Jalaludin Rahmat dan Al Qurtubi

Muqaddimah

Keduanya adalah Manusia yang menjadi guru saya kendati saya tidak mengenal mereka dan merekapun tidak mengenal saya. Hanya saja Guru dalam pandangan saya bukan berarti saya harus sepaham dan sependapat, tidak, tidak gak mesti harus begitu. Siapapun Ia, jika saya mendapat sesuatu darinya maka Ia adalah guru saya. Dan jika saya tidak sependapat atau saya berpandangan mereka keliru maka saya juga tidak punya kewajiban untuk tetap sependapat.

Adalah lucu sekali ketika saya melihat banyak orang yang dipermainkan syubhat-syubhat dalam pikirannya. Mereka tidak pernah tertarik dengan hikmah yang dimiliki orang lain. Banyak orang dipermainkan syubhat Pengkategorian Manusia. Sehingga Manusia dalam penilaian mereka terkotak-kotak dan memiliki Label sendiri. Labelisasi ini terkadang menggelikan. Label halal, haram, sesat, kafir, bid’ah mudah sekali disematkan kepada Seseorang hanya karena seseorang itu baru mengutarakan Pandangannya.

  • Ketika saya bicara soal Ahlul Bait maka sebagian orang memandang sinis sambil bergumam “Syiah lagi, syiah lagi”
  • Ketika saya bicara soal Nashr Hamid Abu Zaid, maka sebagian orang mulai meragukan keislaman saya
  • Ketika saya bicara panjang lebar soal validitas Al Quran, seseorang berkata “jangan berpikir yang tidak-tidak bisa jadi kafir tanpa sadar “
  • Ketika saya bicara soal Biologi Molekuler, maka banyak orang disekitar saya terheran-heran sambil berkata “wah Pinter banget”.
  • Dan ini ketika saya bicara Jalaludin Rahmat, maka mulai peluru-peluru Syiah dihantamkan kepada saya. Lucunya ketika saya bicara soal Tafsir Ibnu Katsir, Al Qurtubi, Tafsir As Sa’di, Tafsir Ath Thabari, saya nggak pernah tuh dibilang Sunni.
  • Tapi saya pernah bicara soal Syaikh Al Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Muqbil dan tidak disangka ada juga yang bilang saya Salafy. :mrgreen:

Saya tidak begitu, saya ini orang merdeka dan tidak terkategori. Saya bisa membela apa dan siapa saja sama halnya saya juga bisa mengkritik apa dan siapa saja. Perhatikan baik-baik pembelaan yang benar itu melihat apa yang seharusnya dibela bukan melihat dari golongan mana yang harus dibela itu. Ada seseorang yang berdiskusi dengan saya dan Ia merendahkan Syaikh Al Albani maka saya bela Syaikh Al Albani dan saya kritik semua pandangannya yang merendahkan beliau, dan sekali lagi saya bukan Salafy. Ketika saya berdiskusi dengan teman yang Salafy soal Syaikh As Saqqaf yang mengkritik Syaikh Al Albani, Ia dengan penuh emosi menghina As Saqqaf dan tentu saja saya tidak tinggal diam. Saya muntahkan semua kedustaannya terhadap Syaikh As Saqqaf. Lucunya saya mendapat cap Penganut bid’ah.

Begitulah sebentuk keputusasaan saya kepada kebanyakan manusia yang pernah saya ajak diskusi. Di mata mereka sebuah pembelaan berarti Anda berada di barisan atau golongan yang sama dengan yang anda bela. Oh sungguh begitu naifnya manusia. Apakah mereka tidak pernah menghargai apa itu Kebenaran. Sehingga di mata mereka Kebenaran telah diperbudak oleh Labelisasi yang menjijikkan.

.

.

Akhlak Kang Jalal

Itu tema kita kali ini. Di antara anda mungkin pernah membaca tulisan dengan judul itu. Kalau belum silakan search di google atau bisa dilihat dari situs hakekat.com milik saudara seiman Sang Mr Shiaa. Mungkin itu bukan tulisan beliau dan entah itu tulisan siapa. Yang jelas saya cuma mau menanggapi dengan cara yang Lurus. Tulisan di situs itu akan saya kutip

Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya, tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?

