Pembelaan Untuk Ibnu Ishaq

PENOLAKAN TERHADAP MUHAMMAD BIN ISHAQ
Pemurnian Sejarah atau Penyimpangan Sejarah

Sejarah atau Sirah Nabi Muhammad SAW adalah wujud hidup dari ajaran Islam karena di dalamnya kita dapat mengetahui dengan jelas kehidupan Pribadi yang paling agung yaitu junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang tentu saja merupakan panduan bagi kita semua umat Islam dalam mengarungi kehidupan di dunia ini demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat,semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Beliau SAW dan KeluargaNya yang suci. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mendapatkan atau mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW yang benar atau shahih.
Memang dalam kenyataannya sebagian besar kitab-kitab Sirah memuat riwayat-riwayat yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’ dengan kata lain memasukkan semua riwayat yang berkenaan tanpa memperhatikan kedudukannya. Hal inilah yang mendorong para ulama untuk terus melakukan kajian terhadap semua kitab sirah dan menyaring yang shahih agar nanti hasilnya dapat dipelajari oleh setiap umat Islam. Salah satu kajian ini adalah analisis terhadap sanad riwayat berdasarkan kaidah Jarh wat Ta’dil. Kajian ini diterapkan pada kitab-kitab Sirah yang masyhur seperti Sirah Ibnu Hisyam, Tarikh Ath Thabari, Tarikh Ibnu Asaqir, Tarikh Al Kamil, Ansab Al Asyraf Al Baladzuri, Muruj adz Dzahab Al Masudi dan kitab-kitab sirah yang lain. Kajian-kajian seperti ini mungkin bisa disebut usaha pemurnian sejarah karena melalui kajian ini akan didapatkan riwayat-riwayat Sirah yang shahih.

Usaha-usaha seperti ini jelas sangat diperlukan sekarang ini , apalagi sejarah atau sirah ini sekarang sering dijadikan argumentasi atau dalil dalam pertentangan mazhab atau keyakinan. Mungkin sebagai contoh hal ini akan sangat jelas terlihat dalam polemik yang berkepanjangan antara Islam Sunni dan Islam Syiah. Kedua belah pihak seringkali membawakan riwayat dalam kitab Sirah untuk menguatkan pendapat Mereka.
Walaupun begitu, usaha-usaha tersebut sebenarnya juga layak untuk dikritisi, apalagi jika hasil dari usaha pemurnian tersebut ternyata bertentangan dengan pendapat atau kajian banyak ulama lain baik dari generasi lalu maupun sekarang. Misalnya baru-baru ini kami mengetahui penolakan seorang penulis terhadap Muhammad bin Ishaq dan tuduhannya bahwa Muhammad bin Ishaq adalah seorang Syiah yang telah merusak dan menyimpangkan sejarah Islam. Beliau Muhammad bin Ishaq adalah salah satu pencatat Sirah awal dan terkenal dengan kitabnya Sirah Ibnu Ishaq yang telah disadur oleh murid beliau Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Hisyam. Oleh karena itu tulisan ini dibuat untuk perbandingan bagi pembaca bahwa terdapat banyak ulama yang telah menetapkan bahwa Muhammad bin Ishaq ini bisa dipercaya.

Jarh wat Ta’dil Terhadap Muhammad bin Ishaq
Kenyatannya memang terdapat perbedaan pandangan ulama-ulama terhadap Muhammad Ibnu Ishaq, ada yang menta’dilkannya, ada yang menjarhkannya dan ada yang dalam hal tertentu menerima riwayatnya tetapi dalam hal yang lain (halal dan haram misalnya) tidak memakai riwayatnya. Berikut ini beberapa pandangan yang menguatkan ta’dil Ibnu Ishaq
Muhammad bin Ishaq merupakan perawi dari kitab-kitab hadis Kutub As Sittah, Bukhari meriwayatkan dari beliau dalam Shahih Bukhari secara ta’liq, Muslim meriwayatkan dari Ibnu Ishaq dalam Shahih Muslim, Ibnu Ishaq juga merupakan perawi hadis dalam Sunan At Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasai dan Sunan Ibnu Majah. Hal ini telah dinyatakan oleh Prof.DR.Faruq Hamadah dalam bukunya Mashaadirus Siirah an Nabawiyah wa Taqwiimuhaa (terjemahannya Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah hal 72).

Dalam Kitab Tahzib Al Kamal karangan Ibnu Zakki Al Mizzi, terdapat ulama-ulama yang menta’dilkan Ibnu Ishaq

• Muhammad bin Muslim Al Zuhri menyatakan “Madinah berada dalam ilmu selama ada Ibnu Ishaq,orang yang paling tahu tentang sirah”.
• Ibnu Hibban menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah tsiqah(dapat dipercaya)
• Yahya bin Ma’in menyatakan Muhammad bin Ishaq itu tsiqah dan hasanul hadis tetapi di tempat lain Beliau menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah dhaif.
• Muhammad bin Idris As Syafii(Imam mazhab Syafii) memuji Ibnu Ishaq dan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah sumber utama sirah.
• Syu’bah bin Al Hajjaj berkata tentang Ibnu Ishaq “Dia adalah amirul mukminin dalam hadis”.
• Ali bin Al Madini menyatakan bahwa “Ibnu Ishaq adalah sumber hadis,hadisnya disisiku adalah shahih”.
• Asim bin Umar bin Qatadah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah sumber utama ilmu.
• Salih bin Ahmad bin Abdullah bin Salih Al Ajiliy menyatakan bahwa Ibnu Ishaq seorang yang tsiqah.
• Abu Muawiyah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq termasuk diantara orang yang paling kuat ingatannya.
• Muhammad bin Saad menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah.
• Abdullah bin Mubarak menyatakan Ibnu Ishaq shaduq.
• Abu Zur’ah juga menyatakan Ibnu Ishaq shaduq.
• Abu Ya’la Al Khalili menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah.
• Al Busyanji menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah-tsiqah.
• Muhammad bin Abdullah bin Numai menyatakan “Ibnu Ishaq adalah hasanul hadis walaupun kadangkala meriwayatkan hadis-hadis batil yang diambil dari orang yang majhul. Beliau Ibnu Ishaq juga dituduh penganut Qadarriyah Sedangkan beliau amat jauh dari hal itu”.

Dalam kitab Taqribut Tahdzib, Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan bahwa Muhammad bin Ishaq adalah Imam al Maghazi(sirah), Dalam kitab Zadul Ma’ad juz 1 hal 99 terdapat perkataan Al Baihaqi tentang Ibnu Ishaq”Muhammad bin Ishaq,jika dia menyebutkan sama’nya(bahwa dia mendengar langsung) dalam riwayat dan sanad, itu dapat dipercaya dan berarti sanadnya baik”. Selain itu Adz Dzahabi dalam Mizan Al Itidal mengatakan “hadis Ibnu Ishaq itu hasan di samping itu sikapnya baik dan jujur. Meskipun riwayat yang disampaikannya seorang diri dinilai mungkar karena hafalannya sedikit, banyak para imam hadis menjadikannya sebagai hujjah”.

Memang pada kenyataannya terdapat juga ulama-ulama yang menjarhkan Ibnu Ishaq, hal ini dapat dilihat dalam kitab Tahzib Al Kamal sebagai berikut

• Malik bin Anas menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah salah seorang dajjal.
• Hisyam bin Urwah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah seorang penipu.
• Yahya bin Said Al Qattan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah seorang penipu.
• Wuhaib bin Khallid menyatakan Ibnu ishaq seorang penipu.
• Sulaiman Al Taimi menyatakan bahwa Ibnu Ishaq seorang pembohong.
• Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Ibnu Ishaq bukanlah hujjah, tidak memilih dari siapa dia mengambil hadis, bukan hujjah pada sunan, dhaif ketika tafarrud. Tetapi Ahmad bin Hanbal juga menyatakan bahwa sebagian hadis Ibnu Ishaq hasan.
• An Nasai menyatakan bahwa Ibnu Ishaq tidak kuat.
• Al Daruquthni menyatakan Ibnu Ishaq bukan hujjah.
• Al Zanbari menyatakan Ibnu Ishaq dihukum karena menganut paham Qadariyah.
• Jauzajani menyatakan bahwa Ibnu Ishaq dituduh karena beberapa bid’ah.

Walaupun terdapat ulama-ulama yang menjarhkan Ibnu Ishaq diatas, hal itu ternyata tidak menghalangi jumhur ulama untuk mengambil riwayat dari beliau. Hal ini dikarenakan banyak para ulama yang telah menilai jarh dan ta’dil ibnu Ishaq secara mendalam dan telah membantah keberatan terhadap Ibnu Ishaq. Bid’ah Ibnu Ishaq yang dimaksud Jauzani kemungkinan adalah paham Qadariyah yang dinyatakan oleh Al Zanbari tetapi hal ini telah dibantah oleh Muhammad bin Abdullah An Numai yang menyatakan bahwa Ibnu Ishaq jauh sekali dari paham Qadariyah.(lihat Tahdzib Al Kamal) . Selain itu Jauzani juga dikenal sebagai pembid’ah yang pernyataannya kurang bernilai dalam hal ini. (lihat Sunni Yang Sunni hal 33 Mahmud Az Za’by).

