Hadis Jabir bin Samurah
Hadis Jabir dalam perkara ru’yah ini kami temukan dalam kitab As Sunnah Ibnu Abi Ashim, hadis ini tidaklah tsabit sanadnya dan tidak bisa dijadikan hujjah. Hadis ini termasuk hadis yang tidak menyebutkan kalau ru’yah itu terjadi di dalam mimpi
ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن طهمان ثنا سماك بن حرب عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bakir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Simmak bin Harb dari Jabir bin Samurah yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah SWT telah menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk. Maka Dia bertanya kepadaku “apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”. Aku menjawab “wahai Rabbku aku tidak mengetahuinya”. Maka Dia meletakkan tangannya diantara kedua bahuku hingga aku merasakan dingin diantara kedua dadaku. Kemudian tidaklah Dia bertanya kepadaku kecuali Aku mengetahuinya. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 465]
Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena Simmak bin Harb. Ia dita’dilkan sebagian orang dan dilemahkan oleh sebagian yang lain. Tetapi pendapat yang melemahkan lebih diunggulkan karena terdapat alasan yang jelas untuk melemahkannya yaitu hadisnya mudhtharib, hafalannya yang buruk alias tidak dhabit dan ia mengalami ikhtilat. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 4 no 405 dimana ia mengutip bahwa
- Syu’bah dan Sufyan Ats Tsawri mendhaifkannya
- Ahmad bin Hanbal menyatakan hadisnya mudhtharib
- Ibnu Ma’in menyatakan Simmak tsiqat tetapi ia juga mengatakan kalau Simmak sering memusnadkan hadis-hadis yang tidak dimusnadkan oleh yang lainnya.
- Ibnu Ammar mengatakan mereka (para ulama) berkata tentangnya “Ia sering salah dan diperselisihkan hadis-hadisnya”
- Ibnu Mubarak menyatakan “ia dhaif dalam hadis”
- Shalih bin Muhammad Al Jazarah menyatakan ia didhaifkan
- Ibnu Kharrasy menyatakan ada kelemahan di dalam hadisnya
- Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “ia banyak melakukan kesalahan”
- An Nasa’i menyatakan kalau Simmak bin Harb tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri dan ia menerima riwayat dengan talqin
- Al Bazzar mengatakan kalau Simmak mengalami kekacauan hafalan sebelum wafat
Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/394 menyatakan kalau Simmak bin Harb jujur tetapi riwayatnya dari Ikrimah mudhtharib, ia mengalami kekacauan hafalan dan ia menerima riwayat dengan talqin. Ad Daruquthni dalam Al ‘Ilal 4/120 mengatakan kalau Simmak bin Harb hafalannya buruk. Ibnu Jauzi memasukkan Simmak bin Harb dalam kitab Ad Dhu’afa Wal Matrukin no 1552.
Bagi kami Simmak bin Harb tidak bisa dijadikan hujjah dalam hadis ini dengan beberapa alasan. Simmak bin Harb hadisnya mudhtharib seperti yang dikatakan Ahmad bin Hanbal walaupun sebagian orang mengatakan bahwa riwayatnya yang mudhtharib khusus dari Ikrimah saja. Kami katakan benar riwayatnya dari Ikrimah terbukti mudhtharib dan hadis Ru’yah adalah hadis yang mudhtharib [berdasarkan pembahasan sebelumnya] sehingga bisa jadi Simmak juga mengalami kekacauan pula disini. Selain itu Ibnu Ma’in mengatakan kalau Simmak sering memusnadkan hadis yang tidak dimusnadkan oleh yang lain dan An Nasa’i mengatakan Simmak menerima riwayat dengan talqin, tentu saja semua itu penyakit yang membuat hadisnya sangat meragukan. Ditambah lagi dia adalah seorang yang hafalannya buruk dan mengalami ikhtilat sebelum wafatnya. Jadi hadis Simmak bin Harb dalam hal ini tidak bisa dijadikan hujjah.
.
.
Hadis Abu Umamah
Hadis Abu Umamah juga diriwayatkan dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim. Sama seperti yang lainnya hadis ini tidak lepas dari illat yang menjatuhkannya ke derajat dhaif.
ثنا يوسف بن موسى ثنا جرير عن ليث عن ابن سابط عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال تراءى لي ربي في أحسن الصورة ثم ذكر الحديث
Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Ibnu Sabith dari Abi Umamah dari Nabi SAW yang berkata “Rabbku memperlihatkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk” –kemudian Beliau menyebutkan hadis-. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 466]
Hadis ini dhaif dan mengandung dua illat yang menjatuhkannya
- Laits bin Abi Sulaim, dia walaupun dita’dilkan sebagian orang tetapi juga dilemahkan oleh banyak orang lainnya karena hafalannya yang buruk, hadisnya mudhtharib dan mengalami ikhtilath. Dalam At Tahdzib juz 8 no 835 disebutkan kalau ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Uyainah, Abu Zar’ah, Yahya bin Sa’id, Ibnu Sa’ad dan yang lainnya. Ibnu Hibban dan Al Bazzar menyatakan ia mengalami ikhtilat. Abu Zur’ah dan Al Bazzar menyatakan bahwa hadisnya mudhtharib.
- Ibnu Saabith tidak mendengar dari Abu Umamah. Hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Ma’in yang dikutip dalam Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/127 no 217 dan Jami’ Ahkam Al Marasil Al Hafiz Abu Sa’id ‘Alaiy no 428. Jadi hadis ini dhaif karena sanadnya munqathi’ (terputus).
