<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Hadis Tsaqalain</title>
	<atom:link href="http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/</link>
	<description>Kebenaran Hanya Untuk Yang Menghargainya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 06:36:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: bob</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-11696</link>
		<dc:creator>bob</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 10:24:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-11696</guid>
		<description>karena hari ini adalah hari Ghaidir khum maka bahasan ini saya angkat ke permukaan lagi....punten @sp</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>karena hari ini adalah hari Ghaidir khum maka bahasan ini saya angkat ke permukaan lagi&#8230;.punten @sp</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abubahlul</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10970</link>
		<dc:creator>abubahlul</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 05:49:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10970</guid>
		<description>@SP :
Ass...
mas admin, gimana kalo perdebatan yang dilakukan sebaiknya fokus tiap masalahnya,,jadi kami yg awam2 ini tidak dipusingkan dengan komen2 yg tidak ada hub-nya..
jadi saya harap ada penegasan2 case yg dibahas...misal setiap pertanyaan dan jawabannya jelas runutan dialognya... trmksh sblmnya ,,, 
Wassalam..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@SP :<br />
Ass&#8230;<br />
mas admin, gimana kalo perdebatan yang dilakukan sebaiknya fokus tiap masalahnya,,jadi kami yg awam2 ini tidak dipusingkan dengan komen2 yg tidak ada hub-nya..<br />
jadi saya harap ada penegasan2 case yg dibahas&#8230;misal setiap pertanyaan dan jawabannya jelas runutan dialognya&#8230; trmksh sblmnya ,,,<br />
Wassalam..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10892</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:29:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10892</guid>
		<description>&lt;b&gt;@wawansyah17&lt;/b&gt;

Hehehe..gak koq, cuma fans berat acara tsb.... :mrgreen:
Cukup unik jika dibandingkan dengan acara2 serupa. Banyak yang bisa saya pelajari. Yang jelas tidak membawa kepada gontok2an.. ;)

Salam Damai</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@wawansyah17</b></p>
<p>Hehehe..gak koq, cuma fans berat acara tsb&#8230;. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
Cukup unik jika dibandingkan dengan acara2 serupa. Banyak yang bisa saya pelajari. Yang jelas tidak membawa kepada gontok2an.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam Damai</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawansyah17</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10881</link>
		<dc:creator>wawansyah17</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 23:36:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10881</guid>
		<description>@truthseeker08,

Apakah anda sebagai pembawa acaranya? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@truthseeker08,</p>
<p>Apakah anda sebagai pembawa acaranya? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10875</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 14:47:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10875</guid>
		<description>&lt;b&gt;@All&lt;/b&gt;
Untuk yang di Jakarta Silakan rehat bentar dan menikmati: 105.8 FM Lite FM, tiap kamis malam jam 21:00 - 22:30.

Semoga bermanfaat.

Salam Damai</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@All</b><br />
Untuk yang di Jakarta Silakan rehat bentar dan menikmati: 105.8 FM Lite FM, tiap kamis malam jam 21:00 &#8211; 22:30.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Salam Damai</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rafidhah</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10874</link>
		<dc:creator>rafidhah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 14:42:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10874</guid>
		<description>@tatang
Terima kasih. Saya juga sangat senang mengikuti komentar anda. Dengan demikian kita saling mengisi kekurangan kita. Mudah2an melalui blog ini makin kita tingkat hubungan persaudaraan sesama muslim. Perbedaan pendapat itu wajar. Tidak sepaham, kita kembali kefirman Allah yakni: Lakum a&#039;malakum wa lana a&#039;malana. Wasalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@tatang<br />
Terima kasih. Saya juga sangat senang mengikuti komentar anda. Dengan demikian kita saling mengisi kekurangan kita. Mudah2an melalui blog ini makin kita tingkat hubungan persaudaraan sesama muslim. Perbedaan pendapat itu wajar. Tidak sepaham, kita kembali kefirman Allah yakni: Lakum a&#8217;malakum wa lana a&#8217;malana. Wasalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tatang</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10873</link>
		<dc:creator>Tatang</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:38:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10873</guid>
		<description>Terima kasih, paling tidak saya semakin mengenal antum dari tulisannya. Dan itu mendorong saya untuk semakin sering belajar banyak hal.
Senang sekali dapat tanggapan dari antum berdua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih, paling tidak saya semakin mengenal antum dari tulisannya. Dan itu mendorong saya untuk semakin sering belajar banyak hal.<br />
Senang sekali dapat tanggapan dari antum berdua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rafidhah</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10872</link>
		<dc:creator>rafidhah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:21:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10872</guid>
		<description>@tatang
Anda rupanya sangat kritis dan senang menasehati orang.
Sdr tatang mengenai point 1 tdk penting buat kami dengan alasan orang Indonesia tidak pernah memakai nama dengan tulisan Hushain/Hushoin. Terkecuali dengan perbedaan tulisan tersebut merobah makna. 
2. Tempat itu benar adalah KHUM dan mereka banya periwayat menyebut Khaidir Khum/ghum. Anda tahu tdk arti khadir. Khadir berarti melemahkan. Mereka berada di Khum betul sdh lelah (lemah)
3. Amma ba&#039;du dipakai pada waktu berpidato/khutbah dan bukan dalam pembicaran biasa.

