<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Kemuliaan Rasulullah SAW  Baik Hidup Maupun Wafat ; Studi Kritis Hadis Tawassul.</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 06:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: salmah</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-11320</link>
		<dc:creator>salmah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 14:56:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-11320</guid>
		<description>@ kurnia
pertanyaan anda yg pertama jawabannya bisa. Karena menurut hadits ruh seorang mukmin bisa terbang kemana-mana menurut kehendaknya. dihadits ini tidak ada syarat yang menunjukkan hanya terbatas di alam barzakh. Begitu juga banyak hadits yg meriwayatkan bahwa ruh sering kembali ketempat jasad waktu dikuburkan dll. banyak para sholihin yang bisa lihat ruh2 yg hadir dimajlis2 dzikir. Hanya tidak semua orang diberikan ilmu oleh Allah swt. untuk bisa lihat ruh2 yg hadir di majlis2 dzikir.Zaman sekarang terutama di Eropa, sering dilayngkan di tv dokumentair
mengenai ruh2 keluarga atau orang lain yg bisa dilihat oleh orng yg msh hidup. wallahu a&#039;lam

sedangkan pertanyaan anda yg kedua, ana belum tahu dlm hal tsb., ana kira bukan ruh org yg mati tapi jin atau setan yg masuk disitu. Tetapi kalau menurut ceritera ada orang yg bisa kontak dengan ruh. wallahu a&#039;lam.
wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ kurnia<br />
pertanyaan anda yg pertama jawabannya bisa. Karena menurut hadits ruh seorang mukmin bisa terbang kemana-mana menurut kehendaknya. dihadits ini tidak ada syarat yang menunjukkan hanya terbatas di alam barzakh. Begitu juga banyak hadits yg meriwayatkan bahwa ruh sering kembali ketempat jasad waktu dikuburkan dll. banyak para sholihin yang bisa lihat ruh2 yg hadir dimajlis2 dzikir. Hanya tidak semua orang diberikan ilmu oleh Allah swt. untuk bisa lihat ruh2 yg hadir di majlis2 dzikir.Zaman sekarang terutama di Eropa, sering dilayngkan di tv dokumentair<br />
mengenai ruh2 keluarga atau orang lain yg bisa dilihat oleh orng yg msh hidup. wallahu a&#8217;lam</p>
<p>sedangkan pertanyaan anda yg kedua, ana belum tahu dlm hal tsb., ana kira bukan ruh org yg mati tapi jin atau setan yg masuk disitu. Tetapi kalau menurut ceritera ada orang yg bisa kontak dengan ruh. wallahu a&#8217;lam.<br />
wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-9714</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:48:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-9714</guid>
		<description>@kurnia
tidak benar :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@kurnia<br />
tidak benar <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: kurnia</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-9711</link>
		<dc:creator>kurnia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:37:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-9711</guid>
		<description>saya boleh nanya`kan....
saya mau nanya jika orang yang sudah meninggal itu, apakah ruh mereka itu bisa berpergian ke dunia (bumi) dengan semaunya? 

dan 1 lagi. 
apakah benar jika ada orang yang bisa memanggil ruh orang yang sudah mati dan kita bisa berbicara kepada ruh orang yang sudah mati melalui perantara dirinya itu( MAKSUD : jadi orang itu seakan-akan memanggil ruh orang yang sudah mati, dan ruh orang yang sudah mati itu datang dan masuk ke dalam tubuhnya, jadi setelah itu seakan-akan orang yang memanggil tadi itu adalah ruh yang dipanggilnya tadi) APAKAH BENAR?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya boleh nanya`kan&#8230;.<br />
saya mau nanya jika orang yang sudah meninggal itu, apakah ruh mereka itu bisa berpergian ke dunia (bumi) dengan semaunya? </p>
<p>dan 1 lagi.<br />
apakah benar jika ada orang yang bisa memanggil ruh orang yang sudah mati dan kita bisa berbicara kepada ruh orang yang sudah mati melalui perantara dirinya itu( MAKSUD : jadi orang itu seakan-akan memanggil ruh orang yang sudah mati, dan ruh orang yang sudah mati itu datang dan masuk ke dalam tubuhnya, jadi setelah itu seakan-akan orang yang memanggil tadi itu adalah ruh yang dipanggilnya tadi) APAKAH BENAR?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: salmah</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-8467</link>
		<dc:creator>salmah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 14:50:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-8467</guid>
		<description>Assalamuálaikum saudaraku semuanya.
Saya membaca artikel mengenai tawassul diatas tk ada habis2nya. Sebenarnya Tawassul/istightsah atau tabarruk bukan suatu yg wajib hanya sarana saja. Begitu juga tidak ada nash baik dari Al-Qurán maupun hadits yang mengatakan kalau tawassul dengan pribadi yg masih hidup tak apa2 tapi kalau dengan pribadi yg sudah wafat tak boleh. 
Jadi bila orang mengakui adanya hadits shohih Tawassul kepada orang yg masih hidup itu sudah berarti mereka memohon kepada Allah  dengan menyebut nama seorang yg sholeh. Ini sudah dinamakan tawassul. Kalau tdk demikian mengapa mereka tidak langsung doá kepada Allah, mengapa harus menyertakan nama seseorang? Allah swt. toh maha mengetahui, maha mendengar? Begitu juga ayat2 ilahi yg menyebutkan bahwa Rasulallah saw. memohonkan ampun  untuk para sahabatnya dan  anak2 Nabi Ya&#039;kub memohon agar ayahnya memohonkan ampun buat mereka. Hal yg demikian ini tidak dicela dan ditegor oleh Allah swt. malah Dialah yg memerintahkan para sahabat untuk ke Rasulallah saw. agar beliau memohonkan ampun mereka, padahal Allah swt. maha mengetahui dan maha mendengar. Ini juga dinamakan tawassul/istighotsah. Jadi kita harus memahami dahulu apa makna tawassul menurut jumhur ulama berbagai madzhab. Jadi jangan diputar-putar maknanya menurut pikiran yg kurang ini. 

Bila seseorang mengikuti salah satu ulama madzhabnya yg melegalkan tawassul itu sudah cukup buatnya sebagai dalil. Jadi kita tidak perlu memaksa atau mewajibkan orang ini utk mengikuti ulama atau madzhab lainnya!! Karena satu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama dan hadits yg sama ini bisa dilemahkan oleh ulama lainnya. Dengan adanya perbedaan ini maka berbedalah hukumnya.   
JANGANLAH KITA TAWASSUL KEPADA RASULALLAH SAW. ATAU HAMBA SHOLEH DISAMAKAN DENGAN ORANG KRISTEN YG MEMOHON KEPADA MARIA ATAU YESUS. ORANG KRISTEN MEMOHON LANGSUNG KEPADA MARIA ATAU YESUS AGAR DIAMPUNKAN DOSA MEREKA. TETAPI ORANG MUSLIMIN MEMOHON KEPADA RASUL SAW. ATAU HAMBA YG SHOLEH AGAR MEREKA BERDOÁ KEPADA ALLAH SWT. UNTUK MEMOHONKAN AMPUN BAGI MUSLIMIN. RENUNGKANLAH PERBEDAAN ANTARA ORANG KRISTEN DAN ORANG MUSLIM.
CUKUP BANYAK RIWAYAT BAIK DARI AL-QURÁN MAUPUN HADITS YG MENYATAKAN BAHWA ORANG YG TELAH WAFAT MASIH BISA BERDOÁ DLL.
Terlampau banyak contoh fatwa ulama Ahlusunnah dalam menjelaskan legalitas Tawassul/Istighatsah dan Tabarruk ini. Saya ingin mengutip contoh beberapa tokoh dari mereka saja yg saya nukil dari situs www.everyoneweb.com/tabarruk bab tawassul/tabarruk
 Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri pernah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi .red) dan men- datangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan do’aku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)

 As-Samhudi yang bermadzhab Syafi’i menyatakan; “Terkadang orang bertawassul kepadanya (Nabi saw.red) dengan meminta pertolongan berkait an suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasulallah saw. memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafa’atnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan do’anya, walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala sese- orang meminta; ‘aku memohon kepadamu (wahai Rasulallah .red) untuk dapat menemanimu di sorga…’, tiada yang dikehendakinya melainkan bahwa Nabi saw. menjadi sebab dan pemberi syafa’at” (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 halaman 1374)

 As-Syaukani az-Zaidi pernah menyatakan akan legalitas tawassul dalam kitab karyanya yang berjudul “Tuhfatudz Dzakiriin” dengan mengatakan: “Dan bertawassul kepada Allah swt. melalui para nabi dan manusia sholeh”. (Lihat: Kitab Tuhfatudz Dzakiriin halaman 37)

 Abu Ali al-Khalal salah seorang tokoh madzhab Hanbali pernah menyata- kan: “Tiada perkara yang membuatku gunda kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Ja’far (keturunan Rasulullah saw. yang kelima pen.) dan aku ber tawasul kepadanya melainkan Allah akan memudahkannya bagiku sebagai- mana yang kukehendaki” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 120 dalam bab kuburan-kuburan yang berada di Baghdad).