Sebagian ulama yang didakwa menjarhkan Ibnu Ishaq ternyata juga memberikan sifat ta’dil kepada beliau dan menerima sebagian riwayat Ibnu Ishaq seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Muin, Ali Al Madini, Al Dzahabi, An Nasai, Abu Dawud, Sufyan bin Uyainah, dan Ibnu Hajar.
Dalam kitab Ad Duafa Wa Al Matrukin hal 41 karangan Ibnul Jauzi menyatakan bahwa ulama yang menolak Ibnu Ishaq seperti Wuhaib bin Khallid hanyalah mengikut terhadap pandangan ulama besar Madinah yaitu Malik bin Anas dan Hisyam bin Urwah,yang ternyata kedua ulama ini mempunyai persengketaan dengan Ibnu Ishaq.

Malik bin Anas mengkritik Ibnu Ishaq ketika beliau mengetahui bahwa Ibnu Ishaq telah mengkritik beliau dan kitab Al Muwatta karangan beliau,seperti yang tertera pada kitab Mu’jam al ‘Udaba jilid 18 hal 7 oleh Yaqut Al Hamawi dan Wafayat Al a’yan hal 227 oleh Ibnu Khallikan.
Wan Kamal Mujani dalam artikelnya Pandangan Ulama Terhadap Karya dan Ketokohan Ibnu Ishaq telah menulis bahwa

persengketaan antara Malik bin Anas dan Ibnu Ishaq bermula apabila Ibn Ishaq menafikan Malik bin Anas berasal daripada keturunan salah seorang raja Yaman iaitu Dhu Asbah. Ibn Ishaq menyatakan bahwa hubungan keluarga Malik bin Anas dengan raja tersebut hanyalah melalui ikrar taat setia sahaja dan bukannya pertalian darah. Ini telah menimbulkan rasa tidak puas hati kepada Malik bin Anas. Perang mulut antara mereka berterusan sehinggalah sampai kemuncaknya setelah Malik menulis Kitab al-Muwatta’ dan mendapat kritikan daripada Ibn Ishaq. Bagaimanapun, hubungan mereka berdua terjalin semula setelah Malik bin Anas mendengar berita bahwa Ibn Ishaq berhasrat untuk meninggalkan Madinah dan berhijrah ke Iraq. Malik bin Anas telah memberi sebanyak 50 Dinar kepada Ibn Ishaq
untuk menampung perbelanjaannya di sana (Ibn Ishaq 1981, 23). Malik bin Anas juga tidaklah menolak keseluruhan hadis Ibn Ishaq. Beliau hanya sekadar tidak menerima riwayat-riwayat Ibn Ishaq mengenai beberapa peperangan Rasulullah s.a.w. yang bersumberkan masyarakat Yahudi (Ibn Ishaq 1981, 23). Ibn Ishaq pula mempunyai hujah tersendiri ketika mencatatkan riwayat-riwayat tersebut kerana beliau mengambilnya daripada periwayat periwayat Yahudi yang telah memeluk agama Islam. Beliau berpandangan bahwa mereka adalah diantara sumber yang paling hampir dengan peristiwa peristiwa tersebut dan mempunyai kaitan yang rapat dengannya.

Adapun tentang persengketaan dengan Hisyam bin Urwah telah dijelaskan oleh Al Dazahabi dalam Mizan Al Itidal jilid 4 hal 469, bahwa

penolakan sebenarnya Hisham bin Urwah terhadap Ibn Ishaq karena beliau tidak menyetujui perbuatan Ibn Ishaq menemui isterinya Fatimah binti al Mundhir dan meriwayatkan hadis-hadis daripadanya.

Dalam hal ini beberapa ulama telah memepertahankan kedudukan Ibnu Ishaq seperti Yahya bin Ma’in dan Ali bin Al Madini. Wan Kamal Mujani dalam artikelnya Pandangan Ulama Terhadap Karya dan Ketokohan Ibnu Ishaq telah menulis

“Jelas bahwa peristiwa ini berlaku disebabkan perasaan terlalu cemburu Hisham bin Urwah,sedangkan isterinya lebih tua (37 tahun) daripada Ibn Ishaq. Pertemuan Ibnu Ishaq dengan Fatimah binti al-Mundhir hanyalah sekadar untuk mengambil hadis-hadis sahaja, kerana Fatimah berkesempatan meriwayatkan daripada beberapa sahabat nabi. Di samping itu, beliau menganggap Fatimah sebagai salah seorang gurunya”.

Oleh karena itulah banyak ulama yang lebih menguatkan ta’dil terhadap Ibnu Ishaq dan tidak menerima Jarh terhadap Ibnu Ishaq. Hal ini seperti dikemukakan oleh Al Hafizh Abul Fath Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya ‘Uyunul Atsar fi Fununil Maghazi was Siyar yang telah menyebutkan seluruh kritikan terhadap Ibnu Ishaq kemudian membatalkannya satu-persatu. Beliau condong untuk menguatkan Ibnu Ishaq dan keautentikannya dan berkata

”Ibnu Ishaq adalah pegangan dalam Maghazi(sirah) bagi kami dan bagi orang lain”.

Selain itu Al Hafizh Abu Ahmad bin Adiy dalam kitabnya Al Kamil telah meneliti tentang Ibnu Ishaq dan berkata

”Aku telah memeriksa hadis Ibnu Ishaq yang begitu banyak .Tidak kudapati sesuatu yang kelihatannya dapat dipastikan dhaif terkadang ia salah atau keliru dalam sesuatu sebagaimana orang lain juga dapat keliru” .

Jadi kami simpulkan bahwa Ibnu Ishaq dapat dipercaya dan dijadikan pegangan dalam masalah sirah. Adapun tentang tuduhan sebagian penulis bahwa Ibnu Ishaq seorang Syiah adalah tidak beralasan apalagi tuduhan beliau telah merusak sejarah islam(tuduhan ini sungguh sangat mengherankan karena banyak sekali sejarawan dan ulama yang telah mengutip dari Ibnu Ishaq) karena banyak ulama yang telah memberikan predikat dipercaya kepada beliau, seandainya beliau banyak meriwayatkan banyak keutamaan Imam Ali itu tidak membuktikan bahwa Ibnu Ishaq adalah syiah lagipula jika ternyata beliau sangat condong ke Imam Ali itu hanya menunjukkan bahwa beliau tasyayyu dan tentu saja riwayat seorang tasyayyu tetap dapat diterima karena cukup banyak perawi hadis yang tasyayyu dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ashabus Sunan
Wallahu A’lam.

About these ads

27 Tanggapan

  1. Wah menari sekali, kebetulan saya juga sedang melakukan riset tentang sirah Islam… mungkin kita bisa ketemuan di darat kapan2…

  2. @ Musadiqmarhaban
    Salam kenal, terimakasih
    saya juga belajar
    Anda tinggal di laut y :D
    kok ketemuan di darat he he he

  3. […] Mereka yang berlebihan dalam membantah Syiah sehingga membuat banyak kekeliruan. Tidak jarang dari mereka ini mendhaifkan hadis-hadis shahih Sunni hanya karena hadis tersebut dijadikan hujjah oleh Syiah. Mengurangi keutamaan-keutamaan Ahlul Bait padahal Ahlul Bait adalah pribadi-pribadi yang mulia setelah Rasulullah SAW. Mendistorsi hadis-hadis sunni yang artinya seolah-olah mendukung syiah seperti hadis Tsaqalain. Tindakan ini jelas sekali tidak benar. Baiklah saya kasih contoh: Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah yang banyak mendhaifkan hadis-hadis keutamaan AhlulBait salah satunya hadis Tsaqalain karena berlebih-lebihan dalam membantah Ulama Syiah Allamah Al Hilli, Hafiz Firdaus yang mendistorsi makna hadis Tsaqalain, dan Ustad Asri yang menuduh Ibnu Ishaq sejarawan Sunni yang karya Sirahnya menjadi rujukan oleh jumhur ulama Sunni, Ustad Asri menuduh Ibnu Ishaq seorang Syiah yang merusak sejarah Islam dan masih banyak contoh lain. Saya tidak setuju dengan pendapat ini dan karenanya saya menuliskan Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq […]

  4. […] dengan tuduhan aneh beliau terhadap Ibnu Ishaq(saya sudah menanggapi tuduhan beliau itu lihat Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq), apa yang beliau kemukakan itu adalah Apologia semata. Beliau telah dipengaruhi dengan […]

  5. ya sudah gak pa pa

  6. @bara
    memang gapapa :)

  7. @moslem
    Udah Mas
    Tetap saja sejauh ini kesimpulan saya, Ibnu Ishaq adalah layak menjadi rujukan sejarah
    jarh terhadap beliau sudah saya bahas
    Anehnya adalah salah besar kalau itu berarti semua riwayat Ibnu Ishaq adalah benar
    Inti tulisan saya adalah penolakan terhadap orang-orang yang sekedar mendengar nama Ibnu Ishaq maka mereka akan merendahkan dan langsung menyatakan tidak layak

    Sirah Ibnu Ishaq yang disadur oleh Ibnu Hisyam telah menjadi salah satu rujukan sejarah
    Soal situs aneh itu, saya pernah kesana dan maaf saya tidak tertarik sedikitpun
    Soal ada yang mau menyalahgunakan tulisan saya, maka saya jawab dalam menganalisis sejarah saya menempatkan metode tertentu
    Karena Kitab Sejarah atau Tarikh itu banyak
    Tidak ada niat saya sedikitpun untuk mendistorsi sejarah atau berpandangan seperti situs aneh itu
    Sejarah jelas layak dikritisi

  8. @secondprince
    karya ibn ishaq memang bisa dijadikan sumber sejarah tetapi statusnya tetap sebagai sumber sekunder. ia menjadi sumber primer hanya ketika orang menulis tentang sejarah/biografi ibnu ishaq atau historiografi (sejarah penulisan sejarah ) Islam/Arab.

    sumber primer mengisyaratkan penulis sebagai saksi sejarah, misalnya catatan perjalanan marco polo dan ibn batuta atau dokumen2 administrasi kerajaan dan korespondensi antar kerajaan. sumber sejarah sayangnya masih terbatas pada sumber terulis (dokumen dll) dan peninggalan arekeologis (artifak dll). seperti yang pernah saya bilang, “oral history” masih menjadi perdebatan karena sifatnya yang berubah2 secara redaksional dan sifat pelupa manusia.

    sejarah memang bukan ilmu pasti: apa yang kita tahu dari sejarah hanyalah fragmen dari sejarah sebagai totalitas peristiwa yang terjadi di masa lalu. sejarah, seperti juga ilmu hadist, ada cacatnya dari sudut pandang epistemologi. ilmu jarh wa ta’dil itu bisa disebut sebuah metode (dalam tradisi ilmu2 Islam), tetapi tidak bisa diterima sebagai sebuah metode ilmiah/modern karena ia dilandasi bukan oleh fakta, melainkan penilaian subyektif seseorang atas orang lain.

    ibn ishak dijadikan rujukan oleh para sejarahwan (muslim dan non-Muslim) karena ia yang pertama menulis sirah nabi, bukan karena hasil studi “jarh wa ta’dil”. namun demikian, pembacaan terhadap ibn ishak harus didampingin oleh sumber2 lain, termasuk sumber2 non-Arab, untuk memverifikasi laporan2 yang ia berikan. sejarah pada dasarnya adalah perkara gaib. :D

    salam

  9. @secondprice

    Inti pendapat saya berdasar link yg saya berikan bukanlah pada sosok Ibnu Ishaq sendiri tapi pada kredibilitas sirah Ibnu Ishaq yang tentunya tidak semuanya memiliki kronologis sahih. Hal ini didasarkan atas pernyataan Tabari pada mukadimah tarikhnya yang menggunakan referensi Ibnu Ishaq, klik aja link berikut:

    http://www.islamic-awareness.org/Polemics/sverses.html

    salam :-)

  10. @ Sdr. Second, boleh saja anda menyimpulkan:—-Tetap saja sejauh ini kesimpulan saya, Ibnu Ishaq adalah layak menjadi rujukan sejarah—-tetapi sebagai sumber skunder dalam sunni, dia tidak bisa menjadi rujukan (utama) dalam penetapan hukum-hukum.
    Contohnya di majlis pengajian saya, yang diberikan kepada “anggota”, adalah kutubus-sittah saja, sedangkan yang lain, termasuk muwattho’, musnad ahmad, darimy…apalagi thabrany, al-hakim, ibn hibban dst dst…hanya disampaikan kepada kalangan mubaligh saja, termasuk sirah-sirah dan tafsir Ibn Kathir.
    Bahkan “anak bungsu” dalam kutubus-sittah, yakni Ibn Majah, sempat vakum 20 tahun tidak disampaikan kepada anggota …
    Jadi prinsipnya kita belajar sumber primer dulu, alQuran dan kutubus-sittah. Diluar itu, kita tidak boleh “gegabah” dalam memahami apalagi menyampaikan.

  11. hhhhmmmmm gitu ya

  12. @moslem
    Kalau sirah Ibnu Ishaq saya sependapat kalau tidak smuanya shahih
    Kan bisa dinilai
    Salam

    @Sunni sejati
    Sebenarnya Mas, untuk menetapkan hukum sebenarnya gak perlu pakai Kitab Tarikh
    tetapi kalau sejarah maka penting untuk merujuk pada Kitab Tarikh
    Kalau soal hadis berasal dari kitab hadis mana saja yang penting shahih maka itu layak diambil baik dari Kutub As Sittah atau bukan

    @burit
    Iya begitulah kata mereka

  13. Kalau saya sih memandangnya kalau benar Ibn Ishaq benar dalam merawikan hadist2x maka seharusnya tidak akan banyak memberikan hal yang kontroversial yang sering dipergunakan oleh musuh2x Islam untuk menyerang Islam sendiri..jadi memang kitanya juga yang harus memiliki pengetahuan yang terus menerus digali agar aqidah yang benar yang sudah di imani ini jangan sampai terpengaruh oleh khabar2x dari musuh Islam…ya kudu hati2x…teruslah menggali Al Qur’an dan Hadist yang seharusnya tidak akan ada pertentangan di dalamnya….

  14. syiah itu sesat……………titik

  15. Yakin Anda tidak sesat?

  16. yah… masuk dong ke indonesia.faithfreedom.org

    buktiin itu situs isinya fitnah smua. biar ditutup itu situs.
    klo ogah masuk, bukannya mewakili “setuju” sama isinya?
    TUHAN udah ngasi akal, harap dipakai.

    trims

  17. […] tertua. Di Indonesia diterjemahkan oleh penerbit Muhammadiyyah dalam 3 jilid. Sirah ini termasuk kontroversial dan banyak di perdebatkan di dunia Islam. Buku ini saya beli beberapa tahun yang lalu karena memang baru diterbitkan baru-baru ini […]

  18. sejarah ttg nabi kan ditulis setelah sekian ratus tahun wafatnya nabi,jadi pasti ada biasnya,tak terhindarkan,krn para saksi sejarahnya sdh meninggal juga. pegangan muslim adalah qur’an

  19. […] dengan tuduhan aneh beliau terhadap Ibnu Ishaq(saya sudah menanggapi tuduhan beliau itu lihat Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq), apa yang beliau kemukakan itu adalah Apologia semata. Beliau telah dipengaruhi dengan […]

  20. […] dengan tuduhan aneh beliau terhadap Ibnu Ishaq(saya sudah menanggapi tuduhan beliau itu lihat Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq), apa yang beliau kemukakan itu adalah Apologia semata. Beliau telah dipengaruhi dengan […]

  21. ibnu ishaq menjadi kontroversi,krn kitabx banyak memuat keutamaan2 ahlulbait.
    dan banyak memuat penyelewengan2 sahabat
    sedang pd zaman beliau hal tsb sangat tabu.
    atthabari sendiri banyak mengambil riwayat2 dr beliau.tp ketika berbicara ttg keutamaan imam ali atthabari mengaburkan riwayat tsb tanpamenyebut nama imam ali
    mohon koreksi

  22. […] dengan tuduhan aneh beliau terhadap Ibnu Ishaq(saya sudah menanggapi tuduhan beliau itu lihat Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq), apa yang beliau kemukakan itu adalah Apologia semata. Beliau telah dipengaruhi dengan […]

  23. makasih … artikel anda sangat membantu saya dalam pembuatan tugas kuliah… teng qiyu..

  24. ada yg tahu yg jual buku sirah nabawi karya ibnu ishaq mohon bantuanya. tlng dikirim penerbit atau toko buku yg menjualnya ke email sy trims. toopan05@yahoo.com

  25. […] tertua. Di Indonesia diterjemahkan oleh penerbit Muhammadiyyah dalam 3 jilid. Sirah ini termasuk kontroversial dan banyak di perdebatkan di dunia Islam. Buku ini saya beli beberapa tahun yang lalu karena memang baru diterbitkan baru-baru ini saja. […]

  26. sayangnya, ada beberapa orang yang akhirnya mengambil satu sisi saja dan membuatnya menjadi seakan tindakan yang buruk dari Nabi. dari sirah Ibnu Ishaq ini.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 163 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: