Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”
Imam Ali AS memiliki kemuliaan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kedudukan Imam Ali AS di sisi Rasulullah SAW sama seperti kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS. Seharusnya kita sebagai umat Islam menerima dengan baik keutamaan Imam Ali AS dan mengecam sikap-sikap yang menurunkan atau meragukan keutamaan Beliau. Berikut akan kami sajikan hadis keutamaan Imam Ali AS yang mungkin memicu keraguan dari sebagian orang.
Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan sebagai berikut
ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.
.
.
Kedudukan Hadis
Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah kami melakukan penelitian lebih lanjut maka kami temukan bahwa hadis ini adalah hadis Shahih dan Yahya bin Sulaim Abi Balj adalah perawi tsiqat. Berikut analisis terhadap para perawinya.
.
.
Analisis Perawi Hadis
Muhammad bin Al Mutsanna
Muhammad bin Al Mutsanna Abu Musa Al Bashri adalah seorang Hafiz yang tsiqat. Hadisnya telah dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim serta Ashabus Sunan. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Daruquthni, Al Khatib dan Ibnu Hajar. Dalam At Tahdzib juz 9 no 698 disebutkan
قال عبد الله بن أحمد عن بن معين ثقة وقال أبو سعد الهروي سألت الذهلي عنه فقال حجة وقال صالح بن محمد صدوق اللهجة
Abdullah bin Ahmad berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqah” dan Abu Sa’ad Al Harawi bertanya kepada Adz Dzahili yang berkata “hujjah” dan Shalih bin Muhammad berkata “shaduq hujjah”.
وقال أبو حاتم صالح الحديث صدوق
Abu Hatim berkata “ hadisnya baik, shaduq (jujur)”
Ibnu Syahin memasukkan Muhammad bin Al Mutsanna dalam kitabnya Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1278. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dalam Taqrib At Tahdzib 2/129. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5134 juga menyatakan Muhammad bin Al Mutsanna tsiqat.
.
.
Yahya bin Hamad
Yahya bin Hamad Al Bashri adalah seorang perawi tsiqat yang dijadikan hujjah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dalam Nasikh Wa Mansukh, Trimidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 11 no 338
قال بن سعد كان ثقة كثير الحديث وقال أبو حاتم ثقة وذكره بن حبان في الثقات
Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat dan memiliki banyak hadis”. Abu Hatim berkata “tsiqat” dan disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.
Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqat no 1971 menyatakan Yahya bin Hamad tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/300 menyatakan ia tsiqat. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6158 juga menyatakannya tsiqat.
.
.
Abu Awanah
Abu Awanah atau Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan, Ia telah meriwayatkan hadis dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hamad. Abu Awanah telah dinyatakan tsiqah oleh Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Ibnu Ma’in dan yang lainnya. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1937 berkata
وضاح أبو عوانة بصرى ثقة مولى يزيد بن عطاء الواسطي
Wadhdhah Abu Awanah orang Bashrah yang tsiqat mawla Yazid bin Atha’ Al Wasithi
Ibnu Syahin memasukkan namanya dalam Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1508 dan berkata
قال يحيى بن معين أبو عوانة ثقة واسمه الوضاح
Yahya bin Ma’in berkata “Abu Awanah tsiqat namanya adalah Wadhdhah”
Dalam At Tahdzib juz 11 no 204 disebutkan bahwa Abu Hatim, Abu Zar’ah Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan Abu Awanah tsiqat, Ibnu Kharrasy menyatakan ia shaduq dan Yaqub bin Abi Syaibah menyatakan Abu Awanah seorang Hafiz yang tsabit dan shalih. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/283 menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga menyatakan ia tsiqah.
.
.
Yahya bin Sulaim Abi Balj
Yahya bin Sulaim adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Beliau dikenal dengan kunniyah Abu Balj dan ada pula yang menyebutnya Yahya bin Abi Sulaim. Beliau telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Daruquthni. Dalam At Tahdzib juz 12 no 184 Ibnu Hajar menyebutkan
وقال بن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني ثقة وقال البخاري فيه نظر وقال أبو حاتم صالح الحديث لا بأس به
Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Bukhari berkata “perlu diteliti lagi” dan Abu Hatim berkata “hadisnya baik dan tidak ada masalah dengannya”.
Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wa Tarikh 3/106 menyebutkan tentang Abu Balj
قال يعقوب بن سفيان أبي بلج كوفي لا بأس به
Yaqub bin Sufyan berkata “Abi Balj Al Kufi tidak ada masalah dengannya”
Pernyataan Bukhari “fihi nazhar (perlu diteliti lagi)” terhadap Yahya bin Sulaim Abi Balj tidaklah benar. Kami telah menelusuri karya-karya Bukhari seperti Tarikh As Shaghir dan Tarikh Al Kabir ternyata tidak ada keterangan bahwa Bukhari menyatakan Abu Balj dengan sebutan “fihi nazhar”. Selain itu, Bukhari sendiri tidak memasukkan Abu Balj dalam kitabnya Adh Dhua’fa As Shaghir yang berarti Bukhari tidak menganggapnya cacat. Bukhari menyebutkan biografi Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996 dan beliau menyebutkan
يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم
Yahya bin Abi Sulaim, Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Abdul Aziz “dia orang Kufah dan dikatakan juga orang Wasith Abu Balj Al Fazari, telah meriwayatkan darinya Tsawri dan Hasym, ada yang mengatakan Yahya bin Abil Aswad”. Sahl bin Hamad berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim.
Dalam biografi Abu Balj yang disebutkan Bukhari tidak ada pernyataan Bukhari yang menyebutnya cacat apalagi dengan sebutan fihi nazhar bahkan dari keterangan Bukhari dapat diketahui bahwa Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya bin Abu Sulaim Abu Balj. Hal ini berarti Syu’bah menganggap Abu Balj sebagai tsiqah karena telah sangat dikenal bahwa Syu’bah tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi tsiqah. Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau Abu Balj seorang yang tsiqat.
.
.
Amr bin Maimun
Amr bin Maimun Al Audi adalah seorang tabiin yang tsiqah termasuk Al Mukhadramun menemui masa jahiliyah tetapi tidak bertemu dengan Nabi SAW. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1412 berkata
عمرو بن ميمون الأودي كوفي تابعي ثقة
Amr bin Maimun Al Audi Tabiin kufah yang tsiqat.
Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib juz 8 no 181 bahwa selain Al Ajli, Amr bin Maimun juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/747 mengatakan kalau Amr bin Maimun adalah mukhadramun yang dikenal tsiqat.
.
.
Kesimpulan
Hadis di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Dimana semua perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim kecuali Yahya bin Sulaim Abi Balj dan dia adalah perawi yang tidak diragukan ketsiqahannya. Oleh karena itu hadis tersebut sanadnya Shahih.
.
.
Catatan :
- Semoga Hadis ini bisa didiskusikan dengan sebijak mungkin tanpa hujatan dan tuduhan
- Kepada seseorang, silakan dibaca hadiah saya yang tertunda


@SP
Trimas utk artikel ini…mmg kami mencari sanadnya.
Hmm…khalifah bagi mukmin sesudahku?
Maksudnya…yg bukan mukmin…khalifahnya lain ya?
Salam Damai
@all
Hadtis yang ditampilkan dalam posting ini tidak perlu dipersoalkan SHAHIHnya karena sudah cukup jelas bagi kita apa yang dijelaskan saudara kita SP.
Yang menjadi persoalan kita adalah mengapa orang pada pasca Rasul tidak menempatkan hadits tersebut sesuai sabda Rasul. Dimana ketaatan mereka pada Rasul? Apa yang dikemukakan oleh mas SP sangat penting untuk dibahas agar kita mengetahui kepada siapa harus kita taati dan menjadi panutan kita. Sebab sejarah menjelaskan banyak terjadi perbedaan atas apa yang disampaikan oleh Khalifa dan apa yang disampikan oleh Imam Ali serta keturunannya melalui Syaidati Fatimah. Wasalam
@All
Sesungguhnya hadits2 dari Ahlul bait tersebar diberbagai mazhab/golongan, karena Islam pada setiap zamannya ada dibawah naungan para Imam Ahlul Bait as. Demikian juga apa yg disajikan oleh sdr SP mengenai Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW” dinukil dari para perawi yg tsiqat, sehingga hadis tsb sanadnya shahih.
Salam
Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang. Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.
Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..
KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.
Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.
Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup (dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali), jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.
Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun. Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.
Sedangkan yang dimaksud kalimat Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu pada hadits di atas adalah Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..
Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.
@Imem
Coba anda perhatiakan sabda Rasulullah tsb yg menyatakan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi Rasulullah saw adalah sama seperti kedudukan Nabi Harun as di sisi Nabi Musa as, hanya tidak ada Nabi setelah Rasulullah saw. Dlm hadis tsb sangat jelas bahwa kedudukan Imam Ali as berlaku hingga akhir zaman.
Salam damai
@imem
Coba anda pahami benar hadist tsb:KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu
Kalau anda perhatikan dan berpikir secarah jernih maka kedudukan Ali as sama dengan Harun berarti diridhai oleh Allah. Dan menurut anda kedudukan ini sementara.
Coba anda lihat kalimat selanjutnya
Engkau sebagai KhalifaKu untuk setiap mukmin SETELAHKU.
Maka Rasul tidak mengatakan selama AKU TIDAK BERADA DITEMPAT seperti apa yang dikatakan Nabi Musa pada Nabi Harun; Surah Al-A’raaf 142. Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”
Disini Nabi Harun mengganti sementara selama Nabi Musa selama 30 malam.
Beda dengan apa yang anda maksud dengan kata SEMENTARA1 Wasalam
Sebenarnya status Nabi Muhammad SAW saat pergi ke luar kota Madinah utk perang Tabuk msh menjadi khalifah atw tdk, sehingga dia menunjuk Imam Ali sbg “pengganti setelahku” ?
@Nomad
Pertanyaan anda sangat bagus.
Kalau menurut saya kata2 beliau sebagai isyarat bahwa sepeninggalku Ali adalah penggantinya. Cobah pahami makna SETELAHKU pada hal Rasul masih hidup dan bersama mereka. Wasalam
Salam
Mungkin hadis berikut bisa mencerahkan bagi mereka yang suka bersilat lidah setiap kali menemukan hadis yang menyudut pegangan mereka:
كتاب السلسة الصحيحة للألباني (5/222 ( صحيح )
[2223 - " ما تريدون من علي ؟ إن عليا مني و أنا منه و هو ولي كل مؤمن بعدي " . ]
Sabda Nabi saaw, ‘Apa yang kalian mahukan dari Ali? Dia adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah wali bagi mukmin sesudahku’.
(al Albani menshahihkannya dlm kitab silsilat alahadith alsahihah jilid 5 hlm 222)
Salam Damai
Pemahaman yg saya uraikan sangat begitu jelas.. silahkan dipahami lagi…
@Nomad
Rasulullah bersabda demikian kepada Imam Ali untuk menyenangkan hati Imam Ali yg sedang kecewa karena tidak diikutkan dalam perang Tabuk.. sehingga beliau membuat perumpamaan yg berkaitan dg peristiwa ini.. dan perumpamaan Rasulullah tentang Nabi Musa dan Nabi Harun adalah sangat tepat.. bedanya Harun adalah seorang Nabi, sedangkan Ali bukanlah seorang Nabi… jadi Rasulullah menyerahkan kepemimpinan di Madinah untuk sementara kepada Imam Ali selama beliau pergi.. dan Rasulullah tetaplah pemimpin tertinggi saat itu.. Ingat ya, jabatan tsb juga pernah beliau berikan kepada sahabat2 yg lain selain Imam Ali.
@hadi
sama-sama, nggak gratis kok
@abu rahat
@dede
setuju
@imem
Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.
pernyataan anda bahwa Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.
mari kita lihat
silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?. Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.
seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada. Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu Khalifah bagi setiap mukmin dan kata-kata SetelahKu. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.
Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi. Dan coba perhatikan kata-kata anda sendiri kalau memang sahabat-sahabat yang lain banyak mengalami hal seperti itu mengapa para sahabat menganggap hadis Manzilah ini sebagai keutamaan Imam Ali yang begitu besar.
Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.
Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu
Jangan terburu-buru, dasar argumen anda adalah informasi sepotong yang tidak valid pula oleh karena itu silakan tunjukkan dulu validitas informasi yang anda gunakan sebagai dasar argumen anda.
Wah wah anda bukannya menjelaskan hadis tetapi malah merubah-rubah teks hadis
Pertanyaan lagi buat anda, apakah sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah di atas Rasulullah SAW sudah memutuskan Imam Ali akan tinggal atau belum?. Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.
@dede
Benar sekali keutamaan Hadis Manzilah terus melekat pada Imam Ali dan tidak ada yang menyangkalnya kecuali mereka yang sudah terpengaruh hatinya
@abu rahat
kata “SetelahKu” itu jelas sekali ya Mas. Tapi jangan heranlah, sejelas apapun semuanya selalu bisa dicari-cari dalihnya oleh orang yang memang mau menolak.
@Nomad
Pertanyaan bagus, sayangnya ada yang tidak mengerti pertanyaan anda sehingga ia masih berkeras pada asumsinya sendiri
@Abu Rahat
lho kok Mas yang jawab
@hadi
ho ho ah Mas ini kayak nggak tahu aja, dalih itu selalu bisa dicari-cari
@imem
Oooh jadi maksudnya hanya untuk menyenangkan saja, begitukah?. Pertanyaannya kata-kata yang diucapkan Rasul SAW untuk menyenangkan itu adalah kata-kata yang benar atau tidak menurut anda atau cuma untuk menghibur?.
Perumpamaan itu memang sangat tepat untuk menjelaskan Keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi di sisi Rasulullah SAW sama seperti keutamaan Harun di sisi Musa. Dan tentu sama seperti umat Nabi Musa AS saat itu yang tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Harun AS maka begitu pula Umat Nabi Muhammad SAW saat itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan Imam Ali AS
Apakah anda bermaksud kedudukan Imam Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa bersifat sementara alias tidak berlaku lagi untuk masa setelah itu?. wah wah sungguh jauh sekali
Pemimpin tertinggi itu namanya Khalifah bukan?
Jadi maksud anda, perumpamaan kedudukan Harun di sisi Musa juga dimiliki sahabat-sahabat lain selain Imam Ali AS? wah wah asumsi anda hebat sekali, bisakah anda membuktikannya.
“Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. K’lo menurut saya arti kalimat ini adl jika Rasul pergi entah ke Tabuk, atw ke tempat lain dimana beliau meninggalkan sebagian umatnya (spt saat perang Tabuk) atw bahkan pergi selamanya ke hadirat Allah SWT, maka Ali kw. sepatutnya menjadi khalifah utk setiap mukmin. Pada sabda itu tdk ada kata keterangan tempat “Tabuk” dan “Madinah”.
Apakah jika Nabi syhahid saat perang Tabuk maka Ali kw patut menjadi khalifah menurut hadis itu? Bgm juga Nabi SAW wafat setelah perang Tabuk selesai dan wafatnya di Madinah, siiapa yg patut menjadi khalifah k’lo menurut hadis itu? Perang Tabuk kan perang terakhir Nabi SAW.
K’lo ingat perang Tabuk jadi ingat surat At Taubah. Dimana hampir setiap ayatnya membalas keberatan para sahabat yang tdk mau berangkat perang dgn berbagai alasan seperti udara yg panas lalu dijawab oleh Allah di ayat 81, perempuan Romawi cantik 2x, lalu dijawab oleh Allah di ayat 49 dll. Ibnu Abbas menyebut surat At Tawbah sebagai surat Al Mubaqqirah, yang membongkar kepalsuan iman sebagian sahabat. Perangnya sendiripun tdk tjd. Rupanya perintah perang hanyalah diturunkan tuhan utk memilah dgn tegas antara kaum mukmin dgn munafik. Ketika kembali dari Tabuk sejumlah sahabat berencana utk membunuh Nabi SAW dgn menjatuhkannya ke jurang. Percobaan pembunuhan pun dilakukan pada malam hari namun digagalkan oleh Hudzaifah. Nabi SAWpun memberitahukan nama 2x sahabat yg mencoba membunuhnya kpd Hudzaifah dan Ammar bin Yasir dan menyuruh mereka berdua merahasiakannya. (Utk lebih jelasnya kisah ini sebaiknya si SP saja yg ahli utk menjelaskannya, saya ga mau ngelangkahin dia hehehe…)
Oh ya kira 2x pantes ga yah org yg mencoba membunuh Nabi SAW diangkat menjadi khalifah ? hehehe…..