Dalam surat Yusuf ayat 97, Allah swt.. berfirman: “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’ ”.
Jika kita teliti dari ayat ini maka akan dapat diambil pelajaran bahwa, para anak-anak Ya’qub as. mereka tidak meminta pengampunan dari Ya’qub sendiri secara independent tanpa melihat kemampuan dan otoritas mutlak Ilahi dalam hal pengampunan dosa. Namun mereka jadikan ayah mereka yang tergolong kekasih Ilahi (nabi) yang memiliki kedudukan khusus di mata Allah sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa dari Allah swt.. Dan ternyata, nabi Ya’qub pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik, atau memerintahkan anak-anaknya agar langsung memohon kepada Allah swt., karena Allah Maha mendengarkan segala per- mohonan dan do’a, malahan nabi Ya’qub as menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan: “Ya’qub berkata: ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang’ ”(QS Yusuf: 98). 

– Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
Dari ayat di atas juga dapat diambil pelajaran yang esensial yaitu bahwa, Rasululah saw. sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki keduduk- an (jah/maqom/wajih) yang sangat tinggi di sisi Allah sehingga diberi otoritas oleh Allah swt.untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah swt... Dan terbukti (nanti kita akan dijelaskan dalam halaman berikutnya) bahwa banyak dari para sahabat mulia Rasulallah saw. yang tergolong Salaf Sholeh menggunakan kesempatan emas tersebut untuk memohon ampun kepada Allah swt.. melalui perantara Rasulullah saw.. Hal ini yang menjadi kajian para penulis Ahlusunnah wal Jama’ah dalam mengkritisi ajaran Wahabisme, termasuk orang seperti Umar Abdus Salam dalam karyanya “Mukhalafatul Wahabiyyah” (Lihat: halaman 22).

Semua ahli tafsir al-Qur’an termasuk Mufasir Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat An-Nisa: 64 itu diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Dan mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana Allah swt. telah meresponnya:
           
 Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, Dia memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw dan kemudian memintakan ampun kepada Allah swt, dan Rasulallah saw. juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka. Dengan demikian Rasulallah saw. bisa dijuluki sebagai Pengampun dosa secara kiasan/majazi sedangkan Allah swt. sebagai Pengampun dosa yang hakiki/sebenarnya. (baca keterangan pada bab 2 dalam buku ini)
 Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan (menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka) hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.
 
Lihat firman Allah swt. itu malah Dia yang memerintahkan para sahabat untuk minta tolong pada Rasulallah saw. untuk berdo’a pada Allah swt. agar mengampunkan kesalahan-kesalahan mereka, mengapa para sahabat tidak langsung memohon pada Allah swt.? Bila hal ini dilarang maka tidak mungkin Allah swt. memerintahkan pada hamba-Nya sesuatu yang tidak di zinkan-Nya ! Dan masih banyak lagi firman Allah swt. meminta Rasul-Nya untuk memohonkan ampun buat orang lain umpamanya: Q.S 3:159, QS 4:106, QS 24:62, QS 47:19,  QS 60:12, dan QS 63

Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda: 

قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,
 فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ       
 وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله        
 مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ            
 صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.     
                                                                                                      
“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.
            
Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253. 
 
Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan: 
   
                   وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ 
 
‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.
 
Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :
                                                                                                            
قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,
 وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ  خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا  
 آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ
 تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ  تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ
                                                                                                            
“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka bertaubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.
 
Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:
 
   لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ  لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟
 وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ 
 لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,
 وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ                                                                                 
                                                                                       
“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”. 

Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang menganggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut: 
“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: &quot;Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi &quot; (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.&quot;

Atas dasar itu, Allah swt. memerintahkan kepada para pelaku dosa dari kaum muslimin untuk berpegangan dengan tonggak yang tidak tergoyahkan tersebut (hakekat Muhammad Rasulullah saw.) dan meminta pengampunan di setiap majlis mereka, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Karena melalui permohonan ampun melalui hakekat pribadi Muhammad saw.adalah kunci dari penyebab turunnya rahmat, pengampunan dan ridho Allah swt. 

Dalam hal itu Allah swt... berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa’: 64). Ayat ini dikuatkan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah swt...: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri” (QS al-Munafiqqun

Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan berbangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. (Lihat: Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)

Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan ber- bangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. (Lihat: Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa, Rasulallah saw. mengajar- kan kepada kita bagaimana kita berdo’a untuk menghapus dosa kita dengan menyebut (bersumpah dengan kata ‘demi’) diri (dzat) para peminta do’a dari para manusia sholeh dengan ungkapan ‘Bi haqqi Saailiin ‘alaika‘ (demi para pemohon kepada-Mu), Rasulallah saw. disitu tidak menggunakan kata ‘Bi haqqi du’a Saailiin ‘alaika’ (demi do’a para pemohon kepada-Mu), tetapi langsung menggunakan ‘diri pelaku perbuatan’ (menggunakan isim fa’il). Dengan begitu berarti Rasulallah saw. membenarkan –bahkan mengajar- kan– bagaimana kita bertawassul kepada diri dan kedudukan para manusia sholeh kekasih Ilahi (wali Allah) –yang selalu memohon kepada Allah swt.– untuk menjadikan mereka sebagai sarana penghubung antara kita dengan Allah swt. dalam masalah permintaan syafa’at, permohonan ampun, meminta hajat dan sebagainya. 
 
– Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi ‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw. menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan menggunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat: Kitab al-Wafa’ al-Wafa’)

  Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda:

“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya, lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumaa memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad.   ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.) 

Pada hadits itu Rasulallah saw. bertawassul disamping pada diri beliau sendiri juga kepada para Nabi sebelum beliau saw.! Dalam hadits itu jelas beliau saw. berdo’a kepada Allah swt. sambil menyebutkan dalam do’anya demi diri beliau sendiri dan demi para Nabi sebelum beliau saw. Kalau ini bukan dikatakan sebagai tawassul, mengapa beliau saw. didalam do’anya menyertakan kata-kata demi para Nabi ? Mengapa beliau saw. tidak berdo’a saja tanpa menyebutkan ...demi para Nabi lainnya ?
Dalam kitab Majma’uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik. 

Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memper- kuat kebenarannya. 
Hadits di atas jelas sekali bagaimana Rasulallah bersumpah demi keduduk- an (jah) yang beliau saw. miliki, yaitu kenabian, dan kenabian para pendahulunya yang telah wafat, untuk dijadikan sarana (wasilah) pengampunan kesalahan ibu (angkat) beliau, Fathimah binti Asad. Dan dari hadits di atas juga dapat kita ambil pelajaran, bagaimana Rasulallah saw. memberi ‘berkah’ (tabarruk) liang lahat itu untuk ibu angkatnya dengan merebahkan diri di sana, plus mengkafani ibunya tersebut dengan jubah beliau. 

– Diriwayatkan bahwa Sawad bin Qoorib melantunkan pujiannya terhadap Rasulallah saw. dimana dalam pujian tersebut juga terdapat muatan permohonan tawassul kepada Rasulullah saw. (Kitab Fathul Bari 7/137, atau kitab at-Tawasshul fi Haqiqat at-Tawassul karya ar-Rifa’i hal. 300)
Penjelasan-penjelasan semacam inilah yang tidak dapat dipungkiri oleh kaum muslimin manapun, terkhusus para pengikut sekte Wahabisme. Atas dasar itu, Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya “at-Tawassul wa al-Wasilah” dengan mengutip pendapat para ulama Ahlusunah seperti; Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqi, at-Thabrani, dan sebagainya telah melegalkan tawassul sesuai dengan hadits-hadits yang ada. (Kitab “at-Tawassul wal Wasilah” karya Ibnu Taimiyah halaman 144-145)

Walaupun beberapa hadits di atas secara tersirat telah membuktikan legalitas tawassul terhadap para nabi terdahulu dan para manusia sholeh yang telah mati, namun mungkin masih menjadi pertanyaan di benak kaum muslimin, adakah dalil yang dengan jelas memperbolehkan tawassul/ istigho- tsah terhadap orang yang dhahirnya telah wafat? Marilah kita ikuti kajian selanjutnya.