Saya pernah baca Buku Dahulukan Akhlak di atas Fiqh, menarik walaupun saya tidakmenemukan banyak hal baru disana. Tapi saya suka buku itu, kang Jalal memang pintar sekali membawakan sesuatu. Saya kurang tahu apa kang Jalal sudah melakukannya atau belum, setidaknya itu tidak menjadi masalah bagi saya. Mau bagaimana kang Jalal itu tidak akan merubah pesan yang beliau sampaikan dalam bukunya itu. :)

Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog Nasional Sunni Syi’ah di layar TV. Menurut informasi yang beredar, penganut sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara penganut syi’ah yang akan memaparkan dalil-dalil syar’i kebenaran mazhab syi’ah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan penuh penantian.

Ah ya saya ingat saya juga menyaksikan peristiwa ini dari tempat tidur saya :)

Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon azab Allah yang disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara mazhab Fauzan dan mazhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan langsung bukti kebenaran masing-masing mazhab, karena jika terjadi mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk, atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang mazhabnya salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi Nabhan Husein yang akhirnyamenggantikan Fauzan.

Sayang sekali Bermubahalah sesama Muslim belum pernah saya lihat ada tuntunannya dalam Islam. Sejauh yang saya tahu Rasulullah SAW bermubahalah dengan kaum Nasrani Najran. Jadi saya tidak tahu pikiran dari mana yang mau mengajak bermubahalah itu. :(

Pada awal sesi Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini) membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya surat Al Ma’arij.

Jalaludin Rahmat memang membawakan asbabun nuzul surat al Ma’arij yang ia kutip dari Tafsir Al Qurtubi. Saudara penulis itu kemudian berkomentar

Kang Jalal menukil dari tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir ahlussunnah wal jamaah, bukannya dari kitab syi’ah. Pemirsa pasti akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah, karena berasal dari salah satu kitab literatur tafsir ahlussunnah.

Memang begitulah wahai saudara penulis, kebanyakan pemirsa memang adalah kumpulan orang sederhana. Mereka mungkin tidak memusingkan soal sanad dan validitas riwayat tersebut. Tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat juga pemirsa yang kritis dan tidak begitu saja menelan mentah semua apa yang ia dengar. Selain itu inti yang sama juga saya tujukan buat anda wahai sang pemilik situs hakekat.com. Bukankah anda banyak sekali mengutip riwayat dari kitab Syiah dan kita-kita ini sebagai pemirsa biasa bisa saja menganggap bahwa kutipan itu adalah pendapat Syiah karena berasal dari Kitab Syiah. Begitukah, jadi tidak ada masalah bukan. :mrgreen:

Setelah dilihat kembali dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang syi’ah pada setiap sunni yang ingin menghujat syi’ah dengan nukilan dari literatur syi’ah sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan kepentingan.

Reaksi saya ketika mendengar riwayat tersebut dikemukakan oleh Jalaludin Rahmat hanyalah sebuah pertanyaan Shahihkah riwayat tersebut?. Tidak ada saya berpikir soal Beliau menyembunyikan nukilan. Karena dalam posisinya sebagai wakil dari pihak Syiah adalah hak Beliau sepenuhnya untuk menyampaikan riwayat yang ia anggap menjadi hujjah baginya. Dan bukankah tugas sang wakil dari pihak Sunni yang seharusnya membahas lebih lanjut masalah validitas riwayat yang Kang Jalal sampaikan. So buat Mas penulis apakah anda mendengar tentang pembahasan tafsir Qurtubi yang anda tulis itu dari wakil Sunni dalam dialog di layar TV itu? :roll:

Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di awal tafsir surat ma’arij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al Ma’arij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Suurotul ma’aarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan dengan bahasa yang “menggerakkan” pasti memahami arti perkataan Qurtubi mengenai waktu turunnya surat ini.

Dalam hal ini saya sependapat dengan Al Qurtubi bahwa surat tersebut adalah surat Makkiyah. Dan saya kira Kang Jalal membaca itu tapi mungkin Kang Jalal punya pertimbangan tertentu yaitu Jika sebuah surat dinyatakan sebagai Makkiyah maka ada dua kemungkinan

  • Semua ayat dalam surat tersebut adalah Makkiyah, atau bisa juga
  • Sebagian besar ayat dalam surat tersebut adalah Makkiyah dan sebagian kecil bisa juga Madaniyah.

