Kritik Salafi Yang Mengatakan Al Quran Mengharamkan Musik dan Lagu

Kritik Salafi Yang Mengatakan Al Quran Mengharamkan Musik dan Lagu

Mereka yang menisbatkan dirinya dengan Salafi telah menyatakan bahwa Musik dan lagu haram hukumnya. Tentunya mereka berkata seperti itu dengan dasar dalil dari Al Quran dan Al Hadis. Benarkah seperti itu? Saya berusaha mengkaji masalah ini dan akhir kajian saya adalah ternyata Musik dan Lagu tidak haram. Dalil yang mereka katakan dari Al Quran dan Hadis adalah tidak kuat dan tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah ini.

Mereka yang ngotot sekali dengan pengharaman musik dan lagu sebenarnya hanya mengikut saja kepada Ulama mereka tanpa menelaah dalilnya secara kritis. Saya cukup heran dengan mereka yang sekedar mengikut tetapi berani berteriak di depan orang lain, menguras energinya untuk menunjuk-nunjuk kepada mereka yang mendengarkan musik dan lagu. Dengan pongahnya mereka akan menyalahkan setiap pendapat yang membolehkan musik dan lagu walaupun pendapat tersebut ada dasarnya.

Mereka akan selalu berkata Al Quran dan Hadis telah mengharamkan musik. Aneh sekali seolah-olah hanya mereka saja yang membaca Al Quran dan Hadis, saya katakan mereka yang cuma mengikut itu sudah terkena pengaruh Ulamaisme Salafi. Yang mereka katakan Al Quran dan Hadis itu sebenarnya adalah pemahaman ulama mereka terhadap Al Quran dan Hadis. Mereka yang sekedar mengikut itu telah kehilangan kemampuan untuk memahami dan untuk menutupinya mereka dengan liciknya berlindung dibalik pemahaman Ulama mereka.

Apa daya mereka tanpa ulama mereka, Anda harus memahami Al Quran dan Hadis sesuai dengan pemahaman Salafus salih, lucu apa ulama mereka itu salafus salih. Kita harus ikut Ulama karena mereka lebih ahli, bohong mereka tidak ikut ulama tetapi ikut ulama mereka, ulama yang punya cap ulama salafi Itulah ulama ahli. Ulamaisme Salafi, Ulamaisme demi identitas diri, identitas yang mewah kelas pertama, identitas dengan kebenaran terpasung di lehernya, identitas yang membuatnya berbangga diri dengan menunjuk-nunjuk orang lain, identitas yang penuh candu keselamatan dan kemuliaan. Sungguh Euforia yang tragis demi sebuah identitas.

Tulisan ini akan membahas terlebih dahulu dalil Al Quran yang mereka jadikan dasar untuk mengharamkan musik. Dalam kesempatan lain kalau saya masih hidup saya akan membahas dalil Hadis-hadisnya.

Argumen Salafi
Dalil terkuat dari Al Quran yang mereka pakai untuk mengharamkan musik adalah QS Lukman :6

Wa minannaasi mayyasytarii lahwal hadiitsi liyudhilla ‘an sabiilillaahi bighayri ‘ilmi wayattakhidza haa hudzuwa ,Ulaaaika lahum ‘adzaabummuhiin
“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan”.QS Lukman: 6

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadiitsi(perkataan yang tidak berguna) pada ayat tersebut adalah nyanyian. Dalam hal ini Ibnu Mas’ud bersumpah dengan mengatakan “Demi Allah, itu adalah lagu”.(Sunan Al Kubra Baihaqi 10 hal 223)

Al Wahidi mengatakan, kebanyakan para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud lahwal hadiitsi(perkataan tidak berguna) adalah nyanyian, ini adalah pendapat Mujahid dan Ikrimah. (Sunan Al Kubra Baihaqi 10 hal 223). Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan jilid I hal 258-259 mengatakan bahwa hadis tersebut(riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar) jika didalamnya telah diteliti maka tidak diragukan lagi lebih prioritas diterima daripada penafsiran orang setelah mereka. Oleh karena itu berdasarkan keterangan di atas jelas bahwa Al Quran mengharamkan musik sehingga yang melakukannya akan mendapat azab yang menghinakan.

.

.

Pembahasan dan Bantahan

Sepintas lalu kalau kita melihat Al Quran Lukman ayat 6 tersebut kita tidak akan terpikir bahwa ayat tersebut mengharamkan musik dan lagu karena lahwal hadiitsi diterjemahkan sebagai perkataan yang tidak berguna atau perkataan yang bersifat permainan. Jadi satu-satunya sandaran bahwa lahwal hadiitsi adalah nyanyian adalah hadis yang menerangkan perkataan Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa lahwal hadiitsi yang dimaksud dalam Lukman ayat 6 adalah nyanyian.

Hadis tersebut dalam Sunan Baihaqi adalah hadis yang shahih jadi saya tidak akan menolak hadis tersebut. Bahkan hadis ini disahkan oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak As Shahihain. Tetapi perlu ditekankan bahwa hadis itu tidak bersambung sampai ke Rasulullah SAW atau tidak marfu’. Hadis itu hanya menjelaskan penafsiran Sahabat Nabi terhadap lahwal hadiitsi. Memang ada ulama yang berpendapat penafsiran Sahabat dihukumi marfu’ atau berasal dari Rasulullah SAW dengan alasan mereka para Sahabat telah menyaksikan turunnya wahyu. Pendapat ini tidaklah benar karena kalau memang benar penafsiran Sahabat Nabi itu(dalam hadis Sunan Baihaqi diatas) berasal dari Rasulullah SAW mereka pasti akan menjelaskan dengan kata-kata telah berkata Rasulullah SAW atau saya melihat Rasulullah SAW. Kata-kata itu akan menjelaskan sebab turunnya ayat yang merupakan bukti kalau mereka Sahabat itu menyaksikan turunnya ayat tersebut. Hadis-hadis dengan kata-kata yang jelas marfu’nya ini banyak terdapat dalam Kitab Hadis yang menjadikan hadis tersebut sebagai penafsiran Rasulullah SAW terhadap ayat Al Quran.

Sedangkan hadis tentang Nyanyian ini tidak terdapat kata yang jelas bahwa penafsiran itu berasal dari Rasulullah SAW jadi lebih tepat kalau hadis ini merupakan penafsiran Sahabat Nabi terhadap lahwal hadiitsi. Apakah dengan begitu penasiran Sahabat itu tidak diterima? Tentu saja diterima, Bagaimana mungkin kita bisa menerima penafsiran ulama tetapi tidak menerima penafsiran Sahabat Nabi. Bedanya kalau itu penafsiran dari Rasulullah SAW maka tidak ada tempat bagi kita untuk mengkritiknya.

Jadi penafsiran sahabat bahwa lahwal hadiitsi itu nyanyian bisa diterima dalam arti nyanyian itu termasuk salah satu dari lahwal hadiitsi yang dimaksud tetapi tidak hanya itu. Karena arti sebenarnya lahwal hadiitsi itu adalah perkataan yang tidak berguna atau perkataan yang bersifat permainan.

Apakah dengan begitu kita mengakui bahwa nyanyian itu haram? Ho ho ho tentu saja tidak, nah disinilah letak bantahannya. Lihat kembali surah Lukman ayat 6 tersebut, nah anda akan tahu bahwa lahwal hadiitsi yang mendapatkan azab itu adalah lahwal hadiitsi(perkataan yang tidak berguna) yang digunakan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT. So yang diharamkan itu adalah menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT dengan perkataan tidak berguna atau main-main termasuk dengan nyanyian.

Sedangkan lahwal hadiitsi sendiri adalah hal yang biasa saja, kata itu mengandung arti perkataan yang tidak berguna atau perkataan yang bersifat permainan. Tentu sebagai seorang muslim yang ideal hendaknya mengeluarkan perkataan yang berguna saja dan Jangan suka main-main. Idealnya begitu, kalau saya sih jelas tidak ideal, saya masih suka main-main dan perkataan saya banyak juga yang tidak berguna. Saya tidak setuju kalau hal seperti ini diharamkan selagi kata-kata itu tidak buruk dan tidak menyakiti orang lain.

Lahwal hadiitsi, kata hadiitsi sendiri berarti perkataan sedangkan kata lahwu berarti tidak berguna atau permainan. Mereka yang ingin mempermasalahkan kata lahwu dan menyatakannya haram adalah tidak benar. Lihatlah Al Quran Muhammad ayat 36

Innamal hayaatuddunyaa la’ibun wa lahwu
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…”QS Muhmmad :36

Bagaimana mungkin lahwu bisa dikatakan haram, kalau iya maka kehidupan dunia menjadi haram pula. Ini jelas tidak benar, lahwu(permainan) itu adalah hal yang biasa saja selagi tidak memalingkan kita pada kehidupan akhirat. Oleh karena itu kelanjutan ayat itu “Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.QS Muhammad 36

Kembali kepada Al Quran Lukman ayat 6, ayat ini sebenarnya ditujukan buat orang-orang kafir. Ini dapat dilihat dari kelanjutan ayat tersebut Lukman ayat 7.

“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan”.QS Lukman :6
“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia tidak mendengarnya. Seakan-akan ada penghalang di kedua telinganya, maka berikan kabar gembira padanya dengan azab yang pedih”.QS Lukman :7

Jelas sekali bahwa yang berpaling dengan menyombongkan diri ketika dibacakan ayat-ayat Allah adalah orang kafir.

  • Ibnu Jarir At Thabary dalan Tafsir Ath Thabary jilid I hal 41 tafsir surah Lukman menegaskan dari riwayat Ibnu Wahabyang berkata “Ibnu Zaid mengatakan bahwa Lukman ayat 6 “Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna” maksudnya adalah orang-orang kafir.
  • Pendapat ini juga dikemukakan Ibnu Athiyyah dalam Tafsir Ibnu Athiyyah jilid 11 hal 484 yang mengatakan bahwa yang rajih atau lebih kuat adalah ayat yang diturunkan tentang lahwul hadis ini untuk orang-orang kafir, karenanya ungkapan tersebut sangat keras yaitu “untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dengan menggunakannya sebagai olok-olokan” dan disertai dengan ancaman siksaan yang sangat hina.
  • Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla jilid 9 hal 10 telah membantah mereka yang menggunakan Lukman ayat 6 ini sebagai dasar pengharaman musik Beliau berkata “Nash ayat tersebut membatalkan Argumentasi –argumentasi mereka sendiri, karena dalam ayat tersebut “Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan” Ini menunjukkan bahwa yang melakukannya adalah orang kafir,tanpa ikhtilaf jika menjadikan jalan Allah sebagai olok-olokan. Inilah yang dicela oleh Allah . Sedangkan orang yang menggunakan perkataan yang sia-sia untuk tujuan hiburan atau menenangkan dirinya bukan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tidaklah dicela. Maka terbantahlah pendapat mereka dengan perkataan mereka sendiri. Bahkan jika seseorang melalaikan shalat dengan sengaja dikarenakan bacaan Al Quran atau membaca hadis atau dengan obrolan dan lagu sama saja termasuk kefasikan dan dosa kepada Allah. Tetapi siapa yang tidak melalaikan kewajiban sebagaimana yang kami sebutkan maka tetap merupakan kebaikan”

Maaf kalau terlalu panjang mari kita akhiri saja dengan kesimpulan Ayat Al Quran Lukman ayat 6 adalah lebih tepat ditujukan untuk orang-orang kafir yang ingin menyesatkan manusia dari jalan Allah dengan perkataan yang tidak berguna. Jadi Ayat ini tidak benar dijadikan dasar pengharaman musik dan lagu. Singkatnya Al Quran tidak mengharamkan musik dan lagu. Salam damai.

About these ads

115 Tanggapan

  1. Ya masalah musik ini sudah sering dibahas dan sudah sampai capek saya untuk berargumen dengan menggunakan penalaran saya…pada akhirnya jawaban yang saya dapatkan adalah jangan menuhankan akal

    Sepertinya ada pihak yang terlalu memandang sempit penggunaan akal itu. Mereka melalaikan ayat Al Qur’an yang pertama turun…

  2. @ Pak De
    sabar saja, yang penting kan sudah angkat bicara
    mau gimana ya terserah mereka
    kadang mereka memang berlebihan dalam merendahkan akal
    makanya perlu dikritik :)

  3. pokoknya haram, lhooo…
    pokoknya!
    pokoknya!
    pokoknya!

  4. Menurutku, musik/nyanyian yang membuat dosa adalah musik mengumbar hawa nafsu, dan berisi kata-kata yang haram dan menyesatkan. Ini sangat sesuai dengan :
    “Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan”.QS Lukman: 6
    Musik/nyanyian yang model seperti itu adalah salah satu contoh ‘perkataan yang tidak berguna’.

    Musik bisa jadi sarana dakwah (nasyid), musik yang berharmoni juga bisa meningkatkan kemampuan otak kanan dan mempercepat penyembuhan penyakit (sbg terapi alternatif), musik juga bisa mengingatkan seseorang akan suatu sesuatu yang baik melalui bait-bait lagu tsb, musik juga dapat melembutkan hati…

    By the way, menurut saya halal atau haram musik/nyanyian tsb tergantung dari bagaimana musik tsb. Musik dapat menjadi halal dan musik juga dapat menjadi haram.

  5. @ Mas Joe
    pokoknya halal Mas
    saya mah maunya halal
    pokoknya halal
    gak haram lho….:)

    @ Ja’far
    saya setuju
    Musik itu pada dasarnya tidak mengapa tergantung digunakan dengan niat apa dan apakah didalamnya terdapat sesuatu yang berbau maksiat atau tidak :)

  6. Mendengarkan nyanyian dan musik tidak ada manfaatnya untuk jiwa dan tidak mendatangkan kemaslahatan. Nyanyian dan musik terhadap jiwa seperti arak terhadap badan yang dapat membuat orang mabuk. Bahkan mabuk yang ditimbulkan oleh musik dan nyanyian lebih besar daripada mabuk yang ditimbulkan oleh arak.
    ————————————————————————-
    Haramkah Nyanyian dan Musik?
    Apabila kita menyimak Al-Qur`an, Hadits Rasulullah dan keterangan ‘ulama Salaf serta ‘ulama Ahlus Sunnah yang mengikuti jejak mereka dengan baik niscaya kita dapati bahwa nyanyian dan musik adalah haram. Di antara dalil-dalilnya adalah:
    1. Allah Ta’ala berfirman:
    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا
    “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan “perkataan yang tidak berguna” untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.” (Luqmaan:6)
    Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” adalah nyanyian.
    Berkata Ibnu Mas’ud: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia.” Beliau mengulanginya tiga kali.
    Dan berkata Al-Hasan Al-Bashriy: “Ayat ini turun berkaitan dengan nyanyian dan alat musik.” (Lihat Tafsiir Ibni Katsiir 6/145 cet. Maktabah Ash-Shafaa)
    2. Allah Ta’ala berfirman mengajak bicara syaithan:
    وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ
    “Dan hasunglah siapa saja yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” (Al-Israa`:64)
    “dengan suaramu” maksudnya adalah nyanyian dan alat musik.
    3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
    “Sungguh, benar-benar akan ada dari ummatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras) dan ma’aazif.” Ma’aazif adalah musik. (HR. Al-Bukhariy dan Abu Dawud)
    Makna hadits ini adalah akan datang dari kalangan muslimin kaum-kaum yang berkeyakinan bahwa zina, memakai sutera murni, meminum khamr (yaitu segala sesuatu yang memabukkan) dan musik adalah halal, padahal semuanya itu adalah haram.
    Sedangkan ma’aazif adalah semua alat musik yang mempunyai nada dan suara yang teratur seperti kecapi, gitar, piano, seruling, drum, gendang, rebana dan lain-lainnya. Bahkan lonceng pun termasuk ma’aazif, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    اَلْجَرَسُ مَزَامِيْرُ الشَّيْطَانِ
    “Lonceng adalah seruling syaithan.” (HR. Muslim)
    Hadits ini menunjukkan bahwa lonceng tersebut dibenci karena suaranya dan dahulu orang-orang mengalungkannya di leher-leher binatang. Sesungguhnya lonceng ini serupa dengan An-Naaquus (semacam kentongan atau gong) yang dipergunakan orang-orang Nashara. Dan penggunaan lonceng di rumah, sekolah-sekolah dan selainnya dapat digantikan dengan suara bul-bul (nama burung) yaitu suatu alat yang dijual di pasar-pasar.
    4. Telah dinukilkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab Al-Qadhaa`: “Nyanyian adalah permainan (kesia-siaan) yang dibenci yang menyerupai kebathilan. Barangsiapa yang memperbanyaknya maka ia adalah orang bodoh yang ditolak persaksiannya.” Yang dimaksud dibenci di sini adalah dilarang syari’at dan haram.
    Bahaya Nyanyian dan Musik
    Islam tidak melarang sesuatu kecuali jika ada bahaya padanya. Dalam nyanyian dan musik terdapat bahaya seperti yang dijelaskan Ibnu Taimiyyah di bawah ini:
    1. Musik bagi jiwa seperti arak, bahkan bisa menimbulkan bahaya yang lebih hebat daripada arak itu sendiri. Apabila seseorang mabuk akibat suara maka ia akan tertimpa penyakit syirik, bahkan bisa menjadi syirik akbar kalau sampai dia mencintai penyanyinya melebihi cintanya kepada Allah.
    2. Adapun hal-hal keji yang terjadi karena nyanyian, bisa menjadi penyebab perbuatan zina, bahkan merupakan penyebab terbesar untuk menjerumuskan orang ke jurang kekejian. Orang laki-laki maupun perempuan, terutama para remajanya yang semula sangat patuh kepada agama, setelah mereka mendengar nyanyian dan musik, rusaklah jiwa mereka serta mudah melakukan perbuatan keji.
    3. Peristiwa pembunuhan juga sering terjadi di arena pertunjukan musik. Ini disebabkan karena ada kekuatan yang mendorong berbuat demikian, sebab mereka datang ke tempat itu bersama syaithan. Syaithannyalah yang lebih kuat yang akhirnya bisa membunuh orang.
    4. Mendengarkan nyanyian dan musik tidak ada manfaatnya untuk jiwa dan tidak mendatangkan kemaslahatan. Nyanyian dan musik terhadap jiwa seperti arak terhadap badan yang dapat membuat orang mabuk. Bahkan mabuk yang ditimbulkan oleh musik dan nyanyian lebih besar daripada mabuk yang ditimbulkan oleh arak.
    Fitnah Suara Perempuan Lebih Dahsyat!
    Al-Barra` bin Malik adalah seorang laki-laki yang bersuara bagus. Ia pernah melantunkan sya’ir dengan irama rajaz untuk Rasulullah di salah satu perjalanan beliau. Di tengah-tengah ia berlantun tiba-tiba ia mendekati seorang perempuan, maka bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya: “Berhati-hatilah terhadap perempuan!” Dan tambahnya lagi: “Berhentilah kamu (dari melantunkan sya’ir)!” Al-Hakim berkata bahwa Rasulullah benci pada perempuan yang mendengarkan suaranya (yaitu suara Al-Barra` bin Malik). (HR. Al-Hakim, dishahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabiy)
    Perhatikanlah! Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan perempuan terkena fitnah akibat mendengarkan sya’ir dengan suara bagus, maka bagaimana kira-kira sikap Rasulullah bila mendengar suara perempuan pelacur yang sudah rusak moralnya lewat radio, TV atau selainnya yang disiarkan sekarang ini?! Dan bagaimana pula mendengar penyanyi lawak dan cabul serta lagu-lagu cinta?! Sya’ir-sya’ir yang menggambarkan pipi, ukuran badan, bentuk badan, buah dada yang membakar cinta dan kehidupan bebas?! Apa sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendengar nyanyian tersebut dengan iringan musik yang bisa mengundang bahaya seperti bahaya arak bahkan lebih berbahaya dari arak???!!!
    Nyanyian Menimbulkan Kemunafikan
    1. Ibnu Mas’ud berkata: “Nyanyian menimbulkan kemunafikan dalam hati seperti air menumbuhkan sayuran, sedangkan dzikir menumbuhkan iman dalam hati seperti air menumbuhkan tanaman.”
    2. Ibnul Qayyim berkata: “Tidak seorang pun yang mendengarkan nyanyian kecuali hatinya munafik yang ia sendiri tidak merasa. Andaikata ia mengerti hakekat kemunafikan pasti ia melihat kemunafikan itu ada dalam hatinya, sebab tidak mungkin berkumpul di dalam hati seseorang antara dua cinta, yaitu cinta nyanyian dan cinta Al-Qur`an, kecuali yang satu mengusir yang lain. Sungguh kami telah membuktikan betapa beratnya Al-Qur`an di hati seorang penyanyi atau pendengarnya dan betapa jemunya mereka terhadap Al-Qur`an. Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang dibaca oleh pembaca Al-Qur`an, hatinya tertutup dan tidak tergerak sama sekali oleh bacaan tadi. Tetapi apabila mendengar nyanyian mereka segar dan cinta dalam hatinya. Mereka tampaknya lebih mengutamakan suara nyanyian daripada Al-Qur`an. Mereka yang telah terkena akibat buruk nyanyian ternyata adalah orang-orang yang malas mengerjakan shalat, termasuk shalat berjama’ah (di masjid).
    Obat Mujarab Menghindari Lagu & Musik
    1. Menjauhinya dan tidak mendengarkannya baik dari radio, TV atau media lainnya, terutama nyanyian-nyanyian yang mengumbar hawa nafsu. Juga harus berhenti berteman dengan musik.
    2. Obat mujarab terbesar untuk menghilangkan nyanyian dan musik adalah dzikrullaah dan membaca Al-Qur`an terutama membaca surat Al-Baqarah berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
    “Sesungguhnya syaithan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

    “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yuunus:57)
    3. Membaca Sirah Nabawiyyah (sejarah hidup Nabi), Syamaa`ilul Muhammadiyyah (buku yang membahas secara lengkap ciri fisik dan akhlaq Nabi) dan kisah-kisah para shahabat.
    Wallaahu A’lam.
    Lihat lebih detail dalam kitab Kaifa Nurabbii Aulaadanaa dan Taujiihaat Islaamiyyah li Ishlaahil Fard wal Mujtama’ karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

  7. Ndengerin Opick ato Jeffry Al Bukhori nyanyi, haram juga yak ???

  8. @ Kustoro
    kalau soal manfaat itu relatif Mas, bagi anda yang mungkin tidak pernah mendengar nyanyian maka anda tidak akan tahu manfaatnya. Sekedar informasi Mas Musik sudah menjadi salah satu terapi psikis bagi penyakit psikis tertentu.

    Anda bicara dalil, boleh saja tetapi tahukah anda bahwa setiap dalil mesti ditelaah

    1. Allah Ta’ala berfirman:
    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا
    “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan “perkataan yang tidak berguna” untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.” (Luqmaan:6)
    Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” adalah nyanyian.
    Berkata Ibnu Mas’ud: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia.” Beliau mengulanginya tiga kali.
    Dan berkata Al-Hasan Al-Bashriy: “Ayat ini turun berkaitan dengan nyanyian dan alat musik.” (Lihat Tafsiir Ibni Katsiir 6/145 cet. Maktabah Ash-Shafaa)
    Bukankah dalil ini sudah dibahas dalam tulisan di atas,aneh berarti anda sama sekali tidak membaca tulisan saya
    lihat lagi tulisan di atas

    Anda bilang kebanyakan ahli tafsir menyatakan itu nyanyian, tetapi kenapa anda tidak menyebutkan siapa saja mereka

    Mengenai Ibnu Mas’ud kan udah dibahas di atas saya sepakat hadisnya shahih tetapi itu kan cuma penafsiran sahabat, tidak ada kata indikasi marfu’ ke Rasulullah SAW

    Anda mengutip Hasan Bashri yang notabenenya seorang tabiin, apakah tabiin menyaksikan turunnya Ayat Al Qur’an

    Sebenarnya Mas kalau anda mau menelaah dengan cermat ayat di atas maka yang diharamkan itu tujuannya untuk menyesatkan manusia, sekali lagi baca tulisan di atas apa menurut anda saya itu cuma main-main

    Dalil no 2 anda, jelas sekali anda tidak menampilkan referensinya dari mana anda tahu bahwa suara itu adalah nyanyian, seharusnya maaf anda menampilkan pendapat siapa itu

    Dalil hadisnya akan saya bahas nanti, hadis itu terdapat keraguan pada sanadnya bahkan Bukhari sendiri meriwayatkan secara muallaq artinya sanadnya terputus, lengkapnya akan saya bahas nanti

    Anda menukil pendapat ulama, percayalah saya juga punya sumber ulama yang membolehkan nyanyian
    jadi pendapat ulama tidak menjadi hujjah mati ketika banyak juga ulama yang membolehkan nyanyian, salah satu yang membolehkan adalah Asy Syaukani, Ibnu Thahir, dan Ibnu Hazm.

    Pendapat Ibnu Taimiyyah yang anda kutip masih janggal
    1.Anda mengaitkan dengan syirik maka yang jadi haramnya itu yang syiriknya bukan musiknya , menurut saya yg seperti ini jelas berlebihan

    2 dan 3 Ibnu Taimiyyah mengaitkan hal keji seperti zina dan pembunuhan dengan musik, ya yang seperti ini kan berarti zina dan pembunuhannya yang haram. ini generalisasi namanya bagaimana dengan yang mendengarkan musik sendirian di kamar

    4. Musik seperti arak bagi jiwa, mana dalilnya? ini cuma perkataan Ibnu Taimiyyah saja, bagaimana dengan mereka para ahli psikolog yang melakukan terapi musik, perkataan itu harus dengan dalil kuat Mas, kalau cuma pendapat tidak bisa dijadikan dasar pengharaman.

  9. @ mbelgedez
    menurut saya nggak,nyanyian yang haram itu jika mengandung unsur maksiatnya, selain itu tidak masalah

  10. *Nyimak dialog Bharma dengan Kuntoro*

    Waww…keren!
    Argumen dan counter-nya substantif banget. Kita yang nyimak jadi bener-bener bisa melihat ini bukan sekedar setuju tidak setuju, atau suka berdebat, tapi berusaha meluruskan.

    Sampai hari ini saya belum melihat ada yang meluruskan argumen dengan memberikan telaahan dan mengurai dalil-dalil yang sering dipakai oleh Salafi untuk mengharamkan nyanyian. Jadi kesannya, mereka `menang` dengan dalil dan merasa bahwa orang yang mendebat dan tidak setuju dengan mereka sama artinya mendebat ayat dan dalil tersebut.

    Dengan counter argumen dan penjelasan kaya gini, jadi tambah jelas nih, bahwa sebenarnya mereka tidak menelaah dan mengurai dulu penafsiran ulama yang mereka yakini. Mereka taklid saja dan yang disayangkan mereka memaksakan hal itu (bahkan dengan cara yang tidak bersahabat) kepada orang lain. -__-`

    btw, saya sering jelasin ke yang berhujjah bahwa musik itu haram dengan sepotong-sepotong lho Bharma, enggak teratur seperti ini. Bisa jadi referensi nih. :mrgreen:

    Nulis pencerahan dengan jalan kaya gini, penting! :twisted: :mrgreen:

  11. Errr… maksudnya saya bilang gak ada itu yang di blogosphere ini pas tiap kali ada perseteruan masalah gambar, atau musik yang haram. :mrgreen:

  12. @ Mbak Hiruta

    “Dengan counter argumen dan penjelasan kaya gini, jadi tambah jelas nih, bahwa sebenarnya mereka tidak menelaah dan mengurai dulu penafsiran ulama yang mereka yakini. Mereka taklid saja dan yang disayangkan mereka memaksakan hal itu (bahkan dengan cara yang tidak bersahabat) kepada orang lain.”

    Kadang malah ada yang lebih aneh Mbak
    waktu diskusi ada sebagian yang kayak orang ngomong sendiri
    maksudnya argumen yang kita katakan itu seolah-olah gak didengerin
    jadi dia terus bicara itu-itu aja

    boleh saja jadi referensi
    saya tersanjung nih
    ya Mbak penting dan semoga bermanfaat

    oh iya iya saya ngerti maksudnya :D

  13. Wah, gw nimba pengetahuan rohani dulu disini.

  14. @ Majalah “Dewa Dewi”

    silakan
    silakan
    monggo…..:)

  15. Secondprince,
    Terus terang saja untuk soal nyanyian ato ndengerin lagu, saya masih ragu. Entah haram entah tidak, Namin demikian saya juga tidak mau meng iyakan juga sekalipun dalam keraguan. Dalam artian, saya masih terus mencari (minimal untuk keyakinan diri saya sendiri), bahwa nyanyi menyanyi haram.
    Mungkin saya butuh waktu.
    Namun, akhir-akhir ini saya sedang terusik oleh keyakinan para penganut paham ‘pokoknya’, yaitu orang-orang Salaf yang gemar mem Bid’ah kan orang, meng Kafirkan sesama orang Islam.
    Saya coba mencari ke induknya kaum orang-orang Salaf, yaitu ajaran Wahabbi, yang terus terang saja, tindakan kaum Wahabbi di Arab sono (dulunya) sangat mencengangkan bin tidak masuk akal.
    Jadi ???

  16. Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” adalah nyanyian.

    wakakakakakakakakakak….
    *ngakak sambil guling-guling*

    ehm…ehm…
    Saya setuju dengan pendapat Bharma saja dech :D

    *ketik SMS Bharma [spasi] minta duit*
    :mrgreen:

  17. hiks…hiks…
    salah ketik…
    Ralat boleh kan?

    *ketik SMS Bharma [spasi] minta duit*

    yang benar adalah:

    *ketik SMS Bharma [koma] minta duit*

  18. “Mendengarkan nyanyian dan musik tidak ada manfaatnya untuk jiwa dan tidak mendatangkan kemaslahatan.”

    mendengarkan musik sangat bermanfaat untuk perkembangan otak,

    http://www.fcs.uga.edu/pubs/current/FACS01-7.html

    http://parenting-baby.com/Parenting-Baby-Music-Research/Music-Research.html

    tapi ya itu untuk yang punya otak. Kalo nggak punya ya emang tidak mendatangkan kemaslahatan

  19. @ mbelgedez
    Silakan mencari Mas, kita semua berhak untuk belajar dan mencari
    saya juga terusik dengan Salafi makanya saya buat tulisan ini
    Jadinya itu apa ya Mas,….:)

    @ Pak De
    walah Pak De saya mah mana ada duit
    kan situ yang udah ngasilin duit
    saya masih nadah nih…:)
    jadi intinya gak mau :D

    @ somedude
    saya pernah baca itu
    makanya saya tetap berpendapat musik ada manfaatnya
    syukron masukannya :)

  20. *Islam mode on*

    Begini, mas, logikanya orang yang mengharamkan musik itu, dalam menerjemahkan dalil, seperti ini (semua dalil di bawah hanya permisalan);

    “Rasulullah melarang mendekati perkataan jorok.”
    —> ‘Perkataan jorok’ di sini maksudnya lagu.

    “Allah mengutuk orang yang menggunakan perkataan menyesatkan.”
    —> ‘perkataan menyesatkan’ di sini maksudnya lagu.

    “Janganlah kamu melakukan dusta.”
    —> ‘Dusta’ di sini maksudnya lagu.

    …(mulai ngawur)

    “Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
    —> ‘orang-orang kafir’ maksudnya yang menyanyi.

    “Rasulullah tidak menyukai kurma yang busuk.”
    —> ‘kurma yang busuk’ maksudnya lagu.

    “Janganlah kamu berzina!”
    —> ‘berzina’ maksudnya menyanyi.

    * * *

    Bisa dimengerti? :P Sembarang menafsirkan istilah :lol:

    *Islam mode off*

  21. @ Difo :D walah Mas Difo bisa saja
    kalau yang itu sih benar-benar Fallacy :D
    hmm… sembarang menafsirkan istilah, benar juga ya

    balik lagi namanya Mas Kopral :D

  22. Wah.. Makin parah niehh.. Ini dia nieh yg gw benci.. Mengharamkan sesuatu yang halal.. Ckckck..

    Begini loh..

    untuk lebih detail akan dalil-dalilnya saudara
    bisa temukan di Al ghazali tentang musik, dan Yusuf Qardhawi tentang hiburan
    dalam Islam.

    Musik tidak terlarang dalam Islam. Musik bersifat netral. Artinya, dia seperti pisau, jika dibawa ke kejahatan oleh pelakunya ya bisa bersifat haram.

    Tuhan Maha Indah, Dia menyukai keindahan. Nabi SAW pernah mendengar musik berdendang ketika Hari Ied bersama Aisyah RA, waktu itu Abu Bakar sempat marah karena dikiranya Rasulullah SAW mengharamkannya. (H.R Muslim)

    Daud AS diturunkan kemu’jizatan dalam bermusik.

    Memang pada suatu kali kesempatan Umar bin Khotthob menutup telinganya ketika mendengar suara seruling, tapi ketika ditanya mengapa. Umar hanya bisa memberikan jawaban, bahwa semata-mata karena Rasulullah SAW melakukannya. Jadi alasan yang ada, bukan tidak mungkin di sisi suara seruling tetapi mungkin lebih dari itu.

    Akan tetapi dari sekian alasan itu, efek musik sebenarnya memang cukup berbahaya untuk pencipta suasana hati dan watak hati. Karena itu, tetap dianjurkan agar berhati-hati dan tidak berlebihan. Batasan akan boleh dan tidaknya musik tentu seperti cara-cara yang ma’ruf.

    Selain itu kalau Musik memang haram apa ruginya?? Katanya memabukan?? Kalau Saya pribadi menganggap musik itu seperti ‘Pencerahan Spiritual’.. Perasaan mendengarkan musik(yg tenang) sama seperti ketika Saya berdoa kepada-Nya.. So peacefully.. Jadi menambah ketakwaan Saya kepada-Nya..

    JADI PLISS!!!! JANGAN MENGHARAMKAN SESUATU YANG HALAL!! PERGUNAKAN AKALMU!!! ISLAM ITU AGAMA ORANG2 BERAKAL!!

  23. mari kita menutup kuping bersama-sama……

    ….
    …..
    lho??

  24. Selamat Berdikusi……….!!!

  25. [...] lepas dari logika-logika ayat dan hadis yang dipakai untuk menetapkan haram atau tidaknya sesuatu, tentulah para ulama dan cerdik pandai dalam bidang agama telah menegasi masalah-masalah ini secara [...]

  26. @ Arieyhanz
    oh begitu ya Mas
    terimakasih komentarnya
    salam damai :D

    @ Sara
    ha ha ha :D
    mari kita menutup mata bersama-sama
    renungkan dan rasakan
    walah ngawur :P

    @ Agus
    ikutan diskusi juga biar seru

  27. capek deh….

  28. MAKNA SYAHADATAIN, RUKUN, SYARAT, KONSEKUENSI, DAN YANG MEMBATALKANNYA

    Oleh
    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan

    PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN
    [A]. Makna Syahadat “Laa ilaaha illallah”
    Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, menta’ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

    Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar “Laa ” harus ditaqdirkan “bi haqqi” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud ” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.

    Kalimat “Laa ilaaha illallah” telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:

    [1]. “Laa ilaaha illallah” artinya:
    “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.

    [2]. “Laa ilaaha illallah” artinya:
    “Tidak ada pencipta selain Allah” . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.

    [3]. “Laa ilaaha illallah” artinya:
    “Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian dari makna kalimat ” “. Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup

    Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.

    [B]. Makna Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
    Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah
    Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

    KEDUA: RUKUN SYAHADATAIN
    [A]. Rukun “Laa ilaaha illallah”
    Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:
    An-Nafyu atau peniadaan: “Laa ilaha” membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

    Al-Itsbat (penetapan): “illallah” menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

    Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

    “Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat …” [Al-Baqarah: 256]

    Firman Allah, “siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari “Laa ilaha” rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua, “illallah”. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :

    “Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. [Az-Zukhruf: 26-27]

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

    [B]. Rukun Syahadat “Muhammad Rasulullah”
    Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat “‘abduhu wa rasuluh ” hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.

    Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    “Artinya : Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, …’.” [Al-Kahfi : 110]

    Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memujinya:

    “Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.” [Az-Zumar: 36]

    “Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) …”[Al-Kahfi: 1]

    “Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram …” [Al-Isra': 1]

    Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).

    Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.

    Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

    KETIGA: SYARAT-SYARAT SYAHADATAIN
    [A]. Syarat-syarat “Laa ilaha illallah”
    Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:

    1. ‘Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).
    2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).
    3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
    4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
    5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
    6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
    7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).

    Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

    Syarat Pertama: ‘Ilmu (Mengetahui).
    Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya :… Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). [Az-Zukhruf : 86]

    Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

    Syarat Kedua: Yaqin (yakin).
    Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan sya-hadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu …” [Al-Hujurat : 15]

    Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.” [HR. Al-Bukhari]

    Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga.

    Syarat Ketiga: Qabul (menerima).
    Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyem-bah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.

    Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta’ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:

    “Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” [Ash-Shafat: 35-36]

    Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum me-nerima makna laa ilaaha illallah.

    Syarat Keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat).
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” [Luqman : 22

    Al-’Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah).

    Syarat Kelima: Shidq (jujur).
    Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah: 8-10]

    Syarat Keenam: Ikhlas.
    Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah. Dalam hadits ‘Itban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

    Syarat Ketujuh: Mahabbah (Kecintaan).
    Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai
    orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]

    Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah.

    [B]. Syarat Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
    1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
    2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
    3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.
    4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.
    5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia.
    6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

    MAKNA SYAHADATAIN, RUKUN, SYARAT, KONSEKUENSI, DAN YANG MEMBATALKANNYA

    Oleh
    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan

    PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN
    [A]. Makna Syahadat “Laa ilaaha illallah”
    Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, menta’ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

    Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar “Laa ” harus ditaqdirkan “bi haqqi” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud ” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.

    Kalimat “Laa ilaaha illallah” telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:

    [1]. “Laa ilaaha illallah” artinya:
    “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.

    [2]. “Laa ilaaha illallah” artinya:
    “Tidak ada pencipta selain Allah” . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.

    [3]. “Laa ilaaha illallah” artinya:
    “Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian dari makna kalimat ” “. Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup

    Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.

    [B]. Makna Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
    Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah
    Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

    KEDUA: RUKUN SYAHADATAIN
    [A]. Rukun “Laa ilaaha illallah”
    Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:
    An-Nafyu atau peniadaan: “Laa ilaha” membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

    Al-Itsbat (penetapan): “illallah” menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

    Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

    “Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat …” [Al-Baqarah: 256]

    Firman Allah, “siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari “Laa ilaha” rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua, “illallah”. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :

    “Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. [Az-Zukhruf: 26-27]

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

    [B]. Rukun Syahadat “Muhammad Rasulullah”
    Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat “‘abduhu wa rasuluh ” hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.

    Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    “Artinya : Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, …’.” [Al-Kahfi : 110]

    Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memujinya:

    “Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.” [Az-Zumar: 36]

    “Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) …”[Al-Kahfi: 1]

    “Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram …” [Al-Isra': 1]

    Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).

    Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.

    Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

    KETIGA: SYARAT-SYARAT SYAHADATAIN
    [A]. Syarat-syarat “Laa ilaha illallah”
    Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:

    1. ‘Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).
    2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).
    3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
    4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
    5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
    6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
    7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).

    Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

    Syarat Pertama: ‘Ilmu (Mengetahui).
    Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya :… Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). [Az-Zukhruf : 86]

    Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

    Syarat Kedua: Yaqin (yakin).
    Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan sya-hadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu …” [Al-Hujurat : 15]

    Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.” [HR. Al-Bukhari]

    Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga.

    Syarat Ketiga: Qabul (menerima).
    Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyem-bah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.

    Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta’ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:

    “Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” [Ash-Shafat: 35-36]

    Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum me-nerima makna laa ilaaha illallah.

    Syarat Keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat).
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” [Luqman : 22

    Al-’Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah).

    Syarat Kelima: Shidq (jujur).
    Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah: 8-10]

    Syarat Keenam: Ikhlas.
    Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah. Dalam hadits ‘Itban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

    Syarat Ketujuh: Mahabbah (Kecintaan).
    Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai
    orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]

    Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah.

    [B]. Syarat Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
    1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
    2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
    3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.
    4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.
    5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia.
    6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

  29. @ embuh
    waduh pelan-pelan aja Mas
    biar gak capek :D

    @ ulukundung
    maaf, panjang Mas tapi kok agak gak nyambung sama tulisan saya ya
    atau cuma ngasih info aja
    terimakasih deh Mas:D

  30. Assalamu’alaikum,

    Boleh ikutan dong, wah mas jago tafsir ya mengalahkan Sahabat Rasululloh.
    Terus bagaimana dengan hadits ini mas:
    “Sungguh, benar-benar akan ada dari ummatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras) dan ma’aazif.” Ma’aazif adalah musik. (HR. Al-Bukhariy dan Abu Dawud)

    Masalah terapi dengan musik, menurut saya mah kebanyakan pemusik itu org yg jauh dengan agama (kecuali yg beragama non-muslim- maaf).

    Jadi gimana nih? Oh ya ttg efek musik bagi tubuh juga blm final kok, masih banyak ilmuwan yg menyangkal (iseng2 search di google)

    Klo saya mah ngejaga utk tdk dengerin musik. Takut, soalnya pilihannya cuman 2, klo benar cmn dapat kenikmatan mendengarkan musik, klo salah padahal sdh tahu hadits-nya dosa dong.
    Cari aman ahhhh.
    Wallahu a’lam

  31. @ Rakhman
    Maaf mas anda salah kok, saya gak jago tafsir dibanding sahabat, apa saya menolak tafsir sahabat,tidak kok. Baca lagi dengan baik saya menerima tafsir sahabat, tapi pemahamannya tidak seperti yang salafi katakan.Tapi tafsir sahabat nggak mutlak karena ayat Al Quran nya jelas dan umum.
    Hadis itu terdapat keraguan pada sanadnya, coba anda cek sendiri. Bukhari meriwayatkan secara muallaq,ntar saya akan bahas
    anda juga sembarangan generalisasi masalah pemusik jauh dari agama gak ada hubungan dengan hukum musik sendiri. Apa anda tidak pernah mendengar musik yang bernuansa agama.
    Memang belum final kok, ada ilmuwan yang menyangkal, maaf Mas baca lagi teliti memang ada yang ragu terapi musik untuk kasus-kasus tertentu. Bukan menyangkal tetapi mereka berpendapat itu tak terlalu berpengaruh.
    Anehnya anda mengabaikan mereka yang berpendapat terapi musik bermanfaat untuk kasus-kasus tertentu
    Silakan saja Mas, itu kan hak anda, entahlah apa anda pernah mendengar hadis-hadis yang membolehkan musik.
    saya rasa anda hanya mendengar hadis-hadis yang dikatakan salafi mengharamkan musik, tetapi anehnya luput dari pandangan anda keraguan pada hadis tersebut :)

  32. Assalamu’alaikum…
    Maaf, saya hanya seorang tholabul ilmi, dan belum mempunyai kemampuan untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist. Saya lebih memilih mencari dan mengikuti kebenaran yg berdasarkan Al-qur’an dan Assunnah (hadist yg shahih)yg disampaikan oleh para ulama. Saya tidak akan berpendapat menurut pribadi saya apalagi mengkritik, karena memang saya merasa belum cukup, bahkan jauh, dari mampu. Maka berikut ini saya sampaikan beberapa artikel sebagai tambahan, yg mudah-mudahan bermanfaat.
    dan mohon maaf bila terlalu panjang.. :)

    MERAJALELANYA BUNYI-BUNYIAN [MUSIK] SERTA DIANGGAP HALAL

    Oleh
    Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

    MUKADIMAH
    Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

    Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang nampak.
    ________________________________

    Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka. ‘Ada yang bertanya kepada Rasulullah’. Wahai Rasulullah, kapankah hal itu terjadi.? Beliau menjawab. ‘Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita”. [Bagian awalnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2:1350 dengan tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi. Al-Haitsami berkata : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dan di dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Abiz Zunad yang padanya terdapat kelemahan, sedangkan perawi-perawi yang lain bagi salah satu jalannya adalah perawi-perawi shahih'. Majma'uz Zawaid 8:10. Al-Albani berkata : 'Shahih'. Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3:216 hadits no. 3559]

    Pertanda (alamat) ini telah banyak terjadi pada masa lalu, dan sekarang lebih banyak lagi. Pada masa kini alat-alat dan permainan musik telah merata di mana-mana, dan biduan serta biduanita tak terbilang jumlahnya. Padahal, mereka itulah yang dimaksud dengan al-qainat (penyanyi-penyanyi) dalam hadits diatas. Dan yang lebih besar dari itu ialah banyaknya orang yang menghalalkan musik dan menyanyi. Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan ditimpa tanah longsor, kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan penyakit yang dapat mengubah bentuk muka, sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas. Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata : telah berkata Hisyam bin Ammar (ia berkata) : telah menceritakan kepada kami Shidqah bin Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya hingga Abi Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. Dan sungguh akan ada kaum yang pergi ke tepi bukit yang tinggi, lalu para pengembala dengan kambingnya menggunjingi mereka, lantas mereka di datangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari’. Kemudian pada malam harinya Allah membinasakan mereka dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka, sedang yang lain (yang tidak binasa) diubah wajahnya menjadi monyet dan babi sampai hari kiamat”.[Shahih Bukhari, Kitab Al-Asyrabah, Bab Maa Jaa-a fi Man Yastahillu Al-Khamra wa Yusammihi bi Ghairi Ismihi 10:51].

    Ibnu Hazm menganggap bahwa hadits ini munqathi’ (terputus sanad atau jalan periwayatannya), tidak bersambung antara Bukhari dan Shidqah bin Khalid [Al-Muhalla, karya Ibnu Hazm 9:59, dengan tahqiq Ahmad Syakir, Mansyurat Al-Maktab At-Tijari, Beirut].

    Anggapan Ibnu Hazm ini disanggah oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menjelaskan bahwa pendapat Ibnu Hazm itu batal dari enam segi [Tahdzib As-Sunan 5:270-272].

    [1] Bahwa Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan mendengar hadits darinya. Apabila beliau meriwayatkan hadits darinya secara mu’an’an (dengan menggunakan perkataan ‘an /dari) maka hal itu telah disepakati sebagai muttashil karena antara Bukhari dan Hisyam adalah sezaman dan beliau mendengar darinya. Apabila beliau (Bukhari) berkata : “Telah berkata Hisyam” maka hal itu sama sekali tidak berbeda dengan kalau beliau berkata, “dari Hisyam …..”

    [2] Bahwa orang-orang kepercayaan telah meriwayatkannya dari Hisyam secara maushul. Al-Ismaili berkata di dalam shahihnya, “Al-Hasan telah memberitahu-kan kepadaku, (ia berkata) : Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada kami” dengan isnadnya dan matannya.

    [3] Hadits ini telah diriwayatkan secara shah melalui jalan selain Hisyam. Al-Ismaili dan Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dengan dua sanad yang lain dari Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu.

    [4] Bahwa seandainya Bukhari tidak bertemu dan tidak mendengar dari Hisyam, maka beliau memasukkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya menunjukkan bahwa hadits ini menurut beliau telah sah dari Hisyam dengan tidak menyebut perantara antara beliau dengan Hisyam. Hal ini dimungkinkan karena telah demikian masyhur perantara-perantara tersebut atau karena banyaknya jumlah mereka. Dengan demikian hadits tersebut sudah terkenal dan termasyhur dari Hisyam.

    [5] Apabila Bukhari berkata dalam Shahih-nya, “Telah berkata si Fulan”, maka hadits tersebut adalah shahih menurut beliau.

    [6] Bukhari menyebutkan hadits ini dalam Shahih-nya dan berhujjah dengannya, tidak sekedar menjadikannya syahid (saksi atau pendukung terhadap hadits lain yang semakna), dengan demikian maka hadits tersebut adalah shahih tanpa diragukan lagi.

    Ibnu Shalah[1] berkata : “Tidak perlu dihiraukan pendapat Abu Muhammad bin Hazm Az-Zhahiri Al-Hafizh yang menolak hadits Bukhari dari Abu Amir atau dari Abu Malik”. Lalu beliau menyebutkan hadits tersebut, kemudian berkata. “Hadits tersebut sudah terkenal dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang digantungkan oleh Bukhari itu. Dan kadang-kadang beliau berbuat demikian karena beliau telah meyebutkannya pada tempat lain dalam kitab beliau dengan sanadnya yang bersambung. Dan adakalanya beliau berbuat demikian karena alasan-alasan lain yang tidak laik dikatakan haditsnya munqathi’. Wallahu a’lam. [Muqaddimah Ibnush Shalah Fii 'Ulumil Hadits, halaman 32, terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1398H. Fathul-Bari 10:52].

    Saya sengaja membicarakan hadits ini agak panjang mengingat adanya sebagian orang yang terkecoh oleh pendapat Ibnu Hazm ini serta menjadikannya alasan untuk memperbolehkan alat-alat musik. Padahal, sudah jelas bahwa hadits-hadist yang melarangnya adalah shahih, dan umat ini diancam dengan bermacam-macam siksaan apabila telah merajalela permainan musik yang melalaikan (almalahi) dan merajalela pula kemaksiatan.

    [Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusub bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108-111 terbitan Pustaka Mantiq Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]
    _________
    Foot Note.
    [1] Beliau adalah Imam dan Ahli Hadits Al-Hafizh Abu Amr Utsman bin Abdur Rahman Asy-Syahrazuri yang terkenal dengan sebutan Ibnu Shalah, seorang ahli agama yang zuhud dan wara’ serta ahli ibadah, mengikuti jejak Salaf yang Shalih. Beliau memiliki banyak karangan dalam ilmu hadits dan fiqih, dan memimpin pengajian di Lembaga Hadits Damsyiq. Beliau wafat pada tahun 643H [Al-Bidayah Wan-Nihayah 13:168]
    ****

    HUKUM NYANYIAN ATAU LAGU

    Oleh
    Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.
    Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum menyanyi, apakah haram atau diperbolehkan, walaupun saya mendengarnya hanya sebatas hiburan saja ? Apa hukum memainkan alat musik rebab dan lagu-lagu klasik ? Apakah menabuh genderang saat perkawinan diharamkan, sedangkan saya pernah mendengar bahwa hal itu dibolehkan ? Semoga Allah memberimu pahala dan mengampuni segala dosamu.

    Jawaban.
    Sesungguhnya mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan perbuatan mungkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat membuat kita lalai dari mengingat Allah serta lalai melaksanakan shalat. Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits (ucapan yang tidak berguna) dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu.

    “Artinya : Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna” [Luqman : 6]

    Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lahwul hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh musik rebab, kecapi, biola, serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram, maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berpendapat.

    “Artinya : Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutera, khamr, dan alat musik” [1]

    Yang dimaksud dengan al-hira pada hadits di atas adalah perbuatan zina, sedangkan yang dimaksud al-ma’azif adalah segala macam jenis alat musik. Saya menasihati anda semua untuk mendengarkan lantunan al-Qur’an yang di dalamnya terdapat seruan untuk berjalan di jalan yang lurus karena hal itu sangat bermanfaat. Berapa banyak orang yang telah dibuat lalai karena mendengar nyanyian dan alat musik.

    Adapun pernikahan, maka disyariatkan di dalamnya untuk membunyikan alat musik rebana disertai nyanyian yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan suatu pernikahan, yang didalamnya tidak ada seruan maupun pujian untuk sesuatu yang diharamkan, yang dikumandangkan pada malam hari khusus bagi kaum wanita guna mengumumkan pernikahan mereka agar dapat dibedakan dengan perbuatan zina, sebagaimana yang dibenarkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Sedangkan genderang dilarang membunyikannya dalam sebuah pernikahan, cukup hanya dengan memukul rebana saja. Juga dalam mengumumkan pernikahan maupun melantunkan lagu yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan pernikahan tidak boleh menggunakan pengeras suara, karena hal itu dapat menimbulkan fitnah yang besar, akibat-akibat yang buruk, serta dapat merugikan kaum muslimin. Selain itu, acara nyanyian tersebut tidak boleh berlama-lama, cukup sekedar dapat menyampaikan pengumuman nikah saja, karena dengan berlama-lama dalam nyanyian tersebut dapat melewatkan waktu fajar dan mengurangi waktu tidur. Menggunakan waktu secara berlebihan untuk nyanyian (dalam pengumuman nikah tersebut) merupakan sesuatu yang dilarang dan merupakan perbuatan orang-orang munafik.

    [Bin Baz, Mjalah Ad-Dakwah, edisi 902, Syawal 1403H]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]
    _________
    Foote Note
    [1] Al-Bukhari tentang minuman dalam bab ma ja’a fi man yastahillu al-khamr wa yusmmihi bi ghairai ismih

    ***

    HUKUM NASYID ATAU LAGU-LAGU YANG BERNAFASKAN ISLAM

    Oleh
    Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta.

    Pertanyaan
    Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Sesungguhnya kami mengetahui tentang haramnya nyanyian atau lagu dalam bentuknya yang ada pada saat ini karena di dalamnya terkandung perkataan-perkataan yang tercela atau perkataan-perkataan lain yang sama sekali tidak mengandung manfaat yang diharapkan, sedangkan kami adalah pemuda muslim yang hatinya diterangi oleh Allah dengan cahaya kebenaran sehingga kami harus mengganti kebiasaan itu. Maka kami memilih untuk mendengarkan lagu-lagu bernafaskan Islam yang di dalamnya terkandung semangat yang menggelora, simpati dan lain sebagainya yang dapat menambah semangat dan rasa simpati kami. Nasyid atau lagu-lagu bernafaskan Islam adalah rangkaian bait-bait syair yang disenandungkan oleh para pendakwah Islam (semoga Allah memberi kekuatan kepada mereka) yang diekspresikan dalam bentuk nada seperti syair ‘Saudaraku’ karya Sayyid Quthub -rahimahullah-. Apa hukum lagu-lagu bernafaskan Islam yang di dalamnya murni terkandung perkataan yang membangkitkan semangat dan rasa simpati, yang diucapkan oleh para pendakwah pada masa sekarang atau pada pada masa-masa lampau, di mana lagu-lagu tersebut menggambarkan tentang Islam dan mengajak para pendengarnya kepada keislaman.

    Apakah boleh mendengarkan nasyid atau lagu-lagu bernafaskan Islam tersebut jika lagu itu diiringi dengan suara rebana (gendang)? Sepanjang pengetahuan saya yang terbatas ini, saya mendengar bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam-membolehkan kaum muslimin untuk memukul genderang pada malam pesta pernikahan sedangkan genderang merupakan alat musik yang tidak ada bedanya dengan alat musik lain? Mohon penjelasannya dan semoga Allah memberi petunjuk.

    Jawaban
    Lembaga Fatwa menjelaskan sebagai berikut: Anda benar mengatakan bahwa lagu-lagu yang bentuknya seperti sekarang ini hukumnya adalah haram karena berisi kata-kata yang tercela dan tidak ada kebaikan di dalamnya, bahkan cenderung mengagungkan nafsu dan daya tarik seksual, yang mengundang pendengarnya untuk berbuat tidak baik. Semoga Allah menunjukkan kita kepada jalan yang diridlaiNya. Anda boleh mengganti kebiasaan anda mendengarkan lagu-lagu semacam itu dengan nasyid atau lagu-lagu yang bernafaskan Islam karena di dalamnya terdapat hikmah, peringatan dan teladan (ibrah) yang mengobarkan semangat serta ghirah dalam beragama, membangkitkan rasa simpati, penjauhan diri dari segala macam bentuk keburukan. Seruannya dapat membangkitkan jiwa sang pelantun maupun pendengarnya agar berlaku taat kepada Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-, merubah kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ketentuanNya menjadi perlindungan dengan syari’at serta berjihad di jalanNya.

    Tetapi tidak boleh menjadikan nasyid itu sebagai suatu yang wajib untuk dirinya dan sebagai kebiasaan, cukup dilakukan pada saat-saat tertentu ketika hhal itu dibutuhkan seperti pada saat pesta pernikahan, selamatan sebelum melakukan perjalanan di jalan Allah (berjihad), atau acara-acara seperti itu. Nasyid ini boleh juga dilantunkan guna membangkitkan semangat untuk melakukan perbuatan yang baik ketika jiwa sedang tidak bergairah dan hilang semangat. Juga pada saat jiwa terdorong untuk berbuat buruk, maka nasyid atau lagu-lagu Islami tersebut boleh dilantunkan untuk mencegah dan menghindar dari keburukan.

    Namun lebih baik seseorang menghindari hal-hal yang membawanya kepada keburukan dengan membaca Al-Qur’an, mengingat Allah dan mengamalkan hadits-hadits Nabi, karena sesungguhnya hal itu lebih bersih dan lebih suci bagi jiwa serta lebih menguatkan dan menenangkan hati, sebagaimana firman Allah.

    “Artinya : Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” [Az-Zumar: 23]

    Dalam ayat lain Allah berfirman.

    “Artinya : Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” [Ar-Ra'd: 28-29]

    Sudah menjadi kebiasaan para sahabat untuk menjadikah Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai penolong mereka dengan cara menghafal, mempelajari serta mengamalkannya. Selain itu mereka juga memiliki nasyid-nasyid dan nyanyian yang mereka lantunkan seperti saat mereka menggali parit Khandaq, membangun masjid-masjid dan saat mereka menuju medan pertempuran (jihad) atau pada kesempatan lain di mana lagu itu dibutuhkan tanpa menjadikannya sebagai syiar atau semboyan, tetapi hanya dijadikan sebagai pendorong dan pengobar semangat juang mereka.

    Sedangkan genderang dan alat-alat musik lainnya tidak boleh dipergunakan untuk mengiringi nasyid-nasyid tersebut karena Nabi -Shollallaahu’alaihi wa sallam- dan para sahabatnya tidak melakukan hal itu. Semoga Allah menunjukkan kita kepada jalan yang lurus. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

    [Fatawa Islamiyah, al-Lajnah ad-Da'imah, 4/532-534]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]

    Sumber : http://almanhaj.or.id

  33. HUKUM NASYID-NASYID ISLAMI

    Oleh
    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

    Pertanyaan
    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Banyak beredar di kalangan pemuda muslim kaset-kaset nasyid yang mereka sebut “an-nasyid Islamiyyah”. Bagaimana sebenarnya permasalahan ini ?

    Jawaban
    Jika an-nasyid ini tidak disertai alat-alat musik, maka saya katakan “pada dasarnya tidak mengapa”, dengan syarat nasyid tersebut terlepas dari segala bentuk pelanggaran syari’at, seperti meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertawassul kepada makhluk, demikian pula tidak boleh dijadikan kebiasaan (dalam mendengarkannya,-pent), karena akan memalingkan generasi muslim dari membaca, mempelajari, dan merenungi Kitab Allah Azza wa Jalla yang sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an dengan membaguskan suaranya, maka dia bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 5023 dan Muslim no. 232-234]

    “Artinya : Bacalah Al-Qur’an dan baguskanlah suaramu dengannya sebelum datang beberapa kaum yang tergesa-gesa mendapat balasan (upah bacaan), dan tidak sabar menanti untuk mendapatkan (pahalanya di akhirat kelak), maka bacalah Al-Qur’an dengan membaguskan suara(mu) dengannya”.

    Lagipula, barangsiapa yang mengamati perihal para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, dia tidak akan mendapatkan adanya annasyid-annasyid dalam kehidupan mereka, karena mereka adalah generasi yang sungguh-sungguh dan bukan generasi hiburan.

    [Al-Ashaalah, 17 hal. 70-71]

    [Disalin ulang dari buku Biografi Syaikh Al-Albani Rahimahullah Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini. Penyusun Mubarak bin Mahfudh Bamuallim Lc, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

    WAJIB WASPADA DARI NASYID-NASYID DAN MELARANG JUAL BELI SERTA PEREDARANNYA

    Oleh
    Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

    Sesuatu yang sepantasnya diperhatikan ialah, adanya kaset-kaset berisi nasyid-nasyid paduan suara yang beredar dikalangan para pemuda aktivis Islam yang mereka namakan nasyid Islam, padahal itu termasuk nyanyian. Dan kadangkala nasyid tersebut mengandung suara yang menggoda, dijual di pameran-pameran bersama kaset-kaset rekaman Al-Qur’an dan ceramah-ceramah agama.

    Penamanaan nasyid ini dengan nasyid Islami adalah penamaan yang salah, karena Islam tidak mensyariatkan nasyid bagi kita. Tetapi mensyariatkan kepada kita dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, dan belajar ilmu yang bermanfaat. Adapun nasyid itu termasuk agama (tata-cara) orang sufi ahli bid’ah, yakni orang-orang yang menjadikan hal yang sia-sia dan permainan sebagai agamanya. Padahal menjadikan nasyid bagian dari agama adalah tasyabbuh dengan orang-orang Nashara yang menjadikan nyanyian bersama, serta senandung sebagai bagian (ibadah) agama mereka.

    Maka dari itu wajib (bagi kaum muslimin) agar waspada dari nasyid-nasyid ini, serta melarang peredaran serta penjualannya disamping kandungan isinya yang jelek, yakni mengobarkan fitnah berupa semangat yang terburu nafsu (kurang perhitungan), dan menaburkan benih perselisihan diantara kaum muslimin. Orang yang menyebar luaskan nasyid ini kadang berdalih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diperdengarkan disisi beliau syair-syair, dan beliau menikmatinya serta menetapkan (kebolehan)nya.

    Maka jawabnya : Bahwa syair-syair yang diperdengarkan disisi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dilantunkan dengan paduan suara semacam nyanyian-nyanyian, dan tidak pula dinamakan nasyid-nasyid Islami, namun ia hanyalah syair-syair Arab yang mencakup hukum-hukum dan tamtsil (permisalan), penunjukan sifat keperwiraan dan kedermawanan.

    Para sahabat melantunkannya secara sendirian lantaran makna yang dikandungnya. Mereka melantunkan sebagan syair ketika bekerja melelahkan, seperti membangun (masjid), berjalan di waktu malam saat safar (jihad). Maka perbuatan mereka ini menunjukkan atas kebolehan macam lantunan (syair) ini, dalam keadaan khusus (seperti) ini. Bukannya dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu pendidikan dan dakwah ! Sebagaimana hal ini merupakan kenyataan di zaman sekarang, yang mana para santri ditalqin (dilatih menghafal) nasyid-nasyid ini, lalu dikatakan sebagai nasyid-nasyid Islam. Ini merupakan perbuatan bid’ah dalam agama. Sedang ia merupakan agama kaum sufi ahli bid’ah. Mereka adalah orang-orang yang dikenali menjadikan nasyid-nasyid sebagai bagian agama.

    Maka wajib memperhatikan makar-makar ini. Karena pada awalnya kejelekan itu bermula sedikit lalu berkembang lambat laun menjadi banyak, ketika tidak segera diberantas pada saat kemuculannya.

    [Al-Khuthabul Minbariyah, Syaih Shalih Al-Fauzan]

    TIDAK ADA YANG NAMANYA NASYID-NASYID ISLAMI DALAM KITAB-KITAB SALAF

    Pertanyaan.
    Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Wahai syaikh, banyak dibicarakan tentang nasyid Islami. Ada yang berfatwa membolehkannya. Ada juga yang mengatakan bahwa ia sebagai pengganti kaset nyanyian. Bagaimana menurut pandangan anda ?

    Jawaban
    Penamaan ini tidak benar. Ia adalah nama yang baru. Tidak ada penamaan nasyid-nasyid Islami dalam kitab para ulama salaf, serta ahlul ilmi yang pendapat mereka diperhitungkan. Dan sudah menjadi maklum bahwa kaum sufilah yang menjadikan nasyid-nasyid itu sebagai agama mereka dan inilah yang mereka sebut ‘sama’ (nyanyian).

    Pada masa kita ini, ketika banyak muncul kelompok dan golongan, maka masing-masing kelompok memiliki nasyid yang mendorong semangat yang kadang mereka namakan nasyid-nasyid Islami. Penamaan ini adalah tidak benar. Dan tidak boleh mengambil nasyid-nasyid ini serta mengedarkannya dikalangan manusia. Wa billahit Taufiq.

    [Majalah Ad-Dakwah Vol 1632, Tanggal 7-11-1416H]

    [Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun IV, hal.35-36. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik, Jatim]

    Sumber : http://almanhaj.or.id

  34. Wakakakakaka, makanya, jangan ngeyel, mas. Musik itu halom™ hukumnya. :lol:

    *nyeruput kopi*

  35. @ Ibnu
    terimakasih ulasannya
    Insya Allah tulisan saya tentang musik belum selesai kok
    saya hanya ingin menyampaikan dasar pemikiran tentang bolehnya musik.
    Pertama telah dibahas dalil Al Quran yang dijadikan dasar untuk pengharaman musik. Dan maaf sudah dibahas dalam tulisan di atas, jadi kalau memang ada yang tidak beres dalam tulisan di atas maka taunjukkan yang mana. Jadi tidak perlu mengulang-ngulang dalil Al Quran yang dimaksud.
    Kedua terdapat hadis shahih yang membolehkan nyanyian dan alat musik
    Ketiga tentang hadis-hadis yang dijadikan dasar pengharaman musik, satupun tidak lepas dari kritik. walaupun ada ulama yang mengatakan shahih
    Ketiga Terdapat ulama-ulama yang membolehkan nyanyian dan musik

    Mengenai hadis Bukhari yang dikritik Ibnu Hazm, keraguan tidak hanya pada muallaqnya tetapi juga pada perawinya sendiri yaitu Hisyam bin Ammar.Insya Allah akan dibahas tentang ini
    sekali lagi terimakasih

    @ Difo
    gapapalah kalau orang maunya begitu gak dipaksa kok
    kopinya enak Mas :D

  36. Assalammu’alaikum..

    Saudaraku..
    Saudara telah mengambil sikap dan saya (kami) pun telah mengambil sikap, tentunya masin-masing didasari atas dalil Al-Qur’an dan Assunnah (hadist yg sahih.

    Tetapi alangkah baiknya hal-hal seperti ini dihindari:

    “Mereka yang ngotot sekali dengan pengharaman musik dan lagu sebenarnya hanya mengikut saja kepada Ulama mereka tanpa menelaah dalilnya secara kritis. Saya cukup heran dengan mereka yang sekedar mengikut tetapi berani berteriak di depan orang lain, menguras energinya untuk menunjuk-nunjuk kepada mereka yang mendengarkan musik dan lagu. Dengan pongahnya mereka akan menyalahkan setiap pendapat yang membolehkan musik dan lagu walaupun pendapat tersebut ada dasarnya.

    Mereka akan selalu berkata Al Quran dan Hadis telah mengharamkan musik. Aneh sekali seolah-olah hanya mereka saja yang membaca Al Quran dan Hadis, saya katakan mereka yang cuma mengikut itu sudah terkena pengaruh Ulamaisme Salafi. Yang mereka katakan Al Quran dan Hadis itu sebenarnya adalah pemahaman ulama mereka terhadap Al Quran dan Hadis. Mereka yang sekedar mengikut itu telah kehilangan kemampuan untuk memahami dan untuk menutupinya mereka dengan liciknya berlindung dibalik pemahaman Ulama mereka.

    Apa daya mereka tanpa ulama mereka, Anda harus memahami Al Quran dan Hadis sesuai dengan pemahaman Salafus salih, lucu apa ulama mereka itu salafus salih. Kita harus ikut Ulama karena mereka lebih ahli, bohong mereka tidak ikut ulama tetapi ikut ulama mereka, ulama yang punya cap ulama salafi Itulah ulama ahli. Ulamaisme Salafi, Ulamaisme demi identitas diri, identitas yang mewah kelas pertama, identitas dengan kebenaran terpasung di lehernya, identitas yang membuatnya berbangga diri dengan menunjuk-nunjuk orang lain, identitas yang penuh candu keselamatan dan kemuliaan. Sungguh Euforia yang tragis demi sebuah identitas.”

    Apalah arti kita ini dibanding ulama-ulama shalih terdahulu yg hidupnya dihabiskan untuk ilmu, masih sangat jauh dibanding mereka. Fatwa-fatwa mereka tidak keluar dengan nafsu melainkan didasari atas luasnya ilmu mereka. Dan Fatwa mereka tidak akan diakui dikalangan ulama yg lainnya melainkan dengan syarat yg tidak mudah.

    Kalaupun saudara pernah mendapati golongan lain menjelek-jelekan golongan saudara (misalnya) bukan berarti harus dibalas dgn cara yg sama, bila demikian apa bedanya saudara dgn mereka. Keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan.

    Tugas kita saat ini menuntut ilmu (bertholabul ilmi), datangi majelis2 ilmu dgn bimbingan ulama yg bermanhaj lurus, baca kitab2 nya kemudian kita amalkan dan bila ilmu kita telah mencukupi kita dakwahkan ke lingkungan kita, yg utama adalah keluarga kita.

    Semoga Allah selalu melapangkan dada kita untuk menerima hidayahNya dan memudahkan kita dalam mengamalkannya.
    Ini adalah tanggapan saya yg terakhir.
    semoga bermanfaat..

    Ukuran kebenaran adalah bukan dari banyaknya orang yg mengamalkannya, tetapi berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist yg shahih.

    Mohon maaf dan terima kasih.

  37. @ Ibnu
    terimakasih atas masukannya Mas

    Apalah arti kita ini dibanding ulama-ulama shalih terdahulu yg hidupnya dihabiskan untuk ilmu, masih sangat jauh dibanding mereka. Fatwa-fatwa mereka tidak keluar dengan nafsu melainkan didasari atas luasnya ilmu mereka. Dan Fatwa mereka tidak akan diakui dikalangan ulama yg lainnya melainkan dengan syarat yg tidak mudah,

    .
    maaf saya juga tidak pernah berniat menghina ulama-ulama itu. Percayalah karena saya juga mengambil manfaat dari mereka. jika anda mengira ada kata-kata saya yang menghina ulama maaf mas itu persepsi anda saja. Para ulama itu jelas bukan orang yang maksum yang setiap perkatannya pasti benar. ulama itu punya ilmu, tentu dan ulama lain itu juga punya ilmu. Saya berusaha membandingkan dalil dari ulama-ulama itu. tetapi ada sekelompok orang yang kata-katanya bersanding ke ulama tertentu dan ketika dihadapkan kepadanya dalil dari ulama lain. dengan aneh sekali mereka merendahkan ulama tersebut. adalah wajar saya beranggapan sikap seperti itu adalah ulamaisme semata. mereka hanya mengakui ulama mereka saja sebagai ulama. Jika kata-kata saya terasa agak kasar, maaf itu sekedar ekspresi, dan sekali lagi saya rasa saya tidak terlalu ekstrim.

    Kalaupun saudara pernah mendapati golongan lain menjelek-jelekan golongan saudara (misalnya) bukan berarti harus dibalas dgn cara yg sama, bila demikian apa bedanya saudara dgn mereka. Keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan.

    benar sama juga halnya keburukan tidak harus dibalas kebaikan, saya mungkin memang tidak sebaik itu. apa beda saya dengan mereka. silakan lihat sendiri pandangan saya jelas berbeda. dan satu lagi mas saya tidak terkotak dalam kelompok apapun dan itu yang paling penting.
    apakah anda menilai kata-kata saya begitu buruk,maaf mas kalau begitu

    ukuran kebenaran tidaklah dari kata-kata ulama tetapi dari Al Quran dan hadis yang shahih.

    Maaf mas ini sekedar kritikan saya atau anggap saja masukan
    seringkali saya bertemu pengikut salafi yang punya kecenderungan yang sama. yaitu selalu bicara dengan dalil umum yang tidak pas dengan permasalahan yang dibicarakan.
    Misalnya ketika saya mengkritik pandangan ulama mereka dengan pandangan ulama lain dan berusaha membahas dalil ulama-ulama itu mereka selalu berkata Ulama salafus salih adalah panutan kita, dan kita harus berpegang teguh pada manhaj salaf.
    kata-kata seperti ini bersifat umum dan maaf tidak nyambung dengan yang dibicarakan
    jadinya saya mempersepsi pandangan ulama yang berbeda dengan ulama mereka itu bukan ulama salafus salih atau bukan bermanhaj salaf.
    saya katakan yang seperti ini tidak ada bedanya dengan taklid mahzab atau fanatisme mahzab.
    kalau memang ingin berdakwah mereka juga harus siap untuk didakwahi, itu kalau mereka punya kesadaran untuk belajar dan bukan sekedar berbangga diri.
    Siap berdiskusi dengan baik dibahas dalilnya dengan baik, jika keliru ditunjukkan kekeliruannya. ini yang lebih baik menurut saya bukan dengan kata-kata generalisasi yang gak nyambung. jika saya menyadari saya keliru tentu saya akan menerimanya. itulah sebenarnya tujuan saya mengkritik salafi agar ada yang bersedia menunjukkan jika saya keliru.
    jika memang tidak ada yg mau ya sudah kita hanya memaparkan pendapat masing-masing.

  38. Waw panjang-panjang nian komen2 diatas. Wehh..baca Qur’an aja deh. Lebih asyik dari pada musik. Apalagi di bulan puasa ini.

  39. Huhuhuhu, saya masih lebih suka musik, tuh, pak. Apa iman saya kurang tebel ya? :P

  40. @ Ja’far
    ah Mas saya juga baca Al Quran
    tapi masih bisa kok denger musik
    kalau di bulan puasa ya sebisanya saya beramal lebih banyak
    tapi kalau musik sih gak ada masalah, selagi biasa-biasa aja
    *unsur lain yang membatalkan puasa yang tercampur dalam musik gak ada kaitannya dengan musik itu sendiri*

    @ Difo
    hmm gak tahu Mas
    mungkin tebelan situ imannya pada saya
    atau malah sebaliknya
    yang pasti sih ukuran keimanan gak dilihat dari seberapa banyak denger musik :D

  41. Sudah jelas hadist-hadist yang melarang musik :

    “Artinya : Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalal kan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik“.[Shahih Bukhari, Kitab Al-Asyrabah, Bab Maa Jaa-a fi Man Yastahillu Al-Khamra wa Yusammihi bi Ghairi Ismihi 10:51].

    Dan hadits Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharam khamr, judi, dan gendang.” (HR. Abu Daud, Baihaqi, Ahmad, dan sebagainya. Dishahihkan oleh Al Albani, Tahriimu Aalath Ath Tharb halaman 56)

    Hadits Imran bin Husain, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Akan datang dalam umat ini kehinaan, keburukan, dan fitnah.” Maka berdirilah salah seorang Muslim: “Wahai Rasulullah, kapankah itu terjadi?” Beliau menjawab: “Apabila telah muncul biduanita dan alat-alat musik dan khamr diminum.” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Albani, Tahriimu Aalati Ath Tharb halaman 56)

    “Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka. ‘Ada yang bertanya kepada Rasulullah’. Wahai Rasulullah, kapankah hal itu terjadi.? Beliau menjawab. ‘Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita”. [Bagian awalnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2:1350. Al-Albani berkata : ‘Shahih’. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 3:216 hadits no. 3559]

    Riwayat Said bin Al Musayyab radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Sesungguhnya aku membenci nyanyian dan menyenangi kata-kata yang indah.” (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf dan dihasankan oleh Al Albani, Tahriimu Aalati Ath Tharb halaman 99 dan 101)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menukil kesepakatan keempat imam atas diharamkannya nyanyian. Syaikh berkata: “Sesungguhnya mereka bersepakat atas dilarangnya alat-alat musik yang merupakan alat-alat yang melalaikan seperti kecapi dan lain sebagainya dan seandainya ada orang yang merusaknya maka ia tidak perlu menggantinya bahkan dilarang menuntut mereka menggantinya.” (Minhaj Sunnah III:439)

    Berikut ini beberapa riwayat dari selain imam yang empat, Abu Amr bin As Shalah berkata: “Adapun dibolehkannya mendengar (nyanyian) ini dan menghalalkannya maka ketahuilah apabila rebana, seruling, dan nyanyian telah berkumpul maka mendengarkannya adalah haram menurut para ulama mazhab dan ulama Islam lainnya. Dan tidak ada satupun riwayat yang shahih dari ulama yang mu’tabar (diakui) dalam hal ijma’ dan ikhtilaf bahwa ada yang memperbolehkan mendengar nyanyian ini.” (Fataawaa Ibnu Shalaah, Ighatsatul Lahafan I:257)

    Dan di antara dalil lainya menunjukkan haramnya nyanyian adalah hadits Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada dua buah suara yang dilaknat di dunia dan akhirat yaitu seruling ketika mendapat nikmat dan lonceng tatkala terkena musibah.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan dihasankan oleh Al Albani, Tahriimu Aalati Ath Tharb halaman 52)

    Dari ulama zaman ini yang juga mengharamkan nyanyian adalah Syaikh Abdurrahman As Sa’di, Al Albani, Bin Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Al Fauzan, Syaikh Muqbil bin Hadi hafidhahumullah, dan lain-lain.

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan berkata :
    Berikutnya telah kubaca sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Yusuf Al-Qardhawi yang berjudul “Halal wa Al-Haram Fi Al-Islam”. Kitab ini banyak membahas masalah fiqih, baik itu hukum mu’amalah atau makanan dan seterusnya. Ternyata aku dapati banyak kekeliruan, seperti halnya hukum berkasih sayang kepada orang kafir, pakaian sutra untuk pria, gambar, wanita membuka wajah dan tangannya di hadapan pria yang bukan mahramnya, nyanyiann dan musik, mencukur dan mencabut janggut, penyembelihan, permainan catur, bisokop dan lain-lain. Tentu sebagai orang Islam berkewajiban memberi nasihat dan saling menolong dalam hal kebaikan dan taqwa, yaitu mengingatkan kekeliruannya, dengan harapan supaya muallif mau meninjau kembali karya tulisnya dan mau membetulkan sesuai dengan dalil syariat Islam, sehingga benar-benar kitabnya berfaedah dan mendapatkan pahala di sisi Allah, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    Bantahan Yusuf Qaradhawi tentang musik bisa antum baca di http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=653

    Selanjutnya Para tabii’n dan ulama ahlul hadist :

    Ibnu Mas’ud berkata: “Nyanyian menimbulkan kemunafikan dalam hati seperti air menumbuhkan sayuran, sedangkan dzikir menumbuhkan iman dalam hati seperti air menumbuhkan tanaman.”

    Ibnul Qayyim berkata: “Tidak seorang pun yang mendengarkan nyanyian kecuali hatinya munafik yang ia sendiri tidak merasa. Andaikata ia mengerti hakekat kemunafikan pasti ia melihat kemunafikan itu ada dalam hatinya, sebab tidak mungkin berkumpul di dalam hati seseorang antara dua cinta, yaitu cinta nyanyian dan cinta Al-Qur`an, kecuali yang satu mengusir yang lain. Sungguh kami telah membuktikan betapa beratnya Al-Qur`an di hati seorang penyanyi atau pendengarnya dan betapa jemunya mereka terhadap Al-Qur`an. Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang dibaca oleh pembaca Al-Qur`an, hatinya tertutup dan tidak tergerak sama sekali oleh bacaan tadi. Tetapi apabila mendengar nyanyian mereka segar dan cinta dalam hatinya. Mereka tampaknya lebih mengutamakan suara nyanyian daripada Al-Qur`an. Mereka yang telah terkena akibat buruk nyanyian ternyata adalah orang-orang yang malas mengerjakan shalat, termasuk shalat berjama’ah (di masjid).

    Al-Barra` bin Malik adalah seorang laki-laki yang bersuara bagus. Ia pernah melantunkan sya’ir berirama rajaz untuk Rasulullah di salah satu perjalanan beliau. Di tengah-tengah ia berlantun tiba-tiba ia mendekati seorang perempuan, maka bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya: “Berhati-hatilah terhadap perempuan!” Dan tambahnya lagi: “Berhentilah kamu (dari melantunkan sya’ir)!” Al-Hakim berkata bahwa Rasulullah benci pada perempuan yang mendengarkan suaranya (yaitu suara Al-Barra` bin Malik). (HR. Al-Hakim, dishahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabiy)

    “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan “perkataan yang tidak berguna” untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.” (Luqmaan:6)
    Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” adalah nyanyian.
    Berkata Ibnu Mas’ud: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia.” Beliau mengulanginya tiga kali”.
    Dan berkata Al-Hasan Al-Bashriy: “Ayat ini turun berkaitan dengan nyanyian dan alat musik.” (Lihat Tafsiir Ibni Katsiir 6/145 cet. Maktabah Ash-Shafaa)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: اَلْجَرَسُ مَزَامِيْرُ الشَّيْطَانِ “ Lonceng adalah seruling syaithan.” (HR. Muslim)

    Al-Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab Al-Qadhaa`: “Nyanyian adalah permainan (kesia-siaan) yang dibenci yang menyerupai kebathilan. Barangsiapa yang memperbanyaknya maka ia adalah orang bodoh yang ditolak persaksiannya.” Yang dimaksud dibenci di sini adalah dilarang syari’at dan haram”.

    Rasulullah bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, di antara perkara halal dan haram dinamakan syubhat yang tidak diketahui oleh ramai. Sesiapa yang menjauhi dari perkara syubhat sesungguhnya dia telah menyelamatkan agama dan kehidupannya, barang sesiapa yang melakukan perkara syubhah sesungguhnya dia telah melakukan perkara yang haram. (Riwayat Bukhari dan Muslim]

    –ooOoo–

  42. GaHaHaHaHaHaHa! Makanya, dibilangin haram, ngeyel, sih. :lol:
    Musik itu haroooom! :lol:

    *kabur*

  43. @ ahmad abu faza

    Sudah jelas hadist-hadist yang melarang musik :

    sudah jelas juga kalo tulisan di sini membantah kalo hadist2 itu melarang musik :mrgreen:
    ndak dibaca po?

  44. @ Ahmad
    aduh diulang lagi

    “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan “perkataan yang tidak berguna” untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.” (Luqmaan:6)
    Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” adalah nyanyian.
    Berkata Ibnu Mas’ud: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia.” Beliau mengulanginya tiga kali”.
    Dan berkata Al-Hasan Al-Bashriy: “Ayat ini turun berkaitan dengan nyanyian dan alat musik.” (Lihat Tafsiir Ibni Katsiir 6/145 cet. Maktabah Ash-Shafaa

    saya heran tulisan diatas itu bener2 gak dibaca apa
    kalau memang analisis saya salah maka tunjukkan yang mana salahnya
    jangan cuma bicara sendiri
    kalau begini-begini terus ya gak maju-maju dong
    jangan buat saya malas nanggapinnya
    salam damai :D

    @ Difo
    gak perlu kabur atuh :D

    @ Mas Joe
    ah saya juga heran Mas :D

  45. musik itu susunan nada2 (bunyi) yg dianggap enak oleh pendengarnya…

    buat gw org yg mengharamkan musik cuman org munafik atau sekedar taqlid buta+malas berfikir

    @secondprince
    thx sharing2 ilmunya..

  46. @ bodoh
    sama-sama :D, eh namanya agak segan saya nulisnya

  47. ha…ha..ha…

    knapa kalian selalu membantah nyanyian itu haram, kalian mempertanyakan pengharaman tentang nyanyian…!!!

    lalu apakah kalian yakin 100% bahwa nyanyian itu halal… hati-hatilah dalam berfatwa bahwasanya ini permasalahan yang sangat krusial didalam agama. kalau kalian meyakini nyanyian itu halal dengan dalil yang kalian sampaikan… lalu ternyata kebenarannya bahwasanya nyanyian itu haram… itu berbahaya buat kita dan orang lain nanti di akhirat ya kawan….

    menurut saya… simplenya begini aja, waktu zaman Rasulullah SAW masih di mekkah hingga ke madinah, orang2 kafir quraisy sudah mengenal musik, alat musik dsb…. nah logikanya kalo musik itu halal knapa Nabi, para sahabat tidak bermusik, atau menggunakan musik sebagai media dakwah seperti orang-orang yang mengaku ulama pada zaman sekarang. … lalu knapa berdoa/sembahyang tidak menggunakan musik seperti halnya kaum nasrani(kristen)….
    dan knapa panggilan adzan hanya menggunakan suara yang dikeraskan bukannya alat musik seperti beduknya kaum yahudi….(hnya indonesia yang sebagian masjidnya menggunakan bedug.,,kenapa?).

    ingat kawan,… pada akhir zaman pemahaman terhadap alquran, sunnah, hadist akan menjadi sempit seiring dengan propaganda yahudi untuk menghancurkan islam….. telaah lah dan kritislah terhadap permasalahan tersebut. apakah kita pernah aware (waspada) terhadap propaganda2 yahudi terhadap islam ?,…

  48. ifanogoo:::
    tau kan kalo hukum segala sesuatu itu halal kecuali yang haram? ;)
    masalahnya skrg toh nyatanya ga ada dalil yang benar2 tegas yang mengatakan bahwa musik itu haram. ya tho?

    lalu apakah kalian yakin 100% bahwa nyanyian itu halal… hati-hatilah dalam berfatwa bahwasanya ini permasalahan yang sangat krusial didalam agama. kalau kalian meyakini nyanyian itu halal dengan dalil yang kalian sampaikan… lalu ternyata kebenarannya bahwasanya nyanyian itu haram… itu berbahaya buat kita dan orang lain nanti di akhirat ya kawan….

    ijinkan saya membalik kata2 anda: ;)

    lalu apakah kalian yakin 100% bahwa nyanyian itu haram… hati-hatilah dalam berfatwa bahwasanya ini permasalahan yang sangat krusial didalam agama. kalau kalian meyakini nyanyian itu haram dengan dalil yang kalian sampaikan… lalu ternyata kebenarannya bahwasanya nyanyian itu halal… itu berbahaya buat kita dan orang lain nanti di akhirat ya kawan….

    tau kan apa hukumnya mengharamkan sesuatu yang halal?

  49. *nonton* :lol:

  50. lalu knapa berdoa/sembahyang tidak menggunakan musik seperti halnya kaum nasrani(kristen)….

    wakakakak :lol:
    masa’ yang begini saja ditanya
    kagak punya dalemnya ya tu otak

    knapa panggilan adzan hanya menggunakan suara yang dikeraskan bukannya alat musik seperti beduknya kaum yahudi….(hnya indonesia yang sebagian masjidnya menggunakan bedug.,,kenapa?).

    gak nyambung, gak nyambung
    kalau adzan gak pake musik jadi musik itu haloom
    kalau adzan gak pake piring jadi piring itu haloom
    kalau adzan gak pake pengeras suara jadi pengeras suara itu haloom
    alah tu otak dalemi dulu
    ini perkaranya beda sudut pandang melihat dalil
    jadi dalilnya dong yang dibahas
    masa’ argumen gak mutu banget :mrgreen:

  51. @Ifanogoo
    ah saya malas nanggepin komen anda,tapi sepertinya sudah ada yang menanggapi anda. Nah saya sependapat dengan mereka
    saya hanya ingin menanggapi kata-kata anda

    ingat kawan,… pada akhir zaman pemahaman terhadap alquran, sunnah, hadist akan menjadi sempit seiring dengan propaganda yahudi untuk menghancurkan islam….. telaah lah dan kritislah terhadap permasalahan tersebut. apakah kita pernah aware (waspada) terhadap propaganda2 yahudi terhadap islam ?,…

    percayalah saya bingung dengan anda ini, tulisan saya yang ada sekarang saja anda memahaminya dengan tidak benar, apalagi yang jauh-jauh ke akhir zaman dan propaganda yahudi segala. aduh Mas jangan tertipu dengan pikiran-pikiran sendiri.
    Kita kan gak bicara masalah Yahudi, coba lihat tulisan diatas mana ada sedikitpun tentang yahudi. Yang aneh siapa jadi

    @Mas Joe
    saya setuju dengan ini

    @Difo
    ikutan nonton :D

    @Almirza

    ini perkaranya beda sudut pandang melihat dalil
    jadi dalilnya dong yang dibahas

    nah yang begini yang saya inginkan
    bahas dan diskusikan dalilnya
    lebih baik kalau menurut saya :D

  52. Berantemnya ga jadi? :D

  53. Sayah ndak mbaca Postingnya, masalahnya hal sudah sering diperdebatkan.

    Sayah ngambil kesimpulan untuk diri sayah sendiri, yaitu;

    Musik itu ndak haram, tetapi tergantung musiknya jugak.

    Kalok musiknya RAP sontoloyo kayak nyang memaki Kangen Band itu sayah rasa ya haram, lha wong sejuta sumpah serapah dari binatang sampek kelamin ada semua.

    Kalok ndengerin Opick ato Jeffry Al-Bukhori, mosok haram jugak ???
    Nyang bener ajah deee….

  54. Sy bingung salafi itu sgt anti dgn akal, en smuanya harus berdasarkan pemahaman Alquran dan Sunnah, emangnya memahaminya gak pake aka
    Padahal di Alquran kan ada ayat ini :

    “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”(QS. Yunus 100)

  55. @Difo
    gak boleh berantem sesama saudara :D

    @Mbelgedez
    ya gapapa atuh
    silahkan :)

    @Tri End
    Ah, cara Salafi menggunakan akal benar-benar beda :D

  56. alhamdulillah, saya bisa tertawa ngekeh
    ” gak nyambung, gak nyambung
    kalau adzan gak pake musik jadi musik itu haloom
    kalau adzan gak pake piring jadi piring itu haloom
    kalau adzan gak pake pengeras suara jadi pengeras suara itu haloom

    ok , mari yang gak mau sempit kita ikat persaudaraan kita dengan islam yang dari nabi SWA, karena islam sekarang buanyak, yang gak percaya nabi.

    tapi yang pingin pemikirannya sempit ( sedikit sedikit bid’ah, sesat kufar, taklik membabibuta ) yo biar

    Tentang musik aku lebih condong untuk tidak menjadikanya haram, apalagi didalamnya terkandung syair, atau pujian kepada junjungan Nabi kita SAW, terutama lantunan qosidah di dalam maulid. yang gak suka biarin entar kan cape’ sendiri

  57. Wahhh…susah memang yaa diskusi dg salafy..hehe.

    Akhi.., gimana sihh..arti kata nyanyian aja bisa diperdebatkan sampai kiamat, koq terjebak ditafsir spt itu sihh?.
    Kalian tanya sama orang2 bule ttg azan, ngajinya (membaca al-Qur’an dg berirama) kita, mereka dg polosnya mengatakan itu nyanyian, nahh gimana donk?. Atau akhi mau claim lagi definisi nyanyian yg paling benar adalah yg akhi punya?…ccckk…ccckk akan makin ruwet dehh.
    Oyaaa, buat mrk2 yg terlalu cepat menuduh sesorg menuhankan akal, hati2 lhoo, krn mrk2 yg menggunakan hanya 10% akalnya mrk menuduh yg menggunakan 50% akalnya sbg menuhankan akalnya.
    Menurut bang Rhoma musik Rock = terompet setan, kalo dangdut gak ya bang haji..:P. Hehe..masa yg begini2 gak jelas buat akhi.., nafsu dan ego manusia lahh yg menyebabkan munculnya tafsir2 yg tdk bisa dipertanggungjawabkan, terus kita patuh membabi buta atau kita pakai akal kita?, atau kita pensiunkan saja akal kan sdh cukup para guru, syech, kiai, ulama dll???.
    Atau kita pikir akal kita cm buat jawab pelajaran sekolah, buat ngitung duit, buat ngakalin orang, buat menipu??.
    Bukankah sdh jelas bhw akal kita jg sebagai hujjah kita dlm beriman???.

    Wassalam,

  58. Jangan menuhankan akal :lol:
    Aneh, padahal Agama mana yang menganggap Akal sebagai Tuhan :lol:

  59. Gini aja amalku ya amalku, amalmu ya amalmu wissssssssss

  60. Alah terserah dirimu2 yg tw mslh dalil2,bagi ku hidup di dunia akan terasa Hampa bila tanpa musik……….

  61. Perkataan shahabat anda tolak, ulama pun anda tolak, lalu pendapat siapa yang anda pegang? pendapat anda sendiri?
    “Sungguh akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menganggap halalnya zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik … .” (HR. Bukhari 10/51/5590-Fath)

  62. @Taufiq
    Perkataan sahabat mana yang saya tolak, maaf kalau baca itu yang benar, lihat kata-kata saya yang ini

    Apakah dengan begitu penasiran Sahabat itu tidak diterima? Tentu saja diterima, Bagaimana mungkin kita bisa menerima penafsiran ulama tetapi tidak menerima penafsiran Sahabat Nabi.

    baca jangan buru-buru atau terpengaruh dengan emosi
    teliti dulu tulisannya

    ulama yang saya tolak pendapatnya adalah ulama salafi, sedangkan Ibnu Thahir, asy Syaukani, Ibnu Hazm, Ibnu Arabi, Syaikh Muhammad al Ghazali dan Syaikh Yusuf Qardhawi malah saya terima pendapat mereka yang tidak mengharamkan musik

    Saya berpegang dengan hadis Rasulullah yang shahih dan tidak diperselisihkan sanadnya Mas, lihat tulisan saya ini

    http://secondprince.wordpress.com/2007/09/08/kritik-salafi-yang-mengabaikan-hadis-hadis-yang-membolehkan-musik-dan-lagu/

    Maaf Mas pengetahuan anda bahwa yang punya dalil hanya salafi itu lebih baik perlu diperiksa
    Yang punya dalil tidak hanya Salafi Mas

  63. @ second
    kata anda
    Perkataan sahabat mana yang saya tolak, maaf kalau baca itu yang benar, lihat kata-kata saya yang ini

    Apakah dengan begitu penasiran Sahabat itu tidak diterima? Tentu saja diterima, Bagaimana mungkin kita bisa menerima penafsiran ulama tetapi tidak menerima penafsiran Sahabat Nabi.

    tuh kan ternyata kita harus menerima penafsiran sahabat, dari para ulama/imam

  64. @bara
    Ya jelas dong diterima kalau memang dalilnya shahih
    intinya itu Mas dalil shahih dan metode yang benar
    bukan dengan taklid
    saya menerima penafsiran sahabat dan ulama yang sesuai dengan dalil yang shahih
    Perhatikan itu Mas

  65. @ second
    klo hadits fadak yang dibawa sahabat Abubakar ????? ( kan sahih di kitab bukhari ) masak lupa

  66. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadiitsi (perkataan yang tidak berguna) pada ayat tersebut adalah nyanyian. Dalam hal ini Ibnu Mas’ud bersumpah dengan mengatakan “Demi Allah, itu adalah lagu”. (Sunan Al Kubra Baihaqi 10 hal 223)
    Sebagaimana yang anda tulis, pendapat Abdullah bin Mas’ud RA, Abdullah bin ‘Abbas RA dan Abdullah bin ‘Umar RA yang anda tolak, bukankan mereka sama menyatakan bahwa nyanyian itu haram?
    Ya, sanadnya memang tidak menyambung kepada Rasulullah SAW, dan bahwa memang ini penafsiran mereka sendiri, tetapi adakah dalil yang menyatakan para shahabat lainnya menolak pendapat mereka ini? Kalau ada tolong anda sampaikan! Dan bukankah anda tahu kedudukan Abdullah bin ‘Abbas diantara para shahabat, bahwa dialah salah seorang ahli tafsir terbaik diantara mereka.
    Maafkan saya kalau saya terbawa emosi.

  67. @bara
    Eh pokok bahasan itu udah ada tulisannya
    komen disana saja
    Gak berani ya
    komen kok di tempat yang jauh begini

    @Taufiq
    Payah nih, anda kan cuma bawa hadis Baihaqi yang udah dibahas diatas
    gak ada tuh keterangan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud mengharamkan nyanyian
    mereka cuma bilang lahwal hadisi itu nyanyian
    Lagian si second itu udah bilang kok

    Apakah dengan begitu kita mengakui bahwa nyanyian itu haram? Ho ho ho tentu saja tidak, nah disinilah letak bantahannya. Lihat kembali surah Lukman ayat 6 tersebut, nah anda akan tahu bahwa lahwal hadiitsi yang mendapatkan azab itu adalah lahwal hadiitsi(perkataan yang tidak berguna) yang digunakan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT. So yang diharamkan itu adalah menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT dengan perkataan tidak berguna atau main-main termasuk dengan nyanyian.

    Memang orang-orang Salafi gak pernah baca tulisan orang dengan baik
    Nafsunya sih yang bekerja bukan akalnya :mrgreen:

  68. pokoknya haram :lol:

  69. @ almiraz
    ngekor ya, banyak kok pertanyaan yang ditujukan kepadamu gak bisa kamu selesaikan sendiri ………… gak perlu bukti, renungkan aja …………. cari sendiri pertanyaan yang belum kamu jawab

  70. @bara
    Mas soal hadis fadak kan sudah saya bahas panjang lebar di tulisan saya yang khusus soal itu, dalam hal ini saya berpegang pada Ahlul Bait yaitu Sayyidah Fatimah AS. Saya cuma memilih yang mana yang lebih baik

  71. almirza yang mempergunakan akal pasti akan bisa membaca tulisan ini lebih baik daripada saya yang menggunakan hawa nafsu.

    Dalil-Dalil Dari Al Qur’an

    1. Firman Allah Ta’ala :

    “Dan di antara manusia ada yang membeli (menukar) lahwal hadits untuk menyesatkan orang dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya ejekan, bagi mereka siksa yang menghinakan.” (QS. Luqman : 6)

    Al Wahidi dalam tafsirnya menyatakan bahwa kebanyakan para mufassir mengartikan “lahwal hadits” dengan “nyanyian”.

    Penafsiran ini disebutkan oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu. Dan kata Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya, Jami’ Ahkamul Qur’an, penafsiran demikian lebih tinggi dan utama kedudukannya.

    Hal itu ditegaskan pula oleh Imam Ahmad Al Qurthubi, Kasyful Qina’ halaman 62, bahwa di samping diriwayatkan oleh banyak ahli hadits, penafsiran itu disampaikan pula oleh orang-orang yang telah dijamin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan doa beliau :

    “Ya Allah, jadikanlah dia (Ibnu Abbas) faham terhadap agama ini dan ajarkanlah dia ta’wil (penafsiran Al Qur’an).” (HR. Bukhari 4/10 dan Muslim 2477 dan Ahmad 1/266, 314, 328, 335)

    Dengan adanya doa ini, para ulama dari kalangan shahabat memberikan gelar kepada Ibnu Abbas dengan Turjumanul Qur’an (penafsir Al Qur’an).

    Juga pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang Ibnu Mas’ud :

    “Sesungguhnya ia pentalkin[1] yang mudah dipahami.” (Kasyfu Qina’ halaman 62)

    Ibnu Mas’ud menerangkan bahwa “lahwul hadits” itu adalah al ghina’. “Demi Allah, yang tiada sesembahan yang haq selain Dia, diulang-ulangnya tiga kali.”

    Riwayat ini shahih dan telah dijelaskan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Tahrim ‘alath Tharb halaman 143.

    Demikian pula keterangan ‘Ikrimah dan Mujahid.

    Al Wahidi dalam tafsirnya (Al Wasith 3/411) menambahkan : “Ahli Ilmu Ma’ani menyatakan, ini termasuk semua orang yang cenderung memilih permainan dan al ghina’ (nyanyian), seruling-seruling, atau alat-alat musik daripada Al Qur’an, meskipun lafadhnya dengan kata al isytira’, sebab lafadh ini banyak dipakai dalam menerangkan adanya penggantian atau pemilihan.” (Lihat Tahrim ‘alath Tharb halaman 144-145)

    2. Firman Allah ta’ala :

    “Dan hasunglah siapa saja yang kau sanggupi dari mereka dengan suaramu.” (QS. Al Isra’ : 65)

    Ibnu Abbas mengatakan bahwa “suaramu” dalam ayat ini artinya adalah segala perkara yang mengajak kepada kemaksiatan. Ibnul Qayyim menambahkan bahwa al ghina’ adalah da’i yang paling besar pengaruhnya dalam mengajak manusia kepada kemaksiatan. (Mawaridul Aman halaman 325)

    Mujahid –dalam kitab yang sama– menyatakan “suaramu” di sini artinya al ghina’ (nyanyian) dan al bathil (kebathilan). Ibnul Qayyim menyebutkan pula keterangan Al Hasan Bashri bahwa suara dalam ayat ini artinya duff (rebana), wallahu a’lam.

    3. Firman Allah ta’ala :

    “Maka apakah terhadap berita ini kamu merasa heran. Kamu tertawa-tawa dan tidak menangis? Dan kamu bernyanyi-nyanyi?” (QS. An Najm : 59-61)

    Kata ‘Ikrimah –dari Ibnu Abbas–, as sumud artinya al ghina’ menurut dialek Himyar. Dia menambahkan : “Jika mendengar Al Qur’an dibacakan, mereka bernyanyi-nyanyi, maka turunlah ayat ini.”

    Ibnul Qayyim menerangkan bahwa penafsiran ini tidak bertentangan dengan pernyataan bahwa as sumud artinya lalai dan lupa. Dan tidak pula menyimpang dari pendapat yang mengatakan bahwa arti “kamu bernyanyi-nyanyi” di sini adalah kamu menyombongkan diri, bermain-main, lalai, dan berpaling. Karena semua perbuatan tersebut terkumpul dalam al ghina’ (nyanyian), bahkan ia merupakan pemicu munculnya sikap tersebut. (Mawaridul Aman halaman 325)

    Imam Ahmad Al Qurthubi menyimpulkan keterangan para mufassir ini dan menyatakan bahwa segi pendalilan diharamkannya al ghina’ adalah karena posisinya disebutkan oleh Allah sebagai sesuatu yang tercela dan hina. (Kasyful Qina’ halaman 59)

  72. Dan bagitu juga dengan tulisan ini,

    Dalil-Dalil Dari As Sunnah

    1. Dari Abi ‘Amir –Abu Malik– Al Asy’ari, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :

    “Sungguh akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menganggap halalnya zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik … .” (HR. Bukhari 10/51/5590-Fath)

    2. Dari Abi Malik Al Asy’ari dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :

    “Sesungguhnya akan ada sebagian manusia dari umatku meminum khamr yang mereka namakan dengan nama-nama lain, kepala mereka bergoyang-goyang karena alat-alat musik dan penyanyi-penyanyi wanita, maka Allah benamkan mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan sebagian mereka kera dan babi.” (HR. Bukhari dalam At Tarikh 1/1/305, Al Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain. Lihat Tahrim ‘alath Tharb oleh Syaikh Al Albani halaman 45-46)

    3. Dari Anas bin Malik berkata :

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

    Dua suara terlaknat di dunia dan di akhirat : “Seruling-seruling (musik-musik atau nyanyian) ketika mendapat kesenangan dan rintihan (ratapan) ketika mendapat musibah.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dalam Musnad-nya, juga Abu Bakar Asy Syafi’i, Dliya’ Al Maqdisy, lihat Tahrim ‘alath Tharb oleh Syaikh Al Albani halaman 51-52)

    4. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

    “Sesungguhnya saya tidak melarang (kamu) menangis, tapi saya melarangmu dari dua suara (yang menunjukkan) kedunguan dan kejahatan, yaitu suara ketika gembira, yaitu bernyanyi-nyanyi, bermain-main, dan seruling-seruling syaithan dan suara ketika mendapat musibah, memukul-mukul wajah, merobek-robek baju, dan ratapan-ratapan syaithan.” (Dikeluarkan oleh Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Abiddunya, Al Ajurri, dan lain-lain, lihat Tahrim ‘alath Tharb halaman 52-53)

    5. Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

    “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagiku –atau mengharamkan– khamr, judi, al kubah (gendang), dan seluruh yang memabukkan haram.” (HR. Abu Dawud, Al Baihaqi, Ahmad, Abu Ya’la, Abu Hasan Ath Thusy, Ath Thabrani dalam Tahrim ‘alath Tharb halaman 55-56)

    6. Dari ‘Imran Hushain ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

    “Akan terjadi pada umatku, lemparan batu, perubahan bentuk, dan tenggelam ke dalam bumi.” Dikatakan : “Ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kapan itu terjadi?” Beliau menjawab : “Jika telah tampak alat-alat musik, banyaknya penyanyi wanita, dan diminumnya khamr-khamr.” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi, Ibnu Abiddunya, dan lain-lain, lihat Tahrim ‘alath Tharb halaman 63-64)

    7. Dari Nafi’ maula Ibnu ‘Umar, ia bercerita bahwa Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling gembala lalu (‘Umar) meletakkan jarinya di kedua telinganya dan pindah ke jalan lain dan berkata : “Wahai Nafi’, apakah engkau mendengar?” Aku jawab : “Ya.” Dan ia terus berjalan sampai kukatakan tidak. Setelah itu ia letakkan lagi tangannya dan kembali ke jalan semula. Lalu beliau berkata :

    “Kulihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendengar suling gembala lalu berbuat seperti ini.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 4925 dan Baihaqi 10/222 dengan sanad hasan)

    Imam Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis (Muntaqa Nafis halaman 304) mengomentari hadits ini sebagai berikut : “Jika seperti ini yang dilakukan mereka terhadap suara-suara yang tidak menyimpang dari sikap-sikap yang lurus, maka bagaimanakah dengan nyanyian dan musik-musik orang jaman sekarang (jaman beliau rahimahullah, apalagi di jaman kita, pent.)?”

    Dan Imam Ahmad Al Qurthubi dalam Kasyful Qina’ halaman 69 menyatakan : “Bahwa pendalilan dengan hadits-hadits ini dalam mengatakan haramnya nyanyian dan alat-alat musik, hampir sama dengan segi pendalilan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan dalam hadits-hadits ini disebutkan lebih jelas dengan adanya laknat bagi penyanyi maupun yang mendengarkanya.”

    Di dalam hadits pertama, Imam Al Jauhari menyatakan bahwa dalam hadits ini, digabungkannya penyebutan al ma’azif dengan khamr, zina, dan sutera menunjukkan kerasnya pengharaman terhadap alat-alat musik dan sesungguhnya semua itu termasuk dosa-dosa besar. (Kasyful Qina’ halaman 67-69)
    Atsar ‘Ulama Salaf
    Ibnu Mas’ud menyebutkan : “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati seperti air menumbuhkan tanaman.” Ini dikeluarkan oleh Ibnu Abiddunya dan dikatakan shahih isnadnya oleh Syaikh Al Albani dalam Tahrim ‘alath Tharb (halaman 145-148), ucapan seperti ini juga dikeluarkan oleh Asy Sya’bi dengan sanad yang hasan.

    Dalam Al Muntaqa halaman 306, Ibnul Jauzi menyebutkan pula bahwa Ibnu Mas’ud berkata : “Jika seseorang menaiki kendaraan tanpa menyebut nama Allah, syaithan akan ikut menyertainya dan berkata, ‘bernyanyilah kamu!’ Dan apabila ia tidak mampu memperindahnya, syaithan berkata lagi : ‘Berangan-anganlah kamu (mengkhayal)’.” (Dikeluarkan oleh Abdul Razzaq dalam Al Mushannaf 10/397 sanadnya shahih)

    Pada halaman yang sama beliau sebutkan pula keterangan Ibnu ‘Umar ketika melewati sekelompok orang yang berihram dan ada seseorang yang bernyanyi, ia berkata : Beliau berkata : “Ketahuilah, Allah tidak mendengarkanmu!” Dan ketika melewati seorang budak perempuan bernyanyi, ia berkata : “Jika syaithan membiarkan seseorang, tentu benar-benar dia tinggalkan budak ini.”

  73. Mudah-mudahan almirza puas.

  74. @ taufik
    semoga ……………… maksutnya apa ini , aku gak ngerti

  75. @Taufiq
    Mas, kayaknya kalau argumen yang Mas tampilkan udah dibahas semua disini
    Atau ya coba deh dicek tulisan saya soal Musik di kategori Kritik Salafy
    udah banyak kok :D

    @bara
    memang kalau ada kata yang kurang jelas, agak sulit dimengerti kan :mrgreen:

  76. @ taufiq
    emang semua lagu itu membawa kepada kesesatan, emang semua bikinan kaum kufar itu membawa kepada kesesatan, klo begitu jangan pake mobol biar gak sesat, mobil kan bikinan kaum kufar ???

  77. Sebaiknya yang nulis artikel di atas belajar dulu deh. Masih bodoh aja sok tau… sok alim……sombong banget….

    dikira dirinya lebih alim dari ulama….
    dikira dirinya lebih alim dari sahabat yang telah dijamin masuk surga….
    dikira dia itu sudah jadi ahli hadits….
    dikira …dikira…dikira…..

    ente masih bodoh mas, ibarat anak kecil tuh masih jilatin permen lolipop.
    mbok ya belajar dulu to mas…
    ngenes gue bacanya….

    artikel di atas justru menunjukkan kebodohan penulis (siapapun dia gw ga tau, cuma satu hal….
    BAHWA DIA TAU KALAU GW TAU BAHWA DIA TAU GW MENYADARI BAHWA DIA ITU BODOH SOK ALIM, SOMBONG)

  78. *kesummon*

    *gelar tikar*

  79. @ Kopral Geddoe
    oom, geser dikit oom. mo ikutan nonton.

  80. @kopral, rhuseinh
    ikutan dong.

  81. mungkin yang menafsirkan musik dan nyanyian ,, itu haram , karena mereka ngak bisa nyanyi dan main musik.. group nasyid persilahkan bubur. pokoknya buuubaaaar….seandainya waktu dulu ada organ atau piano …maka nabi kita ketika ada perkawinan menyuruh main organ, karena hanya ada rebana,maka rebana saja, yang penting meriah.

  82. saya sependapat bahwa nyanyian spt pisau,bila dipakai untuk kejahatan ya…haram, tp bila digunakan untuk kebaikan ya halal…..

  83. admin yang nulis, anda katakan bahwa musik tidak haram, karena haditsnya tidak marfu, tapi anehnya anda meyakini keshahihannya, anda katakan bahwa tidka ada perkataan dari sahabat yang menunjukan bahwa keharaman tersbeut datang dari rosul secara langsung.

    “sebaik-baik manusia adalah pada masaku (sahabat) kemudian setelahnya (tabi’in) kemudian setelahnya (tabiut’tabiin)” hadits shahih riwayat bukhari.

    dari hadits ini jelas bahwa perkataan sahabat bisa dijadikan landasan … sebetulnya masih ada hadits lain yang shahih tenntang keharaman musik riwayat bukhari tentang akan ada dia di akhir zaman yang menghalalkan zina, sutera dna alat musik,

    saya khwatir anda hanya menurutkan hawa nafsu, dan mencari dalil untuk menghalalkan hukum musik, bukannya menjadkan dalil sebagai rujuan. tunduklah kita kepada allah dan rosulnya..

    semoga bermanfaat

  84. Pada akhirnya kita akan tau seperti apakah kebenarannya, dan siapa yg mengikuti kebenaran dan menolaknya.

  85. di blog ini ga ada ya kategori Salafyphobia ato sunniphobia… katanya bang SP ini neutral… ngaku bukan syiah juga bukan sunni? tapi kok??? setau saya yang namanya menganalisa suatu kebenaran harus netral lho…

  86. @buritan
    wah wah

    @Maz JoEyZt
    saya memang bodoh
    makanya gila belajar :)
    Salam, nyantai aja Mas

    @Geddoe, Rhuseinh, Gentole
    Jangan lupa tarifnya ya :mrgreen:

    @Iwan
    mungkin ya :)

    @Cindy
    nah kita sama kalau begitu :)

    @didin

    admin yang nulis, anda katakan bahwa musik tidak haram, karena haditsnya tidak marfu, tapi anehnya anda meyakini keshahihannya, anda katakan bahwa tidka ada perkataan dari sahabat yang menunjukan bahwa keharaman tersbeut datang dari rosul secara langsung.

    hadis itu shahih tapi Mauquf Mas :)

    “sebaik-baik manusia adalah pada masaku (sahabat) kemudian setelahnya (tabi’in) kemudian setelahnya (tabiut’tabiin)” hadits shahih riwayat bukhari.

    dari hadits ini jelas bahwa perkataan sahabat bisa dijadikan landasan …

    Sahabat tidak punya wewenang menetapkan syariat. Hadis itu diperuntukkan untuk semua orang di masa sahabat, semua orang di masa tabiin dan semua orang di masa tabiittabiin, benarkah? atau dikhususkan untuk orang-orang tertentu, mohon pencerahannya :)
    Lagipula Mas kalau memang mau berdalil dengan hadis itu berarti Tabiin dan tabiittabiin juga jadi landasan dong, ah silakan saja deh kalau begitu

    sebetulnya masih ada hadits lain yang shahih tenntang keharaman musik riwayat bukhari tentang akan ada dia di akhir zaman yang menghalalkan zina, sutera dna alat musik,

    Sudah dibahas kok hadisnya di tempat lain, silakan kesana lihat di kategori kritik salafy

    saya khwatir anda hanya menurutkan hawa nafsu, dan mencari dalil untuk menghalalkan hukum musik, bukannya menjadkan dalil sebagai rujuan. tunduklah kita kepada allah dan rosulnya..

    Terimakasih tapi saya juga mengkhawatirkan hal yang sama pada Mas :)
    Salam

    @p.c.
    tapi akhir itu entah kapan :mrgreen:

    @Soegi
    Apa itu Salafyphobia dan Sunniphobia saya nggak tahu? tolong Mas jelaskan, saya hanya membuat kategori yang saya mengerti. Saya memang netral kok tapi kenetralan saya bukan berarti saya harus menolak keduanya. kalau memang hasil kesimpulan saya sesuai dengan pandangan salah satu mahzab maka bukan berarti saya nggak netral tapi memang begitu hasilnya. Justru kalau maksa harus beda atau nggak boleh sama baik dengan Sunni atau Syiah (walaupun caranya sudah benar), justru itu nggak netral namanya.
    Mari diskusi soal netral dan tidak netral :)

  87. mbok jangan gampang menetapi suatu hukum dg halal haram..
    ingat, sblm haram halal itu ada mubah, makruh…
    hmm… seyem juga melihat sesama muslim mencari kebenaran dengan perdebatan dan saling memojokkan…
    we are one–MUSLIM–
    cukup yang setuju silakan, yang tidak jg monggo…

  88. Singkat saja…!!!!Saya telah membaca hampir semua komentar-komentar yang ada, yachh..saya cuma mengambil kesimpulan bahwa, betapa banyak orang bodoh dari ummat Islam sendiri, dimana mereka banyak melakukan penentangan terhadap Hadits2 Shohih…Maka benarlah apa yang telah dikatakan Oleh Rasulullah SAW, kalau di akhir zaman nanti akan di cabutnya Ilmu. MUSIK ITU HARAM…!!!!Bila ada penentangan terhadap pernyataan ini, maka sungguh mereka dalam kebodohan yang nyata. Wassalam.

  89. wew? bodoh?

  90. @hafshah
    ya nyantai aja kan, setuju hayu nggak ya udah :)

    @Abdullah

    Singkat saja…!!!!Saya telah membaca hampir semua komentar-komentar yang ada, yachh..saya cuma mengambil kesimpulan bahwa, betapa banyak orang bodoh dari ummat Islam sendiri, dimana mereka banyak melakukan penentangan terhadap Hadits2 Shohih

    Kalau yang dimaksud anda bodoh itu mereka yang menghalalkan musik maka itu tak jauh beda dengan para pengikut Salafy yang menentang hadis2 shahih yang membolehkan atau menghalalkan musik.

    Maka benarlah apa yang telah dikatakan Oleh Rasulullah SAW, kalau di akhir zaman nanti akan di cabutnya Ilmu. MUSIK ITU HARAM…

    Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW bahwa di akhir zaman nanti akan banyak orang yang berbicara tanpa ilmu dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT.

    !!!!Bila ada penentangan terhadap pernyataan ini, maka sungguh mereka dalam kebodohan yang nyata. Wassalam.

    Sebenarnya yang paling nyata kesalahannya adalah mereka yang membodoh-bodohkan orang hanya karena tidak sesuai dengan mahzabnya. Seyogianya perbedaan dalam meyakini suatu dalil disikapi dengan saling menghargai dan tidak perlu merendahkan orang lain. Jagalah lisan anda. Kalau memang anda tidak setuju maka buktikan hujjah anda atau tunjukkan dalil anda. Kalau memang anda benar maka tunjukkan dimana kesalahan orang yang anda hina dan betulkanlah, Bersikaplah layaknya seorang kesatria. :)

    @Ressay
    Agak berlebihan memang, atau yah memang Mas itu pintar kali ya :(

  91. Jadi inget kata Gus Mus.

    kalau orang yang salah dan sesat itu jangan dimarah-marahin, jangan di caci maki apalagi dibunuh. Orang sesat itu yang ditunjuki jalan yang benar, beri penjelasan ke mereka tentang jalan yang lurus, bukannya di caci maki.

  92. Ass. Wr. Wb.

    Segala sesuatu jalan utk mendekatkan diri kpd Allah Swt dan RasulNya, ya boleh-boleh saja, kenapa musti repot.

    Wass. Wr. Wb.

  93. lhooooo….klo mau maen akal…gini ja…

    coba tunjukkan …dalil yang menyatakan mendengarkan musik itu dapat pahala ato bagian dari ibadah….

    ada ndak?

    lha yo mending baca quran ato tafsir hadist tho….

  94. Wah parah juga yah keras kepalanya si penulis artikel ini… padalah udah keliatan banget bahwa ia hanya mempertahankan hawa nafsunya yang berlandaskan akal saja…

    BUAT SEMUANYA TOLONG BACA DAN DOWNLOAD E-BOOK INI…..

    http://rismaka.wordpress.com/2008/09/09/ebook-noktah-noktah-hitam-senandung-setan/

    BIAR PUAASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS !!!!

    SUDAH JELAS MUSIK HARAM.

    ps:
    motivenya anda bikin artikel diatas….karena ingin berbagi ilmu atau ingin membenci salafy ????

    kalau saya… motivenya….kasih link ebook… untuk bagi2 ilmu bagi yang belum tau kalau MUSIK ITU HARAM…….

    dan untuk mebuka mata manusia tentang Salafy…

    bahwa salafy bukan sekte atau organisasi…..atau aliran

    Ia hanyalah jalan yang 100% berlandaskan al-Qur’an & as-Sunnah sesuai dengan yang diinginkan Allah & Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam….. tanpa mengedepankan akal dan hawa nafsu.

    link:
    http://www.darussalaf.or.id/stories.php?catid=15 http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=82

    http://www.ukhwah.com/print.php?sid=865

    Wallahu musta’an

  95. @Danny
    Nggak kok Mas, saya nulis gak pake nafsu kok tapi memang pake akal :mrgreen:
    silakan dikoreksi jika anda berkenan
    Salam

  96. berarti anda tidak setuju dengan penafsiran mayoritas ulama’ ahlussunnah waljama’ah as-salafiyyah, dengan cara mengambil perkataan shufiyyunn yang telah menyempal dari ahlussunnah…. ya akhy…. setiap abad selalu ada saja ulama’ ahlussunnah yang tampil menjelaskan masalah agama ini…. kenapa harus lari ke orang2 shufi???

    2. artikel ini secara membabi buta menolak tafsiran sahabat… dengan cara mengambil tafsir a’immah yang tdk setuju dg tafsirnya sahabat radhiyallahu ‘anhum… tapi sekali lagi hal itu tidak menunjukkan bahwa nyanyian hukumnya boleh… karena walaupun mereka tidak setuju dg tafsirnya Ibnu ‘abbas… tapi mereka seperti Imam Ibnu Hazm adz-Dzahiri tidak juga menghalalkan musik ataupun mengajak umat islam ke padanya…. sekali lagi ini cuma bantahan perbedaan tafsir ayat… bkn perbedaan boleh tidaknya… anda mengambil pihak yang membolehkan adalah orang shufi yg dianggap ulama’???

    3. anda kayaknya benci banget dg salafi ya???? padahal salafi adalah nama lain bagi ahlussunnah dan ahlu hadits/??? heran ana???? malah ulama’ shufi dicomot???? ana melihat ulama’ salafy lebih bagus metode tarjih dan takhrijnya… ketimbang sufi yang serampangan, ngawur serta mengikuti metodenya bathiniyyah yang notabene adalah musuh ahlussunnah….

    jadi tidak benar ucapan yang mengatakan seolah2 mereka salafi yang paling tahu ma’na alquran dan sunnah……..

    ditunggu tanggapannnya

    terima kasih

  97. @surfermuslim

    berarti anda tidak setuju dengan penafsiran mayoritas ulama’ ahlussunnah waljama’ah as-salafiyyah,

    Saya tidak setuju dengan penafsiran ulama salafi, saya setuju dengan penafsiran ulama ahlussunah yang lain, seperti Ibnu Hazm, Asy Syaukani, Syaikh Yusuf Al Qardhawi dll

    dengan cara mengambil perkataan shufiyyunn yang telah menyempal dari ahlussunnah…

    Wah, wah memangnya siapa yang akhi maksud, kok baru mulai udah mengklaim. Coba tolong buktikan siapa yang akhi maksud sebagai sufi itu :)

    ya akhy…. setiap abad selalu ada saja ulama’ ahlussunnah yang tampil menjelaskan masalah agama ini…. kenapa harus lari ke orang2 shufi???

    Ada banyak itu yang namanya ulama. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan adalah analisis yang baik terhadap masing-masing mereka bukan langsung bertaklid seenaknya. Saya gak merasa lari ke orang sufi, perlu akhi ketahui, ulama Ahlussunnah selain Salafy itu banyak :)

    artikel ini secara membabi buta menolak tafsiran sahabat… dengan cara mengambil tafsir a’immah yang tdk setuju dg tafsirnya sahabat radhiyallahu ‘anhum…

    Baca lagi dulu akhi, saya tidak semata-mata menolak. Ada penjelasannya dan saya memahami perkataan sahabat itu pada tempatnya. Tahu tidak, kalau perkataan sahabat itu bukan hujjah mati

    tapi sekali lagi hal itu tidak menunjukkan bahwa nyanyian hukumnya boleh…

    Nyanyian itu boleh, karena ada hadis-hadis shahih bahwa Rasulullah SAW membolehkannya

    karena walaupun mereka tidak setuju dg tafsirnya Ibnu ‘abbas… tapi mereka seperti Imam Ibnu Hazm adz-Dzahiri tidak juga menghalalkan musik ataupun mengajak umat islam ke padanya….

    Intinya boleh akhi, dan tidak perlu pakai ajak-mengajak, mau silakan nggak ya sudah, namanya saja boleh

    sekali lagi ini cuma bantahan perbedaan tafsir ayat… bkn perbedaan boleh tidaknya… anda mengambil pihak yang membolehkan adalah orang shufi yg dianggap ulama’???

    justru hukum boleh tidaknya itu berdasar tafsir ayat makanya perbedaan itu perlu dan relevan dianalisis. Anda terus mengulang-ngulang tuduhan yang aneh bahwa saya berhujjah dengan sufi, aneh sekali buktikan dong? siapa saja bisa menuduh, bahkan ada yang menuduh kalau salafy itu cuma sempalan dan bukan ahlussunah, apa tuduhan tersebut langsung saja diterima? makanya diskusi itu gak usah pakai tuduh menuduh tapi pakai argumentasi dan dalil

    anda kayaknya benci banget dg salafi ya???? padahal salafi adalah nama lain bagi ahlussunnah dan ahlu hadits/??? heran ana???? malah ulama’ shufi dicomot????

    saya nggak benci salafy, karya-karya mereka tetap saya baca tapi saya bukan orang yang asal taklid dengan mereka. Sekali lagi Ahlussunnah itu tidak hanya Salafy dan saya juga heran dengan antum yang dari tadi terus asal menuduh, coba buktikan sufi yang antum maksud itu?

    ana melihat ulama’ salafy lebih bagus metode tarjih dan takhrijnya… ketimbang sufi yang serampangan, ngawur serta mengikuti metodenya bathiniyyah yang notabene adalah musuh ahlussunnah…

    Sayangnya setelah saya analisis ulama salafy juga tidak begitu bagus dibanding ulama ahlussunnah lainnya seperti para Ulama Alawy dan ulama kontemporer semisal Syaikh Yusuf Qardhawi dan Syaikh Muhammad Al Ghazali, btw memang gak bisa dipukul rata :)

    jadi tidak benar ucapan yang mengatakan seolah2 mereka salafi yang paling tahu ma’na alquran dan sunnah……..

    Yah kecenderungan ulama Salafy itu adalah mereka sering mencela kelompok lain yang bukan salafy hanya karena berbeda pandangannya. Makanya dibilang merasa paling benar sendiri dan paling tahu.
    Salam :)

  98. Alssalaamu’alaikum.
    Mengenai musik dan nyanyian hendaklah, kita hati-hati.
    Jikalau pada zaman nabiyuLlaah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam, nyanyian tidak disukai, maka hendaklah berfikir bagaimana keadaan zaman fase ke-4 ummat Islaam sekarang.
    Bukankah kita lihat banyak kemaksiatan dan segala yang dapat merusak?
    maka berhati-hatilah terhadap musik karena dari segi kedekatan bidang musik terhadap suatu fihak, maka dekatlah musik itu terhadap menghambur-hamburkan harta.
    Cobalah renungkan dan fikirkan.
    Mana yang lebih baik, jika kita tahu dalil dan tak berani menafsirkan. Ikut ‘ulamaa’a salaf yang hidup pada zaman sebelum 1924 (keruntuhan khilafah Islamiyyah) Ibnu Mas’ud.

    Ibnu qayyim berkata

    Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Ghanam berkata : Abu Amir atau Abu Malik Al Asy’ari ra telah menceritakan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Dikalangan umatku nanti akan ada suatu kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr dan alat-alat musik.”
    Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya, meskipun diriwayatkan secara mu’allaq, namun tetap dijadikan hujjah yang beliau masukkan dalam bab tersendiri, yaitu Bab tentang Orang yang menghalalkan Khamr dan Menamainya dengan Nama Lain. “Hisyam bin Ammar berkata : telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Athiyah bin Qais Al Kilabi, dari Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ari bahwa ia berkata : Amir atau Abu Malik Al Asy’ari, – Demi Allah dia tidak membohongiku – menceritakan kepada bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda : ” Sungguh akan ada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr dan alat-alat musik.”
    Orang-orang yang mencacatkan keshahihan hadits ini tidak dapat beralasan apa-apa, seperti Ibnu Hizam, kecuali hanya untuk membela madzhabnya yang batil dalam hal membolehkan hiburan atau musik dengan menganggap hadits Al Bukhari di atas adalah munqathi’ (terputus -red), karena Al Bukhari tidak menyambungkan sanad hadits tersebut.

    Dalam hal ini terdapat berbagai riwayat hadits, yaitu hadits dari Sahl nin Sa’ad As Saidi, Imron bin Hushain, Abdullah bin Amru, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abu Umamah Al Bahli, ‘Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Sabith dan hadits Al Ghazi bin Rabi’ah. Kami sengaja mengungkapkannya agar para Ahlul Qur’an mendapat kepuasan, di samping agar orang-orang yang suka mendengarkan suara setan itu dapat tersentak.
    1 Hadits Sahal bin Sa’id
    Ibnu Abi Dunya berkata : Al Haitsam bin Kharijah telah menceritakan kepada kami, katanya : telah mencertiakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’ad As Saidi bahwa ia telah berkata : Rasulullah bersabda : “Di dalam umatku ini akan ada (siksaan yang berupa) pembenaman, pelemparan dan pengubahan bentuk. “Ditanyakan, ” Kapan hal itu terjadi ya Rasulullah?” Beliau Menjawab, “Jika telah tampak berbagai alat musik, qainah (budak wanita yang menjadi penyanyi) serta dihalalkannya khamr.”
    2 Hadits Imran bin Hushain
    Hadits ini diriwayatkan oleh At Tarmidzi dari hadits Al A’masy, dari Hilal bin Yisaf, dari Imran bin Hushain yang berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan ada (siksaan atau bencana yang berupa) pembenaman, pelemparan dan pengrubahan bentuk.” Lalu salah seorang di antara kaum muslimin ada yang bertanya. “Kapan hal itu terjadi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika telam tampak berbagai qainah, alat-alat musik dan diminumnya khamr.” At Tarmidzi mengatakan bahwa hadits ini gharib.
    3 Hadits Abdullah bin Amru
    Imam Ahmad di dalam Musnadnya dan juga Abu Dawud sama-sama meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan atas umatku : khamr, judi, kubah (kartu atau dadu; dapat pula diartikan at thibl (genderang; juga termasuk jenis alat musik lainnya) -pent.) dan ghubaira’ (minuman keras yang diperas dari jagung yang biasa dibuat oleh orang-orang Habasyah); dan setiap yang memabukkan itu haram. ” Dalam lafal Ahmad yang lain disebutkan : “Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan atas umatku khamr, judi, mizr (sejenis ghubaira’, namun ada yang mengatakan terbuat dari gandum), kubah dan qinnin (jenis permainan judi yang dipraktekkan bansa Romawi; namun ada pula yang mengartikan genderang yang biasa ditabuh oleh orang-orang Habasyah.”
    4 Hadits Ibnu Abbas
    Di dalam Musnad Ahmad juga disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah telah bersabda : “Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan khamr, judi dan kubah. Setiap yang memabukkan itu haram.”
    5 Hadits Abu Hurairah
    At Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah tela bersabda : “Jika harta hanya diedarkan pada kalangan terbatas, amanat jadi barang rampasan, zakat sebagai utang, ilmu dipelajari untuk selain agama, seorang lelaki (suami) mentaati istrinya dan mendurhakai ibunya, mendekatkan temannya dan menjauhkan ayahnya, tampak suara-suara di dalam masjid, orang yang fasik tampil memimpin kabilah, orang yang paling hina menjadi pimpinan suatu kaum, seorang dimuliakan karena ditakui kejahatannya, muncul penyanyi-penyanyi dari budak-budak wanita dan berbagai alat musik, diteguknya khamr dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat (mengutuk) umat terdahulu; maka ketika itu tunggulah angin merah, gempa, amblesnya bumi, perubahan bentuk, penjerumusan serta tanda-tand lain yang beruntun seperti sebuah jaring tua (usang) yang jika kawatnya terputus maka akan terus merembet.” At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.
    Ibnu Abi Dunya berkata : Abdullah bin Umar Al Jusyami menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Salim yaitu Abu Dawud, katanya : Hasan bin Abi Sinan telah menceritakan kepada kami dari seorang laki-laki, dan Abu Hurairah ra yang berkata bahwa Rasulullah telah bersabda : “Suatu kaum dari umat ini pada akhir zaman akan diubah menjadi kera dan babi. “Para sahabat bertanya. “Ya Rasulullah, bukankah mereka itu bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Beliau menjawab. “Ya, bahkan mereka juga menunaikan shalat, puasa dan haji. “Ditanya lagi. “Apa pasalnya mereka itu?” Beliau menjawab, “Mereka hanyut oleh musik, rebana dan qainah (budak yang menjadi biduanita) dan mereka begadang
    dengan suguhan minuman dan hiburan, lalu pada esok harinya mereka diubah bentuknya menjadi kera dan babi.” (hadits dha’if – ed.)
    6 Hadits Abu Umamah Al Bahili
    Hadits ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga oleh At Tirmidzi bahwa Rasulullah telah bersabda. “Ada sekelompok dari umatku yang begadang dengan suguhan makanan dan minuman serta hiburan dan permainan, kemudian esok harinya mereka menjadi kera dan babi, lalu dikirimkan angin terhadap orang-orang yang hidup di antara mereka, kemudian angin itu menghamburkan mereka sebagaimana telah menghamburkan orang-orang sebelum kalian lantaran mereka telah menghalalkan khamr, menabuh rebana, dan mengambil budak-budak wanita untuk menyanyi.”
    Di dalam sanad hadits ini terdapat Farqad As Sabakhi yang termasuk pembesar kaum Shalih, namun demikian ia tidaklah kuat dalam hal hadits. At Tirmidzi mengatakan : “Yahya bin Asa’id melemahkannya naumn ada juga rawi-rawi yang mengambil riwayat darinya.”
    Ibnu Abi Dunya berkata : Abdullah bin Umar Al Jusyami menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, katanya ” Farqad As Sabakhi menceritakan kepada kami : telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa’id bin Al Musayyab, katanya : telah menceritakan kepadaku Ashum bin Amru Al Bajali dari Abu Umamah dari Rasulullah bahwa beliau bersabda : “Akan ada suatu kaum dari umat ini yang menghabiskan malamnya di atas makanan, minuman dan hiburan. Lalu pada pagi harinya mereka telah diubah bentuknya menjadi kera dan babi. Dan pasti mereka itu akan ambles ditelan bumi, sehingga pada esok harinya orang-orang pun bercerita, “Kampung si fulan ambles tadi malam, Bani Fulan ambles ditelan bumi tadi malam!” Dan pasti akan dikirimkan (dijatuhkan) bebatuan dari langit terhadap mereka sebagaimana pernah dijatuhkan terhadap kaum Nuh, atas kabilah-kabilah yang ada di dalamnya dan atas kampung-kampung (rumah) yang ada di dalamnya. Pasti akan dikirimkan pula kepada mereka angin pemusnah yang pernah membinasakan bangsa ‘Ad, karena mereka meminum khamr, memakan ribaa, menjadikan budak-budak wanita untuk menyanyi, dan memutuskan tali kekeluargaan.” (Hadits dha’if – ed.).
    Di dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan riwayat hadits dari Ubaidillah bin Zahr, dari Ali bin Yazid, dari Al Qasim, dari Abu Umamah, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam, dan memerintahku untuk membinasakan seruling, genderang, alat-alat musik senar dan patung-patung (berhala) yang disembah di masa jahiliyah.” (Hadits dha’if – ed.).
    Al Bukhari mengatakan : “Ubaidillah bin Zahr itu tsiqat (sekian banyak ulama menyatakan dha’if. Lihat At Tahdzib, VII/13 – ed.). Ali bin Yazid adalah dha’if dan Al Qasim bin Abdurrahman Abu Abdurrahman adalah tsiqat.
    At Tirmidzi dan Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan dengan sanad yang persis seperti ini bahwa Nabi telah bersabda, “Janganlah engkau jual qainah (budak wanita menjadi biduanita), jangan membelinya dan jangan mengajarinya. Tiada kebaikannya dalam memperdagangkannya dan harganya itu haram. Berhubungan dengan hal ini maka turunlah ayat : “Di antara manusia ada orang yang membeli lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Luqman : 6). (Hadits ini dha’if karena kedha’ifan perawinya, yaitu Abdullah bin Zahr dan Ali bin Yazid. Al Albani mendha’ifkannya dalam Dha’iful Jami’ (6189) hal. 893 -894.
    *)

    Dalil yang Mengharamkan Nyanyian, Hiburan dan Musik*
    Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
    7 Hadits Aisyah radhiallahu „anha
    Ibnu Abi Dunya berkata : Al Hasan bin Mahbub menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhar yaitu Hasyim bin Al Qasim, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu Ma‟syar dari Muhammad bin Al Munkadir dari “Aisyah radhiallahu‟anha bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan terjadi pengamblesan, pengubahan bentuk dan pelemparan,”Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, sedangkan kaum itu masih mengatakan Laa ilaaha ilallah?” Beliau menjawab, “Jika telah tampak biduanita-biduanita, telah muncul perzinaan, diteguknya khamr dan dipakainya kain sutera,maka di sinilah hal itu terjadi.” (Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits ini dalam Dzammul Malalhi, hadits no. 3. Pensanadan hadits ini dha‟if, namun banyak syawahid (bukti atau penguat dari hadits lain) yang mengangkat derajat hadits ini ke tingkat hasan lighairihi – ed.).
    Ibnu Abi Dunya juga meriwayatkan : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Nashih, katanya : Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdullah Al Juhani, katanya : telah menceritakan kepadaku Abul A‟la dari Anas bin Malik bahwa ia pernah mengunjungi „Aisyah radhiallahu‟anha beserta seorang teman. Orang itu berkata, “Ya Ummul Mukminin, ceritakanlah kami tentang gempa!” „Aisyah radhiallu‟anha menjawab, “Itu merupakan nasehat (pelajaran),rahmat dan berkah bagi orang-orang mukmin serta merupakan hukuman, adzab serta kemurkaan terhadap orang-orang kafir,” Anas berkata, “Aku tiada mendengar satu hadits pun setelah Rasulullah (wafat) yang membuatku sangat bergembira daripada hadits ini.” (Sanad hadits ini dha‟if).
    8 Hadits Ali ra.
    Ibnu Abi Dunya berkata : telah menceritakan kepada kami Ar Rabi‟ bin Tsaqlab, katanya : Farj bin Fadhalah menceritakan kepada kami riwayat dari yahya bin Sa‟id, dari Muhammad bin Ali, dari Ali ra, katanya Rasulullah telah bersabda : “Jika umatku telah melakukan lima belas perilaku, maka ia layak mendapatkan bala‟ (bencana),” Ditanyakan, “Apa saja kelima belas perilaku itu ya Rasulullah” Beliau menjawab, “Jika kekayaan hanya berputar pada kalangan tertentu, amanat menjadi barang rampasan, zakat menjadi utang; seorang lelaki (suami) menurut pada istrinya dan mendurhakai ibunya; berbuat baik kepada teman namun kasar terhadap ayahnya sendiri; ditinggikannya suara-suara di masjid; yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka; seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya; diminumnya khamr; dipakainya kain sutera, mengambil para biduanita; dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat orang-orang terdahulu. Maka kalau sudah demikian, tunggulah datangnya angin merah, pengamblesan bumi dan pengubahan bentuk.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Al Farj bin Fadhalah yang oleh sebagian ahli hadits dinyatakan dha‟if mengenai hafalannya, namun Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Takhrijul Misykat (5451) – ed.).
    Abdul Jabbar bin Ashim menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Asysy dari Abdurrahman At Tamimi, dari Abbad bin Abu Ali,dari Ali bin Abi Thalib ra dari Nabi bahwa beliau telah bersabda : “Segolongan dari umatmu nanti akan ada yang diubah menjadi kera, ada yang dihantam oleh angin yang membinasakan. Itu semua disebabkan karena mereka meneguk khamr, memakai kain sutera, mengambil biduanita-biduanita, dan bermain musik.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Abbad bin Abi Ali yang sebagaimana dikomentari oleh Ibnu Al Qatthan disangsikan adalahnya (Al Mizan, 2 : 370), Ibnu Hajar dalam At Taqrib (7137) hal. 290 menyatakan maqbul (dapat diterima) jika ada penguatnya, dan jika tidak maka ia lemah haditsnya. Juga terdapat Ismail bin Asyasy di mana riwayatnya selain dari ulama Syam adalah dha‟if (An Nizab, 1:240), sedangkan dalam riwayat ini bukan dari ulama Syam. Dengan demikian dha‟if, – ed.).
    9 Hadits Anas ra
    Ibnu Abi Dunya berkata : Abu Amru harun bin Umar Al Qursyi menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Al Khasib bin Katsir dari Abu Bakar Al Hudzali, dari Qatadah, dari Anas bin Malik ra yang berkata : Rasulullah ra telah bersabda : “Pada umatku ini akan terjadi pembenaman, pelemparan dan pengubahan bentuk. Itu terjadi jika umat tersebut telah meneguk khamr, mengambil biduanita-biduanita dan bermain musik.” (Sanad hadits ini rusak karena ada Abu Bakar Al Hudzali. Disebutkan bahwa namanya adalah Sulami bin Abdullah dan ada yang mengatakannya namanya Rauh. Ia adalah seorang yang haditsnya ditinggalkan (matrukul hadits) sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Taqrib (8002) hal. 625 – ed.).
    Ibnu Abi Dunya juga mengatakan : Abu Ishaq Al Azdi telah memberitahukan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Uwais, katanya : telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari salah satu putera Anas bin Malik ra dan juga dari yang lainnya, dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata : Rasulullah ra telah bersabda : “Pada umat ini kelak ada orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan makanan, minuman dan musik. Lalu esok harinya mereka diubah bentuk menjadi kera dan babi.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam yang dha‟if seperti disebutkan dalam Taqribut Tahdzib (3867)
    hal. 340. Juga terdapat rawi yang tidak jelas, karena tidak ada namanya. Dengan demikian sanad hadits ini dha‟if. Namun dengan syawahid yang ada, ia dapat naik derajat menjadi hasan lighairihi – ed.).
    10 Hadits Abdurrahman bin Sabith
    Ibnu Abi Dunya berkata : Ishaq bin Ismail telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Jarir : dari Aban bin Taghlab, dari Amru bin Murrah, dari Abdurrahman bin Sabith, bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan terjadi pembenaman (pengamblesan bumi), penglemparan dan pengubahan bentuk.”Para sahabat bertanya : “Kapan hal itu terjadi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika mereka telah merajalelakan musik dan menghalalkan khamr.” (Hadits ini mursal, karena yang membawakan hadits ini adalah seorang dari kalangan Tabi‟in (yang tidak pernah bertemu Nbi), yaitu Abdurrahman bin Sabith, meskipun ia sebenarnya tsiqat. Ia banyak meriwayatkan hadits secara mursal, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Taqrib (3867) hal. 340 – ed.).
    11 Hadits Al Ghazi bin Rabi‟ah
    Ibnu Abi Dunya berkata : Abdul Jabbar bin Ashim telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayasy, dari Ubaidullah bin Ubaid, dari Abul Abbas Al Hamdani, dari Umarah bin Rasyid, dari Al Ghazi bin Rabi‟ah – yang mengangkat (menyambungkan) hadits ini kepada Nabi – bahwa ia mengatakan, “Suatu kaum nanti pasti akan berubah menjadi kera dan babi sedang mereka masih berada di atas dipan-dipan mereka. Itu disebabkan karena mereka meneguk khamr, bermain musik dan mengambil biduanita.” (Hadits mursal, karena Al Ghazi adalah seorang dari kalangan Tabi‟in – ed.).
    Ibnu Abi Dunya berkata : Abul Jabbar bin Ashim telah menceritakan kepada kami,katanya : telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin Al Mughirah dari Shalih bin Khalid – yang mengangkat hadits tersebut kepada Nabi – bahwa ia berkata, “Akan ada manusia dari umatku ini yang menghalalkan sutera, khamr dan musik. Dan pasti Allah akan mendatangkan gunung yang besar sehingga gunung itu melalap mereka, dan sebagian dari mereka diubah bentuk menjadi kera dan babi.” (Hadits mursal – ed.).
    Ibnu Abi Dunya berkata : Harun bin Ubaid telah menceritakan kepada kami, katanya : Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Asyras Abu Syaiban Al Hudzali yang berkata : aku pernha berkata kepada Farqad As Sabakhi : Beritahukan kepadaku wahai Abu Ya‟qub mengenai kejadian-kejadian aneh yang aku baca dalam Taurat, bahwa akan ada pengubahan bentuk, pembenaman dan penglemparan pada uamt Muhammad ini yang termasuk ahlu kiblat! Wahai Abu Ya‟qub, apa sebenarnya perbuatan mereka itu?” Ia menjawab,”Itu disebabkan karena mereka mengambil biduanita- biduanita untuk menyanyi, menabuh rebana (bermain musik) serta memakai pakaian sutera dan emas. Jika kamu hidup hingga dapat melihat tiga perbuatan, maka yakinlah, bersiap-siaplah dan berhati-hatilah!” Aku bertanya,”Apa itu?” Ia menjawab, “Jika kaum laki-laki sama kaum laki-laki dan kaum perempuan sama kaum perempuan dan bangsa Arab sudah suka terhadap bejanan orang A‟jam, maka itulah saatnya!” Aku bertanya kepadanya, “Apakah khusus orang Arab?” Ia menjawab, “Tidak, namun seluruh ahlu kiblat.” elanjutnya ia berkata : “Demi Allah, orang-orang seperti itu pasti akan dilempari batu dari langit yang akan menghancurkan mereka dalam keadaan sedang di jalanan dan di tengah-tengah kabilah mereka seperti yang pernah menimpa kaum Luth; yang lain diubah bentuk mereka menjadi kera dan babi seperti yang pernah terjadi pada Bani Israil; dan sebagian lagi dari mereka dibenamkan ke dalam bumi seperti yang pernah menimpa Qarun.
    Banyak sekali khabar (hadits) yang menjelaskan tentang adanya al maskh (pengubahan bentuk) pada umat ini yang bersifat muqayyad, namun kebanyakan hadits menyebutkan akan menimpa orang-orang yang bergelimang dengan nyanyian dan para peminum khamr, dan sebagaimana bersifat muthlaq.
    Salim bin Abu Al Ja‟d mengatakan : Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman di mana ketika itu orang-orang berkumpul di depan pintu rumah seorang laki-laki untuk menunggu keluarnya lelaki dari dalam rumahnya untuk menemui mereka lalu mereka meminta keperluan kepadanya, lalu laki-laki itupun keluar dalam keadaan sudah berubah bentuk menjadi kera atau babi. Dan seorang laki-laki akan lewat dan bertemu dengan laki-laki lain di kedainya yang sedang berjualan,lalu ia kembali sudah berubah menjadi kera atau babi.”
    Malik bin Dinar berkata :”Telah sampai kepadaki bahwa pada akhir zaman nanti akan ada badai dan kegelapan, lalu orang-orang pun meminta tolong kepada ulama-ulama mereka, namun ternyata para ulama itu mendapati mereka telah berubah bentuk.”
    Sebagian ulama mengatakan,”Jika hati itu telah bersifat dengan makar, tipuan dan kefasikan serta telah tercelup dengan hal itu secara sempurna, maka orangnya telah berperilaku seperti perilaku hewan yang disifati dengan sifat tersebut, diantaranya adalah kera, babi dan sejenisnya. Selanjutnya pensifatan itu terus meningkat sehingga tampaklah di raut mukanya secara remang-remang. Selanjutnya semakin menguat dan bertambah terus sehingga tampak secara jelas di raut muka. Kemudian menguat lagi sehingga paras yang tampak itu terbalik (berubah bentuk) sebagaimana unsur batinnya pun sudah terlebih dahulu terbalik.”
    Barangsiapa yang memiliki pandangan yang jeli, maka ia akan dapat melihat behwa sebenarnya paras manusia itu merupakan metamorfosis dari paras hewan di mana secara batin mereka berakhlak dan berperilaku seperti perilaku hewan tersebut. Maka jika engkau melihat seorang yang curang, suka mengelabuhi, penipu dan pengkhianat, tentu di wajahnya terlihat adanya hasil metamorfosis dari kera. Di raut muka orang-orang Rafidhah (Syi‟ah) akan anda lihat wajahnya terlihat adanya hasil metamorfosis dari wajah anjing.
    Yang lahir (zhahir) itu selalu terkait dengan yang batin. Maka jika sifat-sifat tercela itu mendominasi jiwa,maka paras yang lahir pun akan kentara pula. Oleh karena itu Nabi menakut-nakuti makmum yang mendahului imam dalam shalat berjama‟ah bahwa Allah akan menjadikan parasnya sebagai paras keledai, karena secara batin ia memang menyerupai keledai. Sebab, jika ia mendahului imam, maka shalatnya akan rusak dan pahalanya akan gugur. Maka makmum yang seperti itu, bodohnya seperti keledai.
    Jika hal ini sudah dapat dimengerti, maka sebenarnya manusia yang paling layak untuk dimetamorfosis adalah manusia-manusia yang disinyalir oleh hadits-hadits di atas. Merekalah manusia yang paling cepat dimetamorfosis menjadi kera dan babi karena adanya keserupaan batin antara mereka dengan binatang itu. Hukuman-hukuman Allah swat – na‟udzu billah – berjalan sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Telah kami kupas masalah keserupaan orang-orang yang menyanyi serta yang terfitnah dengan mendengarkan lagu-lagu setan serta telah kami hantam habisan- habisan dalam kitab kami yang cukup besar yang mengupas masalah ini. Kami sebutkan pula perbedaan antara apa yang cukup besar bisa digerakkan dari mendengarkan bait-bait dan apa yang bisa digerakkan dari mendengarkan ayat-ayat. Barangsiapa yang ingin lebih jauh lagi memahami hal ini, maka silakan baca buku tersebut. Masalah ini memang sengaja kami kupas sedikit dalam buku ini, karena hal ini termasuk di antara perangkap setan. Wabillahit taufiq. (Buku yang dimaksud Ibnul Qayyim tersebut sekarang sudah diterbitkan dengan judul “Al Kalam „ala Masalitis Sama” yang ditahqiq oleh Syaikh Rasyid Abdul Haziz Al Hamd, – ed.).
    *) Dikutip dari buku “Ighotsatul Lahfan, Menyeleamatkan Hati dari Tipu Daya Setan”, Pustaka Al-Alaq.

    Sungguh Allaahu ta’aalaa a’lam bi al-shawwaab

    Semoga Allah mengampuniku jika ada kesalahan pada tulisan ini. Aamiin

    Wa alssalaamu’alikum

  99. musik???
    halal halal halal halal
    blues?
    halal, halal, halal ,halal
    rock?
    halal, halal, halal, halal
    \m/

  100. Masalah pengharaman musik atau lagu adalah masalah klise yg bikin enek,yg pasti pabila kita memakai pengharaman musik ys monggo tapi kl tidak ya ndak usah menghina.Yang pasti keduanya punya dasar-dasar yg kuat cuman pemahaman doang.Gitu aj kok repot !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  101. offkan nada handfon.

  102. kalo kita berdebat hal2 yang ulama sj berbeda pendapat,tanda ilmu kita masih dangkal,keimanan kita msh lemah….contohlah para imam mazhab,berbeda tp saling menghormati….rasa saling menghormati diantara perbedaan hanya bisa tumbuh dari orang 2 yang pnya kekuatan iman.INGAT IMAN BERBANDING LURUS DNG UKHUWAH!!!

  103. - Muzik Mode On –

    Goyang bang…… Goyang……..

    Saweran yang banyak ……………..

    -Goyang Mode ON -

    Goyang………

  104. wuihhhhh ini yg nulis ulama di zaman mana ya????? sebaiknya ngaca sampai dimana keilmuan kita dibandingkan ulama yg takut dengan azab Alloh ,sedang anda siapa????? dikenal sebagai orang alim juga ngak ulama jauh sekaliiiiii, beginilah para pengikut hawa nafsu merasa udahb paling pintar dunia akherat…….

  105. sebelumnya,
    menafsiri kalimat-kalimat al Qur-an itu tidak boleh sembarangan tentunya.tafsir bir ro’yi (pendapat sendiri) itu tdk boleh.saya sarankan kaum muslimin-muslimat yg berdalih dgn al Qur-an,jangan hanya memakai terjemah,ktb tafsir al Qur-an itu beraneka ragam.dan saya harap sebelum memutuskan hukum dgn pendapat sendiri jgn lihat kalimat yg ada.terima kasih.
    alangkah baiknya jika kita berguru dgn ulama yg ahli,jadi tidak main2 dgn hukum.ada sanadnya,ada riwayat.mengambil hukum yg blm jelas dasar-pertimbangannya,tanpa guru pembimbing,dikhawatirkan menyimpang.

    saya cukup mengenal beberapa ulama besar dan kebanyakan dari mereka memvonis bahwasanya bermain musik itu tdk boleh dan termasuk 15 perihal yg mjdi sebab turun-temurunnya bencana (sunan at Turmudzi).ada yg memperbolehkan,dgn alasan musik itu merupakan seni dan keindahan.saya harap saudara seakidah mempertimbangkan hukum terlebih dahulu,sebelum memutuskan.tanyakan pada org2 yg ahli menggali hkum islam,pertimbangkan,ambil yg lebih baik,baru gunakan akal sehat untuk mengambil mana jalan yg harus ditempuh.

  106. Kalo main game gimana ya…? apa lebih haram dari musik… apa malah halal…

  107. Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi
    dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: ―Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.‖ Maka Nabi
    Saw bersabda: ―Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.‖ [HR. Bukhari, dalam Fâth al- Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra].

    Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda: ―Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.‖ [HR. Bukhari].

    Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi‘ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata: ―Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)‖ [HR. Muslim, juz II, hal. 485]

  108. @no
    Promosi nashibi ni. NO
    Kami sering kesana tapi tdk JUJUR.

  109. @chany
    ngga jujur ya si abul jauzaa…ooh begitu..kok ngga jujur berani buka blogspot yah…ngga tahu malu dia buka blogspot Islam tetapi ngga jujur…

  110. @dika
    saya masuk keblog tsb utk menimba ilmu. Setelah membaca yang diposting, karena tdk puas, saya mengajukan pertanyaan. jawaban ngawur saya claim dengan argumentasi berdasar nash Alqur’an. 2X nda di-jawab2. Apakah cara demikian berdiskusi secara jujur?

  111. mantaps nih tulisan yang satu berdalih mengutip bedasarkan ulama yang masih bisa di tanyakan yang satu nya berdalih mengutip terhadap ulama yang sudah meninggal dan tidak dapat di tanyakan kembali………………tapi klu sy sih lebih memilih kepada kutipan ulama yng masih bisa di tanyakan toh klu ternyata salah kan mereka bisa bertanggung jawab da kerena mereka ulama jadi saya yakin mereka tidak akan asal jeplak saja ( istilah agama nya taklid buta kali ya, maklum sy kurang paham )tapi berdasarkan suatu pengtahuan terhadap arti Al-quran, sejarah hadist dan sebagia nya. kepada pemilik blog salam persaudaraan dari sy. ALLAHHUMMA SHOLI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD

  112. hidup rhoma!!!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 162 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: