in Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/955/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/955/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/955/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/955/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/955/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/955/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/955/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/955/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/955/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/955/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=955&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/07/sahabat-nabi-yang-rafidhah-ekstrem-dan-percaya-raj%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Kritis Imam Ali Menamakan Putranya Abu Bakar, Umar dan Utsman.</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/05/studi-kritis-imam-ali-menamakan-putranya-abu-bakar-umar-dan-utsman/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/05/studi-kritis-imam-ali-menamakan-putranya-abu-bakar-umar-dan-utsman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 10:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=948</guid>
		<description><![CDATA[Studi Kritis Imam Ali Menamakan Putranya Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Tulisan ini tidak memiliki tujuan khusus kecuali hanya untuk memberikan deskripsi yang jelas dan analisis terhadap masalah yang sering diributkan oleh para Salafiyun. Salafiyun mengangkat masalah ini untuk menyerang mahzab Syiah, dimana jika Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman maka itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=948&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Studi Kritis Imam Ali Menamakan Putranya Abu Bakar, Umar dan Utsman.<br />
</strong><br />
Tulisan ini tidak memiliki tujuan khusus kecuali hanya untuk memberikan deskripsi yang jelas dan analisis terhadap masalah yang sering diributkan oleh para Salafiyun. Salafiyun mengangkat masalah ini untuk menyerang mahzab Syiah, dimana jika <em>Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman </em>maka itu berarti <em>Imam Ali mengagumi dan berhubungan baik dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman.</em> Saya tidak membela siapa-siapa disini, tugas saya hanya memaparkan data yang jelas dan mengoreksi kekeliruan asumsi-asumsi yang ada. Mengenai pandangan saya sendiri terhadap ketiga khalifah maka bagi saya <em>“tidak ada masalah”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Benarkah <em>Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman?.</em> Tentu untuk menjawab masalah ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan studi literatur. Untuk memudahkan pembahasan maka akan dibahas satu persatu.<span id="more-948"></span><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Putra Imam Ali Yang Bernama Abu Bakar</strong><br />
Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khuraasy salah seorang Ulama Salafy  yang mengecam Syiah dalam kitabnya <em>As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq</em> hal 7 mengatakan dengan pasti bahwa <em>Imam Ali menamakan anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman yaitu nama ketiga khalifah</em>. Ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">علي رضي الله عنه كما في المصادر الشيعية يسمِّي أحد أبنائه من زوجته ليلى بنت مسعود الحنظلية  باسم أبي بكر، وعلي رضي الله عنه أول من سمَّى ابنه  بأبي بكر في بني هاشم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ali radiallahuanhu yang menjadi rujukan Syiah menamakan salah satu dari anak-anaknya dari istrinya Laila binti Mas’ud dengan nama Abu Bakar, dan Ali radiallahuanhu adalah yang pertama dari Bani Hasyim yang menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jika melihat catatan kaki dalam kitab tersebut maka dapat dilihat bahwa Syaikh Sulaiman mengutip dari Kitab <em>Al Irsyad </em> <em>Syaikh Mufid,</em> Kitab <em>Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani </em>dan <em>Tarikh Al Yaqubi.</em> Saya merujuk pada kitab-kitab yang disebutkan oleh Syaikh dan ternyata terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh Syaikh Sulaiman.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab<em> Al Irsyad</em> <em>Syaikh Mufid</em> hal 354 memang disebutkan nama anak-anak Imam Ali dan pada bagian anak Laila binti Mas’ud disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">ومحمّدُ الأصغر المكًنّى أبا بكرٍ وعًبَيْدُاللهِ الشّهيدانِ معَ أخيهما الحسينِ عليهِ السّلامُ بالطّفِّ ، أُمُّهما ليلى بنتُ مسعود الدّارميّةُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Muhammad Al Asghar dengan kunniyah Abu Bakar dan Ubaidillah yang syahid bersama saudaranya Al Husain Alaihissalam, Ibu mereka adalah Laila binti Mas’ud Ad Darimiyah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi Abu Bakar itu bukanlah nama sebenarnya tetapi hanyalah nama panggilan atau kunniyah sedangkan nama <em>Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib</em> sebenarnya adalah <em>Muhammad Al Asghar</em>. Hal ini berarti<em> Imam Ali tidaklah menamakan putranya dengan nama Abu Bakar melainkan Muhammad.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Kitab <em>Maqatil Ath Thalibiyyin</em> Abu Faraj Al Asbahani hal 56, beliau mengatakan pada bagian<em> “Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib”</em></p>
<h2 style="text-align:right;">لم يعرف اسمه ، وامه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak diketahui namanya, dan ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik bin Rabi’ bin Aslam bin Jandal bin Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Zaid Manat bin Tamim.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Faraj Al Asbahani mengaku tidak mengetahui nama asli Abu Bakar bin Ali, dalam hal ini ia menganggap <em>bahwa Abu Bakar adalah nama panggilan atau kunniyah.</em> Memang dalam kitab <em>Tarikh Al Yaqubi</em> 1/193 tidak disebutkan siapa namanya hanya menyebutkan Abu Bakar, hanya saja jika memang Syaikh Sulaiman bin Shalih merujuk pada kitab-kitab yang ia sebutkan maka sangat jelas <em>bahwa nama Abu Bakar itu adalah kunniyah bukannya nama asli. </em>Oleh karena itu menyatakan <em>bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar adalah keliru.</em> Di sisi ulama syiah sendiri, <em>Abu Bakar bin Ali dikenal dengan nama Muhammad Al Asghar dan ada pula yang menyatakan namanya Abdullah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dalam Kitabnya <em>Ansharu Husain </em>hal 135 memasukkan nama <em>Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib </em>sebagai salah satu dari mereka yang syahid di Karbala, beliau berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال الاصفهاني : لم يعرف إسمه ( في الخوارزمي : إسمه عبد الله ) . أمه : ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Al Asfahani berkata “tidak diketahui namanya” (Al Khawarizmi berkata : namanya Abdullah). Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayyid Jawad Syubbar dalam kitabnya <em>Adab Al Thaff</em> 1/57 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">ابو بكر بن علي بن أبي طالب واسمه محمد الأصغر أو عبد الله وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, namanya Muhammad Al Asghar atau Abdullah dan Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi disisi Ulama syiah maka <em>Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib adalah nama panggilan yang masyhur sedangkan nama aslinya ada yang mengatakan Muhammad Al Asghar dan ada yang menyatakan Abdullah.</em> Oleh karena itu bagi Ulama Syiah <em>“Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau melihat dari literatur Sunni maka saya pribadi belum menemukan adanya keterangan siapakah nama sebenarnya Abu Bakar, Ibnu Sa’ad dalam <em>At Thabaqat Kubra</em> 3/19 hanya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah putra dari Ali bin Abi Thalib dari istrinya Laila binti Mas’ud, tetapi keterangan Abul Faraj Al Asbahani dalam <em>Maqatil Ath Thalibiyyin</em> di atas sudah cukup untuk menyatakan bahwa Abu Bakar itu adalah nama panggilan atau kunniyah. Abu Faraj Al Asbahani memang dikatakan oleh Adz Dzahabi sebagai Syiah tetapi menurut beliau <em>Abu Faraj seorang yang jujur.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi berkata tentang Abul Faraj Al Asbahani dalam kitabnya <em>Mizan Al Itidal </em>3/123 no 5825</p>
<h2 style="text-align:left;">والظاهر أنه صدوق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang  jelas, dia seorang yang jujur.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Siyar A’lam An Nubala </em>16/201, Adz Dzahabi berkata kalau <em>Abul Faraj Al Asbahani adalah seorang pakar sejarah, lautan ilmu, tahu tentang nasab, hari-hari bangsa arab dan menguasai syair</em>. Adz Dzahabi juga menegaskan bahwa salah satu tulisannya adalah <em>Maqatil Ath Thalibiyyin</em>, kemudian pada akhirnya Adz Dzahabi berkata <em>“la ba’sa bihi” atau tidak ada masalah dengan dirinya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Lisan Al Mizan</em> jilid 4 no 584, Ibnu Hajar juga mengatakan hal yang sama dengan Adz Dzahabi bahwa <em>Abul Faraj seorang yang jujur.</em> Ibnu Hajar juga berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وقد روى الدارقطني في غرائب مالك عدة أحاديث عن أبي الفرج الأصبهاني ولم يتعرض</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ad Daruquthni meriwayatkan sejumlah hadis dari Abul Faraj Al Asbahani dalam Ghara’ib Malik tanpa membantah atau menolak riwayatnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Semua keterangan di atas menyimpulkan baik di sisi Sunni maupun Syiah nama <em>Abu Bakar putra Imam Ali adalah nama panggilan yang masyhur untuknya,</em> sehingga dapat disimpulkan bahwa <em>Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar.</em> Selain itu Abu Bakar adalah panggilan yang masyhur dan tidak hanya dimiliki oleh Abu Bakar khalifah pertama yang nama aslinya sendiri adalah Abdullah bin Utsman.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Kitab <em>Al Ishabah Ibnu Hajar</em> 4/26 no 4570 disebutkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama <em>Abdullah bin Abu Bakar bin Rabi’ah</em>, di kitab <em>Al Ishabah</em> 4/90 no 4685 disebutkan bahwa Abdullah bin Zubair salah seorang sahabat Nabi juga memiliki kunniyah <em>Abu Bakar</em> dan dalam <em>Al Ishabah</em> 7/44 no 9625 terdapat salah seorang sahabat yang dipanggil dengan <em>Abu Bakar Al Laitsiy</em> yang nama aslinya adalah <em>Syadad bin Al Aswad.</em> Keterangan ini menunjukkan bahwa kunniyah Abu Bakar tidak mutlak milik khalifah pertama dan bisa disematkan pada siapa saja.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Putra Imam Ali Yang Bernama Umar</strong><br />
Syaikh Sulaiman bin Shalih juga menyebutkan dalam <em>As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq</em> hal 5</p>
<h2 style="text-align:right;">رقية بنت علي بن أبي طالب، عمر بن علي بن أبي طالب ـ الذي توفي في الخامسة والثلاثين من عمره</h2>
<h2 style="text-align:right;">وأمهما هي: أم حبيب بنت ربيعة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Hubaib binti Rabi’ah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini memang benar nama putra Imam Ali tersebut adalah Umar, tetapi tidak benar jika dikatakan <em>Imam Ali menamakan putranya Umar </em>karena yang menamakan Umar adalah Khalifah Umar bin Khattab. Adz Dzahabi menyebutkan dalam <em>As Siyar A&#8217;lam An Nubala </em>4/134 biografi <em>Umar bin Ali bin Abi Thalib</em></p>
