Kedudukan Hadis Allah Melaknat Orang Yang Mencela Sahabat Nabi

Kedudukan Hadis Allah Melaknat Orang Yang Mencela Sahabat Nabi

Terdapat sebagian orang yang sangat berlebihan dalam mengagungkan sahabat Nabi. Tidak puas dengan hadis shahih mereka berhujjah dengan hadis dhaif untuk memuliakan Sahabat Nabi. Mereka mengecam orang yang berani membicarakan sahabat. Mereka menuduh orang yang mengungkapkan kesalahan sahabat sebagai orang yang telah Mencela Sahabat Nabi. Dan menurut mereka Mencela Sahabat Nabi akan mendapat laknat Allah SWT. Berikut hadis yang dijadikan hujjah oleh mereka

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من سب أصحابي فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين

Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang mencaci SahabatKu maka dia akan dilaknat oleh Allah SWT, Malaikat-malaikatNya dan manusia seluruhnya”.

Hadis dengan matan di atas adalah riwayat Ibnu Abbas dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 12/142 no 12709. Diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dalam Fadhail As Shahabah Ahmad bin Hanbal no 8 dengan tambahan lafaz “Allah tidak akan menerima amalannya baik wajib maupun sunnah”. Hadis riwayat Jabir dalam Musnad Abu Ya’la 4/133 no 2184. Hadis riwayat Ibnu Umar dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 12/434 no 13588 dan Mu’jam Al Awsath 7/114 no 7015 dengan lafaz yang hanya menyebutkan laknat Allah SWT saja tanpa tambahan “Malaikat dan manusia seluruhnya”. Juga diriwayatkan Uwaim bin Sa’adah Al Anshari dalam Mustadrak Al Hakim 3/7732 no 6656 dan Mu’jam Al Awsath 1/144 no 456. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan secara mursal oleh Atha’ bin Abi Rabah dalam Fadhail As Shahabah Ahmad bin Hanbal no 10 dan 11 dan dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1001.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini adalah hadis dhaif. Dalam setiap sanad hadisnya terdapat perawi dhaif atau matruk kecuali hadis Atha’ yang berstatus mursal dan hadis mursal sangat jelas kedhaifannya.

Hadis riwayat Ibnu Abbas dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 12/142 no 12709 di dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Khirasy. Ia adalah perawi yang sangat dhaif . Biografinya disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 5 no 341. Disebutkan bahwa ia telah dinyatakan dhaif oleh Abu Zar’ah, Abu Hatim, An Nasa’i dan Daruquthni. Al Bukhari berkata “munkar al hadis”. As Saji mengatakan bahwa ia dhaif dan memalsu hadis. Muhammad bin Ammar berkata bahwa ia pendusta. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/489 memberikan ia predikat dhaif. Jadi hadis Ibnu Abbas berstatus sangat dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang dhaif, pendusta dan pemalsu hadis.

Hadis Anas bin Malik dalam Fadhail As Shahabah Ahmad bin Hanbal no 8 terdapat dua orang perawi dhaif yaitu Ali bin Yazid Ash Shuda’i dan Abu Syaibah Al Jauhari. Ibnu Hajar menyebutkan biografi Ali bin Yazid dalam At Tahdzib juz 7 no 641, disebutkan bahwa ia dilemahkan oleh Abu Hatim yang berkata “tidak kuat dan munkar al hadis”. Ibnu Ady berkata “riwayat-riwayatnya tidak diikuti”. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/705 berkata “ada kelemahan padanya”. Pernyataan ini dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 4816 dimana Syaikh Syu’ain Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf menyatakan Ali bin Yazid dhaif. Abu Syaibah Al Jauhari adalah Yusuf bin Ibrahim At Tamimi, biografinya disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 11 no 692 dan ia telah dinyatakan dhaif oleh Abu Hatim, Bukhari, Al Uqaili, Ibnu Hibban dan Ibnu Ady. Ibnu Hibban dalam Al Majruhin no 1233 mengatakan bahwa hadisnya dari Anas tidak halal diriwayatkan dan tidak bisa dijadikan hujjah. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/343 menyatakan ia dhaif. Jadi dalam hadis Anas terdapat dua orang perawi dhaif yang menunjukkan bahwa status hadisnya sangat dhaif.

Hadis Jabir dalam Musnad Abu Ya’la 4/133 no 2184 adalah hadis yang dhaif jiddan karena dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Fadhl bin Athiyah. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 9 no 658 menyebutkan bahwa ia telah dinyatakan dhaif oleh banyak ulama diantaranya Ibnu Main, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim, Abu Zahrah, Ali bin Madini, Abu Dawud, Ibnu Ady dan lain-lain. An Nasa’i, Muslim, dan Daruquthni menyatakan ia matruk, ia dinyatakan sebagai pendusta oleh Ibnu Ma’in, Ahmad, Amru bin Ali, dan An Nasa’i. Shalih bin Muhammad menyebutnya “pemalsu hadis”. Ibnu Hibban mengatakan bahwa ia meriwayatkan hadis-hadis palsu. Al Bukhari memasukkannya dalam Ad Dhu’afa no 337. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/124 menyebutnya sebagai pendusta.

Hadis Ibnu Umar dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 12/434 no 13588 dan Mu’jam Al Awsath 7/114 no 7015 adalah hadis yang dhaif. Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Saif. Al Uqaili memasukkannya sebagai perawi dhaif dalam kitabnya Adh Dhu’afa 2/264 no 818 seraya berkata “hadisnya tidak terjaga dan dia majhul”. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Mughni Ad Dhu’afa 1/341 no 3211  dan berkata “Abdullah bin Saif tidak dikenal”.

Hadis Uwaim bin Sa’adah Al Anshari dalam Mustadrak Al Hakim 3/7732 no 6656 dan Mu’jam Al Awsath 1/144 no 456 adalah hadis yang sangat dhaif karena di dalam sanadnya terdapat dua orang perawi majhul yaitu Abdurrahman bin Salim dan ayahnya yaitu Salim bin Utbah. Kedua perawi tersebut hanya dikenal melalui hadis ini saja. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/570 menyatakan bahwa Abdurrahman bin Salim majhul. Salim bin Utbah disebutkan dalam At Taqrib 1/336 dengan predikat “maqbul (diterima)”. Disini Ibnu Hajar telah keliru karena Salim bin Utbah hadisnya hanya diriwayatkan oleh satu orang  yaitu anaknya Abdurrahman bin Salim, padahal Abdurrahman sendiri majhul. Selain itu Tidak ada satupun ulama yang memberikan predikat ta’dil pada Salim bin Utbah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 2182 menyatakan Salim bin Utbah majhul. Tentu saja hadis yang diriwayatkan oleh dua orang perawi majhul sudah pasti berstatus dhaif anehnya Al Hakim malah menshahihkan hadis ini dan disepakati juga oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Pernyataan mereka jelas sekali keliru dan hanyalah sikap tasahul dalam menshahihkan hadis keutamaan sahabat padahal sanadnya sangat dhaif.

Hadis Atha’ bin Abi Rabah dalam Fadhail As Shahabah Ahmad bin Hanbal no 10 dan 11 dan dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1001 adalah hadis mursal, para perawinya tsiqat dan hasan tetapi hadis mursal sudah jelas berstatus dhaif.

.

.

Kekeliruan Syaikh Al Albani

Syaikh Al Albani dalam Zilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1001 menyatakan bahwa hadis Atha’ mursal shahih dan sanadnya hasan. Dalam Shahih Jami’ As Shaghir no 5111 Syaikh telah menghasankan hadis Ibnu Umar dan Shahih Jami’ As Shaghir no 6285 Syaikh telah menghasankan hadis Ibnu Abbas. Begitu pula dalam Silsilah Ahadis As Shahihah 5/446 no 2340 beliau menyatakan hadis ini hasan dengan mengumpulkan sanad-sanadnya. Pernyataan Beliau sungguh keliru, Dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah ketika mentakhrij hadis ini beliau membawakan hadis Ibnu Abbas, Hadis Anas dan Hadis Atha’ saja.

  • Hadis Ibnu Abbas berstatus dhaif jiddan karena diantara perawinya ada seorang yang dhaif, pendusta dan pemalsu hadis yaitu Abdullah bin Khirasy.
  • Hadis Anas berstatus dhaif jiddan karena terdapat dua orang perawi dhaif yaitu Ali bin Yazid dan Abu Syaibah Al Jauhari.
  • Hadis Atha’ walaupun para perawinya menurut Syaikh semuanya tsiqat tetap saja hadis tersebut mursal dan hadis mursal adalah hadis dhaif menurut kesepakatan para Ulama hadis.

Walaupun ketiga hadis ini dikumpulkan tetap tidak akan mungkin statusnya naik menjadi hasan karena cacat  yang sangat parah pada setiap sanadnya. Oleh karena itu banyak ulama telah mencacatkan hadis ini diantaranya

  • Al Uqaili memasukkan hadis ini riwayat Ibnu Umar dalam kitabnya Ad Dhu’afa 2/264 no 818.
  • Syaikh Washiullah bin Muhammad Abbas dalam tahqiqnya terhadap kitab Fadhail As Shahabah no 8 (hadis Anas), 10 dan 11(hadis Atha’) menyatakan bahwa hadis-hadis tersebut dhaif.
  • Syaikh Husain Salim Asad dalam tahqiqnya terhadap Musnad Abu Ya’la 4/133 no 2184 menyatakan bahwa hadis Jabir sanadnya rusak.
  • Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 3/251 menyatakan hadis Ibnu Umar dhaif jiddan (sangat dhaif).
  • Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/438 no 5414 biografi Utbah bin Uwaim bin Sa’adah Al Anshari mengutip Al Bukhari dan Abu Hatim yang menyatakan bahwa hadis Uwaim di atas tidak shahih.

.

.

Kesimpulan

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif dan dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka didapati bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi-perawi yang dhaif, majhul, pendusta dan pemalsu hadis. Sanad terkuat hadis itu adalah hadis Atha’ bin Abi Rabah yang merupakan hadis mursal. Hadis mursal merupakan hadis yang dhaif dan kedudukannya tidak akan naik menjadi hasan oleh hadis-hadis yang sangat dhaif  seperti hadis Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir, Anas dan hadis Uwaim di atas.

About these ads

82 Tanggapan

  1. Utk SP :

    Suatu hadis DOIF bisa dijadikan hujah jika ada hadis kuat lain yg mem bac up alias isinya mirip2. Hadis tsb antara lain dari Bukhori :

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
    Dari Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung uhud tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HSR. Bukhori, Muslim,

    Jelas bahwa nabi melarang utk mencela sahabat. Tahu sendirikan resikonya jika melanggar setiap larangan nabi yaitu dapat laknat/dosa.

  2. @laxmaxru

    Halah udah berasumsi lalu copas, sesungguhnya kamu yang dilaknat itu, karena telah meng-infokan hadits yg dhaif :mrgreen:

  3. @laxmaxru

    Halah udah berasumsi lalu copas, sesungguhnya kamu yang dilaknat itu, karena telah membenarkan hadits yg dhaif :mrgreen:

  4. Jadi Moral ceritanya adalah:

    1).”Terdapat sebagian orang yang sangat berlebihan dalam mengagungkan sahabat Nabi” = Para penyembah sahabat

    2.)”Tidak puas dengan hadis shahih mereka berhujjah dengan hadis dhaif untuk” = diluar naql da aql ada satu dalil lagi namanya dalil “pokoknya”

    3.) ” 1 hadist Dhaif + Hadist Dhaif + Hadits Mursal equivalent dengan kebenaran atau kalau pakai bahasa lain adalah, kebohongan + kebohongan = kebenaran.

    @SP. gak cape capenya nih menohok Aqidah orang,

  5. @laxmaxru
    memangnya itu hadis isinya mirip :mrgreen:

    @dede
    ah jangan begitulah, laknat itu hanya untuk kesalahan yang fatal :mrgreen:

    @A_Lee
    ehem apa ada yang merasa tertohok akidahnya? wah maafkan maafkan :)

  6. Mencela shahabat adalah aqidah syi’ah.
    Sedangkan Nabi tak senang jika shahabat2 beliau dicela. Makanya beliau bersabda, ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku’. So, syi’ah itu tidak disukai oleh Nabi.