4.Tsagalain arti sebenarnya adalah BEKAL dalam perjalanan para mushafir. Tapi para perawi hadits menafsirkan macam2 dan ini juga tdk perlu dikoreksi.
Kalau BEKAL saya lebih cocok. Karena Alqur&#039;an dan Itrahti Ahlulbait penting untuk menjadi bekal hidup kita. 
5. Apabila anda ingin menterjemahkam secara harafiah makna dari &quot; fakhudzu bikitabillah wastaamsiku bihi&quot; maka artinya &quot;tunduk/taat dengan kitab Allah dan pegang teguh.&quot;
Maka apabila berdasarkan tafsiran ini yang harus kita pahami sungguh berat. 
Kalimat  &quot;fahtsa dst.&quot; para penterjemah tidak masukan saya tdk tahu, tapi apabila kalimat ini diterjemahkan dan harus ikut diterjemahkan, maka kalimat tsb menunjukan kedudukan Itrahti Ahlulbait. Wasalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@tatang<br />
Anda rupanya sangat kritis dan senang menasehati orang.<br />
Sdr tatang mengenai point 1 tdk penting buat kami dengan alasan orang Indonesia tidak pernah memakai nama dengan tulisan Hushain/Hushoin. Terkecuali dengan perbedaan tulisan tersebut merobah makna.<br />
2. Tempat itu benar adalah KHUM dan mereka banya periwayat menyebut Khaidir Khum/ghum. Anda tahu tdk arti khadir. Khadir berarti melemahkan. Mereka berada di Khum betul sdh lelah (lemah)<br />
3. Amma ba&#8217;du dipakai pada waktu berpidato/khutbah dan bukan dalam pembicaran biasa.</p>
<p>4.Tsagalain arti sebenarnya adalah BEKAL dalam perjalanan para mushafir. Tapi para perawi hadits menafsirkan macam2 dan ini juga tdk perlu dikoreksi.<br />
Kalau BEKAL saya lebih cocok. Karena Alqur&#8217;an dan Itrahti Ahlulbait penting untuk menjadi bekal hidup kita.<br />
5. Apabila anda ingin menterjemahkam secara harafiah makna dari &#8221; fakhudzu bikitabillah wastaamsiku bihi&#8221; maka artinya &#8220;tunduk/taat dengan kitab Allah dan pegang teguh.&#8221;<br />
Maka apabila berdasarkan tafsiran ini yang harus kita pahami sungguh berat.<br />
Kalimat  &#8220;fahtsa dst.&#8221; para penterjemah tidak masukan saya tdk tahu, tapi apabila kalimat ini diterjemahkan dan harus ikut diterjemahkan, maka kalimat tsb menunjukan kedudukan Itrahti Ahlulbait. Wasalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10870</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 10:08:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10870</guid>
		<description>@Tatang
&lt;blockquote&gt;Karena bagi saya jika seseorang teliti terhadap hal-hal yang sederhana maka orang tersebut akan lebih teliti lagi dalam hal yang lebih mendasar (baca: penting). Begitu juga sebaliknya, jika dalam hal yang sederhana saja seseorang itu tidak teliti, apalagi dalam hal yang prinsipil.&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;oh silakan saja kok Mas, saya tidak ada masalah dengan itu, btw kira-kira jika seseorang sahabat lupa akan hadis Nabi yang diriwayatkan, ia masih dinilai tsiqah nggak? :mrgreen:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;Dalam pandangan saya jika anda menterjemahkan saja kurang lengkap bahkan tidak teliti, maka bagi saya (harus jujur saya katakan) anda belumlah termasuk dalam kategori orang yang tsiqoh.&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;saya tidak pernah memaksa orang untuk mempercayai semua apa yang saya tulis. jika memang menurut anda kurang lengkap ya silakan. satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaidah linguistik tidak ada suatu penerjemahan yang benar-benar mewakili teks asli, ini adalah masalah yang sangat umum. mari kita bahas poin-poin anda&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;1. Nama husain diatas kalau dibahasaindonesiakan maka seharusnya ditulis Hushain atau Hushoin.&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;terserah, kalau situ mau menulis dengan huruf seperti itu ya silakan, saya pribadi bukan orang yang terlalu menganggap penting hal ini kecuali memang ada indikasinya. misalnya nih Utsman sering saya tulis Usman, Zaid itu kalau mau ditulis yang benar pakai alif atau pakai ya, masih banyak kok soal ejaan yang bisa anda permasalahkan. sayangnya bahkan kitab-kitab terjemahan salafy juga tak luput dari kesalahan ejaan(kalau memang mau dipermasalahkan) &lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;2. Ghadir khum seharusnya “Khum” saja, yaitu sebuah tempat yang disebut Khum terletak antara Makkah dan Madinah (ini tidak anda cantumkan)&lt;/blockquote&gt;
ada bedanya gitu Mas?. kalau nggak ya gak ada masalah
&lt;blockquote&gt;3. Kemudian beliau bersabda: amma ba’du (tidak ditulis)&lt;/blockquote&gt;
sama deh dengan yang no 2
&lt;blockquote&gt;4. Dua pusaka (tsaqalain), kata “pusaka” tidaklah sama padanan katanya dengan kata “tsaqal” dalam bahasa arab. Mestinya ditulis saja “dua perkara yang berat”.&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;ya bisa kok, kira-kira kalau tsaqal diartikan dua perkara berat valid nggak?, kalau diartikan dua peninggalan berharga valid nggak?, peninggalan dan perkara kira-kira sama nggak?, kalau diartikan peninggalan yang berharga bisa nggak?. btw silakan akan ada banyak hal yang bisa kita permasalahkan.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;5. Sampai di فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به , disitu Zaid bin arkam menyebutkan bahwa rasul SAW Menganjurkan dan mendorong umatnya untuk berpegang teguh kepada kitab Allah (AlQuran).&lt;/blockquote&gt;
udah ada kata-katanya
&lt;blockquote&gt;Tentu saja disini ada penjelasan yang panjang, tapa disebutkan oleh Zaid Bin Arqam ra,&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;penjelasan panjang yang bagaimana? bisa panjang bisa juga nggak, intinya kata-kata Rasul SAW adalah berpegang teguh, seandainya juga Rasul SAW menggunakan kata-kata yang singkat maka lafaz itu masih cocok.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;hal yang ingin saya jelaskan adalah, adanya penjelasan perihal perkara berat yang pertama itu dalam kalimat yang panjang, makanya perawi meringkasnya dengan kalimat, فحث على كتاب الله ورغب فيه. ( arti dari kalimat ini tidak anda cantumkan ).&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;kalimat panjang yang anda maksud itu adalah persepsi anda, kemudian perawi meringkasnya dengan kalimat itu juga adalah persepsi anda juga. apakah perawi meringkas atau tidak kita tidak tahu pasti. dan akan lebih sulit kalau ditanyakan yang meringkas itu siapa?. apakah perawi hadis punya otoritas meringkas riwayat yang ia dengar?. diskusinya akan jauh lebih panjang :)&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;Khusus untuk poin ke 5, kalau boleh saya jelaskan kepada anda mengenai pengaruh dari tidak dicantumkannya kalimat tersebut adalah, bahwa dua hal yang berat untuk dilaksakan oleh ummat sepeninggal Rasul SAW itu seakan akan dalam konteks kalimat yang sama, padahal tidaklah sama.&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;saya tidak sependapat di bagian ini, apa buktinya Mas?. situ kan gak tahu apakah sang perawi benar-benar meringkas kalimat yang panjang atau sang perawi menyampaikan dengan lafaznya kata-kata Rasul SAW yang singkat. lagipula soal ringkas-meringkas kira-kira aneh tidak kalau saya berasumsi bahwa peringatan Rasul SAW soal Ahlul bait yang menurut anda tidak dijelaskan oleh Rasul SAW itu sebenarnya ulah perawi yang meringkas. Aneh sekali kalau Rasul SAW menyampaikan peringatan tetapi tidak ada penjelasan soal peringatannya. masih jauh lebih baik mendudukkan Tsaqalain itu dalam dua konteks yang sama.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;Lain halnya jika text hadisnya tidak terpotong oleh penuturan rawi … فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال maka sangat mungkin saya pun memahami hadis ini sesuai dengan yang anda fahami&lt;/blockquote&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;kalau menurut anda sang perawi meringkas hadis tersebut maka tidak ada gunanya anda atau siapapun berkeras menafsirkan atau memahami hadis Tsaqalain tanpa memahaminya dengan hadis Tsaqalain yang lain. simpel sekali bukan :)&lt;/p&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Sekedar info buat anda, hadis Tsaqalain dalam Musnad Ahmad di atas yang mengandung matan khalifah sering diterjemahkan dengan &quot;dua hal&quot;. padahal kalau mau meributkan soal ketelitian maka kata yang tepat itu adalah &quot;dua khalifah&quot;. Anda boleh lihat deh tulisan &quot;Imamah &amp; Khilafah&quot; Ali As Salus Gema Insani Press &lt;/p&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Awalnya saya gak mempermasalahkan hal itu, sehingga dalam tulisan Hadis Tsaqalain ini awalnya saya juga menerjemahkannya dengan kata &quot;dua hal&quot;. Tapi dalam tulisan lain yang berjudul &quot;Khalifah Umat Islam adalah Ahlul Bait&quot; saya menampilkan teks arabnya dan menerjemahkan dengan &quot;dua khalifah&quot;. Itu yang saya maksud sesuai &quot;indikasinya&quot;.&lt;/p&gt;
&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Kembali ke masukan anda di atas, saya mengucapkan terimakasih atas masukannya, tapi sejauh ini semua masukan yang anda berikan tidak mengubah makna hadis tersebut seperti yang saya maksud.
Salam&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Tatang</p>
<blockquote><p>Karena bagi saya jika seseorang teliti terhadap hal-hal yang sederhana maka orang tersebut akan lebih teliti lagi dalam hal yang lebih mendasar (baca: penting). Begitu juga sebaliknya, jika dalam hal yang sederhana saja seseorang itu tidak teliti, apalagi dalam hal yang prinsipil.</p></blockquote>
<p align="justify">oh silakan saja kok Mas, saya tidak ada masalah dengan itu, btw kira-kira jika seseorang sahabat lupa akan hadis Nabi yang diriwayatkan, ia masih dinilai tsiqah nggak? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Dalam pandangan saya jika anda menterjemahkan saja kurang lengkap bahkan tidak teliti, maka bagi saya (harus jujur saya katakan) anda belumlah termasuk dalam kategori orang yang tsiqoh.</p></blockquote>
<p align="justify">saya tidak pernah memaksa orang untuk mempercayai semua apa yang saya tulis. jika memang menurut anda kurang lengkap ya silakan. satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaidah linguistik tidak ada suatu penerjemahan yang benar-benar mewakili teks asli, ini adalah masalah yang sangat umum. mari kita bahas poin-poin anda</p>
<blockquote><p>1. Nama husain diatas kalau dibahasaindonesiakan maka seharusnya ditulis Hushain atau Hushoin.</p></blockquote>
<p align="justify">terserah, kalau situ mau menulis dengan huruf seperti itu ya silakan, saya pribadi bukan orang yang terlalu menganggap penting hal ini kecuali memang ada indikasinya. misalnya nih Utsman sering saya tulis Usman, Zaid itu kalau mau ditulis yang benar pakai alif atau pakai ya, masih banyak kok soal ejaan yang bisa anda permasalahkan. sayangnya bahkan kitab-kitab terjemahan salafy juga tak luput dari kesalahan ejaan(kalau memang mau dipermasalahkan) </p>