Prilaku Salaf Sholeh Penguat Legalitas Tawassul / Istighotsah
Kita semua mengetahui bahwa para sahabat, tabi’in dan tabiut at-tabi’in adalah termasuk dalam golongan salaf sholeh dimana mereka hidup sangat dekat dengan zaman penurunan risalah Islam. Terkhusus para sahabat yang mendapat pengajaran langung dari Rasulullah saw. dimana setiap perkara yang tidak mereka pahami langsung mereka tanyakan dan langsung men- dapat jawabannya dari baginda Rasulallah saw.. Salah satu dari sekian perkara yang menjadi bahan kajian kita kali ini adalah, bagaimana pemaham an para sahabat berkaitan dengan konsep istighotsah /tawassul yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

Disini kita akan menunjukkan beberapa riwayat yang menjelaskan pemaham  an Salaf Sholeh–yang dalam hal ini mencakup para sahabat mulia Rasul saw.– berkaitan dengan konsep tersebut, dan praktek mereka dalam kehidup an sehari-hari. Oleh karenanya, kita akan memberikan beberapa contoh seperti di bawah ini:
 
 Dahulu Rasulullah saw. mengajarkan seseorang tentang tata cara memohon kepada Allah swt. dengan menyeru Nabi untuk bertawassul kepadanya, dan meminta kepada Allah agar mengabulkan syafa’atnya (Nabi) dengan mengatakan:  
(“Wahai Muhammad, Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Tuhanku dalam memenuhi hajatku agar dikabulkan untuk ku. Ya Allah, terimalah bantuannya padaku”). (Kitab “Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il” karya Ibnu Taimiyah 1/18)
Jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan lelaki di atas adalah lelaki muslim yang sezaman dan pernah hidup bersama Rasulallah saw., serta pernah belajar dari beliau, yang semua itu adalah memenuhi kriteria sahabat menurut ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Mari kita teliti dan renungkan kata demi kata dari ajaran Rasulallah saw. terhadap salah seorang sahabat itu sewaktu beliau mengajarinya tata cara bertawassul melalui diri Muhammad sebagai Rasulullah saw., satu ‘kedudukan’ (jah) tinggi di sisi Allah. Sengaja kita ambil rujukan dari Ibnu Taimiyah agar pengikut sekte Wahabi memahami dengan baik apa sinyal dibalik tujuan kami menukil dari kitab syeikh mereka itu, agar mereka berpikir. 

  Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas bin Malik :

عَنْ أنَسِ, أنَّ عُمَرَبْنَ الخَطَّابِ كَانَ إذَاقُحِـطُوْا إستََسْـقََى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ: اللهُـمَّ إنَّـا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَنَسْقِيْنَا
 وَإنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بَعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ (رواه البخاري)                                                                          
 
“Bahwasanya jika terjadi musim kering yang panjang, maka Umar bin Khattab memohon hujan kepada Allah dengan bertawassul dengan Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Dalam do’anya ia berkata; ‘Ya Allah, dulu kami senantiasa bertawassul kepada-Mu dengan Nabi saw. dan Engkau memberi hujan kepada kami. Kini kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah hujan pada kami’. Anas berkata; ‘Maka Allah menurun- kan hujan pada mereka’ ”. (Lihat: Kitab “Shohih Bukhari” 2/32 hadits ke-947 dalam Bab Shalat Istisqo’)

Perbuatan khalifah Umar dengan tawassul pada paman Nabi saw. tidak seorang pun dari sahabat Nabi yang mengingkari, mensyirikkan atau tidak membenarkan prakarsa khalifah ini. Khalifah Umar ra. yang sudah terkenal dikalangan kaum muslimin masih menyertakan paman Rasulallah saw. didalam do’anya kepada Allah swt., apalagi kita-kita ini. 

  Imam an-Nawawi dalam kitab ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab’ (Jilid: 5 Halaman: 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khattab telah memohon do&#039;a hujan melalui Abbas (paman Rasulallah) dengan menyatakan: ‘Ya Allah, dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau menganugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkan hujan bagi kami ’. Kemudian turunlah hujan”. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang shohih). 

  Ibnu Hajar dalam kitab ‘Fathul Bari’ (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid:2 halaman: 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunah) untuk memohon hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait (keluarga) Nabi”. 

 Ibnu Atsir dalam kitab ‘Usud al-Ghabah’ (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi (tarjamah) Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: &#039;Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain&#039;. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutama- kannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”. 

Dalam kitab yang sama ini disebutkan bahwa Muawiyah telah memohon hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: ‘Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat). ’ Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad’. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada di sekitanya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing’. ( Lebih kami sayangkan lagi ada sebagian ulama yang mengakui keshohihan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan tawassul dan tabarruk, tapi mereka berani memutar balik maknanya dan sampai-sampai berani melarang dan mensyirikkan hal tersebut pada orang yang mengamalkannya! Na’udzubillah . )

Riwayat di atas memberikan pelajaran kepada kita bagaimana Khalifah Umar –sahabat Rasulallah saw.– melakukan hal yang pernah diajarkan Rasulallah kepada para sahabat mulia beliau saw.. Walaupun riwayat di atas menunjuk- kan bahwa Umar bin Khattab bertawassul kepada manusia yang masih hidup, akan tetapi hal itu tidak berarti secara otomatis riwayat di atas dapat menjadi bukti bahwa bertawassul kepada yang telah wafat adalah ‘haram’ (entah karena alasan syirik atau bid’ah), karena tidak ada dalil baik dari firman Ilahi atau Sunnah 

Rasulallah saw. yang menyatakan kalau tawassul pada orang yang telah wafat itu haram sedangkan pada orang yang masih hidup dibolehkan! Sebenarnya tawassul pada pribadi seseorang baik yang masih hidup maupun telah wafat itu inti/pokoknya adalah sama, yaitu berdo’a kepada Allah swt. sambil menyertakan nama pribadi seseorang itu. Kalau ini dilarang berarti semua bentuk tawassul itu harus diharamkan juga.
Apakah golongan pengingkar ini lupa atau pura-pura lupa bahwa nabi Adam as. bertawassul pada Nabi saw. yang antara lain diriwayatkan oleh ulama pakar yang mereka andalkan yaitu Syeikh Ibnu Taimiyyah, begitu juga mengenai tawassul Nabi Yusuf a.s kepada beliau saw., tawassul mereka pada Nabi saw. yang mana beliau bukannya sudah wafat malah belum dilahirkan dialam wujud ini !  Begitu juga tawassul Rasulallah saw. kepada para Nabi sebelum beliau saw. 
Di tambah lagi nanti terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa sebagian sahabat –sesuai dengan pemahaman mereka dari apa yang diajarkan Rasulallah saw.– juga melakukan tawassul kepada seseorang yang secara dhahir telah mati. Yang jelas, riwayat di atas dengan tegas menjelaskan akan dibolehkannya tawassul/istighotsah dan menyangkal pendapat madzhab Wahabi dan pengikutnya yang mengatakan bahwa bertawassul adalah perbuatan sia-sia dan bertentangan dengan –Maha Mendengar dan Maha Mengetahui– Allah swt.. Juga sekaligus menjelaskan legalitas tawassul melalui diri selain Rasulallah saw. (Abbas bin Abdul Mutthalib) dan kedudukan (sebagai paman manusia termulia) di hadapan Allah swt.. 

Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya:
 Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358) 
Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan madzhab Wahabi bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal. 
Apakah Bilal khusus datang jauh-jauh dari Syam hanya sekedar berziarah dan memeluk pusara Rasulallah saw. tanpa mengatakan apapun (tawassul) kepada penghuni kubur tersebut? 

Sekarang mari kita lihat riwayat lain yang berkenaan dengan diperbolehkannya tawassul secara langsung kepada yang telah meninggal: 
“Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di  dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398, atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351) 

Hadits-hadits diatas mencakup sebagai dalil tentang kebolehan tabarruk dan tawassul kepada orang yang dhahirnya telah wafat, hal itu telah dicontohkan oleh tokoh Salaf Saleh. 