Hadis Abu Umamah dhaif karena kelemahan hafalan salah seorang perawinya yaitu Laits bin Abi Sulaim dan sanadnya munqathi’.
.
.
Hadis Abu Rafi’
Hadis ru’yah riwayat Abu Rafi’ dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam kitabnya Mu’jam Al Kabir
حدثنا جعفر بن محمد بن مالك الفزاري الكوفي ثنا عباد بن يعقوب الأسدي ثنا عبد الله بن إبراهيم بن الحسين بن علي بن الحسن عن أبيه عن جده عن عبيد الله بن أبي رافع عن أبي رافع قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم مشرق اللون فعرف السرور في وجهه فقال رأيت ربي في أحسن صورة فقال لي يا محمد أتدري يم يختصم الملأ الأعلى ؟ فقلت يا رب في الكفارات قال وما الكفارات ؟ قلت إبلاغ الوضوء أماكنه على الكراهيات والمشي على الأقدام إلى الصلوات وانتظار الصلاة بعد الصلاة
Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Fazari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abbad bin Yaqub Al Asdi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ibrahim bin Husain bin Ali bin Husain dari ayahnya dari kakeknya dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abi Rafi’ yang berkata “Rasulullah SAW keluar kepada kami dengan wajah yang cerah dan tampak kegembiraan di wajahnya kemudian Beliau SAW berkata “Aku melihat Rabbku dalam sebaik-baik bentuk dan Dia berkata kepadaku “Wahai Muhammad apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”. Aku menjawab “Wahai Rabbku tentang Al Kafarat?”. Dia berfirman “Apa itu Al Kafarat?” Aku menjawab “Menyempurnakan wudhu’ dalam keadaan yang tidak disukai, berjalan untuk shalat berjama’ah dan menunggu waktu shalat setelah shalat”. [Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 1/317 no 938]
Hadis ini adalah hadis yang dhaif jiddan dikarenakan dua illat (penyakit) dalam sanadnya yaitu
- Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Fazari Al Kufi, dia adalah Syaikh (guru) Thabrani yang dikatakan dhaif dan pemalsu hadis sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tarajum Syuyukh Thabrani no 331.
- Abdullah bin Ibrahim bin Husain dan ayahnya tidak dikenal biografinya dalam kitab hadis sebagaimana yang disebutkan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 1/543 no 1222 jadi mereka berdua tidak dikenal.
Oleh karena itu hadis Abu Rafi’ ini kedudukannya sangat dhaif dan tidak layak dijadikan hujjah.
.
.
Kesimpulan
Hadis Jabir bin Samurah dhaif karena kelemahan salah seorang perawinya yang membuat hadisnya meragukan. Hadis Abu Umamah dhaif karena sanadnya terputus dan hadis Abu Rafi’ dhaif jiddan karena perawinya yang sangat dhaif dan sebagian tidak dikenal.
DIarsipkan di bawah: Hadis, Kritik Salafy


Al quran adalah al furqan, setiap hadits harus diuji dengan al quran, kalo bertentangan maka hadits itu palsu
saya bukan ahli hadits, tapi dari buku shabbir ahmed yang saya baca, banyak para perawi hadits berasal dari persia. Al quran juga melarang kita berpecah belah, misalnya dalam mazhab. di zaman 4 khalifah sebenarnya umat muslim bersatu, bangsa Persia lah yang membuat makar dan memecahbelah muslim
Salam damai salam persahabatan
hehehehehe….tanggapan yang aneh…
@qarrobin
ooh tentu, itu kaidah yang benar tetapi kita tetap berhati-hati menerapkannya. jangan sampai penafsiran kita yang sesuka hati terhadap Al Qur’an kita samakan dengan Al Qur’an itu sendiri.
yang anda maksud itu ulama penulis kitab hadis kali seperti Bukhari dkk, tapi gak masalah kok asalnya darimana. Lgpula kajian shabbir itu juga belum tentu benar. Saya sih tidak melihat ada bukti untuk asumsinya itu.
persoalan sederhana, bangsa Persia yang mana yang anda katakan memecah belah muslim?. Persia itu ada banyak orangnya, apa semuanya?
@qarrobin
Justru yg aneh org Sunni yg sering menjelek-jelekan org Persia tapi ironisnya mengangkat org2 Persia spt Bukhori, Al-Ghazali, Abdul Qadir Jaelani dll menjadi imamnya. Sementara org Syi’ah Persia sendiri mengangkat org2 Arab sbg imamnya spt Imam Ali dan keturunannya. He he lucu…
@SP
Mudah2an mereka paham ini. Karena kenyataan di lapangan banyak (mereka) mengklaim tafsir mereka sebagai Al-Qur’an itu sendiri. Sehingga terjadilah perang tafsir yang berlanjut dengan saling hujat (bahkan bunuh2an yaa?..)
Salam damai.
tuan ijin tak copy.smoga brmanfaat.tapi kok huruf arabnya kok gak nyambung di word-ku ya.alias putus2 per huruf.kok gak spt biasanya.
Zakariyya, arabnya pindah dulu ke power point baru pindah ke word,..
sekali lagi sudah dijelaskan secara komprehensif di sini :
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/kedudukan-hadis-nabi-saw-melihat-allah.html
@antirafidhah
gak ada yang komprehensif disana, semua yang ada di sana sudah diterangkan dalam semua pembahasan disini. Silakan dibaca dengan benar
[...] Ditulis oleh bicarasalafy di/pada November 18, 2009 SUMBER: http://secondprince.wordpress.com/ [...]