<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Analisis Pencari Kebenaran &#187; Agama</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/category/agama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Dec 2009 19:06:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='secondprince.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/449762091d192e9de75874735a396e1f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Analisis Pencari Kebenaran &#187; Agama</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://secondprince.wordpress.com/osd.xml" title="Analisis Pencari Kebenaran" />
		<item>
		<title>Area Terlarang</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/09/30/area-terlarang/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/09/30/area-terlarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 06:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[


Area Terlarang
 
Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kegelisahan saya selama ini. Hidup itu pada dasarnya sederhana makanya jangan dibuat rumit Atau sebenarnya Hidup itu memang rumit tetapi kesederhanaan adalah Pilihan yang baik. Kebanyakan dari kita mungkin tidak suka berpikir yang rumit-rumit, kan lebih enak hidup biasa saja dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=426&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/09/fractal.jpg"><img class="size-medium wp-image-428 aligncenter" title="fractal" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/09/fractal.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Area Terlarang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kegelisahan saya selama ini. Hidup itu pada dasarnya sederhana makanya jangan dibuat rumit Atau sebenarnya Hidup itu memang rumit tetapi kesederhanaan adalah Pilihan yang baik. Kebanyakan dari kita mungkin tidak suka berpikir yang rumit-rumit, kan lebih enak hidup biasa saja dan sedikit dari kita memang aneh, sepertinya suka sekali merumitkan hal yang biasa-biasa saja. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-426"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Itu Cuma penampakan semata. Semua ini bukan soal biasa dan tidak biasa tapi soal Tujuan hidup. Setiap orang bebas meyakini sesuatu dan menentukan apa tujuan hidupnya. Begitu pula saya, Tujuan hidup saya sangat sederhana<em> ”Menjadi Orang Yang benar”</em>. Ternyata sangat tidak mudah, bahkan sampai sekarang saya tidak begitu mengerti apa maksudnya <em>”Yang Benar”</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Usaha saya juga tidak muluk-muluk, tidak perlu biaya besar dan cukup dengan mengalir apa adanya. Berpikir dengan baik sebisanya, Membaca yang diperlukan, Hidup menggali hikmah dari siapa saja dan berdoa kepada Tuhan Yang Kuasa. Seperti Perjalanan pada umumnya berkesan semangat di awal dan mulai bosan di tengah jalan hingga hampir putus asa dimana ujungnya. Hanya kata-kata sederhana yang menjadi teman setia, <em>”Sedikit lagi, sedikit lagi”, </em>atau <em>”Tuhan tidak melihat hasil”</em>, nah ini yang paling simpel <em>”Nyantai aja Masbro”. </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Cukup, saya tidak sedang berbagi kesedihan. Saya Cuma ingin berbagi pendapatan. Belum lama ini di tengah perjalanan saya terdampar di suatu tempat. Area itu seperti persimpangan dengan banyak jalan tapi sangat tidak jelas. Disana dipenuhi dengan untaian benang Logika yang terpaut kusut dengan benang Keimanan. Benang-benang itu berkesan berubah-ubah di antara Skeptisisme, Rasionalisme, Intuisi, Apologi dan Idealisme. Saya terhentak disana, terdiam dan terkurung dalam Kerisihan.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>Tuhan tidak sedang bermain dadu, </em>saya yakin Tuhan bisa dicapai dengan akal dan iman tetapi keyakinan itu Cuma sekedar Apologi pribadi. Jalan Akal dan Jalan iman tidak sepenuhnya searah dan beriringan. Ketika disusuri dengan seksama, akan nampak bagian dimana benang-benang itu terpaut kusut. Semakin diurai dan dibuka justru malah semakin jelas kekusutannya. Seperti <em>Azaz Ketidakpastian</em>, memperjelas salah satu malah mengaburkan yang lain. Sudah cukup lama saya terdampar disana untuk mencoba bersabar mengurai dan menyulam. Setiap satu uraian terbuka maka nampaklah bagian kusut lain yang tertutupi sebelumnya dan begitu seterusnya. Frustasi dan putus asa akhirnya datang mericuhkan suasana. <em>This is Catasthrope For The Truthseeker.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">Tuhan sepertinya tidak mau didekati dengan cara seperti itu atau justru Tuhan sebenarnya sedang menantang hamba-hambanya. Area ini susah sekali ditembus dan yang sudah terjebak disana akan sulit untuk keluar. Mungkinkah seharusnya mengambil jalan pinggir dan bukan jalan tengah. Atau tinggal Melakukan Lompatan spektakuler, Bagaimana caranya melompat sejauh itu?. Seandainya bisa juga, mau melompat ke arah mana? Takutnya malah melompat ke jurang tak berdasar?. Aduhai, Siapakah orangnya yang pernah menembus Area ini? Bisa tolong ajarkan saya, Saya sudah karatan disini.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
Posted in Agama, Cerita, Kebenaran  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/426/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=426&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/09/30/area-terlarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/09/fractal.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fractal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekayasa Sunnah</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/08/27/rekayasa-sunnah/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/08/27/rekayasa-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 13:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[
Muqaddimah
Judul yang mengerikan tetapi itulah apa adanya. Penjelasannya bisa sangat panjang dan akan saya buat dengan sesederhana mungkin. Apa itu Sunnah? Nah bahaya kan kalau anda salah menangkap apa yang saya maksud. Bisa dilihat disini, disana atau Untuk mempermudah maka anda dapat melihat penjelasan dari Ustad ini. Sederhananya saya ambil yang ini
Sunnah adalah apapun yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=331&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/08/YohAsakura.jpg"><img class="size-medium wp-image-332 aligncenter" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/08/fcu3qnlv.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Muqaddimah</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Judul yang mengerikan tetapi itulah apa adanya. Penjelasannya bisa sangat panjang dan akan saya buat dengan sesederhana mungkin. Apa itu Sunnah? Nah bahaya kan kalau anda salah menangkap apa yang saya maksud. Bisa dilihat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunnah" target="_blank"><em>disini</em></a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunnah" target="_blank"><em>disana</em> </a>atau Untuk mempermudah maka <em>anda dapat melihat <a href="http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/8417112411-bagaimana-kita-memahami-sunnah.htm" target="_blank">penjelasan dari Ustad ini</a></em>. Sederhananya saya ambil yang ini</p>
<blockquote><p><em>Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW</em>.<span id="more-331"></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak percayakah anda kalau Sunnah ini sudah direkayasa!. Mari pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Rasulullah SAW hidup 1400 tahun yang lalu artinya kita terpisah ruang dan waktu yang sangat jauh untuk mengakses apa itu sebenarnya Sunnah atau Bagaimana Sang Rasul SAW sebenarnya. Semudah itukah? belum karena para Pemuka konservatif akan menjawab semua keraguan atas Sunnah dengan menyatakan bahwa para Ulama sudah melakukan metode tersendiri untuk menjaga kemurnian Sunnah. Mereka telah melakukan pencatatan atas Sunnah dan Melakukan penyaringan dengan Metode khusus yang dapat anda lihat dalam Ulumul Hadis<em>(yah berkaitan dengan Jarh wat Ta&#8217;dil dan sebagainya).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Keren jawabannya dan akan memuaskan mereka yang cuma awam-awam saja dan mereka yang biasa bertaklid. Percayakah anda dengan validitas kedua hal yang disebutkan yaitu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pencatatan Atas Sunnah</li>
<li>Penyaringan Atas Sunnah</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pencatatan Sunnah </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kapan dimulai pencatatan? Dulu kabar yang masyhur pencatatan Sunnah dimulai jauh setelah Rasulullah SAW wafat tetapi syubhat ini dibantah oleh Syaikh yang mulia Mustafa Al Azhami.  Beliau membantah semua para pengingkar Sunnah yang meragukan pencatatan Sunnah. Singkatnya beliau membuktikan bahwa Sunnah telah mulai dicatat oleh Sahabat Nabi SAW saat Nabi SAW masih hidup. Kemudian pencatatan terus dilakukan orang perorang<em>(orang tertentu)</em> dari tabiin, tabiit tabiin hingga Ulama hadis. Pernah dengar Lembaran or suhuf tertua soal Sunnah yang ditulis oleh Abdullah bin Amr dan Abu Suhail. Yang satu sudah tidak ada lagi alias lenyap tinggal nama dan yang satu lagi masih berupa manuskrip catatan tangan. Kesimpulan: Sunnah sudah ditulis sejak awal Rasulullah SAW hidup dan seterusnya sampai sekarang. So saya sepakati saja yang ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan  yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak. Mari kita melakukan lompatan ribuan tahun dan kembali ke masa kini. Ada berapa banyak kitab yang memuat Sunnah yang anda ketahui? lumayan banyak baik yang semuanya Shahih<em>(menurut Ulama) </em>atau yang campuran shahih, hasan dhaif dan maudhu&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Ok  bisa diperinci <em>Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Nasai(Kubra dan Shughra/Al Mujtaba), Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah,  Sunan Daruquthni, Sunan Baihaqi, Shahih Ibnu Hibban , Shahih Ibnu Khuzaimah,  Mustadrak Al Hakim, Musnad Ahmad</em><em>(suka dengan yang ini), Musnad Al Bazzar, Musnad Abu Ya&#8217;la, Mu&#8217;jam Al Awsath, Kabir dan Saghir Ath Thabrani. </em>Daftar ini masih bisa dibuat panjang<em> Jami&#8217; As Shaghir Suyuthi, Majma Az Zawaid Al Haitsami, Kanz Al Ummal Al Hindi, Musnad Ibnul Mubarak, Musnad Abu Daud Ath Thayalisi, Musnad Asy Syamiyyin, Musnad Al Hamidi, Musnad Asy Syafii, Musnad Aisyah, Musnad Abu Bakar, Al Mushannaf Abdur Razaq, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> dan uups kita melupakan yang paling senior <em>Al Muwatta Imam Malik</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesaikah? oooh belum masih ada lagi<em>(ini belum ditambah dengan banyaknya catatan di kalangan Islam Syiah)</em>, tahukah anda bahwa kitab <em>Al Muwatta</em> itu dulu ada banyak sekali tidak hanya Imam Malik yang punya. Informasi yang saya dapat, ada lebih kurang 70 kitab <em>Muwatta</em> dan yang tersisa sekarang hanya Muwatta versi Imam Malik. Selebihnya lenyap ditelan usia <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">So apa yang anda pikirkan, <em>Kitab yang mencatat Sunnah itu bisa juga lenyap</em>. Usilkah anda jika berpikir ada Sunnah yang hilang. Boleh saja usil, tapi semua keusilan anda sudah ada apologinya oleh para Pemuka Konservatif. Mereka akan berkata <em>Tidak ada itu yang hilang karena semuanya sudah tercatat pada kitab yang ada</em>. Saya sebut hal itu apologi karena siapa yang bisa membuktikan, toh kitabnya juga sudah tidak ada. Siapa yang bisa memastikan bahwa Sunnah yang tercatat dalam Suhuf Abdullah bin Amr, Kitab Muwatta yang lain dan Kitab-kitab lain<em>(karena masih ada yang lain)</em> itu semuanya tetap tercatat pada kitab yang ada sekarang. Bukankah tetap ada kemungkinan Sunnah yang tidak tercatat. Lagi-lagi ini perlu bukti dan mana bisa dibuktikan kecuali anda menemukan kembali kitab-kitab yang hilang itu dan membandingkannya dengan kitab yang ada sekarang. Jadi berprsangka baik saja <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa masalahnya? Nah kalau anda belum tahu masalahnya adalah <em>Terlalu banyak Catatan</em>. Hal ini memperbesar kemungkinan kekeliruan para Pencatat. Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, nggak mungkin banget kan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih.<em>(sesuai dengan Metode penyaringan)</em>. Tidak mungkin 2 hal yang kontradiktif bisa benar. Salah satunya pasti keliru dan lucunya kesalahan dan kekeliruan dijatuhkan pada Sahabat Nabi SAW yang meriwayatkan <em>bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyaknya pencatatan menimbulkan banyaknya kemungkinan <em>Inkonsistensi.</em> Mau yang lain lagi nih, pernah dengar riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah melaknat dan mencela orang2 yang tidak berhak mendapatkan laknat dan celaan. Sampai-sampai begitu banyak hadisnya maka ada sang Pencatat Sunnah yang membuat Bab khusus <em>Siapa saja yang pernah dilaknat, dicela dan didoakan jelek oleh Nabi SAW dan dia tidak berhak mendapatkannya maka itu sebagai pembersih, pahala dan rahmat baginya. </em>Padahal ada banyak riwayat lain bahwa Rasul SAW melarang mencela dan melaknat sesama muslim. Yang lebih aneh lagi ada riwayat yang menyatakan bahwa <em>Barang siapa melaknat atau mencela sesuatu yang tidak pantas dilaknat atau dicela maka laknat dan celaan itu akan berbalik pada dirinya sendiri.</em> Luar biasa ternyata semua riwayat tersebut shahih. Nah silakan pikirkan sendiri <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Kritis, silakan dan jangan tanya bagaimana sikap para Pemuka Konservatif. Mereka punya banyak pembelaan yang berkesan apologia. Tidak percaya,  silakan lihat sendiri bagaimana Mereka menjelaskan semua itu. Intinya <em>Semuanya harus tampak bagus</em> so apapun yang terjadi <em>Tidak ada yang perlu diragukan </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Penyaringan Sunnah</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagimana Sunnah disaring? Dengan Metode khusus yang detailnya dapat anda lihat dalam Ulumul Hadis. Saya akan membahas yang paling rawan yaitu  <em>Jarh wat Ta&#8217;dil </em>. Ilmu ini berkaitan dengan perawi-perawi hadis. Mereka yang belajar ilmu ini kebanyakan adalah cikal bakal pemuka Konservatif. Ilmu ini mempelajari tentang kedudukan mereka yang meriwayatkan hadis, diterimakah atau ditolak hadisnya. Bisa dibilang dalam cabang ilmu ini yang namanya aib dibongkar habis-habisan. Perawi hadis yang tertuduh berdusta, mungkar, dan tidak dipercaya dijabarkan dengan jelas. Ilmu ini adalah ilmu mati alias gak berkembang kemana-mana. Ilmu ini adalah ilmu warisan yang tidak bisa diverifikasi dengan pasti karena anda dituntut percaya atau bertaklid dengan para Pemuka dan Sesepuh sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadisnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadisnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta. Verfikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan <em>para Sesepuh</em> sebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari <em>ulama yang pernah belajar sama sesepuh</em> itu atau ulama yang pernah belajar sama <em>ulama yang belajar dari sesepuh.</em> Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi saya tidak setuju dengan mereka yang menyatakan ini tidak ilmiah. Metode itu adalah ilmiah yang bisa dilakukan. Jangan mengharap standar yang tinggi kalau memang mustahil. Meragukan penilaian manusia ya sah-sah saja. Seperti hati orang siapa yang tahu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Apakah mereka yang terpercaya itu tidak bisa dipengaruhi kecenderungan tertentu<em>(fanatisme mahzab atau tekanan penguasa, dll)</em> sehingga akhirnya mereka mungkin pernah berbohong dalam menyampaikan hadis walau cuma satu kali atau bisa saja mereka keliru menyampaikan hadis, kan mereka manusia.</li>
<li>Apakah mereka yang dinyatakan pendusta itu tidak bisa menyampaikan hadis yang benar?, apakah mereka selalu berdusta? Bisa saja kan mereka berkata benar walau hanya satu kali. Siapa yang bisa memastikan.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sudah jelas jawabannya tidak ada yang pasti tetapi pemecahannya bisa bersifat metodis.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Benar mereka yang tsiqah bisa keliru atau bisa saja dipengaruhi kecenderungan tertentu tapi keraguan ini tidak bisa dibuktikan sehingga lebih aman menerima hadis perawi tsiqah sampai ada kemungkinan yang menguatkan bahwa hadis tersebut keliru. <em>Terima saja sampai ada illat/cacatnya.</em></li>
<li>Benar bahwa mereka yang pendusta bisa saja berkata benar tetapi siapa yang bisa menjamin dan membuktikan bahwa mereka tidak berdusta saat itu. Oleh karena itu untuk amannya lebih baik semua riwayat mereka ditolak sampai ada keterangan yang menyatakan mereka benar misalnya ada perawi tsiqah yang juga meriwayatkan hadis yang sama dengan perawi pendusta tersebut. <em>Tolak saja sampai ada yang menguatkannya.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa masalahnya? Nah kalau anda belum tahu masalahnya adalah <em>Terlalu banyak Sesepuh dan Ulama yang ikut andil dalam ilmu ini.</em> Dan seperti biasa catatannya juga banyak dan memungkinkan <em>Inkonsistensi. </em>Sang Perawi tertentu bisa menjadi perdebatan di kalangan sesepuh. Pernah dengar yang ini</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Athiyyah Al Aufi dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Saad tetapi dihaifkan oleh banyak ulama lain</li>
<li>Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain <span style="text-decoration:line-through;">(<em>bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)</em></span></li>
<li>Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain<span style="text-decoration:line-through;"><em>(apalagi ini nih masa&#8217;  Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)</em></span></li>
<li>Beberapa ulama menyatakan cacat hadis seseorang hanya karena berbeda mahzabnya, Al Jauzjani melakukan pencatatan yang keterlaluan pada banyak perawi yang terkait dengan tasyayyu.</li>
<li>Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab <em>Sirah Ibnu ishaq</em> tetap menjadi referensi umat islam.</li>
<li>Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai2 Imam Syafii menyebutnya <em>&#8220;Tiang Kebohongan&#8221;(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta&#8217;dil)</em>. Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.</li>
<li>Beberapa ulama menyatakan cacat pada setiap perawi yang berbau Rafidhah dengan tuduhan bahwa Rafidhah itu pendusta tetapi anehnya banyak hadis yang diriwayatkan oleh Rafidhah dalam kitab2 hadis. Labih aneh lagi malah ada <em>Rafidhah yang justru dikatakan tsiqat dan jujur.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jangan dikira para Pemuka Konservatif itu diam saja dengan masalah ini. Mereka punya jawaban sederhana yaitu <em>Jarh didahulukan ketimbang ta&#8217;dil</em> dengan alasan mereka yang memuji tidak tahu keburukan perawi yang diketahui oleh mereka yang mencela. Ini adalah Alasan yang digeneralisasi karena kenyataannya ada variasi tertentu dimana mereka yang memuji seorang perawi justru mengetahui dan menolak dengan jelas orang lain yang mencacat atau mencela perawi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya nih seandainya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kesaksian Ibnu Saad soal Athiyah benar maka hadis2 Athiyah <em>(yang tentunya didhaifkan oleh ulama lain)</em> adalah Sunnah yang shahih.</li>
<li>Ketika Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir dan mengatakannya Sunnah maka hal ini keliru jika Katsir memang <em>Tiang kebohongan</em> seperti yang dikatakan Imam Syafii.</li>
<li>Jika Imam Malik benar celaannya bahwa Ibnu Ishaq itu dajjal maka semua Sunah Rasulullah SAW yang dinisbatkan kepada Rasul dalam kitab <em>Sirah Ibnu Ishaq</em> adalah tertolak.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pembuktian pastinya sangat sulit dan yang bisa dilakukan hanya memilih yang lebih aman dan lebih melegakan<em>(alias berprasangka baik)</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Anda lihat Dengan meloncat-loncat pada ulama satu ke ulama lain maka berkesan yang namanya Sunnah itu sudah diRekayasa. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Keanekaragaman Inkonsistensi </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu&#8217; sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu</li>
<li>Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya</li>
<li>Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam</li>
<li>Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy   Qunnut itu bid&#8217;ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?<em>(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). </em>Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada <em><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/08/01/bidah-abu-bakar-umar-dan-usman-yang-melarang-haji-tamattu%e2%80%99/" target="_blank">sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu&#8217; </a>(dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut&#8217;ah).</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kesimpulan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi Rekayasa Sunnah itu sudah jelas dan memang konsekuensi dari ruang waktu yang berbeda. Jangan diartikan ini sebagai penolakan saya terhadap Sunnah. Bukan seperti itu maksud saya, hanya saja saya mengingatkan bahwa banyaknya sesuatu justru mengaburkan sesuatu. Pilihan anda ya mudah saja, tidak peduli dan ikut aman saja dengan Awamisme Sunnah yang artinya anda tetap saja bagian dari <em>Rekayasa Sunnah </em>yaitu<em> </em>Sunnah<em> </em>yang mayoritas ada membudaya di lingkungan anda atau ikut aktif dalam bagian Rekayasa Sunnah baik dengan mengambil inisiatif bergabung dengan golongan tertentu atau justru membuat Rekayasa Sunnah sendiri<span style="text-decoration:line-through;"><em> seperti saya</em></span> . <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Pemecahannya mudah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Jangan pernah menganggap Rekayasa sebagai sesuatu yang menyesatkan. Terima itu apa adanya dan cari pemecahan yang terbaik yang bisa anda lakukan&#8221;</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apakah ini buruk? Ngapain sih bahas ini padahal udah deket puasa?. Lho apa hubungannya, memangnya saya sedang bermaksiat? Nggak banget deh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  . Waduh waduh saya ini mengingatkan anda semua wahai yang mengaku berpegang pada Sunnah. Anda sama-sama punya masalah jadi mari bahu membahu memecahkan masalah. Tidak mau ya sudah dan tidak perlu menghina. Anggap saja saya salah dan cuma cuap-cuap asal, Gampang kan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Salam Damai</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan : Tulisan ini juga sebuah Rekayasa Sunnah jadi pilihan ada pada anda untuk memperhatikan apa yang tersirat atau memasukkannya dalam kotak sampah sambil terus mengutuk.<br />
</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/331/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/331/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/331/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=331&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/08/27/rekayasa-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>161</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/08/fcu3qnlv.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Relativitas Kebenaran</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/04/14/relativitas-kebenaran/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/04/14/relativitas-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 14:15:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[
Relativitas Kebenaran
Seperti banyak hal lain yang berubah nilainya seiring kemajuan pemikiran manusia, Kebenaran seolah-olah telah berubah nilainya menjadi barang mewah nan berkelas.  Tampak jelas di antara sekian banyak orang maka kebenaran akan menjadi yang kesekian kalinya untuk diperbincangkan. Benarkah? Saya kira itu mungkin sekali . Entah mengapa ketika saya membicarakan soal kebenaran maka sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=142&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/05/kakashi_chidori_by_iavengeri.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-184 aligncenter" src="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/05/kakashi_chidori_by_iavengeri.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Relativitas Kebenaran</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti banyak hal lain yang berubah nilainya seiring kemajuan pemikiran manusia, <em>Kebenaran</em> seolah-olah telah berubah nilainya menjadi barang mewah nan berkelas.  Tampak jelas di antara sekian banyak orang maka kebenaran akan menjadi yang kesekian kalinya untuk diperbincangkan. Benarkah? Saya kira itu mungkin sekali . Entah mengapa ketika saya membicarakan soal kebenaran maka sebagian orang memandang dengan sinis dan berkata <em>“ Ah Itu Cuma Utopis”. </em>Apalagi ada kendala besar yang dihadapi ketika kita mau bersama-sama berbicara tentang <em>Kebenaran</em>. Raksasa itu adalah stigmata yang begitu melekat pada manusia bahwa <em>Kebenaran Itu Relatif.</em><span id="more-142"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kebenaran </em>adalah suatu kebutuhan baik disadari atau tidak dan sebaliknya keraguan adalah sesuatu yang kurang disenangi bahkan dibenci oleh banyak orang. Alasannya sederhana, karena manusia pada dasarnya sangat butuh untuk Meyakini sesuatu. Keyakinan membuat manusia merasa Hidup ini berharga untuk dijalani. Bukan berarti saya menyatakan bahwa setiap apa yang diyakini orang maka itulah <em>Kebenaran</em>. Tidak, tidak, yang saya maksud adalah setiap manusia dari lubuk hatinya percaya bahwa ada sesuatu yang disebut kebenaran yang menjadi keyakinannya, terlepas dari kenyataannya <em>apakah Keyakinan itu sendiri benar atau salah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kebenaran Itu Ada</em></strong><br />
Keyakinan akan adanya <em>Kebenaran</em> adalah landasan semua pengetahuan manusia. Apa pun yang diketahui manusia dari gosip ibu-ibu sampai<em> <a href="http://sora9n.wordpress.com/2008/02/26/sedikit-tentang-metodologi-ilmiah-dan-teori-evolusi-lagi/" target="_blank">Teori Evolusi yang Kontroversial</a></em> <em>(katanya sih)</em> jelas dilandasi oleh perasaan Universal bahwa <em>Kebenaran itu ada</em>. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahkan oleh mereka yang besar sekali keraguannya seperti kaum Sophis, <a href="http://gentole.wordpress.com/2008/01/14/anda-mengaku-agnostik/" target="_blank">para Agnostik </a>dan pengidap Pesimistik. Mengapa? Ok anggap saja klaim bahwa <em>Kebenaran tidak ada</em> itu adalah benar, maka hal ini membuktikan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Tidak ada satupun yang disebut benar sehingga premis apapun menjadi tidak ada nilainya atau tidak bermakna. Implikasinya pernyataan <em>Anda seorang yang baik dan murah hati </em>sama saja nilainya dengan pernyataan <em>Anda brengsek dan bermental hina</em>. <em>Bumi itu bulat</em> tidak ada bedanya dengan <em>Bumi itu datar</em>. <a href="http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/15/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/" target="_blank"><em>Matahari mengelilingi bumi</em></a> tidak ada bedanya dengan <em><a href="http://langitselatan.com/2007/04/21/bagaimana-membuktikan-bahwa-bumi-mengelilingi-matahari-dan-bukan-sebaliknya/" target="_blank">Bumi mengelilingi </a><a href="http://amed.wordpress.com/2007/10/27/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/" target="_blank">Matahari</a>.</em> Secara umum semua informasi menjadi tidak ada nilainya dan timbullah Kekacauan Universal yang mengerikan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Yang Paling kacau adalah bahkan Premis <em>Kebenaran tidak ada</em> itu sendiri akan menjadi Sesuatu yang tidak bernilai juga</li>
<li>Dengan sudut pandang lain pernyataan <em>Kebenaran tidak ada</em> tidak mungkin bisa menjadi benar. Karena jika benar maka justru menunjukkan bahwa ada sesuatu yang benar dan ini kontradiktif dengan premisnya sendiri yang menyatakan <em>Kebenaran tidak ada.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kebenaran Yang Mutlak dan Relatif</em></strong><br />
Apakah <em>Kebenaran</em> itu terbagi menjadi Mutlak dan Relatif?. Ini pertanyaan yang menarik. Saya akan memulai dari sesuatu yang jelas bahwa <em>Kebenaran Itu Ada</em>. Dari sini kita melangkah pada bagaimana kedudukan <em>Kebenaran</em> itu? Statiskah ia atau justru Ia dinamis.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda meyakini sesuatu sebagai <em>Kebenaran </em>dan ternyata di kemudian hari apa yang anda yakini itu benar-benar terbukti salah, maka dalam posisi ini adalah hak anda sepenuhnya untuk mengatakan bahwa <em>Kebenaran Itu Relatif</em>. Tetapi mari saya jelaskan pokok masalah sesungguhnya adalah bahwa sebenarnya <em>Anda telah meyakini sesuatu yang salah</em> dan sekarang barulah <em>anda tahu Kebenaran-nya.<br />
</em><br />
Jika anda meyakini sesuatu sebagai <em>Kebenaran</em> dan ternyata saya meyakini apa yang anda yakini itu tidak benar, maka adalah hak anda sepenuhnya untuk mengatakan bahwa <em>Kebenaran Itu Relatif</em>. Tetapi mari saya jelaskan kenyataannya adalah bahwa sebenarnya <em>anda bisa jadi meyakini sesuatu yang salah</em> dan dalam hal ini <em>sayalah yang benar.</em> Atau justru <em>saya sebenarnya salah</em> maka <em>Andalah yang benar. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang ingin saya tawarkan adalah <em>Yang Benar adalah Benar</em>. <em>Kebenaran </em>adalah kebenaran dan <em>Kesalahan</em> adalah kesalahan. Keduanya tidak berada pada satu tempat yang sama. <em>Kebenaran Itu Mutlak</em>, oleh karena itu tidak ada yang namanya <em>Kebenaran</em> akan menjadi <em>Kesalahan</em> atau <em>Kesalahan</em> menjadi <em>Kebenaran</em>. Tetapi <em>Kebenaran Itu Relatif</em>, oleh karena Sesuatu yang anda yakini sebagai <em>Kebenaran</em> bisa jadi adalah suatu <em>Kesalahan</em> dan sesuatu yang anda pikir <em>salah</em> bisa jadi adalah suatu <em>Kebenaran.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Dua Dunia Yang Berbeda</em></strong><br />
<em>Kebenaran Itu Mutlak</em> dan <em>Kebenaran Itu Relatif </em>berada pada dua dunia yang berbeda. Sesuatu yang absolute berada pada <em>Dunia Yang Objektif</em> dan sesuatu yang relative berada pada <em>Dunia Yang Subjektif. </em> <em>Dunia Yang Objektif </em>mengandung Aturan bahwa <em>Kebenaran</em> itu Independen, tidak bergantung pada siapa yang merasa-rasa, sedangkan <em>Dunia Yang Subjektif </em>memberi keluasan bahwa siapapun bisa merasa-rasa apa yang disebut sebagai <em>Kebenaran</em>. Dalam dunia ini hal-hal yang kontradiksipun bisa dianggap sama-sama <em>Kebenaran</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Dunia Kita Adalah Dunia Yang Subjektif</em></strong><br />
Realitanya kita hidup dalam <em>Dunia yang subjektif</em>. Kita manusia hidup dengan manusia lain dan saling berinteraksi. Dunia kita adalah dunia bersama, dimana kita semua manusia berhak merasa-rasa. Dalam hal ini maka kita semua bernilai sama, Apa yang saya yakini tidak lebih rendah nilainya dari apa yang anda yakini. Saya meyakini suatu <em>Kebenaran</em> dan sama halnya andapun meyakini sesuatu <em>Kebenaran</em>. Dan dalam tahap ini <em>Kebenaran</em> Anda tidak lebih rendah dari <em>Kebenaran</em> Saya. <em>Semua Yang Kita Yakini adalah Kebenaran dalam Dunia Yang Subjektif</em>, atau dengan kata lain merupakan sesuatu yang kita anggap sebagai <em>Kebenaran</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Manusia Dan Dunia Yang Objektif</em></strong><br />
<em>Dunia Yang Objektif </em>adalah dunia dengan <em>Kebenaran yang Independen</em>. Disini Kebenaran dicapai dengan standar dan aturan. Terlepas dari anda tahu atau tidak standar dan aturan itu maka itu tidak menafikan bahwa standar itu ada. Jika anda mengatakan bahwa standar itu tidak ada maka bagaimana kebenaran itu dicapai?. Menyatakan standar itu tidak ada sama halnya dengan menyatakan bahwa <em>Kebenaran</em> itu tidak mungkin diketahui manusia sehingga sama halnya tidak ada yang namanya <em>Kebenaran</em>. Padahal sudah jelas <em>Kebenaran Itu Ada.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kesimpulan</em></strong><br />
<em>Kebenaran Itu Mutlak dan Yang Dianggap Kebenaran Itu Relatif</em><br />
Sejatinya <em>Kebenaran Itu Mutlak</em> karena itulah sifat asli kebenaran dan untuk mencapainya ada suatu standar dan aturan. Dalam aplikasinya <em>Kebenaran Itu Relatif</em> karena anda berhadapan dengan manusia sejenis anda yang sama-sama menghargai apa itu <em>Kebenaran.</em> Manusia yang akan terasa sakit hatinya jika anda menyatakan salah pada apa yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar. Oleh karena itu jika anda berbicara dengan orang lain soal <em>Kebenaran</em> maka janganlah sama-sama berdiri pada <em>Dunia Yang Subjektif</em>. Jika memang anda dan orang lain itu benar-benar mau mencari kebenaran maka mari bersama-sama meninggalkan <em>Dunia Yang Subjektif</em> dan beralih ke <em>Dunia Yang Objektif</em>. Dunia dengan standar dan aturan yang hendaknya disepakati bersama. Dunia yang hendaknya dimasuki atas dasar <a href="http://danalingga.wordpress.com/2008/04/11/sikap-dalam-diskusi-agama/" target="_blank"></a><a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/09/20/toleransi-netral-dan-toleransi-positif/" target="_blank"><em>Toleransi yang Positif.</em></a><em> </em> Seperti Kata Seseorang<em> </em><a href="http://danalingga.wordpress.com/2008/04/11/sikap-dalam-diskusi-agama/" target="_blank"><em>Ada Sikap Tertentu Untuk Berdiskusi Soal Keyakinan</em></a>. Ah cukup sampai disini dulu ya, melelahkan memang dan cukup berat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  .</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/142/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/142/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=142&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/04/14/relativitas-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://secondprince.files.wordpress.com/2008/05/kakashi_chidori_by_iavengeri.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tiranisme Pengikut Salafy</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2008/03/29/tiranisme-pengikut-salafy/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2008/03/29/tiranisme-pengikut-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 13:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Judul yang aneh dan kesannya berlebihan, memang pada dasarnya begitu, ya mungkin karena keterbatasan pelampiasan ekspresi dalam suatu tulisan yang membuat seseorang menampilkannya dalam bentuk bahasa yang dilebihkan. Tulisan ini adalah sebuah bentuk kepedulian(keprihatinan tepatnya) bagi pikiran-pikiran tertentu yang bercorak layaknya Penguasa.  Pikiran yang membunuh setiap apapun yang menjatuhkan pikirannya, ya pikiran yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=125&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><i>Judul yang aneh dan kesannya berlebihan</i>, memang pada dasarnya begitu, ya mungkin karena keterbatasan pelampiasan ekspresi dalam suatu tulisan yang membuat seseorang menampilkannya dalam bentuk bahasa yang dilebihkan. Tulisan ini adalah sebuah bentuk kepedulian<i>(keprihatinan tepatnya) </i>bagi pikiran-pikiran tertentu yang bercorak layaknya Penguasa.<i>  Pikiran yang membunuh setiap apapun yang menjatuhkan pikirannya</i>, ya pikiran yang telah menjadi Tiran bagi dirinya dan orang lain. Pikiran yang menjadi sesuatu yang bernyawa sehingga apapun yang mengancamnya harus dibunuh, benar-benar seperti Tiran<span id="more-125"></span></p>
<p><i>Siaaaap<br />
</i></p>
<p><i>Siap</i></p>
<p><i>Siapkan diri baik-baik ya</i> <i>panjang soale</i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i><b>Peristiwa Pertama</b></i><br />
Di suatu tempat, Ada beberapa orang yang berada disitu dan sebutlah Si Saya salah satunya. Karena bosan akhirnya Si Saya memilih untuk mengajak bicara seseorang</p>
<p>Si Saya :  <i>Menurut saya pendapatmu tentang Musik itu tidak benar, boleh-boleh saja        mendengarkan musik</i>.<i><br />
</i>Jawabnya<i>  ”Nggak, kamu salah banyak dalil dari Al Quran dan Hadis yang menyatakan Musik itu haram”.</i></p>
<p>Si Saya : <i>Tapi kan ada juga hadis yang mengindikasikan bahwa musik itu dibolehkan, lagipula Ayat Al Quran yang kamu maksud, setelah saya baca tidak jelas menyatakan haramnya musik. Jujur saja kalau saya membacanya itu gak ada kaitannya langsung dengan nyanyian dan musik</i><br />
Jawabnya  <i>” Semua itu sudah menjadi dalil oleh ulama-ulama, kamu Jangan menafsirkan sesuai dengan hawa nafsumu”</i></p>
<p>Si Saya : <i>Maaf saya menafsirkannya dengan pikiran saya dan juga pendapat ulama kok.</i><br />
Jawabnya<i>  ”Memangnya siapa ulama yang kamu maksud?”<br />
</i><br />
Si Saya : <i>Yusuf Qardhawi</i><br />
<i>(tertawa)</i>Jawabnya<i>  ”Lebih baik kamu Jangan baca buku-buku dia, dia itu menyimpang dari ulama salaf”<br />
</i><br />
Si Saya : <i>Kata siapa, penjelasannya bagus dan dalilnya juga kuat kok</i><br />
Jawabnya<i>  ”kamu jangan tertipu ,pembid’ah itu memang manis bicaranya”.<br />
</i><br />
Si Saya : <i>Kamu pernah baca bukunya</i><br />
Jawabnya<i>  ”lah kamu ini gimana, kan aku yang larang kamu baca buku dia ,jadi mana mungkin aku membaca bukunya”.<br />
</i><br />
Si Saya : <i>Tapi kan lebih baik kalau dibaca dulu buat perbandingan</i>.<br />
<i>Jawabnya  ”Untuk apa kan haramnya sudah jelas, lagipula mana ada sih seorang ulama menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah SWT, kalau ada itu sudah sesat namanya dan buku yang sesat kayak gitu haram dibaca” .</i></p>
<p>*gubrak*</p>
<p>Akhirnya Si Saya itu bungkam, pikirannya untuk berdiskusi sudah terbunuh dengan <i>serangan terakhir yang mematikan</i><i><b><br />
.</b></i></p>
<p><i><b>.</b></i></p>
<p><i><b>.</b></i></p>
<p><i>Gimana, kita lanjut<b>  </b></i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i><b><i><b>Peristiwa Kedua</b></i><br />
</b></i> Kali yang lain tentu dengan Tiran yang lain, Si Saya dan seseorang yang tentunya dirahasiakan namanya sedang berdiskusi tentang Tanda-tanda Kebesaran Allah SWT, sampai Si Saya berkata<br />
<i><b><br />
</b></i>Si Saya<i> : Manusia itu harus banyak bersyukur dengan bertafakur memikirkan penciptaan langit dan bumi. Lihat saja kekuasaan Allah SWT yang telah menjadikan sistem tata surya dengan planet-planet yang mengitari matahari yang semuanya begitu teratur, kamu tahu Azaz Antropi dalam Fisika, salah satunya jika pada awalnya kedudukan bumi bergeser sedikit saja dari orbitnya maka kehidupan di bumi ini tidak akan terbentuk”.</i><i><br />
</i>Jawabnya  <i>”Yang benar matahari yang mengelilingi bumi, bumi ini pusat tata surya”</i><br />
<i><br />
Si Saya : ????&#8230;&#8230;(oooooh dalam hati Si Saya baru ingat) “Kalau menurut saya, bumi mengelilingi matahari itu sudah menjadi hal yang dasar dalam Ilmu Astronomi, banyak yang membuktikan hal itu, lagipula dari pelajaran Fisika di sekolah dulu seperti itu yang diajarkan”.<br />
</i>Jawabnya  <i>”Itu Cuma konspirasi yang dibuat-buat oleh orang kafir untuk mengelabui orang Islam, karena yang benar menurut Salafus salih adalah matahari mengelilingi bumi”.</i><br />
<i><br />
</i> Si Saya<i> : Saya tahu memang ada ulama yang berpendapat begitu tetapi setelah saya baca dalilnya baik Al Quran maupun hadis penunjukannya tidaklah jelas ,tidak menafikan kalau bumi mengelilingi matahari, itu Cuma sekedar penafsiran.<br />
</i>Jawabnya  <i>”Kita harus menafsirkan sesuai pemahaman salafus salih karena Itulah yang benar, tidak boleh menafsirkan dengan hawa nafsu”.</i><br />
<i><br />
</i> Si Saya<i> : Saya menafsirkan dengan akal saya<br />
</i>Jawabnya  <i>”Tidak boleh mendahulukan akal dari Al Quran dan Hadis”</i><br />
<i><br />
</i> Si Saya terbunuh lagi setelah bangkit dari kematiannya, dalam hati muncul suara-suara<i>  “sungguh tidak berperikepikiran benar”.</i></p>
<p><i>Jadi teringat sesuatu</i></p>
<p><i>hmmmmm</i></p>
<p><i>he he he </i></p>
<p><i><i>Sudah mulai menyebalkan ya</i></i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i><b><i>Peristiwa Ketiga</i></b><br />
</i> Pengalaman ini ternyata tidak berhenti, Selanjutnya Si Saya suatu ketika ditanya seseorang<i>  <i>“eh Syiah itu apa?”.</i><br />
</i> Si Saya menjawab<i><i>  “Syiah itu orang Islam yang sangat mencintai Keluarga Nabi SAW, kenapa tanya itu?”.</i><br />
</i> Jawabnya<i>  <i>“Ah nggak, kemarin ngobrol sama temen tentang politik dunia seperti masalah Nuklir Iran dan lain-lain terus gak tahu gimana ceritanya dia cerita juga masalah Syiah? Kalau gak salah ada juga masalah bentrokan fisik Sunni dan Syiah, dia cerita banyak tentang Sunni dan kalau kita ini Sunni begitulah tapi dia cerita sedikit tentang Syiah. Jadi Syiah itu orang Islam kan”.<br />
</i><br />
</i> Sebelum Si Saya sempat menjawab ada yang menimpali dari samping<i> <i>”Bukan, Syiah itu Aliran sesat, Mereka itu suka mencaci sahabat nabi dan banyak ajaran yang gak ada kaitannya dengan islam”. </i><i>(nih orang gak sopan banget ya </i></i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> <i> <i>)</i><br />
</i> Si Penanya bingung<i><i>  ”oh begitu ya”.<br />
</i><br />
</i> Si Saya tidak tinggal diam  <i><i>”Bukan seperti itu, itu cerita yang tidak benar ,yang penting mereka itu Islam, Cuma pemahamannya ada yang berbeda dengan Islam sunni”.</i><br />
</i> Si Penimpal menimpal lagi <i><i>”Salah, banyak ulama yang menyatakan mereka itu bukan Islam, ada banyak buku yang membahas masalah ini”. </i></i>Kemudian si Penimpal menoleh kepada Si Saya dan berkata  <i><i>”Aku heran kok kamu bisa bilang kayak gitu, aku tahu kamu pintar tapi kamu harus lebih banyak membaca tentang ini” .<br />
</i><br />
</i> Si Saya menjawab<i>  <i>”Oh iya tentu saja aku banyak membaca masalah ini juga dari tipe buku yang kamu baca, tetapi aku juga baca buku-buku dari Ulama Syiah sendiri yang pada umumnya adalah bantahan terhadap buku yang tipe kamu itu”.<br />
</i></i> Si Penimpal menjawab<i><i>  “Pantas saja kamu itu sudah terpengaruh dengan propaganda Syiah”.<br />
</i><br />
</i> Si Saya dengan rasa tidak suka berkata<i>  ”Propaganda Bagaimana? Aku kan Cuma membandingkan apa yang dituduhkan terhadap Syiah dengan pernyataan Ulama Syiah sendiri, juga mempelajari dalil-dalil apa yang menjadi landasan mahzabnya dalilnya dari Al Quran dan Hadis kok, bila perlu kita bisa bicara panjang tentang ini. Lagi pula untuk mengetahui pasti tentang Syiah kita tidak bisa mengabaikan pernyataan orang Syiah sendiri kan”.<br />
</i> Si Penimpal berkata<i>  <i>“Orang-orang Syiah itu pembohong mereka itu sering membuat hadis palsu untuk menunjang mahzabnya Al Qurannya saja beda dengan Al Quran kita”</i>.</i></p>
<p>Si Saya menjawab  <i><i>“Enggak ah Al Qurannya sama, itu Cuma fitnah dan mereka juga menggunakan hadis-hadis yang diterima oleh orang Sunni”</i><br />
</i> Jawaban Si Penimpal<i><i>  “Hadis-hadis yang mereka bilang itu tidak benar, mereka menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka”.<br />
</i><br />
</i> Si Saya berkata<i><i>  “ Rasanya kan lebih baik kalau kamu baca dulu buku ulama Syiah sebelum bicara seperti itu”</i><br />
</i> Si Penimpal berkata<i>  <i>”Buku aliran sesat buat apa dibaca ntar terpengaruh, lagipula orang Syiah itu pendusta banyak ulama yang bilang kalau mereka itu orang yang paling pendusta, jadi untuk apa baca buku Syiah”.<br />
</i><br />
</i> Si Saya berkat<i>a  <i>“Cara kamu itu tidak benar, itu menghukum secara sepihak namanya, pantas saja kamu menuduh yang bukan-bukan tentang Syiah”</i>.<br />
</i> Si Penimpal berkata<i><i>  ”kamu itu sudah terpengaruh dengan Syiah lebih baik kamu tidak usah baca-baca buku kayak gitu, baca buku-buku ulama Salafus salih saja biar nggak sesat jadinya”.<br />
</i><br />
</i> Si Saya berkata<i>  <i>“Aku sudah baca buku-buku yang kata kamu Salafus salih itu, jadi kenapa kita tidak diskusi mendalam soal ini, kita bahas satu-persatu biar jelas”<br />
</i></i> Si Penimpal berkata<i><i>  “Aku masih perlu banyak belajar buat diskusi, lagipula semuanya sudah jelas kok”</i>.<br />
</i> Si Saya mengakhiri<i>  “Ya sudah kalau begitu”  dalam hatinya ada suara yang berkata  <i>“muncul satu Tiran lagi”.</i></i></p>
<p><i>Ah Jelas kan</i></p>
<p><i>Pernah ngalamin</i></p>
<p><i>Gak enak ya</i></p>
<p><i><i>Huuuuuuuuuuf  </i></i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i>Ok lanjut</i></p>
<p><i><b>Pembahasan</b></i><i><br />
</i> Tiga peristiwa di atas adalah contoh mereka yang menggunakan <i>Logika Tiran</i>, membunuh pendapat orang lain karena berbeda dengan pendapatnya sendiri. Adalah wajar setiap orang punya pendapat masing-masing, dan sebenarnya terserah orang juga mau berpendapat seperti apa. Tapi ada sesuatu yang perlu diperhatikan yaitu Hubungan sesama manusia, ketika seseorang meyakini sesuatu dan menyuarakan pendapatnya kepada orang lain baik dengan sengaja ataupun tidak maka seharusnya dia sadar kalau dia telah berhubungan dengan teritori orang lain, nah disinilah letak permasalahannya.</p>
<p>Teritori orang lain adalah sepenuhnya milik orang tersebut, dan pada area ini orang tersebut punya kekuasaan untuk menyatakan pendapatnya yang mungkin timbul karena ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain. Tiran-tiran ini telah melanggar batas teritori orang lain, mempersempitnya sehingga orang tersebut tidak punya area untuk Menyampaikan pendapatnya lebih lanjut, memang ini sih tergantung orang tersebut juga karena dia bisa menjadi menjijikkan juga dan menjadi Tiran yang lain, dan terjadilah perang antar Tiran. Tetapi bagi orang yang berperikepikiran atau bagi orang yang punya niat baik dengan dirinya sendiri <strike><i>seperti saya</i></strike> tentu dia akan menjauhkan diri dari niat untuk membalas pendapat orang lain karena sekedar sakit hati. Yang dimaksud itu dia tidak akan melanjutkan diskusinya dengan cara-cara Tiran yang menjijikkan yaitu dengan melanggar batas teritori orang lain, lebih baik baginya untuk menghentikan kezaliman ini dengan mengakhiri diskusi<i></i></p>
<p><i>Tiran</i></p>
<p><i>Tiran </i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
Lihat dialog pertama, Si Saya telah menyatakan pendapatnya  <i>“Menurut saya pendapatmu tentang Musik itu tidak benar, boleh-boleh saja mendengarkan musik”</i>.  Kemudian Tiran itu menjawab  <i>”Nggak, kamu salah banyak dalil dari Al Quran dan Hadis yang menyatakan Musik itu haram”</i>. Pada batas ini bisa dibilang semua masih dalam teritori masing-masing. Tetapi pada saat Si Saya mencoba membuka alasan yang mendasari pernyataannya, Si Tiran telah menghempaskan dengan pernyataannya <i>“ Semua itu sudah menjadi dalil oleh ulama-ulama, kamu Jangan menafsirkan sesuai dengan hawa nafsumu”.</i> Di sini Si Tiran mulai menjadi Tiran, dia mulai mempersempit ruang gerak pikiran Si Saya, Padahal Si Saya baru ingin memulai diskusi lebih lanjut tentang dalil-dalilnya dengan berkata <i>“Tapi kan ada juga hadis yang mengindikasikan bahwa musik itu dibolehkan, lagipula Ayat Al Quran yang kamu maksud, setelah saya baca tidak jelas menyatakan haramnya musik. Jujur saja kalau saya membacanya itu gak ada kaitannya langsung dengan nyanyian dan musik”.  </i>Tapi Si Tiran itu telah menusuknya dengan menyatakan bahwa pendapat Si Saya itu Cuma berdasar hawa nafsunya sambil menggunakan <i>Argumentum Ad Populum</i>  sudah menjadi dalil oleh ulama-ulama. Dalam batas ini Si Saya bisa saja berpikir  apa gunanya melanjutkan diskusi lebih lanjut apapun yang saya katakan dia cukup menusuknya dengan  <b><i>Pedang “itu hawa nafsumu”.</i></b>  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tetapi dengan sedikit sabar dan penuh kedongkolan Si Saya tetap melanjutkan pendapatnya dengan menyebutkan ulama yang menjadi dasar pendapatnya, dia berharap nama ulama ini dapat menggugah si Tiran untuk membahas masalahnya dengan saling berbagi dalil dan argumen secara ilmiah layaknya diskusi yang berkualitas. Sayangnya Si Tiran kembali menusuk  <i>”Lebih baik kamu Jangan baca buku-buku dia, dia itu menyimpang dari ulama salaf”</i>. Dan menusuk lagi <i>”kamu jangan tertipu ,pembid’ah itu memang manis bicaranya”.</i> Si Saya sepertinya terluka cukup parah tapi dia belum juga menyerah perjuangan masih belum berakhir, kali ini dia membalas dengan mengatakan apakah si Tiran sudah baca bukunya dan wah ternyata si Tiran tidak pernah membacanya, tentu saja dengan itikad baik Si Saya berkata  <i>“Tapi kan lebih baik kalau dibaca dulu buat perbandingan”.</i> Si Tiran justru menusuknya dengan serangan terakhir yang mematikan  <i>”Untuk apa kan haramnya sudah jelas, lagipula mana ada sih seorang ulama menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah SWT, kalau ada itu sudah sesat namanya dan buku yang sesat kayak gitu haram dibaca”</i> .  Tepat menusuk <i>Jantung pikiran </i>Si Saya, dia pun bungkam  jadi dari tadi ternyata <i>saya cuma sendirian</i>, yah mau bagaimana lagi apapun yang dikatakan Si Saya bagi si Tiran semua sudah jelas pendapatnya yang benar dan Si Saya salah, si Tiran tidak ada niat untuk diskusi rupanya dia cuma mau menunjukan kekuasaannya di hadapan Si Saya. Si Saya akhirnya pergi dan si Tiran berpuas diri, dia tidak tahu kalau dalam hati Si Saya bersyukur  <i>“Untung saya tidak menderita penyakit ganas seperti itu”.</i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Contoh yang sederhana memang, kalau dilihat lebih lanjut tidak ada satupun pendapat <i>(lebih tepat tusukan)</i> si Tiran itu yang logis semua cuma berdasar dugaan, tuduhan tak berdasar dan  <i>Argumentum Ad Populum</i> yang diputar-diputar  <i>”Untuk apa kan haramnya sudah jelas, lagipula mana ada sih seorang ulama menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah SWT, kalau ada itu sudah sesat namanya dan buku yang sesat kayak gitu haram dibaca”</i>. Ulama yang dimaksud itu tidak menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT,  justru dia menyatakan bahwa menurut pendapatnya itu halal dan menolak pendapat ulama yang mengatakan itu haram jadi yang benar ulama itu menghalalkan apa yang dinyatakan haram oleh ulama lain, rasanya tidak sulit untuk mengerti masalah ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  . Memang si Tiran itu karena pengaruh penyakitnya tidak dapat memahami dengan benar perkataan orang lain, dia cuma bisa melihat dirinya sendiri dan orang lain dibawahnya, yah mungkin penyakit ini akibat kemewahan pikiran kelompoknya atau ulamanya yang dia telan sepuas-puasnya, kenikmatan yang membuatnya menjadi begitu grandiosa sehingga dia memandang orang lain yang tidak memiliki kemewahan itu sebagai orang yang miskin agamanya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i>Waham</i></p>
<p><i>Waham</i></p>
<p><i>Waham&#8230;&#8230;&#8230; </i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mari kita lihat dialog yang kedua dengan Tiran yang lain, pada dialog ini Si Saya berbicara tentang kekuasaan Allah SWT dan salah satunya yaitu mengenai keteraturan dalam sistem tata surya. Menanggapi ini Si Tiran menyatakan bahwa Si Saya itu salah yang benar Matahari mengelilingi bumi. Kemudian Si Saya menjawab <i>“Kalau menurut saya, bumi mengelilingi matahari itu sudah menjadi hal yang dasar dalam Ilmu Astronomi, banyak yang membuktikan hal itu, lagipula dari pelajaran Fisika di sekolah dulu seperti itu yang diajarkan”. </i>Kalau dilihat Si Saya menggunakan <i>Argumentum Ad Populum</i> yang berdasarkan fakta, maksudnya yang dibicarakannya itu memang ada. Dalam Ilmu Fisika khususnya Astronomi hal itu memang menjadi konsensus yang disepakati di seluruh dunia saat ini.</p>
<p>Dan jawaban si Tiran adalah  <i>”Itu Cuma konspirasi yang dibuat-buat oleh orang kafir untuk mengelabui orang Islam, karena yang benar menurut Salafus salih adalah matahari mengelilingi bumi”. </i>Ini adalah sebuah serangan ,sangat jelas sekali kalau si Tiran itu tidak bisa menolak apa yang dinyatakan oleh Si Saya tetapi dia membalik masalahnya bahwa konsensus itu adalah konspirasi orang kafir, si Tiran menggunakan <i>Argumentum Ad Populu</i>m yang berdasarkan angan-angannya semata. Menggunakan argumen yang seperti ini adalah bentuk kekonyolan cara berpikir yang menunjukkan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Occidentalism" target="_blank"><i>Oksidentalisme paranoid</i></a> si Tiran. Oleh karena itu wajar sekali Si Saya tidak menanggapi kekonyolan ini, dia cuma menanggapi bagian terakhir tentang Salafus salih dengan kata-kata  <i>“Saya tahu memang ada ulama yang berpendapat begitu tetapi setelah saya baca dalilnya baik Al Quran maupun hadis penunjukannya tidaklah jelas ,tidak menafikan kalau bumi mengelilingi matahari, itu Cuma sekedar penafsiran”</i>. Pernyataan Si Saya adalah pembuka yang jelas untuk membahas masalah ini dengan dalil dan argumen yang ilmiah, dia mengawali dengan garis besar pendapatnya dan sudut pandangnya dalam masalah ini, menanggapi ini orang yang diajak bicara dapat merespon dengan bertanya Bagaimana tepatnya penafsiran yang Si Saya bicarakan, tetapi Si Tiran tidak memahami isyarat ini dia justru mempersempit area Si Saya dengan berkata  <i>”Kita harus menafsirkan sesuai pemahaman salafus salih karena Itulah yang benar , tidak boleh menafsirkan dengan hawa nafsu”</i>. Nyata sekali kalau Si Tiran ini tidak mau mendengar dalil Si Saya, baginya sudah cukup pemahaman salafus salihnya dan setiap yang bertentangan dengan itu dia nyatakan menafsirkan dengan hawa nafsu, padahal sedikitpun dia belum mendengar apa tepatnya penafsiran Si Saya.</p>
<p>Dalam batas ini Si Saya cukup terluka oleh serangan itu oleh karenanya dia membela dirinya dengan berkata <i> “Saya menafsirkan dengan akal saya”  , </i>yang ingin ditekankannya adalah dia menggunakan kemampuan berpikirnya untuk memahami Al Quran dan Hadis yang dimaksud, tetapi si Tiran entah karena berpura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti apa yang dibicarakan menjawab dengan tikaman  <i>”Tidak boleh mendahulukan akal dari Al Quran dan Hadis”.</i> Pernyataan ini cukup telak membuat Si Saya berpikir si Tiran ini tidak mengerti sedikitpun pembicaraan, kalau sudah begini apa yang mau dikatakan lagi. Memang mereka para Tiran ini mempersempit teritori orang lain dengan argumen atau kata-kata yang seolah-olah benar padahal tidak atau tidak pada tempatnya. Dan seandainya ada yang membantah argumennya dia akan membalasnya dengan sengit dan terburu-buru seolah-olah pikiran itu berbahaya sehingga perlu secepatnya dimatikan. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i>Sesat kamu </i></p>
<p><i>Sesat kamu </i></p>
<p><i></i><i>Sesaaaaaaaaaaaat </i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i></i>Dialog yang terakhir mengenai <a href="http://ressay.wordpress.com/2007/01/17/terbelahnya-suni-syiah-sebuah-realitas-ambiguitas-islam/" target="_blank">masalah Sunni dan Syiah</a> terjadi karena ada seseorang yang bertanya kepada Si Saya dan Si Saya menjelaskan apa yang dia tahu, tetapi si Penimpal datang walaupun tidak tak terduga<i>(menurut Si Saya) </i>dan mengatakan kalau Si Saya itu salah, percakapan Selanjutnya membuktikan kalau si Penimpal itu ternyata Tiran juga. Dimulai dari pernyataan si Tiran  <i>“ Pantas saja kamu itu sudah terpengaruh dengan propaganda Syiah”.</i> Sebelumnya Si Saya cuma mengatakan kalau dia membaca banyak buku tentang Syiah termasuk karya ulama Syiah sendiri, tetapi si Tiran menjawab dengan tuduhan aneh seperti itu, makanya Si Saya menjawab  <i>”Propaganda Bagaimana? Aku kan Cuma membandingkan apa yang dituduhkan terhadap Syiah dengan pernyataan Ulama Syiah sendiri, juga mempelajari dalil-dalil apa yang menjadi landasan mahzabnya dalilnya dari Al Quran dan Hadis kok, bila perlu kita bisa bicara panjang tentang ini. Lagi pula untuk mengetahui pasti tentang Syiah kita tidak bisa mengabaikan pernyataan orang Syiah sendiri kan”</i>. Ini adalah cara yang terang-terangan untuk mengajak si Tiran berdiskusi dengan dalil dan argumen yang ilmiah <i>(mungkin Si Saya menyadari kalau si Tiran ini tidak dapat menangkap isyarat dalam kata-kata yang halus seperti pengalamannya sebelumnya dengan Tiran yang lain).</i></p>
<p>Dan tidak tak terduga si Tiran menyerang niat baik Si Saya dengan kata  <i>“Orang-orang Syiah itu pembohong mereka itu sering membuat hadis palsu untuk menunjang mahzabnya Al Qurannya saja beda dengan Al Quran kita”</i>.  Lihat baik-baik yang ingin si Tiran ini katakan bahwa tidak ada gunanya membandingkan atau membaca buku ulama Syiah karena mereka semua pembohong, Si Saya berpikir kalau sudah begitu apalagi yang bisa dibicarakan, tapi walaupun begitu Si Saya tetap menjawab  <i>“Enggak ah Al Qurannya sama, itu Cuma fitnah dan mereka juga menggunakan hadis-hadis yang diterima oleh orang Sunni”.</i></p>
<p>Si Saya ingin membantah si Tiran tentang tuduhannya terhadap Al Quran Syiah dan hadis palsu yang dikatakan si Tiran, tentu saja Si Saya ingin si Tiran menanggapi dengan menanyakan Si Saya apa dalilnya bicara begitu? Tapi lain yang diharapkan Si Tiran Malah menyerang Si Saya dengan berkata  <i>“Hadis-hadis yang mereka bilang itu tidak benar, mereka menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka”</i>. Si Saya membatin <i>saya rasa kamulah yang bicara dengan hawa nafsu, Padahal kamu belum pernah membaca buku ulama Syiah </i>. Si Saya berharap pernyataan ini akan menggugah Si Tiran, paling tidak akan membuatnya menyadari kalau dia menyatakan sesuatu padahal dia belum membaca buku ulama syiah yang dia bicarakan. Ternyata si Tiran itu benar-benar tidak menyadari dan menjawab dengan serangan selanjutnya  <i>”Buku aliran sesat buat apa dibaca ntar terpengaruh, lagipula orang Syiah itu pendusta, banyak ulama yang bilang kalau mereka itu orang yang paling pendusta, jadi untuk apa baca buku Syiah”.</i></p>
<p>Sebelumnya Serangan seperti ini akan mematikan niat Si Saya untuk melanjutkan diskusi tetapi mungkin karena pengalamannya Si Saya tetap bertahan dan kembali ke medan laga dia berkata  <i>“Cara kamu itu tidak benar, itu menghukum secara sepihak namanya, pantas saja kamu menuduh yang bukan-bukan tentang Syiah”</i>. Alih- alih tersudut si Tiran Malah semakin garang dan melancarkan serangan Argumentum Ad Hominem <i>”kamu itu sudah terpengaruh dengan Syiah lebih baik kamu tidak usah baca-baca buku kayak gitu, baca buku-buku ulama salafus salih saja biar nggak sesat jadinya”.</i> Secara tidak langsung yang ingin si Tiran katakan Si Saya sudah mulai sesat. Si Saya tidak senang dituduh macam-macam oleh karena itu dia membela diri sambil menyatakan ajakan yang terakhir  <i>“Aku sudah baca buku-buku yang kata kamu salafus salih itu, jadi kenapa kita tidak diskusi mendalam soal ini, kita bahas satu-persatu biar jelas”</i>. Jawaban si Tiran sama seperti sebelumnya penolakan yang diiringi serangan akhir  <i>“Aku masih perlu banyak belajar buat diskusi, lagipula semuanya sudah jelas kok”.</i> Si Saya mendengar dirinya sendiri membatin  <i>“oh jadi kamu belum banyak belajar untuk bisa melontarkan semua tuduhan yang kamu sampaikan dan saya rasa kamu tidak akan belajar kalau kamu pikir semuanya sudah jelas, saya heran apa yang kamu pelajari, kasihan sekali orang-orang yang tidak tahu apa artinya belajar”</i>. Akhirnya Si Saya menutup diskusi yang memuakkannya dengan berkata  <i>“Ya sudah kalau begitu”</i> .  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Seperti yang dikemukakan Si Saya ternyata si Tiran itu tidak mengerti apa artinya belajar, bagi si Tiran itu satu-satunya yang ia sebut belajar adalah menelan semua ajaran kelompoknya dan ulamanya bulat-bulat<i>(atau apapun bentuknya)</i> karena hanya itu yang benar dan selain dari itu adalah ajaran hawa nafsu. Dia tidak punya cukup mata untuk melihat bahwa ulamanya bukan satu-satunya ulama yang ada di dunia, tetapi Bagaimana mungkin dia bisa melihat itu kalau dia sendiri tidak bisa memperhatikan kalau orang lain punya sesuatu yang dengan seenaknya dia bunuh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  . Berkali-kali kita lihat si Tiran menyabet dengan  <i>Pedang “itu hawa nafsumu”</i>, seolah-olah dia bisa melihat menembus hati manusia seraya melupakan dirinya yang penuh nafsu membunuh, Ya nafsu membunuh pikiran orang lain yang sadar atau tidak sering sekali dilakukannya. sombong sekali <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i>Nafsu lagi</i></p>
<p><i>Nafsu lagi</i><i></i></p>
<p><i>Nafsu lagi yang disalahin </i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><i></i><i>Tarik nafas dulu</i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tiran-tiran seperti ini dan cara berpikirnya benar-benar menjijikkan dan menyebalkan, mereka ini dengan penyakitnya benar-benar menyebabkan orang lain mengalami  <b><i>“Sindroma Tak Ada Gunanya”</i></b> jika berbicara dengan mereka. Tetapi kita melihat mereka ini dengan penuh grandiosa menyebut mereka golongan yang selamat, golongan yang benar, dan golongan yang berada di atas jalan yang lurus <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Cara berpikir Tiran seperti ini jelas tidak baik dan sedapat mungkin harus dihindari. Keberadaan orang lain harus menjadi perhatian bagi siapapun yang ingin hidup bersama orang lain. <i>Perbedaan pendapat tentunya dapat ditolerir selagi setiap orang dapat menghormati teritori masing-masing</i>. Memang ini adalah bentuk ideal dari yang diharapkan, pada kenyatannya ada saja orang seperti Tiran ini yang suka melanggar batas teritori orang lain atau orang yang kelewat nyaman dalam teritorinya sehingga tidak bisa menerima apapun pendapat orang lain<i>(yang dimaksud itu orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain tetapi paling tidak dia tidak membunuhnya seperti yang dilakukan para Tiran).</i> Kedua tipe yang seperti ini cukup menyulitkan dalam interaksi antarmanusia sebagai makhluk yang punya pikiran masing-masing, tapi bisa ditekankan kalau tipe pertama yaitu para Tiran itu lebih berbahaya bagi kehidupan pikiran-pikiran manusia yang akan berinteraksi dengannya.</p>
<p><i>Bahaya</i></p>
<p><i>Bahaya</i></p>
<p><i>Bahaya</i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><b><i>Penutup</i></b></p>
<p>Sebelum mengakhiri tulisan ini saya akan menambahkan sedikit untuk mencegah kritik atau komentar yang tidak penting yang mungkin muncul dari para <i>Tiran yang tersinggung</i> atau dari siapapun yang akan menyatakan bahwa tulisan anda itu tidak benar, <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/09/08/kritik-salafi-yang-mengabaikan-hadis-hadis-yang-membolehkan-musik-dan-lagu/" target="_blank"><i>Musik itu memang haram</i>,</a> <a href="http://amed.wordpress.com/2007/10/27/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/" target="_blank"><i>Matahari memang mengelilingi bumi</i> </a>dan <a href="http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/12/09/mui-syiah-bukan-aliran-sesat/" target="_blank"><i>Syiah itu memang sesat.</i></a> Kalau memang ada yang seperti ini saya mohon maaf untuk kelancangan saya mengatakan kepadanya  bahwa anda tidak mengerti sedikitpun apa yang saya bicarakan.  Tulisan ini yang menampilkan dialog-dialog tentang masalah tertentu tidaklah membahas mengenai substansi dari permasalahan dialog tersebut tetapi hanya membicarakan cara berpikir Tiran dalam dialog itu, terlepas dari kenyataan kebenaran ada pada pihak siapa, karena seandainyapun para Tiran yang benar, itu tidak membuatnya berhak mematikan pikiran-pikiran orang yang mau berdialog dengannya. Untuk masalah substansi dialog tersebut  saya rasa ada tulisan khusus yang membahasnya.</p>
<p><i>Salam damai</i></p>
<p><i>Catatan : Tulisan ini cuma daur ulang tulisan lama, jadi maaf deh kalau terkesan basi dan sudah pernah dibaca </i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=125&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2008/03/29/tiranisme-pengikut-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>127</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Absolutisme Agama Yang Relatif</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/absolutisme-agama-yang-relatif/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/absolutisme-agama-yang-relatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 11:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/absolutisme-agama-yang-relatif/</guid>
		<description><![CDATA[Absolutisme Agama Yang Relatif
Banyaknya agama adalah sesuatu yang real dalam kehidupan manusia. Manusiapun menanggapi agama dengan cara yang bermacam-macam. Walaupun begitu bisa dipastikan bahwa semua manusia yang beragama menyadari sepenuhnya bahwa agama adalah pandangan hidup yang penting. Agama mengajarkan banyak hal kepada manusia sehingga manusiapun rela berkorban untuknya, bahkan ada yang rela mati demi agamanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=34&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Absolutisme Agama Yang Relatif</strong></p>
<p>Banyaknya agama adalah sesuatu yang real dalam kehidupan manusia. Manusiapun menanggapi agama dengan cara yang bermacam-macam. Walaupun begitu bisa dipastikan bahwa semua manusia yang beragama menyadari sepenuhnya bahwa agama adalah pandangan hidup yang penting. Agama mengajarkan banyak hal kepada manusia sehingga manusiapun rela berkorban untuknya, bahkan ada yang rela mati demi agamanya. Keyakinan manusia terhadap agamanya jelas dilandasi oleh keyakinannya akan kebenaran agama itu sendiri. Dengan kata lain Agama dan kebenaran tidak bisa dipisahkan. Adalah hal yang tidak masuk akal jika ada manusia meyakini agama yang tidak benar menurutnya.<span id="more-34"></span></p>
<p><strong>Apakah Semua Agama Benar?</strong><br />
Banyaknya agama dan pemeluknya telah menjadikan banyaknya sesuatu yang disebut benar. Memang adalah fakta bahwa setiap orang meyakini agamanya benar terlepas dari apa pendapatnya tentang agama lain. Sayangnya hal ini justru menyatakan semua agama benar dalam pandangan pemeluknya. Jadi pertanyaan di atas jawabannya Ya, semua agama benar dalam pandangan pemeluknya. Masalahnya selesai? Ooh tidak , kebenaran yang seperti ini adalah kebenaran yang dimanusiakan dan maafkan saya <em>“kebenaran seperti ini tidak berarti sama sekali”.<br />
</em><br />
Jawaban saya <em>“Tidak semua agama benar”</em>. Yang benar hanyalah agama dari Tuhan. Saya teringat kata-kata <em>“Kebenaran Yang Mutlak dari Tuhan dan selain itu hanya kebenaran relatif”</em>. Saya sependapat dengan kata-kata ini tetapi bukan dalam arti oleh karena kebenaran yang mutlak itu dari Tuhan maka setiap orang tidak bisa mencapainya atau oleh karena siapapun bukan Tuhan maka apa yang dia punya selalu relatif sifatnya.</p>
<p>Kebenaran mutlak adalah milik Tuhan dan manusia bisa mencapainya karena Tuhan menghendaki demikian. Tuhan yang memberi tahu manusia tentang kebenaran mutlak. Memang Tuhan tidak berbicara langsung dengan manusia, tetapi Tuhan berbicara pada manusia yang menjadi utusannya. Utusan Tuhan yang akan Menyampaikan kebenaran itu kepada segenap manusia. Kita mengenal konsep perutusan ini dengan istilah Kenabian. Tuhan menyampaikan kebenaran kepada utusannya dalam bahasa yang disebut wahyu, dan oleh karena utusan itu sendiri manusia yang suatu saat pasti mati maka wahyu ini akan disakralkan dalam bentuk Kitab suci. Jadi kita telah mengenal agama yang benar yaitu agama samawi yang berasal dari Tuhan yang mengandung konsep Kenabian dan memiliki Kitab suci. Ketuhanan bersifat mutlak dan begitu pula Kenabian dan Kitab suci bersifat mutlak karena keduanya mutlak berasal dari Tuhan. Ketuhanan, Kenabian dan Kitab suci adalah Hal yang mutlak dalam agama, dan saya menyebut ketiganya Absolutisme agama.</p>
<p>Setelah Utusan Tuhan tidak ada lagi maka yang mutlak hanyalah Kitab suci atau wahyu Tuhan. Untuk mencapai kebenaran yang mutlak tersebut maka manusia harus merujuk wahyu Tuhan karena wahyu Tuhan bersifat mutlak. Ketika manusia kembali kepada wahyu Tuhan dan memahaminya maka pada saat Inilah sesuatu yang mutlak telah menjadi relatif. Maksudnya interpretasi manusia terhadap wahyu Tuhan menjadi berbeda-beda tergantung pada manusianya. Apakah semua interpretasi tersebut semuanya benar sehingga manusia bebas memilihnya? Jawaban saya tidak, setiap interpretasi memiliki nilai yang berbeda.</p>
<p>Sesuatu yang relatif tidak dapat mencapai yang mutlak kecuali jika yang relatif itu didasari yang mutlak. Dalam hal ini Bagaimana? Lagi-lagi menurut saya, pemahaman manusia terhadap wahyu Tuhan adalah relatif, dan wahyu Tuhan adalah mutlak. Agar pemahaman manusia tersebut mencapai wahyu Tuhan maka pemahaman yang relatif itu harus didasari oleh metode terbaik yang bisa dilakukan. Pemahaman yang didasari metode terbaik yang bisa dilakukan adalah hal yang mutlak dilakukan manusia untuk memahami wahyu Tuhan. Mungkin ada yang berkata metode itu juga relatif sifatnya, saya jawab ya tetapi yang mutlak adalah anda harus memahami dengan metode terbaik yang bisa dilakukan apapun bentuknya. Yang jelas Tuhan telah menganugerahkan Akal kepada manusia yang akan menuntunnya pada metode terbaik yang bisa dilakukan. Jadi bisa ditambahkan adalah mutlak manusia berusaha semampunya dengan akal yang ia punya untuk mencapai metode terbaik yang bisa dilakukan.</p>
<p>Kesimpulannya yang menjadi absolutisme agama adalah<br />
• Ketuhanan<br />
• Kenabian<br />
• Wahyu Tuhan atau Kitab suci<br />
• Interpretasi Wahyu Tuhan dengan metode terbaik yang bisa dilakukan<br />
• Manusia berusaha semampunya mencapai metode terbaik yang bisa dilakukan<br />
Dan hasil dari absolutisme agama ini bisa bermacam-macam karena terdapat unsur yang relatif di dalamnya yaitu<br />
• Interpretasi manusia terhadap wahyu Tuhan<br />
• Metode terbaik yang bisa dilakukan<br />
Kedua unsur ini menyebabkan absolutisme agama menjadi relatif. Kalau saya, saya merasa sudah cukup puas dengan ini karena setelah melalui semua ini saya dapat meyakinkan diri saya bahwa saya telah melakukan apa yang saya bisa dan Tuhan pasti tahu itu.</p>
<p>Sayangnya ada sekelompok orang yang tidak mengerti masalah ini, mereka berusaha mengabsolutkan sesuatu yang relatif. Mereka meyakini bahwa mereka yang paling benar dan menyerang setiap keyakinan orang lain yang berbeda dengan mereka. Keyakinan bahwa mereka yang paling benar adalah sah-sah saja karena itu absolutisme agama mereka. Tetapi menyerang orang lain jelas tidak benar, ini yang saya maksud mengabsolutkan yang relatif dan ini melanggar hukum relativitas manusia. Setiap manusia yang beragama memiliki keyakinan yang sangat ia hargai melebihi apapun, dan ketika keyakinan ini diserang akan terasa menyakitkan bagi dirinya. Jadi ketika mereka menyerang orang lain yang menurut mereka menegakkan kebenaran sebenarnya mereka menyakiti hati orang lain.</p>
<p>Kesalahan mereka adalah mereka tidak menyadari teritori orang lain, teritori yang sepenuhnya milik orang lain dimana orang lain berhak merasa tenang dan nyaman. Mereka tidak memandang sesuatu yang relatif yaitu bahwa orang lain memiliki interpretasi dan metode yang berbeda. Mereka tidak memandang sesuatu yang relatif yaitu bahwa orang lain sudah semampunya berusaha. Yang mereka lihat hanyalah yang absolut yaitu orang lain salah karena berbeda dengan mereka dan harus mereka serang. Tindakan seperti ini adalah bunuh diri sosial yang akan membuat mereka terasingkan dalam kehidupan sosial keyakinan manusia. Dan tidak berlebihan jika cukup banyak orang lain yang akan menyerang balik mereka. Saya harap suatu saat mereka akan menyadari hal ini dan berusaha menghargai relativitas manusia. Kita harus menghargai manusia yang memiliki bermacam-macam keyakinan walaupun anda mungkin tidak menghargai keyakinan bermacam-macam yang dimiliki manusia.</p>
<p>Catatan; <em>Maaf jika tulisan ini kesannya agak sama dengan tulisan yang sebelumnya, sebenarnya tulisan ini sudah lama di draft dan karena sesuatu hal baru sekarang bisa ditampilkan</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=34&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/19/absolutisme-agama-yang-relatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitab Suci Dan Kitab Yang Dianggap Suci</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/kitab-suci-dan-kitab-yang-dianggap-suci/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/kitab-suci-dan-kitab-yang-dianggap-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 15:46:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/kitab-suci-dan-kitab-yang-dianggap-suci/</guid>
		<description><![CDATA[Kitab Suci dan Kitab Yang Dianggap Suci
Kitab suci dan kitab yang dianggap suci adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama sifatnya mutlak dari Tuhan oleh karena itu pasti benar. Yang kedua adalah perspektif manusia oleh karenanya bersifat relatif. Jelas merupakan fakta bahwa kitab suci agama tertentu dianggap suci oleh pemeluknya, ini sama seperti dalam pandangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=39&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Kitab Suci dan Kitab Yang Dianggap Suci</strong></p>
<p><em>Kitab suci </em>dan <em>kitab yang dianggap suci </em>adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama sifatnya mutlak dari Tuhan oleh karena itu pasti benar. Yang kedua adalah perspektif manusia oleh karenanya bersifat relatif. Jelas merupakan fakta bahwa kitab suci agama tertentu dianggap suci oleh pemeluknya, ini sama seperti dalam pandangan pemeluknya agamanya adalah agama yang benar. Jika ada yang menyatakan bahwa<em> semua kitab suci yang ada dianggap suci oleh para pemeluk agamanya</em>, maka pernyataan ini adalah benar tetapi jika ada yang menggeneralisasikan pernyataan ini sehingga berpendapat bahwa <em>tidak ada yang namanya kitab suci yang ada hanya kitab yang dianggap suci</em>, maka saya berkata ini tidak benar.<span id="more-39"></span></p>
<p><strong>Kepastian Adanya Kitab Suci</strong><br />
Pembuktiannya sederhana, yang pertama kita percaya bahwa <em>kebenaran mutlak dari Tuhan.</em> Yang kedua saya percaya bahwa <em>Tuhan menghendaki manusia mengetahui kebenaran mutlak tersebut</em>. Oleh karena itu <em>Tuhan akan menyampaikan kebenaran mutlak tersebut kepada manusia.</em> Selanjutnya untuk Menyampaikan kebenaran mutlak tersebut <em>Tuhan mengutus utusannya</em> jadilah itu yang namanya<em> Kenabian</em>. <em>Tuhan menyampaikan kebenaran mutlak dalam bahasa manusia</em> agar manusia bisa mengerti dan memahaminya. Kebenaran mutlak dalam bahasa manusia yang dibawa sang utusan adalah <em>wahyu Tuhan</em>. Sang Utusan sendiri adalah manusia yang tidak akan hidup selamanya oleh karena itu <em>wahyu Tuhan ini disakralkan dalam bentuk Kitab suci</em> agar dapat diketahui oleh manusia-manusia yang akan datang dimana pada saat itu sang Utusan tidak ada lagi. Kesimpulannya Kitab suci benar-benar ada karena <em>Kitab suci Menyampaikan kebenaran dari Tuhan. </em></p>
<p><strong>Tuhan dan Akal Manusia </strong><br />
Akal manusia adalah ciptaan Tuhan. Akal manusia ini dijadikan Tuhan dengan kemampuannya berpikir dan memahami. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh akal termasuk berusaha memahami Tuhan. Apakah akal bersifat pasti benar? Sederhananya tidak, rumitnya iya. Kenapa? Karena sebenarnya apa akal yang kita bicarakan, apakah akal yang dimaksud adalah pikiran manusia, sejak kapan pikiran manusia pasti benar. Lalu apa yang pasti benar dari akal? Saya katakan <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/08/02/bagaimana-cara-pikiran-bekerja/" target="_blank">Hukum-hukum berpikir</a> akal itu yang pasti benar.<br />
Dengan kata lain akal memiliki hukum-hukum yang pasti benar yang menandakan bahwa akal tersebut berpotensi sebagai penunjuk jalan kebenaran. Kerumitannya adalah ketika hukum-hukum ini diaplikasikan ada banyak hal yang diperhitungkan. Inilah yang menyebabkan kenapa hasil olah akal manusia berada dalam spektrum kebenaran. Artinya setiap hasil pikiran manusia itu ada gradasinya dari yang paling benar sampai yang tidak benar.<br />
Bagaimana Akal memahami Tuhan? Seperti biasa dengan berpikir maka manusia dapat mengetahui konsep Tuhan. Ya Cuma konsep karena kepastian tentang Tuhan datangnya dari Tuhan sendiri. Setiap manusia bisa berpikir dan karena banyak hal yang diperhitungkan maka hasil pikiran manusia itu bermacam-macam. Jadi seandainya konsep Tuhan hanya berdasarkan akal saja maka kita berhadapan dengan banyak konsep Tuhan yang relatif sifatnya. Lalu apa pemecahannya, menurut saya tidak lain dengan mendasarkan konsep Tuhan tersebut dengan sesuatu yang bersifat pasti benar.<br />
Kepastian tentang Tuhan dapat diketahui oleh akal melalui dua hal, yang keduanya berlandaskan sesuatu yang pasti benar. Yang pertama melalui <em>hukum-hukum berpikir</em> yang pasti benar yang kedua melalui sesuatu yang lain yang menjelaskan tentang Tuhan yang bersifat pasti benar. Kalau hanya berdasarkan yang pertama saja maka apa yang kita dapat tentang Tuhan sifatnya terbatas, selebihnya jika dipaksakan maka akan banyak hal yang relatif seperti yang sudah saya jelaskan.<br />
Lalu apa sesuatu yang pasti benar yang kedua itu, yang harus ada untuk menjelaskan banyak hal tentang Tuhan yang tidak diketahui secara mandiri oleh akal. Jawabannya adalah <em>Kitab suci</em> , <em>kebenaran mutlak yang disampaikan oleh Tuhan.<br />
</em><br />
<strong>Tuhan dan Rasa Manusia</strong><br />
Nah sekarang kita berbicara tentang Tuhan melalui olah rasa manusia. Manusia memiliki unsur ketertarikan yang tak terjelaskan terhadap Tuhan. Ada sesuatu dalam diri manusia yang merindukan akan Tuhan. Sesuatu itu entahlah apa namanya tetapi ada yang menyebutnya intuisi. Apa intuisi ini menjanjikan konsep Tuhan yang mutlak. Jawabannya tidak karena intuisi ini hanya menghasilkan rasa, anda merasakan kehadiran Tuhan, merasakan Kasih Tuhan, merasakan bahwa yang ada cuma Tuhan. Rumitnya <em>setiap orang bisa berasa-rasa</em> tetapi siapa yang bisa memastikan apa yang anda rasa. Yang pasti anda sendiri, orang lain tidak akan bisa.<br />
Dengan kata lain rasa itu hanya menghasilkan sesuatu yang sifatnya individual yang tidak bisa dirumuskan atau dijelaskan dalam bentuk konsep. Lantas apa karena itu rasa menjadi tidak benar?, jawabannya tidak ,memang rasa tidak memberikan kebenaran yang baru tetapi rasa membuat anda memahami kebenaran yang anda yakini. Sekali lagi rasa relatif sifatnya. <em>Kebenaran yang  diyakini</em> tidak sama dengan <em>kebenaran mutlak dari Tuhan.</em> Tetapi <em>kebenaran yang mutlak dari Tuhan</em> bisa diyakini karena Tuhan menghendaki manusia meyakininya. Kebenaran ini akan menghasilkan rasa bagi manusia yang betul-betul merasakannya. Kebenaran dari Tuhan ini sudah saya katakan adalah Kitab suci. Kesimpulannya <em>Kitab suci akan menghasilkan rasa bagi manusia yang memahami dan merasakannya.</em></p>
<p>Sejauh ini kita telah membuktikan bahwa <em>Kitab suci adalah suatu kepastian yang mesti ada</em> jika seseorang ingin benar-benar mencapai Kebenaran yang disampaikan oleh Tuhan. Akal dan rasa manusia yang walaupun bisa digunakan dalam pencapaian kebenaran tidak menafikan adanya Kitab suci. Adanya Kitab suci juga tidak menafikan peran akal dan rasa justru keduanya dapat digunakan untuk memahami Kitab suci.</p>
<p><strong>Kitab Yang Dianggap Suci</strong><br />
Setelah memastikan bahwa Kitab suci benar-benar ada kita akan berbicara tentang <em>Kitab yang dianggap suci</em>. <em>Kitab yang dianggap suci</em> adalah konsep dalam perspektif manusia. Artinya kata itu hanyalah deskripsi Bagaimana manusia menyikapi adanya Kitab suci. Kitab suci sendiri tentu akan dianggap suci bagi mereka yang tahu kalau itu Kitab suci. Ada 3 premis mengenai hubungan <em>Kitab suci</em> dan <em>Kitab yang dianggap suci</em><br />
•    Kitab suci tidak ada yang ada hanya Kitab yang dianggap suci<br />
•    Kitab suci ada diantara banyak Kitab yang dianggap suci<br />
•    Semua Kitab yang dianggap suci adalah Kitab suci<br />
Premis pertama telah dibuktikan tidak benar jadi yang ada hanya dua premis lain. Premis terakhir saya berpendapat tidak benar karena premis ini menjadikan Kitab suci sendiri sebagai sesuatu yang relatif tergantung manusia. Adalah tidak benar jika setiap orang bisa membuat suatu Kitab kemudian Kitab ini dianggap suci dan jadilah ia Kitab suci. Tidak, tidak yang begini jelas tidak benar. Jadi menurut saya premis yang benar adalah <em>Kitab suci ada diantara banyak Kitab yang dianggap suci.</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=39&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/kitab-suci-dan-kitab-yang-dianggap-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyatanya Semua Agama Tidak Sama</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/nyatanya-semua-agama-tidak-sama/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/nyatanya-semua-agama-tidak-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 15:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/nyatanya-semua-agama-tidak-sama/</guid>
		<description><![CDATA[Nyatanya Semua Agama Tidak Sama
Semua Agama Sama adalah kalimat yang terdengar dari sebagian orang yang berusaha menelaah masalah agama secara mendalam. Anda pasti pernah mendengar ini dan tentu ada alasannya kenapa seseorang akan mengemukakan pernyataan seperti itu. Lalu apa permasalahannya? Tidak ada. Jadi ada apa dengan tulisan ini?cuma iseng, tulisan ini hanya menampilkan pernyataan lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=38&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Nyatanya Semua Agama Tidak Sama</b></p>
<p><i>Semua Agama Sama</i> adalah kalimat yang terdengar dari sebagian orang yang berusaha menelaah masalah agama secara mendalam. Anda pasti pernah mendengar ini dan tentu ada alasannya kenapa seseorang akan mengemukakan pernyataan seperti itu. Lalu apa permasalahannya? Tidak ada. Jadi ada apa dengan tulisan ini?cuma iseng, tulisan ini hanya menampilkan pernyataan lain dari <strike>saya</strike> sebagian orang yang juga telah menelaah masalah agama secara mendalam. Pernyataan yang berbeda yaitu <i>Semua Agama Tidak Sama.</i></p>
<p><i></i><br />
Apakah dua pernyataan tersebut kontradiktif? Sederhananya sih iya, lihat saja secara struktural dua pernyataan tersebut jelas kontradiktif. Tetapi ada sudut pandang lain dan anda mungkin tahu.<span id="more-38"></span><br />
Ketika ada orang menyatakan <i>semua agama sama</i>, apa yang anda pikirkan? Apakah itu berarti secara keseluruhan semua agama sama, atau setiap apa saja yang berasal dari agama yang satu sama dengan yang berasal dari agama lain?. Jawabnya jelas tidak karena jika iya maka itu berarti semua agama itu sebenarnya cuma satu. <i>Ya samalah kan sama-sama agama, sama kok kan semua agama mengajarkan yang baik, ooooh sama kan semuanya berasal dari Tuhan, hmmm&#8230;&#8230; sama tapi lebih tepatnya mungkin karena semua agama menuju Tuhan, ho ho ho benar semuanya sama-sama diberhalakan pemeluknya.</i> Begitu bermacam-macam pikirannya, tentu anda bisa menambahkan yang lain. Tapi coba lihat semua pikiran itu selalu menampilkan alasan, <i>sama kan begini…., sama karena begitu….atau semuanya sama-sama begini begitu…..</i></p>
<p><i></i><br />
Ada alasan, selalu ada  lihat baik-baik, pernyataan <i>semua agama sama</i> membutuhkan alasan untuk menegaskan dimana letak kesamaannya. Singkatnya pernyataan tersebut bersifat <b>parsial.</b> Ini yang harus dipahami. Kenapa seperti ini? <strike>He he he</strike> jawabannya karena <i>nyatanya semua agama tidak sama.</i> Apa buktinya? Ah anda bercanda masa’ yang begini butuh dibuktikan sederhanalah karena semua orang yang mengaku beragama hanya menganut satu agama dari sekian banyak agama. Itu menunjukkan bahwa mereka tidak berpikiran bahwa semua agama sama, rasanya aneh kalau orang beragama hanya karena sekedar memilih, <i>saya pilih ini ya kamu yang itu aja kan yang ini udah banyak pemeluknya ntar kacian kalau gak ada yang milih toh semua agama sama saja.</i> Alah ribet, secara real semua agama itu berbeda ajarannya, iya kan. Jadi pernyataan semua agama tidak sama bersifat <b>keseluruhan atau totalitas.</b></p>
<p><b></b><br />
Apa sih pentingnya ini? Bagi saya tidak penting karena saya tahu letak ketidakpentingannya. Bagi yang tidak tahu ini jelas penting supaya tahu dimana letak kepentingannya. Kata-kata <i>semua agama sama</i> <strike>telah</strike> akan dipersepsikan sebagai pernyataan yang menunjukan <i>pluralisme agama</i>. <i>Pluralisme agama</i> merupakan hal yang real dalam arti <strike>saya</strike> toh memang agama ada banyak. Tetapi masalahnya sebagian orang mempersepsi <i>pluralisme agama</i> sebagai paham yang berarti <i>semua agama benar.</i> Nah anda lihat ini letak kepentingannya. <i>Semua agama sama</i> dianggap <i>pluralisme agama</i> yang berarti <i>semua agama benar</i>, makanya sebagian orang tersebut rada risih mendengar kata-kata <strike>yang tak termaafkan </strike><i>semua agama sama.</i></p>
<p><i></i><br />
Sekarang dimana letak ketidakpentingannya? Ho ho ho anda yang cerdas pasti sudah tahu, penarikan kesimpulan itu tidak valid. <i>semua agama sama</i> dianggap <i>pluralisme agama</i> adalah sebuah asumsi. <i>Pluralisme agama</i> berarti <i>semua agama benar</i> adalah asumsi yang lain. Silogisme kedua asumsi tersebut jadinya <i>semua agama sama</i> berarti <i>semua agama benar</i>. Premis ini juga asumsi, tetapi asumsi yang membuat risih sebagian orang <strike>para penegak kebenaran.</strike></p>
<p><strike></strike><br />
Mari kita lihat apakah asumsi <i>semua agama sama maka semua agama benar</i> adalah benar. Jawabannya tidak karena dari awal kita sudah menunjukan bahwa pernyataan <i>semua agama sama</i> bersifat <b>parsial</b> yaitu hanya menunjukkan bahwa agama-agama tersebut memiliki beberapa persamaan. Dan apakah karena ada persamaannya maka semuanya bisa menjadi benar, jelas tidak kan gak ada hubungannya. Kalau masih dipaksa juga maka itu berarti syarat kebenaran agama itu terletak pada persamannya, padahal persamaannya itu kan tergantung persepsi orang. <i>Semua manusia sama maka semua manusia benar</i> atau <i>Saya dan anda sama-sama punya rambut maka saya dan anda sama-sama pintar. Syarat pintar adalah punya rambut.</i> Konyol sekali.<br />
Kesimpulannya jika ada yang berkata <i>semua agama sama</i>, dia hanya menunjukkan salah satu kesamaan dari banyaknya agama yang kenyataannya berbeda. Kemudian jika ada orang yang mengkritik bahwa pernyataan <i>semua agama sama</i> tersebut tidak benar atau menyatakan bahwa orang yang berkata itu penganut <i>pluralisme agama</i>, maka anda harus menyikapinya dengan bijak. Apa yang perlu ditakutkan, itu kan biasa-biasa saja. Kalau seandainya orang yang berkata <i>semua agama sama</i> itu ingin menunjukkan bahwa <i>semua agama benar hanya dari kata semua agama sama</i> maka ini jelas tidak benar. Atau sebaliknya jika ada mereka yang berlebihan mengkritik orang yang berkata <i>semua agama sama</i> sebagai penganut <i>pluralisme agama.</i> Sepertinya mereka yang mengkritik itu menganut paham bahwa <i>pluralisme agama</i> itu sebagai <i>semua agama benar</i> maka anda tidak usah menghiraukan kritik mereka itu, kenapa?.</p>
<p>Karena tidak penting lha dasar pikirannya aja beda dan sudah kita lihat tidak valid. Tidak penting karena apa yang mereka kritik itu adalah persepsi orang yang sifatnya parsial dan sah-sah saja. Masa’ mencari kesamaan saja mesti dikritik atau ditandai dengan label <i>“hati-hati” </i>kan gak etis, menurut saya tentunya.<br />
<i>Nabi-nabi itu dan setan adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan</i>, nah siapa yang mau berbuat konyol memberikan label <i>“hati-hati”</i> pada orang yang berkata begitu. Ada ya  kalau ya itu konyol dan  aneh sekali. <i>Salam damai.<br />
</i></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=38&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/08/14/nyatanya-semua-agama-tidak-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LOGIKA TIRAN SANG PEMBUNUH MODEL BARU</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/logika-tiran-sang-pembunuh-model-baru/</link>