<blockquote><p>2. Ghadir khum seharusnya “Khum” saja, yaitu sebuah tempat yang disebut Khum terletak antara Makkah dan Madinah (ini tidak anda cantumkan)</p></blockquote>
<p>ada bedanya gitu Mas?. kalau nggak ya gak ada masalah</p>
<blockquote><p>3. Kemudian beliau bersabda: amma ba’du (tidak ditulis)</p></blockquote>
<p>sama deh dengan yang no 2</p>
<blockquote><p>4. Dua pusaka (tsaqalain), kata “pusaka” tidaklah sama padanan katanya dengan kata “tsaqal” dalam bahasa arab. Mestinya ditulis saja “dua perkara yang berat”.</p></blockquote>
<p align="justify">ya bisa kok, kira-kira kalau tsaqal diartikan dua perkara berat valid nggak?, kalau diartikan dua peninggalan berharga valid nggak?, peninggalan dan perkara kira-kira sama nggak?, kalau diartikan peninggalan yang berharga bisa nggak?. btw silakan akan ada banyak hal yang bisa kita permasalahkan.</p>
<blockquote><p>5. Sampai di فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به , disitu Zaid bin arkam menyebutkan bahwa rasul SAW Menganjurkan dan mendorong umatnya untuk berpegang teguh kepada kitab Allah (AlQuran).</p></blockquote>
<p>udah ada kata-katanya</p>
<blockquote><p>Tentu saja disini ada penjelasan yang panjang, tapa disebutkan oleh Zaid Bin Arqam ra,</p></blockquote>
<p align="justify">penjelasan panjang yang bagaimana? bisa panjang bisa juga nggak, intinya kata-kata Rasul SAW adalah berpegang teguh, seandainya juga Rasul SAW menggunakan kata-kata yang singkat maka lafaz itu masih cocok.</p>
<blockquote><p>hal yang ingin saya jelaskan adalah, adanya penjelasan perihal perkara berat yang pertama itu dalam kalimat yang panjang, makanya perawi meringkasnya dengan kalimat, فحث على كتاب الله ورغب فيه. ( arti dari kalimat ini tidak anda cantumkan ).</p></blockquote>
<p align="justify">kalimat panjang yang anda maksud itu adalah persepsi anda, kemudian perawi meringkasnya dengan kalimat itu juga adalah persepsi anda juga. apakah perawi meringkas atau tidak kita tidak tahu pasti. dan akan lebih sulit kalau ditanyakan yang meringkas itu siapa?. apakah perawi hadis punya otoritas meringkas riwayat yang ia dengar?. diskusinya akan jauh lebih panjang <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Khusus untuk poin ke 5, kalau boleh saya jelaskan kepada anda mengenai pengaruh dari tidak dicantumkannya kalimat tersebut adalah, bahwa dua hal yang berat untuk dilaksakan oleh ummat sepeninggal Rasul SAW itu seakan akan dalam konteks kalimat yang sama, padahal tidaklah sama.</p></blockquote>
<p align="justify">saya tidak sependapat di bagian ini, apa buktinya Mas?. situ kan gak tahu apakah sang perawi benar-benar meringkas kalimat yang panjang atau sang perawi menyampaikan dengan lafaznya kata-kata Rasul SAW yang singkat. lagipula soal ringkas-meringkas kira-kira aneh tidak kalau saya berasumsi bahwa peringatan Rasul SAW soal Ahlul bait yang menurut anda tidak dijelaskan oleh Rasul SAW itu sebenarnya ulah perawi yang meringkas. Aneh sekali kalau Rasul SAW menyampaikan peringatan tetapi tidak ada penjelasan soal peringatannya. masih jauh lebih baik mendudukkan Tsaqalain itu dalam dua konteks yang sama.</p>
<blockquote><p>Lain halnya jika text hadisnya tidak terpotong oleh penuturan rawi … فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال maka sangat mungkin saya pun memahami hadis ini sesuai dengan yang anda fahami</p></blockquote>
<p align="justify">kalau menurut anda sang perawi meringkas hadis tersebut maka tidak ada gunanya anda atau siapapun berkeras menafsirkan atau memahami hadis Tsaqalain tanpa memahaminya dengan hadis Tsaqalain yang lain. simpel sekali bukan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Sekedar info buat anda, hadis Tsaqalain dalam Musnad Ahmad di atas yang mengandung matan khalifah sering diterjemahkan dengan &#8220;dua hal&#8221;. padahal kalau mau meributkan soal ketelitian maka kata yang tepat itu adalah &#8220;dua khalifah&#8221;. Anda boleh lihat deh tulisan &#8220;Imamah &amp; Khilafah&#8221; Ali As Salus Gema Insani Press </p>
<p align="justify">Awalnya saya gak mempermasalahkan hal itu, sehingga dalam tulisan Hadis Tsaqalain ini awalnya saya juga menerjemahkannya dengan kata &#8220;dua hal&#8221;. Tapi dalam tulisan lain yang berjudul &#8220;Khalifah Umat Islam adalah Ahlul Bait&#8221; saya menampilkan teks arabnya dan menerjemahkan dengan &#8220;dua khalifah&#8221;. Itu yang saya maksud sesuai &#8220;indikasinya&#8221;.</p>
<p align="justify">Kembali ke masukan anda di atas, saya mengucapkan terimakasih atas masukannya, tapi sejauh ini semua masukan yang anda berikan tidak mengubah makna hadis tersebut seperti yang saya maksud.<br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bob</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10867</link>
		<dc:creator>bob</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 07:54:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10867</guid>
		<description>Mau tanya....
teks yg dipoint 5 itu yg katanya tdk dijelaskan oleh @ SP itu kata2 rasul atau bukan...
mohon dishare....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mau tanya&#8230;.<br />
teks yg dipoint 5 itu yg katanya tdk dijelaskan oleh @ SP itu kata2 rasul atau bukan&#8230;<br />
mohon dishare&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10866</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 06:12:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10866</guid>
		<description>&lt;b&gt;@SP&lt;/b&gt;