Bwt SP bgm sih caranya bikin simbol ketawa, senyum dsb dikomentar ini ? Masih gaptek hehe….
@Nomad
Iya sama, saya juga tdk bisa bikin simbol ketawa (smiley). Sudah kutak katik di internet, namun tdk bisa juga, maklum gaptek. Makanya ketawanya diketik hehehe…
Salam
Masih ada yang tidak mengakui maksud hadis yg dibawa ya…nah, cuba yang ini pula:
قال رسول الله صلى الله عليه[ واله] وسلم انت مني بمنزلة هارون من موسى الا انك لست نبيا انه لا ينبغي ان اذهب الا وانت خليفتي في كل مؤمن بعدي
“( Wahai Ali) kedudukanmu disisiku adalah seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya sahaja engkau bukan Nabi. Tidaklah pantas untuk aku meninggalkan (dunia) ini kecuali engkau sebagai KHALIFAH ATAS SETIAP MUKMIN SESUDAHKU’.
(Ibn Abu Isam meriwayatkan dalam kitabnya Assunah hlm 519-520: Al-Albani menilainya Hassan,
Al-Dzahabi dlm Al-Talkhees menyatakannya saheh
Al-Hakem dlm Al-Mustarak menyatakannya saheh (3/132-134)
Maka rasanya tidak ada alasan apapun utk menakwil hadis yg dibawakan Mas SP sebagai utk tempoh masa tertentu atau sementara.
Salam Damai
@hadi
Itukan hadits yang sama dengan hadits yang SP bawakan di atas.. anda cek sndiri dech tulisan arabnya & periwayatnya.. anda hanya mengulangi hadits yg dibawakan oleh SP
Mana kata-kata yang bermakna meninggalkan (dunia) pada hadits di atas? saya lebih cenderung dg apa yg SP terjemahkan utk hadits tsb dan lebih setuju yg diuraikan oleh bung Imem dalam memahami hadits tsb.
imem antirafidhah lamaru ternyata punya bakat sama, suka mengubah-ngubah hadis sesuai dengan fanatisme mahzabnya.
untuk antirafidjah : anda berkatakan “saya lebih cenderung dg apa yg SP terjemahkan utk hadits tsb dan lebih setuju yg diuraikan oleh bung Imem dalam memahami hadits tsb” setuju hadis tapi menolak maknanya?????? TERBUKTI penentangf hadis
untuk imem :anda berkatakan “Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..” bingung,….dari mana muncul kata “ke perang tabuk” dan kata “dimadinah”??????dapat pwangsiiiiiit???/ kekekeke,,,,, >>>mana kata-kata itu pada hadits di atas? berkatakan setuju terjemahan sp tp membuat terjemahan baru yang palsu keekkekeke……
Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..
Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.
Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali.. kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..
Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja… jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya.. jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi.. kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..
Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.
Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..
ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.
Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali, dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..
penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..
contoh :
“Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari & Muslim)
Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah. Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya
Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..
Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini, sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat.. jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..
bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..
dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).
Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..
Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
@imem
Apakah anda tidak mengetahui sebab2nya Rasul mengatakan Ali dan aku seperti Nabi Harun dan Nabi Musa tapi tidak ada nabi setelah aku.
Apa dasar anda mengatakaan bermula sabda Rasul tsb pada waktu Rasul mau meninggalkan Madinah untuk menghadapi perang Tabuk.
Pertanyaan saya: Apakah benar bahwa Hadits tersebut karena perang Tabuk? Harap dijawab. Wasalam
@antirafidhah
Kami bermaksud menunjukkan ttg pengesahan az Dzahabi dan al Hakim ttg status hadis tersebut.
Mas…kata2 meninggalkan dunia itu dapat difahami dari kata ’sesudahku’. Apakah anda memahaminya sbg ’sesudah pergi ke medan peperangan’? Dari mana Mas Imem mendapatkan kesimpulan itu?
Allamah Dr Muhammad Tahir ul Qadri al-Hanafi dlm buku beliau mengenai hadis2 keutamaan Imam Ali [as] ‘Kanzul Muttalib fee Fadail Manaqib Ali ibn Abi Talib’ mencatatkan ini pada hlm 62:
” Imran bin Husain meriwayatkan bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Ali adalah wali setiap mukmin sesudahku’..
[Sahih al-Tirmidhi, jilid 5, hlm 236, al Sahih Ibn Habban jilid 1 hlm 383, Mustadrak al Hakim , jilid 3, hlm 119, Sunan al Nasai jilid 5 hlm 132, Ibn Abi Shaiba jilid 6 hlm 383 Musnad Abu Yala jilid 1 hlm 293]”
Imam Nisai in ‘Khasais’, Imam Hakim dlm ‘Mustadrak’ and Ibn Hajar Asqlani ‘Al-Istiab’, Mulla Mutaqi Hindi ‘Kanz ul Ummal’, Dahabi ‘Talkhees Mustadrak’ dan Al-Baani ‘Silsilat al-ahadith al-Sahiha’ menyatakannya ‘Sahih’.
Kata ’sesudahku’ adalah kata umum dan tidak mungkin memaksudkannya sebagai ’saat aku tiada seketika’.
Dan benar apa yg dikatakan Mas Jackov, Mas Imem membuat terjemahan baru yg lari dari konteks.
Salam Damai
@SP & Imem
Terima kasih SP sudah mengomentari tanggapan dr imem.
Kalau anti rafidah setuju dengan imem, maka saya setuju dengan SP saja.
Saya hanya ingin membuat kesimpulan dari komentar saya, yaitu tanggapan imem lebih banyak ngawurnya.
Mas imem, mbo sekali2 objektif, jangan terjebak pada subjektivitas dengan slogan: yang penting tolak terus apa2 yang menunjukkan kemuliaan ahlul bayt. Anda tidak harus jadi syi’ah koq untuk mencintai dan memuliakan ahlul bayt.
Anda tidak takut ditolak oleh Rasulullah SAW krn menentang beliau?. Beliau sedang memberitahu pengikutnya bhw Imam Ali itu khusus/mulia, dan anda menggunakan nafsu anda untuk bertentangan dengan Beliau SAW.
Kalau anda menolak penistaan kpd sahabat bukan berarti anda harus menentang Rasulullah SAW dg ahlul bayt beliau.
Cintai dan muliakan ahlul bayt dan tolak penistaan thd sahabat, keduanya dapat beriringan
Wassalam
@imem
Hadis manzilah bukan diucapkan Nabi saaw semata mata saat Perang Tabuk aja, bahkan dlm pelbagai peristiwa lainnya
Ini satu darinya:
و الذي بعثني بالحقِّّ، ما أخَّرْتُك إلا لنفسي، و أنت مني بمنزلة هارون من موسى غير أنّه لا نبي بعدي، أنت أخي و وارثِيْ.
“Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, aku tidak mengkahirkanmu melainkan untuk kupersaudarakan dengan diriku. Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku. Dan engkau adalah saudara dan pewarisku.”
Ini adalah dlm peristiwa persaudaraan. Lalu apa maksudnya dlm hadis ini saat Nabi saaw menyatakan ‘ Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku’?
Ulama2 berikut juga menyatakan bahawa hadis manzilah ini telah diucapkan oleh Rasul saaw dlm pelbagai peristiwa lain selain Perang Tabuk:
a. Mas’udi dlm Muruj az Zahab jilid II, hlm 49
b. Halabi dlm Siratu’l-Halabiyya, jilid II, hlm 26 dan 120
c. Imam Abdu’r-Rahman Nisa’i dlm Khasa’isu’l-Alawiyya, hlm 19
d. Sibt Ibn Jauzi dlm Tadhkira, hlm 13-14
e. Sulayman Balkhi Hanafi dlm Yanabiu’l-Mawadda, bab 9 dan 17
Salam Damai
@all
Karena saudara inem tidak menanggapi pertanyaan saya, maka saya akan menjalaskan ketidak mengertinya sdr Imem.
Imem mengatakan kepada mas SP bahwa mas SP memahami hadits tsb textual. Dan bukan Sebabnya (Asbabun Wurud) mengapa Rasul bersabda.demikian
Saya ingin menjelaskan bahwa hadits Manzila yang diposting mas SP hanya merupakan pengulangan . Yaitu jauh sebelumnya telah disampaikan oleh Rasul.
Saya akan bawakan Sebabnya
Dalam Tafsir Qur’an Abu Ishaq dalam Tafsir Al Kabir ia membahas ayat 55-56 Surah Al Maidah bersumber dari Abu Dzar Ghifari yang berkata:
Kedua mataku akan buta dan kedua telingaku akan tuli sekiranya aku berkata kebohongan. Aku mendengar Rasulullah saw berkata:”Ali adalah pemberi petunjuk orang2 yang beriman dan penghancur orang kafir, orang yang membantunya akan beruntung dan yang meninggalkannya akan binasa.
Suatu hari aku shalat berjamaah dibelakang Rasul. Seorang peminta minta, memohon sedakah.. Tapi tidak ada seorangpun memberi sesuatu. Saat itu Ali tengah ruku. Ia menyorongkan tangannya dimana melingkar sebuah cincin dijarinya pada peminta itu.
Peminta-minta itu melepaskan cincin pada jarinya.
Nabi Muhammad berdoa kepada Allah, ia berkata: ” Ya Allah, saudaraku Musa memohon padaMu dengan mengatakan: ” Ya Tuhanku, lembutkanlah hatiku dan mudahkan segala urusanku! Lepaskan kekakuan lidahku agar mereka memahamiku! Tunjuklah dari keluargaku, Harun, saudaraku sebagai wakilku dan kuatkan diriku dengan kehadirannya dan ikutkan dia dalam misiku, sehingga kami senantiasa mengagungkan Mu dan mengingatMu. Sesungguhnya Engkau melihat kami dan memberinya liham: “Ya, Musa, semua permintaanmu telah dikabulkan.”
Ya Allah, aku adalah hambaMu dan RasulMu. Lembutkan hatiku dan mudahkan segala urusanku dan tunjuklah dari keluargaku, Ali, sebagai wakilku dan memperkuat diriku dengan keberadaannya.
Demi Allah Rasul belum selesai berdoa ketika Jibril turun bersama ayat 55-56 Surah Al-Maidah.
(Allamah Zamakhasyari dalam tafsir al-Kasysyaf,: Sahih Bukhari 5.56,5700; Shahih Muslim vol.4 hal 1870-71 dan banyak lagi seperti Sunan Imam Maja; Musnad Ahmad b. Hambal dll)
Demikian lah sebabnya Hadits Manzilah.
Jadi saudara inem tidak mengerti hanya asal ngomong aja. Wasalam
@abu rahat
Mungkin sebaiknya ditanyakan dulu i’tikad dari saudara imem.
Karena jika i’tikadnya mmg tidak mau mencintai dan memuliakan ahlul bayt, maka selesailah sudah diskusi dg imem. Karena dalil yg manapun akan bisa diplintir. Tidak usah imem, mereka yang terlibat langsungpun bisa menolak/ingkar, apalagi imem yang berjarak waktu dan ilmu.
Wassalam
@truthseeker08
Terima kasih penjelasannya.
Salam
Menurut saya penjelasan Sdra. Hadi dan Sdra. Aburahat cukup jelas. Dan pernyataan atau saran dari Sdra. Truthseeker08 sangatlah tepat.
Wassalam
mau mencintai Ahlul Bayt tapi tidak mau memuliakannya…..bagaimana yah…??
salam,
@halwa
Namanya CINTA MONYET. Hhehe
@halwa
Benar sekali mas halwa, sangat menyedihkan kondisi tsb.
Semoga kita selalu istiqomah dalam mencintai ahlul bayt dengan cara yang mereka ajarkan.
Keduanya adalah satu kesatuan. Keengganan memuliakan hadir dari kedengkian. Kedengkian tidak mungkin bersatu dengan cinta.
Begitu jelas dan tegas Allah & Rasul-Nya mengabarkan dan memerintahkan kepada kita kemuliaan dan kecintaan kepada ahlul bayt. Secara logika terasa mudah mencintai keluarga Nabi (anak, mantu dan cucu2 Nabi kita sendiri), namun doktrin ribuan tahun telah merusak akal dan hati sebagian muslimin.
Sangat janggal dan aneh mencintai kepada mereka yang dicintai Nabi menjadi begitu sulit. Semestinya tidak perlu dalil dan perintah atasnya.
Allahumma shali ala Sy Muhammad wa ala ahl Sy Muhammad.
Wassalam
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad….
@Nomad
Penjelasan yang baik
@imem
Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW
Saya tidak salah paham, saya menunjukkan ketidakhati-hatian anda dalam menggunakan kata-kata. Maafkan kalau saya katakan anda berbicara terlalu banyak sehingga lupa apa yang telah anda bicarakan. Sekarang anda mengatakan kalau tugas Imam Ali sangat berat karena harus menjaga stabilitas politik dan keamanan Madinah padahal sebelumnya anda mengatakan Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau. Itu kontradiksi anda yang harus anda jelaskan, kemudian pernyataan anda soal kaum munafik yang mengkhawatirkan adalah asumsi baru yang saya tidak tahu benar atau tidak
Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.. Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.
Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.
asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.
Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.
Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.
Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.
Rasulullah SAW yang mengucapkan hadis tersebut dengan makna yang umum sehingga beliau memberi satu batasan bahwa hubungan yang dimaksud tidak mencakup Kenabian. Anda jelas tidak memperhatikan lafaz hadis yang diucapkan
Apa sebenarnya yang menutupi mata hati anda sehingga tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Bukankah anda mengatakan bahwa hadis Manzilah sebagai keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali, tetapi anda menyatakan bahwa hadis manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja terkait dengan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Madinah dan anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang seperti itu. Bukankah para sahabat menganggap hadis Manzilah sebagai keutamaan khusus Imam Ali. Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?
Saya tidak mengabaikan asbabul wurudnya, saya berpegang pada teks hadisnya dan mendudukkan asbabul wurud sebagai bagian dari keumuman lafaz hadisnya. sedangkan anda tidak memperhatikan lafaz hadisnya dan maaf salah mendudukkan asbabul wurudnya?. Buktinya adalah hadis-hadis yang menyebutkan asbabul wurud seperti kata anda pada saat Perang Tabuk tidak menunjukkan adanya indikasi mengkhususkan, hadis asbabul wurud itu justru menunjukkan Nabi SAW mengucapkan lafaz hadis yang umum saat Perang Tabuk
Dan bukankah anda sebelumnya mengatakan bahwa hadis Manzilah terkait dengan jabatan memimpin Madinah, kalau memang terkait ya wajar kan saya bertanya adakah sahabat lain (yang menurut anda pernah memimpin Madinah) juga mendapatkan hadis Manzilah?.
Apa maksud dari pernyataan anda ini? saya tidak berani menduga-duga, jadi kalau anda mau jelaskan kalau tidak ya sudah
Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.
Contoh yang anda bawa sangat tepat untuk menjelaskan asbabul wurud yang bersifat mengkhususkan atau tidak. Perhatikan lafal hadis yang diucapkan Rasulullah SAW yaitu Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata:. Lafal ini bersifat khusus artinya aspek kesamaan Abu Bakar dengan Ibrahim telah dijelaskan oleh Nabi SAW sendiri. begitu pula lafal Nabi SAW terhadap Umar Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: lafal ini sudah jelas bersifat khusus dimana Nabi SAW telah menjelaskan letak kesamaan atau penyerupaannya.
.
tentu saja konteks yang anda maksud sangat terkait dengan lafal hadisnya yang bersifat khusus. Berbeda dengan Hadis Manzilah, Rasulullah SAW menyebutkan lafal yang umum sehingga itu mencakup keseluruhan kecuali yang Rasulullah SAW batasi yaitu Kenabian. Semoga anda bisa memahami penjelasan saya
Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja
Seperti itu bagaimana, silakan anda pahami dulu yang benar penjelasan saya
Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah. Lucu sekali, anda yang berhujjah kok saya yang harus buktikan dasar hujjah anda. Anda menyebutkan kitab Tarikh dari kalangan Muslim dan Ahli Kitab, jadi tugas anda untuk menyebutkan secara lengkap sumber informasi anda?. kemudian apakah anda mengakui semua yang ada dalam kitab tarikh adalah benar?. Bukankah saya pernah mengatakan jangan2 sumber yang anda gunakan adalah sumber yang justru anda lecehkan, maafkan kalau dugaan saya salah dan silakan membuktikannya
Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?
Lho sekali lagi andalah yang berhujjah dengan itu bukan saya, sebelum saya menyatakan setuju atau tidak setuju maka saya harus yakin dulu apakah anda sedang berbohong atau tidak, apakah anda keliru atau tidak yaitu dengan cara terlebih dahulu tunjukkan referensi lengkap yang bisa saya rujuk. Kalau anda tidak bisa, maka lebih baik tidak usah anda gunakan sebagai hujjah
Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?
Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW
Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas bagi setiap mukmin, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan
Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung
tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu
@abu rahat
mari kita sama-sama menunggu
@hadi
Saya tertarik dengan yang ini, hadis ini kalau tidak salah diucapkan juga oleh Rasulullah SAW kepada Buraidah setelah Imam Ali pergi ke Yaman artinya pasca perang Tabuk kan
@truthseeker08
wah kata-kata yang membungkam
@hadi
mari kita lihat apa jawaban dari saudara imem
@abu rahat
tunggu saja Mas, insya Allah ditanggapi oleh saudara imem
@truthseeker08
ah saya berprasangka baik saja kali ya, soalnya dia pasti bilang mencintai ahlul bait
@bagir
terus penjelasan saya gimana
@halwa
entahlah apa namanya, manis di mulut lain di hati, benar nggak ya?
@abu rahat
@truthseeker08
setuju
@ imeem…
kalimat seperti ini apakah anda anggap kalimat khusus ?
KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.
heheheh…….
OOt nih…
Kesamaan Nabi Harun as dgn Imam Ali as yg lain adalah
1. sama2 dikhianati oleh org2 utama disekitarnya
2. Sama 2 dipesankan jgn membuat pecah umat
jikA tdk didukung mayoritas umatnya.
3. sama keluarga dengan yg dibantu.
dst
Salam
@SP
ntar dl doong maaas
khan imem belum jwb pertanyaan anda yg ini :
wassalam
Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam..
Sudah saya terangkan maksud saya dengan :
Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk. Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.
Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.
Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.
Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian. Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk, sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.
Sudah berulangkali saya jelaskan..
Sekali lagi sudah saya jelaskan.
Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..
Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir. Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.
Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.
“Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah
engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?” Rasulullah bersabda,
“Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari)
Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah. Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali. wallahu A’lam.
Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..
Saya sudah jawab di atas.
Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.
Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :
Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..
Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.
Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.
Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :
Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.
Dalil “POKOKNYA” dari para Wahabiyyun dan atau Syiahphobia berbunyi:
(1) Pokoknya Abubakar adalah khalifah yg sah sepeninggal Nabi saw. Mau hadits Manzilah kek, hadits Tsaqalain kek, pokoknya Abubakar adalah pengganti Nabi saw yg sah.
(2) Pokoknya kedudukan Imam Ali di sisi Nabi saw tdk mungkin melebihi kedudukan Abubakar & Umar. Silakan sodorkan kedudukan Imam Ali di sisi Nabi saw, maka kami akan menyodorkan pula riwayat-riwayat yg menandinginya.
(3) Pokoknya kemuliaan Abubakar & Umar sdh pasti melebihi sahabat yg lain, tdk peduli dgn melimpahnya nash-nash kemuliaan ahlulbait.
(4) Pokoknya apa pun yg diklaim Syiah mengenai keutamaan dan kedudukan Imam Ali harus dikoreksi karena sdh pasti keliru.
(5) Pokoknya kecintaan kepada Imam Ali serta mengakui kemuliaannya sdh diucapkan di lidah. Perkara benar atau tidak, toh tdk ada yg tau serta tidak ada yg mampu memaksakan pembuktiannya.
(6) Pokoknya bantah. Perkara berargumen hanya dg asumsi, tdk konsisten, semua nomer belakangan
Salam
Kalo saya disuruh mencintai ahlul bait model Rafidhah, sorry lah yao.. kalo mencintai Ahlul Bait dengan cara mengkultuskan mereka dan di sisi lain merendahkan sahabat2 Nabi, dengan sangat terpaksa cinta seperti itu kami tolak mentah-mentah. sorry ye.. wuakakak…
@imem
Cara rafidhah? cara yang mana? Siapa yang meminta anda mencintai ahlul bayt dengan cara rafidhah? Hanya ada 1 cara yaitu cara yang diajarkan ahlul bait. Bukankah bisa ditafsirkan bhw anda sejatinya menolak mencintai ahlul bayt (dg alasan itu cara rafidhah).
Coba tolong anda jelaskan arti kata mengkultuskan?
Juga supaya anda terhindar dari memfitnah, maka jelaskan lagi yang anda sebut cara tsb.
Apakah anda tidak bisa memisahkan memuliakan ahlul bayt dengan merendahkan sahabat?
Apakah anda tidak melihat ada saudara2 disini yang mencintai ahlul bayt sekaligus menolak untuk mencerca sahabat?
Apa makna dari tertawa anda? Tunjukkan dalil dari anda bahwa begini akhlak yang baik.
Wassalam
@Imem,
ya terserah anda itu mah, itukan pilihan anda, blom tentu pilihan yang lain sama dengan anda..yang penting jangan memaksakan keinginan anda.pokoknya lebih cepat lebih baik deeh…
salam,
Kalo saya disuruh mencintai Ahlul Bait model nashibi yg bela2in muawiyah & Yazid LA ya sori layauuu…
salam
@ Imem
Sekalipun saya fikir Mas SP telah menjelaskan dengan sangat baik – SemogaAllah mengganjarkan beliau selayaknya – anda masih sahaja bertegas menyatakan hadis ini terbatas keutamaannya hanya pada saat kepergian Rasulullah saaw pada peristiwa Tabuk sahaja. Dari periwayatan yg lain, mari kita cuba perhatikan hadis tersebut pada catatan Muslim dalam Sahihnya, pada Kitab Fadhail sahabah, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib r.a:
عن عامر بن سعد بن أبي وقاص عن أبيه قال أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب فقال أما ما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه وسلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي
Muslim mencatatkan bahawa Amir bin Saad bin Abi Waqqas meriwayatkan dari bapanya (Saad) bahawa Muawiyyah bin Abi Sufyan telah melantik Saad sebagai Gabenor dan berkata: Apa yang menghalangmu dari melaknat Abu Turab (Ali bin Abi Thalib)? Saad menjawab, “Selagi mana aku masih mengingatkan tiga perkara yang diucapkan Rasulullah (saw) kepadanya, maka selagi itu aku tidak akan pernah melaknatnya, seandainya diberikan kepadaku salah satu sahaja dari ketiganya, itu lebih aku sukai berbanding sekiranya kuperolehi unta-unta merah. Aku mendengar Rasulullah (saw) berkata mengenai Ali ketika meninggalkannya pada sebuah perang (iaitu Tabuk). Ali berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah!, Engkau tinggalkan aku bersama perempuan-perempuan dan kanak-kanak.’ Yang atasnya Rasulullah (saw) menjawab: “Tidakkah engkau redha bahawa kedudukanmu di sisiku seumpama kedudukan Harun di sisi Musa, hanya sahaja tidak ada Nabi sesudahku!….”
Perhatikan. Sekiranya pujian tersebut tidak membezakan Imam Ali dengan sahabat-sahabat lainnya dan tidak pula mengutamakannya ke atas para wakil Nabi dan para sahabat, Saad tentu tidak lebih tidak bercita-cita untuk mendapat pujian tersebut dan menyukainya berbanding kekayaan dunia dalam pemilikan unta-unta merah! Dan sekiranya pujian dalam hadis Manzilah bersifat khusus dan terbatas hanya pada peristiwa perang Tabuk sahaja, apa relevan Saad menyebutkannya lagi pada zaman pemerintahan Muawiyyah yang jaraknya dari perang Tabuk lebih dari 30 tahun lamanya?
Silalah anda jelaskan.
@SP
Mari kita sama2 menunggu., sampai dipanggil Allah kehadhiratnya. Dan terus menunggu hingga dihadapkan kehadapan Allah untuk mempertanggung jawabkan semua amal kita terutama diblog ini. Wasalam
@imem
Ooh kalau begitu anda memahami bahwa tugas Imam Ali kurang berperan padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan. Ehem itu kata-kata siapa ya
Bukannya saudara hadi telah menunjukkan kepada anda riwayat bahwa hadis manzilah selain pada peristiwa perang tabuk dimuat oleh sebagian ulama, baik anda dan Mas Hadi telah membawa hujjah masing-masing, bedanya Mas Hadi menyebutkan hadisnya dengan jelas dan anda tidak menyebutkan nama ulama-ulama yang sepakat itu dengan jelas.
Disini letak perbedaan anda dan saya. Saya memandang bahwa hadis tersebut dikeluarkan oleh Nabi SAW ketika Imam Ali bertanya kepada Nabi. Di sini Nabi SAW menunjukkan bahwa keutamaan Imam Ali begitu tinggi di sisi Nabi layaknya keutamaan Harun di sisi Musa tetapi Nabi SAW memberi batasan bahwa keutamaan itu tidak mencakup Kenabian.
Anda salah menarik kesimpulan, semua kitab hadis yang anda sebutkan bersepakat bahwa hadis Manzilah pernah diucapkan Nabi SAW saat perang Tabuk. Sedangkan kesimpulan bahwa hadis tersebut tidak pernah disampaikan pada kesempatan lain harus melihat hadis-hadis di kitab lain. Dan salah satunya sudah disebutkan oleh saudara Hadi. Poin saya disini saya tidak menolak bahwa semua kitab hadis yang anda sebutkan memuat hadis Manzilah saat Perang Tabuk.
Dari dasar yang keliru maka anda menarik kesimpulan yang keliru pula. Hadis Manzilah di kitab-kitab hadis yang anda sebutkan tidak sedikitpun memuat pernyataan bahwa hadis tersebut terkhusus saat Perang Tabuk saja. Sehingga hadis-hadis tersebut tidak bisa anda jadikan dasar untuk menolak jika ada hadis lain yang menyebutkan hadis Manzilah di tempat yang lain. Seandainya ada Hadis Manzilah di tempat yang lain maka dengan merujuk adanya hadis Manzilah saat perang Tabuk, kesimpulan yang benar adalah hadis Manzilah diucapkan saat Perang Tabuk dan di tempat yang lain.
Mari kita analisa dengan baik logika anda. Anda mengatakan pengecualian Imam Ali bukan Nabi menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.Kata-kata Nabi SAW adalah kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahKu..
Ada dua premis disini
1. Premis pertama kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa. Premis ini menurut saya umum, sedangkan menurut anda khusus
2. Premis kedua hanya saja tidak ada Nabi setelahku, premis ini bersifat khusus.
Premis khusus diucapkan untuk membuat pengecualian premis umum sebelumnya, tidak ada suatu kaidah bahwa premis khusus membuat pengecualian premis yang khusus pula. sehingga pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi adalah untuk membatasi semua keutamaan yang dimiliki Harun di sisi Musa. Jika premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa bersifat khusus maka tidak perlu memberi batasan, kalau premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa seperti kata anda terbatas pada perang Tabuk saja maka tidak perlu memberi batasan dengan kata-kata hanya saja tidak ada Nabi setelahku.
Disinilah anda keliru, karena sebelum hadis Manzilah tersebut diucapkan Nabi SAW telah menetapkan Imam Ali sebagai pengganti Nabi di Madinah, hal yang bahkan saya lihat sudah anda setujui. Ditambah lagi tidak ada kata-kata secara zahir yang menyebutkan bahwa Imam Ali sebagai pengganti di Madinah pada saat perang Tabuk saja.
Kedudukan Harun dalam memimpin umat Nabi Musa adalah bagian dari keumuman kedudukan Harun disisi Musa. Hal itu yang harus anda pahami, dan jika anda mau mengetahui bagaimana kedudukan Harun disisi Musa, maka anda harus melihat banyak ayat lain. misalnya pada surah Thaha ayat 29-32 Nabi Musa AS berdoa kepda Allah SWT Jadikan untukku wazir (pembantu) dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikan dia sekutu dalam urusanku.. Sehingga dengan ayat ini dan ayat yang anda kutip maka kedudukan Harun di sisi Musa adalah seorang Wazir, saudara dan menjadi sekutu dalam urusannya termasuk ketika Nabi Musa akan pergi maka Nabi Harun AS yang akan memegang kepemimpinan.
dari awal juga saya tahu penjelasan anda, saya menunjukkan bahwa asbabul wurud hadis Manzilah tidak mengkhususkan lafal hadisnya sehingga dalam hal ini kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal jelas sangat berlaku
Silakan tidak ada paksaan disini, saya cuma menunjukkan penjelasan saya yang bersandar pada teks hadisnya dan penjelasan anda yang menambahkan asumsi anda sendiri. tidak ada masalah jika mau berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.
Bahkan ketika Musa kembali dari bukit Thursina kedudukan Harun di sisi Musa tetaplah ada yaitu ia sebagai wazir, saudara, sekutu urusan Nabi Musa dan jika Musa pergi kembali maka Harun akan menggantikannya lagi. Maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi Muhammad SAW.
Hubungan Beliau Imam Ali dengan Rasulullah SAW memang begitu dekat sehingga Rasulullah SAW berkata “tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai KhalifahKu bagi setiap mukmin setelahKu.
Sayangnya anda tidak memiliki alasan atau bukti dari klaim anda ini, sehingga saya dengan mudah bisa saja berkata sebaliknya, kayaknya anda keliru
Saya rasa inilah asbabul wurud yang menjadi hujjah anda, sekarang perhatikanlah baik-baik Rasulullah SAW telah menunjuk Imam Ali sebagai pengganti di Madinah, maka Imam Ali berkata kepada Rasulullah Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak? di sini Rasulullah SAW menjawab yang menurut anda untuk menenangkan Imam Ali yaitu dengan mengatakan bahwa Kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW begitu besar yaitu kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku. Disini Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kepemimpinan di Madinah adalah bagian dari Kedudukan Imam Ali yang begitu tinggi yaitu seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Seandainya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud hanya terbatas pada pemimpin di Madinah maka apa bedanya sebelum hadis Manzilah diucapkan dan setelah hadis Manzilah diucapkan.
Sebelum hadis Manzilah diucapkan, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin di Madinah.
Setelah hadis Manzilah diucapkan, anda mengatakan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud adalah sebagai pemimpin di Madinah.
Jadi tidak ada bedanya, dan saya jadi bingung apa makna keutamaan Imam Ali yang anda maksud. Apalagi anda mengatakan banyak sahabat lain yang memimpin Madinah, jadi tambah bingung saya makna keutamaan yang anda maksud
Lain halnya dengan memperhatikan bahwa sebenarnya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum artinya mencakup semuanya seperti wazir, saudara dan sekutu dalam urusan termasuk kepemimpinan setiap Rasul SAW akan pergi, sehingga dalam hal ini keumuman tersebut dibatasi oleh Rasul SAW tidak mencakup Kenabian.
Kemudian silakan anda perhatikan hadis manzilah yang saya kutip di atas,bukankah menurut anda hadis tersebut diucapkan saat perang Tabuk maka hadis tersebut justru membuktikan keumuman yang saya bicarakan. Ketika Imam Ali berkata Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak? maka Rasulullah SAW menjawab sesungguhnya KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa sama seperti kedudukan Harun disisi Musa bahwa dia akan menggantikan Musa sebagai khalifah bagi setiap umat Musa maka begitu pula Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin Umat Nabi SAW.
Dari mana anda mengetahui tidak ada?. apakah jika ada sahabat lain yang bertanya seperti itu maka Rasulullah SAW juga akan menyebutkan hadis Manzilah?. Kalau anda bilang tidak, lalu apa gunanya anda menampilkan pernyataan itu.
Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayangnya dengan menjelaskan keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi seperti kedudukan Harun disi Musa diantaranya Imam Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin setelah Nabi SAW.
lho Saya menanyakan apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah bukankah anda menyebutkan ada banyak sahabat yang memimpin di Madinah, jika keutamaan kedudukan Harun di sisi Musa adalah sebagai pemimpin di Madinah saat perang Tabuk saja maka dengan alasan apa anda membedakan sahabat2 lain yang memimpin Madinah seperti kata anda.
Silakan kita sudah sama-sama menjelaskan
Mari kita lihat apakah Al Qurtubi menuruti keinginannya semata untuk membantah syiah atau malah membantah hadis Manzilah itu sendiri
Perhatikan teks hadis di atas Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.. Perkataan Al Qurtubi bertentangan dengan perkataan Rasulullah SAW. Perkataan Rasulullah SAW lebih layak dijadikan pegangan
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seberapa valid informasi ini?. Kemudian poin yang dimaksud hadis Manzilah tersebut adalah kedudukan Harun di sisi Musa sama seperti kedudukan Ali di sisi Nabi Muhammad SAW. Kedudukan tersebut mencakup semuanya kecuali Kenabian seperti kedudukan sebagai wazir, sebagai saudara sebagai sekutu dalam urusan dan sebagai orang yang akan menjadi pemimpin jika yang lain pergi. Oleh karena itu saya katakan kepada anda, dengan melihat kedudukan Harun yang begitu tinggi maka ketika Nabi Musa AS pergi tidak ada satupun dari umat Musa yang layak menggantikan kecuali Harun dan begitu pula dengan Imam Ali, tidak ada satupun dari Umat Muhammad yang lebih layak sebagai pengganti Nabi SAW kecuali Imam Ali.
Sekali lagi hadis di atas dengan jelas membantah Al Qurtubi. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Imam Ali sebagai Khalifah tidak hanya bagi keluarga Beliau tetapi bagi stiap kaum mukmin dan Rasulullah SAW mengatakan bahwa hal itu terjadi sepeninggal Beliau SAW, hal ini terlihat jelas dari kata-kata SetelahKu
Siapa yang berandai saya menunjukkan kepada anda bahwa keutamaan hadis Manzilah terletak pada Kedudukan Harun di sisi Nabi Musa dimana jika Nabi Musa AS pergi dan Nabi Harun masih ada maka tidak ada satupun Umat Musa AS yang berhak memegang kepemimpinan karena selagi Nabi Harun masih ada maka beliaulah yang layak memegang kepemimpinan. Dan begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, selagi Imam Ali AS masih ada maka tidak ada satupun dari Umat Muhammad SAW yang berhak memegang kepemimpinan kecuali Imam Ali.
Tidak masalah, yang tetap ada dan menjadi keutamaan melekat bagi Imam Ali adalah Kedudukannya di sisi Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa.
Contoh sederhana adalah hadis di atas, mau anda kemanakan kata-kata Rasulullah SAW Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu. Rasulullah berkata dengan lafal umum untuk setiap mukmin, eh anda mengkhususkan untuk di Madinah saja
Nah bukankah ini namanya membatasi apa-apa yang sudah ditetapkan Rasulullah SAW
Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa
Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin. Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda
Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi
Ya sudah.. yang jelas Imem dan SP berbeda dalam memahami hadits. dan saya salut sama bung Imem yg tetep tegas dan jelas prinsipnya dalam berdiskusi walopun banyak yang ngroyok dia
Bravo bung Imem!
tetapi yg membuat saya tersenyum dengan bantahan SP yg ini :
dan juga yang ini :
Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya
saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich
@antirafidhah
Saya juga yakin, tentu setelah anda mengatakan kalau anda tersenyum
saya malah tersenyum dengan komentar anda. Bisa dibilang saya selalu menyesuaikan dengan lawan bicara saya. Dan saya rasa kalau anda melihat dengan lebih jeli, antara saya dengan orang yang anda sebut imem siapakah yang pertama-tama membawa hadis lain di luar tema tulisan ini alias tidak berkaitan? Orang tersebut terbukti sudah memperlebar topik. Nah silakan dilihat, biar anda bisa kembali tersenyum atau terdiam
@sp…
Mas @ Sp anda melakukan kesalahan yg paling fatal pada komentar anda..menurut saya.
Anda berharap melakukan analisa logika @imeem.
Padahal
Dari semua komentar yg dibuat @Imeem tdk ada satu pun yg menunjukkan dia menggunakan AKALnya, dia hanya menggunakan pita recorder sejenis cd atau seluloid tape atau keping cakram atau mungkin flash disk barangkali.
yg sudah dicopy kan oleh ustadnya atau syaikh “cingkrangnya” utk kemudian diputar ulang kepada anda.
Jadi niat anda merunut logika @Imeem itu adalah pekerjaan sia2…karena sebenarnya dia hanya memiliki alat perekam dan pemutar bukan OTAK yg menghasilkan nalar/Logika..
jadi lebih tepat pertanyaannya adalah apakah isinya tape recorder/FD ataukah Otak isi kepalanya
wuakakakak
@antirafidhah
Jangan begitu, masak argumen SP anda bilang ga menggigit lagi?, saya ga tersenyum kok tetapi wuakakak…
Yang penting saya dah jelasin semampunya, selanjutnya ya terserah pd masing2.. kalo mau ya Lanjutkan! tgl 8 wuakakak…
@bob
Lah kalo ente punya logika, monggo.. silahkan ikut diskusi.. tunjukkan analisa logika, AKAL, OTAK anda yg tok cher itu.. kok bisanya cuma ndremimil ga karuan kayak gitu & malah nyalahin SP.. bisa diusir lo nanti… wuakakak.. itu tandanya ga mampu… ayo tunjukkan dunk.. wuakakakak…
@bob
ah mungkin saya memang keliru kali ya
@imem
iya mesti objektif ya bung imem
Ah saya gak pernah ngusir orang, lihat saja anda, antirafidhah, lamaru tidak pernah saya usir
@SP
Konsisten untuk tidak konsisten adalah bagian yg tak terpisahkan dari argumen-argumen salafy. Ini memang menyebalkan. Sy salut SP konsisten utk sabar dan tetap sistematis.
Yang sy tangkap dari komen2 Imem yakni, hadits Manzilah bukanlah untuk menunjukkan kedudukan dan keutamaan Imam Ali di sisi Nabi saw, namun hanya sekedar kata-kata hiburan dari Nabi saw untuk menyenangkan perasaan Imam Ali. Karena begitu Nabi saw tiba kembali di Madinah, maka keutamaan Imam Ali yg disebutkan dalam hadits Manzilah itu dengan sendirinya gugur.
I’tikad ini harus tetap dipertahankan bagaimanapun caranya demi tetap menjaga sah-nya kekhalifahan Abubakar serta melindungi keunggulan sahabat lainnya.
Salam
Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, fungsi dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali, tetapi keutamaan dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem, tetapi bukanlah berarti keutamaan tersebut menutupi keutamaan sahabat-sahabat yang lain, karena setiap sahabat (termasuk Imam Ali) mempunyai keutamaan sendiri-sendiri berdasarkan hadits-hadits Rasullah Sahalallahu Alaihi Wassalam.
Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.
Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas, justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.
Salam
@antirafidhah & inem
Saya sudah jelaskan kedudukan Imam Ali as disisi Rasul sama seperti kedudukan Nabi Harun disamping Nabi Musa bukan temporer dan bukan saja waktu Rasul meninggalkan Madinah. Saya jelaskan pd tgl 6/7-2009 jam 12.59.
Kalau anda2 tidak setuju dan mau bantah, pakai Nash dong jangan asal ngomong sesuai fanatik anda.
@armand
saya cuma menyesuaikan diri
Memang begitu kesan yang ditangkap, makanya saya juga jadi bingung soal keutamaan yang dimaksud saudara imem
@antirafidhah
Mari kita lihat apa yang anda sebut jelas, anda mengatakan penyerupaan itu berupa pelimpahan wewenang di Madinah. Kemudian anda berkata
Kalau anda mengakui bahwa penyerupaan itu berarti pelimpahan wewenang di Madinah maka sahabat-sahabat lain juga ada yang mendapat pelimpahan wewenang di Madinah. Lalu apa bedanya dan dimana letak keutamaan yang anda maksudkan. Kalau anda bilang sahabat-sahabat lain tidak mendapat penyerupaan, hakikatnya sama saja karena anda mengatakan bahwa penyerupaan itu berarti pelimpahan wewenang di Madinah dan para sahabat yang dimaksud imem itu telah mendapatkan pelimpahan ini. Lantas dimana keutamaan yang anda maksud?
Hadis Rasulullah SAW yang saya tulis di atas adalah sebaik-baik bukti bahwa pembatasan anda keliru. Rasulullah SAW mengatakan Imam Ali Khalifah bagi setiap mukmin Setelah Beliau SAW. Silakan kalau mau menolak
Ada kok Mas, coba jawab keutamaan Hadis Manzilah itu apa bagi Imam Ali?.
Ini ngomongin siapa ya
.Saya pribadi mengakui bahwa sahabat Nabi memiliki keutamaan tetapi saya tidak pernah menganggap keutamaan mereka adalah hujjah yang membuat mereka selalu benar atau membuat mereka tidak layak untuk dikritik jika melakukan kesalahan.
@ Ineem…
coba anda sebutkan nalar/logika anda utk kutipan kata dalam hadits dibawah ini.
bagaimana akal anda menterjemahkan….
sekali akal anda bukan tape recorder yah….
monggo
@antirafidhah
Keutamaan yg anda maksudkan ini, antara Imam Ali dan sahabat lain, apakah sama, yakni senada dengan hadits Manzilah di atas?
Jika demikian, apakah maksud anda Nabi saw memberi isyarat mengenai siapa khalifah Beliau setelah kepergian Beliau disampaikan kepada lebih dari 1 orang (beberapa sahabat?). Serta membiarkan isyarat tsb terus menjadi pertanyaan yg membingungkan umat Beliau? Sehingga demi menolak klaim ketidak-konsistenan anda, anda ingin melemparkan ketidak-konsistenan itu pada diri Nabi saw?
Mohon penjelasannya.
Salam
Allahumma sholli ala mauhammad wa ala aali muhammad
sungguh bukan mata ini yang buta
juga bukan telinga ini yang pekak
apalagi mulut yang sudah menambah perih
tapi butanya hati telah terkunci……….
Kemanakah engkau berpaling
Bagaimana manusia bisa kembali
Kenapa kerusakan muncul beriring
Sampai kapan insan mati terbaring
Padahal cahaya didepan mata
Cahaya di atas cahaya
Cahaya dalam dinding semisal kaca
Yang minyaknya pun hampir bercahaya
Inilah cahaya redup lilin semalam
Ragu mendampingi dunia tak dihalau pergi
Sebab ulah perayu dan nafsu
Tersirat mulai awal hingga penantian tak kekal
Tapi mengapa insan ini buta
Mata di kepala tidaklah faedah
Mata hati tak perlu dikata
Malang nian kegelapan meraja
Namun bagaimana manusia tak resah
Sebab tersebar dalam kitab pusaka
Dan terdengar dari mulut yang dijaga
Bahkan sederhana dalam logika
Bahkan kaca itu nyata
Yang seperti hati bagi AlMustafa
Dan laksana nurani untuk Al Murtadha
Pemimpin muslimah se-alam raya
Mendekatlah agar engkau tersiram minyaknya
Supaya terbuka akal dikepala
Dan berdenyut jantung serta nadi
Dan nanti engkau tak akan lari
Bukankah mereka cahaya dari Sang Maha Cahaya
Tidakkah Sang Maha Cahaya cukup bertitah
Bahkan titahnya penyebab keindahan sementara
Yang sementara pun manusia terlena
Wahai… mengapa bayangan telah menyesatkan anda
Kenapa tipudaya hampir-hampir mematikan beta
Apakah tak cukup akal dari Sang Maha
Bagaimana nafsu dan setan menjelma serupa
Cukuplah perumpamaan bahtera Nabi-Nya
Jelaslah permisalan Musa dan saudaranya
Berterima kasihlah akan Nabi dan sepertinya
Malulah pada wakil Tuhan di kapal Nuh
Tak terkata namun tak mau membaca
Tak terhitung tapi tidak pernah merenung
Tak terlukis tetap saja terus mengiris
Tak terpikir malah mulut meringis
Merekalah tinggaln terbaik
Yang puncaknya kekasih Ilahi
Yang pemimpinya pintu kota ilmu
Yang sayyidahnya laksana kunci
Yang mutjabanya insan surgawi
Yang syuhadanya pengawal perubahan nurani
Merekalah sang itrah
Yang dipuji oleh Sang Maha Terpuji
Yang diagungkan oleh Yang Maha Agung
Yang disucikan oleh Yang Maha Suci
Yang dibenarkan oleh Sang Maha Benar
Merekalah guratan paku bahtera Nuh
Yang disebut-sebut dalam doanya Adam
Yang disholawati oleh Pencipta seluruh alam
Yang diujikan buat manusia tuk menyinari malam
Namun wahai dimana mereka sekarang
Adakah mereka dalam harimu duhai insan
Munculkah mereka dalam doamu wahai jalang
Atau masih kenalkah diri pada mereka …..makhluk yang malang
Dimanakah mereka dalam hidupmu kawan
Kemanakah engkau tanpa mereka wahai yang hilang
Siapakah yang engkau ikuti saudaraku sayang
Sampai kapan ini berakhir jembalang!
Bukankah akal ditinggikan oleh Yang Maha Tinggi
Namun dihinakan oleh makhluk hina
Bukankah hatimu karunia dari Yang Maha Halus
Namun diselubungi oleh setan terhunus
Atau….
Mungkinkah mereka bungkam
Hingga tiada dikenal oleh para penikmat zam-zam
Kecuali cerita penghibur ditepi malam
Hingga lilin-lilin mengalahkan mentari
Sampai-sampai bayangan menghilangkan matahari
Wahai diri…
Marilah bersedih selagi maut masih menanti
Pakailah akal dan nurani supaya tidak dimurkai
Lihatlah bagaiman setan-setan menari
Dalam sejarah yang seperti mimpi
Dalam bingkaian yang telah terpatri
Dalam dogma yang tidak pasti
Dalam liang lahat yang merajai sepi
Dalam malam yang gelap tak bertepi
Selagi cahaya mereka masih menyinari
Dalam dekapan Al Mahdi
@ape
Subhanallah. Allahumma Shalli ala Muhammad wa alihi wa ahlulbaiti thaiibina thaahirini wa itrahti wal aimmati maksumina min allaadihi
Sungguh luar biasa syair anda. Wasalam
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
Engkau sebagai KhalifahKu untuk
setiap mukmin setelahKu
Arti “setiap mukmin” apa yah? Apakah masyarakat madinah saja? Apakah yang ikut perang tabuk tidak masuk dari lafadz “كل مؤمن” ? Terus kita masuk gak yah? Mohon pencerahannya!
Ga ngerti bhs Indonesia kali,
@blockquote>
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
Engkau sebagai KhalifahKu untuk
setiap mukmin setelahKu
Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu?
atau kalau mau ditafsirkan setelah Rasulullah wafat, ya bisa aja, bukankah Imam Ali memang telah menjadi Khalifah setelah Rasulullah wafat, yaitu khalifah ke 4 setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman…
Tetapi kalau kalian memahami bahwa khalifah yg dimaksud di atas adalah khalifah pertama setelah Rasulullah wafat haruslah Imam Ali, berarti kalian telah merendahkan Rasulullah, karena dalam hadits di atas disebutkan bahwa “Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan, dan ternyata pada kenyataannya yang menjadi khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, bukan Imam Ali.. maka mau ga mau pemahaman tsb adalah keliru dan pendapat di atas-lah yang benar sebagaimana juga yang telah disebutkan oleh bung Imem, bahwa yg dimaksud khalifah dlm hadits di atas adalah khalifah/pengganti Rasulullah untuk sementara di Madinah di saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.
Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar… dan hadits tersebut telah terbukti kebenarannya bahwa ternyata Abu Bakar-lah kemudian yang dikehendaki oleh Allah menjadi Khalifah Rasulullah dan dibai’at oleh seluruh kaum mukminin saat itu termasuk oleh Imam Ali sendiri…
Saran saya kepada anda-anda sekalian… terimalah kenyataan yang ada dengan ikhlas, Ikutilah Imam Ali, beliau saja telah membai’at 3 khalifah sebelumnya.. beliau membai’at Abu Bakar, kemudian beliau membai’at Umar dan sebelum Umar wafat, beliau pun bersedia dipilih sebagai anggota formatur pemilihan khalifah pengganti Umar, dan ketika terpilih Utsman beliau pun membai’at Utsman… selama 3 periode kehalifahan ato 24 thn lebih beliau tetap konsisten dengan sikapnya tersebut… ya itu kalo kalian memang benar-benar pengikut beliau, tetapi kalo hanya di bibir aja saya maklum kalo kalian ga mau meneladani beliau bahkan menselisihi beliau… tapi ga ada paksaan kok…
Engkau sebagai KhalifahKu untuk
setiap mukmin setelahKu
Yaitu Imam Ali adalah khalifah bagi siapapun yang mengaku beriman kepada Allah SWT selepas Rasulullah SAW wafat. kata Kullu adalah kata yang bersifat umum mencakup semua, jika yang dimaksud mu’min, maka semua orang beriman tanpa terkecuali, kata mimba’di kata yang digunakan dalam bahsa arab untuk menunjukkan selepas Rasulullah SAw wafat.
Perkataan mimba’di juga tidak bisa ditafsirkan setelah khalifah ke-3 karena kata mimba’di berkonsekuensi tepat setelahnya
logika antirafidhah salah, perkataan Rasulullah memiliki banyak dimensi termasuk dimensi syariat artinya keniscayaannya bersifat tasyri bukan takwini, misalnya ketika Rasulullah SAW bersabda “aku tinggalkan dua hal yang kalau kamu pegang tidak tersesat” kemudian jika pada akhirnya banyak umat yang tersesat bukan berarti Rasulullah keliru, karena perkataan ini berifat tasyri, keniscayaan berlaku jika disertai ketaatan. Banyak sekali sabda Rasulullah yang seperti ini, perkataan Rasulullah sangat jelas dan hanya penentang yang selalu ingkar
banyak umat yang mengaku mengikut Rasul tetapi mereka membuat penentangan atas perkataan Rasul, Rasul berkata begini mereka berkata bukan begitu, Rasul berkata semua mereka berkata sebagian, tidak heran kalau pendahulu mereka juga dulu ingkar apalagi mereka, kebenaran telah jelas dan kebatilan akan lenyap, salut dan terimakasih buat empunya blog
Apakah anda masukkan juga Imam Ali termasuk yang menentang Rasul? karena beliau telah berbai’at kepada ke 3 khalifah sebelum beliau? dan beliau pun turut berperan dalam pemerintahan ke 3 khalifah tsb?
apakah menurut anda Rasul telah gagal mendidik umatnya? padahal jelas-jelas Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan memenangkan agama ini di atas agama-agama yang lain, dan ternyata orang-orang yang anda anggap menentang Rasul itulah yang Allah kehendaki untuk memenuhi janji-Nya tersebut… buka mata, buka hati, lihatlah kenyataan yang terjadi, buanglah virus rafidhah yg ada pada diri anda, supaya mati anda tenang dg tidak membawa warisan dendam dari musuh2 Islam yang telah dikalahkan pada masa lalu…
anda hanya memahami hadits tsb secara tekstual dg mengabaikan asbabul wurudnya.. ya silahkan saja.. tidak ada paksaan kok…
@ape
syairnya bagus
@aburahat
yup
@ubibakar
artinya semua mukmin kok, Rasulullah SAW tidak memberikan batasan yang membatasi keumumannya. Oleh karena itu hadis ini bisa dibilang tidak bisa ditakwil yang macam-macam kecuali malah akan merusak teks hadisnya atau struktur bahasa arab yang terkandung di dalamnya. Saya akanberbagi cerita sedikit dengan anda, banyak para penulis yang menolak Syiah seperti Ali As Salus ketika disodorkan kepada mereka hadisGhadirkum mereka menolak bahwa kata mawla diartikan khalifah karena dalam hadis tersebut tidak ada isyarat yang menunjukkan itu terjadi selepas Rasulullah kecuali jika teks hadisnya memuat kata-kata “setelahku”. Anehnya setelah disodorkan kepada mereka hadis yang memuat kata Khalifah dan kata “setelahku” mereka hanya bisa menolak hadis tersebut dan berkeras mendhaifkannya. Artinya mereka sendiri memahami konsekuensi berat dari arti hadis tersebut yang menyalahi takwil mereka terhadap hadis Ghadirkum.
@Nomad
lebih tepatnya gak ngerti bahasa Arab
@antirafidhah
Sesuatu yang sudah jelas malah anda buat kabur, hadis di atas tidak ada kata-kata “di Madinah” dan “pergi untuk perang Tabuk”. Itu yang sangat jelas, dan tidak terlihat oleh anda
Setuju tapi penerapan anda keliru, saya misalkan saja Banyak Nabi yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai Nabi tetapi ternyata kaum Nabi tersebut mengingkarinya dan menolak kenabian. Padahal yang menetapkan Kenabian itu adalah Allah SWT. Nabi tersebut tetaplah Nabi dan yang ingkar atau menolak kenabian tetap ada. Padahal penetapan Allah SWT merupakan suatu keniscayaan. silakan direnungkan analogi yang saya tampilkan.
@imem
Yah begitulah anda, dalil yang jelas anda paksakan kabur yang kabur anda paksakan jelas. Contohnya hadis yang anda bawa, sedikitpun tidak bicara soal kekhalifahan dan ngomong-ngomong bagaimana kalau orang lain berkata hadis itu terbatas waktu itu saja dan tidak berlaku selepas Rasulullah SAW wafat. Nah lho
@Imam
setuju lafaz kullu dalam bahasa arab bersifat umum dan hanya bisa dibatasi dengan adanya istitsna’
Penjelasan yang sangat baik, ah saya ingat pernah diskusi dengan orang-orang yang logikanya keliru seperti ini tapi waktu itu diskusinya soal Iradah Allah SWT. Mereka menggunakan logika keliru karena mereka tidak mengetahui bahwa Iradah Allah SWT ada yang berupa Iradah Takwini dan ada yang Iradah Tasyri’.
Karena manusia itu bermacam-macam, apalagi masalah sensitif seperti ini, sangat sulit ada orang yang mau mengakui bahwa apa yang ia yakini keliru dan orang lain yang benar, walaupun telah disodorkan kepadanya perkataan Rasulullah SAW. sayang sekali
Terimakasih juga sudah berkomentar
Salam kenal
anda memandang remeh persoalan, kita harus berpikir runtut terlebih dahulu. Imam Ali berbaiat kepada khalifah pertama setelah 6 bulan artinya pada awalnya Imam Ali tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar kemudian Beliau berbaiat semata-mata untuk kepentingan Agama Islam yang saat itu mendapat rongrongan dari pihak luar, oleh karena itu Imam Ali mengambil sikap bijak untuk meredakan penentangan internal yang pasif untuk menstabilkan keadaan. Bukan berarti Imam Ali menentang Rasul SAW karena beban ketaatan justru dilimpahkan kepada umat apakah mereka mau menerima Imam Ali sebagai Khalifah ataukah tidak, sikap Imam Ali yang tidak memberontak menunjukkan kebijakan Beliau
Anda juga tidak berpikir luas, bayangkan ada seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya 100 macam ilmu, murid-muridnya paham yang 90 tetapi gak paham yang 10 padahal yang 10 itu sangat penting. Bahkan guru itu telah menjalskan dengan gamblang 10 ilmu itu tetapi murid-muridnya tidak mau menerima, mereka cukup dengan yang 90. Jelas ini bukan salah atau kegagalan guru tetapi kegagalan murid untuk mentaati gurunya.
buanglah virus nawasib pada diri anda, karena membenci Ahlul Bait dengan menolak keutamaannya dapat menghapus amalan anda
@Secondprince
terimakasih tanggapannya, saya pribadi mereguk banyak ilmu di blog ini, Insya Allah saya akan terus mengikuti blog ini jadi tetaplah menulis
Allah berfirman dalam Surah Al Anbiya 73 : ” Dan Kami menunjuk mereka itu sebagai pemimpin2 yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan kami WAHYUKAN kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksankan Shalat dan menunaikan zakat dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”
Menurut ayat tsb diatas bahwa pemimpin2 yang akan memimpin UMAT Allah berdasarkan PETUNJUK Allah.
Siapakah yang ditunjuk Allah menjadi pemimpin melalui Rasul?
Dan siapakah yang mengusai ILMU Allah sehingga bisa memimpin hamba2nya yang mukmin?
Saya akan bawakan beberapa Hadits berdasarkan REFERENSI Suni
1.Rasulullah bersabda: ” Jikalau engkau ingin melihat keteguhan dalam diri Nabi Nuh, ilmu pengetahuan Nabi Adam, kemurahan Nabi Ibrahim, kecerdasan Nabi Musa dan ketaatan Nabi Isa, lihatlah Ali b. Abi Thalib. ( Shahih Bahaiqi, Musnad Ahmad ibn Hambal sebagai mana dikutipnya; Syarh Ibnu Abil Hadid jil. 2 hal. 449;
Tafsir al-Kabir, Fakhruddin Razi jil 2 hal.288 dll)
2.Salman Alfarisi meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda ” Aku dan Ali berasal dari cahaya yang sama dalam genggaman Allah empat belas ribu tahun sebelum Ia menciptakan Adam,. Ketika Allah mrenciptakan Adam, Ia membagi cahaya itu menjadi dua bagian, satu adalah cahayaku dan satu adalah cahaya Ali ” ( Mizan Al-I’tidal, Dzahabi jil I hal. 235; Fadha’il ash Shabah, Ahmad Hanbal jil.2 hal. 663 dll)
3.Anas b. Malik meriwayatkan, ” Ketika kemtian Abubakar semakin dekat, Abubakar berkata bahwa ia mendengar Rasulullah berkata: ” Sebuah rintangan menghadang dijembatan SIRATH al-MUSTAQIN. Tidak ada seorangpun yang dapat melintasinya kecuali dengan izin Ali b. Abi Thalib. Aku jga mendengar sabda Rasulullah, Aku adalah penghulu para Nabi dan Ali adalah penghulu para pemimpin.”( Tarikh Khatib Baghdadi jil.10 hal.356; as Sawa’iq al- Muhriqah, Ibnu Hajar bab 9 sub jil 2 hal.195 )
4. Umar bin Khattab berkata: ” Apabila seluruh planeet dan tujuh lapis langit diletakkan pada sebuah sisi timbagan dan ke imanan Ali pada sisi yang lain, sisi timbangan Ali akan memberati”.
Dengan bukti2 ayat serta hadits tersebut menunjukan betapa tinggi derajat Imam Ali.
Dan masihkah ada yang membatah bahwa Imam Ali as
yang harus menjadi pimpinan umat setelah Rasul? Wasalam
Salam
@ Abu rahat
Dengan bukti2 ayat serta hadits tersebut menunjukan betapa tinggi derajat Imam Ali.
Dan masihkah ada yang membatah bahwa Imam Ali as
yang harus menjadi pimpinan umat setelah Rasul?
ada…para Nashibi, contohnya sdh ada disini, para pengekor Bani Ummayah, termasuk pengekor Ibn Tai-miyah !
Wassalam
@bagir
Ada yang mengatakan bahwa: Bukti bahwa Allah meridhai Abubakar menjadi Khalifa, sehingga ia menjadi khalifa begitu juga Umar
Apakah mereka tidak pernah membaca Alqur’an dimana ada Firman Allah yang mengatakan, Apabila Aku hendak menyesatkan sesuatu kaum/orang maka aku tambahkan keinginan mereka, sehingga mereka tersesat. Terkecuali mereka mendapat petunjukKu dan sadar.
Mereka yang gila akan harta. Allah tambahkan harta mereka
Mereka yang ingin kekuasaan Allah berikan kekuasaan.
Sangat banyak firman2 Allah mengenai YUDILU MAN YASYAA WA YAHDII MAN YASHAA
wASALAM
Ah asumsi lagi.. seperti tau isi hati Imam Ali aja.. yang jelas dalam riwayat sunni tidak sepatah pun alasan seperti itu terucap dari bibir Imam Ali, yang ada beliau mengakui keutamaan para pendahulunya tersebut, dan itu sangat jelas jika anda juga mau mengakui hadits2 sunni yang lain, bukan hanya yg sesuai dg nafsu anda saja.. apapun alasannya Imam Ali telah berbai’at kepada Abu Bakar, dan sepengetahuan saya Imam Ali telah membai’at dua kali, yang pertama bersama dg kaum muslimin di hari kedua ato ketiga setelah Rasulullah wqafat dan yang kedua setelah 6 bulan berikutnya beliau perbaharui bai’at beliau kepada Abu Bakar untuk menepiskan keraguan kaum muslimin terhadap bai’at beliau yg pertama disebabkan perbedaan pendapat antara istri beliau (Fathimah) dengan Abu Bakar dalam masalah warisan..
Kemudian ketika Abu Bakar wafat, digantikan Umar dan beliaupun membai’atnya, bahkan beliau pernah diserahi kepemimpinan di Madinah ketika Khalifah Umar pergi ke Palestina. dan beliaupun bersedia menjadi anggota tim formatur pemilihan khalifah selanjutnya dan membai’at khalifah yang terpilih yaitu Utsman.
Sebenarnya andalah yang meremehkan dan meragukan ketulusan Imam Ali dalam bai’at beliau kepada pendahulunya, seolah-olah Imam Ali mempunyai sifat dua muka selama 24 tahun lebih, padahal Imam Ali sangat jauh dari sifat seperti itu, berhati-hatilah anda dalam berucap! …
perhatikan hadits berikut ini, yang menunjukkan bahwa Imam Ali tidak pernah merasa beliau ditunjuk oleh Rasulullah menjadi khalifah sesudah Rasulullah wafat :
Dari Abdullah Ibnu Abbas, bahwa Ali bin Abi Thalib Ra. keluar dari rumah Rasulullah SAW ketika Nabi sedang sakit menjelang wafat. Orang-orang bertanya kepada beliau: “Hai Aba Hasan (Ali bin Abi Thalib), bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Beliau (Ali) menjawab: “Alhamdulillah, beliau baik.” Tangan Ali kemudian dipegang oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi dan Ali), ia berkata: “Demi Allah, setelah tiga hari ini kamu akan menjadi ‘hamba tongkat’ (diperintah orang lain). Demi Allah, aku tahu wajah anak turun Abdul Muthalib menjelang wafat mereka (Rasulullah akan segera wafat). Ayo kita masuk kepada Rasulullah SAW dan menanyakan kepada beliau siapa yang akan memerintah? Apabila diserahkan kepada kita, maka kita akan tahu dan kalau kepada orang lain pun kita akan tahu, atau kita minta agar beliau mewasiatkan kepada kita.”
Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, apabila kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau menolaknya, maka orang-orang selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)
Kisah ini diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Ishaq dari az-Zuhri dg makna yg sama. Dan dlm riwayat ini disebutkan, “Maka keduanya masuk menemui Rasulullah ketika beliau akan meninggal, di akhir riwayat disebutkan, “Wafatlah Rasulullah pada waktu dhuha setelah matahari meninggi pada hari itu. (Tarikh Ibnu Hisyam 2/654)
Ibnu Katsir berkata, “Peristiwa itu terjadi pada hari Senin yaitu pada hari wafatnya Rasulullah. Dan ini menunjukkan bahwa ketika beliau wafat beliau tidak meninggalkan wasiat siapa yang menjadi pemimpin setelah beliau. (Al-Bidayah wan Nihayah)
Maka saya lebih percaya hadits di atas 100% dr pada asumsi anda di atas.
Anda lupa bahwa Allah memenuhi janji-Nya adalah dengan mereka2 yg anda anggap menentang Rasul.
Dimana letak kalimat saya yang membenci ahlul bait dan menolak keutamaannya? saya sih ga ambil pusing dg tuduhan anda, Allah yg lebih tau isi hati saya drpd anda.. so silahkan saja.. kagak ngaruh.. wuakakakak…
@inem
Anda mengatakan bahwa imam Ali 5 bln baru membaiat Abubakar. Benar. Tapi mengapa? Tapi itu bukan menjadi TOPIK pembicaraan disini.
Yang kita bicarakan disini bukan soal senang/ tidak Imam Ali atas jabatan khalifa dikup Abubakar.
Yang persoalannya adalaqh SIAPA YANG BERHAK MENJADI KHALIFA PASCA RASUL.
Kemudian Imam Ali membaiat, itu menunjukan AKHLAK YG MULIA.
Imam Ali as Iman dan ilmunya sangat dalam. Ia mengetahui apa yang Allah kehendaki dengan kejadian ini.
Kalau tidak NERAKA nangis kekurangan umat.
benar seperti yg @ sp bilang para nashibi mengaburkan sesuatu yg sudah jelas begini
Kemudian mereka menyandarkan hujjah mereka pada hadits yg meragukan bahkan dhoif
Sekalipun utk membatalkan hadits yg shohih.. Walaupun sudah tahu/diberitahu argument hadits mereka lemah
Kalo yg kayak gini sih sudah jelas kenashibi annya.
Mau nyumpet dgn argumentasi apapun juga. Semua org bisa melihat
Saya doakan anda dan saya diberi hidayah
@all
Hadits HR BUKHARI yang disalin oleh sdr inem bagian terakhir berbunyi:”Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, apabila kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau menolaknya, maka orang-orang selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)
Apakah ini orang2 yang memuliakan Imam Ali sa
Hadits ini sama dengan kata2 mereka Rasulullah bermuka masam (ABASAA).
Pantaskah akhlak mereka yang mulia berakhlak demikian
@ inem
Tentu anda juga percaya 100% yang dalam Shahih Bukhari hadits 2.423 dan 4619 yang dirawayatkan oel Abu Hurairah, bahwa waktu Malaikat Maut datang menjemput atau mengambil nyawa Nabi Musa, Nabi Musa lalu menampar Malaikat Maut dengan keras sehingga satu matanya terlepas
Pasti anda akan berdali itu benar kejadiannya. Sungguh hebat Nabi Musa. Wasalam
Nashibi kayak Abunawas, yang Mudah di persulit, yang sulit yah tambah di bikin sulit….
damai..damai.
Mr. Nashibi
Menunjukkan tidak ada kelanjutan apakah Rasul sww memberikan wasiat apa tidak..Hmmm…dan kenyataan tidak ada penolakan dari Rasul saww..mana penolakan beliau saww..?? Imam Ali (as) tidak meminta hal itu…tapi RASUL SAWW yang akan memberikannya tanpa diminta..!
tetap aja ga ada penolakan dari Rasul saww..! dan tidak ada permintaan dari Imam Ali (as)…krn ud jelas bagi siapapun siapa “Mawla” mukmin setelah Rasul (saww)..kecuali yang munafik2 yg pura2 ga tau atau ga mau tau..!
Lalu muncul :
Udah dibilangin yang bau tetep bau..! lht pengakuan UMAR..! : (ud pernah baca ini khan..di tempat Ibnu Jakfari ….dari An Nidham As Siyasi: 142 ) :
http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-6/
Ini dari blog Ibnu Jakfari :
Umar: Hai Abdullah jawablah dengan jujur, apakah Ali masih menyimpan di hatinya anggapan bahwa ia lebih berhak dalam jabatan khilafah ini?
Ibnu Abbas: Ya, benar.
Umar: Apakah ia mengklaim bahwa Rasulullah telah menunjuknya sebagai Khalifah?
Ibnu Abbas: Ya, benar, bahkan aku tanyakan tentang penunjukan itu kepada ayahku dan ia pun membenarkan.
Umar: Aku tahu, bahwa ia memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Rasulullah, dan ketika beliau di hari–hari akhir ingin menunjuknya dengan nama terang, maka aku halangi beliau.”
@bagir
Bagaimana Rasul harus menolak Imam Ali as sebagai Khalifa?
Allah yang memerintahkan melalui Rasul menunjuk Imam Ali as sebagai Khalifah.
Jadi menurut saya kata2 terakhir yang disampaikan sdr inem
tidak benar. Kata2 itu rekayasa mereka2 untuk menghilangkan kepimpinan Imam Ali. Dan sdr inem percaya 100%. Karena hadits tsb diriwayatkan oleh Bukhari.
Makanya saya bawakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam SHAHIH BUKHARI, mengenai Nabi Musa menampar Malaikat Maut
Yang saya heran atas hadits tsb adalah Nabi Musa berjasad menampar malaikat yang dari cahaya dan juga rupanya Nabi Musa tidak tahu bahwa Malaikat adalah utusan Allah. Wasalam
@nasibi a.k.a wahabi
Bagaimana anda mentakwilkan hadis berikut pula ya:
Narrated Al-Aswad: In the presence of ‘Aisha some people mentioned that the Prophet had appointed ‘Ali by will as his successor. ‘Aisha said, “When did he appoint him by will? Verily when he died he was resting against my chest (or said: in my lap) and he asked for a wash-basin and then collapsed while in that state, and I could not even perceive that he had died, so when did he appoint him by will?”
v4,book55( The book of Wasaya), chapter1, hadith 2741,page16
Terjemahannya:
Al Aswad meriwayatkan, dalam kehadiran Aisyah, ada sahabat yang mengatakan bahawa Nabi saaw telah melantik Ali sebagai pengganti. Aisyah lalu berkata, ‘Bilakah Rasul melantik beliau secara wasiat? Sungguh, beliau wafat saat bersandar di dadaku (atau pangkuanku) dan beliau meminta bejana air dan wafat dalam keadaan begitu, dan aku tidak mengetahui bahawa beliau telah wafat, lalu bilakah beliau berwasiat?’
Utk onlinenya bisa dirujuk di sini http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/h…tml#004.051.004
Bukankah hadis ini menunjukkan adanya wasiat Rasul saaw?
Penolakan Aisyah bukanlah hujjah, kerna apa harus Rasul saaw berwasiat saat berada pada pangkuannya aja?
Tambahan pula hadis ttg wafatnya Rasul di pangkuan Aisyah bertentangan dgn hadis wafatnya Rasul di pangkuan Imam Ali as oleh Ummu Salama dan Jabir bin Abdullah al Ansari.
Salam
@ Aburahat
betul mas apa yg anda sampaikan..
hanya beda penulisan tp makna hampir sama dg yg saya maksud ketika menulis :
@aburahat
Maaf, MAS TELAH MELAKUKAN KEKELIRUAN BERULANGKALI
Ybs namanya Imem. Bukan Inem. Imem itu logat Betawi dari kata Imam. Sedangkan Inem entah muncul darimana. Itu hanya asumsi dari mas sy kira.
Salam
wah…iconnya ga muncul…?
@Imem
Maaf salah menulis nama anda. Saya tidak sengaja. Mata saya yang kurang awas. Untung ada peringatan dari sdr armand.
Terima kasih
Terimakasih kepada pemilik blog ini saya mendapatkan banyak manfaat….. jazakumullah ..
@bagir
itu sudah saya jawab bro.. tp smpai skrg msh under moderasi..
Hah, itu oleh si Ibnu Jakfari diambil dari syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid! Sorry ye.. bukan referensi kita tuch kitab, tapi syi’ah punya! ga ada nilainya di sisi kami.. wuakakakak
Oke kalo anda pake syarah Nahjul Balaghah, walopun kami tidak memakainya, coba perhatikan riwayat berikut ini, tentang pengakuan Imam Ali tentang sah-nya kepemimpinan Abu Bakar :
“Abu Sufyan mendatangi Ali AS dan mengatakan ‘Kalian dukung orang yang berasal dari marga yang terendah dikalangan Quraisy. Sungguh, kalau anda mau dicalonkan, akan kami kumpulkan pendu¬kung sebanyak-banyaknya’. Kemudian Ali menjawab : ‘Selama anda masih suka membuat onar dalam tubuh ummat Islam, tak ada guna¬nya dukungan anda itu. Kami tidak membutuhkan sumbangan ternak serta sekelompok pendukung, Andaikata Abubakar memang tidak pantas menduduki tempat itu, aku pasti tidak akan tinggal diam.” (Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abdil Hadid, juz I hal. 130)
@hadi
Siapa yang mengatakan itu? harus jelas dong. kalau tidak, itu berarti hanya rumor yg ada saat itu, hadits riwayat Bukhari mengenai perkataan Imam Ali yg dibawakan oleh saudara Imem di atas telah membantahnya, ditambah dg persaksian Aisyah ra.
Ada lagi riwayat dari Imam Ali berikut ini:
Kata-kata Imam Ali ra diatas sebagai bukti, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengangkat atau menunjuk seseorang sebagai penggantinya ataupun memberikan wasiat mengenai hal tsb.
Benar dan Rasulullah SAW diatas telah meninggalkan untuk umatnya sabda yang mulia
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
Begitulah yang ditinggalkan Rasulullah
@Imam
Artinya Imam Ali ingin mengikuti Rasulullah di saat beliau meninggalkan kaum muslimin yaitu tidak menunjuk pengganti
Dan anehnya Imam Ali sendiri ndak merasa tuch… kok bisa ya?
artinya kalian-lah yang keliru memahami hadits tsb.. makanya percaya dech ama kita
Banyak bukti menunjukkan Imam Ali mengklaim kekhalifahannya, salah satu buktinya adalah ketika di Rahbar Imam Ali meminta kesaksian para sahabat yang menyaksikan pengangkatan Beliau di Ghadirkum (HR Ahmad), artinya Imam Ali mengingatkan kepada Umat bahwa kekhalifahan yang dipimpin Beliau adalah khalifah pengangkatan Rasul tidak seperti khalifah sebelumnya. Rasulullah SWT telah meninggalkan bahwa Ahlul Bait yang mesti menjadi pemimpin bagi umat, begitulah hakikat hadis tsaqalain, maka dari itu Imam Ali merasa tidak perlu bicara soal penunjukkan karena Rasulullah SWT telah menunjuk Ahlul Bait sebagai pemimpin bagi umat. Seharusnya sunni sadar bahwa betapa dasar Imamah syiah bisa tegak berdiri dengan kitab-kitab referensi sunni
kebenaran datang dan kebatilan lenyap hanya nafsu yang menari-nari membawa pengingkaran.
@ Mr. Nashibi
Tak tunggu wiiis..koyo opo tho jawabane Nashibi…
Makanya dibaca lagi siapa menukil dari mana (ngerti mksdnya..?)…jangan geblek…Mu’tazili-pun jelas2 Suni..! Cuma Nashibi yg menolaknya dan mengatakan Ibn Abi Haddid adalah Syiah..!
Pertama…
Ente tau khan khutbah ke berapa yang disyarah..? makanya dibaca dulu, jangan asal copas artikel / buku cetakan nashibi nasibi sst yg seakan2 pas dg nafsu ente…
Abu Sufyan si terkutuk yg ingin bani Hasyim dan kelompok Abu Bakar ataupun umar berperang dan melemahkan satu sama lainnya shg bani umayyah dapat meraih supremasi dirinya kembali atas bangsa arab. Ia hanya akan mengambil manfaat dengan kejadian saqifah…kejadian ini pas wafatnya Rasul (saww), pas orang2 pada “ngumpul” di saqifah..
Kedua…
Abu Sufyan datang ke rumah Imam Ali (as) dan bersajak yang memuji keluarga Nabi. Ia lalu berkata: “Wahai Bani Hasyim! Wahai Bani Abdul Manaf! Apakah kalian menerima Abu Fasil memerintah kalian? Demi Allah, jika kalian ingin, aku bersedia memenuhi kota Madinah ini dengan kuda-kuda dan pasukan.
Imam Ali (as) menjawabnya spt ini lho Mr. Nashibi :
“Pergilah wahai Abu Sufyan..! Demi Allah engkau tidak sungguh2 dengan apa yang engkau katakan..! Engkau selalu memperdaya Islam dan umatnya dan kami sedang sibuk dengan (pemakaman) Rasulullah saww. Dan (mereka yang berkomplot untuk merebut kursi khalifah), mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.” Syarh Nahjul Balaghah volme 6 hlmn 17 cetkn Dar Ihya Kutub al Arabiyyah, Tadzkira al Khawwash al Ummah hlmn 121 (olh ibn al Jauzi), Tarikh , al Ya’qubi vol. 2 ctkn. Beirut (Dar Sadir) hlmn 126
Break dl sampai situ :
Aneh ya..Abu Sufyan yang kedoknya jelas, dg latar belakang spt dia bisa tau HAK Imam Ali (as) atas Khalifah, masa sahabat2 yg lain kaga ngerti..?? Abu Sufyan ini musuh Nabi saww dan hanya menyerah selang 2 thn sebelum Nabi saww wafat dia ingin memanfaatkan situasi saat itu..mana mungkin Imam Ali (as) terkecoh dan terhasud..?? tape dweeeh..
Sedangkan khutbahnya adalah :
“Wahai manusia, menghindarlah dari gelombang2 bencana dengan bahtera keselamatan, berpalinglah dari jalan perpecahan, dan tinggalkanlah mahkota kesombongan”
dan diakhir khutbahnya Imam berkata :
“Jika aku berbicara (demi menuntut hakku), mereka berkata, ia haus kekuasaan.” Dan bila aku berdiam diri, mereka berkata, “Ia takut mati.” Tidak, tidak sama sekali, setelah kekisruhan itu. Demi Allah, ini putra Abu Talib lebih bergembira terhadap kematian melebihi kegemibraan seorang anak yang menyusu pada ibunya!”
—-
Yang seakan2 sesuai dengan nafsu anda, apalagi cuma asal comot dari artikel2/buku cetakan para Nashibi, wah pasti anda pakai yach (walaupun bilang “ga kepake”, nyatanya ttp aja ditampilin…hihihi..) nah kalo yang spt ini mngkin ga sesuai dg nafsu ente ya..? :
Ibn Abi Al Hadid :
“Suatu ketika aku bertanya kpd Ali bin al Fariqi, guru Madrasah Maghribiyah di Baghdad, mengapa Abu Bakar tidak memberikan Fadak kepada Fatimah, sedangkan Fatimah berkata benar ..? Ia tersenyum dan berkata lembut serta bersungguh-sungguh ; ‘bila Abu Bakar menyerahkan Fadak, maka ia mengakui kejujuran dan kebenaran Fatimah. Maka apabila esoknya Fatimah datang kepadanya lagi untuk menuntut hak kekhalifahan suaminya (Ali bin Abi Thalib), maka ia (Abu Bakar) tidak akan dpt mengelak, karena ia harus konsisten dengan pengakuannya atas kejujuran dan kebenaran Fatimah. Dan hal ini akan menggoyahkan kedudukannya sebagai khalifah’. (Syarh Nahjul Balaghah jild 16 halmn 284)
Mr. Bagir Ar-Rafidhi
Entenono.. kanthi sabar yo mas Rofidhi… wuakakakak..
Sing geblek ki kowe, mu’tazili iku dudu sunni.. wah bocah iki sekolah po ra tho yo… rodo katrok Rofidhi siji iki whe la dalah! sing jelas padang jingglang Syarah Nahjul Balaghah kuwi pegangane Syi-ah rofidhoh koyok kowe kuwi.. ora laku, ora ono sanad-e.. wis pek2 en kono wis.. aku ra butuh wuakakakak..
Walopun ente jelasin ampe berbusa-busa, sy ga ambil pusink… itu bukan pegangan saya, itu pegangan Rofidhoh kyk sampean.. so useless banget. wuakakakak… yang penting di situ jelas Imam Ali mengakui kepantasan Abu Bakar jadi khalifah dengan sangat jelas sekali.. dah cukup banget itu… yg laen mah lewaaat…wuakakakak..
Kalo mo ambil syarah Nahjul Balaghah buat pegangan sampeyan para Rofidhi , silahkan..monggo… tp buat kita ga bangeeett… wuaakakak..
@all
Menurut saya sudah jelas dlm hadis2nya Nabi saw bersabda kepada Imam Ali : “Engkau sebagai KhalifahKu untuk
setiap mukmin setelahKu”. Kalau tidak percaya akan kebenaran hadis ini berarti ia adalah orang yg munkar kepada Al Qur’an dan As Sunnah.
Salam
@all
Menurut saya sudah jelas dlm hadis2nya Nabi saw bersabda kepada Imam Ali : “Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. Kalau tidak percaya akan kebenaran hadis ini berarti ia adalah orang yg munkar kepada Al Qur’an dan As Sunnah.
Salam
Demikian pula dgn Abubakar, Umar dan Utsman yg tidak mengakui Imam Ali as sebagai khalifah setelah wafatnya Rasulullah saw, eh… malah mengangkat diri sendiri di Saqifah Bani Sa’idah, tanpa musyawarah dgn Ahlulbait Nabi saw. Jelas ke-3 orang tsb adalah orang2 yg munkar.
Salam Damai
@antirafidhah
1. Hadis2 ttg pengangkatan Imam Ali as sbg khalifah sebelum wafatnya Rasul saaw banyak diketahui sahabat, sbb itulah mereka berbicara ttgnya(walaupun dinafikan Aisyah). Kami sajikan buat anda beberapa antaranya:
a. Bara’ bin Azib meriwayatkan, ‘Kami bersama Rasul saaw dalam sebuah perjalanan dan kami berhenti di sebuah tempat bernama Ghadir Khumm. Lalu dilaungkan azan utk shalat. Suatu tempat di antara dua pohon dibersihkan buat Rasul saaw. Baginda saaw lalu melaksanakan shalat Zuhur. Setelah itu, Baginda saaw memegang lengan Ali dan bersabda, ‘Tahukah kalian bahawa aku lebih utama terhadap jiwa orang2 beriman? Mereka menjawab, ‘Bahkan’. Periwayat berkata, sambil memegang lengan Ali, Rasul saaw bersabda, ‘Barangsiapa yg menjadikan aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya. Ya Allah, kasihilah siapa yang mengasihinya dan musuhilah siapa yg memusuhinya’. Perawi meneruskan, ‘Setelah itu Umar dtg lalu mengucapkan, ‘Tahniah wahai putera Abi Talib, anda telah menjadi wali bagi setiap mukmin pagi dan petang selamanya’
-Musnad (4:281); melalui dua jalur
-Ibn Abī Shaybah, al-Musannaf (12:78 # 12167)
-Hindī, Kanz-ul-‘ummāl (13:133, 134 # 36420)
-Ibn ‘Asākir, Tārīkh Dimashq al-kabīr (5:167, 168)
-Ibn Kathīr al-Bidāyah wan-nihāyah (4:169; 5:464).
-Manāwī Fayd-ul-qadīr (6:217)
-Dhahabī Siyar a‘lām-in-nubalā’ (2:623, 624)
b. Ibnu Buraidah meriwayatkan dari bapanya bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku wali maka Ali adalah walinya’
-Ahmad bin Hambal al-Musnad (5:361), Fadā’il-us-sahābah (2:563 # 947)
-Hākim, al-Mustadrak (2:131 # 2589)
-Ibn Abī Shaybah, al-Musannaf (12:57 # 12114)
-Tabarānī, al-Mu‘jam-ul-kabīr (5:166 # 4968), al-Mu‘jam-ul-awsat (3:100, 101 # 2204)
-Ibn ‘Asākir, Tārīkh Dimashq al-kabīr (45:143)
-Haythamī, Majma‘-uz-zawā’id (9:108)
-Hindī in Kanz-ul-‘ummāl (11:602 # 32905).
c. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al Ansari, ‘Saat kami berada di Ghadir Khumm di Juhfah, Nabi saaw keluar sambil memegang lengan Ali dan bersabda, ‘Barangsiapa yang aku adalah Maulanya maka Ali Maulanya’.
- Ibn Abī Shaybah al-Musannaf (12:59 # 12121)
-Hindī, Kanz-ul-‘ummāl (13:137 # 32433)
-Ibn ‘Asākir, Tārīkh Dimashq al-kabīr (45:169, 170, 172)
-Ibn Kathīr al-Bidāyah wan-nihāyah (4:173), az Dzahabi menilainya hasan.
Para sahabat telah menyaksikan dan mendengar pengangkatan Imam Ali as tersebut…makanya mereka berbicara ttg wasiat yg dinafikan Aisyah itu.
Penafian Aisyah ttg adanya wasiat itu tidak bisa dijadikan hujjah kerna sikap permusuhannya pada Imam Ali as telah umum diketahui.
Badr al Din Hanafi dlm “Umdah al Qari fi Sharh Sahih al Bukhari” jilid 2 hlm 740, bab 4 “Hud ul Mareez”- menjelaskan:
” Aisyah, tidak tidak bisa mendengarkan apa2 yg baik ttg Ali, dan ini adalah bukti yang kukuh ttg permusuhannya terhadap Ali”.
2. Kami sering temukan riwayat2 Imam Ali as dlm kitab Bukhari yg bertolak belakang dari apa yg dianuti Syiah ttg Imam Ali as. Namun kebanyakannya(kami percaya semuanya) yg memuji muji Syeikhein adalah palsu dan buatan musuh2 Ahlul Bayt as. Begitu juga hadis ttg Abbas meminta Ali bertanyakan ttg wasiat. Hadis ini bermasalah pada beberapa sisi:
a. Adanya banyak hadis ttg wasiat perlantikan Imam Ali as.
b. Bertentangan dgn pernyataan Imam Ali yg mengakui haknya ke atas jabatan khalifah (Khutbah Syiqsiqiyah)
3. Riwayat Ahmad yg anda bawakan bahawa Imam Ali tidak mengangkat Imam Hasan as kelihatannya bercanggah dengan riwayat berikut:
Ali ibn Ibrahim has narrated from his father from Hammad ibn ‘Isa from Ibrahim ibn ‘Umar al-Yamani and ‘Umar ibn ’Udhayna from Sulaym ibn Qays who has said the following. “I witnessed Amir al-Mu’minin Ali’s (a.s.) will made before me in which he appointed his, al-Hassan (a.s.) as the executor. He called al-Husayn (a.s.), Muhammad and all his other sons, all the leaders among his followers and his whole family to bear testimony to his will. He then delivered the Book and the Armament to his son al-Hassan (a.s.) and said, “My son, the Messenger of Allah commanded me to appoint you as the executor of my will. (He commanded me) to deliver to you my books and my Armament just as the Messenger of Allah did. He made his will in which he appointed me as the executor, delivered to me his books and his Armament and commanded me to command you to deliver them to al-Husayn (a.s.) when you will be about to leave this world. Then he turned to his son, al-Husayn (a.s.) and said, “The Messenger of Allah has commanded you to deliver them to your son, this one. Then he held with his hand Ali ibn al-Husayn (a.s.) and said to him, “The Messenger of Allah has commanded you to deliver them to your son, Muhammad ibn Ali and convey to him the Islamic greeting of the Messenger of Allah and my Islamic greeting.” (al Kafi ,The Book about People with Divine Authority, H 773, Ch. 66, h 1)
Ali ibn Ibrahim has narrated from his father from ibn abu ‘Umayr from’’Abd al-Samad ibn Bashir from abu al-Jarud from abu Ja‘far (a.s.) who has said the following. “When Amir al-Mu’minin Ali (a.s.) was about to leave this world, he called his son, al-Hassan (a.s.) saying, ” Come very close to me so I can speak to you secretly just as the Messenger of Allah did to me and entrust you with all that he entrusted me with and he did so.” ((al Kafi ,The Book about People with Divine Authority,H 774, Ch. 66, h 2)
Mohon dijelaskan ya.
Salam Damai
-
@Imem
Anda tidak mengakui hadits2 yang shahih tetapi percaya 100% hadits yang direkayasa.
Sampai dimana KEJUJURAN anda mengakui ILMU PENGATAHUAN?
Anda katakan: Walopun ente jelasin ampe berbusa-busa, sy ga ambil pusink… itu bukan pegangan saya, itu pegangan Rofidhoh kyk sampean.. so useless banget. wuakakakak… yang penting di situ jelas Imam Ali mengakui kepantasan Abu Bakar jadi khalifah dengan sangat jelas sekali.. dah cukup banget itu… yg laen mah lewaaat…wuakakakak
Lalu ngapain anda diblog ini? Membaca tulisan anda yang untuk PROMOSI anti Syiah?
@antirafidha
Anda katakan:Kata-kata Imam Ali ra diatas sebagai bukti, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengangkat atau menunjuk seseorang sebagai penggantinya ataupun memberikan wasiat mengenai hal tsb.
Saya sudah katakan anda2 Wahabi/Salafy tdik mengerti apa yang anda2 tulis apalagi bisa mengerti mengenai hadits/riwayat. Coba anda baca benar2 yang ditulis oleh sdr Hadi.
Yah percuma aja otak kalian tidak bisa menjangkau pengertian yang ditulis
Untuk anda2 Wahabi/ Salafy.
Saya akan beberkan ketidak pantasan Abubakar, Umar dan sahabat yang anda2 agungkan. Insya Allah (yang menurut imem pantas)
@hadi
Percuma saja anda jelaskan pada mereka. Sdr kita SP sudah membahas. Sampai membawakan ayat Wilayah. Tapi tetap mereka tidak mengakui.
Bagaimana mereka mengakui kebenaran sedangkan mereka menolak kebenaran maka bagi mereka berlaku ayat:
Khattamullah ala Quluubihim., wa ala samihim wa ala absharihim. Wasalam
Sdh jelas Imem tuh Nashibi, buktinya dia ngomong :
“Hah, itu oleh si Ibnu Jakfari diambil dari syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid! Sorry ye.. bukan referensi kita tuch kitab, tapi syi’ah punya! ga ada nilainya di sisi kami.. wuakakakak” atw yg ini “Walopun ente jelasin ampe berbusa-busa, sy ga ambil pusink… itu bukan pegangan saya, itu pegangan Rofidhoh kyk sampean.. so useless banget. wuakakakak…”
Dia tdk mau mengakui Nahjul Balgah, padahal jangankan muslimin, orientalis saja tahu bhw Nahjul Balgah adl puncak kefasihan sayyidina Ali kw dan merupakan salah satu KEUTAMAANNYA. Hehehe….. Nashibi yg bertaqiyyah, pura 2x mencintai Ahlul Bait, tp serapi – rapinya bangkai ditutup dia sendiri yg mengeluarkan baunya !
@imem
Pada Juli 13th anda telah membawakan riwayat..: “Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar…”
Bukankah hadis ini dari riwayat anaknya sendiri Aisyah? Tidaklah menghairankan. Lalu persoalannya:
a. Mana wasiat yg kononnya hendak dituliskan oleh Nabi saaw agar umat tidak memperebutkan jabatan?
b. Mengapa Abu Bakar tidak pernah berhujjah dgn riwayat anaknya ini sampai mati?
c. Jika wasiat ini ada, lalu mengapa Abu Bakar saat akan mati, berkata dgn penyesalan:
‘Aku tidak menyesali sesuatu dari dunia ini, kecuali:
1. Tiga yang kulakukan, seharusnya tidak kulakukan (laitani kuntu taraktu hunna)
2. Tiga yang tidak kulakukan, seharusnya kulakukan (laitani kuntu fa’altu hunna)
Tiga yang kulakukan tapi seharusnya tidak kulakukan adalah:
1. Aku ingin agar aku tidak membuka tirai rumah Fathimah biarpun dengan demikian akan timbul peperangan.
2. Aku ingin agar tidak membakar Fuja’ah asSilmi. Aku seharusnya segera membunuhnya dan menghabisinya.
3. Aku ingin pada peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, aku memikulkan beban khalifah di pundak satu dari dua orang, ‘Umar atau Abu ‘Ubaidah dan aku jadi wazirnya.
Tiga yang tidak kulakukan dan ingin kulakukan adalah:
1. Seharusnya kupenggal leher Asy’ats bin Qays dan tidak membiarkan ia hidup.
2. Sebaiknya kukirim Khalid bin Walid ke Syam dan ‘Umar bin Khaththab ke Irak.
3. Aku mestinya bertanya kepada Rasul, siapa seharusnya jadi khalifah, agar tidak akan berselisih dua orang. Kuingin bertanya apakah kaum Anshar juga berhak atas kekhalifahan ini, dan aku ingin tanyakan mengenai warisan terhadap putrinya.
(al Imamah wa al Siyasah, Ibnu Qutaibah.
Salam Damai
@aburahat
Benar Mas…semboyan mereka…’Bantah aja apapun yg bisa membuktikan kebenaran kekhalifahan Ali walaupun shahih dgn cara:
a. Cari cacat riwayatnya, jika tidak bisa
b. Takwilkan riwayat itu dgn apa cara sekalipun, jika tidak bisa
c. Bawakan hadis2 palsu yg mengutamakan lawan2 Imam Ali…
Salam Damai
Tambah Aneh nih Diskusinya ??
jadi intinya Imem dan AntiRafidhah ga mau mengakui keutamaan Ahlul Bayt, tapi lebih mengutamakan Sahabat.
Dan tidak mengakui Dalil dalil yang di berikan oleh yang lain.
Yoo Wiss,
salam damai.
Mr. Nashibi
Nhaaaa… klhtn bgt tho “anak didikan” si Taymiyah LA…wuakakakak….wis dikandani wong geblek yo geblek..khan cuma Nashibi Wahabi sing ngomong Mu’tazili bukan suni..emange Nashibi Wahabi iku suni..??? wuakakakaka…
makanya jgn cuma bisa copas..lht tuh copasan anda,,,sama ga isinya sm yg ada di : Tadzkira al Khawwash al Ummah hlmn 121 (olh ibn al Jauzi), Tarikh al Ya’qubi vol. hlmn 126.
Dasar gebleeek..gebleek…jenggot pitung ler di ingu..sifat Nahibi di ingu…wuakakakak
—
@ All
Pokonya dari copasan manpun kalo sesuai dg nafsu si Nashibi ini, pst mrk pakai…klo tidak maka “singkirkan”…hihihi..lha wong asal copas artikel2 Nashibi dan ga tau isi aslinya ko sok tau…wis pokoknya mirip Si Taymiyah lah sikapnya thd Ahlul Bait (as)…hihihi..
@ All
Bagi Nashibi Wahabi apapun yang membahayakan keyakina mereka akan selalu dibuang jauh2, mereka tidak segan untuk merubah isinya pdhl itu kitab2 suni sdri..anehnya mereka ngaku2 Suni, ibarat tubuh muslim adalah satu tubuh, dan Nashibi Wahabi ini adalah kanker alias penyakit..! Syeikh Muhammad Nuri Dirtsawi dlm Rudud ‘ala Syubahaat Salafiyah hlm. 249 mengatakan :
“Merubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah merubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus. Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsir beliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hambali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali. Kitab Syarah Shohih Muslim pun (telah dirubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali”.
Jadi mo kaya apapun dijelasin kalo ga sesuai nafsu mereka..yaaah sdh taulah jwb2 nashibi di atas spt…
@imem
tolong periksakan kejiwaan anda……
kenapa anda sering melencengkan maksud dari hadist nabi, dosa nya besar lho…… gag takut apah?
@hadi
Yang menafikan bukan hanya Aisyah tetapi Imam Ali sendiri, berdasarkan riwayat yg telah saya & saudara Imem sebutkan.
Baik, saya tambah satu lagi (masih banyak yg lain kalau anda mau)
Dalam Shahihain diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat), maka sesungguhnya dia telah berkata dusta!” Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah :
Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. Dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan”. (Shahih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal muwada’ah bab zimmah al-muslimin 6/273 dari Fathul Bari, Shahih Muslim Hadits no. 1370, Abu Dawud dalam al-Manasik 2/216, Musnad Ahmad 2/44)
Sedangkan hadits Ghadir Khum yg berbunyi : “Man kuntu MAULA fa’aliyyun maula” tidaklah kami memahaminya sebagai penunjukkan khalifah atas Ali setelah Rasulullah wafat, melainkan sebagai penegasan loyalitas (sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’) kepada Imam Ali yang saat itu baru kembali dari Yaman, yang saat itu beliau adalah pemimpin rombongan tsb. Hal tsb diucapkan Rasulullah berkenaan dengan keluhan dari beberapa anggota rombongan akan kepemimpinan Imam Ali. sehingga Rasul perlu mengucapkan perkataan tersebut, agar mereka kembali loyal & ta’at kepada Imam Ali. Jadi bukan masalah penunjukkan khalifah setelah Rasulullah wafat.
Maaf argumentasi anda tidak berdasar dan lemah. Saya telah buktikan bahwa Imam Ali sendiri membantah bahwa beliau diberi wasiat kekhalifahan setelah Rasulullah wafat berdasarkan hadits2 shahih.
Al-Kafi bukan referensi kami, jadi kami menolaknya, sebagaimana yg pernah saudara Imem sampaikan, bagi kami riwayat2 syi’ah tidak bisa dibandingkan dengan riwayat2 sunni. istilah bung Imem “ga level bro”
@Antirafidhah
Riwayat yang anda bawakan: Dalam Shahihain diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat), maka sesungguhnya dia telah berkata dusta!” Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah :
Saya katakan BOHONG
Karena bertentangan dengan Firman Allah.
Rasul banyak berwasiat kepada keluarganya dan Imam Ali.
Salah contoh dalam Shahih al-Bukhari hadits 9468 dan 7573, 4393, 5716 dalam Shahih Muslim dalam Kitab Al-Wasyyiah, bagian at-Tark al-Wasyyiah jil 3 hal.1259
Rasul bersabda: “Ambilkan sebuah tulang pipih atau kertas serta tinta agar aku dapat menuliskan PERNYATAAN
yang akan membuat kalian tidak tersesat sepeninggalku”
Lalu Umar b. Khattab berkata: “Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau”
Dan apakah setelah Rasul tidak jadi menulis kemudian tidak berwasiat? Apakah Rasulullah mau menentang Firman Allah sehingga wasiat yang tidak jadi ditulis itu tidak
disampaikan pada keluarganya atau Imam Ali . Dan banyak lagi wasiat Rasul
Dan :Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. Dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan”. (Shahih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal muwada’ah bab zimmah al-muslimin 6/273 dari Fathul Bari, Shahih Muslim Hadits no. 1370, Abu Dawud dalam al-Manasik 2/216, Musnad Ahmad 2/44)
Coba anda jelaskan maknanya. Kalau saja anda tidak merubah isinya.
Dan:untuk arti MAULA yabg menurut anda tidak berarti pemimpin. Itu karena anda tidak memahami Alqur’an dan tidak membaca hadits2 Rasul
Anda2 kelompok Wahabi/Salafy hanya berasumsi atau membawa hadits palasu dengan mengatas namakan
@antirafidhah
1.Anda keliru bila menyatakan bahawa Imam Ali as menafikan wasiat kekhalifahan Nabi saaw buat beliau. Buktinya:
a. Imam Ali as tidak mahu membaiah Abu Bakar selama 6 bulan. Bisa anda nyatakan alasan tersebut? (anda tentu ‘ahli’ dlm hal2 pentakwilan nas2 muhkamat)
b. Dan mengapa Bani Hasyim dan sahabat2 besar spt Salman, Abu Dzar dan Zubair turut memboikot Abu Bakar bersama Imam Ali as?
c. Imam Ali as saat di al Rahbah telah meminta kesaksian ttg sabda Nabi saaw pada Ghadir Khumm dari para sahabat yg mendengar dan menyaksikan peristiwa itu..(Imam Ahmad Al-Musnad 4: 370)
Tidakkah aneh bahawa dgn perilaku begini…Imam Ali as menafikan wasiat atasnya?
2. Anda mengatakan bahawa argumentasi kami ttg hadis2 Sahihain yg menyangkut pujian Imam Ali as terhadap Syeikhein adalah lemah dan tidak berdasar? Anda hanya perlu meminta bukti dari kami aja…dan akan kami persembahkan buat anda sbg tatapan
3. Anda ingin membahaskan ttg hadis ‘Man kuntu MAULA fa’aliyyun maula’ dari segi maknanya? Baiklah, kami siap.
MAKSUD HADIS AL GHADIR
Utk memahami hadis ini kita harus tahu apa hal2 berikut:
a. Apakah ada perbedaan antara kata ‘wali’ dan ‘maula’? Ini kerna kata ‘wali’ wujud dlm sesetengah hadis dan sebagian lagi wujud dgn kata ‘maula’.
b. Jika kedua kata itu memiliki satu maksud, apakah makna ‘maula’?
c. Apakah maksud Nabi saaw dgn kata ‘aula’ yg muncul dlm banyak riwayat yg dibicarakan?
Kedua kata ‘wali’ dan ‘maula’ memiliki makna yg hampir sama kecuali kata ‘wali’ bisa dikaitkan dgn urusan dan juga wujud rasional.
Makanya, anda bisa mengatakan bahawa si fulan adalah wali masjid atau Allah adalah wali orang2 beriman.
Namun kata ‘maula’ hanya bisa dikaitkan dgn wujud rasional. Makanya, anda bisa berkata Maula bagi orang2 beriman, namun tidak Maula bagi masjid.
Terdapat kurang lebih 25 maksud Maula (Mas SP, bantu betulkan mana yg silap ya):
1. Pengagum
2. Jiran
3. Tetamu
4. Sekutu
5. anak lelaki
6. sepupu lelaki
7. anak saudara lelaki
8. menantu lelaki
9. kerabat
10. paman
11. teman
12. penderma
13. yg diderma
14 kelompok pakatan
15. pembebas
16. Tuhan
17. pemilik
18. Ketua
19. hamba
20. pengikut
21. penolong
22. orang yang lebih berhak
23. pentadbir bagi sesuatu urusan
24. wali
25. sekutu
Kata ‘maula’ mungkin telah digunapakai utk kesemua makna di atas. Namun 15 yg pertama tidak biasa digunakan dan tiada yg mengenal kata maula utk hal itu. Tiada dari maksud tersebut yg difahami dari kata ‘maula’ kecuali dgn bukti tambahan.
Ini berarti apabila kata ‘maula’ disebut, para pendengar memahaminya pada 10 maksud terakhir di atas, bahkan hanya dua dari 10 itu yg paling sesuai dgn kata ‘maula’ iaitu Tuan/pemilik atau hamba.
Dalam hadis al Ghadir, kata ‘maula’ tidak mengindikasikan 15 makna awal itu. Makna jiran, tetamu, sekutu, anak lelaki, anak saudara lelaki, menantu, teman tidaklah dimaksudkan Nabi saaw buat Imam Ali as dlm hadis al Ghadir. Ini kerna Rasulullah saaw bukanlah semua itu buat buat para sahabat yg mendengarkan hadis tersebut di Ghadir Khumm, juga bukanlah ‘maula’ itu bermaksud saudara maupun sepupu, kerna itu tidak masuk akal.
Tidaklah waras jika dikatakan bahawa Rasul saaw mengumpulkan sahabat2 semata mata utk mengatakan bahawa Ali adalah sepupu Baginda saaw
Tidaklah juga utk menyatakan bahawa Ali mengagumi siapapun yg dikagumi oleh Nabi saaw
Tidak juga Nabi saaw ingin mengatakan ‘maula’ sbg yg mendapat derma kerna Nabi tidak memperolehnya dari manusia yg ramai tersebut
Juga bukan utk mengatakan penderma kerna secara materi, Nabi saaw tidaklah menderma pada semua yg hadir itu
Tidak juga sebagai pembebas kerna sebagian besar Muslim bukanlah hamba pada masa itu maupun sesudah itu
Sepuluh maksud terakhir itu pun tidak semuanya sesuai kerna mustahil Nabi memaksudkan kata Tuhan (Lord) kerna itu menghina kesucian, tidak juga pengikut atau hamba kerna Nabi saaw bukanlah pengikut maupun hamba manusia, tidak juga pemilik sbb Nabi bukanlah pemilik manusia, tidak juga sekutu kerna Nabi saaw adalh pemimpin mereka dan bukan juga bermaksud sekutu spiritual kerna Nabi saaw bukanlah sekutu bagi mereka yg zalim yg berjumlah besar saat itu
Tidak juga penolong, kerna Nabi saaw bukanlah penolong orang2 yg zalim ataupun mereka yg ingkar.
Hanya tinggal empat maksud iaitu ketua, orang yg lebih berhak, pentadbir bagi sesuatu urusan dan wali. Namun kata wali tidak bisa dimaknai kecuali bagi tiga maksud pertama iaitu ketua, org yg lebih berhak dan pentadbir bagi sesuatu urusan kerna kata wali tidak bisa berdiri sendiri.
Ketua adalah kata yg sesuai kerna ia bermakna pemimpin atau orang yang diikuti kerna Nabi saaw diikuti oleh seluruh umat Islam. Rasul saaw juga memiliki otoritas atas yg lainnya dan adalah pengatur urusan umat Islam. Semua makna ini mendekati satu sama lain dan serupa dgn makna pemimpin atau orang yg patut diikuti.
Maka,apabila kata ‘maula’ bererti yg memiliki otoritas atas semua mukmin lebih dari diri mereka sendiri dan yang lebih berhak mengurus urusan mereka, maka Imam Ali as adalah pemimpin dan pengatur urusan kaum Muslim atas perintah Tuhan, kerna Nabi saaw adalah pemimpin dan pengatur urusan mereka atas perintah Tuhan.
Nabi saaw ingin mengatakan bahawa Ali adalah seperti Baginda iaitu Maula bagi setiap orang Islam bagi setiap generasi.
Lalu apa pula makna ‘aula’ apabila Nabi saaw menujukan pertanyaan tersebut kpd hadirin…’bukankah aku lebih ‘aula’ atas diri kamu dari kamu sendiri?’
Ada dua makna ‘aula’ di sini:
Pertama, orang yg lebih berhak.
Kedua, yg lebih sesuai( ini lebih sesuai utk benda ketimbang manusia), kerna adalah mustahil utk Rasul saaw berkata, ‘Bukankah aku lebih sesuai ke atas orang beriman berbanding diri mereka sendiri?’. Rasul saaw ingin mengingatkan umat akan firman Allah berikut, ‘ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…’ QS 33:6
Ayat ini menjelaskan ttg hak Nabi saaw ke atas umat ketimbang diri mereka sendiri dlm segala urusan mereka dan mereka wajib menaati Baginda saaw.
Al Quran berbicara ttg hal ini pada beberapa ayat, satu darinya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
QS. al-Ahzab (33) : 36
Jika kita memahami hal ini maka tidaklah sulit utk kita menangkap apa maksud Nabi saaw saat mengucapkan kata2 yg sama di Ghadir Khumm…Nabi saaw ingin mengatakan bahawa Ali adalah spt beliau saaw dlm hal ini.
Dan saat Nabi saaw berkata, ‘Barangsiapa aku maulanya maka Ali adalah maulanya’, tidaklah bermaksud lain kecuali hak atas urusan mereka sbgmana Nabi saaw berhak dlm hal itu atas mereka.
Hadis Tsaqalain yg dibahaskan oleh Mas SP dlm blog beliau ini adalah pelengkap bagi maksud yg dikatakan oleh Nabi saaw.
Jelas bukan? (Namun kami yakin, anda mahir dlm bersilat lidah)
4. Anda menolak bukti dari jalur kami dgn alasan ia tidak bisa dibandingkan dgn riwayat2 jalur anda. Kami bersetuju dgn anda kerna ulama anda telah berbicara ttg perawi2 yg puak anda andalkan itu:
Syu’bah berkata, ‘Aku tidak melihat seorangpun yg tidak melakukan tadlis kecuali Amr ibn Murra dan Ibn Aun’.
-Tahdheeb al-Tahdheeb, tarjamah ttg Amr ibn Murra al-Jamali
-Mizan al-Itidal, Vol. 5, p. 346
Tajuddin Subki writes in “Tabaqat Shafia al-Kubra” under “Ahmad bin Saleh al-Misri”:
“…If we give “Jarh” (criticizm) preference over “T’adeel” (defence) then NONE of Our ‘Aima (of Hadith) would be spared, while there is not even a SINGLE Imam who has not been Criticized/Cursed طعن from the Criticizer طاعنون
Yahya bin Ma’in telah mengkritik Bukhari dgn berkata bahawa Bukhari adalah ahli bida’ah dan Murjiah.
-Fathul Baree Volume 13 page 490
- Tabaqat Shaafeeya Volume 2 pages 12-13
- Tareekh Baghdad Volume 2 page 32
Memang ga level bro…have a taste of your own medicine
Salam Damai
@antirafidhah
Maaf ya lupa…bisa jelaskan mengapa Umar, setelah Nabi saaw mengumumkan kata MAULA buat Imam Ali as, dtg lalu mengucapkan tahniah sambil berkata, “Tahniah wahai putera Abi Talib, anda telah menjadi wali bagi setiap mukmin pagi dan petang selamanya”.
Mohon pencerahan yg tidak berkelit ya
@hadi
Umar tidak pernah berkata begitu. Kami tidak mengenal hadits tsb. Hehehe. Jangan BERASUMSI saya mewakili NASHABI. Wasalam
@aburahat
Ah…kalau gitu saya berASUMSI bahawa Imam Ali as yg mengucapkan tahniah pada Umar…bisa terima ga ASUMSI kayak gini…hehe
Salam Damai
@hadi
Kapan mereka berdalil dengan nash. Selama saya ikuti tdk pernah membawa nash Alqur’an. Atau kalau kita bawa nash Alqur’an pasti tidak dijawab. Tapi coba kita bawa hadits atau riwayat pasti dibantah dengan hadits rekayasa mereka atau mereka katakan hadits SYIAH.
Dan kalau dibahas secara logika hampir semua adalah asumsi tanpa dasar. Jadi kita berasumsi aja dengan mereka.
Seperti jawaban sdr arman utk lamaru.
O ya sekali pernah nash Alqur’an yaitu 10 sahabat masuk surga. Wasalam.
@hadi
Kalau itu terlalu menyolok mas. Karena meliwati Abubakar
@aburahat
Hehe…benar juga tuh…
mulai sekarang jangan kita mempersoalkan para sahabat rasulullah , tetapi hendaknya mulai merapatkan barisan untuk menghadapi yahudi dan nasrani yang telah berhasil memporak porandakan mayoritas ummat muslim sayang sekali, hanya sedikit muslim yang menyadari bahwa muslim selalu diadu domba mereka dengan mempersoalkan sejarah islam , mari kita mulai berlapang dada , jangan saling menikam sesama muslim, belajar dari yahudi yang walau punya banyak aliran namun satu pendirian dalam menghadapi goyim ( non yahudi ) , mereka hanya curang dan culas dalam bergaul dengan goyim , namun akan saling sayang menyayangi dengan sesama yahudi walau berbeda aliran baik yang sangat extrem maupun liberal , mari buka mata kita semua muslim dunia harus bahu membahu tanpa menghiraukan perbedaan mazhab / aliran
@bekka plond
Saya yakin anda pernah membaca sejarah.
Sejarah mengenai penyerangan Abraha ke Makkah.
Pada waktu itu Abdul Muthalib sebagai kuasa untuk menjaga Ka’abah. Disamping raja Abraha mau membawa Ka’bah juga merampas ternak Abdul Muthalib. Abdul Muthalib mendatangi
raja Abraha dan meminta kembali ternaknya. Raja Abraha heran. Ia mengatakan anda menguasai Ka’bah. Mngapa anda tidak melarang saya mengambil Ka’bah, tapi yang anda minta adalah ternak? Supaya anda tahu karena Ka’bah maka saya kesini menyerang Makkah. Kok hanya ternak anda yang anda persoalkan dan bukan Ka’bah.
Abdul Muthalib menjawab : Ka’abah ada Pemiliknya. Biar Dia yang mengurusnya. Tapi ternak adalah milikku maka aku yang mengurusnya.
Jadi bukan Yahudi harus kita hadapi tapi diri kita dulu.
Sudah benarkah kita dalam menjalankan agama yang kita anut? Soal musuh2 Islam kita serahkan pada Allah.
Tetapi dengan adanya musuh2 Islam kita harus mawas diri. Wasalam .
@imem:
Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..
He he memang kalau menurut Bukhori urutan org2 yg mempunyai keutamaan setelah Nabi saw diurutkan sesuai periode kekhalifahannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali. He he lucu juga. Tapi apa dasar Bukhori menentukan urutan spt itu ? Apa Bukhori lebih tau dari Nabi saw ? he he ketauan banget rekayasanya.
Kalau memang periode yg jadi patokan, berarti Nabi yg paling utama diantara para anbiya adalah Adam ? Saya kira engga mesti demikian dan nyatanya memang tdk demikian. Muhammadlah Nabi yg paling utama diantara para nabi lainnya. Dan yg ngomong adalah Al-Quran dan Nabi Muhammad sendiri.
Memang sampai kapanpun pandangan Imem cs dan SP cs engga akan bisa ketemu. Imem cs beranggapan bahwa setelah khataman Nabiyyin, maka tdk ada lagi manusia suci/kepemimpinan ilahiyah sampai Hari Kiamat. Siapa saja boleh menjabat kekhalifahan pasca Nabi. Apakah org itu mantan penyembah berhala atau bukan engga ada masalah. Kebetulan Bukhori dll. dlm kitabnya menulis Bab Keutamaan para sahabat dg urutan di mulai dari Abu Bakar sampai Ali (sesuai periode kekhalifahan). Dan urutan ini sdh baku dan menjadi salah satu akidah Aswaja. Kalau urutan ini diacak-acak, wah bisa gawat tuh dan bisa kacau akidahnya ! Makanya dg berbagai argumentasi dipertahankan mati-matian.