		<comments>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/logika-tiran-sang-pembunuh-model-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 09:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/logika-tiran-sang-pembunuh-model-baru/</guid>
		<description><![CDATA[LOGIKA TIRAN SANG PEMBUNUH MODEL BARU
Judul yang aneh dan kesannya berlebihan, memang pada dasarnya begitu, ya mungkin karena keterbatasan pelampiasan ekspresi dalam suatu tulisan yang membuat seseorang menampilkannya dalam bentuk bahasa yang dilebihkan. Tulisan ini adalah sebuah bentuk kepedulian(keprihatinan tepatnya) bagi pikiran-pikiran tertentu yang bercorak layaknya Penguasa. Pikiran yang membunuh setiap apapun yang menjatuhkan pikirannya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=20&subd=secondprince&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>LOGIKA TIRAN SANG PEMBUNUH MODEL BARU</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Judul yang aneh dan kesannya berlebihan, memang pada dasarnya begitu, ya mungkin karena keterbatasan pelampiasan ekspresi dalam suatu tulisan yang membuat seseorang menampilkannya dalam bentuk bahasa yang dilebihkan. Tulisan ini adalah sebuah bentuk kepedulian(keprihatinan tepatnya) bagi pikiran-pikiran tertentu yang bercorak layaknya Penguasa. Pikiran yang membunuh setiap apapun yang menjatuhkan pikirannya, ya pikiran yang telah menjadi Tiran bagi dirinya dan orang lain. Pikiran yang menjadi sesuatu yang bernyawa sehingga apapun yang mengancamnya harus dibunuh, benar-benar seperti Tiran.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-20"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peristiwa Pertama</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di suatu tempat, Ada beberapa orang yang berada disitu dan sebutlah Si Saya salah satunya. Karena bosan akhirnya Si Saya memilih untuk mengajak bicara seseorang,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“Menurut saya pendapatmu tentang Musik itu tidak benar, boleh-boleh saja mendengarkan musik”. </em><br />
Jawabnya <em>”Nggak, kamu salah banyak dalil dari Al Quran dan Hadis yang menyatakan Musik itu haram”. </em><br />
<em>“Tapi kan ada juga hadis yang mengindikasikan bahwa musik itu dibolehkan, lagipula Ayat Al Quran yang kamu maksud, setelah saya baca tidak jelas menyatakan haramnya musik. Jujur saja kalau saya membacanya itu gak ada kaitannya langsung dengan nyanyian dan musik”</em><br />
Jawabnya <strong><em>” Semua itu sudah menjadi dalil oleh ulama-ulama, kamu Jangan menafsirkan sesuai dengan hawa nafsumu”</em></strong><br />
<em>“Maaf saya menafsirkannya dengan pikiran saya dan juga pendapat ulama kok”</em><br />
Jawabnya <em>”Memangnya siapa ulama yang kamu maksud?”</em><br />
<em>“Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqh Musik dan Lagu” </em><br />
(tertawa)Jawabnya <strong><em>”Lebih baik kamu Jangan baca buku-buku dia, dia itu menyimpang dari ulama salaf”</em></strong><br />
<em>“Kata siapa, penjelasannya bagus dan dalilnya juga kuat kok” </em><br />
Jawabnya <strong><em>”kamu jangan tertipu ,pembid’ah itu memang manis bicaranya”.<br />
“Kamu pernah baca bukunya”</em></strong><br />
Jawabnya <em>”lah kamu ini gimana, kan aku yang larang kamu baca buku dia ,jadi mana mungkin aku membaca bukunya”.</em><br />
<em>“Tapi kan lebih baik kalau dibaca dulu buat perbandingan”.</em><br />
Jawabnya <strong><em>”Untuk apa kan haramnya sudah jelas, lagipula mana ada sih seorang ulama menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah SWT, kalau ada itu sudah sesat namanya dan buku yang sesat kayak gitu haram dibaca” .</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya Si Saya itu bungkam, pikirannya untuk berdiskusi sudah terbunuh dengan serangan terakhir yang mematikan.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peristiwa Kedua</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kali yang lain tentu dengan Tiran yang lain, Si Saya dan seseorang yang tentunya dirahasiakan namanya sedang berdiskusi tentang Tanda-tanda Kebesaran Allah SWT</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">sampai Si Saya berkata<em>“Manusia itu harus banyak bersyukur dengan bertafakur memikirkan penciptaan langit dan bumi. Lihat saja kekuasaan Allah SWT yang telah menjadikan sistem tata surya dengan planet-planet yang mengitari matahari yang semuanya begitu teratur, kamu tahu Azaz Antropi dalam Fisika, salah satunya jika pada awalnya kedudukan bumi bergeser sedikit saja dari orbitnya maka kehidupan di bumi ini tidak akan terbentuk”.</em><br />
Jawabnya <em>”Yang benar matahari yang mengelilingi bumi, bumi ini pusat tata surya”</em><br />
<em>????&#8230;&#8230;(oooooh dalam hati Si Saya baru ingat) “Kalau menurut saya, bumi mengelilingi matahari itu sudah menjadi hal yang dasar dalam Ilmu Astronomi, banyak yang membuktikan hal itu, lagipula dari pelajaran Fisika di sekolah dulu seperti itu yang diajarkan”.</em><br />
Jawabnya <strong><em>”Itu Cuma konspirasi yang dibuat-buat oleh orang kafir untuk mengelabui orang Islam, karena yang benar menurut Salafus salih adalah matahari mengelilingi bumi”.</em></strong><br />
<em>“Saya tahu memang ada ulama yang berpendapat begitu tetapi setelah saya baca dalilnya baik Al Quran maupun hadis penunjukannya tidaklah jelas ,tidak menafikan kalau bumi mengelilingi matahari, itu Cuma sekedar penafsiran”.</em><br />
Jawabnya <strong><em>”Kita harus menafsirkan sesuai pemahaman salafus salih karena Itulah yang benar , tidak boleh menafsirkan dengan hawa nafsu”.</em></strong><br />
<em>“Saya menafsirkan dengan akal saya”</em><br />
Jawabnya <strong><em>”Tidak boleh mendahulukan akal dari Al Quran dan Hadis”</em></strong></p>
</blockquote>
<blockquote></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Si Saya terbunuh lagi setelah bangkit dari kematiannya, dalam hati muncul suara-suara <em>“sungguh tidak berperikepikiran benar”.<br />
.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em></em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peristiwa Ketiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman ini ternyata tidak berhenti</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya Si Saya suatu ketika ditanya seseorang <em>“eh Syiah itu apa?”.</em> Si Saya menjawab <em>“Syiah itu orang Islam yang sangat mencintai Keluarga Nabi SAW, kenapa tanya itu?”. </em><br />
Jawabnya <em>“Ah nggak, kemarin ngobrol sama temen tentang politik dunia seperti masalah Nuklir Iran dan lain-lain terus gak tahu gimana ceritanya dia cerita juga masalah Syiah? Kalau gak salah ada juga masalah bentrokan fisik Sunni dan Syiah, dia cerita banyak tentang Sunni dan kalau kita ini Sunni begitulah tapi dia cerita sedikit tentang Syiah. Jadi Syiah itu orang Islam kan”. </em><br />
Sebelum Si Saya sempat menjawab ada yang menimpali dari samping ”<em>Bukan, Syiah itu Aliran sesat, Mereka itu suka mencaci sahabat nabi dan banyak ajaran yang gak ada kaitannya dengan islam”. </em><br />
Si Penanya bingung <em>”oh begitu ya”. </em><br />
Si Saya tidak tinggal diam <em>”Bukan seperti itu, itu cerita yang tidak benar ,yang penting mereka itu Islam, Cuma pemahamannya ada yang berbeda dengan Islam sunni”.</em><br />
Si Penimpal menimpal lagi ”<em>Salah, banyak ulama yang menyatakan mereka itu bukan Islam, ada banyak buku yang membahas masalah ini”.</em> Kemudian si Penimpal menoleh kepada Si Saya dan berkata <em>”Aku heran kok kamu bisa bilang kayak gitu, aku tahu kamu pintar tapi kamu harus lebih banyak membaca tentang ini” .</em><br />
Si Saya menjawab <em>”Oh iya tentu saja aku banyak membaca masalah ini juga dari tipe buku yang kamu baca, tetapi aku juga baca buku-buku dari Ulama Syiah sendiri yang pada umumnya adalah bantahan terhadap buku yang tipe kamu itu”.</em><br />
Si Penimpal menjawab <strong><em>“Pantas saja kamu itu sudah terpengaruh dengan propaganda Syiah”.</em></strong><br />
Si Saya dengan rasa tidak suka berkata <em>”Propaganda Bagaimana? Aku kan Cuma membandingkan apa yang dituduhkan terhadap Syiah dengan pernyataan Ulama Syiah sendiri, juga mempelajari dalil-dalil apa yang menjadi landasan mahzabnya dalilnya dari Al Quran dan Hadis kok, bila perlu kita bisa bicara panjang tentang ini. Lagi pula untuk mengetahui pasti tentang Syiah kita tidak bisa mengabaikan pernyataan orang Syiah sendiri kan”.</em><br />
Si Penimpal berkata <strong><em>“Orang-orang Syiah itu pembohong mereka itu sering membuat hadis palsu untuk menunjang mahzabnya Al Qurannya saja beda dengan Al Quran kita”.</em></strong><br />
Si Saya menjawab <em>“Enggak ah Al Qurannya sama, itu Cuma fitnah dan mereka juga menggunakan hadis-hadis yang diterima oleh orang Sunni”</em><br />
Jawaban Si Penimpal <strong><em>“Hadis-hadis yang mereka bilang itu tidak benar, mereka menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka”.</em></strong><br />
Si Saya berkata <em>“ Rasanya kan lebih baik kalau kamu baca dulu buku ulama Syiah sebelum bicara seperti itu”</em><br />
Si Penimpal berkata <strong><em>”Buku aliran sesat buat apa dibaca ntar terpengaruh, lagipula orang Syiah itu pendusta banyak ulama yang bilang kalau mereka itu orang yang paling pendusta, jadi untuk apa baca buku Syiah”.</em></strong><br />
Si Saya berkata <em>“Cara kamu itu tidak benar, itu menghukum secara sepihak namanya, pantas saja kamu menuduh yang bukan-bukan tentang Syiah”.</em><br />
Si Penimpal berkata  <strong><em>”kamu itu sudah terpengaruh dengan Syiah lebih baik kamu tidak usah baca-baca buku kayak gitu, baca buku-buku ulama Salafus salih saja biar nggak sesat jadinya”.</em></strong><br />
Si Saya berkata <em>“Aku sudah baca buku-buku yang kata kamu Salafus salih itu, jadi kenapa kita tidak diskusi mendalam soal ini, kita bahas satu-persatu biar jelas”</em><br />
Si Penimpal berkata <strong><em>“Aku masih perlu banyak belajar buat diskusi, lagipula semuanya sudah jelas kok”.</em></strong></p>
</blockquote>
<blockquote></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Si Saya mengakhiri <em>“Ya sudah kalau begitu” </em>dalam hatinya ada suara yang berkata <em>“muncul satu Tiran lagi”. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembahasan</strong><br />
Tiga peristiwa di atas adalah contoh mereka yang menggunakan Logika Tiran, membunuh pendapat orang lain karena berbeda dengan pendapatnya sendiri. Adalah wajar setiap orang punya pendapat masing-masing, dan sebenarnya terserah orang juga mau berpendapat seperti apa. Tapi ada sesuatu yang perlu diperhatikan yaitu Hubungan sesama manusia, ketika seseorang meyakini sesuatu dan menyuarakan pendapatnya kepada orang lain baik dengan sengaja ataupun tidak maka seharusnya dia sadar kalau dia telah berhubungan dengan teritori orang lain, nah disinilah letak permasalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Teritori orang lain adalah sepenuhnya milik orang tersebut, dan pada area ini orang tersebut punya kekuasaan untuk menyatakan pendapatnya yang mungkin timbul karena ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain. Tiran-tiran ini telah melanggar batas teritori orang lain, mempersempitnya sehingga orang tersebut tidak punya area untuk Menyampaikan pendapatnya lebih lanjut, memang ini sih tergantung orang tersebut juga karena dia bisa menjadi menjijikkan juga dan menjadi Tiran yang lain, dan terjadilah perang antar Tiran. Tetapi bagi orang yang berperikepikiran atau bagi orang yang punya niat baik dengan dirinya sendiri tentu dia akan menjauhkan diri dari niat untuk membalas pendapat orang lain karena sekedar sakit hati. Yang dimaksud itu dia tidak akan melanjutkan diskusinya dengan cara-cara Tiran yang menjijikkan yaitu dengan melanggar batas teritori orang lain, lebih baik baginya untuk menghentikan kezaliman ini dengan mengakhiri diskusi .</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat dialog pertama, Si Saya telah menyatakan pendapatnya <em>“Menurut saya pendapatmu tentang Musik itu tidak benar, boleh-boleh saja mendengarkan musik”. </em>Kemudian Tiran itu menjawab <em>”Nggak, kamu salah banyak dalil dari Al Quran dan Hadis yang menyatakan Musik itu haram”</em>. Pada batas ini bisa dibilang semua masih dalam teritori masing-masing. Tetapi pada saat Si Saya mencoba membuka alasan yang mendasari pernyataannya, Si Tiran telah menghempaskan dengan pernyataannya “<strong><em> Semua itu sudah menjadi dalil oleh ulama-ulama, kamu Jangan menafsirkan sesuai dengan hawa nafsumu”</em></strong>. Di sini Si Tiran mulai menjadi Tiran, dia mulai mempersempit ruang gerak pikiran Si Saya, Padahal Si Saya baru ingin memulai diskusi lebih lanjut tentang dalil-dalilnya dengan berkata “<em>Tapi kan ada juga hadis yang mengindikasikan bahwa musik itu dibolehkan, lagipula Ayat Al Quran yang kamu maksud, setelah saya baca tidak jelas menyatakan haramnya musik. Jujur saja kalau saya membacanya itu gak ada kaitannya langsung dengan nyanyian dan musik”. </em>Tapi Si Tiran itu telah menusuknya dengan menyatakan bahwa pendapat Si Saya itu Cuma berdasar hawa nafsunya sambil menggunakan Argumentum Ad Populum <em>sudah menjadi dalil oleh ulama-ulama</em>. Dalam batas ini Si Saya bisa saja berpikir <em>apa gunanya melanjutkan diskusi lebih lanjut apapun yang saya katakan dia cukup menusuknya dengan <strong>Pedang “itu hawa nafsumu”.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi dengan sedikit sabar dan penuh kedongkolan Si Saya tetap melanjutkan pendapatnya dengan menyebutkan ulama yang menjadi dasar pendapatnya, dia berharap nama ulama ini dapat menggugah si Tiran untuk membahas masalahnya dengan saling berbagi dalil dan argumen secara ilmiah layaknya diskusi yang berkualitas. Sayangnya Si Tiran kembali menusuk <strong><em>”Lebih baik kamu Jangan baca buku-buku dia, dia itu menyimpang dari ulama salaf”</em></strong>. Dan menusuk lagi ”<strong><em>kamu jangan tertipu ,pembid’ah itu memang manis bicaranya”.</em></strong> Si Saya sepertinya terluka cukup parah tapi dia belum juga menyerah perjuangan masih belum berakhir, kali ini dia membalas dengan mengatakan apakah si Tiran sudah baca bukunya dan wah ternyata si Tiran tidak pernah membacanya ,tentu saja dengan itikad baik Si Saya berkata <em>“Tapi kan lebih baik kalau dibaca dulu buat perbandingan”.</em> Si Tiran justru menusuknya dengan serangan terakhir yang mematikan <strong><em>”Untuk apa kan haramnya sudah jelas, lagipula mana ada sih seorang ulama menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah SWT, kalau ada itu sudah sesat namanya dan buku yang sesat kayak gitu haram dibaca” . </em></strong>Tepat menusuk Jantung pikiran Si Saya, dia pun bungkam <em>jadi dari tadi ternyata saya cuma sendirian</em>, yah mau bagaimana lagi apapun yang dikatakan Si Saya bagi si Tiran semua sudah jelas pendapatnya yang benar dan Si Saya salah, si Tiran tidak ada niat untuk diskusi rupanya dia cuma mau menunjukan kekuasaannya di hadapan Si Saya. Si Saya akhirnya pergi dan si Tiran berpuas diri ,dia tidak tahu kalau dalam hati Si Saya bersyukur <em>“Untung saya tidak menderita penyakit ganas seperti itu”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Contoh yang sederhana memang, kalau dilihat lebih lanjut tidak ada satupun pendapat (lebih tepat tusukan) si Tiran itu yang logis semua cuma berdasar dugaan, tuduhan tak berdasar dan Argumentum Ad Populum yang diputar-diputar <strong><em>”Untuk apa kan haramnya sudah jelas, lagipula mana ada sih seorang ulama menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah SWT, kalau ada itu sudah sesat namanya dan buku yang sesat kayak gitu haram dibaca”</em></strong>. Ulama yang dimaksud itu tidak menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT, justru dia menyatakan bahwa menurut pendapatnya itu halal dan menolak pendapat ulama yang mengatakan itu haram jadi yang benar ulama itu menghalalkan apa yang dinyatakan haram oleh ulama lain, rasanya tidak sulit untuk mengerti masalah ini. Memang si Tiran itu karena pengaruh penyakitnya tidak dapat memahami dengan benar perkataan orang lain, dia cuma bisa melihat dirinya sendiri dan orang lain dibawahnya, yah mungkin penyakit ini akibat kemewahan pikiran kelompoknya atau ulamanya yang dia telan sepuas-puasnya, kenikmatan yang membuatnya menjadi begitu grandiosa sehingga dia memandang orang lain yang tidak memiliki kemewahan itu sebagai orang yang miskin agamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat dialog yang kedua dengan Tiran yang lain, pada dialog ini Si Saya berbicara tentang kekuasaan Allah SWT dan salah satunya yaitu mengenai keteraturan dalam sistem tata surya. Menanggapi ini Si Tiran menyatakan bahwa Si Saya itu salah yang benar Matahari mengelilingi bumi. Kemudian Si Saya menjawab<em>“Kalau menurut saya, bumi mengelilingi matahari itu sudah menjadi hal yang dasar dalam Ilmu Astronomi, banyak yang membuktikan hal itu, lagipula dari pelajaran Fisika di sekolah dulu seperti itu yang diajarkan”.</em> Kalau dilihat Si Saya menggunakan Argumentum Ad Populum yang berdasarkan fakta, maksudnya yang dibicarakannya itu memang ada. Dalam Ilmu Fisika khususnya Astronomi hal itu memang menjadi konsensus yang disepakati di seluruh dunia saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jawaban si Tiran adalah <strong><em>”Itu Cuma konspirasi yang dibuat-buat oleh orang kafir untuk mengelabui orang Islam, karena yang benar menurut Salafus salih adalah matahari mengelilingi bumi”.</em></strong> Ini adalah sebuah serangan ,sangat jelas sekali kalau si Tiran itu tidak bisa menolak apa yang dinyatakan oleh Si Saya tetapi dia membalik masalahnya bahwa konsensus itu adalah konspirasi orang kafir, si Tiran menggunakan Argumentum Ad Populum yang berdasarkan angan-angannya semata. Menggunakan argumen yang seperti ini adalah bentuk kekonyolan cara berpikir yang menunjukkan Oksidentalisme paranoid si Tiran. Oleh karena itu wajar sekali Si Saya tidak menanggapi kekonyolan ini ,dia cuma menanggapi bagian terakhir tentang Salafus salih dengan kata-kata <em>“Saya tahu memang ada ulama yang berpendapat begitu tetapi setelah saya baca dalilnya baik Al Quran maupun hadis penunjukannya tidaklah jelas ,tidak menafikan kalau bumi mengelilingi matahari, itu Cuma sekedar penafsiran”.</em> Pernyataan Si Saya adalah pembuka yang jelas untuk membahas masalah ini dengan dalil dan argumen yang ilmiah, dia mengawali dengan garis besar pendapatnya dan sudut pandangnya dalam masalah ini, menanggapi ini orang yang diajak bicara dapat merespon dengan bertanya Bagaimana tepatnya penafsiran yang Si Saya bicarakan, tetapi Si Tiran tidak memahami isyarat ini dia justru mempersempit area Si Saya dengan berkata <strong><em>”Kita harus menafsirkan sesuai pemahaman salafus salih karena Itulah yang benar , tidak boleh menafsirkan dengan hawa nafsu”.</em></strong> Nyata sekali kalau Si Tiran ini tidak mau mendengar dalil Si Saya, baginya sudah cukup pemahaman salafus salihnya dan setiap yang bertentangan dengan itu dia nyatakan menafsirkan dengan hawa nafsu, padahal sedikitpun dia belum mendengar apa tepatnya penafsiran Si Saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam batas ini Si Saya cukup terluka oleh serangan itu oleh karenanya dia membela dirinya dengan berkata <em>“Saya menafsirkan dengan akal saya” </em>yang ingin ditekankannya adalah dia menggunakan kemampuan berpikirnya untuk memahami Al Quran dan Hadis yang dimaksud, tetapi si Tiran entah karena berpura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti apa yang dibicarakan menjawab dengan tikaman <strong><em>”Tidak boleh mendahulukan akal dari Al Quran dan Hadis”.</em></strong> Pernyataan ini cukup telak membuat Si Saya berpikir si Tiran ini tidak mengerti sedikitpun pembicaraan, kalau sudah begini apa yang mau dikatakan lagi. Memang mereka para Tiran ini mempersempit teritori orang lain dengan argumen atau kata-kata yang seolah-olah benar padahal tidak atau tidak pada tempatnya. Dan seandainya ada yang membantah argumennya dia akan membalasnya dengan sengit dan terburu-buru seolah-olah pikiran itu berbahaya sehingga perlu secepatnya dimatikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dialog yang terakhir mengenai masalah Sunni dan Syiah terjadi karena ada seseorang yang bertanya kepada Si Saya dan Si Saya menjelaskan apa yang dia tahu, tetapi si Penimpal datang walaupun tidak tak terduga (menurut Si Saya) dan mengatakan kalau Si Saya itu salah, percakapan Selanjutnya membuktikan kalau si Penimpal itu ternyata Tiran juga. Dimulai dari pernyataan si Tiran <strong><em>“ Pantas saja kamu itu sudah terpengaruh dengan propaganda Syiah”.</em></strong> Sebelumnya Si Saya cuma mengatakan kalau dia membaca banyak buku tentang Syiah termasuk karya ulama Syiah sendiri, tetapi si Tiran menjawab dengan tuduhan aneh seperti itu, makanya Si Saya menjawab <em>”Propaganda Bagaimana? Aku kan Cuma membandingkan apa yang dituduhkan terhadap Syiah dengan pernyataan Ulama Syiah sendiri, juga mempelajari dalil-dalil apa yang menjadi landasan mahzabnya dalilnya dari Al Quran dan Hadis kok, bila perlu kita bisa bicara panjang tentang ini. Lagi pula untuk mengetahui pasti tentang Syiah kita tidak bisa mengabaikan pernyataan orang Syiah sendiri kan”.</em> Ini adalah cara yang terang-terangan untuk mengajak si Tiran berdiskusi dengan dalil dan argumen yang ilmiah (mungkin Si Saya menyadari kalau si Tiran ini tidak dapat menangkap isyarat dalam kata-kata yang halus seperti pengalamannya sebelumnya dengan Tiran yang lain).</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tidak tak terduga si Tiran menyerang niat baik Si Saya dengan kata <strong><em>“Orang-orang Syiah itu pembohong mereka itu sering membuat hadis palsu untuk menunjang mahzabnya Al Qurannya saja beda dengan Al Quran kita”. </em></strong>Lihat baik-baik yang ingin si Tiran ini katakan bahwa tidak ada gunanya membandingkan atau membaca buku ulama Syiah karena mereka semua pembohong, Si Saya berpikir kalau sudah begitu apalagi yang bisa dibicarakan, tapi walaupun begitu Si Saya tetap menjawab <em>“Enggak ah Al Qurannya sama, itu Cuma fitnah dan mereka juga menggunakan hadis-hadis yang diterima oleh orang Sunni”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Si Saya ingin membantah si Tiran tentang tuduhannya terhadap Al Quran Syiah dan hadis palsu yang dikatakan si Tiran, tentu saja Si Saya ingin si Tiran menanggapi dengan menanyakan Si Saya apa dalilnya bicara begitu? Tapi lain yang diharapkan Si Tiran Malah menyerang Si Saya dengan berkata <strong><em>“Hadis-hadis yang mereka bilang itu tidak benar, mereka menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka”.</em></strong> Si Saya membatin <em>saya rasa kamulah yang bicara dengan hawa nafsu, Padahal kamu belum pernah membaca buku ulama Syiah </em>. Si Saya kembali membela diri dengan berkata<em>“ Rasanya kan lebih baik kalau kamu baca dulu buku ulama Syiah sebelum bicara seperti itu”.</em> Si Saya berharap pernyataan ini akan menggugah Si Tiran, paling tidak akan membuatnya menyadari kalau dia menyatakan sesuatu padahal dia belum membaca buku ulama syiah yang dia bicarakan. Ternyata si Tiran itu benar-benar tidak menyadari dan menjawab dengan serangan selanjutnya <strong><em>”Buku aliran sesat buat apa dibaca ntar terpengaruh, lagipula orang Syiah itu pendusta, banyak ulama yang bilang kalau mereka itu orang yang paling pendusta, jadi untuk apa baca buku Syiah”.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya Serangan seperti ini akan mematikan niat Si Saya untuk melanjutkan diskusi tetapi mungkin karena pengalamannya Si Saya tetap bertahan dan kembali ke medan laga dia berkata <em>“Cara kamu itu tidak benar, itu menghukum secara sepihak namanya, pantas saja kamu menuduh yang bukan-bukan tentang Syiah”.</em> Alih- alih tersudut si Tiran Malah semakin garang dan melancarkan serangan Argumentum Ad Hominem  ”<strong><em>kamu itu sudah terpengaruh dengan Syiah lebih baik kamu tidak usah baca-baca buku kayak gitu, baca buku-buku ulama salafus salih saja biar nggak sesat jadinya”.</em></strong> Secara tidak langsung yang ingin si Tiran katakan Si Saya sudah mulai sesat. Si Saya tidak senang dituduh macam-macam oleh karena itu dia membela diri sambil menyatakan ajakan yang terakhir <em>“Aku sudah baca buku-buku yang kata kamu salafus salih itu, jadi kenapa kita tidak diskusi mendalam soal ini, kita bahas satu-persatu biar jelas”.</em> Jawaban si Tiran sama seperti sebelumnya penolakan yang diiringi serangan akhir <strong><em>“Aku masih perlu banyak belajar buat diskusi, lagipula semuanya sudah jelas kok”</em></strong>. Si Saya  mendengar dirinya sendiri berkata tanpa suara <em>“oh jadi kamu belum banyak belajar untuk bisa melontarkan semua tuduhan yang kamu sampaikan dan saya rasa kamu tidak akan belajar kalau kamu pikir semuanya sudah jelas, saya heran apa yang kamu pelajari, kasihan sekali orang-orang yang tidak tahu apa artinya belajar”.</em> Akhirnya Si Saya menutup diskusi yang memuakkannya dengan berkata <em>“Ya sudah kalau begitu” .</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang dikemukakan Si Saya ternyata si Tiran itu tidak mengerti apa artinya belajar, bagi si Tiran itu satu-satunya yang ia sebut belajar adalah menelan semua ajaran kelompoknya dan ulamanya bulat-bulat(atau apapun bentuknya) karena hanya itu yang benar dan selain dari itu adalah ajaran hawa nafsu. Dia tidak punya cukup mata untuk melihat bahwa ulamanya bukan satu-satunya ulama yang ada di dunia, tetapi Bagaimana mungkin dia bisa melihat itu kalau dia sendiri tidak bisa memperhatikan kalau orang lain punya sesuatu yang dengan seenaknya dia bunuh. Berkali-kali kita lihat si Tiran menyabet dengan <strong><em>pedang “itu hawa nafsumu”,</em></strong> seolah-olah dia bisa melihat menembus hati manusia seraya melupakan dirinya yang penuh nafsu membunuh, Ya nafsu membunuh pikiran orang lain yang sadar atau tidak sering sekali dilakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiran-tiran seperti ini dan cara berpikirnya benar-benar menjijikkan dan menyebalkan, mereka ini dengan penyakitnya benar-benar menyebabkan orang lain mengalami <em>“Sindroma Tak Ada Gunanya” j</em>ika berbicara dengan mereka. Tetapi kita melihat mereka ini dengan penuh grandiosa menyebut mereka golongan yang selamat, golongan yang benar, dan golongan yang berada di atas jalan yang lurus.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara berpikir Tiran seperti ini jelas tidak baik dan sedapat mungkin harus dihindari. Keberadaan orang lain harus menjadi perhatian bagi siapapun yang ingin hidup bersama orang lain. Perbedaan pendapat tentunya dapat ditolerir selagi setiap orang dapat menghormati teritori masing-masing. Memang ini adalah bentuk ideal dari yang diharapkan, pada kenyatannya ada saja orang seperti Tiran ini yang suka melanggar batas teritori orang lain atau orang yang kelewat nyaman dalam teritorinya sehingga tidak bisa menerima apapun pendapat orang lain, yang dimaksud itu orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain tetapi paling tidak dia tidak membunuhnya seperti yang dilakukan para Tiran. Kedua tipe yang seperti ini cukup menyulitkan dalam interaksi antarmanusia sebagai makhluk yang punya pikiran masing-masing, tapi bisa ditekankan kalau tipe pertama yaitu para Tiran itu lebih berbahaya bagi kehidupan pikiran-pikiran manusia yang akan berinteraksi dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum mengakhiri tulisan ini saya akan menambahkan sedikit untuk mencegah kritik atau komentar yang tidak penting yang mungkin muncul dari para Tiran yang tersinggung atau dari siapapun yang akan menyatakan bahwa tulisan anda itu tidak benar, Musik itu memang haram, Matahari memang mengelilingi bumi dan Syiah itu memang sesat. Kalau memang ada yang seperti ini saya mohon maaf untuk kelancangan saya mengatakan kepadanya <strong><em>bahwa anda tidak mengerti sedikitpun apa yang saya bicarakan. </em></strong>Tulisan ini yang menampilkan dialog-dialog tentang masalah tertentu tidaklah membahas mengenai substansi dari permasalahan dialog tersebut tetapi hanya membicarakan cara berpikir Tiran dalam dialog itu, terlepas dari kenyataan kebenaran ada pada pihak siapa, karena seandainyapun para Tiran yang benar ,itu tidak membuatnya berhak mematikan pikiran-pikiran orang yang mau berdialog dengannya. Untuk masalah substansi dialog tersebut dalam kesempatan lain mungkin akan dibicarakan, Insya Allah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/secondprince.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/secondprince.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/secondprince.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/secondprince.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/secondprince.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/secondprince.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/secondprince.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/secondprince.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/secondprince.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/secondprince.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/secondprince.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/secondprince.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=secondprince.wordpress.com&blog=1332946&post=20&subd=secondprince&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/logika-tiran-sang-pembunuh-model-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a71a0678e5291771c4cdb694367cacb4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">secondprince</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>