<h2 style="text-align:right;">ومولده في أيام عمر فعمر سماه باسمه ونحله غلاما اسمه مورق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Beliau lahir pada masa khalifah Umar dan Umar menamakan dengan namanya, kemudian memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Baladzuri dalam <em>Ansab Al Asyraf</em> hal 192 juga mengatakan hal yang sama</p>
<h2 style="text-align:right;">وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Umar bin Khattab menamakan Umar bin Ali dengan namanya dan memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pernyataan Syaikh Sulaiman Al Khuraasy bahwa <em>Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Umar</em> adalah keliru, yang benar <em>Umarlah yang menamakan anak Imam Ali dengan nama Umar</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian pengikut salafy yang mengetahui fakta ini tetap saja berdalih dan terus mengecam syiah, mereka mengatakan <em>kalau memang Imam Ali membenci dan melaknat Umar maka tidak mungkin beliau mau anaknya dinamakan oleh Khalifah Umar dengan namanya.</em> Cara berpikir seperti ini keliru. Keputusan Imam Ali yang membiarkan anaknya dengan nama Umar bukan berarti beliau mengagumi Umar bin Khattab dan bukan berarti pula saya mengatakan Imam Ali membenci dan melaknat Umar. Dalam hal ini <em>nama Umar adalah nama yang umum</em> sehingga tidak ada masalah bagi Imam Ali untuk menerimanya. Bahkan <em>nama Umar adalah nama salah satu dari anak tiri Nabi yaitu Umar bin Abi Salamah</em> yang dalam sejarah hidupnya pernah diangkat sebagai gubernur Bahrain oleh Imam Ali dan beliau sahabat yang tetap setia kepada Imam Ali dalam Perang Jamal. Oleh karena itu <em>nama Umar bagi Imam Ali bukanlah nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Al Ishabah Ibnu Hajar 4/588-597 didapatkan banyak sahabat yang bernama Umar diantaranya</p>
<ul>
<li> <em>Umar bin Hakim Al Bahz (Al Ishabah no 5739)</em></li>
<li><em> Umar bin Khattab </em><em>(Al Ishabah no 5740)</em></li>
<li><em> Umar bin Sa’ad Al Anmari </em><em>(Al Ishabah no 5741)</em></li>
<li><em> Umar bin Sa’id bin Malik </em><em>(Al Ishabah no 5742)</em></li>
<li><em> Umar bin Sufyan bin Abad </em><em>(Al Ishabah no 5743)</em></li>
<li><em> Umar bin Abi Salamah </em><em>(Al Ishabah no 5744)</em></li>
<li><em> Umar bin Ikrimah bin Abi Jahal </em><em>(Al Ishabah no 5745)</em></li>
<li><em> Umar bin Amr Al Laitsi </em><em>(Al Ishabah no 5746)</em></li>
<li><em> Umar bin Umair Al Anshari </em><em>(Al Ishabah no 5747)</em></li>
<li><em> Umar bin Auf An Nakha’i </em><em>(Al Ishabah no 5748)</em></li>
<li><em> Umar bin La Haq </em><em>(Al Ishabah no 5749)</em></li>
<li><em> Umar bin Malik </em><em>(Al Ishabah no 5750)</em></li>
<li><em> Umar bin Malik bin Utbah </em><em>(Al Ishabah no 5751)</em></li>
<li><em> Umar bin Muawiyah </em><em>(Al Ishabah no 5753)</em></li>
<li><em> Umar bin Wahab Ats Tsaqafi </em><em>(Al Ishabah no 5754)</em></li>
<li><em> Umar bin Yazid </em><em>(Al Ishabah no 5755)</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jadi nama Umar adalah nama yang umum di kalangan sahabat dan tidak selalu mesti merujuk pada Khalifah Umar. Intinya <em>Imam Ali tidak menganggap nama Umar sebagai nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya. </em>Khalifah Umar boleh saja menganggap nama Umar bin Ali itu berasal dari namanya tetapi tidak bisa dikatakan kalau bagi Imam Ali nama Umar mesti merujuk pada Umar bin Khattab karena bisa saja dikatakan <em>bahwa nama Umar itu adalah nama yang umum sehingga Imam Ali tidak keberatan untuk menerimanya </em>atau <em>nama Umar itu bagi Imam Ali mengingatkannya pada Umar bin Abi Salamah anak tiri Nabi dan salah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Putra Imam Ali yang bernama Utsman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khurasy mengatakan dalam<em> As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq</em> hal 4</p>
<h2 style="text-align:right;">عباس بن علي بن أبي طالب، عبدالله بن علي بن أبي طالب، جعفر بن علي ابن أبي طالب، عثمان بن علي بن أبي طالب أمهم هي: أم البنين بنت حزام بن دارم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Ummul Banin binti Hizam bin Darim.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saya katakan memang benar <em>Imam Ali memiliki satu putra yang bernama Utsman bin Ali bin Abi Thalib.</em> Tetapi lagi-lagi keliru kalau dikatakan nama Utsman mesti merujuk pada Khalifah Utsman. Nama Utsman adalah nama yang umum pada masa Jahiliyah dan masa Nabi. Ayah Abu bakar khalifah pertama bernama <em>Utsman bin Amir. </em>Dalam kitab <em>Thabaqat Ibnu Sa’ad</em> 3/169 disebutkan bahwa nama sebenarnya Ayah Abu Bakar yang bergelar Abu Quhafah adalah <em>Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah.</em> Bukankah ini berarti nama Utsman sudah ada pada masa jahiliyah.</p>
<p style="text-align:justify;">.<br />
Pada masa sahabat cukup banyak sahabat yang bernama Utsman. Saya menemukan lebih dari 20 orang  sahabat yang bernama Utsman seperti yang tertera dalam <em>Al Ishabah </em>4/447 no 5436  sampai 4/463 no 5461 diantaranya (<em>hanya disebutkan sebagian)</em></p>
<ul>
<li> <em>Utsman bin Hakim (no 5437)</em></li>
<li><em> Utsman bin Hamid bin Zuhayr (no 5438)</em></li>
<li><em> Utsman bin Hunaif Al Anshari, Imam Tirmidzi mengatakan kalau beliau ikut perang Badar (no 5439)</em></li>
<li><em> Utsman bin Said Al Anshari (no 5442)</em></li>
<li><em> Utsman bin Amir, Abu Quhafah (no 5446)</em></li>
<li><em> Utsman bin Utsman Ats Tsaqafi (no 5451)</em></li>
<li><em> Utsman bin Affan (no 5452)</em></li>
<li><em> Utsman bin Mazh’un (no 5457</em>)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jadi <em>nama Utsman itu adalah nama yang umum</em> dan tidak bisa langsung dikatakan begitu saja merujuk pada Utsman bin Affan. Lagipula Abul Faraj Al Asbahani menyebutkan <em>bahwa nama Utsman putra Ali dinamakan oleh Imam Ali dengan merujuk pada Utsman bin Mazh’un.</em> Hal ini disebutkan dalam <em>Maqatil Ath Thalibiyyin</em> hal 55 ketika menerangkan tentang <em>“Utsman bin Ali bin Abi Thalib”.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">روى عن علي أنه قال . إنما سميته باسم أخي عثمان ابن مظعون</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan dari Ali yang berkata “Sesungguhnya aku menamakannya dengan nama saudaraku Utsman bin Mazh’un”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang sahabat Nabi yang cukup dikenal keutamaannya. Beliau wafat di masa Nabi SAW setelah perang Badar. Terkenal ucapan Nabi SAW atas beliau ketika salah satu putri Nabi SAW meninggal, beliau SAW berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">الحقي بسلفنا الصالح الخير عثمان بن مظعون</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Susullah pendahulu kita yang shalih lagi baik Utsman bin Mazh’un</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>Musnad Ahmad </em>no 2127 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad.</em> Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Imam Ali memang menamakan putranya dengan nama Utsman yang merujuk pada Utsman bin Mazh’un.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini</p>
<ol>
<li>Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar karena Abu Bakar adalah nama panggilan</li>
<li>Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Umar tetapi Khalifah Umar yang memberi nama Umar dan Imam Ali menerima nama tersebut karena nama Umar mengingatkan Beliau akan nama Umar bin Abi Salamah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.</li>
<li>Imam Ali menamakan putranya dengan nama Utsman yang diambil dari nama Utsman bin Mazh&#8217;un</li>
</ol>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Salam Damai</strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em>Catatan :</em></p>
<ul>
<li><em>Mohon maaf  jika tulisan yang muncul tidak sesuai dengan yang diharapkan </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Tulisan ini cuma bahan lama yang didaur-ulang </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
Posted in Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/948/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/948/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/948/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/948/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/948/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/948/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/948/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/948/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/948/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/948/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=948&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/05/studi-kritis-imam-ali-menamakan-putranya-abu-bakar-umar-dan-utsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Keutamaan Mencintai Ahlul Bait ; Menggugat Syiahphobia Di Kalangan Para Ulama</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[Aku Terlahir Untuk Menghias DiriMu Dengan Bunga
Akan Kupersembahkan Bunga Tercantik UntukMu



Hadis Keutamaan Mencintai Ahlul Bait ; Menggugat Syiahphobia Di Kalangan Para Ulama.
Sudah seharusnya kita sebagai umat Islam mencintai Ahlul Bait. Hal yang menurut saya disepakati oleh kedua golongan, baik islam Sunni maupun Syiah. Dan seringkali kita mendengar orang-orang yang mengaku kalau mereka mencintai Ahlul Bait. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=940&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>Aku Terlahir Untuk Menghias DiriMu Dengan Bunga</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>Akan Kupersembahkan Bunga Tercantik UntukMu</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Keutamaan Mencintai Ahlul Bait ; Menggugat Syiahphobia Di Kalangan Para Ulama.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sudah seharusnya kita sebagai umat Islam mencintai Ahlul Bait. Hal yang menurut saya disepakati oleh kedua golongan, baik islam Sunni maupun Syiah. Dan seringkali kita mendengar orang-orang yang mengaku kalau mereka mencintai Ahlul Bait. Sebuah pengakuan tentu bisa diterima sampai ada bukti yang menunjukkan hal sebaliknya. Tetapi patut disayangkan ada pihak-pihak yang sepertinya menunjukkan sinisme terhadap keutamaan-keutamaan Ahlul Bait. Saya pribadi tidak begitu mengerti mengapa muncul gejala seperti ini. Pembahasan berikut adalah contoh yang cukup untuk mewakili betapa sinisme itu telah menjangkiti para Ulama hadis.<span id="more-940"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis berikut menunjukkan betapa besar anugerah yang dilimpahkan kepada mereka yang mencintai Ahlul Bait Alaihis Salam.</p>
<h3 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني نصر بن علي الأزدي أخبرني علي بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين بن علي حدثني أخي موسى بن جعفر عن أبيه جعفر بن محمد عن أبيه عن علي بن حسين رضي الله عنه عن أبيه عن جده ان رسول الله صلى الله عليه و سلم أخذ بيد حسن وحسين رضي الله عنهما فقال من أحبني وأحب هذين وأباهما وأمهما كان معي في درجتي يوم القيامة</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Nashr bin Ali Al Azdi yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali yang berkata telah menceritakan kepadaku saudaraku Musa bin Ja’far dari  Ayahnya  Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Ali bin Husain radiallauhuanhu dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menarik tangan Hasan dan Husain radiallahuanhuma dan bersabda “Barangsiapa mencintai Aku dan mencintai kedua Anak ini serta Ayah dan Ibunya maka dia akan bersama dalam derajatku pada hari kiamat”.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam <em>Musnad Ahmad</em> 1/77 no 576, diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi </em>5/641 no 3733, Al Khatib dalam <em>Tarikh Baghdad</em> 13/289 dan diriwayatkan Ath Thabrani dalam <em>Mu’jam As Saghir</em> 2/163 no 960.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh <em>Musnad Ahmad </em>no 576 berkata<em> </em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Sanadnya Hasan. Mengenai Ali bin Ja’far tidak ada seorang Ulama pun yang menilainya cacat ataupun menilainya tsiqah. Saudaranya Musa adalah Musa Kazhim.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Imam Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi </em>no 3733 berkata</p>
<h3 style="text-align:right;">قال ابو عيسى هذا حديث حسن غريب لا نعرفه من حديث جعفر بن محمد إلا من هذا الوجه</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Isa berkata “Hadis Hasan gharib, kami tidak mengetahui hadis Ja’far bin Muhammad ini kecuali hanya dari sanad ini”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dan selain <em>Nashr bin Ali Al Azdi</em> semua perawi lainnya adalah keturunan Ahlul Bait. Nashr bin Ali adalah perawi yang tsiqah sebagaimana disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 10 no 781 bahwa <em>beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i dan Ibnu Kharasy.</em> Dalam <em>At Taqrib</em> 2/243 Ibnu Hajar dengan jelas menyatakan kalau <em>Nashr bin Ali adalah seorang yang tsiqah</em>. Disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> jilid 10 no 781 bahwa Nashr bin Ali Al Azdi mendapat hukuman dari khalifah Al Mutawakil ketika beliau menyebutkan hadis ini.</p>
<h3 style="text-align:right;">وقال أبو علي بن الصواف عن عبد الله بن أحمد لما حدث نصر بن علي بهذا الحديث يعني حديث علي بن أبي طالب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بيد حسن وحسين فقال من أحبني وأحب هذين واباهما وأمهما كان في درجتي يوم القيامة أمر المتوكل بضربه ألف سوط فكلمه فيه جعفر بن عبد الواحد وجعل يقول له هذا من أهل السنة فلم يزل به حتى تركه</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Ali bin Shawaf berkata dari Abdullah bin Ahmad “ketika Nashr bin Ali menyebutkan hadis Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW menarik tangan Hasan dan Husain radiallahuanhuma dan bersabda “Barangsiapa mencintai Aku dan mencintai kedua Anak ini serta Ayah dan Ibunya maka dia akan bersama dalam derajatku pada hari kiamat”. Maka Al Mutawwakil memerintahkan untuk mencambuknya seribu cambukan. Kemudian Ja’far bin Abdul Wahid berbicara kepada Al Mutawakil “orang ini dari Ahlus sunnah” setelah itu baru Nashr dilepaskan.<br />
</em><br />
Hal ini patut diherankan. Mengapa Nashr bin Ali mendapat hukuman seperti itu?. Apakah hanya karena ia menyebutkan hadis tersebut?. Ada apa dengan hadis tersebut?. Bukankah hadis tersebut menceritakan tentang keutamaan Ahlul Bait dan ganjaran bagi para pecintanya. Yah atau mungkin Al Mutawwakil juga mengidap penyakit Syiahphobia sehingga hanya dikarenakan Nashr meriwayatkan hadis tersebut maka ia dianggap Rafidhah. Hal ini diisyaratkan oleh Al Khatib dalam <em>Tarikh Baghdad.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Khatib menyebutkan dalam <em>Tarikh Baghdad </em>13/289</p>
<h3 style="text-align:right;">إنما أمر المتوكل بضربه لانه ظنه رافضيا فلما علم أنه من أهل السنة تركه</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya Al Mutawwakil memerintahkan untuk menghukum Nashr karena ia menyangka Nashr seorang Rafidhah tetapi setelah ia mengetahui kalau ia adalah ahlussunnah maka hukuman tersebut dihentikan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Satu-satunya yang dipermasalahkan oleh mereka Ulama hadis yang mempermasalahkan hadis ini adalah <em>Ali bin Ja’far.</em> Adz Dzahabi berkata tentang <em>Ali bin Ja’far </em>dalam Mizan Al ‘Itidal 2/220 no 5799</p>
<h3 style="text-align:right;">ما هو من شرط كتابي ، لانى ما رأيت أحدا لينه ، نعم ولا من وثقه ، ولكن حديثه منكر جدا ، ما صححه الترمذي ولا حسنه</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Dia tidak memenuhi syarat dalam kitab kami, karena kami tidak mendapati seorang ulamapun yang menyatakan dia cacat dan tidak juga yang mengatakan ia tsiqah akan tetapi hadis riwayatnya sangat mungkar (munkar jiddan). Tirmidzi tidak menshahihkan hadisnya dan tidak pula menyatakan hasan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa catatan yang patut diberikan terhadap komentar Adz Dzahabi. Memang dalam sebagian naskah Sunan Tirmidzi tidak disebutkan adanya pernyataan bahwa hadis tersebut hasan tetapi dalam Sebagian naskah yang lain pernyataan tersebut jelas-jelas disebutkan. Syaikh Ahmad Syakir telah memberikan penjelasan soal ini dan dalam <em>Sunan Tirmidzi Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir </em>didapatkan pernyataan Tirmidzi yang menghasankan hadis tersebut. Begitu pula Al Mubarakfuri dalam <em>Tuhfatul Ahwazi Syarh Sunan Tirmidzi </em>juga menegaskan bahwa Tirmidzi menghasankan hadis Imam Ali bin Ja’far. Bahkan Syaikh Al Albani sendiri yang walaupun menolak hadis ini tetap mengakui kalau Tirmidzi menghasankan hadis tersebut dalam <em>Sunan Tirmidzi tahqiq beliau.</em> Kemudian pernyataan Adz Dzahabi terhadap Ali bin Ja’far adalah suatu bentuk kecerobohan yang sangat. Entah mengapa nama besar Ali bin Ja’far yang dikenal dengan sebutan Imam Uraidhi kredibilitasnya tidak dikenal oleh ulama hadis sekaliber Adz Dzahabi. Untunglah dalam hal ini Ibnu Hajar masih lebih baik, ia berkata dalam <em>At Taqrib </em>1/689</p>
<h3 style="text-align:right;">علي بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين بن علي أبو الحسن العلوي أخو موسى مقبول</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali Abul Hasan Al Alawiy saudara Musa, maqbul (diterima hadisnya)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya ini pun adalah salah satu bentuk sinisme yang ringan dari Ibnu Hajar. Walaupun pernyataan maqbul berpredikat ta’dil tetap saja kedudukannya berada di bawah tsiqat ataupun shaduq. Bisa dibilang itu adalah ta’dil paling rendah dari Ibnu Hajar. Bukankah Imam Ali bin Ja’far Al Uraidhi adalah Imam Ahlul Bait dimana hampir semua Ulama Ahlul Bait di Hadhramaut adalah keturunan beliau. Sungguh saya tidak mengerti mengapa Nashr bin Ali Al Azdi jauh lebih dikenal ketsiqahannya dibanding Ali bin Ja’far. Inikah kecintaan kepada Ahlul Bait?. Imam Ali bin Ja’far yang merupakan Ulama keturunan Rasulullah SAW dipandang sebelah mata oleh Adz Dzahabi dan tidak hanya itu dengan mudahnya ia berkata <em>bahwa hadis Imam Ali bin Ja’far sangat mungkar. </em>Padahal sudah jelas diketahui dalam Kutub As Sittah kalau hadis Ali bin Ja’far cuma satu ini yang itupun dinyatakan <em>sangat mungkar. </em>Saya pribadi tidak tahu dimana letak kemungkarannya, justru <em>pernyataan Adz Dzahabi itu merupakan kemungkaran yang nyata.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ceritanya tidak berhenti sampai disini, ternyata komentar Adz Dzahabi ini menjadi panutan bagi para ahli hadis setelahnya terutama para Salafiyun. Di antara mereka ada Syaikh Syu’aib Al Arnauth yang mendhaifkan hadis Imam Ali bin Ja’far dalam <em>Syarh beliau terhadap Musnad Ahmad </em>no 576. Begitu pula Bashar A’wad Ma’ruf Pentahqiq Kitab <em>Tarikh Baghdad </em>15/390 no 7207 yang mendhaifkan hadis ini dengan bersandar pada pernyataan Adz Dzahabi dalam As Siyar 3/117 <em>“hadis ini sangat mungkar (munkar jiddan)”. </em>Dan tentu masih berkali-kali Syaikh yang sama yaitu Syaikh Al Albani yang mendhaifkan hadis ini di tiga tempat yang dapat saya temukan. Pertama beliau memasukkan hadis ini dalam <em>Dhaif Sunan Tirmidzi </em>hal 504, <em>Dhaif  Jamius Shaghir </em>no 5344 dan dalam kitab monumentalnya <em>Silsilah Ahadis Ad Dhaifah</em> no 3122 dimana ia berkata <em>“hadis mungkar”.<br />
</em><br />
Mereka yang mendhaifkan hadis ini telah keliru, karena tidak ada alasan sedikitpun menyatakan hadis tersebut dhaif. Mereka tidak dapat menunjukkan satupun cacat terhadap Imam Ali bin Ja’far sedangkan kata-kata <em>munkar jiddan </em>Dzahabi adalah penilaian pribadinya terhadap isi hadis tersebut yang mungkin baginya <em>keutamaan ahlul bait dan para pecinta Ahlul bait adalah sesuatu yang mungkar, Just Syiahpobhia</em>. Bukankah di kalangan ahli hadis suatu <em>hadis disebut munkar jika hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi dhaif dan bertentangan dengan hadis perawi tsiqat atau shahih</em>. Kalau begitu maka mengapa Adz Dzahabi tidak menampilkan sedikitpun hadis yang bertentangan dengan hadis Imam Ali bin Ja’far. Tentu saja klaim seperti itu tidak bernilai sedikitpun dan bagi saya itu tampak seperti sebuah celaan terhadap Imam Ali bin Ja’far Al Uraidhi padahal cuma ini satu-satunya hadis Imam Ali bin Ja’far yang ada dalam Kutub As Sittah</p>
<p style="text-align:justify;">Untunglah tidak semuanya seperti mereka, Tirmidzi telah menghasankan hadis tersebut dalam kitab <em>Sunan Tirmidzi</em> no 3733 tidak seperti yang dikatakan Adz Dzahabi yang terburu-buru mengatakan kalau Imam Tirmidzi tidak menghasankan hadis Imam Ali bin Ja’far. Al Mubarakfuri dalam <em>Tuhfatul Ahwazi Syarh Sunan Tirmidzi </em>no 3885 juga menyatakan kalau hadis ini hasan. Begitu pula Syaikh Ahmad Syakir telah menyatakan hadis ini hasan dalam <em>Musnad Ahmad </em>no 576. Sebenarnya hadis tersebut Shahih dan tidak diragukan lagi kalau Imam Ali bin Ja’far adalah tsiqah. Bukti akan ketsiqahan Imam Ali bin Ja’far adalah telah meriwayatkan dari beliau para perawi tsiqah diantaranya <em>Nashr bin Ali</em> dan <em>Salamah bin Syabib. </em>Dalam <em>At Taqrib</em> 1/377 Ibnu Hajar menyatakan bahwa <em>Salamah bin Syabib tsiqat.</em> Jadi Imam Ali bin Ja’far dinyatakan tsiqat dengan alasan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Beliau adalah seorang Imam keturunan Ahlul Bait</em></li>
<li><em>Telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat dalam hal ini telah ditunjukkan diantaranya Nashr bin Ali Al Azdi dan Salamah bin Syabib</em></li>
<li><em>Tidak ada satupun jarh atau cacat yang ditujukan kepada Beliau</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ketiga alasan ini sudah cukup untuk menyatakan beliau sebagai perawi tsiqat dan hadisnya Shahih. Sedangkan sinisme-sinisme yang beraroma Syiahpobhia tidak layak disematkan kepada Imam Ali bin Ja’far Al Uraidihi. Saya akhiri tulisan ini dengan kesimpulan <strong>Hadis Imam Ali bin Ja’far Al Uraidhi adalah Shahih</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>Hilfe Das Monstrum Im Mir Wird Explodieren</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Tulisan ini tidak melalui Fase pengeditan karena sekarang saya menyendiri <span style="text-decoration:line-through;">seperti mau meledak</span> </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></li>
<li><em>Kalau ada yang mengharapkan tulisan lain, maka mohon maaf jika yang muncul tidak sesuai harapan </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Mohon maaf kepada teman-temanku yang baik, ada saatnya memang harus begini, Salam sejahtera untuk kita bersama<br />
</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">
Posted in Hadis, Kritik Syiahphobia  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/940/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/940/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/940/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=940&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>224</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Noksius</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/05/28/noksius/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/05/28/noksius/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 22:12:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[Posted in Cerita       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=935&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_936" class="wp-caption aligncenter" style="width: 478px"><img class="size-full wp-image-936" title="Noksius" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/05/noksius.jpg?w=468&#038;h=461" alt="Noksius" width="468" height="461" /><p class="wp-caption-text">Noksius</p></div>
Posted in Cerita  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/935/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/935/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/935/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/935/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/935/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/935/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/935/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/935/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/935/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/935/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=935&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/05/28/noksius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/05/noksius.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Noksius</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shahih Hadis Malik Ad Daar, Menyingkap Kerapuhan Hujjah Salafy Inqitha’ Abu Shalih Dari Malik Ad Daar</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/05/27/shahih-hadis-malik-ad-daar-menyingkap-kerapuhan-hujjah-salafy-inqitha%e2%80%99-abu-shalih-dari-malik-ad-daar/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/05/27/shahih-hadis-malik-ad-daar-menyingkap-kerapuhan-hujjah-salafy-inqitha%e2%80%99-abu-shalih-dari-malik-ad-daar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 15:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=930</guid>
		<description><![CDATA[Shahih Hadis Malik Ad Daar, Menyingkap Kerapuhan Hujjah Salafy Inqitha’ Abu Shalih Dari Malik Ad Daar

Segala puji bagi Allah SWT, akhirnya saya bisa menyempatkan diri meneruskan pembahasan tentang kedudukan Hadis Malik Ad Daar. Telah sampai kepada saya jawaban dari saudara yang terhormat yaitu Kelemahan Riwayat Malik Ad Daar Dialog IV sebagai tanggapan atas tulisan saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=930&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Shahih Hadis Malik Ad Daar, Menyingkap Kerapuhan Hujjah Salafy Inqitha’ Abu Shalih Dari Malik Ad Daar<br />
</strong><br />
Segala puji bagi Allah SWT, akhirnya saya bisa menyempatkan diri meneruskan pembahasan tentang kedudukan <em>Hadis Malik Ad Daar.</em> Telah sampai kepada saya jawaban dari saudara yang terhormat yaitu <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/04/kelemahan-riwayat-maalik-ad-daar-dialog_29.html" target="_blank"><em>Kelemahan Riwayat Malik Ad Daar Dialog IV</em></a> sebagai tanggapan atas tulisan saya sebelumnya <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/04/27/shahih-hadis-malik-ad-daar-menjawab-syubhat-inqitha%E2%80%99-abu-shalih-dari-malik-ad-daar/" target="_blank"><em>Shahih Hadis Malik Ad Daar : Menjawab Syubhat Inqitha&#8217; Abu Shalih dari Malik</em>.</a> <em><strong></strong></em>Pernyataan saudara penulis yang saya tanggapi akan saya cetak biru.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Semakin saya baca, semakin tidak mengena dan mengada-ada dalam pembelaan terhadap tashhiih riwayat Maalik Ad-Daar ini.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan saja mempersepsi begitu, padahal sebenarnya jika <em>anda adil menilai diri anda</em> seperti <em>anda menilai saya </em>maka andapun juga akan mendapati bahwa <em>anda lebih mengada-ada dalam mendhaifkan hadis Malik Ad Daar</em>. Mari saya ingatkan kembali, pembahasan saya yang panjang-panjang itu adalah untuk menunjukkan kepada anda bahwa kemungkinan yang paling rajih adalah <em>Tidak ada Inqitha’ antara Abu Shalih dan Malik Ad Daar</em>. Bukankah dari awal yang kita bicarakan ini adalah <em>kemungkinan yang rajih </em>tetapi anehnya semakin jauh kesan yang saya dapat adalah anda menekan saya agar menunjukkan <em>kepastian penyimakan Abu Shalih dari Malik.</em> Kalau anda maunya yang pasti-pasti maka diskusi kita cukupkan saja, karena saya pribadi tidak bisa memastikan apa yang anda kehendaki. Tetapi jika yang dimaksud adalah kemungkinan yang rajih maka kembali akan saya tunjukkan bahwa <em>Abu Shalih mendengar hadis dari Malik Ad Daar.<span id="more-930"></span><br />
.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penjelasan Atas Syarat Imam Muslim</strong></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Memang Anda telah memberikan penjelasan yang cukup ‘panjang’ terhadap riwayat Maalik Ad-Daar, tapi penjelasan Anda adalah salah alamat. Kesalahan fatal yang Anda lakukan adalah tentang penerapan syarat mu’asharah (sejaman) dari Al-Imam Muslim. Memang benar beliau (Al-Imam Muslim) menetapkan syarat tersebut – yang merupakan syarat lebih ringan daripada syarat yang ditetapkan oleh Al-Imam Al-Bukhari &#8211; , namun ternyata di sini Anda berbeda di sisi dalam penerapannya. Anda telah menerapkan secara membabi buta dalam kaitannya terhadap kalimat “kemungkinan bertemu”.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aneh sekali, hujjah yang saya tunjukkan sebenarnya adalah bukti yang cukup untuk menunjukkan <em>kemungkinan bertemunya Abu Shalih dan Malik</em>. Bagaimana bisa anda mengatakan kalau saya menerapkannya dengan membabi-buta. Imam Muslim tidak pernah mensyaratkan seperti yang anda katakan, <em>kepastian kemungkinan pertemuan dengan meniadakan kemungkinan sebaliknya</em>. Saya rasa andalah yang membabi-buta menambahkan sesuatu yang tidak dikatakan Imam Muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Muslim dalam <em>Shahih Muslim</em> 1/12 berkata</p>
<p style="text-align:right;">أن القول الشائع المتفق عليه بين أهل العلم بالأخبار والروايات قديما وحديثا أن كل رجل ثقة روى عن مثله حديثا وجائز ممكن له لقاؤه والسماع منه لكونهما جميعا كانا في عصر واحد وإن لم يأت في خبر قط أنهما اجتمعا ولا تشافها بكلام فالرواية ثابتة والحجة بها لازمة إلا أن يكون هناك دلالة بينة أن هذا الراوي لم يلق من روى عنه أو لم يسمع منه شيئا فأما والأمر مبهم على الإمكان الذي فسرنا فالرواية على السماع أبدا حتى تكون الدلالة التي بيناا</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Bahwa telah disepakati oleh para ulama setiap perawi tsiqat yang meriwayatkan hadis dengan lafal ‘an maka itu berarti dimungkinkan untuk perawi tersebut bertemu dan mendengar hadis darinya. </strong>Hal ini mungkin terjadi kalau keduanya hidup dalam satu masa. Sebenarnya sekalipun tidak ada kabar yang menyebutkan bahwa keduanya pernah berkumpul dan saling bertatap muka maka hadis mu’an’an tetap diterima dan bisa dijadikan hujjah kecuali apabila ada bukti jelas yang menunjukkan bahwa perawi tersebut tidak pernah bertemu atau tidak pernah mendengarkan riwayat darinya. Adapun apabila tidak ada bukti yang menunjukkan kemustahilan mereka untuk saling bertemu maka dianggap telah terjadi periwayatan atau penyimakan antara kedua orang tersebut sampai ada bukti yang membatalkan hal tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang saya pahami dari perkataan Imam Muslim adalah <em>jika perawi tsiqat meriwayatkan dengan lafal ‘an maka disitu sudah ada indikasi ke arah penyimakan </em>dan ini bisa terjadi kalau perawi tersebut berada dalam satu masa. Berangkat dari sini, saya telah menunjukan bahwa <em>Abu Shalih adalah perawi tsiqat dan berada satu masa dengan Malik</em> dan tidak ada satupun bukti yang menunjukkan bahwa Abu Shalih tidak mendengar dari Malik dan tidak ada satupun bukti atau data yang menunjukkan kalau Abu Shalih dan Malik tidak bisa bertemu. Saya menerapkan metode Imam Muslim apa adanya dan maaf tidak membabi-buta.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> 1/127-128 mengutip dengan jelas apa sebenarnya pendapat Imam Muslim, An Nawawi berkata</p>
<p style="text-align:right;">ونقل مسلم عن بعض أهل عصره أنه قال لا تقوم الحجة بها ولا يحمل على الاتصال حتى يثبت أنهما التقيا فى عمرهما مرة فأكثر ولا يكفى امكان تلاقيهما قال مسلم وهذا قول ساقط مخترع مستحدث لم يسبق قائله إليه ولا مساعد له من أهل العلم عليه وان القول به بدعة باطلة وأطنب مسلم رحمه الله فى الشناعة على قائله واحتج مسلم رحمه الله بكلام مختصره ان المعنعن عند أهل العلم محمول على الاتصال اذا ثبت التلاقى مع احتمال الارسال وكذا اذا امكن التلاقى وهذا الذى صار إليه مسلم قد أنكره المحققون وقالوا هذا الذى صار إليه ضعيف والذى رده هو المختار الصحيح الذى عليه أئمة هذا الفن على بن المدينى والبخارى وغيرهما وقد زاد جماعة من المتأخرين على هذا فاشترط القابسى أن يكون قد أدركه ادراكا بينا وزاد أبو المظفر السمعانى الفقيه الشافعى فاشترط طول الصحبة بينهما وزاد أبوعمرو الدانى المقرئ فاشترط معرفته بالرواية عنه ودليل هذا المذهب المختار الذى ذهب إليه بن المدينى والبخارى وموافقوهما ان المعنعن عند ثبوت التلاقى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Apa yang dinukil Imam Muslim bahwa ada ulama yang mengatakan hal dibuat-buat tentang sanad mu’an’an dimana ia mengatakan tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak bisa dianggap sebagai hadis muttashil sampai antara kedua perawi dipastikan pernah bertemu di masa hidupnya baik sekali atau lebih bukan hanya disyaratkan bahwa keduanya diperkirakan mungkin saja bertemu. <strong>Menurut Imam Muslim pendapat ini adalah pendapat baru yang tidak pernah didukung oleh seorang ulamapun bahkan tergolong bid’ah yang batil.</strong> Imam Muslim mencela orang yang berpendapat demikian. Imam Muslim dengan jelas mengatakan bahwa <strong>Sesungguhnya menurut para Ulama hadis mu’an’an dianggap sebagai hadis muttashil jika kedua perawinya dipastikan pernah bertemu walaupun tetap ada kemungkinan irsal, begitu pula dianggap muttashil jika keduanya dimungkinkan untuk saling bertemu. </strong>Demikianlah pendapat yang dipegang Imam Muslim dan diingkari oleh para peneliti. Mereka mengatakan pendapat tersebut dhaif dan yang shahih dan dipilih adalah pendapat Ali bin Madini, Imam Bukhari dan yang lainnya. Beberapa ulama mutaakhirin menambahkan persyaratan baru diantaranya <strong>Al Qabisi yang mensyaratkan bahwa perawi hadis mu’an’an harus jelas-jelas hidup dalam satu masa. </strong>Abu Muzhaffar As Sam’any al Faqih Asy Syafii mensyaratkan adanya persahabatan yang lama, Abu Amr Ad Dani Al Muqri mensyaratkan bahwa perawi tersebut benar-benar diketahui meriwayatkan dari perawi yang dimaksud. Sedangkan mahzab yang dianut Ibnu Madini dan Bukhari dan ulama yang sepakat dengan mereka adalah hadis mu’an’an dianggap muttashil jika diantara para perawinya dipastikan pernah saling bertemu.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Dan di sini, syarat sejaman antara Abu Shaalih dan Maalik Ad-Daar yang Anda bela mati-matian itu tidak cukup menetapkan pertemuan antara keduanya karena masih bersifat kemungkinan.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemungkinan untuk terjadinya pertemuan adalah syarat yang cukup menurut Imam Muslim, tidak mesti harus bersifat pasti seperti yang anda inginkan</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Oleh karena itu perkataan Anda : Abu Shalih lahir pada masa khalifah Umar dan Malik Ad Daar ternyata masih hidup pada masa khalifah Usman yang Anda kira sebagai satu hujjah ‘mematikan’ pun tidak bernilai apapun ketika masih ada kemungkinan lain yang cukup kuat bahwa Abu Shaalih lahir di akhir masa kekhalifahan ‘Umar dan Maalik Ad-Daar meninggal pada awal masa kekhalifahan ‘Utsman, sehingga dari segi usia (Abu Shaalih) tidak memungkinkan menerima periwayatan dari Maalik Ad-Daar.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemungkinan anda tidak memiliki bukti apapun, silakan buktikan atau paling tidak petunjuk yang mengindikasikan bahwa<em> Abu Shalih lahir di akhir masa kekhalifahan Usman dan Malik Ad Daar meninggal pada awal masa kekhalifahan Usman.</em> Saya yakin anda tidak akan mampu membuktikannya, jadi kemungkinan anda sekali lagi adalah kemungkinan yang tidak berdasarkan hujjah apapun. Inilah yang terus berulang kali saya katakan. Sejauh ini saya terus menunjukkan bukti dan petunjuk bahwa <em>semasa Abu Shalih dan Malik memungkinkan untuk menerima periwayatan.</em><br />
.<br />
.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tarikh Malik Ad Daar</strong><br />
Saya menyampaikan petunjuk bahwa <em>Malik Ad Daar hidup cukup lama pada zaman kekhalifahan Usman </em>dengan berhujjah dengan pernyataan Ibnu Ma’in yang mengatakan <em>Malik Ad Daar adalah tabiin Madinah dan Muhaddis mereka.</em> Kemudian anda menanggapi dengan berkata</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Saya katakan : Ini adalah satu kekeliruan. Makna muhaddits yang disebutkan para ulama hadits terdahulu tidaklah selalu bermakna orang yang memberikan pengajaran dalam halaqah-halaqah. Tapi ia lebih ke makna umum, yaitu orang yang mempunyai riwayat-riwayat hadits.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh mengagumkan, makna umum anda bahwa <em>Muhaddis adalah orang yang mempunyai riwayat-riwayat hadis</em> merupakan hal yang sangat asing bagi saya. Kalau memang begitu maka <em>makna Muhaddis tidaklah memiliki pujian atau kehormatan apapun karena hampir semua perawi hadis memiliki riwayat-riwayat hadis, itu berarti hampir semua perawi hadis adalah seorang muhaddis. </em>Apalagi ternyata para perawi yang dhaif juga memiliki riwayat-riwayat hadis, menurut pengertian anda maka mereka juga seorang Muhaddis. Mengapa sekarang anda tidak merujuk pada pengertian Muhaddis seperti yang dikatakan oleh para Ulama, misalnya pengertian Muhaddis menurut Al Hafiz As Sakhawi. Bukankah merujuk pada kaidah ulama adalah sesuatu yang sering anda lakukan.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Kalau Anda ingin mengarahkan pada makna bahwa Maalik ini setelah meletakkan jabatannya melakukan pengajaran hadits dalam bentuk halaqah-halaqah, tentu sudah lazim hal ini akan berkonsekuensi akan ternukil banyak darinya riwayat-riwayat hadits yang disampaikan oleh murid-muridnya. Contoh ulama yang membuka halaqah di sini adalah ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Sufyan Ats-Tsauri, Maalik bin Anas, dan yang semisalnya; dimana dari mereka ternukil banyak riwayat. Namun hal itu tidak terjadi pada diri Maalik. Maalik Ad-Daar ini – sebagaimana Anda ketahui, semoga &#8211; termasuk perawi yang tidak banyak meriwayatkan dan diriwayatkan darinya hadits. Lalu, kemana murid-murid yang menghadiri halaqahnya pada waktu itu ? Atau memang hanya Abu Shaalih, Ibnu Yarbu’, dan dua orang anaknya saja yang meriwayatkan hadits darinya ? Kalau kenyataan hanya sejumlah orang ini, maka logika yang cepat diterima bahwa Maalik ini tidak mempunyai halaqah penyampaian hadits seperti ‘Atha’ atau Sufyan Ats-Tsauri sebagaimana yang Anda klaim. Atau Anda nanti ingin menyebutkan riwayat-riwayat yang dibawakan oleh Maalik ? silakan, dengan senang hati saya akan memperhatikannya……</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Logika anda berkesan benar tetapi menyimpan banyak kerancuan, ia hanya akan tampak benar bagi orang yang tidak pernah belajar ilmu hadis. Pernyataan bahwa <em>Malik Muhaddis Madinah </em>adalah pernyataan yang saya kutip dari Ibnu Ma’in. Tentu seorang Muhaddis akan banyak meriwayatkan hadis, kalau seseorang hanya meriwayatkan satu atau dua buah hadis apakah orang tersebut pantas untuk disebut Muhaddis. Mungkin saja Malik ini memiliki banyak murid dan mungkin saja ia memiliki cukup banyak hadis walaupun pada akhirnya hadis yang sampai kepada kita memang sedikit. Hujjah saya bersandar pada pernyataan Ibnu Ma’in bahwa <em>Malik Ad Daar Tabiin Ahlul Madinah dan Muhaddis Mereka</em>, Hal ini menunjukkan bahwa Malik dikenal di kalangan tabiin madinah sebagai Muhaddis mereka, apakah tabiin madinah itu hanya terbatas pada Abu Shaalih, Ibnu Yarbu’, dan dua orang anak Malik?. Bagi saya pernyataan bahwa <em>Malik adalah Muhaddis bagi tabiin Madinah</em> itu memiliki faedah bahwa banyak tabiin madinah yang belajar hadis dari Malik, mengenai siapa mereka dan mana hadis-hadis mereka maka itu adalah soal lain dan tidak menafikan kalau <em>Malik adalah Muhaddis bagi tabiin Madinah.<br />
.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Analogi yang pas untuk menjawab logika anda ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat dengan redaksi <em>“Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami” </em>atau <em>“kami mendengar Rasulullah SAW bersabda”</em> atau <em>“Rasulullah SAW berkata kepada orang-orang”.</em> Redaksi seperti ini menyiratkan bahwa <em>Rasulullah SAW menyampaikan hadis tersebut kepada banyak sahabat sehingga logikanya sudah pasti hadis tersebut akan sampai kepada kita dengan jalur yang banyak. </em>Tetapi kenyataannya tidak selalu begitu, cukup banyak hadis dengan redaksi demikian yang disampaikan dengan jalur satu atau dua sahabat. Bukankah dengan cara berpikir anda maka dapat dikatakan<em> akan ternukil banyak sekali jalan hadis tesebut dari berbagai sahabat yang mendengar langsung hadis tersebut,</em> seandainya kita hanya menemukan satu sahabat saja yang meriwayatkan hadis tersebut maka apakah dengan mudahnya kita akan meragukan hadis tersebut?. Apakah dengan tidak ditemukannya jalur sahabat-sahabat yang lain maka kesaksian satu sahabat ini gugur?. Bagi saya tidak ditemukannya jalur sahabat-sahabat yang lain itu tidak menafikan bahwa <em>hadis tersebut telah disampaikan Rasul SAW kepada banyak sahabat.</em> Camkanlah itu, walaupun saya tidak bisa menunjukkan siapa-siapa yang belajar hadis kepada Malik atau hadis-hadis Malik yang lain maka itu tidaklah menafikan kenyataan bahwa <em>Malik Ad Daar adalah Muhaddis Madinah.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Oleh karena itu, muhaddits di sini maknanya adalah umum sebagaimana yang telah saya tegaskan. Tidak perlu ia seorang yang membuka halaqah-halaqah khusus, sehingga harus ‘lengser’ dulu dari jabatan khaazin. Kalaupun toh hal itu tetap ‘dipaksa’ untuk dipahami bahwa Maalik seorang ahli hadits yang mempunyai halaqah tersendiri di masjid, itupun tidak mesti ia harus tidak menjabat sebagai khaazin.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya menunjukkan kemungkinan yang lebih rajih sedangkan klaim seenaknya anda bahwa <em>Muhaddis itu berarti orang yang mempunyai hadis-hadis </em>adalah ngawur karena itu berarti <em>semua periwayat hadis baik tsiqat ataupun dhaif, baik masyhur ataupun tidak adalah Muhaddis. </em>Bukankah setiap perawi hadis memiliki hadis-hadis?. Gelar Muhaddis tidak diberikan kepada sembarang orang, apalagi jika dikatakan <em>Malik Ad Daar Muhaddis bagi tabiin Madinah</em> maka dapat dikatakan bahwa banyak tabiin Madinah yang belajar hadis kepada Malik dan saat itulah Malik menyampaikan hadis-hadisnya. Hal ini lebih mungkin terjadi pada masa Khalifah Usman karena telah cukup dikenal bahwa <em>Masa khalifah Umar adalah Masa pembatasan dalam periwayatan hadis </em>karena Umar melarang para sahabat untuk meriwayatkan banyak hadis, Bukankah Malik termasuk orang dekat Umar dalam pemerintahan sehingga jika para tabiin Madinah belajar hadis dari Malik maka itu lebih mungkin terjadi pada zaman khalifah Usman atau setelahnya. Disinilah saya mengatakan bahwa <em>Malik Ad Daar sudah cukup lama mengajar hadis kepada tabiin Madinah sehingga ia dikatakan sebagai Muhaddis mereka</em>, hal ini menyiratkan bahwa lebih mungkin Malik Ad Daar masih hidup sampai pertengahan atau akhir kekhalifahan Usman.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Logika-logika yang Anda bangun atas taariikh Maalik Ad-Daar ini hanyalah berdasarkan ilmu kirologi (alias kira-kira saja) karena hasrat besar untuk men-tashhih-kan riwayat, namun tanpa landasan yang kokoh.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh betapa naifnya, bukankah anda sendiri tidak memiliki landasan yang kokoh dalam mendhaifkan hadis Malik Ad Daar?. Bukankah anda tidak memiliki hujjah yang cukup untuk membuktikan kekeliruan pentashihan Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir?. Bukankah illat yang anda pertahankan mati-matian itu hanyalah kira-kira saja alias kirologi?. Ini hanyalah hasrat besar untuk mendhaifkan hadis tanpa ada landasan yang kokoh. Padahal ahli hadis sekelas Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir telah menshahihkan hadis tersebut. Hadis apapun atau seshahih apapun memang bisa saja dicari kemungkinan-kemungkinan untuk mendhaifkannya.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Apakah maksud kalimat Anda : sesuatu yang berlangsung dalam waktu lama alias tidak terjadi dengan sekejap hanya Anda khususkan untuk masa ‘Utsman saja, tidak meliputi masa ‘Umar ? Sungguh tanaqudl hujjah Anda ! Sekali lagi saya katakan : Penamaan Maalik ‘Ad-Daar’ ketika ‘Utsman naik tahta itu karena ia telah menjabat hal yang sama semenjak jaman ‘Umar.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sudah jelas bahwa anda tidak mengerti apa yang saya katakan atau dimana letak hujjah saya. Saya jelaskan dengan lebih rinci</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li> Penamaan Malik Ad Daar itu dikarenakan ia dipercaya oleh Kedua khalifah yaitu Khalifah Umar dan Usman.</li>
<li> Sebuah gelar menjadi terkenal atau masyhur dikalangan orang-orang, itu tidak berlangsung dalam sekejap tetapi butuh waktu yang lama karena melibatkan pembicaraan yang terus-menerus di kalangan orang-orang tersebut.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Gelar yang masyhur di kalangan tabiin bahwa <em>Malik bin Iyadh adalah Malik Ad Daar</em> bukanlah sesuatu yang otomatis langsung saja terjadi tepat ketika Malik diangkat oleh Khalifah Usman. Untuk menjadi masyhur maka membutuhkan pembicaraan yang berulang-ulang di kalangan orang-orang pada masa khalifah Usman. Oleh karena itulah waktu lama yang saya maksudkan dimulai dari masa kekhalifahan Usman karena tepat pada saat itu orang-orang mengetahui bahwa <em>Malik telah dipercaya oleh khalifah Umar dan Usman. </em>Disinilah saya membuat kemungkinan yang lebih rajih bahwa <em>Malik Ad Daar masih hidup pada pertengahan atau akhir masa ke khalifahan Usman.</em> Dimana letak sulitnya memahami itu, justru yang sulit jika tiba-tiba ketika Usman diangkat oleh khalifah Usman maka saat itu juga ia berubah menjadi Malik Ad Daar, bagi saya butuh waktu agar gelar tersebut menjadi masyhur di kalangan orang-orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan saja jika pada awal-awal kekhalifahan Usman, Malik Ad Daar ini wafat maka apakah saat itu orang-orang akan memanggilnya Malik Ad Daar?, saya rasa tidak karena jika memang ia telah wafat maka tidak ada kebutuhan untuk memanggil namanya atau berhubungan dan membicarakan namanya sehingga gelar tersebut tidak akan masyhur di kalangan tabiin, berbeda halnya jika ia menjabat lama sampai pertengahan atau akhir kekhalifahan Usman karena terdapat waktu yang lama bagi orang-orang untuk berhubungan dengan Malik atau membicarakan Malik sehingga gelar tersebut menjadi masyhur di kalangan tabiin.<br />
.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tarikh Abu Shalih As Saman</strong><br />
Dalam pembahasan Abu Shalih sebelumnya, saya mengutip perkataan Adz Dzahabi dalam <em>As Siyar </em>bahwa Abu Shalih menyaksikan peristiwa Pengepungan Usman. Dalam kitab tersebut Adz Dzahabi menggunakan lafal <em>“disampaikan kepada kami”.</em> Kemudian anda menanggapi</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Di sini ternyata Anda tidak konsisten dalam berhujjah. Ketika Anda mengkritik saya ketika menggunakan perkataan Al-Khaliliy – dalam bahasan bahwa ada dua pendapat tentang riwayat Abu Shaalih dari Maalik Ad-Daar &#8211; dengan menggunakan shighah : yuqaalau (dikatakan), dimana Anda mengatakan : Al Khalili tidak menyebutkan dengan jelas siapa yang mengatakan. Namun anehnya di sini Anda menggunakan pernyataan Adz-Dzahabi yang menggunakan shighah yang serupa : “dari apa yang sampai kepada kami”. Apakah Anda pikir perkataan Adz-Dzahabi ini jelas siapa yang mengatakan, sedangkan perkataan Al-Khaliliy itu tidak jelas siapa yang mengatakannya ? Sebuah inkonsistensi yang sangat nyata.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya katakan : Anda terburu-buru sekali dalam mengambil kesimpulan. Secara pribadi saya tidak menolak apa yang dikatakan Al Khalili tetapi tidak begitu saja diterima dengan mutlak karena Penukilan Al Khalili menyebutkan dua hal yang berbeda yaitu <em>sebagian mengatakan Abu Shalih mendengar langsung dari Malik </em>dan <em>sebagian lagi mengatakan Abu Shalih mengirsalkannya. </em>Tentu saja untuk menentukan yang lebih rajih maka diperlukan mengetahui siapa-siapa yang berpendapat demikian, sehingga kita dapat membandingkan yang mana merupakan pendapat Ulama mu’tabar. Sedangkan inkonsistensi yang anda tuduhkan pada saya jelas berbeda dengan kutipan Al Khalili karena disana Adz Dzahabi tidak menukil pendapat yang menyelisihi kutipan sebelumnya <em>“Abu Shalih menyaksikan Pengepungan Usman”.</em> Jadi boleh-boleh saja saya berhujjah dengan kutipan Adz Dzahabi tersebut. So, siapa yang tanaqudh? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Lagipula apa sebenarnya yang anda permasalahkan, kalau anda mau sedikit rajin membuka kitab-kitab lain seperti <em>Tadzkirah Al Huffa</em>z Adz Dzahabi 1/69 no 78 maka akan anda temukan kalau Adz Dzahabi menetapkan bahwa <em>Abu Shalih menyaksikan pengepungan Usman tanpa memakai sighat “apa yang sampai kepada kami”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula jika anda membuka kitab <em>At Tahdzib </em>Ibnu Hajar 3/189 no 417, beliau berkata</p>
<p style="text-align:right;">ذكوان أبو صالح السمان الزيات المدني مولى جويرية بنت الأحمس الغطفاني شهد الدار زمن عثمان</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dzakwan Abu Shalih As Saman Az Zayat Al Madani Mawla Juwairiyah binti Al Ahmas Al Ghatfani menyaksikan pengepungan Utsman.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian berdasarkan keterangan ini yaitu<em> Abu Shalih menyaksikan pengepungan Usman</em>, saya membuat perkiraan waktu lahirnya Abu Shalih. Setelah itu anda membantah saya dengan berbagai pengertian baligh beserta kemungkinannya. Pengertian baligh yang anda kutip adalah</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Ihtilam yaitu keluarnya mani baik karena mimpi atau yang lainnya</li>
<li> Tumbuhnya rambut kemaluan</li>
<li> Usia lima belas tahun</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari ketiga kemungkinan itu seharusnya sudah bisa dipilih yang mana yang lebih rajih. Ihtilam dan tumbuhnya rambut kemaluan jelas tidak dapat digunakan sebagai hujjah disini karena kedua pengertian ini justru membutuhkan data baru kapan tepatnya Abu Shalih mengalami ihtilam atau tumbuhnya rambut kemaluan, dan saya yakin anda tidak akan pernah menemukan data itu. Jadi kemungkinan yang lebih rajih adalah yang ketiga yaitu Usia lima belas tahun. Dan seperti kata anda sendiri</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Taruhlah kita gunakan usia 15 tahun. Bukankah dengan batasan ini berarti bisa jadi Abu Shaalih lahir pada tahun 20 H ? Jika Maalik wafat di awal-awal pemerintahan ‘Utsman, maka bisa jadi Abu Shaalih ketika itu baru berusia 4 atau 5 tahun. Ini satu kemungkinan.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang saya harus menuruti anda maka saya tanya <em>bisakah anak usia 4 atau 5 tahun menerima hadis?. </em>Bukankah sebelumnya anda berkata</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>“Apakah ada ketentuan umur tertentu bagi seorang anak untuk mendengarkan hadits ?<br />
a)    Sebagian ulama menentukan usia adalah mulai 5 tahun. Inilah yang ditetapkan oleh oleh para ahli hadits.<br />
b)    Sebagian di antara mereka berkata : Yang benar adalah usia mumayyiz. Jika seorang anak telah mengerti satu seruan dan bisa menjawabnya, maka ia sudah mumayyiz dan dibenarkan untuk mendengarkan hadits. Jika hal itu tidak dijumpai pada seorang anak, maka tidak diperkenankan untuk mendengarkan hadits” [Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Dr. Mahmud Ath-Thahhan, hal. 122].</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anak usia 4 tahun atau 5 tahun biasanya telah mengerti satu seruan dan bisa menjawabnya, maka ia sudah mumayyiz dan dibenarkan untuk mendengarkan hadits. Jadi dengan hujjah anda sendiri maka tidak ada halangan Abu Shalih mendengar dari Malik.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Maka, sangat terbuka kemungkinan dalam hal ini bahwa Abu Shaalih saat menyaksikan peristiwa pengepungan di rumah ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu masih berusia 13-14 tahun. Tidak harus selalu dibawa kepada kecondongan 17 tahun ke atas (agar sesuai dengan otak-atik Anda).</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentu karena saya sendiri tidak memiliki data pasti maka saya katakan kemungkinan tersebut bisa saja terjadi tetapi bagi saya kemungkinan tersebut jauh dan tidak menjadi illat yang menjatuhkan. Oleh karena itu kembali saya tunjukkan kemungkinan lain</p>
<p style="text-align:justify;">Dzakwan Abu Shalih As Saman dikatakan oleh Ibnu Jauzi dalam <em>Al Muntazam Fi Tarikh</em> 7/69 bahwa ia telah mendengar langsung dari Ka’ab Al Akhbar</p>
<p style="text-align:right;">ذكوان أبو صالح السمان‏ سمع من كعب الأحبار</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dzakwan Abu Shalih As Saman mendengar dari Ka’ab Al Akhbar</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ka’ab Al Akhbar adalah orang Yaman yang pindah dan menetap di Syam, beliau datang ke Madinah pada masa Umar dalam perjalanannya dari Yaman ke Syam. Ka’ab wafat di Syam tepatnya di Hims pada masa pemerintahan Usman . Sedangkan Abu Shalih adalah orang Madinah. Jadi jika dikatakan bahwa Abu Shalih mendengar dari Ka’ab maka lebih mungkin kalau Abu Shalih mendengar dari Ka’ab ketika Ka’ab berada di Madinah yaitu pada masa pemerintahan Umar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain pada masa pemerintahan Umar, <em>Abu Shalih sudah dapat mendengar hadis dari Ka’ab </em>maka diasumsikan pada masa Umar, Abu Shalih sudah memenuhi syarat untuk menerima atau mendengar hadis. Berdasarkan hal ini maka tidak ada halangan bagi Abu Shalih mendengar hadis dari Malik Ad Daar yang juga merupakan orang Madinah dan hidup pada masa pemerintahan Umar.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Terkait dengan hal tersebut, maka di sini persoalannya menjadi musykil, karena tidak diketahui secara pasti apakah Abu Shaalih benar-benar semasa dan bertemu dengan Maalik Ad-Daar. Adapun teori-teori dan logika-logika Anda di atas sama sekali tidak berdasar apapun kecuali hanya kecondongan yang telah ada pada diri Anda sebelumnya. Padahal kemungkinan antara bertemu dan tidak bertemu di sini sama kuatnya, tidak bisa ditarjih. Ini satu ‘illat dalam hadits, sama halnya ‘illat yang diisyaratkan oleh Ibnu Shalaah mengenai para perawi mukhtalithiin.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan anda bahwa kemungkinan tersebut sama kuatnya adalah pernyataan yang tidak benar, itu adalah klaim anda semata. Abu Shalih benar-benar semasa dengan Malik. Anda mengutip Ibnu Shalah tetapi anda menerapkannya dengan cara membabibuta. Ibnu Shalah sendiri sedang membicarakan perawi mukhtalith, dimana hal tersebut menjadi musykil jika tidak diketahui apakah diriwayatkan sebelum atau sesudah tercampur hafalan. Sayangnya saya tidak melihat kata-kata bahwa Ibnu Shalah menganggap hal yang musykil itu menjadi dhaif. Pendapat yang benar dalam hal ini adalah <em>kedudukan hadis tersebut ditawaqufkan sampai ada dalil lain yang menguatkannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Anda menganalogikan perkataan Ibnu Shalah dengan hadis Malik Ad Daar dimana anda mengatakan tidak diketahui secara pasti apakah Abu Shaalih benar-benar semasa dan bertemu dengan Maalik Ad-Daar. Mari saya perjelas rusaknya cara berpikir anda dengan contoh-contoh yang sudah saya sebutkan sebelumnya tetapi tidak anda tanggapi karena menurut anda tidak relevan.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis ‘Amasy dari Abu Shalih</strong><br />
Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy adalah seorang mudallis. Kedudukannya sebagai mudallis berarti memiliki kemungkinan <em>ketika ‘Amasy meriwayatkan hadis dari Abu Shalih dengan lafal ‘an bisa saja sebenarnya ia mendapatkan hadis tersebut dari orang lain yang mendengarnya dari Abu Shalih</em>, Ini sebuah kemungkinan. Tetapi kita ketahui bahwa Abu Shalih adalah guru ‘Amasy sehingga kita dapat menemukan hadis-hadis ‘Amasy dari Abu Shalih yang menggunakan sighat sama’ langsung. Berdasarkan hal ini maka hadis ‘Amasy dari Abu Shalih dengan lafal ‘an juga memiliki <em>kemungkinan bahwa ia mendengar langsung hadis tersebut dari Abu Shalih</em>, Ini kemungkinan yang lain. Berkenaan dengan hadis ‘Amasy dengan lafal ‘an kita dapatkan dua kemungkinan</p>
<ol>
<li> ‘Amasy tidak mendengar hadis tersebut dari Abu Shalih</li>
<li> ‘Amasy mendengar hadis tersebut dari Abu Shalih</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kedua kemungkinan ini bisa saja terjadi dan satu-satunya cara mentarjihkan kedua kemungkinan tersebut adalah dengan melihat pada kitab-kitab lain <em>apakah hadis tersebut diriwayatkan ‘Amasy dengan sighat sama’ langsung sehingga dengan pasti kita dapat mengatakan ‘Amasy mendengar hadis tersebut dari Abu Shalih.</em> Tetapi jika tidak ada maka hal ini menjadi musykil <em>apakah benar ‘Amasy mentadliskan hadis tersebut atau mendengar langsung hadis tersebut. </em>Oleh karena kita tidak dapat menentukan kemungkinan yang lebih rajih atau kita tidak mengetahui secara pasti apakah dalam hadis ini ‘Amasy mendengar langsung dari Abu Shalih maka <em>hadis tersebut terhukum munqathi dan dhaif.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan saya di atas adalah cara berpikir anda yang saya terapkan pada <em>hadis lafal ‘an ‘Amasy.</em> Saya rasa anda mengetahui bahwa <em>hadis lafal ‘an ‘Amasy yang tidak memiliki bukti adanya sanad lain dengan sima’ langsung</em> terdapat pada kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Apakah anda akan mendhaifkan hadis-hadis tersebut?. Ah mungkin tidak karena dari diskusi sebelumnya anda menerima <em>hadis lafal ‘an ‘Amasy dari Abu Shalih</em>. Silakan renungkan</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama tidak menerapkan dengan ketat teori ulumul hadis salah satunya soal mudallis di atas sehingga mereka membuat aksioma baru seperti Ibnu Hajar yang <em>membagi Mudallis dalam kelima tingkatan dan menyatakan bahwa mudallis tingkat pertama dan kedua bisa diterima hadisnya.</em> ‘Amasy dimasukkan Ibnu Hajar dalam mudallis martabat kedua sehingga hadisnya dengan lafal ‘an bisa diterima. Begitu pula Adz Dzahabi dalam <em>Al Mizan </em>juga menyatakan aksioma bahwa <em>hadis-hadis ‘Amasy dengan lafal ‘an dari para Syaikhnya dianggap muttashil.</em> Padahal aksioma-aksioma ulama tersebut lebih merupakan aksi penyelamatan dibandingkan pembuktian. <em>Teori-teori mereka baik Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi tidak menafikan atau memustahilkan kemungkinan ‘Amasy mentadliskan hadis Abu Shalih. </em>Kemungkinan ini tetap ada sehingga tidak bisa dipastikan kalau hadis tersebut muttashil. Disinilah saya lebih mengikuti aksioma Ibnu Hajar atau Adz Dzahabi dibanding teori ulumul hadis yang justru berkembang jauh setelah periwayatan hadis karena implikasinya yang cukup besar yaitu <em>“Mendhaifkan banyak hadis shahih”.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Abu Zubair dari Jabir</strong><br />
Abu Zubair adalah perawi tsiqah yang meriwayatkan hadis dari Jabir RA. Hadis-hadisnya dari Jabir ada yang <em>diriwayatkan dengan sima’ langsung </em>dan <em>ada juga yang dengan lafal ‘an</em>. Abu Zubair adalah mudallis martabat ketiga seperti yang dikatakan Ibnu Hajar. Mari kita bicarakan hadis Abu Zubair dari Jabir dengan lafal ‘an. Sama seperti sebelumnya ada dua kemungkinan</p>
<ol>
<li> Abu Zubair mentadliskan hadis tersebut dari Jabir</li>
<li> Abu Zubair mendengarkan hadis tersebut langsung dari Jabir</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kedua kemungkinan ini bisa saja terjadi pada <em>hadis lafal ‘an Abu Zubair dari Jabir. </em>Cara mentarjihkan dua kemungkinan ini adalah <em>mencari sanad lain hadis tersebut dimana Abu Zubair menegaskan sima’nya dari Jabir.</em> Jika tidak ada maka hal ini menjadi musykil <em>apakah Abu Zubair mentadliskan hadis tersebut atau mendengar langsung hadis tersebut. </em>Oleh karena <em>kita tidak dapat menentukan kemungkinan yang lebih rajih</em> atau <em>kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah dalam hadis ini Abu Zubair mendengar langsung dari Jabir </em>maka <em>hadis tersebut terhukum munqathi atau dhaif.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan saya di atas adalah cara berpikir anda yang saya terapkan pada <em>hadis lafal ‘an Abu Zubair dari Jabir</em>. Saya rasa anda mengetahui bahwa <em>hadis Abu Zubair dengan lafal ‘an dari Jabir yang tidak memiliki bukti sanad lain dengan sima’ langsung</em> benar-benar terdapat pada kitab <em>Shahih Muslim</em>. Artinya Imam Muslim sendiri mengakui kalau hadis tersebut shahih.</p>
<p style="text-align:justify;">Para Ulama tidak menerapkan dengan ketat teori ulumul hadis soal mudallis di atas bahkan Ibnu Hajar sendiri tidak menerapkan dengan ketat kaidah yang ia buat mengenai tingkatan mudallis yang hadisnya diterima. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa <em>mudallis martabat ketiga diterima hadisnya jika menyebutkan sima’ langsung tidak dengan lafal ‘an.</em> Tentu saja jika kaidah ini diterapkan maka akan banyak sekali hadis <em>Shahih Muslim</em> yang jatuh ke dalam derajat dhaif. Dalam hal ini saya lebih mengikuti Imam Muslim yang menshahihkan <em>hadis lafal ‘an Abu Zubair dari Jabir</em> karena jika tidak implikasinya akan sangat besar yaitu <em>“Mendhaifkan banyak hadis shahih”.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Mu’an’an Perawi Tsiqat Bukan Mudallis</strong><br />
Jika seorang perawi tsiqat meriwayatkan <em>hadis dengan lafal ‘an </em>dari perawi tsiqat lain dimana kedua perawi tersebut berada dalam satu masa maka memiliki dua kemungkinan</p>
<ol>
<li> Perawi tersebut mendengar langsung hadis tersebut dari perawi yang satunya</li>
<li> Perawi tersebut memursalkan hadis tersebut dari perawi yang satunya karena sudah sangat dikenal bahwa <em>banyak perawi tsiqat telah mengirsalkan hadis dari perawi tsiqat walaupun berada dalam satu masa</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Maka disini kita dapati dua kemungkinan yang bisa saja terjadi dan kita tidak dapat memastikan tidak ada irsal kecuali dengan memastikan bahwa <em>kedua perawi tersebut pernah bertemu atau mencari sanad lain yang menunjukkan sima’ langsung antara kedua perawi tersebut.</em> Jika tidak bisa maka hal ini menjadi musykil <em>apakah benar perawi tersebut mengirsalkan hadis atau mendengar hadis tersebut secara langsung dari perawi yang satunya. </em>Oleh karena k<em>ita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah perawi tersebut mendengar langsung hadis tersebut dari perawi satunya </em>maka kemungkinan mursal tetap ada sehingga <em>hadis tersebut terhukum munqathi atau dhaif.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan saya di atas adalah cara berpikir anda yang saya terapkan pada <em>hadis Muanan perawi tsiqat bukan mudallis.</em> Saya rasa anda tahu bahwa pada zaman Imam Muslim terdapat <em>Ulama hadis yang berpikir dengan gaya anda ini. </em>Ulama tersebut telah mendapat bantahan yang keras oleh Imam Muslim dimana beliau mengatakan kalau pendapat ulama tersebut adalah bid’ah dan batil serta bertentangan dengan ijma’ ulama. Dari sinilah muncul apa yang dinamakan <em>Persyaratan Imam Muslim</em> yang bagi saya jauh lebih tepat diterapkan dibandingkan Ulama hadis tersebut karena jika kaidah ulama tersebut diterapkan akan <em>banyak sekali hadis shahih yang menjadi dhaif.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Persyaratan Imam Muslim berdiri atas dasar kemungkinan pertemuan atau kemungkinan untuk penyimakan hadis. Sedangkan kaidah <em>ulama dengan cara berpikir anda diatas </em>berdiri atas dasar kepastian penyimakan. Jadi sebenarnya dengan cara berpikir anda maka <em>persyaratan Imam Muslim itu berarti &#8220;mungkin muttashil</em>&#8221; karena tidak memustahilkan terjadinya irsal. Anehnya anda menganggap <em>mungkin muttashil</em> sebagai sesuatu yang menggelikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian berikut yang saya pahami. Hadis-hadis yang memenuhi persyaratan Imam Muslim dianggap sebagai hadis yang muttashil karena jika kedua perawi tsiqat berada dalam satu masa dan meriwayatkan hadis dengan lafal ‘an maka sudah terdapat petunjuk yang menegaskan bahwa kedua perawi tersebut telah bertemu atau telah terjadi penyimakan hadis. Petunjuk tersebut adalah <em>Kesaksian perawi tsiqat atau kata-kata perawi tsiqat dimana ia mengatakan hadis tersebut dengan lafal ‘an atau dari. </em>Inilah yang saya pahami dari kata-kata Imam Muslim<em> </em>yaitu <em>telah disepakati oleh para ulama setiap perawi tsiqat yang meriwayatkan hadis dengan lafal ‘an maka itu berarti dimungkinkan untuk perawi tersebut bertemu dan mendengar hadis darinya</em>. Secara umum ini memang bisa diterima karena perkataan orang yang tsiqat adalah perkataan yang dapat diterima.<br />
.<br />
.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Ini bukan persoalan sok ketat atau sok longgar. Tapi bagaimana memahami kaidah-kaidah ilmu hadits yang pada kenyataannya Anda telah banyak melakukan kekeliruan di dalamnya. Menerapkan secara membabi-buta persyaratan ‘sejaman’ dari Al-Imam Muslim.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf saya tidak tertarik dengan pernyataan sok anda soal kaidah ilmu hadis yang anda pikir saya telah melakukan banyak kekeliruan. Lihat kembali contoh-contoh yang saya ajukan di atas, semua itu sangat relevan dengan <em>cara berpikir anda yaitu adanya dua kemungkinan yang tidak bisa dirajihkan. </em>Kenyataannya terdapat kesenjangan antara kaidah ilmu hadis dan penerapannya, kesenjangan yang dialami oleh banyak ulama dari masa ke masa. Silakan saja kalau anda mau menafikan dengan alasan <em>kaidah emas ilmu hadis</em> yang pada kenyataannya tidak secara konsisten diterapkan oleh para Ulama.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Perajihan yang tanpa dasar. Ingat,… satu sanad riwayat hadits itu pada asalnya dihukumi munqathi’. Ia baru dihukumi muttashil jika memenuhi syarat yang telah ditetapkan, termasuk persyaratan sejaman.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hukum munqathi dengan cara seperti ini hanyalah bentuk kehati-hatian dan bukan bagian dari metode ulumul hadis. Hal ini dikarenakan cara-cara untuk menetapkan suatu sanad sebagai muttashil telah berkembang dengan baik. Dari <em>yang mensyaratkan sima’ langsung </em>sampai dengan <em>yang cukup mensyaratkan sezaman. </em>Padahal <em>persyaratan sezaman agar dapat dianggap muttashil justru memiliki dasar dari kesaksian perawi tsiqat </em>dengan kata lain tidak ada alasan bagi anda untuk mengatakan bahwa <em>hadis para perawi tsiqat dihukum munqathi sampai bisa dibuktikan penyimakannya.</em> Bagi saya <em>hadis para perawi tsiqat adalah shahih sampai bisa ditunjukkan kalau ia munqathi.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Kaidah ini jangan dibolak-balik, bahwa saya yang harus membuktikan bahwa itu adalah munqathi’/mursal. Logika argumen Anda ini cukup aneh. Oleh karena itu, ketika para ulama menetapkan beberapa persyaratan satu hadits dikatakan shahih, maka kewajiban bagi para peneliti untuk membuktikan persyaratan tersebut pada hadits dimaksud.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apanya yang aneh?. Buka pikiran anda baik-baik, saya tanya apakah jika kedua perawi tsiqat sezaman maka itu pasti muttashil?. Saya yakin anda akan menjawab tidak berdasarkan kenyataan bahwa <em>perawi semasa juga mengirsalkan hadis</em>, lantas mengapa para ulama menganggap sezaman sebagai muttashil, apa dasarnya?. Itu berdasarkan k<em>esaksian atau perkataan perawi tsiqat tersebut yang diterima selagi tidak ada bukti yang menunjukkan kalau perawi tersebut telah mengirsalkan</em>. Bukan berarti saya mengatakan bahwa <em>jika suatu hadis semua para perawinya tsiqat maka sudah pasti shahih. </em>Disinilah tugas kita untuk melihat <em>apakah ada yang menyangkal kesaksian perawi tsiqat tersebut </em>dimulai dari melihat sejarah hidup mereka <em>apakah mereka hidup semasa sehingga mungkin bertemu atau tidak </em>sampai dengan <em>pernyataan ulama mu’tabar yang menetapkan adanya inqitha’.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Jika tidak memenuhi syarat, maka kembali ke hukum asal : dla’if. Jika berhubungan dengan kebersambungan sanad, hukum asalnya : munqathi’ (jika tidak bisa dibuktikan bersambungnya sanad). Anda harus banyak memperhatikan para perkataan para muhaqqiq tentang ini.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya setuju dengan kata-kata anda hanya saja saya terkadang melihat selip pada pembicaraan anda. Pembahasan saya yang panjang soal <em>Abu Shalih yang semasa dengan Malik</em> dan Penegasan para Ulama mu’tabar bahwa <em>Abu Shalih meriwayatkan dari Malik tanpa adanya mereka menyebutkan inqitha’ </em>adalah usaha saya untuk menunjukkan bahwa sanad tersebut muttashil. Lagipula bukankah ulama seperti <em>Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir telah menshahihkan hadis tersebut.</em> Kalau anda menyetujui kaidah yang mengatakan bahwa <em>Penshahihan suatu hadis berarti tautsiq terhadap para perawinya</em> maka tidak salah untuk dikatakan bahwa <em>Penshahihan suatu hadis juga berarti penegasan akan bersambungnya sanad tersebut. </em>Pada posisi ini sebenarnya <em>tugas andalah untuk membuktikan kalau memang hadis tersebut munqathi atau dhaif.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Al-Khaliliy telah mengatakan bahwa para ulama di masanya mengatakan bahwa Abu Shaalih telah mengirsalkan hadits dari Maalik dan yang lain mengatakan sima’-nya. Tugas Anda adalah membuktikan bahwa Abu Shaalih benar-benar mendapatkan sima’-nya dari Maalik Ad-Daar.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aneh sekali, kalau saya berhujjah dengan Al Khalili maka saya katakan</p>
<ol>
<li>Al Khalili menyebutkan kalau sebagian ulama semasanya menyatakan <em>Abu Shalih telah mendengar langsung hadis tersebut dari Malik</em></li>
<li>Kemudian saya dapati ternyata para ulama mu’tabar seperti Bukhari, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Ibnu Saad, Imam Ahmad, Ibnu Hajar, Ibnu Asakir, Adz Dzahabi tidak ada satupun yang menegaskan <em>inqitha’ Abu Shalih dari Malik </em>bahkan mereka menegaskan periwayatannya.</li>
<li>Kemudian saya tidak menemukan keterangan dari Tarikh Abu Shalih maupun Malik yang menunjukkan adanya inqitha’ dan yang terakhir</li>
<li>Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir telah menshahihkan hadis tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Jadi disini tugas andalah untuk menunjukkan kalau hadis tersebut munqathi. Kalau anda dengan berani mengatakan <em>Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir keliru </em>maka tunjukkan dimana letak kekeliruannya. Tidak hanya membuat dugaan mencari-cari cara untuk mendhaifkan dengan <em>dalih illat.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Pada keterangan di atas, juga pada keterangan sebelumnya, alasan-alasan Anda itu gak ada yang ‘kena’. Perkiraan di atas perkiraan. Pengandai-andaian di atas pengandai-andaian.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aneh sekali, justru anda yang berandai-andai. Saya lihat tidak satupun anda membawakan <em>petunjuk adanya inqitha’ Abu Shalih dari Malik. </em>Sejauh ini hujjah anda <em>hanya sebatas dugaan inqitha’ </em>yang menurut saya hanya dicari-cari saja. Lucunya anda dengan semangat mengatakan kalau itu adalah <em>illat yang masyhur.</em> Padahal syaikh Al Albani sendiri sedikitpun tidak menyinggung soal inqitha’ ketika ia mendhaifkan hadis Malik Ad Daar. Syaikh malah berhujjah dengan <em>majhulnya Malik Ad Daar </em>yang menurut anda adalah hujjah yang lemah. Ditambah lagi S<em>yaikh telah menghasankan hadis Malik Ad Daar dari Ibnu Yarbu’</em> padahal kedudukannya tidak jauh berbeda dengan hadis Abu Shalih dari Malik, Silakan lihat Ibnu Yarbu’ juga tidak dikenal penyimakannya dari Malik Ad Daar sama seperti halnya Abu Shalih.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>sudah saya katakan berulang kali – sampai bosan – bahwa irsal itu tidak hanya berasal dari perkataan ulama mu’tabar, melainkan juga pada penelitian taariikh. Tidak ada orang yang ngotot dengan pernyataan ini kecuali mereka yang memang malas untuk menelaah kitab para ulama.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan sudah saya katakan berulang-ulang sampai bosan <em>mana penelitian Tarikh yang membuktikan bahwa Abu Shalih mengirsalkan hadis dari Malik Ad Daar. </em>Buktikan dong, jangan sekedar klaim. Tidak ada orang yang ngotot dengan pernyataan ini kecuali orang yang terpengaruh kecenderungan mahzabnya untuk mendhaifkan hadis tawasul.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Kritik Anda saya terima, karena setelah saya cek ulang, memang ada kalimat yang keliru dalam tulisan saya tersebut. Di situ saya menulis :<br />
Sekarang saya tanya ulang kepada Anda : “Adakah kemungkinan bahwa Abu Shaalih tidak bertemu dengan Maalik Ad-Daar dikarenakan usianya yang belum mencukupi untuk menerima periwayatan ?”.<br />
Seharusnya, kata “tidak” dalam kalimat di atas tidak ada. Sehingga kalimat yang benar adalah :<br />
“Sekarang saya tanya ulang kepada Anda : Adakah kemungkinan bahwa Abu Shaalih bertemu dengan Maalik Ad-Daar dikarenakan usianya yang belum mencukupi untuk menerima periwayatan ?”.<br />
Sudah saya ubah. Perubahan ini tidak terlalu esensial dalam inti sanggahan, karena ini murni karena adanya kekeliruan dalam penambahan sisipan kata “tidak”.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lucu, lucu sekali. Maaf anda bahkan tidak paham bagian mana yang saya kritik. Yang saya kritik adalah <em>cara berpikir anda yang keliru </em>dan dengan mudahnya anda mencari pembenaran dari <em>pernyataan Abu Umar Utaibiy</em> yang anda kutip. Perhatikan baik-baik penjelasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pernyataan Abu Umar Utaibiy</strong></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Apabila seorang perawi sejaman dengan syaikhnya maka diperiksa, apakah ia bertemu dengannya ataukah tidak diketahui pernah bertemu? Apabila diketahui ia tidak bertemu syaikhnya maka sanadnya munqathi’.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada keterangan kalau Abu Shalih tidak bertemu Malik maka tidak ada alasan untuk menyatakan munqathi</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Dan apabila tidak diketahui bertemunya, maka hukum asal dua perawi yang sejaman adalah bertemu dan mendengar selama tidak didapatkan adanya indikasi yang menunjukkan ketiadaan sima’ seperti ditegaskan oleh imam mu’tabar</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada imam mu’tabar yang menegaskan ketiadaan sima’ maka hukum asal dua perawi sezaman adalah bertemu. Abu Shalih sezaman dengan Malik. Jadi tidak ada alasan mengatakan inqitha’</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>atau tidak adanya kemungkinan bertemu dikarenakan usia belia seorang perawi yang tidak memungkinkannya menerima periwayatan, atau perbedaan negeri yang jauh dan tidak adanya rihlah (bepergian untuk mencari hadits)”</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Abu Shalih dan Malik sama-sama penduduk Madinah dan sezaman. Jadi tidak ada alasan berhujjah dengan perbedaan negeri yang jauh atau rihlah. Sekarang tinggal yang anda cetak tebal. Perhatikan disitu dikatakan <strong>Tidak adanya kemungkinan bertemu</strong>. Nah Mengapa <em>tidak ada kemungkinan bertemu</em>? Kutipan di atas menyebutkan karena <strong>Usia belia perawi yang tidak memungkinkan menerima periwayatan. </strong>Disini sudah jelas kalau perawi tersebut memang <strong>usianya belia artinya dari kitab tarikh dapat ditentukan berapa usianya saat itu atau dengan kata lain usia belianya itu memang sudah pasti dan tidak sebatas kemungkinan.</strong> Hal ini berbeda dengan klaim anda yang hanya sebatas <em>dugaan atau kemungkinan usia Abu Shalih belia.</em> Anda sendiri tidak dapat memastikan kalau <em>usia Abu Shalih masih belia sehingga tidak memungkinkan menerima periwayatan</em>. Jadi pernyataan Abu Umar Utaibiy tidak  membuat hadis Malik Ad Daar menjadi dhaif dan anda seenaknya menyamakan hujjah anda dengan pernyataan Abu Umar Utaibiy padahal ada perbedaan signifikan antara penjelasan hujjah anda dengan kutipan Abu Umar Utaibiy yang anda kutip. Inilah kritik saya itu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Jika demikian, apanya yang tidak nyambung ? Bukankah indikasi tidak bertemunya Abu Shaalih dengan Maalik itu ada ? Tepatnya : Ada kemungkinan Abu Shalih tidak mendengar dari Maalik</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru indikasi bertemunya Abu Shalih dengan Malik jauh lebih rajih.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Secara global kita katakan bahwa ada dua kemungkinan : Mungkin bertemu, mungkin pula tidak bertemu. Ya karena dua kemungkinan ada, dan Anda tidak bisa memberikan tarjih yang valid akan kemuttashilannya, maka kembali ke hukum asal : munqathi’. Sangat sesuai dengan inti kaidah di atas. Inilah yang namanya ‘illat ketika dua kemungkinan tidak bisa ditarjih. Jangan Anda berlogika terbalik dengan mengatakan : Kembali ke hukum asal, yaitu muttashil. Dengan dasar apa Anda hukumi sanad tersebut adalah muttashil ? Maksimal yang dapat Anda katakan adalah : “Sanad hadits tersebut ‘mungkin’ muttashil”. Tapi apa ada ya penghukuman hadits : ‘mungkin’ mutattashil ? Jika ada, tentu cukup menggelikan.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan baca sekali lagi, maaf saya rasa selera menggelikan anda itu buruk sekali bahkan sebenarnya hujjah anda sendiri menggelikan tetapi sayang sekali anda tidak menyadarinya.</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Atau Anda ingin mengatakan bahwa hukum perawi tsiqah non-mudallis adalah muttashil (sebagaimana yang ingin Anda kesankan berulangkali) ? Sebagaimana perkataan Anda : “Karena dalam hal ini telah ditetapkan bahwa hadis lafal an dari perawi tsiqat bukan mudallis adalah muttasil jika tidak ada keterangan yang membatalkannya”. Dari mana Anda dapatkan kaidah ini ? Asli, saya pingin tahu itu…… Tsiqah dalam hadits shahih adalah satu persyaratan, dan muttashil adalah persyaratan yang lain.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan baca kembali, pahami baik-baik pernyataan muttashil itu bersandar pada <em>perkataan perawi tsiqat sendiri dimana lafal ‘an sudah menunjukkan adanya kemungkinan penyimakan.</em></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Jadi gak ada hubungannya bahwa riwayat perawi tsiqah yang bukan mudallis itu hukum asalnya adalah muttashil.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apanya yang gak ada hubungan, apa alasan anda mengatakan tidak berhubungan. Saya rasa anda tidak mengerti maksud saya dengan benar. Ini terbukti dari kata-kata anda berikutnya</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>Padahal lazim diketahui bahwa banyak perawi tsiqah yang bukan mudallis itu mengirsalkan hadits.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oooh jadi karena banyak perawi tsiqah bukan mudallis mengirsalkan hadis maka anda katakan pernyataan saya <strong><em>hadis lafal an dari perawi tsiqat bukan mudallis adalah muttashil jika tidak ada keterangan yang membatalkannya </em></strong>itu mengada-ada. Apakah anda tidak memahami kata-kata saya <strong><em>jika tidak ada keterangan yang membatalkannya. </em></strong>Adanya irsal jelas termasuk yang membatalkan <em>apa yang saya maksud dengan muttashil.</em> Tetapi jika tidak ada irsal maka<em> lafal an dianggap muttashil.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saya tanya kepada anda, <em>Apa dasarnya anda mengatakan kalau perawi tsiqat sezaman itu muttashil?.</em> Padahal lazim diketahui bahwa <em>banyak perawi tsiqah yang sezaman telah mengirsalkan hadis.</em> Dengan cara berpikir anda maka <em>persyaratan sezaman itu tidak cukup karena masih terdapat kemungkinan perawi tersebut mengirsalkan hadis. </em>Jadi mungkin bertemu mungkin saja tidak. Kesimpulannya <em>persyaratan Imam Muslim itu mungkin muttashil</em>. Sesuatu yang anda katakan <strong><em>“menggelikan”</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ini saja yang dapat saya tuliskan, mohon maaf jika banyak terjadi pengulangan yang sudah pasti agak membosankan, karena tulisan Anda seringkali mengharuskan adanya pengulangan tersebut.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p><em>Catatan<strong> :</strong></em></p>
<ul>
<li><em>Maaf  kalau tanggapannya agak lama karena saya baru bisa update sekarang </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Lamanya saya tidak menulis, Syukur akhirnya saya bisa memaksakan diri untuk update </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Sayang sekali, keadaan masih belum lebih baik </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Sebenarnya saya punya analisis tersendiri soal Mudallis tetapi saya rasa tulisan ini saja sudah terlalu panjang</em></li>
</ul>
Posted in Fiqh, Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/930/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/930/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/930/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=930&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/05/27/shahih-hadis-malik-ad-daar-menyingkap-kerapuhan-hujjah-salafy-inqitha%e2%80%99-abu-shalih-dari-malik-ad-daar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>