Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?
Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasa cara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang terkadang mengundang tanda tanya bagi orang yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwa sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.
Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinya anda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa diantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.
Dalam kitab Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.
Matan hadis Shahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik. Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolak ada sahabat Nabi munafik mengatakan bahwa hadis Shahih Muslim di atas menceritakan bahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalam Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi
حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKu ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.
Kedua hadis Shahih Muslim diatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orang bahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabi tidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya
- Hadis yang satu menyatakan Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
- Hadis yang lain menyatakan Diantara UmatKu ada dua belas orang munafik
Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakan bahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi. Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kata SahabatKu adalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kata UmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalah diantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik. Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilan bahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafaz SahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.


@SP
Mas…perbahasannya makin keren ya. Kami sudah mendengar hadis ini, namun apologi yg mereka suguhkan adalah ia mengenai Ibnu Ubay dan teman2nya.
Aneh…sebentar mereka bilang orang munafik bukan sahabat, namun bila ketemu hadis ini malah org munafik tiba2 berstatus sahabat…hmmm
Salam Damai
Ada hal2 yg bisa disimpulkan dari hadits di atas : bahwa ternyata Rasulullah atas kehendak Allah mengetahui siapa-siapa orang munafik di masa beliau dan jumlahnya hanya 12 orang saja, berarti sebagian besar sahabat Rasulullah adalah bukan munafik.. dilihat dr jumlah org2 munafik tsb, persentasinya sgt kecil sekali.. dan Sahabat Hudzaifah adalah pemegang nama2 org2 munafik tersebut.
Adakah kibarul sahabat seperti 4 khulafaur rasyidin termasuk di dalamnya? Jawabnya jelas tidak mungkin, karena begitu banyak riwayat yg shahih yg mentanzih mereka.
saya heran apa sih yg dibingungkan dari hadits2 di atas? Apakah krn salah satu hadits di atas menyebut kata “sahabat” yg diantara mrk trdapat 12 org munafik?
Ok mari kita lihat hadits2 yg lain yang masih berkaitan dg org munafik :
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah ra., “Kami berada dalam sebuah perjalanan perang, kemudian seorang Muhajirin mendorong seorang Anshar. Seorang Anshar itu berkata meminta tolong, ‘Wahai orang-orang Anshar!’ Dan seorang Muhajirin itu pun memanggil kawan-kawannya, ‘Wahai orang-orang Muhajirin!’ Allah memperdengarkan kejadian itu kepada Rasulullah dan beliau berkata, ‘Apa-apaan ini?’ Mereka berkata, ‘Seorang Muhajirin mendorong seorang Anshar, maka orang-orang Anshar itu berkata, ‘Wahai orang-orang Anshar’ dan orang-orang Muhajirin itu berkata, ‘Wahai orang-orang Muhajirin.’ Rasulullah SAW berkata, ‘Tinggalkan itu. Sungguh yang demikian itu adalah tradisi buruk.’ Ketika Rasulullah datang, baik orang-orang Anshar atau Muhajirin sudah saling berkumpul. Dalam kondisi seperti itu Abdullah ibn ‘Ubay berkata, ‘Apakah mereka sudah melakukan? Demi Allah, jika kita kembali ke Madinah, orang-orang mUlia akan mengusir orang-orang hina dari Madinah.’ Mendengar ucapan Abdullah ibn Ubay, Umar ibn Khaththab berkata kepada Rasulullah, ‘Biarkan aku memenggal leher orang munafik ini wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Jangan ,membuat orang-orang berkata bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya!’” (HR. Bukhari)
Di antara peristiwa yang serupa dengan kejadian di atas adalah bahwa Abdullah bin Ubay sewaktu berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madlnah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya,” (al-Munafiqun:8 ), dan berkata, “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah),” (al-Munafiqun: 7). Maka, seketika itu Umar pun meminta izin untuk membunuhnya. Namun, Nabi malah berkata, “Kalau demikian, banyak orang di Madinah nanti yang akan gemetar/lari karenanya,” dan beliau juga berkata, “Niscaya orang-orang akan berbicara bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya.” Kisah ini sudah sangat masyhur dan disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim.
Dalam kisah2 di atas, terlihat rasulullah menyampaikan kekhawatirannya bahwa dg membunuh Abdullah bin Ubay (gembong munafik wkt itu) akan mengakibatkan orang2 di luar Islam dan jg org2 awam yg baru masuk Islam akan menganggap bahwa beliau membunuh sahabat beliau. Karena orang2 tsb tahunya si Abdullah bin Ubay ini sudah memeluk Islam dan hidup membaur dengan kaum muslimin dan sering juga bertemu dengan Nabi, sehingga mereka akan menyangka dia adalah sahabat Nabi.
Pertanyaan saya, apakah istilah sahabat yang digunakan oleh Rasulullah untuk Abdullah bin Ubay di atas adalah sahabat dalam arti sebenar-benar sahabat? Yaitu sahabat yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Sahabat yang setia dan berjuang bersama beliau menegakkan dien ini? Ataukah sahabat dalam arti bahasa, yaitu karena Abdullah bin Ubay ini hidup di masa Nabi di Madinah dan sering bertemu dengan Nabi serta membaur dengan kaum muslimin saat itu serta mengaku dirinya Islam yang pada kenyataannya dianya adalah seorang munafik? Saya yakin anda sekalian mengetahui jawabannya..
Kembali ke hadits2 yg SP sebutkan di atas, di sana disebutkan “diantara sahabatku ada dua belas orang munafik”, menurut anda sekalian, istilah sahabat yg digunakan oleh Rasulullah dalam hadits di atas dalam pengertian sebenar-benar sahabat atau hanya dalam pengertian bahasa saja? Saya yakin anda pun tahu jawabannya…
Jadi sahabat dalam arti sebenar-benarnya sahabat adalah bukan munafik, demikian juga sebaliknya munafik itu bukanlah sahabat Nabi dalam arti sebenar-benarnya sahabat.
Makanya saya heran, apanya sih yang dipermasalahkan dr hadits2 di atas? Kelihatan sensi banget sih sama istilah sahabat, mbok dikit disembunyiin napa.. wuakakak..
@All
Selama sahabat itu manusia biasa, tentu saja mereka bisa melakukan kesalahan2, baik yg sengaja maupun yg tidak sengaja.
Wassalam
@imem
Coba anda perhatikan dan pahami Firman Allah tsb dibawah dan mengapa Rasul menolak untuk membunuh:
Al-Ahzab 60. Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan munafik orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,
At-Taubah 73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
At-pTaubah 101. Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
Masih kah anda mengatakan: Jadi sahabat dalam arti sebenar-benarnya sahabat adalah bukan munafik, demikian juga sebaliknya munafik itu bukanlah sahabat Nabi dalam arti sebenar-benarnya sahabat. Wasalam
mas@ aburahat
apakah sampeyan tdk mendengar sudah ada definisi dan klasifikasi baru sekarang ini tentang SAHABAT..
1. Sahabat itu bisa munafik, fasiq,Baik dst
2. Kalau sahabat sebenarnya…itu Pasti BAIK…baik deh..
jadi nanti dlm edisi berikutnya akan dicetak…buku hadits kurleb
“SAHABAT Sebenarnya” itu laksana bintang yg bisa menjadi petunjuk buat umatku…
heheheh…
Artikel Ini menghancur leburkan Kesakralan Kata SAHABAT yg di sebut adil semua…
@all
Sahabat juga kan dapat disebut Mujtahid yg apabila salah dapat pahala satu, apabila benar dapat pahala dua.
@bob
Kok ngga pake smilley ?
Testing lagiiii…
Lho ngga ada smileynya, aneh ?
I: Semua sahabat Adil
A: kata Nabi ada 12 sahabat yang munafik
I: itu bukan sahabat sebenarnya.
si “I” sudah jatuh dalam fallacy, yang disebut “No true scotsman.”
Contoh lain:
“Tidak ada orang Tegal yang bahasa Inggrisnya bagus.”
”Heee jangan salaah. Mamiku orang Tegal tapi bahasa Inggrisnya bagus.”
”Ya, tapi tidak ada orang Tegal asli yang bahasa Inggrisnya bagus.”
”Mamiku orang Tegal asli.”
”Memang, tapi orang Tegal asli yang benar-benar keturunan orang Tegal asli bahasa Inggrisnya tidak bagus.