<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Analisis Pencari Kebenaran &#187; Al Quran</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/category/al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Dec 2009 19:06:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='secondprince.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/449762091d192e9de75874735a396e1f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Analisis Pencari Kebenaran &#187; Al Quran</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://secondprince.wordpress.com/osd.xml" title="Analisis Pencari Kebenaran" />
		<item>
		<title>Sebutan Alaihis Salam kepada Ahlul Bait : Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/12/05/sebutan-alahis-salam-kepada-ahlul-bait-sayyidah-fathimah-imam-ali-imam-hasan-dan-imam-husain/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/12/05/sebutan-alahis-salam-kepada-ahlul-bait-sayyidah-fathimah-imam-ali-imam-hasan-dan-imam-husain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1545</guid>
		<description><![CDATA[Sebutan Alaihis Salam kepada Ahlul Bait : Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain
Keharuman nama Ahlul Bait memang membuat sakit hati para nashibi, mereka memang terjangkiti virus nashibi yang mematikan[baca; jiwa] dan tak segan-segan menularkannya kepada orang lain. Celakanya ada sebagian orang yang bisa jadi tidak tahu menahu atau bisa jadi karena penyakit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1545&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sebutan Alaihis Salam kepada Ahlul Bait : Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keharuman nama Ahlul Bait memang membuat sakit hati para nashibi, mereka memang terjangkiti virus nashibi yang mematikan[baca; jiwa] dan tak segan-segan menularkannya kepada orang lain. Celakanya ada sebagian orang yang bisa jadi tidak tahu menahu atau bisa jadi karena penyakit taklid buta ikut terinfeksi virus nashibi walaupun dengan kadar yang berbeda-beda.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian dari mereka [akibat pengaruh virus nashibi] dengan sombongnya mengaku mencintai Ahlul Bait tetapi lidahnya tidak segan-segan bersikap sinis kepada keutamaan Ahlul Bait. Sebagian dari mereka menunjukkan sikap sinis tersebut dengan menyatakan bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>sebutan Alaihis Salam kepada Ahlul Bait adalah ghuluw</em></span></span>. Mereka tidak pernah merasa kalau sebenarnya merekalah yang terinfeksi virus nashibi sehingga <em>sebutan kemuliaan kepada Ahlul Bait yang memang pantas untuk Ahlul Bait</em>, mereka sebut sesuatu yang ghuluw. Jika orang kekurangan maka sesuatu yang normal pun akan ia anggap berlebihan. <span id="more-1545"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang akan dikatakan oleh mereka jika ternyata memang ada hadis shahih yang menyebutkan Alaihis Salam kepada Ahlul Bait. Kita tidak butuh dalih-dalih mereka atau sikap sok mereka seolah-olah mereka orang yang paling tahu ilmu hadis.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/12/syarh-musykil-al-atsar-syaikh-syuaib-al-arnauth.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1546" title="Syarh Musykil Al Atsar Syaikh Syu'aib Al Arnauth" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/12/syarh-musykil-al-atsar-syaikh-syuaib-al-arnauth.jpg?w=468&#038;h=560" alt="" width="468" height="560" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Ja’far At Thahawi dalam kitabnya <em>Musykil Al Atsar</em> no 644 [<em>Syarh Musykil Al Atsar</em> no 761] ketika membahas Ayat Tathiir [Al Ahzab ayat 33]</p>
<h2 style="text-align:right;">إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/12/musykil-al-atsar-juz-2-no-761.jpg"><img class="size-full wp-image-1547   aligncenter" title="Syarh Musykil Al Atsar juz 2 no 761" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/12/musykil-al-atsar-juz-2-no-761.jpg?w=467&#038;h=291" alt="Musykil Al Atsar juz 2 no 761" width="467" height="291" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">At Thahawi membawakan hadis asbabun nuzul ayat tersebut yang menjelaskan untuk siapa ayat tersebut turun</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الربيع المرادي حدثنا أسد بن موسى حدثنا حاتم بن إسماعيل حدثنا بكير بن مسمارعن عامر بن سعد عن أبيه قال لما نزلت هذه الآية دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم <span style="color:#0000ff;">عليا  وفاطمة  وحسنا  وحسينا عليهم السلام </span> فقال  اللهم هؤلاء أهلي  ففي هذا الحديث أن المرادين بما في هذه الآية هم رسول الله صلى الله عليه وسلم  وعلي  وفاطمة  وحسن  وحسين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Rabi’ Al Muradi yang berkata telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Hatim bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Bukair bin Mismaar dari Amir bin Sa’ad dari Ayahnya yang berkata “Ketika turun ayat ini Rasulullah SAW memanggil <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Ali, Fathimah, Hasan dan Husain Alaihimus Salaam </span></span>dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku”. [Ath Thahawi] : Dalam hadis ini bahwa yang tertuju oleh ayat tersebut adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini kedudukannya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat dan diantaranya para perawi Shahih.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi</span> adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan An Nasa’i. Dalam <em>At Tahdzib </em>juz 3 no 473 disebutkan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Al Khatib, Ibnu Yunus, Abu Hatim, Maslamah dan Al Khalili.</em></span> Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/294 menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Asad bin Musa</span> adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, An Nasa’i dan Abu Dawud. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib </em>juz 1 no 494 menyebutkan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Qani’, Al Bazzar dan Ibnu Hibban. Al Khalili menyebutnya “orang Mesir yang shalih”.</em></span> Ibnu Hajar dalam<em> At Taqrib </em>1/88 menyebutnya<span style="text-decoration:underline;"><em> shaduq</em></span> tetapi dalam<em> Tahrir At Taqrib</em> 399 ia dinyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Hatim bin Ismail </span>adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 2 no 209 menyebutkan bahwa<span style="text-decoration:underline;"><em> ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli. An Nasa’i mengatakan “tidak ada masalah dengannya” dan ia tela dita’dilkan oleh Ahmad dan Abu Hatim</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>1/170 menyebutnya ”shaduq yahim” dan dikoreksi dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 994 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia seorang yang tsiqat [dengan tambahan Daruquthni, Ibnu Ma’in dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat].</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Bukair bin Mismaar </span>adalah perawi Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib </em>juz 1 no 914 menyebutkan kalau<span style="text-decoration:underline;"><em> ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli. An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Ady berkata “hadisnya lurus”.</em></span> Dalam <em>At Taqrib</em> 1/138 Ibnu Hajar menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia shaduq</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Amir bin Sa’ad</span> adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 5 no 106 dan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Al Ajli dan Ibnu Hibban</em></span>. Dalam At Taqrib 1/460 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat.</em></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dengan semua perawinya yang tsiqat maka tidak diragukan kalau hadis ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam <em>Syarh Musykil Atsar</em> 2/235 no 761 menyatakan <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini shahih</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hadis di atas juga diketahui bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>ayat tathiir itu memang turun untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah SAW, Fathimah, Ali, Hasan dan Husain Alaihimus Salam.</em></span></span> Kami hanya akan memberi catatan ringkas bagi <em>mereka yang mengatakan bahwa ayat ini turun untuk istri-istri Nabi SAW</em>. Apakah mereka merasa lebih tahu tafsir suatu ayat daripada Rasulullah SAW?. Apakah mereka merasa lebih tahu untuk siapa ayat ini turun daripada Rasulullah SAW?. Jika memang ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi maka Rasulullah SAW jelas akan memanggil mereka tetapi pada kenyataannya Rasulullah SAW malah memanggil Fathimah, Ali, Hasan dan Husain. <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Perbuatan Rasulullah SAW ini menunjukkan kalau merekalah yang dimaksud Ahlul Bait dalam ayat tathiir tersebut bukan para istri Nabi.</em></span></span></p>
Posted in Al Quran, Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1545/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1545&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/12/05/sebutan-alahis-salam-kepada-ahlul-bait-sayyidah-fathimah-imam-ali-imam-hasan-dan-imam-husain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/12/syarh-musykil-al-atsar-syaikh-syuaib-al-arnauth.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Syarh Musykil Al Atsar Syaikh Syu'aib Al Arnauth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2009/12/musykil-al-atsar-juz-2-no-761.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Syarh Musykil Al Atsar juz 2 no 761</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Abbas Mengatakan Ada Kesalahan dalam Al Qur’an?</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/04/ibnu-abbas-mengatakan-ada-kesalahan-dalam-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/04/ibnu-abbas-mengatakan-ada-kesalahan-dalam-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 23:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1282</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Abbas Mengatakan Ada Kesalahan dalam Al Qur’an?

Apakah mungkin Al Qur’an bisa salah?. Sebagai seorang muslim kita katakan dengan tegas, tidak mungkin. Siapapun yang berpendapat demikian maka pendapat tersebut bathil. Al Qur’an telah dijaga oleh Allah SWT oleh karena itu mengatakan ada kesalahan dalam Al Qur’an baik sedikit ataupun banyak adalah suatu kebathilan. Siapapun yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1282&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Abbas Mengatakan Ada Kesalahan dalam Al Qur’an?<br />
</strong><br />
Apakah mungkin Al Qur’an bisa salah?. Sebagai seorang muslim kita katakan dengan tegas, tidak mungkin. Siapapun yang berpendapat demikian maka pendapat tersebut bathil. Al Qur’an telah dijaga oleh Allah SWT oleh karena itu mengatakan ada kesalahan dalam Al Qur’an baik sedikit ataupun banyak adalah suatu kebathilan. Siapapun yang mengatakan seperti itu layak diingkari walaupun orang tersebut adalah orang yang terpandang atau memiliki keutamaan yang banyak. <span id="more-1282"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Abbas RA pernah berkata demikian ketika membaca salah satu ayat Al Qur’anul Karim.  Al Hakim dalam <em>Mustadrak Ash Shahihain</em> 2/430 no 3496 meriwayatkan</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا أبو علي الحافظ أنبأ عبدان الأهوازي ثنا عمرو بن محمد الناقد ثنا محمد بن يوسف ثنا سفيان عن شعبة عن جعفر بن إياس عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما  في قوله تعالى  { لا تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا } قال  أخطأ الكاتب حتى تستأذنوا</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Ali Al Hafiz yang berkata telah memberitakan kepada kami Abdan Al Ahwazi yang berkata telah menceritakan kepada kami Amr bin Muhammad An Naqid yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Syu’bah dari Ja’far bin Iyas dari Mujahid dari Ibnu Abbas radiyallahuanhum berkata mengenai firman Allah SWT <span style="color:#0000ff;">[Laa tadkhuluu buyuutan ghayra buyuutikum hattaa tasta’nisuu]</span> “ Ia berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“itu kesalahan dari penulisnya” </span></span>yang benar adalah <span style="color:#0000ff;">[hattaa tasta’zinuu].</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Hakim berkata mengenai hadis ini</p>
<h2 style="text-align:right;">هذا حديث صحيح على شرط الشيخين و لم يخرجاه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis ini shahih dengan syarat Bukhari dan Muslim tetapi mereka tidak meriwayatkannya</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Al Hakim ini disepakati oleh Adz Dzahabi dalam<em> Talkhis Al Mustadrak</em>. Selain Al Hakim, Atsar Ibnu Abbas ini diriwayatkan pula oleh Baihaqi dalam <em>Syu’ab Al Iman </em>6/437 dengan jalan Sa’id bin Jubair [hadis no 8802] dan jalan Mujahid [hadis no 8803]. Diriwayatkan pula oleh Ath Thabari dalam Tafsirnya <em>Jami’ Al Bayan </em>19/145-146 dengan jalan Sa’id bin Jubair diantaranya</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا ابن بشار ، قال  ثنا محمد بن جعفر ، قال  ثنا شعبة ، عن أبي بشر ، عن سعيد بن جُبير ، عن ابن عباس في هذه الآية( لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ) وقال  إنما هي خطأ من الكاتب حتى تستأذنوا وتسلموا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas mengenai ayat<span style="color:#0000ff;"> [Laa tadkhuluu buyuutan ghayra buyuutikum hattaa tasta’nisuu wa tusallimuu ‘alaaa ahlihaa]</span> dan ia berkata “sesungguhnya itu <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">kesalahan dari penulisnya</span></span> yang benar adalah <span style="color:#0000ff;">[hattaa tasta’zinuu wa tusallimuu]</span>.<br />
</em><br />
Atsar ini shahih dan telah diriwayatkan oleh para perawi shahih [perawi Bukhari dan Muslim]. Hal ini telah dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fath Al Bari</em> 11/8 yang berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">فأخرج سعيد بن منصور والطبري والبيهقي في الشعب بسند صحيح أن ابن عباس &#8220;كان يقرأ حتى تستأذنوا&#8221; ويقول أخطأ الكاتب</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah dikeluarkan oleh Said bin Manshur, Ath Thabari dan Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Abbas membaca [hattaa tasta’zinuu] dan mengatakan [kesalahan penulisnya].<br />
</em><br />
Ibnu Abbas tentu adalah sahabat utama yang memiliki keutamaan yang besar diantaranya Nabi Muhammad SAW telah berdoa agar <em>beliau dijadikan seorang yang faqih dalam agama dan dipahamkan dengan ilmu ta’wil</em>. Walaupun begitu perkataan beliau soal kesalahan Al Qur’an [An Nur ayat 27] di atas yang berasal dari penulisnya adalah hal yang harus diingkari. Begitu pula halnya dengan perkataan sahabat mengenai keutamaan Ibnu Abbas diantaranya Ibnu Mas’ud yang berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">لو أن ابن عباس أدرك أسناننا ما عاشره منا أحدٌ. قال وكان يقول : نعم ترجمان القرآن ابن عباس رضي الله عنه</h2>
<p style="text-align:justify;">.<br />
<em>“Apabila Ibnu ‘Abbas menjumpai jaman kita, niscaya tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat menandingi (ilmu)-nya. Sebaik-baik penerjemah/penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu” [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-‘Ilmu no. 49; Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah no. 1860, 1861, 1863; Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 2/366; dan yang lainnya - shahih]</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan ini tidaklah menjadi hujjah mutlak karena terbukti umat islam meninggalkan perkataan Ibnu Abbas yang merupakan sebaik-baik penerjemah Al Qur’an. Semua umat islam membaca ayat tersebut dengan tasta’nisuu bukan tasta’zinuu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami juga meminta perhatian pembaca agar dengan seksama melihat <em>bahwa hadis atau atsar ini walaupun diriwayatkan oleh kitab hadis dan dishahihkan oleh para ulama</em> tetap saja hal ini tidak menjadi akidah kita umat islam. Riwayat-riwayat seperti ini dengan jelas bertentangan dengan Al Qur’anul Karim yang mesti ditolak seshahih apapun kedudukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda halnya dengan sebagian orang yang mengaku pengikut salafiyun, ia merendahkan mahzab lain yaitu Syiah dan tidak jarang dari mereka mengkafirkan syiah dan pengikutnya hanya karena <em>di dalam kitab syiah terdapat riwayat tentang perubahan Al Qur’an.</em> Tentu saja hal ini adalah bagian dari kepicikan salafy yang hanya ingin merendahkan dan memfitnah mahzab Syiah. Perhatikanlah, <em>riwayat-riwayat yang menunjukkan perubahan Al Qur’an terdapat baik dalam kitab Sunni maupun Syiah</em> dan kedua mahzab tersebut menolak riwayat-riwayat seperti itu. <span style="text-decoration:underline;"><em>Kedua mahzab tersebut menolak adanya perubahan dalam Al Qur’an karena Sunni maupun Syiah percaya bahwa Al Qur’an akan selalu dijaga oleh Allah SWT</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kami juga meminta perhatian pembaca dari kepicikan berpikir orang-orang yang mengaku pengikut salafiyun. Mereka dengan mudah menuduh <em>orang-orang yang membela mahzab syiah sebagai orang syiah.</em> Jika ada orang yang membongkar <em>kedustaan dan fitnah mereka</em> maka orang tersebut akan mereka tuduh sebagai syiah. Jika ada <em>orang yang berhujjah dengan hadis Ahlul Bait semisal hadis Tsaqalain</em> mereka dengan gampangnya menuduh bahwa orang tersebut syiah dan pemahamannya adalah pemahaman syiah. Mereka ini pengidap penyakit syiahpobhia, mereka punya ketakutan yang berlebihan terhadap mahzab syiah sehingga setiap hujjah Syiah harus ditolak [walaupun hujjah tersebut shahih di sisi Sunni], bagi mereka tidak penting apakah harus berdusta atau tidak, pokoknya syiah mesti dikafirkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah wahai pembaca, fitnah terhadap siapapun [tanpa memandang agama dan mahzabnya] adalah kekejian dan layak untuk diluruskan. Orang yang tidak suka jika ada yang meluruskan fitnah kemudian ia menyebar tuduhan adalah orang yang punya penyakit di hatinya. Tidak sulit untuk mengetahui <span style="text-decoration:underline;"><em>ulama-ulama sunni yang membela Syiah dari kekejian fitnah salafiyun dan ulama-ulama tersebut bukan syiah</em></span>. Tidak sulit untuk mengetahui ada banyak ulama islam yang mengakui <em>kalau mahzab Syiah adalah Islam dan mereka pengikut syiah adalah saudara bagi pengikut Sunni</em>. Tetapi salafiyun senantiasa menyebar kekejian untuk merendahkan mahzab Syiah. Apa tujuannya? Wallahu’alam.</p>
Posted in Al Quran, Hadis, Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1282&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/10/04/ibnu-abbas-mengatakan-ada-kesalahan-dalam-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 05:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=1028</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim
Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1028&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti jalan kerusakan. Padahal Allah SWT telah melarang kita umat islam untuk mengikuti jalan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujurat 6-8<span id="more-1028"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ  وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ  فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahulilah olehmu bahwa diantaramu ada Rasulullah. Kalau Ia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan maka benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan <em>Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith</em> <em>yang diutus Rasulullah SAW untuk mengambil sedekah atau zakat dari bani Musthaliq. </em>Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam ayat di atas. Hal ini telah diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dalam <em>Musnad Ahmad</em> 4/279</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن سابق ثنا عيسى بن دينار ثنا أبي انه سمع الحرث بن ضرار الخزاعي قال  قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم فدعاني إلى الإسلام فدخلت فيه وأقررت به فدعاني إلى الزكاة فأقررت بها وقلت يا رسول الله أرجع إلي قومي فأدعوهم إلى الإسلام وأداء الزكاة فمن استجاب لي جمعت زكاته فيرسل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم رسولا لإبان كذا وكذا ليأتيك ما جمعت من الزكاة فلما جمع الحرث الزكاة ممن استجاب له وبلغ الإبان الذي أراد رسول الله صلى الله عليه و سلم ان يبعث إليه احتبس عليه الرسول فلم يأته فظن الحرث أنه قد حدث فيه سخطة من الله عز و جل ورسوله فدعا بسروات قومه فقال لهم إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان وقت لي وقتا يرسل إلى رسوله ليقبض ما كان عندي من الزكاة وليس من رسول الله صلى الله عليه و سلم الخلف ولا أرى حبس رسوله الا من سخطة كانت فانطلقوا فنأتي رسول الله صلى الله عليه و سلم وبعث رسول الله صلى الله عليه و سلم الوليد بن عقبة إلى الحرث ليقبض ما كان عنده مما جمع من الزكاة فلما أن سار الوليد حتى بلغ بعض الطريق فرق فرجع فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم وقال يا رسول الله إن الحرث منعني الزكاة وأراد قتلي فضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم البعث إلى الحرث فأقبل الحرث بأصحابه إذ استقبل البعث وفصل من المدينة لقيهم الحرث فقالوا هذا الحرث فلما غشيهم قال لهم إلى من بعثتم قالوا إليك قال ولم قالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان بعث إليك الوليد بن عقبة فزعم أنك منعته الزكاة وأردت قتله قال لا والذي بعث محمدا بالحق ما رأيته بتة ولا أتاني فلما دخل الحرث على رسول الله صلى الله عليه و سلم قال منعت الزكاة وأردت قتل رسولي قال لا والذي بعثك بالحق ما رأيته ولا أتاني وما أقبلت إلا حين احتبس علي رسول رسول الله صلى الله عليه و سلم خشيت أن تكون كانت سخطة من الله عز و جل ورسوله قال فنزلت الحجرات { يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين } إلى هذا المكان { فضلا من الله ونعمة والله عليم حكيم }</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Isa bin Dinar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku bahwa ia pernah mendengar Al Harits bin Dhirar Al Khuza’i bercerita “Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW , Beliau mengajakku masuk islam maka aku memeluk islam dan mengikrarkannya. Kemudian Beliau mengajakku mengeluarkan zakat, aku menunaikannya dan berkata “Ya Rasulullah aku akan pulang kepada kaumku dan akan kuajak mereka memeluk islam dan mengumpulkan zakat. Siapa saja yang mengikuti seruanku maka akan kuambil zakatnya dan kirimkanlah Utusan kepadaku Ya Rasulullah pada waktu begini dan begini untuk membawa zakat yang telah kukumpulkan itu. Setelah Al Harits mengumpulkan zakat dari kaumnya yang mengikutinya dan telah sampai masa datangnya utusan Rasulullah SAW ternyata utusan tersebut tertahan di jalan dan tidak  datang menemuinya. Al Harits mengira bahwa telah turun kemurkaan Allah dan RasulNya kepada dirinya. Ia pun mengumpulkan pembesar kaumnya dan berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan waktu kepadaku dimana Beliau akan mengirim utusan untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, sungguh tidak pernah Rasulullah SAW menyalahi janji dan aku takut ini karena murka Allah. Oleh karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah. <strong>Adapun Rasulullah SAW telah mengutus Walid bin Uqbah menemui Al Harits untuk mengambil zakat yang dikumpulkannya. Ketika Walid berangkat di tengah perjalanan ia merasa takut dan kembali pulang lalu menemui Rasulullah SAW seraya berkata “Ya Rasulullah sesungguhnya Al Harits menolak memberikan zakat kepadaku bahkan ia bermaksud membunuhku”. </strong>Maka Rasulullah SAW mengirim utusan lain kepada Al Harits dan Al Harits berserta sahabatnya juga berangkat. Ketika utusan Rasul keluar kota Madinah dan bertemu Al Harits , mereka berkata “inilah Al Harits”. Al Harits menghampiri dan berkata “kepada siapa kalian diutus?”. Mereka menjawab “kepadamu”. “Untuk apa kalian diutus kepadaku?” Tanya Al Harits. <strong>Mereka menjawab “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu dan ia mengaku bahwa kau menolak membayar zakat bahkan mau membunuhnya”. Al Harits berkata “Tidak benar, demi Rabb yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku”. </strong>Setelah Al Harits menghadap Rasulullah SAW, Beliau bertanya “Apakah kau menolak membayar zakat dan hendak membunuh utusanKu?”. <strong>Ia menjawab “Tidak, demi Rabb yang telah mengutusMu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku dan aku tidak datang kepadaMu melainkan ketika utusanMu tidak datang aku takut datangnya kemarahan Allah dan RasulNya</strong>. Pada saat itulah turun ayat Al Hujurat {Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.} sampai {sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.}</em><br />
<strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong><br />
Hadis ini memiliki <strong>sanad yang jayyid (baik)</strong>. Al Hafiz As Suyuthi dalam <em>Lubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> surah Al Hujurat ayat 6 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أخرج أحمد وغيره بسند جيد عن الحرث بن ضرار الخزامي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang jayyid dari Harits bin Dhirar Al Khuza’i.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Al Hafiz Suyuthi menyebutkan riwayat tersebut setelah itu ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">رجال إسناده تقات<em> </em></h2>
<p style="text-align:left;"><em>Para perawi sanad ini tsiqat</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Haitsami dalam <em>Majma’ Az Zawaid</em> 7/238 hadis no 11352 juga membawakan hadis ini dan mengatakan bahwa <em>para perawi Ahmad tsiqat.</em> Ibnu Katsir dalam <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 7/370 ketika menafsirkan Al Hujurat ayat 6 telah membawakan hadis ini dan beliau menyatakan <em>bahwa hadis ini hasan.</em> Dalam <em>Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain</em> hadis no 18371 disebutkan bahwa <em>“sanadnya shahih”.</em> Pentahqiq kitab <em>Lubabun Nuqul </em>Abdurrazaq Mahdi juga mengakui <em>bahwa sanad hadis ini jayyid </em>dalam keterangannya terhadap riwayat no 1014.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita melihat kitab-kitab biografi para perawi hadis maka dapat diketahui bahwa <em>Walid bin Uqbah ini adalah seorang sahabat Nabi</em>, Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>2/287 menyebutkan bahwa <em>Walid bin Uqbah adalah sahabat Nabi.</em> Padahal telah jelas disebutkan di atas bahwa <em>Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam Al Hujurat ayat 6.</em> Dan dalam riwayat di atas kita lihat bahwa <strong><em>Walid bin Uqbah salah seorang sahabat Nabi</em> </strong><em><strong>telah berkata dusta kepada Rasulullah SAW.</strong> Apakah ini berarti seorang Sahabat Nabi bisa saja dikatakan fasik dan bisa saja ia berdusta kepada Rasulullah SAW?. </em>Silakan direnungkan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Al Quran, Hadis, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/1028/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=1028&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/27/sahabat-nabi-yang-dikatakan-fasiq-dalam-al-qur%e2%80%99anul-karim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/10/23/ayat-tathhir-khusus-untuk-ahlul-kisa%e2%80%99/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/10/23/ayat-tathhir-khusus-untuk-ahlul-kisa%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 13:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[