Tentu saja..!!
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Manusia menjadi mulia karena pilihannya, begitu juga sebaliknya, manusia menjadi nista karena pilihannya&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;

Salam Damai</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@SP</b></p>
<p>Tentu saja..!!<br />
<b><i>&#8220;Manusia menjadi mulia karena pilihannya, begitu juga sebaliknya, manusia menjadi nista karena pilihannya&#8221;</i></b></p>
<p>Salam Damai</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10865</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:59:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10865</guid>
		<description>@Tatang

Anda mengatakan seperti ini;

&lt;blockquote&gt;Karena bagi saya jika seseorang teliti terhadap hal-hal yang sederhana maka orang tersebut akan lebih teliti lagi dalam hal yang lebih mendasar (baca: penting). Begitu juga sebaliknya, jika dalam hal yang sederhana saja seseorang itu tidak teliti, apalagi dalam hal yang prinsipil.&lt;/blockquote&gt;

Pertama-tama, tdk harus selalu jika seseorang teliti terhdp hal2 yg sederhana maka ia akan teliti pada hal2 yg mendasar.  Orang2 yg terlalu perfek malah sering mengabaikan hal2 yg utama dan lebih sibuk pada hal2 yg sepele.  Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit jenis manusia yg mengabaikan hal2 kecil namun mengambil berat hal2 yg prinsipil.

Kedua, istilah mendasar &amp; penting adalah 2 hal yg berbeda.  Kita bisa sepakat dalam hal2 yg mendasar, namun tdk untuk hal2 yg penting.  Bagi kita tidur (6-8 jam) adalah hal yg mendasar bagi kebutuhan kesehatan manusia.  Namun bagi sementara orang tidur hingga 6 jam bukanlah hal yg penting.

Sehingga apa2 yg anda anggap penting (jika benar teks Arabnya spt itu) di atas, hingga mencapai 5 point, belum tentu dianggap penting oleh SP.  Yang bahkan sy sendiri setelah membaca pun menganggap kelima-limanya  semua tdk penting dan bukan hal yg mendasar.  Mengherankan jika hanya masalah nama &quot;Husein&quot; anda kritisi karena itu menurut anda penting.

Yang mendasar &amp; penting adalah apabila Rasul saw menyebutkan 2 pusaka peninggalan beliau, namun SP hanya meriwayatkan 1 saja.  Nah itu baru mengabaikan sesuatu yg penting/mendasar.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Tatang</p>
<p>Anda mengatakan seperti ini;</p>
<blockquote><p>Karena bagi saya jika seseorang teliti terhadap hal-hal yang sederhana maka orang tersebut akan lebih teliti lagi dalam hal yang lebih mendasar (baca: penting). Begitu juga sebaliknya, jika dalam hal yang sederhana saja seseorang itu tidak teliti, apalagi dalam hal yang prinsipil.</p></blockquote>
<p>Pertama-tama, tdk harus selalu jika seseorang teliti terhdp hal2 yg sederhana maka ia akan teliti pada hal2 yg mendasar.  Orang2 yg terlalu perfek malah sering mengabaikan hal2 yg utama dan lebih sibuk pada hal2 yg sepele.  Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit jenis manusia yg mengabaikan hal2 kecil namun mengambil berat hal2 yg prinsipil.</p>
<p>Kedua, istilah mendasar &amp; penting adalah 2 hal yg berbeda.  Kita bisa sepakat dalam hal2 yg mendasar, namun tdk untuk hal2 yg penting.  Bagi kita tidur (6-8 jam) adalah hal yg mendasar bagi kebutuhan kesehatan manusia.  Namun bagi sementara orang tidur hingga 6 jam bukanlah hal yg penting.</p>
<p>Sehingga apa2 yg anda anggap penting (jika benar teks Arabnya spt itu) di atas, hingga mencapai 5 point, belum tentu dianggap penting oleh SP.  Yang bahkan sy sendiri setelah membaca pun menganggap kelima-limanya  semua tdk penting dan bukan hal yg mendasar.  Mengherankan jika hanya masalah nama &#8220;Husein&#8221; anda kritisi karena itu menurut anda penting.</p>
<p>Yang mendasar &amp; penting adalah apabila Rasul saw menyebutkan 2 pusaka peninggalan beliau, namun SP hanya meriwayatkan 1 saja.  Nah itu baru mengabaikan sesuatu yg penting/mendasar.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tatang</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10862</link>
		<dc:creator>Tatang</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 00:35:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10862</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum,

@ SP hal yang ingin saya tunjukan kepada anda disini cukup sederhana saja, tapi hal ini penting bagi saya untuk menilai (ah emang saya siapa sok ngenilai) kemampuan dan ketelitian seseorang menyampaikan pesan atau dakwahnya dalam bentuk tulisan. Berbeda jika dalam bentuk lisan, tentu hal-hal seperti ini bisa dimaklumi, lebih baik lagi jika dalam bentuk lisan pun mampu menuturkan sesuai aslinya.

Karena bagi saya jika seseorang teliti terhadap hal-hal yang sederhana maka orang tersebut akan lebih teliti lagi dalam hal yang lebih mendasar (baca: penting). Begitu juga sebaliknya, jika dalam hal yang sederhana saja seseorang  itu tidak teliti, apalagi dalam hal yang prinsipil.

Dalam pandangan saya jika anda menterjemahkan saja kurang lengkap bahkan tidak teliti, maka bagi saya (harus jujur saya katakan) anda belumlah termasuk dalam kategori orang yang tsiqoh.
Tidak usah banyak-banyak, satu contoh dibawah ini adalah beberapa kata dan kalimat yang tidak anda tuliskan dalam terjemahan atas hadits Muslim no 4425 / 2408:
Text arabnya bisa anda lihat di: http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=1&amp;Rec=5684

Terjemahan anda: 
Muslim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Shuja’ bin Makhlad dari Ulayyah yang berkata Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Yazid bin Hayyan yang berkata ”Aku, Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk bersamanya berkata Husain kepada Zaid ”Wahai Zaid sungguh engkau telah mendapat banyak kebaikan. Engkau telah melihat Rasulullah SAW, mendengarkan hadisnya, berperang bersamanya dan shalat di belakangnya. Sungguh engkau mendapat banyak kebaikan wahai Zaid. Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Berkata Zaid “Hai anak saudaraku, aku sudah tua, ajalku hampir tiba, dan aku sudah lupa akan sebagian yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Apa yang kuceritakan kepadamu terimalah,dan apa yang tidak kusampaikan janganlah kamu memaksaku untuk memberikannya.
Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”
Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbes”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya.