  7. @artikelislami
    bukannya malah Muawiyah dan Mughirah bin Syu’bah yang mencela sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib. padahal Mencaci Ali sama saja mencaci Nabi.

  8. @SP

    Saya mah hanya mengembalikan omongan Lamaru. :)

  9. @artikelislami

    “Mencela shahabat adalah aqidah syi’ah.”

    “Muawiyah dan Mughirah bin Syu’bah mencela sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib”

    Kesimpulannya:
    “Muawiyah dan Mughirah bin Syu’bah adalah Syiah”

    Ada yang salah dengan pendapat antum tuh,

  10. @artikel islami
    masak sahabat Nabi yang katanya ndak boleh dicela malah mencela sahabat nabi yang lain? hayo bingung khan? ya itulah keyakinan anda yang fatal kesalahannya.

  11. Utk SP :

    Intinya. kedua hadis tsb di atas bahwa nabi melarang mencela/mencaci/ngrasani sahabat. OK ?

  12. Damai semuanya,

    maaf diluar bahasan tapi Insya Allah sangat penting.

    Guwe yang awam dan bukan ahlul kitab ni menyatakan :

    1.Terima kasih buat mas SP atas blog ini yang buanyak memberikan pencerahan buat saya dan tentu buat yang laen.
    2.Terima kasih juga buat temen-temen yang laen yang ikut berkomentar baik yang pro SP atau yang kontra atau juga yang tidak keduanya yang turut menorehkan ilmunya.

    3. Walau pada satu sisi hal ini tetap memberi manfaat,namun di sisi laen saya mengingatkan bahwa bahwa bahasan ini adalah bahasan horisontal, hadist vs hadist tak kan pernah selaesai, percayalah!! Kedua pihak harus sama-sama nyadar untuk membahas yg bersifat VERTIKAL yaitu bagaimana, GOLONGAN mana yang SESUAI HADIST TSAQALAYN dengan ciri :
    1.Alquran : golongan yang memberikan metode dan PRAKTEK NYATA bagaimana CARA MENCAPAI MAQOM TAQWA atau mendekatkan diri kepada Allah.
    2.Ahlul bayt : Golongan mana yang Pemimpinnya/imamnya MEMILIKI SANAD MELALUI JALUR AHLUL BAYT hingga ROSULULLAH.

    Kita cari saja GOLONGAN ini DI ZAMAN SEKARANG !!! Bukan dizaman lampau .
    Insya Allah Aku bisa menunjukkan golongan tsb, kalau kalian mau mengapresiasi (maaf) nasehatku.

  13. Di sisi laen memang kita membutuhkan landasan formal atau syar’i macam apa yang temen-temen diskusikan

    Namun di sisi laen kita juga harus menemukan metode atau jalan nyata bagaimana cara Taqorrub kepada Allah.
    Ini yang kumaksudkan dengan bahasan vertikal.
    Justru ini yang lebih di dahululan daripada yang temen-temen diskusikan.
    Rosul mewasiyatkan 2 pusaka bukan cuma di diskusikan tapi untuk di terima dan di amalkan.
    Salam damai.

  14. @Rendy

    Salam kenal.

    Betul, Rasulullah saw mewasiatkan dua pusaka (ats Tsaqalain). Tentu saja harus diterima dgn IMAN yakni diyakini dalam hati, diucaplan dgn lisan dan diamalkan dalam perbuatan.

    Wassalam…

  15. Artikel yang sangat bagus sekali menambah ilmu agama

  16. aku pikir sahabat nabi adalah semua orang yang berahlak baik… kalo seperti itu meski dhoif, hadis itu bener… tpi gak tau lah… klo sama yang suka mencela orang baik sih kayaknya sih emang Dia gak suka….

  17. @dede, trims lam knal juga,

    Sebaik-baik atau semulia-mulia sahabat yang Allah dan Rosul lebih tahu ttg itu dan sebaik-baik masanya toh mereka sudah tiada dan tidak bisa ditemui lagi masa mereka sudah lewat

    Kita sebagai umat sepeninggal beliau tentu tolak ukur kebenarannya bukan kpd 3 golongan terbaiknya melainkan siapa atau golongan mana yang berpegang pada 2 pusaka tersebut.
    Karena peruntukan Ats Tsaqalayn sangat jelas yakni untuk umat SEPENINGGAL Beliau.

    Sekali lagi kita hanya mencari saja golongan manakah yang memenuhi kriteria 2 pusaka tersebut??
    Pada akhirnya memang kita haruslah masuk dalam jamaah, tidak mungkin selamanya kita sendirian walaupun ia seorang ahli kitab.

    Jamaah itu sahih dalam Al Quran (QS 9:119) dan carilah jamaah yang SEKELAS dengan kenabian (bukan pangkat ke nabiannya) yakni yang sama-sama berada diatas shirotol mustaqim atau MEREKA yang telah mendapat NIKMAT.

    Mari kita renungi golongan manakah ini,yang EKSIS lama disekitar kita ??
    Apakah Allah akan membiarkan umatnya terlantar TANPA PEMIMBING UMAT yang adalah para KHALIFAH-KHALIFAHNYA ???
    Adalah tidak adil kalau kita yang semakin jauh dan semakin berkembang CUMA di tinggali KERTAS DAN TINTA “ber merk Al Hadist??” itupun bukan karya Rosul dan sahabatnya pula dan akan menjadi bahan perdebatan tak kunjung usai???
    Renungkanlah…

  18. @Rendy

    Benar, kita tidak mungkin sendirian dalam memahami syari’at Islam. Tentu saja dibutuhkan sosok pemimpin yg setaraf dgn kenabian (bukan nabi lho), sehingga umat ada dalam satu kesatuan perintah seperti ketika Rasulullah saw masih hidup. Oleh karena itu sepeninggal Rasulullah saw, semestinya umat Islam wajib kembali kepada Ats Tsaqalain yaitu Al Qur’an dan Itrah Ahlulbait yg disucikan dlm QS Al Ahzab 33, maka umat Islam tidak akan tersesat dan terjebak kedalam berbagai mazhab dan golongan.

    Wassalam…

  19. Tip utk Seconprince dan Ressay :

    Silahkan anda hapus setelah baca ini…

    Jika anda ingin mencari suatu golongan Islam yg masih murni agamanya, masih sesuai sunah nabi ajarannya, golongan yg selamat, yg di Ridhoi Tuhan, maka jangan cari pada golongan mayoritas dimanapun berada. Sebab golongan Islam yg benar tak akan pernah menjadi golongan mayoritas, tetapi golongan yang amat sedikit pengikutnya, asing, tak mudah dijumpai dimana saja di dunia. Sesuai sabda nabi : bahwa Islam datang mulanya Asing dan suatu saat akan kembali menjadi asing. Kenapa asing karena ajarannya sudah dianggap tak umum lagi, pengikutnya langka, namun golongan ini tak henti2nya selalu di zalimi dimana saja berada. Walau dizalimi oleh kekuatan amat besar, namun golongan ini tetap bisa bertahan karena ada pertolongan Allah SWT. Bahkan kadang kala memenangkan pertarungan, ini sudah terbukti. Sekarang walau dalam keadaan amat sedikit di dunia, namun golongan ini yg mulanya seperti tak berdaya, telah diberikan Allah kemulyaan yg lebih dari golongan islam lain di dunia, kemulyaan dalam hal duniawi maupun kemulyaan dalam hal agama.

    Syiah Isnaasyariah merupakan golongan Islam yg besar, tidak asing, lebih2 pembentuk ajarannya adalah tokoh2 yg anda sendiri tutup mata dengan kredibilitas mereka spt Kulayni, Mufid, Tusi dll.

    Mumpung anda masih diberi kesempatan di dunia, masih diberi umur, maka renungkannlah sejenak.

  20. @ Latmatru and all

    Disini saya tidak ingin kontra dengan siapapun tapi mari kita diskusi dengan obyektif dan lapang dada.

    Saya hanya membatasi diri pada apa yang telah diwasiyatkan nabi untuk kita dan saya memilih yang sahih dan mutawatir apa saya salah?? Saya tidak bergeser sedikitpun dalam hadist ini.

    Adapun golongan yang saya maksud adalah jamaah apa saja, mana saja bahkan bisa hanya 2 orang saja asalkan ia sesuai dengan kriteria 2 pusaka tersebut.

    Jamaah atau golongan ini bisa mencapai ratusan atau ribuan nama yang berbeda yang tersebar di seluruh Dunia yang masing-masing jamaahnya dipimpin oleh SATU KHALIFAH ALLAH tapi karena MEMILIKI TUJUAN DAN 2 PUSAKA YANG SAMA maka mereka UNIKNYA di sebut SATU GOLONGAN Saja.
    Jadi yang bisa masuk golongan ini boleh siapa saja,apakah dia dari Syiah, sunny, salafy, HT, JT, umum dll.
    Saya tidak sedang membicarakan Syiah

    Mari kita koreksi masing-masing manhaj ato madzab kita apakah Pemimpin anda dapat dijadikan suri tauladan sebagaimana Rosul atas umatnya?? Yang memiliki ketaqwaan, kedekatan kepada Allah dan kwalitas kenabian??
    Kalo cuma metode saja mungkin kita saja bisa bikin tapi sudahkan anda atau pemimpin anda layak disebut Warotsatul Ambiya??

    Selain itu apakah pemimpin anda berguru atau besanad melalui jalur Ahlul Bayt hingga sampai pada Rosulullah??

    Silakan simak kembali tulisan saya dari awal saya menulis.

    Salam Damai

  21. @latmatru
    anda tidak perlu berkomentar hal yang sama berulang kali, saya sudah membacanya. Hal itu hanya menunjukkan akhlak anda yang tidak bisa menghormati pemilik blog ini.

    Jika anda ingin mencari suatu golongan Islam yg masih murni agamanya, masih sesuai sunah nabi ajarannya, golongan yg selamat, yg di Ridhoi Tuhan, maka jangan cari pada golongan mayoritas dimanapun berada. Sebab golongan Islam yg benar tak akan pernah menjadi golongan mayoritas, tetapi golongan yang amat sedikit pengikutnya, asing, tak mudah dijumpai dimana saja di dunia.

    Silakan, apakah anda tidak tahu Islam Sunni jauh lebih besar dan bisa dibilang paling banyak penganutnya sekarang. Menuruti perkataan anda maka Islam Sunni tidak benar juga yah, silakan silakan anda dengan pendirian anda. btw sekarang semakin jelas kok kalau anda tidak hanya menyudutkan Syiah tetapi juga menyudutkan Sunni. Bagi anda Syiah dan Sunni bukan golongan islam yang benar karena keduanya sudah jadi golongan mayoritas. seharusnya komentar tersbeut anda tujukan juga pada imem, antirafidhah, rafsanjani (mungkin mereka Sunni kali?). Selamat deh buat anda dan kelompok anda, selamat menikmati imajinasi anda sendiri. btw anda lebih pantas untuk disebut mencari pembenaran
    Salam

  22. @latmaru
    Bagi saya, anda masih termasuk ke dalam golongan yg besar,
    bila, pegangan kitab hadis anda adalah Bukhari-Muslim/Kuttub Assithah, kecuali anda punya Kitab Hadis selain Mereka??

  23. @rendi
    anda Jamaah Tablighkah?
    yg jelas, kita harus merujuk pd Quran Surrat 33:33, dan ahlulbait Nabi Saww (Imam Ali ra, Sayyidinah Fatimmah as, Imam Hassa dan Hussein as.) sbg salah satu Tsaqalain dlm hal memilih ulil amri / Imam kita. Tapi jika, pengertian Ulil Amri adalah selain dr mereka, jangan harap kita akan selamat di akherat, betapapun kuatnya Jama’ah dan Dakwah kita..tetapkan dahulu arah kepemimpinan dalam Islam dengan jelas dan benar.

  24. @ Chengho and Latmatru

    Kalian belum bisa memahami “yang benar ada pada sebagian kecil golongan dari masyarakat luas”atau gampanya kita pake istilah minoritas
    memang dalam surah Albaqoroh (kalian lebih hapal dg ayat ini) “kalau kita mengikuti kebanyakan manusia akan membuat kita tersesat”
    Sebelum kita berbicara gol. mana yang minoritas

    Yang wajib diketahui terlebih dahulu adalah MENENTUKAN DULU TOLAK UKUR KEBENARANNYA

    kalo kita memakai Alquran dan Sunnah, ini terlalu umum dan semua golongan merasa berjalan diatasnya.
    Maka kita menggunakan wasiyat nabi untuk umat sepeninggal beliau sebagai tolak ukur sahih yang lain.Dan di antara sekian wasiyat nabi yang paling sahih dan mutawatir adalah hadist Tsaqalayn.