Cahaya Di Atas Cahaya
Seterang Apapun Tetap Harus Membuka Mata

Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’
Dalam pembahasan sebelumnya kami pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait dalam Al Ahzab ayat 33 adalah Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Merekalah Ahlul Bait yang dimaksud dan bukan seperti yang dinyatakan oleh sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=466&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/10/light.jpg"><img class="size-medium wp-image-467 aligncenter" title="farctal of light" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/10/digital-art-gallery-fractal-union-the-perfection-aquarian-awakening.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>Cahaya Di Atas Cahaya</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em>Seterang Apapun Tetap Harus Membuka Mata</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dalam pembahasan sebelumnya kami pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait dalam Al Ahzab ayat 33 adalah Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Merekalah Ahlul Bait yang dimaksud dan bukan seperti yang dinyatakan oleh sebagian orang bahwa Ahlul Bait tersebut adalah istri-istri Nabi.<span id="more-466"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:right;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&amp;" dir="rtl" lang="AR-SA">إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. (QS : Al Ahzab 33)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Kali ini kami hanya ingin menunjukkan bahwa dalil-dalil yang shahih telah menetapkan dan mengkhususkan bahwa ayat di atas ditujukan kepada mereka yang terkenal dengan sebutan Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dalam <em>Sunan Tirmidzi</em> hadis no 3205 dalam <em>Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;"><span style="font-size:13.5pt;line-height:150%;font-family:&amp;" dir="rtl" lang="AR">عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW</em> <span style="color:#0000ff;">{Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} </span><em>di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. </em><em>Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Hadis ini menjelaskan bahwa Ayat yang saat itu turun di rumah Ummu Salamah RA hanya penggalan Al Ahzab 33 yang berbunyi <strong>{Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.}</strong>. Ayat ini dalam hadis di atas disebutkan bahwa ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Ayat ini tidak turun untuk istri-istri Nabi SAW. Buktinya adalah sebagai berikut</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Perhatikan Al Ahzab ayat 32,33 dan 34 berikut</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Ayat ke-32 berbunyi begini</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Hai Istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Ayat ke-33 berbunyi begini</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya. <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Ayat ke-34 berbunyi begini</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Yang dicetak tebal adalah bagian yang khusus untuk Ahlul Kisa’ dan bukan istri-istri Nabi SAW. Sehingga jika digabungkan maka hasilnya begini</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Bagian yang untuk Istri-istri Nabi SAW adalah berikut</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>Hai Istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. D</em><em>an hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Sedangkan bagian untuk Ahlul Kisa’ adalah berikut</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.</strong></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Kedua bagian ini diturunkan secara terpisah dan hadis <em>Sunan Tirmidzi </em>di atas adalah bukti jelas bahwa kedua bagian ini turun terpisah. Mari kita buat Rekontruksi.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Hipotesis Null </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Seandainya memang kedua bagian tersebut turun bersamaan maka bunyinya akan seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em>Hai Istri-istri Nabi</em></strong><em>, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. D</em><em>an hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya.</em><strong> </strong><em>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.</em><strong> </strong><em>Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Mari kita andaikan bahwa ayat tersebut turun dengan bunyi(lafaz) seperti ini di rumah Ummu Salamah</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Verifikasi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dengan menggunakan hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> di atas sebagai alat penguji maka ada hal yang aneh disini yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> hanya menyebutkan bahwa ayat yang turun saat itu hanya bagian yang ini saja <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. </strong>{Tidak sesuai dengan hipotesis}</li>
<li>Hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> menyebutkan bahwa tepat ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW anehnya tidak memanggil Istri-istri Beliau. Bukankah ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah dan istri-istri Beliau jelas punya rumah sendiri maka jika memang ayat tersebut bunyinya seperti itu dan tertuju untuk istri-istri Beliau maka sudah pasti Beliau akan langsung memanggil Istri-istri Beliau yang lain. Hadis Sunan Tirmidzi malah menunjukkan hal yang berbeda yaitu justru Rasulullah SAW memanggil orang lain yang bukan istriNya yaitu Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. {Tidak sesuai dengan hipotesisnya}</li>
<li>Hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> menunjukkan Tepat setelah ayat tersebut turun <strong>Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. </strong>Hal ini adalah aneh dan sangat tidak sinkron karena Apalagi yang perlu ditanyakan, apakah kata-kata awal pada ayat ke-32 <strong>Hai Istri-istri Nabi </strong>masih kurang jelas sehingga Ummu Salamah perlu bertanya kepada Nabi. Jika memang ayat tersebut ditujukan untuk istri-istri Nabi maka Ummu Salamah tidak akan bertanya apapun. Ya sudah jelas kan kalau beliau adalah istri Nabi. Apakah Ummu Salamah tidak memahami kata-kata yang mudah seperti itu?. Adanya pertanyaan tersebut telah menggugurkan postulat awal bahwa ayat tersebut diturunkan untuk Istri-istri Nabi SAW. {Tidak sesuai dengan hipotesis}</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;"><strong>.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;"><strong>.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Hipotesis Tandingan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Ayat <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya </strong>turun sendiri untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Verifikasi</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dengan menggunakan hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> sebagai penguji maka didapatkan sebagai berikut</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> membuktikan bahwa bunyi ayat yang turun di rumah Ummu Salamah hanyalah ini <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. </strong>{Sesuai dengan hipotesisnya}</li>
<li>Dalam hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> ketika ayat ini turun Rasulullah SAW memanggil Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS kemudian menutupinya dengan kain. {Sesuai dengan hipotesisnya}</li>
<li>Hadis <em>Sunan Tirmidzi </em>menunjukkan Tepat setelah ayat tersebut turun dan Rasul SAW menyelimuti Ahlul Kisa’ maka <strong>Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. </strong>Hal ini dapat dimengerti karena pada bunyi ayat yang turun itu memang tidak disebutkan kata istri-istri Nabi sehingga Ummu Salamah bertanya apakah Ia bersama mereka sebagai yang dituju dalam ayat tersebut.{Sesuai dengan hipotesisnya bahwa ayat tersebut terpisah dengan ayat sebelum dan sesudahnya yang berbicara tentang Istri-istri Nabi}.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Dapat dilihat bahwa Hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> itu justru membuktikan kebenaran hipotesis tandingan bahwa Ayat tersebut khusus untuk Ahlul Kisa’.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Syubhat Para Penentang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Ada sebagian orang yang menentang pengkhususan Ayat Tathhir untuk Ahlul Kisa’. Mereka mengatakan bahwa <em>ayat tersebut awalnya turun khusus untuk istri-istri Nabi kemudian di perluas kepada Ahlul Kisa’</em>. Kekeliruan mereka telah ditunjukkan oleh Hadis Sunan Tirmidzi di atas dan hadis-hadis lain yang mengkhususkan Ayat Tathhir untuk Ahlul Kisa’(hadis ini akan ditunjukkan nanti). Kami telah membuktikan bahwa Hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> di atas justru menyelisihi pernyataan mereka bahwa ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi SAW.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Mereka yang menentang tersebut mengajukan syubhat <em>bahwa adanya doa Rasulullah SAW justru membuktikan bahwa ayat tersebut tidak tertuju untuk mereka</em>. Untuk apa lagi di doakan jika memang ayat tersebut untuk Ahlul Kisa’. Adanya doa menunjukkan bahwa mereka sebelumnya tidak termasuk dalam ayat Tathhir sehingga Rasul SAW berdoa agar Ahlul Kisa’ bisa ikut masuk ke dalam ayat tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Syubhat ini mengakar pada prakonsepsi bahwa ayat tersebut turun untuk Istri-istri Nabi SAW. Seandainya mereka benar-benar berpegang pada teks hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> maka tidak akan muncul syubhat seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Perhatikan, pada mulanya ayat tersebut turun dengan bunyi seperti ini <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. </strong>Ingat hanya kata-kata ini, dan kalau mereka para penentang itu berpegang pada hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> di atas maka kami katakan <em>siapa yang dituju dengan kata-kata ini?</em>. Adakah mereka bisa mengatakannya atau menjawab. Kalau mereka menjawab ayat itu untuk istri-istri Nabi SAW, maka dari mana mereka bisa tahu?. Secara ayat itu hanya berbunyi <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. </strong>Kalau mereka mengatakan dari ayat sebelum ini(yang ada kata-kata istri Nabi) maka sudah ditunjukkan bahwa Hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> di atas menentang anggapan mereka. Bukankah telah dibuktikan bahwa ayat sebelumnya itu terpisah dari ayat yang kita bicarakan ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Maka mari kembali pada Hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> di atas. Untuk mengetahui siapa yang dituju oleh ayat ini maka tidak bisa tidak, hanya bersandar pada keterangan Rasulullah SAW. Tepat setelah ayat ini turun maka tugas Beliaulah untuk menjelaskan siapa Ahlul Bait yang dimaksud. Dan Hadis Sunan Tirmidzi di atas menunjukkan siapa Ahlul bait dalam ayat yang baru turun <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Tepat setelah ayat ini turun maka Rasulullah SAW menunjukkan Siapa Ahlul bait yang dimaksud.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Beliau langsung memanggil siapa itu orang-orang yang dimaksud Ahlul Bait</li>
<li>Beliau mengkhususkannya dengan Perbuatan yaitu menyelimuti orang-orang tersebut dengan kain. Tindakan Rasulullah SAW menyelimuti dengan kain ini hanya bisa dipahami sebagai pengkhususan.</li>
<li>Setelah diselimuti maka Beliau kembali menegaskan dengan kata-kata yang jelas yaitu <strong>Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. </strong>Kata-kata ini adalah keputusan final siapa Ahlul Bait yang dimaksud dan Rasulullah SAW menggunakan lafal <strong>maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya</strong> untuk menunjukkan kepada siapapun yang mendengarnya bahwa inilah Ahlul Bait yang tertera dalam kata-kata <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. </strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Oleh karena itu tepat setelah Ummu Salamah menyaksikan penyelimutan itu dan mendengar kata-kata Rasulullah SAW, beliau langsung mengerti bahwa merekalah yang dimaksud dalam ayat tersebut dan Ummu Salamah berharap ikut bersama mereka yang dituju oleh ayat tersebut dengan bertanya kepada Rasul SAW <strong>”Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”</strong>. Jadi Doa itu justru menjadi penegas yang kuat sebagai pengkhususan Ahlul Bait pada Ahlul Kisa’. Dan ini akan dipahami jika memang berpegang pada teks-teks hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> di atas.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Para penentang itu mengajukan syubhat yang lain bahwa jawaban Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah <strong> “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan” </strong>adalah petunjuk bahwa Rasulullah SAW menyadari bahwa Ummu Salamah termasuk dalam ayat tersebut sehingga beliau berkata ”kamu dalam kebaikan”.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Syubhat ini terlihat jelas adalah sebuah pembenaran. Lihat pertanyaan Ummu Salamah adalah <strong>”Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”</strong> . Dan Jawaban pertanyaan ini hanya ada dua yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ummu Salamah bersama Mereka</li>
<li>Ummu Salamah tidak bersama Mereka</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Jawaban Rasulullah SAW adalah <strong>“Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. </strong>Mereka para penentang itu mengatakan bahwa kata-kata Rasul SAW ini adalah <em>isyarat bahwa Ummu Salamah memang Ahlul Bait yang dimaksud</em>. Bisa dikatakan ini hanyalah klaim yang langsung ditetapkan berdasarkan konsepsi bahwa <em>Ahlul Bait disini adalah istri-istri Nabi</em>. Sama seperti sebelumnya jika mereka memang berpegang pada teks hadis ini maka dapat diketahui bahwa pernyataan mereka itu jelas dipaksakan. Bagaimana Mereka bisa mengartikan bahwa kata-kata <strong>“Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan” </strong>mengandung makna bahwa <em>Ummu Salamah bersama Mereka adalah Ahlul Bait yang tertuju dalam ayat ini</em>?.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Mari kita lihat kata-kata itu <strong>“Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri” </strong>Jika dengan kata-kata ini saja maka yang dimaksud adalah <em>Ummu Salamah tetap di tempatnya sendiri atau punya kedudukan sendiri.</em> Kedudukan itu ada dua kemungkinan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bersama Mereka Ahlul Bait</li>
<li>Tidak bersama Mereka Ahlul Bait</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Hadis Sunan Tirmidzi di atas menunjukkan apa yang dilakukan Rasul SAW ketika ayat <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya </strong>ini turun. Ingat kata-kata ini saja tidak menunjukkan siapa Ahlul Bait yang dimaksud, sekali lagi kami tekankan disitulah Peran Rasulullah SAW. Dalam hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> di atas Rasul telah melakukan pengkhususan dengan perkataan dan perbuatan mengenai siapa Ahlul Bait tersebut. Jika memang kata-kata <strong>“Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri” </strong>memiliki arti bahwa <em>Ummu Salamah selaku istri Nabi adalah Ahlul Bait</em> bersama mereka maka Rasulullah SAW akan menetapkan hal yang sama yang ia lakukan pada Ahlul Kisa’ sebelumnya. Maka Beliau akan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Memanggil Istri-istriNya</li>
<li>Menyelimuti Mereka Istri-istriNya dengan kain</li>
<li>Mengatakan dengan kata-kata <strong>Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya.</strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Proses inilah yang dilakukan Rasul SAW kepada siapa yang dituju sebagai Ahlul Bait dalam ayat tersebut. Oleh karena Rasul SAW tidak melakukan hal ini maka arti kata-kata <strong>“Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri” </strong>lebih ke arah bahwa itu berarti Ummu Salamah punya kedudukan sendiri yang berbeda dengan Mereka Ahlul Kisa’. Jadi Ummu Salamah tidak bersama Mereka Ahlul Bait.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Para penentang mengajukan alasan bahwa semua itu tidak perlu dilakukan karena<strong> sudah jelas ayat tersebut untuk Istri-istri Nabi </strong>sedangkan yang dilakukan Nabi terhadap Ahlul Kisa’ karena mereka tidak tercakup dalam ayat tersebut sehingga Rasulullah SAW repot-repot melakukan ketiga hal yang dimaksud.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Perhatikan kata-kata yang dicetak tebal, itu sekali lagi menunjukkan kalau mereka lebih berpegang pada konsepsi mereka ketimbang hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> di atas. Bagaimana mereka bisa tahu bahwa ayat tersebut untuk istri-istri Nabi, jika ayat tersebut bunyinya hanya <strong>&#8220;Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya&#8221;. </strong>Ingat Hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> menyatakan bahwa bunyi ayat yang turun itu Cuma ini. Jika mereka mengatakan bahwa dari ayat sebelumnya maka sekali lagi Hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> telah menyelisihi anggapan mereka seperti yang sudah dari awal kami jelaskan.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Begitu pula<strong> </strong>kata-kata Rasul SAW<strong> &#8220;dan kamu dalam kebaikan&#8221;, </strong>Ahlul Bait dalam Ayat Tathhir adalah keutamaan besar dan merupakan kebaikan yang sangat besar oleh karena itu Ummu Salamah berharap ikut masuk dalam ayat ini. Kata-kata <strong>&#8220;dan kamu dalam kebaikan&#8221;</strong> jelas tidak bisa begitu saja diartikan sebagai tanda bahwa Ummu Salamah adalah Ahlul Bait yang dimaksud karena kebaikan itu ada banyak atau dengan kata lain Menjadi Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah satu-satunya kebaikan yang ada walaupun jelas itu adalah kebaikan yang paling besar. Apakah kata-kata <strong>&#8220;dan kamu dalam kebaikan&#8221; </strong>ini saja mengandung makna bahwa Ummu Salamah adalah Ahlul Bait?. Jelas tidak, dan mereka para penentang itu memahaminya begitu karena dari awal mereka sudah menetapkan bahwa Ahlul Bait pada ayat tathhir adalah Istri-istri Nabi. Konsepsi yang dari awal mereka yakini wakaupun hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> diatas menyelisihi anggapan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Oleh karena itu menyatakan begitu saja bahwa kata-kata &#8220;<strong>dan kamu dalam kebaikan&#8221; </strong>sebagai tanda bahwa Ummu Salamah adalah Ahlul Bait merupakan klaim yang dipaksakan. Kata-kata tersebut juga dapat dipahami sebagai <em>penolakan halus dari Nabi SAW bahwa meskipun Ummu Salamah tidak bersama mereka sebagai Ahlul Bait dalam ayat tathhir maka beliau Ummu Salamah tetaplah memiliki kebaikan tersendiri</em>. Penafsiran ini bersandar pada kata-kata sebelumnya yang tertera dalam hadis<em> Shahih Sunan Tirmidzi</em> di atas.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Syubhat lain yang juga sering dijadikan dasar dalam menolak pengkhususan bahwa Ahlul Bait yang dimaksud dalam Ayat Tathhir adalah Ahlul Kisa’ adalah tidak adanya kata-kata tegas yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menolak Ummu Salamah sebagai Ahlul Bait dalam ayat tersebut.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Perhatikan baik-baik, hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> di atas menunjukkan penetapan Rasulullah SAW mengenai <em>Siapa Ahlul Bait yang dimaksud dalam Ayat Tathhir</em> maka kata-kata tegas yang menetapkan jelas jauh lebih diperlukan dibanding kata-kata tegas yang menolak. Bukankah jika tidak diketahui siapa Ahlul Bait yang dimaksud maka yang diperlukan adalah kata-kata yang jelas menetapkan siapa mereka dan bukan kata-kata yang jelas menolak. Mereka para penentang berkeras pada isyarat paksaan mereka karena mereka berasa lebih mengetahui duduk perkara sebenarnya dibanding Ummu Salamah Istri Nabi SAW.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Contoh nyata akan sikap ini kami lihat pada salah satu penulis Hafiz Firdaus yang ketika membahas ayat ini beliau menyatakan bahwa Ummu Salamah saat itu bertanya kepada Nabi SAW karena pada saat itu Nabi SAW belum memberitahukan ayat tersebut kepadanya sehingga ia bertanya dalam kondisi tidak tahu.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hal ini yang kami katakan berasa lebih mengetahui dibanding Ummu Salamah RA sendiri. Syubhat Hafiz Firdaus ini jelas-jelas hanya mencari alasan. <em>Apakah Sampai Ummu Salamah meriwayatkan hadis tersebut, beliau tetap belum diberi tahu oleh Nabi SAW?.</em> Apa buktinya ada sesuatu yang harus diberitahukan Nabi SAW kepada Ummu Salamah?. Jangan-jangan memang tidak ada yang perlu diberitahukan Nabi SAW. Kalau memang ada, kenapa Ummu Salamah tidak mengungkapkannya dalam hadis di atas. Jika memang ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi SAW mengapa hal pertama yang dilakukan oleh Nabi SAW malah memanggil orang lain dan kenapa saat itu Beliau tidak memanggil istri-istrinya?. Syubhat itu justru mengundang banyak pertanyaan yang malah akan menjatuhkannya sendiri</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut akan kami kemukakan hadis yang menetapkan pengkhususan bahwa Ahlul Bait dalam ayat tathhir adalah Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:13.5pt;line-height:150%;font-family:&amp;" dir="rtl" lang="AR-SA">حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&amp;" dir="rtl" lang="AR-SA"> إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat <span style="color:#0000ff;">{Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya}</span><span style="color:#333333;"> </span></em><em>turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ath Thahawi dalam kitabnya <em>Musykil Al Atsar</em> juz 1 hal 227. Hadis ini juga diriwayatkan dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> Al Bukhari juz 2 biografi no 2174<em>(disini Bukhari hanya menyebutkan sanadnya dan sedikit penggalan hadis tersebut)</em> dan <em>Tarikh Ibnu Asakir</em> juz 14 hal 143. Hadis di atas adalah hadis yang shahih dan diriwayatkan oleh para perawi tsiqat(terpercaya).</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Abu Ja’far Ath Thahawi penulis kitab <em>Musykil Al Atsar </em>adalah seorang Fakih dan Hafiz bermahzab Hanafi, kredibilitasnya jelas sudah tidak diragukan lagi. Dalam kitab ini Ath Thahawi membuat Bab khusus yang menerangkan tentang Ayat Tathhir. Beliau membawakan beberapa riwayat yang berkaitan dengan ini dan kesimpulan dalam pembahasan beliau tersebut adalah Ayat Tathhir khusus untuk Ahlul Kisa&#8217; saja.</li>
<li>Fahd, Beliau adalah Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan kuat (tsabit) sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi dalam <em>Tarikh Al Islam</em> juz 20 hal 416 dan Ibnu Asakir dalam<em> Tarikh Ibnu Asakir</em> juz 48 hal 459 no 5635.</li>
<li>Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam Kitab <em>Tahdzib At Tahdzib</em> juz 7 biografi no 299, Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq(jujur)” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em>.</li>
<li>Jarir bin Abdul Hamid, dalam Kitab <em>Tahdzib At Tahdzib</em> juz 2 biografi no 116 beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em>.</li>
<li>Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Dalam <em>Tahdzib At Tahdzib </em>juz 4 biografi no 386, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.</li>
<li>Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>At Ta’jil Al Manfaah </em>juz 1 hal 387 bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Imam Bukhari menyebutkan biografinya dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> juz 2 no 2174 seraya mengutip kalau dia seorang Syaikh Wasith tanpa menyebutkan cacatnya. Disebutkan Ibnu Hibban dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 6 no 7050 bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy.</li>
<li>Hakim bin Sa’ad, sebagaimana disebutkan dalam <em>Tahdzib At Tahdzib</em> Ibnu Hajar juz 2 biografi no 787 bahwa beliau adalah perawi Bukhari dalam <em>Adab Al Mufrad,</em> dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata <em>laisa bihi ba’sun</em>(yang berarti tsiqah). Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em>.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Jadi sudah jelas bahwa hadis di atas sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat(terpercaya). Hadis tersebut menjadi bukti yang jelas bahwa Ayat Tathhir <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya</strong> turun untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Dan hadis ini juga menjadi bukti yang menguatkan kalau Hadis Sunan Tirmidzi mengandung makna bahwa <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Ahlul Bait dalam Ayat Tathhir adalah Ahlul Kisa’ saja</em></span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><strong>Salam Damai</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Percaya atau tidak, kami sebenarnya malas menulis. Dan kami kembali menulis ini karena kami kembali membicarakan ini. Jika ada yang ingin kami membuat banyak tulisan tentang ini(lagi) maka tolong sering-sering ajak bicaralah Mas SP itu</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>Jika anda menangkap elemen kekasaran pada tulisan ini maka lemparkan saja itu ke dunia lain, jangan biarkan dunia anda berubah menjadi dunia lain pula</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
Posted in Al Quran, Hadis, Kritik Syiahphobia, Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=466&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/10/23/ayat-tathhir-khusus-untuk-ahlul-kisa%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/10/digital-art-gallery-fractal-union-the-perfection-aquarian-awakening.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">farctal of light</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 06:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[


Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali
Menanggapi komentar seseorang dalam tulisan saya Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah) maka dengan ini saya nyatakan saya akan berusaha menampilkan tulisan yang akan memperjelas Shahihnya pernyataan Ayat Al Wilayah Al Maidah Ayat 55 Turun Untuk Imam Ali.
