Studi Kritis Imam Ali Menamakan Putranya Abu Bakar, Umar dan Utsman.
Tulisan ini tidak memiliki tujuan khusus kecuali hanya untuk memberikan deskripsi yang jelas dan analisis terhadap masalah yang sering diributkan oleh para Salafiyun. Salafiyun mengangkat masalah ini untuk menyerang mahzab Syiah, dimana jika Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman maka itu berarti Imam Ali mengagumi dan berhubungan baik dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya tidak membela siapa-siapa disini, tugas saya hanya memaparkan data yang jelas dan mengoreksi kekeliruan asumsi-asumsi yang ada. Mengenai pandangan saya sendiri terhadap ketiga khalifah maka bagi saya “tidak ada masalah”.
Benarkah Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman?. Tentu untuk menjawab masalah ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan studi literatur. Untuk memudahkan pembahasan maka akan dibahas satu persatu.
.
.
Putra Imam Ali Yang Bernama Abu Bakar
Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khuraasy salah seorang Ulama Salafy yang mengecam Syiah dalam kitabnya As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 7 mengatakan dengan pasti bahwa Imam Ali menamakan anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman yaitu nama ketiga khalifah. Ia berkata
علي رضي الله عنه كما في المصادر الشيعية يسمِّي أحد أبنائه من زوجته ليلى بنت مسعود الحنظلية باسم أبي بكر، وعلي رضي الله عنه أول من سمَّى ابنه بأبي بكر في بني هاشم
Ali radiallahuanhu yang menjadi rujukan Syiah menamakan salah satu dari anak-anaknya dari istrinya Laila binti Mas’ud dengan nama Abu Bakar, dan Ali radiallahuanhu adalah yang pertama dari Bani Hasyim yang menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar.
Jika melihat catatan kaki dalam kitab tersebut maka dapat dilihat bahwa Syaikh Sulaiman mengutip dari Kitab Al Irsyad Syaikh Mufid, Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani dan Tarikh Al Yaqubi. Saya merujuk pada kitab-kitab yang disebutkan oleh Syaikh dan ternyata terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh Syaikh Sulaiman.
.
Dalam kitab Al Irsyad Syaikh Mufid hal 354 memang disebutkan nama anak-anak Imam Ali dan pada bagian anak Laila binti Mas’ud disebutkan
ومحمّدُ الأصغر المكًنّى أبا بكرٍ وعًبَيْدُاللهِ الشّهيدانِ معَ أخيهما الحسينِ عليهِ السّلامُ بالطّفِّ ، أُمُّهما ليلى بنتُ مسعود الدّارميّةُ
Muhammad Al Asghar dengan kunniyah Abu Bakar dan Ubaidillah yang syahid bersama saudaranya Al Husain Alaihissalam, Ibu mereka adalah Laila binti Mas’ud Ad Darimiyah.
Jadi Abu Bakar itu bukanlah nama sebenarnya tetapi hanyalah nama panggilan atau kunniyah sedangkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebenarnya adalah Muhammad Al Asghar. Hal ini berarti Imam Ali tidaklah menamakan putranya dengan nama Abu Bakar melainkan Muhammad.
.
Dalam Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani hal 56, beliau mengatakan pada bagian “Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib”
لم يعرف اسمه ، وامه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم
Tidak diketahui namanya, dan ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik bin Rabi’ bin Aslam bin Jandal bin Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Zaid Manat bin Tamim.
Abu Faraj Al Asbahani mengaku tidak mengetahui nama asli Abu Bakar bin Ali, dalam hal ini ia menganggap bahwa Abu Bakar adalah nama panggilan atau kunniyah. Memang dalam kitab Tarikh Al Yaqubi 1/193 tidak disebutkan siapa namanya hanya menyebutkan Abu Bakar, hanya saja jika memang Syaikh Sulaiman bin Shalih merujuk pada kitab-kitab yang ia sebutkan maka sangat jelas bahwa nama Abu Bakar itu adalah kunniyah bukannya nama asli. Oleh karena itu menyatakan bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar adalah keliru. Di sisi ulama syiah sendiri, Abu Bakar bin Ali dikenal dengan nama Muhammad Al Asghar dan ada pula yang menyatakan namanya Abdullah.
Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dalam Kitabnya Ansharu Husain hal 135 memasukkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu dari mereka yang syahid di Karbala, beliau berkata
قال الاصفهاني : لم يعرف إسمه ( في الخوارزمي : إسمه عبد الله ) . أمه : ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك
Al Asfahani berkata “tidak diketahui namanya” (Al Khawarizmi berkata : namanya Abdullah). Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik.
.
Sayyid Jawad Syubbar dalam kitabnya Adab Al Thaff 1/57 berkata
ابو بكر بن علي بن أبي طالب واسمه محمد الأصغر أو عبد الله وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد
Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, namanya Muhammad Al Asghar atau Abdullah dan Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid.
Jadi disisi Ulama syiah maka Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib adalah nama panggilan yang masyhur sedangkan nama aslinya ada yang mengatakan Muhammad Al Asghar dan ada yang menyatakan Abdullah. Oleh karena itu bagi Ulama Syiah “Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar”.
Kalau melihat dari literatur Sunni maka saya pribadi belum menemukan adanya keterangan siapakah nama sebenarnya Abu Bakar, Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat Kubra 3/19 hanya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah putra dari Ali bin Abi Thalib dari istrinya Laila binti Mas’ud, tetapi keterangan Abul Faraj Al Asbahani dalam Maqatil Ath Thalibiyyin di atas sudah cukup untuk menyatakan bahwa Abu Bakar itu adalah nama panggilan atau kunniyah. Abu Faraj Al Asbahani memang dikatakan oleh Adz Dzahabi sebagai Syiah tetapi menurut beliau Abu Faraj seorang yang jujur.
Adz Dzahabi berkata tentang Abul Faraj Al Asbahani dalam kitabnya Mizan Al Itidal 3/123 no 5825
والظاهر أنه صدوق
Yang jelas, dia seorang yang jujur.
Dalam Siyar A’lam An Nubala 16/201, Adz Dzahabi berkata kalau Abul Faraj Al Asbahani adalah seorang pakar sejarah, lautan ilmu, tahu tentang nasab, hari-hari bangsa arab dan menguasai syair. Adz Dzahabi juga menegaskan bahwa salah satu tulisannya adalah Maqatil Ath Thalibiyyin, kemudian pada akhirnya Adz Dzahabi berkata “la ba’sa bihi” atau tidak ada masalah dengan dirinya.
Dalam Lisan Al Mizan jilid 4 no 584, Ibnu Hajar juga mengatakan hal yang sama dengan Adz Dzahabi bahwa Abul Faraj seorang yang jujur. Ibnu Hajar juga berkata
وقد روى الدارقطني في غرائب مالك عدة أحاديث عن أبي الفرج الأصبهاني ولم يتعرض
Ad Daruquthni meriwayatkan sejumlah hadis dari Abul Faraj Al Asbahani dalam Ghara’ib Malik tanpa membantah atau menolak riwayatnya.
Semua keterangan di atas menyimpulkan baik di sisi Sunni maupun Syiah nama Abu Bakar putra Imam Ali adalah nama panggilan yang masyhur untuknya, sehingga dapat disimpulkan bahwa Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar. Selain itu Abu Bakar adalah panggilan yang masyhur dan tidak hanya dimiliki oleh Abu Bakar khalifah pertama yang nama aslinya sendiri adalah Abdullah bin Utsman.
Dalam Kitab Al Ishabah Ibnu Hajar 4/26 no 4570 disebutkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Rabi’ah, di kitab Al Ishabah 4/90 no 4685 disebutkan bahwa Abdullah bin Zubair salah seorang sahabat Nabi juga memiliki kunniyah Abu Bakar dan dalam Al Ishabah 7/44 no 9625 terdapat salah seorang sahabat yang dipanggil dengan Abu Bakar Al Laitsiy yang nama aslinya adalah Syadad bin Al Aswad. Keterangan ini menunjukkan bahwa kunniyah Abu Bakar tidak mutlak milik khalifah pertama dan bisa disematkan pada siapa saja.
.
.
Putra Imam Ali Yang Bernama Umar
Syaikh Sulaiman bin Shalih juga menyebutkan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 5
رقية بنت علي بن أبي طالب، عمر بن علي بن أبي طالب ـ الذي توفي في الخامسة والثلاثين من عمره
وأمهما هي: أم حبيب بنت ربيعة
Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Hubaib binti Rabi’ah.
Dalam hal ini memang benar nama putra Imam Ali tersebut adalah Umar, tetapi tidak benar jika dikatakan Imam Ali menamakan putranya Umar karena yang menamakan Umar adalah Khalifah Umar bin Khattab. Adz Dzahabi menyebutkan dalam As Siyar A’lam An Nubala 4/134 biografi Umar bin Ali bin Abi Thalib
ومولده في أيام عمر فعمر سماه باسمه ونحله غلاما اسمه مورق
Beliau lahir pada masa khalifah Umar dan Umar menamakan dengan namanya, kemudian memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.
Al Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf hal 192 juga mengatakan hal yang sama
وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا
Umar bin Khattab menamakan Umar bin Ali dengan namanya dan memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.
Jadi pernyataan Syaikh Sulaiman Al Khuraasy bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Umar adalah keliru, yang benar Umarlah yang menamakan anak Imam Ali dengan nama Umar.
Sebagian pengikut salafy yang mengetahui fakta ini tetap saja berdalih dan terus mengecam syiah, mereka mengatakan kalau memang Imam Ali membenci dan melaknat Umar maka tidak mungkin beliau mau anaknya dinamakan oleh Khalifah Umar dengan namanya. Cara berpikir seperti ini keliru. Keputusan Imam Ali yang membiarkan anaknya dengan nama Umar bukan berarti beliau mengagumi Umar bin Khattab dan bukan berarti pula saya mengatakan Imam Ali membenci dan melaknat Umar. Dalam hal ini nama Umar adalah nama yang umum sehingga tidak ada masalah bagi Imam Ali untuk menerimanya. Bahkan nama Umar adalah nama salah satu dari anak tiri Nabi yaitu Umar bin Abi Salamah yang dalam sejarah hidupnya pernah diangkat sebagai gubernur Bahrain oleh Imam Ali dan beliau sahabat yang tetap setia kepada Imam Ali dalam Perang Jamal. Oleh karena itu nama Umar bagi Imam Ali bukanlah nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya.
.
Dalam Al Ishabah Ibnu Hajar 4/588-597 didapatkan banyak sahabat yang bernama Umar diantaranya
- Umar bin Hakim Al Bahz (Al Ishabah no 5739)
- Umar bin Khattab (Al Ishabah no 5740)
- Umar bin Sa’ad Al Anmari (Al Ishabah no 5741)
- Umar bin Sa’id bin Malik (Al Ishabah no 5742)
- Umar bin Sufyan bin Abad (Al Ishabah no 5743)
- Umar bin Abi Salamah (Al Ishabah no 5744)
- Umar bin Ikrimah bin Abi Jahal (Al Ishabah no 5745)
- Umar bin Amr Al Laitsi (Al Ishabah no 5746)
- Umar bin Umair Al Anshari (Al Ishabah no 5747)
- Umar bin Auf An Nakha’i (Al Ishabah no 5748)
- Umar bin La Haq (Al Ishabah no 5749)
- Umar bin Malik (Al Ishabah no 5750)
- Umar bin Malik bin Utbah (Al Ishabah no 5751)
- Umar bin Muawiyah (Al Ishabah no 5753)
- Umar bin Wahab Ats Tsaqafi (Al Ishabah no 5754)
- Umar bin Yazid (Al Ishabah no 5755)
Jadi nama Umar adalah nama yang umum di kalangan sahabat dan tidak selalu mesti merujuk pada Khalifah Umar. Intinya Imam Ali tidak menganggap nama Umar sebagai nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya. Khalifah Umar boleh saja menganggap nama Umar bin Ali itu berasal dari namanya tetapi tidak bisa dikatakan kalau bagi Imam Ali nama Umar mesti merujuk pada Umar bin Khattab karena bisa saja dikatakan bahwa nama Umar itu adalah nama yang umum sehingga Imam Ali tidak keberatan untuk menerimanya atau nama Umar itu bagi Imam Ali mengingatkannya pada Umar bin Abi Salamah anak tiri Nabi dan salah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.
.
.
Putra Imam Ali yang bernama Utsman
Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khurasy mengatakan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 4
عباس بن علي بن أبي طالب، عبدالله بن علي بن أبي طالب، جعفر بن علي ابن أبي طالب، عثمان بن علي بن أبي طالب أمهم هي: أم البنين بنت حزام بن دارم
Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Ummul Banin binti Hizam bin Darim.
Saya katakan memang benar Imam Ali memiliki satu putra yang bernama Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Tetapi lagi-lagi keliru kalau dikatakan nama Utsman mesti merujuk pada Khalifah Utsman. Nama Utsman adalah nama yang umum pada masa Jahiliyah dan masa Nabi. Ayah Abu bakar khalifah pertama bernama Utsman bin Amir. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/169 disebutkan bahwa nama sebenarnya Ayah Abu Bakar yang bergelar Abu Quhafah adalah Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah. Bukankah ini berarti nama Utsman sudah ada pada masa jahiliyah.
.
Pada masa sahabat cukup banyak sahabat yang bernama Utsman. Saya menemukan lebih dari 20 orang sahabat yang bernama Utsman seperti yang tertera dalam Al Ishabah 4/447 no 5436 sampai 4/463 no 5461 diantaranya (hanya disebutkan sebagian)
- Utsman bin Hakim (no 5437)
- Utsman bin Hamid bin Zuhayr (no 5438)
- Utsman bin Hunaif Al Anshari, Imam Tirmidzi mengatakan kalau beliau ikut perang Badar (no 5439)
- Utsman bin Said Al Anshari (no 5442)
- Utsman bin Amir, Abu Quhafah (no 5446)
- Utsman bin Utsman Ats Tsaqafi (no 5451)
- Utsman bin Affan (no 5452)
- Utsman bin Mazh’un (no 5457)
Jadi nama Utsman itu adalah nama yang umum dan tidak bisa langsung dikatakan begitu saja merujuk pada Utsman bin Affan. Lagipula Abul Faraj Al Asbahani menyebutkan bahwa nama Utsman putra Ali dinamakan oleh Imam Ali dengan merujuk pada Utsman bin Mazh’un. Hal ini disebutkan dalam Maqatil Ath Thalibiyyin hal 55 ketika menerangkan tentang “Utsman bin Ali bin Abi Thalib”.
روى عن علي أنه قال . إنما سميته باسم أخي عثمان ابن مظعون
Diriwayatkan dari Ali yang berkata “Sesungguhnya aku menamakannya dengan nama saudaraku Utsman bin Mazh’un”.
Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang sahabat Nabi yang cukup dikenal keutamaannya. Beliau wafat di masa Nabi SAW setelah perang Badar. Terkenal ucapan Nabi SAW atas beliau ketika salah satu putri Nabi SAW meninggal, beliau SAW berkata
الحقي بسلفنا الصالح الخير عثمان بن مظعون
Susullah pendahulu kita yang shalih lagi baik Utsman bin Mazh’un
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad no 2127 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Imam Ali memang menamakan putranya dengan nama Utsman yang merujuk pada Utsman bin Mazh’un.
.
.
.
Kesimpulan
Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini
- Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar karena Abu Bakar adalah nama panggilan
- Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Umar tetapi Khalifah Umar yang memberi nama Umar dan Imam Ali menerima nama tersebut karena nama Umar mengingatkan Beliau akan nama Umar bin Abi Salamah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.
- Imam Ali menamakan putranya dengan nama Utsman yang diambil dari nama Utsman bin Mazh’un
.
.
Salam Damai
.
.
Catatan :
- Mohon maaf jika tulisan yang muncul tidak sesuai dengan yang diharapkan
- Tulisan ini cuma bahan lama yang didaur-ulang
DIarsipkan di bawah: Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia, Sirah


@SP
Sungguh tepat mas mengungkapkan kebohongan beberapa periwayat dari kelompok salafy.
Umpamakan Imam Ali menamakan anak2nya dengan Abubakar, Umar dan Utsman. Itu menunujukan ke tinggian Akhlak. Imam Ali bukan membenci NAMA, tapi Imam Ali tidak menyenangi akhlak mereka. Dan Syiah juga sering menyalahkan mereka karena akhlak mereka. Apa arti sebuah nama? Wasalam
Ah…lagi2 ada jawaban, lagi2 ada jawaban. Kalau begini, kapan Syiah bisa didiskreditkan?
Terimalah hakikat wahai mereka yg ‘Syiahphobia’, bahawa kebenaran itu tetap akan terungkap juga akhirnya. Sebaiknya, mereka yg phobia sama syiah, mula cari jalan damai agar bisa membangunkan Islam bersama dan menghapuskan sengketa.
Wassalam
Dan yang paling masyhur diantara nama-nama tersebut adalah Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq..
Duh, kok begitu dipaksakan banget sih… wuakakakak..
Wah, kalo melihat nama-nama sahabat yg bernama Umar di atas, keliatan masih pada muda-muda mereka ya saat itu, kebanyakan adalah anak-anak para sahabat… ternyata banyak juga sahabat yang ngefans sama Umar bin Khattab ya, sehingga menamakan anak2 mereka Umar, bukan hanya Imam Ali saja… Maklumlah nama beliau termasyur di dunia saat itu… Persia aja digulung, Baitul Maqdis futuh pada masa beliau.. wah hebat tenan… bangga gw punya para pendahulu spt Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali…
@abu rahat
terimakasih komentarnya
secara garis besar sepakat
@hadi
banyak juga manusia yang membutakan diri
@imem
apa iya?ada buktinya nggak
ah gak perlu dipaksakan tertawa
btw saya gak pernah ketemu komen anda yang nggak “dipaksakan banget”
ah dongengan baru lagi nih. Silakan dibaca lagi bukunya, nama-nama yang saya sebutkan itu adalah sahabat Nabi yang sudah dewasa sebelum “persia digulung” atau “baitul maqdis futuh” jadi mustahil banget kalau nama mereka berasal dari nama Umar bin Khattab. yang ini nih sangat dipaksakan banget
Silakan
Ah dasar salafy cupet wawasan, otaknya disimpan di dengkul. Sudah jelas yg bernama Umar bin Khattab itu si pembuat bid’ah, masih bangga juga.
Salam
Apa yang dipikirkan Imam Ali dan mengapa Imam Ali menamakan anaknya Utsman dan membiarkan salah satu anak Beliau dinamakan Umar tentu dilandasi alasan-alasan yang tidak sederhana mengingat nama-nama itu tidak memiliki arti khusus seperti halnya nama-nama Abdullah, Abdurrahman, dll (koreksi ya jika keliru). Apa pun yang coba kita pikirkan mengenai alasan beliau, saya merasa kita tak akan dapat menjangkaunya, mengingat kita benar-benar tidak mengetahui kondisi saat itu dan mengingat pula pengetahuan Imam Ali as yg terlalu tinggi (hadits Madinatul ‘Ilmu) untuk diraba-raba. Kecuali tentunya jika pernah disebutkan oleh para Imam sesudahnya. Sehingga membicarakan mengapa Imam Ali as membiarkan anaknya diberi nama Umar dan memberi nama salah satu anaknya Utsman adalah ranah-ranah yang subjektif, dan sehingga mengatakan bahwa hal itu menunjukkan Imam Ali as memuliakan sahabat Umar & Utsman, adalah pula masih subjektif. Selain itu, menyimpulkan hal demikian juga sangat layak untuk dikritisi. Mengapa? Alasannya adalah riwayat-riwayat yang kita terima sebelumnya menunjukkan Umar & Utsman memiliki kekurangan-kekurangan dan kelemahan yang belum pantas untuk mendapat predikat “kemuliaan”, dan lebih dari itu, keduanya cenderung untuk melemahkan kedudukan dan kemuliaan Imam Ali ahlulbait Nabi saw.
Ada 3 kemungkinan lain menurut saya, meskipun masih juga subjektif, mengapa Imam Ali melakukan hal-hal seperti di atas berkaitan dengan kepribadian dan akhlaknya yang tinggi.
(1) Baliau as memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat Nabi saw atas kedekatan mereka dengan Nabi saw dan perjuangan-perjuangan mereka. Bagaimana pun, sisi kelemahan-kelemahan individu tidak menghilangkan usaha perjuangan mereka menegakkan agama Islam.
(2) Beliau as berusaha menjaga keutuhan persatuan umat akibat tajamnya perselisihan pengikut Imam Ali as dan pengikut sahabat. Dengan menggunakan nama-nama Abubakar, Umar & Utsman, diharapkan menurunkan suhu permusuhan antara kedua kelompok.
(3) Beliau as mencoba mencegah kebencian dan penghujatan dari beberapa pengikut Imam Ali terhadap sahabat-sahabat Nabi saw. Imam Ali as ingin menegaskan bahwa, mungkin, kecintaan kepada Beliau dan ahlulbait Nabi saw tidak pantas diselingi dengan kebencian dan penghujatan terhadap pribadi-pribadi lain. Potensi penghujatan kepada pribadi-pribadi tertentu ini juga kemungkinan sudah terbaca oleh Beliau dan dikhabarkan kepada keturunan-keturunan Beliau. Hal ini terbukti dengan tidak sedikitnya dzuriat Imam Ali as menggunakan nama-nama sahabat seperti Abubakar (Habib Abubakar Syakran, dll), Umar (Habib Umar Alattas, dll), Utsman (Habib Utsman bin Yahya, dll).
Saya sendiri cenderung ketiga-tiganya, namun subjektivitas ini toh belum memiliki dalil yang kuat juga. Pengetahuan dan kepribadian Imam Ali as masih belum terjangkau. Hanya menurut saya prasangka baik adalah yang lebih utama. Wallahua’lam.
Salam
Kan baru dua yg disebutin… msh byk lho…waduh.. udah bilang mustahil lagi.. kira2 siapa yg terlalu memaksakan ya? yg brusaha mencari-cari kemungkinan2 yg lain? pdhal lebih lemah…wuakakakak..
armand:
Ini pun juga subjective dan patut dikritisi… krn dibandingkan kekurangan2 mereka, kelebihan2 mereka jauh lebih banyak..
Boleh juga pendapat sampean…
@imem
Nah bagus, tidak ada manusia yang tidak bisa dikritik kecuali mereka yang suci dan disucikan.
Salam
@Umar
Karena tiap orang memiliki persepsi yang berbeda
@armand
Bisa saja, tetapi sbelumnya yang perlu dibahas itu adalah ketika seseorang mengatakan nama Umar dan Utsman itu diambil nama seseorang maka kita dapat bertanya, itu Umar yang mana? atau Utsman yang mana?. Misalnya nama Utsman di atas, salafy dengan begitu mudahnya mengklaim bahwa Utsman itu diambil dari nama Utsman bin Affan padahal terdapat riwayat dari Imam Ali yang mengatakan bahwa nama tersebut Beliau ambil dari Utsman bin Mazh’un. Bukankah disini kita bisa melihat siapa yang memaksakan diri dan hanya mengklaim. Mengenai nama Umar maka saya belum menemukan riwayat alasan Imam Ali tetapi merujuk pada kasus Utsman, seseorang tidak bisa seenaknya mengatakan bahwa Umar itu merujuk pada Umar bin Khattab mengingat nama Umar dimiliki oleh banyak sahabat lain misalnya Umar bin Abu Salamah. Kemungkinan ini bagi saya lebih kuat karena Umar bin Abi Salamah adalah sahabat yang setia dengan Imam Ali. Makanya saya katakan Imam Ali tidak pernah menganggap nama Umar sebagai nama yang jelek.
Tentu yang dapat kita lakukan hanyalah menyimpulkan yang terbaik dari data yang ada.
Saya setuju, ini memang subjektif. Saya tidak terlalu tertarik membahasnya kecuali hanya untuk memaparkan distorsi yang dilakukan para salafy.
No komen untuk yang ini, bagi saya wajar sekali seorang manusia yang tidak terjaga oleh Allah SWT memiliki kekurangan dan kelemahan.
Bisa kok
Yah mungkin saja, siapa yang bisa memustahilkan kemungkinan ini.
Alasan yang bagus, tetapi balik lagi ke awal itu Umar yang mana? dan Utsman yang mana?.
Silakan, saya juga tidak memaksakan apapun
@imem
komentar yang lemah sekali dan maksa banget
Saya sependapat Bung…. Sahabat (3 khulafaur rasyidin) dan ahlul bait saling memuliakan kok Bung.. ada beberapa riwayat mengenai hal tsb, jadi jika ada orang yang langsung berasumsi bahwa penamaan anak-anak Imam Ali dengan nama-nama Khulafaur Rasyidin adalah sebagai bentuk pemulyaan Imam Ali kepada mereka adalah sesuatu yang wajar, dan itu hanya salah satu indikator dr sekian banyak indikator yg ada mengenai hubungan antar mereka.. sejarah telah mencatat bagaimana mereka saling bahu-membahu menegakkan Dien ini.. dan hal ini sulit disangkal dengan alasan apapun.. terlalu sulit untuk membuat seolah-olah pada saat itu mereka tidak saling berkasih sayang..
Indicator paling jelas yang gak mungkin bisa diingkari oleh mereka yg mengaku pengikut Imam Ali adalah bahwa Imam Ali membaiat khalifah Abu Bakar, khalifah Umar, menjadi calon dan panitia dalam pemilihan khalifah ke tiga yg akhirnya terpilih Utsman dan beliaupun membai’atnya juga. semua itu adalah aksi nyata Imam Ali… bukanlah hal yg dibuat-buat oleh beliau.. tetapi anehnya sebagian orang yg mengaku pengikut beliau, mencintai beliau selalu mengingkarinya… dan berusaha dg berbagai cara utk menyebarkan image yg tdk baik kpd 3 khalifah yg dibai’at oleh beliau.
mereka tidak rela dan berusaha menyangkal dg berbagai cara jika ada riwayat yg menyebutkan Imam Ali memuliakan mereka.. padahal itu adlh kenyataan.. maka pengakuan mereka sebagai pengikut Imam Ali adalah dusta belaka, yg sebenarnya adalah mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja dan mereka ga sadar….
@antirafidhah
boleh-boleh saja mau dikatakn wajar tetapi nyatanya itu keliru
tergantung maksudnya sih, Ahlul bait menegakkan agama dengan mengajarkan ilmu kepada pengikut mereka tidak melalui pemerintahan. Anehnya ketika Ahlul Bait (Imam Ali dan Imam Hasan) memegang pemerintahan kok ada sebagian kaum muslimin yang memerangi mereka. Bahkan membantai Ahlul Bait dan keluarganya. Lagipula kalau yang anda maksud “mereka” adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, pada zaman mereka Imam Ali tidak menjabat kedudukan apapun dalam pemerintahan, benar nggak ya?.
Gak seperti itu ah, baik Sunni maupun Syiah memiliki pegangan hadis sendiri. Lucu sekali kalau anda menjudge orang syiah dengan hadis-hadis riwayat Sunni. Mereka berpegang pada ahlul bait termasuk Imam Ali dengan menggunakan kitab mereka. Perkara anda percaya atau tidk kitab mereka itu soal lain. Hanya saja anda tidak bisa menuduh mereka dusta karena sebenarnya mereka mengikut ahlul bait termasuk Imam Ali dengan riwayat yang ada pada mereka.
Abdullah bin Utsman dipanggil Abu Bakar karena jelas dia punya anak gadis, kalo Muhammad Al-Asghar? adakah dia punya anak gadis? berarti jelas ada yang dirujuk dg pemberian nama tsb…
sekarang adakah nama Abu Bakar yg laen dlm sejarah Islam yg lebih masyhur dari pada Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq? ato yg mempunyai hubungan khusus dengan Imam Ali?
dan hal ini pun berlaku juga utk panggilan Abu Bakar kpd Abdullah bin Zubair yg umurnya jauh dibandingkan Abu Bakar Ash-Shiddiq..
SP yg biasanya merujuk referensi Sunni eh, skrg merujuk ulama Syi’ah utk nama Abu Bakar ini.. ya jelas syi’ah bakal menyangkalnya, ga bakalan rela kalo Imam Ali memberi nama anaknya Abu Bakar, dan ada aja dech caranya.. wuakakakak…
Menurut asumsi SP di atas, seolah-olah Imam Ali tidak menganggap Umar sama sekali, pdhal dg Imam Ali tidak menolak pemberian nama Umar thd anaknya oleh Khalifah Umar dengan namanya, itu suatu petunjuk yg amat jelas, tetapi oleh SP dicoba dialihkan ke asumsi yg laen..
Dengan Imam Ali menyetujui Khalifah Umar yg memberi nama kepada anak beliau adalah suatu bentuk penghargaan yg begitu jelas dr Imam Ali thd Khalifah Umar saat itu… bukankah dg kita menyerahkan pemberian nama anak kita kepada seseorang adalah menunjukkan rasa penghargaan kita kpd orang tersebut? apapun nama yg akan diberikan oleh orang tsb kpd anak kita… iya ga?
@imem
Pertama adalah silakan tampilkan referensinya dulu setelah itu baru akan saya tanggapi. btw saya cuma menunjukkan kalau itu kunniyah. kalau anda tidak setuju maka andalah yang tampilkan buktinya.
Memangnya Abu Bakar khalifah pertama punya hubungan khusus dengan Imam Ali ya?.
Berlaku apanya, sebelum mencoba mengasumsikan apa-apa. Anda buktikan dulu kepada saya kapan Abdullah bin Zubair mendapatkan kunniyah Abu Bakar?.
Gak dibaca dengan baik ya, ituh ulama salafy yang terkenal Syaikh Sulaiman Al Khurasy merujuk pada kitab siapa
. Saya kan mencoba melihat apa benar yang beliau rujuk. Btw Maqatil Ath Thalibiyyin diterima disisi Sunni kok 
Pertanyaan khusus buat anda. Dapatkah anda mencarikan untuk saya literatur Sunni yang shahih yang mengatakan kalau ada putra Imam Ali yang bernama Abu Bakar?
Itu kan asumsi anda, saya cuma menampilkan bahwa bagi Imam Ali nama Umar yang diberikan khalifah Umar bukanlah nama yang jelek karena merupakan nama yang umum dan bisa merujuk pada Umar bin Abi Salamah sahabat Imam Ali.
Siapa yang mengalihkannya, jelas-jelas saya tulis disitu. Imam Ali tidak menolak karena nama itu memang bukan nama yang jelek. Lagipula kalau anda berkata “petunjuk jelas” maka petunjuk jelas apa?.
Penghargaan apa?, Bagi saya Imam Ali tidak akan menolak kalau ada yang mau memberi nama putranya, asalkan nama itu bukan nama yang jelek. Penghargaan yang anda maksud kali lebih mungkin kalau memang Imam Ali yang meminta khalifah Umar memberi nama. Nyatanya tidak ada keterangan tentang itu.
Mungkin anda kali yang seperti itu, kalau saya silakan saja seseorang mau memberikan nama anak saya tetapi keputusan akhir di tangan saya. Seandainya nama itu jelek dalam pandangan saya ya mana maulah
.
Seperti biasa, saya tidak tertarik dengan asumsi, cukup dengn tunjukkan buktinya maka saya percaya.
Wah nampaknya pada jago berasumsi. Beberapa temen saya di HMI heran qo ya ada orang yang merasa argumennya kuat padahal tidak lebih dari asumsi.
jelas kalo di referensi sunni nama anak Imam Ali tsb adalah Abu Bakar
Ya jelas dunk, salah satu indikasi kedekatan mereka adalah bekas istri Abu Bakar Asma binti Umais diperistri oleh Imam Ali dan anak-nya Muhammad bin Abu Bakar diangkat menjadi anak angkat beliau.
Apakah menurut SP orang yg mempunyai hubungan khusus dengan Nabi shalallahu alaihi wasalam, kemudian tidak ada hubungan khusus dg ahlul bait Nabi?
Anda tidak menjawab apakah saat itu ada org yg bernama Abu Bakar yg lebih masyhur dibandingkan khalifah pertama?
Kapan aja Ibnu Zubair mendapat kunyah Abu Bakar ya ga ada masalah, lha wong dia memang cucunya Abu Bakar Ash Shiddiq kok dari ibunya Asma’ binti Abu Bakar.
Kan SP sndri sudah menyebutkannya, kenapa mesti saya lg utk menyebutkannya.
Anda mengatakan saya berasumsi, pdhal anda sendiri sedang berasumsi, inilah yg saya maksud anda terlalu memaksakan diri.. Apakah menurut anda suatu kemustahilan jika Imam Ali menerima nama Umar pemberian khalifah Umar sebagai nama anaknya adalah karena beliau menghargai khalifah Umar? lalu anda larikan ke Umar bin Abi Salamah apakah itu bukan asumsi? mana referensinya? menurut anda, mana yg lebih dihargai dlm kasus itu Umar bin Khattab (si pemberi nama) atau Umar bin Abi Salamah yg ga ada kaitannya sama sekali dalam peristiwa tsb?
Penerimaan dan persetujuan imam Ali atas pemberian nama yg dilakukan oleh Khalifah Umar adalah merupakan penghargaan Imam Ali thd Khalifah Umar.. apalagi nama yg diberikan adalah nama khalifah sendiri, jadi jelas nama Umar anaknya Imam Ali merujuk kepada si pemberi nama yaitu Khalifah Umar… jelas sekali kok ini…
bukan masalah jelek bagusnya nama yg diberikan, tetapi kesempatan yg diberikan Imam Ali kepada khalifah Umar untuk menyematkan nama-nya kepada anak Imam Ali adalah merupakan suatu bentuk penghargaan yg begitu jelas. kalo anda tanya mengenai bukti, anda sendirilah yg telah membuktikannya dengan menampilkan riwayat Umar memberi nama anak Imam Ali dengan namanya… sungguh jelas sekali bukti tsb dan bukan asumsi… hanya orang yg “terlalu pinter” aja yg menyangkal hal yg jelas kyk gini…
Arahannya jelas bakal seperti dialog diblogku. Asumsi…
Imem dan pengikutx berasumsi, tetapi ktika secondprince (katakanlah) berasumsi, mrk seolah2 ndak trima.
Aku pikir argumen yang bersifat asumtif dan generalisasi hrs dsingkirkan dr diskusi. Itu jika menginginkan diskusi yg cerdas, bkn diskusi pandir2 konyol.
@ressay
Emangnya sampean tidak pernah berasumsi ya? coba cek sndri di blog sampean, bisa ga sampean menghitung artikel yg sampean postingkan di sana, berapa bnyk yg isinya adalah asumsi belaka? apakah berarti artikel2 anda itu bukan artikel yg cerdas? hanya artikel pandir2 konyol?
@imem
Kalau bisa diskusinya yang nyambung Mas, komentar saya yang anda blockquote di atasnya itu adlah pertanyaan saya untuk klaim anda Abdullah bin Utsman dipanggil Abu Bakar karena jelas dia punya anak gadis,. Itu lho yang saya tanya referensinya
*yah ada aja sih yang ngaku sunni tapi gak pernah baca literatur sunni*
Hoo jadi kalau bekas istri anda nanti diperistri orang lain berarti anda dan orang lain itu punya hubungan khusus atau kedekatan khusus
Kan anaknya itu Mas, kalau logikanya saya jungkir balik. Aisyah RA yang anak Abu Bakar aja dikabarkan sampai berperang dengan Imam Ali dalam perang jamal, itu berarti hubungan khusus juga. Asumsinya terlalu jauh. Kalau suatu saat anda tiba-tiba mau mengangkat seseorang sebagai anak apakah itu berarti anda punya kedekatan khusus dengan orang tua kandung anak tersebut?
apa hubungannya ya
Ini juga, mau nyangkut kemana
Lagi-lagi maksa banget, bukankah Muhammad bin Abu Bakar dan Abdurrahman bin Abu Bakar yang merupakan putra Abu Bakar, terus otomatis kunniyah mereka Abu Bakar juga? lho baru tahu saya
Makanya diperhatikan dengan baik dong komentar saya. Itu saya bilang “yang shahih”. Kalau memang anda serius mau mencari yang benar maka silakan cek di literatur Sunni, kira-kira valid gak sumber riwayat tentang itu
oooh jadi karena anda berasumsi dan saya berasumsi maka anda mengatakan saya memaksakan diri. Logika yang baik sekali ituh
sebagai sebuah asumsi boleh-boleh saja
Lha iya itu juga asumsi, tapi sebelumnya saya katakan nama Umar itu nama yang umum pada saat itu,
Gak tahu ya, namanya juga asumsi. Anda bisa saja bilang khalifah Umar tetapi saya juga bisa bilang itu Umar bin Abi Salamah karena beliau sahabat dekat Imam Ali. Jadi teringat suatu kemungkinan yang tidak menafikan kemungkinan yang lain
Boleh-boleh saja kalau disebut menghargai, sejak kapan Imam Ali tidak mengharagai orang lain
Lha iya jelas menurut anda, yang cuma tahu kalau nama Umar adalah nama satu-satunya milik Umar bin Khattab. Sedangkan bagi mereka yang tahu kenyataan sebenarnya, nama Umar saat itu adalah nama yang umum, jadi wajar saja Imam Ali menerima nama tersebut. Yang kita permasalahkan disini adalah bagi Imam Ali nama Umar itu merujuk kepada siapa?. Apakah Imam Ali berkeyakinan seperti anda bahwa nama tersebut merujuk pada Umar bin Khattab atau bagi Imam Ali nama itu seperti nama Umar yang memang sudah umum termasuk nama Umar bin Abu Salamah. NIh saya kasih tahu, satu-satunya yang jelas itu adalah Bukan Imam Ali yang menamakan dengan nama Umar
Poin saya disini bagi Imam Ali nama Umar bukan nama yang jelek dan seandainya Imam Ali tidak menyukai Umar bin Khattab, beliau masih mungkin menerima nama Umar tersebut karena Umar tidak selalu merujuk pada Umar bin Khattab, ada banyak Umar dan salah satunya Umar bin Abi Salamah sahabat Imam Ali
Suatu saat dikabarkan Ummu Hubaib melahirkan anak, maka Khalifah Umar bergegas menghampiri kediaman Imam Ali dan berniat menamakan anak tersebut Umar. Imam Ali toh tidak keberatan karena nama Umar tersebut tidak jelek, Beliau menghargai niat tulus khalifah Umar. Bagaimana kisahnya
Riwayat itu membuktikan kalau bukan Imam Ali yang memberi nama Umar tetapi Umar bin Khattab dan riwayat ini yang anda anggap sebagai penghargaan Imam Ali kepada Umar bin Khattab. Saya sih tidak keberatan dengan yang namanya “menghargai” asal tidak dilebih-lebihkan dengan kata mengagumi atau itu berarti Imam Ali tidak pernah berselisih dengan Umar. Bersikaplah proporsional
Saya sudah biasa sekali menghadapi orang yang tidak bisa membedakan asumsi dan bukti. Biasanya orang begitu gak begitu care dengan yang namanya “referensi”.
@ressay
iya dibilang pula kalau saya maksa, memangnya mereka gak maksa ya?
ah saya sudah berputus asa untuk mengharapkan diskusi yang cerdas dengan mereka. Jadinya dengan terpaksa saya yang harus menyesuaikan diri
@imem
Weiz, die bawa2 blog gw. Hahaha…
Berargumenlah dengan ilmiah dan logis disini. Jangan hanya asumsi. Gitu cuy…
@SP
Itulah yg diinginkan dari mrk. Mrk ingin anda tdk konsisten dengan keilmiahan yang selama ini Anda tunjukkan.
Tetap pertahankan argumen berbasiskan data dan logika, bukan data dan asumsi (akal without logika).
hehehe secara bahasa aja jelas kok nama tsb maksudnya, dan nama tsb berbeda dg Umar, Utsman dll
Hehehe apakah itu yg anda maksud logika yg ilmiah, sesuatu yg khusus anda bawa ke yg umum?
hehehe, jgn salah SP, di saat Asma’ binti Umais masih sebagai istri Abu Bakar, Asma’ adalah sangat akrab dg Fathimah istri Ali bagaikan kakak dan adik, walaupun saat itu dia adalah seorang istri khalifah, tetapi beliau sering mengunjungi Fathimah, bahkan Fathimah berwasiat sebelum wafatnya agar Asma’ yang memandikan dan mengkafaninya. dan hal itu dilaksanakan oleh beliau. dari awal dua keluarga tsb sudah dekat…
Jelas sekali hubungannya… Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi, terlalu banyak riwayat yg menyebutkan hal tsb.. SP bisa cek sendiri.. sedangkan Imam Ali adalah seorang yg amat memuliakan Nabi.. anda tahu sendirilah terusannyaa hehehe…
Sebaliknya valid ga kira2 referensi syi’ah yg SP kutip di atas?
Sebaliknya pemberian nama Umar kepada anak Imam Ali oleh Khalifah Umar karena Imam Ali merujuk kepada nama yg umum dan tidak jelek, juga boleh-boleh saja karena itu juga asumsi anda dan belum membuktikan apapun… iya ga?
pdhal jelas2 nama itu diberikan oleh khalifah Umar, ya berarti nama Umar itu tidak akan wujud jika Umar tidak memberikannya.. iya toh?
Anda sudah mengakuinya bahwa logika yg anda bangun di atas adalah asumsi, sedangkan anda secara tidak sengaja justru telah membuktikan bahwa nama Umar pada anak Imam Ali adalah merujuk kepada Khalifah Umar, bukan Umar bin Salamah…
Percuma saja menyampaikan argumen ilmiah dihadapan orang yang nampaknya begitu jijik dgn hal2 yang bbau ilmiah, tetapi bgitu bsahabat dgn hal2 yg bsifat asumtif.
Ya jelas merujuk nama Umar lah, lha wong yang kasih nama Umar itu Khalifah Umar kok, dan secara sengaja menyematkan namanya pada anak Imam Ali kok.. justru saya lihat anda yg sdg berasumsi ria dg menbak-nebak apa yg dipikirkan Imam Ali.. hehehe..
Ya jelas memang bukan Imam Ali, tetapi Khalifah Umar yg memberi nama dan justru ini merupakan bukti bahwa nama Umar tsb merujuk kepada Khalifah Umar bukan yg lain.. lha wong beliau yg kasih nama dan Imam Ali menyetujui, kok Umar yg lain yg dilibatkan.. hehehe lucu…
hehehe berasumsi lagi dech, mencoba berkelit lagi dech.. lha wong jelas Umar yg kasih Nama sama dg namanya, kok dilarikan ke Umar yg tidak ada sangkut pautnya dg kasus ini.. heran.. saya akui ada nama Umar yg laen, tetapi mengapa mesti dilibatkan, wong tidak ada kaitannya kok.
apakah suatu yg mustahil menurut anda jika Imam Ali mengagumi 3 khalifah sebelumnya? bukankah terdapat bbrp riwayat pujian Imam Ali thd mereka? dan mereka pun juga mengagumi Imam Ali? dan saya tidak pernah menganggap bahwa mereka tidak pernah berselisih dlm suatu masalah, karena perbedaan pendapat itu wajar2 saja, tetapi mereka tidaklah bermusuhan itu yg jelas. jadi bersikaplah proposional juga
@ressay
mending anda tunjukkan “argumen ilmiah” anda itu. drpada komplen mlulu..
Ass. Wr. Wb.
Ingat nama Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah nama yg diberikan pada zaman jahilyah oleh orang tuanya dan mereka berdua pernah menyembah berhala, kemudian masuk Islam. Ternyata orang jahilyah juga bisa memberikan nama yg baik, hingga dikemudian hari mereka menjadi khalifah.
Wass. Wr. Wb.
@imem
ho ho ditanya referensi malah sekarang bilang secara bahasa, anda ambil sekenanya saj ya
Maaf yang mana yang khusus dan yang mana yang umum. Premis anda ini Ya jelas dunk, salah satu indikasi kedekatan mereka adalah bekas istri Abu Bakar Asma binti Umais diperistri oleh Imam Ali itu umum apa khusus?. Premis saya Hoo jadi kalau bekas istri anda nanti diperistri orang lain berarti anda dan orang lain itu punya hubungan khusus atau kedekatan khusus benar-benar sama kedudukannya dengan premis anda. Kalau anda bilang yang anda umum maka yang saya ya jadi umum juga, kalau anda bilang premis anda khusus maka premis saya khusus juga. So mana ada ceritanya dari khusus dibawa ke umum.
Kurang lengkap Mas, saat Sayyidah Fathimah wafat Asma’ memang memandikan tapi anehnya Abu Bakar suami Asma’ tidak menshalatkan sayyidah Fathimah. Bayangkan saja, jika ada orang yang wafat jangankan yang punya hubungan dekat, yang punya hubungan jauh saja masih menshalatkan. Kalau memang hubungan Abu Bakar sangat dekat kok gak menshalatkan ya
Gak tahu ya faktanya Abu Bakar dan keluarga Imam Ali berselisih sehingga sayyidah Fathimah tidak mau berbicara dengan Abu Bakar sampai beliau wafat. Ah ya itu hubungan yang dekat versi anda kan
Apa gunanya bagi anda Mas yang baik? bukankah sebelumnya dengan angkuh anda berkata ya jelas syi’ah bakal menyangkalnya, ga bakalan rela kalo Imam Ali memberi nama anaknya Abu Bakar, dan ada aja dech caranya.. wuakakakak…. So kalau masih mau meributkan soal Abu Bakar itu maka silakan tampilkan referensi yang shahih menurut keyakinan anda, kalau nggak mau ya udah
Lha iya sama kok kayak anda
Ya iyalah Mas, lagian kalau Umar tidak jadi kasih nama ya Imam Ali yang akan kasih nama
sama kok kayak Mas
Kapan ya saya bilang begitu, haiyah jangan mengada-ada lah Mas
Masih gak ngerti juga. Simak cerita berikut. Ada si A yang istrinya mau melahirkan lalu ketua RT disana yang bernama Bambang Soebiawak bergegas ke rumah si A dan bilang pada si A kalau anaknya akan ia kasih nama Bambang. si A juga punya sahabat baik namanya Bambang Sulaiman. Nah kita permisalkan si A ini menghargai niat baik si ketua RT tetapi dia tidak begitu menyukai ketua RT, nah untuk menghindari perselisihan yang tidak mengenakkan dia terima saja nama si Bambang karena nama Bambang itu nama yang umum dan lagi ia punya sahabat baik yang bernama Bambang. Jadi walaupun A tidak begitu menyukai ketua RT tetap saja ia menerima nama anaknya Bambang dari ketua RT. Ketua RT boleh-boleh saja beranggapan bambang dari namanya. Tetapi penerimaan nama oleh si A tidak membuktikan kalau si A menyukai atau mengagumi ketua RT. ayo gimana
Lho gak nyadar, sendirinya juga berasumsi kalau nama itu bagi Imam Ali merujuk pada Umar bin Khattab. Perhatikan baik-baik kalau anda ingin membuktikan Imam Ali mengagumi Umar bin Khattab dengan perkara nama itu, maka poin yang paling penting adalah apa yang dipikirkan Imam Ali. satu-satunya cara mengetahui ya dari riwayat dong kalau nggak ada ya itu lah berasumsi seperti anda dan saya juga
Sip benar sekali sampean makanya bagi Umar bin Khattab nama Umar putra Ali merujuk pada namanya. dan juga bagi anda dan yang sependapat dengan anda.
Yang Imam Ali setujui ya nama Umar nya dong, nama Umar itu nama yang umum pada masa itu, lihat saja ada banyak makanya gak ada masalah bagi Imam Ali menerimanya. Seandainya nih Imam Ali tidak menyukai Umar bin Khattab, beliau masih mungkin menerima nama Umar karena beliau juga punya sahabat bernama Umar bin Abu Salamah. Disini kan tujuan anda adalah membuktikan hubungan baik Umar bin Khattab dan Imam Ali dengan masalah nama tersebut, sedangkan saya menunjukkan penerimaan nama tersebut tidak bisa digunakan untuk menunjukkan hubungan baik apalagi mengagumi.
Siapa yang berkelit, dari awal saya mengulang-ngulang itu terus. Anda bilang saya berasumsi ya saya terima saja dan nyatanya anda juga berasumsi. Imam Ali menerima nama Umar karena nama itu bukan nama yang jelek, just it.
Ada lah kaitannya, Umar-umar yang lain terutama Umar bin Abu Salamah menunjukkan kalau nama Umar itu nama yang umum dan bukan nama yang jelek.
mungkin bukan hal yang mustahil yang penting kan ada buktinya, nah menjadikan perkara nama ini sebagai bukti kekaguman Imam Ali, itu maksa banget
Oooh tentu sama halnya terdapat juga riwayat dimana Imam Ali mengecam mereka.
ooh kalau ada buktinya saya tidak keberatan menerima
yah bagus kalau begitu, memangnya saya pernah bilang bermusuhan. Gimana kalau saya kasih contoh, kasus Fadak
oooh tentu makanya saya mengkritisi klaim-klaim para salafiyun ituh
kasian si Imeem….
kagak keliatan cerdas2nya sedikitpun di hadapan SP..
makin ngomong makin kelihatan bahlulnya…
susah memang kalo dari awal premis yg dibangun masalah nama identik dengan penghargaan dan pengakuan terhadap apapun yg dilakukan org tsb.
two tumb lah buat sP…
kirain mo ngeluarin literatur..si Imeem taunya…ngeluaran otot leher buat engkel2an…heheheheheh
@Imem
Aduh……., anda sepertinya ngomong asal keluar dari lidah anda tanpa mikir!
Ga ngertikah mana fakta objektif, mana yang asumsi (subjektivitas)? Ngga fahamkah kalo asumsi tdk bisa digunakan sebagai dalil? Makanya SP bilang anda maksa.
Fakta objektif: Umar bib Khattab memberikan nama “Umar” ke anaknya Imam Ali
Semuanya menerima. Tidak ada yang menolak fakta ini. Kecuali ada fakta/riwayat lain yang berbeda.
Asumsi Anda: Imam Ali menghargai Umar bin Khattab
BOLEH SAJA. Namun tidak harus semua sepakat, karena BELUM TENTU BENAR. Masing-masing dengan perkiraannya mengenai apa yang dipikirkan Imam Ali
Makanya SP ‘terpaksa’ berasumsi untuk menunjukkan ke anda bahwa asumsi anda tidak harus benar dan masih ada kemungkinan lain.
Penting untuk anda: Adakah riwayat yg mendukung asumsi anda? Jika tidak ada, maka asumsi anda TIDAK HARUS BENAR.
Masa sih musti diterangkan kayak begini?
Salam
@antirafidhah di June 6th
Memuliakan adalah asumsi yang terlalu jauh. Sejarah mencatatnya tidak demikian. Anda bisa telaah kembali di pengangkatan Abubakar sebagai khalifah dan akibatnya, kisah tanah fadak beserta rentetannya, pengangkatan khalifah Umar dan Utsman. Dimana kesemuanya menunjukkan kurangnya bahkan tidakadanya penghormatan mereka thd kedudukan dan kemuliaan Imam Ali ahlulbait Nabi saw. Lalu bagaimana dan dari sisi mana anda mengharapkan Imam Ali as memuliakan mereka? Saya memperhatikan hal ini adalah sebagai pemaksaan asumsi (baca: pencucian otak) yang diturunkan dari generasi ke generasi salafiyyun, yang bertujuan untuk menyamarkan dan “menghaluskan” riwayat-riwayat perselisihan antara ahlulbait Nabi saw dengan beberapa sahabat.
Sekedar penghormatan atas kedudukan mereka sebagai khalifah dan kontribusi mereka dalam menegakkan dan menyebarkan agama Islam adalah asumsi yang “masih dapat diterima”. Soeharto adalah sosok yang lumayan pas untuk menggambarkan hal ini.
Salam
Kata Pak Ali, asumsi is the Mother F**k up….
peace bro…
salam,
Membaca tulisan di atas, terlihat pembelaan terlalu berlebihan.
1. Tidak diketahuinya nama asli Abu Bakr bin ‘Ali bin Abi Thaalib tidak masalah. Karena nama ‘Abu Bakr’ memang nama kunyah, bukan nama asli. Justru masyhurnya kunyah tersebut menunjukkan keridlaan dari pemilik nama dan dari keluarga ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Dan sungguh sangat dimungkinkan bahwa panggilan Abu Bakr ini sudah diberikan semenjak kecil oleh keluarganya (‘Ali bin Abi Thaalib).
2. Adapun tentang ‘Umar bin ‘Ali bin Abi Thaalib, maka memang benar ‘Umar-lah yang menamakan untuk pertama kali sesuai nukilan dalam As-Siyar lidz-Dzahabi. Namun setelah adanya penamaan dari ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut ‘Ali bin Abi Thaalib setuju dan ridla ? Apalagi nama itu menjadi sangat masyhur dalam tarikh Islam. Jika saja memang nama ‘Umar itu sangat dibenci oleh ‘Ali dan ahlul-bait secara umum – apalagi kemudian itu didasarkan kebencian atas dasar agama – maka sangat mungkin bagi mereka (Ahlul-Bait) untuk berganti nama. Tentu saja dengan catatan jika nama itu memang nama jelek dan mengandung kesialan sebagaimana keyakinan Syi’ah. Tapi kenyataan tidak bukan ? Yang menjadi masalah adalah bahwa orang Syi’ah membenci nama ‘Umar dan bahkan menganggap nama ‘Umar itu mengandung kesialan. Inilah yang ingin ditekankan.
3. Begitu pula dengan nama ‘Utsman. Orang Syi’ah sangat membenci nama ini karena nama ini ada kaitannya dengan ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu. Dan justru nama ini diberikan memang diberikan oleh keluarga ‘Ali.
So, point yang ingin ditekankan oleh Syaikh Sulaiman Al-Khurasyi adalah bahwa ‘Ali bin Abi Thalib ‘menamakan’ sebagian anak-anaknya dengan nama-nama Khulafaur-Rasyidin. Hal yang sangat berbeda dengan kaum Syi’ah dimana mereka membenci nama itu atau menghindari memakai nama itu gara-gara nama itu adalah nama shahabat yang dianggap ‘merebut’ kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thaalib.
Sungguh sangat berbeda keadaan Syi’ah dengan ‘Ali dan ahlul-bait.
@Imem
Sdr Imem anda ngotot bahwa Imam Ali as menamakan anaknya Abubakar, Umar dan Utsman sedangkan SP mengatakan. Tidak benar Imam Ali as menamakan anak2nya dengan nama2 tsb. Saya heran. Tolong anda katakan anda hidup ber-sama2 Imam Ali as Atau hanya mendengar dari cerita2 orang. Kita sama2 hanya mendengar atau membaca dari kata2 orang. Terserah kita mau percaya atau tidak atas kata2 mereka. banyak firman2 Allah se-akan2 mengejek dengan Firman beliau qaul lihim (kata mereka) .Wasalam
Wah seru bangeet…..
Ada hal yg menarik dari komentar pemilik blog dlm usahanya melawan kritikan Bung Imem, yg jarang saya temukan sebelumnya, yaitu komentar yg ini :
Di Atas itu cerita sinetron ato apa ya
, kyknya pemilik blog ini yg jadi sutradaranya ya
kalau si A ini yg dimaksud adalah Imam Ali, bgmna pemilik blog bisa tau kalau Imam Ali menerima nama pemberian Umar itu hanya karena nama tsb sama dg nama sahabatnya? apakah pemilik blog mengetahui isi hati dan pikiran Imam Ali? kalau dia mengatakan bahwa ini adalah kemungkinan yg terbaik, saya kira ada kemungkinan yg lebih baik dan paling bisa diterima saat itu adalah Imam Ali ridha Umar menamai anaknya, karena dia berhubungan baik dengan Umar… tht’s all, jika tidak, ga mgkn hal tsb bisa terjadi. ini adalah hal yg sangat manusiawi.. kalaupun dikatakan asumsi, maka ini adalah asumsi yg paling kuat diantara asumsi-asumsi laennya… dan tentunya sebagai pukulan telak buat kaum rafidhah (terutama yg di Iran) yg begitu anti banget dg nama-nama spt Abu Bakar dan Umar, karena Imam mereka menamakan anaknya dg nama2 tsb…
Tetapi ga ada paksaan kok, lha wong dah pada gedhe, bisa mikir sndiri mana yg bener & mana yg dipaksakan utk jadi bener…
Dan yang paling baik, mari nanti di akhirat sana kita sama2 tanyakan langsung kepada Imam Ali… gmn? setuju? sampai jumpa nanti di sana…
@Anti Rafidhah
Sebetulnya keduanya sama-sama ndak bener. Kedua asumsi diatas merasa dia mengetahui isi hati, apa yang dipikirkan oleh Imam Ali. Entah mana yang paling kuat, mana yang paling lemah, itu ndak ngaruh. Yang namanya asumsi, adalah pendapat tidak berdasarkan data dan fakta, tetapi berdasarkan pandangan subyektif murni.
So, berhentilah berasumsi. Tunjukkan data.
@halwa
wah bahasanya Mas
@samwan
kayaknya anda gak baca tulisan saya deh, kok komentarnya udah ada semua jawabannya di tulisan saya
@abu rahat
yah harap maklum
@antirafidhah
lha iya, ituh kan karena anda atau saudara imem gak mengerti dengan baik apa yang saya sampaikan, so penyampaian dengan cerita adalah cara yang paling primitif dan kalau ada yang masih belum ngerti, wah gimana ya
Itu kan asumtif bung
gak nyadar juga, apa anda dan mas imem mengetahui isi hati dan pikiran Imam Ali?
wah saya gak pernah bilang yang terbaik tetapi kayaknya masih lebih baik dibanding asumsi anda/imem.
ah itu kan kata anda, saya juga bisa mengatakan asumsi saya lebih baik. silakan buktikan kalau memang lebih baik
Ah ini dia kena deh, fallacy banget alias logika sirkuler. Bukankah anda dan mas imem itu awalnya mau menunjukkan bahwa Imam Ali dan Umar berhubungan baik dengan dasar penamaan anak Imam Ali. Lho kok sekarang kebalik malah mau membuktikan bahwa penamaan anak Imam Ali dikarenakan adanya hubungan baik.
muter-muter aja terus. btw ada enaknya juga berbicara banyak dengan orang-orang seperti anda dan mas imem
ho ho perhatikan dengan baik dong, saya sudah buat contohnya. contoh seperti itu mungkin saja terjadi dan percuma saja klaim anda bahwa itu tidak mungkin terjadi.
asumsi lagi, kalau mau mengatakan asumsi anda paling kuat harus disertai petunjuk atau qarinah yang menguatkannya. Jika nggak ada, ya sama asumsi juga
weiit masalah anda sensi dengan rafidhah atau iran gak usah dibawa-bawa deh. So kelihatan betul subjektivitasnya. Mari kita kembali ke data yang objektif di atas. Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar karena nama itu adalah kunniyah bukan nama asli dan bukan Imam Ali yang menamakan anaknya Umar. Jadi pernyataan anda Imam mereka menamakan anaknya dg nama2 tsb… adalah keliru
sejak kapan ya disini main paksa, duh jadi bingung
@ressay
wah wah
kok kalau orang lain dia nyadar ya, tapi diri sendiri gak nyadar. suatu keanehan yang teramat sangattt
setuju sekali, seharusnya kita cukup berhenti dimana data yang objektif itu berhenti selebihnya hanyalah kemungkinan yang bisa benar dan bisa salah juga
saya pribadi sih sudah tunjukkan data yang saya punya
maafkan kalau diskusinya jadi gak enak. Tujuan saya sih membuat mereka banyak bicara sehingga secara tidak sadar jatuh ke dalam fallacy, itu tuh logika sirkuler. Gak nyangka muncul secepat ini fallacynya
@SP
Huahahahaha….kocak sumpah.
Mungkin mereka dah ndak sabar untuk menunjukkan diri mereka dipenuhi dengan fallacy.
nampaknya perlu ikut Sekolah Revolusi Kesadaran di HMI Hukum UNS tuh. Materi Daslog dan Fallacy. huahahaha…
@all
Jika kita ingin mencoba memahami sikap, tindakan, danperkataan Imam Ali, saran saya kenali dahulu beliau dengan baik. Berikut adalah pengenalan saya atas beliau (sebatas ilmu saya), silakan setuju silakan menolak:
1. Beliau adalah hamba Allah yang berakhlak mulia, jadi jangan samakan/mengukur alasan2 tindakan dan perkataan beliau sebagaimana akhlak kita.
2. Kemaslahatan umat bagi beliau sangat-sangat penting (beliau jauh dari egois), sehingga jangan dinilai seukuran kita yang egois. Sehingga janganlah naif jika beliau memiliki prioritas2 dalam sikap, dan tindakan2 beliau yang mana salah satunya mempertimbangkan kemaslahatan umat.
3. Tidak kebencian di hati beliau termasuk kepada musuh2 beliau. Sehingga tidak mudah menjadi pengikut (syi’ah) beliau. Beliau mengernyitkan dahi jika ada yang ngaku2 pengikut beliau jika belum bisa menerima kemuliaan (keterbebasan dari kebencian) beliau.
4. Jangan sekali2 membayangkan beliau manusia yang seperti kita yang suka ngembek (merajuk) dengan tidak mau berkomunikasi dengan orang2 yang telah menyalahi beliau. Ketika yang menyalahi beliau datang untuk kebaikan (minta nasihat, pendapat dll) sudah pasti beliau tidak akan bungkam.
Yaa.. Ali… Yaa Ali.., betapa mulia akhlak mu, betapa pedih derita mu, betapa banyak fitnah yang ditimpakan pada mu. Yaa Allah telah Engkau tinggikan derajatnya dengan semua itu.
Cobaan datang dari musuh2 mu, dan juga dari mereka yang mengaku pengikut mu namun menolak untuk mencontoh akhlak mu.
Wassalam
@SP
Jadi sama dounk kita wuakakakak… ngatain orang suka berasumsi tapi nyatanya.. diri sendiri lebih parah, mari introspeksi..
Iya dg data yg di atasnya dibangun asumsi2 yg lebih parah lagi wuakakakak..
Eh sorry ya..
@yasser eh kebalik ressay dink
Wuiih hebat ya yg sekolah di UNS & jd aktivis HMI.. UNS gitu loohh.. wuakakakak…
@Imem
Data objektif dari SP:
Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar karena nama itu adalah kunniyah bukan nama asli dan bukan Imam Ali yang menamakan anaknya Umar.
Data objektif anda mana?
Anda cuman cuap sana cuap sini, ketawa… ngakak lagi. Tapi anehnya saya tidak melihat ada satu pun informasi objektif yang menguatkan cuap anda. Apakah ocehan dan asumsi anda yang mau anda bilang objektif? Wah…!
Salam
@Imem
Cuy, baca kembali komentarnya SP sebelum ini. Dia sengaja berasumsi untuk menyadarkan Anda bahwa sebetulnya pada nurani Anda yang terdalam Anda dan pembeo Anda itu menolak argumen yang sifatnya asumtif.
Setidaknya dalam hal logika dan fallacy, saya lebih beruntung ketimbang Anda.
eh eh kok ribut dengan nama sayang sekali waktu kita kalau hanya dibuang hanya maslah nama. Baik Syiah maupun Sunnah tidak perlu bingung tentang nama. Malah ada ulama Syiah yang bernama Yazid dan bernama Muawiyah. Kalau ingin tahu coba baca buku Murajaat (dialog sunni dan syiah) oleh Syarafudin Al Musawi. Yg mana beliau memberi contoh 100 nama ulama dari Syiah yang dipakai sanad oleh madzhab Sunni. Ulama yang ke 83 namanya Muawiyah dan ulama yg ke 99 namanya Yazid. Terutama bagi gol.Syiah yang extreem janganlah fanatik tidak mau memberi nama anaknya Abubakar atau Umar sedangkan nama Yazid saja masih dipakai oleh ulama Syiah! Renungkanlah!!
Tidak hanya Ali ra, masih banyak lagi:
1.Karena sangat cinta kepada tiga khalifah, maka Sayyidina
Ali a.s. memberi nama putra-putra beliau dengan nama-nama mereka. Yaitu:
Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Beliau mati syahid di Karbala’ bersama
saudaranya, yaitu Husein a.s.
Umar bin Ali bin Abi Thalib. Beliau ini mati syahid di Karbala’ bersama
saudara beliau Husein a.s.
Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Beliau ini juga mati syahid di Karbala’ bersama
saudara beliau Husein a.s.
2. Hasan a.s. memberi nama putra-putra beliau dengan nama:
Abu Bakar; Umar; dan Thalhah bin Hasan. Ketiga-tiganya mati syahid di
Karbala’ bersama paman mereka Husein a.s.
3. Husein a.s. memberi nama putra beliau dengan nama Umar bin
Husein.
4. Sang pemimpin ulama tabi’in Ali bin Husein Zainal Abidin,
yaitu imam keempat (a.s.) juga memberi nama putri beliau dengan nama
Aisyah. Juga memberi nama Umar, dan menurunkan keturunan bagi beliau
sesudah beliau wafat.
(Silahkan baca kitab berjudul “Kasyful Ghummah” (2/334), “al-Fushuul al-Muhimmah”; hal. 283.
5.Demikian juga dengan para Ahlul Bait lainnya dari keturunan Abbas bin
Abdul Muthalib, keturunan Ja’far bin Abi Thalib, Muslim bin Aqil, dan selain
mereka.
bagi saya cukup sederhana, saya anjurkan untuk menghormati dan mengakui abubakar, umar dan ustman sebagai khalifah terdahulu dan sahabat yg terdekat dg Nabi SAW . dan Imam ali as walaupun urutan ke 4 didalam kekhalifahan islam, tetapi ia urutan ke 2 sebagai manusia termulia setelah Rosulullah SAW diikuti oleh Ahlulbaytnya…..jadi segala rujukan (hadist dan tafsir) dan nasehat yg diambi, tetntunya yaah mesti dari manusia yg lebih unggul doong (kelas 1)……itu logika sederhananya…kalo ada yg mau merujuk ke para sahabat tentang hadist dan tafsir…..yaah itu mah terserah mereka, kalo mereka ingin menjadi umat kelas 2 di dunia………
@pemerhati suni-syiah
Setuju…!!
Saya hanya ngasih komen kalau yang tahu persis hanyalah Ali Karamallah apa yang ada dibalik pemberian nama tersebut tetapi saya salut sama kalian sudah mau membuka diskusi ini bahkan bukan hal tabu, salut
@secondprince
anda seharusnya membuat lagi:
1.Studi Kritis Imam Hasan Menamakan Putranya Abu
Bakar, Umar dan Talhah bin Hasan
2.Studi Kritis Imam Husein Menamakan Putranya Umar bin
Husein.
3.Studi Kritis Imam Ali bin Husein Zainal Menamakan
Putrinya Aisyah.
(makin kayak judul sinetron………………………….)
Setelah wafatnya Fatimah Radhiyallahu ‘Anha, Ali Radhiyallahu ‘Anhu menikah dengan sejumlah wanita yang melahirkan beberapa anak, diantaranya: Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Umm al-Banin binti Hizam bin Darim. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66))
Juga Ubaidullah bin Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah Laila binti Mas’ud ad-Darimiyah. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66))
Juga Yahya bin Ali bin Abi Thalib, Muhammad al-Ashgar bin Ali bin Abi Thalib, ‘Aun bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Asma’ binti Umais. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66))
Juga Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin ali bin abi Thalib-yang meninggal dunia pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Habib binti Rabi’ah. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66))
Juga Umm al-Hasan binti Ali bin abi Thalib, Ramlah al-Kubra binti Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah Ummu Mas’ud bin Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. (Lihat: Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66))
Pertanyaan untuk kaum Syi’ah: Apakah mungkin seorang ayah menamakan buah hatinya dengan musuh bebuyutannya??? Lalu bagaimana jika sang ayah ini adalah Ali bin Abi Thalib????
Bagaimana mungkin Ali menamakan anak-anaknya dengan nama orang-orang yang kalian anggap bahwa mereka adalah musuh-musuhnya?! Apakah seorang yang berakal menamakan anak-anak yang dicintainya dengan nama musuh-musuhnya???!!
@kembali ke aqidah yang benar
gak perlu kok, nama-nama itu adalah nama yang umum, lagipula akhlak seseorang tidak ditentukan dari namanya
@belajar
Saya juga mau denger jawaban orang syiah, walaupun bagi saya anda salah pertanyaan deh, nama Abu Bakar, Umar dan Utsman bukan hak paten ketiga khalifah, nama itu sudah ada di masa jahiliyah
@belajar
Anda masih belajarkan. Supaya anda tahu, APA ARTI SUATU NAMA?. Yang penting AKHLAK. Dan Imam Ali tdk pernah membenci orangnya tapi Imam Ali tdk setuju dengan sifat dan perbuatan. Begitu juga kita2 ini. Karena merekalah Islam sekarang rusak. Kita semua masih bodoh dalam beribadah pada Allah. Maka kita mencari mereka2 yang bisa menjadi panutan, tempat bertanya dan dpt memberi bimbingan. Siapa? Coba anda tunjukan. Saya rasa anda blm mampu karena anda masih belajar
eh si belajar ke sini juga. Setelah aku sarankan. Bagus dek. Adek nurut ma kakak.
Adek baca kembali tulisan SP dan komentar2 yang ada.
Ada pepatah : jika kita mau tahu bagaimana ayahnya, maka lihatlah nama2 anaknya. Jika mau tahu sikap Ali thd sahabat, lihatlah nama2 anak Ali Ra.
Jika mau tahu bagaimana anda, maka lihatlah nama2 anak anda.
Jika anaknya bernama maradona, maka ayahnya adalah penggemar sepakbola khususnya Maradona
maka lihatlah nama2 anaknya..
Jika ada anak bernama abdurrahman, berarti ayahya pecinta abdurahman ibnu muljam laknatullah..!
Asumsi ko pekok banget..!
@Lahuntermaru
pepatah dari mana? anda yang buat sendiri ya
mau tahu sikap Imam Ali ya lihat sikapnya dong
mau tahu bagaimana saya, ya kenali diri saya
gak juga, ada aja ayahnya gak suka sepakbola dan yang ngasih nama itu wak nya atau pamannya, nah lho
@maru :
security di kantor saya namanya Soesilo Bambang. tapi agak susah juga kl dibilang bapaknya dia ngefans sama SBY, soalnya umurnya kira2 cuma beda 3 th tuaan SBY.
Lamaru ini otaknya sedangkal comberan, percis spt wahabi, atw haulasyi’ah atw yg lebih parah hakekat.com!
Ada pepatah, ini benar lho mas SP. Kalau ustadz kencing berdiri, muridnya kencing berlari. Tapi maaf kita tdk melihat ustadznya kita hanya tahu muridnya.
Yang kita ketahui muridnya kencing berlari sambil lompat2an yah bagaimana ustadznya
Lebih2 jika Imam Ali mau menerima pemberian dari Khalifah Umar bin Hattab utk nama anaknya yg sama dengan nama Umar itu sendiri, maka artinya Imam Ali ridho anaknya di panggil Umar yg merujuk pada Umar bin Hattab.
@Lahuntermaru
O…begitu ya, ckckckck
Utk Dede :
Tahu nggak,,kenapa saya agak malas ikut blog yg ini, karena bung SP memposisikan Imam Ali Ra sbb :
1. Imam Ali Ra tak mempertimbangkan unsur sakral dalam pemberian nama anak;
2. Imam Ali Ra tak mempertimbangkan unsur kelayakan (ke pantas an), unsur doa, unsur harapan dalam pemberian nama utk anaknya.
3. Imam Ali hanya diposisikan bahwa ia memberi nama ya sekedar nama, dengan mengambil nama2 yg sudah umum, katanya, seperti motto orang sekarang APALAH ARTI SEBUAH NAMA.
@Lahuntermaru
sakral yang seperti apa, saya juga males kok kalau segalanya harus sesuai pikiran saudara
nama Umar rasanya nama yang pantas kok, dimana letak jeleknya nama itu.
Imam Ali gak menamakan anaknya Abu Bakar, Bukan Imam Ali yang memberi nama Umar dan Imam Ali memang memberi nama anaknya Utsman tetapi itu merujuk pada Utsman bin Maz’un.
Yang saya heran adalah orang-orang seperti anda yang ngotot maunya nama-nama itu merujuk pada ketiga khalifah saja. Apa sih yang mau anda buktikan?. Apakah nama Umar itu cuma satu-satunya milik Umar bin Khattab, apakah nama Utsman itu satu-satunya milik Utsman bin Affan?. btw saya jauh lebih males diskusi dengan anda, terlalu main asumsi semata
@Lahuntermaru
Saya lebih mengetahui kemalasan anda untuk mengikuti blog ini, karena penjelasan @SP sukar terbantahkan oleh ASUMSI anda, hahaha…
Untuk Secondprince :
Memang betul, Imam Ali amat PANTAS menerima pemberian nama Umat utk anaknya dari Khalifah Umar bin Hattab. dan Imam Ali Ra pun menilai amat PANTAS anaknya bernama Umar pembrian dari Umar bin Hattab karena Umar bin Hattab seorang yg mulya, sahabat Ali Ra, dan dari nama tsb ada unsur doa dan harapan ImamAli agar anaknya kelak seperti Umar bin Hattab sesuai dengan namanya.
@Lahuntermaru
silakan saja berasumsi begitu tetapi apa buktinya?. lalu bagaimana anda menjelaskan hadis Shahih Muslim dimana Imam Ali menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai pendusta, pengkhianat dan tidak jujur. (anda sudah ditunjukkan hadis ini sebelumnya)
Utk Secondprince :
Justru anda pun berasumsi bahwa Ali tak memperimbangkan unsur doa dan harapan dalam pemberian sebuah nama pada anaknya. Seperti istilah jaman sekarang APALAH ARTI SEBUAH NAMA/
Ok…bisa anda lihatkan hadis Muslim ttg ucapan Ali Ra tsb ? akan saya cek dengan kitab yg ada pada saya.( yaah…terpaksa lagi gua buka lemari gudang)
Utk SP : juga akan saya buka lagi kitab hadis ttg keharusan pergi jika tak menjumpai Imam. walau pergi ke hutan dan hanya makan daun dan ranting kering. ( Tolongin donk..buka gudang yg masih sumpek berdebu…)
@Lahuntermaru
soal hadis Muslim itu silakan baca disini Khalifah Abu Bakar dan Umar Dalam Shahih Muslim
Lho yang beri nama kan bukan Imam Ali
Oh…kisah tanah fadaq. Abubakar, Umar, Usman, Ali, adalah manusia. Hal yg biasa mereka berselisih, dan membuat kesalahan baik dalam ucapan, bertindak, dsb. Namun jika kita menilai orang, nilailah saat akhir, bukan saat awal. Di saat akhir, Abubakar, Umar, Ali, Usman, kompak2 saja, bahkan Ali Ra mau menerima pemberian nama Umar utk anaknya dari Khalifah Umar.
Memang Umar memberi nama pada anak Ali, dan Ali pun ikhlas menerima. Jangan anda posisikan Imam Ali hanya sekedar menerima nama anaknya dengan sembarang nama tanpa pertimbangan unsur ke PANTES an, unsur doa dan harapan thd anaknya melalui sebuah nama.
@Lahuntermaru
Oooh maaf ya Imam Ali adalah ahlul bait yang dijadikan pegangan bagi umat agar tidak tersesat seperti yang dijelaskan dalam hadis Ats Tsaqalain. selain itu dalam hadis shahih dikatakan bahwa Imam Ali selalu dalam kebenaran.
Utk SP :
Abubakar, Umar, Usman, Ali, semuanya ada ke fadl an nya masing2. Jika anda berpedoman pada Ali Ra yg selalu BENAR, maka ikutilah ia, mau ber baiat pada Abubakar, Umar, Usman. Tak membentuk kelompok sendiri yg memisah dari jamaah 3 khalifah tsb. Bahkan Ali dan Ahl Bait lain menamai anak2nya dengan nama2 3 khalifah tsb. Andapun harus ikhlas agar memulyakan 3 sahabat tsb.
Whaduhh… cilakak …..maruuu…maruu…..
pantes gudang anda berdebu, ga pernah di sentuh sih,… jadi anda cuman hobi numpuk buku, tapi ga hobi baca.