<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Hadis Keutamaan Mencintai Ahlul Bait ; Menggugat Syiahphobia Di Kalangan Para Ulama</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 06:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: bedian</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-11761</link>
		<dc:creator>bedian</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 20:05:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-11761</guid>
		<description>janganlah kebencian kamu terhadap satu kasmu membuat kamu berlaku  tidak adil terhadap kaum tersebut, sesungguhnya Allah membeci orang-orang yang berbuat zalim...,

adakasn dsikusi saja....,  tidak usah emosi...
kita sama buka rujukan masing-masing...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>janganlah kebencian kamu terhadap satu kasmu membuat kamu berlaku  tidak adil terhadap kaum tersebut, sesungguhnya Allah membeci orang-orang yang berbuat zalim&#8230;,</p>
<p>adakasn dsikusi saja&#8230;.,  tidak usah emosi&#8230;<br />
kita sama buka rujukan masing-masing&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lamaru</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-8031</link>
		<dc:creator>lamaru</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 06:28:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-8031</guid>
		<description>Diskusi kita lanjutkan di Blog Tsqalain</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi kita lanjutkan di Blog Tsqalain</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-8018</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 01:55:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-8018</guid>
		<description>@lamaru

Kritisi dan pertanyaan2 anda mengenai Kulaini dan Tsaqalain menurut sy sangat layak utk diajukan dan di-LANJUTKAN.  Tentukanlah point apa (target) yg anda harapkan dari pertanyaan-pertanyaan/krtitik anda.
Permasalahannya adalah jika anda sdh mulai mengeluarkan pernyataan2 dan premis2 yg menurut anda sedang berlogika.  Tapi sebenarnya - seperti kata mas ressay - argumen anda penuh dengan asumsi.  Anda bisa memeriksa mana logika dan mana asumsi anda dari dialog anda dgn SP.  Ambilllah pelajaran dari situ.
Anda menginginkan pernyataan anda dikritisi, tapi bagaimana hendak mengkritisi jika isinya hanya asumsi?  

Maaf jika terkesan mendikte.  Apa yg sy utarakan juga bukan pasti suatu kebenaran.  Anda memiliki ruang yg sangat lebar utk menerima atau menolak.  

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@lamaru</p>
<p>Kritisi dan pertanyaan2 anda mengenai Kulaini dan Tsaqalain menurut sy sangat layak utk diajukan dan di-LANJUTKAN.  Tentukanlah point apa (target) yg anda harapkan dari pertanyaan-pertanyaan/krtitik anda.<br />
Permasalahannya adalah jika anda sdh mulai mengeluarkan pernyataan2 dan premis2 yg menurut anda sedang berlogika.  Tapi sebenarnya &#8211; seperti kata mas ressay &#8211; argumen anda penuh dengan asumsi.  Anda bisa memeriksa mana logika dan mana asumsi anda dari dialog anda dgn SP.  Ambilllah pelajaran dari situ.<br />
Anda menginginkan pernyataan anda dikritisi, tapi bagaimana hendak mengkritisi jika isinya hanya asumsi?  </p>
<p>Maaf jika terkesan mendikte.  Apa yg sy utarakan juga bukan pasti suatu kebenaran.  Anda memiliki ruang yg sangat lebar utk menerima atau menolak.  </p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ressay</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-8004</link>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 16:16:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-8004</guid>
		<description>Logika atau asumsi cuy? ah ngawur aja ente nih cuy.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Logika atau asumsi cuy? ah ngawur aja ente nih cuy.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lamaru</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7998</link>
		<dc:creator>lamaru</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 15:13:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7998</guid>
		<description>Utk truthseeker :

Betul kata anda bahwa SP lebih menguasai literatur. Saya hanya bermain logika saja. Perbedaan menyolok saya dengan SP adalah bahwa :

SP berpendapat bahwa kitb2 hadis yg tak terdapat nama Ahl Bait sebagai sanad maka penulis hadis tsb tidak menjadikan Ahl Bait sebagai rujukan.

Sedang saya berpendapat bahwa kitab2 yg tak mencantumkan Ahl Bait belum tentu tidak merujuk kepada Ahl Bait, dengan alasan2 dan logika di atas. 

Ini yg belum ketemu, entah siapa yg benar atau salah. Namanya juga pendapat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Utk truthseeker :</p>
<p>Betul kata anda bahwa SP lebih menguasai literatur. Saya hanya bermain logika saja. Perbedaan menyolok saya dengan SP adalah bahwa :</p>
<p>SP berpendapat bahwa kitb2 hadis yg tak terdapat nama Ahl Bait sebagai sanad maka penulis hadis tsb tidak menjadikan Ahl Bait sebagai rujukan.</p>
<p>Sedang saya berpendapat bahwa kitab2 yg tak mencantumkan Ahl Bait belum tentu tidak merujuk kepada Ahl Bait, dengan alasan2 dan logika di atas. </p>
<p>Ini yg belum ketemu, entah siapa yg benar atau salah. Namanya juga pendapat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: asep</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7995</link>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:54:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7995</guid>
		<description>@lamaru

Sungguh saya belum mengerti dengan semua penjelasan anda via email, cobalah jujur untuk mengatakan yg sebenarnya.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@lamaru</p>
<p>Sungguh saya belum mengerti dengan semua penjelasan anda via email, cobalah jujur untuk mengatakan yg sebenarnya.</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lamaru</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7992</link>
		<dc:creator>lamaru</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:29:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7992</guid>
		<description>Utk Armand : 

Terimakasih atas saran anda, Anda betul, saya terlalu melebar dari topik Tsqalain dan Kulaini, bisa lari ke masalah Ahl Bait dan Maliki. Ini mungkin karena adanya saling keterkaitan.  Ya saya akui, terlalu banyak bermain logika, karena jika hanya mengandalkan dalil dan persepsi masing2 thd dalil, sulit ketemu, karena sumber rujukan sudah berbeda. Bukan berarti logika saya yg benar, bisa saja salah atau tak searah dengan kodrat manusiawi. Silahkan dikritisi, sebagai masukan bagi diri saya sendiri, dan saya berterimakasih jika ada yg mengkritisi pernyataan saya.

Salam damai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Utk Armand : </p>
<p>Terimakasih atas saran anda, Anda betul, saya terlalu melebar dari topik Tsqalain dan Kulaini, bisa lari ke masalah Ahl Bait dan Maliki. Ini mungkin karena adanya saling keterkaitan.  Ya saya akui, terlalu banyak bermain logika, karena jika hanya mengandalkan dalil dan persepsi masing2 thd dalil, sulit ketemu, karena sumber rujukan sudah berbeda. Bukan berarti logika saya yg benar, bisa saja salah atau tak searah dengan kodrat manusiawi. Silahkan dikritisi, sebagai masukan bagi diri saya sendiri, dan saya berterimakasih jika ada yg mengkritisi pernyataan saya.</p>
<p>Salam damai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Halwa</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7987</link>
		<dc:creator>Halwa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 07:07:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7987</guid>
		<description>&quot;Membela Ahl Bait, tak harus mencantumkan nama Ahl Bait di dalam kitab. Berani tapi pakai otak…bukan berani tapi konyol. Mencantumkan nama Imam Jafar Shodiq sebagai sanad di Muwato mungkin kira2 sama saja bunuh diri&quot;

klo pernyataan di atas sama ga dengan Taqiyaah ??

salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Membela Ahl Bait, tak harus mencantumkan nama Ahl Bait di dalam kitab. Berani tapi pakai otak…bukan berani tapi konyol. Mencantumkan nama Imam Jafar Shodiq sebagai sanad di Muwato mungkin kira2 sama saja bunuh diri&#8221;</p>
<p>klo pernyataan di atas sama ga dengan Taqiyaah ??</p>
<p>salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7986</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 06:45:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7986</guid>
		<description>Kalau mau duel sama SP, saran saya jangan ngadu &lt;i&gt;hard disk&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;RAM&lt;/i&gt;. Peluang yang masih ada jika bermain di &lt;i&gt;operating system&lt;/i&gt;. Tapi kalau masih pakai symbian atau yang kelas2 OS untuk HP mendingan menyimak saja... :mrgreen: 

Just kidding.

Damai..damai...

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau mau duel sama SP, saran saya jangan ngadu <i>hard disk</i> dan <i>RAM</i>. Peluang yang masih ada jika bermain di <i>operating system</i>. Tapi kalau masih pakai symbian atau yang kelas2 OS untuk HP mendingan menyimak saja&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Just kidding.</p>
<p>Damai..damai&#8230;</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7982</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 04:58:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7982</guid>
		<description>Sorry Obama, bukan Osama :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sorry Obama, bukan Osama <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7981</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 04:51:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7981</guid>
		<description>@lamaru

Sayang anda terlalu banyak bicara dan tdk fokus.  Jika anda concern di tsaqalain dan kulaini, tetaplah konsisten di dua hal itu, jangan melebar dan banyak buat pernyataan shg bahkan membuka ruang dikritisi dg mudah.  Menghubung-hubungkannya dengan Imam Malik, Imam Safii, mengambil riwayat tanpa mengerti darimana, menyodorkan contoh Osama, dll hanya akan menjadi sasaran tembak.  Orang lain juga melhatnya bukan hanya SP.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@lamaru</p>
<p>Sayang anda terlalu banyak bicara dan tdk fokus.  Jika anda concern di tsaqalain dan kulaini, tetaplah konsisten di dua hal itu, jangan melebar dan banyak buat pernyataan shg bahkan membuka ruang dikritisi dg mudah.  Menghubung-hubungkannya dengan Imam Malik, Imam Safii, mengambil riwayat tanpa mengerti darimana, menyodorkan contoh Osama, dll hanya akan menjadi sasaran tembak.  Orang lain juga melhatnya bukan hanya SP.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7975</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 23:21:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7975</guid>
		<description>@lamaru
ya sudah, cukup kalau begitu dan terimakasih :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@lamaru<br />
ya sudah, cukup kalau begitu dan terimakasih <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lamaru</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7974</link>
		<dc:creator>lamaru</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 22:05:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7974</guid>
		<description>Utk Secondprince :

Saya mengilustrasikan diri sebagai seorang Dai di Amerika Serikat yg terkenal anti teroris Islam. Namun tiba2 Obama minta kepada saya suatu buku/tulisan fatwa tentang Islam. Maka saya memenuhi permintaannya. Dalam menulis, tiba2 saya ingin memuat fatwa yg bagus dari Abubakar Baasyir. Tapi saya tahu, beliau termasuk black list di Amerika. Apakah saya harus memuat nama Baasyir sebagai referensi di buku saya ? Saya kan gak mau mati konyol? maka saya coba cari referensi lain yg isinya mirip fatwa Baasyir, sehingga dalam referensi buku tsb tak ada nama Baasyir. Begitulah logika saya dalam penerbitan Al Muwato di Era Khalifah Al Mansyur yg sangat tak suka kepada Jafar Shodiq.

Dalam hal metode menjelaskan hadis Tsqalain/atau hadis2 lain, jujur saya katakan saya memakai metode yg LANGKA, tak biasa digunakan pihak lain di Indonesia si jaman sekarang ini. Jika anda tidak percaya, anda bisa kontak via email ke bung Asep. Ia mungkin sudah tahu metode tsb.

Hadis tsqalain, jika tanpa penjelasan, tak akan dimengerti orang2 awam seperti saya. Misal : bagaimana praktek nya berpegang teguh pada Al Quran, atau bagaimana prakteknya berpegang teguh pada Ahl Bait ? pertanyaan ini ada di sebagian besar orang awam.

Mungkin betul, saya tidak care dengan validitas formal. Pola fikir saya : 

Khusus tentang cerita/ sejarah tokoh, atau perbuatan tokoh2 dalam sejarah (seperti Ahl Bait dan murid2nya) yg bisa diketahui atau disaksikan orang banyak saat itu, maka literatur yg memberitakan tentang perbuatan2/tindakan nyata tokoh2 tsb masih bisa saya percayai walau kadang2 tidak 100% mutlak. Misal bahwa si fulan murid si fulan. Atau si fulan berperang bersama si fulan.

Khusus tentang pendapat para tokoh terutama isi hadis, saya tak mau sembarang percaya dengan literatur. Hanya percaya pada hadis dengan PENJELASAN2 tentang hadis tsb melalui metode yg LANGKA tadi, suatu metode yg biasa digunakan pada saat di era sahabat dan tabiin, namun jarang digunakan di masa sekarang. 

Sayang anda tak berkenan memberi email anda sekedar utk menyampaikan metode yg bagaimana yg saya sebut langka tadi.

salam damai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Utk Secondprince :</p>
<p>Saya mengilustrasikan diri sebagai seorang Dai di Amerika Serikat yg terkenal anti teroris Islam. Namun tiba2 Obama minta kepada saya suatu buku/tulisan fatwa tentang Islam. Maka saya memenuhi permintaannya. Dalam menulis, tiba2 saya ingin memuat fatwa yg bagus dari Abubakar Baasyir. Tapi saya tahu, beliau termasuk black list di Amerika. Apakah saya harus memuat nama Baasyir sebagai referensi di buku saya ? Saya kan gak mau mati konyol? maka saya coba cari referensi lain yg isinya mirip fatwa Baasyir, sehingga dalam referensi buku tsb tak ada nama Baasyir. Begitulah logika saya dalam penerbitan Al Muwato di Era Khalifah Al Mansyur yg sangat tak suka kepada Jafar Shodiq.</p>
<p>Dalam hal metode menjelaskan hadis Tsqalain/atau hadis2 lain, jujur saya katakan saya memakai metode yg LANGKA, tak biasa digunakan pihak lain di Indonesia si jaman sekarang ini. Jika anda tidak percaya, anda bisa kontak via email ke bung Asep. Ia mungkin sudah tahu metode tsb.</p>
<p>Hadis tsqalain, jika tanpa penjelasan, tak akan dimengerti orang2 awam seperti saya. Misal : bagaimana praktek nya berpegang teguh pada Al Quran, atau bagaimana prakteknya berpegang teguh pada Ahl Bait ? pertanyaan ini ada di sebagian besar orang awam.</p>
<p>Mungkin betul, saya tidak care dengan validitas formal. Pola fikir saya : </p>
<p>Khusus tentang cerita/ sejarah tokoh, atau perbuatan tokoh2 dalam sejarah (seperti Ahl Bait dan murid2nya) yg bisa diketahui atau disaksikan orang banyak saat itu, maka literatur yg memberitakan tentang perbuatan2/tindakan nyata tokoh2 tsb masih bisa saya percayai walau kadang2 tidak 100% mutlak. Misal bahwa si fulan murid si fulan. Atau si fulan berperang bersama si fulan.</p>
<p>Khusus tentang pendapat para tokoh terutama isi hadis, saya tak mau sembarang percaya dengan literatur. Hanya percaya pada hadis dengan PENJELASAN2 tentang hadis tsb melalui metode yg LANGKA tadi, suatu metode yg biasa digunakan pada saat di era sahabat dan tabiin, namun jarang digunakan di masa sekarang. </p>
<p>Sayang anda tak berkenan memberi email anda sekedar utk menyampaikan metode yg bagaimana yg saya sebut langka tadi.</p>
<p>salam damai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7971</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 16:14:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7971</guid>
		<description>@lamaru
&lt;blockquote&gt;Ya..ok saya terima, karena saya bukan seorang penulis, dan juga bukan dosen yg biasa mencatat nama buku dan halamanyg dibacanya, saya hanya pembaca buku amatiran yg lupa nama buku dan halaman setelah selesai membaca. Jadi jika saya ditanya nama buku dan nama pengarang, pasti saya kelabakan. Sehingga utk memenuhi permintaan siapa saja ttg literarutur, saya klik/copi paste saja situs2 yg memuat tulisan yg kira2 maknanya tak beda jauh dengan buku yg saya baca, termasuk referensi diatas yg anda kritisi. Baru saya tahu kalau yg saya kopi paste adalah kitab Ibnu Hajar. Lucu ya….&lt;/blockquote&gt;
Tidak lucu ah, apa yang anda katakan membuktikan bahwa anda tidak mementingkan validitas atau kebenaran informasi yang anda dapat. Apa yang anda baca entah buku apapun itu jika anda ingin menganggapnya benar maka anda anggap benar begitu saja, metode yang menurut saya gegabah, apalagi maaf, di atas rasanya anda berkeras soal literatur orang lain yang tidak valid dan sebagainya, saran saya perbaikilah metode anda itu, bersikaplah rendah hati jika memang kita tidak bisa memastikan &lt;em&gt;apa yang kita baca adalah benar&lt;/em&gt; :)

&lt;blockquote&gt;Jadi Ibnu Hajar ber BERPENDAPAT bahwa Imam Malik jika mengambil hadis (utk ditulis di Muwato mungkin maksudnya) dari Imam jafar Shodiq harus ada hadis penguat/mirip dari selain Imam jafar Shodiq sebagai suatu pelecehan..&lt;/blockquote&gt;
Maaf, anda saja bahkan salah mengerti komentar orang lain, jika anda sering keliru memahami komentar orang lain yang anda baca maka bagaimana saya yakin kesimpulan-kesimpulan yang anda dapat dari &lt;em&gt;buku yang anda baca&lt;/em&gt; tidak mengalami kekeliruan :(
&lt;blockquote&gt;Sedang anda berpendapat bahwa dengan tidak adanya nama Jafar Shodiq sbg sanad di Muwato = tak berpegang Ahl Bait.&lt;/blockquote&gt;
Sebelumnya saya yang mengajukan pertanyaan kepada anda, saya bertanya &lt;strong&gt; jika faktanya kitab-kitab hadis mereka malah sedikit atau tidak ada nukilan ucapan ahlul bait atau hadis dengan sanad ahlul bait, maka apakah cukup merujuk pada kitab mereka dikatakan sebagai merujuk pada ahlul bait?&lt;/strong&gt;.
&lt;blockquote&gt;Karena itu pendapat, boleh dong saya berpendapat juga berdasar logika manusia normal.&lt;/blockquote&gt;
Mari kita lihat yang anda sebut normal
&lt;blockquote&gt;Betul, Imam Malik pembela Ahl Bait/keluarganya, ini dibuktikan dari perkataan Imam Malik diatas, juga ia pernah dua ikut berperang bersama Ahl Bait, salah satunya perang Zaid.&lt;/blockquote&gt;
Saya yakin kalau anda ditanya validitas informasi ini, anda pun akan berkelit sama seperti sebelumnya :(
&lt;blockquote&gt;Membela Ahl Bait, tak harus mencantumkan nama Ahl Bait di dalam kitab. Berani tapi pakai otak…bukan berani tapi konyol. Mencantumkan nama Imam Jafar Shodiq sebagai sanad di Muwato mungkin kira2 sama saja bunuh diri.&lt;/blockquote&gt;
Saya rasa logika anda malah konyol sekali, jika Imam Malik seperti kata anda sebelumnya rela berperang demi membela Ahlul bait maka itu berarti ia rela mati demi ahlul bait, lha kok anda dengan gampangnya bilang mencantumkan nama Imam Ja&#039;far sama saja dengan bunuh diri. Kalau Imam Malik berani berperang dan mati demi Ahlul bait masa&#039; cuma mencantumkan nama Ahlul bait saja takut apalagi dibilang bunuh diri, periksalah kembali logika anda, itu sangat tidak normal
*apalagi kalau ternyata saya tunjukkan fakta yang membatalkan semua asumsi basa-basi anda*
&lt;blockquote&gt;Yg penting, hadis yg dimuat di Muwato harus sesuai dengan hadis yg dimiliki Imam Jafar Shodiq. Caranya, ya…ambil sanad lain (bukan dari Jafar Shodiq).&lt;/blockquote&gt;
Kalau sanadnya bukan dari Ahlul Bait, bagaimana kita bisa yakin hadis tersebut dari Ahlul Bait, dan bagaimana bisa itu disebut berpegang pada Ahlul Bait, sekali lagi logika anda tidak normal
&lt;blockquote&gt;Toh…yg pentingkan ajarannya sama. Imam Malik bukan tipe pemalsu hadis, atau sengaja memuat hadis palsu. &lt;/blockquote&gt;
Bagaimana anda bisa tahu ajarannya sama, saya tidak pernah bilang &lt;em&gt;Imam Malik pemalsu hadis&lt;/em&gt;, tetapi saya katakan Imam Malik tidak memegang teguh hadis Imam Ja&#039;far, beliau meriwayatkan hadis Imam Ja&#039;far jika ada penguat dari yang lain. &lt;em&gt;Hadis Malik Muwatta yang di dalam sanadnya tidak ada nama Ahlul Bait&lt;/em&gt; itu berasal dari guru-guru Malik yang lain bukan dari Imam Ja&#039;far, itulah logika yang benar maka perhatikanlah 
&lt;blockquote&gt;Begitulah pendapat saya berdasarkan logika. Sehingga wajar saja nama Jafar Shodiq sengaja tak ditulis di Muwato.&lt;/blockquote&gt;
Maaf kalau saya katakan, logika anda salah atau tidak normal, informasi yang ada pada anda, anda sendiri tidak bisa memastikan benar atau tidak dan lucunya &lt;em&gt;hal yang anda anggap benar dan anda bela dengan asumsi-asumsi adalah hal yang benar-benar keliru.&lt;/em&gt; btw saya yakin sepertinya anda tidak memahami komentar saya yang ini.
&lt;blockquote&gt;Mengenai penjelasan Tsqalain dari saya diatas, itu saya ambil dari Tirmiji. Kenapa penjelasan seperti di atas? itu ada metodenya yg lebih baik saya sampaikan via email jika anda berkenan.&lt;/blockquote&gt;
Lagi-lagi anda mengecewakan saya dengan menyajikan komentar yang sama seperti sebelumnya. Saya itu bertanya, &lt;strong&gt;Tsaqalain versi Tirmidzi yang anda katakan itu, anda ambil dari mana sumber literaturnya?.&lt;/strong&gt; kalau anda tidak bisa ya bilang saja tidak bisa, sama seperti pengakuan anda sebelumnya. Saya tidak memaksa anda, kalau saja dari awal anda bilang tidak bisa maka diskusinya tidak perlu panjang-panjang.
&lt;blockquote&gt;Saya yakin anda seorang penganut Syiah Imamiah, dan saya yakin anda telah tahu ttg Tsqalain. Tolong anda menjelaskan versi yg anda dapat tentang hadis ini ?&lt;/blockquote&gt;
Maaf, saya bukan seorang Syiah dan untuk memahami hadis Tsaqalain tidak butuh versi-versian, cukup logika yang normal dan hal itu terlihat jelas dalam hadisnya. Hadis Tsaqalain yang saya kutip sangat jelas maknanya, kalau anda tidak mengerti maka jangan paksa orang lain harus tidak mengerti sama seperti anda. Saya lihat penjelasan Tsaqalain versi anda itu gak ada nyambungnya alias gak jelas mau kemana. Dari diskusi yang singkat ini saya tahu anda orang seperti apa
1. Anda punya metode sendiri yang menurut saya sangat rapuh
2. Anda tidak care dengan yang namanya validitas informasi, sehingga kebenaran suatu data hanya berdasar apa yang telah anda baca saja dan tidak tahu apa yang anda baca itu benar atau tidak
3. Anda punya cara berpikir yang menurut saya lain, atau tidak memenuhi kaidah berpikir atau logika yang benar. Cara berpikir anda terlalu gegabah
4. Anda tidak memahami perkataan orang lain yang diskusi dengan anda, sehingga komentar-komentar anda penuh dengan pengulangan yang tidak perlu. Menurut saya anda terlalu asyik dengan pikiran anda sehingga anda tidak bisa memahami bagaimana cara berpikir orang lain. Akibatnya anda tidak pernah mau melepaskan diri dari pikiran anda dan anda tidak bisa melihat kebenaran pikiran orang lain.
5. Anda terlalu mudah menuduh, menuduh literatur orang tidak valid, menuduh ulama mahzab lain tanpa dasar dan saya lihat anda dengan mudah menuduh saya :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@lamaru</p>
<blockquote><p>Ya..ok saya terima, karena saya bukan seorang penulis, dan juga bukan dosen yg biasa mencatat nama buku dan halamanyg dibacanya, saya hanya pembaca buku amatiran yg lupa nama buku dan halaman setelah selesai membaca. Jadi jika saya ditanya nama buku dan nama pengarang, pasti saya kelabakan. Sehingga utk memenuhi permintaan siapa saja ttg literarutur, saya klik/copi paste saja situs2 yg memuat tulisan yg kira2 maknanya tak beda jauh dengan buku yg saya baca, termasuk referensi diatas yg anda kritisi. Baru saya tahu kalau yg saya kopi paste adalah kitab Ibnu Hajar. Lucu ya….</p></blockquote>
<p>Tidak lucu ah, apa yang anda katakan membuktikan bahwa anda tidak mementingkan validitas atau kebenaran informasi yang anda dapat. Apa yang anda baca entah buku apapun itu jika anda ingin menganggapnya benar maka anda anggap benar begitu saja, metode yang menurut saya gegabah, apalagi maaf, di atas rasanya anda berkeras soal literatur orang lain yang tidak valid dan sebagainya, saran saya perbaikilah metode anda itu, bersikaplah rendah hati jika memang kita tidak bisa memastikan <em>apa yang kita baca adalah benar</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Jadi Ibnu Hajar ber BERPENDAPAT bahwa Imam Malik jika mengambil hadis (utk ditulis di Muwato mungkin maksudnya) dari Imam jafar Shodiq harus ada hadis penguat/mirip dari selain Imam jafar Shodiq sebagai suatu pelecehan..</p></blockquote>
<p>Maaf, anda saja bahkan salah mengerti komentar orang lain, jika anda sering keliru memahami komentar orang lain yang anda baca maka bagaimana saya yakin kesimpulan-kesimpulan yang anda dapat dari <em>buku yang anda baca</em> tidak mengalami kekeliruan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sedang anda berpendapat bahwa dengan tidak adanya nama Jafar Shodiq sbg sanad di Muwato = tak berpegang Ahl Bait.</p></blockquote>
<p>Sebelumnya saya yang mengajukan pertanyaan kepada anda, saya bertanya <strong> jika faktanya kitab-kitab hadis mereka malah sedikit atau tidak ada nukilan ucapan ahlul bait atau hadis dengan sanad ahlul bait, maka apakah cukup merujuk pada kitab mereka dikatakan sebagai merujuk pada ahlul bait?</strong>.</p>
<blockquote><p>Karena itu pendapat, boleh dong saya berpendapat juga berdasar logika manusia normal.</p></blockquote>
<p>Mari kita lihat yang anda sebut normal</p>
<blockquote><p>Betul, Imam Malik pembela Ahl Bait/keluarganya, ini dibuktikan dari perkataan Imam Malik diatas, juga ia pernah dua ikut berperang bersama Ahl Bait, salah satunya perang Zaid.</p></blockquote>
<p>Saya yakin kalau anda ditanya validitas informasi ini, anda pun akan berkelit sama seperti sebelumnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Membela Ahl Bait, tak harus mencantumkan nama Ahl Bait di dalam kitab. Berani tapi pakai otak…bukan berani tapi konyol. Mencantumkan nama Imam Jafar Shodiq sebagai sanad di Muwato mungkin kira2 sama saja bunuh diri.</p></blockquote>
<p>Saya rasa logika anda malah konyol sekali, jika Imam Malik seperti kata anda sebelumnya rela berperang demi membela Ahlul bait maka itu berarti ia rela mati demi ahlul bait, lha kok anda dengan gampangnya bilang mencantumkan nama Imam Ja&#8217;far sama saja dengan bunuh diri. Kalau Imam Malik berani berperang dan mati demi Ahlul bait masa&#8217; cuma mencantumkan nama Ahlul bait saja takut apalagi dibilang bunuh diri, periksalah kembali logika anda, itu sangat tidak normal<br />
*apalagi kalau ternyata saya tunjukkan fakta yang membatalkan semua asumsi basa-basi anda*</p>
<blockquote><p>Yg penting, hadis yg dimuat di Muwato harus sesuai dengan hadis yg dimiliki Imam Jafar Shodiq. Caranya, ya…ambil sanad lain (bukan dari Jafar Shodiq).</p></blockquote>
<p>Kalau sanadnya bukan dari Ahlul Bait, bagaimana kita bisa yakin hadis tersebut dari Ahlul Bait, dan bagaimana bisa itu disebut berpegang pada Ahlul Bait, sekali lagi logika anda tidak normal</p>
<blockquote><p>Toh…yg pentingkan ajarannya sama. Imam Malik bukan tipe pemalsu hadis, atau sengaja memuat hadis palsu. </p></blockquote>
<p>Bagaimana anda bisa tahu ajarannya sama, saya tidak pernah bilang <em>Imam Malik pemalsu hadis</em>, tetapi saya katakan Imam Malik tidak memegang teguh hadis Imam Ja&#8217;far, beliau meriwayatkan hadis Imam Ja&#8217;far jika ada penguat dari yang lain. <em>Hadis Malik Muwatta yang di dalam sanadnya tidak ada nama Ahlul Bait</em> itu berasal dari guru-guru Malik yang lain bukan dari Imam Ja&#8217;far, itulah logika yang benar maka perhatikanlah </p>
<blockquote><p>Begitulah pendapat saya berdasarkan logika. Sehingga wajar saja nama Jafar Shodiq sengaja tak ditulis di Muwato.</p></blockquote>
<p>Maaf kalau saya katakan, logika anda salah atau tidak normal, informasi yang ada pada anda, anda sendiri tidak bisa memastikan benar atau tidak dan lucunya <em>hal yang anda anggap benar dan anda bela dengan asumsi-asumsi adalah hal yang benar-benar keliru.</em> btw saya yakin sepertinya anda tidak memahami komentar saya yang ini.</p>
<blockquote><p>Mengenai penjelasan Tsqalain dari saya diatas, itu saya ambil dari Tirmiji. Kenapa penjelasan seperti di atas? itu ada metodenya yg lebih baik saya sampaikan via email jika anda berkenan.</p></blockquote>
<p>Lagi-lagi anda mengecewakan saya dengan menyajikan komentar yang sama seperti sebelumnya. Saya itu bertanya, <strong>Tsaqalain versi Tirmidzi yang anda katakan itu, anda ambil dari mana sumber literaturnya?.</strong> kalau anda tidak bisa ya bilang saja tidak bisa, sama seperti pengakuan anda sebelumnya. Saya tidak memaksa anda, kalau saja dari awal anda bilang tidak bisa maka diskusinya tidak perlu panjang-panjang.</p>
<blockquote><p>Saya yakin anda seorang penganut Syiah Imamiah, dan saya yakin anda telah tahu ttg Tsqalain. Tolong anda menjelaskan versi yg anda dapat tentang hadis ini ?</p></blockquote>
<p>Maaf, saya bukan seorang Syiah dan untuk memahami hadis Tsaqalain tidak butuh versi-versian, cukup logika yang normal dan hal itu terlihat jelas dalam hadisnya. Hadis Tsaqalain yang saya kutip sangat jelas maknanya, kalau anda tidak mengerti maka jangan paksa orang lain harus tidak mengerti sama seperti anda. Saya lihat penjelasan Tsaqalain versi anda itu gak ada nyambungnya alias gak jelas mau kemana. Dari diskusi yang singkat ini saya tahu anda orang seperti apa<br />
1. Anda punya metode sendiri yang menurut saya sangat rapuh<br />
2. Anda tidak care dengan yang namanya validitas informasi, sehingga kebenaran suatu data hanya berdasar apa yang telah anda baca saja dan tidak tahu apa yang anda baca itu benar atau tidak<br />
3. Anda punya cara berpikir yang menurut saya lain, atau tidak memenuhi kaidah berpikir atau logika yang benar. Cara berpikir anda terlalu gegabah<br />
4. Anda tidak memahami perkataan orang lain yang diskusi dengan anda, sehingga komentar-komentar anda penuh dengan pengulangan yang tidak perlu. Menurut saya anda terlalu asyik dengan pikiran anda sehingga anda tidak bisa memahami bagaimana cara berpikir orang lain. Akibatnya anda tidak pernah mau melepaskan diri dari pikiran anda dan anda tidak bisa melihat kebenaran pikiran orang lain.<br />
5. Anda terlalu mudah menuduh, menuduh literatur orang tidak valid, menuduh ulama mahzab lain tanpa dasar dan saya lihat anda dengan mudah menuduh saya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lamaru</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/06/02/hadis-keutamaan-mencintai-ahlul-bait-menggugat-syiahpobhia-di-kalangan-para-ulama/#comment-7967</link>
		<dc:creator>lamaru</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 15:23:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/?p=940#comment-7967</guid>
		<description>Utk Secondprince :

Ya..ok saya terima, karena saya bukan seorang penulis, dan juga bukan dosen yg biasa mencatat nama buku dan halamanyg dibacanya, saya  hanya pembaca buku amatiran yg lupa nama buku dan halaman setelah selesai membaca. Jadi jika saya ditanya nama buku dan nama pengarang, pasti saya kelabakan. Sehingga utk memenuhi permintaan siapa saja ttg literarutur, saya klik/copi paste saja situs2 yg memuat tulisan yg kira2 maknanya tak beda jauh dengan buku yg saya baca, termasuk  referensi diatas yg anda kritisi. Baru saya tahu kalau yg saya kopi paste adalah kitab Ibnu Hajar. Lucu ya....

Jadi Ibnu Hajar ber BERPENDAPAT bahwa Imam Malik jika mengambil hadis (utk ditulis di Muwato mungkin maksudnya) dari Imam jafar Shodiq harus ada hadis penguat/mirip dari selain Imam jafar Shodiq sebagai suatu pelecehan..

Sedang anda berpendapat bahwa dengan tidak adanya nama Jafar Shodiq sbg sanad di Muwato = tak berpegang Ahl Bait.

Karena itu pendapat, boleh dong saya berpendapat  juga berdasar logika manusia normal.

Betul, Imam Malik pembela Ahl Bait/keluarganya, ini dibuktikan dari perkataan Imam Malik diatas, juga ia pernah dua ikut berperang bersama Ahl Bait, salah satunya perang  Zaid.

Membela Ahl Bait, tak harus mencantumkan nama Ahl Bait di dalam kitab. Berani tapi pakai otak...bukan berani tapi konyol. Mencantumkan nama Imam Jafar Shodiq sebagai sanad di Muwato mungkin kira2 sama saja bunuh diri. Yg penting, hadis yg dimuat di Muwato harus sesuai dengan hadis yg dimiliki Imam Jafar Shodiq. Caranya, ya...ambil sanad lain (bukan dari Jafar Shodiq). Toh...yg pentingkan ajarannya sama. Imam Malik bukan tipe pemalsu hadis, atau sengaja memuat  hadis palsu. 

Begitulah pendapat saya berdasarkan logika. Sehingga wajar saja nama Jafar Shodiq sengaja tak ditulis di Muwato.

Mengenai penjelasan Tsqalain dari saya diatas, itu saya ambil dari Tirmiji. Kenapa penjelasan seperti di atas? itu ada metodenya yg lebih baik saya sampaikan via email  jika anda berkenan.

Saya yakin anda seorang penganut Syiah Imamiah, dan saya yakin anda telah tahu ttg Tsqalain. Tolong anda menjelaskan versi yg anda dapat tentang hadis ini ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Utk Secondprince :</p>
<p>Ya..ok saya terima, karena saya bukan seorang penulis, dan juga bukan dosen yg biasa mencatat nama buku dan halamanyg dibacanya, saya  hanya pembaca buku amatiran yg lupa nama buku dan halaman setelah selesai membaca. Jadi jika saya ditanya nama buku dan nama pengarang, pasti saya kelabakan. Sehingga utk memenuhi permintaan siapa saja ttg literarutur, saya klik/copi paste saja situs2 yg memuat tulisan yg kira2 maknanya tak beda jauh dengan buku yg saya baca, termasuk  referensi diatas yg anda kritisi. Baru saya tahu kalau yg saya kopi paste adalah kitab Ibnu Hajar. Lucu ya&#8230;.</p>
<p>Jadi Ibnu Hajar ber BERPENDAPAT bahwa Imam Malik jika mengambil hadis (utk ditulis di Muwato mungkin maksudnya) dari Imam jafar Shodiq harus ada hadis penguat/mirip dari selain Imam jafar Shodiq sebagai suatu pelecehan..</p>
<p>Sedang anda berpendapat bahwa dengan tidak adanya nama Jafar Shodiq sbg sanad di Muwato = tak berpegang Ahl Bait.</p>
<p>Karena itu pendapat, boleh dong saya berpendapat  juga berdasar logika manusia normal.</p>
<p>Betul, Imam Malik pembela Ahl Bait/keluarganya, ini dibuktikan dari perkataan Imam Malik diatas, juga ia pernah dua ikut berperang bersama Ahl Bait, salah satunya perang  Zaid.</p>
<p>Membela Ahl Bait, tak harus mencantumkan nama Ahl Bait di dalam kitab. Berani tapi pakai otak&#8230;bukan berani tapi konyol. Mencantumkan nama Imam Jafar Shodiq sebagai sanad di Muwato mungkin kira2 sama saja bunuh diri. Yg penting, hadis yg dimuat di Muwato harus sesuai dengan hadis yg dimiliki Imam Jafar Shodiq. Caranya, ya&#8230;ambil sanad lain (bukan dari Jafar Shodiq). Toh&#8230;yg pentingkan ajarannya sama. Imam Malik bukan tipe pemalsu hadis, atau sengaja memuat  hadis palsu. </p>
<p>Begitulah pendapat saya berdasarkan logika. Sehingga wajar saja nama Jafar Shodiq sengaja tak ditulis di Muwato.</p>
<p>Mengenai penjelasan Tsqalain dari saya diatas, itu saya ambil dari Tirmiji. Kenapa penjelasan seperti di atas? itu ada metodenya yg lebih baik saya sampaikan via email  jika anda berkenan.</p>
<p>Saya yakin anda seorang penganut Syiah Imamiah, dan saya yakin anda telah tahu ttg Tsqalain. Tolong anda menjelaskan versi yg anda dapat tentang hadis ini ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