    Nah sekarang tinggal di lihat dan di nilai siapa saja atau golongan mana saja yang TERBUKTI SECARA NYATA berpegang pada keduanya.

    Mengenai siapa saja yang benar ini ada 2 kategory yaitu secara INDIVIDU dan GOLONGAN.

    Jadi yang di maksud golongan yang benar ini mengacu pada SIFAT, KRITERIA ATAU SYARAT-SYARAT yang sesuai dengan tolak ukur kebenaran tsb.
    Jadi jangan asal di cari apakah golongan itu Sunny,Syiah,Salafy,NU,Muhammadiyyah, dll tanpa melihat apakah mereka SESUAI dengan tolak ukurnya atau tidak.
    Disisi lain jarang sekali masyarakat (mau)MENGENALI SIAPA PEMIMPIN MEREKA DAN BAGAIMANA KETAKWAANNYA.

    Jadi kesimpulannya yang di maksud dengan 1 (satu) Golongan yang benar atau selamat jangan di artikan dengan golongan A yg berarti selain A salah semua.

    Tapi adalah golongan “SE” tujuan atau “SE” hadist Tsaqalayn. Ini disebut SATU GOLONGAN walaw faktanya golongan mereka banyak dan masing-masing mempunya pembimbing bagi golongannya.

    Tentang MINORITAS
    Kebanyakan salah paham tentang mana yang minoritas, di anggap asing dll, DIBANDING gol. yang lain, jadi jika ada 10 atau 70 gologan dan secara kwantitas yg minoritas adalah golongan pertama maka gol. yg ke 2 hingga ke 70 adalh salah. Ini adalah salah atau jika diketahui gol. Ke 70 pengikutnya terbesar lalu kita katakn “semua orang dalam golongan ini masuk neraka.” Inipun juga salah.

    Untuk menentukan Minoritaspun ada 2 kategory yaitu versi “GOLONGAN” dan “INDIVIDU”

    Untuk versi golongan penentuannya cuma mengelompokkan menjadi 2 sisi saja yaitu
    1.golongan yg benar/sesuai kriteria dan
    2.golongan yang salah/tdk sesuai kriteria
    Faktanya ke dua kategory ini pun masing-masing di huni banyak golongan yang berbeda dan…
    SAYA MELIHAT GOLONGAN YANG PERTAMA/yg sesuai kriteria adalah LEBIH MINORITAS daripada Golongan yang kedua/salah.

    VERSI INDIVIDU

    Dalam hal ini jika A dinyatakan salah atau manhajnya tidak sesuai dg tolak ukur itu tidak berarti semua personilnya salah semua (kecuali Allah menghendaki) tapi bisa terjadi 1,2 orang atau beberapa personil secara “FAKTA” amalnya mengikuti “tolak ukur kebenaran” walaw orang tau ia dalam golongan salah maka orang tsb bisa dikatakan benar dan MINORITAS

    Sedang pada GOLONGAN yang BENAR bukan berarti pula semua person disini PASTI SESUAI tolak ukur kebenarannya tapi Insya Allah masih bisa diharapkan keselamatannya karena memiliki pemimpin berstandar KHALIFAH ALLAH.
    Bisa saja terjadi “hukum minoritas individu” tidak berlaku di sini apabila GOLONGAN-GOLONGAN YANG SALAH menempati posisi MAYORITAS.

    Kalau kita liat fenomena sekarangpun pemeluk Islam Dunia(dengan berbagai madzab) saat ini masih bisa dikatakn MINORITAS di banding dg semua komunitas seluruh Dunia.
    Dalam Islampun jika dipilah banyak mana yang Islam KTP dg yg Islam “sungguhan” khususnya di Indonesia yg “sungguhan” masih minoritas.

    Dalam hal ini janganlah kita gunakan MINORITAS sebagai pembenar ajaran, tanpa melihat dan menyesuaikan terlebih dahulu dengan tolak ukur kebenaran
    Ketahuilah MINORITAS ini adalah PROSES ALAMI dari ALLAH dan bukan USAHA KITA MEMBUAT KELOMPOK MINORITAS.

    Kalau asal MINORITAS TENTU KELOMPOK Ahmad Musadek atau Lia Eden lebih minoritas dan asing plus lebih tertindas dari pada golongan Salafy.
    Jadi utamakan dan sesuikan dulu dengan Tolak ukur kebenaran baru yang laennya.

    Salam Damai.

  25. @ Chengho
    Saya berharap anda tidak mewakili Madzab Syiah, sebab kalau pernyataan anda salah yang kena getahnya Madzab Syiah.
    Saya bukan J.Tabligh tahu ajarannya juga tidak.

    Dan saya tidak berbicara khilafah dalam arti 1 khalifah terpilih untuk tampuk kepemimpinan semua umat Islam se negara atau sedunia, saya belum nyampe pada bahasan level itu, terlalu besar urusan dan resikonya jika yang mengangkat polling suara manusia mayoritas bukannya Petunjuk Allah atau Rosul (walau di zaman sekarang) kalo sampai salah pilih pemimpin, Dienul Islam taruhannya!
    Apalagi setiap golongan merasa yang paling berhak atau merasa benar.

    Khalifah yang saya maksud adalah Beliau para pembimbing umat atau para warotsatul Ambiya.

    Kalau melihat pernyataan anda, anda sama persis dengan cara berpikir salafy (walaw anda kontra dengan salafy) karena masa Ahlul Bayt yang anda sebutkan juga sudah lewat.Apakah anda juga hendak “bermimpi” sebagaimana salafy?? Ingin kembali ke masa Imam Ali, bukankah yang ada dizaman kita adalah “ITRAH”Nya beliau??

    Jujur saya tahu hadist tsaqalayn dan kwalitas hadis-hadist wasiyat yang lain serta sejarah kehalifahan sepeninggal Rosul dari Seorang Syiah Imam Ali AS melalui website-websitenya.
    Saya harus berterima kasih dan menghargai kepada madzab Syiah

    Syiah unggul dalam hal konsep.
    Jujur kalo saya suruh memilih golongan mana yang terbaik saya mili 2 golongan, salah satunya adalah madzab ini (Syiah)
    Faktanya hanya Aqidah (dan golongan) Syiahlah yang mengusung Hadist Tsaqalayn tidak dengan golongan yang laen. Menurutku Syiah paling unggul dalam hal Aqidah dan Ushul (dalam furu’ masih dalam kajian)
    Demi Allah madzab ini berpotensi mampu “mematahkan” semua madzab yang mayoritas KECUALI SATU GOLONGAN! Yaitu golongan yang saya ceritakan di atas.
    Keduanya sama-sama “bernaung” di bawah 2 pusaka Nabi, ke dua-duanya pula yang paling di serang oleh golongan SALAFY WAHABI. Hanya saja Syiah pada KONSEP (menurut pendapat saya) dan yang satu pada FAKTA keduanya saling melengkapi walau di lapangan personil dari ke dua golongan ini tidak saling mengenal.

    Siapakah yang bisa menebak Golongan yang Satu ini ??

  26. @Rendy

    Kalau tidak salah golongan tsb adalah golongan Sufi, kalo salah tolong dibetulkan.

  27. @rendy
    “Saya berharap anda tidak mewakili Madzab Syiah, sebab kalau pernyataan anda salah yang kena getahnya Madzab Syiah.”

    Jikapun sy seorg Syiah, kenapa Harus Mazhab Syiah yg kena getahnya? adakah yg salah dlm komentar dan pertanyaan sy pd anda?
    Salam Kenal.

  28. @Artikel Islam :
    Abu bakar adalah orang yang pertama mencela, dan manusia yang di cela adalah Imam Ali as yang merupakan sahabat terbaik dan yang paling dekat dengan Rasulullah saaw.
    Ibnu Abi HAdid dalam kitabnya Syarah Nahju al-Balaghah: juz 16, hlm 214 dan 215 mengatakan :
    “Maka tatkala Abu bakar mendengar khutbahnya (yaitu khutbahnya pemimpin kaum wanita, yaitu Fatimah as) ia potong pembicaraannya dan langsung naik mimbar seraya berkata. “Wahai manusia ! Ketahuilah bahwasanya dia, -yakni Ali as adalah seekor Tsu’alah, buktinya adalah ekornya. Dia adalah perancang segala fitnah yang terjadi. Dia dekat dengan dengan kaum yang lemah dan minta bantuan dari kaum wanita, seperti ummi Thihal, seorang perempuan pelacur yang sangat ia senangi.”

    Dan bagaimana dengan Aisyah yang mencela Utsman dengan mengatakan “Bunuhlah Na’tsal karena sesungguhnya dia telah kafir….
    Tau kah anda apa itu Na’tsal ? Seperti yang dikatakan Fairuz Abadi (ulama sunni) mengartikan Na’tsal itu adalah : Orang tua yang rusak akal, Ibnu Hajar menyebutnya dalam Tabshiratu al Muntabilah, bahwa Na’tsal itu adalah seorang Yahudi di Madinah dan dia seorang tua berjenggot yang menyerupai Utsman.

    berarti manusia yang pertama tidak disukai Nabi saaw adalah : Abubakar dan putrinya Aisyah yah…

    @Maru :
    Untukmenjawab asumsi anda :
    “Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun untuk mencapai kebenaran (QS. Yunus : 36).

    Salam.

  29. @rendy
    “Kalau melihat pernyataan anda, anda sama persis dengan cara berpikir salafy (walaw anda kontra dengan salafy) karena masa Ahlul Bayt yang anda sebutkan juga sudah lewat.Apakah anda juga hendak “bermimpi” sebagaimana salafy?? Ingin kembali ke masa Imam Ali, bukankah yang ada dizaman kita adalah “ITRAH”Nya beliau??

    Betul, apa yg sy tulis hanya menerangkan Asbabun Nujul QS.33:33, atau yg lebih terkenal dengan hadis Al kisa’.
    Saya hanya ingin memberi penekanan dengan pemahaman kebanyakan Suni, dimana bahwa itu juga termasuk para Istri2 Nabi, bahkan kerabat dekat Nabi Saw.

  30. mantap…

  31. Utk Randy :

    Jamaah yg LURUS tidak sekedar minoritas, tetapi bahkan ASING. Namun tak semua jamaah yg asing itu benar.

    Jamaah yg LURUS selalu di zalimi sepanjang massa.

    Jamaah yg LURUS selalu dapat PERTOLONGAN Allah. Walau di zalimi oleh kekuatan raksasa.

    Pernyataan di atas ada dalilnya/hadisnya masing2.

    Coba anda perhatikan dalam sejarah dunia, semua negara yg berpenduduk Islam disaat berakhirnya perang dunia pertama, wilayah nya diduduki oleh tentara nasrani eropah. Iran pun diduduki oleh Inggris dan Rusia. Praktis semua negara islam yg di dalamnya ada semua golongan Islam di duduki tentara nasrani eropah. Nah…pada saat itu hannya wilayah yg dikuasai Jamaah yg LURUS saja tak diduduki tentara nasrani. Satu2nya wilayah Islam yg tak diduduki tentara nasrani. Rupanya jamaah yg LURUS ini masih ditolong oleh Allah. Allah tak ridho jika jamaah yg lurus di kuasai oleh nasrani. Siapaka jamaah yg LURUS tsb ? dimana areal kekuasaanya ?
    Silahkan anda simak buku sejarahUtk Randy :

    Jamaah yg LURUS tidak sekedar minoritas, tetapi bahkan ASING. Namun tak semua jamaah yg asing itu benar.

    Jamaah yg LURUS selalu di zalimi sepanjang massa.

    Jamaah yg LURUS selalu dapat PERTOLONGAN Allah. Walau di zalimi oleh kekuatan raksasa.

    Pernyataan di atas ada dalilnya/hadisnya masing2.

    Coba anda perhatikan dalam sejarah dunia, semua negara yg berpenduduk Islam disaat berakhirnya perang dunia pertama, wilayah nya diduduki oleh tentara nasrani eropah. Iran pun diduduki oleh Inggris dan Rusia. Praktis semua negara islam yg di dalamnya ada semua golongan Islam di duduki tentara nasrani eropah. Nah…pada saat itu hannya wilayah yg dikuasai Jamaah yg LURUS saja tak diduduki tentara nasrani. Satu2nya wilayah Islam yg tak diduduki tentara nasrani. Rupanya jamaah yg LURUS ini masih ditolong oleh Allah. Allah tak ridho jika jamaah yg lurus di kuasai oleh nasrani. Siapaka jamaah yg LURUS tsb ? dimana areal kekuasaanya ?
    Silahkan anda simak buku sejarah

  32. @Latmaru,
    Anda melupakan sesuatu,..sekali lagi ijinkan saya berbeda, tidak semua yang tidak diduduki oleh penjajah Eropa itu ditolong Allah SWT, karena ada juga pemerintah muslim yang berkolaborasi atau lebih tepat menghamba pada pemerintah Eropa, kebalikannya ada pemerintah yang punya harga diri lebih baik bereperang dengan penjajah walaupun walaupun resikonya negaranya dijajah,….

    Contoh factualnya saat ini masih ada kok.

    Negara ini punya penghasilan minyak terbesar di dunia tapi 90% hasilnya dikuasai asing,..

    Negara ini tidak diobrak abrik pemerintahannya karena membiarkan tanahnya dipakai pangkalan milter untuk menyerang negara muslim lainnya.

    Negara ini membiarkan sebuah pulau miliknya di aneksasi sama Israel karena saking takutnya bermusuhan dengan Israel.

    Pemerintah negara ini masih berdiri karena mereka menghamba sama negara penjajahnya, tidak dijajah secara fisik tapi secara mental mereka telah menjadi budak………tahu dong negara mana, itu lho yang masih menganggap TKW indonesia sebagai budak, hingga mereka bebas memperkosanya,….

  33. @rendy
    Anda mengusulkan kaum yang minoritas. Dan memang yang paling benar adalah yang KELOMPOK MINORITAS yang selalu dimusuhi dan dibenci oleh mereka. Dimulut mereka katakan mencintai tapi apabila mereka (gol.minoritas) dihadapkan dengan pencinta SAHABAT. Hilang kecintaan mereka. Padahal MEYINTAI MINORITAS wajib. Siapa MINORITAS tsb yakni AHLULBAIT DANTRAHTI RASUL.
    Dan yang minoritas ini diwajibkan utntuk diikuti agar tidak SESAT. Yaitu perpegang TEGUH pada Alqur’an dan Itrahti Ahlulbaiti. Mudah2 anda tdk perlu mencari yang minor lagi.
    Dan jangan cari yang minor dan ASING dosa BESAR lho rendy.
    Sekarang kalau anda ingin panutan dan berada dijalur Tsaqalain usul saya adalah cari mereka dari Zuriat Rasul yang punya NUR. Wasalam

  34. @ dede
    Terima kasih, anda mulai ke arah sana, maksud anda SUDAH BENAR.
    Hanya saja saya tdk menggunakan istilah sufi dan tasawuf (walaw berkaitan) karena ke 2 istilah tsb hanya berbicara “alam” nya bukan secara amal syar’i

    Saya sudah menulis bahwa Madzab Syiah unggul dalam hal konsep aqidah (karena “mengantongi 2 pusaka” sedang golongan laen tidak) dan “berpeluang” mampu mematahkan hujjah semua madzab/manhaj mayoritas (ini menurut saya,dan blum tentu benar lho,) KECUALI terhadap SATU GOLONGAN !!!
    Yaitu MADZAB TAREKAT

    Madzab ini secara FAKTA, juga WAJIB Berpegang pada Ahlul Bayt (Masa sekarang ITRAH AHLUL BAYT)
    Semua tarekat yang Muktabar Pasti Mursyid (KHALIFAH ALLAH) dan inti ajarannya besanad atau memiliki RANTAI EMAS melalui Itrah Ahlul bayt hingga ke Imam Ali as barulah kepada Nabi SAW

    Madzab ini adil dalam memperlakukan Tsaqalayn yaitu menempatkan Alqur’an “lebih berat” dari Ahlul Bayt artinya: 1.Alquran tidak membedakan dalam hal TAQWA apakah ia seorang ahlul bayt atau bukan asal ia bersungguh-sungguh sesuai petunjuk yang benar akan bisa mencapai taqwa. Dalam hal ini Tarekat secara nyata membimbing murid/jamaah untuk mencapai maqom taqwa atau Taqorrub kepada Allah karena Allahlah sumber hukum dan ilham (landasan vertikal) bukan segudang konsep teory (horisontal).
    Silakan amati secara jujur golongan besar/terkenal mana yang mengajarkan taqwa seperti golongan ini??

    2.Ahlul bayt.
    Dalam hal ini Mursyid tarekat besanad kpd Ahlul bayt dan Nabi.Walau bisa juga Mursyid bukan dari Ahlul Bayt (tapi ada tarekat yg mengharuskan mursyidnya dari ahlul bayt) asalkan sanad mursyid sebelumnya adalah ahlul bayt yang terus sampai hingga Nabi SAW.

    Mursyid Tarekat secara umum di angkat tidak melalui pemungutan suara atau polling, tapi Allah melalui Rosul SAW-di beritakan/diperintahkan kepada Mursyid sebelumnya untuk menunjuk Mursyid yang diangkat. dengan cara ini (atau yang setara dgn ini) beliau memperoleh LEGIMITASI sebagai KHALIFAH Allah atau Nabi atau juga sebagai warotsatul Ambiya penerus Nabi sebagai PEMBIMBING UMAT.

    Walau jumlah Tarekat sangat banyak yang berbeda-beda nama dan metodenya dan tersebar di seluruh Dunia tapi UNIKNYA Mereka bisa di sebut SATU GOLONGAN karena mempunyai tujuan,misi dan landasan yang sama dan mereka semua secara fakta berpegang pada 2 pusaka Rosul saw.

    Mohon lihat kembali tulisan saya dari awal,agar tidak terjadi salah paham.

    Saya ajak semua temen-temen untuk melihat FAKTA bahwa kita HIDUP DI ZAMAN SEKARANG.
    Al Hadist,sahabat imam madzab Ulama Salaf shalih, metode manhaj, dan sejenisnya hanyalah REFERENSI kita memang memerlukan dan menghargai tapi janganlah dijadikan SANDARAN HARGA MATI atau sebagai penetap hukum utama selain Allah.
    Allah-nya para sahabat juga masih sama dengan Allahnya kita di zaman kita sekarang kenapa kita tak berusaha mendekat?? Sudahkah jika nama ALLAH disebut hati kita BERGETAR KARENA IMAN ???

    Salam Damai

  35. @rendy
    Ah jangan ngawur ngomongnya. Nda ada Mazhab Tarekah. Itu kalau anda baru bentuk.
    Tarekah adalah salah satu ilmu menuju pengenalan pada Allah secara hakiki.
    Ilmu menuju kepengenalan pada Allah ada 4 tingkat
    1. Mula2 adalah Ilmu Syareat kalau sdh mampu baru
    meningkat ke Ilmu
    2. Tarekat (jalan/sejarah) kemudian
    3. Ilmu Hakekat kemudian Tingkatan selanjut
    tergantung pada Allah. Apakah kita diberi hidayah
    memasuki ilmu.
    4. Ma’rifat

  36. @Rendy

    mantabss!!

    peace!
    salam kenal..

  37. klo orang yang lurus mah tidak membangga-banggakan alirannya mas..atau menganggap paling benar. anda ini terlalu sombong untuk mengaku yang paling benar.

    cukup sudah omongan anda semua itu, tidak ada gunanya di gunakan di sini. cari mangsanya di tempat lain aja yang tidak perlu analisa serta dalil-dalil.

    salam,

  38. @halwa

    kayaknya ga ada deh, bangga-banggain..forum diskusi ko dibilang forum ‘kebanggaan’

    yang aneh-aneh aja wakakakak…

  39. Rasa bangga adalah sumber perpecahan dan kemunafikan.
    menurut sy, awal perpecahan Islam adalah dikarenakan adanya rasa bangga yg hinggap dihati para sahabat akan kesukuan yg berlebihan (Mereka iri hati akan penetapan Bani Hasyim oleh Allah SWT sbg Khalifatullah di muka Bumi), kemudian berlanjut pd ketidakpatuhan akan perintah/wasiat Rosulullah Saww, pasca meninggalnya Nabi Saww.
    Jadi, perpecahan awal Islam secara hakiki sdh ada sejak Awal-awal Islam, yaitu adanya beberapa org munafik dr para sahabat yg pura2 masuk Islam utk tujuan hawanafsu akibat kesombongannya itu.

  40. @Rendy

    Menurut saya Tarikat adalah bagian dari Islam. Jadi sangat keliru kalau Tarikat dijadikan Mazhab, karena ia adalah bagian dari Ma’rifat kepada Allah swt yg tingkatannya (maqam) yaitu Syari’at, Tarikat dan Hakikat. Maqam2 tsb merupakan satu kesatuan dalam ber-Ma’rifat kepada Allah swt. Sedangkan Ma’rifat adalah sebagai landasan ke 3 Maqam tsb. Istilah2 tsb dikenal dgn sebutan Tasawuf (Sufi) atau bisa disebut juga Filsafat agama Islam. Dan didalamnya dikenal istilah Mursyid dan Salik.

    Yang saya ketahui dalam Mazhab/Manhaj Sunni dan Syi’ah, memang ada yg mendirikan Tarikat sesuai dgn kemana ia bermazhab. Namun ada Tarikat yg netral tidak memperdulikan apakah ia Sunni atau Syi’ah. Akan tetapi apabila terbentur pada masalah Aqidah, tetap saja ada perbedaan pemahaman dalam menelaah Hadits2 dan Tafsir Al Qur’an. Mungkin itu dulu penjelasan dari saya, semoga anda berkenan.

    Wassalam

  41. @SP

    Ma’af nih sepertinya diskusi ini keluar dari judul posting tsb diatas :)

  42. @rafidhah n dede

    Harus saya akui bahwa saya sendiri yang mengatakan madzab pada tarekat.
    Tapi saya tidak bermaksud apa-apa jangan su’udzon dulu,maksud saya adalah
    Bahwa tarekat walau bermacam-macam nama berbeda tapi memiliki SATU TUJUAN DAN LANDASAN YANG SAMA
    saya namakan mereka (satu)Madzab HANYALAH SEMATA-MATA UNTUK MUDAHNYA MEN-DEFINISI-KAN DAN MENGELOMPOKKAN MEREKA DALAM SATU GOLONGAN dalam hal GOLONGAN MANA YANG SESUAI DGN ATS TSAQALAYN YANG ADA DI ZAMAN SEKARANG!!
    itu saja.

    Makanya saya mewanti-wanti agar membaca mulai dari awal tulisan saya agar paham maksud saya menjadikan 2 pusaka sebagai tolak ukurnya.

    Sebelumnya dengan GAMBLANG saya menulis bahwa saya TIDAK MEMBAWA NAMA SUFISME DAN TASAWUF walaupun dua nama ini berkait dg tarekat.

    Tentang tataran Syareat Tarekat Hakekat dan Makrifat ini terserah pendapat anda masing-masing bagaimana menempatkannya.Dan saya TIDAK SEDANG MEMBAHAS INI.

    Dari awal saya menulis bahwa SAYA TIDAK BERGESER dari Hadist Tsaqalayn sebagai tolak ukur kebenaran suatu golongan YANG ADA DIZAMAN SEKARANG!

    Dan saya menyatakan bahwa Golongan TAREKAT inilah yang sangat meyakinkan BERPEGANG dengan 2 pusaka tsb.
    Jadi disini tarekat secara fakta jelas adalah suatu golongan atau JAMAAH yang memiliki Mursyid atau pemimpin.

    Bagi yang TIDAK SETUJU dengan saya Silakan anda tunjukkan APAKAH TAREKAT yang Muktabaroh Tidak sesuai dengan Tsaqalayn??
    COBA TUNJUKKAN SAJA dan Saya tegaskan lagi

    BAHWA TOLAK UKUR GOLONGAN YANG BENAR JANGAN BERGESER DARI HADIST TSAQALAYN ITU SAJA.

    Jadi tentang syareat hingga makrifat itu bahasan tersendiri dan BUKAN bahasan GOLONGAN YANG SESUAI DENGAN HADIST TSAQALAYN,

    PAHAM ????

    Keunggulan golongan ini bukan hanya berpegang pada 2 wasiyat nabi saja melainkan juga merupakan jamaah yang tidak berbeda dengan MASA Ke Nabian
    Mursyid memegang kepemimpinan penuh yang harus ditaati oleh jamaah (murid) dan mereka BISA MENEMUI SECARA LANGSUNG KEPADA BELIAU
    ini sama dengan zaman sahabat yang harus taat kepada Rosul SAW, para sahabat bisa menemui SECARA LANGSUNG
    BELIAU

    Kondisi seperti ini adalah RAHASIA MENGAPA MASA SAHABAT ADALAH GENERASI TERBAIK!!
    Kalau ingin mengikuti seperti ini ya harus MENEMUKAN SOSOK PENGGANTI DAN PENERUS ROSUL (ATAU DI SEBUT KHULAFATUR ROSYIDIN) yang bisa DI TEMUI dan BERKAPASITAS SEBAGAI PEMBIMBING UMAT

    yang kita teladani adalah SEBAB mengapa masa sahabat disebut masa terbaik bukan COPY PASTE terhadap apa-apa yang diperbuat sahabat.
    Sebab amal shalih adalah produk dari HASIL KETAKWAAN jadi bisa saja kita beramal shalih yang beda dg sahabat ASALKAN PUNYA SYARAT DAN SEBAB YANG SAMA yaitu KETAKWAAN.

    Saya melihat MAYORITAS salah kaprah semua, mereka sudah membanggakan golongan, ingin meniru sahabat dengan cara NAPAK TILAS atau MENCARI TANDA JEJAK melalui KERTAS DAN TINTA mengubur diri dalam TIMBUNAN KITAB-KITAB dan MERASA SUDAH BENAR….

    Kita suatu saat harus KEMBALI kepada Allah luangkanlah sedikit waktu untuk bertafakur hal yang bersifat VERTIKAL.
    Landasan vertikal ibarat Tujuan Hidup kita dan segala macam aturan syar’i adalah rambu-rambu lalu lintas,
    tidak memiliki landasan vertikal ibarat kalian hanya berputar-putar tanpa tujuan, memang sih kalian taat aturan lalu-lintas dan sudah cukup untuk merasa benar MAYORITASpun juga melihat kalian benar, tapi umur kalian habis disini dan MENJADI PENYEMBAH HUKUM ATURAN.

    Salam Damai

  43. @Rendy

    Perlu diketahui untuk meluruskan pemahaman Maqam Ma’rifatullah (Tauhid) dalam istilah Tasawuf (Sufisme), sbb:

    1. Syariat = Aturan Allah/Hukum Agama/Fiqih/Akal
    2. Tharikat = Riyadhah/Perjalanan ritual seorang Salik/Jiwa
    3. Hakikat = Mukasyafah/Pembuktian dgn Qalbu akan keberadaan Allah/Rukh

    Maqam Ma’rifatullah yg terendah adalah Syariat, pertengahan adalah Tharikat dan maqam tertinggi adalah Hakikat. Maqam yg tertinggi akan dapat diraih apabila telah sempurnanya maqam pertengahan. Maqam pertengahan akan dapat diraih apabila telah sempurnanya Maqam terendah.

    Ketiga Maqam tsb apabila ada dalam satu kesatuan yg utuh (berkesinambungan), maka akan dapat diraihlah puncak kesempurnaan dalam Maqam Ma’rifatullah.

    Menurut saya, di Blog ini yg sedang dikaji adalah Maqam Syariat yaitu Maqam terendah. Seperti yg kita ketahui dlm penjelasan tsb diatas bahwa Maqam tertinggi akan dapat diraih apabila telah sempurnanya Maqam yg terendah.

    Jadi kesimpulannya apabila dalam Maqam Syari’at saja kita belum betul2 memahami (belum sempurna) atau dgn kata lain masih belum bisa membedakan mana Hadits yg Haq dan mana Hadits yg Bathil, maka jangan diharap kita akan dapat meraih pada puncak kesempurnaan Maqam yg tertinggi dalam kita ber-Ma’rifatullah. Semoga anda berkenan.

    Wassalam

  44. @dede
    betul sekali dede..tumben kali ini adik ngomongnya bener, ga ada bilang2 SESAT n MUNAFIK lagi hehehe..
    dah tobat ya, alhamdulillah…

    @all
    tolong dong semuanya dimengerti, pahami kalau kita sekarang butuh persatuan dan kesatuan, jangan suka nyalahin dan merasa paling bener sendiri dengan berhalusinasi ke masa lalu, mereka semuanya dah mati, THEY’ RE ALL DEAD!! ..membuka aib mereka BUKAN membuka kebenaran, tapi JUSTRU menutup kebenaran di hati kalian dari hidayah Allah SWT…

  45. @rafsanjani
    betul…kalo gitu jangan pake tuh HADIS hadis Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah dan Sunan Nasai, karena di mereka itu banyak sekali acara “ngebuka Aib para sahabat dan merendahkan para Ahlulbait Nabi termasuk menodai kemaksuman Nabi”. Pake aja Hadisnya Versi si Rafsanjani…ok ..he…he..he

  46. terlebih lagi kitab hadis Al Muwatha, Sunan Ahmad, Al Mustadrak, Minhajul Sunnah waaah lebih parah kalleeeee

  47. @Chengho
    wah..maunya ente apa sih, kok susah banget ya diajak damai, bersatu..APA ADA YG SALAH DENGAN KATA ‘PERSATUAN/DAMAI’?
    ketika saya bilang persatuan,
    ketika saya bilang jangan buka aib,
    ketika saya bilang introspeksi diri
    …maka saya pasti akan selalu mendapatkan jawaban muter-muter dan kembali lagi ke hadits, hadits, sejarah, sejarah dan sejarah!

    Camkan, kalau ngomong DAMAI dah PASTI tidak mewakili golongan manapun! juga tidak perlu menjejali otak ini dengan segala macam buku, artikel ataupun majalah tetek bengek! Konteksnya adalah DAMAI, dan damai itu letaknya ada di kelapangan dada, bersihnya hati mau menerima segala kekurangan dan kelebihan sebagai layaknya manusia, PAHAM?! YOU GOT IT?! PAHAM TIDAK?? menerima kelamahan dan kelebihan sbg layaknya manusia?? anda manusia bukan?!

    damai dengan diri sendiri
    damai dengan orang lain
    damai dengan yg sudah mati
    damai dengan Tuhan
    …kecuali dengan iblis/dajjal/setan!
    …kecuali KALAU ente agamanya lain, bukan islam
    …kecuali KALAU ente munafik, sesat
    …kecuali KALAU ente maunya Ribut, Biang Keributan…
    habis perkara!

  48. @Raf..

    Anda berkata:
    SALAH DENGAN KATA ‘PERSATUAN/DAMAI’?
    ketika saya bilang persatuan,
    ketika saya bilang jangan buka aib,
    ketika saya bilang introspeksi diri
    …maka saya pasti akan selalu mendapatkan jawaban muter-muter dan kembali lagi ke hadits, hadits, sejarah, sejarah dan sejarah
    Saya ingin bertanya:
    Bagaimana anda ingin mempersatukan sedangkan ada yang mengatakan salah satu golongan KAFIR dan HALAL DARAHNYA?
    Bagaimana anda tidak bisa memberitahukan Aib (KESALAHAN) seseorang apabila ditanya pada anda, mengapa anda tdk berpanutan pada SAHABAT ?(menurut kata mereka).
    Bagaimana anda bisa mengintrospeksi diri anda sedangkan anda belum tahu apakah perbuatan saya benar atau salah.
    Jawaban kita tidak muter2. Nah sekarang anda jawab dan jangan muter atas komentar saya terhadap kata2 anda

  49. @Rendy
    Pahamilah mengenai TAREKAT. Anda tahukan bahwa mengikuti tarekat ada Mursid dan Syechnya.
    Dan setiap Tarekat mursidnya punya silsilah dari siapa ia mendapat ilmu atau silsilah berdirinya tarekah?
    Apakah anda sudah mempelajari semua Tareqah yang ada ini dan berakhir pada yang mula2 memiliki Ilmu ini siapa.
    Ada Tarekah yang berakhir pada Abubakar yang menerima langsung dari Rasul (menurut mereka) Dan banyak lagi ilmu Tarekah yang tidak berakhir pada Imam Ali.
    Sekarang saya ingin bertanya pada anda:
    Kalau anda berpegang teguh pada Atsaqalain, Tarekah paham yang mana yang anda ikuti.?
    Supaya anda tahu bahwa ratusan paham Tarekah hanya SATU yang berpangkal dari Imam Ali as turun temurun. Wasalam

  50. @rafidhah (chengho)

    wow..begini nih, kebiasaan kalian: muter-muter lagi. baca dong SEMUANYA, pahami intisarinya JANGAN bisanya tulisan orang seenaknya aja dicomot secuil-secuil lalu menyerah balik seenak udel ente yang bodong.

    begini, mas..
    saya jawab semua pertanyaan mas itu dengan dua kata saja : khusnudzon – baca!

    baca semuanya ya..pahami, mudah koq, ga perlu mengernyitkan dahi…

  51. @rafsanjani

    Butuh kesabaran dan hati yg luas utk memulai mengajak damai suasana “perang” yg sdh terlanjur mengakar. Panggilan mas utk “damai” sy nilai positif, namun hendaknya tdk diiringi dgn sikap sinis. Apa artinya ajakan damai jika dilakukan dgn cara-cara yg sinis dan tidak ramah?

    Salam

  52. @armand

    Setuju! Sebelumnya apakabar nih..dah lama tidk berjumpa (emangnya dah pernah ketemu,ge-er kale hehe)

    Begini mas, dari kemarin2 dulu saya kan rajin bertamu dan selalu nimbrung di blog ini dengan membawa ‘bendera’ perdamaian, dari mulai cara-cara halus, lembut hingga sinis seperti kata mas armand.. mohon maaf, hingga kata sinis itu keluar bukan sifat saya, kemungkinan ada dua penyebabnya:

    1. lawan dialog nya yang memang sudah memasang sikap antipati duluan (dgn menganggap siapa saja yg berseberangan/tdk setuju dengan artikelnya mas @SP adalah salafy-wahaby, sunni, syiahphobia) sehingga belum apa2 sudah benci dengan ajakan saya. Padahal PERDAMAIAN tidak memerlukan apa-apa koq, kecuali semuanya saling memaafkan dan melupakan segala kesalahan2/khilaf.

    2. lawan dialog duluan yang memulai dengan mengkounter segalanya dengan sinisme2, karena memang sudah tidak ada niat baik dihatinya untuk saling introspeksi, sehingga tercermin lewat tulisan2 mereka.

    begitu mas..mohon kiranya dibaca kembali tulisan2 saya diatas dari awal, lalu adakah sinisme didalamnya?

    thanks

  53. @rafsanjani

    Sy ada membaca komen2 mas sebelumnya, terutama di: http://secondprince.wordpress.com/2009/09/05/hadis-dhaif-keutamaan-shahabat-nabi/

    Apakah sinisme mas tentang syiah msh sama?

    Salam

  54. @Rendy

    Kalau pemilik blog ini sering membahas suatu teks ajaran, ayat maupun hadis termasuk tarikh, tidak berarti menjadi “penyembah hukum aturan”. Suatu kesimpulan yg sangat terburu-buru. Namanya juga forum, yah wajar saja yg dibahas adalah teks2 ayat atau hadis dan tangapan2 (diskusi). Di forum ini yg dibahas memang hanya sebatas lingkup “teori” yg anda bilang rambu2 lalu lintas. Bagaimanapun teori/rambu2 ini harus selalu dibahas dan dikaji mengingat hal tsb akan membentuk pandangan seseorang untuk kmdn diaplikasikan dalam amal2nya. Contohnya pandangan yg mengagungkan sahabat melebihi Ahlul Bait adalah akibat menanggapi teori yg tdk benar tentang sahabat, berupa hadis2 dhaif yg bertentangan baik dg nash maupun dalil akal. Masalah mengagungkan/mengutamakan sahabat atau Ahlul Bait adalah sama sekali bukan permasalahan sejarah atau masa lalu, melainkan suatu pilihan yg mempunyai konsekuensi yg menyangkut ajaran/tanggapan: ajaran siapa yg harus diikuti (aspek Imamah) dan akhirnya ajaran siapa yg benar.

    Perlu anda ketahui baik Sunni maupun Syi’ah tdk terpaku dg apa yg telah dipraktekkan baik oleh Nabi (Sunnah Rasul) maupun sahabat pada masa lalu apalagi bernostalgia. Tapi anda perlu ingat bahwa praktek Nabi maupun sahabat yg terjadi pada masa lalu saat ini telah menjadi teori normative / guidance bagi generasi selanjutnya untuk dipraktekkan yg terkompilasi dlm kitab suci dan hadis.

    Makanya bagaimana mungkin seseorang mampu mengamalkan sesuatu tanpa tahu dan menguasai teorinya/ajarannya yg benar. Bagaimana dia tahu ajarannya benar atau salah kalau tdk mengkaji dan membandingkan. Bagaimana dia mau membandingkan kalau tdk ada alternatif2. Oleh karena itu blog spt ini dg forum diskusinya diharapkan dapat memberikan alternative atau bahkan pencerahan bagi yg memang selalu mencari. Dan pada gilirannya hal ini bisa sangat berpengaruh trhdp kualitas hubungan vertical seseorang dg Khaliknya. Bagaimana mungkin anda mau mencapai tingkat ketakwaaan yg tinggi tanpa menguasai syareat spt tata cara salat, puasa dll. Bagaimana mungkin anda bisa mencapai tingkat hakekat tanpa mengamalkan tarikat dan bagaimana mungkin anda mengamalkan tarikat tanpa syariat spt dinyatakan oleh Dede ? Dan bagaimana mungkin anda mengatakan bahwa Golongan TAREKAT BERPEGANG dengan hadis Tsaqolain (2 pusaka ) tapi mengabaikan aturan/rambu2 (nash) yg merupakan pintu menuju ajaran2 Ahlul Bait (Tsaqol kecil) ?

    Kalau anda mengklaim bahwa tarekat secara factual adalah suatu golongan atau JAMAAH yang memiliki Mursyid atau pemimpin, anda mungkin terlalu lama bersemedi di suatu gua di gunung antah berantah. Coba dong turun gunung dan pelajari ajaran Syi’ah dg utuh dg salah satu pilarnya Imamah dan lihat prakteknya berupa system wilayah al-Faqih yg bukan saja dlm lingkup kelompok local spt tarekat, tetapi dlm lingkup Negara/nasional bahkan internasional/global. Ada imamnya dan ada juga jamaahnya. Ini bukan cerita Imamah Imam Ali yg masa lalu, tetapi benar2 cerita masa kini yg faktual dan terbukti sangat ditakuti oleh musuh2 Islam yaitu Amerika dan Zionis.

    Berbeda dg tarekat, Syi’ah dg ajaran Ahlul Baitnya tdk hanya asyik mengejar ketakwaan individual tetapi juga ketakwaan social dan kemaslahatan umat di seluruh dunia.

  55. @armand
    ternyata anda mengikuti ya..wah tersanjung nih..
    begini, mas..saya objektif saja. Kalau teman dialog memperlakukan daku baik, maka akan daku balas dengan lebih baik. Tapi kalau mereka sinis atau tidak punya etika berdialog seperti menjelek2an, membuka aib ulama bahkan kepada mereka yang dah mati, apalagi mereka yang telah sedikit banyaknya berbuat untuk Islam, dan kemudian mereka keras seperti batu tidak memahami arti ‘introspeksi diri’ dan ‘damai’, ‘fitrah manusia yang mempunyai kelemahan dan kelebihan’, ‘Allah Yang Maha Pengampun’ maka reaksi saya mungkin akan berbeda : bisa lebih keras atau habis perkara (ditinggalkan)

    atau mesti gimana, mas armand?
    ..mumpung bulan baik nih..
    ..anyway, saya senang berdialog dengan anda. thanks

  56. @Raf…..
    Omongan anda selalu berseberangan.
    Saya beritahukan anda bahwa anda yang menghalalkan darah suatu golongan jawaban anda HUSNULDHON.
    Anda katakan bahwa apabila mereka keras ke anda, anda akan lebih keras.
    He he he. Mana HUSNULDHONNYA anda?

  57. @rafsanjani

    Menurut sy bila mas memang berniat tulus utk mengajak “damai”, maka maslah yg harus memulai bersikap lunak & menghilangkan kecurigaan/prasangka. Tidak peduli kepada kelompok yg mas tidak sukai sekali pun. Dan diharapkan tetap konsisten dgn komitmen ini. Jika kemudian mas tdk tahan dgn kritikan2 lawan bicara mas, maka daripada menunjukkan kelemahan komitmen mas, lebih baik mengundurkan diri (hijrah). Jika belum apa2 mas sdh hilang kesabaran dan tdk segan membalas celaan/kesinisan (bahkan yg lebih keras?), maka, maaf, niat dan itikad mas perlu dipertanyakan kembali. Ucapan mas utk “damai” hanya terkesan bahwa mas sdh tdk memiliki kemampuan dan hujjah lagi buat menangkal argumen lawan bicara mas. Meski pun saran mas utk jangan saling mencela dan menghujat adalah sebuah nasehat yg baik.

    Selama kita msh memiliki persepsi negatif dan kecurigaan kepada pribadi/kelompok tertentu, dan msh tdk tahan jika dikritisi, maka ajakan damai dan ajakan bersatu akan hilang tanpa bekas layaknya melempar intan di pasir yg luas. Sy kira cukup bagi kita utk mengajak lawan bicara mengurangi penghinaan, celaan2 serta tuduhan2 yg tdk bertanggungjawab dlm setiap argumen, kepada siapa saja, baik kepada kelompok tertentu, tokoh2 sejarah yg dihormati atau bahkan pada lawan bicara, dan kemudian kita yg pertama2 menunjukkan perubahan sikap kita tanpa terpengaruh lagi dgn sikap lawan bicara.

    Kita memang, tanpa disadari, merasa ringan utk menetapkan sebuah komitmen, namun sesungguhnya mempertahankannya dgn segala konsekuensinya adalah sangat berat.

    Maaf jika keliru

    Salam

  58. @rafidhah
    “Omongan anda selalu berseberangan.
    Saya beritahukan anda bahwa anda yang menghalalkan darah suatu golongan jawaban anda HUSNULDHON.”

    Tolong jangan campur-campur masalah, kita harus punya filter, memilah2 sesuai dengan permasalahnnya. Begini, lihat dulu yang jelas apa yang saya maskudkan. Kita bisa membagi permasalahan yang ada di blog ini khususnya dan di luar blog ini umumnya menjadi dua bagian:

    1. Kalian yang selalu menghina saudara kita yang telah mati, dan menyalah-nyalahkan bahkan cenderung mensesatkan.
    2. Kalian yang diserang lawan kalian (dalam hal ini salafy), dan berusaha melawan dengan sikap yang sama (sama-sama mensesatkan), tapi ada juga yang lebih lembut

    Nah, itu 2 (dua) poin yang merupakan ‘posisi’ kalian yang sebenarnya/real/nyata dan semua orang juga tahu.
    Jadi yang saya maksud kalian utk selalu ‘berkhusnudzon’ itu adalah yg poin satu. Kenapa? orang mati koq! ngapain diurus dan diungkit2 lagi? biar hidup lagi jadi zombie, gitu? bukankah yang telah mati itu adalah urusan Allah yang maha adil? anda yaqin dengan keadilan Allah?

    Utk poin kedua, itu urusan kalian, terserah mau damai atau tetap mau ngajak perang, saya tidak memaksa. Karena yang kalian hadapi adalah mereka yang masih hidup, sezaman, dan bisa dilihat, dirasakan.

    “Anda katakan bahwa apabila mereka keras ke anda, anda akan lebih keras.
    He he he. Mana HUSNULDHONNYA anda?”

    ya..anda juga jangan memotong kalimat saya, karna masih ada kelanjutannya : tinggalkan…
    Saya kira sudah terjawab, karena bagi saya, prinsip khusnudzon itu lebih utama kepada saudara2 kita yang telah wafat, tidak peduli mereka dari sunni atau syiah.
    Kalau kepada ente yang masih hidup, saya kira jawabannya sama dengan nasehat saya kepada kalian yaitu utk kasus nomor dua…bisa lebih keras atau tinggalkan.

    Lagian secara personal, saya tidak ada masalah dengan orang syiah karena banyak dikeluarga juga ada yang menganut syiah.
    saya hanya mengkritisi AJARANNYA.

    mudah2an paham ya. salam damai.

  59. @armand

    terima kasih sekali untuk seluruh masukannya..
    namun saya kira saya mau menambahkan sedikit nih..
    anda bilang :
    “Ucapan mas utk “damai” hanya terkesan bahwa mas sdh tdk memiliki kemampuan dan hujjah lagi buat menangkal argumen lawan bicara mas.”

    saya kira, anda tidak perlu naif, karena bukankah sudah saya katakan sebelumnya diatas bahwa berdamai itu mudah sebenarnya karena tidak perlu lagi bawa-bawa ‘senjata’? (=hujah). Damai itu adanya di hati, hujjah ada di otak. Apakah sinkron? Anda bayangkan USA dan SOVIET sama-sama punya nuklir, tapi mereka selalu berusaha untuk menjalin komunikasi demi mencapai perdamaian, apapun jalan yang ditempuh.

    Lagipula kalau mau ngajak damai sambil bawa-bawa senjata (berhujjah)..ya artinya tetap saja bukan ngajak damai dong…

    Begini aja deh, ini menurut versi saya utk kalian bisa pertimbangkan :

    1. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena Tuhan, nabi dan kitab sucinya sama.
    2. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena sayyidina Ali tetap menjadi khalifah walaupun yang keempat (bukan pertama, itu kan yang kalian inginkan??) Toh Rasulullah pun tidak secara langsung mengatakan Ali harus langsung menjadi penggantinya selepas rasul wafat..Rasul hanya mengatakan tersirat, dan itupun masih banyak penafsiran sehubungan dengan konteksnya kenapa dan kapan beliau mengatakan itu. Kalian bisa protes dan melawan sunni kalau nyata-nyata Ali TIDAK SAMA SEKALI menjadi KHALIFAH..dan itu sayapun akan dukung kalian.
    3. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena warisan dua pusaka nabi adalah sama-2 Alquran dan sunnah. ‘sunnah’ itu kan tidak salah-salah amat. Dan juga tidak ada yang perlu disalahkan dengan istilah ‘sunnah’. jadi ga perlu sunnahphobia juga ‘kan? kalian bisa ambil posisi “lawan” kalau nyata2 ada hadis versi sunni mengatakan warisan nabi bukan disebut ‘sunnah’, misalnya warisan rumah, atau yg lain lah yg sifatnya memang ‘salah’
    4. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena nyata-nyata Alquran yang kalian baca itu hasil usaha dan inisiatif sahabat Usman untuk dikompilasi. Karena dijaman nabi, alquran tidak seperti yang kita lihat sekarang.
    5. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena kalian bisa ber-ISLAM sekarang, mempelajari dan mengamalkannya karena sesungguhnya adalah hasil jihad para sahabat yang rela berdakwah dengan harta, jiwa meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga menuju negeri-2 terjauh demi kejayaan dan sinar Islam.
    6. poin selanjutnya bisa anda tambahkan kalau berkenan…

    untuk yang lainnya saya kira anda bisa baca tulisan saya dalam rangka klarifikasi untuk rafidhah di atas.

    sekali lagi terima kasih untuk masukannya.
    salam damai.

  60. @Raf…..
    Usul anda utk perdamaian itu bagus bagi orang yang sedang bermusuhan. Tapi bukan kita. Jadi jangan anda kata KALIAN. Pakai kata2 yang tidak menyinggung yang lain. Tapi kelihatan bahwa anda tdk bisa melepaskan diri dari kesombongan anda.
    Apa alasan bagi anda untuk mencegah kita mencari kebenaran? Anda tahu? Rusak hukum dan tatanan kehidupan Islam gara2 mereka2 yang anda katakan sudah meninggal. Agar kita tdk terperosok ke Neraka, maka kita harus mengadakan penilitian utk mencari
    mana yang benar, mana yang harus kita ikuti.
    Kita sekarang dihadapkan untuk memilih, mengikuti SAHABAT (kata anda2) Atau Ahlulbait dengan Itrahti.
    Untuk ini kita harus mengetahui dari kedua tsb mana yang BENAR dan mana yang SALAH. Bukan harus menerima secara BUTA. Mungkin anda tidak senang, karena anda termasuk kelompok PENCITA SAHABAT. Tapi kami PENCITA AHLULBAIT pola berpikir tdk seperti anda2. Anda mungkin termasuk kelompok TAQLID, walaupun diajak masuk NERAKA tetap mengikuti. Kalau BUKAN kelompok taqlid anda tdk akan mencegah kita untk mencari kebenaran.
    Anda2 selalu beranggapan apabila kita menyalahkan SAHABAT (menurut anda) maka mencela mereka.
    Salah dong. Ibnu Taymiyah dan Nasarudin Albani yang lebih GIGIH dari anda mempertahankan keagungan sahabatpun tdk mempersalahkan mereka mencela sahabat. Jadi koreksi dulu pengetahuan anda baru berbicara. INTROSPEKSI

  61. @Rafsanjani:
    “Lagian secara personal, saya tidak ada masalah dengan orang syiah karena banyak dikeluarga juga ada yang menganut syiah.
    saya hanya mengkritisi AJARANNYA.”

    Wah hebat euy….sampe mengkritisi ajaran Syi’ah segala. Memangnya ente siapa ?

  62. @rafsanjani

    Saran dan ajakan mas cukup menyentuh hati sy. Cuman penggunaan subjek ajakan dan ada beberapa pernyataan yg kurang tepat yg perlu sy tanggapi.

    saya kira, anda tidak perlu naif, karena bukankah sudah saya katakan sebelumnya diatas bahwa berdamai itu mudah sebenarnya karena tidak perlu lagi bawa-bawa ’senjata’? (=hujah). Damai itu adanya di hati, hujjah ada di otak. Apakah sinkron? Anda bayangkan USA dan SOVIET sama-sama punya nuklir, tapi mereka selalu berusaha untuk menjalin komunikasi demi mencapai perdamaian, apapun jalan yang ditempuh.

    Pada taraf ini sy sependapat dgn mas. Namun apakah mas tdk dapat membayangkan apa jadinya jika salah satu dari mereka melakukan provokasi sementara yg diprovokasi tdk dapat menahan diri? Siapa yg mengajukan ajakan damai, maka dialah yg harus lebih mampu menahan diri. Jangan sampai terjadi hanya karena sedikit provokasi, pengajak damai kemudian tdk dapat menahan dirinya utk membalas (bahkan yg lebih keras?). Inilah point sy thd mas.

    Lagipula kalau mau ngajak damai sambil bawa-bawa senjata (berhujjah)..ya artinya tetap saja bukan ngajak damai dong…

    Mas agak keliru memahami. Maksud sy adalah mas layaknya dalam posisi yg terdesak oleh serangan lawan (komen2 mas di thread lain mas adalah juga melakukan serangan) dan kehabisan senjata. Maka ajakan damai (gencatan senjata) adalah salah satu strategi yg paling memungkinkan agar tdk terjadi “kekalahan” fatal.

    Begini aja deh, ini menurut versi saya utk kalian bisa pertimbangkan :

    “Kalian” ini siapa mas? Syiah kah? Maaf sy bukan Syiah. Setidaknya hingga saat ini.

    1. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena Tuhan, nabi dan kitab sucinya sama.

    Andaikan ini diyakini dan dipegang oleh semua kelompok Islam, tdk hanya Syiah yg menjadi tujuan mas.

    2. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena sayyidina Ali tetap menjadi khalifah walaupun yang keempat (bukan pertama, itu kan yang kalian inginkan??) Toh Rasulullah pun tidak secara langsung mengatakan Ali harus langsung menjadi penggantinya selepas rasul wafat..Rasul hanya mengatakan tersirat, dan itupun masih banyak penafsiran sehubungan dengan konteksnya kenapa dan kapan beliau mengatakan itu

    .

    Ini orang Syiah yg lebih baik menjawab. Kalau menurut sepengetahuan sy, bukan hanya menjadi khalifah yg keberapa yg dipermasalahkan, tapi yg utama adalah tdk dilaksanakannya wasiat Nabi saw yg telah menetapkan Imam Ali as sebagai pengganti Beliau serta mengingkari keimamahan (kekhalifahan?) yang berada pada itrah ahlulbait Nabi saw. Sy pribadi menilai kejadian ini sebagai ujian keimanan kita thd ketentuan Allah swt, kepatuhan kita kepada Nabi saw serta sebagai ujian kecintaan dan peneladaan kita kepada Imam Ali as. Jika kemudian sy turut urun-rembuk mengoreksi dan mengkritisi kelompok lain mengenai kekhalifahan ini, itu karena sy anggap mereka secara sadar atau tdk telah menodai kemuliaan Imam Ali as dan ahlulbait Nabi saw. Jika menginginkan perdamaian, maka ajakan mas juga semestinya ditujukan kepada kelompok yg sangat kaku dan keras mempertahankan posisi salah satu sahabat sebagai khalifah yg sah pengganti Nabi saw yg bahkan ditambah dgn nash2 sebagai maksud penguat.

    Kalian bisa protes dan melawan sunni kalau nyata-nyata Ali TIDAK SAMA SEKALI menjadi KHALIFAH..dan itu sayapun akan dukung kalian.

    Inikan cuma isapan jempol? Mas berani menjamin hal demikian karena hal itu tdk pernah ada kan? Kita toh bukan anak kecil? Bahkan pernyataan ini sama sekali tdk ada artinya.

    3. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena warisan dua pusaka nabi adalah sama-2 Alquran dan sunnah. ’sunnah’ itu kan tidak salah-salah amat. Dan juga tidak ada yang perlu disalahkan dengan istilah ’sunnah’. jadi ga perlu sunnahphobia juga ‘kan? kalian bisa ambil posisi “lawan” kalau nyata2 ada hadis versi sunni mengatakan warisan nabi bukan disebut ’sunnah’, misalnya warisan rumah, atau yg lain lah yg sifatnya memang ’salah’

    Bagaimana kalau mas dan kelompok mas saja yg mengakui dua pusaka Nabi adalah AQ dan itrah sesuai pemahaman Syiah? Bukankah jg sebenarnya tdk ada masalah? Menginginkan perdamaian hendaknya berpikir dua arah, jangan berdiri di salah satu pihak.

    4. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena nyata-nyata Alquran yang kalian baca itu hasil usaha dan inisiatif sahabat Usman untuk dikompilasi. Karena dijaman nabi, alquran tidak seperti yang kita lihat sekarang.

    Maksudnya mas mungkin Alquran yg kita baca adalah sama seperti yg dikumpulkan pada jaman Utsman? Sy kira ya. Ini memang seharusnya bisa menjadi modal persatuan.

    5. Kalian sebenarnya bisa berdamai, karena kalian bisa ber-ISLAM sekarang, mempelajari dan mengamalkannya karena sesungguhnya adalah hasil jihad para sahabat yang rela berdakwah dengan harta, jiwa meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga menuju negeri-2 terjauh demi kejayaan dan sinar Islam.

    Sy tdk begitu tau di negeri lain, tapi di Indonesia menurut yg pernah sy pelajari, masuknya Islam adalah melalui para habib keturunan Rasul saw dari Hadramaut (& India?). Apakah mrk yg mas sebut jg sebagai sahabat Nabi?
    Jika ada memang usaha2 sahabat2 Nabi spt yg mas sebutkan di atas, maka hal itu tdk menyalahi definisi pengelompokkan sahabat yg dipakai oleh kelompok Syiah sy kira. Namun jika mas mengatakan bahwa Islam yg sampai ke Indonesia adalah dibawa oleh Muawiyyah, Yazid dan keturunannya yg jahat, nah ini akan menjadi masalah.

    Point yg ingin sy tambahkan adalah, jika menginginkan persatuan dan perdamaian antara kelompok Islam, maka hendaklah menghilangkan fanatisme yg berlebihan masing2 kelompok, menghilangkan penistaan dan pencelaan kepada salah satu kelompok (serta pribadi2 tertentu) dgn mengunggulkan kelompok sendiri, menghilangkan klaim2 sesat thd kelompok lain, menghilangkan klaim2 bid’ah kelompok lain, serta membuka hati dan melapangkan dada bahwa perbedaan itu adalah sebuah kenicayaan dapat dipaksa utk disamakan. Tentu saja ajakan ini ditujukan kepada semua kelompok Islam. Mampukah kita melakukannya? Entahlah. Melihat bukti dan fakta yg ada, hingga kiamat perseteruan ini sulit dihilangkan. Tapi mudah2an hingga Imam Mahdi saja.

    Salam

  63. @rafsan..
    Mas raf ini sprti seorang GURU yah. Pandai mengoreksi orglain, tetapi susah utk bisa melihat dirinya sendiri.

    mas, menceritakan org lainyg sdh meninggal, jika itu memang menjadi Ibrah buat kita, yaah ngga masalah, Allah SWT saja mengajarkan kita dg cerita2 org yg sdh Meninggal, baik yg jahat maupun yg Benar…

  64. @rafidhah

    saya harap mengenai ‘khusnudzon’ itu anda telah paham bagaimana sikap saya..kalau memang demikian, alhamdulillah.

    “Usul anda utk perdamaian itu bagus bagi orang yang sedang bermusuhan. Tapi bukan kita. Jadi jangan anda kata KALIAN. Pakai kata2 yang tidak menyinggung yang lain”

    saya masih belum paham, bisa diperjelas?
    Mengenai penggunaan kata : KALIAN, itu hanya bahasa saja yang artinya kamu dlm arti jamak, bukan arti ‘kesombongan’. Paham ya? sekali lagi tidak ada maksud sombong dalam tulisan2 saya..masak ngajak damai sambil sombong, wah mau ditaruh dimana muka saya hehe…tapi kalau keberatan dengan kata ‘kalian’, boleh diganti tuh, saya tidak keberatan.

    “Apa alasan bagi anda untuk mencegah kita mencari kebenaran? Anda tahu? Rusak hukum dan tatanan kehidupan Islam gara2 mereka2 yang anda katakan sudah meninggal. Agar kita tdk terperosok ke Neraka, maka kita harus mengadakan penilitian utk mencari
    mana yang benar, mana yang harus kita ikuti.”

    Untuk sementara sampai disini, mungkin ini letak perbedaan kita, mas..silakan saja tergantung selera masing-masing koq, tapi perkenankan saya menyampaikan maksud saya terlebih dahulu. Maksud saya kalau anda terus mencari dan mencari kebenaran dalam islam sedangkan menurut saya ISLAM sudah FINAL sebagai tatanan hidup dunia akhirat, tinggal bagaimana amal saja (QS 5:3). Jadi sekarang masalahnya adalah AMAL kita, istiqomah tidak dengan ilmu yang kita peroleh dulu sejak TK, SD, SMP, SMA.
    Kita ditantang loh untuk istiqomah..

    Sedangkan untuk jiwa yang ingin selalu mencari dan mencari ilmu dalam konteks BENAR-SALAH, maka saya arahkan jiwa itu kepada ilmu yang sifatnya sosial, atau sains yang nanti bisa membuktikan kebenaran Alquran secara ilmiah, karena ilmu ini terus berubah dan masih akan terus berkembang.
    Bisa saja sih pencarian itu kepada agama, tapi bukan konteks benar-salah, tapi pencarian ilmu agama dalam konteks agar diri ini semakin takwa dan mudah beribadah, baik yang sifatnya individu maupun muamalah, seperti memperdalam pelajaran bahasa Arab, menghapal alquran, hadits dll. Sebab apabila pencarian didalam agama yg sudah fixed tadi dgn konteks benar-salah dikhawatirkan jiwa ini akan selalu ragu dan ragu, sehingga akhirnya kebenaran tidak dapat, amal kosong seperti kasus JIL, Lia Eden, Mosadek. Karena: Dalam agama hanya nabi saja yang paten mengatakan benar dan salah. Sedangkan sekarang tidak ada lagi nabi, rasul..semua mengatakan golongannya benar.