Ayat yang dimaksud adalah
Sesungguhnya Waliy kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=156&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/05/normal_sasuke_chidori.jpg"></a><strong></strong></p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-183 aligncenter" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/05/normal_sasuke_chidori.jpg?w=223&#038;h=300" alt="" width="223" height="300" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p><strong>Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</strong></p>
<p>Menanggapi komentar seseorang dalam tulisan saya <a title="komentar pengikut sunnah" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/#comment-2034" target="_blank"><em>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</em> </a>maka <span style="text-decoration:line-through;"><em>dengan ini saya nyatakan</em></span> saya akan berusaha menampilkan tulisan yang akan memperjelas <em>Shahihnya pernyataan Ayat Al Wilayah Al Maidah Ayat 55 Turun Untuk Imam Ali.</em></p>
<p>Ayat yang dimaksud adalah</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Waliy kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka Ruku’ (kepada Allah).</p></blockquote>
<p>Kalau terjemahan versi Departemen Agama adalah sebagai berikut</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka Tunduk (kepada Allah).<span id="more-156"></span></p></blockquote>
<p>Ayat di atas diturunkan untuk Imam Ali AS sehubungan dengan peristiwa dimana Beliau memberikan sedekah kepada seorang peminta-minta ketika sedang ruku’ dalam shalat. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang <em>Asababun Nuzul</em> ayat ini . Di antara hadis-hadis tersebut ada yang shahih dan dhaif ,walaupun begitu As Suyuthi salah seorang Ulama Ahlus Sunnah dalam Kitabnya <em>Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> menyatakan bahwa sanad hadis tersebut saling kuat-menguatkan. Berikut ini saya akan menampilkan salah satu hadis shahih tentang Asbabun Nuzul ayat tersebut.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em><strong><em>Hadis Shahih Dalam Tafsir Ibnu Katsir</em></strong></em><br />
Dalam kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> jilid 5 hal 266 Al Maidah ayat 55 diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Sufyan Ats Tsauri dari Abi Sinan dari Dhahhak bin Mazahim dari Ibnu Abbas yang berkata</p>
<blockquote><p><em>“ketika Ali memberikan cincinnya kepada peminta-minta selagi Ia Ruku’ maka turunlah ayat “Sesungguhnya Waliy kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka Ruku’.”(Al Maidah 55).</em></p></blockquote>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang dikenal tsiqah. Walaupun begitu Ibnu Katsir mencacatkan hadis ini karena menurutnya Ad Dhahhak tidak bertemu dengan Ibnu Abbas jadi hadis tersebut Munqathi<em>(terputus sanadnya).</em><br />
Menurut kami pernyataan Ibnu Katsir tersebut keliru, Ad Dhahhak mendengar dari Ibnu Abbas. Berikut adalah sedikit analisis mengenai sanad Ad Dhahhhak dari Ibnu Abbas.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Ad Dhahhak bertemu dengan Ibnu Abbas</em></strong><br />
Dalam kitab <em>As Saghir</em> Al Bukhari dan <em>Tarikh Al Kabir</em> jilid 4 hal 332 Bukhari menyatakan bahwa Ad Dhahhak meninggal tahun 102 H, ada yang mengatakan tahun 105 H dan usianya telah mencapai 80 tahun. Sedangkan Ibnu Abbas meninggal tahun 68 H atau 70 H sebagaimana yang dikatakan Al Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> jilid 5 hal 3. Hal ini menunjukkan bahwa Ad Dhahhak lahir tahun 22 H atau 25 H sehingga beliau satu masa dengan Ibnu Abbas dan ketika Ibnu Abbas meninggal usia Ad Dhahhak  mencapai lebih kurang 45 tahun. Adanya kemungkinan bertemu dan satu masa ini sudah cukup untuk menyatakan bahwa sanad Ad Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung<em>(muttasil) </em>dan tidak terputus<em>(munqathi).</em> Persyaratan ketersambungan sanad dengan dasar <em>perawi-perawi tsiqah tersebut dalam satu masa </em>adalah kriteria yang ditetapkan Imam Muslim dalam kitab hadisnya <em>Shahih Muslim</em>. Maka berdasarkan Syarat Imam Muslim, Adh Dhahhak yang tsiqah satu masa dengan Ibnu Abbas maka sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung atau muttasil.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Alasan Ulama Menyatakan Inqitha’ Sanad Adh Dhahhak Dari Ibnu Abbas</em></strong><br />
Lantas Mengapa ada ulama seperti Ibnu Katsir menyatakan bahwa sanad Ad Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah terputus atau munqathi?. Hal ini dikarenakan adanya riwayat dalam Kitab <em>Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim</em> jilid 4 no 2024 dari Abdul Malik bin Abi Maysarah yang berkata Ia pernah bertanya kepada Adh Dhahhak <em>“Apakah kamu mendengar sesuatu dari Ibnu Abbas?”</em>. Adh Dhahhak menjawabnya tidak. Abdul Malik kemudian bertanya <em>“Jadi dari mana kamu ambil cerita yang kamu katakan dari Ibnu Abbas?”.</em> Adh Dhahhak menjawab <em>“dari fulan dan fulan”.</em></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Kritik Terhadap Inqitha’ Sanad Ad Dhahhak Dari Ibnu Abbas</em></strong><br />
Alasan tersebut tetap saja tidak menafikan bersambungnya sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas dengan pertimbangan.</p>
<ul>
<li> Hal ini karena terdapat riwayat yang lain, justru menyatakan bahwa Adh Dhahhak mendengar dari Ibnu Abbas. Ibnu Hajar dalam <em>Tahdzib At Tahdzib</em> jilid 4 hal 398 meriwayatkan dari Abu Janab Al Kalbi yang mendengar Ad Dhahhak berkata <em>“Aku menyertai Ibnu Abbas selama 7 tahun”.</em> Riwayat ini sudah jelas menyatakan bahwa Adh Dhahhak memang bertemu Ibnu Abbas apalagi dikuatkan oleh bahwa beliau memang satu masa dengan Ibnu Abbas.</li>
<li> Adh Dhahhak bin Muzahim Adalah seorang tabiin yang terkenal tsiqah dan amanah sedangkan riwayat Ibnu Abi Hatim berkesan beliau meriwayatkan hal yang ia dengar dari orang lain kemudian menisbatkannya kepada Ibnu Abbas tanpa mendengar sendiri dari Ibnu Abbas.</li>
<li> Riwayat Ibnu Abi Hatim tertolak<em>(dengan pertimbangan-pertimbangan di atas)</em> atau dapat saja diterima dengan pengertian bahwa apa yang dikatakan Adh Dhahhak itu berkaitan dengan beberapa hadis yang dinisbatkan kepada beliau dari Ibnu Abbas. Padahal beliau sendiri tidak mendengar riwayat itu langsung dari Ibnu Abbas.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Pernyataan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir</em></strong><br />
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad bin Hanbal</em> telah menolak pernyataan <em>Inqitha’(keterputusan) Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas.</em> Beliau menyatakan bahwa hal itu keliru dan beliau telah menshahihkan hadis dengan sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas. Salah satunya tertera dalam <em>Musnad Ahmad bin Hanbal</em> jilid 3 Syarh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir catatan kaki hadis no 2262, dimana beliau berkata</p>
<blockquote><p><em> “…Adh Dhahhak bin Muzahim AlHilali Abu Al Qasim adalah seorang tabiin, <strong>dia meriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan yang lainnya,</strong> dia orang yang tsiqah lagi amanah sebagaimana yang dinyatakan Ahmad.  Sebagian mereka mengingkari mendengarnya Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas atau sahabat lainnya, demikian yang diisyaratkan Al Bukhari pada biografinya dengan ungkapan Humaid ‘mursal’.  <strong>Mengenai hal ini banyak sekali catatan, bahkan hal itu keliru </strong>karena ia meninggal pada tahun 102 ada juga yang mengatakan tahun 105 dan usianya telah mencapai 80 tahun atau lebih…”.</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Semua pertimbangan di atas menunjukkan bahwa yang paling kuat dalam hal ini adalah <em>bahwa sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung atau tidak terputus. </em>Dalam hal ini Ibnu Katsir keliru ketika mencacat hadis tersebut dan <em>derajat hadis tersebut sebenarnya shahih</em>. <em>Wallahu ‘Alam.</em></p>
<p><em>Salam Damai</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/156/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/156/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=156&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/05/normal_sasuke_chidori.jpg?w=223" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/01/04/kritik-salafy-yang-menghalalkan-fallacyambillah-kebenaran-dimana-saja-ia-berada-2/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/01/04/kritik-salafy-yang-menghalalkan-fallacyambillah-kebenaran-dimana-saja-ia-berada-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2008 14:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2008/01/04/kritik-salafy-yang-menghalalkan-fallacyambillah-kebenaran-dimana-saja-ia-berada-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy (Ambillah Kebenaran Dimana Saja Ia Berada)
Seorang saudara seiman pernah membuat tulisan yang menarik dengan judul  Lihatlah Siapa Yang Berbicara. Tulisan ini menarik untuk dibahas(walaupun sebenarnya tulisan ini hanyalah kutipan dari sumber lain).Oleh karena itu tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya(walaupun banyak sekali perbedaan antara saya dan dia), Saya akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=110&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy (Ambillah Kebenaran Dimana Saja Ia Berada)</b><br />
Seorang saudara seiman pernah membuat tulisan yang menarik dengan judul  <a href="http://antosalafy.wordpress.com/2007/11/30/lihatlah-siapa-yang-berbicara-2/" target="_blank"><i>Lihatlah Siapa Yang Berbicara</i></a>. Tulisan ini menarik untuk dibahas<i>(walaupun sebenarnya tulisan ini hanyalah ku</i><i>tipan dari sumber lain)</i>.Oleh karena itu tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya<i>(walaupun banyak sekali perbedaan antara saya dan dia), </i>Saya akan menanggapi tulisan saudara itu yang menisbatkan dirinya dengan Salafy.<span id="more-110"></span></p>
<blockquote><p><b><i>Jangan Lihat Siapa Yang Berbicara, Tapi Lihat Apa yang Dibicarakan</i></b></p></blockquote>
<p>Kata-kata ini adalah yang sering sekali didengar oleh banyak orang. Secara pribadi saya sangat setuju dengan kata-kata ini. Kebenaran, Hikmah dan Ilmu bisa berasal dari mana saja walaupun memang tidak bisa dinafikan bahwa mengambil dari orang-orang yang berilmu adalah lebih baik.<br />
Saudara Antosalafy dan saya rasa pengikut Salafy sejenis dia sangat tidak setuju dengan kata-kata ini dan tidak segan-segan mereka menolaknya dengan berkata</p>
<blockquote><p><i>Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi. </i></p></blockquote>
<p>Tulisan ini adalah murni <b><i>Penolakan saya terhadap klaim-klaim Mereka yang berlebihan</i></b><br />
Saya setuju bahwa kebenaran bisa diambil dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah tetapi sayangnya itu tidak menafikan bahwa orang lain atau kelompok lain bisa juga mengatakan hal yang benar. Bersikap seolah kebenaran hanya terbatas pada kelompok tertentu dan menyatakan sikap seolah-olah setiap yang dikatakan orang lain yang berbeda kelompoknya adalah salah jelas merupakan tindakan berlebih-lebihan yang melampaui batas. Melampaui batas karena melihat dirinya serba cukup.</p>
<blockquote><p><i>Ketahuilah, Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS Al ‘Alaq ; 6-7) </i></p></blockquote>
<p><b><i>Penolakan Pertama Atas Dasar Rasional</i></b><br />
Pada awalnya Mereka berkata dengan penuh keyakinan bahwa</p>
<blockquote><p><i>ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan tersebut.</i></p></blockquote>
<p>Sayang sekali, mereka tidak memahami prinsip-prinsip universal yang disampaikan oleh Al Quran. Seolah-olah mereka tidak memahami bahwa kebenaran agama-agama Samawi ditegakkan atas prinsip <i>Dengarkan Apa Yang Disampaikan Dan Pikirkan.</i> Bukankah mereka yang diseru oleh para Nabi melandaskan pikirannya pada status quo bahwa <i>beginilah bapak-bapak kami melakukannya. </i>Bukankah mereka yang diseru oleh para Nabi itu hanya menerima <i>apa saja yang sudah diwariskan nenek moyang mereka, </i>dan mereka menolak seruan para Nabi karena mereka tidak memikirkan apa yang disampaikan.<br />
Menerima Kenabian di tengah Status Quo atau pandangan dimana hampir seluruh orang melakukan kesesatan jelas membutuhkan pemikiran yang mendalam. Kebanyakan orang akan terdistorsi dalam konformitas bahwa lebih aman dan benar melakukan seperti kebanyakan orang lainnya. Dalam lingkungan seperti ini Kenabian akan sulit diterima. Oleh karena itu Dalil Aqli atau Rasional merupakan alat bantu yang baik dalam menerima Kenabian. Banyak sekali dalam Al Quran Allah SWT mengingatkan kepada mereka yang mengingkari para Nabi agar menggunakan akalnya. <i>Dengarkan wahai orang-orang yang berakal</i></p>
<p><b><i>Penolakan Kedua Atas Dasar Dalil Naqli Atau Skripturalis</i></b><br />
Al Quranul Karim menyatakan bahwa salah satu tanda dari orang yang mendapat petunjuk dan berakal adalah <i>orang yang mendengar perkataan dan mengambil yang paling baik di antaranya</i>. Jadi adalah <i>prinsip yang benar untuk mendengarkan perkataan dan mengambil yang paling baik diantara perkataan itu. </i></p>
<blockquote><p><i>Yang Mendengarkan Perkataan Lalu Mengikuti Apa Yang Paling Baik Di Antaranya. Mereka Itulah Orang-orang Yang Telah Diberi Allah Petunjuk Dan Mereka Itulah Orang-orang Yang Mempunyai Akal. (QS Az Zumar ; 18) </i></p></blockquote>
<p>Sekali lagi tidak dinafikan bahwa adalah baik untuk menerima kebenaran dari mereka, orang-orang yang lurus. Bahkan hal ini sangat benar. Tetapi adalah kekeliruan kalau mengklaim bahwa kebenaran itu terbatas pada kelompok tertentu. Dan setiap apa yang berasal dari kelompok lain atau orang lain adalah salah. Kebenaran tidak suka dipasung.<br />
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang selalu dapat belajar dan berpikir, sehingga mereka memiliki potensi untuk mendapatkan kebenaran, tentu dengan kadar yang berbeda-beda tiap manusia. Dan tidak ada salahnya bagi sebagian manusia untuk mengmbil hikmah dari sesamanya. Tidak ada aturan bahwa setiap manusia harus selalu sependapat satu sama lain sama halnya tidak ada aturan bahwa setiap manusia  harus saling menolak satu sama lain. Setiap manusia bisa saling mengingatkan dan menasehati dalam kebenaran.</p>
<blockquote><p><i>Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.(QS Al ‘Ashr ; 1-3) </i></p></blockquote>
<p>Bahkan seorang Nabi AS saja dapat menerima nasihat dari orang lain yang lebih rendah kedudukannya</p>
<blockquote><p><i>Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang member nasihat kepadamu”. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa “Ya TuhanKu, selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu”. (QS Al Qashash ; 20-21) </i></p></blockquote>
<p>Hikmah sekali lagi bisa diambil dari mana saja, Al Quran menyatakan bahwa seorang manusia dapat mengambil hikmah dari seekor burung</p>
<blockquote><p><i>Kemudian Allah SWT menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? “ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS Al Maidah ; 31)</i></p></blockquote>
<p><b><i>Penolakan Ketiga Atas Dasar Pandangan Ulama Salafus Salih</i></b><br />
Berikutnya adalah tanggapan terhadap kata-kata mereka</p>
<blockquote><p><i>Apakah ahlus sunnah tidak memiliki kebaikan atau kurang kebaikannya sehingga kita harus mengambil ilmu dari ahli bid’ah?</i></p></blockquote>
<p>Padahal Ulama Salafus Salih ternyata juga mengambil ilmu dari ahli bid’ah yaitu dalam masalah hadis, Berikut adalah salah satu Ahli bid’ah yang diambil hadisnya<br />
<b><i>Yahya bin Jazaar Al Urani Al Kufi</i></b><br />
Dalam <i>Tahdzib At Tahdzib</i> XI hal 192 terdapat pandangan ulama hadis tentang beliau</p>
<blockquote><p>•    Ibnu Sa’ad berkata <i>“Dia orang yang ghuluw di dalam kesyiahannya,namun ia seorang yang tsiqah dan memiliki sejumlah hadis”</i><br />
•    Al Uqaili meriwayatkan dari Hakim bin Utaibah yang berkata <i>“Yahya bin Jazaar itu ghuluw dalam kesyiahannya”</i><br />
•    Al Ajli berkata <i>“Seorang penduduk Kufah yang tsiqah tetapi Syiah”</i><br />
•    Ibnu Hibban memasukkan beliau dalam <i>Ats Tsiqat</i></p></blockquote>
<p>Bukankah dalam persepsi orang seperti Antosalafy dan orang sejenisnya, maka seorang Syiah adalah ahli bid’ah, mereka malah menyebut Syiah agama yang berbeda dengan Islam. Tetapi anehnya Imam Muslim, An Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud dan Tirmidzi malah mengambil hadis dari Yahya bin Jazaar padahal sudah jelas Kesyiahannya.</p>
<p>Masih banyak contoh lainnya, tapi untuk saat ini cukup sampai disini saja</p>
<p>Nah, nilailah sendiri</p>
<p>Salam damai</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/110/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/110/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=110&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/01/04/kritik-salafy-yang-menghalalkan-fallacyambillah-kebenaran-dimana-saja-ia-berada-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Quran Dan Hadis Menyatakan Ahlul Bait Selalu Dalam Kebenaran</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 10:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/</guid>
		<description><![CDATA[Ahlul Bait adalah Pribadi-pribadi yang selalu berada dalam kebenaran
Mereka mendapat kemuliaan yang begitu besar yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Hadis. Banyak sekali isu-isu seputar masalah ini yang membuat orang enggan membahasnya. Yang saya maksud itu adalah Bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW dalam Islam. Ada sebagian kelompok yang sangat memuliakan Ahlul Bait, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=91&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong><em>Ahlul Bait adalah Pribadi-pribadi yang selalu berada dalam kebenaran</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka mendapat kemuliaan yang begitu besar yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Hadis. Banyak sekali isu-isu seputar masalah ini yang membuat orang enggan membahasnya. Yang saya maksud itu adalah <em>Bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW dalam Islam</em>. Ada sebagian kelompok yang sangat memuliakan Ahlul Bait, berpedoman kepada Mereka dan Mengambil Ilmu dari Mereka. Ada juga kelompok yang lain yang juga memuliakan Ahlul Bait dan mendudukkan mereka layaknya seperti Sahabat Nabi SAW yang juga memiliki keutamaan yang besar. Ada perbedaan yang besar diantara kedua kelompok ini.<span id="more-91"></span></p>
<ul>
<li>Kelompok yang pertama memiliki pandangan <em>bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam agar tidak sesat </em>sehingga Mereka adalah Pribadi-pribadi yang ma&#8217;sum dan terbebas dari kesalahan. Kelompok yang pertama ini adalah Islam Syiah</li>
<li>Kelompok yang kedua memiliki pandangan bahwa Ahlul Bait tidak ma&#8217;sum walaupun memiliki banyak keutamaan sehingga Mereka juga tidak terbebas dari kesalahan. Kelompok yang kedua ini adalah Islam Sunni.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini adalah Analisis tentang <em>bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait dalam Islam.</em> Sumber-sumber yang saya pakai sepenuhnya adalah hadis-hadis dalam Kitab Hadis Sunni. Sebelumnya perlu ditekankan bahwa tulisan ini berusaha untuk menelaah pandangan manakah yang benar dan sesuai dengan dalil perihal kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Sebaiknya perlu juga dijelaskan bahwa pembahasan seputar kemuliaan Ahlul Bait ini tidak perlu selalu dikaitkan dengan Sunni atau Syiah. Maksudnya bagaimanapun nantinya pandangan saya tidak perlu dikaitkan dengan <em>apakah saya Sunni atau Syiah </em>karena memang bukan itu inti masalahnya. Cukup lihat dalil atau argumen yang dipakai dan nilailah sendiri benar atau tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Al Quran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al Quran dalam <em>Surah Al Ahzab 33</em> telah menyatakan kedudukan Ahlul Bait bahwa <em>Mereka adalah Pribadi-pribadi yang disucikan oleh Allah SWT.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi</p>
<blockquote><p><em>Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. <strong>Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.</strong></em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika kita melihat ayat sebelum dan sesudah ayat ini maka dengan sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa <em>Ahlul Bait yang dimaksud itu adalah istri-istri Nabi SAW</em> karena memang ayat sebelumnya ditujukan pada istri-istri Nabi SAW. Pemahaman seperti ini dapat dibenarkan jika tidak ada dalil shahih yang menjelaskan tentang ayat ini. Mari kita bahas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sepakat bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur, artinya tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk kitab yang utuh melainkan diturunkan sebagian-sebagian. Untuk mengetahui kapan ayat-ayat Al Quran diturunkan kita harus merujuk kepada <em>Asbabun Nuzulnya.</em> Tapi sayangnya tidak semua ayat Al Quran terdapat asbabun nuzul yang shahih menjelaskan sebab turunnya. Berdasarkan hal ini maka ayat-ayat dalam al Quran dibagi menjadi</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Ayat Al Quran yang memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya. Maksudnya ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa atau tujuan tertentu. Hal ini diketahui dengan hadis asbabun nuzul yang shahih.</em></li>
<li><em>Ayat Al Quran yang tidak memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya karena memang tidak ada asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan sebab turunnya</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitannya dengan pembahasan ini?.  Ternyata terdapat asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan turunnya penggalan terakhir surah <em>Al Ahzab 33 </em>yang lebih dikenal dengan sebutan <em>Ayat Tathhir(ayat penyucian) </em>yaitu penggalan</p>
<blockquote><p><strong><em>Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) </em></strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang arti atau terjemahannya adalah</em><strong><em> </em></strong></p>
<blockquote><p><strong><em>Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.</em></strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ternyata banyak Hadis-hadis shahih dan  jelas yang menyatakan bahwa ayat <em>Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)</em> turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya. Artinya <em>ayat tersebut tidak terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnya</em> yang ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. <em>Ayat tersebut justru ditujukan untuk Pribadi-pribadi yang lain</em> dan bukan istri-istri Nabi SAW. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa yang seperti ini sama halnya dengan <strong><em>Mutilasi ayat,</em></strong> hal ini jelas tidak benar karena ayat yang dimaksud memang ditujukan untuk pribadi tertentu sesuai dengan asbabun nuzulnya.</p>
<p>Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.</p>
<ul>
<li><em>Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.</em></li>
<li><em>Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut. Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat <em>tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut </em>maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat <em>urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. </em>Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya <em>dalil shahih dari Asbabun Nuzul</em> jelas lebih tepat menunjukkan <em>siapa yang dituju dalam ayat tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda halnya apabila tidak ditemukan <em>dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut</em>. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan <em>melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya </em>untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi ini bukan mutilasi ayat tapi memang <em>ayatnya turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya </em>dan ditujukan untuk pribadi-pribadi tertentu. Hal ini berdasarkan hadis-hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh <em>Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani</em>. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi.</em></p>
<blockquote>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><em>Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah  yang berkata, <strong>“Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33).</strong> Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan&#8221;. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span>Dari hadis ini dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><span>Bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah ra, dan terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hadis itu menjelaskan bahwa yang turun itu hanya penggalan ayat </span><em><strong>Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.</strong></em></li>
<li><span>Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW melalui kata-kata Beliau SAW<strong><em> “Ya Allah, mereka adalah Ahlul BaitKu”</em></strong> Pernyataan ini ditujukan pada mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW yaitu </span>Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.</li>
<li><span>Ayat ini tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Buktinya adalah <em><strong>Pertanyaan Ummu Salamah.</strong></em> Pertanyaan Ummu Salamah mengisyaratkan bahwa ayat itu tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW, karena </span>jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya <strong><em>Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?</em></strong>. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra selaku istri Nabi SAW juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW.<span> Sekali lagi ditekankan kalau memang ayat itu jelas untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah ra tidak perlu bertanya lagi<strong><em> “Dan apakah aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”</em>. </strong></span></li>
<li><strong><em>Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah</em></strong>, Beliau SAW bersabda <em>“ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”</em>. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri dan <span>bukanlah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini.</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span>Kesimpulan dari hadis-hadis Asbabun nuzul ayat tathhir adalah Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 itu adalah </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Rasulullah SAW sendiri karena ayat itu turun untuk Beliau berdasarkan kata-kata<strong><em><strong> </strong></em></strong><em><strong>Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW</strong></em></li>
<li><span>Mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW dan dinyatakan bahwa mereka adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW yang dimaksud yaitu </span>Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.</li>
</ol>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span>Terdapat beberapa ulama ahlus sunnah yang menyatakan bahwa ayat tathiir adalah khusus untuk Ahlul Kisa’ (Rasulullah SAW, </span>Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as) <span>yaitu</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><!--[if !supportLists]--><span><span></span></span><span>Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitab <em>Tafsir Ath Thabary</em> juz I hal 50 ketika menafsirkan ayat ini beliau membatasi cakupan Ahlul Bait itu hanya pada diri Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan menyatakan bahwa ayat tersebut hanya untuk Mereka berlima <em>(merujuk pada berbagai riwayat yang dikutip Thabari)</em>.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><span><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><span>Abu Ja’far Ath Thahawi dalam kitab <em>Musykil Al Atsar</em> juz I hal 332-339 setelah meriwayatkan berbagai hadis tentang ayat ini beliau menyatakan bahwa ayat tathiir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain Mereka. Beliau juga menolak anggapan bahwa Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini adalah istri-istri Nabi SAW. Beliau menulis </span><em><span><span></span></span></em><em><span>Maka kita mengerti bahwa pernyataan Allah dalam <strong>Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya</strong>. (Al-Ahzab :33) ditujukan pada orang-orang yang khusus dituju olehNya untuk mengingatkan akan derajat Mereka yang tinggi dan para istri Rasulullah SAW hanyalah yang dituju pada bagian yang sebelumnya dari ayat itu yaitu sebelum ditujukan pada orang-orang tersebut”.</span></em></li>
</ol>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span>Mungkin terdapat keraguan sehubungan dengan urutan ayat Al Ahzab 33, kalau memang ayat tersebut hanya ditujukan untuk Ahlul Kisa’ kenapa ayat ini terletak diantara ayat-ayat yang membicarakan tentang istri-istri Nabi. Perlu ditekankan bahwa peletakan susunan ayat-ayat dalam Al Quran adalah dari Nabi SAW dan juga diketahui bahwa ayat ayat Al Quran diturunkan berangsur-angsur, pada dasarnya kita tidak akan menyelisihi urutan ayat kecuali terdapat dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa ayat tersebut turun sendiri dan tidak berkaitan dengan ayat sebelum maupun sesudahnya. Berikut akan diberikan contoh lain tentang ini, yaitu penggalan Al Maidah ayat 3</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><em>“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”</em>.</p>
</blockquote>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;">Ayat di atas adalah penggalan Al Maidah ayat 3 yang turun sendiri di arafah <span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">berdasarkan Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam <strong><em><span style="color:#333333;font-weight:normal;">Shahih Bukhari</span></em></strong><em><span style="color:#333333;"><span> </span>no 4606</span></em><span style="color:#333333;"> </span>, Muslim dalam <strong><em><span style="color:#333333;font-weight:normal;">Shahih Muslim</span></em></strong><em><span style="color:#333333;">, no 3017 </span></em></span>tidak terkait dengan ayat sebelum maupun sesudahnya yang berbicara tentang makanan yang halal dan haram.</p>
<blockquote><p><em>Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah <strong>“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”</strong> (H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Makna Ayat Tathir </strong><em></em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Innama</em></strong><br />
Setelah mengetahui bahwa ayat ini ditujukan untuk ahlul kisa’(Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS)  sekarang akan dibahas makna dari ayat tersebut. Ayat ini diawali dengan kata <em>Innama</em>, dalam bahasa arab kata ini memiliki makna al hashr atau pembatasan. Dengan demikian lafal ini menunjukkan bahwa kehendak Allah itu hanya untuk menghilangkan <em>ar rijs</em> dari Ahlul Bait as dan menyucikan Mereka sesuci-sucinya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu dari selain Ahlul Bait as dan tidak juga menghendaki hal yang lain untuk Ahlul Bait as.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Yuridullah</em></strong><br />
Setelah kata <em>Innama</em> diikuti kata <em>yuridullah</em> yang berarti Allah berkehendak, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa iradah Allah SWT terbagi dua yaitu <em>iradah takwiniyyah</em> dan <em>iradah tasyri’iyyah</em>. <em>Iradah takwiniyyah</em> adalah iradah Allah yang bersifat pasti atau niscaya terjadi, hal ini dapat dilihat dari ayat berikut</p>
<blockquote><p><em>“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadaNya ‘Jadilah ‘maka terjadilah ia”(QS Yasin :82)<br />
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apanila Kami menghendakinya,Kami hanya berkata kepadanya ‘Jadilah’maka jadilah ia”(QS An Nahl :40)<br />
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”(QS Hud:107)<br />
</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang dimaksud <em>Iradah tasyri’iyah </em>adalah Iradah Allah SWT yang terkait dengan penetapan hukum syariat bagi hamba-hambanya agar melaksanakannya dengan ikhtiar mereka sendiri. Dalam hal ini iradah Allah SWT adalah penetapan syariat adapun pelaksanaannya oleh hamba adalah salah satu tujuan penetapan syariat itu, oleh karenanya terkadang tujuan itu terealisasi dan terkadang tidak sesuai dengan pilihan hamba itu sendiri apakah mematuhi syariat yang telah ditetapkan Allah SWT atau melanggarnya. Contoh iradah ini dapat dilihat pada ayat berikut</p>
<blockquote><p><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)bulan ramadhan,bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang bathil).Karena itu barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Baqarah :185).</em></p>
<p><em>“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat,maka basuhlah muka dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah kepalamu dan kakimusampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air,maka bertanyamumlah dengan tanah yang baik(bersih) sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Maidah : 6)<br />
</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><br />
Iradah dalam <em>Al Baqarah 185 </em>adalah berkaitan dengan <em>syariat Allah tentang puasa </em>dimana aturan-aturan yang ditetapkan Allah itu adalah untuk memudahkan manusia dalam melaksanakannya,sehingga iradah ini akan terwujud pada orang yang berpuasa. Sedangkan yang tidak mau berpuasa jelas tidak ada hubungannya dengan iradah ini. Begitu juga Iradah dalam Al Maidah ayat 6 dimana <em>Allah hendak membersihkan manusia dan menyempurnakan nikmatnya </em>bagi manusia supaya manusia bersyukur, iradah ini jelas terkait dengan syariat wudhu dan tanyamum yang Allah tetapkan oleh karenanya iradah ini akan terwujud bagi <em>orang yang bersuci sebelum sholat dengan wudhu dan tanyamum dan ini tidak berlaku bagi orang yang tidak bersuci baik dengan wudhu atau tanyamum.</em> Dan perlu ditekankan bahwa iradah tasyri’iyah ini ditujukan pada semua umat muslim yang melaksanakan syariat Allah SWT tersebut termasuk dalam hal ini Ahlul Bait as.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Iradah dalam Ayat tathhiir adalah iradah takwiniyah dan bukan iradah tasyri’iyah</em></strong> artinya tidak terkait dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan, tetapi iradah ini bersifat niscya atau pasti terjadi. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Penggunaan lafal <em>Innama</em> yang bermakna <em>hashr</em> atau pembatasan menunjukkan arti bahwa Allah tidak berkehendak untuk menghilangkan <em>rijs</em> dengan bentuk seperti itu kecuali dari Ahlul Bait, atau dengan kata lain kehendak penyucian ini terbatas hanya pada pribadi yang disebut Ahlul Bait dalam ayat ini.</li>
<li>Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini seperti dalam hadis riwayat Turmudzi di atas tidak ada penjelasan bahwa iradah ini berkaitan dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan.</li>
<li>Allah memberi penekanan khusus setelah kata kerja <em>liyudzhiba</em>(menghilangkan) dengan firmannya <em>wa yuthahhirakum tathiira</em>. Dan kata kerja kedua ini <em>wa yuthahhirakum(menyucikanmu)</em> dikuatkan dengan <em>mashdar tathiira(sesuci-sucinya)</em>yang mengakhiri ayat tersebut. Penekanan khusus ini merupakan salah satu petunjuk bahwa iradah Allah ini adalah iradah takwiniyah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Li yudzhiba </em></strong><strong><em>‘An kumurrijsa Ahlal bait </em></strong><br />
Kemudian kalimat selanjutnya adalah <em>li yudzhiba ‘an kumurrijsa ahlal bait</em> . Kalimat tersebut menggunakan kata <em>‘an</em> bukan <em>min. </em>Dalam bahasa Arab, kata <em>’an</em> digunakan untuk sesuatu yang belum mengenai, sementara kata min digunakan untuk sesuatu yang telah mengenai. Oleh karena itu, kalimat tersebut memiliki arti untuk menghilangkan <em>rijs</em> dari  Ahlul Bait (sebelum <em>rijs</em> tersebut mengenai Ahlul Bait), atau dengan kata lain untuk menghindarkan Ahlul Bait dari <em>rijs</em>. Sehingga jelas sekali, dari kalimat ini terlihat makna kesucian Ahlul Bait dari <em>rijs.</em> Lagipula adalah tidak tepat menisbatkan bahwa sebelumnya mereka Ahlul bait memiliki <em>rijs</em> kemudian baru Allah menyucikannya karena Ahlul Bait yang disucikan dalam ayat ini meliputi Imam Hasan dan Imam Husain yang waktu itu masih kecil dan belum memiliki <em>rijs</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ar Rijs</em></strong><br />
Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata <em>rijs</em>, diantaranya adalah sebagai berikut.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Sesungguhny,a (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji (rijs) termasuk perbuatan setan&#8221; (QS Al Maidah: 90).<br />
&#8220;Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah perkataan-perkataan dusta&#8221; (QS Al Hajj: 30).<br />
&#8220;Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir&#8221; (QS At Taubah: 125).<br />
&#8220;Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis (rijs)&#8221; (QS At Taubah: 95).<br />
&#8220;Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya&#8221; (QS Yunus: 100).</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa <em>rijs adalah segala hal bisa dalam bentuk keyakinan atau perbuatan yang keji, najis yang tidak diridhai dan menyebabkan kemurkaan Allah SWT. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Asy Syaukani dalam tafsir <em>Fathul Qadir</em> jilid 4 hal 278 menulis,</p>
<blockquote><p><em> &#8220;&#8230; yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak ada keridhaan Allah SWT&#8221;. </em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia melanjutkan,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Firman `&#8230; dan menyucikan kalian&#8230; &#8216; maksudnya adalah: `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan penyucian yang sempurna.&#8217; Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya&#8221;.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab<em> Ad Dalail </em>jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada akhirnya beliau mengatakan <em>“Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bagaian yang lain)<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam kitab <em>Ash Shawaiq</em> hal 144-145 berkata,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, karena ia memuat mutiara keutamaan dan perhatian atas mereka. Allah mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.&#8221;</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab <em>Al lklil</em> hal 178 menyebutkan bahwa</p>
<blockquote><p><em>kesalahan adalah rijs, oleh karena itu kesalahan tidak mungkin ada pada Ahlul Bait.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Semua penjelasan diatas menyimpulkan bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi. Selain itu penyucian ini tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan kata lain Ahlul Bait dalam ayat ini adalah pribadi-pribadi yang dijaga dan dihindarkan oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs. Jadi tampak jelas sekali bahwa ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Penyucian ini menetapkan bahwa <strong><em>Mereka Ahlul Bait senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan senantiasa berada dalam kebenaran. Oleh karenanya tepat sekali kalau mereka adalah salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW </strong></p>
<blockquote><p><em>Ra</em><em>sulullah SAW bersabda. <em>“Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“</em><strong><em> <strong>(Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 </strong></em></strong>Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran.</p>
<blockquote><p><em>Bahwa Rasulullah SAW bersabda <em>“Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”</em>.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini menjelaskan bahwa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. <strong><em>Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa&#8217; yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu ada juga hadis</p>
<blockquote><p><em>Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.</em><em>(Hadis riwayat Hakim dalam <em>Mustadrak Ash Shahihain</em> jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan.</p>
<blockquote><p><em>Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.</em><br />
<em>(Hadis riwayat Al Hakim dalam <em>Mustadrak Ash Shahihain </em>jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitu besarnya kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah SAW ini membuat mereka jelas tidak bisa dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Tidak benar jika dikatakan bahwa Ahlul Bait sama halnya sahabat-sahabat Nabi ra<strong><em> </em></strong>sama-sama memiliki keutamaan yang besar karena jelas sekali berdasarkan dalil shahih di atas bahwa Ahlul Bait<strong><em> </em></strong>kedudukannya lebih tinggi karena Mereka adalah tempat rujukan bagi para sahabat Nabi setelah Rasulullah SAW meninggal<strong><em>. </em></strong>Jadi tidak tepat kalau dikatakan Ahlul Bait juga bisa salah, atau sahabat Nabi bisa mengajari Ahlul Bait atau Menyalahkan Ahlul Bait<strong><em>. </em></strong>Sekali lagi<strong><em>, Al Quran dan Hadis di atas sangat jelas menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait akan selalu bersama kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW memerintahkan umatnya(termasuk sahabat-sahabat Beliau SAW) untuk berpegang teguh dengan Mereka Ahlul Bait. </em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=91&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>94</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-kerancuan-tafsir-ibnu-katsir-dkk/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-kerancuan-tafsir-ibnu-katsir-dkk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 09:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-kerancuan-tafsir-ibnu-katsir-dkk/</guid>
		<description><![CDATA[Kerancuan Tafsir Ayat Tathir oleh Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus.
Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus menyatakan bahwa Ahlul bait dalam Ayat Tathir adalah istri-istri Nabi SAW beserta Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Karena menurut mereka hadis-hadis shahih menunjukkan bahwa Ahlul Bait itu tidak terbatas pada istri-istri Nabi SAW.
