Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh Abu Zur’ah, Ath Thabrani, Abu Bakar bin Shadaqah dan tentu syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.
Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).
Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat
- Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
- Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.
Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.
Sayang sekali kemungkaran hadis ini seperti nya luput dari pandangan sebagian ulama seperti Abu Zur’ah, Ath Thabrani dan Al Faqih Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah [seorang Imam Hafiz yang tsiqat tsiqat sebagaimana disebutkan Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 5/40-41]. Mereka mengakui kebenaran hadis ini. Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 144 mengutip penshahihahn dari Ath Thabrani, ia berkata
قال وأبلغت أنّ الطبراني قال حديث قتادة عن عكرمة عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الرؤية صحيح ، وقال من زعم أني رجعت عن هذا الحديث بعدما حدثت به فقد كذب
Telah disampaikan bahwa Ath Thabrani berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW tentang Ru’yah adalah shahih, dan siapa yang mengatakan bahwa aku rujuk dari hadis ini setelah meriwayatkannya maka sungguh ia telah berdusta.
Dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 145 Ath Thbarani berkata
سمعت إبن صدقة الحافظ يقول من لم يؤمن بحديث عكرمة فهو زنديق
Aku mendengar Ibnu Shadaqah Al Hafiz berkata “siapa yang tidak mempercayai hadis Ikrimah [tentang Ru’yah] maka ia seorang zindiq”.
Dalam Al Laaly Al Masnu’ah 2/32 As Suyuthi mengutip perkataan Ath Thabrani
قال الطبراني سمعت أبابكر بن صدقة يقول سمعت أبا زرعة الرازي يقول حديث قتادة عن عكرمة عن إبن عباس في الرؤية صحيح رواه شاذان وعبدالصمد بن كيسان وإبراهيم بن أبي سويد لا ينكره إلاّ معتزلي
Ath Thabrani berkata aku mendengar Abu Bakar bin Shadaqah berkata aku mendengar Abu Zur’ah Ar Razi berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang Ru’yah adalah shahih yang diriwayatkan oleh Syadzaan, Abdush Shamad bin Kaisan dan Ibrahim bin Abi Suwaid, tidak ada yang mengingkarinya melainkan ia seorang mu’tazilah.
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya. Sikap berlebihan seperti ini benar-benar patut disayangkan. Apakah ulama-ulama lain dan orang-orang islam yang mengingkari hadis ini akan dengan mudahnya mereka katakan zindiq atau mu’tazilah?. Apakah Imam Ahmad bin Hanbal itu zindiq atau mu’tazilah?. Terkadang sehebat apapun ulama tetap tampaklah kenehannya.
Selain mereka, ternyata ada pula Ibnu Taimiyyah yang ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ia dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

- Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah
Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

- Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290
Sudah jelas pernyataan shahih terhadap hadis ini adalah kebathilan yang nyata. Bagaimana mungkin mereka tidak risih untuk mengatakan bahwa Allah SWT menampakkan dalam bentuk pemuda amrad di dalam mimpi?. Dan kalau kita perhatikan ulama yang disebut Ibnu Taimiyyah ini, dalam kitab-kitabnya seperti Minhaj As Sunnah ia tidak segan-segan mendustakan berbagai hadis shahih keutamaan Ahlul Bait hanya karena hadis tersebut mungkar dalam pandangannya tetapi anehnya ia tidak segan-segan untuk menshahihkan hadis mungkar riwayat Ibnu Abbas di atas. Sungguh berkali-kali keanehan.
DIarsipkan di bawah: Hadis, Kritik Salafy


Mas Imem lakukan tugasmu dengan baik yah. klo ga, tak kasih pesangon kamu.
Koq bisa yaa mereka yang dengan tauhid yang dangkal seperti ini memproklamirkan diri sebagai pemurni tauhid dan memberi stempel kpd yang ahlinya sebagai pelaku syirik… ccckk..ccckkk.
Ada yang mendukung mati2an pula. Menyedihkan
Wassalam
Pemahaman yg kacau dari manhaj Wahaby mengenai dzat Allah swt juga bukan cuman ini. Sebaiknya SP jg mengungkapkan kekacauan-kekacauan lainnya. Sy prihatin para wahabiers muda, yg baru belajar berenang nekat mencemplungkan diri dan jiwanya ke sungai manhaj yg nampaknya tenang ini, padahal arus di bawah permukaan sebaliknya malah, tanpa mengetahui aliran sungai ini secara pasti sedang menuju lembah kehancuran.
Tauhid adalah tonggak agama. Tauhid bengkok, maka bengkok pula agamanya.
Salam
Allah berfirman, Siapa yang mensifatiKu dengan makhluk ciptaasnKu berarti SIRIK. Dan Sirik terhadap Allah tidak akan Allah ampunkan DOSAnya.
Dan mereka yang tidak takut atas DOSA yang tak terampunkan adalah KAFIR. Wasalam
Siiiip, tulisan yang bagus, mengingatkan saya debat antara syekh wahhabi/salafy Adnan Ar’ur dengan Al Muhaddis Habib Hasan As Saqaf dari jordania di TV Al Mustakillah.
tulisan terkait dengan ini ternyata juga di bahas oleh blog abu salafy dalam membantah blog abu jauzah
Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan-(5)
http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/
Menurut sejarah ibnu taimiyah dihukum mati mengapa?
si Taimiyah LA lagii..!
@sp
anda itu pengen niru2 abu salafy ya?
tapi udah dibantah tuh dg jelas, lihat saja:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html
makanya jgn fitnah sembarangan, bisa menyesatkan orang2 awam.
Dari blog di atas:
Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah berkata :
وإذا كان كذلك فالإنسان قد يرى ربه في المنام ويخاطبه فهذا حق في الرؤيا ولا يجوز أن يعتقد أن الله في نفسه مثل ما رأى في المنام فإن سائر ما يرى في المنام …..
“Jika yang terjadi seperti itu, maka seseorang yang melihat Rabb-nya dalam mimpi dan berbincang-bincang dengannya adalah benar dalam ru’yah-nya. Namun tidak diperbolehkan untuk meyakini bahwasannya diri Allah (yang sebenarnya) itu seperti yang ia lihat dalam mimpi….” [lihat selengkapnya dalam Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah, 1/72-73].
Makanya lihat selengkapnya….jgn asal tampilin covernya doang dan sepotong2.
(Ibarat kisah 3 orang buta ingin tahu tentang GAJAH)
@kembali ke aqidah yang benar
situ gak bisa baca dengan benar ya, yang mana yang fitnah dari tulisan saya?. Tunjukkan deh kata-kata mana yang fitnah, kalau gak bisa berarti anda yang memfitnah. Justru tulisan saya ini menanggapi tulisannya saudara Abul Jauzaa ataupun saudara abu salafy
@sp
kalo gak fitnah, yaa sepotong2.
gitu aja kok repot..
@kembali ke aqidah yang benar
jangan asal comot doang, cuma kupipes dari Abul Jauzaa, situ gak baca buku aslinya kan. Tuh lihat baik-baik Ibnu Taimiyyah jelas-jelas menshahihkan hadis dengan kata-kata “pemuda amrad”. Masalah bagaimana dia menafsirkannya itu mah urusan dia, saya cuma bilang menyatakan shahih hadis tersebut sudah jelas aneh. Yang saya tampilkan jauh lebih baik dari komentar anda yang asal kupipes. Anda itu gak ngerti mau membantah apa.
Anda sendiri mengerti tidak apa yang anda kutip, apa arti kata-kata benar dalam ru’yah-nya. Coba jawab, itu kalau anda memang mau berdiskusi, bukannya cuma ngomel-ngomel gak karuan.
@kembali ke aqidah yang benar
hey bangun Mas, apa anda atau abul jauzaa itu tidak mengutip sepotong-sepotong?. maling kok teriak maling
@sp
anda berkata:
1.Masalah bagaimana dia menafsirkannya itu mah
urusan dia
2.Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang
nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk
pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan
kumisnya)”
jawb:
Jelas2 beda penafsiran antara anda dan IBNU TAIMIYAH. kenapa anda menyebutnya “kemungkaran” yang nyata?
Apakah Anda pernah membaca ada kitab dari ulama ‘Salafy’ yang secara sharih menyebutkan ‘aqidah bahwa wujud Allah yang kita ibadahi adalah seorang pemuda berambut kriting dan berjambul ? Sepanjang pengetahuan saya sampai detik ini : Tidak ada. Bagi penuduh diwajibkan bukti. Jika tidak bisa : Katakanlah kepada kami bahwa Anda telah berdusta.
@kembali ke aqidah yang benar
Hadis itu jelas-jelas lafaznya mungkar, Allah menampakkan diri dalam bentuk pemuda di dalam mimpi itu sudah jelas mungkar. Orang yang memahami tauhid dengan baik gak akan menshahihkan hadis dengan lafal seperti itu. Makanya ulama yang benar menyatakan hadis tersebut lafalnya mungkar dan tidak shahih.
Ini bukti kalau anda itu tidak memahami tulisan saya. Kapan saya pernah bilang begitu?. Yang saya sebut aneh itu sikap Ibnu Taimiyyah yang menshahihkan hadis tersebut. Apa anda sendiri gak risih mendengar hadis dengan lafal seperti itu dibilang shahih?.
Siapa yang menuduh, sudah jelas saya bawakan bukti nyata Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadisnya. Anda itu gak ngerti tulisan orang tapi seenaknya aja berkoar-koar. Pahami dulu tulisan saya baru ngomong. Bukannya tadi anda yang sedang menuduh saya memfitnah, nah saya tanya mana kata-kata saya yang memfitnah. Tunjukkan buktinya, bagi penuduh diwajibkan bukti jika tidak maka katakanlah pada saya bahwa anda telah berdusta
@sp
apakah anda juga menyimpulkan bahwa tuhannya
Ibnu Taimiyyah itu seperti yang dilihat dalam mimpi (dalam wujud seorang pemuda kriting berjambul) ?
@kembali ke aqidah yang benar
Saya tidak mengatakan seperti itu, tetapi yang saya permasalahkan adalah dengan menshahihkan hadis itu berarti Ibnu Taimiyyah mengakui kalau Tuhan di dalam mimpi bisa berbentuk seperti itu, walaupun seperti kata Ibnu Taimiyyah tidak diperbolehkan untuk meyakini bahwasannya diri Allah (yang sebenarnya) itu seperti yang dilihat dalam mimpi. Dengan mengakui shahihnya hadis itu berarti Ibnu Taimiyyah mengakui kalau Nabi SAW memang pernah melihat Tuhan dalam bentuk pemuda di dalam mimpi. Inilah yang saya sebut bathil.
@SP
Mestinya KAB sudah paham maksud dari tulisan/gugatan terhadap penshahihan hadits.
Bukankah Ibn Taimiyah cs. punya pilihan untuk membatilkan hadits tsb? Kenapa memkasakan diri untuk meshahihkan? Apalagi jelas2 bahwa beliau sendiri terlihat bimbang dengan usaha beliau menjelaskan lebih jauh.
@Mas KAB jika anda membatilkan hadits ini insyaallah niat anda untuk Kembali ke Aqidah yang Benar bisa segera terwujud.
Salam damai.
Terhenti di persimpangan jalan. Ke kiri berarti akan bertemu dgn aqidah Ibnu Taimiyyah. Ke kanan artinya kembali ke awal ke aqidah yang benar.
Salam
@armand,
Maju kena, mundur kena….
@KAB :
ga bisa jujur yah mas ?
ga bisa fokus yah mas ?
koq kaya polri aja,.. awalnya nuduh fitnah, trus berubah jadi nuduh SP kasih tulisan sepotong-2.
dan gaya anda keluar lagi deh,.. memasukkan topic baru di sela-2 diskusi.
Buaya dong namanya…?
ngemeng-ngemeng Dajjal rambutnye juge KERITING
Dajjal kepalanya botak, namun jenggotnya panjang
Terhenti di persimpangan jalan, eeeh ketemunya ini:
http://ban-syiah.blogspot.com/2006/03/sujud- ke-kuburan.html
http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/02/25/syi%E2%80%99ah-budaya-syirik/
http://secondprince.wordpress.com/2009/08/15/allah-swt-berbicara-dengan-imam-ali-as/
jadi bigung saya…….siapa sih yg syirik?????????????
@sp
Saya tidak mengatakan seperti itu, tetapi yang saya permasalahkan adalah dengan menshahihkan hadis itu berarti Ibnu Taimiyyah mengakui kalau Tuhan di dalam mimpi bisa berbentuk seperti itu, walaupun seperti kata Ibnu Taimiyyah tidak diperbolehkan untuk meyakini bahwasannya diri Allah (yang sebenarnya) itu seperti yang dilihat dalam mimpi. Dengan mengakui shahihnya hadis itu berarti Ibnu Taimiyyah mengakui kalau Nabi SAW memang pernah melihat Tuhan dalam bentuk pemuda di dalam mimpi. Inilah yang saya sebut bathil.
jwb:
anda juga mengakui yg ini kan?:
http://secondprince.wordpress.com/2009/08/15/allah-swt-berbicara-dengan-imam-ali-as/
apakah ini bukan bathil????????
Bagaimana mahu pergi ke jalan yang benar ? – lalui saja -
Bagaimana mahu pergi ke jalan yang sesat ? – lalui saja -
@kembali ke aqidah yang benar
Lha nggak ada yang syirik disini, jadi ngapain sok bingung
Dimana letak kebathilannya?. Al Qur’an sendiri malah menunjukkan kalau Allah pernah mewahyukan petunjuk kepada Ibu Musa. Apanya yang bathil Mas
@sp
Al Qur’an sendiri malah menunjukkan kalau Allah pernah mewahyukan petunjuk kepada Ibu Musa. Apanya yang bathil Mas
jwb:
1. Pernyataan anda di atas perlu diteliti kebenarannya.
2. Apakah anda mau mengatakan bahwa Allah swt
juga memberi wahyu kepada Ali bin Abi Thalib
ra?
KAB kok gak paham dg maksud ulasan di atas.blajar tata bahasa ya.
@zak
oke saya ralat :
2. Apakah anda mau mengatakan bahwa Allah swt
juga mewahyukan petunjuk kepada Ali bin Abi Thalib
ra?
apa bedanya?
lihat aja lafazdnya:
“bukan Aku yang berbicara dengannya tetapi Allah yang berbicara dengannya”.
RISIH GAK SIH liatnya?
Ibnu Taimiyyah adalah penghulu para Salafy, Salafy adalah penghulu para Wahaby yg radikal dan ekstrem. Banyak manusia yg sudah menjadi korban atas pemahamannya, masih ngga ngerti juga. Maju kena, mundur kena…
@kembali ke aqidah yang benar
silakan dibaca Al Qashas ayat 7, biar lebih jelas gitu
Gak risih kok, kan sudah dijelasin di thread sana itu, ada dua kemungkinan kan. Kok situ cuma bernafsu bahas salah satu kemungkinan yang saya sebutkan. Ingat saya sendiri belum menetapkan yang lebih rajih dari kedua kemungkinan itu. Hal yang lucu adalah anda itu sebenarnya mau membuktikan apa?. Kesannya anda cuma ngotot mau melakukan pembelaan buta kepada Ibnu Taimiyyah. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Allah SWT memang bisa berbicara kepada Manusia, ada yang melalui perantara malaikat Jibril dan ada yang tidak. Manusia ini diantaranya adalah para Nabi dan Ibu Musa AS (ibu Musa itu bukan Nabi). Hal ini dengan jelas tertera dalam Al Qur’an [itu kalau ada mengimaninya]. Jadi mengapa mesti risih dengan sesuatu yang memang ada landasannya di Al Quranul Karim.
Nah sekarang Ibnu Taimiyyah itu, apakah hadis tersebut kalau Allah SWT bisa berbentuk pemuda di dalam mimpi memiliki landasan dari Al Qur’anul Karim. Jawablah dengan jujur jangan cuma mau membantah saya saja.
@kembali ke akidah yang……….?
Biar ga kebingungan kaya gitu makanya sebelum komentar pikir dulu dg kepala dingin dan jauhkan dari prasangka buruk DIJAMIN TDK AKAN BINGUNG LAGI DAN PASTI AKAN MENEMUKAN AKIDAH YANG SEMPAT HILANG, mumpung masih didunia dan pintu rahmat masih dibuka banyak2lah bertanya tapi jgn sok tau nanti jd sering bingung.
salam
jadi, orang biasa dan bukan nabi, bisa saja berdialog dengan Allah swt gitu? Termasuk kita2 di zaman sekarang?
waduh…waduh gak tahu deh kayak gini mah…
Makin risih liatnya…
@kembali
Duh susah bener anda ini untuk berpikir lurus ya, kita gak akan bicara asal-asalan kecuali hal itu sudah ditetapkan oleh nash yang shahih baik dari Al Qur’an maupun hadis. Kalau Al Qur’an menyebutkan begitu, ngapain anda menolak atau sok merasa risihi. Terserah sampeanlah mau merasa risih dengan apa yang Al Qur’an sebutkan. Lucunya anda gak risih dengan sesuatu yang nyata-nyata mungkar yaitu hadis Ummu Thufail. Bukannya risih malah dibela mati-matian. Maaf ya, anda itu sudah salah tempat dalam memposisikan diri. Yang terbukti dengan nash jelas dari Al Qur’an anda merasa risih, yang nyata2 mungkar tapi karena ulama anda menshahihkan maka harus dibela. silakan saja, semua orang melihat kok kualitas anda
@sp
Pada tingkatan mana, seseorang yg bukan nabi, mendapat kehormatan, bisa berbicara bg Allah swt? (saya bertanya begini , karena sudah ada landasannya dalam al-qur’an, ya kan.)
(hati2, “fatwa” anda bisa menyesatkan orang banyak alias banyak orang)
@kembali
maaf ya Mas, pertanyaan anda gak ada nyambungnya sama tulisan di atas, jangan terbiasa diskusi melebar kemana-mana, fokus fokus dan tolong pertanyaan saya di tulisan sebelah itu dijawab
menurut anda hadis Ummu Thufail itu berlafaz mungkar atau tidak?. Menurut anda, keyakinan bahwa Allah SWT bisa berbentuk pemuda di dalam mimpi itu batil atau tidak?
Saya selalu berhati-hati berbicara, silakan cek diri anda disini, anda bisa dibilang orang yang tidak berhati-hati dalam berbicara
@sp
kenapa tidak tertulis dalam al-quran ataupun hadits qudsi, bahwa Allah swt pernah berbicara dg Ali bin abi Thalib ra, seperti layaknya ibunda Musa as dan ibunda Isa as yg tertulis dlm al-qur’an?
@kembali
pertanyaan macam apa itu, saya sudah tunjukkan dalilnya dari hadis Rasulullah SAW yang shahih kalau Allah SWT berbicara dengan Imam Ali, dan yang berkata seperti itu ya Rasulullah SAW. Dalil apa lagi yang anda mau, kalau memang mau menolak sejuta dalilpun kagak ada gunanya. Masalah itu bukan lagi pada dalilnya tetapi pada hati yang tertutupi, salam
@sp
1. kenapa anda tdk menjawab yg ini:
Pada tingkatan mana, seseorang yg bukan nabi, mendapat kehormatan, bisa berbicara bg Allah swt? (saya bertanya begini , karena sudah ada landasannya dalam al-qur’an, ya kan.)
2. anda berkata:
pertanyaan macam apa itu, saya sudah tunjukkan dalilnya dari hadis Rasulullah SAW yang shahih kalau Allah SWT berbicara dengan Imam Ali, dan yang berkata seperti itu ya Rasulullah SAW. Dalil apa lagi yang anda mau, kalau memang mau menolak sejuta dalilpun kagak ada gunanya. Masalah itu bukan lagi pada dalilnya tetapi pada hati yang tertutupi, salam
jwb:
jawaban anda terkesan tidak menjawab dan bukan itu yg saya mau.
Kalau jawabannya begitu sih, Ibnu Taymiyah pun bisa, “kan yang berkata Rasulullah”.
@kembali
lho siapa peduli dengan apa yang anda mau, lagian maaf kayaknya anda itu gak mengerti komentar orang lain. komentar anda yang ini
sudah saya jawab dengan komentar maaf ya Mas, pertanyaan anda gak ada nyambungnya sama tulisan di atas, jangan terbiasa diskusi melebar kemana-mana.
Saya tidak tahu anda itu sebenarnya apa maunya, sebelumnya anda risih bahwa Allah SWT bisa berbicara dengan selain Nabi SAW. Nah lalu saya sudah bawakan keterangan kalau memang ada Allah SWT menyampaikan wahyu atau berbicara kepada selain Nabi SAW yaitu Ibu Musa AS. Selain itu saya sudah bawakan dalil yang shahih bawa Allah SWT pernah berbicara kepada Imam Ali. Jadi apa sebenarnya yang anda permasalahkan. bingung
ah maaf ya Mas tidak bisa, jelas-jelas hadis yang dinyatakan Ibnu Taimiyyah itu dhaif dan memang berlafaz mungkar. Anda mau membabibuta membela ibnu taimiyyah ya silakan. Tapi tolong dijawab dulu dengan jujur pertanyaan saya
menurut anda hadis Ummu Thufail itu berlafaz mungkar atau tidak?. Menurut anda, keyakinan bahwa Allah SWT bisa berbentuk pemuda di dalam mimpi itu batil atau tidak?
Aneh, kok saya harus berkali-kali meminta anda menjawab pertanyaan mudah seperti ini. Silakan dijawab dan gak usah melebarkan diskusi kemana-mana. Kalau anda gak berani jawab ya bilang dong, biar saya gak nanya-nanya lagi dan sekalian saya gak perlu menanggapi komentar anda. Diskusi itu harus didasari itikad yang baik, fokus pada tema yang didiskusikan, dan saling menanggapi komentar lawan bicara dengan baik. Buktikan kalau anda mampu bersikap seperti itu
@SP
Mas tak usaha heran atas komentar KAB. KAB mempunyai AKIDAH/keyakinan Allah berjisim sehingga apababila Allah berbicara dengan Imam Ali as harus seperti KAB berbicara kepada temannya. KAB tidak tahu betapa tinggi ilmu Allah.
Allah kalau berkendak maka cukup dengan KUN FAYA KUN. Dan apabila Allah ingin berbicara dengan hambaNya, maka dengan IlmuNya Ia bisa berbicara.
Sudah cukup mas jelaskan dan banyak ayat dalam Alqur’an yang menjelaskan.
Yang lucu KAB bertanya, jadi apakah kita yang sekarang bisa berbicara langsung dengan Allah?
Pertanyaan ini sama dengan Firman Allah, yakni orang2 MUSYRIK bertanya. Apakah sesudah kita mati dan tulang belulang sudah hancur bisa dihidupkan kembali? Wasalam
[...] SUMBER: http://secondprince.wordpress.com/ [...]
@ KAB………………..,
kasian banget si……., sdh dijelasin dg sejelas jelasnya masih saja buntu.
untung mas@SP sabar ttp tetap saja tdk ada manfaat buat @KAB.
coba banyak2 istighfar spy dibuka kembali mata hatinya.
@SP
top dech
salam
baca surat Al Ikhlas udah jelas smuanya…