Menurut saya:

1. Nama husain diatas kalau dibahasaindonesiakan maka seharusnya ditulis Hushain atau Hushoin.
2. Ghadir khum seharusnya “Khum” saja, yaitu sebuah tempat yang disebut Khum terletak antara Makkah dan Madinah (ini tidak anda cantumkan).
3. Kemudian beliau bersabda: amma ba’du (tidak ditulis)
4. Dua pusaka (tsaqalain), kata “pusaka” tidaklah sama padanan katanya dengan kata “tsaqal” dalam bahasa arab. Mestinya ditulis saja  “dua perkara yang berat”.
5. Sampai di  فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به , disitu Zaid bin arkam menyebutkan bahwa rasul SAW Menganjurkan dan mendorong umatnya untuk berpegang teguh kepada kitab Allah (AlQuran). 
Tentu saja disini ada penjelasan yang panjang, tapa disebutkan oleh Zaid Bin Arqam ra, hal yang ingin saya jelaskan adalah, adanya penjelasan perihal perkara berat yang pertama itu dalam kalimat yang panjang, makanya perawi meringkasnya dengan kalimat, فحث على كتاب الله ورغب فيه.  ( arti dari kalimat ini tidak anda cantumkan ).
6. Sudah anda koreksi.

Khusus untuk poin ke 5, kalau boleh saya jelaskan kepada anda mengenai pengaruh dari tidak dicantumkannya kalimat tersebut adalah, bahwa dua hal yang berat untuk dilaksakan oleh ummat sepeninggal Rasul SAW itu seakan akan dalam konteks kalimat yang sama, padahal tidaklah sama. Lain halnya jika text hadisnya tidak terpotong oleh  penuturan rawi ... فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال maka sangat mungkin saya pun memahami hadis ini sesuai dengan yang anda fahami.

‘ala kulli hal terima kasih atas tanggapannya, Mohon maaf ya akhi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum,</p>
<p>@ SP hal yang ingin saya tunjukan kepada anda disini cukup sederhana saja, tapi hal ini penting bagi saya untuk menilai (ah emang saya siapa sok ngenilai) kemampuan dan ketelitian seseorang menyampaikan pesan atau dakwahnya dalam bentuk tulisan. Berbeda jika dalam bentuk lisan, tentu hal-hal seperti ini bisa dimaklumi, lebih baik lagi jika dalam bentuk lisan pun mampu menuturkan sesuai aslinya.</p>
<p>Karena bagi saya jika seseorang teliti terhadap hal-hal yang sederhana maka orang tersebut akan lebih teliti lagi dalam hal yang lebih mendasar (baca: penting). Begitu juga sebaliknya, jika dalam hal yang sederhana saja seseorang  itu tidak teliti, apalagi dalam hal yang prinsipil.</p>
<p>Dalam pandangan saya jika anda menterjemahkan saja kurang lengkap bahkan tidak teliti, maka bagi saya (harus jujur saya katakan) anda belumlah termasuk dalam kategori orang yang tsiqoh.<br />
Tidak usah banyak-banyak, satu contoh dibawah ini adalah beberapa kata dan kalimat yang tidak anda tuliskan dalam terjemahan atas hadits Muslim no 4425 / 2408:<br />
Text arabnya bisa anda lihat di: <a href="http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=1&amp;Rec=5684" rel="nofollow">http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=1&amp;Rec=5684</a></p>
<p>Terjemahan anda:<br />
Muslim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Shuja’ bin Makhlad dari Ulayyah yang berkata Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Yazid bin Hayyan yang berkata ”Aku, Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk bersamanya berkata Husain kepada Zaid ”Wahai Zaid sungguh engkau telah mendapat banyak kebaikan. Engkau telah melihat Rasulullah SAW, mendengarkan hadisnya, berperang bersamanya dan shalat di belakangnya. Sungguh engkau mendapat banyak kebaikan wahai Zaid. Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Berkata Zaid “Hai anak saudaraku, aku sudah tua, ajalku hampir tiba, dan aku sudah lupa akan sebagian yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Apa yang kuceritakan kepadamu terimalah,dan apa yang tidak kusampaikan janganlah kamu memaksaku untuk memberikannya.<br />
Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”<br />
Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbes”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya.</p>
<p>Menurut saya:</p>
<p>1. Nama husain diatas kalau dibahasaindonesiakan maka seharusnya ditulis Hushain atau Hushoin.<br />
2. Ghadir khum seharusnya “Khum” saja, yaitu sebuah tempat yang disebut Khum terletak antara Makkah dan Madinah (ini tidak anda cantumkan).<br />
3. Kemudian beliau bersabda: amma ba’du (tidak ditulis)<br />
4. Dua pusaka (tsaqalain), kata “pusaka” tidaklah sama padanan katanya dengan kata “tsaqal” dalam bahasa arab. Mestinya ditulis saja  “dua perkara yang berat”.<br />
5. Sampai di  فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به , disitu Zaid bin arkam menyebutkan bahwa rasul SAW Menganjurkan dan mendorong umatnya untuk berpegang teguh kepada kitab Allah (AlQuran).<br />
Tentu saja disini ada penjelasan yang panjang, tapa disebutkan oleh Zaid Bin Arqam ra, hal yang ingin saya jelaskan adalah, adanya penjelasan perihal perkara berat yang pertama itu dalam kalimat yang panjang, makanya perawi meringkasnya dengan kalimat, فحث على كتاب الله ورغب فيه.  ( arti dari kalimat ini tidak anda cantumkan ).<br />
6. Sudah anda koreksi.</p>
<p>Khusus untuk poin ke 5, kalau boleh saya jelaskan kepada anda mengenai pengaruh dari tidak dicantumkannya kalimat tersebut adalah, bahwa dua hal yang berat untuk dilaksakan oleh ummat sepeninggal Rasul SAW itu seakan akan dalam konteks kalimat yang sama, padahal tidaklah sama. Lain halnya jika text hadisnya tidak terpotong oleh  penuturan rawi &#8230; فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال maka sangat mungkin saya pun memahami hadis ini sesuai dengan yang anda fahami.</p>
<p>‘ala kulli hal terima kasih atas tanggapannya, Mohon maaf ya akhi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: A_Lee</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10861</link>
		<dc:creator>A_Lee</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 22:46:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10861</guid>
		<description>Piye toh mas SP kalau ditambahkan hadits Tsaqalain yg lain ya pasti jelas dan terang benderang,..wong tujuan awalnya biar gak jelas,kabur, samar2 dll kalau sdh begitu pasti cukup ruang untuk mahluk yg namanya Takwil bebas bermain, ya namanya juga  Takwil ya suka suka si penakwil he he Afwan afwan Mas SP..jadi ngelantur nih...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Piye toh mas SP kalau ditambahkan hadits Tsaqalain yg lain ya pasti jelas dan terang benderang,..wong tujuan awalnya biar gak jelas,kabur, samar2 dll kalau sdh begitu pasti cukup ruang untuk mahluk yg namanya Takwil bebas bermain, ya namanya juga  Takwil ya suka suka si penakwil he he Afwan afwan Mas SP..jadi ngelantur nih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: secondprince</title>
		<link>http://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/#comment-10852</link>
		<dc:creator>secondprince</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 12:39:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://secondprince.wordpress.com/2007/07/28/hadis-tsaqalain/#comment-10852</guid>
		<description>@armand
begitulah kira-kira :)

@truthseeker
setiap pilihan ada konsekuensinya, iya kan :mrgreen:

@antirafidhah
komentar anda sudah saya tanggapi sebelumnya

@wawansyah17
setidaknya penafsiran anda jauh lebih berlandaskan pada hadisnya ketimbang ta&#039;wil Mas antirafidhah :)

@Tatang
&lt;blockquote&gt;Salah satu contohnya Tsaqalain diartikan dua pusaka.&lt;/blockquote&gt;
makanya saya tulis dalam kurung (tsaqalain)
&lt;blockquote&gt;Juga merujuk urutan penuturannya maka menurut saya pribadi, apa yang diwasiatkan oleh Rasul SAW pada saat tersebut adalah dua hal yang berat (Tsaqalain), yaitu:
1. Kitabullah, Rasul SAW mengharuskan kita berpegang tegus dengannya. Kemudian beliau melanjutkan dengan penjelasan-penjelasan (perawi menuliskan ورغب فيه
2. Ahlul bait, Rasul SAW memperingatkan kita tentang ahlul bait, tidak ada penjelasan pada hadis tersebut tentang maksud “Aku memperingatkan kalian kepada Alloh akan ahlul baitku”, secara tekstual perawi keburu dipotong dengan pertanyaan siapa ahlu bait tsb.&lt;/blockquote&gt;
Makanya memerlukan hadis Tsaqalain yang lain untuk menafsirkan dengan lebih tepat :)
jangan sungkan memberi masukan, silakan dan insya Allah jika masukan anda benar dan lebih baik akan saya koreksi kembali
Salam :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@armand<br />
begitulah kira-kira <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@truthseeker<br />
setiap pilihan ada konsekuensinya, iya kan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@antirafidhah<br />
komentar anda sudah saya tanggapi sebelumnya</p>
<p>@wawansyah17<br />
setidaknya penafsiran anda jauh lebih berlandaskan pada hadisnya ketimbang ta&#8217;wil Mas antirafidhah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@Tatang</p>
<blockquote><p>Salah satu contohnya Tsaqalain diartikan dua pusaka.</p></blockquote>
<p>makanya saya tulis dalam kurung (tsaqalain)</p>
<blockquote><p>Juga merujuk urutan penuturannya maka menurut saya pribadi, apa yang diwasiatkan oleh Rasul SAW pada saat tersebut adalah dua hal yang berat (Tsaqalain), yaitu:<br />
1. Kitabullah, Rasul SAW mengharuskan kita berpegang tegus dengannya. Kemudian beliau melanjutkan dengan penjelasan-penjelasan (perawi menuliskan ورغب فيه<br />
2. Ahlul bait, Rasul SAW memperingatkan kita tentang ahlul bait, tidak ada penjelasan pada hadis tersebut tentang maksud “Aku memperingatkan kalian kepada Alloh akan ahlul baitku”, secara tekstual perawi keburu dipotong dengan pertanyaan siapa ahlu bait tsb.</p></blockquote>
<p>Makanya memerlukan hadis Tsaqalain yang lain untuk menafsirkan dengan lebih tepat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
jangan sungkan memberi masukan, silakan dan insya Allah jika masukan anda benar dan lebih baik akan saya koreksi kembali<br />
Salam <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