Hal ini telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=72&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Kerancuan Tafsir Ayat Tathir oleh Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus.</b></p>
<p>Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus menyatakan bahwa Ahlul bait dalam Ayat Tathir adalah istri-istri Nabi SAW beserta Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Karena menurut mereka hadis-hadis shahih menunjukkan bahwa Ahlul Bait itu tidak terbatas pada istri-istri Nabi SAW.<span id="more-72"></span></p>
<p>Hal ini telah dikutip oleh saudara Ja’far dalam tulisannya</p>
<blockquote><p><i>Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa sesungguhnya ayat ini adalah dalil masuknya para istri Nabi SAW dalam ahlul bait karena merekalah yang menjadi sebab turunnya ayat. Dan menurut pendapat shahih, yang termasuk ahlul bait itu adalah mereka ditambah dengan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)</i></p></blockquote>
<p>dan saudara Ja’far juga mengutip Ali As Salus</p>
<blockquote><p><i>Menurut DR.Ali Ahmad As-Salus, Q.S.Al-ahzab ayat 33 tsb berlaku umum yaitu bukan hanya untuk istri nabi saw, tetapi juga untuk Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Jika ayat 33 tsb hanya untuk istri nabi saw maka harusnya digunakan kata jamak perempuan (muannats) yaitu ‘ankunna dan yuthohhirokunna. Alasan mengapa dalam ayat 33 ini digunakan kata jamak laki-laki (Mudzakkar) yaitu ‘ankum (darimu) dan yuthohhirokum (menyucikanmu) adalah karena dalam ayat tsb juga mengacu kepada Ali, Hasan dan Husein. karena Karena jika bentuk Mudzakkar (mengacu pada Ali, Hasan dan Husein) dan Muannats (mengacu Istri-istri Nabi dan Fatimah) berkumpul maka yang digunakan bentuk Mudzakkarnya. Waallahu’alam bishowab.</i></p></blockquote>
<p>Kemudian ketika menafsirkan Ayat tathir tersebut saudara Ja’far menuliskan</p>
<blockquote><p><i>Q.S.Al-Ahzab 33 ini juga tidak menyatakan kemaksuman ahlul bait.<br />
“…Allah bermaksud HENDAK menghilangkan dosa dari kamu..” (Q.S.Al-Ahzab 33).<br />
Ayat ini bukanlah bercerita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah. Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) sehingga bila mereka berbuat dosa maka mereka akan mendapatkan siksaan dua kali lipat dan bila mereka taat maka mereka akan mendapat pahala dua kali lipat. Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa. </i></p></blockquote>
<p>Dimana letak kerancuannya? Saudara Ja’far ketika menafsirkan ayat tathir beliau mengaitkan kesucian itu dengan ayat sebelumnya. Dia menulis</p>
<blockquote><p><i>Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) dan kata-kata Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.</i></p></blockquote>
<p>Seandainya kita berusaha menafsirkan Ayat Tathir dengan melihat ayat-ayat sebelumnya, seperti yang dikatakan saudara Ja’far</p>
<blockquote><p><i>Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah.</i></p></blockquote>
<p>Berarti kesucian dalam Ayat Tathir itu berkaitan dengan syariat Allah yang ditetapkan oleh ayat sebelumnya atau jika pribadi-pribadi yang dimaksud dalam Ayat Tathir itu melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah pada ayat-ayat sebelumnya maka mereka akan mendapat kesucian yang dikehendaki allah SWT untuk mereka. Nah letak kejanggalannya adalah Ketentuan yang dimaksud itu adalah</p>
<blockquote><p>•    Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik<br />
•    Hendaklah kamu tetap di rumahmu<br />
•    Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu<br />
•    Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.</p></blockquote>
<p>Semua ketentuan ini selain yang terakhir adalah ketentuan khusus wanita dalam hal ini istri-istri Nabi SAW, jadi bagaimana bisa itu dikaitkan dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Padahal jelas sekali Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ali As Salus menyatakan bahwa mereka juga termasuk Ahlul Bait dalam ayat tersebut dan ini yang dikutip oleh saudara Ja’far.</p>
<p>Bukankah dia saudara Ja’far menulis</p>
<blockquote><p><i>Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas.</i></p></blockquote>
<p>Lalu apa sebenarnya makna kesucian bagi Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain?.</p>
<p>Mungkin saudara Ja’far akan berkata seperti yang dia kutip dari Ibnu Taimiyyah,</p>
<blockquote><p><i>Ibnu Taimiyah berkata bahwa ayat ke-33 surat Al-Ahzab bukanlah berita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Dalam ayat ini justru terdapat perintah yang wajib dilaksanakan oleh Ahlul Bait (Al-Muntaqa)..yaitu perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa.</i></p></blockquote>
<p>Maka kita dapat bertanya dari mana dalilnya bahwa perintah yang dimaksud untuk Ahlul Bait itu adalah perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa. Apakah anda melihat perintah Allah dalam ayat <i>Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33).</i> Jelas tidak ada perintah apapun dalam ayat ini, kemudian apakah anda akan berkata bahwa perintah itu ada pada ayat-ayat sebelumnya. Kalau begitu maka kerancuannya juga sama, perintah pada ayat sebelumnya jelas perintah khusus untuk wanita. Lantas apa kaitannya dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.</p>
<p>Kemudian saudara Ja’far menuliskan</p>
<blockquote><p><i>Jumhur ulama AhluSunnah tidak setuju bahwa Ahlul Bait Nabi SAW hanya terbatas pada keturunan Fatimah r.a.</i></p></blockquote>
<p>Jawab saya: saya tidak tahu darimana dalilnya pernyataan ini. Padahal telah jelas dari Rasulullah SAW bahwa Ahlul Bait Nabi SAW adalah Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Jika istri-istri Nabi SAW, keluarga Aqil, Ja’far dan Abbas juga disebut Ahlul Bait maka sebutan itu adalah dari segi bahasa saja yaitu mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi SAW. Sedangkan istilah Ahlul Bait yang berkaitan dengan keutamaan mereka jelas ditujukan kepada Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as beserta keturunan Sayyidah Fathimah as yang memiliki nasab dengan Nabi SAW.</p>
<p><i>Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Setiap Sebab dan Nasab akan putus pada hari kiamat kecuali Sebab dan NasabKu”.(Hadis riwayat Hakim dalam Al Mustadrak jilid III hal 142,Thabrani, Al Haitsami dalam Al Majma Az Zawaid jilid 9 hal 173  dimana Rijalnya(perawinya) tsiqat dan hadis dalam Siyar A’lam An Nubala jilid III hal 500. Hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Hasan As Saqqaf dalam  Shahih Sifat Shalat An Nabiy).</i></p>
<p>Kemudian penulis mengutip pernyataan Al Hakim</p>
<blockquote><p><i>Bahkan, Al-Hakim, ulama dan ahli hadis AhluSunnah yang banyak meriwayatkan hadis keutamaan-keutamaan Ali tidak pernah menganggap ahlul bait seperti dalam pemahaman Syi’ah. Al-Hakim berkata, “Yang dimaksud dengan ahlul bait disini adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al-Qur’an. Adapun orang yang bodoh, atau orang alim yang bercampur dengan kemaksiatan, mereka itu adalah orang yang asing dalam posisi ini.”</i></p></blockquote>
<p>Jelas sekali Syiah ketika berbicara tentang Ahlul Bait adalah mereka yang dimuliakan Allah SWT dalam hadis Tsaqalain dan Ayat Tathiir dan pernyataan mereka dalam hal ini memiliki dalil yang kuat.</p>
<p>Sedangkan pernyataan Al Hakim(jika benar dia berkata seperti itu, pernyataan ini sebenarnya ada dalam <i>Imamah dan Khilafah</i> Ali As Salus) bahwa Ahlul Bait adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al Quran jelas membutuhkan dalil dari mana dasarnya itu, kalau Cuma sekedar pendapat yang didasari dugaan bahwa ulama adalah orang yang tidak meninggalkan Al Quran maka ini tidak bisa menjadi hujjah sama sekali. <i>Ulama adalah orang yang berusaha untuk tidak meninggalkan Al Quran bukan orang yang selalu bersama dengan Al Quran. Ada bedanya itu. </i></p>
<p>Atau tulisan saudara Ja’far bahwa</p>
<blockquote><p><i>Asy-Syarif berkata, “Hadis ini memberikan pengertian tentang adanya orang dari ahlul bait yang suci yang pantas dijadikan pedoman dalam setiap masa sampai hari kiamat. Begitu juga Al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka mendatangkan kesejahteraan terhadap penduduk bumi. Dan jika mereka pergi, maka hilanglah ketentraman penduduk bumi”.</i></p></blockquote>
<p>Hadis yang dimaksud adalah hadis tsaqalain dan anehnya justru pengertian Asy Syarif seperti ini menjadi hujjah bagi Syiah bahwa harus berpegang dan berpedoman kepada Imam-imam Ahlul Bait as. Kalau ditujukan kepada Sunni maka saya dapat bertanya memangnya siapa diantara ahlul bait suci yang dijadikan pedoman dalam setiap masa oleh Sunni?. <i>Salam damai<br />
</i></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=72&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-kerancuan-tafsir-ibnu-katsir-dkk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan istri-istri Nabi SAW)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-ahlul-bait-dalam-ayat-tathir-bukan-istri-istri-nabi-saw/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-ahlul-bait-dalam-ayat-tathir-bukan-istri-istri-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 09:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-ahlul-bait-dalam-ayat-tathir-bukan-istri-istri-nabi-saw/</guid>
		<description><![CDATA[Ayat Tathir Surah Al Ahzab 33 Bukan Untuk Istri-istri Nabi SAW.
Telah dibuktikan dalam hadis-hadis shahih bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hal ini bisa dilihat dari


Hadis Shahih Sunan Tirmidzi menyatakan Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah  yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=71&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Ayat Tathir Surah Al Ahzab 33 Bukan Untuk Istri-istri Nabi SAW.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Telah dibuktikan dalam hadis-hadis shahih bahwa ayat <em>Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)</em> adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hal ini bisa dilihat dari</p>
<blockquote>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> menyatakan Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah  yang berkata, <em>“ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah</em>. Dari hadis tersebut diketahui ayat ini turun berkaitan  dengan peristiwa penyelimutan Ahlul Bait SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.</li>
<li style="text-align:justify;"> Hadis riwayat An Nasai dalam <em>Khashaish Al Imam Ali</em> hadis 51 dan dishahihkan oleh Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsari. Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash Dan ketika ayat <em>&#8216;Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33)” turun</em> Beliau SAW  memanggil Ali,Fathimah,Hasan dan Husain lalu bersabda Ya Allah mereka adalah keluargaku”.<span id="more-71"></span></li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis-hadis tersebut jelas menyatakan bahwa ayat <em>Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)</em> turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya dan ditujukan untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em> itu juga menjelaskan bahwa Ayat Tathir jelas tidak ditujukan untuk Istri-istri Nabi SAW. Bukti hal ini adalah</p>
<blockquote>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Pertanyaan Ummu Salamah</em></strong>, jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah</em></strong>, Beliau SAW bersabda <em>“ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”</em>. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri.</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Untuk meyakinkan mari kita lihat Asbabun Nuzul ayat sebelum Ayat Tathir yaitu Al Ahzab ayat 28 dan 29 <em>“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28). Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar (29). </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> As Suyuthi, Beliau membawakan riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i yang berkenaan turunnya ayat ini, riwayat itu jelas berkaitan dengan peristiwa lain(bukan penyelimutan) dan ditujukan kepada istri-istri Nabi SAW.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu Bakar meminta izin berbicara kepada Rasulullah SAW akan tetapi ditolaknya. Demikian juga Umar yang juga ditolaknya. Tak lama kemudian keduanya diberi izin masuk di saat Rasulullah SAW duduk terdiam dikelilingi istri-istrinya(yang menuntut nafkah dan perhiasan). Umar bermaksud menggoda Rasulullah SAW agar bisa tertawa dengan berkata “ya Rasulullah SAW sekiranya putri Zaid, istriku minta belanja akan kupenggal lehernya”.<br />
</em><br />
<em>Maka tertawa lebarlah Rasulullah SAW dan bersabda “Mereka ini yang ada disekelilingku meminta nafkah kepadaku”. Maka berdirilah Abu Bakar menghampiri Aisyah untuk memukulnya dan demikian juga Umar menghampiri Hafsah sambil keduanya berkata “Engkau meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW”. Maka Allah menurunkan ayat “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28) sebagai petunjuk kepada Rasulullah SAW agar istr-istrinya menentukan sikap. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Beliau mulai bertanya kepada Aisyah tentang pilihannya dan menyuruh bermusyawarah lebih dahulu dengan kedua ibu bapaknya . Aisyah menjawab “Apa yang mesti kupilih?”. Rasulullah SAW membacakan ayat Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar (29). Dan Aisyah menjawab “Apakah soal yang berhubungan dengan tuan mesti kumusyawarahkan dengan Ibu Bapakku? Padahal aku sudah menetapkan pilihanku yaitu Aku memilih Allah dan RasulNya”.(diriwayatkan oleh Muslim, ahmad dan Nasa’i dari Abiz Zubair yang bersumber dari Jubir)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu jelas sekali kekeliruan saudara Ja’far dalam tulisannya, dimana dia berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em> “Lihatlah bahwasanya ayat-ayat sebelum (Q.S.Al-Ahzab 28-32) dan sesudah (Q.S.Al-Ahzab 34) dari ayat 33 bercerita tentang istri Nabi SAW, maka tidak mungkin secara logika ayat 33 tsb menyimpang topiknya (mengkhususkan tentang Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) padahal ayat 33 tsb ada ditengah-tengah ayat-ayat yang bercerita tentang istri Nabi SAw. Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas”.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawab saya :Berdasarkan hadis Asbabun Nuzul yang shahih maka didapati bahwa Ayat Tathir turun berkaitan dengan peristiwa lain yang tidak berhubungan dengan istri-istri Nabi SAW. Hal ini berbeda dengan ayat sebelumnya yang memang ditujukan terhadap istri-istri Nabi SAW.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi <em>”dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (33)”.</em> Telah jelas berdasarkan hadis <em>Shahih Sunan Tirmidzi </em>bahwa ayat  <em>Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya </em>turun khusus ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW. Jadi bisa disimpulkan kalau penggalan pertama Al Ahzab 33 memang ditujukan untuk Istri-istri Nabi SAW sedangkan penggalan terakhir berdasarkan dalil shahih turun sendiri dan ditujukan untuk pribadi-pribadi yang lain. Hal ini bisa saja terjadi jika ada dalil shahih yang berkata demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Ja’far menolak hal ini dengan berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Jelas sekali pangkal ayat 33 tsb mengacu pada para istri Nabi SAW. Atau kata-katanya maka tidak mungkin secara logika ayat 33 tsb menyimpang topiknya (mengkhususkan tentang Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) padahal ayat 33 tsb ada ditengah-tengah ayat-ayat yang bercerita tentang istri Nabi SAW.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mungkin Secara logika Penulis adalah wajar jika satu ayat biasanya diturunkan secara keseluruhan. Hal ini memang benar tetapi satu ayat Al Quran juga  bisa diturunkan dengan sepenggal-sepenggal dan berkaitan dengan peristiwa yang berlainan karena memang ada dalil shahih yang menunjukkan demikian. Ayat Tathir di atas jelas salah satunya. Mari kita lihat contoh lain yaitu Al Maidah ayat 3 dan 4.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaku. <strong>Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. </strong>Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al Maidah ayat 3).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Penggalan Al Maidah ayat 3 yaitu <em>Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu</em> berdasarkan dalil yang shahih turun di arafah dan ayat ini masyhur sebagai ayat Al Quran yang terakhir kali turun. Saya akan mengutip hadis yang sebelumnya pernah ditulis oleh saudara Ja’far</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)<br />
</em><br />
Dalam kitab <em>Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> As Suyuthi berkenaan dengan Al Maidah ayat 3 membawakan riwayat Ibnu Mandah dalam <em>Kitabus Shahabah</em> dari Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar dari bapaknya yang bersumber dari datuknya yaitu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Hibban sedang menggodog daging bangkai, Rasulullah SAW ada bersamanya. Maka turunlah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang.</em> Riwayat ini jelas berkaitan dengan peristiwa yang berbeda dengan peristiwa hari arafah tetapi ayat yang dimaksud jelas sama-sama Al Maidah ayat 3. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Al Maidah ayat 3 turun sepenggal-sepenggal dan penggalan <em>“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” </em>turun di Arafah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat Al Maidah ayat 4, <em>Mereka menyakan kepadamu :Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya.(Al Maidah ayat 4).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em>, As Suyuthi berkenaan dengan Al Maidah ayat 4 membawakan riwayat Ath Thabrani, Al Hakim, Baihaqi dan lainnya bersumber dari Abu Rafi’, riwayat Ibnu Jarir dan riwayat Ibnu Abi Hatim.<br />
<em>Dikemukakan bahwa Adi bin Hatim dan Zaid bin Al Muhalhal bertanya kepada Rasulullah SAW ”kami tukang berburu dengan anjing dan anjing suku bangsa dzarih pandai berburu sapi, keledai dan kijang, padahal Allah telah mengharamkan bangkai. Apa yang halal bagi kami dari hasil buruan itu? Maka turunlah Al Maidah ayat 4 yang menegaskan hukum hasil buruan.(riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan riwayat-riwayat di atas Al Maidah ayat 3 dan 4 diturunkan berkaitan dengan makanan yang halal dan haram tetapi di tengah-tengah ayat tersebut terselip pembicaraan lain yaitu <em>“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”</em>. Padahal telah jelas bahwa ayat ini diturunkan di arafah sebagai tanda bahwa agama Islam telah sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat baik-baik Al Maidah ayat 4 turun setelah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai, ini dilihat dari kata-kata <em>padahal Allah telah mengharamkan bangkai </em>pada hadis asbabun Nuzul Al Maidah ayat 4 riwayat Ibnu Abi Hatim di atas. Oleh karena itu ketika Al Maidah ayat 3 turun mengharamkan bangkai, penggalan <em>“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”</em> belum turun karena Al Maidah ayat 4 turun setelah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seandainya penggalan ini turun bersamaan dengan pengharaman bangkai maka tidak akan ada syariat lain lagi yang diturunkan karena agama Islam telah sempurna tetapi kenyataannya setelah pengharaman bangkai Al Maidah ayat 3 diturunkan Al Maidah ayat 4 tentang apa yang dihalalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Bahwa Ayat Tathir ini dikhususkan untuk Ahlul Kisa’ saja yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW tidak hanya dinyatakan oleh Syiah saja. Bahkan ada Ulama Sunni yang berpandangan demikian. Ulama Sunni yang dimaksud yaitu</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Abu Ja’far Ath Thahawi (yang terkenal dengan karyanya <em>Aqidah Ath Thahawiyah</em>) juga menyatakan hal yang serupa dalam karyanya <em>Musykil Al Atsar</em> jilid I hal 332-339 dalam pembahasannya tentang hadis-hadis Ayat Tathir dimana dia berkata <em>”Karena maksud sebenarnya dari ayat suci ini hanyalah Rasulullah SAW sendiri, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain mereka”.</em></li>
<li style="text-align:justify;"> Sayyid Alwi bin Thahir dalam kitab <em>Al Qaulul Fashl</em> jilid 2 hal 292-293 mengutip pernyataan Sayyid Ali As Samhudi yang menyatakan bahwa Ayat Tathir khusus untuk Ahlul Kisa’ dan bukan istri-istri Nabi SAW.</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=71&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-bait-ahlul-bait-dalam-ayat-tathir-bukan-istri-istri-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-baitahlul-bait-dalam-ayat-tathir/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-baitahlul-bait-dalam-ayat-tathir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 09:03:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-baitahlul-bait-dalam-ayat-tathir/</guid>
		<description><![CDATA[Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33
Dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 33 terdapat ayat tentang keutamaan Ahlul Bait as, Ayat yang lebih dikenal dengan nama Ayat Tathir. Ayat tersebut berbunyi
Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33).
Sesungguhnya Allah Berkehendak Menghilangkan Dosa Dari Kamu Wahai Ahlul Bait Dan Menyucikan Kamu Sesuci-sucinya.
