<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Analisis Pencari Kebenaran</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2009 01:57:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='secondprince.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/449762091d192e9de75874735a396e1f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Analisis Pencari Kebenaran</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [4]</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-4/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 07:10:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Jabir bin Samurah
Hadis Jabir dalam perkara ru’yah ini kami temukan dalam kitab As Sunnah Ibnu Abi Ashim, hadis ini tidaklah tsabit sanadnya dan tidak bisa dijadikan hujjah. Hadis ini termasuk hadis yang tidak menyebutkan kalau ru&#8217;yah itu terjadi di dalam mimpi
ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1424&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Jabir bin Samurah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Jabir dalam perkara ru’yah ini kami temukan dalam kitab <em>As Sunnah</em> Ibnu Abi Ashim, hadis ini tidaklah tsabit sanadnya dan tidak bisa dijadikan hujjah. Hadis ini termasuk hadis yang tidak menyebutkan kalau ru&#8217;yah itu terjadi di dalam mimpi<span id="more-1424"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن طهمان ثنا سماك بن حرب عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bakir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman yang berkata telah menceritakan kepada kami<span style="color:#0000ff;"> Simmak bin Harb </span>dari Jabir bin Samurah yang berkata Rasulullah SAW bersabda <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Sesungguhnya Allah SWT telah menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk</span></span>. Maka Dia bertanya kepadaku “apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”.  Aku menjawab “wahai Rabbku aku tidak mengetahuinya”. Maka Dia meletakkan tangannya diantara kedua bahuku hingga aku merasakan dingin diantara kedua dadaku. Kemudian tidaklah Dia bertanya kepadaku kecuali Aku mengetahuinya. <strong>[As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 465]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini adalah <span style="text-decoration:underline;">hadis yang dhaif karena Simmak bin Harb</span>. Ia dita’dilkan sebagian orang dan dilemahkan oleh sebagian yang lain. Tetapi pendapat yang melemahkan lebih diunggulkan karena terdapat alasan yang jelas untuk melemahkannya yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>hadisnya mudhtharib, hafalannya yang buruk alias tidak dhabit dan ia mengalami ikhtilat</em></span>. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 4 no 405 dimana ia mengutip bahwa</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Syu’bah dan Sufyan Ats Tsawri mendhaifkannya</em></li>
<li><em>Ahmad bin Hanbal menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">hadisnya mudhtharib</span></span></em></li>
<li><em>Ibnu Ma’in menyatakan Simmak tsiqat tetapi ia juga mengatakan kalau <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Simmak sering memusnadkan hadis-hadis yang tidak dimusnadkan oleh yang lainnya.</span></span></em></li>
<li><em>Ibnu Ammar mengatakan mereka (para ulama) berkata tentangnya “Ia sering salah dan diperselisihkan hadis-hadisnya”</em></li>
<li><em>Ibnu Mubarak menyatakan “ia dhaif dalam hadis”</em></li>
<li><em>Shalih bin Muhammad Al Jazarah menyatakan ia didhaifkan</em></li>
<li><em>Ibnu Kharrasy menyatakan ada kelemahan di dalam hadisnya</em></li>
<li><em>Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “ia banyak melakukan kesalahan”</em></li>
<li><em>An Nasa’i menyatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Simmak bin Harb tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri dan ia menerima riwayat dengan talqin</span></span></em></li>
<li><em>Al Bazzar mengatakan kalau Simmak mengalami kekacauan hafalan sebelum wafat</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/394 menyatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Simmak bin Harb jujur tetapi riwayatnya dari Ikrimah mudhtharib, ia mengalami kekacauan hafalan dan ia menerima riwayat dengan talqin</em></span>. Ad Daruquthni dalam <em>Al ‘Ilal</em> 4/120 mengatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Simmak bin Harb hafalannya buruk</em></span>. Ibnu Jauzi memasukkan Simmak bin Harb dalam kitab <em>Ad Dhu’afa Wal Matrukin </em>no 1552.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kami Simmak bin Harb tidak bisa dijadikan hujjah dalam hadis ini dengan beberapa alasan. Simmak bin Harb <span style="text-decoration:underline;"><em>hadisnya mudhtharib</em></span> seperti yang dikatakan Ahmad bin Hanbal walaupun sebagian orang mengatakan bahwa riwayatnya yang mudhtharib khusus dari Ikrimah saja. Kami katakan benar riwayatnya dari Ikrimah terbukti mudhtharib dan hadis Ru’yah adalah hadis yang mudhtharib [berdasarkan pembahasan sebelumnya] sehingga bisa jadi Simmak juga mengalami kekacauan pula disini. Selain itu Ibnu Ma’in mengatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Simmak sering memusnadkan hadis yang tidak dimusnadkan oleh yang lain</em></span> dan An Nasa&#8217;i mengatakan Simmak <span style="text-decoration:underline;"><em>menerima riwayat dengan talqin</em></span>, tentu saja semua itu penyakit yang membuat hadisnya sangat meragukan. Ditambah lagi dia adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang yang hafalannya buruk dan mengalami ikhtilat sebelum wafatny</em><em>a</em></span>. Jadi hadis Simmak bin Harb dalam hal ini tidak bisa dijadikan hujjah.<br />
<span style="color:#808080;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Abu Umamah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Abu Umamah juga diriwayatkan dalam <em>As Sunnah</em> Ibnu Abi Ashim. Sama seperti yang lainnya hadis ini tidak lepas dari illat yang menjatuhkannya ke derajat dhaif.</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا يوسف بن موسى ثنا جرير عن ليث عن ابن سابط عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال تراءى لي ربي في أحسن الصورة ثم ذكر الحديث</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari <span style="color:#0000ff;">Laits </span>dari <span style="color:#0000ff;">Ibnu Sabith dari Abi Umamah</span> dari Nabi SAW yang berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Rabbku memperlihatkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk” </span></span>–kemudian Beliau menyebutkan hadis-.<strong> [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 466]</strong></em><strong><br />
</strong><br />
Hadis ini dhaif dan mengandung dua illat yang menjatuhkannya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Laits bin Abi Sulaim</span>, dia walaupun dita’dilkan sebagian orang tetapi juga dilemahkan oleh banyak orang lainnya karena<span style="text-decoration:underline;"><em> hafalannya yang buruk, hadisnya mudhtharib dan mengalami ikhtilath</em></span>. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 835 disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Uyainah, Abu Zar’ah, Yahya bin Sa’id, Ibnu Sa’ad dan yang lainnya</em></span>. Ibnu Hibban dan Al Bazzar menyatakan ia mengalami ikhtilat. Abu Zur’ah dan Al Bazzar menyatakan bahwa hadisnya mudhtharib.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ibnu Saabith tidak mendengar dari Abu Umamah</span>. Hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Ma’in yang dikutip dalam <em>Al Marasil</em> Ibnu Abi Hatim 1/127 no 217 dan <em>Jami’ Ahkam Al Marasil </em>Al Hafiz Abu Sa’id ‘Alaiy no 428. Jadi <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini dhaif karena sanadnya munqathi’ (terputus)</em></span>.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hadis Abu Umamah dhaif karena kelemahan hafalan salah seorang perawinya yaitu Laits bin Abi Sulaim dan sanadnya munqathi’.<br />
<span style="color:#808080;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Abu Rafi’</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ru’yah riwayat Abu Rafi’ dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam kitabnya <em>Mu’jam Al Kabir</em></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا جعفر بن محمد بن مالك الفزاري الكوفي ثنا عباد بن يعقوب الأسدي ثنا عبد الله بن إبراهيم بن الحسين بن علي بن الحسن عن أبيه عن جده عن عبيد الله بن أبي رافع عن أبي رافع قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم مشرق اللون فعرف السرور في وجهه فقال رأيت ربي في أحسن صورة فقال لي يا محمد أتدري يم يختصم الملأ الأعلى ؟ فقلت  يا رب في الكفارات قال وما الكفارات ؟ قلت إبلاغ الوضوء أماكنه على الكراهيات والمشي على الأقدام إلى الصلوات وانتظار الصلاة بعد الصلاة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami <span style="color:#0000ff;">Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Fazari Al Kufi</span> yang berkata telah menceritakan kepada kami Abbad bin Yaqub Al Asdi yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="color:#0000ff;">Abdullah bin Ibrahim bin Husain bin Ali bin Husain <span style="color:#000000;">dari </span>ayahnya</span> dari kakeknya dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abi Rafi’ yang berkata “Rasulullah SAW keluar kepada kami dengan wajah yang cerah dan tampak kegembiraan di wajahnya kemudian Beliau SAW berkata “<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Aku melihat Rabbku dalam sebaik-baik bentuk</span></span> dan Dia berkata kepadaku “Wahai Muhammad apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”. Aku menjawab “Wahai Rabbku tentang Al Kafarat?”. Dia berfirman “Apa itu Al Kafarat?” Aku menjawab “Menyempurnakan wudhu’ dalam keadaan yang tidak disukai, berjalan untuk shalat berjama’ah dan menunggu waktu shalat setelah shalat”. <strong>[Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 1/317 no 938]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini adalah <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis yang dhaif jiddan</em></span></span> dikarenakan dua illat (penyakit) dalam sanadnya yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Fazari Al Kufi</span>, dia adalah Syaikh (guru) Thabrani yang dikatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>dhaif dan pemalsu hadis</em></span> sebagaimana yang disebutkan dalam kitab <em>Tarajum Syuyukh Thabrani</em> no 331.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Abdullah bin Ibrahim bin Husain </span>dan<span style="color:#0000ff;"> ayahnya</span> tidak dikenal biografinya dalam kitab hadis sebagaimana yang disebutkan Al Haitsami dalam <em>Majma’ Az Zawaid</em> 1/543 no 1222 jadi mereka berdua tidak dikenal.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu hadis Abu Rafi’ ini kedudukannya sangat dhaif dan tidak layak dijadikan hujjah.<br />
<span style="color:#808080;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Hadis Jabir bin Samurah dhaif </span>karena kelemahan salah seorang perawinya yang membuat hadisnya meragukan. <span style="color:#0000ff;">Hadis Abu Umamah dhaif</span> karena sanadnya terputus dan <span style="color:#0000ff;">hadis Abu Rafi’ dhaif jiddan</span> karena perawinya yang sangat dhaif dan sebagian tidak dikenal.</p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1424/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1424&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [3]</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-3/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 03:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1418</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Muadz bin Jabal
Hadis Muadz bin Jabal ini sebenarnya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy dimana pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang kedudukannya. Kami membuat pembahasan khusus hadis ini karena hadis Muadz adalah hadis yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa Nabi SAW melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Hadis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1418&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Muadz bin Jabal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Muadz bin Jabal ini sebenarnya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy dimana pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang kedudukannya. Kami membuat pembahasan khusus hadis ini karena <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Muadz adalah hadis yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa Nabi SAW melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi</em></span>. Hadis Muadz bisa dikatakan hadis paling jelas yang menunjukkan bahwa Ru’yah tersebut terjadi di dalam mimpi.<span id="more-1418"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن بشار حدثنا معاذ بن هائئ أبو هانئ اليشكري حدثنا جهضم بن عبد الله عن يحيى بن أبي كثير عن زيد بن سلام عن أبي سلام عن عبد الرحمن بن عائش الحضرمي أنه حدثه عن مالك بن يخامر السكسكي عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال احتبس عنا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات غداة عن صلاة الصبح حتى كدنا نتراءى عين الشمس فخرج سريعا فثوب بالصلاة فصلى رسول الله صلى الله عليه و سلم وتجوز في صلاته فلما سلم دعا بصوته قال لنا على مصافكم كما أنتم ثم انفتل إلينا ثم قال أما إني سأحدثكم ما حبسني عنكم الغداة إني قمت من الليل فتوضأت وصليت ما قدر لي فنعست في صلاتي حتى استثقلت فإذا أنا بربي تبارك وتعالى في أحسن صورة فقال يا محمد قلت لبيك رب قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت لا أدري قالها ثلاثا قال فرأيته وضع كفه بين كتفي حتى وجدت برد أنامله بين ثديي فتجلى لي كل شيء وعرفت فقال يا محمد قلت لبيك رب قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت في الكفارات قال ما هن ؟ قالت مشي الأقدام إلى الحسنات والجلوس في المساجد بعد الصلوات وإسباغ الوضوء حين الكريهات قال فيم قلت إطعام الطعام ولين الكلام والصلاة بالليل والناس نيام قال سل قلت اللهم إني أسألك فعل الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين وأنت تغفر لي وترحمني وإذا أردت فتنة قوم فتوفني غير مفتون أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقرب إلى حبك قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنها حق فادرسوها ثم تعلموها</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muadz bin Hani’ Abu Hani’ Al Yasykuri yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham bin Abdullah dari Yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin Salam dari Abi Salam dari <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy</span></span> [ia menceritakan kepadanya] dari Malik bin Yakhamir As Saksaki dari Muadz bin Jabal RA yang berkata suatu hari Rasulullah SAW terlambat melakukan shalat Shubuh bersama kami, hingga kami hampir melihat munculnya matahari. Kemudian beliau SAW datang dengan tergesa-gesa lalu mengerjakan shalat sunnah, kemudian melakukan shalat shubuh, dan beliau meringankan shalatnya. Selesai salam, Beliau SAW berkata “tetaplah di shaf kalian seperti keadaan kalian” kemudian Beliau menghadap kami dan bersabda ”Ketahuilah, aku akan menyampaikan kepada kalian sesuatu yang membuatku terlambat shalat shubuh berjama’ah bersama kalian. Semalam aku bangun dan melakukan shalat sesuai kemampuanku, lalu aku mengantuk dalam shalat, hingga akhirnya aku tertidur . <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Tiba-tiba aku berjumpa Rabbku-tabaaraka wa ta’aala- dalam sebaik-baik bentuk. </span></span>Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “aku penuhi panggilanMu wahai Rabbku”. Dia berfirman “apakah engkau tahu tentang apa Al Malaul A’laa (para malaikat) bertengkar?’. Aku menjawab ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku’. Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali. Lalu aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua bahuku, sehingga aku merasakan dinginnya jari-jemari-Nya di antara kedua dadaku. kemudian tampaklah bagiku segala sesuatu dan akupun menjadi tahu. Dia berfirman ‘Wahai Muhammad’ Aku menjawab “aku penuhi panggilanMu wahai Rabbku”. Dia berfirman “apakah engkau tahu tentang apa Al Malaul A’laa (para malaikat) bertengkar?’Aku menjawab ‘Tentang Al Kafarat’. Dia berfirman ‘Apakah Al Kafarat itu ?’. Aku menjawab ‘Berjalan kaki untuk shalat berjama’ah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu pada waktu yang tidak disukai’. Dia berfirman‘ kemudian apa lagi’. Aku menjawab ‘Memberi makanan, berkata yang santun, dan shalat malam di saat manusia tidur’. Dia berfirman ‘Mintalah’. Aku berkata  ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu untuk dapat melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuni serta menyayangiku. Dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa terkena fitnah. Aku memohon kepadaMu kecintaan kepadaMu, kecintaan kepada orang yang mencintaiMu, dan kecintaan kepada amal yang mendekatkanku kepada kecintaanMu’. Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya hal ini adalah kebenaran, maka pelajari dan kuasailah’. <strong>[Sunan Tirmidzi 5/368 no 3235]</strong><br />
</em><br />
Hadis Muadz bin Jabal di atas diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam <em>Musnad Ahmad</em> 5/243 no 22162, Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq </em>34/465-468 no 7071-7075, <em>Al Ilal Tirmidzi </em>no 435 dan Ath Thabrani dalam <em>Mu’jam Al Kabir</em> 20/109 no 216.</p>
<p style="text-align:justify;">At Tirmidzi setelah membawakan hadis ini, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">هذا حديث حسن صحيح سألت محمد بن إسماعيل عن هذا الحديث فقال هذا حديث حسن صحيح وقال هذا أصح من حديث الوليد بن مسلم عن عبد الرحمن بن يزيد بن جابر قال حدثنا خالد بن اللجلاج حدثني عبد الرحمن بن عائش الخضرمي قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم فذكر الحديث وهذا غير محفوظ هكذا ذكر الوليد في حديثه عن عبد الرحمن بن عائش قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وروى بشر بن بكر عن عبد الرحمن بن يزيد بن جابر هذا الحديث بهذا الإسناد عن عبد الرحمن بن عائش عن النبي صلى الله عليه و سلم وهذا أصح و عبد الرحمن بن عائش لم يسمع من النبي صلى الله عليه و سلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis ini hasan shahih, aku bertanya kepada Muhammad bin Isma’il tentang hadis ini. Ia berkata ‘hadis hasan shahih’ dan ia juga berkata ‘hadis ini lebih shahih dari <span style="text-decoration:underline;">hadis Walid bin Muslim dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaaj yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy  yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW –menyebutkan hadis ini</span>-. Riwayat ini tidak terjaga dan begitulah Walid menyebutkan hadisnya dari Abdurrahman bin ‘Aaisy yang berkata mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Dan diriwayatkan <span style="text-decoration:underline;">dari Bisyr bin Bakr dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir hadis ini dengan sanad dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari Nabi SAW [tanpa lafaz mendengar langsung]</span> dan inilah yang lebih shahih karena <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin ‘Aaisy tidak mendengar dari Nabi SAW</span></span>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan shahih terhadap hadis ini sungguh jauh dari kebenaran karena pada dasarnya hadis ini mudhtharib dan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy tidak diketahui keadaannya. Telah dijelaskan sebelumnya kalau ia bukanlah sahabat Nabi SAW . Perhatikan, <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin ‘Aaisy hanya dikenal keberadaannya melalui hadis ini dan hadis ini sudah terbukti mengandung kekacauan maka lebih tepat untuk dikatakan kalau ia seorang yang majhul dan hadisnya dhaif mudhtharib</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ad Daruquthni dalam <em>Al Ilal Al Waridah</em> no 973 telah menjelaskan panjang lebar bahwa hadis ini mudhtharib dan ia pada akhirnya menyatakan tidak shahih. Pendapat yang benar mengenai kedudukan hadis Muadz bin Jabal adalah seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Musnad Ahmad 5/243 no 22162 bahwa <em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">hadis ini dhaif karena mudhtharib.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Tsauban</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Ru’yatullah juga diriwayatkan oleh Tsauban maula Rasulullah SAW</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا عبيد الله بن فضالة ثنا عبدالله بن صالح ثنا معاوية بن صالح عن أبي يحيى عن أبي يزيد عن أبي سلام الأسود عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن ربي أتاني الليلة في أحسن صورة وفي هذه الأخبار ووضع يده بين كتفي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Fudhalah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih yang berkata telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Shalih dari Abi Yahya dari Abi Yazid dari Abi Salam Al Aswad dari Tsauban yang berkata Rasulullah SAW bersabda <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“bahwa Rabbku mendatangiku suatu malam dalam sebaik-baik bentuk”.</span></span> Dalam khabar ini disebutkan “Dan Dia meletakkan tanganNya di antara kedua bahuku”. <strong>[As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 470]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini dhaif karena Abdullah bin Shalih ia diperselisihkan, sebagian ulama melemahkannya karena hafalannya yang buruk. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/501 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia jujur tetapi melakukan banyak kesalahan</em></span>. Dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 3388 disebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia jujur tapi hafalannya buruk</em></span>. Selain itu hadis ini dhaif karena munqathi’ atau terputus sanadnya. <span style="color:#0000ff;"><em>Abu Salam Al Aswad tidak mendengar dari Tsauban</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 10 no 516 dalam biografi Abu Salam Al Aswad berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال بن معين وابن المديني لم يسمع من ثوبان</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Ma’in dan Ibnu Madini berkata “ia tidak mendengar dari Tsauban”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hatim dan Ahmad bin Hanbal juga menyatakan hal yang serupa sebagaimana disebutkan dalam <em>Al Marasil Ibnu Abi Hatim </em>1/215 no 388 dan <em>Jami’ Ahkam Al Marasil Al Hafiz Abu Sa’id ‘Alaiy</em> no 797. Syaikh Al Albani dalam <em>Zhilal Al Jannah</em> no 470 mengakui kelemahan Abdullah bin Shalih bahkan beliau menambahkan bahwa Abu Yahya tidak dikenal dan Abu Yazid adalah Ghailan bin Anas yang menurut manhaj Syaikh Al Albani maka ia seorang majhul hal karena menurut Syaikh tidak ada yang menyatakan ta&#8217;dil padanya. Syaikh memang tidak menyebutkan kalau sanad hadis ini terputus dan tentu kenyataan bahwa sanad tersebut munqathi&#8217; malah memperberat status sanad hadisnya. Oleh karena itu kami cukup heran dengan Syaikh Al Albani yang menyatakan bahwa hadis ini shahih dengan syawahid.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Muadz bin Jabal dalam masalah ini adalah <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis yang dhaif karena mudhtharib</em></span></span> dan Ibnu ‘Aaisy tidak diketahui keadaannya sedangkan hadis Tsauban dhaif karena kelemahan hafalan salah seorang perawinya dan<em> </em><span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;">sanadnya terputus</span></em></span><span style="color:#0000ff;">.</span></p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1418/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1418&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/01/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [2]</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d2/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 15:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Abdurrahman bin &#8216;Aaisy Al Hadhramy
Hadis berikutnya adalah riwayat Abdurrahman bin &#8216;Aaisy Al Hadhramy, riwayatnya dhaif karena sanadnya mudhtharib. Riwayat Ibnu Aaisy adalah riwayat yang masyhur dalam persoalan ini, dan keberadaan Abdurrahman bin Aaisy dikenal melalui hadis ini saja. Berikut riwayat Ibnu &#8216;Aaisy dalam kitab As Sunnah Ibnu Abi Ashim
حدثنا هشام بن عمار ثنا الوليد [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1413&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Abdurrahman bin &#8216;Aaisy Al Hadhramy</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis berikutnya adalah riwayat Abdurrahman bin &#8216;Aaisy Al Hadhramy, riwayatnya dhaif karena sanadnya mudhtharib. Riwayat Ibnu Aaisy adalah riwayat yang masyhur dalam persoalan ini, dan keberadaan Abdurrahman bin Aaisy dikenal melalui hadis ini saja. Berikut riwayat Ibnu &#8216;Aaisy dalam kitab <em>As Sunnah</em> Ibnu Abi Ashim<span id="more-1413"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا هشام بن عمار ثنا الوليد بن مسلم وصدقة قالا ثنا ابن جابر قال مر بنا خالد بن اللجلاج فدعاه مكحول فقال له يا أبا ابراهيم حدثنا حديث عبد الرحمن بن عائش قال سمعت عبد الرحمن بن عائش يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي في أحسن الصورة</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim dan Shadaqah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir yang berkata Khalid bin Al Lajlaaj pernah bersama kami kemudian Makhul memanggilnya dan berkata “Wahai Abu Ibrahim ceritakanlah kepada kami hadis Abdurrahman bin Aaisy. Ia [Khalid] berkata “Aku mendengar Abdurrahman bin Aaisy berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat RabbKu dalam sebaik-baik bentuk”.</span></span> <strong>[As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 467]</strong></em></p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا يحيى بن عثمان بن كثير ثنا زيد بن يحيى ثنا ابن ثوبان ثنا أبي عن مكحول وابن أبي زكريا عن ابن عائش الحضرمي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أتاني ربي الليلة في أحسن صورة</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Utsman bin Katsir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Tsauban yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Makhul dan Ibnu Abi Zakaria dari Ibnu Aaisy Al Hadhramy yang berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Rasulullah SAW bersabda “RabbKu mendatangiku pada suatu malam dalam sebaik-baik bentuk”</span></span> <strong>[As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 468]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Jika diperhatikan kedua sanad Ibnu Abi Ashim di atas, kita sudah dapat melihat adanya idhthirab. Sanad pertama menyebutkan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Makhul mendengarkan hadis tersebut dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Aaisy</em></span></span> tetapi sanad kedua menyebutkan kalau <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Makhul meriwayatkan hadis tersebut dari Ibnu Aaisy tanpa menyebutkan Khalid bin Al Lajlaaj</em></span></span>. Kekacauan tersebut tidak berhenti sampai disini, dengan mengumpulkan semua hadis Ibnu Aaisy dalam perkara ini maka idhthirab tersebut akan tampak semakin jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Abdurrahman bin Aaisy ini memiliki sanad yang bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Hadis dimana Abdurrahman bin Aasiy meriwayatkan dari Rasulullah SAW</span></span>. Diriwayatkan dalam <em>As Sunnah</em> Ibnu Abi Ashim no 467 dan 468, Al Ajuri dalam <em>Asy Syari’ah</em> no 1027, <em>Sunan Ad Darimi</em> 2/170 no 2149, <em>Al Ilal Tirmidzi </em>no 434, <em>Mu’jam As Sahabah Ibnu Qani’</em> 4/195 no 1022, <em>Mukhtasar Qiyamul Lai</em>l Muhammad bin Nashr Al Marwadzi 1/33 no 26.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Hadis dimana Abdurrahman bin Aaisy meriwayatkan dari beberapa sahabat Nabi dari Rasulullah SAW</span></span>. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam <em>Musnad Ahmad</em> 4/66 no 16672 dan <em>Musnad Ahmad</em> 5/378 no 23258.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Hadis dimana Abdurrahman bin Aaisy meriwayatkan dari seorang sahabat Nabi SAW dari Rasulullah SAW</span></span>. Diriwayat oleh Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq</em> 34/464 no 7069 dan<em> Tarikh Dimasyq</em> 34/465 no 7070.</li>
<li><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Hadis dimana Abdurrahman bin Aaisy meriwayatkan dari Malik bin Yakhamir dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW</span></span>. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi</em> 5/368 no 3235, Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq</em> 34/465-468 no 7071-7075, <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 435 dan <em>Musnad Ahmad</em> 5/243 no 22162.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Semua sanad yang berbeda ini menunjukkan bahwa hadis tersebut memang mudhtharib dan semuanya diriwayatkan oleh<span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em> Abdurrahman bin  Aaisy seorang yang tidak diketahui kredibilitasnya</em></span></span>. Dalam biografi perawi hadis disebutkan kalau ia diperselisihkan, apakah ia sahabat Nabi SAW atau bukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Al Ilal Tirmidzi </em>no 435 Bukhari menyatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin Aaisy tidak bertemu dengan Nabi SAW</em></span>. Ibnu Hajar menyebutkan keterangan tentang Abdurrahman bin Aaisy dalam <em>At Tahdzib</em> juz 6 no 417. Ia mengutip Bukhari yang menyatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Aaisy hanya memiliki satu hadis dan hadis tersebut mudhtharib</em></span>.</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال أبو حاتم هو تابعي وأخطأ من قال له صحبة وقال أبو زرعة الرازي ليس بمعروف وقال الترمذي لم يسمع من النبي صلى الله عليه وسلم</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Hatim berkata “Ia tabiin dan keliru yang mengatakan ia sahabat”. Abu Zur’ah Ar Razi berkata “ia tidak dikenal” dan Tirmidzi berkata “ia tidak mendengar dari Nabi SAW.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Tirmidzi juga disepakati oleh Ibnu Khuzaimah yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Aaisy tidak mendengar dari Nabi SAW</em></span>. Kemudian Ibnu Khuzaimah menyatakan bahwa <em>hadis dimana Ibnu Aaisy menyatakan sima’ langsung dari Nabi SAW itu adalah dari kesalahan Walid bin Muslim [ salah satu perawinya]</em>. Pernyataan ini patut diberikan catatan, Abdurrahman bin Aaisy memang tidak mendengar dari Nabi SAW tetapi kesalahan tersebut bukan kesalahan Walid karena Walid juga diikuti oleh yang lain seperti Al Auza’i, Hamad bin Malik dan Umarah bin Bisyr. Oleh karena itu lebih mungkin kesalahan tersebut berasal dari perawi lain yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>Khalid bin Al Lajlaaj atau Abdurrahman bin Aaisy sendiri</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang diantara <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis-hadis dimana Ibnu Aaisy meriwayatkan dari Rasulullah SAW</em></span> terdapat hadis dengan lafaz bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Aisy mendengar langsung hadis tersebut dari Rasulullah SAW</em></span>. Hadis tersebut diriwayatkan Al Ajuri dalam <em>Asy Syari’ah</em> no 1027, <em>Sunan Ad Darimi </em>2/170 no 2149, <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 434, <em>Mukhtasar Qiyamul Lail</em> Muhammad bin Nashr Al Marwadzi 1/33 no 26, dan<em> Mu’jam As Shahabah</em> Al Baghawi hadis no 1924. Berikut contoh hadis tersebut dalam <em>Al Ilal Tirmidzi</em> no 434</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا يحيى بن موسى حدثنا الوليد بن مسلم حدثني عبد الرحمن بن يزيد بن جابرحدثنا خالد بن اللجلاج قال حدثني عبد الرحمن بن عائش الحضرمي قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول  رأيت ربي أو قال أتاني ربي في أحسن صورة</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Yazid bin Jabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaaj yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhramy yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW</span></span> bersabda “aku melihat RabbKu” atau Beliau SAW berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“RabbKu mendatangiku dalam sebaik-baik bentuk”.</span></span></em><span style="color:#0000ff;"><br />
</span><br />
Ibnu Hajar memasukkan nama Abdurrahman bin Aaisy sebagai seorang sahabat Nabi SAW dalam <em>Al Ishabah </em>4/320 no 5152 dimana ia berhujjah dengan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis-hadis dengan lafal sima’ langsung Ibnu Aaisy dari Rasulullah SAW</em></span>. Ibnu Hajar mengatakan kalau <em>Walid bin Muslim tidak menyendiri meriwayatkan hadis dengan sima’ langsung Ibnu Aaisy dari Rasul SAW.</em> Selain Walid ada Hamad bin Malik, Umarah bin Bisyr, Walid bin Yazid dan Al Auza’i. Oleh karena itu bisa dimengerti kalau dalam <em>At Taqrib</em> 1/576 Ibnu Hajar menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin Aaisy adalah sahabat Nabi SAW.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar benar bahwa Walid tidak menyendiri tetapi ia tetap saja keliru jika menjadikan hadis-hadis tersebut sebagai bukti bahwa Ibnu Aaisy adalah sahabat. Hadis-hadis tersebut baik dari Walid bin Muslim, Al Auza’i, Hammad bin Malik dan yang lainnya semuanya meriwayatkan dari <span style="text-decoration:underline;"><em>Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahaman bin Aaisy.</em></span> Jadi hadis tersebut tetap berujung pada satu jalur yang ternyata mudhtharib.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin dikatakan Ibnu Aaisy mendengar langsung dari Nabi SAW, tetapi di saat lain <em>ia mengaku mendengar hadis tersebut dari seorang atau sebagian sahabat Nabi</em> [yang tidak disebutkan namanya]. Bagaimana mungkin dikatakan ia mendengar langsung dari Rasul SAW tetapi di saat lain <em>ia mengaku mendengar hadis tersebut dari Malik bin Yakhamir yang bahkan Malik sendiri seorang tabiin</em> [Malik seorang tabiin seperti yang disebutkan Al Hafiz Abu Sa’id Al ‘Alaiy dalam <em>Jami Ahkam Al Marasil</em> no 733]</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis dengan sima’ langsung Ibnu Aaisy dari Rasul SAW itu memang keliru</em></span> dan yang tertuduh melakukan kekeliruan ini kalau bukan Khalid bin Al Lajlaaj ya Abdurrahman bin Aaisy sendiri. Khalid bin Al Lajlaaj disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 3 no 215 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>tidak ada yang mentsiqahkannya kecuali Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam Ats Tsiqat</em></span>. Hal ini menunjukkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Khalid tidak dikenal kredibilitasnya atau walaupun ia adil tetapi bisa saja bermasalah dalam hal kedhabitannya (hafalannya)</em></span>. Kalau bukan kesalahan Khalid maka yang melakukan kesalahan adalah Ibnu Aaisy sendiri, ia sendiri tidak dikenal keberadaannya kecuali dari hadis ini yang terbukti mudhtharib maka tidak menutup kemungkinan kalau ia tertuduh dalam hal ini. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf mengoreksi Ibnu Hajar dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 3911 dimana mereka menyatakan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Aaisy tidaklah shahih kalau ia sahabat dan dia sebenarnya mastur (tidak dikenal)</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">Hadis Abdurrahman bin Aaisy adalah hadis yang dhaif karena mudhtharib</span></strong> dan oleh karena ia hanya dikenal melalui hadis yang mudhtharib ini maka sungguh tidak tsabit sima’nya (pendengarannya) dari Rasulullah SAW. Pendapat yang benar mengenainya adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>dia bukanlah sahabat Nabi dan ia sendiri tidak dikenal</em></span>. Hadis tersebut sangat jelas kedhaifannya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap <em>Musnad Ahmad</em> hadis no 16672, 22162, 23258 telah menyatakan bahwa<strong><span style="color:#0000ff;"> </span></strong><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;"><em><span style="text-decoration:underline;">hadis Ibnu &#8216;Aaisy dhaif karena mudhtharib</span> </em>dan pendapat inilah yang benar.</span></span><strong><span style="color:#0000ff;"><br />
</span></strong></p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1413/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1413&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-1/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 07:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]

Sebagian orang mempercayai bahwa Allah SWT bisa dilihat di dalam mimpi, mereka berdalil dengan hadis bahwa Nabi SAW pernah melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Sayang sekali keyakinan mereka itu tidak berlandaskan hadis-hadis yang shahih. Hadis-hadis seputar masalah ini ternyata bersanad dhaif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1405&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]<br />
</strong><br />
Sebagian orang mempercayai bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Allah SWT bisa dilihat di dalam mimpi</em></span></span>, mereka berdalil dengan hadis bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Nabi SAW pernah melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi</em></span></span>. Sayang sekali keyakinan mereka itu tidak berlandaskan hadis-hadis yang shahih. Hadis-hadis seputar masalah ini ternyata bersanad dhaif mudhtharib dan tidak dapat dijadikan hujjah apalagi jika hal itu berkaitan dengan aqidah atau keyakinan. Dalam tulisan ini kami akan membawakan hadis-hadis tersebut [yang dapat kami temukan] dan memaparkan illat atau penyakit dalam setiap hadisnya.<span id="more-1405"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut diriwayatkan oleh berbagai sahabat dengan lafaz yang bermacam-macam dan semuanya dhaif</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Riwayat Ibnu Abbas</em></li>
<li><em>Riwayat Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhrami</em></li>
<li><em>Riwayat Muadz bin Jabal</em></li>
<li><em>Riwayat Abu Umamah </em></li>
<li><em>Riwayat Jabir bin Samurah</em></li>
<li><em>Riwayat Tsauban</em></li>
<li><em>Riwayat Abu Rafi’</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengumpulkan hadis-hadis tersebut maka lafaz-lafaz hadis tersebut dapat dibagi menjadi dua</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Lafaz hadis yang menunjukkan bahwa Melihat Allah SWT terjadi di dalam mimpi</em></li>
<li><em>Lafaz hadis yang tidak memuat keterangan tentang mimpi</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Membedakan kedua lafaz ini jelas sangat penting untuk melihat sejauh mana klaim sebagian orang bahwa fenomena ini terjadi di dalam mimpi bukan dalam keadaan sadar. Berikut akan dibahas terlebih dahulu riwayat Ibnu Abbas<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Ibnu Abbas</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Ibnu Abbas ini memiliki matan yang bermacam-macam diantaranya ada yang menyebutkan lafal <span style="text-decoration:underline;"><em>pemuda amrad</em></span>, ada yang menyebutkan <span style="text-decoration:underline;"><em>Nabi melihat Allah SWT saja tanpa lafal “sebaik-baik bentuk”</em></span> dan ada yang menyebutkan lafal<span style="text-decoration:underline;"><em> “sebaik-baik bentuk”</em></span>. Yang akan dibahas disini adalah hadis dengan lafal “sebaik-baik bentuk”</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا عبد الرزاق أنا معمر عن أيوب عن أبي قلابة عن بن عباس ان النبي صلى الله عليه و سلم قال أتاني ربي عز و جل الليلة في أحسن صورة أحسبه يعني في النوم فقال يا محمد هل تدري فيم يختصم الملأ الأعلى قال قلت لا قال النبي صلى الله عليه و سلم فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو قال نحري فعلمت ما في السماوات وما في الأرض ثم قال يا محمد هل تدري فيم يختصم الملأ الأعلى قال قلت نعم يختصمون في الكفارات والدرجات قال وما الكفارات والدرجات قال المكث في المساجد والمشي على الاقدام إلى الجمعات وإبلاغ الوضوء في المكاره ومن فعل ذلك عاش بخير ومات بخير وكان من خطيئته كيوم ولدته أمه وقل يا محمد إذا صليت اللهم اني أسألك الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين وإذا أردت بعبادك فتنة ان تقبضني إليك غير مفتون قال والدرجات بذل الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar  dari Ayub dari <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abi Qilabah dari Ibnu Abbas</span></span> bahwa Nabi SAW bersabda <span style="color:#0000ff;">“RabbKu Azza wa Jalla datang kepadaku malam tadi dalam sebaik-baik bentuk”</span> <span style="text-decoration:underline;">–Aku mengira maksudnya adalah dalam tidur- </span>Lalu Dia berfirman “Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Beliau berkata “tidak”. Nabi SAW bersabda “Lalu Dia meletakkan tangan-Nya diantara dua pundakku hingga aku dapati dinginnya antara dua dadaku. Atau Beliau bersabda “antara tenggorokanku”. Maka tahulah aku apa yang ada di langit dan di bumi. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”. Beliau bersabda ‘Aku berkata “ya , mereka bertengkar mengenai Al Kafarat dan Ad Darajat?”. Apa itu Al Kafarat dan Ad Darajat?. Diam di masjid, berjalan kaki untuk berjama’ah, menyempurnakan wudhu dalam kondisi tidak menyenangkan, barangsiapa melakukan hal itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik. Dia bersih dari dosa seperti baru dilahirkan Ibunya. Dan katakanlah wahai Muhammad bila kamu selesai shalat “Ya Allah sesungguhnya aku memohon KepadaMu kebaikan-kebaikan, meninggalkan hal yang mungkar dan cinta kepada orang-orang miskin. Dan bila Engkau menginginkan fitnah bagi para hambamu maka cabutlah nyawaku kepadaMu dengan tanpa fitnah”. Dan Ad Darajah adalah dengan memberikan makanan, meyebarkan salam dan shalat malam saat manusia tidur”. <strong>[Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad 1/368 no 3484 dan Sunan Tirmidzi 5/366 no 3233] </strong><br />
</em><br />
Syaikh Ahmad Syakir menyatakan bahwa hadis ini shahih sedangkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkannya. Hadis ini tidaklah shahih karena <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">sanadnya munqathi’ (terputus)</span></span>. Abu Qilabah tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam <em>Tahdzib At Tahdzib </em>juz 5 no 388 dan disebutkan pula oleh Al Hafiz Abu Sa’id Al ‘Alaiy dalam <em>Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasiil</em> no 362.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن بشار حدثنا معاذ بن هشام حدثني أبي عن قتادة عن أبي قلابة عن خالد بن اللجلاج عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال أتاني ربي في أحسن صورة فقال يا محمد قلت لبيك ربي وسعديك قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت ربي لا أدري فوضع يده بين كتفي فوجدت بردها بين ثديي فعلمت ما بين المشرق والمغرب قال يا محمد فقلت لبيك رب وسعديك قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت في الدرجات والكفارات وفي نقل الأقدام إلى الجماعات وإسباغ الوضوء في المكروهات وانتظار الصلاة بعد الصلاة ومن يحافظ عليهن عاش بخير ومات بخير وكان من ذنوبه كيوم ولدته امه</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Qatadah dari Abi Qilabah</span></span> dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW yang bersabda <span style="color:#0000ff;">“RabbKu mendatangiku dalam sebaik-baik bentuk”.</span></em><em> Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “Aku penuhi panggilanMu Ya Rabb”. Dia berfirman “tentang apakah Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Aku menjawab “Wahai RabbKu aku tidak tahu”. Maka Dia meletakkan tangan-Nya diantara kedua pundakku, ketika itu aku merasakan dingin diantara kedua dadaku dan aku mengetahui apa yang ada antara timur dan barat. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “Aku penuhi panggilanMu Ya Rabb”. Dia berfirman “tentang apakah Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Aku menjawab “Tentang Ad Darajat dan Al Kafarat, melangkahkan kaki menuju shalat berjama’ah, menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, duduk menunggu setelah shalat. Maka barangsiapa yang melakukan itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik serta bersih dari dosa seperti baru dilahirkan oleh ibunya. <strong>[Sunan Tirmidzi 5/367 no 3234]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis di atas diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dalam <em>Musnad Abu Ya’la </em>4/475 no 2608 dan Al Ajuri dalam Asy Syari’ah no 1025 dan 1026. Al Ajuri membawakan dua sanad yaitu dari <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Qatadah dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas</em></span></span> kemudian sanad <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Abbad bin Manshur dari Ayub Dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas. </em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani dalam<em> Shahih Sunan Tirmidzi</em> no 3234 telah menshahihkan hadis Ibnu Abbas di atas. Hal ini tentu saja keliru, hadis tersebut tidaklah shahih karena<span style="text-decoration:underline;"><em> <span style="color:#0000ff;">sanadnya terputus atau munqathi’.</span></em></span> Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 637 Ibnu Hajar mengutip Amru bin Ali yang berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“Qatadah tidak mendengar dari Abu Qilabah”.</em></span> Dalam <em>Al Marasil </em>Ibnu Abi Hatim 1/171-172 <span style="text-decoration:underline;"><em>Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in juga menyatakan kalau Qatadah tidak mendengar dari Abu Qilabah</em></span>. Hal yang sama juga disebutkan Al Hafiz Abu Sa’id Al ‘Alaiy dalam <em>Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasiil</em> no 633.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan riwayat Abbad bin Manshur dalam kitab Asy Syari’ah juga <span style="text-decoration:underline;"><em>dhaif karena Abbad</em></span>. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 5 no 172 disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Abu Hatim, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud, Nasa’I, Daruquthni dan yang lainnya</em></span>. Selain itu disebutkan pula bahwa ia melakukan tadlis dan mengalami kekacauan pada hafalannya. Dalam <em>At Taqrib</em> 1/468 ia dinyatakan shaduq <span style="text-decoration:underline;"><em>melakukan tadlis dan mengalami kekacauan hafalan di akhir umurnya</em></span>, tetapi dinyatakan dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 3142 kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia seorang yang dhaif bukan shaduq</em></span>. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 2575 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dhaif</em></span>. Ibnu Hajar menyebutkannya dalam <em>Thabaqat Al Mudallisin</em> no 121 yaitu pada martabat keempat yang berarti <span style="text-decoration:underline;"><em>ia melakukan tadlis dari para perawi dhaif.</em></span> Jadi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">hadis Abbad di atas dhaif karena kelemahan Abbad dan ‘an ‘anah Abbad dimana ia seorang mudallis.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya <em>As Sunnah</em> juga meriwayatkan hadis Ibnu Abbas tetapi dengan lafaz yang betul-betul ringkas, dimana tidak ada keterangan atau petunjuk bahwa penglihatan itu terjadi di dalam mimpi</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا أبو موسى ثنا معاذ بن هشام ثنا أبي عن قتادة عن أبي كلابة عن خالد بن اللجلاج عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي عز وجل في أحسن صورة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Qatadah dari Abi Qilabah</span></span> dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> “Aku melihat RabbKu Azza wa Jalla dalam sebaik-baik bentuk”.</span></span> <strong>[As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 469]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani dalam<em> Zhilal Al Jannah</em> no 469 menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> hadis ini shahih</em></span>.  Syaikh dalam hal ini hanya melihat kedudukan perawinya saja tetapi tidak melihat ketersambungan sanad tersebut. Seperti yang kami katakan sebelumnya hadis ini munqathi’ karena Qatadah tidak mendengar dari Abu Qilabah. Jadi hadis tersebut juga dhaif.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu kami ingin mengajak pembaca untuk memperhatikan salah seorang perawi yang bernama <span style="text-decoration:underline;"><em>Khalid bin Al Lajlaaj</em></span>. Biografinya disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 3 no 215 bahwa dia seorang perawi Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i. Tidak ada satupun ulama yang menyatakan ia tsiqat kecuali Ibnu Hibban yang memasukkannya ke dalam kitab <em>Ats Tsiqat</em>. Salafy (termasuk  Syaikh Al Albani) biasanya tidak menghiraukan tautsiq Ibnu Hibban karena menurut mereka Ibnu Hibban sering mentsiqahkan perawi majhul tetapi aneh sepertinya Syaikh Al Albani tidak mempermasalahkan Khalid bin Al Lajlaaj, beliau malah menyatakan ia tsiqat dan menegaskan kalau hadisnya shahih. Apakah ini suatu kontradiksi? Silakan dinilai</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita mengumpulkan semua sanad hadis Ibnu Abbas di atas maka akan kita lihat bahwa sanad tersebut mudhtharib</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Dari Ma’mar dari Ayub dari Abu Qilabah dari Ibnu Abbas<strong> [riwayat Ahmad dan Tirmidzi]</strong></em></li>
<li><em>Dari Muadz bin Hisyam dari ayahnya dari Qatadah dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas <strong>[riwayat Tirmidzi, Abu Ya’la, Ibnu Abi Ashim dan Ajuri]</strong></em></li>
<li><em>Dari Abbad bin Manshur dari Ayub dari Abu Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas <strong>[riwayat Al Ajuri]</strong></em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Secara sendiri-sendiri, riwayat tersebut dhaif karena inqitha’ dan perawi yang dhaif sedangkan jika dikumpulkan bersama-sama maka sanadnya mudhtharib. Oleh karena itu pendapat yang benar tentang hadis Ibnu Abbas ini adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth yaitu <span style="text-decoration:underline;"><strong>hadis tersebut dhaif</strong></span> .</p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1405&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/ibnu-taimiyyah-menshahihkan-hadis-%e2%80%9cnabi-melihat-allah-swt-dalam-bentuk-pemuda-amrad%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/ibnu-taimiyyah-menshahihkan-hadis-%e2%80%9cnabi-melihat-allah-swt-dalam-bentuk-pemuda-amrad%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 03:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1393</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1393&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.<br />
</strong><br />
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>“Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”</em></span></span>.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh Abu Zur’ah, Ath Thabrani, Abu Bakar bin Shadaqah dan tentu syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.<span id="more-1393"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Takhrij Hadis Ibnu Abbas</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.</span></span><br />
</em><br />
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam <em>Asmaa’ was Shifaat </em>no 938, Ibnu Ady dalam <em>Al Kamil</em> 2/260-261, Al Khatib dalam <em>Tarikh Baghdad</em> 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam <em>As Siyaar</em> 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam <em>Ibthaalut Ta’wiilat</em> no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 <em>(dengan sedikit perbedaan pada lafaznya)</em>, Ibnu Jauzi dalam <em>Al ‘Ilal Al Mutanahiyah</em> no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas</em></span></span>. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah <span style="color:#0000ff;">Aswad bin Amir</span> yakni Syadzaan <span style="text-decoration:underline;"><em>(tsiqat dalam At Taqrib 1/102)</em></span>, <span style="color:#0000ff;">Ibrahim bin Abi Suwaid</span> <span style="text-decoration:underline;"><em>(tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377)</em></span>, Abdush Shamad bin Kaisan atau <span style="color:#0000ff;">Abdush Shamad bin Hasan</span><span style="text-decoration:underline;"><em> (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Hammad bin Salamah</span>, <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah</em></span>. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam<em> At Tahdzib</em> juz 3 no 14 dan <em>At Taqrib</em> 1/238. Disebutkan dalam<em> Syarh Ilal Tirmidzi</em> 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah</em></span>. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Tadlis Qatadah</span>, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam <em>Thabaqat Al Mudallisin</em> no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 5518 juga disebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas</em></span>. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam <em>Al ‘Ilal </em>no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam <em>As Siyaar</em>. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab <em>Tarikh Baghdad</em> 13/55 menyatakan <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini maudhu’</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang sekali kemungkaran hadis ini seperti nya luput dari pandangan sebagian ulama seperti <span style="color:#0000ff;">Abu Zur’ah</span>, <span style="color:#0000ff;">Ath Thabrani</span> dan <span style="color:#0000ff;">Al Faqih Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah</span> <em>[seorang Imam Hafiz yang tsiqat tsiqat sebagaimana disebutkan Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 5/40-41]</em>. Mereka mengakui kebenaran hadis ini. Abu Ya’la dalam<em> Ibthaalut Ta’wiilat</em> no 144 mengutip penshahihahn dari Ath Thabrani, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال وأبلغت أنّ الطبراني قال حديث قتادة عن عكرمة عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الرؤية صحيح ، وقال من زعم أني رجعت عن هذا الحديث بعدما حدثت به فقد كذب</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah disampaikan bahwa Ath Thabrani berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW  tentang Ru’yah adalah <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">shahih</span></span></em><em>, dan siapa yang mengatakan bahwa aku rujuk dari hadis ini setelah meriwayatkannya maka sungguh ia telah berdusta</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Ibthaalut Ta’wiilat</em> no 145 Ath Thbarani berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سمعت إبن صدقة الحافظ يقول من لم يؤمن بحديث عكرمة فهو زنديق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Ibnu Shadaqah Al Hafiz berkata “siapa yang tidak mempercayai hadis Ikrimah [tentang Ru’yah] maka<span style="text-decoration:underline;"> <span style="color:#0000ff;">ia seorang zindiq</span></span>”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Al Laaly Al Masnu’ah</em> 2/32 As Suyuthi mengutip perkataan Ath Thabrani</p>
<h2 style="text-align:right;">قال الطبراني سمعت أبابكر بن صدقة يقول سمعت أبا زرعة الرازي يقول حديث قتادة عن عكرمة عن إبن عباس في الرؤية صحيح رواه شاذان وعبدالصمد بن كيسان وإبراهيم بن أبي سويد لا ينكره إلاّ معتزلي</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Ath Thabrani berkata aku mendengar Abu Bakar bin Shadaqah berkata aku mendengar Abu Zur’ah Ar Razi berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang Ru’yah adalah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">shahih </span></span>yang diriwayatkan oleh Syadzaan, Abdush Shamad bin Kaisan dan Ibrahim bin Abi Suwaid, tidak ada yang mengingkarinya melainkan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">ia seorang mu’tazilah.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya. Sikap berlebihan seperti ini benar-benar patut disayangkan. Apakah ulama-ulama lain dan orang-orang islam yang mengingkari hadis ini akan dengan mudahnya mereka katakan zindiq atau mu’tazilah?. <span style="text-decoration:underline;"><em>Apakah Imam Ahmad bin Hanbal itu zindiq atau mu’tazilah?</em></span>. Terkadang sehebat apapun ulama tetap tampaklah kenehannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain mereka, ternyata ada pula Ibnu Taimiyyah yang ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ia dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya <em>Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah</em> 7/290.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-full wp-image-1396" title="Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/10/bayan-talbiis-al-jahmiyyah2.jpg?w=440&#038;h=608" alt="Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah" width="440" height="608" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru&#8217;yah dengan lafal pemuda amrad</p>
<p style="text-align:justify;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-full wp-image-1395" title="Ibnu Taimiyyah shahih hadis amrad" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/10/ibnu-taimiyyah-shahih-hadis-amrad.jpg?w=468&#038;h=204" alt="Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290" width="468" height="204" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Sudah jelas pernyataan shahih terhadap hadis ini adalah kebathilan yang nyata. Bagaimana mungkin mereka tidak risih untuk mengatakan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Allah SWT menampakkan dalam bentuk pemuda amrad di dalam mimpi?</em></span></span>. Dan kalau kita perhatikan ulama yang disebut Ibnu Taimiyyah ini, dalam kitab-kitabnya seperti <em>Minhaj As Sunnah </em>ia tidak segan-segan mendustakan berbagai hadis shahih keutamaan Ahlul Bait hanya karena <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis tersebut mungkar dalam pandangannya</em></span> tetapi anehnya ia tidak segan-segan untuk menshahihkan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis mungkar riwayat Ibnu Abbas di atas</em></span>. Sungguh berkali-kali keanehan.</p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1393&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/ibnu-taimiyyah-menshahihkan-hadis-%e2%80%9cnabi-melihat-allah-swt-dalam-bentuk-pemuda-amrad%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/10/bayan-talbiis-al-jahmiyyah2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/10/ibnu-taimiyyah-shahih-hadis-amrad.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Taimiyyah shahih hadis amrad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/pembahasan-sanad-hadis-ummu-thufail-%e2%80%9cnabi-melihat-allah-dalam-bentuk-pemuda-berambut-lebat%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/pembahasan-sanad-hadis-ummu-thufail-%e2%80%9cnabi-melihat-allah-dalam-bentuk-pemuda-berambut-lebat%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 17:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1386</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”

Hadis Ru’yatullah termasuk hadis kontroversial yang diributkan baik ulama-ulama terdahulu maupun yang datang kemudian. Hadis ini diperbincangkan karena matannya mengandung lafaz yang mungkar yaitu Nabi SAW melihat Allah dalam bentuk Pemuda. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ummu Thufail. Dalam tulisan kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1386&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”<br />
</strong><br />
Hadis Ru’yatullah termasuk hadis kontroversial yang diributkan baik ulama-ulama terdahulu maupun yang datang kemudian. Hadis ini diperbincangkan karena matannya mengandung lafaz yang mungkar yaitu Nabi SAW melihat Allah dalam bentuk Pemuda. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ummu Thufail. Dalam tulisan kali ini akan dibahas terlebih dahulu hadis Ummu Thufail<span id="more-1386"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Takhrij Hadis Ummu Thufail</p>
<h2 style="text-align:right;">عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( رأيت ربي في المنام في صورة شاب موقر في خضر عليه نعلان من ذهب وعلى وجهه فراش من ذهب)</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ummu Thufail Istri Ubay bin Ka’ab, ia berkata “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku melihat Rabbku di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lembat dengan pakaian hijau memakai sandal dari emas dan berada di atas tempat tidur dari emas”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis riwayat Ath Thabrani dalam <em>Mu’jam Al Kabir</em> 25/143 no 346, <em>Asmaa’ Was Shifaat </em>Baihaqi hadis no 922, Al Khatib dalam <em>Tarikh Baghdad</em> 15/426, Daruquthni dalam <em>Ar Ru&#8217;yah</em> no 231 dan 232, Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq</em> 62/161, Abu Ya&#8217;la dalam <em>Ibthaalut At Ta&#8217;wiilat</em> no 130, 131 dan 132, Ibnu Jauzi dalam <em>Al ‘Ilal Al Mutanahiyah</em> no 9 dan <em>Al Maudhu’at</em> 1/125. Semuanya dengan jalan <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal dari Marwan bin Utsman dari Umaarah bin Amir bin Hazm Al Anshari dari Ummu Thufail</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini sanadnya dhaif jiddan dan dengan matan yang mungkar maka tidak diragukan kalau <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>hadis ini maudhu’ (palsu)</em></span></span>. Hadis ini mengandung illat</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Marwan bin Utsman</span>, dia seorang yang dhaif sebagaimana disebutkan Abu Hatim dalam <em>Al Jarh Wat Ta’dil </em>8/272 no 1244. Dalam <em>Muntakhab Min Illal Al Khallal</em> no 183 dan <em>Ibthaalut Ta’wiilaat</em> Abu Ya’la no 137 disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Ahmad bin Hanbal menyatakan Marwan bin Utsman majhul</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 2/171 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dhaif</em></span> sedangkan dalam <em>Al Ishabah</em> 8/246 no 12116 biografi Ummu Thufail ia menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Marwan bin Utsman matruk. </em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Umaarah bin Amir,</span> dia adalah perawi yang majhul. Dalam <em>Muntakhab Min Illal Al Khallal </em>no 183 Ahmad bin Hanbal menyatakan<span style="text-decoration:underline;"> </span><em><span style="text-decoration:underline;">“ia tidak dikenal”</span>.</em> Al Bukhari dalam <em>Tarikh As Shaghir</em> juz 1 no 1419 juga berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“Umaarah tidak dikenal”.</em></span> Adz Dzahabi dalam <em>Mughni Adh Dhu’afa</em> no 4404 juga berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“tidak dikenal”</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Inqitha’ (sanadnya terputus) Umaarah dari Ummu Thufail.</span> Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam <em>Tarikh As Shaghir</em> juz 1 no 1419 dan<em> Tarikh Al Kabir</em> juz 6 no 3111 <span style="text-decoration:underline;"><em>bahwa Umaarah tidak diketahui mendengar dari Ummu Thufail</em>.</span> Ibnu Hibban memasukkan Umaarah dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat </em>juz 5 no 4682 dan menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Ia tidak mendengar dari Ummu Thufail</em></span>. Penyebutannya dalam kitab <em>Ats Tsiqat</em> tidak bisa dijadikan hujjah sebagai penta’dilan karena <span style="text-decoration:underline;"><em>Umaarah telah dinyatakan majhul oleh Ahmad bin Hanbal dan Al Bukhari.</em></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Cacat lain adalah pada sebagian sanadnya <em>[Ibnu Jauzi, Ibnu Asakir dan Al Khatib]</em> juga diriwayatkan oleh <span style="color:#0000ff;">Nuaim bin Hammad </span>dari Ibnu Wahb, dia walaupun dita&#8217;dilkan oleh sebagian orang tetapi <span style="text-decoration:underline;"><em>ia juga dinyatakan dhaif oleh An Nasa’i</em></span> <em>[Ad Dhu’afa Wal Matrukin no 617]</em>, Abu Fath Al Azdi dan Ibnu Ady menuduhnya sebagai <span style="text-decoration:underline;"><em>pemalsu hadis </em></span><em>[At Tahdzib juz 10 n0 833]</em>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> menyebutnya shaduq yukhti’u tetapi dikoreksi dalam <em>Tahrir At Taqrib </em>no 7166 bahwa<span style="text-decoration:underline;"><em> ia seorang yang dhaif</em></span>. Kendati demikian Nuaim bin Hammad tidaklah menyendiri meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Wahb. Bersamanya ada Ahmad bin Shalih Al Mishri<em> [Ath Thabrani]</em>, Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb, Ahmad bin Isa <em>[Baihaqi]</em>, dan Yahya bin Sulaiman <em>[Ath Thabrani]</em>. Oleh karena itu pendapat yang benar adalah hadis tersebut maudhu’ karena illat yang telah kami sebutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini tidak diragukan lagi adalah hadis maudhu’ sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ulama diantaranya Ibnu Jauzi dalam kitabnya <em>Al Maudhu’at</em> 1/125. Ahmad bin Hanbal mengatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis tersebut mungkar</em></span> dalam <em>Muntakhab Min Illal Al Khallal</em> no 183 dan<em> Ibthaalut Ta’wiilaat</em> Abu Ya’la no 137. Ibnu Hibban dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 5 no 4682 juga mengakui <span style="text-decoration:underline;"><em>kalau hadis tersebut mungkar</em></span>. Begitu pula yang dikatakan Bukhari dalam <em>Tarikh Al kabir</em> juz 5 no 4682. Bashar Awad Ma’ruf pentahqiq kitab <em>Tarikh Baghdad </em>15/426 juga menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis tersebut maudhu’. </em></span>Bahkan Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Adh Dhaifah</em> no 6371 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis tersebut maudhu’</em></span>. Jadi hadis tersebut bukan sekedar dhaif tetapi memang maudhu’.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani melakukan keanehan yang luar biasa dalam kitabnya <em>Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah Ibnu Abi Ashim</em> hadis no 471. Ibnu Abi Ashim meriwayatkan</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah yang berkata menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad dan Yahya bin Sulaiman yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal yang menceritakan kepadanya, dari Marwan bin Utsman yang menceritakan kepadanya, dari Umaarah bin Amir dari Ummu Thufail istri Ubay bin Ka’ab yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">–kemudian menyebutkan perkataan-.</span></span><br />
</em><br />
Syaikh berkomentar bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini shahih lighairihi, shahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, sanadnya dhaif gelap. </em></span>Tentu saja bagi seorang peneliti pernyataan shahih lighairihi ini merupakan suatu keanehan. Pernyataan shahih lighairihi hanya berlaku bagi hadis yang sanadnya hasan lizatihi dan dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain. <span style="text-decoration:underline;"><em>Hadis Ummu Thufail sudah jelas sangat dhaif sehingga tidak mungkin bisa naik menjadi shahih lighairihi</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu <em>hadis Ru’yatullah riwayat Ummu Thufail adalah hadis yang berlafaz mungkar,</em> lafaz itulah yang tidak disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim dimana ia meringkasnya dengan kalimat <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>–kemudian menyebutkan perkataan-.</em></span></span> Tentu tidaklah sulit bagi seorang Syaikh Al Albani untuk mengetahui lafaz hadis Ummu Thufail tersebut secara lengkap, oleh karena itu sudah seharusnya Syaikh tidak menyatakan shahih hadis Ummu Thufail karena pada dasarnya hadis Ummu Thufail itu berbeda dengan hadis-hadis lainnya. Jika dikatakan bahwa hadis itu shahih hanya sebatas perkataan <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk</em></span></span>, maka sudah seharusnya Syaikh memberikan pernyataan secara eksplisit tentang hal itu dan mengatakan bahwa lafaz hadis Ummu Thufail itu sebenarnya mungkar dan yang shahih hanya bagian <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk.</em></span></span> Bagi kami hal seperti ini jelas sekali sangat penting apalagi hadis yang dibicarakan ini bukan masalah yang sederhana yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>Nabi SAW melihat Rabb di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lebat.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Anehnya seorang ulama seperti Abu Zur’ah Ad Dimasyq tidak segan-segan mengakui kebenaran hadis Ummu Thufail yang berlafaz mungkar. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Daruquthni dalam <em>Ar Ru&#8217;yah</em> no 231 dan Abu Ya’la dalam <em>Ibthaalut Ta’wilaat</em> no 140, Abu Ya’la mengatakan kalau Abu Zur’ah menshahihkan hadis Ummu Thufail di atas. Abu Zur’ah berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">كل هؤلاء الرجال معروفون لهم أنساب قوية بالمدينة فأما مروان بن عثمان فهو مروان بن عثمان بن أبى سعيد بن المعلى الأنصارى وأما عمارة فهو ابن عامر بن عمرو بن حزم صاحب رسول الله وعمرو بن الحارث وسعيد ابن أبى هلال فلا يشك فيهما وحسبك بعبد الله بن وهب محدثا فى دينه وفضله</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Semua perawinya dikenal mempunyai nasab yang kuat di Madinah, Marwan bin Utsman dia adalah Marwan bin Utsman bin Abi Sa’id bin Al Ma’ally Al Anshari dan Umaarah dia adalah Ibnu Amir bin Amru bin Hazm sahabat Rasulullah. Amru bin Harits dan Sa’id bin Abi Hilal tidak diragukan keduanya dan cukuplah Abdullah bin Wahb muhaddis dalam agamanya dan keutamaannya.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kami katakan perkataan Abu Zur’ah sungguh merupakan kekacauan yang patut disayangkan muncul dari beliau. Marwan bin Utsman telah disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan ia majhul dan Abu Hatim menyatakannya dhaif. Abu Zur’ah sendiri tidak menjelaskan keadaannya oleh karena itu tetaplah ia dengan predikat dhaif dan menjadi tertuduh karena hadis ini. Selain itu keadaan Umaarah sendiri tidak dijelaskan oleh Abu Zar&#8217;ah dan ulama lain telah menyatakan bahwa ia tidak dikenal. Jadi hadis tersebut maudhu’ dan tidak ada artinya penshahihan dari Abu Zar’ah. Sungguh tidak dapat dimengerti bagaimana lafaz mungkar pada hadis tersebut bisa diakui kebenarannya oleh ulama sekaliber Abu Zur&#8217;ah. Jauh setelah Abu Zur&#8217;ah ternyata Ibnu Taimiyyah ulama salafy yang terkenal itu ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas dengan lafaz mungkar yang mirip hadis Ummu Thufail di atas. Ulama yang aneh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1386&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/pembahasan-sanad-hadis-ummu-thufail-%e2%80%9cnabi-melihat-allah-dalam-bentuk-pemuda-berambut-lebat%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW(2)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/24/kedudukan-hadis-umat-mengkhianati-imam-ali-sepeninggal-nabi-saw2/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/24/kedudukan-hadis-umat-mengkhianati-imam-ali-sepeninggal-nabi-saw2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1379</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW(2)
Selain diriwayatkan oleh Ibrahim bin Abi Hadid, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Tsa’labah bin Yazid Al Himmani. Hadis Tsa’labah diriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 42/447, Musnad Al Bazzar 3/91, Dalail Nubuwwah Baihaqi 7/312 no 2759 dan Al Kamil Ibnu Ady 6/216. Berikut sanad hadis Tsa’labah bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1379&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW(2)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain diriwayatkan oleh Ibrahim bin Abi Hadid, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Tsa’labah bin Yazid Al Himmani. Hadis Tsa’labah diriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 42/447, Musnad Al Bazzar 3/91, Dalail Nubuwwah Baihaqi 7/312 no 2759 dan Al Kamil Ibnu Ady 6/216. Berikut sanad hadis Tsa’labah bin Yazid yang terdapat dalam kitab Al Mathalib Al Aliyah Ibnu Hajar 11/205 no 4018<span id="more-1379"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الفضل هو أبو نعيم ثنا فطر بن خليفة أخبرني حبيب بن أبي ثابت قال سمعت ثعلبة بن يزيد قال سمعت عليا يقول والله إنه لعهد النبي الأمي صلى الله عليه وسلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Fadhl (dia Abu Nu’aim) yang berkata telah menceritakan kepada kami Fithr bin Khalifah yang berkata telah mengabarkan kepadaku Habib bin Abi Tsabit yang berkata aku mendengar Tsa’labah bin Yazid berkata aku mendengar Ali mengatakan Demi Allah, sesungguhnya Nabi yang ummi telah menjanjikan kepadaku</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sanad ini adalah sanad yang shahih dan tidak diragukan keshahihannya, kecuali oleh mereka yang tidak senang dengan matan hadis tersebut.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Fadhl bin Dukain </span>atau Abu Nu’aim adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan yang dikenal tsiqah. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 505 menyebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Sa’ad, Ibnu Syahin Abu Hatim dan yang lainnya.</em></span> Dalam <em>At Taqrib</em> 2/11 Ibnu Hajar menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Fithr bin Khalifah</span> adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 550 menyebutkan bahwa<span style="text-decoration:underline;"><em> ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Sa’id, Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Al Ajli, Nasa’i, dan Ibnu Hibban.</em></span> Dalam <em>At Taqrib</em> 2/16 Ibnu Hajar menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia shaduq (jujur).</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Habib bin Abi Tsabit</span> adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 2 no 323 menyebutkan kalau<span style="text-decoration:underline;"><em> ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban,  dan Ibnu Ady. </em></span>Dalam <em>At Taqrib</em> 1/183 <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Tsa’labah bin Yazid </span>adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang tabiin yang tsiqat</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 2 no 42 menyebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat</em></span>. Al Bukhari berkata bahwa hadis-hadisnya perlu diteliti lagi dan tidak diikuti. Pernyataan Bukhari tidaklah benar, <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Tsa’labah bin Yazid ini ternyata diikuti oleh yang lainnya yaitu oleh Ibrahim bin Abi Hadid dan Hayyan Al Asdi</em></span>, mereka semua meriwayatkan dari Ali RA.  Ibnu Ady mengakui kalau Tsa’labah tidak memiliki hadis-hadis mungkar. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>1/149 menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia seorang syiah yang shaduq.</em></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi kami katakan hadis ini shahih dan tidak ada gunanya syubhat yang dilontarkan oleh sebagian orang. Diantara mereka, ada yang berhujjah dengan pernyataan Al Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir </em>juz 2 no 2103 biografi Tsa’labah bin Yazid dimana Bukhari berkata<em> “perlu diteliti lagi”</em> kemudian Al Bukhari membawakan hadis Tsa’labah ini dan berkata <em>“tidak diikuti”.</em> <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Kami sudah katakan bahwa Al Bukhari tidaklah benar, hadis ini diikuti oleh yang lain yaitu Ibrahim bin Abi Hadid dan Hayyan Al Asdi</span>.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban ternyata memuat biografi Tsa’labah bin Yazid dalam <em>Al Majruhin</em> no 170 dan mengatakan bahwa <em>ia berlebihan dalam tasyayyu’ tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri meriwayatkan dari Ali.</em> Kami katakan pencacatan karena tasyayyu’ tidaklah diterima dan Ibnu Hibban sendiri memasukkan Tsa’labah bin Yazid sebagai perawi tsiqah dalam <em>Ats Tsiqat </em>juz 4 no 1995 ditambah lagi <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Tsa’labah tidak menyendiri meriwayatkan hadis ini.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Semua syubhat tersebut sangat lemah dan telah dijelaskan kekeliruannya tetapi mereka salafiyun tetap tidak rela kalau hadis ini dikatakan shahih. Padahal jika diteliti dengan standar ilmu hadis yang benar maka tidak diragukan lagi bahwa hadis ini bersanad shahih. Wallahu’alam</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Hadis, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1379/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1379&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/24/kedudukan-hadis-umat-mengkhianati-imam-ali-sepeninggal-nabi-saw2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW(1)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/kedudukan-hadis-umat-mengkhianati-ali-sepeninggal-nabi-saw1/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/kedudukan-hadis-umat-mengkhianati-ali-sepeninggal-nabi-saw1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 11:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW
Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali. Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut
حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1368&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali. Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut<span id="more-1368"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”.</span></span><strong> [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini adalah hadis yang shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Dulabi dalam <em>Al Kuna Wal Asmaa’</em> 2/442 no 441</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا يحيى بن غيلان ، عن أبي عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، وحدثنا فهد بن عوف ، قال ، ثنا أبو عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، عن أبي إدريس إبراهيم بن أبي حديد الأودي أن علي بن أبي طالب ، قال : عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي من بعده</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dari Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dan telah menceritakan kepada kami Fahd bin Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Ibrahim bin Abi Hadid Al Awdi bahwa Ali bin Abi Thalib berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“telah dijanjikan oleh Nabi SAW bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya yaitu sanad <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Yahya bin Ghailan dari Abu Awanah dari Ismail bin Salim dari Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali</em></span></span>. Ibrahim adalah seorang tabiin yang melihat atau bertemu dengan Ali.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Yahya bin Ghailan</span> dia adalah perawi Muslim Nasa’i dan Tirmidzi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 11 no 429 dan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sahl, Al Khatib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’ad</em></span>. Ibnu Hajar dalam<em> At Taqrib</em> 2/312 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Abu ‘Awanah</span> dia adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 11 no 204 dan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abdil Bar.</em></span> Dalam <em>At Taqrib</em> 2/283 ia dinyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>tsiqat</em></span> . Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf </em>no 6049 juga mengatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqah.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ismail bin Salim</span> adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 1 no 554 menyebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Daruquthni, Yaqub Al Fasawi, Abu Ali Al Hafiz dan Ibnu Hibban.</em></span> Dalam <em>At Taqrib</em> 1/94 ia dinyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ibrahim bin Abi Hadid</span> dia adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang tabiin yang tsiqah</em></span>. Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat </em>juz 4 no 1613. Al Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 1 no 908 menyebutkan keterangan tentangnya bahwa telah meriwayatkan darinya Ismail bin Salim tanpa menyebutkan jarh terhadapnya. Sehingga Ibrahim bin Abi Hadid adalah tabiin yang tsiqah dan Al Bukhari juga menyebutkan kalau ia bertemu atau melihat Ali bin Abi Thalib RA.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jadi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">hadis riwayat Ad Dulabi dalam Al Kuna adalah hadis yang shahih</span></span>. Sebelum mengakhiri tulisan ini kami akan membantah syubhat kalau Ibrahim bin Abi Hadid itu majhul dan hadisnya dari Ali mursal.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syubhat Abu Hatim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hatim dalam <em>Al Jarh Wat Ta’dil </em>2/96 menyebutkan kalau <em>riwayat Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali mursal dan ia seorang yang majhul</em>. Pernyataan ini tertolak dengan dasar ulama-ulama lain mengenalnya seperti Ibnu Hibban, Al Bukhari dan Ibnu Ma’in. Dalam<em> Tarikh Ibnu Ma’in</em> no 1861 riwayat ad Dawri berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سمعت يحيى يقول أبو إدريس إبراهيم بن أبى حديد قلت ليحيى هو الذي يروى عنه إسماعيل بن سالم قال نعم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Yahya mengatakan Abu Idris Ibrahim bin Abi Hadid. Aku bertanya kepada Yahya “diakah yang telah meriwayatkan darinya Ismail bin Salim”. Ia menjawab “ benar”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian juga disebutkan dalam <em>Tarikh Ibnu Ma’in </em>no 2547 dari Ad Dawri</p>
<h2 style="text-align:right;">سمعت يحيى يقول أبو إدريس إبراهيم بن أبي حديد صاحب إسماعيل بن سالم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Yahya mengatakan Abu Idris Ibrahim bin Abi Hadid sahabat Ismail bin Salim.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Abu Hatim bahwa riwayat Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali mursal adalah pernyataan keliru dan itu didasari oleh ketidaktahuannya akan siapa Ibrahim bin Abi Hadid. Al Bukhari berkata dalam <em>Tarikh Al Kabir </em>juz 1 no 908</p>
<h2 style="text-align:right;">قال لي بن زرارة أخبرنا هشيم قال حدثنا إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس نظرت إلى علي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah berkata kepadaku Ibnu Zurarah yang mengabarkan kepada kami Husyaim yang menceritakan kepada kami Ismail bin Salim bahwa Abu Idris melihat Ali.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Atsar ini shahih</span></span>. Ibnu Zurarah adalah Syaikh(guru) Bukhari dan telah dinyatakan dalam<em> At Taqrib</em> 1/735 bahwa ia <span style="text-decoration:underline;"><em>tsiqat</em></span> dan Husyaim bin Basyir disebutkan dalam <em>At Taqrib</em> 2/269 kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat tsabit</em></span>. Sedangkan Ismail bin Salim telah disebutkan ketsiqahannya. Riwayat Bukhari ini sebaik-baik bukti yang membantah pernyataan Abu Hatim.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Hadis, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1368&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/kedudukan-hadis-umat-mengkhianati-ali-sepeninggal-nabi-saw1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Mungkar Pengakuan Akan Keutamaan Abu Bakar dan Umar</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/hadis-mungkar-pengakuan-akan-keutamaan-abu-bakar-dan-umar/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/hadis-mungkar-pengakuan-akan-keutamaan-abu-bakar-dan-umar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 01:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1364</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Mungkar Pengakuan Akan Keutamaan Abu Bakar dan Umar

Oknum salafiyun itu juga membawakan hadis lain yang ia jadikan hujjah. Hadis dimana Imam Ali mengakui bahwa Abu Bakar dan Umar beramal seperti amalan Rasulullah SAW. Mari kita analisis hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun tersebut.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 1/128 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1364&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Mungkar Pengakuan Akan Keutamaan Abu Bakar dan Umar<br />
</strong><br />
Oknum salafiyun itu juga membawakan hadis lain yang ia jadikan hujjah. Hadis dimana Imam Ali mengakui bahwa Abu Bakar dan Umar beramal seperti amalan Rasulullah SAW. Mari kita analisis hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun tersebut.<span id="more-1364"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>Musnad Ahmad bin Hanbal</em> 1/128 no 1055</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني سريج بن يونس ثنا مروان الفزاري أخبرنا عبد الملك بن سلع عن عبد خير قال سمعته يقول قام على رضي الله عنه على المنبر فذكر رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال قبض رسول الله صلى الله عليه و سلم واستخلف أبو بكر رضي الله عنه فعمل بعمله وسار بسيرته حتى قبضه الله عز و جل على ذلك ثم أستخلف عمر رضي الله عنه على ذلك فعمل بعملهما وسار بسيرتهما حتى قبضه الله عز و جل على ذلك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Syuraij bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan Al Fazari yang mengabarkan kepada kami Abdul Malik bin Sal’ dari Abdu Khair yang berkata “Aku pernah mendengar Imam Ali berdiri di atas mimbar dan menyebut nama Rasulullah SAW. Dia berkata “Rasulullah SAW meninggal dunia kemudian <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abu Bakar menggantikannya, ia beramal dengan amalan Rasulullah SAW dan mengikuti jejak Beliau hingga Allah SWT mewafatkannya dalam keadaan demikian. Kemudian Umar menggantikannya. Dia juga mengamalkan amalan mereka berdua hingga Allah SWT pun mewafatkannya dalam keadaan demikian.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini juga diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> 1/128 no 1059</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا بن نمير عن عبد الملك بن سلع عن عبد خير قال سمعت عليا رضي الله عنه يقول قبض الله نبيه صلى الله عليه و سلم على خير ما قبض عليه نبي من الأنبياء عليهم السلام ثم استخلف أبو بكر رضي الله عنه فعمل بعمل رسول الله صلى الله عليه و سلم وسنة نبيه وعمر رضي الله عنه كذلك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Abdul Malik bin Sal’ dari Abdu Khair yang berkata “Aku mendengar Ali berkata Allah SWT telah mewafatkan Nabinya dalam keadaan yang terbaik dimana tidak ada seorangpun dari Nabi-Nabinya yang diwafatkan dalam keadaan seperti itu. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Kemudian Abu Bakar menggantikannya, Dia mengamalkan amalan Rasulullah SAW dan Sunnah Nabi-Nya. Demikian pula dengan Umar.</span></span></em><span style="color:#0000ff;"><br />
</span><br />
Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan kedua hadis ini hasan. Tentu saja pernyataan beliau ini sebuah keanehan dan kami mengira ini bagian dari tanaqudh Beliau. Kedua hadis ini bersumber dari Abdul Malik bin Sal’. Dia disebutkan dalam<em> At Tahdzib</em> juz 6 no 750 bahwa tidak ada satupun ulama yang menta’dilkannya kecuali Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em>. Ibnu Hibban dalam<em> Ats Tsiqat</em> juz 7 no 9197 bahkan menyebutkan keterangan tentangnya bahwa dia adalah seorang yang sering salah. Tentu saja dengan manhaj Syaikh Syu’aib Al Arnauth maka <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Abdul Malik bin Sal’ adalah seorang yang majhul hal dengan predikat yukhti’u (sering salah)</em></span></span>. Maka bagaimana mungkin hadisnya bernilai hasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan manhaj Syaikh Ahmad Syakir tetap saja <em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abdul Malik bin Sal’ tidak bisa dijadikan hujjah karena dia adalah seorang yang sering salah sehingga diragukan untuk menerima hadisnya</span></span></em>. Kami katakan hadis ini mengandung lafaz yang mungkar yaitu dimana Imam Ali mengatakan bahwa <em>Abu Bakar dan Umar mengamalkan amalan Rasulullah SAW dan mengikuti jejak Beliau SAW</em>. Kemungkarannya terletak pada kenyataan bahwa kedua khalifah tersebut tidak mengikuti amalan Rasulullah SAW yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Bukankah pesan Rasulullah SAW adalah berpegang teguh kepada Ahlul bait tetapi khalifah Abu Bakar malah menolak kebenaran Sayyidah Fathimah AS sehingga membuat putri tercinta Rasul SAW marah dan mendiamkannya sampai Beliau SAW wafat. Itu artinya Abu Bakar tidak berpegang teguh pada Ahlul bait.</em></li>
<li><em>Bukankah Rasulullah SAW selalu berlaku baik kepada Ahlul Bait Rasul SAW tetapi ternyata Ahlul Bait Rasul SAW diperlakukan dengan keji yaitu mau diancam untuk dibakar rumahnya padahal di dalamnya ada Ahlul bait Rasul SAW yang sangat dicintai Beliau SAW. Inikah amalan Rasulullah SAW</em></li>
<li><em>Abu Bakar dan Umar terbukti dalam hadis shahih bahwa mereka melarang pelaksanaan haji tamattu’ dan hal ini terang sekali menentang sunnah Rasulullah SAW.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ketiga hal ini saja cukup untuk menyatakan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak mengamalkan amalan Rasulullah SAW sepenuhnya. Silakan perhatikan hadis berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا حجاج ثنا شريك عن الأعمش عن الفضيل بن عمرو قال أراه عن سعيد بن جبير عن بن عباس قال تمتع النبي صلى الله عليه و سلم فقال عروة بن الزبير نهى أبو بكر وعمر عن المتعة فقال بن عباس ما يقول عرية قال يقول نهى أبو بكر وعمر عن المتعة فقال بن عباس أراهم سيهلكون أقول قال النبي صلى الله عليه و سلم ويقول نهى أبو بكر وعمر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hajjaj menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Al Fudhail bin Amr ia berkata tampaknya dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ”Nabi SAW bertamattu’ ”. Lalu Urwah bin Zubair berkata ”Abu Bakar dan Umar telah melarang tamattu’! ”. Maka Ibnu Abbas berkata ”Apa yang dikatakan Urayyah?”.  Kemudian dijawab ”Ia berkata Abu Bakar dan Umar telah melarang tamattu’ ”. Ibnu Abbas berkata ”Tampaknya mereka akan binasa! Aku katakan ’Nabi SAW bersabda’, ia justru berkata ’Abu Bakar dan Umar melarang’ ”.<strong> (Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad hadis no 3121 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)<br />
</strong></em><br />
Hadis ini adalah bukti nyata kalau kedua khalifah tidak mengamalkan sunah Rasul SAW dan tidak mengikuti jejak Beliau SAW. Oleh karena itu hadis Abdul Malik bin Sal’ di atas jelas tidak bisa dijadikan hujjah dan hadisnya terbukti bertentangan dengan hadis yang shahih sehingga bernilai mungkar.</p>
<p style="text-align:justify;">Oknum salafy itu mengatakan bahwa hadis Abdul Malik bin Sal&#8217; ini menjadi penguat bagi hadis Amru bin Sufyan dalam Dalail Baihaqi. Hal ini sudah jelas mengada-ada. Ada perbedaan yang nyata dari kedua hadis tersebut.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Hadis Amru bin Sufyan memuat lafaz <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Rasulullah SAW tidak menjanjikan kepada kami untuk mendapatkan jabatan ini sama sekali</em></span></span>. Sedangkan hadis Abdul Malik tidak mengandung lafaz yang demikian</li>
<li>Hadis Amru bin Sufyan mengandung lafaz <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Kami menganggap bahwa Abu Bakar lah yang pantas menggantikan Beliau SAW</em></span></span>. Sedangkan hadis Abdul Malik tidak mengandung lafaz demikian, lafaz hadis Abdul Malik hanya mneyebutkan <em>kalau ketika Rasulullah SAW wafat Abu Bakar menggantikannya, dan setelah Abu Bakar maka Umar menggantikannya</em>. Tidak ada pengakuan Imam Ali seperti yang tertera dalam hadis Amru bin Sufyan.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Oknum salafy itu selain tidak memiliki metode dalam berhujjah mereka juga tidak memiliki kehalusan dalam berhujjah. Kedua hadis dengan lafal yang berbeda dengan seenaknya mereka katakan sama asalkan itu dapat mendukung keyakinan mereka. Yah memang mengecewakan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<ul style="text-align:justify;"></ul>
Posted in Hadis, Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1364&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/hadis-mungkar-pengakuan-akan-keutamaan-abu-bakar-dan-umar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Imam Ali Mengakui Khalifah Peninggalan Rasulullah SAW : Studi Kritis Hujjah Salafy</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/hadis-imam-ali-mengakui-khalifah-peninggalan-rasulullah-saw-studi-kritis-hujjah-salafy/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/hadis-imam-ali-mengakui-khalifah-peninggalan-rasulullah-saw-studi-kritis-hujjah-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 17:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1359</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Imam Ali Mengakui Khalifah Peninggalan Rasulullah SAW : Studi Kritis Hujjah Salafy
Oknum salafiyun itu ternyata tidak mau berhenti untuk menunjukkan kekeliruannya dalam berhujjah. Ia membawakan dua buah hadis yang dikatakannya sebagai penguat hadis Syu’aib bin Maimun. Mari kita analisis dengan seksama kedua hadis tersebut.
Hadis Pertama diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/130 no 1078
حدثنا عبد الله [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1359&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Imam Ali Mengakui Khalifah Peninggalan Rasulullah SAW : Studi Kritis Hujjah Salafy</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Oknum salafiyun itu ternyata tidak mau berhenti untuk menunjukkan kekeliruannya dalam berhujjah. Ia membawakan dua buah hadis yang dikatakannya sebagai penguat hadis Syu’aib bin Maimun. Mari kita analisis dengan seksama kedua hadis tersebut.<span id="more-1359"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Pertama diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> 1/130 no 1078</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا وكيع ثنا الأعمش عن سالم بن أبي الجعد عن عبد الله بن سبع قال سمعت عليا رضي الله عنه يقول لتخضبن هذه من هذا فما ينتظر بي الأشقى قالوا يا أمير المؤمنين فأخبرنا به نبير عترته قال إذا تالله تقتلون بي غير قاتلي قالوا فاستخلف علينا قال لا ولكن أترككم إلى ما ترككم إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم قالوا فما تقول لربك إذا أتيته وقال وكيع مرة إذا لقيته قال أقول اللهم تركتني فيهم ما بدا لك ثم قبضتني إليك وأنت فيهم فإن شئت أصلحتهم وإن شئت أفسدتهم</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Aku mendengar Ali berkata “sesungguhnya ini akan dilumuri (darah) dari sini, sehingga tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan. Mereka berkata “wahai Amirul Mukminin beritahukanlah kepada kami siapa dia, kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “kalau demikian demi Allah kalian akan membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Maka angkatlah seseorang sebagai penggantimu. Ali berkata “tidak, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">akan tetapi aku akan meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian.</span></span> Mereka berkata “Apa yang akan Engkau katakan kepada TuhanMu jika Engkau mendatanginya -Waki terkadang berkata&#8211; Jika Engkau bertemu denganNya”. Ali berkata “Ya Allah Engkau membiarkanku di antara mereka dengan kehendakMu lalu Engkau mengambilku ke sisiMu sedang Engkau berada di antara mereka. Jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kebaikan pada mereka dan jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kehancuran pada mereka”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Kedua diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> 1/156 no 1339</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أسود بن عامر أنبأنا أبو بكر عن الأعمش عن سلمة بن كهيل عن عبد الله بن سبع قال خطبنا على رضي الله عنه فقال والذي فلق الحبة وبرأ النسمة لتخضبن هذه من هذه قال قال الناس فأعلمنا من هو والله لنبيرن عترته قال أنشدكم بالله ان يقتل غير قاتلي قالوا أن كنت قد علمت ذلك استخلف إذا قال لا ولكن أكلكم إلى ما وكلكم إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Ali berkhutbah kepada kami, dia berkata “Demi Yang memecahkan biji dan menciptakan Ruh sungguh ini akan dilumuri dari sini. Orang-orangpun berkata “beritahukanlah kepada kami siapa dia? Demi Allah kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “Demi Allah itu berarti orang yang tidak membunuhku akan dibunuh. Mereka berkata “Jika Engkau mengetahui hal itu maka angkatlah seseorang sebagai pengganti. Ali berkata “Tidak, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">akan tetapi aku meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian”.</span></span></em><span style="color:#0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Manhaj Syaikh Syu’aib Al Arnauth</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua hadis ini sanadnya dhaif dimana hadis kedua lebih dhaif dari hadis pertama. Kedua hadis tersebut bersumber dari <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Abdullah bin Sabu’</em></span></span> dia adalah perawi yang tidak ada satu ulama pun yang menyatakan ta’dil padanya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana yang disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 5 no 397. Disebutkan pula hanya Salim bin Abil Ja’d yang meriwayatkan hadis darinya. Oleh karena itu dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 3340 <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Abdullah bin Sabu’ dinyatakan majhul</em></span></span>. Sedangkan hadis kedua<em> selain kemajhulan Abdullah bin Sabu’ hadis ini memiliki illat idhthirab</em>. Yang meriwayatkan dari Abdullah bin Sabu’ bukanlah Salamah bin Kuhail tetapi Salim bin Abil Ja’d. Al Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 5 no 283 telah membawakan sanad hadis ini dimana <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’.</em></span></span> Sehingga dapat disimpulkan bahwa <em>Salamah bin Kuhail tidak mendengar dari Abdullah bin Sabu’.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kedua hadis tersebut kedudukannya dhaif dan jika kita gabungkan dengan hadis Syu’aib bin Maimun maka didapati</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Hadis pertama dhaif karena <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abdullah bin Sabu’ majhul</span></span></em></li>
<li><em>Hadis kedua dhaif karena <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Abdullah bin Sabu’ majhul dan sanadnya mudhtharib</span></span></em></li>
<li><em>Hadis Syu’aib bin Maimun dhaif karena<span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"> Syu’aib bin Maimun perawi dhaif majhul dan hadisnya mungkar</span></span></em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ketiga hadis ini sudah jelas cacatnya sama-sama parah dan tidak mungkin bisa saling menguatkan sehingga sungguh tidak benar jika Syaikh Syu’aib menyatakan bahwa hadisnya terangkat menjadi hasan lighairihi.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi jika dilihat bahwa matan hadis Syu’aib bin Maimun tidaklah sama dengan matan hadis Abdullah bin Sabu’</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Hadis Syu’aib bin Maimun memuat lafaz <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Imam Ali mengakui Rasulullah SAW tidak memilih penggantinya</span></span> dan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">bahwa Allah SWT yang mengumpulkan mereka di bawah orang yang terbaik dari kaum muslimin</span></span></em></li>
<li><em>Hadis Abdullah bin Sabu’ tidak mengandung lafaz seperti hadis Syu’aib, matannya hanya berupa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Imam Ali meninggalkan mereka pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan mereka. </span></span></em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kedua lafaz ini memiliki perbedaan yang nyata. Tertera dalam hadis shahih bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Rasulullah SAW meninggalkan Ahlul Bait sebagai khalifah untuk kaum muslimin</em></span></span> dan jika dikembalikan pada kedua hadis di atas maka hadis Abdullah bin Sabu’ justru mengandung makna bahwa <em>Imam Ali mengakui khalifah itu ada pada Ahlul Bait sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW oleh karena itu Beliau tidak perlu menunjuk pengganti karena Rasulullah SAW telah menetapkan</em>. Sedangkan hadis Syu’aib lafaznya mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Manhaj Syaikh Ahmad Syakir</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy cukup dikenal dengan <em>sikap mereka yang merendahkan tautsiq Ibnu Hibban.</em> Mereka tidak menganggap penta’dilan Ibnu Hibban karena <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Hibban suka menyatakan tsiqah kepada perawi-perawi majhul</em></span>. Kalau begitu sudah seharusnya salafy tidak menggunakan hadis Abdullah bin Sabu’ sebagai hujjah. Tapi ternyata sekarang kita melihat inkonsistensi salafy. Ketika hadis tersebut mau mereka menjadikan hujjah maka tidak ada masalah bagi mereka untuk berhujjah dengan perawi majhul.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda halnya dengan manhaj Syaikh Ahmad Syakir dalam menilai tautsiq Ibnu Hibban. Menurut syaikh Ahmad Syakir<span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em> jika seorang perawi disebutkan biografinya oleh Bukhari atau Abu Hatim tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil kemudian Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat maka perawi tersebut layak untuk dinyatakan tsiqah walaupun tidak ada ta’dil dari ulama lain.</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah bin Sabu’ disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat</em> juz 5 no 3646. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam <em>Tarikh Al Kabir </em>juz 5 no 283 dan Ibnu Abi Hatim dalam <em>Al Jarh Wat Ta’dil </em>5/68 no 322, keduanya tidak menyebutkan jarh dan ta’dil pada Abdullah bin Sabu’. Maka menurut Syaikh Ahmad Syakir <em>Abdullah bin Sabu’ seorang yang tsiqah</em> sehingga dalam tahqiqnya terhadap hadis tersebut Syaikh menyatakan kedua hadis tersebut shahih.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanggapan Kami</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja kami tidak mau seperti salafy yang berhujjah dengan cara-cara seenaknya bahkan terkesan inkonsisten atau kontradiktif. Tidak ada celah sedikitpun bagi salafy untuk berhujjah dengan hadis Abdullah bin Sabu’ perawi yang majhul menurut metode salafy.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang benar dalam pandangan kami adalah seperti yang dikatakan Syaikh Ahmad Syakir tetapi kami tidak akan membabi-buta mengikuti Syaikh Ahmad Syakir. <span style="text-decoration:underline;"><em>Hadis pertama tersebut bersanad hasan dan hadis kedua tersebut dhaif karena idhthirab</em></span>. Dan sebagai penjelas hadis Abdullah bin Sabu’ adalah hadis Rasulullah SAW berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">عن زيد بن ثابت قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن تارك فيكم الخليفتين من بعدي كتاب الله وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Zaid bin Tsabit yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (penggantiku) setelahKu yaitu Kitab Allah dan ItrahKu Ahlul BaitKu dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh.<strong> [hadis shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 754]</strong>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi mengapa dalam hadis Abdullah bin Sabu’ dikatakan Imam Ali tidak mau menunjuk penggantinya. Hal itu disebabkan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam Ali menginginkan agar mereka kaum muslimin kembali pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan untuk mereka yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah SAW</em></span></span>.</p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1359/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1359/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1359/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1359&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/23/hadis-imam-ali-mengakui-khalifah-peninggalan-rasulullah-saw-studi-kritis-hujjah-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/22/hadis-palsu-dalam-shahih-muslim-keutamaan-abu-sufyan/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/22/hadis-palsu-dalam-shahih-muslim-keutamaan-abu-sufyan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 00:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1352</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?
Benarkah ada hadis palsu dalam kitab monumental Shahih Muslim?. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?. Jangan terlalu risau, silakan cek di kitab Shahih Muslim terbitan manapun hadis keutamaan berikut
حدثني عباس بن عبدالعظيم العنبري وأحمد بن جعفر المعقري قالا حدثنا النضر ( وهو ابن محمد اليمامي ) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1352&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Benarkah ada hadis palsu dalam kitab monumental Shahih Muslim?. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?. Jangan terlalu risau, silakan cek di kitab Shahih Muslim terbitan manapun hadis keutamaan berikut<span id="more-1352"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثني عباس بن عبدالعظيم العنبري وأحمد بن جعفر المعقري قالا حدثنا النضر ( وهو ابن محمد اليمامي ) حدثنا عكرمة حدثنا أبو زميل حدثني ابن عباس قال كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه فقال للنبي صلى الله عليه و سلم يا نبي الله ثلاث أعطنيهن قال نعم قال عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها قال نعم قال ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك قال نعم قال وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين قال نعم قال أبو زميل ولولا أنه طلب ذلك من النبي صلى الله عليه و سلم ما أعطاه ذلك لأنه لم يكن يسئل شيئا إلا قال نعم</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul ‘Azim Al ‘Anbari dan Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami An Nadhr (dia Ibnu Muhammad Al Yamami) yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zumail yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata “kaum muslimin tidak memandang Abu Sufyan dan tidak pula mereka duduk menyertainya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW “Wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Saya mempunyai seorang putri yang paling baik dan paling cantik di kalangan orang Arab yaitu Ummu Habibah putri Abu Sufyan, aku ingin menikahkannya dengan anda”. </span></span>Beliau menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan agar anda mengangkat Muawiyah sebagai juru tulis anda”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan anda mengangkat saya sebagai pemimpin untuk memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu saya memerangi orang-orang islam”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Zumail berkata “Seandainya Abu Sufyan tidak menuntut hal tersebut kepada Nabi SAW tentu beliau tidak akan memberinya karena jika Beliau SAW dimintai sesuatu, Beliau SAW tidak akan menjawab selain “ya”. <strong>[Shahih Muslim 4/1945 no 2501 Bab Keutamaan Abu Sufyan bin Harb tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini dimasukkan Imam Muslim ke dalam kitab Shahih-nya berarti beliau mengakui bahwa hadis ini shahih. Tetapi tidak diragukan lagi kalau <em>hadis ini tidak shahih</em>. Sebaik-baik bukti bahwa hadis ini tidak shahih adalah isi hadis tersebut. Hadis tersebut menyebutkan <em>permintaan Abu Sufyan yang ingin menikahkan putrinya Ummu Habibah kepada Nabi SAW</em>. Padahal disepakati dalam kitab tarikh bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Nabi SAW telah menikah dengan Ummu Habibah jauh sebelum Abu Sufyan masuk islam ketika Fathul Makkah.</em></span></span> Oleh karena itu terang sekali kemusykilan hadis ini yang menunjukkan kepalsuannya. Pertanyaannya adalah jika hadis tersebut palsu, siapakah yang memalsukannya?.</p>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> mengutip perkataan Ibnu Hazm yang menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>hadis ini palsu dan yang bertanggung jawab untuk itu adalah Ikrimah bin Ammar.</em></span></span> <strong>Kami katakan</strong> : kepalsuannya benar tetapi pernyataan bahwa yang bertanggung-jawab adalah Ikrimah bin Ammar layak diberikan catatan. Ikrimah bin Ammar disebutkan dalam kitab biografi perawi hadis adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>perawi yang tsiqat, mereka yang mempermasalahkan Ikrimah hanya mempersoalkan hadis Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 475 menyebutkan bahwa Ikrimah bin Ammar dinyatakan tsiqat oleh sekumpulan ulama diantaranya <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Ma’in, Syu’bah, Ali bin Madini, Al Ajli, Abu Dawud, As Saji, Ali bin Muhammad Al Thanafisi, Ishaq bin Ahmad Al Bukhari, Daruquthni, Ibnu Hibban, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Syahin dan Ahmad bin Shalih.</em></span> Hanya ada sebagian orang yang memperbincangkannya yaitu Ahmad dan Yahya Al Qattan itu pun hanya sebatas hadis Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir yang mudhtharib. Sedangkan hadis di atas bukan riwayat Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam<em> Tahrir At Taqrib</em> no 4672 mengatakan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Ikrimah bin Ammar tsiqat kecuali riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir yang dhaif karena idhthirab, ia dinyatakan tsiqah oleh Ayub As Sakhtiati, Al Ajli, Ali bin Madini, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ahmad bin Shalih Al Mishri, Abu Dawud, Abu Zar’ah Ad Dimasyq, Ibnu Ammar, Ali bin Muhammad Ath Thanafisi, Ishaq bin Ahmad bin Khalaf Al Bukhari Al Hafiz, Daruquthni dan yang lainnya. Disepakati bahwa riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir mudhtharib dan oleh karena itulah Yahya bin Sa’id Al Qaththan membicarakannya.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> juga mengutip Syaikh Abu Amru bin Shalah yang membantah Ibnu Hazm. <em>Ia menolak bahwa Ikrimah bin Ammar memalsu hadis ini, hadis tersebut hanyalah kesalahan atau kekeliruan saja</em>. <strong>Kami katakan</strong> : tentu saja ini pembelaan yang menarik, tapi siapa yang keliru dan salah itu, apakah Ikrimah bin Ammar? Bukankah ia tsiqah tsabit riwayatnya kecuali riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir. Atau ada yang mau mengatakan namanya juga manusia, perawi bisa saja melakukan kesalahan. Kalau begitu semua perawi hadis tersebut termasuk Imam Muslim bisa saja menjadi yang tertuduh melakukan kekeliruan. Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan Ikrimah bin Ammar saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Bicara soal pembelaan hadis di atas, ada hal lucu yang harus diperhatikan. Silakan lihat hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait, jika hadis tersebut dipermasalahkan oleh ulama. Mereka tidak ragu untuk mengatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>perawinya harus dicacat karena meriwayatkan hadis tersebut.</em></span> Mereka tidak begitu berbaik hati untuk mengatakan <em>perawi tersebut hanya keliru saja</em>. Terkadang hanya karena <em>seorang perawi meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait yang mereka pandang aneh</em> maka dengan seenaknya mereka menjarh perawi tersebut dengan keras dan tidak ragu menyatakan hadis tersebut palsu. Ataukah kalau hadis tersebut soal keutamaan Ahlul bait maka tidak perlu berbaik hati tetapi kalau hadis tersebut berbicara tentang keutamaan Abu Sufyan dan Muawiyah maka harus berbaik-hati. Itu namanya Inkonsistensi yang menyebalkan<em> (baca : menjijikkan)</em>. Nah seharusnya mereka konsisten, hadis Shahih Muslim di atas tentang keutamaan Abu Sufyan isinya sudah jelas palsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka pertanyaannya, siapa yang memalsukan hadis ini?. Siapa perawi yang harus dicacatkan karena meriwayatkan hadis ini?. Atau hadis ini sebenarnya tidak palsu. Tidak jarang hadis ini dijadikan hujjah oleh para muqallid untuk membuktikan keutamaan Abu Sufyan dan Muawiyah. Imam Muslim bahkan membuat judul bab <span style="text-decoration:underline;"><em>“Keutamaan Abu Sufyan bin Harb Radiallahu’anhu”</em></span> dan hanya mengandalkan satu hadis ini saja. Itu artinya Imam Muslim berhujjah dengan hadis ini untuk menyatakan keutamaan Abu Sufyan. Bagaimana mungkin seorang ulama sekaliber Imam Muslim tidak mengetahui fakta sejarah kalau Nabi SAW menikahi Ummu Habibah sebelum Fathul Makkah dimana Abu Sufyan masih kafir?. Sungguh hadis yang membingungkan atau sikap ulamanya yang membingungkan.</p>
Posted in Hadis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1352/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1352&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/22/hadis-palsu-dalam-shahih-muslim-keutamaan-abu-sufyan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kritik Hadis Dalam Kitab Dalail Baihaqi Yang Dijadikan Hujjah Oleh Salafy</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/20/kritik-hadis-dalam-kitab-dalail-baihaqi-yang-dijadikan-hujjah-oleh-salafy/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/20/kritik-hadis-dalam-kitab-dalail-baihaqi-yang-dijadikan-hujjah-oleh-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 18:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1345</guid>
		<description><![CDATA[Kritik Hadis Dalam Kitab Dalail Baihaqi Yang Dijadikan Hujjah Oleh Salafy
Ulah oknum salafy itu ternyata tidak hanya mendistorsi riwayat, mereka ternyata tidak segan-segan berhujjah dengan riwayat dhaif yang penting dapat menguatkan mahzabnya dan menyalahkan atau mensesatkan orang lain. Orang itu berhujjah dengan dua hadis dalam kitab Dalail An Nubuwah Baihaqi yang mengatasnamakan Imam Ali. Tulisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1345&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Kritik Hadis Dalam Kitab Dalail Baihaqi Yang Dijadikan Hujjah Oleh Salafy</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ulah oknum salafy itu ternyata tidak hanya mendistorsi riwayat, mereka ternyata tidak segan-segan berhujjah dengan riwayat dhaif yang penting <em>dapat menguatkan mahzabnya</em> dan <em>menyalahkan atau mensesatkan orang lain</em>. <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comment-11051" target="_blank">Orang itu berhujjah dengan dua hadis dalam kitab <em>Dalail An Nubuwah</em> Baihaqi yang mengatasnamakan Imam Ali</a>. Tulisan ini akan membahas validitas kedua hadis yang dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun tersebut.<span id="more-1345"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Pertama diriwayatkan dalam <em>Dalail An Nubuwwah</em> 7/223</p>
<h2 style="text-align:right;">اخبرنا أبو عبد الله الحافظ قال أخبرني أبو بكر محمد بن أحمد المزكي بمرو قال حدثنا عبد الله بن روح المدائني قال حدثنا شبابة بن سوار قال حدثنا شعيب بن ميمون عن حصين بن عبد الرحمن عن الشعبي عن أبي وائل قال قيل لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه إلا تستخلف علينا قال ما استخلف رسول الله فاستخلف ولكن إن يرد الله بالناس خيرا فسيجمعهم بعدي على خيرهم كما جمعهم بعد نبيهم على خيرهم</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al Hafiz yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al Mazki di Marwa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Rauh Al Madaini yang berkata telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin Abdurrahman dari Sya’bi dari Abi’ Wail dia berkata “Ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib RA “Tidakkah engkau memilih pengganti untuk kami?. Beliau menjawab “Rasulullah SAW tidak memilih penggantinya maka kenapa aku harus memilih?. Tetapi jika Allah SWT menginginkan kebaikan untuk manusia, Dia pasti mengumpulkan mereka sepeninggalku di bawah orang yang terbaik dari mereka sebagaimana Allah SWT mengumpulkan mereka sepeninggal Rasul di bawah orang yang terbaik di antara mereka.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Orang itu berhujjah dengan pernyataan dalam kitab Dalail bahwa <em>hadis ini tsabit dari Ali</em>. Pernyataan ini sungguh keliru, hadis ini tidak tsabit dari Ali RA. <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Hadis ini sanadnya dhaif </span></span>karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Syu’aib bin Maimun</em></span></span>. Biografinya disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 4 no 608 bahwa <em>ia meriwayatkan dari Hushain bin Abdurrahman dan telah meriwayatkan darinya Syababah bin Sawwar</em> dimana Ibnu Hajar berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أبو حاتم مجهول قلت وكذا قال العجلي وقال البخاري فيه نظر</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Hatim berkata “majhul” dan begitu pula yang dikatakan Al Ajli, Bukhari berkata “perlu diteliti lagi hadisnya”.<br />
</em><br />
Ibnu Hibban memasukkan namanya dalam kitabnya tentang perawi dhaif <em>Al Majruhin </em>no 479 dan mengatakan bahwa <em>ia memiliki hadis-hadis mungkar tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri.</em> Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/420 menyatakan<span style="color:#0000ff;"><em> ia dhaif</em></span>. Jadi bagaimana mungkin hadis ini dikatakan bersanad baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis kedua yang dijadikan hujjah juga terdapat dalam kitab <em>Ad Dalail Baihaqi</em> 7/223 yaitu dengan jalan</p>
<h2 style="text-align:right;">عن سفيان عن الأسود بن قسيس عن عمرو بن سفيان قال لما ظهر علي رضي الله عنه على الناس يوم الجمل قال أيها الناس إن رسول الله لم يعهد إلينا في هذه الإمارة شيئا حتى رأينا من الرأى أن نستخلف أبا بكر فأقام واستفام حتى مضي لسبيله ثم إن أبا بكر رأى من الرأي أن يستخلف عمر فأقام واستقام حتى ضرب الدين</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari Amru bin Sufyan yang berkata ketika Ali RA menang dalam perang Jamal, Beliau berkata “wahai manusia sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menjanjikan kepada kami untuk mendapatkan jabatan ini sama sekali. Kami menganggap bahwa Abu Bakar lah yang pantas menggantikan Beliau SAW dan ternyata ia dapat menjalankannya dengan istiqamah hingga ia wafat. Kemudian Abu Bakar menganggap bahwa Umarlah yang pantas menggantikannya dan ternyata Umar menjalankannya dengan istiqamah hingga beliau dapat menegakkan agama.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini kedudukannya dhaif karena <span style="text-decoration:underline;"><em>Amru bin Sufyan</em></span>, disebutkan dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> 5038 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia seorang yang majhul hal</em></span> dan hadis ini tidak tsabit dalam sanadnya. Al Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 6 no 2565 biografi Amru bin Sufyan menyebutkan tentang hadis ini dimana beliau membawakan dua buah sanad dimana Amru bin Ali meriwayatkan hadis ini dari Ayahnya dari Ali. Hal ini menunjukkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tidak mendengar hadis tersebut dari Ali</em></span>, jadi riwayatnya mursal. Syaikh Ahmad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad</em> hadis no 1255 juga menyatakan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Amru bin Sufyan dari Ali adalah mursal</em></span></span>. Keterangan ini menunjukkan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>sanad hadis ini dhaif munqathi&#8217; (terputus) dan tidak layak dijadikan hujjah.</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanbih </strong>: Begitulah oknum salafiyun yang seenaknya berhujjah dengan riwayat dhaif asalkan riwayat itu bisa mendukung keyakinan mahzabnya atau asalkan itu bisa dijadikan hujjah untuk mensesatkan orang lain. Alangkah lucunya tingkah seperti itu, dan sebagai hadiah penutup mari perhatikan kutipan hadis pertama</p>
<h2 style="text-align:right;">كما جمعهم <span style="color:#0000ff;">بعد نبيهم </span>على خيرهم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>sebagaimana Allah telah memilih <span style="color:#0000ff;">pemimpin terbaik setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam</span> dari orang yang terbaik diantara mereka”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lucunya sekarang oknum salafiyun itu malah berhujjah dengan terjemahan <em>“setelah Rasul SAW” </em>yang berarti itu <em>pemimpin tepat setelah Rasul SAW wafat</em> tetapi anehnya di hadis Rasulullah SAW yang shahih dimana beliau berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“Ali pemimpin setiap mukmin setelahKu”</em></span>, ia mencari-cari dalih bahwa perkataan itu <em>bukan berarti setelah Rasul SAW wafat.</em> Padahal redaksi hadisnya sama saja, ya begitulah tingkah lucu oknum salafiyun yang sok berhujjah dengan hadis tetapi tidak memahami dengan baik. Sepertinya semua hadis harus disesuaikan dengan isi kepalanya sehingga teks-teks hadis harus menuruti keyakinan yang ada dalam pikirannya. Yang membuat ini jadi tambah lucu adalah ia berdalih kalau tingkahnya itu sesuai konteks dan asbabul wurud, dalih yang benar-benar palsu sepertinya ia pun tidak memahami apa itu konteks dan apa itu asbabul wurud. Apa jadinya kalau angan-angan dan asumsi dengan seenaknya dibilang konteks asbabul wurud?. Sudah pasti kacau dan begitu sombongnya ia dengan kekacauannya sehingga mudah sekali mensesatkan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1345&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/20/kritik-hadis-dalam-kitab-dalail-baihaqi-yang-dijadikan-hujjah-oleh-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 02:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1338</guid>
		<description><![CDATA[Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali 
Sebelumnya saya pernah berjanji dengan seseorang untuk membahas hadis ini. Hadis yang sering dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun [you know lah siapa dia], hadis yang menurutnya membantah bahwa Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi SAW. Pada salah satu (atau beberapa) thread disini, orang tersebut membawakan hadis berikut

Diriwayatkan dari hadits [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1338&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya saya pernah berjanji dengan <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-8263" target="_blank">seseorang</a> untuk membahas <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10927" target="_blank">hadis ini</a>. Hadis yang sering dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10788" target="_blank">[you know lah siapa dia]</a>, hadis yang menurutnya membantah bahwa Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi SAW. Pada salah satu (atau beberapa) thread disini, orang tersebut membawakan hadis berikut<span id="more-1338"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah)</span></span> selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal) maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Orang itu mengatakan bahwa Imam Ali tidak merasa mendapat wasiat jadi hadis-hadis tentang kepemimpinan Imam Ali itu tertolak. Dengan berat hati kami katakan orang itu benar-benar keliru [kalau tidak mau dikatakan berdusta]. Ia keliru memahami hadis tersebut dan [entah sengaja atau tidak] ia mendistorsi teks hadis yang dijadikan hujjah olehnya. Kami akan membawakan teks asli hadis tersebut dalam kitab Shahih Muslim dan Musnad Ahmad</p>
<h2 style="text-align:right;">وحدثنا أبو كريب حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه قال خطبنا علي بن أبي طالب فقال من زعم <span style="color:#0000ff;">أن عندنا شيئا نقرأه إلى كتاب الله وهذه الصحيفة </span>( قال وصحيفة معلقة في قراب سيفه ) فقد كذب فيها أسنان الإبل وأشياء من الجراحات وفيها قال النبي صلى الله عليه و سلم المدينة حرم ما بين عير إلى ثور فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا وذمة المسلمين واحدة يسعى أدناهم ومن ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amasy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya bahwa Ali bin Abi Thalib berkhutbah <span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;">“Barang siapa mengatakan</span> bahwa kami memiliki <span style="text-decoration:underline;">sesuatu yang kami baca</span> selain Kitab Allah dan Shahifah (lembaran) ini</span> [berkata Ayah Ibrahim : lembaran yang tergantung di sarung pedangnya] maka sungguh dia telah berdusta. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang umur unta dan diyat. Di dalamnya juga terdapat perkataan Nabi SAW “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan berlaku pula oleh orang yang terendah dari mereka. Barangsiapa menasabkan diri kepada orang yang bukan ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain maulanya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. <strong>[Shahih Muslim 2/994 no 1370 dan Shahih Muslim 2/1146 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]</strong><br />
</em><br />
Maka perhatikanlah hadis Shahih Muslim di atas dan hadis yang dibawakan oleh orang itu</p>
<ul>
<li><em>Orang itu membawa hadis dengan lafaz “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki <strong><span style="text-decoration:underline;">sesuatu wasiat (dari Rasulullah)</span></strong> selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah”</em></li>
<li><em>Sedangkan lafaz hadis yang benar adalah “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki <strong><span style="text-decoration:underline;">sesuatu yang kami baca </span></strong>selain Kitab Allah dan Shahifah”.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ada perbedaan yang krusial dari kedua lafaz yang berbeda ini. Lafaz hadis yang asli tidaklah menafikan bahwa Rasulullah SAW telah menetapkan <em>Imam Ali sebagai pemimpin atau khalifah setelah Beliau</em> sebagaimana yang tertera dalam hadis shahih. Sedangkan lafaz yang dibawa orang itu hanyalah angan-angannya semata yang berkeras ingin membantah hadis shahih. Kemudian perhatikan hadis riwayat Ahmad berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن سليمان عن إبراهيم التيمي عن الحرث بن سويد قال قيل لعلي رضي الله عنه <span style="color:#0000ff;">أن رسولكم كان يخصكم بشيء دون الناس عامة</span> قال ما خصنا رسول الله صلى الله عليه و سلم بشيء لم يخص به الناس إلا بشيء في قراب سيفى هذا فاخرج صحيفة فيها شيء من أسنان الإبل وفيها ان المدينة حرم من بين ثور إلى عائر من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فإن عليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل وذمة المسلمين واحدة فمن أخفر مسلما فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل ومن تولى مولى بغير أذنهم فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim At Taimi dari Al Harts bin Suwaid bahwa dia berkata “Ditanyakan kepada Ali, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Apakah Rasul kalian pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kalian dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada seluruh manusia?</span></span>. Ali menjawab Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kami dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada manusia kecuali sesuatu yang ada dalam sarung pedangku ini. Ali pun mengeluarkan lembaran yang berisi sesuatu dari umur unta. Dalam lembaran tersebut tertulis “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan barang siapa melanggarnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Barang siapa memperbudak seorang budak tanpa seizinnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. <strong>[Musnad Ahmad 1/151 no 1297 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan ia berkata “hadis shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad no 1297 menyatakan bahwa sanad ini merupakan sanad yang paling shahih]</strong><br />
</em><br />
Hadis di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk menentang <em><span style="text-decoration:underline;">hadis shahih bahwa Imam Ali pemimpin atau khalifah setelah Nabi SAW</span> </em>karena pernyataan bahwa Imam Ali sebagai pemimpin telah diucapkan Rasulullah SAW kepada para sahabat. Bukankah sangat masuk akal kalau Rasulullah SAW ingin menetapkan seseorang sebagai pemimpin maka Rasulullah SAW akan mengatakannya kepada manusia, Rasulullah SAW jelas tidak akan hanya berbicara kepada Imam Ali saja. Beliau seperti yang tertera dalam hadis shahih telah mengucapkan hadis-hadis kepemimpinan Imam Ali kepada para sahabat. Dan sebagaimana yang juga tertera dalam kabar shahih bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Imam Ali telah meminta kesaksian para sahabat mengenai hadis kepemimpinan Beliau</em></span>. Mana mungkin ucapan tersebut hanya khusus disampaikan kepada Imam Ali saja karena terbukti Imam Ali justru meminta kesaksian mereka yang mendengar hadis tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhir kata kami katakan betapa lucunya para oknum salafiyun itu berhujjah, mereka seolah tidak memahami hadis yang mereka jadikan hujjah dan mereka bahkan tidak memahami apa yang ingin mereka bantah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Hadis, Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1338/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1338&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Nabi Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlul Bait</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/16/hadis-nabi-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/16/hadis-nabi-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 00:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Nabi Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlul Bait
Kebenaran selalu bersama Ahlul Bait yaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW telah berwasiat kepada umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlul Bait supaya terhindar dari kesesatan. Tetapi kenyataannya sebagian orang menyelisihi Ahlul Bait, menyimpang dari mereka bahkan sampai memerangi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1332&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Nabi Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlul Bait</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kebenaran selalu bersama Ahlul Bait yaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW telah berwasiat kepada umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlul Bait supaya terhindar dari kesesatan. Tetapi kenyataannya sebagian orang menyelisihi Ahlul Bait, menyimpang dari mereka bahkan sampai memerangi mereka. Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa Beliau akan memerangi siapapun yang memerangi Ahlul Bait dan berdamai dengan siapapun yang berdamai dengan Ahlul Bait. <span id="more-1332"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam <em>Sunan Ibnu Majah</em> 1/52 no 145</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحسن بن علي الخلال وعلي بن المنذر قالا حدثنا أبو غسان حدثنا أسباط بن نصر عن السدي عن صبيح مولى أم سلمة عن زيد بن أرقم قال- قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي وفاطمة والحسن والحسين أنا سلم لمن سالمتم وحرب لمن حاربتم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Khallal dan Ali bin Mundzir yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan yang berkata telah menceritakan kepada kami Asbath bin Nashr dari As Suddi dari Shubaih mawla Ummu Salamah dari Zaid bin Arqam yang berkata Rasulullah SAW berkata kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Aku akan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian dan Aku akan memerangi orang yang memerangi kalian”</span></span>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis di atas juga diriwayatkan dalam <em>Mushannaf</em> <em>Ibnu Abi Syaibah</em> 6/378 no 32181, <em>Shahih Ibnu Hibban </em>15/433 no 6977,<em> Sunan Tirmidzi</em> 5/699 no 3870, Ath Thabrani dalam <em>Mu’jam Al Kabir </em>3/40 no 2619, <em>Mu’jam Al Kabir</em> 5/184 no 5030, <em>Mu’jam As Shaghir</em> 2/53 no 767, dan <em>Mu’jam Al Awsath</em> 5/182 no 5015.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Hasan.</strong> Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis sedangkan Shubaih adalah seorang tabiin mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Hasan bin Ali Al Khallal</span>, Perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 2 no 530 disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, An Nasa’i, Al Khatib dan Ibnu Hibban</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/207 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ali bin Mundzir,</span> Perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 7 no 627 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam <em>Tahrir Taqrib At Tahdzib </em>no 4803 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Ali bin Mundzir tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Malik bin Ismail</span>, dengan kuniyah Abu Ghassan adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 10 no 2<span style="text-decoration:underline;"><em> ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban, Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Syahin.</em></span> Ibnu Sa’ad dan Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>2/151 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Abu Ghassan tsiqah</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Asbath bin Nashr </span>adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam <em>Tarikh Ibnu Ma’in </em>riwayat Ad Dawri no 1251 <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqah</em></span>. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 1 no 396 disebutkan kalau ia dimasukkan Ibnu Hibban ke dalam <em>Ats Tsiqat</em>, Bukhari menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia shaduq (jujur)</em></span> dan Musa bin Harun berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“tidak ada masalah dengannya” </em></span>. Ibnu Syahin juga memasukkan namanya dalam <em>Tarikh Asma Ats Tsiqat</em> no 101. Sebagian orang mencacatnya diantaranya An Nasa’i yang berkata <em>“laisa bi qawy (tidak kuat)</em>, Abu Nu’aim dan As Saji tetapi mereka tidak menyebutkan alasan pencacatannya sehingga pernyataan ta’dil terhadap Asbath bin Nashr lebih layak untuk diterima. Adz Dzahabi memasukkan namanya dalam <em>Man Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq</em> no 27.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ismail As Suddi</span> adalah Ismail bin Abdurrahman bin Abi Karimah adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 1 no 572 <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Ibnu Hibba</em></span>n. An Nasa’i berkata<span style="text-decoration:underline;"><em> “tidak ada masalah dengannya”</em></span>. Ibnu Ady menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia hadisnya lurus jujur dan tidak ada masalah dengannya</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/97 menyatakan ia jujur terkadang salah tetapi dikoreksi dalam <em>Tahrir At Taqrib </em>no 463 bahwa sebenarnya <span style="text-decoration:underline;"><em>As Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Shubaih mawla Ummu Salamah </span>dan mawla Zaid bin Arqam. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 4 no 3462. Ibnu Hajar dalam <em>Al Ishabah</em> 3/405 no 4037 menyebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia gurunya As Suddi dan ia seorang tabiin</em></span>. Al Bukhari menyebutkannya dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 4 no 2972 tanpa menyebutkan jarh atau cacat padanya. Ibnu Abi Hatim dalam<em> Al Jarh Wat Ta’dil </em>4/449 juga menuliskan keterangan tentangnya tanpa sedikitpun menyatakan cacatnya. At Tirmidzi dalam Sunannya mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal, pernyataan ini tidak perlu diperhatikan karena telah disebutkan banyak ulama yang menulis keterangan tentangnya bahkan Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf</em> no 2371 juga memberikan <span style="text-decoration:underline;"><em>predikat ta’dil padanya</em></span>. Shubaih seorang tabiin dan tidak ada satupun ulama yang mencacatkan dirinya dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan mendapat predikat ta’dil dari Adz Dzahabi. Oleh karena itu <span style="text-decoration:underline;"><em>hadisnya lebih tepat dinilai hasan</em></span>.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Keterangan mengenai para perawinya menunjukkan <span style="text-decoration:underline;"><em>kalau hadis ini adalah hadis yang hasan</em></span>. Syaikh Al Albani dalam <em>Shahih Jami’ As Shaghir</em> no 1462 menyatakan bahwa hadis ini hasan tetapi anehnya beliau malah mendhaifkan hadis tersebut dalam <em>Dhaif Sunan Ibnu Majah</em> dan <em>Dhaif Sunan Tirmidzi</em>. Dalam<em> Silsilah Ahadist Ad Dhaifah</em> no 6028 ternyata Syaikh Al Albani menyatakan bahwa ia rujuk dari pandangannya dalam Shahih Al Jami’. Menurut beliau hadis tersebut dhaif dan mesti dipindahkan ke <em>Dhaif Jami’ As Shaghir</em>. Mari kita ikuti telaah Syaikh Al Albani</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tinjauan Pencacatan Syaikh Al Albani</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Adh Dhaifa</em>h no 6028 ketika membahas hadis ini telah membawakan 3 jalan hadis yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Hadis Shubaih mawla Ummu salamah</em></li>
<li><em>Hadis Abu Hurairah</em></li>
<li><em>Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hadis Shubaih di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani karena Shubaih mawla Ummu Salamah. Syaikh mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal nasabnya kemudian Syaikh mengutip Ibnu Ady <em>(dalam Al Kamil 4/86) </em>yang menuliskan keterangan tentang <em>“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”.</em> Dalam kitab tersebut disebutkan kalau Shubaih seorang pendusta.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanggapan kami </strong>: Hujjah syaikh Al Albani sungguh tidak bernilai dan terkesan dicari-cari. Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dalam<em> Al Kamil</em> 4/86 bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah tetapi <em>Shubaih yang tidak dikenal nasab maupun hadis-hadisnya.</em> Bukti kalau Shubaih mawla Ummu Salamah bukanlah Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady adalah</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Shubaih mawla Ummu Salamah meriwayatkan hadis dari Zaid bin Arqam <em>(berdasarkan keterangan dari kitab-kitab biografi perawi)</em> sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah.</li>
<li>Shubaih mawla Ummu Salamah dikenal hadisnya yaitu hadis keutamaan Ahlul Bait di atas sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dikatakan oleh Ibnu Ady sendiri bahwa ia tidak dikenal hadis-hadisnya.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Ady dalam <em>Al Kamil</em> hanya mengutip Yahya dan Abu Khaitsamah yang menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>bahwa ada seseorang bernama Shubaih yang tidak dikenal nasabnya meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah dan dia seorang pendust</em><em>a</em></span>. Syaikh Al Albani dengan seenaknya menduga <em>bahwa Shubaih mawla Ummu Salamah adalah Shubaih yang dimaksud</em>. Bagaimana bisa Yahya dan Abu Khaitsamah menyatakan Shubaih yang tidak dikenal nasabnya itu sebagai seorang pendusta?. Jawabannya tidak lain dari hadis-hadis yang diriwayatkan Shubaih yang sampai kepada mereka yaitu hadis Shubaih dari Utsman dan Aisyah. Tetapi sayang sekali hadis-hadis Shubaih ini tidaklah tercatat dalam kitab-kitab hadis sehingga Ibnu Ady berkata <em>“tidak dikenal hadis-hadisnya”</em>. Oleh karena itu tidak bernilai sedikitpun menjadikan riwayat Ibnu Ady tersebut sebagai hujjah untuk melemahkan Shubaih mawla Ummu Salamah.Tidak ada bukti sedikitpun kalau<em> &#8220;Shubaih yang tidak dikenal nasabnya&#8221;</em> adalah Shubaih mawla Ummu Salamah</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang mau menuruti logika Syaikh Al Albani maka kita dapat menemukan Shubaih lain yang juga satu thabaqah dan lebih cocok untuk dinisbatkan dengan <em>“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”</em>. Dalam kitab <em>Tabshir Al Muntabah</em> 3/882 Ibnu Hajar menyebutkan nama-nama Shubaih dan diantaranya ada Shubaih mawla Ummu Salamah kemudian Ibnu Hajar juga menyebutkan Shubaih lain</p>
<h2 style="text-align:right;">صبيح، عن عثمان، وعنه أبو عون الثقفي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Shubaih yang meriwayatkan dari Utsman dan meriwayatkan darinya Abu ‘Aun Ats Tsaqafi</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Tahdzib Al Kamal</em> no 5433 biografi Muhammad bin Ubaidillah bin Sa’id Abu ‘Aun Ats Tsaqafi, Al Mizzi menyebutkan bahwa <em>Abu ‘Aun meriwayatkan dari Shubaih sahabat Utsman</em>. Shubaih ini lebih cocok dinisbatkan dengan <em>“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”</em> dalam Al Kamil Ibnu Ady karena mereka sama-sama meriwayatkan hadis dari Utsman. Kesimpulannya <span style="text-decoration:underline;"><em>Shubaih yang dikatakan pendusta dalam Al Kamil Ibnu Ady bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah. </em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua hadis lainnya yaitu hadis Abu Hurairah dan hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani. Hadis Abu Hurairah dinyatakan dhaif karena dalam sanadnya terdapat <em>Talid bin Sulaiman</em> yang dikenal dhaif sedangkan dalam hadis Muslim bin Shubaih di dalamnya terdapat <em>Husain bin Hasan Al Urani yang tidak dikenal oleh Syaikh sehingga ia menduga bahwa orang tersebut adalah Husain bin Hasan Al Asyqar. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanggapan kami </strong>: Pernyataan dhaif terhadap Talid bin Sulaiman patut diberikan catatan karena ia adalah Syaikh atau gurunya Ahmad bin Hanbal dimana <span style="text-decoration:underline;"><em>Ahmad bin Hanbal hanya meriwayatkan dari orang yang dikenal tsiqah menurutnya</em></span>. Dalam <em>Tahdzib</em> juz 1 no 948 disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Muhammad bin Abdullah bin Ammar menyatakan tidak ada masalah dengannya.</em></span> Memang banyak ulama yang mengecam Talid menuduhnya pendusta dikarenakan ia mencaci sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Lucunya kalau ada perawi lain yang mencaci Ali bin Abi Thalib <em>(seperti Hariz bin Utsman Al Himsh)</em>, hal itu malah tidak merusak kredibilitas perawi tersebut dan ia tetap dinyatakan tsiqah. Sungguh suatu inkonsistensi yang layak dibuat bahasan tersendiri, tapi itu cerita lain untuk saat ini. Kemudian Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih memang sanadnya dhaif tetapi perawi yang dimaksud bukanlah Husain bin Hasan Al Urani seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani tetapi dia adalah Hasan bin Husain Al Urani seperti yang diriwayatkan dalam <em>Amali Al Muhamili</em> 2/36 no 515. Biografinya disebutkan dalam Al Mizan dan jelas sekali ia bukan Husain bin Hasan Al Asyqar.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya kami tidak menjadikan Hadis Abu Hurairah dan Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih sebagai hujjah. Kami berhujjah dengan<span style="color:#0000ff;"> <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Shubaih mawla Ummu Salamah di atas yang merupakan hadis hasan</em></span> </span>sedangkan pencacatan Syaikh terhadap Shubaih tidak bernilai dan hanyalah pencacatan yang dicari-cari untuk melemahkan hadis tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Hadis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1332&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/16/hadis-nabi-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/13/analisis-hadis-tabarruk-berkah-kubur-nabi-saw/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/13/analisis-hadis-tabarruk-berkah-kubur-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 05:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW

Tabarruk atau mencari barakah adalah hal yang ma’ruf dalam syariat walaupun tentu sudah seharusnya kita tidak asal-asalan dalam mencari barakah. Salafiyun mengatakan bahwa berkah Nabi SAW itu terjadi ketika Nabi SAW masih hidup sedangkan setelah Beliau SAW wafat maka tidak bisa lagi mendapat berkah dari Beliau SAW. Kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1317&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tabarruk atau mencari barakah adalah hal yang ma’ruf dalam syariat walaupun tentu sudah seharusnya kita tidak asal-asalan dalam mencari barakah. Salafiyun mengatakan bahwa berkah Nabi SAW itu terjadi ketika Nabi SAW masih hidup sedangkan setelah Beliau SAW wafat maka tidak bisa lagi mendapat berkah dari Beliau SAW. Kami hanya ingin membawakan sebuah hadis yang menunjukkan bahwa mereka keliru. Diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam <em>Sunan Ad Darimi </em>1/56 no 92<span id="more-1317"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو النعمان ثنا سعيد بن زيد ثنا عمرو بن مالك النكري حدثنا أبو الجوزاء أوس بن عبد الله قال قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت انظروا قبر النبي صلى الله عليه و سلم فاجعلوا منه كووا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال ففعلوا فمطرنا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقت من الشحم فسمي عام الفتق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin Malik An Nukri yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah yang berkata “Suatu ketika penduduk Madinah dilanda kekeringan yang hebat, maka mereka mengadukan hal tersebut kepada Aisyah. Kemudian ia berkata “pergilah ke kubur Nabi SAW buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada penghalang diantaranya dengan langit”. Ia (Aus bin Abdullah) berkata “Kemudian penduduk Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah, setelah itu turunlah hujan, tanaman-tanaman tumbuh dan hewan ternak menjadi sehat. Oleh karena itu tahun tersebut disebut tahun kemenangan”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Husain Salim Asad pentahqiq kitab <em>Sunan Ad Darimi </em>berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">رجاله ثقات وهو موقوف على عائشة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Para perawinya tsiqat dan ini mauquf dari Aisyah<br />
</em><br />
Atsar di atas kedudukannya shahih dan memang itu mauquf. Atsar ini menunjukkan bahwa Aisyah RA memerintahkan penduduk Madinah untuk mengambil berkah dari kubur Nabi SAW. Apakah perilaku ini bisa dibilang syirik?. Silakan kita kembalikan permasalahan itu kepada para salafiyun.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata para salafiyun itu mencari-cari dalih untuk melemahkan atsar ini. Mereka membuat berbagai syubhat seputar para perawi hadis ini. Untuk membantah syubhat-syubhat salafy seputar atsar ini maka akan kami tunjukkan analisis singkat mengenai para perawi hadis tersebut. Syubhat salafy yang dimaksud adalah</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Ikhtilat (kekacauan hafalan) Abu Nu’man Arim Muhammad bin Fadhl</em></li>
<li><em>Kelemahan Sa’id bin Zaid</em></li>
<li><em>Kelemahan Amru bin Malik An Nukri</em></li>
<li><em>Inqitha’ Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah dari Aisyah</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah baik-baik salafy begitu bersemangat untuk mencacatkan atsar ini, semua perawi atsar ini dicari-cari cacatnya, untung Aisyah RA tidak dicacat oleh salafiyun. Syubhat-syubhat yang dimaksud diantaranya dapat dilihat dalam kitab <em>Tawasul Al Albani</em> dan<em> Hadzihi Mafaahimunaa Syaikh Shalih Alu Syaikh.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ikhtilat Abu Nu’man Arim Muhammad bin Fadhl</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin Fadhl As Sadusi </span>dengan kuniyah <em>Abu Nu’man </em>atau yang lebih dikenal dengan sebutan <em>‘Arim.</em> Ia adalah seorang yang dikenal tsiqat. Telah meriwayatkan darinya para Hafiz seperti Bukhari, Abu Hatim, Abu Dawud, Al Hafiz Ad Darimi, Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 2/124 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat.</em></span> Syaikh Al Albani mengatakan <em>kalau Arim mengalami ikhtilat di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah Ad Darimi meriwayatkan sebelum atau sesudah ikhtilat</em>. Arim memang dinyatakan oleh para hafiz seperti Abu Hatim, Bukhari dan Abu Dawud bahwa ia mengalami kekacauan pada akhir masa tuanya. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 9 no 659 Abu Hatim menyebutkan bahwa Arim mengalami ikhtilat pada tahun 220 H dan ia wafat pada tahun 224 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi menjadikan ikhtilat Arim sebagai cacat sungguh tidak beralasan karena diketahui bahwa <em>Arim tidak meriwayatkan hadis ketika ia ikhtilath.</em> Hal ini sebagaimana yang dikatakan Daruquthni dalam <em>At Tahdzib</em> juz 9 n0 659 dan<em> Al Mizan</em> no 8057</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الدارقطني تغير بآخرة وما ظهر له بعد اختلاطه حديث منكر وهو ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Daruquthni berkata “dia mengalami kekacauan pada hafalan pada akhir umurnya tidaklah ia memiliki hadis yang diingkari setelah ia ikhtilat, dan ia seorang yang tsiqat”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi dalam <em>Al Mizan</em> no 8057 membenarkan pernyataan Daruquthni dan menyatakan keliru pada Ibnu Hibban yang mengatakan <em>“Arim punya riwayat-riwayat mungkar setelah ikhtilat”. </em>Pernyataan Ibnu Hibban memang keliru karena tidak ada satupun riwayat mungkar yang muncul dari Arim dan Ibnu Hibban pun tidak bisa menunjukkannya. Oleh karena itu Adz Dzahabi berkata dalam <em>Al Kasyf</em> no 5114</p>
<h2 style="text-align:right;">تغير قبل موته فما حدث مات224</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ia mengalami taghayyur (kekacauan hafalan) sebelum wafat dan tidaklah ia meriwayatkan hadis setelah itu, wafat tahun 224 H.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Adz Dzahabi ini dibenarkan pula oleh Al Iraqi dalam <em>Taqyid Wal Iidah</em> hal 461. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam <em>Tahrir At Taqrib </em>no 6226 juga menguatkan Adz Dzahabi dan Daruqutni dengan alasan  <span style="text-decoration:underline;"><em>tidak dikenal adanya hadis-hadis Arim yang diingkari dan tidak ada satu orangpun dari kalangan mutaqaddimin (terdahulu) menyatakan ada kesalahan pada hadis Arim</em></span>. Jadi melemahkan Atsar ini karena ikhtilat Arim sungguh tidak beralasan karena <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>para Hafiz meriwayatkan hadis dari Arim sebelum ia mengalami ikhtilath</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelemahan Sa’id bin Zaid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani dalam kitabnya <em>Tawassul</em> hal 74 telah melemahkan Atsar ini karena Sa’id bin Zaid, Syaikh berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أن سعيد بن زيد وهو أخو حماد بن زيد فيه ضعف. قال فيه الحافظ في &#8220;التقريب&#8221;: صدوق له أوهام. وقال الذهبي في &#8220;الميزان&#8221;: (قال يحيى بن سعيد: ضعيف، وقال السعدي: ليس بحجة، يضعفون حديثه، وقال النسائي وغيره: ليس بالقوي، وقال أحمد: ليس به بأس، كان يحيى بن سعيد لا يستمرئه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sa’id bin Zaid, dia adalah saudara Hammad bin Zaid terdapat kelemahan padanya. Al Hafiz berkata dalam At Taqrib “jujur terkadang salah” dan Adz Dzahabi dalam Al Mizan berkata “Yahya bin Sa’id berkata “ia dhaif”, As Sa’di berkata “tidak bisa dijadikan hujjah” dan ia melemahkan hadis-hadisnya. Nasa’i dan yang lainnya berkata “tidak kuat”. Ahmad berkata “tidak ada masalah dengannya dan Yahya bin Sa’id tidak menerimanya”. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja jika kita melihat kutipan Syaikh maka <em>seolah-olah Sa’id bin Zaid adalah perawi yang dhaif dan hanya Ahmad bin Hanbal yang menta’dilkannya</em>. Padahal kenyataan sebenarnya jauh dari yang demikian. Sa’id bin Zaid adalah perawi tsiqah dan kelemahan yang ada padanya jika memang terbukti hanya mendudukkannya dalam derajat hasan. Minimal <em>Sa’id bin Zaid adalah perawi yang shaduq (jujur) hasanaul hadis (hadisnya baik).</em> Kami lebih cenderung pada pernyataan tsiqah pada Sa’id bin Zaid karena terbukti banyak yang memberi predikat tsiqah dan menta’dilkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 4 no 51 dan dia adalah perawi Bukhari dalam <em>At Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim</em>, Abu dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disebutkan tidak hanya Ahmad bin Hanbal yang menta’dilkannya</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال الآجري عن أبي داود كان يحيى بن سعيد يقول ليس بشيء وكان عبد الرحمن يحدث عنه وقال البخاري حدثنا مسلم هو بن إبراهيم ثنا سعيد بن زيد أبو الحسن صدوق حافظ وقال الدوري عن بن معين ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Al Ajuri berkata dari Abu Dawud “Yahya bin Said mengatakan tidak ada apa-apanya dan <span style="color:#0000ff;">Abdurrahman telah meriwayatkan hadis darinya”</span>. Bukhari berkata telah menceritakan kepada kami Muslim (dia Ibnu Ibrahim) yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="color:#0000ff;">Sa’id bin Zaid Abu Hasan seorang hafiz yang shaduq (jujur)</span>. Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in <span style="color:#0000ff;">“tsiqat”.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun Yahya bin Said melemahkannya tetapi Abdurrahman bin Mahdi malah meriwayatkan hadis Said bin Zaid, itu berarti Ibnu Mahdi menyatakan tsiqah padanya. Perhatikan dengan baik mereka yang menyatakan tsiqah kepada Sa’id bin Zaid adalah dari kalangan mutaqaddimin yang memang mengenal dan meriwayatkan hadis dari Sa’id bin Za’id</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال بن سعد روى عنه وكان ثقة مات قبل أخيه وقال العجلي بصري ثقة وقال أبو زرعة سمعت سليمان بن حرب يقول ثنا سعيد بن زيد وكان ثقة وقال أبو جعفر الدارمي ثنا حبان بن هلال ثنا سعيد بن زيد وكان حافظا صدوقا قال بن عدي وليس له منكر لا يأتي به غيره وهو عندي في جملة من ينسب إلى الصدق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan berkata Ibnu Sa’ad (yang meriwayatkan darinya) ia seorang  yang tsiqat wafat  sebelum saudaranya. Al Ajli berkata <span style="color:#0000ff;">“orang Bashrah yang tsiqat”</span>. Abu Zar’ah berkata “aku mendengar Sulaiman bin Harb berkata telah menceritakan kepada kami <span style="color:#0000ff;">Said bin Zaid dan dia tsiqat”.</span> Abu Ja’far Ad Darimi berkata telah menceritakan kepada kami Hibban bin Hilal yang berkata telah menceritakan kepada kami <span style="color:#0000ff;">Said bin Zaid dan dia seorang hafiz yang shaduq (jujur).</span> Ibnu Ady berkata “tidaklah ia memiliki riwayat yang diingkari kecuali diikuti oleh yang lain, dalam pandanganku<span style="color:#0000ff;"> ia termasuk kelompok orang yang jujur”</span>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/353 memberikan predikat <em>“jujur terkadang salah”.</em> Hal ini merupakan kesalahan dari Ibnu Hajar. Pernyataan Ibnu Hajar dikoreksi dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 2312 bahwa <em>Sa’id bin Zaid seorang yang shaduq hasanul hadis (jujur dan hadisnya hasan).</em> Kami lebih cenderung dengan pendapat yang menyatakan ia tsiqah dikarenakan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em><span style="color:#0000ff;">Mereka yang menyatakan tsiqah termasuk dari kalangan mutaqaddimin</span> yang memang megenal dan meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid seperti Abdurrahman bin Mahdi, Sulaiman bin Harb, Ibnu Sa’ad dan Hiban bin Hilal</em></li>
<li><em><span style="color:#0000ff;">Mereka yang melemahkan Sa’id bin Zaid tidak menyebutkan alasan pencacatannya</span> seperti Yahya bin Sa’id dan Daruquthni. Tentu saja pencacatan yang tidak beralasan tidak diterima jika Sa’id telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama lain.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelemahan Amru bin Malik An Nukri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Cacat lain yang dikatakan oleh salafiyun adalah <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Amru bin Malik An Nukri.</span></span> Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam kitabnya <em>Hadzihii Mafahiimuna </em>hal 43. Syaikh berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أن راويه عمرو بن مالك النكري ضعيف بمرة قال ابن عدي في &#8220;الكامل&#8221;(5/1799): (منكر الحديث عن الثقات، ويسرق الحديث سمعت أبا يعلى يقول: عمرو بن مالك النكري: كان ضعيفاً</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Riwayat Amru bin Malik An Nukri dhaif, Ibnu Ady dalam Al Kamil 5/1799 berkata “ia meeriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi tsiqat dan dia mencuri hadis, aku mendengar Abu Ya’la mengatakan “Amru bin Malik An Nukri dhaif”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan ini benar-benar keliru dan sungguh suatu keanehan seorang Syaikh bisa melakukan kesalahan seperti ini. Ibnu Ady yang diikuti Syaikh Shalih telah melakukan campur aduk terhadap perawi yang bernama Amru bin Malik. Amru bin Malik yang dimaksud oleh Ibnu Ady tersebut bukanlah <em>Amru bin Malik An Nukri</em> tetapi <em>Amru bin Malik Ar Rasibi.</em> Ibnu Ady telah melakukan kesalahan dalam hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Hajar dalam <em>biografi Amru bin Malik Ar Rasibi At Tahdzib juz 8 no 152</em>. Pernyataan Ibnu Ady tersebut ditujukan pada Amru bin Malik Ar Rasibi bukan Amru bin Malik An Nukri.</p>
<p style="text-align:justify;">Amru bin Malik An Nukri adalah seorang perawi yang tsiqat. Biografinya disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 154 dan ia dimasukkan Ibnu Hibban dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat</em> dan telah meriwayatkan darinya sekelompok perawi tsiqat seperti Nuh bin Qais, Hammad bin Zaid, Sa’id bin Zaid dan yang lainnya. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/744 memberikan predikat <em>“jujur terkadang salah”</em> dan dikoreksi dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 5104 bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Amru bin Malik An Nukri “shaduq hasanul hadis”.</em></span></span> Menurut kami <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Amru bin Malik An Nukri seorang yang tsiqah</em></span></span> sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ma’in. Pernyataan tsiqat Ibnu Main ini tidak dikutip dalam <em>At Tahdzib</em> dan juga dalam <em>Tahrir At Taqrib</em>. Baik <em>At Tahdzib</em> maupun <em>Tahrir At Taqrib</em> hanya mengutip pentsiqahan Ibnu Hibban mungkin karena itu dia dinilai shaduq. Adz Dzahabi dalam <em>Tarikh Al Islam</em> 8/198 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">عمرو بن مالك النكرى، أبو يحيى وقيل أبو مالك. بصري صدوق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Amru bin Malik An Nukri Abu Yahya dikatakan juga Abu Malik, orang Bashrah yang shaduq (jujur).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban dalam kitabnya <em>Masyahiir Ulama Al Amshar</em> no 1223 menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Amru bin Malik An Nukri seorang yang shaduq dan hujjah</em></span>. Ibnu Ma’in menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Amru bin Malik An Nukri tsiqat</em></span>. Dalam <em>Su’alat Ibnu Junaid </em>1/420 no 710 Ibnu Junaid berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">سألت يحيى عن عمرو بن مالك النكري فقال ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Aku bertanya kepada Yahya tentang Amru bin Malik An Nukri dan dia berkata “tsiqat”.<br />
</em><br />
Pengikut salafiyun mengutip dari <em>Ats Tsiqat</em> bahwa Ibnu Hibban berkata tentang Amru bin Malik An Nukri <em>ia sering melakukan kesalahan.</em> Sama seperti Syaikhnya, mereka juga melakukan kesalahan yang sama yaitu mencampuraduk antara <em>Amru bin Malik Ar Rasibi</em> dan <em>Amru bin Malik An Nukri</em>. Ibnu Hibban menuliskan dua nama Amru bin Malik An Nukri dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat</em> yaitu</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 7 no 9802 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">عمرو بن مالك النكري كنيته أبو مالك من أهل البصرة يروى عن أبى الجوزاء روى عنه حماد بن زيد وجعفر بن سليمان وابنه يحيى بن عمرو ويعتبر حديثه من غير رواية ابنه عنه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Amru bin Malik An Nukri dengan kuniyah Abu Malik, termasuk penduduk Bashrah yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ dan meriwayatkan darinya Hammad bin Zaid, Ja’far bin Sulaiman dan anaknya Yahya bin Amru, diikuti hadis-hadisnya kecuali riwayatnya dari anaknya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah <em>Amru bin Malik An Nukri</em> dalam riwayat Darimi di atas karena ia yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’.<em> Tidak ada Ibnu Hibban menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri ini sering salah</em>. Pernyataan sering salah ditujukan untuk perawi lain</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 8 no 14585 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">عمرو بن مالك النكري من أهل البصرة يروى عن الفضيل بن سليمان ثنا عنه إسحاق بن إبراهيم القاضى وغيره من شيوخنا يغرب ويخطىء</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Amru bin Malik An Nukri dari penduduk bashrah meriwayatkan dari Fudhail bin Sulaiman dan meriwayatkan darinya Ishaq bin Ibrahim Al Qadhi dan yang lainnya, meriwayatkan hal-hal gharib dari para syaikhnya dan sering salah.<br />
</em><br />
Disini Ibnu Hibban melakukan kesalahan, <em>Amru bin Malik yang dimaksud bukan An Nukri tetapi Amru bin Malik Ar Rasibi.</em> Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 8 no 152 menyebutkan bahwa yang meriwayatkan dari Fudhail bin Sulaiman adalah <em>Amru bin Malik Ar Rasibi </em>bukan Amru bin Malik An Nukri. Kesalahan inilah yang dengan seenaknya diikuti oleh salafiyun. <span style="text-decoration:underline;"><em>Amru bin Malik An Nukri tidak diragukan lagi seorang yang tsiqah seperti yang dikatakan Ibnu Ma’in</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Inqitha’ Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah dari Aisyah RA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Aus bin Abdullah</span> adalah seorang tabiin yang tsiqat seperti yang dikatakan Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>1/112 dan Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf </em>no 489. Salafiyun mencacatkan atsar Darimi di atas bahwa sanadnya terputus.  Abul Jauzaa’ tidak mendengar dari Aisyah. Pernyataan ini bathil, terputusnya sanad atau mursal ditentukan oleh dua hal</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Analisis tahun lahir dan tahun wafat perawi</em></li>
<li><em>Pernyataan Ulama mu’tabar bahwa itu mursal.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 1 no 702 bahwa Abul Jauzaa’ wafat tahun 83 H dan sebagaimana diketahui bahwa Aisyah RA wafat tahun 57 H atau 58 H. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Hal ini masih memungkinkan Abul Jauzaa’ untuk bertemu dan meriwayatkan hadis dari Aisyah RA</em></span></span>. Diantara Ulama mutaqaddimin yang menyatakan Abul Jauzaa’ memursalkan hadis adalah Abu Zar’ah dan yang ia maksudkan adalah <em>riwayat Abul Jauzaa’ dari Ali RA dan Umar RA</em> seperti yang dikutip Ibnu Abi Hatim dalam <em>Al Marasil</em> 1/16-17 dan Al Hafiz Abu Said Alaiy dalam <em>Jami Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil</em> no 49.<span style="text-decoration:underline;"><em> <span style="color:#0000ff;">Tidak ada keterangan ulama terdahulu yang menyatakan riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA mursal.</span><br />
</em></span><br />
Mereka yang menyatakan riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA mursal berasal dari kalangan muta’akhirin seperti <em>Ibnu Ady (Al Kamil 1/411) dan Ibnu Abdil Barr (At Tamhid 20/205) </em>dan dasar hujjah mereka hanyalah kenyataan bahwa <em>Abul Jauzaa’ tidak dikenal penyimakannya dari Aisyah.</em> Hujjah ini sudah jelas bathil, Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah memang meriwayatkan hadis dengan lafal ‘an dari para sahabat termasuk Aisyah tetapi bukan berarti bisa seenaknya dikatakan mursal. Menurut persyaratan Imam Muslim hadis lafal ’an dari perawi tsiqah dapat dianggap muttashil. Kami menolak pencacatan Inqitha’ Abul Jauzaa’ dari Aisyah dengan alasan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim 1/357 no 498 telah berhujjah dengan hadis Abul Jauzaa’ dari Aisyah. Begitu pula Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 2/427 biografi Aus bin Abdullah, ia telah menyatakan shahih dan tsabit riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA.</em></li>
<li><em>Al Qaysarani Al Hafiz Muhammad bin Thahir dalam kitabnya Jami’ Baina Rijal Shahihain 1/46 menyatakan bahwa Abul Jauza’ mendengar langsung dari Aisyah RA.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Bukti paling kuat bahwa Abul Jauzaa’ bertemu dan mendengar dari Aisyah RA adalah berdasarkan kesaksian Abul Jauzaa’ sendiri seperti yang diriwayatkan Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 2 no 1540</p>
<h2 style="text-align:right;">قال لنا مسدد عن جعفر بن سليمان عن عمرو بن مالك النكري عن أبي الجوزاء قال أقمت مع بن عباس وعائشة اثنتي عشرة سنة ليس من القرآن آية إلا سألتهم عنها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah mengatakan kepada kami Musaddad dari Ja’far bin Sulaiman dari Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ yang berkata “Aku bersama Ibnu Abbas dan Aisyah selama 12 tahun dan tidak ada satu ayat dalam Al Qur’an kecuali aku tanyakan kepada mereka”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bukhari berkata setelah membawa atsar ini <em>“di dalam sanadnya perlu diteliti lagi”.</em> Pernyataan Bukhari layak diberikan catatan. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Atsar ini shahih<span style="color:#0000ff;">,</span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#0000ff;"> </span></span><em>Musaddad bin Musarhad</em> disebutkan dalam <em>At Taqrib</em> 2/175 bahwa <span style="color:#0000ff;"><em>ia Syaikh Bukhari seorang hafiz yang tsiqat</em></span> dan <em>Ja’far bin Sulaiman</em> disebutkan dalam <em>Al Kasyf </em>no 792 bahwa <span style="color:#0000ff;"><em>ia tsiqat </em></span>dan disebutkan dalam<em> At Taqrib </em>1/162 bahwa <span style="color:#0000ff;"><em>ia shaduq</em></span>. Sedangkan <em>Amru bin Malik An Nukri</em> telah berlalu penjelasannya bahwa dia seorang yang tsiqah, bahkan Bukhari sendiri memuat biografi <em>Amru bin Malik An Nukri </em>dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 6 no 2672 tanpa sedikitpun menyebutkan cacatnya. Sedangkan <span style="color:#0000ff;"><em>Abul Jauzaa’ seorang tabiin tsiqah yang dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut kami pernyataan Bukhari bisa jadi didasari keraguannya pada <em>Ja’far bin Sulaiman</em>. Bukhari berkata dalam <em>Tarikh Al Kabir </em>juz 2 no 2161 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Ja’far bin Sulaiman diperselisihkan beberapa hadisnya</em></span>. Sayangnya Ja’far telah dinyatakan tsiqat atau shaduq oleh banyak ulama lain, sehingga keraguan yang tidak beralasan tidak menjadi cacat untuk Ja’far bin Sulaiman.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesaksian Abul Jauzaa’ sendiri justru membantah anggapan bahwa <em>hadis Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA adalah terputus atau mursal</em>. Oleh Karena itu pencacatan yang dilakukan oleh salafiyun benar-benar tidak berdasar.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Atsar Sunan Darimi di atas tidak diragukan lagi keshahihannya. Sebelum menutup tulisan ini kami akan membawakan hadis dengan sanad yang sama persis dengan atsar <em>Sunan Darimi </em>di atas yaitu diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> 6/72 no 24478</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عارم ثنا سعيد بن زيد عن عمرو بن مالك عن أبي الجوزاء عن عائشة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku (Ahmad bin Hanbal)  yang berkata telah menceritakan kepada kami Arim yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid dari Amru bin Malik dari Abul Jauzaa’ dari Aisyah.<br />
</em><br />
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini shahih ligahirihi dan sanad ini hasan</em></span>. Syaikh Syu’aib tidak sedikitpun menyatakan adanya cacat pada sanad ini. Dalam Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain no 24315 dinyatakan bahwa sanad tersebut shahih. Itu membuktikan bahwa pada dasarnya sanad atsar <em>Sunan Darimi </em>jayyid (baik) tetapi salafy tidak rela kalau ada hadis shahih yang memberatkan keyakinan mereka sehingga yang harus mereka lakukan adalah mencari-cari cara untuk mencacatkan hadis tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Fiqh, Hadis, Kritik Salafy  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1317&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/13/analisis-hadis-tabarruk-berkah-kubur-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>