BAGI YG INGIN MENDETAIL KETERANGANNYA BUKALAH SITUS WWW.EVERYONEWEB.COM/TABARRUK PADA BAB TAWASSUL ATAU BAB ZIARAH KUBUR.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuálaikum saudaraku semuanya.<br />
Saya membaca artikel mengenai tawassul diatas tk ada habis2nya. Sebenarnya Tawassul/istightsah atau tabarruk bukan suatu yg wajib hanya sarana saja. Begitu juga tidak ada nash baik dari Al-Qurán maupun hadits yang mengatakan kalau tawassul dengan pribadi yg masih hidup tak apa2 tapi kalau dengan pribadi yg sudah wafat tak boleh.<br />
Jadi bila orang mengakui adanya hadits shohih Tawassul kepada orang yg masih hidup itu sudah berarti mereka memohon kepada Allah  dengan menyebut nama seorang yg sholeh. Ini sudah dinamakan tawassul. Kalau tdk demikian mengapa mereka tidak langsung doá kepada Allah, mengapa harus menyertakan nama seseorang? Allah swt. toh maha mengetahui, maha mendengar? Begitu juga ayat2 ilahi yg menyebutkan bahwa Rasulallah saw. memohonkan ampun  untuk para sahabatnya dan  anak2 Nabi Ya&#8217;kub memohon agar ayahnya memohonkan ampun buat mereka. Hal yg demikian ini tidak dicela dan ditegor oleh Allah swt. malah Dialah yg memerintahkan para sahabat untuk ke Rasulallah saw. agar beliau memohonkan ampun mereka, padahal Allah swt. maha mengetahui dan maha mendengar. Ini juga dinamakan tawassul/istighotsah. Jadi kita harus memahami dahulu apa makna tawassul menurut jumhur ulama berbagai madzhab. Jadi jangan diputar-putar maknanya menurut pikiran yg kurang ini. </p>
<p>Bila seseorang mengikuti salah satu ulama madzhabnya yg melegalkan tawassul itu sudah cukup buatnya sebagai dalil. Jadi kita tidak perlu memaksa atau mewajibkan orang ini utk mengikuti ulama atau madzhab lainnya!! Karena satu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama dan hadits yg sama ini bisa dilemahkan oleh ulama lainnya. Dengan adanya perbedaan ini maka berbedalah hukumnya.<br />
JANGANLAH KITA TAWASSUL KEPADA RASULALLAH SAW. ATAU HAMBA SHOLEH DISAMAKAN DENGAN ORANG KRISTEN YG MEMOHON KEPADA MARIA ATAU YESUS. ORANG KRISTEN MEMOHON LANGSUNG KEPADA MARIA ATAU YESUS AGAR DIAMPUNKAN DOSA MEREKA. TETAPI ORANG MUSLIMIN MEMOHON KEPADA RASUL SAW. ATAU HAMBA YG SHOLEH AGAR MEREKA BERDOÁ KEPADA ALLAH SWT. UNTUK MEMOHONKAN AMPUN BAGI MUSLIMIN. RENUNGKANLAH PERBEDAAN ANTARA ORANG KRISTEN DAN ORANG MUSLIM.<br />
CUKUP BANYAK RIWAYAT BAIK DARI AL-QURÁN MAUPUN HADITS YG MENYATAKAN BAHWA ORANG YG TELAH WAFAT MASIH BISA BERDOÁ DLL.<br />
Terlampau banyak contoh fatwa ulama Ahlusunnah dalam menjelaskan legalitas Tawassul/Istighatsah dan Tabarruk ini. Saya ingin mengutip contoh beberapa tokoh dari mereka saja yg saya nukil dari situs <a href="http://www.everyoneweb.com/tabarruk" rel="nofollow">http://www.everyoneweb.com/tabarruk</a> bab tawassul/tabarruk<br />
 Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri pernah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi .red) dan men- datangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan do’aku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)</p>
<p> As-Samhudi yang bermadzhab Syafi’i menyatakan; “Terkadang orang bertawassul kepadanya (Nabi saw.red) dengan meminta pertolongan berkait an suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasulallah saw. memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafa’atnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan do’anya, walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala sese- orang meminta; ‘aku memohon kepadamu (wahai Rasulallah .red) untuk dapat menemanimu di sorga…’, tiada yang dikehendakinya melainkan bahwa Nabi saw. menjadi sebab dan pemberi syafa’at” (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 halaman 1374)</p>
<p> As-Syaukani az-Zaidi pernah menyatakan akan legalitas tawassul dalam kitab karyanya yang berjudul “Tuhfatudz Dzakiriin” dengan mengatakan: “Dan bertawassul kepada Allah swt. melalui para nabi dan manusia sholeh”. (Lihat: Kitab Tuhfatudz Dzakiriin halaman 37)</p>
<p> Abu Ali al-Khalal salah seorang tokoh madzhab Hanbali pernah menyata- kan: “Tiada perkara yang membuatku gunda kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Ja’far (keturunan Rasulullah saw. yang kelima pen.) dan aku ber tawasul kepadanya melainkan Allah akan memudahkannya bagiku sebagai- mana yang kukehendaki” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 120 dalam bab kuburan-kuburan yang berada di Baghdad).</p>
<p>Dalam surat Yusuf ayat 97, Allah swt.. berfirman: “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’ ”.<br />
Jika kita teliti dari ayat ini maka akan dapat diambil pelajaran bahwa, para anak-anak Ya’qub as. mereka tidak meminta pengampunan dari Ya’qub sendiri secara independent tanpa melihat kemampuan dan otoritas mutlak Ilahi dalam hal pengampunan dosa. Namun mereka jadikan ayah mereka yang tergolong kekasih Ilahi (nabi) yang memiliki kedudukan khusus di mata Allah sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa dari Allah swt.. Dan ternyata, nabi Ya’qub pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik, atau memerintahkan anak-anaknya agar langsung memohon kepada Allah swt., karena Allah Maha mendengarkan segala per- mohonan dan do’a, malahan nabi Ya’qub as menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan: “Ya’qub berkata: ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang’ ”(QS Yusuf: 98). </p>
<p>– Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.<br />
Dari ayat di atas juga dapat diambil pelajaran yang esensial yaitu bahwa, Rasululah saw. sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki keduduk- an (jah/maqom/wajih) yang sangat tinggi di sisi Allah sehingga diberi otoritas oleh Allah swt.untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah swt&#8230; Dan terbukti (nanti kita akan dijelaskan dalam halaman berikutnya) bahwa banyak dari para sahabat mulia Rasulallah saw. yang tergolong Salaf Sholeh menggunakan kesempatan emas tersebut untuk memohon ampun kepada Allah swt.. melalui perantara Rasulullah saw.. Hal ini yang menjadi kajian para penulis Ahlusunnah wal Jama’ah dalam mengkritisi ajaran Wahabisme, termasuk orang seperti Umar Abdus Salam dalam karyanya “Mukhalafatul Wahabiyyah” (Lihat: halaman 22).</p>
<p>Semua ahli tafsir al-Qur’an termasuk Mufasir Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat An-Nisa: 64 itu diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Dan mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana Allah swt. telah meresponnya:</p>
<p> Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, Dia memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw dan kemudian memintakan ampun kepada Allah swt, dan Rasulallah saw. juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka. Dengan demikian Rasulallah saw. bisa dijuluki sebagai Pengampun dosa secara kiasan/majazi sedangkan Allah swt. sebagai Pengampun dosa yang hakiki/sebenarnya. (baca keterangan pada bab 2 dalam buku ini)<br />
 Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan (menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka) hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.</p>
<p>Lihat firman Allah swt. itu malah Dia yang memerintahkan para sahabat untuk minta tolong pada Rasulallah saw. untuk berdo’a pada Allah swt. agar mengampunkan kesalahan-kesalahan mereka, mengapa para sahabat tidak langsung memohon pada Allah swt.? Bila hal ini dilarang maka tidak mungkin Allah swt. memerintahkan pada hamba-Nya sesuatu yang tidak di zinkan-Nya ! Dan masih banyak lagi firman Allah swt. meminta Rasul-Nya untuk memohonkan ampun buat orang lain umpamanya: Q.S 3:159, QS 4:106, QS 24:62, QS 47:19,  QS 60:12, dan QS 63</p>
<p>Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:</p>
<p>Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda: </p>
<p>قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,<br />
 فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ<br />
 وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله<br />
 مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ<br />
 صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.     </p>
<p>“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.</p>
<p>Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253. </p>
<p>Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan: </p>
<p>                   وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ </p>
<p>‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.</p>
<p>Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :</p>
<p>قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,<br />
 وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ  خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا<br />
 آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ<br />
 تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ  تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ</p>
<p>“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka bertaubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.</p>
<p>Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:</p>
<p>   لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ  لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟<br />
 وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ<br />
 لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,<br />
 وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ                                                                                 </p>
<p>“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”. </p>
<p>Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang menganggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:<br />
“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: &#8220;Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi &#8221; (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.&#8221;</p>
<p>Atas dasar itu, Allah swt. memerintahkan kepada para pelaku dosa dari kaum muslimin untuk berpegangan dengan tonggak yang tidak tergoyahkan tersebut (hakekat Muhammad Rasulullah saw.) dan meminta pengampunan di setiap majlis mereka, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Karena melalui permohonan ampun melalui hakekat pribadi Muhammad saw.adalah kunci dari penyebab turunnya rahmat, pengampunan dan ridho Allah swt. </p>
<p>Dalam hal itu Allah swt&#8230; berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa’: 64). Ayat ini dikuatkan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah swt&#8230;: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri” (QS al-Munafiqqun</p>
<p>Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan berbangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. (Lihat: Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)</p>
<p>Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan ber- bangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. (Lihat: Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)</p>
<p>Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa, Rasulallah saw. mengajar- kan kepada kita bagaimana kita berdo’a untuk menghapus dosa kita dengan menyebut (bersumpah dengan kata ‘demi’) diri (dzat) para peminta do’a dari para manusia sholeh dengan ungkapan ‘Bi haqqi Saailiin ‘alaika‘ (demi para pemohon kepada-Mu), Rasulallah saw. disitu tidak menggunakan kata ‘Bi haqqi du’a Saailiin ‘alaika’ (demi do’a para pemohon kepada-Mu), tetapi langsung menggunakan ‘diri pelaku perbuatan’ (menggunakan isim fa’il). Dengan begitu berarti Rasulallah saw. membenarkan –bahkan mengajar- kan– bagaimana kita bertawassul kepada diri dan kedudukan para manusia sholeh kekasih Ilahi (wali Allah) –yang selalu memohon kepada Allah swt.– untuk menjadikan mereka sebagai sarana penghubung antara kita dengan Allah swt. dalam masalah permintaan syafa’at, permohonan ampun, meminta hajat dan sebagainya. </p>
<p>– Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi ‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw. menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan menggunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat: Kitab al-Wafa’ al-Wafa’)</p>
<p>  Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda:</p>
<p>“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya, lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumaa memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad.   ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.) </p>
<p>Pada hadits itu Rasulallah saw. bertawassul disamping pada diri beliau sendiri juga kepada para Nabi sebelum beliau saw.! Dalam hadits itu jelas beliau saw. berdo’a kepada Allah swt. sambil menyebutkan dalam do’anya demi diri beliau sendiri dan demi para Nabi sebelum beliau saw. Kalau ini bukan dikatakan sebagai tawassul, mengapa beliau saw. didalam do’anya menyertakan kata-kata demi para Nabi ? Mengapa beliau saw. tidak berdo’a saja tanpa menyebutkan &#8230;demi para Nabi lainnya ?<br />
Dalam kitab Majma’uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik. </p>
<p>Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memper- kuat kebenarannya.<br />
Hadits di atas jelas sekali bagaimana Rasulallah bersumpah demi keduduk- an (jah) yang beliau saw. miliki, yaitu kenabian, dan kenabian para pendahulunya yang telah wafat, untuk dijadikan sarana (wasilah) pengampunan kesalahan ibu (angkat) beliau, Fathimah binti Asad. Dan dari hadits di atas juga dapat kita ambil pelajaran, bagaimana Rasulallah saw. memberi ‘berkah’ (tabarruk) liang lahat itu untuk ibu angkatnya dengan merebahkan diri di sana, plus mengkafani ibunya tersebut dengan jubah beliau. </p>
<p>– Diriwayatkan bahwa Sawad bin Qoorib melantunkan pujiannya terhadap Rasulallah saw. dimana dalam pujian tersebut juga terdapat muatan permohonan tawassul kepada Rasulullah saw. (Kitab Fathul Bari 7/137, atau kitab at-Tawasshul fi Haqiqat at-Tawassul karya ar-Rifa’i hal. 300)<br />
Penjelasan-penjelasan semacam inilah yang tidak dapat dipungkiri oleh kaum muslimin manapun, terkhusus para pengikut sekte Wahabisme. Atas dasar itu, Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya “at-Tawassul wa al-Wasilah” dengan mengutip pendapat para ulama Ahlusunah seperti; Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqi, at-Thabrani, dan sebagainya telah melegalkan tawassul sesuai dengan hadits-hadits yang ada. (Kitab “at-Tawassul wal Wasilah” karya Ibnu Taimiyah halaman 144-145)</p>
<p>Walaupun beberapa hadits di atas secara tersirat telah membuktikan legalitas tawassul terhadap para nabi terdahulu dan para manusia sholeh yang telah mati, namun mungkin masih menjadi pertanyaan di benak kaum muslimin, adakah dalil yang dengan jelas memperbolehkan tawassul/ istigho- tsah terhadap orang yang dhahirnya telah wafat? Marilah kita ikuti kajian selanjutnya.</p>
<p>Prilaku Salaf Sholeh Penguat Legalitas Tawassul / Istighotsah<br />
Kita semua mengetahui bahwa para sahabat, tabi’in dan tabiut at-tabi’in adalah termasuk dalam golongan salaf sholeh dimana mereka hidup sangat dekat dengan zaman penurunan risalah Islam. Terkhusus para sahabat yang mendapat pengajaran langung dari Rasulullah saw. dimana setiap perkara yang tidak mereka pahami langsung mereka tanyakan dan langsung men- dapat jawabannya dari baginda Rasulallah saw.. Salah satu dari sekian perkara yang menjadi bahan kajian kita kali ini adalah, bagaimana pemaham an para sahabat berkaitan dengan konsep istighotsah /tawassul yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.</p>
<p>Disini kita akan menunjukkan beberapa riwayat yang menjelaskan pemaham  an Salaf Sholeh–yang dalam hal ini mencakup para sahabat mulia Rasul saw.– berkaitan dengan konsep tersebut, dan praktek mereka dalam kehidup an sehari-hari. Oleh karenanya, kita akan memberikan beberapa contoh seperti di bawah ini:</p>
<p> Dahulu Rasulullah saw. mengajarkan seseorang tentang tata cara memohon kepada Allah swt. dengan menyeru Nabi untuk bertawassul kepadanya, dan meminta kepada Allah agar mengabulkan syafa’atnya (Nabi) dengan mengatakan:<br />
(“Wahai Muhammad, Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Tuhanku dalam memenuhi hajatku agar dikabulkan untuk ku. Ya Allah, terimalah bantuannya padaku”). (Kitab “Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il” karya Ibnu Taimiyah 1/18)<br />
Jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan lelaki di atas adalah lelaki muslim yang sezaman dan pernah hidup bersama Rasulallah saw., serta pernah belajar dari beliau, yang semua itu adalah memenuhi kriteria sahabat menurut ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Mari kita teliti dan renungkan kata demi kata dari ajaran Rasulallah saw. terhadap salah seorang sahabat itu sewaktu beliau mengajarinya tata cara bertawassul melalui diri Muhammad sebagai Rasulullah saw., satu ‘kedudukan’ (jah) tinggi di sisi Allah. Sengaja kita ambil rujukan dari Ibnu Taimiyah agar pengikut sekte Wahabi memahami dengan baik apa sinyal dibalik tujuan kami menukil dari kitab syeikh mereka itu, agar mereka berpikir. </p>
<p>  Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas bin Malik :</p>
<p>عَنْ أنَسِ, أنَّ عُمَرَبْنَ الخَطَّابِ كَانَ إذَاقُحِـطُوْا إستََسْـقََى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ: اللهُـمَّ إنَّـا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَنَسْقِيْنَا<br />
 وَإنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بَعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ (رواه البخاري)                                                                          </p>
<p>“Bahwasanya jika terjadi musim kering yang panjang, maka Umar bin Khattab memohon hujan kepada Allah dengan bertawassul dengan Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Dalam do’anya ia berkata; ‘Ya Allah, dulu kami senantiasa bertawassul kepada-Mu dengan Nabi saw. dan Engkau memberi hujan kepada kami. Kini kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah hujan pada kami’. Anas berkata; ‘Maka Allah menurun- kan hujan pada mereka’ ”. (Lihat: Kitab “Shohih Bukhari” 2/32 hadits ke-947 dalam Bab Shalat Istisqo’)</p>
<p>Perbuatan khalifah Umar dengan tawassul pada paman Nabi saw. tidak seorang pun dari sahabat Nabi yang mengingkari, mensyirikkan atau tidak membenarkan prakarsa khalifah ini. Khalifah Umar ra. yang sudah terkenal dikalangan kaum muslimin masih menyertakan paman Rasulallah saw. didalam do’anya kepada Allah swt., apalagi kita-kita ini. </p>
<p>  Imam an-Nawawi dalam kitab ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab’ (Jilid: 5 Halaman: 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khattab telah memohon do&#8217;a hujan melalui Abbas (paman Rasulallah) dengan menyatakan: ‘Ya Allah, dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau menganugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkan hujan bagi kami ’. Kemudian turunlah hujan”. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang shohih). </p>
<p>  Ibnu Hajar dalam kitab ‘Fathul Bari’ (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid:2 halaman: 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunah) untuk memohon hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait (keluarga) Nabi”. </p>
<p> Ibnu Atsir dalam kitab ‘Usud al-Ghabah’ (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi (tarjamah) Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: &#8216;Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain&#8217;. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutama- kannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”. </p>
<p>Dalam kitab yang sama ini disebutkan bahwa Muawiyah telah memohon hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: ‘Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat). ’ Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad’. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada di sekitanya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing’. ( Lebih kami sayangkan lagi ada sebagian ulama yang mengakui keshohihan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan tawassul dan tabarruk, tapi mereka berani memutar balik maknanya dan sampai-sampai berani melarang dan mensyirikkan hal tersebut pada orang yang mengamalkannya! Na’udzubillah . )</p>
<p>Riwayat di atas memberikan pelajaran kepada kita bagaimana Khalifah Umar –sahabat Rasulallah saw.– melakukan hal yang pernah diajarkan Rasulallah kepada para sahabat mulia beliau saw.. Walaupun riwayat di atas menunjuk- kan bahwa Umar bin Khattab bertawassul kepada manusia yang masih hidup, akan tetapi hal itu tidak berarti secara otomatis riwayat di atas dapat menjadi bukti bahwa bertawassul kepada yang telah wafat adalah ‘haram’ (entah karena alasan syirik atau bid’ah), karena tidak ada dalil baik dari firman Ilahi atau Sunnah </p>
<p>Rasulallah saw. yang menyatakan kalau tawassul pada orang yang telah wafat itu haram sedangkan pada orang yang masih hidup dibolehkan! Sebenarnya tawassul pada pribadi seseorang baik yang masih hidup maupun telah wafat itu inti/pokoknya adalah sama, yaitu berdo’a kepada Allah swt. sambil menyertakan nama pribadi seseorang itu. Kalau ini dilarang berarti semua bentuk tawassul itu harus diharamkan juga.<br />
Apakah golongan pengingkar ini lupa atau pura-pura lupa bahwa nabi Adam as. bertawassul pada Nabi saw. yang antara lain diriwayatkan oleh ulama pakar yang mereka andalkan yaitu Syeikh Ibnu Taimiyyah, begitu juga mengenai tawassul Nabi Yusuf a.s kepada beliau saw., tawassul mereka pada Nabi saw. yang mana beliau bukannya sudah wafat malah belum dilahirkan dialam wujud ini !  Begitu juga tawassul Rasulallah saw. kepada para Nabi sebelum beliau saw.<br />
Di tambah lagi nanti terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa sebagian sahabat –sesuai dengan pemahaman mereka dari apa yang diajarkan Rasulallah saw.– juga melakukan tawassul kepada seseorang yang secara dhahir telah mati. Yang jelas, riwayat di atas dengan tegas menjelaskan akan dibolehkannya tawassul/istighotsah dan menyangkal pendapat madzhab Wahabi dan pengikutnya yang mengatakan bahwa bertawassul adalah perbuatan sia-sia dan bertentangan dengan –Maha Mendengar dan Maha Mengetahui– Allah swt.. Juga sekaligus menjelaskan legalitas tawassul melalui diri selain Rasulallah saw. (Abbas bin Abdul Mutthalib) dan kedudukan (sebagai paman manusia termulia) di hadapan Allah swt.. </p>
<p>Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya:<br />
 Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)<br />
Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan madzhab Wahabi bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.<br />
Apakah Bilal khusus datang jauh-jauh dari Syam hanya sekedar berziarah dan memeluk pusara Rasulallah saw. tanpa mengatakan apapun (tawassul) kepada penghuni kubur tersebut? </p>
<p>Sekarang mari kita lihat riwayat lain yang berkenaan dengan diperbolehkannya tawassul secara langsung kepada yang telah meninggal:<br />
“Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di  dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398, atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351) </p>
<p>Hadits-hadits diatas mencakup sebagai dalil tentang kebolehan tabarruk dan tawassul kepada orang yang dhahirnya telah wafat, hal itu telah dicontohkan oleh tokoh Salaf Saleh. </p>
<p>BAGI YG INGIN MENDETAIL KETERANGANNYA BUKALAH SITUS <a href="http://WWW.EVERYONEWEB.COM/TABARRUK" rel="nofollow">http://WWW.EVERYONEWEB.COM/TABARRUK</a> PADA BAB TAWASSUL ATAU BAB ZIARAH KUBUR.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-8193</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 06:09:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-8193</guid>
		<description>@Imem

Bagaimana?  Sudahkan anda menemukan hadits yg menyatakan bahwa Rasul saw melarang bertawassul kepada mereka (Nabi dan orang-orang shalih) yg telah meninggal?

@Ja&#039;far

Jadi diklasifikasikan apa bertawassul kepada mereka yg telah meninggal? (sia-sia, haram ataukah syirik?)

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Imem</p>
<p>Bagaimana?  Sudahkan anda menemukan hadits yg menyatakan bahwa Rasul saw melarang bertawassul kepada mereka (Nabi dan orang-orang shalih) yg telah meninggal?</p>
<p>@Ja&#8217;far</p>
<p>Jadi diklasifikasikan apa bertawassul kepada mereka yg telah meninggal? (sia-sia, haram ataukah syirik?)</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7477</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 03:18:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7477</guid>
		<description>&lt;b&gt;@syaefullah&lt;/b&gt;

Terima kasih.

Semoga saudara2 kita yang masih belum menyadari bahwa betapa Allah telah memuliakan Rasul SAW dan memerintahkan kita juga memuliakan beliau. Sayang sekali ketika mereka tidak bisa membedakan memuliakan dengan syirik. Semoga hati mereka terbuka bahwa segaa kemuliaan kepada beliau tidak akan pernah membawa kepada kesyirikan. Islam telah dibentengi dengan kalimat tauhid yang kokoh dan tegas; LAA ILAAHA ILLALLAHU MUHAMMADURRASULULLAAH.
Sangat berlebihan dan keterlaluan cara pikir wahabi yaitu jika memuliakan beliau SAW dikuatirkan terjadi sebagaimana kaum Nasrani menuhankan yesus. Bukti menunjukkan sudah ribuan tahun umat islam memuliakan Rasulullah setinggi2nya namun tidak ada satupun umat islam yang terjebak sebagaimana umat Nasrani.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@syaefullah</b></p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Semoga saudara2 kita yang masih belum menyadari bahwa betapa Allah telah memuliakan Rasul SAW dan memerintahkan kita juga memuliakan beliau. Sayang sekali ketika mereka tidak bisa membedakan memuliakan dengan syirik. Semoga hati mereka terbuka bahwa segaa kemuliaan kepada beliau tidak akan pernah membawa kepada kesyirikan. Islam telah dibentengi dengan kalimat tauhid yang kokoh dan tegas; LAA ILAAHA ILLALLAHU MUHAMMADURRASULULLAAH.<br />
Sangat berlebihan dan keterlaluan cara pikir wahabi yaitu jika memuliakan beliau SAW dikuatirkan terjadi sebagaimana kaum Nasrani menuhankan yesus. Bukti menunjukkan sudah ribuan tahun umat islam memuliakan Rasulullah setinggi2nya namun tidak ada satupun umat islam yang terjebak sebagaimana umat Nasrani.</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: syaefullah</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7467</link>
		<dc:creator>syaefullah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 17:22:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7467</guid>
		<description>saya yakin tulisan diatas udh cukup jelas, tentang salah satu keutamaan Baginda Rasulullah Kecintaan kita, bahwa : 
1. Bahkan baginda rasulullah, dapat atas IZIN Allah mensucikan jiwa kita
”Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Ra-sul dari kalangan mereka sendiri (Muham-mad saw) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan MENYUCIKAN mereka. Sesung-guhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana” (QS. 2/Al-Baqarah:129).
2. Dan diayat lain, baginda rasulullah dapat melepaskan beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka, beban – beban dan belenggu umatnya yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia,
QS.7 (AL-A’RAAF): 157:
(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Pribadi Baginda Rasulullah lah yang telah dirahmati ALLAH (itulah arti rahmat segala Alamnya Rasulullah) untuk dapat mensucikan jiwa-jiwa para pecintanya, dan dapat melepaskan belenggu-belenggu beban berat para pecintanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya yakin tulisan diatas udh cukup jelas, tentang salah satu keutamaan Baginda Rasulullah Kecintaan kita, bahwa :<br />
1. Bahkan baginda rasulullah, dapat atas IZIN Allah mensucikan jiwa kita<br />
”Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Ra-sul dari kalangan mereka sendiri (Muham-mad saw) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan MENYUCIKAN mereka. Sesung-guhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana” (QS. 2/Al-Baqarah:129).<br />
2. Dan diayat lain, baginda rasulullah dapat melepaskan beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka, beban – beban dan belenggu umatnya yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia,<br />
QS.7 (AL-A’RAAF): 157:<br />
(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p>Pribadi Baginda Rasulullah lah yang telah dirahmati ALLAH (itulah arti rahmat segala Alamnya Rasulullah) untuk dapat mensucikan jiwa-jiwa para pecintanya, dan dapat melepaskan belenggu-belenggu beban berat para pecintanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7453</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 05:00:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7453</guid>
		<description>Ops..salah bold lagi..sorry :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ops..salah bold lagi..sorry <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7452</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 04:55:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7452</guid>
		<description>@imem, di/pada Juni 25th, 2009 pada 6:06 am:

&lt;blockquote&gt;manaaaa???? yang nunjukin bolehnya tawasul kepada Nabi yang sudah meninggal pada kalimat hadits di atas? manaaa??? wuakakakak…&lt;/blockquote&gt;

Sy kira SP tdk sedang menunjukkan boleh/tidaknya tawassul, namun sedang menunjukkan &lt;strong&gt;kemungkinan&lt;strong&gt; bisanya bertawassul.  Boleh/tidaknya bertawasul harusnya tidak perlu ditanyakan, karena selama tidak ada larangan dari Nabi saw terhadap sebuah perkara, maka semuanya menjadi boleh.  Sesuai kaidah ushul yang kita pahami, yakni: &lt;em&gt;&quot;Segala perbuatan manusia secara umum adalah mubah (boleh), kecuali bila perbuatan tersebut termasuk jenis perbuatan yang terlarang dalam syareat&quot;.&lt;/em&gt;

Andalah yg seharusnya membuktikan kepada kami bahwa telah ada larangan bertawassul kepada mayit oleh Nabi saw, sebab anda yang menolak serta mensyirikkan pelakunya.  Bisakah anda menyodorkan buktinya?  Tidak bukan?  

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@imem, di/pada Juni 25th, 2009 pada 6:06 am:</p>
<blockquote><p>manaaaa???? yang nunjukin bolehnya tawasul kepada Nabi yang sudah meninggal pada kalimat hadits di atas? manaaa??? wuakakakak…</p></blockquote>
<p>Sy kira SP tdk sedang menunjukkan boleh/tidaknya tawassul, namun sedang menunjukkan <strong>kemungkinan</strong><strong> bisanya bertawassul.  Boleh/tidaknya bertawasul harusnya tidak perlu ditanyakan, karena selama tidak ada larangan dari Nabi saw terhadap sebuah perkara, maka semuanya menjadi boleh.  Sesuai kaidah ushul yang kita pahami, yakni: <em>&#8220;Segala perbuatan manusia secara umum adalah mubah (boleh), kecuali bila perbuatan tersebut termasuk jenis perbuatan yang terlarang dalam syareat&#8221;.</em></p>
<p>Andalah yg seharusnya membuktikan kepada kami bahwa telah ada larangan bertawassul kepada mayit oleh Nabi saw, sebab anda yang menolak serta mensyirikkan pelakunya.  Bisakah anda menyodorkan buktinya?  Tidak bukan?  </p>
<p>Salam</strong></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7451</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 04:36:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7451</guid>
		<description>@Ja’far, di/pada Juni 24th, 2009 pada 5:30 pm

&lt;blockquote&gt;Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?

Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…

Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…&lt;/blockquote&gt;

Menganalogikan “permohonan” kepada Nabi saw dan orang-orang shalih (wali-wali Allah) dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Kaum Nasrani dan para penyembah berhala adalah sangat jauh panggang dari api. Permohonan kaum Nasrani kepada Yesus atau Bunda Maria &lt;strong&gt;dilandasi keyakinan dan itikad adanya sifat ketuhanan dan sifat kemandirian sebagai pemberi manfaat pada diri keduanya.&lt;/strong&gt; Begitu pula para penyembah berhala yang menganggap berhala yang disembah memiliki kedudukan layaknya Tuhan sebagai pemberi manfaat. Sementara permohonan yang ditujukan kepada para Nabi dan wali-wali Allah jauh dari itikad demikian. Permohonan kepada para Nabi Allah dan wali-wali Allah swt adalah merupakan bentuk penghormatan &amp; ketakziman dengan adanya sifat-sifat mulia pada diri-diri mereka, yang sehingga kedudukan mereka yang sangat khusus dengan Allah swt menjadikan mereka pantas untuk dijadikan wasilah (perantara) antara kita dengan Allah swt.

Anda harus tegas menentukan apakah tawassul itu: sia-sia, haram, atau syirik?

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Ja’far, di/pada Juni 24th, 2009 pada 5:30 pm</p>
<blockquote><p>Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?</p>
<p>Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…</p>
<p>Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…</p></blockquote>
<p>Menganalogikan “permohonan” kepada Nabi saw dan orang-orang shalih (wali-wali Allah) dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Kaum Nasrani dan para penyembah berhala adalah sangat jauh panggang dari api. Permohonan kaum Nasrani kepada Yesus atau Bunda Maria <strong>dilandasi keyakinan dan itikad adanya sifat ketuhanan dan sifat kemandirian sebagai pemberi manfaat pada diri keduanya.</strong> Begitu pula para penyembah berhala yang menganggap berhala yang disembah memiliki kedudukan layaknya Tuhan sebagai pemberi manfaat. Sementara permohonan yang ditujukan kepada para Nabi dan wali-wali Allah jauh dari itikad demikian. Permohonan kepada para Nabi Allah dan wali-wali Allah swt adalah merupakan bentuk penghormatan &amp; ketakziman dengan adanya sifat-sifat mulia pada diri-diri mereka, yang sehingga kedudukan mereka yang sangat khusus dengan Allah swt menjadikan mereka pantas untuk dijadikan wasilah (perantara) antara kita dengan Allah swt.</p>
<p>Anda harus tegas menentukan apakah tawassul itu: sia-sia, haram, atau syirik?</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7450</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 04:34:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7450</guid>
		<description>@Ja&#039;far, di/pada Juni 24th, 2009 pada 5:30 pm

&lt;blockquote&gt;Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?

Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…

Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…&lt;/blockquote&gt;

Menganalogikan “permohonan” kepada Nabi saw dan orang-orang shalih (wali-wali Allah) dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Kaum Nasrani dan para penyembah berhala adalah sangat jauh panggang dari api.  Permohonan kaum Nasrani kepada Yesus atau Bunda Maria &lt;strong&gt;dilandasi keyakinan dan itikad adanya sifat ketuhanan dan sifat kemandirian sebagai pemberi manfaat pada diri keduanya &lt;strong&gt;  Begitu pula para penyembah berhala yang menganggap berhala yang disembah memiliki kedudukan layaknya Tuhan sebagai pemberi manfaat.  Sementara permohonan yang ditujukan kepada para Nabi dan wali-wali Allah jauh dari itikad demikian.  Permohonan kepada para Nabi Allah dan wali-wali Allah swt adalah merupakan bentuk penghormatan &amp; ketakziman dengan adanya sifat-sifat mulia pada diri-diri mereka, yang sehingga kedudukan mereka yang sangat khusus dengan Allah swt menjadikan mereka pantas untuk dijadikan wasilah (perantara) antara kita dengan Allah swt.

Anda harus tegas menentukan apakah tawassul itu: sia-sia, haram, atau syirik?

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Ja&#8217;far, di/pada Juni 24th, 2009 pada 5:30 pm</p>
<blockquote><p>Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?</p>
<p>Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…</p>
<p>Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…</p></blockquote>
<p>Menganalogikan “permohonan” kepada Nabi saw dan orang-orang shalih (wali-wali Allah) dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Kaum Nasrani dan para penyembah berhala adalah sangat jauh panggang dari api.  Permohonan kaum Nasrani kepada Yesus atau Bunda Maria <strong>dilandasi keyakinan dan itikad adanya sifat ketuhanan dan sifat kemandirian sebagai pemberi manfaat pada diri keduanya </strong><strong>  Begitu pula para penyembah berhala yang menganggap berhala yang disembah memiliki kedudukan layaknya Tuhan sebagai pemberi manfaat.  Sementara permohonan yang ditujukan kepada para Nabi dan wali-wali Allah jauh dari itikad demikian.  Permohonan kepada para Nabi Allah dan wali-wali Allah swt adalah merupakan bentuk penghormatan &amp; ketakziman dengan adanya sifat-sifat mulia pada diri-diri mereka, yang sehingga kedudukan mereka yang sangat khusus dengan Allah swt menjadikan mereka pantas untuk dijadikan wasilah (perantara) antara kita dengan Allah swt.</p>
<p>Anda harus tegas menentukan apakah tawassul itu: sia-sia, haram, atau syirik?</p>
<p>Salam</strong></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Halwa</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7448</link>
		<dc:creator>Halwa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 02:56:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7448</guid>
		<description>@Ja`far dan Imem

mohon tanggapannya

Adam Bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW.

” tersebut dalam hadits, bahwa Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW. Al Hakim berkata dalam kitabnya Al Mustadrak, dari Umar Ra, ia berkata, Rasululloh SAW bersabda, ” Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata, ” Wahai Rabb-ku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad karena dosa-dosaku, agar engkau mengampuniku. Lalu Allah berfirman, ” Wahai Adam, bagaimana engkau mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya ? Adam menjawab, ” Wahai Rabb-ku, karena Engkau tatkala menciptakanku dengan ” Tangan-Mu’ dan meniupkan “Ruh-Mu ” ke dalam diriku, maka Engkau mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki ( penyangga ) Arasy tertulis ” Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rasulullah ” sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam nama-Mu kecuali Mahluk yang Engkau paling cintai. ” Lalu Allah berfirman, ” Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah mahluk yang paling Aku cintai, berdoalah kepada-Ku dengan hak dia, maka sungguh Aku mengampunimu, sekiranya tidak ada Muhammad, maka aku tidak menciptakanmu ( Adam ). ” (HR Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak dan di shahihkannya.Juz II, hal 615)

salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Ja`far dan Imem</p>
<p>mohon tanggapannya</p>
<p>Adam Bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>” tersebut dalam hadits, bahwa Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW. Al Hakim berkata dalam kitabnya Al Mustadrak, dari Umar Ra, ia berkata, Rasululloh SAW bersabda, ” Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata, ” Wahai Rabb-ku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad karena dosa-dosaku, agar engkau mengampuniku. Lalu Allah berfirman, ” Wahai Adam, bagaimana engkau mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya ? Adam menjawab, ” Wahai Rabb-ku, karena Engkau tatkala menciptakanku dengan ” Tangan-Mu’ dan meniupkan “Ruh-Mu ” ke dalam diriku, maka Engkau mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki ( penyangga ) Arasy tertulis ” Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rasulullah ” sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam nama-Mu kecuali Mahluk yang Engkau paling cintai. ” Lalu Allah berfirman, ” Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah mahluk yang paling Aku cintai, berdoalah kepada-Ku dengan hak dia, maka sungguh Aku mengampunimu, sekiranya tidak ada Muhammad, maka aku tidak menciptakanmu ( Adam ). ” (HR Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak dan di shahihkannya.Juz II, hal 615)</p>
<p>salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7447</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 02:28:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7447</guid>
		<description>&lt;b&gt;@Ja&#039;far&lt;/b&gt;
Mudah2an ini bukan usaha terakhir utk berdiskusi dengan anda.. :D
&lt;blockquote&gt;Rasulullah bisa memberi manfaat kepada umatnya namun bukan melalui jalan tawassul yang berdo’a “ya rasul, ya ali, dsb..”
Rasulullah bisa memberi memberi manfaat kepada umatnya dengan jalan umatnya mengucapkan shalawat kepada nabi sehingga Allah akan memberikan keberkahan bagi pengucap shalawat tersebut.&lt;/blockquote&gt;
Mas Ja&#039;far, bertawassul adalah sesuatu yang boleh (menurut saya bahkan diperintahkan Allah) sesuai dg ayat berikut:
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Surat Al Maidah ayat 35 : “Hai orang-0rang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada Nya. Supaya kamu mendapat keuntungan.” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
Tawassul menjadi terlarang ketika mazhab wahabi muncul. Ketika mazhab ini kesulitan mempertahankan paham mereka, maka kemudian mereka menyatakan tawassul boleh hanya kepada yang hidup.
Pertanyaan saya:
1. Tunjukkan bahwa mazhab anda bertawassul kepada yang hidup (kepada siapa?). Kalau tidak ada apakah itu menunjukkan bahwa mazhab ini hakikatnya mengharamkan tawassul?
2. Apa dasar anda melarang tawassul kepada yang sudah mati? Apa bedanya dg yang hidup? Karena bagi mereka yang meyakini tawassul, bukan fisik/kehidupan orang yang menyebabkan mereka jadikan sebagai perantara, namun kemuliaan orang tsb, sedangkan kemuliaan tidaklah pernah mati.
3. Dari mana Rasulullah tahu bahwa ada yang menafkahkan di jalan Allah, sehingga beliau shalli kepada orang tsb?

Wassalam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@Ja&#8217;far</b><br />
Mudah2an ini bukan usaha terakhir utk berdiskusi dengan anda.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Rasulullah bisa memberi manfaat kepada umatnya namun bukan melalui jalan tawassul yang berdo’a “ya rasul, ya ali, dsb..”<br />
Rasulullah bisa memberi memberi manfaat kepada umatnya dengan jalan umatnya mengucapkan shalawat kepada nabi sehingga Allah akan memberikan keberkahan bagi pengucap shalawat tersebut.</p></blockquote>
<p>Mas Ja&#8217;far, bertawassul adalah sesuatu yang boleh (menurut saya bahkan diperintahkan Allah) sesuai dg ayat berikut:<br />
<b><i>Surat Al Maidah ayat 35 : “Hai orang-0rang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada Nya. Supaya kamu mendapat keuntungan.” </i></b><br />
Tawassul menjadi terlarang ketika mazhab wahabi muncul. Ketika mazhab ini kesulitan mempertahankan paham mereka, maka kemudian mereka menyatakan tawassul boleh hanya kepada yang hidup.<br />
Pertanyaan saya:<br />
1. Tunjukkan bahwa mazhab anda bertawassul kepada yang hidup (kepada siapa?). Kalau tidak ada apakah itu menunjukkan bahwa mazhab ini hakikatnya mengharamkan tawassul?<br />
2. Apa dasar anda melarang tawassul kepada yang sudah mati? Apa bedanya dg yang hidup? Karena bagi mereka yang meyakini tawassul, bukan fisik/kehidupan orang yang menyebabkan mereka jadikan sebagai perantara, namun kemuliaan orang tsb, sedangkan kemuliaan tidaklah pernah mati.<br />
3. Dari mana Rasulullah tahu bahwa ada yang menafkahkan di jalan Allah, sehingga beliau shalli kepada orang tsb?</p>
<p>Wassalam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: aburahat</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7446</link>
		<dc:creator>aburahat</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 01:45:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7446</guid>
		<description>@imem
Sebelum kita lanjutkan pembahasan Tawasul jawab dulu pertanyaan saya agar kita sepaham. Sebab sdr Jafar teman dalam semazhab tidak berani menjawab.
Pertanyaan saya adalah; Apakah Firman2 Allah hanya berlaku pada zaman Nabi saja atau sampai KIAMAT/Sampai ditarik Allah kembali. Jawablah. Wasalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@imem<br />
Sebelum kita lanjutkan pembahasan Tawasul jawab dulu pertanyaan saya agar kita sepaham. Sebab sdr Jafar teman dalam semazhab tidak berani menjawab.<br />
Pertanyaan saya adalah; Apakah Firman2 Allah hanya berlaku pada zaman Nabi saja atau sampai KIAMAT/Sampai ditarik Allah kembali. Jawablah. Wasalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: imem</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/16/kemuliaan-rasulullah-saw-baik-hidup-maupun-wafat-studi-kritis-hadis-tawassul/#comment-7445</link>
		<dc:creator>imem</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 23:06:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=987#comment-7445</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”.&lt;/blockquote&gt;

manaaaa???? yang nunjukin bolehnya tawasul kepada Nabi yang sudah meninggal pada kalimat hadits di atas?  manaaa??? wuakakakak...

Bener kata Kang Ja&#039;far, nanti pada hr kebangkitan, perbuatan2 umatnya akan diperlihatkan kepada beliau..

hal tersebut diperjelas dengan QS. at-Taubah (9) : 105 :

&lt;i&gt;Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.&lt;/i&gt;

dan ini tafsirnya :

Mujahid said that this Ayah carries a warning from Allah to those who defy His orders. Their deeds will be shown to Allah, Blessed and Most Honored, and to the Messenger and the believers. This will certainly occur on the Day of Resurrection, just as Allah said, 

[يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ ] 

(That Day shall you be brought to Judgement, not a secret of you will be hidden.) [69:18], 

[يَوْمَ تُبْلَى السَّرَآئِرُ ] 

(The Day when all the secrets will be examined.)[86:9], and, 

[وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُورِ ] 

(And that which is in the breasts (of men) shall be made known.)[100:10] Allah might also expose some deeds to the people in this life. Al-Bukhari said that `Aishah said, &quot;If the good deeds of a Muslim person please you, then say, 

[اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ] 

(Do deeds! Allah will see your deeds, and (so will) His Messenger and the believers.)&#039;&#039; There is a Hadith that carries a similar meaning. Imam Ahmad recorded that Anas said that the Messenger of Allah said, 

«لَا عَلَيْكُمْ أَنْ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ،فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بَــرهَةً مِنْ دَهْرِهِ . بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّءٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِه» 

(Do not be pleased with someone&#039;s deeds until you see what his deeds in the end will be like. Verily, one might work for some time of his life with good deeds, so that if he dies while doing it, he will enter Paradise. However, he changes and commits evil deeds. one might commit evil deeds for some time in his life, so that if he dies while doing them he will enter the Fire. However, he changes and performs good deeds. If Allah wants the good of a servant He employs him before he dies.) He was asked, &quot;How would Allah employ him, O Allah&#039;s Messenger&#039;&#039; He said, 

«يُوَفِّقُهُ لِعَمِلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْه» 

(He directs him to perform good deeds and takes his life in that condition.) Only Imam Ahmad collected this Hadith.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”.</p></blockquote>
<p>manaaaa???? yang nunjukin bolehnya tawasul kepada Nabi yang sudah meninggal pada kalimat hadits di atas?  manaaa??? wuakakakak&#8230;</p>
<p>Bener kata Kang Ja&#8217;far, nanti pada hr kebangkitan, perbuatan2 umatnya akan diperlihatkan kepada beliau..</p>
<p>hal tersebut diperjelas dengan QS. at-Taubah (9) : 105 :</p>
<p><i>Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.</i></p>
<p>dan ini tafsirnya :</p>
<p>Mujahid said that this Ayah carries a warning from Allah to those who defy His orders. Their deeds will be shown to Allah, Blessed and Most Honored, and to the Messenger and the believers. This will certainly occur on the Day of Resurrection, just as Allah said, </p>
<p>[يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ ] </p>
<p>(That Day shall you be brought to Judgement, not a secret of you will be hidden.) [69:18], </p>
<p>[يَوْمَ تُبْلَى السَّرَآئِرُ ] </p>
<p>(The Day when all the secrets will be examined.)[86:9], and, </p>
<p>[وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُورِ ] </p>
<p>(And that which is in the breasts (of men) shall be made known.)[100:10] Allah might also expose some deeds to the people in this life. Al-Bukhari said that `Aishah said, &#8220;If the good deeds of a Muslim person please you, then say, </p>
<p>[اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ] </p>
<p>(Do deeds! Allah will see your deeds, and (so will) His Messenger and the believers.)&#8221; There is a Hadith that carries a similar meaning. Imam Ahmad recorded that Anas said that the Messenger of Allah said, </p>
<p>«لَا عَلَيْكُمْ أَنْ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ،فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بَــرهَةً مِنْ دَهْرِهِ . بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّءٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِه» </p>
<p>(Do not be pleased with someone&#8217;s deeds until you see what his deeds in the end will be like. Verily, one might work for some time of his life with good deeds, so that if he dies while doing it, he will enter Paradise. However, he changes and commits evil deeds. one might commit evil deeds for some time in his life, so that if he dies while doing them he will enter the Fire. However, he changes and performs good deeds. If Allah wants the good of a servant He employs him before he dies.) He was asked, &#8220;How would Allah employ him, O Allah&#8217;s Messenger&#8221; He said, </p>
<p>«يُوَفِّقُهُ لِعَمِلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْه» </p>
<p>(He directs him to perform good deeds and takes his life in that condition.) Only Imam Ahmad collected this Hadith.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