Ayat ini adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=70&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33</b></p>
<p>Dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 33 terdapat ayat tentang keutamaan Ahlul Bait as, Ayat yang lebih dikenal dengan nama Ayat Tathir. Ayat tersebut berbunyi</p>
<p><i>Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33).</i><br />
<i>Sesungguhnya Allah Berkehendak Menghilangkan Dosa Dari Kamu Wahai Ahlul Bait Dan Menyucikan Kamu Sesuci-sucinya.</i><span id="more-70"></span></p>
<p>Ayat ini adalah potongan atau penggalan dari Al Ahzab ayat 33. Terjadi cukup banyak perbedaan pendapat seputar penafsiran ayat ini. Perbedaan itu meliputi dua hal yaitu</p>
<blockquote><p>•    Siapa Ahlul Bait dalam Ayat ini<br />
•    Apa maksud ayat ini atau Penafsiran Ayat ini.</p></blockquote>
<p>Saudara Ja’far dalam tulisannya berkata</p>
<blockquote><p><i>Syi’ah berpendapat bahwasanya Ahlul bayt Nabi SAW sesuai dengan Asbabun Nuzul ayat di atas adalah terkhusus kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husein -semoga Allah meridhoi mereka-.</i></p></blockquote>
<p>Menurut saya pernyataan bahwa Ahlul Bait dalam Ayat Tathir terkhusus kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as jelas memiliki dasar dan dalil yang kuat di sisi Sunni.<br />
Dalil yang saya maksud adalah terdapat hadis-hadis yang shahih yang menjelaskan bahwa Ayat Tathir ini dikhususkan kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Dalil ini yang ditolak oleh saudara Ja’far dalam tulisannya.<br />
Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.</p>
<blockquote><p>•    Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.<br />
•    Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.</p></blockquote>
<p>Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut.</p>
<p>Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.</p>
<p>Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.</p>
<p>Ayat Tathir ternyata memiliki dalil shahih tentang Asbabun Nuzulnya dan ternyata berdasarkan Asbabun Nuzulnya Ayat Tathir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as,Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Terdapat hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam <i>Sunan Tirmidzi.</i></p>
<p><i>Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah  yang berkata, <b>“ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33).</b> Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Siti Fathimah,Hasan dan Husain,lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871). </i></p>
<p>Saudara Ja’far dengan mudahnya mengabaikan hadis ini seraya berkata</p>
<blockquote><p><i>”Tapi menurut Tirmidzi, hadis ini gharib”.</i></p></blockquote>
<p>Jawab saya: Memang benar Tirmidzi berkata hadis ini gharib tetapi perkataan ini jelas tidak menunjukkan bahwa hadis ini dhaif. Pernyataan gharib Tirmidzi dari segi sanad menunjukkan bahwa hadis tersebut bersumber dari satu perawi dan tidak ada jalan lain<i>(ini menurut Tirmidzi, karena ada banyak jalan lain dari hadis ini dalam kitab-kitab hadis yang lain).<br />
</i><br />
Pernyataan gharib ini jelas tidak berarti hadis tersebut dhaif. Hadis ini jelas bersanad shahih. Hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam <i>Shahih Sunan Tirmidzi</i> hadis no 3205 dan 3781. Selain itu hadis ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Hasan As Saqqaf dalam <i>Shahih Sifat Shalat An Nabiy.</i> Jelas sekali penulis(saudara Ja’far) keliru dalam menilai hadis tersebut.</p>
<p>Selain itu penulis juga terburu-buru dalam masalah ini sehingga mengabaikan hadis lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam <i>Sunan Tirmidzi Kitab Al Manaqib </i>dimana beliau justru menyatakan hadis itu shahih.</p>
<p><i>Ummu Salamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menutupi Hasan,Husain, Ali dan Fathimah dengan Kisa dan menyatakan, “wahai Allah ,mereka adalah Ahlul BaitKu dan yang terpilih .Hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka”. Ummu Salamah berkata “aku bertanya kepada Rasulullah SAW ,wahai Rasulullah SAW ,apakah aku termasuk di dalamnya? Beliau menjawab “engkau berada dalam kebaikan (tetapi tidak termasuk golongan mereka)”. </i></p>
<p>At Turmudzi menulis di bawah hadis ini ,<i>”Hadis ini shahih dan bersanad baik ,serta hadis terbaik yang pernah dikutip mengenai hal ini&#8221;.</i> Dari sini dapat diketahui ternyata penulis(saudara Ja’far) juga keliru ketika berkata</p>
<blockquote><p><i> ”Mungkin inilah yang menyebabkan tirmidzi mengatakan hadis tsb gharib yaitu karena ada tambahan kata-kata tersebut”.</i></p></blockquote>
<p>Buktinya hadis di atas tetap dikatakan shahih meski terdapat kata-kata Ummu Salamah, ini jelas memperkuat pernyataan saya sebelumnya bahwa gharib yang dimaksud adalah gharib dari segi sanadnya.</p>
<p>Tidak hanya hadis riwayat Tirmidzi bahkan dalam hadis riwayat Ibnu Jarir dalam <i>Tafsir Ath Thabari</i> saudara Ja’far juga terburu-buru mendhaifkan hanya berdasarkan pendapat Ali As Salus dalam <i>Imamah dan Khilafah</i>. Saudara Ja’far menuliskan</p>
<p><i>Dalam ath-tabari juga ada hadis yang tidak berasal dari Athiyah yaitu : Abu Kuraib bercerita dari Khalid bin Mukhalid, dari Musa bin Ya’qub, dari Hisyam bin Uqbah bin Abi Waqqash, dari Abdullah bin Wahb bin Zam’ah, ia berkata, “Ummu salamah memberi tahu kepadaku: “Sesungguhnya Rasulullah SAW mengumpulkan Ali dan Husein kemudian beliau memasukkan ke bawah bajunya lalu berseru kepada Allah seraya berkata ‘Mereka Ahlul-Baitku!’ Maka Ummu salamah berkata, ‘Ya Rasulullah! Masukkanlah saya bersama mereka. Nabi Saw berkata, ‘Sesungguhnya kamu termasuk keluargaku.”<br />
DR.Ali Ahmad As-Salus dalam buku “Imamah dan Khilafah” menjelaskan panjang lebar sanad hadis tersebut, bahwasanya hadis tsb dhaif yaitu terdapat Khalid bin Mukhalid yang dinilai dhaif.<br />
</i><br />
Benarkah Khalid bin Mukhallid dinilai dhaif?. Dalam <i>Hadi As Sari</i> Ibnu Hajar Al Asqalani jilid 2 hal 163, Ibnu Hajar justru menta’dilkan Khalid bin Mukhallid Al Qatswani.</p>
<blockquote><p>•    Ibnu Hajar berkata <i>”Para pemuka dan guru-guru Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Khalid. Imam Bukhari juga meriwayatkan satu hadis darinya”. </i><br />
•    Menurut Al Ajli, <i>Khalid tsiqat tapi bertasyayyu’</i><br />
•    Shalih bin Jazarah berkata <i>”Khalid itu tsiqat tetapi ia dituduh pemuja Ali yang ekstrim”.</i><br />
•    Menurut Ahmad, <i>Khalid jujur tapi bertasyayyu’</i><br />
•    Abu Dawud juga menilai <i>Khalid jujur tapi bertasyayyu’</i><br />
•    Abu Hatim berkata <i>”Hadisnya bisa ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujjah”</i><br />
•    Ibnu Saad berkata <i>”Ia seorang Syiah yang berlebih-lebihan”.</i></p></blockquote>
<p>Jelas sekali bahwa <i>Khalid adalah seorang tsiqat dan jujur</i>. Sedangkan celaan untuknya hanyalah dia tasyayyu’, dituduh pemuja Ali yang ekstrim dan seorang Syiah yang berlebih-lebihan. Oleh karena itulah Abu Hatim berkata tidak bisa dijadikan hujjah. Hal ini jelas tidak benar karena Khalid justru dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam <i>Shahih Bukhari</i>. Jarh terhadap Khalid yang dituduh Syiah ekstrim atau berlebihan telah ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan menyatakan bahwa Khalid hanya bertasyayyu’ dan itu tidak merusak hadisnya atau tidak membahayakan.</p>
<p>Khalid jelas telah dinyatakan tsiqat dan jujur, oleh karenanya jarh terhadap Khalid harus disertai alasan yang kuat. Pernyataan bahwa beliau seorang Syiah jelas tidak menjatuhkan kredibilitas Beliau karena cukup banyak perawi kitab shahih yang dituduh Syiah tetapi tetap dinyatakan tsiqat atau diterima hadisnya.  Jadi hadis dalam <i>Tafsir Ath Thabari</i> itu adalah shahih tidak dhaif seperti yang dikatakan oleh Ali As Salus dan dikutip oleh saudara Ja’far.</p>
<p>Mengenai hadis riwayat lain dalam <i>Tafsir Ath Thabari</i> yang dinyatakan dhaif oleh penulis(saudara Ja’far) karena kedudukan Athiyyah. Maka saya jawab: Athiyyah memang dikenal dhaif tetapi beliau juga dita’dilkan oleh Ibnu Saad dan Yahya bin Main. Selain itu Athiyyah adalah perawi Bukhari dalam <i>Adab Al Mufrad</i> dan perawi dalam kitab <i>Sunan</i>. Oleh karena itu pendapat yang benar tentang Athiyyah adalah hadis beliau memang tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat ditulis dan dijadikan I’tibar atau riwayat pendukung.</p>
<p>Jadi hadis riwayat Athiyyah ini hanyalah pendukung dari riwayat lain yang shahih. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya menerima riwayat Athiyyah tentang Ayat Tathir ini walaupun pada saat yang lain saya tidak menerima riwayat Athiyyah(riwayat ayat tabligh misalnya, karena saya belum menemukan sanad yang shahih tentang ayat tabligh ini).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=70&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-ahlul-baitahlul-bait-dalam-ayat-tathir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 07:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/</guid>
		<description><![CDATA[Ayat Tabligh
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S.Al-Ma’idah : 67)
Berkenaan dengan ayat ini penulis berkata
Ayat ini dinamakan Syi’ah sebagai ayat tabligh, karena menurut Syi’ah dengan ayat ini Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=65&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ayat Tabligh<br />
<i>“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S.Al-Ma’idah : 67)</i><span id="more-65"></span></p>
<p>Berkenaan dengan ayat ini penulis berkata</p>
<blockquote><p>Ayat ini dinamakan Syi’ah sebagai ayat tabligh, karena menurut Syi’ah dengan ayat ini Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan hal yang sangat penting bagi umat islam yaitu penunjukkan dan pengangkatan Ali r.a sebagai pengganti beliau. Peristiwa pengangkatan ini menurut syi’ah terjadi di Ghadir Kum sepulang dari haji Wada’ tanggal 18 Dzulhijjah.</p></blockquote>
<p>Pernyataan ini memang cukup banyak ditemukan dalam literatur hadis Syiah dari para Imam Ahlul Bait as.</p>
<p>Kemudian mengenai literatur dalam sumber Sunni, Ulama Syiah cenderung menyatakan bahwa pendapat ini juga pendapat kebanyakan ahli tafsir Sunni. Hal ini yang dibantah oleh Penulis tersebut dalam menanggapi Syaikh Muhammad Mar’i al-Amin an-Antaki, seorang bekas Qadhi Besar Mazhab Syafi’i di Halab, Syria, seorang yang masuk syi’ah dalam karyanya Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait) . Dalam buku itu Syaikh Mar’i Al Amin berkata <i>“Semua ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS bagi melaksanakan urusan Imamah.” lalu tulisnya lagi “…Aku berpendapat sebenarnya para ulama Islam telah bersepakat bahwa ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5):67) telah diturunkan kepada ‘Ali AS secara khusus bagi mengukuhkan khalifah untuknya. Di hari tersebut riwayat hadith al-Ghadir adalah Mutawatir. Ianya telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah dan ahli Hadith dari berbagai golongan dan ianya telah diperakukan oleh ahli Hadith dari golongan Sunnah dan Syi’ah”.</i></p>
<p>Sang penulis benar-benar tidak setuju dengan pernyataan ini sehingga dia berkata</p>
<blockquote><p> Benarkah bahwa hadis Al-Ghadir adalah mutawatir? Semua ahli tafsir Sunnah sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali r.a di Ghadir Kum? Sungguh kebohongan yang amat besar !.</p></blockquote>
<p>Jawaban saya Hadis Al Ghadir benar mutawatir, dan memang semua ahli tafsir sunnah tidak sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali ra di Ghadir Kum. Yang benar adalah memang ada riwayat tentang turunnya ayat ini untuk Imam Ali di dalam literatur Sunni yaitu dalam <i>Tafsir Ibnu Abi Hatim</i> dalam tafsir Al Maidah ayat 67, Al Wahidi dalam <i>Asbabun Nuzul</i> Al Maidah ayat 67 dan <i>Tarikh Ibnu Asakir</i> dalam bab biografi Ali bin Abi Thalib.Yang kesemuanya <i>berpangkal dari sanad Ali bin Abas dari Amasy dari Athiyah dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Diturunkan ayat ini: “Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” [al-Maidah 5:67] ke atas Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam pada Hari Ghadir Khum berkenaan ‘Ali bin Abi Thalib.</i><br />
Sanad hadis ini diperselisihkan oleh ulama sunni dan syiah. Kebanyakan ahli hadis Sunni menyatakan riwayat ini dhaif karena pada sanadnya terdapat Athiyah bin Sa’ad al Junadah Al Aufi. Dalam <i>Mizan Al ‘Itidal</i> jilid 3 hal 79 didapat keterangan tentang Athiyah</p>
<blockquote><p>•    Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah <i>seorang tabiin yang dikenal dhaif </i><br />
•    Abu Hatim berkata <i>hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis</i><br />
•    An Nasai juga menyatakan <i>Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif</i><br />
•    Abu Zara’ah juga memandangnya <i>lemah.</i><br />
•    Menurut Abu Dawud A<i>thiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan.</i><br />
•    Menurut Al Saji <i>hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. </i><br />
•    Salim Al Muradi menyatakan bahwa <i>Athiyyah adalah seorang syiah. </i><br />
•    Abu Ahmad bin Adiy berkata <i>walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis.</i></p></blockquote>
<p>Oleh karena itu tidak berlebihan kalau ahli hadis sunni menyatakan hadis tersebut dhaif. Tetapi ulama syiah menolak hal ini dengan menyatakan bahwa Athiyyah adalah perawi yang dipercaya di sisi Syiah bahkan ada ulama Sunni yang menta’dilkan beliau.</p>
<blockquote><p>•    Dalam  Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 7 hal 220 Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Athiyyah, <i>&#8220;Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu&#8217;in bahwa &#8216;Athiyyah adalah seorang yang saleh.&#8221; </i>Selain itu dalam <i>Mizan Al ‘Itidal </i> ketika Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah ,ia menjawab <i>“Bagus”.</i><br />
•    Dalam <i>Tahdzîb at-Tahdzîb</i> jilid 2 hal 226 dan <i>Mizan Al ‘Itidal </i>jilid 3 hal 79, Ibnu Saad memandang <i>Athiyyah tsiqat, dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik, sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah.</i><br />
•    Sibt Ibnul Jauzi(cucu Ibnu Jauzi) dalam kitabnya <i>Tadzkhiratul Khawass</i> memandangnya <i>sebagai perawi yang bisa dipercaya.</i><br />
•    Athiyyah bin Sa’ad adalah perawi Bukhari dalam <i>Adab Al  Mufrad</i>, perawi dalam <i>Sunan Nasa’i, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah</i> dan <i>Musnad Ahmad bin Hanbal.</i></p></blockquote>
<p>Sebenarnya juga tidak berlebihan kalau Ulama Syiah memandang Athiyyah sebagai perawi yang tsiqat apalagi dalam literatur mereka Athiyyah memang perawi syiah yang tsiqat. Oleh karena itu ulama syiah menolak pernyataan dhaif kepada Athiyyah, mereka berkata itu hanyalah kecenderungan Sunni untuk mendhaifkan perawi yang bermahzab syiah.  Mengapa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh sebagian kalangan?dan mengapa riwayatnya tidak diterima oleh sebagian Ulama Sunni, Jawabannya karena</p>
<blockquote><p>•    Athiyyah adalah perawi yang bermahzab syiah dan mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Dan biasanya riwayat seorang perawi Syiah tentang mahzabnya ditolak oleh Ulama Sunni<br />
•    Athiyyah dipandang dhaif karena sifat tadlis. Dalam <i>Tahdzib at Tahzib</i> dan <i>Mizan Al ‘Itidal</i>, ketika membicarakan Athiyyah dan riwayatnya dari Abu Said, Ahmad menyatakan bahwa hadis Athiyyah itu dhaif, beliau berkata <i>“Sampai kepadaku berita bahwa Athiyyah belajar tafsir kepada Al Kalbi dan memberikan julukan Abu said kepadanya ,Agar dianggap Abu said Al Khudri.”.</i> Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ibnu Hibban <i>“Athiyyah mendengar beberapa hadis dari Abu said Al Khudri. Setelah Al Khudri ra meninggal ,ia belajar hadis dari Al Kalbi. Dan ketika Al Kalbi berkata Rasulullah SAW bersabda ‘demikian demikian’maka Athiyyah menghafalkan dan meriwayatkan hadis itu dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Said. Oleh sebab itu jika Athiyyah ditanya siapakah yang menyampaikan hadis kepadamu?maka Athiyyah menjawab Abu Said. Mendengar jawaban ini orang banyak mengira yang dimaksudkannya adalah Abu Said Al Khudri ra, padahal sebenarnya Al Kalbi”.</i></p></blockquote>
<p>Sayangnya kedua alasan ini tidak diterima oleh Ulama Syiah, tentang alasan pertama mereka berkata itu sangat subjektif bukankah tidak ada salahnya kalau perawi tersebut meyakini apa yang ia riwayatkan. Singkatnya seperti ini Ulama Sunni jelas dari awal menganggap Syiah itu ahlul bid’ah oleh karenanya riwayat yang mendukung mahzab syiah mesti ditolak, menurut Ulama Sunni perawi syiah jelas sekali akan membuat riwayat yang mendukung mahzab mereka. Sedangkan ulama Syiah jelas tidak terima dinyatakan seperti itu makanya mereka bilang ulama sunni subjektif. Bukankah juga  mungkin karena meyakini riwayat(yang katanya mendukung mahzab syiah) maka perawi itu lantas berpegang pada mahzab Syiah.</p>
<p>Alasan yang kedua juga tidak mematikan hujjah ulama Syiah karena mereka dapat berkata apa buktinya pernyataan Ahmad dan Ibnu Hibban itu benar, bukankah bisa saja itu hanya sekedar kabar-kabar yang disebarkan untuk mendiskreditkan Athiyyah, Dalam <i>Tahdzîb at-Tahdzîb</i> jilid 2 hal 226 Ibnu Hajar Al&#8217;Asqalani telah berkata,<br />
<i>Ibnu Sa&#8217;ad telah berkata, &#8220;Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy&#8217;ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan &#8216;Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun &#8216;Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian &#8216;Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. &#8216;Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”</i></p>
<p>Ada sebuah kemungkinan bahwa Athiyyah adalah orang yang dikenal tsiqat pada saat itu tetapi mungkin karena sikap terang-terangannya dalam memuliakan Imam Ali di atas sahabat yang lain sampai-sampai mengundang kecurigaan dari bani Umayyah. Oleh karenanya mungkin untuk menjatuhkan beliau disebarkanlah kabar-kabar yang mendiskreditkan beliau. Sayangnya ini adalah sebuah kemungkinan dan belum bisa dibuktikan. Baik Ulama Sunni dan Ulama Syiah dipengaruhi kecenderungan masing-masing dalam melihat pribadi Athiyyah.</p>
<p>Lantas mengapa Ulama Syiah berkeras bahwa riwayat turunnya ayat Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 berkenaan peristiwa Al Ghadir adalah mutawatir di sisi Sunni? Jawabannya adalah mereka Ulama Syiah ketika menyebut riwayat turunnya Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 sering merujuk ke kitab-kitab yang seringkali sulit dirujuk oleh Ulama Sunni seperti kitab <i>Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir</i> Ath Thabari. Kitab ini dibuat Ath Thabari pada akhir-akhir hidupnya dan sayangnya sekarang sudah tidak bisa ditemukan lagi. Yang ada hanyalah kitab-kitab yang memuat kutipan dari kitab Ath Thabari tersebut. Memang kitab-kitab yang mengutip kitab Ath Thabari itu kebanyakan adalah kitab-kitab Ulama Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena Ulama Syiah punya kecenderungan kuat untuk memelihara riwayat-riwayat Al Ghadir sebagai hujjah mereka terhadap Sunni.</p>
<p>Sayangnya kitab Ath Thabari ini sudah tidak ada lagi disisi Sunni, entahlah apa sebabnya kitab ini bisa tidak terpelihara di sisi Sunni. Oleh karenanya ketika Ulama Syiah berhujjah dengan riwayat dalam kitab ini maka Ulama Sunni sekarang mentah-mentah menolaknya. Lucunya mereka Ulama Sunni berkata  bahwa itu hanyalah buatan-buatan Syiah saja, atau ada yang menuduh Ath Thabari itu Syiah dan yang berlebihan menuduh kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir itu dibuat oleh Syiah dan mengatasnamakan Ath Thabari. Padahal terdapat bukti yang jelas bahwa kitab <i>Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadi</i>r adalah benar-benar eksis dulunya dan merupakan hasil karya Ibnu Jarir Ath Thabari yang Sunni.</p>
<p>Penolakan terhadap kitab Ath Thabari ini juga didasari bahwa dalam <i>Tafsir Ath Thabari</i> tentang Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3, beliau Ath Thabari tidak menyebut sedikitpun tentang peristiwa Al Ghadir. Sayangnya hal ini bukanlah dasar yang kuat untuk menolak kitab <i>Al Wilayah</i> Ath Thabari. Karena seperti yang sudah saya sebutkan kitab <i>Al Wilayah</i> ini dibuat pada akhir-akhir kehidupan Ath Thabari artinya jauh selepas beliau mengarang <i>Tafsir Ath Thabari.</i> Jadi ada kemungkinan beliau merubah pandangannya atau bisa jadi lingkungan kemahzaban yang kental di masa Ath Thabari tidak memungkinkannya untuk memasukkan riwayat Al Ghadir dalam Tafsir Beliau. Tapi sayangnya ini hanyalah sebuah kemungkinan dan memerlukan pembuktian.</p>
<p>Bagi saya pribadi hujjah tidak bisa berdasarkan kemungkinan oleh karenanya saya lebih berdiam diri dalam masalah ini dan mungkin lebih baik untuk tidak menerima riwayat tentang ayat tabligh ini karena masih ada keraguan dalam sanadnya. Jadi memang pernyataan Syaikh Mar’i Al Amin itu keliru, <i>ahli tafsir Sunni tidak bersepakat tentang turunnya ayat tabligh untuk Imam Ali.</i></p>
<p>Walaupun begitu rupanya si penulis melihat kekeliruan Syaikh Mar&#8217;i Al Amin ini sebagai kebohongan besar. Entahlah, bagi saya ini adalah kecenderungan kemahzaban  saja, sama halnya dengan yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah dalam <i>Minhaj As Sunnah</i> yang membuat banyak kekeliruan karena berlebih-lebihan dalam membantah Ulama Syiah Ibnul Muthhahhar(Allamah Al Hilli). Keinginan Ibnu Taimiyyah untuk terus membantah itu membuatnya banyak menolak hadis-hadis shahih seperti hadis Tsaqalain, dengan mengatakan banyak yang menolak hadis tsaqalain padahal kenyataannya tidak demikian.</p>
<p>Mari kita lanjutkan, kemudian penulis juga menjadi berlebih-lebihan ketika berkata</p>
<blockquote><p> Mana mungkin tulisan tsb berasal dari seorang yang banyak mempelajari agama (seorang Qadhi Besar) kecuali tulisan tsb berasal dari ulama syi’ah sendiri. Benarkah buku tsb berasal dari seorang yang keluar dari Mahzab Syafi’i lalu masuk Syi’ah? Jangan-jangan buku tsb dibuat oleh orang syi’ah sendiri dan mengatasnamakannya dari seorang AhluSunnah.</p></blockquote>
<p>Sayangnya bukti kuat dalam masalah ini adalah buku itu sendiri. Dalam Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait), pengarang syaikh Mar’i Al Amin sendiri mengatakan bahwa beliau awalnya Qadhi Halab bermahzab syafii yang kemudian masuk Syiah. Tentu saja kesaksian ini lebih patut dipercaya ketimbang dugaan-dugaan tanpa bukti. Anehnya sepertinya penulis itu adem ayem saja menerima kabar bahwa Ayatullah Uzma Al Burqu’i adalah ulama Syiah yang keluar dari mahzab syiah yang ia kutip dari <i>Gen Syiah Ustad Mamduh Al Buhairi.<br />
</i><br />
Kemudian sang penulis menganalogikan dugaannya dengan dugaan lain yang sama tak berdasarnya</p>
<blockquote><p> Seperti halnya buku Al-Muraja’at, dialog Sunni-Syi’ah antara Syaikh Al-Azhar Salim Al-Bisyri dengan seorang syi’ah yaitu Syarafuddin Al-Musawi. Kitab Al-Muraja’at diterbitkan 20 tahun setelah Syekh Salim Al-Bisyri meninggal. DR.Ali Ahmad As-Salus, ulama AhluSunnah dari Qatar pakar aliran Syi’ah bertemu dengan putra Syekh Salim Al-Bisyri dan putranya tersebut berkata, “Saya telah membaca (mempelajari) hadis dari ayahku selama 30 tahun dan beliau tidak sedikitpun menyebutkan tentang Syi’ah kepadaku. Beliau juga tidak pernah menyembunyikan sesuatu kepadaku.”</p></blockquote>
<p>Ada kepincangan dalam cara berpikir penulis, Beliau meragukan kitab <i>Al Muraja’at</i> sebagai buat-buatan saja oleh Syaikh Al Musawi singkatnya dialog dalam buku itu fiktif Padahal buku itu sendiri menjelaskan tentang terjadinya dialog tersebut. Tidak masalah dengan diterbitkannya buku itu 20 tahun kemudian. Hal ini juga diakui terang-terangan oleh Syaikh Al Musawi dalam buku itu dimana beliau menjelaskan karena sesuatu hal maka buku ini baru bisa diterbitkan. Pincangnya adalah penulis itu dengan mudahnya mempercayai apa yang dikatakan Ali As Salus dalam <i>Imamah dan Khilafah</i> yang berhujjah dengan perkataan anaknya Syaikh Salim Al Bisyri yang tidak jelas siapa namanya, kapan ia mengatakan itu, dimana, dan siapa saksinya. Bukankah kalau memang benar begitu si anak tersebut lebih berhak untuk membersihkan nama ayahnya dari tuduhan, sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan karya yang membantah <i>Al Muraja’at</i> oleh anak tersebut. Lagipula apakah pernyataan anak tersebut adalah hujjah mati bahwa dialog dalam buku itu fiktif. Bukankah bisa saja sang Ayah merahasiakan dialog tersebut dari anaknya. Dugaan-dugaan tidak bisa dijadikan dasar dalam berhujjah karena hanya melahirkan suatu kemungkinan tetapi tidak mengabaikan kemungkinan yang lain.</p>
<p>Saya tunjukkan sedikit kekeliruan Ali As Salus dalam <i>Imamah dan Khilafah</i>, beliau Ali As Salus telah membuat dugaan bahwa kitab <i>Al Wilayat Fi Thuruq Al Ghadir</i> yang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari adalah bukan dikarang oleh Ath Thabari yang sunni melainkan oleh Ath Thabari yang syiah. Dugaan ini jelas tidak berdasar sama sekali.  Pernyataannya ini jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan Ibnu Katsir dalam <i>Al Bidayah Wa An Nihayah</i> yang menjelaskan bahwa kitab itu memang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari yang sunni. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Adz Dzahabi dalam <i>Tadzkirat Al Huffaz</i>, Adz Dzahabi menulis bahwa <i>” ketika Al Thabari mendengar bahwa Ibnu Abi Dawud menolak keotentikan hadis Al Ghadir, beliau menulis buku mengenai keotentikannya dan keutamaan Ahlul Bait”</i> kemudian Adz Dzahabi menambahkan bahwa dia sendiri melihat satu jilid karya Ath Thabari tentang Thuruq Hadis Al Ghadir dan dibuat kagum oleh besarnya jumlah periwayatnya. Yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa setiap dugaan memerlukan bukti agar bisa dipercaya. Tapi sayangnya ada banyak orang yang lebih mudah mempercayai dugaan karena dipengaruhi kecenderungannya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=65&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 07:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/</guid>
		<description><![CDATA[Ayat Al Mubahalah
“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61)
Beliau penulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=64&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ayat Al Mubahalah<br />
<i>“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61)</i><span id="more-64"></span></p>
<p>Beliau penulis menyebutkan</p>
<blockquote><p>Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib</p></blockquote>
<p>Dalam hal ini saya sependapat dengan pernyataan di atas berdasarkan hadis <i>Shahih Muslim Kitab Keutamaan para sahabat, Bab Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib no: 2404<br />
diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqqas bahwa  Tatkala diturunkan ayat: Maka katakanlah kepada mereka: “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu……(‘Ali Imran 3:61), Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam menyeru &#8216;Ali, Fathimah, Hasan dan Husain lalu berdoa: “Ya Allah! Merekalah ahli keluarga Aku.”</i><br />
Kemudian penulis berkata</p>
<blockquote><p> Apakah dengan penggunaan kata ‘diri kami’ yang mengacu kepada Ali r.a berarti Rasulullah SAW menyamakan dirinya dengan Ali r.a ?</p></blockquote>
<p>Adalah jelas bahwa diri Ali ra berbeda dengan diri Rasulullah SAW oleh karenanya penggunaan kata itu lebih bersifat kiasan betapa dekatnya Rasulullah SAW dan Ali ra ketimbang diartikan secara harfiah. Sama halnya dengan hadis Ali bagian dariKu dan Aku bagian dari Ali atau Husain bagian dariKu dan Aku bagian dari Husain.</p>
<p>Penulis juga mengutip Ibnu Taimiyyah yang berkata</p>
<blockquote><p>bahwa Kata-kata DIRI dalam ayat-ayat tersebut maksudnya adalah saudara dalam nasab atau saudara dalam agama. Ibnu Taimiyyah menyandarkan pendapatnya itu pada Al Quranul Karim.</p></blockquote>
<p>Mari kita lihat <i>“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap DIRI MEREKA SENDIRI, dan berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Q.S.An-Nur 12)</i>. Ayat ini berkaitan dengan peristiwa fitnah terhadap Aisyah ra dan salah seorang sahabat Nabi. Diri mereka dalam ayat ini memang merujuk pada arti saudara seagama. FirmanNya juga<i> : “..dan bunuhlah DIRIMU..” (Q.S.Al-Baqarah 54)</i>. Ayat ini ditujukan pada bani Israil dan dirimu pada ayat ini bisa merujuk pada diri tiap orang dari bani Israil atau sesama mereka yang berarti saudara satu kaum. Dan firmanNya : <i>“Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu : kamu tidak akan menumpahkan darahmu , dan kamu tidak akan mengusir DIRIMU dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar sedang kamu mempersaksikannya.” (Q.S.Al-Baqarah 84).</i> Dalam Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa kata dirimu ini merujuk pada saudara satu kaum atau saudara sebangsa. Jadi seharusnya Ibnu Taimiyyah berkata <i>dirimu dalam ayat-ayat(yang dia sebutkan) berarti saudara satu kaum atau sebangsa dan saudara seagama. Tidak ada keterangan tentang saudara senasab.</i></p>
<p>Apakah benar arti dirimu pada ayat Mubahalah merujuk pada saudara satu kaum atau saudara seagama? Jawaban saya, ketika ditujukan kepada Bani Najran maka dirimu dalam ayat ini bisa berarti diri tiap orang dari Bani Najran atau saudara sekaum dan seagama dengan mereka. Tapi <b>bagi Rasulullah SAW dirimu ini diartikan Rasulullah SAW merujuk pada Beliau SAW sendiri dan Ali bin Abi Thalib ra karena nash yang shahih berkata demikian</b>(lihat hadis <i>Shahih Muslim </i>di atas). Seandainya diri kamu bagi Rasulullah SAW diartikan kepada saudara sebangsa atau seagama maka adalah jelas bahwa Rasulullah SAW akan mengajak para Sahabat yang lain beserta anak dan isteri mereka, tetapi sayangnya tidak ada dalil yang menyatakan demikian. Seperti yang dikatakan penulis kebanyakan ahli tafsir Sunni menyatakan ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW menyeru Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.<br />
Saudara Ja&#8217;far kemudian berkata</p>
<blockquote><p>Rasulullah SAW mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husein bermuhabalah dengan ahlul kitab Nasrani tsb karena merekalah yang terdekat bagi Rasulullah SAW. Serupa dengan hadis penyelimutan Nabi SAW kepada mereka bukan kepada istri-istrinya Nabi SAW yang menunjukkan bahwa mereka lebih dekat kepada Rasulullah SAW dari pada istri-istri Nabi SAW.</p></blockquote>
<p>Saya sependapat dengan hal ini dan perlu ditambahkan masalah penyelimutan itu, mengapa Nabi SAW menyelimuti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain  karena mereka lah yang dituju dalam ayat tersebut, dan kenapa Nabi SAW tidak menyelimuti istri-istri Beliau SAW karena mereka memang tidak dituju dalam ayat tersebut. Hal ini berbeda dengan pendapat penulis yang berkata</p>
<blockquote><p>Akan tetapi, dengan tidak dilakukannya penyelimutan kepada istri-istri Nabi SAW bukanlah menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul bait. Penjelasan hal ini lihat tulisan saya tentang Q.S.Al-Ahzab ayat 33.</p></blockquote>
<p>Saya juga telah menanggapi tulisan beliau saudara Ja’far tentang ahlul bait dalam Al Ahzab ayat 33.</p>
<p>Kembali ke ayat Mubahalah penulis berkata</p>
<blockquote><p>Ayat ini tidaklah dapat dijadikan pedoman bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini hanyalah menunjukkan keutamaan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein dimana mereka adalah ahlul bait nabi SAW yang termulia dan paling dekat dengan Nabi SAW.</p></blockquote>
<p>Jawaban saya benar sekali ayat ini tidak menjadi hujjah yang nyata bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait as adalah yang termulia setelah Rasulullah SAW. Berangkat dari sini bisa dimengerti kalau Ulama Syiah berpendapat bahwa jika ada pengganti Rasulullah SAW maka pengganti tersebut adalah lebih mungkin dari Ahlul Bait Beliau SAW dan tidak dari yang lain.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=64&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 06:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Syiahphobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/</guid>
		<description><![CDATA[Ayat Al Wilayah
“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55)
Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun kepada Imam Ali, mereka berkata “Orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya ruku” berkenaan kepada Ali yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=63&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ayat Al Wilayah<br />
<i>“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55)</i><br />
Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun kepada Imam Ali, mereka berkata “Orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya ruku” berkenaan kepada Ali yang ketika itu memberikan cincinnya kepada peminta-minta ketika beliau dalam posisi ruku’ dalam sholat. <span id="more-63"></span></p>
<p>Dan sepertinya sang penulis(saudara Ja’far) menunjukkan keraguannya tentang hal ini. Beliau berkata</p>
<blockquote><p><i>Hadis-hadis tentang asbabun nuzul ayat ini adalah hadis-hadis yang periwayatnya diperselihkan atau bahkan mungkin hadis dhaif/maudhu’. </i></p></blockquote>
<p>Pernyataan ini adalah tidak benar, hadis yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini memiliki banyak sanad yang diriwayatkan dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah, sebagian hadisnya memang diperselisihkan perawinya dan dhaif tetapi sebagian lagi ada yang shahih. Oleh karena itu hadis-hadis tersebut satu sama lainnya saling menguatkan.</p>
<p>Dalam kitab <i>Lubab Al Nuqul fi Asbabun Nuzul</i> Jalaludin As Suyuthi hal. 93 beliau menjabarkan jalur-jalur dari hadis asbabun nuzul ayat ini, kemudian ia berkata <b><i>” Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”</i></b>. Atau dapat dilihat dalam Edisi terjemahannya dari Kitab As Suyuthi oleh A Mudjab Mahali dalam <i>Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al Quran</i> hal 326 menguatkan asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali. Beliau membawakan hadis At Thabrani dalam <i>Al Awsath</i> dan mengkritiknya karena terdapat perawi yang majhul dalam sanadnya tetapi kemudian beliau melanjutkan keterangannya <b><i>”Sekalipun hadis ini ada rawi yang majhul(tidak dikenal) tetapi mempunyai beberapa hadis penguat di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Abdil Wahab bin Mujahid dari Ayahnya dari Ibnu Abbas. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu Abbas dan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid dan Ibnu Abi Hatim dari Salamah bin Kuhail. Hadis ini satu sama lainnya saling kuat menguatkan”. </i></b></p>
<p>Pernyataan Ulama Syiah bahwa mayoritas ahli hadis dan ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali, sebenarnya juga dinyatakan oleh Ulama Sunni At Taftazani Asy Syafii dalam <i>Syarh Al Maqashid</i>, Al Jurjani dalam <i>Syarh Al Mawaqif</i> dan Al Qausyaji dalam <i>Syarh Tajrid</i>. Bahkan Al Alusi dalam <i>Ruh Al Ma’ani</i> jilid 6 hal 167 mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali ra adalah pendapat kebanyakan Ahli hadis.</p>
<p>Saya ingin sekali meminta kepada penulis tersebut siapa yang menyatakan hadis asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali adalah dhaif atau maudhu’ setelah menganalisis semua jalur sanadnya. Sekedar pernyataan dari Ali As Salus dalam <i>Imamah dan Khilafah</i> atau Ibnu Taimiyyah dalam <i>Minhaj As Sunnah</i> jelas tidak kuat. Alasannya karena mereka yang saya sebutkan itu tidak menganalisis semua jalur sanad hadis asbabun nuzul ayat Al Wilayah. Mereka hanya mencacat sebagian hadisnya, seperti Ali As Salus yang hanya membahas hadis ini dalam <i>Tafsir Ath Thabari</i> kemudian langsung memutuskan bahwa riwayat tersebut dhaif tanpa melihat banyak sanad lainnya dari kitab lain. Apalagi Ibnu Taimiyyah yang melakukan banyak kekeliruan dalam <i>Minhaj As Sunnah</i> antara lain beliau mengatakan bahwa hadis asbabun nuzul ayat ini tidak ditemukan dalam <i>Tafsir Ath Thabari</i> dan <i>Tafsir Al Baghawi</i> padahal kenyataannya kedua kitab tafsir itu memuat hadis yang kita bicarakan ini.</p>
<p>Kemudian sang penulis(Ja&#8217;far) juga menyatakan keraguan bahwa Ayat Al Wilayah ini turun untuk Imam Ali, beliau berkata</p>
<blockquote><p><i>Dalam ayat tsb sangat jelas bahwa “orang-orang yang beriman…” adalah jamak, maka bagaimana mungkin ayat itu menunjuk kepada satu orang yaitu Ali bin Abi Thalib r.a.</i></p></blockquote>
<p><i> </i>Disini letak kekeliruan sang penulis dimana beliau telah menempatkan subjektivitasnya dalam menilai suatu nash. Ulama Syiah Syaikh Al Musawi dalam <i>Al Muraja’at</i> telah menyatakan bahwa memang ada ayat Al Quran yang kata-katanya jamak tetapi ditujukan untuk orang tertentu. Saya tidak akan menukil pernyataan Syaikh Al Musawi cukuplah kiranya saya menukil pernyataan penulis sendiri dalam pembahasan Ayat Al Mubahalah</p>
<blockquote><p><i>“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61). </i></p></blockquote>
<p>Tentang ayat ini penulis(saudara Ja’far) berkata</p>
<blockquote><p><i>Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, <b>‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra,</b> dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib.</i></p></blockquote>
<p>Pernyataan An Nisaana yang diterjemahkan istri-istri kami atau perempuan perempuan kami adalah bersifat jamak, lalu mengapa hanya mengacu pada Sayyidah Fatimah Az Zahra saja.(perlu diingatkan bahwa dalam <i>Shahih Muslim</i> jelas bahwa hanya Sayyidah Fatimah Az Zahra as satu-satunya wanita yang diseru Nabi SAW untuk menyertai Beliau SAW bermubahalah). Jadi kalau pernyataan tentang ayat mubahalah ini diterima lantas mengapa mempermasalahkan Ayat Al Wilayah.<br />
Selanjutnya saudara Ja’far menuliskan Syi’ah mengatakan bahwa penggunaan kata</p>
<blockquote><p> <i>“orang-orang yang beriman..dst” padahal ayat tersebut berkenaan dengan Ali dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam.<br />
Jawabanku; Bagaimana mungkin Allah menjadikan perbuatan memberikan zakat/sedekah ketika sholat sebagai teladan yang ‘terukir’ dalam Qur’an padahal Sholat membutuhkan konsentrasi yang penuh?</i>.</p></blockquote>
<p>Pernyataan seperti <i>dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam,</i> sebenarnya juga dikemukakan oleh Ulama Sunni Az Zamakhsyari dalam <i>Tafsir Al Kasyaf</i> ketika membahas ayat Al Wilayah. Yang ingin penulis(saudara Ja’far) sampaikan adalah bagaimana mungkin bisa dibolehkan dalam shalat padahal shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Sebelum menjawab penulis maka marilah kita perhatikan hadis-hadis ini.<br />
<i>&#8220;Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)<br />
</i><br />
<i>&#8220;Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.&#8221; (Muttafaq &#8216;alaih)</i></p>
<p><i>&#8220;Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, &#8216;Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, &#8216;Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat&#8217;.&#8221; (HR. Muslim)</i></p>
<p><i>Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata: &#8220;Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat.&#8221; Berkata Ibnu Umar: &#8220;Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.&#8221; (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)</i></p>
<p><i>&#8220;Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, &#8216;Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-&#8217;Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku&#8217;, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.&#8221; (HR. Muslim)</i></p>
<p><i>&#8220;Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, &#8216;Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)<br />
</i><br />
<i>&#8220;Dari Ibnu Abbas , ia berkata, &#8216;Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.&#8221; (Muttafaq &#8216;alaih)</i></p>
<p>Seandainya kita memakai logika yang dipakai oleh saudara penulis itu maka kita akan mengatakan maka Bagaimana mungkin membunuh ular atau kalajengking, menghadang orang yang lewat, memberi isyarat kepada orang yang berbicara atau memberi salam, menggendong anak, membukakan pintu dan menarik tubuh orang  ketika shalat menjadi teladan karena bukankah shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Lantas apakah hadis-hadis itu mesti ditolak?.</p>
<p>Mari kita lanjutkan tulisan Beliau</p>
<blockquote><p><i>Memang sangat bagus untuk tidak menunda-nunda membantu orang miskin yang butuh kepada kita tetapi sholat tidaklah memakan waktu yang lama, bukankah lebih baik jika orang miskin tsb meminta setelah sholat usai? atau jika dilihat dari sudut pandang orang miskin tsb, maka Al-Qur’an membolehkan/tidak menegur orang miskin meminta sedekah kepada orang yang lagi sholat padahal menurut saya (dan semua orang) perbuatan orang miskin tsb kurang beradab.</i></p></blockquote>
<p>Apakah benar perbuatan orang miskin tersebut kurang beradab? Saya heran apakah penulis membaca sendiri hadis tentang ayat Al Wilayah ini. Bukankah pada hadis itu dijelaskan bahwa awalnya pengemis itu meminta-minta di masjid kepada beberapa orang di masjid(yang sedang tidak shalat) tetapi tidak ada satupun yang memberi. Ketika itu Imam Ali sedang shalat kemudian Beliau memberi isyarat kepada pengemis dengan jarinya yang bercincin dan pengemis itu mendekat kemudian pengemis itu mengambil cincin tersebut.</p>
<p>Tentu saja tidak ada yang mengatakan kalau pengemis itu langsung meminta kepada orang yang shalat. Pengemis itu mendekat ketika Imam Ali sendiri berisyarat. Bukankah memberi isyarat dalam shalat adalah hal yang dibolehkan. Seandainya juga pengemis itu langsung meminta kepada Imam Ali yang ketika itu sedang shalat apakah lantas dikatakan tidak beradab lalu bagaimana dengan Jabir bin Abdullah yang berbicara dua kali kepada Nabi SAW yang ketika itu sedang shalat atau Ibnu Umar yang memberi salam kepada Nabi SAW ketika Beliau SAW sedang shalat. Apakah Nabi SAW selanjutnya melarang mereka Jabir bin Abdullah dan Ibnu Umar? Tidak kok(lihat saja hadis yang saya kutip di atas). Yang perlu ditambahkan adalah Ayat Al Wilayah ini juga dimasukkan oleh ahli tafsir Sunni Abu Bakar Al Jashshash dalam kitabnya <i>Tafsir Ahkam Al Quran</i> sebagai dasar bahwa sedikit gerakan dalam shalat tidak membatalkan shalat dan sedekah sunah dapat dinamai zakat.</p>
<p>Kata-kata beliau</p>
<blockquote><p><i>Syi’ah juga menyebutkan bahwa bersedekah ketika ruku’ dalam sholat itu tidak mengurangi posisi Amirul Mukminin (Ali), bahkan tindakan itu diikuti para imam sesudahnya</i>.</p></blockquote>
<p>Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata-kata ini tetapi penulis menanggapi dengan</p>
<blockquote><p><i>Di sini timbul pertanyaan, “Jika tindakan ini merupakan cermin keutamaan penghulu para Imam (Ali r.a) yang diikuti oleh para imam, lalu mengapa tindakan ini tidak dilakukan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW? Juga tidak dilakukan oleh para sahabat yang lain?</i></p></blockquote>
<p>Jawab saya: apakah setiap keutamaan seseorang itu harus diikuti oleh orang lain, bukankah setiap orang memiliki keutamaan masing-masing. Apakah seandainya suatu keutamaan tidak diikuti oleh beberapa orang maka gugurlah keutamaan itu?. Bukankah banyak keutamaan Imam Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain.</p>
<p>Mengenai tafsir Al Maidah ayat 55 yang beliau jelaskan adalah penafsiran yang menyesuaikan dengan urutan ayat. Tafsir yang beliau kemukakan itu sama dengan tafsir ayat tersebut dalam kitab <i>Tafsir Ibnu Katsir. </i>Pendapat saya tentang tafsir ini boleh-boleh saja. Tidak ada masalah,  justru yang jadi masalah jika kita mengabaikan banyak hadis yang menjelaskan asbabun nuzul ayat ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/63/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/63/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=63&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kritik Salafi Yang Mengatakan Al Quran Mengharamkan Musik dan Lagu</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/kritik-salafi-yang-mengatakan-al-quran-mengharamkan-musik-dan-lagu/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/kritik-salafi-yang-mengatakan-al-quran-mengharamkan-musik-dan-lagu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 11:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/kritik-salafi-yang-mengatakan-al-quran-mengharamkan-musik-dan-lagu/</guid>
		<description><![CDATA[Kritik Salafi Yang Mengatakan Al Quran Mengharamkan Musik dan Lagu
Mereka yang menisbatkan dirinya dengan Salafi telah menyatakan bahwa Musik dan lagu haram hukumnya. Tentunya mereka berkata seperti itu dengan dasar dalil dari Al Quran dan Al Hadis. Benarkah seperti itu? Saya berusaha mengkaji masalah ini dan akhir kajian saya adalah ternyata Musik dan Lagu tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=40&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Kritik Salafi Yang Mengatakan Al Quran Mengharamkan Musik dan Lagu</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://antosalafy.wordpress.com/2007/04/16/nyanyian-dan-musik-itu-haram/" target="_blank">Mereka yang menisbatkan dirinya dengan Salafi</a> telah menyatakan bahwa <strong>Musik dan lagu haram hukumnya</strong>. Tentunya mereka berkata seperti itu dengan dasar dalil dari Al Quran dan Al Hadis. Benarkah seperti itu? Saya berusaha mengkaji masalah ini dan akhir kajian saya adalah <strong>ternyata Musik dan Lagu tidak haram.</strong> Dalil yang mereka katakan dari Al Quran dan Hadis adalah tidak kuat dan tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah ini.<span id="more-40"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang ngotot sekali dengan pengharaman musik dan lagu sebenarnya hanya mengikut saja kepada Ulama mereka tanpa menelaah dalilnya secara kritis. Saya cukup heran dengan mereka yang sekedar mengikut tetapi berani berteriak di depan orang lain, menguras energinya untuk menunjuk-nunjuk kepada mereka yang mendengarkan musik dan lagu. Dengan pongahnya mereka akan menyalahkan setiap pendapat yang membolehkan musik dan lagu walaupun pendapat tersebut ada dasarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka akan selalu berkata <em>Al Quran dan Hadis telah mengharamkan musik</em>. Aneh sekali seolah-olah hanya mereka saja yang membaca Al Quran dan Hadis, saya katakan mereka yang cuma mengikut itu sudah terkena pengaruh <em>Ulamaisme Salafi</em>. Yang mereka katakan Al Quran dan Hadis itu sebenarnya adalah<em> pemahaman ulama mereka terhadap Al Quran dan Hadis.</em> Mereka yang sekedar mengikut itu telah kehilangan kemampuan untuk memahami dan untuk menutupinya mereka <span style="text-decoration:line-through;">dengan liciknya</span> berlindung dibalik pemahaman Ulama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa daya mereka tanpa ulama mereka, <em>Anda harus memahami Al Quran dan Hadis sesuai dengan pemahaman Salafus salih</em>,<strong> lucu</strong> apa ulama mereka itu salafus salih. <em>Kita harus ikut Ulama karena mereka lebih ahli,</em> <strong>bohong</strong> mereka tidak ikut ulama tetapi ikut ulama mereka, ulama yang punya cap ulama salafi Itulah ulama ahli. <em>Ulamaisme Salafi, Ulamaisme demi identitas diri, identitas yang mewah kelas pertama, identitas dengan kebenaran terpasung di lehernya, identitas yang membuatnya berbangga diri dengan menunjuk-nunjuk orang lain, identitas yang penuh candu keselamatan dan kemuliaan. Sungguh Euforia yang tragis demi sebuah identitas.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini akan membahas terlebih dahulu <em>dalil Al Quran</em> yang mereka jadikan dasar untuk mengharamkan musik. Dalam kesempatan lain <span style="text-decoration:line-through;">kalau saya masih hidup</span> saya akan membahas <em>dalil Hadis-hadisnya.<br />
</em><br />
<strong>Argumen Salafi</strong><br />
Dalil terkuat dari Al Quran yang mereka pakai untuk mengharamkan musik adalah <strong>QS Lukman :6</strong><strong></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Wa minannaasi mayyasytarii lahwal hadiitsi liyudhilla ‘an sabiilillaahi bighayri ‘ilmi wayattakhidza haa hudzuwa ,Ulaaaika lahum ‘adzaabummuhiin</strong><br />
<em>“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan”.QS Lukman: 6</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa yang dimaksud dengan <strong>lahwal hadiitsi</strong><em>(perkataan yang tidak berguna)</em> pada ayat tersebut adalah nyanyian. Dalam hal ini Ibnu Mas’ud bersumpah dengan mengatakan <em>“Demi Allah, itu adalah lagu”.</em>(<em>Sunan Al Kubra Baihaqi</em> 10 hal 223)</p>
<p style="text-align:justify;">Al Wahidi mengatakan, kebanyakan para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud<strong> lahwal hadiitsi</strong><em>(perkataan tidak berguna)</em> adalah nyanyian, ini adalah pendapat Mujahid dan Ikrimah. (<em>Sunan Al Kubra Baihaqi </em>10 hal 223). Ibnul Qayyim dalam kitabnya <em>Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan</em> jilid I hal 258-259 mengatakan <em>bahwa hadis tersebut(riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar) jika didalamnya telah diteliti maka tidak diragukan lagi lebih prioritas diterima daripada penafsiran orang setelah mereka.</em> Oleh karena itu berdasarkan keterangan di atas jelas bahwa Al Quran mengharamkan musik sehingga yang melakukannya akan mendapat azab yang menghinakan.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembahasan dan Bantahan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sepintas lalu kalau kita melihat <em>Al Quran Lukman ayat 6 </em>tersebut kita tidak akan terpikir bahwa ayat tersebut mengharamkan musik dan lagu karena <strong>lahwal hadiitsi</strong> diterjemahkan sebagai <em>perkataan yang tidak berguna atau perkataan yang bersifat permainan.</em> Jadi satu-satunya sandaran bahwa <strong>lahwal hadiitsi</strong> adalah <strong>nyanyian</strong> adalah hadis yang menerangkan perkataan Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa <strong>lahwal hadiitsi </strong>yang dimaksud dalam <em>Lukman ayat 6</em> adalah <strong>nyanyian.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut dalam <em>Sunan Baihaqi</em> adalah hadis yang shahih jadi saya tidak akan menolak hadis tersebut. Bahkan hadis ini disahkan oleh Al Hakim dalam kitabnya <em>Mustadrak As Shahihain</em>. Tetapi perlu ditekankan bahwa <em>hadis itu tidak bersambung sampai ke Rasulullah SAW atau tidak marfu’.</em> Hadis itu hanya menjelaskan penafsiran Sahabat Nabi terhadap <strong>lahwal hadiitsi.</strong> Memang ada ulama yang berpendapat penafsiran Sahabat dihukumi marfu’ atau berasal dari Rasulullah SAW dengan alasan mereka para Sahabat telah menyaksikan turunnya wahyu. Pendapat ini tidaklah benar karena kalau memang benar penafsiran Sahabat Nabi itu(dalam hadis <em>Sunan Baihaqi</em> diatas) berasal dari Rasulullah SAW mereka pasti akan menjelaskan dengan kata-kata telah berkata Rasulullah SAW atau saya melihat Rasulullah SAW. Kata-kata itu akan menjelaskan sebab turunnya ayat yang merupakan bukti kalau mereka Sahabat itu menyaksikan turunnya ayat tersebut. Hadis-hadis dengan kata-kata yang jelas marfu’nya ini banyak terdapat dalam Kitab Hadis yang menjadikan hadis tersebut sebagai penafsiran Rasulullah SAW terhadap ayat Al Quran.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan hadis tentang Nyanyian ini tidak terdapat kata yang jelas bahwa penafsiran itu berasal dari Rasulullah SAW jadi lebih tepat kalau hadis ini merupakan penafsiran Sahabat Nabi terhadap <strong>lahwal hadiitsi. </strong>Apakah dengan begitu penasiran Sahabat itu tidak diterima? Tentu saja diterima, Bagaimana mungkin kita bisa menerima penafsiran ulama tetapi tidak menerima penafsiran Sahabat Nabi. Bedanya kalau itu penafsiran dari Rasulullah SAW maka tidak ada tempat bagi kita untuk mengkritiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi penafsiran sahabat bahwa <strong>lahwal hadiitsi</strong> itu nyanyian bisa diterima dalam arti nyanyian itu termasuk salah satu dari <strong>lahwal hadiitsi</strong> yang dimaksud tetapi tidak hanya itu. Karena arti sebenarnya <strong>lahwal hadiitsi </strong>itu adalah perkataan yang tidak berguna atau perkataan yang bersifat permainan.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah dengan begitu kita mengakui bahwa nyanyian itu haram? Ho ho ho tentu saja tidak, nah disinilah letak bantahannya. Lihat kembali surah <strong>Lukman ayat 6 </strong>tersebut, nah anda akan tahu bahwa <strong>lahwal hadiitsi</strong> yang mendapatkan azab itu adalah <strong>lahwal hadiitsi</strong><em>(perkataan yang tidak berguna)</em> yang digunakan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT. So yang diharamkan itu adalah menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT dengan perkataan tidak berguna atau main-main termasuk dengan nyanyian.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan <strong>lahwal hadiitsi</strong> sendiri adalah hal yang biasa saja, kata itu mengandung arti <em>perkataan yang tidak berguna </em>atau <em>perkataan yang bersifat permainan</em>. Tentu sebagai seorang muslim yang ideal hendaknya mengeluarkan perkataan yang berguna saja dan Jangan suka main-main. Idealnya begitu, kalau saya sih jelas tidak ideal, saya masih suka main-main dan perkataan saya banyak juga yang tidak berguna. Saya tidak setuju kalau hal seperti ini diharamkan selagi kata-kata itu tidak buruk dan tidak menyakiti orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lahwal hadiitsi</strong>, kata <strong>hadiitsi</strong> sendiri berarti <em>perkataan</em> sedangkan kata <strong>lahwu</strong> berarti <em>tidak berguna</em> atau <em>permainan</em>. Mereka yang ingin mempermasalahkan kata lahwu dan menyatakannya haram adalah tidak benar. Lihatlah <em>Al Quran Muhammad ayat 36</em><strong></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Innamal hayaatuddunyaa la’ibun wa lahwu</strong><br />
<em>“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau&#8230;&#8221;QS Muhmmad :36</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin <strong>lahwu</strong> bisa dikatakan haram, kalau iya maka kehidupan dunia menjadi haram pula. Ini jelas tidak benar,<strong> lahwu</strong><em>(permainan)</em> itu adalah hal yang biasa saja selagi tidak memalingkan kita pada kehidupan akhirat. Oleh karena itu kelanjutan ayat itu <em>“Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.QS Muhammad 36</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kepada <em>Al Quran Lukman ayat 6</em>, ayat ini sebenarnya ditujukan buat orang-orang kafir. Ini dapat dilihat dari kelanjutan ayat tersebut <em>Lukman ayat 7. </em><em></em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan”.QS Lukman :6</em><br />
<em>“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia tidak mendengarnya. Seakan-akan ada penghalang di kedua telinganya, maka berikan kabar gembira padanya dengan azab yang pedih”.QS Lukman :7</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jelas sekali bahwa yang berpaling dengan menyombongkan diri ketika dibacakan ayat-ayat Allah adalah orang kafir.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ibnu Jarir At Thabary dalan <em>Tafsir Ath Thabary</em> jilid I hal 41 tafsir surah Lukman menegaskan dari riwayat Ibnu Wahabyang berkata <em>“Ibnu Zaid mengatakan bahwa Lukman ayat 6 <strong>“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna” </strong>maksudnya adalah orang-orang kafir. </em></li>
<li>Pendapat ini juga dikemukakan Ibnu Athiyyah dalam <em>Tafsir Ibnu Athiyyah</em> jilid 11 hal 484 yang mengatakan bahwa <em>yang rajih atau lebih kuat adalah ayat yang diturunkan tentang lahwul hadis ini untuk orang-orang kafir, karenanya ungkapan tersebut sangat keras yaitu “untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dengan menggunakannya sebagai olok-olokan” dan disertai dengan ancaman siksaan yang sangat hina.</em></li>
<li style="text-align:justify;">Ibnu Hazm dalam kitab <em>Al Muhalla</em> jilid 9 hal 10 telah membantah mereka yang menggunakan <em>Lukman ayat 6 </em>ini sebagai dasar pengharaman musik Beliau berkata <em>“Nash ayat tersebut membatalkan Argumentasi –argumentasi mereka sendiri, karena dalam ayat tersebut <strong>“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan” </strong>Ini menunjukkan bahwa yang melakukannya adalah orang kafir,tanpa ikhtilaf jika menjadikan jalan Allah sebagai olok-olokan. Inilah yang dicela oleh Allah . Sedangkan orang yang menggunakan perkataan yang sia-sia untuk tujuan hiburan atau menenangkan dirinya bukan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tidaklah dicela. Maka terbantahlah pendapat mereka dengan perkataan mereka sendiri. Bahkan jika seseorang melalaikan shalat dengan sengaja dikarenakan bacaan Al Quran atau membaca hadis atau dengan obrolan dan lagu sama saja termasuk kefasikan dan dosa kepada Allah. Tetapi siapa yang tidak melalaikan kewajiban sebagaimana yang kami sebutkan maka tetap merupakan kebaikan” </em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Maaf kalau terlalu panjang mari kita akhiri saja dengan kesimpulan <em>Ayat Al Quran Lukman ayat 6 adalah lebih tepat ditujukan untuk orang-orang kafir yang ingin menyesatkan manusia dari jalan Allah dengan perkataan yang tidak berguna.</em> Jadi Ayat ini tidak benar dijadikan dasar pengharaman musik dan lagu. Singkatnya <em><strong>Al Quran tidak mengharamkan musik dan lagu</strong>. Salam damai. </em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=40&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/kritik-salafi-yang-mengatakan-al-quran-mengharamkan-musik-dan-lagu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kritik Salafi Yang Melarang Menggunakan Kata Saudara Kepada Orang Kafir</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/08/menggunakan-kata-saudara-kepada-orang-kafir/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/08/menggunakan-kata-saudara-kepada-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 06:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/08/08/menggunakan-kata-saudara-kepada-orang-kafir/</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan Kata Saudara Kepada Orang Kafir
Tulisan ini adalah kritik terhadap mereka yang dengan sinis telah menghina dan mencela orang lain(yang muslim) hanya karena kesalahan satu-satunya orang itu adalah menggunakan kata saudara terhadap orang kafir. Mereka ini tidak mempunyai dalil sedikitpun untuk menyatakan bahwa dengan orang kafir tidak boleh menggunakan kata saudara. Mereka ini hanya bertaklid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=31&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Menggunakan Kata Saudara Kepada Orang Kafir</b></p>
<p>Tulisan ini adalah kritik terhadap mereka yang dengan sinis telah menghina dan mencela orang lain(yang muslim) hanya karena kesalahan satu-satunya orang itu adalah menggunakan kata saudara terhadap orang kafir. Mereka ini tidak mempunyai dalil sedikitpun untuk menyatakan bahwa dengan orang kafir tidak boleh menggunakan kata saudara. Mereka ini hanya bertaklid kepada <a href="http://antosalafy.wordpress.com/2007/08/16/tidak-boleh-menggelari-orang-kafir-dengan-istilah-saudara-kita/" target="_blank">tulisan ulamanya</a> saja. Padahal justru sebaliknya ada banyak dalil yang membolehkan penggunaan kata saudara antara muslim dan orang kafir atau dalil yang menunjukan orang muslim dapat disebut saudara bagi orang kafir.<span id="more-31"></span><br />
<b>Nabi Nuh Saudara Kaumnya    </b><br />
<i>Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul. Ketika <b>saudara mereka (Nuh) </b>berkata kepada mereka “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya Aku adalah seorang Rasul kepercayaan(yang diutus) kepadamu. (QS Asy Syu’ara :105-107)<br />
</i><br />
<b>Nabi Hud Saudara Kaum ‘Ad</b><br />
<i>Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) <b>saudara mereka Hud.</b> Ia berkata “Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS Hud :50)</i></p>
<p><i>Dan Kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad <b>saudara mereka Hud</b>. Ia berkata “Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya, maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?”. (QS Al A’raf :65)<br />
“Kaum Ad telah mendustakan para Rasul, ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: Mengapa kamu semua tidak bertakwa?”. (QS Asy Syu’ara : 123-124)</i></p>
<p><i>“Dan Ingatlah <b>(Hud) saudara kaum ‘Ad </b>ketika ia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya(dengan mengatakan) :Janganlah kamu menyembah selain Allah sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (QS Al Ahqaf :21)</i><br />
<b>Nabi Shalih Saudara Kaum Tsamud </b><br />
<i>Kaum Tsamud telah mendustakan Rasul-rasul . Ketika <b>saudara mereka Shalih</b> berkata kepada mereka “Mengapa kamu tidak bertakwa?”. (QS Asy Syu’ara :141-142)</i></p>
<p><i>Dan Kepada Tsamud (Kami utus) <b>saudara mereka Shalih. </b>Shalih berkata “Hai kaumku sembahlah Allah,sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi(tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunanNya, kemudian bertobatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmatNya) lagi memperkenankan (doa hambaNya). (QS Hud :61)</i></p>
<p><i>Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud <b>saudara mereka Shalih</b> (yang berseru) sembahlah Allah, tetapi tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang bermusuhan. (QS An Naml :45)</i></p>
<p><i>Dan (Kami telah mengutus ) kepada kaum Tsamud <b>saudara mereka Shalih</b>. Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah ,sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun(yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”. (QS Al A’raf </i>:73)<br />
<b>Nabi Luth Saudara Kaumnya     </b><br />
<i>Kaum Luth telah mendustakan Rasul-rasul. Ketika <b>saudara mereka, Luth </b>berkata kepada mereka “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya Aku adalah seorang Rasul kepercayaan(yang diutus) kepadamu. (QS Asy Syu’ara :160-162)<br />
</i><br />
<b>Nabi Syu’aib Saudara Penduduk Madyan</b><br />
<i>Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan <b>saudara mereka Syu’aib. </b>Ia berkata “Hai kaumku sembahlah Allah ,sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (QS Al A’raf :85)</i></p>
<p><i>Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan <b>saudara mereka Syu’aib,</b> maka ia berkata ”Hai kaumku sembahlah olehmu Allah, harapkan(pahala) hari akhir dan Jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”. (QS Al Ankabut :36)</i></p>
<p><i>Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) <b>saudara mereka Syu’aib</b>. Ia berkata “Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik(mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan(kiamat). (QS Hud :84) </i></p>
<p>Semua ayat Al Quran diatas dengan jelas menyebutkan bahwa <i>Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Shalih as, Nabi Luth as, dan Nabi Syu’aib as sebagai saudara dari kaumnya.</i> Tidak diragukan lagi kalau Para Nabi itu adalah muslim, bahkan Mereka as adalah muslim yang paling baik. Dan tidak diragukan pula bahwa kaum yang diseru oleh Mereka para Nabi as itu adalah orang-orang kafir. Walaupun begitu ternyata Al Quran tetap menggunakan istilah saudara bagi mereka yang bertauhid dan mereka yang kafir. Ini adalah dalil yang jelas kebolehan penggunaan kata saudara terhadap orang kafir.</p>
<p>Tentu saja saudara dalam pengertian ini jelas bukan saudara sesama muslim atau saudara seagama. Kata saudara sendiri memiliki makna yang cukup banyak, bisa berarti saudara sekandung atau dalam arti kekeluargaan, saudara satu suku atau kaum atau saudara sebangsa dan setanah air bahkan saudara senenek moyang atau saudara sesama manusia. Ketika ada seorang muslim berkata bahwa orang kafir itu saudara kita, maka jelas sekali bahwa yang dimaksud bukan saudara sesama muslim atau saudara seagama, ini adalah jelas sekali karena yang dibicarakan itu lain agamanya.</p>
<p>Anehnya kenapa ada orang yang menisbatkan dirinya dengan salafi yang berkata itu tidak boleh mereka itu bukan saudara kita. Apa pengertian saudara menurut dia ini. Kalau seandainya yang dimaksud itu saudara sesama muslimmaka dia ini rasanya aneh sekali <strike> bodoh sekali</strike> karena mana ada orang muslim yang akan mengatakan bahwa orang kafir itu saudara seagama dengan orang muslim. Kalau benar seperti ini maka Dia telah salah mempersepsi bahasa manusia pada umumnya. Karena jelas tidak sama kata saudara dengan kata saudara sesama muslim atau seagama.</p>
<p>Atau mungkin dia beranggapan bahwa kata saudara hanya diperuntukkan bagi mereka yang seagama atau seakidah saja. Kalau memang seperti ini maka sekali lagianeh <strike>dia juga bodoh</strike> karena Al Quran telah menggunakan kata saudara antara para Nabi as dan kaumnya. Dan juga aturan darimana bahwa kata saudara hanya untuk yang seagama saja bagaimana dengan saudara dalam arti kekeluargaan ,apakah hanya karena beda keyakinan keluarga langsung menjadi orang lain. Aneh tidak ada yang seperti ini dalam islam bahkan orangtua yang kafirpun tetap disebut sebagai orang tua dan diharuskan bersikap baik dan taat kepada keduanya kecuali jika bertentangan dengan perintah Allah SWT. Apakah karena kafir maka orang tua tidak lagi disebut orang tua?.</p>
<p>Jelas sekali bahwa orang muslim yang berkata orang kafir itu saudara kita juga itu menggunakan bahasa Indonesia, yang berarti bahwa kata saudara itu mempunyai arti yang bermacam-macam. Tetapi sayangnya dia yang menisbatkan dirinya dengan salafi itu membantah kadang dengan kata yang kasar padahal dia sendiri tidak mengerti apa yang dikatakan orang lain. <i>Dia ini berlagak seperti tiran di tengah para penentangnya. </i>Dalam pandangannya apapun yang dikatakan orang lain kalau bertentangan dengannya adalah salah. Dia tidak berusaha benar-benar memahami apa yang dikatakan orang lain karena pandangannya cuma tertuju pada pertentangan orang tersebut dengan dirinya dan menurutnya ini tidak boleh dibiarkan karena <i>saya yang benar dan orang itu salah. </i>Pikiran yang seperti ini menunjukkan ada penyakit dalam dirinya. Penyakit yang timbul karena telah terbiasa menggunakan <i>logika tiran untuk memperbudak kebenaran.<br />
</i></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=31&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/08/menggunakan-kata-saudara-kepada-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>