    Lalu anda mengatakan “Kita sekarang dihadapkan untuk memilih, mengikuti SAHABAT (kata anda2) Atau Ahlulbait”

    menurut saya, ISLAM tidak begitu, pengkotak-kotakan kedalam golongan SAHABAT atau AHLULBYT. Sebab kalau begitu nanti akan ada islam arab, lalu didalam islam ada lagi islam kesukuan dan seterusnya. ISLAM itu satu kesatuan. Kebetulan yang mulia baginda rasul sering bersama sahabat, maka otomasis mereka disebut sahabat..jadi sekedar istilah menyebut org2 yg disekeliling rasul dng sahabat. atau anda ada istilah lain, apa dong?
    tidak ada yang salah kan dengan istilah sahabat sebagaimana hal yang sama dengan istilah keluarga nabi (ahlul byt).. Jadi kedua-duanya HARUS kita ikuti. Itulah titik komprominya, mas rafidhah..oke?

    dan istilah TAQLID juga perlu diklarifikasi mas. menurut saya, mereka sekedar mengamalkan ilmunya yang didapat dari gurunya sesuai konsep ‘ilmu’ yang saya ungkapkan diatas. Dan saya kira istilah yang lebih tepat untuk mereka ini adalah ISTIQOMAH.

    sebab kenapa? istilah taqlid lebih tepat disematkan kepada para pengikut ajaran lia eden, atau musadeq.

  65. @Rijal
    bisa tidak anda tujukan pertanyaan yang sama kepada teman-teman anda dan kepada anda sendiri?

    @chengho
    saya bukan guru yg anda maksud. itu ‘guru kencing berdiri murid kencing berlari’

    pahami saja, kalau di alquran Allah hanya bercerita tentang orang2 kafir penentang para nabi dan rasul..bukan cerita muslim versus muslim.

    @armand
    wah sori mas, saya jadi over yah menjawab mksd mas armand. Sebetulnya bukan kepada mas armand, tapi kepada teman-teman syiah

    “Mas agak keliru memahami. Maksud sy adalah mas layaknya dalam posisi yg terdesak oleh serangan lawan (komen2 mas di thread lain mas adalah juga melakukan serangan) dan kehabisan senjata. Maka ajakan damai (gencatan senjata) adalah salah satu strategi yg paling memungkinkan agar tdk terjadi “kekalahan” fatal.”

    bisa saja anda berpendapat begitu, tapi bisa sebaliknya juga kan..kan ada pepatah ‘mengalah untuk menang’… :)

    untuk poin nomor dua, silakan anda berpendapat seperti itu..saya juga punya pendapat tersndiri dan anda sudah baca kan?

    untuk poin nomer tiga, sebenarnya sikap yang arif adalah kedua-duanya, karena tidak ada yang salah-salah banget dengan istilah ‘sunnah’ dan ‘itrah’ karena dua-2nya pada prinsipnya warisan nabi juga. Masalahnya sekarang tugas kita masing2 mengkampanyekan hal ini kpd pihak2 yang berseberangan. Saya kampanyekan kepada kelompok lawan dialog syiah(ahlul bayt) dan anda kepada teman-teman anda diblog ini dan komunitas anda..setuju?

    dan untuk poin2 yang lain, saya setuju. Hanya sedikit dipoin lima, karena mau sahabat atau ahlul byt toh nyatanya memang mereka semua melanglang buana kesegala penjuru negeri untuk syiar Islam..kalau tidak ada perjuangan mereka, apa mungkin Islam akan seperti sekarang ini?

    terima kasih sekali, bisa berdialog dengn anda.

  66. @Raf…
    Kata kalian bukan maksud mengatakan anda sombong tapi mwnyatakan anda sok mengajar kita. Jadi kesombongan anda letaknya disitu. Kesimpulan dari komentar anda yang begitu panjang menjelaskan pada saya bahwa anda tidak tahu apa2 mengenai Islam sebab:
    1. Tidak perlu mencari tahu salah benar atau ikut aja ke-dua2nya. Ini menyatakan orang bodoh.
    2. Anda menyangka saya mengkotak-kotakan Islam.
    Itu menurut anda karena tdk mau mencari kebenaran.
    Sedangkan menurut saya jalur yang benar adalah jalur Ahlulbait jadi tidak perlu mengikuti ijtihad Sahabat. Ini berati anda belum mengerti apa itu Shirattulmustaqim
    3. Anda katakan Alqur’an sudah cukup. Ini berart anda bodoh/tidak pernah membaca Alqur’an.
    Masih banyak lagi kebodohon anda yang anda tutupi dengan kesombongan sok USTADZ

  67. @rafidhah
    koq jadi marah ya..arahnya jadi ga fokus tuh, melenceng ke area sifat pribadi hehehe..lha wong saya cuma ngajak damai thok..intinya kan itu? persatuan, perdamaian..cari titik temu, kompromi..bukan sok ngajari loh, apalagi dibilang sombong…

    kalau tidak setuju dengan pendapat orang, ya sudah, fine..tidak perlu cari-cari alasan lain..mudah kan?
    ini kan forum diskusi, saya hanya mengutarakan saya punya ide, punya gagasan..tanpa ngajari atau maksa2 semua harus ikut saya..kalau baik ambil, jelek ya buang / tinggalkan!..tanpa embel2 penghinaan, ejekan dll yg sangat pribadi..(tapi siapapun yg punya ide damai atau ngajak damai, menurut saya patut untuk diikuti..hanya orang yg ‘rusak’ saja yang tidak mau ikut damai)

    Anda punya pendapat, silakan utarakan. Kita sama2 bahas, pikir. Disitulah proses pendewasaan berjalan. Dari cara anda berdialog nampak anda msh perlu belajar lagi etika dan cara menghormati orang..nampak bahwa emosi saja tidak cukup untuk menyampaikan suatu ide. nampak bahwa otak saja juga belum cukup untuk bisa meyakinkan orang. Akan nampak seseorang itu terpelajar atau bukan dari sikap / cara menyampaikan.

    okelah..saya masih belum bisa membuat anda paham. nampak ketiga point yang anda angkat itu tidak sinkron dengan apa yang saya maksud.

    atau,

    anda tidak mau damai rupanya…..?
    yang pantas digelari sombong itu siapa sebenarnya, yang ngajak berdamai atau yang tidak mau berdamai..? (maaf jadi terpaksa nih keluar lagi ‘sinisme’ nya)

  68. @rafsanjani

    Terima kasih atas tanggapannya.

    Sy rasa apa yg perlu sy sampaikan sdh cukup. Sy jg dapat menangkap apa yg dimaksud mas.

    Semoga kedamaian dan persatuan yg kita harapkan dapat segera terwujud.

    Semoga Rahmat Allah swt selalu dilimpahkan kepada kita semua. Amin.

    Salam

  69. @armand

    betul mas, cuma yang bukan syiah dan bukan salafy saja yang bisa memahami betapa pentingnya perdamaian dan persatuan.

    saya membayangkan semua orang yg diblog ini punya sikap seperti mas armand….berangkat dari satu misi dan visi yang sama : PERSATUAN dan PERDAMAIAN sehingga tercipta dialog yang bisa saling menghormati dan dewasa.

    semga apa yang sama2 ktia harapkan dapat segera mewujud walaupun imam mahdi yg ditunggu masih lama dan entah kapan muncul… (ada info : 2015 imam mahdi katanya akan muncul… :)

  70. @Raf……
    Saya tak pernah menerima komentar orang dengan emosi. Anda yang merasakan itu adalah emosi karena langsung kena KELEMAHAN anda

    Komentar saya hanya membalas kesombongan anda. Supaya anda bisa tahu kemampuan anda dan jangan menggurui orang lain sebelum yakin atas kemapuan diri sendiri.
    Anda mau berdiskusi secara ilmiah. OK saya layani . Tapi perlu anda ketahui saya sdh pernah diajak diskusi oleh lawan diskusi seperti anda. Ternyata lawan diskusi saya ngawur.
    Karenanya saya malu meminta lagi ruang pada pemilik bolg ini untuk diskusi. Malu nanti berakhir seperti yang sebelumnya.
    Anda katakan komentar saya bersifat pribadi. Lalu komentar anda bukan bersifat menyerang pribadi2 kita.Anda yang memutar balik fakta tapi anda katakan saya.
    Kami sudah berpengalaman menghadapi orang2 seperti anda.

  71. @Rafsanjani:
    “betul mas, cuma yang bukan syiah dan bukan salafy saja yang bisa memahami betapa pentingnya perdamaian dan persatuan.”

    wah ngawur !

  72. @rafidhah.

    Singkat saja yang ingin saya sampaikan:
    anda terlalu terlalu banyak alasan hanya sekedar saya ajak untuk bersatu utk perdamaian.

    dah gitu aja..nanti kalo banyak2 disangka yang gak2 lagi.

    @Rijal
    maksudnya anda ingin berdamai ya..ups sory deh kalo saya ngamur..ternyata ada syiah yang ingin berdamai juga..maaf beribu2 maaf…
    saya tunggu yang salafy nih… :)

  73. @Raf….
    Pengalaman mengatakan bahwa mereka yang seperti anda jawabannya sama. Kalau tidak ada argumentasi demikian jawaban.
    Supaya anda tahu berdamai dengan cara dan pola berpikir anda NO, No peace. Orang yang tidak waras aja yang bisa setuju.

  74. @rafidhah

    mas, pengalaman kali ini berbeda, tidak selalu sama proses dan hasilnya.

    mas..terakhir saya ingatkan, tidak usah gengsi dan malu untuk menyatakan setuju untuk suatu kebaikan..berat memang bagi yang didadanya ada ‘penyakit’, terasa sempit dan sesak mengakui tapi akan terasa lapang dan lega bagi mereka yang bersih hatinya (QS:6:125).

    Yang saya tawarkan kan suatu jalan kompromi, titik tengah dimana semua pihak bisa merasa menang, tidak ada yang merasa dijatuhkan, justru diupayakan untuk menang..WIN-WIN solution.

    mas, apa tidak malu tuh dilihat temen2 kalo mas tidak mau berdamai….. sedang Rasul saja mau melakukan perjanjian damai dengan pihak musyrikin quraish … :)

  75. @Raf…
    Anda katakan saya malu, Oo TIDAK, jangankan anda, Walupun Abubakar, Umar dan Utsman hidup kembali dan mengajak saya berpanutan pada mereka saya TOLAK . Apalagi cuma anda. Saya doakan anda agar anda mendapat petunjuk kejalan yang benar Amin
    Saya beriman pada Firman Allah dalam QS 4 : 59
    Yakni : Taat pada Allah dan Rasul serta Ulil Amri min kum yakni Imam Ali as beserta Itrahti Ahlulbaiti

  76. Dasar Wahabi, Mazhab berdiri atas pembantaian….sadarlah kalian….anda telah dibodohi oleh Syekh2 Saudi yg Rakus, proxy Yahudi-Israel.

  77. he..he…

    memang hadits tentang larangan mencaci shahabat rasulullah hanya itu saja…

    he,,.he…

  78. @Dody
    Bisa ditunjukan hadits lainnya?
    Yu biar kita diskusikan.masa di Ibnu Jakfari lari disini juga lari capek kan lari lari terus,..

  79. Perbedaan tidak mengakibatkan permusuhan, pertikaian, ataupun perselisihan. EGO lah yang mengakibatkan semuanya

    @MUSLIMIN & MUSLIMAT

    SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1430 H
    MOHON MAAF LAHIR & BATIN

    SALAM DAMAI

  80. @All

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Mohon Maaf Lahir Batin

    Salam

  81. @all

    otak boleh panas
    ..tapi hati musti damai

    otak boleh beda
    ..tapi hati musti satu

    otak boleh berdebat
    ..tapi hati musti kompromi

    damai di hati, damai di jiwa
    damai untuk diri sendiri, damaikan semua

    sambutlah kemenangan, kemenangan untuk mereka yang mau damai..kemenangan untuk persatuan..kemenangan untuk ISLAM

    SELAMAT MERAIH KEMENANGAN
    SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430H

    MOHON MAAF LAHIR – BATHIN

  82. @laxmaxru,

    mas lax. hadis yg anda sebut kan sdh di bahas sama mas SP disini:

    http://secondprince.wordpress.com/2009/09/09/studi-kritis-hadis-larangan-mencela-sahabat-nabi-saw/

    dan ternyata hadis-nya dhoif juga walaupun riwayat bukhari.. :-)

    syafiin123@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 153 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: