<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Inkonsistensi Dalam Pembahasan Tentang Syiah, Tasyayyu’, Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem ; Menggugat Antirafidhah.</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 06:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: ejajufri</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7179</link>
		<dc:creator>ejajufri</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 06:05:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7179</guid>
		<description>Salam... Wah, saya mau masuk ke mana ya.. banyak kali penggolongannya :D Kalo mengutamakan Ali di atas para sahabat disebut tasyayyu&#039; ekstrim, berapa banyak umat Islam yang tasyayyu&#039; ya :roll:

Salut, dengan analisis SP, izinkan saya link :D Kalo berkenan tukeran link :oops:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam&#8230; Wah, saya mau masuk ke mana ya.. banyak kali penggolongannya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Kalo mengutamakan Ali di atas para sahabat disebut tasyayyu&#8217; ekstrim, berapa banyak umat Islam yang tasyayyu&#8217; ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salut, dengan analisis SP, izinkan saya link <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Kalo berkenan tukeran link <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_redface.gif' alt=':oops:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: halwa</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7055</link>
		<dc:creator>halwa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 02:17:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7055</guid>
		<description>jadi ingat sebuah Wasiat Imam Ali;
Barangsiapa banyak berbuat niscaya dia banyak
mengetahui. Barangsiapa banyak bicara niscaya banyak pula kesalahannya.
Barangsiapa banyak salahnya niscaya tipis rasa malunya. Barangsiapa tipis
rasa
malunya niscaya hatinya mati. Dan barangsiapa hatinya mati maka nerakalah
tempatnya.

salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi ingat sebuah Wasiat Imam Ali;<br />
Barangsiapa banyak berbuat niscaya dia banyak<br />
mengetahui. Barangsiapa banyak bicara niscaya banyak pula kesalahannya.<br />
Barangsiapa banyak salahnya niscaya tipis rasa malunya. Barangsiapa tipis<br />
rasa<br />
malunya niscaya hatinya mati. Dan barangsiapa hatinya mati maka nerakalah<br />
tempatnya.</p>
<p>salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Nomad</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7016</link>
		<dc:creator>Nomad</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 02:54:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7016</guid>
		<description>Keliatan bgt paham salafinya yakni paham pokoknya, wkwkwkwkw......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Keliatan bgt paham salafinya yakni paham pokoknya, wkwkwkwkw&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7015</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 01:38:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7015</guid>
		<description>@SP

Eh, mas saya biasa-biasa saja :) kayaknya msh lebih asyik kasi komen

&lt;blockquote&gt;Anda itu cuma mau membantah saja setiap apa yang dikatakan orang lain. Disini yang kita permasalahkan bukan soal dhaif tidaknya tetapi soal penyebutan istilah yang dilakukan Ibnu Hajar. Kalau kutipan dalam Hady As Sari itu diterapkan Ibnu Hajar secara konsisten maka sudah pasti beliau akan menyebut Jabir sebagai Rafidhah sangat ekstrem, bukan Rafidhah. Masa’ yang begini gak ngerti, capeeeee deh :mrgreen: &lt;/blockquote&gt;

Ah, saya liat mas ga cape-cape :mrgreen:

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@SP</p>
<p>Eh, mas saya biasa-biasa saja <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  kayaknya msh lebih asyik kasi komen</p>
<blockquote><p>Anda itu cuma mau membantah saja setiap apa yang dikatakan orang lain. Disini yang kita permasalahkan bukan soal dhaif tidaknya tetapi soal penyebutan istilah yang dilakukan Ibnu Hajar. Kalau kutipan dalam Hady As Sari itu diterapkan Ibnu Hajar secara konsisten maka sudah pasti beliau akan menyebut Jabir sebagai Rafidhah sangat ekstrem, bukan Rafidhah. Masa’ yang begini gak ngerti, capeeeee deh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  </p></blockquote>
<p>Ah, saya liat mas ga cape-cape <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: antinashibi</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7014</link>
		<dc:creator>antinashibi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 01:13:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7014</guid>
		<description>he he imem ...mendingan ente gabung aja di blog hakekat.com atau haulasyiah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>he he imem &#8230;mendingan ente gabung aja di blog hakekat.com atau haulasyiah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7013</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 00:48:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7013</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Maaf, justru sebenarnya yang ga konsisten itu si pemilik blog yang berkedok SP ini, dalam artikel sebelumnya jelas-jelas SP mengambil pendapt dari Ibnu Hajar mengenai Abu Thufail ini, eh kemudian dia men-jarh Ibnu Hajar ini, dia bilang beliau inkonsisten (menurut pandangannya).&lt;/blockquote&gt;
:lol: lucu sekali anda ini,  jangan samakanlah orang yang taklid seperti anda dengan para penuntut ilmu. Mereka para penuntut ilmu terus belajar, mereka tidak pernah mengakui bahwa seluruh yang dikatakan seorang ulama adalah benar. Yang benar diambil, yang tidak ya tinggalkan. Kalau itu yang namanya &lt;em&gt;inkonsisten&lt;/em&gt;, maka hampir semua ulama inkonsisten. Mereka para ulama terkadang merujuk pada Ulama lain tapi terkadang malah membantah ulama tersebut. ho ho maaf anda sepertinya asing sekali dengan hal ini ya :mrgreen:
&lt;blockquote&gt;Analoginya adalah SP menggelar acara diskusi dengan mengambil nara sumber bernama Ibnu Hajar di dalam diskusi tsb, seharusnya SP mempercayai kredibilitas Ibnu Hajar ini (termasuk prinsip beliau dalam menilai rawi yg mgkn berbeda dg ulama lain), karena dia telah menjadikannya sebagai nara sumber dalam topik yg dia bahas, eh, kemudian dg tiba-tiba dia dan menyerang dan menilai nara sumber tersebut inkonsisten karena tidak sesuai dg pendapat pribadinya.. nah siapa kira-kira yg sebenarnya ga inkonsisten itu? Ibnu Hajar ato SP?&lt;/blockquote&gt;
sudah saya jelaskan di atas, kita menyatakan sesuatu dengan bukti bukan dengan asumsi liar. Saya pribadi mengakui kredibilitas Ibnu Hajar tetapi saya tidak mangakui kalau dia selalu benar. Dalam pembahasan di atas saya menunjukkan masalah inkonsistensi yang beliau buat sendiri :)
 &lt;blockquote&gt;wuakakakak…. kalo memang menurut SP, ulama spt Ibnu Hajar ini inkonsisten (sekali lagi menurut SP), buat apa dia ambil pendapat beliau?&lt;/blockquote&gt;
yah buat belajar dong, saya kan tidak taklid seperti anda :mrgreen:
 &lt;blockquote&gt;Sekalian juga buat apa dia pelajari kitab2 sunni? &lt;/blockquote&gt;
buat belajar, lagian kasihan kan kalau gak dibaca, yah kalau anda mungkin gak merasa perlu kali ya belajar kitab-kitab sunni :mrgreen:
&lt;blockquote&gt;Kenapa ga dia pelajari saja kitab-kitab orang Rafidhah yg mungkin menurut dia konsisten.. wuakakak&lt;/blockquote&gt;
kapan saya pernah bilang begitu ya :roll:

&lt;blockquote&gt;Ini dia satu lagi asumsi dari si SP, padahal jelas sekali Ibnu Hajar dengan tegas riwayat Rafidhah Ekstrim yg mempercayai Raj’ah (sudah dinukilkan sebelumnya), berdasarkan sikap Ibnu Hajar tsb, bisa disimpulkan mengapa beliau tidak mengutip soal Raj’ah, yaitu karena beliau mengingkari apa yg dikatakan oleh Ibnu Hazm.. jelas banget kok ini..&lt;/blockquote&gt;
Kalau seperti kata anda, &lt;em&gt;Bagi Ibnu Hajar yang percaya Raj&#039;ah maka dianggap kafir &lt;/em&gt;maka ketika Ibnu Hazm mengatakan Abu Thufail percaya Raj&#039;ah seharusnya Ibnu Hajar mengecam keras akan hal ini. Ya mana mungkin seorang sahabat dianggap kafir kan?. faktanya Ibnu Hajar bukannya buru-buru membantah, beliau malah tidak menuliskan perkataan Ibnu Hazm tentang itu. Artinya Ibnu Hajar tidak bisa membantah bahwa &lt;em&gt;Abu Thufail percaya Raj&#039;ah&lt;/em&gt;. Masa&#039; sikap Ibnu Hajar yang diam saja soal Raj&#039;ah itu dianggap membantah, logika apa ya itu :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Apa masalahnya? Di sini terlihat jelas Ibnu Hajar tetap konsisten dengan sikapnya, yaitu menganggap dhaif perawi Rafidhah yang percaya kepada Raj’ah,apakah hanya soal istilah aja yg beda dipermasalahkan oleh SP?&lt;/blockquote&gt;
Anda itu cuma mau membantah saja setiap apa yang dikatakan orang lain. Nyatanya anda tidak mengerti apa yang sedang dipermasalahkan. Disini yang kita permasalahkan bukan soal dhaif tidaknya tetapi soal penyebutan istilah yang dilakukan Ibnu Hajar. Kalau kutipan dalam Hady As Sari itu diterapkan Ibnu Hajar secara konsisten maka sudah pasti beliau akan menyebut Jabir sebagai &lt;em&gt;Rafidhah sangat ekstrem&lt;/em&gt;, bukan Rafidhah. Masa&#039; yang begini gak ngerti, capeeeee deh :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Lah ya wajar aja, dan bagus itu, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat2 dari ulama lain tetapi beliau tetap mempunyai pendapatnya sendiri. &lt;/blockquote&gt;
lho saya cuma menunjukkan kalau kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari tidak dikenal oleh ulama-ulama lain.
&lt;blockquote&gt;Kalo anda ga setuju dengan beliau, mengapa anda rujuk kitab beliau? Iya ga?&lt;/blockquote&gt;
lagi-lagi pertanyaan gak penting, kalau anda sudah terbiasa taklid ya jangan harus samakanlah orang lain dengan anda :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Lha apa masalahnya, kalo Ibnu Hajar menilai tingkat keyakinan Abu Yaqzhan Al – Kufi pada tingkat Tasyayyu’ Ekstrem (yg tdk percaya Raj’ah), berbeda dg ulama lain dalam menilai rawi tsb? Tentunya itu adalah pendapat beliau sendiri, ya syah2 saja, trs dimana letak inkonsistennya?&lt;/blockquote&gt;
Hooo maksa banget, Pendapat Ibnu Hajar selalu berdasarkan pendapat ulama-ulama sebelumnya karena beliau termasuk ulama belakangan yang tidak mengetahui langsung keadaan perawi tersebut :) 
Letak inkonsistennya sudah saya tunjukkan, jika memang Ibnu Hajar menganggap kafir mereka yang percaya Raj&#039;ah maka beliau pasti akan membantah keras atau mengecam ulama yang menyebutkan bahwa &lt;em&gt;para perawi hadis tersebut percaya Raj&#039;ah&lt;/em&gt;. Yah masa&#039; sih hadis kutub As sittah memuat para perawi kafir :mrgreen:

 &lt;blockquote&gt;Sekali lagi ya wajar2 saja kalo beliau memiliki criteria ato istilah tersendiri dalam menilai para perawi dan itu sudah biasa di kalangan para ulama, yg penting orang2 sesudahnya mengetahui apa yg dimaksud para ulama berdasarkan kaidah2 yg masing2 mereka tetapkan.&lt;/blockquote&gt;
ho ho ho gayanya seolah anda terbiasa saja membaca karya para Ulama :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Sekali lagi, wajar jika beliau berbeda penilaian dengan ulama lain dalam menilai perawi, bukankah dalam At Tahdzib yg berpendapat Al-Harits mempercayai Raj’ah adalah Abu Ahmad Az Zubairi bukan beliau, sebagaimana biasa beliau hanya mengutip pendapat dari ulama lain, tetapi beliau tetap mempunyai pendapat sendiri.&lt;/blockquote&gt;
Tapi pendapat sendiri Ibnu Hajar bukan sesuatu yang muncul dari ilham atau turun dari langit. Pendapat tersebut berdasar dari para ulama yang ia kutip di At Tahdzib. Kembali ke pokok persoalan, kalau memang &lt;em&gt;orang yang dikatakan Raj&#039;ah dianggap kafir karena bid&#039;ahnya&lt;/em&gt;. Maka disini Ibnu Hajar harusnya memberikan bantahan keras terhadap Abu Ahmad Az Zubairi, karena pernyataannya tersebut menurut &lt;em&gt;kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari &lt;/em&gt;telah membuat &lt;em&gt;Al Harits menjadi kafir.&lt;/em&gt; Faktanya Ibnu Hajar tidak membantah, malah adem ayem aja, artinya Ibnu Hajar tidak menerapkan apa yang ia tulis dalam Hady As sari secara konsisten. Seperti yang saya katakan, &lt;em&gt;kutipan dalam Hady As Sari itu&lt;/em&gt; hanyalah teoretis belaka, sampai akhirnya orang-orang seperti anda datang dan main kutip sekenanya tanpa memahami persoalannya dengan benar :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Justru terlihat beliau tetap konsisten bahwa rafidhah yang ekstrem tidak akan diterima riwayatnya, makanya dia beranggap Al-Harits bukanlah Rafidhah Ekstrem, tetapi Rafidhah aja = Tasyayyu’ Ekstrem (menurut criteria beliau) yg masih diterima riwayatnya jika syarat Shaduq terpenuhi pada diri perawi tsb. Iya toh?&lt;/blockquote&gt;
Sekarang coba buktikan, bukankah pengertian &lt;em&gt;rafidhah (dalam Hady As Sari) adalah mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar&lt;/em&gt;. nah kira-kira alasan apa yang membuat Ibnu Hajar beranggapan Al Harits itu Rafidhah saja atau tasyayyu&#039; esktrem?. Dalam At Tahdzib, keterangan yang saya temukan adalah &lt;em&gt;Al Harits percaya dengan Raj&#039;ah&lt;/em&gt;. Bisakah anda menemukan dalam At Tahdzib keterangan kalau &lt;em&gt;Al Harits mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar?.&lt;/em&gt; Bukankah pernyataan Ibnu Hajar dalam At Taqrib itu berdasar pada keterangan dalam At Tahdzib. Tolong dijawab ya, saya malas kalau diskusi pakai asumsi terus :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Justru terlihat bahwa beliau selalu konsisten, bahwa Rafidhah Ekstrem tidak diterima periwayatannya.&lt;/blockquote&gt;
Bahkan arti inkonsisten saja anda tidak paham :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Inilah yg saya maksud bahwa beliau selalu konsisten dengan kaidah yg dipegangnya.. makanya beliau tidak pernah menganggap Rafidhah Ekstrem terhadap perawi yg shaduq atau maqbul. &lt;/blockquote&gt;
Yang mengatakan mereka percaya Raj&#039;ah adalah ulama yang menjadi rujukan Ibnu Hajar, dan Ibnu Hajar tidak memberi bantahan sedikitpun jadi Ibnu Hajar tetap menerima &lt;em&gt;perawi yang percaya Raj&#039;ah.&lt;/em&gt;
&lt;blockquote&gt;Btw.. jangan2 anda ini percaya Raj’ah ya.. wuakakakak…&lt;/blockquote&gt;
lho bukannya anda ya :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Justru jelas sekali terlihat, beliau memperhatikan masalah tsb dan berusaha untuk konsisten.&lt;/blockquote&gt;
buktikan dong, kok kalau ada &lt;em&gt;perawi yang dikatakan percaya Raj&#039;ah&lt;/em&gt; beliau tidak memberi bantahan 

&lt;blockquote&gt;Lho justru saya melihat akan kebenaran pendapat tsb.&lt;/blockquote&gt;
ho ho anda kan melihat apa saja yang tidak dilihat oleh orang lain :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Dhaif dan shaduq itu sudah cukup membedakannya, iya toh..&lt;/blockquote&gt;
lucu sekali, :lol: benar-benar anda ini tidak mengerti persoalan dengan baik. Yang kita persamalahkan adalah penyebutan terhadap Jabir. Kalau Ibnu Hajar mengakui &lt;em&gt;Jabir percaya Raj&#039;ah&lt;/em&gt; kok dia tidak menyebutnya dengan &lt;em&gt;Rafidhah sangat ekstrem. &lt;/em&gt;Kalau dia menolak &lt;em&gt;Jabir mempercayai Raj&#039;ah &lt;/em&gt;sehingga dia berkata Rafidhah saja, kok dia tidak membantah para ulama yang mengatakan &lt;em&gt;Jabir percaya Raj&#039;ah. &lt;/em&gt;Anda kok gak paham ya soal itu malah melarikannya ke &lt;em&gt;dhaif dan shaduq,&lt;/em&gt; memangnya kenapa Ibnu Hajar menganggap Jabir dhaif?. Tolong dijawab ya
&lt;blockquote&gt;Kayaknya itu bukan pendapat Ibnu Hajar dech, tetapi pendapat ulama2 lain yg beliau kutip, sedangkan beliau tetap pada pendapat beliau sendiri.&lt;/blockquote&gt;
dan &lt;em&gt;pendapat beliau sendiri&lt;/em&gt; itu tidak membantah pendapat Ulama-ulama lain yang sudah saya kutip :mrgreen:

&lt;blockquote&gt;Ooh tentu, saya tidak akan mengecewakan para pembaca dan anda tentunya, supaya blog anda tetap hidup &amp; tdk dipenuhi oleh org2 yg hanya sendiko dawuh saja.. wuakakakak…&lt;/blockquote&gt;
anda mau ada atau tidak, itu bukan urusan saya. saya meragukan kalau anda telah membuat blog saya hidup, setidaknya anda harus berterimakasih kepada saya, secara cukup banyak permintaan &lt;em&gt;orang-orang sekitar saya &lt;/em&gt;agar &lt;em&gt;komentar anda itu dianggap spam saja&lt;/em&gt; tetapi saya merasa itu masih belum perlu.

secara umum yah saya pribadi masih bisa toleran terhadap kebodohan, kekolotan, kecuekan, kekeraskepalaan, kepintaran, kepura-puraan, kesokpintaran dan sebagainya tetapi saya tidak toleran dengan ketidaksopanan dan kekurangajaran :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Maaf, justru sebenarnya yang ga konsisten itu si pemilik blog yang berkedok SP ini, dalam artikel sebelumnya jelas-jelas SP mengambil pendapt dari Ibnu Hajar mengenai Abu Thufail ini, eh kemudian dia men-jarh Ibnu Hajar ini, dia bilang beliau inkonsisten (menurut pandangannya).</p></blockquote>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  lucu sekali anda ini,  jangan samakanlah orang yang taklid seperti anda dengan para penuntut ilmu. Mereka para penuntut ilmu terus belajar, mereka tidak pernah mengakui bahwa seluruh yang dikatakan seorang ulama adalah benar. Yang benar diambil, yang tidak ya tinggalkan. Kalau itu yang namanya <em>inkonsisten</em>, maka hampir semua ulama inkonsisten. Mereka para ulama terkadang merujuk pada Ulama lain tapi terkadang malah membantah ulama tersebut. ho ho maaf anda sepertinya asing sekali dengan hal ini ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Analoginya adalah SP menggelar acara diskusi dengan mengambil nara sumber bernama Ibnu Hajar di dalam diskusi tsb, seharusnya SP mempercayai kredibilitas Ibnu Hajar ini (termasuk prinsip beliau dalam menilai rawi yg mgkn berbeda dg ulama lain), karena dia telah menjadikannya sebagai nara sumber dalam topik yg dia bahas, eh, kemudian dg tiba-tiba dia dan menyerang dan menilai nara sumber tersebut inkonsisten karena tidak sesuai dg pendapat pribadinya.. nah siapa kira-kira yg sebenarnya ga inkonsisten itu? Ibnu Hajar ato SP?</p></blockquote>
<p>sudah saya jelaskan di atas, kita menyatakan sesuatu dengan bukti bukan dengan asumsi liar. Saya pribadi mengakui kredibilitas Ibnu Hajar tetapi saya tidak mangakui kalau dia selalu benar. Dalam pembahasan di atas saya menunjukkan masalah inkonsistensi yang beliau buat sendiri <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>wuakakakak…. kalo memang menurut SP, ulama spt Ibnu Hajar ini inkonsisten (sekali lagi menurut SP), buat apa dia ambil pendapat beliau?</p></blockquote>
<p>yah buat belajar dong, saya kan tidak taklid seperti anda <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sekalian juga buat apa dia pelajari kitab2 sunni? </p></blockquote>
<p>buat belajar, lagian kasihan kan kalau gak dibaca, yah kalau anda mungkin gak merasa perlu kali ya belajar kitab-kitab sunni <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Kenapa ga dia pelajari saja kitab-kitab orang Rafidhah yg mungkin menurut dia konsisten.. wuakakak</p></blockquote>
<p>kapan saya pernah bilang begitu ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Ini dia satu lagi asumsi dari si SP, padahal jelas sekali Ibnu Hajar dengan tegas riwayat Rafidhah Ekstrim yg mempercayai Raj’ah (sudah dinukilkan sebelumnya), berdasarkan sikap Ibnu Hajar tsb, bisa disimpulkan mengapa beliau tidak mengutip soal Raj’ah, yaitu karena beliau mengingkari apa yg dikatakan oleh Ibnu Hazm.. jelas banget kok ini..</p></blockquote>
<p>Kalau seperti kata anda, <em>Bagi Ibnu Hajar yang percaya Raj&#8217;ah maka dianggap kafir </em>maka ketika Ibnu Hazm mengatakan Abu Thufail percaya Raj&#8217;ah seharusnya Ibnu Hajar mengecam keras akan hal ini. Ya mana mungkin seorang sahabat dianggap kafir kan?. faktanya Ibnu Hajar bukannya buru-buru membantah, beliau malah tidak menuliskan perkataan Ibnu Hazm tentang itu. Artinya Ibnu Hajar tidak bisa membantah bahwa <em>Abu Thufail percaya Raj&#8217;ah</em>. Masa&#8217; sikap Ibnu Hajar yang diam saja soal Raj&#8217;ah itu dianggap membantah, logika apa ya itu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Apa masalahnya? Di sini terlihat jelas Ibnu Hajar tetap konsisten dengan sikapnya, yaitu menganggap dhaif perawi Rafidhah yang percaya kepada Raj’ah,apakah hanya soal istilah aja yg beda dipermasalahkan oleh SP?</p></blockquote>
<p>Anda itu cuma mau membantah saja setiap apa yang dikatakan orang lain. Nyatanya anda tidak mengerti apa yang sedang dipermasalahkan. Disini yang kita permasalahkan bukan soal dhaif tidaknya tetapi soal penyebutan istilah yang dilakukan Ibnu Hajar. Kalau kutipan dalam Hady As Sari itu diterapkan Ibnu Hajar secara konsisten maka sudah pasti beliau akan menyebut Jabir sebagai <em>Rafidhah sangat ekstrem</em>, bukan Rafidhah. Masa&#8217; yang begini gak ngerti, capeeeee deh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Lah ya wajar aja, dan bagus itu, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat2 dari ulama lain tetapi beliau tetap mempunyai pendapatnya sendiri. </p></blockquote>
<p>lho saya cuma menunjukkan kalau kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari tidak dikenal oleh ulama-ulama lain.</p>
<blockquote><p>Kalo anda ga setuju dengan beliau, mengapa anda rujuk kitab beliau? Iya ga?</p></blockquote>
<p>lagi-lagi pertanyaan gak penting, kalau anda sudah terbiasa taklid ya jangan harus samakanlah orang lain dengan anda <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Lha apa masalahnya, kalo Ibnu Hajar menilai tingkat keyakinan Abu Yaqzhan Al – Kufi pada tingkat Tasyayyu’ Ekstrem (yg tdk percaya Raj’ah), berbeda dg ulama lain dalam menilai rawi tsb? Tentunya itu adalah pendapat beliau sendiri, ya syah2 saja, trs dimana letak inkonsistennya?</p></blockquote>
<p>Hooo maksa banget, Pendapat Ibnu Hajar selalu berdasarkan pendapat ulama-ulama sebelumnya karena beliau termasuk ulama belakangan yang tidak mengetahui langsung keadaan perawi tersebut <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Letak inkonsistennya sudah saya tunjukkan, jika memang Ibnu Hajar menganggap kafir mereka yang percaya Raj&#8217;ah maka beliau pasti akan membantah keras atau mengecam ulama yang menyebutkan bahwa <em>para perawi hadis tersebut percaya Raj&#8217;ah</em>. Yah masa&#8217; sih hadis kutub As sittah memuat para perawi kafir <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sekali lagi ya wajar2 saja kalo beliau memiliki criteria ato istilah tersendiri dalam menilai para perawi dan itu sudah biasa di kalangan para ulama, yg penting orang2 sesudahnya mengetahui apa yg dimaksud para ulama berdasarkan kaidah2 yg masing2 mereka tetapkan.</p></blockquote>
<p>ho ho ho gayanya seolah anda terbiasa saja membaca karya para Ulama <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sekali lagi, wajar jika beliau berbeda penilaian dengan ulama lain dalam menilai perawi, bukankah dalam At Tahdzib yg berpendapat Al-Harits mempercayai Raj’ah adalah Abu Ahmad Az Zubairi bukan beliau, sebagaimana biasa beliau hanya mengutip pendapat dari ulama lain, tetapi beliau tetap mempunyai pendapat sendiri.</p></blockquote>
<p>Tapi pendapat sendiri Ibnu Hajar bukan sesuatu yang muncul dari ilham atau turun dari langit. Pendapat tersebut berdasar dari para ulama yang ia kutip di At Tahdzib. Kembali ke pokok persoalan, kalau memang <em>orang yang dikatakan Raj&#8217;ah dianggap kafir karena bid&#8217;ahnya</em>. Maka disini Ibnu Hajar harusnya memberikan bantahan keras terhadap Abu Ahmad Az Zubairi, karena pernyataannya tersebut menurut <em>kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari </em>telah membuat <em>Al Harits menjadi kafir.</em> Faktanya Ibnu Hajar tidak membantah, malah adem ayem aja, artinya Ibnu Hajar tidak menerapkan apa yang ia tulis dalam Hady As sari secara konsisten. Seperti yang saya katakan, <em>kutipan dalam Hady As Sari itu</em> hanyalah teoretis belaka, sampai akhirnya orang-orang seperti anda datang dan main kutip sekenanya tanpa memahami persoalannya dengan benar <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Justru terlihat beliau tetap konsisten bahwa rafidhah yang ekstrem tidak akan diterima riwayatnya, makanya dia beranggap Al-Harits bukanlah Rafidhah Ekstrem, tetapi Rafidhah aja = Tasyayyu’ Ekstrem (menurut criteria beliau) yg masih diterima riwayatnya jika syarat Shaduq terpenuhi pada diri perawi tsb. Iya toh?</p></blockquote>
<p>Sekarang coba buktikan, bukankah pengertian <em>rafidhah (dalam Hady As Sari) adalah mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar</em>. nah kira-kira alasan apa yang membuat Ibnu Hajar beranggapan Al Harits itu Rafidhah saja atau tasyayyu&#8217; esktrem?. Dalam At Tahdzib, keterangan yang saya temukan adalah <em>Al Harits percaya dengan Raj&#8217;ah</em>. Bisakah anda menemukan dalam At Tahdzib keterangan kalau <em>Al Harits mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar?.</em> Bukankah pernyataan Ibnu Hajar dalam At Taqrib itu berdasar pada keterangan dalam At Tahdzib. Tolong dijawab ya, saya malas kalau diskusi pakai asumsi terus <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Justru terlihat bahwa beliau selalu konsisten, bahwa Rafidhah Ekstrem tidak diterima periwayatannya.</p></blockquote>
<p>Bahkan arti inkonsisten saja anda tidak paham <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Inilah yg saya maksud bahwa beliau selalu konsisten dengan kaidah yg dipegangnya.. makanya beliau tidak pernah menganggap Rafidhah Ekstrem terhadap perawi yg shaduq atau maqbul. </p></blockquote>
<p>Yang mengatakan mereka percaya Raj&#8217;ah adalah ulama yang menjadi rujukan Ibnu Hajar, dan Ibnu Hajar tidak memberi bantahan sedikitpun jadi Ibnu Hajar tetap menerima <em>perawi yang percaya Raj&#8217;ah.</em></p>
<blockquote><p>Btw.. jangan2 anda ini percaya Raj’ah ya.. wuakakakak…</p></blockquote>
<p>lho bukannya anda ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Justru jelas sekali terlihat, beliau memperhatikan masalah tsb dan berusaha untuk konsisten.</p></blockquote>
<p>buktikan dong, kok kalau ada <em>perawi yang dikatakan percaya Raj&#8217;ah</em> beliau tidak memberi bantahan </p>
<blockquote><p>Lho justru saya melihat akan kebenaran pendapat tsb.</p></blockquote>
<p>ho ho anda kan melihat apa saja yang tidak dilihat oleh orang lain <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Dhaif dan shaduq itu sudah cukup membedakannya, iya toh..</p></blockquote>
<p>lucu sekali, <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  benar-benar anda ini tidak mengerti persoalan dengan baik. Yang kita persamalahkan adalah penyebutan terhadap Jabir. Kalau Ibnu Hajar mengakui <em>Jabir percaya Raj&#8217;ah</em> kok dia tidak menyebutnya dengan <em>Rafidhah sangat ekstrem. </em>Kalau dia menolak <em>Jabir mempercayai Raj&#8217;ah </em>sehingga dia berkata Rafidhah saja, kok dia tidak membantah para ulama yang mengatakan <em>Jabir percaya Raj&#8217;ah. </em>Anda kok gak paham ya soal itu malah melarikannya ke <em>dhaif dan shaduq,</em> memangnya kenapa Ibnu Hajar menganggap Jabir dhaif?. Tolong dijawab ya</p>
<blockquote><p>Kayaknya itu bukan pendapat Ibnu Hajar dech, tetapi pendapat ulama2 lain yg beliau kutip, sedangkan beliau tetap pada pendapat beliau sendiri.</p></blockquote>
<p>dan <em>pendapat beliau sendiri</em> itu tidak membantah pendapat Ulama-ulama lain yang sudah saya kutip <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Ooh tentu, saya tidak akan mengecewakan para pembaca dan anda tentunya, supaya blog anda tetap hidup &amp; tdk dipenuhi oleh org2 yg hanya sendiko dawuh saja.. wuakakakak…</p></blockquote>
<p>anda mau ada atau tidak, itu bukan urusan saya. saya meragukan kalau anda telah membuat blog saya hidup, setidaknya anda harus berterimakasih kepada saya, secara cukup banyak permintaan <em>orang-orang sekitar saya </em>agar <em>komentar anda itu dianggap spam saja</em> tetapi saya merasa itu masih belum perlu.</p>
<p>secara umum yah saya pribadi masih bisa toleran terhadap kebodohan, kekolotan, kecuekan, kekeraskepalaan, kepintaran, kepura-puraan, kesokpintaran dan sebagainya tetapi saya tidak toleran dengan ketidaksopanan dan kekurangajaran <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: imem</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-7006</link>
		<dc:creator>imem</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 16:57:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-7006</guid>
		<description>Maaf, justru sebenarnya yang ga konsisten itu si pemilik blog yang berkedok SP ini, dalam artikel sebelumnya jelas-jelas SP mengambil pendapt dari Ibnu Hajar mengenai Abu Thufail ini, eh kemudian dia men-jarh Ibnu Hajar ini, dia bilang beliau inkonsisten (menurut pandangannya).

Analoginya adalah SP menggelar acara diskusi dengan mengambil nara sumber bernama Ibnu Hajar di dalam diskusi tsb, seharusnya SP mempercayai kredibilitas Ibnu Hajar ini (termasuk prinsip beliau dalam menilai rawi yg mgkn berbeda dg ulama lain), karena dia telah menjadikannya sebagai nara sumber dalam topik yg dia bahas,  eh, kemudian dg tiba-tiba dia dan menyerang dan menilai nara sumber tersebut inkonsisten karena tidak sesuai dg pendapat pribadinya.. nah siapa kira-kira yg sebenarnya ga inkonsisten itu? Ibnu Hajar ato SP?  wuakakakak.... kalo memang menurut SP, ulama spt Ibnu Hajar ini inkonsisten (sekali lagi menurut SP), buat apa dia ambil pendapat beliau? Sekalian juga buat apa dia pelajari kitab2 sunni? Kenapa ga dia pelajari saja kitab-kitab orang Rafidhah yg mungkin menurut dia konsisten.. wuakakak

&lt;blockquote&gt;Lihat dengan baik, Ibnu Hajar meninggalkan atau tidak mengutip soal Raj’ah yang dikatakan Ibnu Hazm. Kenapa? &lt;b&gt;Apakah karena beliau tidak mau mengungkapkannya atau karena beliau menganggap itu bukan sebab yang tepat untuk mendhaifkan hadis Abu Thufail&lt;/b&gt;. Dalam Hady As Sari Ibnu Hajar tidak mengutip soal Raj’ah yang disebutkan Ibnu Hazm, padahal jika memang Ibnu Hajar menolak atau membantah soal ini maka sudah sepatutnya ia menjelaskan tentang itu, &lt;b&gt;tidak adanya pembahasan tentang Raj’ah menunjukkan Ibnu Hajar tidak membantah bahwa “Abu Thufail percaya Raj’ah” (ditambah lagi hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah) tetapi menurut beliau hal itu tidak membuat hadis-hadis Abu Thufail menjadi dhaif karena beliau adalah seorang Sahabat. Hanya ini yang dapat kita simpulkan dari perkataan Ibnu Hajar yang sangat singkat tersebut.&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;

Ini dia satu lagi asumsi dari si SP, padahal jelas sekali Ibnu Hajar dengan tegas riwayat Rafidhah Ekstrim yg mempercayai Raj’ah (sudah dinukilkan sebelumnya), berdasarkan sikap Ibnu Hajar tsb, bisa disimpulkan mengapa beliau tidak mengutip soal Raj’ah, yaitu karena beliau mengingkari apa yg dikatakan oleh Ibnu Hazm.. jelas banget kok ini..

&lt;blockquote&gt;Jadi Jabir bin Yazid Al Ju’fi adalah seorang yang percaya dengan Raj’ah maka merujuk ke hipotesis sebelumnya, sudah pasti Ibnu Hajar akan menganggap Jabir bin Yazid Al Ju’fi sebagai Rafidhah sangat ekstrem. Tetapi apa yang Ibnu Hajar tulis dalam At Taqrib 1/154
جابر بن يزيد بن الحارث الجعفي أبو عبد الله الكوفي ضعيف رافضي
Jabir bin Yazid bin Al Harits Al Ju’fi Abu Abdullah Al Kufi seorang Rafidhah yang dhaif.&lt;/blockquote&gt;

Apa masalahnya? Di sini terlihat jelas Ibnu Hajar tetap konsisten dengan sikapnya, yaitu menganggap dhaif perawi Rafidhah yang percaya kepada Raj’ah,apakah hanya soal istilah aja yg beda dipermasalahkan oleh SP?

&lt;blockquote&gt;Kembali ke kutipan dalam Hady As Sari, bukankah Rafidhah bagi Ibnu Hajar adalah Tasyayyu’ ekstrem yaitu Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Bukankah mereka yang percaya Raj’ah seharusnya disebut Rafidhah sangat ekstrem.  
.
Lihat perkataan Al Ajli dalam At Tahdzib jilid 2 no 75
وقال العجلي كان ضعيفا يغلو في التشيع وكان يدلس
Al Ajli berkata, Jabir dhaif, Tasyayyu’ ekstrem dan melakukan tadlis
.
Bukankah ini salah satu bukti bahwa kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari justru tidak digunakan oleh Ibnu Hajar sendiri dan ulama lainnya. Anehnya Antirafidhah itu dengan bangga berhujjah dengan kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari.&lt;/blockquote&gt;

Lah ya wajar aja, dan bagus itu, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat2 dari ulama lain tetapi beliau tetap mempunyai pendapatnya sendiri. Kalo anda ga setuju dengan beliau, mengapa anda rujuk kitab beliau? Iya ga?

&lt;blockquote&gt;Utsman bin Umair
Utsman bin Umair Abu Yaqzhan juga salah seorang perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 7 no 293 disebutkan
عن أبي أحمد الزبيري كان الحارث بن حصين وأبو اليقظان يؤمنان بالرجعة ويقال كان يغلو في التشيع
Dari Abu Ahmad Az Zubairi “Al Harits bin Hushain dan Abu Yaqzhan percaya dengan Raj’ah dan dikatakan Tasyayyu’ ekstrem
.
Ibnu Ady juga berkata tentang Utsman bin Umair
غال في التشيع يؤمن بالرجعة ويكتب حديثه مع ضعفه
Tasyayyu’ ekstrem percaya dengan Raj’ah ditulis hadisnya dan dia dhaif.
Lagi-lagi kita lihat para ulama tetap menyebut mereka yang percaya Raj’ah dengan sebutan Tasyayyu’ ekstrem padahal menurut Ibnu Hajar dalam Hady As Sari orang yang percaya Raj’ah adalah Rafidhah yang sangat ekstrem.
.
Mari kita lihat ucapan Ibnu Hajar sendiri dalam At Taqrib 1/663
أبو اليقظان الكوفي الأعمى ضعيف واختلط وكان يدلس ويغلفي التشيع
Abu Yaqzhan Al Kufi dhaif ikhtilat, melakukan tadlis dan tasyayyu’ esktrem.
.
Perhatikan Ibnu Hajar tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem, beliau menyebut Utsman bin Umair tasyayyu’ ekstrem. Begitulah fakta yang terjadi  &lt;/blockquote&gt;

Lha apa masalahnya, kalo Ibnu Hajar menilai tingkat keyakinan Abu Yaqzhan Al – Kufi pada tingkat Tasyayyu’ Ekstrem (yg tdk percaya Raj’ah), berbeda dg ulama lain dalam menilai rawi tsb? Tentunya itu adalah pendapat beliau sendiri, ya syah2 saja, trs dimana letak inkonsistennya?

&lt;blockquote&gt;Artinya  jika seseorang dikatakan Tasyayyu’ ekstrem berarti ia mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar dan jika seseorang dikatakan Syiah ia mengutamakan Ali di atas sahabat lain tetapi tidak mengutamakan Ali diatas Abu Bakar dan Umar. Sangat tidak mungkin kalau dikatakan ia Syiah Tasyayyu’ ekstrem, jadi kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari ini tidak dikenal oleh Daruquthni. &lt;/blockquote&gt;

Sekali lagi ya wajar2 saja kalo beliau memiliki criteria ato istilah tersendiri dalam menilai para perawi dan itu sudah biasa di kalangan para ulama, yg penting orang2 sesudahnya mengetahui apa yg dimaksud para ulama berdasarkan kaidah2 yg masing2 mereka tetapkan.

&lt;blockquote&gt;Al Harits bin Hushairah telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasai, Al Ajli, Ibnu Numair. Ibnu Hibban juga memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Jadi kendati ia percaya Raj’ah beliau tetap dinyatakan tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/173 berkata
أبو النعمان الكوفي صدوق يخطئ ورمي بالرفض
Abu Nu’man al Kufi shaduq tetapi sering salah, rafidhah
Ibnu Hajar tentu mengetahui kalau Al Harits percaya dengan raj’ah karena hal itu beliau tulis sendiri dalam At Tahdzib tetapi dalam At Taqrib beliau tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem tetapi rafidhah saja. Dan bagaimana mungkin seseorang akan mengkafirkan Al Harits karena ia percaya Raj’ah sungguh mustahil&lt;/blockquote&gt;

Sekali lagi, wajar jika beliau berbeda penilaian dengan ulama lain dalam menilai perawi, bukankah dalam At Tahdzib yg berpendapat Al-Harits mempercayai Raj’ah adalah Abu Ahmad Az Zubairi bukan beliau, sebagaimana biasa beliau hanya mengutip pendapat dari ulama lain, tetapi beliau tetap mempunyai pendapat sendiri. 

Justru terlihat beliau tetap konsisten bahwa rafidhah yang ekstrem tidak akan diterima riwayatnya, makanya dia beranggap Al-Harits bukanlah Rafidhah Ekstrem, tetapi Rafidhah aja = Tasyayyu’ Ekstrem (menurut criteria beliau) yg masih diterima riwayatnya jika syarat Shaduq terpenuhi pada diri perawi tsb. Iya toh?  

&lt;blockquote&gt;Muslim bin Nadzir
Beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam At Tahdzib jilid 10 no 258 Ibnu Hajar mengutip Ibnu Sa’ad yang berkata
كان قليل الحديث ويذكرون أنه كان يقول بالرجعة
Ia memiliki sedikit hadis dan dikatakan kalau ia percaya Raj’ah.
.
Beliau dianyatakan oleh Abu Hatim dengan sebutan la ba’sa bihi (tidak ada masalah), dinyatakan shaduq oleh Abu Dawud dan dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/181 berkata “maqbul”(diterima hadisnya).&lt;/blockquote&gt;
Kasus yang sama seperti di atas..
&lt;blockquote&gt;Semua contoh yang telah saya sebutkan sudah cukup untuk menggugurkan hujjah antirafidhah bahwa Ibnu Hajar membedakan rafidhah dengan rafidhah ekstrem atau Ibnu Hajar tidak menerima hadis Rafidhah ekstrem.&lt;/blockquote&gt;

Justru terlihat bahwa beliau selalu konsisten, bahwa Rafidhah Ekstrem tidak diterima periwayatannya.

&lt;blockquote&gt;Para perawi di atas dikatakan percaya dengan Raj’ah dan Ibnu Hajar hanya menyebut mereka Rafidhah saja dan ada diantara mereka yang tetap Ibnu Hajar katakan shaduq atau maqbul hadisnya. Jadi ta’dil Ibnu Hajar tidaklah menggugurkan Rafidhahnya seorang perawi atau menggugurkan bahwa seorang perawi percaya Raj’ah.&lt;/blockquote&gt;

Inilah yg saya maksud bahwa beliau selalu konsisten dengan kaidah yg dipegangnya.. makanya beliau tidak pernah menganggap Rafidhah Ekstrem terhadap perawi yg shaduq atau maqbul. Btw.. jangan2 anda ini percaya Raj’ah ya.. wuakakakak…

&lt;blockquote&gt;Kredibilitas seorang perawi tidak ditentukan oleh apakah ia Rafidhah atau percaya Raj’ah tetapi ditentukan oleh kejujuran dan hafalannya. Jadi sangat mungkin seorang Rafidhah dan percaya Raj’ah tetap diberikan predikat ta’dil oleh Ibnu Hajar. &lt;/blockquote&gt;

Justru jelas sekali terlihat, beliau memperhatikan masalah tsb dan berusaha untuk konsisten.

&lt;blockquote&gt;Imem ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar membedakan para perawi hadis yang Rafidhah dan Rafidhah ekstrem. Kita sudah menunjukkan kekeliruan akan pendapat ini &lt;/blockquote&gt;

Lho justru saya melihat akan kebenaran pendapat tsb.

&lt;blockquote&gt;Ibnu Hajar tidak membedakan apa yang ia katakan tentang Jabir Al Ju’fi yang percaya Raj’ah dengan Abbad bin Yaqub. Keduanya disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah bedanya yang satu dhaif dan yang satu shaduq.&lt;/blockquote&gt;

Dhaif dan shaduq itu sudah cukup membedakannya, iya toh..

&lt;blockquote&gt;Ibnu Hajar tidak menyebut mereka yang percaya Raj’ah sebagai Rafidhah ekstrem dan kita telah tunjukkan bahwa diantara mereka yang percaya Raj’ah ada yang ditetapkan oleh Ibnu Hajar sebagai shaduq dan maqbul, bukankah ini berarti percaya dengan Raj’ah itu tidak membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif.&lt;/blockquote&gt;

Kayaknya itu bukan pendapat Ibnu Hajar dech, tetapi pendapat ulama2 lain yg beliau kutip, sedangkan beliau tetap pada pendapat beliau sendiri.

&lt;blockquote&gt;Tetapi saya rasa para pembaca yang terhormat tidak perlu kecewa karena sudah tentu kita masih bisa melihat dalih-dalih lain dari antirafidhah atau imem.  &lt;/blockquote&gt;

Ooh tentu, saya tidak akan mengecewakan para pembaca dan anda tentunya, supaya blog anda tetap hidup &amp; tdk dipenuhi oleh org2 yg hanya sendiko dawuh saja.. wuakakakak…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, justru sebenarnya yang ga konsisten itu si pemilik blog yang berkedok SP ini, dalam artikel sebelumnya jelas-jelas SP mengambil pendapt dari Ibnu Hajar mengenai Abu Thufail ini, eh kemudian dia men-jarh Ibnu Hajar ini, dia bilang beliau inkonsisten (menurut pandangannya).</p>
<p>Analoginya adalah SP menggelar acara diskusi dengan mengambil nara sumber bernama Ibnu Hajar di dalam diskusi tsb, seharusnya SP mempercayai kredibilitas Ibnu Hajar ini (termasuk prinsip beliau dalam menilai rawi yg mgkn berbeda dg ulama lain), karena dia telah menjadikannya sebagai nara sumber dalam topik yg dia bahas,  eh, kemudian dg tiba-tiba dia dan menyerang dan menilai nara sumber tersebut inkonsisten karena tidak sesuai dg pendapat pribadinya.. nah siapa kira-kira yg sebenarnya ga inkonsisten itu? Ibnu Hajar ato SP?  wuakakakak&#8230;. kalo memang menurut SP, ulama spt Ibnu Hajar ini inkonsisten (sekali lagi menurut SP), buat apa dia ambil pendapat beliau? Sekalian juga buat apa dia pelajari kitab2 sunni? Kenapa ga dia pelajari saja kitab-kitab orang Rafidhah yg mungkin menurut dia konsisten.. wuakakak</p>
<blockquote><p>Lihat dengan baik, Ibnu Hajar meninggalkan atau tidak mengutip soal Raj’ah yang dikatakan Ibnu Hazm. Kenapa? <b>Apakah karena beliau tidak mau mengungkapkannya atau karena beliau menganggap itu bukan sebab yang tepat untuk mendhaifkan hadis Abu Thufail</b>. Dalam Hady As Sari Ibnu Hajar tidak mengutip soal Raj’ah yang disebutkan Ibnu Hazm, padahal jika memang Ibnu Hajar menolak atau membantah soal ini maka sudah sepatutnya ia menjelaskan tentang itu, <b>tidak adanya pembahasan tentang Raj’ah menunjukkan Ibnu Hajar tidak membantah bahwa “Abu Thufail percaya Raj’ah” (ditambah lagi hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah) tetapi menurut beliau hal itu tidak membuat hadis-hadis Abu Thufail menjadi dhaif karena beliau adalah seorang Sahabat. Hanya ini yang dapat kita simpulkan dari perkataan Ibnu Hajar yang sangat singkat tersebut.</b></p></blockquote>
<p>Ini dia satu lagi asumsi dari si SP, padahal jelas sekali Ibnu Hajar dengan tegas riwayat Rafidhah Ekstrim yg mempercayai Raj’ah (sudah dinukilkan sebelumnya), berdasarkan sikap Ibnu Hajar tsb, bisa disimpulkan mengapa beliau tidak mengutip soal Raj’ah, yaitu karena beliau mengingkari apa yg dikatakan oleh Ibnu Hazm.. jelas banget kok ini..</p>
<blockquote><p>Jadi Jabir bin Yazid Al Ju’fi adalah seorang yang percaya dengan Raj’ah maka merujuk ke hipotesis sebelumnya, sudah pasti Ibnu Hajar akan menganggap Jabir bin Yazid Al Ju’fi sebagai Rafidhah sangat ekstrem. Tetapi apa yang Ibnu Hajar tulis dalam At Taqrib 1/154<br />
جابر بن يزيد بن الحارث الجعفي أبو عبد الله الكوفي ضعيف رافضي<br />
Jabir bin Yazid bin Al Harits Al Ju’fi Abu Abdullah Al Kufi seorang Rafidhah yang dhaif.</p></blockquote>
<p>Apa masalahnya? Di sini terlihat jelas Ibnu Hajar tetap konsisten dengan sikapnya, yaitu menganggap dhaif perawi Rafidhah yang percaya kepada Raj’ah,apakah hanya soal istilah aja yg beda dipermasalahkan oleh SP?</p>
<blockquote><p>Kembali ke kutipan dalam Hady As Sari, bukankah Rafidhah bagi Ibnu Hajar adalah Tasyayyu’ ekstrem yaitu Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Bukankah mereka yang percaya Raj’ah seharusnya disebut Rafidhah sangat ekstrem.<br />
.<br />
Lihat perkataan Al Ajli dalam At Tahdzib jilid 2 no 75<br />
وقال العجلي كان ضعيفا يغلو في التشيع وكان يدلس<br />
Al Ajli berkata, Jabir dhaif, Tasyayyu’ ekstrem dan melakukan tadlis<br />
.<br />
Bukankah ini salah satu bukti bahwa kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari justru tidak digunakan oleh Ibnu Hajar sendiri dan ulama lainnya. Anehnya Antirafidhah itu dengan bangga berhujjah dengan kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari.</p></blockquote>
<p>Lah ya wajar aja, dan bagus itu, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat2 dari ulama lain tetapi beliau tetap mempunyai pendapatnya sendiri. Kalo anda ga setuju dengan beliau, mengapa anda rujuk kitab beliau? Iya ga?</p>
<blockquote><p>Utsman bin Umair<br />
Utsman bin Umair Abu Yaqzhan juga salah seorang perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 7 no 293 disebutkan<br />
عن أبي أحمد الزبيري كان الحارث بن حصين وأبو اليقظان يؤمنان بالرجعة ويقال كان يغلو في التشيع<br />
Dari Abu Ahmad Az Zubairi “Al Harits bin Hushain dan Abu Yaqzhan percaya dengan Raj’ah dan dikatakan Tasyayyu’ ekstrem<br />
.<br />
Ibnu Ady juga berkata tentang Utsman bin Umair<br />
غال في التشيع يؤمن بالرجعة ويكتب حديثه مع ضعفه<br />
Tasyayyu’ ekstrem percaya dengan Raj’ah ditulis hadisnya dan dia dhaif.<br />
Lagi-lagi kita lihat para ulama tetap menyebut mereka yang percaya Raj’ah dengan sebutan Tasyayyu’ ekstrem padahal menurut Ibnu Hajar dalam Hady As Sari orang yang percaya Raj’ah adalah Rafidhah yang sangat ekstrem.<br />
.<br />
Mari kita lihat ucapan Ibnu Hajar sendiri dalam At Taqrib 1/663<br />
أبو اليقظان الكوفي الأعمى ضعيف واختلط وكان يدلس ويغلفي التشيع<br />
Abu Yaqzhan Al Kufi dhaif ikhtilat, melakukan tadlis dan tasyayyu’ esktrem.<br />
.<br />
Perhatikan Ibnu Hajar tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem, beliau menyebut Utsman bin Umair tasyayyu’ ekstrem. Begitulah fakta yang terjadi  </p></blockquote>
<p>Lha apa masalahnya, kalo Ibnu Hajar menilai tingkat keyakinan Abu Yaqzhan Al – Kufi pada tingkat Tasyayyu’ Ekstrem (yg tdk percaya Raj’ah), berbeda dg ulama lain dalam menilai rawi tsb? Tentunya itu adalah pendapat beliau sendiri, ya syah2 saja, trs dimana letak inkonsistennya?</p>
<blockquote><p>Artinya  jika seseorang dikatakan Tasyayyu’ ekstrem berarti ia mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar dan jika seseorang dikatakan Syiah ia mengutamakan Ali di atas sahabat lain tetapi tidak mengutamakan Ali diatas Abu Bakar dan Umar. Sangat tidak mungkin kalau dikatakan ia Syiah Tasyayyu’ ekstrem, jadi kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari ini tidak dikenal oleh Daruquthni. </p></blockquote>
<p>Sekali lagi ya wajar2 saja kalo beliau memiliki criteria ato istilah tersendiri dalam menilai para perawi dan itu sudah biasa di kalangan para ulama, yg penting orang2 sesudahnya mengetahui apa yg dimaksud para ulama berdasarkan kaidah2 yg masing2 mereka tetapkan.</p>
<blockquote><p>Al Harits bin Hushairah telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasai, Al Ajli, Ibnu Numair. Ibnu Hibban juga memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Jadi kendati ia percaya Raj’ah beliau tetap dinyatakan tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/173 berkata<br />
أبو النعمان الكوفي صدوق يخطئ ورمي بالرفض<br />
Abu Nu’man al Kufi shaduq tetapi sering salah, rafidhah<br />
Ibnu Hajar tentu mengetahui kalau Al Harits percaya dengan raj’ah karena hal itu beliau tulis sendiri dalam At Tahdzib tetapi dalam At Taqrib beliau tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem tetapi rafidhah saja. Dan bagaimana mungkin seseorang akan mengkafirkan Al Harits karena ia percaya Raj’ah sungguh mustahil</p></blockquote>
<p>Sekali lagi, wajar jika beliau berbeda penilaian dengan ulama lain dalam menilai perawi, bukankah dalam At Tahdzib yg berpendapat Al-Harits mempercayai Raj’ah adalah Abu Ahmad Az Zubairi bukan beliau, sebagaimana biasa beliau hanya mengutip pendapat dari ulama lain, tetapi beliau tetap mempunyai pendapat sendiri. </p>
<p>Justru terlihat beliau tetap konsisten bahwa rafidhah yang ekstrem tidak akan diterima riwayatnya, makanya dia beranggap Al-Harits bukanlah Rafidhah Ekstrem, tetapi Rafidhah aja = Tasyayyu’ Ekstrem (menurut criteria beliau) yg masih diterima riwayatnya jika syarat Shaduq terpenuhi pada diri perawi tsb. Iya toh?  </p>
<blockquote><p>Muslim bin Nadzir<br />
Beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam At Tahdzib jilid 10 no 258 Ibnu Hajar mengutip Ibnu Sa’ad yang berkata<br />
كان قليل الحديث ويذكرون أنه كان يقول بالرجعة<br />
Ia memiliki sedikit hadis dan dikatakan kalau ia percaya Raj’ah.<br />
.<br />
Beliau dianyatakan oleh Abu Hatim dengan sebutan la ba’sa bihi (tidak ada masalah), dinyatakan shaduq oleh Abu Dawud dan dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/181 berkata “maqbul”(diterima hadisnya).</p></blockquote>
<p>Kasus yang sama seperti di atas..</p>
<blockquote><p>Semua contoh yang telah saya sebutkan sudah cukup untuk menggugurkan hujjah antirafidhah bahwa Ibnu Hajar membedakan rafidhah dengan rafidhah ekstrem atau Ibnu Hajar tidak menerima hadis Rafidhah ekstrem.</p></blockquote>
<p>Justru terlihat bahwa beliau selalu konsisten, bahwa Rafidhah Ekstrem tidak diterima periwayatannya.</p>
<blockquote><p>Para perawi di atas dikatakan percaya dengan Raj’ah dan Ibnu Hajar hanya menyebut mereka Rafidhah saja dan ada diantara mereka yang tetap Ibnu Hajar katakan shaduq atau maqbul hadisnya. Jadi ta’dil Ibnu Hajar tidaklah menggugurkan Rafidhahnya seorang perawi atau menggugurkan bahwa seorang perawi percaya Raj’ah.</p></blockquote>
<p>Inilah yg saya maksud bahwa beliau selalu konsisten dengan kaidah yg dipegangnya.. makanya beliau tidak pernah menganggap Rafidhah Ekstrem terhadap perawi yg shaduq atau maqbul. Btw.. jangan2 anda ini percaya Raj’ah ya.. wuakakakak…</p>
<blockquote><p>Kredibilitas seorang perawi tidak ditentukan oleh apakah ia Rafidhah atau percaya Raj’ah tetapi ditentukan oleh kejujuran dan hafalannya. Jadi sangat mungkin seorang Rafidhah dan percaya Raj’ah tetap diberikan predikat ta’dil oleh Ibnu Hajar. </p></blockquote>
<p>Justru jelas sekali terlihat, beliau memperhatikan masalah tsb dan berusaha untuk konsisten.</p>
<blockquote><p>Imem ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar membedakan para perawi hadis yang Rafidhah dan Rafidhah ekstrem. Kita sudah menunjukkan kekeliruan akan pendapat ini </p></blockquote>
<p>Lho justru saya melihat akan kebenaran pendapat tsb.</p>
<blockquote><p>Ibnu Hajar tidak membedakan apa yang ia katakan tentang Jabir Al Ju’fi yang percaya Raj’ah dengan Abbad bin Yaqub. Keduanya disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah bedanya yang satu dhaif dan yang satu shaduq.</p></blockquote>
<p>Dhaif dan shaduq itu sudah cukup membedakannya, iya toh..</p>
<blockquote><p>Ibnu Hajar tidak menyebut mereka yang percaya Raj’ah sebagai Rafidhah ekstrem dan kita telah tunjukkan bahwa diantara mereka yang percaya Raj’ah ada yang ditetapkan oleh Ibnu Hajar sebagai shaduq dan maqbul, bukankah ini berarti percaya dengan Raj’ah itu tidak membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif.</p></blockquote>
<p>Kayaknya itu bukan pendapat Ibnu Hajar dech, tetapi pendapat ulama2 lain yg beliau kutip, sedangkan beliau tetap pada pendapat beliau sendiri.</p>
<blockquote><p>Tetapi saya rasa para pembaca yang terhormat tidak perlu kecewa karena sudah tentu kita masih bisa melihat dalih-dalih lain dari antirafidhah atau imem.  </p></blockquote>
<p>Ooh tentu, saya tidak akan mengecewakan para pembaca dan anda tentunya, supaya blog anda tetap hidup &amp; tdk dipenuhi oleh org2 yg hanya sendiko dawuh saja.. wuakakakak…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-6998</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 13:31:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-6998</guid>
		<description>@ armand
ah Mas ini cerdas sekali ya, saran saya &quot;buatlah blog&quot; pasti menarik :)

@hadi
iya, gak tahu juga kenapa jadi tajuk khusus, kesambet kali ya :lol:

@Nomad
&lt;blockquote&gt;Biar tambah jelas, lebih dulu mana Ibnu Hajar membuat Hady As Sari atw kitab At Taqrib dan At Tahdzib?&lt;/blockquote&gt;
Setahu saya, At Tahdzib terlebih dahulu kemudian Fath Al Bari &lt;em&gt;(Hady As Sari itu Muqaddimah Fath Al Bari)&lt;/em&gt;. Fath Al Bari mulai ditulis tahun 817 H Tetapi At Taqrib itu lebih belakangan (selesai 827 H) dan dikatakan bahwa itu adalah hasil ijtihad terakhir Ibnu Hajar terhadap para perawi hadis. 
Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ armand<br />
ah Mas ini cerdas sekali ya, saran saya &#8220;buatlah blog&#8221; pasti menarik <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@hadi<br />
iya, gak tahu juga kenapa jadi tajuk khusus, kesambet kali ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@Nomad</p>
<blockquote><p>Biar tambah jelas, lebih dulu mana Ibnu Hajar membuat Hady As Sari atw kitab At Taqrib dan At Tahdzib?</p></blockquote>
<p>Setahu saya, At Tahdzib terlebih dahulu kemudian Fath Al Bari <em>(Hady As Sari itu Muqaddimah Fath Al Bari)</em>. Fath Al Bari mulai ditulis tahun 817 H Tetapi At Taqrib itu lebih belakangan (selesai 827 H) dan dikatakan bahwa itu adalah hasil ijtihad terakhir Ibnu Hajar terhadap para perawi hadis.<br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Nomad</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-6997</link>
		<dc:creator>Nomad</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 12:43:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-6997</guid>
		<description>Maha suci Allah yg telah memberikan ilmu dan kecerdasan kpd bung SP. Menurut saya Ibnu Hajar tdk konsisten dgn konsep yg dia buat sendiri. Dlm Hady As-Sari Ibnu Hajar berkonsep ttg Syi&#039;ah, Tassayu&#039;, Rafidhah dst, tp konsep yg dia buat justru dia sendiri yg langgar di dlm kitabnya  At Taqrib dan At Tahdzib. Atw bisa disebut Ibnu Hajar mendefinisikan Syi&#039;ah, Tassayu&#039;, Rafidhah dst berbeda yg di Hady As-Sari dgn yg di At Taqrib dan At Tahdzib. 
Biar tambah jelas,  lebih dulu  mana Ibnu Hajar membuat Hady As Sari atw kitab At Taqrib dan At Tahdzib?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maha suci Allah yg telah memberikan ilmu dan kecerdasan kpd bung SP. Menurut saya Ibnu Hajar tdk konsisten dgn konsep yg dia buat sendiri. Dlm Hady As-Sari Ibnu Hajar berkonsep ttg Syi&#8217;ah, Tassayu&#8217;, Rafidhah dst, tp konsep yg dia buat justru dia sendiri yg langgar di dlm kitabnya  At Taqrib dan At Tahdzib. Atw bisa disebut Ibnu Hajar mendefinisikan Syi&#8217;ah, Tassayu&#8217;, Rafidhah dst berbeda yg di Hady As-Sari dgn yg di At Taqrib dan At Tahdzib.<br />
Biar tambah jelas,  lebih dulu  mana Ibnu Hajar membuat Hady As Sari atw kitab At Taqrib dan At Tahdzib?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hadi</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-6987</link>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 03:33:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-6987</guid>
		<description>Salam

Wah...Mas SP,  jadi tajuk khusus ya?

Nah....semoga antirafidhah dan sekutu2nya bangga dan gembira punya tajuk khusus utk diperbahaskan....silakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam</p>
<p>Wah&#8230;Mas SP,  jadi tajuk khusus ya?</p>
<p>Nah&#8230;.semoga antirafidhah dan sekutu2nya bangga dan gembira punya tajuk khusus utk diperbahaskan&#8230;.silakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/10/inkonsistensi-ulama-tentang-perawi-hadis-yang-dikatakan-syiah-tasyayyu%e2%80%99-rafidhah-dan-rafidhah-ekstrem-menggugat-antirafidhah/#comment-6985</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 02:19:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=962#comment-6985</guid>
		<description>Ada teori juga nih mengenai Wahabi &amp; Nashibi

&lt;strong&gt;Wahabi&lt;/strong&gt; adalah kelompok manusia yang mencintai sahabat lain dan mengutamakannya dibanding Ali dan ahlulbait lainnya.

&lt;strong&gt;Syiahphobia&lt;/strong&gt; adalah Wahabi yang tidak suka mendengarkan kemuliaan Ali dan ahlulbait lainnya dari mulut syiah.

&lt;strong&gt;Nashibi&lt;/strong&gt; atau Wahabi ekstrim atau Syiahphobia ekstrim, adalah Wahabi yang Syiahphobia yang tidak suka dan benci bila mendengar keutamaan-keutamaan Ali dan ahlulbait lainnya disebut-sebut dari mulut siapa saja.

:mrgreen:
Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada teori juga nih mengenai Wahabi &amp; Nashibi</p>
<p><strong>Wahabi</strong> adalah kelompok manusia yang mencintai sahabat lain dan mengutamakannya dibanding Ali dan ahlulbait lainnya.</p>
<p><strong>Syiahphobia</strong> adalah Wahabi yang tidak suka mendengarkan kemuliaan Ali dan ahlulbait lainnya dari mulut syiah.</p>
<p><strong>Nashibi</strong> atau Wahabi ekstrim atau Syiahphobia ekstrim, adalah Wahabi yang Syiahphobia yang tidak suka dan benci bila mendengar keutamaan-keutamaan Ali dan ahlulbait lainnya disebut-sebut dari mulut siapa saja.</p>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