Dengan Riwayat yang dibawakan Kang Jalal itu maka Beliau justru mempertimbangkan kemungkinan yang kedua. Itu dasar pikiran beliau yang bisa saya perkirakan.

Jika memang kesepakatan ulama adalah surat Al Ma’arij turun di mekkah, lalu mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal? Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama yang menerangkan bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah.

Tidak mempermasalahkan Al Qurtubi tetapi anda mempermasalahkan Jalaludin Rahmat. Apakah anda membaca dalam tafsir Qurtubi bahwa Qurtubi mendhaifkan riwayat tersebut?. Riwayat tersebut justru digubris oleh Al Qurtubi dan oleh karena itu beliau memasukkannya dalam Kitab Tafsir Beliau. Dengan cara yang buruk bisa saja orang beranggapan Al Qurtubi sengaja menukilkan riwayat lemah. Jalaludin Rahmat dan Al Qurtubi sama-sama membawakan riwayat tersebut bedanya Al Qurtubi membawakan riwayat lain yang justru tidak diungkapkan oleh Jalaludin Rahmat.

Dari awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa yang ingin disampaikan pada pemirsa..

Tentu saja dalam persepsi saya Kang Jalal tidak punya kewajiban untuk menyampaikan kalimat tersebut. Itu adalah kewajiban wakil dari pihak Sunni. Seandainya masalah kalimat Kesepakatan Mufasir Sunni bahwa surat Al Maarij adalah Makkiyah itu dibahas apakah dengan begitu pasti apa yang disampaikan Kang Jala itu mentah. Tidak juga kok, lihat saja

Seandainya dikatakan bahwa Surat tersebut Makkiyah dan riwayat yang dibawakan Kang Jalal adalah Madaniyah maka ada dua alternatif

  • Kemungkinan kedua seperti yang saya bilang di atas, mungkin saja semua ayat dalam surat Al Ma’arij adalah Makkiyah kecuali ayat dalam riwayat yang dibawakan Kang Jalal. Dengan kemungkinan ini tetap saja surat Al Ma’arij disebut Makkiyah. Lihat pengertian Makkiyah
  • Bisa saja ayat yang dimaksud memang turun dua kali, yang pertama turun untuk seperti yang anda nyatakan yaitu sebelum hijrah. Qurtubi menerangkan bahwa orang yang dimaksud adalah Nadhr bin Harits dan Bukhari mengatakan bahwa orang tersebut adalah Abu Jahal. Jika ayat ini bisa turun untuk Nadhr bin Harits dan kemudian untuk Abu jahal maka tidak menutup kemungkinan bahwa ayat ini turun lagi setelah haji wada untuk Harits bin Nu’man al Fihri seperti yang dijelaskan dalam riwayat yang dibawakan Kang Jalal.

Kemudian yang menarik adalah pernyataan berikut

Di sisi lain ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa ghadir khum tercantum dalam kitab-kitab hadits ahlussunnah, di antaranya adalah shahih muslim, Turmuzi, Nasa’i, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada’. Tapi riwayat yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi ditanya oleh Harits bin Nu’man Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah.

Dari sini bisa saja dipikirkan kemungkinan bahwa Rasulullah SAW pernah singgah kembali ke Mekkah setelah peristiwa Ghadir Kum. Jika ditanya apa buktinya, maka Riwayat Al Qurtubi tentang Harits bin Nu’man itu menjadi bukti yang nyata (seandainya riwayat tersebut shahih). Jadi intinya terletak pada seperti reaksi awal saya Shahihkah riwayat Al Qurtubi yang dibawakan kang Jalal? Jika shahih maka semua penjelasan saya tentang ayat tersebut turun dua kali menjadi mungkin. Dan tidak perlu sang penulis berkata

Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada’, Nabi tidak pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan setelah haji wada’. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang Jalal adalah fiktif.

Berdasarkan riwayat Al Qurtubi maka Nabi SAW pernah pergi lagi ke Mekkah setelah haji wada, sayangnya kemungkinan ini hanya kalau hadis tersebut shahih. Ah iya ya ternyata Al Qurtubi ahli tafsir ternama itu juga bisa membawakan riwayat fiktif :mrgreen:

Sejauh ini bisa kita lihat diskusi itu berkaitan dengan literatur dan sudut pandang seseorang. Kang Jalal memahami riwayat tersebut dari sudut pandang yang ia wakili yaitu Syiah oleh karena itu ia hanya membawakan riwayat Al Qurtubi. Kang jalal tidak perlu bersusah-susah membawakan keterangan seperti yang disampaikan oleh Sang penulis karena itu adalah kewajiban Wakil dari Sunni. Dan bagi kita sang pemirsa hendaknya bersikap kritis baik terhadap Wakil Syiah atau wakil Sunni. ;)

.

.

Kekecewaan Saya

Saya pribadi kecewa dengan kedua belah pihak baik Wakil Syiah maupun wakil Sunni. Kepada Kang Jalal saya kecewa karena beliau tidak menjelaskan shahih tidaknya riwayat Al Qurtubi yang ia bawa. Kekecewaan ini juga saya tujukan buat wakil Sunni dan Sang penulis yang ternyata tidak membuktikan sanad riwayat tersebut apakah shahih atau dhaif. Pembahasan yang dilakukan penulis hanyalah dari sudut pandang matan hadis yaitu

  • Matan riwayat Al Qurtubi menurutnya bertentangan dengan keterangan bahwa Al Ma’arij adalah surat Makkiyah
  • Matan riwayat Al Qurtubi bertentangan dengan hadis lain seperti hadis yang menjelaskan asbabun nuzul ayat tersebut untuk Nadhr bin Harits atau abu jahal.
  • Matan riwayat Al Qurtubi bertentangan dengan hadis Ghadir Kum

Semua sudut pandang ini dijadikan dasar sang penulis dalam menolak riwayat Al Qurtubi yang dibawakan Kang Jalal. Dan sudah saya tunjukkan bahwa seandainya riwayat Al Qurtubi benar-benar shahih maka semua yang dinyatkan sang penulis itu tidak bisa dijadikan dasar penolakan. Karena semuanya masih bisa dinyatakan klop. Sekali lagi hal ini hanya jika sanad Riwayat Al Qurtubi yang dibawakan Kang Jalal itu adalah shahih.

Semua ini tidak sedikitpun berkaitan dengan puji atau tidak terpujinya akhlak seseorang seperti yang dipaparkan di bagian akhir penulis

Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq terpuji. Ironis memang.

Saya kira pembaca yang kritis akan tidak sepakat dengan anda wahai penulis. Kang Jalal bertindak sesuai dengan sudut pandang Beliau sebagai wakil Syiah. Semua keterangan anda soal Makkiyah dan sebagainya itu seharusnya disampaikan oleh wakil dari Sunni bukan tugas Kang Jalal. Bukankah itu yang namanya diskusi. Lagipula bukankah sang penulis situs hakekat.com itu selalu berulangkali menukil riwayat Syiah tanpa menyertakan apa pandangan Ulama Syiah tentang riwayat tersebut. Apakah akhlaknya juga bukan akhlak terpuji. :mrgreen:

Kekecewaan juga saya sampaikan kepada wakil Sunni saat pembahasan Hadis Kisa’ yang dibawakan Kang Jalal. Bahwa Hadis tersebut menerangkan Ahlul bait dalam surat Al Ahzab 33 bukanlah istri-istri Nabi. Sayangnya hadis ini tidak dibahas lebih lanjut oleh wakil Sunni itu. Ia justru mengulang-ngulang sudut pandangnya bahwa Surat Al Ahzab ayat 33 ditujukan untuk istri-istri Nabi berdasarkan urutan ayat tanpa menghiraukan hadis Kisa’ yang dibawakan Kang Jalal. :(

Kepada Sang penulis, anda dalam artikel versi PDF pernah membuat catatan kaki

Salah satu riwayat hadits yang sering dibawa oleh kaum syi’ah adalah hadits tsaqalain, yaitu hadits yang berisi wasiat Nabi pada ummat Islam agar mengikuti 2 pusaka, yaitu al qur’an dan ahlul bait. Hadits ini diriwayatkan oleh banyak kitab ahlussunnah, tapi kita tidak tahu apakah ada kitab syi’ah yang meriwayatkan hadits ini. Sayang seluruh riwayat hadits itu yang terdapat dalam kitab ahlussunnah adalah lemah, kecuali riwayat Muslim, yang sebenarnya tidak ada perintah untukmengikuti ahlulbait, isi hadits ini hanyalah perintah untuk menjaga hak-hak ahlul bait. Apakah tercantumnya riwayat hadits dalam banyak kitab ahlussunah menjadi ukuran validitas sebuahhadits ? Semoga Allah memudahkan saya untuk membahas tuntas hadits tsaqalain. Amin…

Lucu sekali, bagaimana mungkin hadis Tsaqalain yang shahih dapat anda nyatakan lemah. :twisted: Cukup bagi anda bahwa hadis yang anda nyatakan lemah itu telah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Beliau Silsilah Al Hadits Al Shahihah. Sungguh saya pribadi kecewa dengan anda wahai Tuan Penulis :(

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Salam Damai

22 Tanggapan

  1. KEBENARAN itu SAKIT, sulit utk diterima dan mungkin ditolak apabila bertentangan dgn prunsip. Kebenaran itu sakit tapi dengan kebenaran menyelamatkan kita didunia dan akhirat. Mengapa ada yg menolak kebenaran.
    PERTAMA krn dia telah meyakinan kebohongan pertama sebagai kebenaran. Krn apabila ia mengakui kebenaran yg disampaikan pdnya dan diakui akan merusak segala agidahnya. Itu berarti semua konsep dan agidah suni mengalami perobahan fatal.
    KEDUA. Tidak jujur dan egoist tdk mau mengakui pendapat yg lain.
    KETIGA. Sifat HASUT dan IRI, mereka tau itu benar, tetapi krn dengki mereka merobah yg HAQ menjadi BATHIL dan BATHIL menjadi HAQ. Mereka menghalalkan segala cara utk mencapai tujuan perhatikan ayat dibawah ini QS 2 :90 :
    Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya[71] kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan[72]. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

    Jadi klu kita mau selamat dlm pergaulan menurut saya, dlm menghapi lawan bicara kita hrs tau bgm bersikap. Apakah menjadi KSATRIA tanpa TOPENG atau KSATRIA BERTOPENG atau menjadi BOUNGLON.
    Mengenai debat Kang Jalal dan Nabhan Husen saya
    kecewa sekali. Krn saya menganggap suatu Rekayasa dari ANTV. Tdk mempunyai dampak positif dari hasil debat tsb.
    Utk aklhlak Kang Jalal dlm diskusi ini saya akui. Dan sependapat dgn mas SP. Damai damai .Wasalam

  2. Diskusi Sunnah-Syi’ah di TV kurang dr 2 jam, disela iklan dan plus ada keinginan ANTV utk dpt untung/bisnis wahhh..susah utk diharapkan memuaskan. Kang Jalal yg biasanya lugaspun disitu terasa kurang fokus/tajam.
    Saya punya mimpi ada TV yg khusus mmg menyajikan tayangan2 diskusi, debat dll. Yg tdk hanya proyek 1 – 2 jam, tp berjilid2 sebgm buku..pasti akan menarik. Kalau ada TV khusus berita, khusus film, khusus lagu2, khusus fashion, khusus animal, khusus kartun..knp tdk ada khusus diskusi dan debat yaaa.. :mrgreen:

  3. @truthseeker
    kita doakan mas, amin ya Allah

  4. Kapan tuh disiarkan? :( saya kok gak tahu ya? ada rerun-nya gak ya?
    anyway, acara-acara begini mestinya disiarkan pada prime time. Mengajak pemirsa menjadi cerdas, kritis, dan (semoga saja) mencerahkan

  5. @hildaalexander
    ad setaonan kaleeee, da lama dooong

  6. @hildaalexander
    biasanya anda bisa dapetin info ICC-jakarta atw ICAS kalau ad acara seperti itu, hail

  7. Menarik. Bagus juga kamu menulis ini. Informatif. Saya sudah jarang melihat perdebatan sunny-syia’ah secara life.

  8. mungkin saya salah satu muslim yang nggak peduli dengan
    tokoh2 muslim tersebut.
    baik pemikirannya ataupun hal yang berhubungan dengan
    aliran2 keislaman yang menurut saya cendrung justru
    lebih banyak menimbulkan perbedaan dan pandangan ummat.

    blog yang ok…

  9. Hooooooo,, yang waktu itu tho,, :D

    Ma juga udah baca tuh bukunya juga,, *berhubung penerbitnya tetangga Ma waktu SMA* :P

    dan Ma baru inget, Ma pernah baca tulisan yang anti pak Jalal itu,, :D

    anw, personal assessment seorang pak Jalal dari Ma nih sebagai muridnya di SMA, jangan komplen, sekedar komen pribadi,, :P

    Pak Jalal itu manusia biasa *Ma harus sering2 nginget itu* dengan kemampuan komunikasi dan retorik yang bagus banget, kepala sekolah yang cukup keren, walaupun kadang2 agak galak,, :P

    Masalah dia menerapkan dalam mengutamakan akhlaknya, menurut Ma beliau itu termasuk orang yang beradab kok, sama berbagai jenis orang dari berbagai jenis background,,

    Hohohoho,, Malah ngebahas orangnya nih Ma,, :P

  10. @adi isa

    Jangan phobia dengan perbedaan mas. Selama manusia yg ada yg seperti kita2 ini mk perbedaan adalah suatu keniscayaan. Dr urusan sepele sampai yg paling penting selalu muncul perbedaan. Karena adanya perbedaa makanya perlu akal (analisa) utk mencari kebenaran.
    Saya jd curious apakah lingkungan sekitar mas adi tdk mengenal perbedaan?. Science yg exact saja banyak perbedaan mas, ada pendukung dan penentangnya apalagi urusan hidup.. :mrgreen:

  11. Saya juga termasuk orang yang suka belajar dari siapa saja. Bagi saya, kebenaran secara umum dari siapa saja adalah sunnatullah. Jadi kotak-kotak ras, agama, dll. tidak menghalangi saya untuk mendapat hikmah kebijaksanaan dari siapa saja, bahkan dari apa saja. Waktu melihat kucing peliharaan saya membiarkan kucing liar yang datang kepadanya untuk makan bersamanya tanpa mengusir dan mencakarnya, maka saya gampang tersentuh melihat golongan minoritas yang sengaja dianiaya oleh yang merasa berkuasa dan dapat berbuat apa saja. Tentang kedua orang di atas, “keduanya adalah Manusia yang menjadi guru saya kendati saya tidak mengenal mereka dan merekapun tidak mengenal saya. Hanya saja Guru dalam pandangan saya bukan berarti saya harus sepaham dan sependapat, tidak, tidak gak mesti harus begitu. Siapapun Ia, jika saya mendapat sesuatu darinya maka Ia adalah guru saya. Dan jika saya tidak sependapat atau saya berpandangan mereka keliru maka saya juga tidak punya kewajiban untuk tetap sependapat.”

  12. Hampir semua orang sdh tahu bahwa masalah beda pendapat antar sunni dan syiah yg paling pokok adalah masalah Imamah / kepemimpinan umat setelah wafatnya Rasulullah saw, nah sekarang pertanyaan adalah sbb, mohon pembaca jawab sendiri dengan jujur gunakan pendekatan kecerdesan emosional anda dan logika anda masing2 :

    1. Pertanyaan yg berhubungan mazhab sunni :
    Apakah ada hadits yg kuat atau yg lemah dari perawi hadits dari kalangan sunni yang berhubungan penunjukan oleh Rasulullah kepada tiga kalifah pertama (Abu Bakar+Umar+Usman) ??, jika jawab nya tidak ada hadits nya maka selanjutnya pertanyaan nya adalah apakah memang ada hadits yg melarang beliau-beliau itu agar jgn jadi kalifah ??, jika jwb nya juga tidak ada, maka apakah mazhab sunni akan berpendapat bahwa ketiga kalifah pertama itu wajar dan sah2 saja kalau jadi kalifah krn mmg tidak ada pelarangan dari Rasulullah ??, jika jwb nya “boleh saja “, maka apakah mazhab sunni yakin bahwa jawaban “boleh saja itu ” sdh benar ?? Coba pikirkan matang2.

    2. Sedang pertanyaan yg berhubungan dengan mazhab syiah tak perlu lagi, karena mazhab syiah sendiri sdh yakin bahwa Rasulullah sebelum wafat nya mmg telah menunjuk Ali bin Abu Talib untuk menjadi kalifah meneruskan perjuangan islam, dan mereka punya hadits2 nya yg berhubungan dengan imamah / kepemimpinan Ali bin Abu Alib , walaupun menurut mazhab sunni hadits itu lemah, ya walaupun lemah tapi meraka mazhab syiah punya dasar hadits2 mengenai penunjukan kalifah Ali bin Abu Talib, jadi wajar saja kalau mereka tetap tegar dan bersikukuh atas pendapatnya karena ada dasarnya, sedang mazhab sunni tdk punya sama sekali hadits yg berhubungan dgn penunjukkan oleh Rasulullah kepada (Abu Bakar+Umar+Usman) untuk menjadi kalifah,

    Nah sekarang terserah anda, mau berpihak kemana? syiah atau sunni ?? dan tak perlu ada debat terbuka antara syiah dan sunni, pokonya kita Islam bersaudara titik.

  13. Assalamualaykum wr wb
    Saya ga tau kajian riwayat itu seharusnya melihat matan atau sanad terlebih dahulu?
    Sedang kalau Qurtuby mungkin lebih mementingkan matan.
    Saya sering ngobrol2 ada perbedaan mencolok dalam sanad syiah dan ahlussunah apalagi salafy yang kadang terlalu strict dengan sanad sehingga mengecualikan pendapat2. Sedang syiah lebih melihat matan.. bener ga ya? ga tau juga…
    Mungkin penulis blog ini bisa summarize suatu saat nanti pada suatu artikel mengenai titik berat perbedaan2 cara pengambilan keputusan dalam kajian naql pada golongan2 syiah, sunni, maupun wahabi. semacam kajian sumber berpikir teologinya. asyik kayaknya tuh… secondprince keliatannya cukup bisa melihat karena tidak terpengaruh golongan.
    ya… siapa tau bisa dapet ulasan sekaliber alghazali, murtadha muthahhari, atau ibnu taymiyah. hehehe…
    afwan.. dan kabarin ke imel saya ya klu uda nulis, biar saya baca ;)
    wassalam

  14. Ada hadist yang shahih tapi kalo dirujuk ke Nash dan akal ada suatu keganjilan dan itu bisa batal demi hukum, semisal 10 sahabat dijamin kesurga, dalam ke 10 sahabat itu yang saya amati secara logika dan sash, yaitu diantaranya Zubair bin Awwam dan Thalhah, kedua-duanya mati ketika perang Siffin/Unta ? Oleh Imam Ali, sementara pada saat itu yang berkuasa adalah Imam Ali, coba timbang dengan An-Nisa 59, dan ini adalah perintah Allah berarti kalau melawan peritah Allah, berarti Kafir dan pasti matinya bukan Syahid tapi mati konyol. Sementara Ucapan Rosul selalu terbimbing oleh Wahyu, bukan semau udalnya alias ASBUN atau apa saja, jadi jelas ini Hadist Hadist Politis alias produk Penguasa Muawiyah atau Abasiyah dan telusuri pasti 100% benarnya yang meriwayatkannya pasti mantan musuh Bani Hasyim atau Bani Hasyim yang sudah mabok kekuasaan.

    Bagiku belajar melalui Ibnu Taiymiyah, pasti akan berbeda dengan apa yang diajarkan Rosul, karena mereka Ashobiyahnya ke Bani UMayyah, kalau kalian masih bersikukuh kehebatan Bani Umayyah, maka lihat saja produknya sekarang. Semuanya terjajah dan terperangkap oleh Imperialis Iblis Paman Sam dan tak bisa menghindar kecuali jadi budaknya, paling ujung-ujungnya cuma bekoar-koar tanpa bisa diimplementasikan dalam kehidupan. Kemunafikan dan kekezaman Shadam Husein dibuktikan dengan dihancurkannya via tangan si Kafir walau Syiah yang mayoritas disana, tapi yang berkuasa Notabene Sunni yang Zalim dan Qur’an sudah mewartakannya dengan jelas, bacalah Qur’an tiap hari dan cari tafsir yang memadai jangan ada kiblat kekeluarga Bani Umayyah tapi Bani Hasyim yang sebenarnya bukan yang sudah mabok kepayang dengan kekuasaan

    Shahih Buchori ” Ketika Rosul membangunkan Ahlu Bayt untuk Sholat Malam, maka Ali berceloteh ketika bangun kepada Rosul, Ya Rosul kalau saja Allah menghendaki Saya bangun (Pola Pikir Jabariyah), maka pasti saya bangun, kemudian Rosul melengos sambil menepuk pahanya, dasar manusia banyak ulahnya. Nah, hadist ini lucukan, sementara pada saat Nabi hendak Hijrah ke Madinah, meminta ke Ali untuk menggantikan beliau ditempat tidur tanpa menolak, langsung beliau tidur sambil ditutup selimut. Kalau saja yang mau membunuh Rosul itu tidak menyibak dulu selimutnya dan langsung menebaskan pedangnya, maka Imam Ali saat itu juga sudah tamat riwayatnya. Kho, bisanya diajak Sholat Malam bisa menyanggah dulu ajakan Rosul tersebut, jadi jelas walaupun ada di Shahih Buchori, maka kalau ditelusuri periwayatnya, maka yang muncul pasti mantan musuhnya Bani Hasyim

  15. :)

  16. subhanallah, semoga Allah memberi cahaya terang kepada umat orang-orang seperti anda.

    ah..(tampak bermaksud berlebih-lebihan), sudah lama sya menginkan ada pembahasan yang santun, lugas, dan bijak.

    terima kasih untuk anda.

  17. @Abu Ghifari Adiwijaya.
    Saya hanya dapat mengatakan apa yg mas jelaskan SHAHIH. Itulah Nasib agama kita. Siapa yg berkuasa dia menentukan. Walaupun itu sabda Rasul atau Firman Allah. Yerutam pada jaman Bani Umaya dan Abasyiah. Wasalam

  18. mas berpikir objektif, itu bagus.
    islam itu satu, ya kan? kalo dua atau lebih itu pasti ada apa-apanya.
    coba definisikan Islam yang satu itu! apa hakikatnya, siapa musuhnya, bagaimana misinya dan sebagainya.
    apakah Islam itu hanya Muhammad saw.? bagaimana dengan Nabi-nabi yang lain?
    pertanyaan2 inilah yang penting untuk dijawab sebelum ke konten diskusi diatas, agar objektif.
    iaristo@ymail.com

  19. Menunggu komentarnya L….
    dari dulu kok cuma jongkok saja…

  20. Mas. qurtubi dan mas adian.
    mas berdua bila membaca sejarah jangan tanggung tanggung , baca juga deh pembelotan samiri dan pengkhianatan yehuda.
    Ente berdua juga baca sejarah Abu bakar,Umar,Usman terus dibandingkan dengan yang lain contoh Salman, Abu dzar, Miqdad, siapa yang lebih mulia …?
    ente jangan asal telan cerita sejarah yang ditulis oleh orang diluar zaman ente… AQL ente bok yo dipake…siapa sih yang ngasih gelar ente MA. ?
    Iblis sudah sombong ente mau cari gelar lebih sombong dari ibliskah. ?!

  21. @ Salafiers (pecandu salafy wahaby)

    Buat anak-anak asuh Ki Buyut Bin Baz, Gus Muqbil dan Ki Ageng Usaimin dan Temen-temen yang laen.
    Aku katakan :

    Salafiyun menginginkan kehidupan zaman ini bergerak jauh ke belakang ke masa-masa 3 generasi awal yang belum kenal internet dan hakekat.com
    he…he…he…
    Menurutku mereka seperti Team expedisi yang menelusuri jejak Dino Saurus kemudian mereka berobsesi hidup bersama mereka…
    Lalu di buatlah film tersebut untuk memenuhi selera jidatnya…
    Mereka ikut menjadi aktornya sebagai Manusia Kera Berjalan Tegak semacam megantropus erectus ato homosoloensus yang hidup berdampingan dengan Dinosaurus Tirex, kadal-kadal raksasa dan Kingkong he…he…he…
    Maka puaslah mereka!!
    Sekarang mereka tetaplah Kera berjalan Tegak yang bisa internetan… He…he…he…
    Hai Salafiers…
    Bangun! Bangun! Ini bukan jamannya Kingkong ato Tirex…
    He..he..he..

  22. selama egoisme dan kesombongan masih di hati. segala informasi pun harus disesuaikan menurut selera hati. wahai salafy anda tidak punya nurani.

Tinggalkan Balasan